Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover

Saturday, August 12, 2017

Mengenal Bible (versi) Indonesia Saturday, August 12, 2017

Sejarah Alkitab Indonesia

Sebelum LAI Berdiri:
Jauh sebelum berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), pada tanggal 4 Juni 1814 telah didirikan suatu Lembaga Alkitab di Batavia (sekarang Jakarta) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Lembaga Alkitab ini merupakan cabang pembantu dari Lembaga Alkitab Inggris dan dinamakan The Java Auxilliary Bible Society (JABS).

Ketika pendudukan Inggris digantikan pendudukan Belanda pada tahun 1816, Lembaga Alkitab ini diganti namanya menjadi Lembaga Alkitab Hindia-Belanda (Nederlands Oost-Indisch Bijbelgenootschap) atau dikenal dengan sebutan Lembaga Alkitab Batavia (Bataviaas Bijbelgenootschap). Tidak banyak yang diketahui tentang kegiatan Lembaga Alkitab ini. Jauh sebelum berdirinya LAI, penyebaran Alkitab dan Bagian-bagiannya di Indonesia dilakukan oleh Lembaga Alkitab Inggris dan Lembaga Alkitab Belanda. Sampai dengan tahun 1937, Lembaga Alkitab Belanda menyebarkan Alkitab melalui perwakilannya (agen) di Bandung, sedang Lembaga Alkitab Inggris menyebarkan Alkitab melalui perwakilannya di Manila dengan sub-agen wilayan Jawa-Bali yang juga berada di Bandung. Pada tanggal 1 Januari 1938, kedua agen itu dipersatukan dan berkedudukan di Burgemeester Kuhrweg 7 (sekarang Jalan Purnawarman), Bandung.

Dengan berkecamuknya Perang Dunia II, maka pada tanggal 11 November 1940, keagenan Lembaga Alkitab tersebut dialihkan ke tangan orang Indonesia. Yang ditunjuk memimpin agen tersebut adalah Mr. Giok Pwee Khouw yang berkedudukan di Nijlandweg 56 (sekarang Jalan Cipaganti), Bandung. Sementara itu penyebaran Alkitab dan Bagian-bagiannya pada masa perang dilakukan masih terus berjalan terus melalui depot-depot Alkitab dan melalui perorangan yang tersebar luas di Indonesia.


Pada tahun 1945, agen Alkitab itu diserahkan kepada Lembaga Alkitab Belanda, dan Mr. Giok Pwee Khouw dipindahkan ke Makassar. Baru setelah Pengakuan Kedaulatan Indonesia oleh masyarakat internasional pada tahun 1950, agen Alkitab dipindahkan ke Jakarta yang berkedudukan di Jalan Teuku Umar No. 34.

Berdirinya LAI:
Pada tahun 1950 bersamaan dengan diterimanya Republik Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, beberapa tokoh kristiani mulai memprakarsai berdirinya LAI. Sejalan dengan aspirasi kemerdekaan bangsa dan negara, timbullah keinginan untuk berdikari, bertanggungjawab penuh terhadap pengadaan serta penyebaran Alkitab. Walaupun berdirinya Lembaga Alkitab Nasional yang mandiri telah diusahakan sejak tahun 1951, tetapi realisasinya baru pada tanggal 9 Februari 1954 yaitu pada waktu penandatanganan Akta Notaris pendirian Lembaga Alkitab Indonesia sebagai Yayasan dihadapan Notaris Elisa Pondaag. Akta Notaris yang bernomor 101 tersebut mencatat susunan pengurus LAI yang pertama. Susunan Badan Pengurus Yayasan LAI yang pertama adalah: Ketua: Dr. Todung Sutan Gunung Mulia; Wakil Ketua: Elvianus Katoppo; Panitera/Bendahara: Mr. Giok Pwee Khouw; Anggota: Ny. Tjitjih Leimena, Ds. Peter Dominggus Latuihamallo, Ds. Mas Komarlin Tjakraatmadja, Ds. Pouw Ie Gan, dan Ds. Raden Saptojo Judokusumo.

Sementara itu pada tahun 1952, LAI diterima sebagai anggota madia (associate member) dari Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia pada persidangannya di Ootacamund, India; dan diterima menjadi anggota penuh (full member) pada persidangan Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia di Eastbourne, Inggris pada bulan April 1954. Sejak berdirinya LAI sampai sekarang, ada beberapa nama yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum (General Secretary) LAI adalah: Mr. Giok Pwee Khouw; Ph.J. Sigar, S.H; Pdt. W.J. Rumambi; Pdt. Chr. A. Kiting dan Drs. Supardan, M.A., Harsiatmo Duta Pranowo, MBA.
LAI hadir untuk menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dan bagian-bagiannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah.
Untuk melaksanakan tugas-tugasnya tersebut, LAI membagi tugas kerja ke dalam 10 departemen: Departemen Penerjemahan, Departemen Produksi dan Penerbitan, Departemen Perencanaan dan Pengendalian, Departemen Penyebaran dan Pemasaran, Departemen Komunikasi dan Kemitraan, Departemen Pengembangan dan Layanan Digital, Departemen Keuangan dan Akuntansi, Departemen Pengembangan Organisasi, dan Departemen Umum, serta Satuan Kerja Internal Audit. Semua Departemen berkedudukan di Jalan Salemba Raya No. 12, Jakarta Pusat. Sedangkan Departemen Produksi dan Penerbitan berlokasi di Jalan Roda Pembangunan No. 96, Nanggewer Km. 49, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Dalam melaksanakan tugasnya di daerah-daerah, LAI ditunjang oleh Kantor-kantor Perwakilannya di Medan, Manado, Makassar dan Jayapura. [Sumber: Lembaga Alkitab Indonesia]

Alkitab
Alkitab adalah sebutan untuk beberapa kitab dalam agama Samawi. Kata "Alkitab" yang digunakan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab, digunakan oleh umat Islam untuk menyebut Al-Qur'an dan kitab-kitab lain yang disebutkan masing-masing namanya di dalam Al-Quran. Sementara untuk tujuan-tujuan yang tersembunyi, umat Kristen Indonesia mengganti nama kitab suci mereka; Bible menjadi Alkitab juga. Sedangkan dalam lingkungan Gereja Katolik, Alkitab lebih sering dirujuk sebagai Kitab Suci saja. Alkitab Kristen merupakan sekumpulan kitab suci yang ditulis pada waktu yang berlainan oleh para penulis yang berbeda di lokasi-lokasi yang berbeda. Umat Yahudi dan Kristen memandang kitab-kitab dalam Alkitab (baca: Bible) sebagai hasil dari pengilhaman ilahi, dan sebagai catatan otoritatif mengenai hubungan antara Allah dengan manusia.

Berikut beberapa catatan seputar Alkitab, buku hasil terjemahan dari Bible, buah karya kolektif pengarang-pengarang tidak dikenal bangsa Yunani yang kemudian dijadikan sebagai kitab suci oleh umat Kristen sedunia
Introduksi Alkitab


Serba Serbi Alkitab Indonesia


More Related Posts


No comments :

Blogger Comments

Contact Form

Name

Email *

Message *