Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Nabi Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Nabi Muhammad. Show all posts

Friday, March 13, 2020

Benarkah Nabi Muhammad SAW Lahir 4 Tahun Setelah Ayahnya Wafat? Friday, March 13, 2020

Dari Mana Datangnya Cerita Aneh Ini?
Salahsatu kitab tafsir Islam yang kurang terpercaya adalah karya Sa'ad. Pada masanya dulu, guru biasa menyampaikan pesan langsung kepada muridnya. Guru Sa'ad adalah Waqidi. Seorang yang sangat dipertanyakan integritasnya. Sedangkan di sisi lain, dalam banyak perkara menyangkut akidah, mayoritas Islam Sunni umumnya merujuk pada penjelasan-penjelasan teruji dari 4 imam besar, yakni Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafi'i dan Imam Malik. Adapun tentang Waqidi, Imam Syafii menyatakan; "semua kitab al-Waqidi adalah dusta!"

Lalu, bersumber dari mana sebetulnya kebohongan cerita aneh ini?

Sumber Pertama: Dalam bukunya, Sa'ad menulis bahwa gurunya, Waqidi, mengabarkan kepadanya bahwa kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib, menikah dengan Hala (ibu dari Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW) pada hari yang sama ketika putranya Abdullah menikah dengan Aminah (ibu Nabi Muhammad SAW). Beberapa hari setelah permikahannya, Abdullah meninggalkan istrinya untuk sebuah perjalanan niaga ke negeri Syam. Tapi kemudian wafat dalam perjalanan dan tidak pernah kembali.

Sumber kedua: Dalam tulisan lain, disebutkan bahwa usia Hamzah 2 s.d 4 tahun lebih tua dari usia Nabi Muhammad SAW.

Jadi, dengan menggabungkan catatan dari dua sumber di atas, para pengarang cerita aneh ini pun kemudian menyimpulkan;
Jika Abdul Muthalib dan Abdullah menikah pada hari yang sama, dan Hamzah 4 tahun lebih tua dari Muhammad, sedangkan ayah Muhammad, Abdullah, meninggal beberapa hari setelah menikah, maka Muhammad lahir 4 tahun setelah kematian ayahnya.

Sumber Terpercaya
Abdul Muthalib dan Abdullah tidak menikah pada hari yang sama. Apa yang dikabarkan oleh Waqidi kepada Sa'ad sebenarnya merupakan hasil imajinasinya sendiri.  Dan jika ada yang bertanya, kenapa kita tidak dapat menerima keterangannya? 

Jawabnya adalah, Karena dalam literatur Islam, setiap informasi tentang Nabi Muhammad SAW dan para sahabat harus disampaikan secara bersanad di mana nama semua perawi yang berasal dari zaman Nabi harus diketahui. Sedangkan Waqidi yang lahir 200 tahun setelah Nabi Muhammad SAW mengabarkan cerita tsb secara independen tanpa menyebutkan satu nama pun yang menjadi sumber informasinya.

Bagaimana cerita yang sebenarnya? 
Riwayat dengan sanad (rantai narasi) lengkap dari Ibn Abbas dicatat oleh Ibn Katheer dalam bukunya, “Al Bidaya Wan Nihaya (Awal dan Akhir)” volume 2. Bab “Kehidupan Para Nabi Dan Rasul”

Ebook harga Terjangkau (tautan non-streaming)
Teks lengkap "Al Sira Al Nabawiyya Vol 4 Ibn Katheer" (tautan streaming. Cari kata kunci “hala” untuk menemukan ceritanya).

Suatu ketika Abdul Mutralib pergi ke Yaman. Seorang imam dari golongan ahlikitab menemukan tanda di dalam dirinya. Dia mengatakan kepadanya, seorang nabi akan datang dari garis keturunannya dengan suku Bani Zuhra. Imam tsb bertanya apakah Abdul Muthalib tinggal bersama istrinya? Dia menjawab "Tidak." (istri sebelumnya sudah wafat). Sang Imam kemudian berkata, "Pergi dan menikahlah dengan wanita dari suku Bani Zuhra". Abdul Muthalib kemudian kembali dan menikahi Hala dari Banu Zuhra. Kemudian anak mereka lahir, yaitu Safiya dan Hamzah (2–4 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW lahir). Beberapa waktu kemudian Abdullah (ayah nabi Muhammad) menikah pula dengan Aminah dari suku Bani Zuhra yang sama. Dari pernikahan ini Nabi Muhammad SAW lahir, sekitar 2 s.d 4 tahun setelah kelahiran Hamzah. Demikianlah ramalan imam Ahlikitab tentang Bani Zuhra menjadi kenyataan.

Kisah ini juga terekam dalam kitab Imam Nuaim “Dalaliyun Nabuyyat”. Jadi, tidak ada keraguan tentangnya. Hal itu juga dibenarkan oleh anggota keluarga.

Mengapa Waqidi berdusta tentang waktu pernikahan Abdul Muthalib dan Abdullah yang disebutnya pada hari yang sama? 

Waqidi mendengar cerita bahwa Aminah lebih cantik dari Hala sedangkan keduanya berasal dari suku yang sama. Setelah pernikahan Abdullah dengan Aminah, orang-orang mulai berkomentar, Abdullah lebih beruntung dibandingkan dengan ayahnya, sehingga Waqidi pun berasumsi, jika kedua istri dari ayah dan anak tsb dibandingkan-bandingkan orang, pasti mereka menikah pada hari yang sama.
Dari sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, kita tahu Abdul Muthalib yang sangat bersukacita menyembelih belasan hewan dan mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran cucunya, Muhammad ibn Abdullah Ibn Abdul Muthalib. 

Sejak saat itu dan sepanjang hidupnya, sejarah mencatat Abdul Muthalib adalah kakek yang sangat menyayangi dan melindungi Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah kaumnya. 

Apakah menurut anda hal itu normal dilakukan oleh seorang bangsawan terhormat suku Quraiys jika kelahiran cucunya dipertanyakan?

Lalu, bagaimana kita dapat memastikan bahwa cerita aneh di atas tidak benar?
Salah satu bukti otentik adalah hadits shahih yang menyatakan Nabi Muhammad SAW dan Hamza, pamannya, adalah "saudara sesusuan". Artinya, keduanya disusui oleh ibu yang sama.

Sayidina Ali bertanya, "Akankah anda menikahi putri Hamza?" Nabi Muhammad SAW menjawab, "dia adalah putri dari saudara sesusuanku." [Shahih Bukhari 4251]

Ini menjelaskan dengan sendirinya bahwa usia Nabi Muhammad SAW dan Hamza hanya terpaut beberapa bulan saja, atau paling banyak, kurang dari satu tahun.


[Gus Mendem | Menjawab Fitnah]


Thursday, January 14, 2016

Nabi Muhammad SAW Thursday, January 14, 2016

Rentang kesejarahan dengan periode nubuwwah telah demikian lama, namun Nabi Muhammad SAW tetap menjadi teladan perilaku dan inspirasi yang demikian nyata dalam mengelola heterogenitas dengan prinsip penghargaan terhadap hak asasi dan sikap saling memuliakan.

Di luar jaminan Al-Quran atas semua keutamaannya, teladan dan tindakan Nabi Muhammad SAW tersebut dengan sendirinya menempatkannya menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, khsusnya bagi umat manusia, baik yang beriman kepadanya maupun yang tidak.

Tidak ditemukan seorang pun dalam Al-Quran yang dijuluki dengan Rahmat, kecuali Rasulullah Muhammad SAW, dan tidak pula satu makhluk pun yang disifati dengan sifat Allah ar-Rahim, kecuali Rasulullah Muhammad SAW.

Berikut beberapa catatan dalam kategori Rasulullah SAW yang tersedia di sini.
Tentang Rasulullah SAW

Sunday, July 6, 2014

Bukti Muhammad Adalah Nabi Terakhir Yang Ditunggu-Tunggu Sunday, July 6, 2014


Dr. J. Verkuyl salahseorang guru besar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta asal Belanda yang juga seorang tokoh kristen di belanda membantah keras perihal kedatangan rasulullah SAW yang tanda-tandanya tertulis dalam injil. Dia menulis sebagai berikut: ”Apabila orang menyangka bahwa sesudah Tuhan Yesus, masih ada orang yang datang menambah pengajaran Tuhan Yesus atau menyangka masih ada orang yang seperti Yesus, maka salahlah ia. Allah telah berfirman dan menyatakan diri sesempurnanya didalam Tuhan Yesus Kristus. 

Selanjutnya ia menulis lagi: “Jadi sesudah Kristus tidak ada lagi seorang nabi yang muncul, yang dapat menambah, mengubah, mengganti atau membatalkan pengajarannya. Sesudah Yesus tidak ada lagi seorang Nabi yg muncul yg dapat menambah, mengubah dan membatalkan ajaran Yesus. Pendapat itu menurut ajaran agama Kristen sudah seharusnya demikian. Seperti telah diterangkan, menurut ajaran agama Kristen, kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelesaikan akibat kesalahan Adam mengenai pelanggaran dalam persoalan memakan buah kayu yang terlarang. Adam telah berdosa sebab memakan sebuah buah kayu di taman Firdaus dan manusia seluruhnya telah mewarisi dosa itu. Maka Yesus sebagai anak Allah lalu datang ke dunia menjelma menjadi manusia kemudian mati disalibkan untuk menebus dosa itu. Menurut ajaran agama Kristen, Yesus telah melaksanakan tugasnya. Dengan demikian persoalannya telah selesai. Maka tidak ada yang akan di tambah dan yang akan dibatalkan lagi”.

Menurut ajaran agama Islam Yesus hanya seorang manusia yang diutus Tuhan bertugas menjadi Nabi untuk memimpin manusia pada jalan kebaikan. Ia termasuk golongan Nabi-nabi yang sudah diutus Tuhan pada zaman-zaman yang lalu dan telah melakukan tugasnya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Oleh karena manusia sesudah Yesus masih memerlukan petunjuk Tuhan yg benar dan yang lebih sempurna, maka Tuhan mengutus lagi Rasul-Nya menyampaikan petunjuk itu. Tuhan telah mengutus Nabi Muhammad SAW Sebagai Rasul yang terakhir dengan membawa petunjuk yang lebih lengkap dan sempurna.

Lebih jauh lagi, sesudah Yesus sebetulnya masih ada nabi-nabi lagi, hal ini terungkap dalam Alkitab. Antara lain:

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 11 tertulis: 

(27) Pada masa itu datanglah beberapa orang nabi dari Jeruzalem turun ke Antiochia. 

(28) Maka bangkitlah seorang dari antara mereka itu bernama Agabus, lalu menyatakan dengan ilham Roh, bahwa suatu bala kelaparan yang besar akan jadi di seluruh dunia ini. Maka berlakulah yang demikian itu pada zaman Kalaudius.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 21 tertulis: 

(10) Sementara kami tinggal beberapa hari lamanya disitu, maka turunlah dari tanah Judea seorang nabi, namanya Agabus. (11) lalu datang kepada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat kaki tangannya sendiri serta berkata: “Inilah sabda Rohul kudus, bahwa orang yang empunya ikat pinggang ini, sedemikian inilah akan diikat di Jerusalem oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan orang kafir.

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa pada zaman rasul-rasul Yesus beberapa orang nabi telah datang dari Jerusalem ke Antiochia, seorang diantaranya bernama Agabus.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 13 tertulis: 

(1) Adalah di Antiochia di dalam sidah jumat beberapa nabi dan guru, yaitu Barnabas dan Simon yang bergelar Nigar, dan Lukas orang Kireni, dan Manahen saudara susuan Herodes, raja seperempat negeri, dan Saul.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 15 tertulis: 

(32) Maka Yudas dan Silas, yang sendirinyapun nabi juga, menyegarkan hati segala saudara itu sambil meneguhkan mereka itu dengan beberapa banyak perkataan.

Dalam ayat ini disebutkan lagi bahwa pada zaman murid-murid Yesus ada lagi seorang Nabi yang bernama Silas. Dengan demikian ternyata bahwa menurut Alkitab masih ada Nabi yang datang sesudah Yesus. Jadi Yesus bukanlah Nabi terakhir.

Menurut Yesus masih akan datang lagi Nabi yang benar kemudiannya, karena itu ia menunjukkan tanda-tandanya. Ada nabi yang benar dan ada nabi yang palsu. Oleh karena itu beliau menunjukkan tanda-tanda pengenalannya. Dalam Injil Matius pasal 7 tersebut:

(15) Jagalah dirimu dari pada segala nabi palsu, yang datang kepadamu mereka seperti serigala buas.

(16) Dari pada buah-buahnya kamu akan mengenal dia. Pernahkah orang memetik buah anggur dari pada pohon duri, atau buah ara dari pada pohon unak?

(17) Demikian juga tiap-tiap pohon kayu yang baik, berbuahkan buah yang baik; tetapi pohon kayu yang jahat, berbuahkan buah yang jahat.

(18) Tiada dapat pohon kayu yang baik berbuahkan buah yang jahat, atau pohon yg jahat itu berbuahkan buah yang baik.

(19) Tiap-tiap pohon kayu, yang tiada memberi buah yang baik, akan dipotong dan dibuangkan ke dalam api.

(20) Sebab itu dari pada buahnya kamu akan mengenal dia.

Seterusnya dalam 1 Yahya pasal 4 tertulis demikian:

(1) Hari segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu kalau-kalau dari pada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia.

(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu dari pada Allah.

(3) dan tiap-tiap roh, yang tiada mengaku Yesus itu, bukanlah dari pada Allah, melainkan inilah roh di Dajjal, yang telah kamu dengar yang akan datang, dan sekarang ini sudah ada di dalam dunia.

Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas ini Yesus menyuruh menjaga diri dari pada nabi-nabi palsu yang akan datang. Yesus menyuruh mengenalnya dari pada buahnya, baik itu jahat. Seterusnya Yesus menyuruh pula menguji tiap-tiap roh yang datang , apakah dari pada Allah atau dari pada Dajjal. 

Keterangan Yesus ini memberi pengertian bahwa Nabi yang benar akan datang lagi sesudah Yesus, karena ia masih menyuruh memeriksa dan mengujinya dengan mengemukakan tanda-tanda Nabi dan roh yang benar itu. Seandainya tiap-tiap Nabi yang akan datang palsu, tentulah Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi ia akan memperingatkan supaya jangan mempercayai tiap-tiap Nabi yang akan datang, karena Nabi yang benar tidak akan datang lagi. 

Menurut Yesus, Nabi yang benar itu akan dapat diketahui dari pada buahnya yang baik dan dari pada ajarannya yang mengakui bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia. Tanda itu kedua-duanya telah sesuai kepada Nabi Muhammad SAW yg datang setelah Yesus. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajarannya yang lengkap dan sempurna telah mengeluarkan buah yang baik.

Dalam masa 23 tahun ia telah mengubah keadaan masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sebaik-baiknya. Seterusnya buah ajarannya yang baik itu telah mendatangkan kebahagiaan bagi manusia berabad-abad lamanya. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah mengakui bahwa Yesus Kristus benar-benar datang ke tengah-tengah kaumnya dalam keadaan sebagai manusia dan ia menolak dengan sangat tegas Yesus yang disebut-sebut sebagai anak Tuhan apalagi sebagai Tuhan sendiri.

Bukti Sejarah Bahwa Kedatangan Muhammad Memang Ditunggu

Menurut sejarah, orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang menunggu kedatangan seorang Nabi. Hal itu dapat dibuktikan oleh keterangan sejarah sbb:

1. Ketika Nabi Muhammad SAW, berumur dua belas tahun ia dibawa oleh Abu Thalib, pamannya, ikut berniaga ke negeri Syam (Syria). Ketika mereka tiba dekat suatu tempat bernama Bushra (sebuah kampung diperbatasan tanah Arab dengan Syam), mereka bertemu dengan seorang pendeta Kristen yang tinggal di tempat itu bernama Bahiera. Pendeta itu bertanya kepada mereka tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa Arab yang dijumpai dalam kitab-kitab sucinya. Ketika ia memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada Nabi Muhammad, ia mengatakan kepada Abu Tahlib bahwa suatu keadaan yang luar biasa terdapat pada anak itu dan ia berharap supaya anak itu dipelihara baik-baik. Pendeta itu melihat Muhammad senantiasa dilindungi sekumpulan awan. Dalam keterangan ini, Bahiera menyatakan bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang di tanah Arab.

2. Ketika Nabi Muhammad SAW telah berumur empat puluh tahun dan ia sedang berada di gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat yang menyatakan bahwa ia adalah Malaikat Jibril. Lalu kepada Muhammad SAW disampaikannya wahyu Al-Quran yang mula-mula. Sesudah kejadian itu, Muhammad kembali ke rumahnya dengan gemetar dan ketakutan. Khadijah, isterinya, lalu membawanya kepada seorang laki-laki yang telah tua, anak saudara bapaknya yang bernama Waraqah bin Naufal yang beragama Kristen dan pandai menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Waraqah menerangkan bahwa yang datang kepada Muhammad SAW itu adalah utusan Tuhan yang juga pernah datang kepada Nabi Musa dahulu dan Muhammad adalah Nabi bagi umat saat ini. Disini Waraqah sebagai seorang alim Kristen mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang diutus Tuhan pada masa itu.

3. Pada ketika Nabi Muhammad SAW sedang tinggal di Mekkah, ia dan kaum muslimin pernah diboikot oleh orang-orang kafir penduduk Mekkah tiga tahun lamanya, sampai mereka memakan daun-daun kayu karena ketiadaan makanan. Selama pemboikotan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyuruh sahabat-sahabatnya mengungsi ke negeri Ethiopia, Afrika, untuk meringankan penderitaan mereka. Delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan berangkat diketuai Jafar, anak Abu Thalib. Disana mereka diterima dengan baik oleh Negus, raja Ethiopia. Pada tahun yang ke tujuh hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Negus untuk mengajaknya memeluk Islam. Di Ethiopia surat itu disampaikan oleh Jafar kepada Negus. Ketika surat itu diterimanya ia berkata: “Aku menjadi saksi kepada Allah bahwa sesungguhnya dialah Nabi yang ditunggu-tunggu Ahli Kitab.”

Lalu ia menulis jawaban surat Nabi itu, antara lain katanya: “Saya mengakui bahwa tuan utusan Allah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya saya telah berbaiat kepada tuan dan telah berbaiat kepada anak saudara bapak tuan (yaitu Jafar anak Abu Thalib). Dan saya telah memeluk agama Islam dihadapannya karena Allah Tuhan semesta alam”. Negus ini sebelum memeluk agama Islam adalah seorang yang beragama Kristen. Dalam keterangannya diatas ia mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi dan Kristen.

4. Pada musim haji pada tahun kesebelas, banyak orang Arab datang berkunjung ke negeri Mekkah, diantaranya enam orang penduduk Medinah. Mereka itu acapkali mendengar dari orang-orang Yahudi yang tinggal disekeliling kota Medinah itu mengatakan, bahwa seorang Nabi akan datang pada masa itu. Manakala mereka berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan mendengar pengajarannya, teringatlah mereka kepada ucapan orang-orang Yahudi tersebut Mereka lalu berbicara dengan sesamanya : “Sebenarnya inilah Nabi yang selalu disebut-sebut orang Yahudi itu. Maka janganlah mereka mendahului kamu mengikutnya”. Mereka lalu beriman dan kembali ke negeri Medinah menjadi penyiar Islam. Sehingga pada tahun kedua belas datang dua belas orang lagi, semuanya beriman juga. Dan pada tahun ketiga belas datang pula tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, semuanya lalu masuk Islam. Dengan perantaraan penduduk Medinah yang masuk Islam itu agama Islam telah tersiar dengan semakin luas sehingga merata di tiap-tiap rumah di Medinah.

5. Pada tahun ketujuh hijrah Nabi SAW mengirim surat kepada raja-raja yang ada pada waktu itu untuk mengajak mereka memeluk Islam. Antara lain Nabi Muhammad SAW telah mengirim surat kepada Maqauqas pembesar Kibti di Mesir. Dan pembesar tersebut membalas surat Nabi itu sebagai berikut: ”Kepada Muhammad anak Abdullah, dari Maqauqas, pembesar Kibti. Salam kepada tuan. Kemudian itu saya telah membaca surat tuan dan telah memahami apa yang tuan sebutkan didalamnya dan apa yang tuan ajak. Dan sebenarnya saya mengetahui bahwa seorang Nabi masih ada lagi. Saya menduganya bahwa ia keluar di Syam (Syria). Saya telah menghormati utusan tuan.”

Maqauqas ini seorang pembesar yang beragama Kristen. Walaupun ia tidak memeluk Islam, tetapi dalam suratnya itu ia mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang lagi.

6. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Medinah, beberapa waktu kemudian beliau di datangi oleh seorang pendeta besar Yahudi, bernama Abdullah bin Salam. Setelah pendeta itu bertemu dengan Nabi, ia lalu menanyai Nabi beberapa hal. Jawaban nabi itu meyakinkan kepadanya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Sebab itu ia lalu masuk Islam. Dia berkata kepada Nabi: “Saya menyaksikan bahwa tuan adalah Rasul Allah dan tuan datang membawa kebenaran. Orang Yahudi mengetahui bahwa saya ada lah penghulu orang Yahudi dan anak penghulu mereka. Dan saya seorang alim di antara mereka dan anak dari seorang yang teralim diantara mereka. Harap tuan tanyakan kepada mereka siapa saya, sebelum mereka mengetahui bahwa saya telah Islam. Karena jika mereka nanti mengetahui saya telah Islam, akan bermacam-macam perkataan mereka mengenai saya.”

Nabi lalu memanggil orang-orang Yahudi. Mereka datang. Dan Abdullah bin Salam bersembunyi. Nabi meminta kepada mereka agar takut kepada Allah. Dan Nabi mengatakan dengan sumpah bahwa mereka mengetahui Muhammad SAW adalah benar Rasul kepada mereka yang membawa kebenaran. Lalu orang-orang Yahudi menjawab: “Kami tidak mengetahui hal ini”. Lalu Rasul bertanya: “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam pada kamu ?”. Mereka menjawab: “Dia penghulu kami dan anak penghulu kami. Dia orang yang amat alim pada kami dan anak orang yang amat alim pada kami”. Maka kata Nabi: “Bagaimana jika ia telah Islam?”. Jawab mereka: “Ia tidak akan mau masuk Islam. Tiga kali Nabi mengatakan, bagaimana jika ia telah masuk Islam. Mereka menjawab tiga kali juga mengatakan jauh sekalilah jika ia mau masuk Islam. Nabi SAW lalu menyuruh Abdullah bin Salam keluar dari tempat persembunyiannya. Iapun keluar lalu berpidato dihadapan orang-orang Yahudi itu mengajak mereka masuk Islam. Katanya: “Hai kaum Yahudi, takutlah kamu kepada Allah, Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain dari padaNya, dialah Rasul Allah yang kamu ketahui itu. Dia telah datang membawa kebenaran”.

Mendengar keterangan Abdullah bin Salam yang selama ini mereka hormati, mereka lalu berkata kepadanya: “Tuan telah berdusta!” Nabi SAW lalu menyuruh orang-orang Yahudi itu keluar. Demikianlah riwayat Abdullah bin Salam, seorang alim Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia telah menjadi saksi bahwa orang-orang Yahudi mengetahui Nabi Muhammad SAW itu benar, tetapi mereka tidak mau mengakui.

7. Dalam kisah Salman Farisi yang datang dari Persi (Iran) mencari Nabi Muhammad SAW hingga dia memeluk Islam, telah dinyatakan bahwa seorang pemuka agama Kristen memesankan kepadanya agar pergi mencari Nabi itu. Kata pemuka Kristen itu: “Hai anakku, tidak ada lagi saya ketahui sekarang seorang manusia yang seperti kita ini diantara seluruh manusia untuk tempat saya menyuruh engkau mendatanginya. Akan tetapi, sekarang telah dekat masanya seorang Nabi akan dilahirkan dengan membawa agama Ibrahim yang keluar dari tanah Arab. Tempat berhijrahnya di suatu tempat antara dua lapangan tanah yang berbatu-batu dan diatnara keduanya itu pohon-pohon kurma. Dia mau memakan pemberian, tetapi tidak mau memakan zakat. Diantara dua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup pergi ke negeri itu, lakukanlah”. Demikianlah keterangan pemuka agama Kristen itu kepada Salman Farisi. Akhirnya Salman sampai juga ke tempat itu bertemu dengan Nabi Mu hammad SAW dan memeluk Islam.

Dari bukti-bukti sejarah yang tersebut diatas ini dapat diketahui bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang benar terbukti sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang Nabi.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul.” (QS.Ali Imran 3:144)

“Tidaklah ia itu berkata-kata menurut nafsunya sendiri melainkan apa yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diberikan.” (QS. an-Najm 53:3-4)



Catatan: artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi: 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M




Tuesday, June 5, 2012

Mana Lebih Hebat, Yesus atau Muhammad? Tuesday, June 5, 2012

Jalan-jalan ke sebelah, tadi saya menemukan pertanyaan pada sebuah thread seperti berikut:

Pertanyaan kepada Yang Muslim, apa yang bisa diharapkan dan dilakukan oleh Muhammad jika sekiranya anda berada dalam kesulitan? Apakah ada contoh kebajikan dalam hidup Muhammad yang bisa diminta dihadirkan kembali, di masa sekarang? 

Bagi Orang Kristen bisa membayangkan Yesus datang menyembuhkan mereka dari sakit, orang Buddha bisa berharap mengalami pencerahan sempurna seperti yang dialami sang guru mereka. 
Muslim ??????

Pertanyaan ini, gampang ditebak, mestinya lebih banyak karena dilandasi oleh kebanggaan (semu) yang sudah sejak kecil tertanam jauh di dalam benak mereka tentang betapa dahsyatnya segala mukjizat yang diperlihatkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala melalui tangan Nabi Isa Alaihi Sallam, atau yang mereka sebut sebagai Yesus Kristus.

Karena kebanggan (semu) tadi, umumnya mereka pun kerap mengklaim begini:

Tuhan Yesus jauh dibandingkan dengan Muhammad!
Tuhan Yesus adalah anak Allah, sedang Muhammad hanya manusia biasa!

Jika kalian tak percaya bahwa Yesus adalah anak Allah, carilah di Perjanjian Lama tentang janji Allah akan datangnya Penyelamat. Lihat juga di Perjanjian Baru bahwa Tuhan Yesus disebut oleh Allah sendiri. Allah berfirman, "Inilah anakku yang kukasihi, dan padanyalah Aku berkenan."

Jika Tuhan Yesus bukan Anak Allah mengapa ia bisa membangkitkan orang mati, mengusir syetan, berjalan di atas air, menyembuhkan orang dan memberkati?

Jika Tuhan Yesus bukan Anak Allah mengapa ia bisa bangkit atas kematian dan menampakkan diri pada murid-muridnya?

Selain itu, ia juga akan menghakimi manusia pada akhir zaman!
Dapat berbicara dengan Allah Bapa, dan dalam kitab Wahyu dapat mengetahui apa yang akan terjadi!

Bagaimana dengan Muhammad? Apa kelebihannya?
Jika ia nabi yang kalian anggap lebih suci daripada Tuhan Yesus, mengapa ia tak bisa mengalahkan maut (mengalami kematian), dan tidak tahu pula akan masuk sorga atau tidak? Bagaimana dengan nasib pengikutnya kelak?"

Logika dan asumsi penanya (yang saya reka-reka seperti di atas) adalah sebuah kesalahan besar!

Kita bisa melihat dengan jelas bahwa dalam angan-angannya, Yesus adalah Tuhan, sementara masih dalam angan-angannya juga, Muhammad adalah manusia biasa.

Karena itu, tentu saja menjadi sangat tidak fair jika keduanya dibandingkan, bukan? 
Membandingkan manusia dengan Tuhan adalah perbuatan bodoh yang teramat sia-sia, sebab antara yang satu dengan yang lainnya jelas teramat sangat jauh berbeda!

Jika penanya meyakini Yesus sebagai Tuhan, maka yang layak dibandingkan dengannya tentu saja Tuhan juga. Dalam konteks ini tentu saja Allah, Tuhan yang disembah oleh Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya.

Bertolak dari pemikiran logis ini, mari secara realistis sama-sama kita coba bandingkan antara tuhan si penanya; yaitu Yesus Kristus, dengan Allah (yang sesungguhnya adalah Tuhannya Yesus juga).

[1]. Tuhan itu Allah yang Maha Tahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji (1Samuel 2:3).
Sedangkan Yesus tidak tahu kapan kiamat akan terjadi (Matius 24:36), tidak tahu kapan pergantian musim (Markus 11:13), tidak tahu siapa yang menjamahnya (Lukas 8:45-46),  salah dalam membuat kesaksian (Yohanes 5:31), dan ramalannya pun meleset (Lukas 22:34, matius 26:34, Yohanes 13:38 dan Markus 14:67-72).

[2]. Allah adalah Tuhan yang mengabulkan doa (Amsal 15:29). Maka tidak mungkin Tuhan berdoa pada Tuhan yang lain. Tapi Yesus selalu berdoa memohon kepada Allah (Lukas 5:16, Matius 26:36, dan lainnya).

[3]. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa (Yesaya 40:26, Ayub 23:6, 2Korintus 6:18). 
Sedangkan Yesus tidak dapat berbuat apa-apa tanpa kehendak Allah (Yohanes 5:30). Yesus tidak kuasa bermukjizat banyak di daerah asalnya, kecuali hanya satu mukjizat (Markus 6:5).

[4]. Allah adalah Tuhan yang tidak dapat dicobai oleh yang jahat (Yakobus 1:13). 
Sedangkan Yesus dicobai oleh iblis yang jahat di puncak gunung (Matius 4:1-11).

[5]. Allah adalah Tuhan Yang Maha Hidup dan tak takluk pada maut (1Timotius 6:16). 
Tapi Yesus mati terbunuh sekitar jam tiga sore, tergantung di tiang salib, hanya mengenakan sehelai kain yang menutupi kemaluannya (Lukas 23:44-46).

[6]. Allah adalah Tuhan yang menyelamatkan (Mazmur 34:19). 
Tapi Yesus berdoa mohon diselamatkan oleh Allah (Yohanes 12:27). Yesus juga tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri ketika disiksa, diolok-olok, diludahi hingga akhirnya dibunuh oleh tentara Romawi (Markus 10:33-34).

[7]. Allah adalah Tuhan Yang Maha Baik, sehingga manusia harus bersyukur padanya (1Tawarikh 16:34). Sedangkan Yesus menolak keras disebut sebagai orang baik (Markus 10:18).

[8]. Allah adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi yang tidak tidur dan tidak terlelap (Mazmur 121:2-3). Sedangkan Yesus tidur seperti manusia pada umumnya (Matius 8:24, Lukas 8:23, Markus 4:38).

[9]. Allah adalah hakim yang adil (Mazmur 7:12) dan karena semua makhluk adalah ciptaan-Nya, maka (di akhirat nanti) hanya Allah lah yang akan menghakimi dengan seadil-adilnya segala perbuatan semua makhluk-Nya selama hidup di dunia. 

Jika di sisi lain, doktrin kristen menyebut-nyebut "Tuhan Yesus" akan turun lagi ke bumi untuk mengadili seluruh umat manusia, secara eksplisit ini adalah pengakuan kristen bahwa Yesus bukan hakim di akhirat, tapi hakim di bumi. Sedangkan jauh sebelum hal itu terjadi, Yesus sudah mengatakan bahwa dia akan turun lagi ke bumi bukan sebagai "Tuhan Yesus", tapi tetap sebagai "anak manusia" (Matius 16:27). Sedangkan dalam konteks sebagai hakim, dia bersaksi bahwa penghakimannya pasti adil karena dia menghakimi bukan berdasar kemauannya sendiri melainkan sesuai dengan kehendak Allah (Yohanes 3:59).  

Tentang siapa sesungguhnya yang kelak akan diadili oleh Yesus, maka berbeda dengan keyakinan mayoritas umat Kristen,  nabi Muhammad SAW mengatakan; beliau akan mengadili umat yang selama ini menuhankan Putra Maryam (Shahih Abu Dawud | Ibnu Hibban | Ahmad), dan ini dibenarkan oleh Yesus sendiri yang telah lebih dulu memberitahu kita bahwa dalam penghakimannya kelak, dia akan mengusir setiap orang yang selama hidupnya memanggil Yesus dengan sebutan "tuhan". (Matius 7:23). 

Argumen yang menyatakan, "Yesus adalah anak Allah", juga tidak valid dijadikan sebagai pembenar klaim ketuhanannya. Sebab, orang pertama dalam kitab kristen yang disebut sebagai "anak Allah" adalah Nabi Adam (Lukas 3:38). Bahkan penyebutan "anak Allah" dalam kitab kristen banyak sekali. Di antaranya, orang yang membawa perdamaian (Matius 5:19), orang yang memiliki sifat kasih (Lukas 6:35), orang yang mendapat berkah kasih dari Allah (1Yohanes 3:1) dan lainnya. Jika istilah "anak Allah" disamakan dengan Tuhan, alangkah banyaknya jumlah Tuhan menurut kitab kristen sendiri!

Tentang mukjizat Yesus yang dapat membangkitkan orang mati, menyembuhkan penderita kusta, lahir tanpa campur tangan ayah, dlsb, juga tidak valid untuk dijadikan dalil ketuhanan Yesus. 

Petrus, panatua seluruh murid Yesus, dengan tegas bersaksi bahwa segala mukjizat Yesus sesungguhnya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan kuasa Allah yang diperlihatkan melalui tangan Yesus (Kisah Para Rasul 2:22). 

Bagi setiap Muslim, mukjizat seorang Nabi atau Rasul Allah sama sekali bukan hal yang mengherankan, sebab sejak kanak-kanak sudah diberitahu bahwa semua Nabi dan Rasul Allah dapat bermukjizat atas izin dan kuasa Allah (QS Ali Imran:49). Kitab kristen sendiri pun mengakui bahwa Yesus tidak dapat berbuat apa-apa tanpa izin dan kuasa Allah (Yohanes 5:30).

Lalu, siapa yang tidak tahu bahwa seluruh mukjizat para Nabi dan Rasul Allah tsb pada akhirnya akan ikut sirna bersama wafatnya masing-masing mereka, termasuk, tentu saja mukjizat Yesus sendiri? 

Jika misalnya saja kita  bertanya, "mana bukti mikjizat Yesus yang sampai hari ini masih dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri, masih dapat kita sentuh, dan masih dapat kita kagumi kehebatannya?" Jawabnya sangat pasti, "Tidak ada!"

Sementara itu, nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa mukjizat terbesar beliau adalah Al-Quran. Dan ajaibnya satu-satunya mukjizat para Nabi dan Rasul Allah yang masih tersisa hingga hari ini; tetap utuh, masih dapat dilihat dengan mata kepala sendiri, masih dapat disentuh, dan masih dapat dikagumi kehebatannya, ternyata hanya Al-Qur'an!

Sudah belasan abad berlalu sejak Nabi Muhammad saw wafat, tapi sampai detik ini Al-Qur'an masih tetap terjaga keasliannya, bahkan tak kurang satu titik pun! Bandingkanlah dengan kitab kristen yang entah sudah berapa ratus kali diedit dan diubah-ubah isinya!

Meski begitu, umat Islam tidak diskriminatif terhadap para Nabi dan rasul Allah. Sebab Allah melarang umat islam membandingkan keistimewaan tiap-tiap nabi dan rasul-Nya.   
"(Katakanlah) Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rasul-rasul-Nya," (QS. Al-Baqarah 285).
Oleh karena itu umat Islam tidak akan menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang lebih suci dan lebih hebat dibandingkan dengan Nabi Isa, atau Yesus Kristus. Demikian pula sebaliknya.

Umat Islam juga tidak kecewa dan menjadi goncang imannya mengetahui bahwa Nabi Muhammad tidak kuasa mengalahkan maut. Sebab seluruh pengikut Nabi Muhammad mengerti dengan sempurna bahwa salahsatu kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah adalah mengalami kematian (QS. Ali-Imran:185).

Bukankah semua Nabi dan Rasul Allah; termasuk Nabi Isa, atau Yesus, yang dianggap sebagai Tuhan oleh umat kristen juga mengalami kematian? 

Sedangkan propaganda kristen bahwa "Yesus mengalahkan maut", sebetulnya sejak awal sudah dibantah oleh kitab kristen sendiri. Yesus tidak pernah bangkit dari kematiannya dengan cara melawan maut, melainkan dibangkitkan oleh Allah (Kisah Para Rasul 2:32). 

Lalu, bagaimana nasib para Nabi dan Rasul Allah -- termasuk nabi Muhammad SAW dan Yesus Kristus -- setelah mereka wafat? Tidak ada satu pun umat Islam yang meragukan bahwa tempat kembali manusia-manusia mulia pilihan Allah itu sudah pasti adalah sorga jannah (QS. Al-Inshiqaq: 2 & Ali-Imran: 45)  

Nah, kita sudah coba  "membanding-bandingkan" Yesus Kristus yang "katanya" adalah Tuhan, dengan Allah, Tuhan sejati yang setiap hari; pagi, siang, sore, dan malam disembah oleh Yesus. Ternyata hasilnya semakin memperjelas realita bahwa bagaimanapun juga, Yesus memang bukan Tuhan!

Jika sudah demikian, apa lagi sih yang mau dijadikan "dalil pembenar" untuk mendukung "dusta asal", atau "dusta waris" para bapak moyang kristen yang memfitnah Yesus, Rasul Allah yang naturnya100% manusia, menjadi Tuhan? Cobalah kalian pikirkan saja sendiri!

Jadi, seperti sudah disinggung sebelumnya, kristen manapun yang hari gini masih ingin bermegah-megah dengan modal angan-angan keblinger menuntut Muslim membandingkan Yesus Kristus yang mereka yakini adalah Tuhan dengan Muhammad SAW yang hanya seorang nabi, jelas mempertontonkan kedunguan beriman yang teramat luar biasa!

Kenapa?
Karena hal itu sudah menunjukkan dengan sendirinya bahwa sejatinya si penuntut sadar kalau Yesus yang selama ini mereka tuhankan itu sebetulnya hanya manusia biasa, yang dalam banyak hal, setara derajatnya dengan Nabi Muhammad SAW!

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!



[Dari catatan lama Gus Mendem | Diperbaharui 20 September 2016]


 

Tuesday, February 21, 2012

Al-Quran: Adakah Teman Yang Maha Tinggi? Tuesday, February 21, 2012

Berikut adalah Hadist yang seringkali dipelintir oleh para penghujat Islam dengan tujuan untuk meyakinkan kita bahwa sebelum wafat, Nabi Muhammad memohon kepada Tuhan agar memperoleh Rahmat hingga dapat bertemu teman tertinggi di Akhirat, yakni Isa Al Masih, untuk menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki pangkat Kenabian yang lebih rendah dari Isa Al-Masih yang mereka sebut Yesus:
“Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi." [Sahih Bukhari 59:715]

Melalui catatan ini saya sampaikan dan bantah dengan argument sejelas-jelasnya dengan menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist

Adapun Hadist yang dimaksud, redaksi sebenarnya adalah seperti ini:

Military Expeditions led by the Prophet (pbuh) (Al-Maghaazi)
Volume 5, Book 59, Number 715:
Narrated ‘Aisha:

I heard the Prophet and listened to him before his death while he was Lying supported on his back, and he was saying, “O Allah! Forgive me, and bestow Your Mercy on me, and let me meet the (highest) companions (of the Hereafter).”

* Hadits di atas adalah HR Bukhari-Muslim yang di susun oleh Moslem Southwestern America, dan jika dicari dalam Kitab-kitab Shahih Bukhari mungkin tidak akan ketemu, karena berasal dari edisi lama Jilid II. Sedangkan Moslem Southwestern America yang sudah di translate oleh M. Muhsin Khan menempatkannya pada buku ke 59 yang artinya begini:

Volume 5, Book 59, Number 715:

Dikisahkan oleh ‘Aisyah:
Aku mendengar Nabi dan mendengarkannya sebelum wafatnya ketika ia sedang berbaring didukung di punggungnya, dan dia berkata, “Ya Allah Maafkan aku, dan limpahkan Rahmat-Mu padaku, dan Agar aku memenuhi/bertemu teman tertinggi (di akhirat).

Kaitan doa nabi di atas adalah dengan Turunnya surat An-Nisa ayat 69:

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

dan Surah An-Nisaa’ 70

Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa pahala yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, adalah suatu karunia yang tidak ada tara dan bandingannya bagi yang ingin mencapainya, dan Allah lah Yang Maha Mengetahui siapa yang benar-benar taat kepada Nya, sehingga berhak memperoleh pahala yang sangat besar itu.

Hingga karena itu, maka sebelum wafatnya, Rasulullullah berdoa agar bisa berjumpa dengan teman-teman tertingginya di akherat karena mereka adalah sebaik-baik teman sesuai dengan An-nisaa ayat 69 di atas.

Asbabun Nuzul (sebab-Sebab turunnya ayat) An-Nisaa: 69-70

Sebab turunnya ayat ini menurut riwayat At Tabari dan Ibnu Mardawaih dari ‘Aisyah ra. “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: “Ya Rasulullah sesungguhnya saya lebih mencintaimu dari diri saya dan anak saya. Apabila saya berada di rumah, saya selalu teringat padamu: sehingga saya tidak sabar dan terus datang untuk melihatmu. Dan apabila saya teringat tentang kematian saya dan kematianmu, maka tahulah (sadarlah) saya. bahwa engkau apabila masuk surga berada di tempat yang tinggi bersama-sama para Nabi, sedang saya apabila masuk surga, saya takut tidak akan melihatmu lagi. Mendengar itu Rasulullah diam tidak menjawab, dan kemudian turunlah ayat ini”.

Pada ayat ini Allah mengajak dan mendorong setiap orang, supaya taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya dengan janji yang, akan membalas ketaatannya dengan pahala yang sangat besar, yaitu bukan saja sekadar masuk surga, tetapi akan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang terkemuka yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan. Meraka adalah para Nabi dan rasul Allah, para Siddiqin, para Syuhada (orang-orang yang mati syahid), para Waliullah, dan orang-orang shaleh lainnya.

Berdasarkan ayat ini para ahli tafsir secara garis besar membagi orang-orang yang memperoleh anugerah Allah yang sangat tinggi di dalam sorga dalam empat kelompok yaitu:
  1. Para Rasul dan Nabi-nabi, yaitu mereka yang menerima wahyu dari Allah SWT.
  2. Para Siddiqin, yaitu mereka yang teguh beriman pada kebenaran ajaran Nabi dan Rasul Allah.
  3. Para Syuhada, yang dibagi pula urutannya sebagai berikut:
  • Orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah dan mati terbunuh di dalam peperangan melawan orang-oang kafir
  • Orang-orang yang menghabiskan usianya berjuang di jalan Allah dengan harta; dan dengan segala macam jalan yang dapat dilaksanakannya. 
  • Orang-orang beriman yang mati ditimpa musibah yang mendadak atau teraniaya, seperti mati bersalin, tenggelam di lautan, terbunuh dengan aniaya. 

Bagian (a) disebut syahid dunia dan akhirat yang lebih tinggi pahalanya dari bagian (b) dan (c) yang keduanya hanya dinamakan syahid akhirat. Dan ada satu bagian lagi yang disebut yaitu syahid dunia, yaitu orang-orang yang mati berperang melawan kafir, hanya untuk mencari keuntungan duniawi, seperti untuk mendapatkan harta rampasan, untuk mencari nama dan sebagainya. Syahid yang serupa ini tidak dimasukkan pembagian syahid di atas, karena syahid dunia sama sekali tidak termasuk dalam kedua ayat ini.

  1. Orang-orang shaleh, yaitu orang-orang yang selalu berbuat amal baik yang bermanfaat untuk umum, termasuk dirinya dan keluarganya baik untuk kebahagiaan hidup duniawi maupun untuk kebahagiaan hidup ukhrawi yang sesuai dengan ajaran Allah.

Mereka yang sungguh-sungguh taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana disebut dalam ayat ini kelak akan memasuki sorga dengan penuh nikmat dan akan ditempatkan bersama-sama dengan semua golongan yang empat itu.

Wallahu 'alam.


[Sumber: GM | Dibawah Panji-Panji Islam | Islam Menjawab Fitnah]

Thursday, January 19, 2012

Al-Quran: Bagaimana Rasulullah SAW Menerima Wahyu Thursday, January 19, 2012

Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Ya Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada Anda?" Rasulullah menjawab, "kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, aku baru mengerti apa yang disampaikannya. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang disampaikannya," Aisyah berkata, "Aku pernah melihat Nabi ketika turunnya wahyu kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimpah peluh."

Hadits di atas adalah hadits ke-2 dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). Meskipun Imam Bukhari tidak memberikan bab pada hadits kedua ini, dari matannya terlihat jelas bahwa ia memuat cara turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW.

أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ : Adalah gelar bagi istri-istri Nabi. Kata ini diambil dari firman Allah SWT, "istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka (kaum muslimin)." Artinya dalam menghormati mereka dan larangan menikahinya.

Harits bin Hisyam adalah seorang dari bani Makhzumi, saudara kandung Abu Jahal bin Hisyam. Ia masuk Islam pada Fathu Makkah, termasuk tokoh dari kalangan sahabat. Ia meninggal pada waktu penaklukan negeri Syam.

كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْىُ

Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menanyakan sifat wahyu, sifat pembawa wahyu, atau yang lebih umum dari itu. Sehingga Rasulullah menjawab pertanyaan ini dengan dua cara turunnya wahyu kepada beliau yang juga mengandung sifat wahyu dan sifat pembawanya.

أَحْيَانًا يَأْتِينِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ - وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ - فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ

أَحْيَانًا : Bentuk jamak dari حين yang berarti waktu yang banyak atau sedikit. Seakan-akan Nabi berkata أَوْقَاتًا يَأْتِينِي (beberapa kali dia datang kepadaku).

مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ : Shalshalah adalah suara yang dihasilkan dari benturan antara besi, kemudian kata tersebut dinisbatkan kepada semua yang menimbulkan dengung. SedangkanJaras adalah lonceng kecil atau kerincingan yang digantungkan pada hewan.

وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ : Itulah yang sangat berat bagiku. Memahami perkataan dengan bunyi lonceng lebih sulit daripada memahami perkataan secara langsung. Sebagian ulama mengatakan bahwa berat atau sulitnya menerima wahyu bertujuan agar Nabi lebih konsentrasi. Ulama lain mengatakan biasanya cara seperti ini ketika wahyu yang turun membicarakan masalah adzab, namun pendapat ini diperselisihkan.

فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ : (Setelah bunyi itu berhenti aku baru mengerti apa yang disampaikannya). Artinya, Rasulullah SAW mengerti perkataan yang disampaikan setelah bunyi itu berhenti. Inilah yang menguatkan bahwa turunnya wahyu melalui perantaraan malaikat.

وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِى فَأَعِى مَا يَقُولُ

يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً : Malaikat menjelma seperti seorang laki-laki. Hadits ini sekaligus menjadi dalil bahwa malaikat dapat menyerupai manusia. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perubahan ini hanyalah perubahan bentuk saja, bukan dzat malaikat. Contoh yang sangat terkenal dalam hal ini adalah ketika Jibril datang bertanya kepada Rasulullah tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Yaitu hadits yang juga dicantumkan Imam Nawawi dalam Kitab Arbain nomor kedua.

فَيُكَلِّمُنِى : Lafazh inilah yang banyak digunakan oleh para perawi. Karena malaikat menyerupai manusia, maka perkatannya pun sebagaimana perkataan manusia umumnya sehingga mudah dipahami begitu saja.

يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

(ketika turun wahyu kepada Rasulullah pada suatu hari yang amat dingin, setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimpah peluh).

Inilah kesaksian Aisyah yang menyaksikan bertanya Rasulullah dalam menerima wahyu sehingga dahi beliau penuh keringat walaupun berada di musim dingin. Lelah, dan sangat serius menerima perkara besar yang menjadi petunjuk bagi umat manusia demi keselamatan mereka di dunia dan akhirat.



Contact Form

Name

Email *

Message *