Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Kristenisasi (Sejarah). Show all posts
Showing posts with label Kristenisasi (Sejarah). Show all posts

Wednesday, June 25, 2014

Sejarah Pemurtadan Dan Kristenisasi Di Indonesia Wednesday, June 25, 2014

Berdasarkan kutipan Lukman al-Hakim dari buku Sejarah Gereja Katolik di Indonesia, permulaan perkembangan agama Kristen di Indonesia sebagaimana ditunjukkan oleh Y Bakker terjadi pada pertengahan abad ke-7 dengan didirikannya episkopat Syria di Sumatra. Tetapi hasil krsitenisasi mulai tampak sejak dilakukannya secara gencar oleh orang-orang Portugis, terutama di Maluku pada abad ke-16. Setelah itu, Organisasi dagang Belanda (VOC) yang didirikan pada tanggal 1602 memang tidak memiliki nuansa politik yang berusaha menciderai Islam. Namun ketika diminta untuk menyebarkan nilai-nilai Kristen di tanah jajahan, maka tidak ada cara lain kecuali mengikuti cara yang telah diperaktekkan oleh Portugis sebelumnya berupa pemaksaan.

Sebagai perwujudannya, sebagaimana dituturkan oleh Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda, pada tahun 1661 VOC melarang umat Islam melaksanakan ibadah haji. Kebijakan ini merupakan realisasi anjuran Bogart, seorang Katolik ekstrim di parlemen Belanda. Dalam asumsi Bogart, para jemaah haji tersebut sangat berbahaya secara politis. Karena itu, melarang perjalanan ibadah haji jauh lebih baik ketimbang menembak mati para haji itu.

C. Guillot dalam Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa menuturkan bahwa pada awalnya pusat penyebaran Kristen adalah Maluku. Banyak orang Maluku yang menjadi tentara yang kemudian dikirim ke kawasan-kawasan utama militer Belanda di Jawa, seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Mereka itulah yang pertama kali membentuk jemaah Kristen pribumi.

Berbeda dengan di atas, terdapat analisa lain yang menganggap bahwa orang Kristen pertama yang sampai ke Nusantara adalah pada abad 12 masehi. Yang mana, ia singgah di Sumatra Utara. Setelah itu missionaris yang bernama Fransiskan Ordorikus menyusul dan berusaha mengelilingi pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Kemudian datang setelahnya missionaris Katolik yang sangat mashur yang bernama Fransiskus Oksafiarus pada tahun 1546 masehi.

Ia memulai missinya di Ambon kemudian memperluasnya hingga mencakup Maluku Utara. Kemudian setelahnya datanglah orang-orang Belanda yang beragama Protestan ke pulau ini dan berusah menyaingi penganut Katolik. Namun kemudian perkembangan agama Protestan banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur. Hal ini terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-18 masehi. Pada tahun 1904 M tibalah Fan Leis ke Yogyakarta dan berusaha mendirikan sekolah Kanisius yang berpusat di da’erah Muntilan dan Mendut.

Keterkaitan antara kolonialisme dengan kristenisasi sebetulnya sangat sulit untuk dinafikan. Namun demikian tokoh-tokoh Kristen di Indonesia seperti TB Simatupang biasanya tidak setuju tentang adanya keterkaitan tersebut. Mereka menganggap bahwa misionaris sema sekali tidak terkait dengan ambisi duniawi para kolonialis. Penyebaran Kristen lebih disebabkan oleh kuasa Alkitab dan bukan semata-mata disebabkan oleh orang-orang Kristen. Namun anggapan semcam itu sulit diterima mengingat fakta-fakta sejarah bantuan dan sikap politik kaum kolonialis terhadap misi Kristen sangatlah nyata.

Setelah Indonesia Merdeka, Indonesia menjadi sasaran misi Kristen dari segenap penjuru dunia. Beragam media digunakan seperti film, kaset, buku-buku, kapal-kapal penginjil yang mengitari pantai-pantai dan kepulauan seperti Lombok, Sumbawa, Sulawesi dan Kalimantan. Di daerah luar Jawa seperti NTT dan Kalimantan misi Kristen telah memiliki pemancar radio dan pesawat terbang cesna. Bahkan pada wilayah-wilayah tertentu, mereka mendirikan landasan pesawat khusus dengan izin dari Depertemen Perhubungan.

Demikianlah sehingga agama Kristen berkembang di Indonesia terutama pada momen jatuhnya Sukarno pada peristiwa pemberontkan G 30 S PKI pada tahun 1965. Orang-orang Kristen memanpaatkan kesempatan ini dengan memasukkan para tawanan komunis ke dalam agama Kristen dengan beralasan bahwa para pelaku penyembelihan adalah orang-orang Islam. Sehingga mereka tidak bisa menyelamatkan diri kecuali dengan beralih keyakinan. []

Mari sama-sama kita bongkar dan cegah aksi pemurtadan, kristenisasi, aliran sesat dan pendangkalan aqidah. Dengan cara menyebarkan artikel ini ke sahabat-sahabat anda sebagai bentuk Jihad untuk menggagalkan misi-misi mereka (missionaris). Dan juga bentuk Jihad yang dapat anda lakukan adalah dengan cara memberikan informasi-informasi, kabar, dan artkel seputar misi-misi pemurtadan (kristenisasi) ataupun aliran sesat (pendangkalan aqidah) dengan membantu share artikel ini melalui sosial media (Baerdakwah)

Bagaimanakah sebenarnya seluk beluk Pemurtadan dan Kristenisasi di Indonesia sejak jaman dahulu hingga hari ini? Berikut adalah daftar berbagai catatan terkait Kristenisasi yang dihimpunan dari berbagai sumber.
Sejarah Pemurtadan Dan Kristenisasi Di Indonesia

Thursday, December 27, 2012

Fakta Sejarah Betapa Biadab "Ajaran Kasih" Bernama Kristen itu! Thursday, December 27, 2012


 24 Juni 1096: Semlin, Hongaria.
Ribuan orang dibunuh oleh pasukan Salib dalam perjalanan mereka untuk merebut Yerusalem. Tidak seperti di kota-kota Kristen lainnya, sesampainya di Hongaria dan Bulgaria ini, sambutan terhadap pasukan Salib sangat dingin, menyebabkan pasukan Salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk. Penduduk di dua negeri ini tidak tinggal diam. Walau pun sama-sama beragama Kristen, mereka tidak senang dan melakukan pembalasan. Terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. Dari 300.000 orang pasukan Salib itu hanya 7000 orang saja yang selamat sampai di Semenanjung Thracia di bawah pimpinan sang Rahib.

 9 September 1096: Nikaia, Antiochia
Di Xerigordon (dahulu wilayah Turki) ribuan orang juga dibunuh. Dan ketika menaklukan Antiochia di tahun yang sama antara 10.000-60.000 pria-wanita dan anak-anak juga dibunuh oleh pasukan Salib Kristen.

 Tahun 1205: Kebijakan Paus senilai 5 juta nyawa!
Paus Innocent II yang lain menyingkirkan King John of England karena menyerang beberapa orang uskup. Akhirnya John terpaksa mengirimkan pesan kepada Paus dengan kata-kata sbb: “Seorang utusan angelik, atas nama Inggris dan Irlandia, mendoakan Yesus dan pengikutnya, penaung kami Paus Innocent, dan seluruh penerus katoliknya.

Sejak hari ini, kami menjadikan kerajaan ini sebagai penganut setia Paus dan hierarkinya. Kami telah menganggarkan 1.000 pound Inggris untuk disumbangkan kepada kotak gereja setiap tahunnya. 500 pound diberikan setengah tahun sekali, dalam bentuk uang perak. Jika saya atau pengganti saya yang berada di tahta Inggris melanggar perjanjian ini, dengan sendirinya kami akan kehilangan kekuasaan Inggris.”

Surat John ini bisa dibaca pada buku karya Marcel Cache berjudul Social History, jilid dua. Di halaman 123 buku tersebut, tertulis juga bahwa pada periode ini, 5 juta orang dihukum karena melanggar fikiran ortodoks atau menentang titah Paus. Mereka dihukum gantung atau mereka dicampakkan ke dalam penjara yang mirip sumur gelap. Dalam tempo 18 tahun, antara tahun 1481-1499, mahkamah gereja telah membakar hidup-hidup 1.020 orang. 6.860 orang digergaji hingga hancur lebur dan 97.023 orang disiksa hingga mati.

Itulah Kristen: AJARAN HORROR YANG DISEBARKAN MELALUI PENYIKSAAN, PEMBUNUHAN, PEMBANTAIAN, DAN BANJIR DARAH DI SANA SINI, serta berbagai julukan yang seram-seram lainnya untuk menggambarkan track-record pendahulu mereka selama ribuan tahun sebagai bukti bahwa Kristen lebih teppat disebut sebagai ajaran Iblis yang haus darah daripada ajaran kasih!

Bahkan kristen juga pantas diberi label sebagai ajaran KANIBAL karena pada 11 Desember 1098 di Marra (Maraat an-numan), setelah membunuh ribuan orang, karena kelaparan yang berkepanjangan maka mayat musuh yang sudah membusukpun dimakan oleh Pasukan Salib Kristen! Fakta ini dibeberkan oleh Albert Aquensis, fan diakui sendiri oleh pasukan salib tersebut dalam surat mereka kepada Paus. Tidak hanya sangat sadis dan keji, ternyata pasukan Kristen pun kanibal, doyan memakan daging manusia. Benar-benar kebiadaban pasukan salib Kristen memang tidak ada tandingannya. 

Manusia biasa tentu tidak sanggup melakukan kekejaman dan kebiadaban tak henti-henti dengan berbagai macam cara seperti itu, kecuali Kristen.

 Tahun 1209: Perang Salib Albigensia
Perang Salib Albigensia diumumkan oleh Paus Innocent III terhadap para pembangkang agama di Perancis Selatan. Pada tahun 1209 ini terjadi pembantaian terhadap Kelompok Cathary oleh Paus Innocent III, karena menolak konsep ketuhanan Yesus.

Sejak awal mula perkembangan Kristen, banyak sekali aliran yang tidak mengakui Ketuhanan Jesus. Contohnya, adalah satu kelompok yang bernama Cathary yang hidup di Selatan Perancis. Kelompok Cathary adalah penganut Catharism, satu kelompok heresy radikal di Zaman Pertengahan. Cathary percaya bahwa karena daging adalah jahat, maka Kristus tidak mungkin menjelma dalam tubuh manusia. Karena itu, Kristus tidaklah disalib dan dibangkitkan.

Dalam ajaran Cathary, Yesus bukanlah Tuhan, tapi Malaikat. Untuk memperhambakan manusia, tuhan yang jahat menciptakan gereja, yang mempertontonkan “sihirnya” dengan mengejar kekuasaan dan kekayaan. Ketika kaum ini tidak dapat disadarkan dengan persuasif, Paus Innocent III menyerukan kepada raja-raja untuk memusnahkan mereka dengan senjata, sehingga ribuan orang penganut aliran Cathary ini dibantai.

 27 Mei 1234: Sekitar 5000 sampai 11.000 Petani dibantai karena menolak membayar pajak Gereja yang mencekik leher.

Jangan heran melihat betapa semangatnya orang-orang Kristen untuk menghabisi nyawa orang lain tak henti-henti. Karena ajaran dan perintah-perintah untuk melakukan hal itu memang ada dalam Alkitab mereka. Banyak ayat-ayat yang membimbing mereka untuk secara aktif terlibat dalam aksi-aksi perusakan, penyiksaan, pembantaian, pemerkosaan dan segala kebiadaban lainnya yang dilakukan tanpa rasa berdosa, karena semua itu mereka yakini sebagai Perintah Tuhan.

 Tahun 1524-1526: Kekejaman Gereja di Jerman.
Kala itu gereja di Jerman begitu manunggal dengan negara dan sekelompok petani yang telah lama merasa tertindas melakukan pemberontakan. Tokohnya, Thomas Munzer, seorang pengkhotbah radikal, menyatakan bahwa para petani dan buruh tambang lebih bisa memahami Injil ketimbang para pastor. Kata-kata Munzer membuat dada para petani gemeretak dan mereka menjadi semakin bulat menantang.

Tapi pasukan petani hanya mengandalkan artileri bikinan sendiri ditambah doa dan pidato, sementara pasukan para pangeran menggebuk Kota Frankenhausen dengan kanon. Syahdan, 5.000 orang yang dikalahkan dibunuh, 300 tawanan dijatuhi hukuman mati. Ketika istri-istri mereka meminta ampun, permohonan itu disetujui dengan syarat; wanita-wanita itu harus menghantam kepala dua pendeta yang menganjurkan pemberontakan, sampai otaknya muncrat. Mereka setuju. Setelah 130.000 petani tewas, akhirnya pemberontakan pun padam. (Goenawan Mohamad, 1991:164,165, 170-171, 210-211 - simak review di sini).

 Tahun 1572: Pembantaian protestan Perancis
Pembantaian pada hari St.Bartolomeus, orang Protestan Prancis dibantai secara massal oleh Catherina de Medici.

Pembantaian ini merupakan salah satu peristiwa yang secara fatal menghancurkan gerakan kaum Protestan di Prancis. Raja Prancis dengan cerdik mengatur pernikahan antara adik perempuannya dengan Laksamana Coligny, seorang pemimpin kaum Protestan. Pesta pernikahan dirayakan dengan besar-besaran.

Setelah empat hari berpesta, para serdadu diberi tanda. Pukul 12 malam, semua rumah kaum Protestan di seluruh kota Paris didobrak satu per satu. Coligny dibunuh, tubuhnya dibuang ke jalan melalui jendela, kemudian kepalanya dipenggal dan dikirimkan kepada Paus. Mereka juga memotong tangan dan alat kelaminnya dan menyeretnya sepanjang jalan kota Paris selama tiga hari dan akhirnya tubuhnya digantung di dekat bukit yang terletak di luar kota tersebut.

Mereka juga membantai semua orang yang diketahui beragama Protestan. Selama tiga hari pertama, lebih dari 10.000 orang dibunuh. Tubuh orang-orang yang sudah mati itu dibuang ke sungai dan darah mengalir di seluruh jalan-jalan di kota menuju ke sungai sehingga seperti membentuk aliran sungai darah. Karena kemarahan yang meluap-luap, mereka juga membunuh pengikut mereka sendiri kalau mereka dicurigai tidak mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap paus. Dari Paris, pembunuhan menyebar ke seluruh bagian Perancis. Lebih dari 8.000 orang dibunuh. Hanya sedikit orang Protestan yang selamat dari kemarahan para penganiaya itu.

 Tanggal 5 April 1585: Pembunuhan massal di Harlem, Belanda.
Tragedi yang juga dikenal dengan nama Tragedi Harlem ini terjadi saat Raja Spanyol Philip II menginstruksikan repressi secara meluas terhadap rakyat Belanda yang kemudian berpuncak pada pembunuhan massal di Harlem itu. Dalam kasus tersebut, sekitar 6.000 aktivis kemerdekaan Belanda dibunuh oleh tentara Spanyol. Perjuangan rakyat Belanda untuk meraih kemerdekaannya akhirnya mencapai hasil pada tahun 1609.

 Tahun 1618-1648: Perang 30 Tahun
Perang 30 tahun antara Katolik lawan Protestan di Eropa. Ribuan orang telah dibantai. Ada banyak wilayah, dinasti, dan isu agama yang melatarbelakangi perang ini, namun secara keseluruhan “Perang 30 Tahun” ini adalah perang antara pangeran-pangeran Jerman Protestan yang beraliansi dengan kekuatan-kekuatan asing, yaitu Perancis, Swedia, Denmark, dan Inggris, melawan kekuatan Imperium Katolik Romawi. Orang-orang Kristen memang terbukti haus kekuasaan dan haus darah.

 23 Oktober 1641: Pembantaian kaum pembangkang Irlandia
Pembantaian oleh pengikut Katolik terhadap Protestan di Irlandia. Para konspirator memilih tanggal 23 Oktober, pada perayaan Ignatius Loyola, pendiri ordo Jesuit.

Mereka merencanakan pemberontakan besar di seluruh negeri. Seluruh pengikut Protestan akan dibunuh tanpa kecuali. Untuk mengendorkan kewaspadaan mereka, keramahtamahan ekstra diperlihatkan kepada kaum Protestan. Pagi harinya, para konspirator dipersenjatai dan setiap orang Protestan yang mereka temui langsung dibunuh. Bahkan orang cacatpun tidak diberi ampun.

Kaum Protestan Irlandia terkejut. Selama ini mereka hidup damai dan aman selama bertahun-tahun tetapi sekarang tidak ada tempat untuk menyelamatkan diri. Mereka dibunuh oleh tetangga sendiri, teman dan bahkan oleh saudaranya sendiri.

Tetapi kematian bukanlah hal yang mereka takuti. Para wanita diikat ditiang-tiang, ditelanjangi sampai pinggang, dadanya dipotong dengan pedang dan dibiarkan mati kehabisan darah. Wanita yang sedang hamil diikat pada cabang pohon, bayi mereka yang belum lahir dibelah dan diberikan kepada anjing sedangkan para suaminya dipaksa menyaksikan kekejaman itu. Pada pembantaian massal di hari perayaan St.Bartholomeus ini, 40.000 orang Protestan tewas dibantai oleh orang-orang Katolik.

 Sekitar Tahun 1890 sampai 1901: Ku Klux Klan Amerika
kira-kira 1.300 orang kulit hitam telah dibunuh tanpa bicara oleh Ku Klux Klan di Amerika. Akibatnya, orang-orang kulit hitam mulai melakukan pemberontakan di beberapa negeri di Amerika.

Berkaitan dengan perbudakan orang-orang kulit hitam, perhatikan sekelumit catatan berikut ini. Dibalik konsep rasialisme keji ala Kristen itu, ternyata musik gereja Gospel itu berasal dari kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen kulit putih terhadap budak-budaknya!

Konsep rasialisme yang ada sekarang, mulai muncul pada abad ke-XVI ketika perdagangan budak mulai berkembang. Budak-budak didatangkan dari Afrika menuju Eropa atau Amerika. Para pedagang budak yang hampir semuanya Kristen itu menyebarkan paham bahwa masyarakat kulit hitam (ras Afrika) adalah ras yang terkuat namun inferior, sehingga cocok untuk mengerjakan pekerjaan kasar dan harus tunduk pada perintah. Pandangan inferioritas ini sama dengan yang terjadi pada masa Romawi dan Yunani.

Diperkirakan 11,8 juta rakyat Afrika diperdagangkan selama masa Perdagangan Budak Atlantik, di mana sekitar 10 sampai 20% nya tewas dalam perjalanan menyeberangi samudera Atlantik. Pada abad 19, tercatat bahwa 90% budak belian adalah anak-anak. Beberapa negeri Kristen telah menjadi kaya raya karena perdagangan budak ini. Perbudakan Afrika adalah saudara kembar kolonialisme di benua itu.

Bahkan ada satu fakta menarik, bahwa musik Rap yang kita kenal sekarang ini juga berasal dari budak-budak kulit hitam yang dipelihara oleh orang-orang Kristen kulit putih.

Kebanyakan buku, Acara Tv dan sejarawan mengatakan bahwa rap di buat atau diciptakan di Bronx, tapi ini tidak sepenuhnya benar. Rap Amerika yang kita kenal sekarang dimulai sekitar 1970 di Boogie Down Bronx. Untuk mengerti secara keseluruhan, kita harus kembali ke masa lampau: dimulai di Afrika. Di Afrika -untuk lebih spesifik- suku-suku disana mengabadikan sejarah mereka dalam bait-bait ritmik dan nyanyian.

Karena ada banyak suku-suku, banyak terdapat bahasa daerah dan suku-suku yang bahasa mereka seringnya tidak dibuang/dilupakan. Jadi, untuk menjaga sejarah dan legenda mereka menggunakan lagu dan ritmik untuk menceritakannya. Karena pedagang budak kulit putih datang dan memisahkan mereka dari keluarga dan suku mereka.

Orang Afrika asli membawa cerita dan rima mereka bersama pedagang budak Eropa. Mereka (pedagang budak) tidak mengijinkan para budak bicara menggunakan ”Bahasa Ibu” (bahasa afrika asli). Para pedagang budak itu berpikir bahwa dengan menggunakan bahasa aslinya mereka dapat berencana untuk membuat rusuh. Walaupun mereka dirantai, tapi mereka diperbolehkan untuk menyanyi. Ini membuat para budak bertahan hidup dan merasa lebih baik. Para budak wanita di perkosa dan sering kali hamil oleh crew (para pembantu pedagang budak). Budak wanita dijadikan bonus buat para crew. Perjalanan seperti ini bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Dan bila dari sekitar 1000 budak, ada 600-700 budak yang selamat, itu adalah perjalanan yang bagus. Dan bila budak wanita hamil maka mereka akan mendapatkan harga yang lebih baik (karena ada tambahan bayi dalam kandungan budak wanita). Lalu orang-orang Kristen/para majikan alias pemilik budak itu berlaku sama untuk mendapatkan lebih banyak budak, yaitu memperkosa budak wanita hingga hamil dan anak hasil perbuatan itu dijadikan budak lagi. Mereka, para majikan bahkan memberikan tamu mereka satu atau dua wanita untuk teman tidur!

Ketika mereka menyanyi mereka bekerja lebih giat karena isi nyanyiannya adalah tentang dari mana mereka berasal dan sejarah suku-suku mereka. Waktu selanjutnya, karena majikan bersifat lebih lunak, para budak diperbolehkan libur setiap hari minggu. Pada hari minggu tersebut, para budak pergi ke gereja dan menyanyikan lagu kebebasan. Hal ini kemudian berubah menjadi paduan suara Gospel.

Jadi musik Gospel Gereja berasal dari pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan orang-orang Kristen terhadap budak-budak kulit hitam! Yesus pasti menangis pilu melihat buah dari pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan oleh para pengikutnya ini!

 1914-1919: Perang Dunia-I
Jutaan orang terbunuh akibat keganasan orang-orang Kristen. Perang dunia pertama berlangsung selama 1.565 hari. 9 juta manusia tewas. Tepatnya dalam buku Guinness Book of Records disebutkan bahwa Perang Dunia I menelan korban 9.700.000 jiwa, 22 juta cacat dan tidak dapat bekerja seumur hidup. Demikianlah statistik kerusakan dalam medan perang. Angka kematian dan kecederaan yang terjadi di kota-kota padat penduduk sebagai akibat sampingan perang tidak dapat dihitung. Angka biaya perang mencapai lebih dari $400 milyar. Peserta perang sebagian besar adalah negara-negara berpenduduk mayoritas beragama Kristen.

 Tahun 1940: Tragedi Kroasia
Orang-orang Kristen non Katolik di Kroasia (bagian dari Yugoslavia yang mayoritas beragama Katolik) hanya diberi dua pilihan: pindah menjadi penganut agama Katolik atau mati. Gedung-gedung gereja mereka ditutup, dokumen-dokumen jemaat dimusnahkan, gedung-gedung yang masih berhubungan dengan kegiatan gereja dibakar habis.

Sering kali para umat Ortodoks ditangkap sewaktu mereka beribadat, dan disekap dalam gerejanya atau dalam aula-aula gereja sambil menunggu nasib mereka ditentukan: dipaksa pindah agama, dikirim ke kamp konsentrasi atau dieksekusi. Orang-orang yang selamat, biasanya hanya sedikit, akhirnya menggantung nasibnya kepada para Komandan Ustachi dan para padri Katolik yang bersama mereka.”

“Pembunuhan massal dilakukan dengan membunuh secara orang-per-orang, kebanyakan terjadi di daerah pinggiran kota. Para Ustachi sering menggunakan senjata-senjata primitif, seperti garpu, sekop, palu dan gergaji, untuk menyiksa korban-korban mereka tergantung dari hukuman yang diberikan. Mereka mematahkan kaki, menguliti tubuh dan janggut korbannya, membuat buta korbannya dengan mengiris mata mereka dan bahkan mengeluarkan bola matanya.”

Informasi ini direkam dalam bentuk gambar dan kesaksian tersumpah para korban yang selamat. Mereka tidak membedakan antara anak-anak atau wanita. Sebagai contoh:’Di desa-desa antara Vlasenica dan Kladani tentara Nazi menemukan anak-anak yang disalib oleh Ustachi. Para pastor Katolik mendalangi pembunuhan anak-anak tersebut.’

Seorang pastor Katolik bernama Juric berkata, “Saat ini bukan merupakan suatu dosa jika membunuh anak berusia tujuh tahun kalau anak tersebut ternyata menghalangi gerakan Ustachi.” [Dari buku Teror Katolik Saat Ini (Catholic Terror Today) oleh Avro Manhattan]

Kemudian pada tahun 1941, Oustachis (Militan Katolik Kroasia) disewa oleh Mussolini untuk membantu Italia di pantai Adriatik. Tahun 1941, Hitler dan Mussolini menginvasi dan memecah Yugoslavia. Pavelitch dijadikan pemimpin “Negara Merdeka Kroasia”.

Tanggal 18 Mei 1941, Paus Pius XII menerima Pavelitch beserta rekan-rekannya. Pada hari itu juga, pembunuhan besar-besaran terhadap kaum Ortodoks Kroasia mencapai puncaknya, mereka dipaksa menganut paham Katolik. Para Oustachis juga memburu kaum minoritas Serbia. Andrija Artukovic adalah perancang utama dari pembunuhan besar-besaran tersebut.

 29 Agustus 1942: The Crusaders Sang Penjagal
Kejahatan perang paling buruk, mungkin juga aneh, dilaksanakan oleh para anggota badan intelejen Ustachi. Dalam kasus Petar Brzica tidak diragukan lagi merupakan salah satu kejahatan yang paling dahsyat. Peter Brzica yang pernah mengenyam pendidikan di Fransiscan College di Siroki, Brijeg, Herzegovina, adalah seorang mahasiswa fakultas hukum, dan seorang anggota organisasi Katolik “The Crusaders”.

Pada 29 Agustus 1942 malam, di kamp konsentrasi Jasenovac, perintah eksekusi dikeluarkan. Taruhan dilakukan siapa kira-kira yang akan melakukan eksekusi terhadap tahanan yang jumlahnya besar itu. Peter Brzica memotong leher 1.360 orang tahanan dengan pisau jagal yang dibuat khusus. Dia dinobatkan sebagai pemenang dan diangkat sebagai raja pemotong leher manusia. Sebuah jam emas, pelayanan kelas satu dan babi panggang serta anggur dihadiahkan kepadanya.

Kejahatan perang yang dilakukan pasukan Ustachi jauh melampaui penyiksaan fisik yang kejam. Korban-korban mereka juga disiksa secara mental. Sebagai contoh adalah kebrutalan, yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yang disaksikan oleh beberapa saksi mata sehubungan dengan kejadian berikut ini.

Di Nevesinje, Ustachi menangkap sebuah keluarga Serbia yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak. Sang ibu dan keempat anaknya dipisahkan dari ayahnya. Selama tujuh hari mereka dibiarkan kelaparan dan kehausan. Kemudian Ustachi membawa sebuah daging panggang dan air minum yang banyak untuk ibu dan keempat anak tersebut. Karena sangat lapar, merekapun memakan habis daging panggang tersebut. Setelah mereka selesai, para Ustachi memberitahukan bahwa daging yang dimakan itu adalah tubuh ayah mereka. Ini adalah contoh dari kemarahan Vatikan yang lepas kendali. Ini adalah contoh dari kebiadaban Katolik yang tak bisa disangkal lagi.

 Tahun 1942: Kamp Konsentrasi Jasenovac
Seorang biarawan ordo Fransiskan, Miroslav Filipovic, sebagai seorang pastor adalah komandan kamp konsentrasi di Jasenovac. Kamp konsentrasi ini merupakan kamp yang unik karena jumlah tahanan muda yang dikirim kesana. Tahun 1942 kamp ini menampung 24.000 tahanan orang muda Orthodoks. 12.000 diantaranya dibunuh dengan darah dingin. Banyak mayat-mayat anak-anak kecil yang mati kelaparan di kamp konsentrasi di Jasenovac.

Di Dubrovinick, Dalmatia, para prajurit fasis banyak yang mempunyai foto seorang Ustachi yang mengenakan dua buah kalung. Satu kalung merupakan untaian mata manusia, yang lainnya untaian lidah orang-orang Serbia Ortodoks yang dibunuh.

Pada tahun 1942 ini juga, Gereja Katolik akhirnya memang kemudian terbukti terlibat kejahatan dalam Perang Dunia Kedua, karena membiarkan pembantaian atas 2300 warga Serbia di Kroasia, yang waktu itu bergabung dengan Yugoslavia.

Pembantaian yang terjadi pada tahun 1942 tersebut, menurut warga etnis Serbia, tak lepas dari peran rohaniawan gereja Katolik setempat. Seorang imam dari biara Petricevac saat itu diketahui memimpin sekumpulan fasis etnis Kroasia bersenjata untuk menyerbu suatu desa dan membunuh 1800 laki-laki dan 500 perempuan.

Total selama Perang Dunia II, Statistik menyebutkan bahwa 35 juta orang terbunuh (menurut Guinness Book of Records 54.800.000 jiwa), 20 juta kehilangan kaki-tangan, 17 juta liter darah tertumpahkan, 12 juta anak terlahir cacat, 13.000 sekolah dasar dan menengah, 6.000 universitas dan 8.000 laboratium sains telah musnah, serta 319 milyar peluru telah ditembakkan.

Perang Dunia I dan II yang telah mengakibatkan puluhan juta manusia mati disebabkan oleh negara-negara Kristen seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Amerika, dan lain-lain. Episode horror berbagai penyiksaan dan penyembelihan umat manusia yang dilakukan oleh orang-orang Kristen sangat mewarnai sepanjang perang berlangsung. Setelah membantai puluhan juta manusia, anehnya mereka masih suka menuduh negara-negara Islam sebagai teroris. Padahal tidak ada satu negara Islam pun yang mengakibatkan puluhan juta manusia mati seperti mereka.

 Pada 4 Mei 1978: Terror Tentara Tuhan
Tentara Afrika Selatan membunuh lebih dari 600 penduduk di Kamp pengungsi Kassinga di Namibia. Sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Tentu mereka tidak dianggap teroris oleh orang-orang Kristen, karena para pembantai biadab ini adalah pemeluk Kristen. Di Uganda, Tentara Pertahanan Tuhan (LRA) juga sering melakukan aksi terorisme. Namun karena mereka para pelaku pembantaian itu beragama Kristen, tentu hampir mustahil orang-orang Kristen memberi label “teroris” kepada mereka.

Bandingkan dengan stigma teroris yang mereka berikan kepada seluruh umat Islam sebagai akibat dari ulah individu atau kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Padahal apapun bentuk kejahatannya, jika dibandingkan dengan kejahatan-kejahatan "ultra biadab" yang selama ribuan tahun dilakukan oleh umat kristen, baik secara kualitas maupun kuantitas, tidak ada apa-apanya!

 Tahun 1980-an: Darah di Irlandia
banyak terjadi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Katolik di Irlandia Utara. Sir John Stevens, kepala Polisi Metropolitan Inggris, menyimpulkan bahwa pihak keamanan Inggris terlibat langsung dalam rangkaian pembunuhan tokoh-tokoh Katolik itu.

Dinas intelijen angkatan bersenjata Inggris dan polisi Irlandia Utara, yang sebagian besar anggotanya beragama Protestan, diberitakan menjalin kerja sama dengan organisasi teroris Protestan UDA. Sedikitnya dua aksi pembunuhan yang dilakukan UDA dihubungkan langsung dengan tentara Inggris dan polisi Irlandia Utara.

Sebenarnya isi laporan tidak terlalu mengejutkan. Ini hanya menguatkan isu-isu yang sudah lama beredar, bahwa tentara Inggris dan polisi Irlandia Utara tidak selalu berperan netral sewaktu perang saudara di tahun 1980-an.

 April-Mei 1994: Tumpah Darah di Rwanda
Terjadi aksi pembantaian besar-besaran di Rwanda oleh orang-orang Kristen Hutu terhadap Kristen Tutsi. Lebih dari 800.000 orang Tutsi tewas dibantai Hutu.

Rwanda adalah sebuah negara di Afrika yang berpenduduk mayoritas 70% beragama Kristen, yang terdiri dari pemeluk Katolik 58% dan Protestan 12%. Terbesar kedua adalah animisme dengan 23% dan Islam minoritas dengan 9% penganut. Berdasarkan etnis di Rwanda yang paling dominan adalah suku Hutu dengan 89%, disusul oleh suku Tutsi 10% dan Twa (Pigmy) 1%.

Di Rwanda kurang lebih 800.000 (sumber lain menyebutkan 1 juta) suku Tutsi menjadi korban pembantaian terencana oleh tokoh-tokoh militan suku Hutu, bahkan sebagian suku Hutu sendiri yang beraliran moderat, dalam arti tidak memusuhi suku Tutsi, juga menjadi korban pembantaian tersebut.

Kilas balik peristiwa, pada 6 April 1994 Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana kembali dari Tanzania untuk proses perdamaian. Pesawatnya ditembak jatuh oleh kelompok ekstrim anggota partainya sendiri saat mencoba mendarat di Kigali, ibukota Rwanda.

Kematian Habyarimana dijadikan alasan untuk menjalankan genosida. Radio nasional Rwanda dan beberapa radio swasta mengudarakan instruksi pada kelompok pembantai yang disebut interahamwe; yang artinya ‘mereka yang bertarung bersama’, dan secara terus-menerus meminta mereka melancarkan pembantaian itu.

Kelompok angkatan bersenjata Rwanda membantu aksi interahamwe itu setiap kali para pembunuh itu menghadapi perlawanan kelompok Tutsi. Penyediaan alat transportasi dan bahan bakar membuat pasukan maut itu mampu mencapai daerah-daerah suku Tutsi yang cukup terisolasi.

“Kalian harus bekerja lebih keras, kuburannya belum penuh,” dorong sebuah suara di radio. Bulan April 1994, ketika genosida (pembantaian etnis) mulai terjadi di Rwanda, masyarakat biasa seakan tak bisa lepas dari radio mereka. Di sebuah bagian dunia tempat kebanyakan masyarakatnya tidak punya saluran listrik, begitulah cara informasi tersebarkan. Namun di Rwanda di musim semi tersebut, stasiun-stasiun radio terkenal nampaknya hanya punya satu tujuan: untuk menghasut massa Hutu agar membasmi kaum Tutsi para tetangga mereka.

Stasiun radio yang paling terkenal di antara semuanya adalah RTLM (Radio Televison des Milles Collines), Radio Televisi Ribuan Bukit. Stasiun ini dikenal karena para disc jockey-nya yang terbaik di Rwanda dan karena pencampuran musik Afrika yang menarik, program beritanya, dan analisa politiknya.

Didirikan tahun 1993 dan dimiliki oleh anggota keluarga dan teman-teman Presiden Habyarimana, stasiun ini memberikan khotbah berisikan pesan ekstrim tentang keunggulan kaum Hutu, namun kebanyakan masyarakat non-politik Rwanda mendengarkan stasiun ini karena musik yang mereka putarkan.

Dalam kenyataannya, hati dan pikiran mereka sedang dipersiapkan untuk melakukan genosida. Ketika pembunuhan dimulai tangal 6 April, apa yang telah diciptakan oleh para pemilik dan manager stasiun tersebut menjadi jelas-sebuah mimbar mengerikan darimana pesan untuk membunuh disebarkan ke seluruh Rwanda. RTLM-lah yang memberikan sinyal untuk memulai pembantaian atas bangsa Tutsi dan kaum Hutu yang moderat.

Tanggal 7 dan 8 April RTLM menyiarkan: “Kalian harus membunuhnya [kaum Tutsi], mereka adalah kecoa …” Tanggal 13 Mei: “Kalian yang sedang mendengarkan kami, bangkitlah agar kita dapat berjuang demi Rwanda kita… Bertempurlah dengam senjata yang kalian  miliki; Anda yang memiliki panah, gunakan panah, Anda yang memiliki tombak bertempurlah dengan tombak; Bawa alat-alat tradisional kalian … Kita semua harus melawan [bangsa Tutsi]; kita harus menghabisi mereka, membasmi mereka, buang mereka dari seluruh negara… Tidak boleh ada pengampunan bagi mereka, sama sekali.” Dan pada tanggal 2 Juli: “Saya tidak tahu apakah Tuhan akan membantu kita dalam membasmi [bangsa Tutsi]… namun kita harus bangkit untuk membasmi ras orang-orang jahat ini… Mereka harus dibasmi karena tidak ada cara lain.”

Pesan tersebut berhasil. Bulan Juli 1994, ketika kemenangan Tutsi yang dipimpin Front Patriotis Rwanda (RPF) mengakhiri pembantaian tersebut, sejumlah 1 juta rakyat Rwanda -kebanyakan kaum Tutsi, namun juga kaum Hutu yang termasuk dalam partai-partai demokratis di Rwanda- telah terbunuh. Radio-radio telah dengan sangat suksesnya menghasut genosida tersebut. Jatuhnya hampir 1 juta korban jiwa dari peristiwa tersebut merupakan pelajaran dunia tentang kebiadaban Kristen yang kesekian kalinya.

 28 April 2002: Pembantaian Kristen oleh Kristen di Ambon
Penyerangan dan pembantaian di desa Soya, Ambon. Pada tanggal tersebut, terjadi pembantaian di pemukiman Kristen, desa Soya di Ambon. Dan yang menjadi korbannya adalah umat Kristen semua, belasan yang tewas dan luka-luka, termasuk seorang bayi yang tidak tahu apa-apa tewas dibantai dengan keji. Banyak rumah-rumah yang dibakar dan gerejapun dirusak oleh rombongan perusuh tersebut.

Ketika itu dengan lantangnya dan serempak seluruh umat Kristen di Maluku menuding Laskar Jihadlah pelaku yang berada di balik pembantaian itu. Bahkan tragedi pembantaian terhadap umat Kristen di Desa Soya dan ekses-ekses lainnya ini, termasuk yang paling diexpose oleh media-media atau situs corong Kristen terutama yang gencar dilakukan oleh oknum Pendeta Cabul JL di situs Ambon Berdarah online, atau lebih tepatnya “ON-LIE”.

Walaupun tentu menjadi pertanyaan bagi kita semua, bagaimana mungkin Laskar Jihad atau apapun kelompok dari luar mampu untuk menerobos masuk kedalam desa Soya yang jalannya sulit dan berliku-liku itu tanpa diketahui oleh orang dalam desa tersebut? Ternyata jawabannya simpel: ORANG KRISTEN SENDIRILAH YANG MELAKUKAN PEMBANTAIAN TERHADAP SAUDARA SEIMANNYA ITU!

Tujuan mereka TEGA melakukan pembantaian terhadap umat dan gerejanya sendiri adalah supaya konflik di Maluku yang mereka ciptakan itu dapat terus berlangsung, syukur-syukur eskalasinya makin besar sehingga dapat mengundang kekuatan PBB pimpinan Si Setan Besar AS atau Si Pencium Pantat Setan Besar UK untuk masuk ke sana.

Tujuan mereka sudah jelas, referendum bagi masyarakat Maluku! Dan melihat perimbangan populasi penduduk di Maluku yang sekarang sudah lebih banyak orang Kristennya, karena umat Islamnya banyak yang sudah mereka bantai dan para pendatang dari luar Maluku seperti Bugis, Makassar, Padang, Jawa dan lain-lain sudah banyak pulang ke daerah asalnya akibat konflik berdarah yang dilancarkan pasukan salibis ini, maka mereka yakin pihak Kristen akan unggul dalam referendum itu nanti. Dasar umat biadab!

 Tidak di Rwanda saja
Bulan Agustus 2004 juga terjadi pembantaian terhadap ratusan suku Tutsi oleh suku Hutu di Burundi. Di Burundi, 67% rakyatnya adalah pemeluk agama Kristen dan 32% animisme. Suku Hutu merupakan mayoritas (seperti juga di Rwanda) dengan 85%, kedua terbanyak adalah Tutsi 14%, dan minoritas suku Twa (Pigmy) 1%.

Ratusan pengungsi Tutsi yang sedang tertidur lelap DIBANTAI oleh milisi-milisi suku Hutu di daerah perbatasan antara Rwanda-Burundi. Pemerintah Burundi menuduh milisi-milisi Hutu tersebut disupport atau setidaknya memiliki hubungan dengan teroris-teroris (Kristen) Hutu di Rwanda yang membantai 1 juta suku Tutsi disana tahun 1994.

Namun yang pasti, didukung atau tidak, memiliki hubungan atau tidak, mereka adalah orang-orang Kristen dan mereka biadab.

[Sumber: Aliey Faizal]

Saturday, December 8, 2012

Kebiadaban Di Balik Penyebaran "Ajaran Kasih" Kristen Saturday, December 8, 2012


ISTILAH PAGAN dalam Kristen mencoba meniru kata Gentile dari Yudaisme yang berarti semua orang di luar Yahudi Israel. Sehingga Pagan yang yang dimaksud Kristen adalah semua orang yang tidak mengakui Yesus sebagai juru selamat.
  • Sejak agama Kristen diresmikan tahun 315 M, kuil-kuil kaum Pagan semakin banyak yang dihancurkan oleh pangikut Kristen dan Pendeta mereka pun juga dibunuh. Antara tahun 315 dan abad ke 6 M, ribuan orang-orang Pagan disembelih. Pendeta-pendeta Kristen seperti Mark Arethusa atau Cyrill dari Heliopolis terkenal sebagai “penghancur kuil”.
  • Kaisar Kristen Theodosius (408-450) bahkan membunuh anak-anaknya sendiri karena mereka bermain-main dengan patung-patung Pagan. Menurut penulis Christian Chronicles, kaisar melakukan hal tersebut karena dia berusaha mematuhi seluruh ajaran Kristen.
  • Pada awal abad ke-4 M, filosof Sopratos dihukum mati atas perintah penguasa Kristen.
  • Tahun 415 M, Hypatia dari Alexandria (Hypatia adalah seorang wanita Filsuf dan Ilmuwan Yunani dari Alexandria Mesir, ia juga wanita pertama yang menjadi ahli matematika, yang juga mengajarkan philosophy dan astronomi). Ia hidup pada masa Mesir Roma dan dibunuh oleh masyarakat Kristen Koptic yang menuduhnya sebagai penyebab kekacauan dalam agama. Ia dijuluki sebagai “pembela ilmu pengetahuan yang gagah berani melawan agama”, dan beberapa pendapat para ahli menyatakan, kematiannya menandai akhir dari jaman Hellenistik dan dimulainya jaman kegelapan (The Dark Ages), ia diseret kemudian tubuhnya dipotong-potong oleh orang-orang Kristen yang dipimpin oleh pendeta Peter.
  • Kaisar Karl (Charlemagne) pada tahun 782 M memenggal kepala 4500 orang Saxon, karena mereka tidak mau memeluk agama Kristen.
  • Kaum tani yang tidak mau membayar sumbangan kepada Gereja, dijatuhi hukuman mati. Mereka berjumlah antara 5.000 sampai 11.000 pria, wanita dan anak-anak, dibunuh pada tanggal 27 Mei 1234 dekat Altenesch (Jerman).
  • Abad ke 16 dan 17 M, tercatat puluhan ribu warga Irlandia dibunuh. Pasukan Inggris terjun ke wilayah ini untuk menjinakkan orang-orang Irlandia yang liar. Mereka dianggap tidak lebih dari binatang yang hidup tanpa mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seorang pimpinan tentara Inggris yang terkenal kejam adalah Humphrey Gilbert yang masih bersaudara dengan Sir Walter Raleigh memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan.
  • Di Semlin dan Wieselburg (Hungaria), pada 12-24 Juni 1096 ribuan orang dibunuh.
  • Dari 9-26 September 1096 sekitar 1.000 orang dibunuh di Nikala, Xerigordon (Turki).
  • Pada tanggal 11 Desember 1098, seribu orang Muslim dibantai di Marra. Di lokasi ini tentara Salib kehabisan makanan, mereka menderita kelaparan, kemudian mereka mengambil daging mayat musuh yang sudah mulai membusuk dan memakannya (Christian Chronicle, Albert Aquensis).
  • Tentara Salib menaklukkan kota Jerusalem pada tanggal 15 Juli1099, lebih dari 60.000 orang dibantai, terdiri dari atas Muslim, Yahudi, laki-laki dan anak-anak. Salah satu saksi mata menyatakan: “Genangan darah manusia di depan Kuil Solomon setinggi pergelangan kaki orang dewasa”.
  • Dalam peperangan Askalon, 12 Agustus 1099, tentara Salib telah membantai 200.000 Muslim dan Yahudi “atas nama Yesus Kristus”.
  • Pembantaian umat Islam yang dilakukan oleh Vlad III atau Vald Draculea (Dracula) antara tahun 1456-1476. Sedangkan untuk menutupi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Vlad III atau Vlad Dracula, Dunia barat, khususnya Kristen sengaja menciptakan mitos Dracula yang sosok keberadanya antara ada dan tiada. Kekejamannya dianggap hanya buah karya imajinasi Bram Stoker dalam novelnya. Padahal kehidupan nyata Dracula merupakan sejarah kegelapan abad pertengahan di mana diketahui dia telah membantai tidak kurang dari 300.000 umat Islam selama ia berkuasa di Transylvania Rumania.
PEMBUNUHAN TERHADAP ORANG BIDAH (INKUISISI)
Inkuisisi adalah istilah yang digunakan terhadap pengadilan yang diselenggarakan oleh Gereja terhadap pelaku bidah. Undang-undang ini mengandung peraturan-peraturan yang sangat keras. Begitu Gereja Trinitarian menjatuhkan keputusan bersalah, kepada terdakwa dikenakan hukuman berupa: penyiksaan, pembakaran dan pemenggalan kepala.
  • Manichaean adalah salah satu sekte yang dinyatakan bidah dalam Kristen. Sekte ini dibasmi karena melakukan praktek pengendalian kelahiran (KB) yang tidak diajarkan oleh Gereja Katholik. Pembasmian dilakukan seiring kampanye besar-besaran ke seluruh kekaisaran Romawi antara tahun 372 s/d 444. Ribuan orang menjadi korbannya.
  • Albigensians adalah perang yang diniatkan untuk membasmi sesama Kristen, yakni kelompok Cathars. Mereka orang-orang Cathars menganut Kristen dengan baik, tetapi menolak segala peraturan buatan Gereja Katholik Roma, menolak pajak dan menolak larangan pengendalian kelahiran. Awal kekejaman ini terjadi pada masa Paus Innocent III yang memerintahkan untuk membunuh para pengikut Cathars di tahun 1209. Kota Beziers (Perancis), pada tanggal 22 Juni 1209 dihancurkan, semua makhluk hidup di dalamnya dibantai. Jumlah korban menurut catatan sekitar 70.000 manusia, termasuk Katholik yang menolak untuk menyerahkan tetangga dan sahabatnya yang dikategorikan bidah oleh Gereja.
  • Bidah yang lain seperti Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephite dan lain-lain juga dibantai habis. Diperkirakan jumlah korban yang tewas mencapai ratusan ribu orang.
  • John Huss, yang mengkritisi “Papal Infallibility” (Kemustahilan Paus berbuat salah) dan Surat penebusan dosa, dibakar hidup-hidup di tiang pancang pada 1415.
  • Pada masa pemburuan terhadap para penyihir (1484-1750) menurut sejarah modern, ratusan ribu penyihir (80% di antaranya adalah wanita) dibakar hidup-hisup atau digantung. Membakar manusia hidup-hidup adalah bentuk eksekusi yang sangat kejam.Ide pembakaran tukang sihir ini berasal dari Saint Augustine (354-430 M) yang pernah mengatakan, “Orang-orang Pagan, Yahudi dan kaum sesat akan terbakar selamanya di neraka bersama dengan setan, kecuali mereka diselamatkan oleh Gereja Katholik”.
PEMBUNUHAN ATAS NAMA PERANG AGAMA
  • Pada abad ke 15 terjadi atas perintah Gereja, terjadi perang melawan Hussites (pengikut John Huss), ribuan orang tewas dibantai.
  • Tahun 1568, Lembaga Inkuisisi Spanyol memerintahkan pemusnahan 3 juta pemberontak di Belanda dan Spanyol.
  • Tahun 1572, di Perancis 20.000 pengikut Huguenots dibunuh atas perintah Paus Pius V. Hingga abad ke 17, sebanyak 200.000 orang lari menyelamatkan diri. Huguenots adalah anggota Gereja Protestant Reformasi dari Perancis (Calvinists Perancis).
  • Abad ke 17, Katholik membunuh Gaspard de Coligny, seorang pemimpin Protestan. Setelah membunuhnya, mereka kemudian memenggal kepalanya, memutilasi dan membuangnya ke sungai. Tapi kemudian mereka menimbang bahwa tubuh tersebut tidak layak untuk makanan ikan, mereka mengambilnya kembali yang tersisa dan dipancangkan di Mountfaulcon.
  • Abad ke 17, pasukan Katholik menyerang kota Magdeburg (Jerman), 30.000 umat Protestan dibantai. Menurut Friedrich Schiller, “Dalam satu Gereja, 50 wanita ditemukan tewas dibantai, dan bayi-bayi masih menyusu pada ibu-ibu mereka yang sudah tidak bernyawa”. Sepanjang abad ke 17, selama 30 tahun perang antara Katholik vs Protestan, sedikitnya 40% populasi kota dibunuh, sebagian besar di Jerman.
PEMBUNUHAN TERHADAP YAHUDI
  •  Pada pertengahan abad ke-4 M, Sinagog pertama dihancurkan atas perintah Uskup Dertona. Sedangkan Sinagog pertama yang dibakar, berada di dekat sungai Efrat atas perintah Uskup Kallinikon pada tahun 388 M.
  • Pada tahun 694 M, keputusan dari 17 Dewan Gereja di Toledo, membolehkan orang-orang Yahudi untuk diperbudak, barang milik mereka disita, dan anak-anakmereka dibaptis dengan paksa.
  • Uskup Limoges dari Perancis, pada tahun 1010 menetapkan bahwa penduduk yang beragama Yahudi yang tidak mau beralih agama ke agama Kristen, harus diusir dan dibunuh.
  • Perang Salib I, 12.000 orang Yahudi dibantai pada tahun 1096. Tempatnya adalah sebagai berikut: (Jerman) Worms, Mainz, Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Regensburg, Prag dan Metz (Perancis).
  • Pada tahun 1348, dua ribu orang Yahudi dibunuh di Bassel (Swiss) dan Strassbourg.
  • Tahun 1349 di Praha, 3000 orang Yahudi dibunuh, dan pada tahun 1391 Yahudi Seville dibantai di bawah pimpinan Kardinal Martines. Sebanyak 4.000 orang Yahudi dihabisi dan 25.000 dijual sebagai budak.
  • Pada tahun 1492, saat Colombus (anggota Freemason) berlayar untuk menaklukkan “Dunia Baru” (benua Amerika), lebih dari 150.000 Yahudi diusir dari Spanyol, lebih dari setengahnya mati di perjalanan.
  • Tahun 1648, pembantaian Chmielnitzki, sekitar 200.000 Yahudi dibantai di Polandia.
PEMUSNAHAN MASSAL PENDUDUK ASLI DI WILAYAH JAJAHAN
  • Sebelum kedatangan orang Inggris, orang-orang Indian di bagian barat Abenaki (New Hampshire) dan Vermont berjumlah lebih adri 12.000 orang.Dan kurang dari separuh abad, penduduk asli yang tersisa hanya sekitar 250 orang.
  • Suku Indian Pocumtuck berjumlah lebih dari 18.000 orang, dan beberapa tahun kemudian jumlah mereka tinggal 920 orang.
  • Suku Quiripi-Unquachog berjumlah 30.000, tetapi beberapa tahun kemudian jumlah mereka hanya tersisa 1.500 orang.
  • Suku Indian di Massachusetts berjumlah 44.000 orang, akan tetapi beberapa waktu kemudian jumlah mereka menyusut drastis hingga tersisa 6.000 orang saja.
  • Di Sand Creek, Colorado pada 29 November 1864, Kolonel John Chivington yang juga seorang Pendeta Gereja Methodist telah membantai 600 orang Indian Cheyenne. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.
  • Lebih dari 150.000.000 jiwa suku Indian (penduduk asli benua Amerika) dibantai oleh para penjajah dari Eropa pada periode tahun 1500-1900, dan dari merekayang masih bertahan hidup tidak luput dari kekerasan, perlakuan buruk dan perbudakan.
Berikut adalah komentar dan catatan sejarah tentang kebiadaban bangsa-bangsa Eropa di “Benua Baru” (Amerika):

“Orang-orang Eropa (penjajah) sangat senang mencari bentuk-bentuk kekejaman yang tidak lazim terhadap penduduk asli. Mereka membuat tiang gantung panjang yang tinggi, cukup tinggi untuk menjaga kaki tidak menyentuh tanah dan tetap tergantung. Mereka menggantung 13 orang penduduk asli sekaligus sebagai penghormatan kepada Sang Juru Selamat Kristus dan 12 Rasul. Kemudian mereka membungkus tubuh orang Indian yang mereka gantung itu dengan jerami dan membakarnya hidup-hidup”.

“Orang kristen Spanyol memotong lengan mereka, kaki atau pinggul atau memukul kepala-kepala mereka seperti penjagal yang memotong hewan yang akan dijual ke pasar. Enam ratus orang, termasuk suku Cacique, dibunuh dengan kejam seperti binatang liar. Vasco de Balboa bahkan memesan empat puluh dari mereka dan dijadikan makanan anjing-anjing”.

“Lalu bangsa Eropa mengalihkan perhatian mereka ke bangsa Mexico dan Amerika tengah. Penyembelihan pun dimulai. Kota yang sangat indah Tenochitln (Mexico) menjadi sasaran selanjutnya”.

“Pada tahun 1703 secara formalitas menyatakan kepada Gubernur Massachusetts bahwa pendatang baru (kolonis) akan memberikan uang untuk membeli alat yang dibutuhkan berupa kereta anjing besar untuk menangkap orang-orang Indian seperti mereka melakukan hal tersebut kepada beruang”.

BENCANA KEMANUSIAAN AKIBAT KOLONIALISME
Tak terhitung lagi jumlah korban manusia yang diakibatkan oleh nafsu serakah bangsa-bangsa Barat untuk menguasai dan menguras harta kekayaan bangsa yang dijajah oleh mereka. Indonesia adalah salah satu contohnya, selama kurang lebih 350 tahun bangsa ini diperas habis oleh bangsa-bangsa dari Barat (Jepang hanya sempat menguasai Indonesia kurang lebih 3 tahun). Puluhan bahkan sangat mungkin ratusan juta jiwa warga pribumi dibantai demi mewujudkan semboyan dari para penjajah tersebut yaitu, G3 :Glory (Kemenangan), Gold (menguras habis kekayaan alam) dan Gospel (menyebarkan agama Kristen).

KEJAHATAN KEMANUSIAAN GEREJA ABAD KE-20
  • Pada tahun 1942-1943 ada beberapa tempat pembantaian di Croasia yang dikelola oleh Katholik Ustasha di bawah pimpinan Diktator Ante Paveli. Dia mempraktekkan Katholik dan pengikut setia Paus. Ante Paveli juga menyediakan tempat pembantaian khusus untuk anak-anak. Di antara kamp pembantaian di kota kecil tersebut ada tempat pembantaian yang terburuk yang dikenal dengan nama Jasenovak. Kamp ini dikelola oleh para Pastor Franciscan dari Gereja Orthodok Serbia. Jumlah korban pembantaian mereka diperkirakan berjumlah antara 300.000 sampai 600.000 orang.
Pada tahun 1994 di Rwanda (Afrika) terjadi konflik antara suku Hutu dan suku Tutsi. Dan pada 10 oktober 1996 dalam siaran radio S2 Aktuell (Jerman), menyiarkan berita sebagai berikut:

“Gereja Anglican dan Pastor serta suster dari gereja Katholik dicurigai mempunyai keterkaitan penting dalam pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di Rwanda. Dalam waktu hanya beberapa bulan para Pastor berhasil mempengaruhi pemikiran masyarakat di Kigali, ibukota Rwanda, sehingga masyarakat menjadi beringas dan brutal, penuh kebencian.Pastor kepala di Gereja Holly Family melegalkan pembunuhan terhadap suku Tutsi dengan cara brutal.

Mereka dilaporkan bersekongkol dengan gerombolan milisi Hutu dalam melakukan penyembelihan terhadap orang-orang Tutsi yang mencari perlindungan di gerejanya.Bahkan dua tahun setelah terjadinya pembunuhan besar-besaran tersebut, umat Katholik tidak bisa melupakan keterlibatan para Pastor dalam pembantaian di depan salib Yesus di ruang gereja. Tidak heran jika umat Katholik tetap menolak menginjakkan kaki di gereja itu. Lebih parah lagi, ternyata tidak ada satupun gereja di Rwanda yang tidak menjadi tempat pembantaian terhadap para pengungsi suku Tutsi, baik wanita, anak-anak dan orang tua.

Menurut para saksi mata, para Pastor menyerahkan orang-orang suku Tutsi yang mencari perlindungan di gereja mereka kepada milisi Hutu untuk dibantai. Di dalam hubungan dengan kejadian ini tercatat dua orang suster Benedictine melarikan diri ke biara Belgia untuk menghindari penuntutan. Menurut korban yang selamat, satu di antara suster Benedictine itu memanggil algojo-algojo Hutu dan membawa mereka ke tempat persembunyian ribuan suku Tutsi yang mencari perlindungan di biara.

Para pengungsi itu diseret ke luar dari biara dan setibanya di gerbang biara, mereka disembelih di hadapan suster Benedictine itu.Dan suster itu menyaksikan pembantaian tersebut tanpa ekspresi.Suster yang lain menyiapkan bensin yang digunakan untuk menyalakan api dan membakar korbannya hidup-hidup”.

Pembantian Muslim Bosnia, Cechnya, Somalia, tak terhitung jumlah korbannya.

NOTE:
Jika anda sempat membaca rujukan yang saya sarankan di bawah ini, khsusnya artikel berjudul PERBANDINGAN JUMLAH KORBAN PERANG ISLAM DAN PERANG KRISTEN, maka akan anda dapati betapa signifikannya perbandingan jumlah "korban perang" atas nama agama yang terpaka dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan seluruh pasukannya selama 23 tahun masa kerasulan beliau, dengan "PEMBANTAIAN" selama berabad-abad oleh umat kristen atas nama Yesus Kristus! 

ASTAGHFIRULLAH!

[Sumber: mujahiddin.com | Islam Menjawab Fitnah]

Wednesday, December 28, 2011

Ringkasan Sisi Gelap Penyebaran "Ajaran Kasih" Kristen Wednesday, December 28, 2011


Banyak dari kita, termasuk para penganut agama Kristen sendiri, yang tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya seluk-beluk dan sejarah perkembangan agama Kristen sejak awal didirikannya dulu sampai hari ini. Di antara catatan yang ada, berikut ini adalah sepotong RINGKASAN SEJARAH KELAM perkembangan agama kristen:    
  • Kaisar Karl (Charlemagne) tahun 782 memerintahkan 4500 orang Saxon dipenggal kepalanya karena menolak masuk Krsiten (DO30)
  • 27/5/1234, Sekitar 5000 sampai 11.000 Petani Steding (Jerman) Pria, Wanita dan anak-anak dibunuh karena menolak membayar pajak Gereja yang mencekik leher ( WW223)
  • Pertempuran  Belgrade 1456, 80.000 orang Turki dibunuh (DO235)
  • Perang Salib (1095-1291)
  • Perang Salib pertama : 1095 atas perintah Paus Urban II (WW11-41)
  • Semlin/Hongaria 24/6/96 Ribuan orang dibunuh.
  • (9/9/96 - 26/96 Nikaia, Xerigordon (dahulu wilayah Turki) Ribuan orang dibunuh (WW25-27)
  • Setelah Antiocia ditaklukan antara 10.000 - 60.000 pria-wanita dan anak-anak dibunuh-
  • Marra (Maraat an-numan) 11/12/1098 ribuan orang dibunuh. Karena kelaparan berkepanjangan , mayat musuh yang sudah membusuk dimakan oleh orang Kristen menurut Albert Aquensis (WW36)
  • Jerusalem ditaklukan 15/7/1099. 60.000 orang dibunuh - Yahudi, Muslim , laki-laki, perempuan dan anak-anak. (dilukiskan oleh saksi mata Kengerian begitu dahsyat - Kami harus berjalan didalam darah musuh kami sedalam mata kaki)
  • Archbishop Tyre, saksi mata melukiskan peristiwa itu sbb:
"It was impossible to look upon the vast numbers of the slain without horror; everywhere lay fragments of human bodies, and the very ground was covered with the blood of the slain. It was not alone the spectacle of headless bodies and mutilated limbs strewn in all directions that roused the horror of all who looked upon them. Still more dreadful was it to gaze upon the victors themselves, dripping with blood from head to foot, an ominous sight which brought terror to all who met them. It is reported that within the Temple enclosure alone about ten thousand infidels perished." (G79)
  • Bahkan sampai musim panas tahun berikutnya diseluruh Palestina udara tercemar oleh bau busuk mayat. Satu Juta orang dibunuh dalam perang salib I. (WW41)
  • Pertempuran Askalon -12/08/1204 200,000 orang dibunuh atas nama Tuhan kita Yesus Kristus (WW45)
  • Abad ke 4 dan ke 5 Kuil-kuil Yahudi di bakar oleh orang Kristen. Jumlah orang yahudi yang terbunuh tidak diketahui.
  • Dalam pertengahan abad ke 4 kuil pertama Yahudi dihancurkan atas perintah Bishop Innocentious dari Dertona di Utara Itali. Juga kuil pertama di dekat sungai Euprath dihancurkan atas perintah Bishop Kallinikon pada tahun 388 (DA454)
  •  Dewan Toledo 694. Orang Yahudi dijadikan budak, harta mereka disita dan anak-anak mereka dibaptis secara paksa. (DA454)
  • Bishop Limoges (Perancis) pada tahun 1010 memaksa orang Yahudi untuk masuk Kristen. Kalau tidak dibunuh atau diusir (DA453)
  • Perang Salib pertama - Ribuan orang Yahudi dibunuh di kota Worm - 18/5/1906, Mainz 27/5/1906 (1100 orang) juga orang-orang yahudi di kota - kota Cologne,Moers, Dortmunt, Kerpen,Trier,Metz,Regensburg, Dll.
  • Perang Salib kedua - 1147 Ratusan Yahudi dibunuh di Ham, Sully, Carentan dan Rameru di Perancis (WW57)
  • Perang Salib ke tiga - Komunitas Yahudi di seluruh Inggris dibasmi (Do40)
  • 1349 - Di lebih 350 kota Jerman semua Yahudi bibunuh, kebanyakan dibakar hidup-hidup (dalam satu tahun ini saja jumlah orang Yahudi yang dibunuh melebihi jumlah orang Kristen yang dibunuh selama penindasan orang Roma terhadap orang Kristen) (DO42)
  • 1492- Ketika Colombus berlayar keliling dunia - Ribuan Orang Yahudi di bunuh atau diusir dari Spanyol - Banyak yang tewas dalam perjalanan. ( MM470-476)
  • Setiap Colombus menginjakan kakinya dinegri asing, ia menancapkan Salib. Membuat deklarasi yang diperlukan - Requerimento - untuk mengklaim tanah bagi bos katoliknya di spanyol. Deklarasi itu berbunyi sbb:
"I certify to you that, with the help of God, we shall powerfully enter your country and shall make war against you. And shall subject you to the yoke and obedience of the church..and shall do you all mischief that we can, as to the vassals who do not obey and refuse to receive their lord and resist and contradict him."  (SH66)

Demikian, semoga dapat menjadi informasi yang bermanfaat!

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Sunday, January 30, 2011

Kilas Balik Perang Salib Sunday, January 30, 2011



Islam adalah lawan dari kekufuran. Yang dipandang sebagai musuh adalah kekufuran, dan berarti kekuatan yang mendukung implementasi, mempertahankan atau mempromosikan sistem kufur. Kalau kekufuran diibaratkan kemiskinan, maka Islam tidak memerangi orang-orang miskin an sich, namun memerangi kemiskinan, dan berarti orang-orang yang membuat kemiskinan terus terjadi, yaitu para tiran, orang-orang yang terus berbuat kerusakan (fasiq) dan orang-orang yang berlaku tidak adil (dhalim).

Perlawanan Islam terhadap kekufuran dan permusuhan kekufuran atas Islam akan terus terjadi. Rasulullah Saw mendapat informasi dari Allah SWT serta beberapa perintah sebagai berikut:

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (Qs. al-Baqarah [2]: 190)

"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim." (Qs. al-Baqarah [2]: 193).

"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi Engkau.” (Qs. an-Nisaa’ [4]: 75).

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (Qs. al-Anfaal [8]: 60).

Dari ayat-ayat di atas jelas bahwa peperangan dalam kerangka jihad bisa terjadi karena (1) kaum muslimin diserang; (2) untuk melenyapkan fitnah (kekufuran) dan permusuhan; (3) demi membela yang tertindas – tanpa melihat agama mereka.

Untuk antisipasi peperangan melawan kekufuran yang selalu mungkin terjadi itu, kaum muslimin diwajibkan menyiapkan segala kekuatan yang dapat menggentarkan musuh, baik itu kekuatan iman, ilmu pengetahuan dan teknologi, malliyah, jasmaniyah, organisasi militer dan juga kekuatan dakwah. Seluruh potensi ummat diarahkan kepada peperangan tiada akhir melawan kekufuran, melawan sesuatu yang menghalangi missi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan missi muslim sebagai khalifatul fil ardh.

Dalam hubungannya dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, meski terdapat ayat:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti millah mereka … " (Qs. al-Baqarah [2]: 120).

Namun ayat ini tak pernah dipakai kaum muslimin sebagai legitimasi memerangi Yahudi dan Nasrani, hanya karena agama mereka. Justru sebaliknya, kaum Yahudi dan Nasrani di dalam Darul Islam menikmati perlindungan yang tidak mereka temukan di negara lain. Namun perang salib, yang lama maupun yang baru, justru makin menunjukkan bahwa kekufuran adalah musuh kita, sampai kiamat tiba.

Fakta-fakta Perang Salib
Tidak terlalu mudah mendapatkan gambaran yang akurat tentang peristiwa Perang salib yang sesungguhnya. Beberapa penulis sejarah menggambarkannya berbeda-beda, dan sebagian tampak berlebih-lebihan. *1)

Kesulitan lainnya adalah mengenai nama-nama tempat atau kerajaan dalam buku-buku sejarah lama yang tidak dilengkapi peta, sehingga sulit dipastikan nama dan lokasinya di zaman modern ini, apalagi bila buku-buku tersebut ditulis dalam bahasa yang berbeda-beda, misalnya dari sumber berbahasa Arab atau Latin.

Pada tulisan ini sengaja dicari fakta-fakta dari sumber-sumber Islam dan non Islam, agar didapatkan keseimbangan informasi, terutama mengenai kondisi front masing-masing.
Secara keseluruhan perang salib berlangsung selama hampir dua abad, dengan momen-momen penting sebagai berikut:

Pada sinode di Clermont Perancis, Paus Urbanus II (1088-1099) memulai inisiatif mempersatukan dunia Kristen (yang saat itu terbelah antara Romawi Barat di Roma dan Romawi Timur atau Byzantium di Konstantinopel). Kebetulan saat itu raja Byzantium sedang merasa terancam oleh ekspansi kekuasaan Saljuk, yakni orang-orang Turki yang sudah memeluk Islam.

"Ketika terasa cukup sulit untuk mempersatukan para pemimpin dunia Kristen dengan ego dan ambisinya masing-masing, maka dicarilah suatu musuh bersama. Dan musuh itu ditemukan: ummat Islam. Sasaran jangka pendeknyapun didefinisikan: pembebasan tempat-tempat suci Kristen di bumi Islam, termasuk Baitul Maqdis. Adapun sasaran jangka panjangnya adalah melumat ummat Islam. Pasukan salib tidak berencana membunuh Khalifah. Yang mereka rencanakan adalah membunuh Islam, menghapus khilafah dan menghancurkan ummat yang melindunginya dan hidup untuknya. Apa artinya seorang Khalifah jika lembaga Khilafah tak ada lagi? Apa yang bisa dikerjakan Khalifah jika ummat yang dipimpinnya tewas semua?" (Qs. Ali-Imran [3]: 169).

1096 – serangan salib pertama diberangkatkan untuk merebut Yerusalem. Pada 1099 pasukan di bawah Gottfried von Bouillon merebut Yerusalem. Mereka mendirikan negara-negara salib, yakni negara-negara boneka di wilayah-wilayah yang diduduki tentara salib.

Namun karena kelemahan Byzantium dan perpecahan di kalangan muslim sendiri, negara-negara boneka ini berkembang sebagai negara-negara latin yang feodalistis dan tirani, di mana seluruh penduduk yahudi dan muslim dihabisi.

Pada serangan salib kedua (1147-1149) pasukan salib berusaha merebut wilayah-wilayah di sepanjang pantai laut tengah, baik yang dikuasai muslim maupun bukan, seperti misalnya wilayah Athena, Korinthia dan beberapa pulau-pulau Yunani. Ini menunjukkan bahwa serangan salib sebenarnya tidak spesifik ditujukan hanya kepada ummat Islam, karena memang kekufuran sebenarnya musuh seluruh manusia –hanya saja ummat Islam adalah penghalang terbesar bagi kekufuran itu.

Serangan salib ketiga (1189-1192) terjadi setelah Sholahuddin al Ayubi berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah Islam di Mesir dan Syria. Pada 1171 Sholahuddin berhasil menyingkirkan kekuasaan Fathimiyah di Mesir yang merupakan separatisme dari Khilafah di Bagdad, dan mendirikan pemerintahan Ayubiah yang loyal kepada Khalifah. Pada 1187 al-Ayubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Serangan salib ketiga ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Eropa yang paling terkenal: Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I Lionheart dari Inggris dan Phillip II dari Perancis. Namun di antara mereka ini sendiri terjadi perselisihan dan persaingan yang tidak sehat, sehingga Friedrich mati tenggelam, Richard tertawan (akhirnya dibebaskan setelah memberi tebusan yang mahal), sedang Phillip bergegas kembali ke Perancis untuk merebut Inggris justru selama Richard tertawan.

Serangan salib keempat (1202-1204) terjadi ketika pasukan salib dari Eropa Barat ingin mendirikan kerajaan Norman (Eropa Barat) di atas puing-puing Yunani. Paus Innocentius III menyatakan pasukan salib telah murtad (excommuned). Di Konstantinopel permintaan-permintaan tentara salib menimbulkan perlawanan rakyat, yang dibalas tentara salib dengan membakar kota itu serta mendudukkan kaisar latin serta padri latin. Sebelumnya, kaisar dan padri Konstantinopel selalu yunani. Tahun 1212, ribuan pemuda Perancis diberangkatkan dengan kapal untuk bergabung dengan pasukan salib, namun oleh kapten kapal mereka justru dijual sebagai budak ke Afrika Utara! Reputasi pasukan salib dan respek atasnya sudah semakin pudar.

Serangan salib kelima (1218-1221) diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV, yang juga menetapkan undang-undang inquisisi dan berbagai aturan anti yahudi. Untuk mendapatkan kembali kontrol atas pasukan salib, jabatan raja Yerusalem digantikan oleh wakil Paus. Jabatan “raja Yerusalem” ini hanyalah “formalitas idealis”, tanpa kekuasaan sesungguhnya, karena de facto Yerusalem telah direbut kembali oleh al-Ayubi.

Serangan salib keenam (1228-1229) dipimpin oleh kaisar Jerman Freidrich II. Sebagai “orang yang dimurtadkan” (excommuned) dia berhasil merebut kembali Jerusalem. Paus terpaksa mengakui dia sebagai raja Yerusalem. Sepuluh tahun kemudian Yerusalem berhasil direbut kembali oleh kaum muslimin.

Serangan salib ketujuh (1248-1254) dipimpin oleh IX dari Perancis yang telah dinobatkan sebagai “orang suci” oleh Paus Bonifatius VIII. Meski di negerinya Ludwig dikenal sebagai penegak hukum yang baik, namun ia memimpin sebuah organisasi yang amburadul sehingga justru tertangkap di Mesir.

Di bawah Paus Gregorius X (1274) dan juga setelah jatuhnya Konstantinopel (1453), perang salib pernah diserukan kembali, namun tak pernah dimulai. Sejak perang salib keempat, perang ini sudah jatuh popularitasnya.

Sementara itu, tanpa di bawah lambang pasukan salib, pada 1236 Cordoba pusat Daulah Islam di Andalusia direbut kembali oleh pasukan Katolik Kastilia. Pada 1258 Bagdad – pusat Khilafah – dihancurkan oleh Mongol - Tartar. Kedua serangan ini juga punya akibat yang sangat fatal pada sejarah ummat Islam selanjutnya.

Bagi Eropa, hasil positif perang salib yang utama adalah motivasi yang dalam banyak hal ikut memajukan Eropa. Ini karena perang salib mempertemukan bangsa Eropa dengan peradaban yang lebih tinggi. (Qs. al-An’aam [6]: 39).

Efek negatifnya adalah secara teologis Eropa makin terpolarisasi. Dunia Kristen Barat makin membentengi diri dan bersikap memusuhi terhadap segala yang berasal dari luar. Dan ini berjalan hingga abad 20. Mentalitas perang salib ini juga pernah digunakan beberapa penguasa Barat untuk menekan kaum protestan. Dan pada Perang Dunia II, Hitler memotivasi pasukannya dalam melawan Rusia sebagai “Perang salib melawan Atheisme”.

Oleh karena itu, bila George W. Bush “kelepasan” menyebut-nyebut perang salib demi minyak, senjata dan ideologi kapitalisme, hal itu tak perlu mengherankan lagi.


Analisis Perang Salib
Al-Wakil menuliskan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang-orang Kristen terjun ke medan perang bertahun-tahun adalah (Qs. Ali-Imran [3]: 165):


  • Penyebab utama perang salib adalah kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umatnya. Ummat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya mereka kuasai (terutama di Timur Tengah). Mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk meraih apa yang hilang dari tangannya, balas dendam terhadap ummat yang mengalahkannya. Kesempatan itu datang ketika ummat Islam lemah dan kehilangan jati dirinya yang kuat yang sebelumnya meredam perpecahan dan menyatukan langkah. Para tokoh agamawan Kristen bangkit menyerukan pembersihan tanah-tanah suci di Palestina dari tangan-tangan kaum muslimin dan membangun gereja dan pemerintahan Eropa di dunia Timur. Perang mereka dinamakan perang salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak masing-masing.
  • Perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau setinggi langit.
  • Perlakuan in-toleran orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen dan para peziarah Kristen yang menuju Yerusalem. Orang-orang Saljuk adalah penguasa wilayah Turki yang relatif belum lama memeluk Islam dan belum begitu memahami syariat Islam dalam memperlakukan agama lain.
  • Ambisi Sri Paus yang ingin menggabungkan gereja Timur (ortodoks) dengan gereja Katolik Roma. Paus ingin menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu negara agama yang dipimpin langsung Sri Paus.
  • Kegemaran tokoh-tokoh dan tentara Kristen untuk berpetualang ke negara lain dan mendirikan pemerintahan boneka di sana.
  • Bagi para pemimpin Kristen, kondisi waktu itu sangat tepat untuk memulai serangan ke dunia Islam, karena:
  1. Ada kelemahan dinasti Saljuk, sehingga “front” terdepan dunia Islam terpecah belah.
  2. Tidak adanya orang kuat yang menyatukan perpecahan ummat Islam. Khilafah de facto terbagi sedikitnya menjadi tiga negara: Abbasiyah di Bagdad, Umayah di Cordoba dan Fathimiyah di Kairo.
  3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen seperti Genoa dan Venezia, dan ini memuluskan jalan antara Eropa dan negara-negara Timur.
  4. Kemenangan Sri Paus atas raja sehingga Sri Paus memiliki kekuatan mengendalikan para raja dan gubernur di Eropa.


Dampak Perang Salib
Bangsa Eropa belajar berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang di dunia Islam lalu mengarangnya dalam buku-buku yang bagi dunia Barat tetap terasa mencerahkan. Mereka juga mentransfer industri dan teknologi konstruksi dari kaum muslimin, sehingga pasca perang salib terjadi pembangunan yang besar-besaran di Eropa. Gustav Lebon berkata: “Jika dikaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka didapati banyak hal yang sangat positif dan urgen. Interaksi bangsa Eropa selama dua abad masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam boleh dikatakan faktor dominan terhadap kemajuan peradaban di Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.”

Lalu apa yang didapat oleh kaum muslimin? Tidak ada. Ummat Islam tak bisa mengambil apa-apa dari satu pasukan yang bermoral bejat*2), yang sebagian besar berasal dari para penganggur dan penjahat. Perang salib menghabiskan assset ummat baik harta benda maupun putra-putra terbaik. Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara dialokasikan untuk perang. Dekadensi moral terjadi karena perang memakan habis orang laki-laki dan pemuda. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena ummat menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan perang sehingga para ulama tidak punya waktu untuk mengadakan penemuan-penemuan dan karya-karya baru kecuali yang berhubungan dengan dunia perang.

Perang salib merupakan salah satu titik balik dari sejarah keemasan ummat Islam. Perang salib yang melelahkan telah ikut berkontribusi atas proses hancurnya Khilafah Abbasiyah, sehingga serangan Tartar atas Bagdad pada 1258 hanya sekedar finalisasi dari proses tersebut.

Menghadapi Perang Salib Baru
Dengan melihat fakta-fakta serta analisis di atas, tampak bahwa dari sisi kaum muslimin perang salib – apapun motif sesungguhnya – selalu hanya berdampak negatif. Namun demikian, jangankan bila diserang, ummat Islam memang harus memikul amanah al-Qur’an untuk melawan fitnah (kekufuran) dan kezaliman. Dan kapitalisme pimpinan Amerika Serikat adalah bentuk termodern dari kekufuran dan kezaliman itu. Sedang Israel di Palestina adalah front terdepan perang tersebut.

Dari sisi orang-orang Barat, istilah perang salib dihadapi dengan beragam. Pada masyarakat Barat yang sekuler, motivasi religius seperti pada abad 11-13 sudah tak ada lagi. Istilah itu hanya dilontarkan sebagai “penyatu opini” bahwa mereka sama-sama terancam oleh Islam (maka dibuat skenario serangan teror 911 atas WTC), seakan-akan perang salib dimulai oleh kaum muslimin, dan secara militer ummat Islam memang masih memiliki kekuatan yang mampu menggoyang kedigdayaan Barat.

Faktanya, dari sisi manapun, ekonomi, teknologi, militer, ummat Islam sekarang ini berbeda dengan ummat Islam abad 11-13, yang masih memiliki khilafah yang berfungsi baik, serta ekonomi dan teknologi yang lebih maju dari Barat.

Faktanya, sekarang dunia Islam terpecah dalam puluhan negara, yang kesemuanya dipimpin oleh para diktator yang membebek pada Barat. Mereka tergantung pada ekonomi dan teknologi Barat. Sedang rakyatnya hidup dengan berorientasi pada budaya Barat dan gandrung mengkonsumsi produk industri Barat.

Aapa yang dicemaskan Barat?
Kebobrokan sistem kapitalisme telah nyata, baik berupa kerusakan lingkungan, pemiskinan di dunia ketiga maupun disorientasi kehidupan pada masyarakat Barat sendiri, yang di antaranya tercermin dari peningkatan penggunaan narkoba dan angka bunuh diri. Orang jelata di Barat akhirnya merasakan sesuatu yang tidak benar dan tidak adil pada sistem yang diterapkan atas mereka. Mereka menyadari bahwa sistem itu hanya menguntungkan segelintir kecil elit mereka, yakni para kapitalis serta politisi yang merealisasi tujuan para kapitalis itu secara sah.

Dan tidak ada lagi di dunia ini yang bisa membendung laju kapitalisme seperti itu di Barat. Sampai akhirnya, di dunia Islam muncul gerakan-gerakan Islam yang melawan kekufuran kapitalisme itu, baik karena dorongan aqidah, maupun karena kesumpekan hidup akibat praktek kapitalisme di negeri-negeri Islam.

Karena itu, yang dicemaskan Barat, atau secara spesifik: yang dicemaskan para kapitalis Barat, tak lain adalah geliat gerakan-gerakan Islam.

Rupanya, meski puluhan tahun sudah khilafah dibubarkan dan sistem kapitalisme diterapkan di dunia Islam, namun selama ummat Islam ini masih ada, dan selama akses kepada sumber-sumber Islam masih dibuka, selama itu pula masih akan bermunculan orang-orang dari ummat Islam ini yang menggeliat untuk bangkit melawan kekufuran, karena kekufuran adalah musuh abadi Islam sejak para nabi.

Sejarah menunjukkan, perang salib-pun akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin, setelah tentara salib berkuasa hampir dua abad. Bagdad-pun demikian, setelah dihancurkan Tartar, akhirnya bangkit kembali. Ini karena ummat Islam masih ada dan dakwah masih berjalan. Berbeda dengan Andalusia, yang ketika inquisisi seluruh muslim dihabisi, sehingga sampai sekarang praktis wilayah itu tidak pernah menjadi muslim kembali.

Karena itu, seandainya perang salib terjadi lagi, maka model yang paling masuk akal adalah model inquisisi. Ummat Islam akan dihabisi, sebab tidak cukup menjadikan mereka sekuler, yang masih berpotensi untuk bangkit kembali.

Untuk itu ditempuh strategi penghancuran dakwah dan penghancuran ummat. Dakwah digilas dengan isu terorisme. Harakah-harakah dakwah yang paling ideologis diserang lebih dulu, walaupun pada akhirnya, yang paling moderatpun akan digilas juga, sebagaimana pengalaman di Bosnia. Sedang penghancuran ummat dilakukan dengan penguasaan total sumber-sumber ekonomi. Maka penguasa manapun yang sulit diajak “kerjasama” akan dihabisi untuk digantikan dengan agen-agen mereka. Beserta tentara dan rakyat yang mendukungnya.

Di sisi lain, kekuatan kapitalisme dioptimalkan untuk membiayai penyesatan opini via media massa, mengorbitkan intelektual yang mendukung mereka (seperti JIL), membiayai partai politik yang sejalan dengannya, melobby penguasa atau tokoh masyarakat agar lunak terhadap mereka, membayar demonstrasi yang mengusung agenda-agenda mereka - sadar ataupun tidak, dan bila perlu membiayai aksi-aksi teroris yang dipandang bermanfaat untuk kepentingannya – baik sadar ataupun tidak bahwa mereka dimanfaatkan.

Menjawab konspirasi ini, tak ada jalan lain bagi harakah-harakah Islam selain lebih merapatkan barisan agar mendapatkan energi yang cukup untuk secepatnya menegakkan kembali Khilafah Islamiyah, karena hanya institusi ini yang akan sanggup menahan “perang salib” tersebut bahkan membalikkannya menjadi jihad fii sabilillah, untuk membuka Roma, sebagaimana nubuwaah Rasul.


Oleh: Fahmi Amhar | Sumber: hayatulislam.net


Catatan Kaki:
1. Ibnu Katsir (dalam [3]: 167) berkata bahwa pasukan Armanus Raja Romawi terdiri dari 35.000 Batrix, dan tiap Batrix mengepalai 200.000 personil kavaleri. Artinya, tujuh milyar personil! Tampak angka ini terlalu dilebih-lebihkan oleh sumber Ibnu Katsir.
2. Pada tentara salib bahkan terdapat suatu “corps pelacur” dari Perancis khusus untuk menghibur pasukan salib yang berbulan-bulan jauh dari keluarga.

Referensi:
- Imam AS-SUYUTHI (1498): Tarikh Khulafa’. (penerjemah: Samson Rahman). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001.
- IBNU KHALDUN (1332–1406): Muqaddimah. (penerjemah: Ahmadie Thoha). Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000.
- Muhammad Sayyid AL-WAKIL (1989): Wajah Dunia Islam dari Dinasti Umayyah hingga Imperialisme Modern. (penerjemah: Fadhli Bahri). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998.
- Cyril GLASSE: Enskilopedi Islam Ringkas. Jakarta, RajaGrafindo Persada, 1999.
- Gerhard KONZELMANN (1988): Die Islamische Herausforderung. 5. Aufl. dtv, 1991.
- Franklin H. LITTELL (1976): Atlas zur Geschichte des Christentums (The Macmillan Atlas History of - Christianity). New York: Macmillan Publishing Co.; Deutsche Ausgabe - Brockhaus Verlag, 1989.
- Werner STEIN (1979): Der grosse Kulturfahr-plan. Berlin: Herbig, 1979.

Contact Form

Name

Email *

Message *