Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Nabi Isa. Show all posts
Showing posts with label Nabi Isa. Show all posts

Saturday, January 2, 2021

Al-Quran, Tentang pengertian Kalimatullah Saturday, January 2, 2021

Ada pertanyaan dari penginjil yang menuntut penjelasan dari Muslim walaupun pada dasarnya cuma dimaksudkan untuk memaksakan sebuah pemahaman keliru bahwa Nabi Isa Alayhisalam adalah Tuhan, atau Isa Almasih adalah Allah. 

Mereka mendasari pemahaman sesat itu melalui ayat ini,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

"Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisa':171)

Ayat ini kerapkali digunakan oleh para evangelis untuk mendukung ketuhanan Isa Al Masih Alayhi salam (Jesus pbuh) dengan menitikberatkan konsentrasinya hanya pada dua kata saja, sementara rangkaian kata lainnya yang membentuk keutuhan kalimat diabaikan begitu saja.

Kita sudah lama maklum bahwa mereka memang suka memenggal ayat-ayat Al-Quran  dengan mengutip satu bagian, atau bagian-bagian tertentu saja, dan meninggalkan bagian lainnya demi kelancaran proses dusta mereka. Oleh karena itu dalam tela'ah ini ayat dimaksud sengaja disalin secara utuh seperti tertulis di atas. 

Perhatikan kalimat dalam cetak tebal. Sebenarnya ayat tersebut justru menguatkan bahwa Yesus bukan Tuhan!

Tapi, ya, sudahlah!  Para salesmen produk kadaluarsa berlabel "ajaran kasih" Kristen ini memang gemar mengkorupsi ayat sesuai dengan keinginan mereka dengan tujuan membuat fitnah atas ayat-ayat tersebut. Hal yang sudah biasa dan lumrah terjadi di dunia maya maupun dunia nyata.

Dengan mengulas sedikit saja makna Kalimatullah berikut ini, sebetulnya sudah tidak perlu lagi dijelaskan apa itu Ruhullah, yang juga merupakan kata andalan para penggiat kristenisasi yang mengklaim Yesus adalah tuhan, karena memang seharusnya dimaknai menurut kaidah bahasa yang sama. 

Kata kalimatullah yang dimaksud dalam ayat di atas berasal dari bunyi ayat: وَكَلِمَتُهُ (Kalimat-Nya, Kalimatullah).

Bagaimanakah memahami kata ini menurut kaidah bahasa aslinya?
Kalimatullah adalah bentuk kata Idhafah, artinya adalah “kalimat” yang di-mudhafkan (disandarkan) pada kata Allah. Artinya adalah kalimat yang disampaikan atau diucapkan oleh Allah, karena ada dua kata yang menjadi satu, yakni kata “Kalimat” (sebagai mudhaf) dan kata “Allah” (sebagai mudhaf ilaih).

Kalimat bukan Allah, dan Allah bukan kalimat
Seperti misalnya ketika saya berkata-kata, maka kata-kata saya bukan saya dan saya juga bukan kata-kata saya. Contoh kata bentuk Idhafah lainnya sebut saja misalnya بَيْتُ الله (Baitullah). Artinya adalah rumah Allah. Kata “baitun” di-mudhaf-kan pada kata Allah di sini bukan berarti bahwa rumah adalah Allah atau Allah adalah rumah. Jelas ya?

Nah, setelah mengerti bahwa kalimatullah adalah kata bentukan Idhafah, maka mari kita kenali apa sih sesungguhnya arti “kalimatullah” dalam ayat di atas?
Kalimatullah berasal dari kata “kalimat” dan "Allah" yang dalam bahasa Arab berarti “kata” dan "Allah". Perlu dicatat bahwa Arti "kalimat" dalam bahasa Arab berbeda dengan "kalimat" dalam bahasa Indonesia. Jika dalam bahasa Arab kalimat berarti "kata", maka dalam bahasa Indonesia artinya adalah "kumpulan kata." Sedangkan “kumpulan kata”, dalam bahasa Arab disebut “jumlah”.
Jangan bingung!
Supaya lebih jelas, saya ulangi. Dalam bahasa Arab, kalimat artinya kata, sedangkan jumlah artinya kumpulan kata (yang membentuk kalimat).  Jadi, menurut kaidah bahasa Arab, maksud dari kata “kalimat” yang tertulis dalam ayat di atas adalah satu kata. Bukan rangkaian kata seperti pengertiannya dalam bahasa Indonesia. Lebih spesifik lagi, artinya adalah satu kata dari Allah.

Kata apakah itu?
Dari sedikit penjelasan di atas, mari sama-sama kita lihat kata “kalimat" yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Maryam. Perhatikan bunyi ayat: وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ.  Ada kata "kalimat" dari Allah di sana. Lantas,  kalimat atau satu kata apakah yang disampaikan Allah kepada Maryam sehingga Maryam menjadi hamil padahal dia belum pernah "disentuh" oleh laki-laki manapun juga?

Kata yang dimaksud itu sesungguhnya sudah diterangkan pada ayat sebelumnya, saat Maryam bertanya bagaimana ia bisa hamil sedangkan dirinya belum bersuami bahkan belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun juga? Maka Jibril menyampaikan berita dari Allah:

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu. Maka Allah hanya cukup berfirman kepadanya: “Kun" lalu "Jadilah." (Q.S. Ali Imran: 47)

Nah, sekarang kita sudah tahu bahwa satu kata yang dimaksud dalam ayat di atas adalah “kun” (jadilah!) untuk menciptakan manusia bernama Isa Almasih yang diyakini oleh umat Kristen sebagai Yesus. Kata inilah yang membuat Maryam hamil  tanpa melalui proses normal hubungan antara suami istri.

Kejadian serupa juga diperkuat dengan keterangan ayat lain, yang menerangkan bahwa penciptaan Adam dan Isa (Yesus) tanpa melalui proses hubungan suami istri, tapi sama-sama dengan satu kata yakni “kun” saja.

Perhatikan ayat berikut ini:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman/berkata kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Jadi, yang membedakan penciptaan Isa dan Adam dengan kita adalah, beliau berdua tercipta melalui satu kata saja, yaitu “Kun”, sedangkan kita tercipta melalui proses biologis orangtua kita masing-masing.

Nah, sekarang sudah jelas apa yang dimaksud dengan “kalimatullah” bukan?!

Karena itu membaca ayat Al-Quran harus secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong. Contohnya seperti membaca ayat QS. 4:171 di atas. Perhatikan baik-baik kalimat intinya adalah begini:
“.. janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya."
Sangat jelas bahwa ayat Al-Quran yang coba diplintir dan dimanipulasi oleh Evangelis Kristen untuk menguatkan doktrin Trinitas, justru adalah ayat yang paling keras menentang doktrin Trinitas!

Mengapa lanjutan dari kata "kalimatullah" dalam ayat di atas kalian mutilasi?
Demi keyakinan akan ampuhnya ajaran Paulus tentang berdusta seperti yang diajarkannya ini? 

“ ..... sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” (Filipi 1:18 Alkitab edisi TB)


[Sumber: Almubayyin | Diperbaharui 3 Januari 2021]

Thursday, December 10, 2020

The Story of Prophet Isa Alayhisalam Thursday, December 10, 2020

Thursday, December 7, 2017

Syahadat Yesus Kristus, Menurut Islam Atau Kristen? Thursday, December 7, 2017

Dalam brosur “Dakwah Ukhuwah” berjudul “Membina Kerukunan Hidup Antarumat Beragama,” secara licik para misionaris mengelabui umat Islam untuk menggiring akidah agar pindah agama menjadi Kristen.

Puluhan ayat Al-Qur'an dikutip dalam brosur tersebut untuk diselewengkan kepada pengertian yang mendukung doktrin Kristen. Salah satu ayat yang menonjol dalam brosur tersebut adalah surat Az-Zukhruf :
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat, karena itu janganlah kamu ragu tentang kiamat itu dan ikutlah Aku, itulah jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf:61)
Kata “ikutlah aku, itulah jalan yang lurus” ini diselewengkan oleh misionaris sebagai ucapan Yesus sendiri yang berarti orang yang mengimani Al-Qur'an, yaitu umat Islam, harus mengikuti Yesus karena Yesus itulah jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

Padahal “Jalan yang lurus” (sirat al mustaqim) yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan Yesus, apalagi diartikan sebagai ajakan untuk menjadi Kristen. Sama sekali bukan!

Arti "jalan yang lurus" dalam ayat tsb adalah Tauhid. Pengertian inilah yang paling tepat, karena surat Az-Zukhruf ayat 61 itu sesungguhnya tidak berhenti sampai di situ, tapi masih ada kelanjutannya yang menerangkan ayat 61 sendiri, yaitu ayat 64:
“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” (QS. Az-Zukhruf: 64).

Bagaimana dengan syahadat Yesus dalam Alkitab, Islamikah ataukah Kristiani?
Para misionaris tidak perlu menggurui umat Islam untuk mengikuti jalan yang lurus. Karena umat Islam lebih tahu dan akidahnya sudah sesuai dengan ajaran para nabi Allah sejak dari Adam AS sampai Muhammad SAW, termasuk Yesus (Isa AS).

Jika para misionaris ingin mengajak umat Islam untuk menaati ajaran Yesus, pertama-tama, mari kita buktikan, siapakah yang imannya sesuai dengan ajaran Yesus? 

Perhatikan sabda Yesus dalam Alkitab berikut:
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Injil Yohanes 17:3).
“And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent” (Yohanes 17:3, Alkitab King James Version 1810).

“Eternal life is to know you, the only true God, and to know Jesus Christ, the one you sent” (Yohanes 17:3, Contemporary English Version).

“And eternal life means to know you, the only true God, and to know Jesus Christ, whom you sent” (Yohanes 17:3, Today’s English Version).

“And this is life eternal, that they should know thee the only true God, and him whom thou did send, even Jesus Christ” (Yohanes 17:3, Revised Standard Version 1611).

Untuk lebih meyakinkan para pembaca, perhatikan pula ayat tersebut menurut bahasa-bahasa daerah di Indonesia:

“Ikolah iduik sajati nan kaka tu; iyolah, urang musti tawu pulo jo Bapak, hanyo Angkau sajolah Allah nan bana, urang musti tawu pulo jo Isa Almasih nan Bapak utuih” (Yohanes 17:3, Injil Baso Minang).

“Gesang sejatos inggih menika, menawi tiyang wanuh dhateng Paduka, Allah ingkang sejatos, ingkang mboten wonten tunggilipun, sarta tepang kaliyan Yésus Kristus, utusan Paduka” (Yohanes 17:3, Alkitab boso Jowo).

“Dupi hirup langgeng teh nya eta: Terang ka Ama, Allah sajati anu mung hiji, sareng ka utusan Ama, Yesus Kristus” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Sunda).

“Ka'dhinto' odhi' se salerressa sareng se langgeng; sopaja oreng oneng ka Junandalem, Allah se settong sareng se salerressa, jugan oneng ka Isa Almasih se eotos Junandalem” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Madura).

“Ini no tu hidop yang kekal, biar dorang tau butul-butul Tuhan cuma satu-satunya Allah yang banar, deng Yesus Kristus yang Tuhan da utus” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Manado sehari-hari).

“Alai na mananda Ho, Debata na sasada i, na sintong i, dohot Jesus Kristus na sinurum, i do hangoluan na salelenglelengna” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Toba, Sumut).

Pada ayat tersebut Yesus mengaku dengan jujur bahwa satu-satunya Allah yang benar adalah Allah SWT, dan dia hanya seorang utusan Tuhan. Ini berarti Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat (syahadatain), yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab, akan menjadi: 

“Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Isa rasuulullah.”

Sepeninggal Yesus, nabi kita Muhammad SAW juga mengajarkan dua kalimat syahadat (syahadatain) yaitu: 

“Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaadar rasuulullah.” 

Kalimat syahadatain adalah pintu awal menjadi seorang muslim bagi seluruh manusia di dunia. Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat, demikian pula umat Islam. Sebaliknya, umat Kristen memiliki 12 syahadat (credo) sendiri yang dikenal dengan ”12 Syahadat/Pengakuan Iman.” 

Syahadat 12 ini bukan warisan Yesus, tapi hasil rumusan konsili Konstantinopel tahun 381M. (Credo Niceano-Constantinopolitanum).

Ini adalah bukti bahwa umat Islamlah yang meneruskan ajaran Yesus tersebut. Sementara umat Kristen tidak mengenal dua kalimat syahadat.

Pada ayat tesebut, sangat jelas sekali Yesus berterus terang sejujur-jujurnya bahwa satu-satunya Tuhan yang benar hanyalah Bapa (Allah SWT) dan dia hanya seorang utusan saja.

Apa yang diucapkan Yesus dalam Injil Yohanes 17:3 tadi, sama sekali tidak tidak diamalkan oleh mereka. Bahkan mereka menjadikan Yesus sebagai Tuhan atau Allah itu sendiri yang mereka sembah. Na’udzubillahimindzalik!

Ajaran dua kalimat syahadat Yesus dalam Yohanes 17:3 itu membuktikan bahwa umat Islamlah agama yang "melestarikan" ajaran Yesus bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah dan dia (Yesus) hanyalah seorang utusan Tuhan, bukan Tuhan maupun penjelmaan Tuhan! Sedangkan umat Kristiani menjadikan Yesus sebagai salah satu oknum Tuhan dalam doktrin Trinitas.

Jelaslah bagi kita, siapa yang lebih taat kepada syahadat warisan Nabi Isa. Jika para misionaris penulis brosur ”Dakwah Ukhuwah” itu ingin menaati ajaran Yesus, maka ajaran yang paling taat kepada syahadat Yesus adalah Islam.


Dari: H. Insan LS Mokoginta (Wencelclaus)


Syariat Nabi Isa Alayhi Salam

ABSTRAK
Setiap nabi dan rasul yang di utus oleh Allah swt. mengemban misi dan tugas tertentu untuk disampaikan kepada para umatnya untuk membimbing mereka kepada jalan yang benar agar manusia memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Setiap nabi yang diutus oleh Allah swt. dalam menyampaikan risalahnya dibekali dengan berbagai mukjizat. Namun, karena sifat manusia yang cenderung berlebihan, ada sebagian yang beriman dan adapula yang ingkar. 

Nabi Isa as. adalah salahsatu nabi yang diutus kepada Bani Isra’il dengan membawa ajaran syariat agama. Namun, ajarannya telah banyak disimpangsiurkan oleh pengikutnya. Bahkan mereka menempatkan Nabi Isa as. sama dengan kedudukan Tuhan. Ini merupakan sifat yang berlebihan dan penyelewengan terhadap ajaran yang dibawanya. Al-Qur’an menjelaskan kebenaran tentang risalah-risalah keTuhanan yang dibawa oleh para Nabi. Termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan agama dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as.. 

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 
  1. Agama apakah yang dibawa oleh Nabi Isa as.dalam al-Qur’an? 
  2. Bagaimanakah syariat agama Nabi Isa as. dalam al-Qur’an?. 
  3. Bagaimana sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as. dalam al-Qur’an?

    Tujuannya adalah mengetahui secara mendalam tentang agama dan syariat Nabi Isa as. yang terdapat dalam Al-Qur’an sehingga diperoleh petunjuk tentang kebenaran syariatnya yang telah banyak disimpangsiurkan oleh mereka yang mengaku sebagai pengikutnya. 


    Penelitian ini bersifat kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan menggunakan metode penelitian tafsir tematik, dan hasil penelitian ini adalah:
    1. Agama yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah agama Islam; 
    2. Syariat agama Nabi Isa as. adalah melanjutkan syariat Taurat, membenarkan ajaran Taurat dan diturunkan pula kepadanya syariat Injil untuk menyempurnakannya; 
    3. Sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat Nabi Isa as. terbagi dua, ada yang menerima (yaitu orang-orang Nasrani) dan ada yang menolak (yaitu orang-orang Yahudi). Sungguhpun kajian tentang agama dan syariat Nabi Isa as. telah dipaparkan sedemikian rupa, namun masih banyak celah yang menuntut adanya kajian berikutnya sebagai bentuk pengembangan dengan menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda.

      Catatan: Demi menghormati privasi dan hak cipta penulis, paparan ini tidak meampilkan seluruh konten tesis, namun mengingat substansi dan kepentingannya bagi pembaca, maka hanya bagian akhir dari tesis ini; yakni BAB 5 saja yang ditampilkan.



      BAB 5

      PENUTUP


      1. Agama Nabi Isa as.
      Agama yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah agama Islam. Yakni satusatunya agama yang diwahyukan oleh Allah dan diajarkan oleh para nabi-nabiNya. Islam adalah satu-satunya agama yang diridai oleh Allah. Oleh karenanya tidaklah mungkin Nabi Isa as. membawa agama lain selain Islam karena dia adalah salah satu utusan-Nya yang diutus untuk meluruskan kembali pemahaman kaumnya terhadap ajaran agamanya yang telah diselewengkan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini dapat dijumpai pada QS. Ali Imran (3): 19 dan 85. Adapun ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Isa as. adalah salah satu nabi yang diberi syariat untuk menegakkan agama Islam terdapat dalam QS. al-Shura (43): 13.

      2. Syari’at Nabi Isa as.
      Al-Qur’an menjelaskan bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah melanjutkan syariat nabi sebelumnya, yakni syariat Nabi Musa as.. Nabi Isa as. diutus untuk membenarkan syariat Nabi Musa as. yang telah disimpangsiurkan oleh Bani Isra’il Israil, menghalalkan apa yang diharamkan kepada mereka sebelumnya karena kesalahan mereka sendiri, menjelaskan tentang apa yang mereka perselisihkan serta diberi al-kitab (Injil) sebagai syariat khasnya.

      Sebagaimana para Nabi sebelumnya, dalam bidang aqidah Nabi Isa as. mengajak Bani Isra’il hanya untuk menyembah Allah, satu-satunya Dzat yang wajib disembah. Ia menolak tentang ajaran Trinitas‛ yang dianut oleh siapa saja terutama kaumnya.

      Dalam bidang far’iyah ‘amaliyah Nabi Isa as. juga mengajak manusia untuk sholat, menunaikan zakat, berpuasa, menjalankan hukum Taurat dengan benar, dan lain sebagainya. Kemudian dalam bidang khuluqiyah, Nabi Isa mengajak manusia untuk berbakti kepada orang tua, dan tidak bersikap sombong.

      Namun, yang perlu diketahui disini adalah bahwa syariat Nabi Isa as. adalah menekankan pada ajaran cinta kasih. Syariat Taurat mengikat manusia dengan perkara-perkara yang bersifat wajib, sedangkan ajaran cinta kasih melebihi syariat yang bersifat wajib. Ajaran itu membangkitkan nurani manusia untuk berbuat kebajikan, tanpa menunggu perintah dan tanpa berharap balasan.

      Dengan ajaran cinta kasih, Nabi Isa as. merombak setiap aturan yang bersifat lahiriah-formal. Dengan demikian, ia tidak meninggalkan ajaran Taurat, melainkan menegakkan ajaran Taurat.

      3. Sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat Nabi Isa as. 
      Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, bahwa Nabi Isa as. diutus kepada Bani Isra’il untuk meluruskan kembali ajaran Taurat Nabi Musa as.. Namun, seperti para nabi yang diutus sebelumnya, kedatangan Nabi Isa as. kepada Bani Israil juga mengalami rintangan-rintangan. Sebagian dari mereka menerima ajarannya dan sebagian mereka menolak bahkan ingin membunuhnya. Kaum Nabi Isa as. yang menerima ajaran mereka adalah kaum Nasrani. Namun, di antara mereka ada yang setia dan adapula yang tidak setia. 

      Pengikutnya yang setia ini oleh Al-Qur’an disebut Al-Hawariyyun, yang jumlah mereka hanyalah sedikit pada waktu itu. Ada yang menyebutkan jumlahnya hanya sekitar 12 orang. Mereka mengakui kenabian Isa as., menerima ajarannya, dan mengakui hanya Allah, Tuhan yang wajib disembah. Mereka menyebut diri mereka sebagai Muslim. Sedangkan pengikutnya yang tidak setia justru menjadi mayoritas keberadaannya. Mereka bersikap berlebih-lebihan dan mengatakan bahwa Tuhan itu tiga (Trinitas). Adapun kaum Nabi Isa as. yang menolak ajaran Nabi Isa as. adalah kaum Yahudi. Mereka menolak ajaran agamanya dan bahkan ingin membunuhnya. Mereka tidak mengakui kenabian Nabi Isa as. dan ajarannya walaupun telah didatangkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya.

      Kesimpulan
      Allah menegaskan kepada umat Islam melalui kalamnya, Al-Qur’an, bahwa agama yang benar di dunia hanyalah Islam. Allah tidak pernah mengutus para nabinya dengan membawa agama lain selain Islam, termasuk dalam pengutusan Nabi Isa as..

      Oleh karenanya, sudah seharusnya bagi umat Islam untuk melanjutkan dakwah para Nabi untuk menyeru manusia untuk memeluk Islam dan menegakkan ajarannya.


      DAFTAR PUSTAKA
      • Al-Qur’an al-Karim 
      • AlKitab 
      • Abdullah, Zurkanain, Yahudi dalam al-Qur’an: Teks, Konteks & Diskursus 
      • Pluralisme Agama, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007. 
      • Amini, Ibrahim, Mengapa Nabi Diutus?, terj. M. Ilyas, Jakarta: Al-Huda, 2006. 
      • Amrullah, Haji Abdul Malik Karim, Tafsir al-Azhar, Vol. 3, Jakarta: Pustaka 
      • Panji Mas, 1983. 
      • Andalusi (al), Abu Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhit, Vol. 7, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993. 
      • Arifin, Bey, Maria, Yesus dan Muhammad, Surabaya: PT Bina Ilmu, 2009. 
      • Asymawi (al), Muhammad Said, Nalar Kritis Syari’ah, terj. Luthfi Thomafi, 
      • Yogyakarta: LKIS, 2004. 
      • Bukhari (al), Abu Abdullah Muhammad bin Isma‘il, Al-Jami‘ al-Sahih, Vol. 2, alQahirah: al-Mat}ba‘ah al-Salafiyyah, 1403 H. 
      • Bahesyti, Muhammad Husaini dan Jawad Bahonar, Philosophy of Islam, terj. 
      • Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2003. 
      • Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. 
      • Darwazah, M. ‘Izzah, Al-Tafsir al-Hadith Tartib al-Suwar Hasab al-Nuzul, AlQahirah: Dar al-Gharb al-Islami, 2000. 
      • Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: WALI, 2010. 
      • Farmawi (al), ‘Abd al-Hayy, Metode Tafsir Maudhui: Sebuah Pengantar, terj. 
      • Suryan A. Jamrah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996). 
      • Fathoohi, Louay The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias menurut alQur’an, 
      • Alkitab, dan Sumber-sumber Sejarah, terj. Yuliani Liputo, 
      • Bandung: Mizan Pustaka, 2007 
      • Ghafur, Waryono Abdul, Tafsir Sosial, Yogyakarta: elSAQ Press, 2005.Ghazali, Syaikh Muhammad Tafsir Tematik dalam al-Qur’an, terj. M. Qodirun 
      • Nur dan Ahmad Musyafiq, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004. 
      • Halim, Amanullah, Isa Putra Maria dalam Injil dan al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2011. 
      • Halim, Muhammad Abdul, Memahami al-Qur’an: Pendekatan Gaya dan tema,Bandung: Marja’, 2002. 
      • Haroen,Nasrun, ‚Perspektif al-Qur’an tentang Islam‛, dalam Tema-tema Pokok 
      • al-Qur’an tentang Ketuhanan, ed. Abuddin Nata, Bandung: Angkasa, 2008. 
      • Ibn Kathir, Abu al-Fida’, Tafsir Ibn Kathir, vol. 9, terj. Bahrun Abu Bakar, 
      • Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000. 
      • _________, Qasas al-Anbiya’, diterj. Dudi Rosyadi, Jakarta: al-Kautsar, 2011. 
      • _________, Al-Misbah al-Munir fi Tahdhib Tafsir Ibn Kathir, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta: Pustaka Ibn Katsir, 2014. 
      • _________, Terjemah Ringkas Tafsir Ibn Kathi>r, terj. Salim Bahreishy dan Said Bahreishy, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986. 
      • Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, Hubungan Antar Umat Beragama dalam afsir al-Qur’an Tematik, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008. 
      • _______________________________, Kenabian (Nubuwwah) dalam al-Qur’an dalam Tafsir al-Qur’an Tematik, Jakarta: Lajnah Pestashihan Mushaf alQur’an, 2012. 
      • McElwain,Thomas, Bacalah Bible: Merajut Benang Mereah Tiga Iman, terj. 
      • Muhammad Musaddiq, Jakarta: Citra, 2006. 
      • Mubarakfuri (al), Shaikh Shafiyyurrahman, Al-Misbah al-Munir fi Tahdhib Tafsir Ibn Kathir, Vol.3, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta: Pustaka Ibn Katsir, 2014. 
      • Muchlas, Imam, Penafsiran al-Qur’an: Tematis Permasalahan, Malang: Univ. Muhammadiyah 
      • Muchlas, Imam dan Masyhud, Al-Qur’an Berbicara tentang Kristen, Surabaya: Pustaka Dai, 2001. 
      • Muhaimin, dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2005. 
      • Muhammad, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, Jakarta: Paramadina, 1998. 
      • Muhammad, Hasyim, Kristologi Qur’an: Telaah Kontekstual Doktrin 
      • Kekristenan dalam al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. 
      • Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya: ustaka Progressif, 1997. 
      • Muslim, Al-Imam Abi al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusairi al-Naisaburi, Sahih Muslim, Vol. 1, al-Riyad: Dar al-‘Alim al-Kutub, 19960 93. 
      • Mustaqim, Abdul Epistemologi Tasfir Kontemporer Yogyakarta: LKIS, 2012. 
      • Qardhawy (al), Yusuf, Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000. 
      • Qiraati, Muhsin, Lesson From al-Qur’an, terj. MJ. Bafaqih dan Dede Azwar, Bogor: Cahaya, 2004. 
      • Qurt}ubi (al), Tafsir al-Qurt}ubi, Vol. 6, terj. Dudi Rosyadi, dkk, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008. 
      • Rahardjo, Dawam, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep konsep Kunci, Jakarta Selatan: Paramadina, 2002. 
      • Rahman, Taufik, Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2013. 
      • Roham, Abujamin, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1984. 
      • S{abuni (al), Muhammad ‘Ali, Qabas min Nur al-Qur’an: Dirasah Tahliliyah 
      • Muwassa’ah ni Ahdaf wa Maqasid al-Suwar al-Karimah, terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000. 
      • Sader, R., Firman Yesus, terj. Syeikh Al-Hamid, Jakarta: Citra, 2006. 
      • Sayyid ‘Abbas Husayni, Muhammad Legenhausen, dan Muntazir Qa’im, Hadis-hadis ‘Ali tentang ‘Isa dalam Injil‛, AL-Huda, Vol. II, No. 7, (Maret, 2004), 66. 
      • Shafi’i (al), Husain Muh}ammad Fahmi, al-Dalil al-Mufahris li Alfaz}i al-Qur’an al-Karim, al-Qahirah: Dar al-Salam, 2012. 
      • Sharifuddin, Amir, Ushul Fiqh, Vol. 2, Jakarta: Kencana, 2011. 
      • Shihab, M. Quraish, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Qur’an, Tangerang: Lentera Hati, 2013. 
      • ________________, Mukjizat al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, Bandung: Mizan, 1998. 
      • ________________, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 2005. 
      • Siddiqi, Mazheruddin, Konsep Qur’an tentang Sejarah, terj. Nur Rachmi, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003. 
      • Sirry, Mun’im, Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi atas Kritik al-Qur’an terhadap Agama Lain, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012. 
      • Steenbrink, Karel, Nabi Isa dalam al-Qur’an: Sebuah Interpretasi Outsider atas al-Qur’an, terj. Sahiron Syamsuddin dan Fejriyan Yazdajird Iwanebel, Yogyakarta: Suka Press, 2015. 
      • Suma, Muhammad Amin, Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Press, 2013. 
      • Suyuti (al), Jalal al-Din Abu ‘Abd al-Rahman, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Mu’asasah al-Kutub al-Thaqafiyah, 2002. 
      • Syafe’i, Rachmat Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2006. 
      • Syaikh, Abdullah bin muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ish{aq Alu, Lubab alTafsir min Ibn Kathir, terj. M. Abdul Ghaffar, t.t: Pustaka Imam Syafi’i, 2006. 
      • T{abari (al), Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir, Tafsir al-Tabari, Vol. 5, terj. Beni Sarbeni, Jakarta: Pustaka Azam, 2008. 
      • Thohir, Muhammad, Ayat-ayat Tauhid: Pencerahan Aqidah Tauhid Berpadu Logika Sains Iptek, Surabaya: Bina Ilmu, 2009. 
      • Usman, Suparman, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001. 
      • Usthuri, Ahmad, Qawa’id Tafsir, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014. 
      • Wahidi (al), Asbab Nuzul al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2009.

      Thursday, September 29, 2016

      Isa Almasih Dalam Angan Angan Misionaris Kristen Thursday, September 29, 2016

      Dalam rangka memurtadkan umat Islam dan melancarkan program Kristenisasi, para misionaris dan seluruh komponen pendukungnya tampaknya tidak ragu untuk melakukan segala cara, termasuk penginjilan dengan metode mempelesetkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits tentang nabi Isa Alayhisalam yang dipersonifikasikan sebagai Yesus Kristus menurut iman mereka ..................
      Isa Almasih Dalam Angan Angan Misionaris Kristen


      Tuesday, September 27, 2016

      Kematian Isa Al-Masih Menurut Al-Quran Dan Hadits Tuesday, September 27, 2016


      "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada-Ku." (QS Ali 'Imran [3]:55). 

      Apakah pengertian yang menyebutkan Isa 'wafat' dalam surah ali Imran ini mengandung makna yang sesungguhnya atau bukan? Mari sama-sama kita telusuri. 

      Makna 'wafat' yang tepat di sini adalah 'tidur'. Yaitu, Allah mengangkat nabi Isa ke sisi-Nya dalam keadaan tidur. Dalam bahasa Arab, kata 'tidur' sah dipakaikan dalam makna wafat, setidaknya hampir serupa dengan wafat (mati), sebagaimana firman Allah: 

      اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي 
      قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى 
      "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." (QS az-Zumar [39]:42) 

      Ayat ini menjelaskan bahwa manusia (hidup) sesungguhnya wafat di dalam tidur. Saat tertidur - dan ruh terpisah dari jasad - manusia praktis kehilangan kepekaannya sebagai makhluk hidup. Otak meraka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan gerak atau aktifitas bagian mana pun dari seluruh organ tubuhnya (kecuali hal-hal yang terjadi di alam bawah sadar seperti mengigau, tidur berjalan dan hal-hal sejenis itu). 

      Saat terbangun dari tidur, atau tepatnya saat ruhnya dikembalikan oleh Allah SWT ke jasad masing-masing, maka kecuali Allah SWT menghendaki lain, segala kemampuan normalnya sebagai manusia akan kembali berfungsi sebagaimana biasanya. 

      Dalam hadits disebutkan bahwa sebelum beranjak tidur Rasululah SAW selalu berdoa:
      "Dengan Nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan badanku, dan dengan Nama-Mu juga aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, sayangilah ia, dan jika Engkau belum mencabutnya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga nyawa hamba-hamba-Mu yang shalih". [1]

      Ketika Rasulullah SAW terbangun, ia membaca doa:
      "Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali." [2] 

      serta membaca: 
      "Segala puji bagi Allah Yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan Yang telah menyehatkan jasadku." [3] 

      Dengan adanya hadits-hadits ini jelaslah bahwa makna ayat tersebut adalah: 
      "Sesungguhnya Aku mematikanmu (seperti rupa yang mati waktu tidur), ketika itu engkau tidak merasakan diangkat ke langit." 

      Artinya nabi Isa tertidur pulas, dan dalam keadaan tidur pulas itulah Allah mengangkatnya ke langit sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Nabi Isa tidak terbangun kecuali setelah sampai di langit. Ulama lain berpendapat, nabi Isa diwafatkan, dengan pengertian mati yang sesungguhnya, namun hanya sebentar. Ketika dalam kondisi tidak bernyawa, ia diangkat ke langit, kemudian ia dibangkitkan, dan kembali hidup. 

      Lebih jauh tentang hal ini, mari sama-sama kita simak penjelasan berikut: 
      Mathar al-Warraq menafsirkan ayat "Sesungguhnya Aku mewafatkanmu ..." bermakna mewafatkanmu dari dunia, tapi bukan berarti mati. Penafsiran yang sama juga ditarik oleh Ibnu Jarir: Sesungguhnya wafatnya Isa AS adalah diangkatnya ia dari dunia karena telah ditetapkan bukan sebagai ahli (penghuni) dunia lagi.

      Dan atas kuasa Allah SWT setelah itu ia tidak lagi memerlukan segala kebutuhan ahli dunia seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain hal yang bersifat manusiawi. Cukup banyak hadits yang mengkabarkan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman nanti, dan ia akan menjalankan hukum Islam. Ia akan mematahkan palang-palang salib, memusnahkan babi, meniadakan upeti (pajak), dan yang ia terima hanyalah agama Islam. Hal ini diperkuat oleh firman Allah SWT: 

      "Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian Isa). Dan di hari akhir nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka" (QS. an-Nisa'[4]: 159). 

      Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi Arabia, rahimahullah menulis dalam bukunya Majmu' Al Fatawa, Bab: Tauhid dan hal-hal yang berkenaan dengannya (1/433) sebagai berikut: 

      Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata almutawaffa (dimatikan/diwafatkan) yang ada dalam ayat "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengongkat kamu kepada-Ku." 

      Pendapat-pendapat tersebut di antaranya: 

      Pertama: Yang dimaksud dengan wafat di sini adalah wafat dalam artian mati, sebab itulah pengertian yang zahir (tekstual) dari ayat tersebut jika tidak disandingkan dengan bukti-bukti terkait lainnya. Dan dikarenakan kata mutawaffa terdapat dalam al-Quran lebih dari sekali, seperti dalam ayat: "Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..." (QS. As-Sajadah[32]:11), dan dalam ayat: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar" (QS. Al-Anfal[8]:50). Demikian pula di ayat lain, kata waffa juga memiliki pengertian 'mati'. Atas dasar makna inilah penafsiran ayat tersebut memakai uslub (gaya) taqdim dan ta'khir. 

      Kedua: Dengan makna qabd (berada dalam genggaman). Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari sekelompok ulama salaf, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini sekaligus mendudukkannya di tingkat pertama dibanding dengan pendapat-pendapat lain. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi ke alam langit, engkau dalam keadaan hidup kemudian aku mengangkatmu ke sisi-Ku." 

      Dalam ucapan orang-orang Arab juga terdapat makna yang persis dengan makna waffadalam ayat tersebut, yaitu: "tawaffaitu maali min fulan," maksudnya, aku menggenggam (menguasai) seluruh harta kekayaanku dari si Fulan. Atau dengan kata lain, aku berkuasa sepenuhnya atas kekayaanku dari gangguan si fulan. 

      Ketiga: Maksud wafat pada ayat tersebut adalah wafat yang berarti 'tidur'. Sebab kata naum(tidur) dalam bahasa Arab dapat diartikan juga sebagai wafat (mati). Maka pemaknaan ayat tersebut adalah tidur dengan merujuk kepada dalil dari ayat-ayat al-Qur'an seperti firman Allah SWT yang artinya: "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari", dan ayat: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka la tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." 

      Pendapat yang kedua dan ketiga lebih kuat dari pendapat yang pertama. Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah yang didukung oleh dalil-dalil yang jelas, dan dikuatkan dengan fakta, bahwa ia diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Dengan kata lain Nabi Isa AS belum pernah mati, dan senantiasa dalam keadaan hidup di langit sampai pada suatu saat nanti akan turun ke bumi untuk melaksanakan tugas yang diembannya sesuai dengan pemberitaan lewat hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW. Setelah menyelesaikan tugas-tugas itu, barulah beliau wafat - sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan Allah. 

      Dari keterangan ini dapat dimengerti bahwa penafsiran kata "yatawaffa" dengan makna maut (mati dengan dicabut nyawa) adalah pendapat yang lemah, tidak akurat. Sekiranya pun pendapat itu benar, maka sudah barang tentu yang dimaksud adalah wafatnya Isa di akhir zaman nanti. Artinya, penyebutan kata itu sebelum kejadian "pengangkatan" termasuk gaya bahasa taqdim (mendahulukan sesuatu) dengan makna ta'khir (diakhirkan). Sebab sebagaimana diingatkan oleh ulama dan ahli bahasa Arab, huruf "waw" (kata sambung) tidak selamanya mengandung pengertian tartib (urutan). 

      Sedangkan anggapan bahwa nabi Isa AS tewas dibunuh, atau tewas disalib, ayat-ayat di dalam Al-Quran secara terang dan tegas membatalkan dan menolaknya. Al-Qur'an juga dengan sendirinya menolak pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa AS tidak diangkat ke langit tapi hijrah ke Kashmir (India) dan lama hidup di sana (sampai wafat secara normal) dan tidak akan turun sebelum hari Kiamat. Dan jika pun ada, maka yang akan datang itu adalah"duplikat" nabi Isa. 

      Pendapat ini benar-benar pendapat batil, menentang ketetapan Allah SWT dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT serta hadits Rasulullah SAW yang jelas menyiratkan bahwa Nabi Isa AS senantiasa hidup sampai sekarang dan akan turun di kemudian hari sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW. 

      Berpegang pada keterangan di atas tentunya kita menjadi lebih faham bahwasanya siapa pun yang "mengklaim" nabi Isa AS tewas terbunuh di tiang salib, atau yang mengatakan bahwa nabi Isa AS berhijrah ke negeri Kashmir dan hidup di sana cukup lama sebelum mati dengan cara yang normal - dan setelah mati tidak pula diangkat ke langit - adalah pendapat yang menentang Allah SWT, mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta menafikan hadits Rasulullah SAW. 

      Kita semua tahu bahwa barangsiapa mendustakan Allah dan Rasul-Nya hukumnya adalah kafir. Oleh karenanya, siapa pun yang (masih) mempercayai pendapat keliru ini hendaknya bersegera ightifar, bertaubat, dan kembali ke jalan yang benar. Kitab Suci al-Quran dan hadits dengan jelas memberitakan bahwa jika seseorang bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, niscaya ia selamat. Namun jika tidak, maka ia akan mati dalam kekufuran. 

      Dalil-dalil yang menyatakan bahwa "kematian" Nabi Isa AS tidak seperti yang disangkakan sebagian besar umat Nasrani cukup banyak, bahkan sangat jelas diterangkan oleh Allah SWT sendiri melalui firman-Nya: 
      "Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa'[4]:157-158) 

      Dan ini masih dikuatkan oleh hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang memberitakan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman sebagai hakim yang adil, yang akan membunuh Dajjal Sang Sesat, mematahkan palang salib, membunuh babi, meniadakan upeti (pajak), dan tiada satu agama pun yang ia terima kecuali agama Islam. 

      Hadits-hadits tersebut adalah hadits mutawatir dan status shahihnya akurat, sebab berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama sependapat menerima berita itu untuk diimani karena ada dalil dan mereka sebutkan sendiri di dalam buku-buku aqidahnya. 

      Adapun yang menolaknya dengan alasan karena haditsnya hadits ahad, juga tidak dapat menolaknya secara penuh, atau mentakwilkan hadits tersebut dengan pengertian bahwa manusia di akhir zaman nanti berpegang kepada akhlak Al-Masih AS, bersikap lembut, penyayang, merangkul orang-orang dengan semangat, tujuan, dan subtansi hukum - bukan dengan teks atau redaksi hukum - jelas merupakan pendapat yang keliru, batil, dan menyalahi pendapat mayoritas ulama Islam. Pendapat ini bahkan terang-terangan menolaknash yang tsabit (fakta) dan mutawatir sehingga dapat dianggap sebagai tindakan kriminal terhadap syariah, menentang ajaran Islam dan nabi yang ma'shum Muhammd SAW. Sebuah bentuk kebodohan jahiliyah yang menilai sesuatu dengan hukum prasangka dan hawa nafsu, atau keluar dari kebenaran serta petunjuk dari Allah SWT. 

      Orang yang berpegang teguh pada syariat, yang percaya sepenuhnya kepada para nabi dan rasul pembawa syariat, yang menjunjung tinggi hukum serta segala nash ajarannya, tentu tidak mungkin gegabah dan berani membuat pernyataan seperti itu. 

      Demikian pula dengan pendapat yang menyatakan bahwa hadits pembawa berita tentang turunnya Nabi Isa AS adalah hadits ahaddan tidak dapat dijadikan landasan hukum, adalah pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, hadits-hadits yang memberitakan hal itu cukup banyak, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits shahih, kitabsunan dan kitab musnad para ulama hadits dengan thariqul hadits serta sanad yang bervariasi, telah mencukupi kriteria mutawatir. 

      Lalu, bagaimana mungkin orang-orang yang pengetahuannya tidak cukup tentang syariah mengatakan tidak menerima dan menolak untuk berpegang pada hadits-hadits ini? 

      Sekiranya pun hadits-hadits ini dianggap sebagai hadits ahad, perlu difahami bahwa tidak semua hadits ahad tidak layak dijadikan landasan hukum. Sebab sesuai dengan metode ulama hadits dan ahli hahqiq hadits; maka hadits ahad, jika thariq haditsnya banyak,sanadnya lurus dan tidak cacat, ia sah dijadikan sebagai landasan hukun. Dengan metode ini, hadits-hadits tentang berita turunnya nabi Isa adalah hadits yang status keshahihannya sudah lulus kriteria, sanad dan riwayatnya juga bervariasi. Sehingga tidak ada alasan yang tepat untuk menolak hadits-hadits tersebut. Ia sah dijadikan dalil, baik itu disebut sebagai hadits ahad atau hadits mutawatir. 

      Dengan demikian, semoga kita menjadi lebih mengerti akan kekeliruan syubhat tentang memaknai "kematian" Nabi Isa AS yang telah diselewengkan dari kebenarannya menurut Islam. Tindakan yang paling parah dan penentangan paling dahsyat terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah pendapat yang mentakwilkan hadits-hadits tersebut kepada pengertian yang tiada sangkut-pautnya dengan dalil-dalil hadits. 

      Pelaku ini telah menggabungkan dua kesalahan sekaligus, yaitu pendustaan atas nash dan ketidakpercayaannya akan berita yang disampaikan melalui hadits Rasulullah SAW tentang turunnya Nabi Isa AS. Ia tidak menerima bahwa Nabi Isa AS akan menjadi hakim adil untuk sekalian umat manusia, membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung ia telah mengidentikkan Rasulullah SAW - salahsatu manusia terpilih yang paling mengetahui perkara-perkara syariat Allah di antara umat manusia - sebagai orang yang telah mencampuradukkan hukum, tidak sesuai antara ucapan dan maksud (atau tujuan) ucapannya - padahal redaksi ucapan beliau dalam hadits cukup jelas - lalu perkara ini diartikan sebagai puncak pendustaan, pengelabuan serta penggelapan terhadap umat sehingga tidak selayaknya Nabi Muhammad SAW masuk dalam kriteria seorang rasul Tuhan. 

      Orang yang mentakwilkan ini persis seperti penganut paham atheis yang menisbahkan para nabi dan rasul sebagai fantasi demi kepentingan mayoritas umat manusia, dan menurut mereka apa yang dipetik dari ucapan para nabi bukanlah redaksi yang sesungguhnya. Paham ini telah ditangkis oleh ahlul ilmi wal iman, mereka telah mencoret paham tersebut dengan pena fakta dan bukti-bukti akurat. 

      Semoga kita terlindungi dari penyakit hati, terhindar dari kerancuan, dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan dari godaan syaitan. Marilah kita memohon kepada Allah semoga kita terbebas dari ketundukan terhadap hawa nafsu dan syaitan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada kekuatan yang dapat menyelamatkan kita kecuali kekuasaan Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa. 

      Semoga keterangan di atas dapat menjadi rujukan menuju kebenaran dan kejelasan aqidah yang diridhai oleh Allah SWT. 

      Amin Ya, Rabbal Alamin. 




      CATATAN KAKI:
      [1] Hadits HR. Bukhari nomor: 7393 Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Muslim dengan nomor hadits: 714. Kitab: Zikir, Doa, Toubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur don ketika berboring'. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Abu Daud dengan nomor hadits: 5050. Kitab: Adab. Bab: Doa sebelum tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ibnu Majah dengan nomor hadits: 3874. Kitab: Doa, Bab: Doa menjelang tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ahmad di kitab hadits Musnad (2/246, 422,432), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

      [2] HR. Bukhari (nomor hadits: 7394) Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna.' Diriwayatkan dari Huzaifah ra. Muslim dengan nomor hadits: 2811. Kitab: Zikir, Doa, Taubat dan Memohon ompun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur dan ketika berboring, diriwayatkan dari al­Barra' ra. Abu Daud, dengan nomor hadits: 5049 Kitab Adab, Bab: Doa sebelum tidur, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ibnu Majah, dengan nomor hadits: 3880, Kitab: Doo, Bab: Doa ketika terjaga di tengah malam, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ahmad, dalam kitab hadits Musnad (5/385, 387), diriwayatkan dari Huzaifah ra.30. HR. Turmudzi, dengan nomor hadits: 3398, Kitab: Doa-doa. Nasai, dengan nomor hadits: 866, Bab: Amalan siang dan malam. Ibnu Sinni, dengan nomor hadits: 9. Hadits ini shahih menurut Imam Nawani dalam bukunya Af-Adzkar, nomor: 28. Dan oleh al-Bani, hadits ini statusnya hasan, dalam buku Shahih al-Kalim at Thayyib, nomor: 37.

      [3] Pendapat yang tepat yang dipilih Ibnu Jarir-rahimahullah dalam tafsir Jami' al-Bayan (3/256), adalah pendapat yang menafsirkan dengan: "Sesungguhnya aku menarikmu dari bumi dan mengangkatmu ke langit." Alasannya, karena hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah SAW di antaranya hadits yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS akan turun, dan ia akan membunuh Dajjal, kemudian bertahan di muka bumi dalam jangka waktu tertentu. Sementara menurut Asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsir Fathul Qadir (1/344), yang tepat adalah bahwa Allah mengangkat nabi Isa AS ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu. Pendapat ini didukung oleh mufassir-mufassir dan dipilih oleh Ibnu Jarir at Thabari. Alasannya ialah bahwa hadits shahih dari Rasulullah SAW yang mengabarkan turunnya nabi Isa AS dan akan membunuh Dajjal.




      Sunday, July 3, 2016

      Rekonstruksi Lokasi Kelahiran Nabi Isa Ibn Maryam Sunday, July 3, 2016


      Inginkah anda mengetahui dimana tempat lahir Nabi Isa?
      Berikut ini adalah kajian berdasarkan keterangan dari Al-Qur’an.

      Mari kita mulai dari kisah kelahiran Maryam ibunda Nabi Isa

      Al-Qur’an Surat Ali-Imran:
      (ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 3:35)

      Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS. 3:36)

      Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. 3:37)

      Ketiga ayat tersebut memberikan keterangan bahwa Maryam selalu berkhidmat di Baitul Maqdis, Jerusalem. Ini sesuai dengan nazar ibundanya (istri Imran) dan sesuai pula bahwa beliau berada di bawah asuhan Zakariya Imam Baitul Maqdis (Bait Allah).

      Kemudian perhatikan pula ayat-ayat Al Qur’an yang memberikan keterangan mengenai kisah mengandungnya Maryam hingga kelahiran Nabi Isa Alaihi Salam.

      Al-Qur’an Surat Maryam:
      Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya KESUATU TEMPAT DI SEBELAH TIMUR, . (QS. 19:16)

      Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS. 19:17)

      Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”  (QS. 19:18)

      Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. 19:19)

      Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS. 19:20)

      Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS. 19:21)

      Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (QS. 19:22)

      Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS. 19:23)

      Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan ANAK SUNGAI di bawahmu. (QS. 19:24)

      Dan goyanglah pangkal POHON KURMA itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, (QS. 19:25)

      Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. 19:26)

      Dari informasi menurut ayat 16 s.d 21 kita memeroleh keterangan bahwa Malaikat Jibril memberikan kabar tentang akan mengandungnya Maryam di suatu tempat, yakni kota di sebelah TIMUR dari Jerusalem. 

      Dari ayat 22 s.d 26 kita mendapatkan informasi lagi bahwa setelah mengandung, Maryam menyisihkan dirinya ke tempat yang lebih jauh lagi dan akhirnya berhenti untuk melahirkan di suatu tempat yang berada pada sebuah ANAK SUNGAI.

      Sekarang, perhatikan peta Israel kuno di bawah ini.


      Silahkan cari dan tandai dimana letak KOTA JERUSALEM, kemudian arahkan pandangan anda ke SEBELAH TIMUR kota ini. Anda akan menemukan kota BETHPAGE, sebagaimana disebutkan dalam QS 19:16-21; di sinilah Malaikat Jibril memberikan kabar kepada Maryam bahwa beliau akan mengandung Nabi Isa.

      Lanjutkan pandangan anda lebih jauh lagi ke sebelah TIMUR dari KOTA BELPHAGE,  Anda pasti akan menemukan satu satunya tempat dimana terdapat ANAK SUNGAI JORDAN di sebelah utara Laut Mati. Ya, dan kota itu bernama JERICHO. 

      Sekarang perhatikan baik-baik letak ketiga kota ini. Ternyata ketiganya berada pada posisi garis lurus dari Yerusalem ke SEBELAH TIMURNYA!

      Dari KOTA JERUSALEM ke TIMUR akan sampai ke KOTA BETHPAGE, kemudian jauh ke TIMUR lagi, akan sampai pula ke KOTA JERICHO.

      Lalu adakah deskripsi lain mengenai "pohon korma" seperti disebut-sebut Al-Qur’an dalam kisah penciptaan Isa al-Masih? 

      Perhatikan yang di bawah ini:
      [Hakim 1:16] Keturunan Hobab, ipar Musa, orang Keni itu, maju bersama-sama dengan bani Yehuda dari KOTA POHON KORMA ke PADANG GURUN YEHUDA di Tanah Negeb dekat Arad; lalu mereka menetap di antara penduduk di sana.

      Sudahkah anda baca kalimat “KOTA POHON KORMA” pada ayat di atas? Atau sudah pulakah anda bandingkan kota pohon korma tsb dengan JERICHO?

      Ternyata KOTA JERICHO ada di ujung utara Padang Gurun Yehuda, dan KOTA JERICHO inilah yang pada masa itu disebut sebagai  KOTA POHON KORMA.  Di sinilah Nabi Isa Alaihissalam dilahirkan!
      [Dari catatan xucinxgaronx

      Thursday, June 18, 2015

      Al-Quran: Kelahiran Nabi Isa Alaihissalam Thursday, June 18, 2015

      Nabi Isa as merupakan salah satu utusan Allah SWT untuk menyampaikan wahyu kepada manusia. Ia lahir dari seorang wanita soleha bernama Maryam yang taat dan terus beribadah kepada Allah. Yang membuatnya begitu fenomenal adalah karena Nabi dan rasul ke-24 ini dilahirkan dari rahim Maryam yang masih perawan tanpa melalui proses biologis terlebih dahulu. Bagaimana Nabi Isa Bisa Lahir Dari Rahim Seorang Perawan? - Wallahualam Bishawwab.

      Sebenarnya ini adalah hal mudah bagi Allah jika Ia menghendaki. Beberapa ilmuan mencoba bernalar dengan mengungkapkan bahwa yang dilalaui Maryam disebut dengan proses Parthenogenese yakni proses membesarnya bayi dalam kandungan sang ibu di luar hukum alam manusia. Telur (ovum) dari ibunya tidak memerlukan bertemu dengan spermatozoa bapak untuk membentuk suatu embrio yang kemudian menjadi bayi. Namun siapa yang mengetahui kebenaran penelitian ini. - Wallahualam Bishawwab. 
      Penjelasan tentang bagaimana proses kehamilan Maryam sendiri tertulis dalam Alquran QS. Maryam (19) ayat 16-21. Dimana prosesnya diawali dengan kedatangan Malaikat Jibril dalam wujud manusia yang sempurna menemui Maryam binti Imran ini. 

      (16) Dan ingatlah (yang tersebut) di dalam Kitab, dari hal Maryam. Ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke sebuah tempat disebelah Timur. 

      (17) Maka dia adakan tabir yang akan melindunginya dari mereka, lalu Kami utuslah kepdanya Roh Kami, maka menjelmalah dia menyerupai manusia yang sebenamya.

      (18) Berkatalah dia: Sesungguhnya berlindunglah aku kepada Tuhan Yang Maha Kasih dari pada engkau, jika adalah engkau seorang yang bertakwa. 

      (19) Dia pun menjawab: Saya ini tidak lain adalah Utusan dari Tuhan engkau, karena akan aku anugerahkan kepada engkau seorang anak laki-laki yang suci. 

      (20) Dia berkata: Betapa akan ada bagiku seorang anak laki•laki, padahal tidaklah pernah tersentuh diriku 0Ieh seorang laki-Iaki pun dan aku pun bukanlah seorang perempuan jahat.

      (21) Menjawab dia; Memang demikianlah. Tuhan teIah menyabdakan: Yang begitu bagiKu adalah hal yang mudah, dan akan Kami jadikan dianya suatu ayat untuk manusia dan suatu rahmat, dan dianya adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. (19) ayat 16-21

      Siti Maryam merupakan anak keluarga beragama. Ayahnya bernama Imran yang merupakan keturunan Nabi Daud as dan Ibunya adalah seorang perempuan soleh. Ia kemudian diasuh oleh Nabi Zakarian yang menjadi Imam dan pemelihara Baitul Maqdis. Pada masa itu, Maryam adalah wanita pilihan Allah yang dilebihkan diatas seluruh perempuan di seluruh alam. Seperti dalam Q.S Ali Imran: 42. 

      Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).  (QS: Ali Imran Ayat: 42)

      Maryam berniat untuk meningkatkan ketaatannya dengan pergi ke sebelah Timur Baitul Maqdis, yakni ialah suatu kampung yang bernama Baitlaham (Bethlehem). Ia menyisihkan diri dari keluarga agar lebih tenang beribadat kepada Tuhan, sehingga dipasangnya tabir jangan sampai diganggu orang, sedang dia di waktu itu masih perawan.  

      Saat berada di sana Allah SWT kemudian mengutus Jibril untuk menemuinya. Dalam ayat di atas Allah SWT menyebut bahwa Dia mengutus Roh kami, dan itu dimaksudkan untuk Jibril. Malaikat penyampai wahyu ini berwujud pemuda biasa menyerupai seorang laki-laki muda.

      Lantas Maryam merasa terkejut dengan kedatangan laki-laki dihadapannya. Maryam berkata demikian menunjukkan bahwa tidaklah timbul prasangka bahwa orang muda itu jahat. Sebab pada wajahnya dan tingkah lakunya ketika masuk tidaklah terbayang tanda-tanda bahwa dia orang jahat. 

      Maksud kedatangannya telah diterangkannya sendiri. Atas suruhan Allah menyampaikan anugerah dari Tuhan, dia sendiri yang membawanya, yaitu seorang anak laki-laki. Sekain itu ini juga dijelaskan dalam surat Ali imran ayat 45:

      “(Ingatlah) tatkala berkata malaikat: wahai Maryam! Sesungguhnya Allah memberitakan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (Firman) darinya yaitu seorang putra Namanya Al-Masih Isa Putra Maryam, seorang terkemukan di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah”. (Q.S Ali imran 45)

      Tercenganglah Maryam mendengarkan perkataan Malaikat itu. Maryam percaya apa yang dia katakan, yaitu bahwa dia adalah utusan Allah. Sebab itu tidaklah dia akan berdusta. Tetapi dia tidak mengerti bagaimana dia seorang anak perawan akan diberi anak:

      Dia berkata: Ya Tuhanku! Bagaimana jalannya aku akan beranak, padahal aku belum pernah disentuh manusia? Dia berkata: demikianlah Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia telah menentu¬kan sesuatu, Dia berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka diapun jadi (Q.S Ali imran 47)

      Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS: Ali Imran Ayat: 59)

      Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (Al-Anbiya: 91)

      Lahirnya seorang anak laki-laki suci dari anak perawan suci Maryam itu kelak, bukanlah semata-mata tanda atau ayat guna menunjukkan Kemaha-kuasaan Allah, bahkan juga Rahmat. Sebab lahirnya itu kelak ialah membawa tugas, menjadi Rasul Allah:

      Isa lalu lahir dan diberi mukjizat dari Allah SWT. Ajaran-ajaran kebenaran yang disampaikan Nabi Isa membuat Ia dibenci oleh Yahudi. Mereka mencoba membunuhnya namun tidak berhasil. Allah SWT  kemudian mengangkatnya ke langit dan akan mendatangkannya ke dunia sebelum hari kiamat. 

      “Dan karena ucapan mereka (orang-orang Yahudi): Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.

      Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 157-158)


      [Sumber: Info Unik]

      Monday, April 27, 2015

      Isa Almasih Sebagai Hakim Yang Adil Monday, April 27, 2015

      Dari Judul asli:
      MENJAWAB FITNAH MISIONARIS TENTANG HAKIM YANG ADIL

      Berdasarkan dalil berikut ini, misionaris Kristen menyatakan bahwa Yesus adalah Hakim Yang Adil pada hari kiamat (atau setelahnya), dan hal itu dikuatkan oleh Hadits Nabi Muhammad sendiri. 

      “Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. (Muttafaqun ‘alaih)

      Bagi yang pernah membaca Hadits aslinya, maka membaca kalimat di atas ini langsung mengerti bahwa ini adalah Hadits yang "dimutilasi", karena nampak sekali para sales produk kadaluwarsa bermerek "Ajaran Kasih" Kristen ini ingin mengaitkannya dengan  QS. At-Tiin: 8 yang menegaskan bahwa hanya Allah lah hakim yang adil. Tidak dapat disangkal lagi bahwa menurut kitab suci Islam sendiri, memang hanya Allah lah hakim yang paling adil, bukan? 

      Berbekal dua potong dalil ini mereka berharap, bahkan optimis akan sukss meyakinkan dan mengajak semua orang, khususnya umat Nabi Muhammad saw, untuk mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus adalah Allah sesuai dengan dalil-dalil yang tertulis di dalam Al-Quran dan Hadits, sumber dari segala sumber hukum dalam ajaran islam sendiri! 

      Dengan modal dalil yang maknanya dibelokkan di sana-sini semisal potongan hadits di atas, mereka tidak sungkan-sungkan berusaha mengajak umat Islam untuk menjadi umat kuffar dan murtad dari Islam dengan mengakui Isa Almasih, atau yang mereka sebut sebagai Yesus Kristus, sebagai Tuhan.

      KAJIAN
      Sebelum menanggapi isu di atas, maka sekedar mengingatkan saja; bagi siapapun yang mengerti ilmunya, pasti akan tertawa geli menyaksikan tingkah bodoh dan upaya licik para pemfitnah ajaran Islam ini. 

      Tapi demi ilmu, mari kita kupas saja isu di atas dari beberapa sisi agar terang benderang membuktikan kebodohan para musuh-musuh Islam ini.

      A. Dari Sisi Dalil
      Hadits lengkap di atas seharusnya tertulis begini:
      Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.
      “Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” [Muttafaqun ‘alaih]

      Perhatikanlah, bahwa sejak awal mereka sudah memelintir dalil yang mereka tampilkan untuk menjungkir-balikkan pesan sebenarnya dari Hadits Rasulullah tsb. Menurut dalil ini, Nabi Muhammad saw menubuatkan bahwa kelak Nabi Isa as akan turun kembali ke bumi untuk menjadi hakim yang adil bagi umat manusia yang berselisih paham tentang ajarannya dan bagi mereka yang mengaku sebagai pengikutnya tapi secara terang-terangan justru menentang ajarannya. Beliau akan memulai misi kedua dan sekaligus misi pamungkasnya di dunia dengan tindakan-tindakan khusus terhadap ajaran Kristen dan segala atributnya yang dilambangkan dengan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah.

      Hadits ini sangat jelas mengindikasikan bahwa kedatangan Nabi Isa untuk kedua kalinya ini berhubungan langsung dengan umat yang terkait dengan ajaran beliau, yaitu Yahudi dan Kristen, sementara pada hadits lain dinubuatkan juga beberapa hal terkait dengan umat dan syarai'ah Islam (lihat penjelasannya di sini).

      Dari sini, jelas terlihat kenapa pengikut rasul gadung penuh roh dusta ini coba meneyembunyikan pesan utama Hadits di atas dengan cara memotong habis semua bagian yang sebenarnya sangat mengancam "kenyamanan" iman kosong mereka selama ini. Dan sebagai gantinya, mereka berusaha keras untuk membelokkan muatan Hadits yang seharusnya menjadi bahan perenungan dan kajian mendalam bagi mereka sendiri, menjadi usaha yang sangat menyedihkan untuk menyesatkan umat Islam dengan isu pokok, yaitu pertanyaan tentang siapa Hakim Yang Adil. 

      Artinya, walau sudah terang-terangan diperingati oleh nubuatan 
      Rasulullah saw lewat hadits tsb, mereka tetap mengharapkan pengakuan bahwa iman mereka yang menuhankan Nabi Isa as tidak salah, karena menurut Al-Quran dan Hadits yang mereka kutip di atas, mereka pikir Nabi yang mereka tuhankan itu sebetulnya adalah Tuhan itu sendiri.

      B. Dari sisi kalimat, "Hakim Yang Adil"
      Bacalah lagi dengan cermat kata per kata yang ditulis dalam bahasa aslinya, Arab, pada rangkaian kalimat Hadits di atas di mana menurut terjemah bahasa Indonesianya di artikan sebagai "Hakim Yang Adil" dari kata yang dalam bahasa aslinya disebut dan dimaknai sebagai "Hakaman Adlan"حَكَمًا عَدْلاً 

      Apakah kata "Hakim Yang Adil" yang digunakan dalam hadits di atas sama arti dan maknanya dengan kata "Hakim Yang Paling Adil" dalam QS. At-Tiin: 8?

      Perhatikan ini!

      أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ 

      Bukankah Allah hakim yang paling adil? (QS. At-Tiin: 8)

      Kata yang digunakan adalah bi ahkamil haakimiin (بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ)
      Mari secara ringkas saja kita cermati bentuk kata yang digunakan pada masing-masing ayat Hadits dan Al-Quran di atas, sekaligus kita buktikan apakah menurut kaidah tata-bahasa Arab ada persamaan atau perbedaan arti dari keduanya .

      Asal kata: بِأَحْكَمِ adalah kata sifat yaitu suatu keadaan sebagai pembanding dengan yang lainnya. Jadi arti kata بِأَحْكَمِ adalah lebih bijaksana = seadil-adilnya = paling adil di antara yang lainnya.

      Sedangkan kata الْحَاكِمِينَ = Al Haakimiin artinya para hakim atau hakim-hakim, merupakan bentuk jamak dari kata Hakim.

      Jadi ayat itu menerangkan bahwa Allah adalah بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ atau hakim paling adil, paling bijaksana di antara semua hakim.

      Ayat dalam hadits menunjukkan bahwa Hakim yang dimaksud jumlahnya lebih dari satu, bahkan sangat banyak, bisa ratusan, ribuan, bisa juga jutaan, sehingga digambarkan dengan menggunakan kata الْحَاكِمِينَ Al Hakimiin = para hakim atu hakim-hakim. 

      Artinya, Nabi Isa as beserta hakim-hakim adil lainnya termasuk di dalam pengertian "Hakim Yang Adil" dalam Hadits.

      Dari sedikit penjelasan ini, sekarang kita tahu bahwa pengertian "Hakim Yang Adil" yang dinisbatkan kepada Nabi Isa As dalam Hadits sangat berbeda dengan "Hakim Yang Paling Adil" yang menggambarkan Maha Adilnya penghakiman Allah menurut Al-Quran. Nabi Isa As digambarkan sebagai "Hakim Yang Adil", bukan "Hakim Yang Paling Adil", Sedangkan Allah adalah satu-satunya Hakim Yang Paling Adil, Paling Bijaksana, sesuai dengan sifat-Nya sebagai Tuhan bagi seluruh makhluk Yang Maha Bijaksana, Maha Adil (lihat lagi Asma'ul Husna).

      Di samping Hakim yang tidak adil, di dunia ini Hakim yang adil juga sangat banyak, seperti yang diterangkan dalam Al-Quran Surah At-Tiin yang menggunakan bentuk jamak untuk kata Hakim. Dan Nabi Isa adalah salahsatu dari Hakim-Hakim ini.

      Di dalam Al-Quran Hakim memang diperintah oleh Allah untuk berbuat adil, karena ini memang syarat mutlak sebagai seorang Hakim. Jadi, terlepas dia adil atau tidak, tapi hakim (yang wajib berlaku) adil itu tentu saja jumlah sangat banyak! Perhatikan ayat lainnya,

      وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
      Dan jika “hakamta” (kalian menghakimi) mereka, “fa ahkam (maka hakimi perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al- Maidah: 42).

      Ayat tersebut menjelaskan perintah saat menghakimi yang di dalamnya menggunakan kata حَكَمْتَ (hakamta = kalian menghakimi), maka hakimilah (menggunakan kata fa ahkam = فَاحْكُمْ) dengan adil. Jadi hakim yang adil itu banyak, bukan hanya satu. Sedangkan  hakim yang paling adil atau paling bijaksana, menggunakan kata بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ  bi ahkamil haakimiin yakni sebutan yang hanya diperuntukkan bagi Allah saja (QS. At-Tiin: 8).

      C. Dari sisi waktu
      Perhatikan lagi Hadits di atas!

      “Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil.”

      Menurut Hadits ini Nabi Isa as dinubuatkan akan turun ke dunia, kemudian menjadi hakim yang adil di dunia, sebelum kiamat terjadi. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hari Penghakiman setelah terjadinya kiamat, di mana Allah lah sebagai satu-satunya Hakim yang akan mengadili seluruh makhluk-Nya (yang dibangkitkan dari kematian pada saat terjadinya kiamat) untuk mempetanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia, termasuk dalam hal ini mengadili nabi Isa as sendiri, yang sudah lebih dulu wafat sebelum kiamat terjadi! 

      Perhatikan ayat berikut ini,

      يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ 
       الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ 
      (Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (QS. Al-Mu'min: 16-17).

      إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
      “Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26).

      Dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ
      “Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan ath-Thabrani]

      Dan masih banyak lagi dalil-dalil sejenis lainnya, baik dalam Al-Quran maupun Hadits yang menjelaskan tentang pengadilan Allah di Yaumil Mahsyar kelak. Tetapi cukuplah ini saja dulu untuk memberikan pengetahuan yang benar tentang kapan pengadilan Nabi Isa as berlangsung dan kapan pula Pengadilan Allah akan dilaksanakan.

      Tapi jika para salesmen produk kadaluwarsa bermerek "ajaran kasih" Kristen masih ingin memperjuangkan dalil hebat yang mereka pikir sakti di atas tadi padahal mudah sekali dibuktikan sebagai dalil ngawur, maka silahkan saja.

      Carilah sendiri di dalam Al-Quran; cukup satu ayat saja yang menyebutkan bahwa Nabi Isa as akan mengadili manusia pada hari penghakiman Allah di akhirat kelak! 
      Anggap saja ini sebagai tantangan dari umat Islam yang berlaku seumur hidup, bahkan sampai 7 turunan semua umat kristen di seluruh dunia! 

      Silahkan!
      Ditunggu!



      [Sumber: Kajian Al-Mubayyin]

      Contact Form

      Name

      Email *

      Message *