Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Umrah. Show all posts
Showing posts with label Umrah. Show all posts

Saturday, June 12, 2010

Empat Ibroh Dalam Haji Saturday, June 12, 2010


Puji dan syukur bagi Allah semata dan Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga ahlul baitnya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.


Para pembaca rahimakumullah,
Topik kita kali ini akan menyajikan Ibroh (Hikmah) yang terkandung di dalam pelaksanaan ibadah haji yang merupakan salah satu dari 5 Rukun Islam yang dapat kita petik manfaatnya bagi kita yang diberi-Nya rezeki dan kemudahan sehingga mampu melaksanakannya dengan khusu’ dan penuh sukacita. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua pencari kebenaran, penerima kebenaran, dan penyeru kebenaran.
Amiin. 

Keutamaan Haji dan ‘Umrah: 
Dari Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “ Masa dari satu ‘umrah ke ‘umrah berikutnya adalah masa penghapusan dosa. Dan ganjaran haji yang mabrur tiada lain hanya syurga.” (Shahih Muslim No.1287 KBC) Keutamaan Hari ‘Arafah: Dari ummu ‘Aisyah r.a., katanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “ Tidak ada suatu hari dimana Allah Ta’ala paling banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka selain Hari ‘Arafah.” (Shahih Muslim No.1286 KBC)

EMPAT MANFAAT DALAM HAJI

Ibadah Haji merupakan madrasah imaniyyah yang agung. Darinya, setiap kali musim haji datang, kaum Muslimin dari seluruh pelosok belahan bumi yang beruntung menjawab panggilan-Nya, semuanya akan memperoleh ibroh (pelajaran-pelajaran/hikmah) yang agung, faedah-faedah yang sangat berharga serta bermanfaat bagi dirinya, sesuai dengan taufiq & hidayah Allah SWT. Adapun ibroh/pelajaran yang bisa kita petik dalam ritual yang di contohkan oleh baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sangatlah banyak, Karena keterbatasan halaman, maka kami akan sajikan kepada para pembaca, ibroh atau pelajaran yang berkaitan erat dengan permasalahan aqidah, diantaranya:

I. MEREALISASIKAN TAUHID 
Perkara tauhid merupakan hal yang paling menonjol yang mendapatkan prioritas utama dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mewujudkannya dalam ibadah haji. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam merealisasikan firman Allah SWT:

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah....” (QS Al-Baqarah [2]:196) 

Ayat yang mulia ini mengandung perintah agar seseorang menyempurnakan haji dengan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata. Karena pada hakekatnya “Allah SWT tidak akan menerima suatu amal dan tidak akan meridhainya kecuali bila amal itu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam . Oleh karenanya diantara amalan Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang menjadi bukti bahwa Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam merealisasikan ayat di atas adalah: 

a). Talbiyah Yang Beliau ucapkan adalah: “Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulka, la syarikalaka.” (“Kupatuhi perintah-Mu, Wahai Allah, kupatuhi panggilan-Mu- kupatuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kupatuhi panggilan-Mu, Sesungguhnya segala puji dan nikmat-hanya milik-Mu saja , begitu pula kekuasaan-tiada sekutu bagimu”. (Shahih Muslim, No.1159-1151, KBC M’sia-2005) 

b). Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam membaca Surat al-Ikhlas [112] dan Surat al-Kafirũn [109] pada sholat sunnah 2 raka’at setelah Thawaf (dibelakang maqom Ibrahim). ”. (Shahih Muslim, No.1188, KBC M’sia-2005) Surat al-Ikhlas mengandung penetapan tauhid Asma’ wa Sifat. Sedangkan surat al-Kafirũn mengandung penetapan tauhid Uluhiyyah, bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kita untuk membacanya sebelum tidur, karena surat tersebut adalah pembebas dari perbuatan syirik. (Shahih Sunan Abu Dawud, No.5055, Pustaka Azzam) 

c). Do’a Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika di Shofa dan Marwah adalah: “Lailaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir. La ilaha illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazamal wahdahu.” (“Tiada sesembahan yang berhak di sembah secara haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya milik-Nya lah seluruh kerajaan dan segala pujian, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang berhak di sembah secara haq kecuali Allah semata, Dia Yang Maha menepati janji-Nya dan menolong hamba-hamba-Nya dan menghancurkan sendiri kelompok yang memerangi kaum muslimin.” (Shahih Muslim, No.1188, KBC M’sia-2005) 

II. MENYELISIHI DAN BERLEPAS DIRI DARI KAUM MUSYRIKIN 
Islam dan kemusyrikan adalah dua hal yang bertentangandan tidak akan pernah bisa bertemu. Sebagai seorang muslim, wajib baginya berlepas diri dari syirik. Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam ibadah haji menyelisihi orang-orang musyrik dan berjalan di atas sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihi sallam. Dianatara syi’ar dan amalan yang Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lakukan untuk menyelisihi kaum musyrikin adalah: 

a) Melakukan wukuf di Arofah bersama kaum muslimin. Hal ini menyelisihi perbuatan orang-orang kafir Qurays yang tidak mau wukuf di Arofah. Orang-orang kafir Qurays pada waktu itu wukufnya di Muzdalifah dan mereka mengatakan: “Kami tidak akan bertolak kecuali dari tanah Harom”. (Shahih Bukhari, No.1665, Pustaka Amami).

b) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada para Shahabat untuk menyelisihikaum musyrikin. Hal ini dapat di lihat dalam beberapa peristiwa dalam ibadah hahji Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, diantaranya: 

Pada musim haji tahun ke-9 Hijriyah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan untuk mengumumkan kepada manusia agar di tahun depan (tahun ke-10 Hijriyah) tidak ada orang yang thowaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Dimana thowaf dengan telanjang berlaku pada masa jahiliyyah. (Shahih Bukhari, No.1622, Pustaka Amami) 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada para Shahabat untuk melakukan haji tamattu’ dalam rangka menyelisihi kaum musyrikin yang berpandangan bahwa umroh pada bulan-bulan haji termasuk perbuatan yang sangat jelek. 

III. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR 
Mengajak kepada kebaikan dan memperingatkan dari kejelekan merupakan pusaka agama dan tugas yang agung yang dengannya Allah mengutus para Nabi. Bilamana amar ma’ruf di tinggalkan, maka akan berkibar bendera angkara murka dengan megah, para juru da’wah kebathilan, akan mondar-mandir di medan kemungkaran, yang pada akhirnya akan meratalah kerusakan & kemungkaran di muka bumi. Apabila terjadi hal tersebut diatas, maka bukanlah orang yang zholim semata yang tertimpa adzab/siksaan sebagai akibat perbuatannya, namun orang-orang yang sholih pun akan terkena imbasnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Anfl [8] ayat 25 (yang artinya): 

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari dari pada siksaan yang tidak khusus orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, hal.506-508) 

Diantara hal yang paling jelas dari perbuatan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika haji, yang menunjukkan sikapnya keperdulian terhadap perkara amar ma’ruf nahi munkar adalah:

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika mendengar seorang laki-laki mengucapkan talbiyyah haji atas nama orang lain, sedangkan ia sendiri {yang bertalbiyyah tersebut), belum melaksanakan haji untuk dirinya, maka Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan agar melakukan haji untuk dirinya terlebih dahulu, baru kemudian untuk orang lain. (Shahihah Sunan Abu Dawud, No.1811) 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika thowaf melewati seseorang yang memakai jimat di tangannya, maka Beliau SAW memutus jimat tersebut. (Shahih Bukhari, No.1620, Pustaka Amami) 

IV. MEMPENGARUHI MANUSIA DENGAN AKHLAQUL KARIMAH 
Islam mengikat dengan erat dan kuat hubungan antara ‘akhlaqul karimah’ (akhlaq yang mulia) dengan I’tiqod (keimanan). Bahkan akhlaq yang mulia, yang ada pada diri seseorang menunjukkan sempurnanya keimanan orang tersebut. (Shahih Sunan at-Tirmidzi, No.1162, Pustaka Azzam) Dalam riwayat yang lain di katakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa: “Taqwa dan akhlaq yang mulia adalah dua hal yang paling banyak memasukkan ummat ke dalam syurga.” (Adabul Mufrod, No.583) Diantara hal yang paling jelas dari perbuatan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika haji, yang mencerminkan terhadap perkara akhlaqul karimah adalah: 

Tawadhu Sebagai contoh, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak mau mengkhususkan wadah minum untuk diri sendiri, namun memakai wadah yang di pakai oleh manusia pa umumnya. (Shahih Bukhari, No.1635-1636, Pustaka Amami) 

Berlaku Baik Kepada Seluruh Manusia Sebagai contoh, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam membagi seluruh hadya (qurban)yang beliau SAW sembelih kepada orang-orang miskin. (Shahih Muslim, No.1252-12538, KBC M’sia-2005).

Akhirul kata, demikianlah kajian kita tentang “Ibroh Dalam Haji” yang dapat kami sajikan secara singkat pada topik kita kali ini. Semoga dapat meningkatkan amal ibadah kita dan menambah pengetahuan bagi kita semua. Dan, Topik yang sama yaitu “Cara Berhaji Rasulullah” , yang menjadi bahan rujukan topik kita kali ini, akan kami sajikan dalam waktu dekat ini. Insya’ Allah.

Allahul Musta’an.

“Ya Allah, berilah kami rezeki untuk dapat memenuhi panggilan-Mu, dan berjumpa dengan-Mu di Bait-Mu. Lezatkan kami dengan dekat kepada-Mu dan memperoleh nikmat karunia memandang wajah-Mu di akhirat kelak. Ya, Allah Rabbul Idzati, Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bersandar kepada asbab dan berdiri bersama nafsu, keinginan, dan adat kebiasaan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dalam setiap keadaan. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka." 

Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:5)



{Sumber: Bulletin “An-Naba” Edisi: 12/th ke II Dzulhijjah 1428]

Saturday, May 29, 2010

Berulangkali Umroh Ke Mekkah? Saturday, May 29, 2010

Puji dan syukur bagi Allah semata dan Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga ahlul baitnya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.


Keutamaan Haji dan ‘Umrah
Dari Abu Hurairah r.a. katanya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Masa dari satu ‘umrah ke ‘umrah berikutnya adalah masa penghapusan dosa. Dan ganjaran haji yang mabrur tiada lain hanya syurga.” [Shahih Muslim No.1287 KBC]

Para pembaca rahimakumullah,
Topik kita kali ini akan menyajikan “Empat Alasan Tidak Melakukan Umrah Berulangkali Saat di Makkah”, karena hal itu memang tidak di syari’atkan, disamping itu, tidak ada nash-nashnya pendukung atau pun tuntunan Nabi SAW atau pun pernah dilakukan oleh para shahabat beliau yang kiranya dapat dijadikan rujukan bagi pelaksanaannya.

Ada suatu fenomena yang umum disaksikan oleh jama’ah haji Indonesia dan juga Negara lainnya. Saat berada di kota suci Makkah, banyak jama’ah yang berbondong-bondong menuju tanah yang halal (di luar tanah harom), seperti Masjid ‘Aisyah di Tan’im atau Ji’ronah. Tujuannya untuk melaksanakan umrah lagi. Umrah yang mereka kerjakan bisa lebih dari sekali dalam satu hari.Dalih mereka adalah, mumpung sedang berada di Makkah, sepantasnya memperbanyak ibadah umrah, yang belum tentu bisa dikerjakan lagi sesudah berada di tanah air. Atau dengan kata lain, untuk melipat-gandakan pahala.

Perlu diketahui, bahwa suatu ibadah akan di terima oleh Allah SWT manakala terpenuhi dua syarat mutlak, yaitu ikhlas karena Allah SWT & mengikuti petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam . Disamping itu juga, dengan mengetahui praktek dan pemahaman generasi Salaf dalam menjalankan ibadah Haji yang pernah dilaksanakan bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebab, generasi Salaf merupakan generasi terbaik, yang paling semangat dalam meraih kebaikan serta paling wara’ dalam menjaga kemurnian agamanya dari segala hal yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. (As-Sunnah)

Umrah, termasuk dalam kategori ini. Sebagai ibadah yang disyari’atkan maka harus bersesuaian dengan rambu-rambu syari’at dan nash-nash-nya, sesuai dengan petunjuk/tuntunan Nabi dan para Shahabat, serta para pengikut mereka yang Ihsan sampai hari Kiamat. Inilah tonggak diterimanya amalan hamba di sisi Allah SWT.

Sepanjang hidupnya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan umrah hanya sebanyak 4 kali, yaitu Umrah Hudaibiyah, Umrah Qadha, Umrah ketiga dari Ji’ranah dan keempat yang bersamaan dengan pelaksanaan haji Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. (Shahih Sunan Tirmidzi, No.826, Shahih Sunan Ibnu Majah, No.2450, Shahih Sunan Abu Daud, No. 19993-1994 Pustaka Azzam)

Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat. Setiap Umrah tersebut, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kerjakan dalam sebuah perjalanan tersendiri. Tiga Umrah secara tersendiri, tanpa disertai haji, dan sekali bersamaan dengan ibadah haji. (Lihat Kitab Mukhtasor ZADUL MA’AD, hal.127-129, al-Qowam Fatawa al ‘Utsaimin 2/668).

Berikut ini beberapa aspek yang menjelaskan bahwa umrah berulang-ulang seperti yang banyak dikerjakan oleh sebagian jama’ah haji sebagaimana fenomena diatas tidak disyari’atkan:

1. Pelaksanaan umrah yang di lakukan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, masing-masingnya dengan perjalanan (safar) tersendiri. Bukan satu perjalanan untuk sekian banyak umrah, seperti yang di lakukan oleh jama’ah haji sekarang ini. SyaikhMuhammad bin Shalih al’-Utsmain menyimpulkan: "Setiap umrah mempunyai safar tersendiri.

Artinya, satu perjalanan hanya untuk satu umrah saja. Sedangkan perjalanan menuju Tan’im belum bisa dianggap safar. Sebab masih berada dalam lingkup kota Makkah. (Lihat Fatawa al-/Utsaimin 2/668).

2. Umrah yang di lakukan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yang di mulai dari Ji’ronah tidak bisa di jadikan dalil untuk membolehkan umrah berulang-ulang. Sebab, pada awalnya Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memasuki kota Makkah untuk menaklukkannya dalam keadaan halal (bukan muhrim) pada tahun 8 Hijriyah. Selama 17 hari Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berada disana. Kemudian sampai kepada Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berita, kalau suku Hawazin bermaksud memerangi Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Akhirnya Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mendatangi dan memerangi mereka. Ghanimah {rampasan perang} di bagi di daerah Ji’ronah. Setelah itu, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ingin mengerjakan umrah dari Ji’ronah. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak keluar dari Makkah ke Ji’ronah secara khusus. Namun ada perkara lain yang membuat Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam keluar dari Makkah. Jadi semata-mata bukan untuk mengerjakan umrah.

3. Thawaf mengelilingi Baitullah (Ka’bah) lebih afdhol ketimbang Sa’i. Maka daripada mereka menyibukkan diri dengan pergi keluar ke daerah Tan’im dan sibuk dengan amalan-amalan umrah yang baru sebagai tambahan dari umrah sebelumnya, alangkah lebih baik sekiranya mereka melakukan Thowaf di sekeliling Ka’bah. Dan sudah di maklumi, bahwa waktu yang tersita untuk pergi ke Tan’im karena ingin memulai ihrom untuk umrah yang baru, dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan thowaf ratusan kali keliling Ka’bah.

4. Pada penaklukan kota Makkah, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, berada di Makkah selama 19 hari. Tetapi, tidak ada riwayat bahwa Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam keluar ke daerah halal untuk melangsungkan umrah dari sana. Apakah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak tahu bahwa itu masyru’ (disyari’atkan)? Tentu saja tidak mungkin!

Berdasarkan alasan-alasan di atas, menjadi jelas bahwa thowaf lebih afdhol. Alasannya, kata Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam; karena thowaf di Ka’bah merupakan ibadah dan qurbah (cara untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang paling afdhol yang telah Allah tetapkan di dalam Kitab-Nya. Thowaf termasuk ibadah paling utama bagi penduduk Makkah. Maksudnya, yaitu orang-orang yang berada di Makkah, baik penduduk asli (tempatan) maupun pendatang. Thowaf juga termasuk ibadah istimewa yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang berada di kota lainnya.

Orang-orang yang berada di Makkah sejak masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan masa Khulafa’ur Rasyidiin senantiasa menjalankan thowaf setiap saat. Dan lagi, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kepada pihak yang bertanggung-jawab atas Baitullah, agar tidak menghalangi siapapun yang ingin mengerjakan thowaf pada setiap waktu. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai bani Abdi Manaf, janganlah kalian menghalangi seorangpun untuk melakukan thowaf di Ka’bah dan mengerjakan sholat pada saat kapan pun, baik malam maupun siang.” (Shahih Sunan Tirmidzi No.868)

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thowaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan sujud.” (QS al-Baqarah [2] ayat 125)

Dalam ayat yang lain:
وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thowaf, dan orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” (QS al-Hajj [22] ayat 26).

Pada dua ayat diatas, Allah SWT menyebutkan tiga ibadah di Baitulllah (Ka’bah), yaitu: thowaf, i’tikaf dan ruku’ bersama sujud, dengan mengedepankan yang paling istimewa terlebih dahulu, yaitu thowaf. Karena sesungguhnya, thowaf tidak di syari’atkan kecuali di Ka’bah berdasarkan kesepakatan jumhur ulama. Adapun i’tikaf, bisa dilakukan di masjid-masjid lain. Begitu pula ruku’ dan sujud, dapat dikerjakan dimana saja.

Bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda: “Barangsiapa mengelilingi Ka’bah tujuh kali, seperti membebaskan satu budak belian.” (Shahih Sunan An-Nas’i, No. 2919, Pustaka Azzam)

Oleh karena itu, ketika berada di Makkah sebelum atau sesudah pelaksanaan haji, yang paling baik bagi kita adalah memperbanyak thowaf, daripada melakukan perbuatan yang tidak ada contohnya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

“Ya Allah, berilah kami rezeki untuk dapat memenuhi panggilan-Mu, dan berjumpa dengan-Mu di Bait-Mu. Lezatkan kami dengan dekat kepada-Mu dan memperoleh nikmat karunia memandang wajah-Mu di akhirat kelak. Ya, Allah Rabbul Idzati, Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari bersandar kepada asbab dan berdiri bersama nafsu, keinginan, dan adat kebiasaan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala keburukan dalam setiap keadaan. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka." 

Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:5)



[Dipetik dari Bulletin “An-Naba’ ” Edisi: 12/th ke II Dzulhijjah 1428]





Contact Form

Name

Email *

Message *