Bicara tentang Kajian Al-Quran dalam khasanah keilmuan Islam tentu saja sangat berbeda dengan apa yang dipahami oleh kebanyakan netter Kristen yang acapkali kita temui "waton jeplak" luar biasa sok tau coba membahas ayat-ayat Al-Quran di forum-forum debat lintas iman melulu berdasarkan asumsi sendiri dari membaca teks terjemahannya saja.
Sedangkan dalam ajaran Islam, membaca Al-Quran ada tata-kramanya, bahkan ada "ilmunya" agar pembaca dapat mengerti dengan baik riwayat, makna, maksud, dan ajaran dari setiap ayatnya.
Namun karena hal itu akan terasa sangat sulit untuk dipahami, khususnya oleh para netter penggiat dan pendukung misionaris kristen seperti disebutkan di atas, maka berikut ini disajikan beberapa "bacaan ringan" terkait kajian Al-Quran yang mudah dimengerti saja.
Berikut adalah klipping dari beberapa jawaban untuk topik-topik basi - tapi populer - dan paling sering "dipersoalkan" oleh para debater kristen, khususnya para pemula yang masih semangat-semangatnya unjuk gigi di forum-forum debat lintas iman online di internet.
Surah merupakan sekelompok ayat Al-Qu’ran mulia yang terjelaskan. Paling sedikit surah terdiri atas tiga ayat. Huruf wawu pada “surah” merupakan wawu asli yang diambil dari kata “surul balad” atau pagar kota. Surah memisahkan sekelompok ayat Al-Qur’an dari ayat lainnya. Sebuah surah terdiri atas pelbagai jenis ilmu dan informasi.
Allah SWT telah menurunkan Al-Quran sebagai satu mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad, dan keberadaan Allah SWT dengan segala sifat-sifat kesempurnaanNya. Membaca Al-Quran dan menghayati dan mengamalkannya adalah satu ibadah. Ia merupakan satu kitab panduan hidup manusia dan referensi utama umat Islam di samping sunnah Rasulullah. Al-Quran dinukilkan secara mutawatir (berperingkat atas sebab penurunannya), dan mashaf yang lazim ditemui hari ini dikenali sebagai mashaf Uthmani. Artikel ini mengajukan satu penelitian tentang asal-usul dan sejarah Al-Quran, dari segi cara wahyu diturunkan, peringkatnya, tempat turunnya, masanya, awalnya dan akhirnya. Disertakan juga informasi tentang pengumpulan dan pembukuan Al-Quran.
Pengertian Nuzul Al-Quran
Dari segi bahasa, kata ‘Nuzul' berarti menetap di satu tempat atau turun dari tempat yang tinggi. Kata perbuatannya ‘nazala' (نزل) membawa maksud ‘dia telah turun' atau ‘dia menjadi tamu'. Sebenarnya penggunaan istilah Nuzul al-Quran ini secara majaz atau (simbolis) saja yang berarti pemberitahuan al-Quran. Tujuannya untuk menunjukkan ketinggian al-Quran.
Secara teknikalnya Nuzul al-Quran bererti penurunan al-Quran dari langit kepada Nabi Allah yang terakhir. Kata Nuzul dalam berbagai wajah sama Ada kata nama, kata perbuatan atau lainnya digunakan dalam al-Quran sebanyak lebih kurang 290 kali. Sebagai contoh, “Dia yang telah…..menurunkan hujan.” (al-Baqarah:22), “Dialah….yang menurunkan Taurat Dan Injil.” (Ali Imran:3) Dan banyak lagi ayat-ayat lain.
Cara Al-Quran (wahyu) diturunkan
‘Aishah istri Rasulullah SAW, meriwayatkan sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul, beliau bermimpi hal yang benar ketika beliau menyendiri di Gua Hira' beribadah kepada Allah SWT kira-kira tiga tahun. Di gua itulah beliau menerima wahyu yang pertama.
Harith bin Hisham, seorang sahabat Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada Beliau bagaimana wahyu diturunkan kepadanya. Rasulullah menjawab:
”Kadang-kadang wahyu datang kepada-ku dengan gema (desingan) lonceng dan ini sangat berat untuk-ku, dan sementara suara itu hilang apa yang disampaikan kepada-ku. Kadang ia datang dalam bentuk jelmaan malaikat kepada-ku merupai pria, berbicara dengan-ku dan aku menerima apa saja yang disampaikannya kepada-ku.”
Sebagai referensi, berikut ini beberapa catatan penting terkait sejarah Al-Quran.
Tafsir Alquran (Arab: تفسير القرآن) adalah ilmu untuk memahami dan menafsirkan objek-objek yang bersangkutan dengan ayat-ayat Al-Quran dan "output"nya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami dan samar artinya. Kebutuhan umat Islam terhadap tafsir Al=Quran, sehingga makna-maknanya dapat dipahami secara penuh dan menyeluruh, merupakan hal yang mendasar dalam rangka melaksanakan perintah Allah sesuai yang dikehendaki-Nya.
Dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Quran dan isinya. Ilmu untuk memahami Al-Quran ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Qur'an (ilmu-ilmu Alquran).
Ada tiga bentuk penafsiran Al-Quran, yaitu (1) Tafsîr bil ma’tsûr, (2) at-tafsîr bir ra’yi, dan (3) tafsir isyari, dengan empat metode, yaitu (a) ijmâli, (b) tahlîli, (c) muqârin dan (d) maudhû’i. Sedangkan dari segi corak lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqh, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya kemasyarakatan lainnya.
Usaha menafsirkan Alquran sudah dimulai semenjak zaman para sahabat Nabi sendiri. ‘Ali ibn Abi Thâlib (w. 40 H), ‘Abdullah ibn ‘Abbâs (w. 68 H), ‘Abdullah Ibn Mas’ûd (w. 32 H) dan Ubay ibn Ka’ab (w. 32 H) adalah di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.
Adapun arsip di bawah ini hanya sebagian (sangat) kecil di antaranya, yang pernah GM publikasi sebagai respons terhadap pertanyaan seputar topik-topik dimaksud:
Bicara tentang mukjizat Al-Quran, maka mau tidak mau, suka tidak suka, bosan tidak bosan, kita akan bicara tentang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa salam.
YA! Karena pertama, kita semua tahu bahwa Al-Quran hanya diturunkan kepada beliau sebagai satu-satunya manusia yang oleh karenanya tentu saja menjadi orang yang paling memahami setiap detil dari apa yang sekarang ini kita kenal sebagai Ulumul Qur'an. Kedua, karena kita juga tahu bahwa di samping ratusan mukjizat yang pernah diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui tangan beliau -- dan dapat kita ikuti kisah-kisahnya melalui hadits-hadits shahih tentang berbagai mukjizat tsb -- ternyata beliau lebih memilih untuk mengaku hanya memiliki satu mukjizat saja, yaitu Al-Quran!
Inilah sebabnya kenapa umat Islam tidak banyak bicara tentang berbagai mukjizat nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa salam yang pada kenyataannya tidak kalah dahsyat dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat yang pernah diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui tangan para nabi dan rasul Allah pendahulu beliau, kecuali tentang Al-Quran.
Tidak ditemui dalam kitab-kitab suci umat sebelumnya, Al-Quran yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala untuk seluruh umat manusia melalui nabi terakhir-Nya, Muhammad Shallallahu 'alayhi wa salam, 14 abad lalu terbukti menyajikan banyak ayat-ayat dalam kategori "sains masa depan" sebagaimana kita ketahui; ternyata baru sebagian di antaranya yang dipahami dan dibuktikan kebenarannya oleh ilmuan modern dari berbagai disiplin ilmu sejak beberapa dekade belakangan ini saja.
Di antara yang sempat kami arsipkan di sini adalah sbb:
Islam hadir sebagai rahmat bagi seisi alam yang menuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Selama hidup, manusia tidak luput dari beragam masalah dan kegalauan. Untuk mencari solusi pemecahan masalah, umat Islam dapat bersandar pada sumber-sumber hukum Islam yang jelas.
Sumber hukum yang dimaksud adalah Alquran, Hadis, Ijma, dan Qiyas. Alquran adalah kalam Allah yang berfungsi sebagai sumber hukum yang utama. Kehadiran Hadist, Ijma, dan Qiyas bukanlah sebagai penyempurna Alquran.
Ini tulisan yang panjang dan karenanya saya menganjurkan pembaca - apa pun keyakinan anda, untuk lebih bersabar dalam menyimaknya dan mudah-mudahan saja dapat pula memahami pandangan Islam tentang issue-issue krusial seputar Isa Alaihissalam - menurut Islam, atau Yesus Kristus - menurut Kristiani, yang seolah tidak ada habisnya diperdebatkan oleh kedua umat ini sejak jaman dahulu hingga hari ini.
Dari begitu banyaknya topik yang selama ini kerap "dipertentangkan" oleh berbagai pihak (maupun kepentingan) melalui polemik terbuka di banyak situs internet - yang ujung-ujungnya sering berubah menjadi ajang saling menghujat - maka dalam tulisan berikut ini saya ingin coba menyoroti, atau lebih tepatnya menelaah kajian terbatas pada hal-hal yang menurut hemat saya sangat prinsip. Untuk itu, demi memelihara adab seperti yang diajarkan Tuhan melalui Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW khususnya kepada umat muslim, maka dengan lebih dulu mengucap Basmalah, mari kita mulai dengan firman Allah SWT berikut ini:
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (QS. Al-Ankabut[29]:46)
Dalam pengertian yang sangat sederhana, ayat di atas menyiratkan 3 pesan kepada Rasulullah SAW dan tentu saja, kepada seluruh pengikut beliau untuk:
Pertama: Senantiasa menahan diri dari perdebatan (tentang agama) dengan ahli kitab (pengikut ajaran kitabullah - atau kitab-kitab Allah) yang juga diimani umat Islam seperti Zabur (Mazmur), Taurat (Torah) dan Injil sebagai kitab-kitab pendahulu dari Al-Qur'an.
Kedua: Dalam hal terpaksa berdebat, maka tidak ada cara lain yang dibenarkan oleh Allah SWT untuk dilakukan kecuali cara-cara yang paling baik. Dengan demikian, menghujat agama manapun, terutama agama samawi (yang datang dari Allah melalui para nabi dan rasul), di dalam ajaran Islam adalah perbuatan yang jelas-jelas DILARANG!
Ketiga: Kendati ada "pengecualian" tentang larangan berdebat ini, namun sangat penting untuk difahami bahwa itu hanya berlaku kepada orang-orang zalim (atau yang menzalimi agama Allah SWT) dengan tujuan untuk menyampaikan 2 pesan penting, yakni bahwa umat Islam mengimani semua kitabullah, dan bahwa sesungguhnya Tuhan dari semua ahli kitab adalah satu, yakni Allah SWT, satu-satunya llahi kepada siapa kita semua diperintahkan untuk tunduk, patuh, dan berserah diri.[1]
Berangkat dari pemahaman sederhana ini, maka marilah selanjutnya sama-sama kita simak penjelasan serba ringkas menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
I. Kenapa Nabi Isa Di Juluki Al Masih?
Jawab:
Tidak diragukan lagi, bahwa nama aslinya adalah Isa. Nama itulah yang disebutkan dalam al-Quran seperti dalam ayat berikut:
"(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai 'Isa putra Maryam, ingatlah ni'mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."(QS al-Maidah [5]:110)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya, seperti di antaranya:
(Ingat!ah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih `Isa putera Maryam." ( QS. Ali Imran [3]: 45)
Perhatikan juga firman Allah ini: "Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah." (QS.An-Nisa' [4]:172) dan "Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam." (QS. An-Nisaa [4]:171)
Sebagian ulama Salaf berpendapat, nabi Isa dijuluki al-Masih dari kata saaha, yaitu karena beliau sering berpindah tempat, atau banyak berjalan kaki. Pendapat lain mengatakan karena telapak kakinya datar. Dan ada juga yang memberi alasan kata al-Masih dari akar kata ma-sa-ha, karena dengan izin Allah, setiap kali ia mengusap orang yang sakit, maka si sakit segera sembuh.
Laits dan Abu `Ubaid berkata; "Kata al-Masih berasal dari bahasa Ibrani, Machih. Kemudian diserap ke dalam bahasa Arab, dan lafadznya ikut berubah dari huruf Syin Masyih menjadi huruf Sin Masih. Oleh sebab itu, dalam bahasa Arab kata al-Masih tidak ditemui akar katanya." Namun mayoritas ulama (jumhur) berpendapat, bahwa kata al-Masih itu adalah musytaq (memiliki akar kata). Menurut ahli bahasa yang lain, kata al-Masih berarti As Siddiq (yang membenarkan).
Pendapat lain mengatakan, karena sentuhan (masaha) nabi Zakariya kepada Isa. Dan ada juga yang memberi alasan karena nabi Isa berkelana di bumi (dari kata masaha yang artinya qatha'a atau menempuh jarak). Berikutnya ada ahli bahasa yang memberi alasan karena saat terlahir ke bumi, tubuh nabi Isa AS sudah terolesi minyak (dari kata masaha). Pendapat lain, karena nabi Isa AS ketika lahir disentuh oleh keberkahan. Pendapat berikutnya, masih dari kata masaha yang artinya khalaqa; nabi Isa AS diciptakan Allah dengan fisik yang sempurna dan bagus. Dan masih banyak lagi pendapat lain, sebagaimana diterangkan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim [Lihat Syarh Kitab al-Imam Muslim li an-Nawawi (Bab tentang al-Masih bin Maryam dan Masih Dajjal), (1/510). Dan lihat juga Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar AI 'Asqalani, Kitab Hadits-hadits kisah para nabi. (6/544)].
Wallahu'alam.
II. Bagaimana dengan QS. 66:12 menyebutkan bahwa:"Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami ...." yang kemudian diyakini oleh umat Nasrani sebagai salahsatu bukti bahwanabi Isa adalah anak Tuhan?
Jawab: Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari anggapan yang merendahkan dzat Allah SWT seperti itu. Ayat tersebut selengkapnya terdapat dalam (QS At-Tahrim [66]: 12) seperti firman Allah SWT:
"Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta'at."
Selain itu disebut juga dalam (QS. Al-Anbiya' [21]: 91)
"Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (QS. Maryam [19]: 17).
Ruh yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat yang kemudian berbicara kepada Maryam; "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:19)
Dalam tafsir disebutkan bahwa malaikat meniupkan ruh ke kantung baju Maryam, lalu ruh itu masuk ke dalam rahim, maka jadilah nabi Isa.
Yang dimaksud dengan Ruh adalah sesuatu - atau makhluk - yang diciptakan Allah dari ruh, yang dengan adanya ruh itu maka sang makhluk menjadi hidup. Sama seperti yang terjadi pada penciptaan nabi Adam sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran:
"Maka apabila Aku telah menyempumakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk karnu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijir [15]:29)
Allah telah meniupkan ruh kepada Nabi Adam AS, sama halnya dengan ditiupnya ruh kepada nabi Isa AS. Ini jelas menunjukkan bahwa baik Nabi Adam AS maupun Nabi Isa AS adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah. Lebih jelas perhatikan ayat-ayat berikut:
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf." (QS. an-Naba'[ 78] : 38).
Kesimpulannya, nabi Isa AS tercipta dari ruh yang berasal dari Allah, yakni ruh ciptaan Allah, sama kejadiannya bahwa dengan ruh itu pula Allah menciptakan sekalian manusia. Adapun seperti kita ketahui, manusia yang pertama kali "dihidupkan" dengan ditiupkannya ruh ke dalam jasadnya adalah Nabi Adam AS.
Allah berfirman: "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajadah [32]: 9)
Dengan demikian, tentunya dapat difahami bahwa bukan ruh itu, sekali lagi; BUKAN RUH ITU yang menjadikanNabi Isa AS istimewa. Sebab Ruh yang ditiupkan kepadanya sama dengan ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT kepada seluruh makhluk bernyawa ciptaan-Nya, yakni makhluk yang bergerak dan bertebaran di alam semesta ini sampai tiba saatnya ruh-ruh itu satu persatu dicabut kembali oleh Allah SWT melalui tangan-tangan malaikat pencabut nyawa Izrail AS. Lalu, apa yang menjadikan Nabi Isa AS istimewa? Jawabnya, tentu saja, kenabian beliau! [2]
Wallahu'alam.
III. Jika demikian, siapakah sebenarnya Roh Kudus atau Ruhullah itu?
"Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."(QS. An-Nahl[16]:162)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam bukunya al-Jawab Ash-Shahih li man Baddala bi Din al-Masih - ditahqiq dan dikomentari oleh Dr. Ali bin Hasan, Dr. Abdul Aziz Askar dan Dr. Hamdan al-Hamdani (3/248) - tentang penjelasan makna yang tepat terhadap kata ruhullah - Ruh Allah, adalah malaikat yang merupakan ruh pilihan Allah, dan Allah mencintainya seperti tersebut dalam al-Quran: "Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa." la (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:17-19).
Allah memberitakan bahwa Dialah yang mengirim ruh-Nya (melalui ruhullah - Jibril AS) kepada nabi Isa, lalu nabi Isa menjadi manusia yang sempurna. Kita semua mengetahui bahwa nabi Isa adalah rasul utusan Allah. Maka dapat mengerti bahwa ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat, yaitu ruh pilihan Allah. Allah menyandingkan kata ruh itu kepada Dzat-Nya, sama halnya dengan penyandingan kata benda yang lain dengan lafzul jalalah, seperti dalam ayat: "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." (QS. asy-Syams [91]:13) dan ayat: "Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud" (QS. AI-Hajj[22]:26) dan firman Allah: "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum." (QS. Al-Insan [76]: 6)
Kata yang disandingkan kepada Allah, jika itu adalah kata keterangan (sifat), tidak bermakna makhluk, seperti kata `llm, Qudrah, Kalam, dan Hayat (hidup), menjadi sifat kesucian Allah. Dan jika kata itu adalah kata benda, ia berdiri sendiri atau menjadi kata keterangan dari yang lain, contohnya: kata bait (rumah), naqah (unta), 'abd (hamba) dan ruh (nyawa) menjadi milik, ciptaan yang disandarkan kepada pencipta dan pemiliknya.
Hanya saja, dalam kaidah idhafat, mudhaf ilaih tidak terlepas dari pengkhususan kata mudhaf dengan sifat yang membuat mudhaf ilaih berbeda dari yang lain sebagai syarat sahnya idhafat. Misalnya dalam hal ini khusus Ka'bah, Naqah (unta tertentu) dan Ibadussholihin (hamba-hamba shalih)-lah yang sesungguhnya dimaksudkan dalam idhafatbaitullah, naqatullah dan ibadullah.
Demikianlah ruh khusus pilihan Allah yang disebut dalam idhafat ruhullah tadi tidak boleh dijeneralisir sehingga termasuk ruh-ruh yang buruk, seperti syaitan, Iblis, orang kafir, dlsb.
Ruh syaitan dan orang-orang kafir itu memang makhluk ciptaan Allah, namun tidak sah diidhafatkan kepada Allah seperti mengidhafatkan ruh-ruh yang suci dan bersih. Begitu juga tidak sah mengidhafatkan segala benda mati kepada Allah kecuali Ka'bah, dan tidak sah mengidhafatkan unta-unta lain kecuali naqatullah (unta Allah) sebagaimana diterangkan dalam surat asy-Syams di atas, yaitu unta nabi yang Shalih.
Menurut Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, makna yang benar dari idhafat ruhullah itu adalah 'malaikat utusan dari sisi Allah' seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an: "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam[19]:19). Bukan seperti yang selama ini diimani oleh umat Nasrani sebagai: `Ruh Allah menyatu dengan jasad Isa' atau`Ruh Allah berpindah ke jasad Isa'. Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari prasangka seperti itu.
Seandainya keyakinan umat Nasrani di atas benar, pasti Allah juga akan mewajibkan mereka untuk menyembah Nabi Adam AS. Sebab ayah dari seluruh umat manusia ini bahkan diciptakan tanpa ayah dan ibu, dan lebih jauh lagi, ruh Nabi Adam AS ditiupkan oleh Allah SWT tanpa melalui perantara malaikat Jibril (ruhullah) yang dalam penciptaan Nabi Isa AS, harus turun dulu ke bumi untuk menemui Maryam.
Difirmankan oleh Allah SWT, sebagaimana tersirat dalam Al-Quran "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr[15]:29). Di sana terlihat bahwa sesungguhnya tiada perbedaan antara peciptaan Nabi Adam AS dan Nabi Isa AS, begitu juga dengan seluruh umat manusia ciptaan Allah SWT.
Al-Quran menegaskan hal itu dalam ayat: "Sesungguhnya penciptaan 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (QS. Ali `Imran 3:59). Kesimpulannya, sudah seharusnya mereka yang berkeyakinan di luar batasan ini untuk kembali ke ajaran yang benar. Berpaling dari kekeliruan selama ini untuk selanjutnya menyembah Allah yang Esa, yang tiada satu dzat pun pantas menjadi sekutu-Nya.
IV. Ayat:"(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada Ku" (QS Ali 'Imran [3]:55). Apakah pengertian yang menyebutkan Isa 'wafat' dalam surah ali Imran ini mengandung makna yang sesungguhnya atau bukan?
Jawab:
Makna 'wafat' yang tepat di sini adalah 'tidur'. Yaitu, Allah mengangkat nabi Isa ke sisi-Nya dalam keadaan tidur. Dalam bahasa Arab, kata 'tidur' sah dipakaikan dalam makna wafat, setidaknya hampir serupa dengan wafat (mati), sebagaimana firman Allah:
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." (QS az-Zumar [39]:42)
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia (hidup) sesungguhnya wafat di dalam tidur. Saat tertidur - dan ruh terpisah dari jasad - manusia praktis kehilangan kepekaannya sebagai makhluk hidup. Otak meraka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan gerak atau aktifitas bagian mana pun dari seluruh organ tubuhnya (kecuali hal-hal yang terjadi di alam bawah sadar seperti mengigau, tidur berjalan dan hal-hal sejenis itu).
Saat terbangun dari tidur, atau tepatnya saat ruhnya dikembalikan oleh Allah SWT ke jasad masing-masing, maka kecuali Allah SWT menghendaki lain, segala kemampuan normalnya sebagai manusia akan kembali berfungsi sebagaimana lazimnya.
Dalam hadits disebutkan bahwa sebelum beranjak tidur Rasululah SAW selalu berdoa: "Dengan Nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan badanku, dan dengan Nama-Mu juga aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, sayangilah ia, dan jika Engkau belum mencabutnya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga nyawa hamba-hamba-Mu yang shalih". [3]Ketika Rasulullah SAW terbangun, ia membaca doa: "Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali." [4] serta membaca: "Segala puji bagi Allah Yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan Yang telah menyehatkan jasadku." [5]
Dengan adanya hadits-hadits ini jelaslah bahwa makna ayat tersebut adalah: "Sesungguhnya Aku mematikanmu (seperti rupa yang mati waktu tidur), ketika itu engkau tidak merasakan diangkat ke langit."
Artinya nabi Isa tertidur pulas, dan dalam keadaan tidur pulas itulah Allah mengangkatnya ke langit sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Nabi Isa tidak terbangun kecuali setelah sampai di langit. Ulama lain berpendapat, nabi Isa diwafatkan, dengan pengertian mati yang sesungguhnya, namun hanya sebentar. Ketika dalam kondisi tidak bernyawa, ia diangkat ke langit, kemudian ia dibangkitkan, dan kembali hidup.
Lebih jauh tentang hal ini, mari sama-sama kita simak penjelasan berikut:
Mathar al-Warraq menafsirkan ayat "Sesungguhnya Aku mewafatkanmu ..." bermakna mewafatkanmu dari dunia, tapi bukan berarti mati. Penafsiran yang sama juga ditarik oleh Ibnu Jarir: Sesungguhnya wafatnya Isa AS adalah diangkatnya ia dari dunia karena telah ditetapkan bukan sebagai ahli (penghuni) dunia lagi. Dan atas kuasa Allah SWT setelah itu ia tidak lagi memerlukan segala kebutuhan ahli dunia seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain hal yang bersifat manusiawi. Cukup banyak hadits yang mengkabarkan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman nanti, dan ia akan menjalankan hukum Islam. Ia akan mematahkan palang-palang salib, memusnahkan babi, meniadakan upeti (pajak), dan yang ia terima hanyalah agama Islam. Hal ini diperkuat oleh firman Allah SWT:
"Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian Isa). Dan di hari akhir nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka" (QS. an-Nisa'[4]: 159).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi Arabia, rahimahullah menulis dalam bukunya Majmu' Al Fatawa, Bab: Tauhid dan hal-hal yang berkenaan dengannya (1/433) sebagai berikut:
Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata almutawaffa (dimatikan/diwafatkan) yang ada dalam ayat "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengongkat kamu kepada-Ku."
Pendapat-pendapat tersebut di antaranya:
Pertama: Yang dimaksud dengan wafat di sini adalah wafat dalam artian mati, sebab itulah pengertian yang zahir (tekstual) dari ayat tersebut jika tidak disandingkan dengan bukti-bukti terkait lainnya. Dan dikarenakan kata mutawaffa terdapat dalam al-Quran lebih dari sekali, seperti dalam ayat: "Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..." (QS. As-Sajadah[32]:11), dan dalam ayat: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar" (QS. Al-Anfal[8]:50). Demikian pula di ayat lain, kata waffa juga memiliki pengertian 'mati'. Atas dasar makna inilah penafsiran ayat tersebut memakai uslub (gaya) taqdim dan ta'khir.
Kedua: Dengan makna qabd (berada dalam genggaman). Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari sekelompok ulama salaf, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini sekaligus mendudukkannya di tingkat pertama dibanding dengan pendapat-pendapat lain. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi ke alam langit, engkau dalam keadaan hidup kemudian aku mengangkatmu ke sisi-Ku."
Dalam ucapan orang-orang Arab juga terdapat makna yang persis dengan makna waffa dalam ayat tersebut, yaitu: "tawaffaitu maali min fulan," maksudnya, aku menggenggam (menguasai) seluruh harta kekayaanku dari si Fulan. Atau dengan kata lain, aku berkuasa sepenuhnya atas kekayaanku dari gangguan si fulan.
Ketiga: Maksud wafat pada ayat tersebut adalah wafat yang berarti 'tidur'. Sebab kata naum (tidur) dalam bahasa Arab dapat diartikan juga sebagai wafat (mati). Maka pemaknaan ayat tersebut adalah tidur dengan merujuk kepada dalil dari ayat-ayat al-Qur'an seperti firman Allah SWT yang artinya: "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari", dan ayat: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka la tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan."
Pendapat yang kedua dan ketiga lebih kuat dari pendapat yang pertama. Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah yang didukung oleh dalil-dalil yang jelas, dan dikuatkan dengan fakta, bahwa ia diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Dengan kata lain Nabi Isa AS belum pernah mati, dan senantiasa dalam keadaan hidup di langit sampai pada suatu saat nanti akan turun ke bumi untuk melaksanakan tugas yang diembannya sesuai dengan pemberitaan lewat hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW. Setelah menyelesaikan tugas-tugas itu, barulah beliau wafat - sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan Allah.
Dari keterangan ini dapat dimengerti bahwa penafsiran kata yatawaffa dengan makna maut (mati dengan dicabut nyawa) adalah pendapat yang lemah, tidak akurat. Sekiranya pun pendapat itu benar, maka sudah barang tentu yang dimaksud adalah wafatnya Isa di akhir zaman nanti. Artinya, penyebutan kata itu sebelum kejadian "pengangkatan" termasuk gaya bahasa taqdim (mendahulukan sesuatu) dengan makna ta'khir (diakhirkan). Sebab sebagaimana diingatkan oleh ulama dan ahli bahasa Arab, huruf "waw" (kata sambung) tidak selamanya mengandung pengertian tartib (urutan).
Sedangkan anggapan bahwa nabi Isa AS tewas dibunuh, atau tewas disalib, ayat-ayat di dalam Al-Quran secara terang dan tegas membatalkan dan menolaknya. Al-Qur'an juga dengan sendirinya menolak pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa AS tidak diangkat ke langit tapi hijrah ke Kashmir (India) dan lama hidup di sana (sampai wafat secara normal) dan tidak akan turun sebelum hari Kiamat. Dan jika pun ada, maka yang akan datang itu adalah "duplikat" nabi Isa.
Pendapat ini benar-benar pendapat batil, menentang ketetapan Allah SWT dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT serta hadits Rasulullah SAW yang jelas menyiratkan bahwa Nabi Isa AS senantiasa hidup sampai sekarang dan akan turun di kemudian hari sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW.
Berpegang pada keterangan di atas tentunya kita menjadi lebih faham bahwasanya siapa pun yang "mengklaim" nabi Isa AS tewas terbunuh di tiang salib, atau yang mengatakan bahwa nabi Isa AS berhijrah ke negeri Kashmir dan hidup di sana cukup lama sebelum mati dengan cara yang normal - dan setelah mati tidak pula diangkat ke langit - adalah pendapat yang menentang Allah SWT , mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta menafikan hadits Rasulullah SAW.
Kita semua tahu bahwa barangsiapa mendustakan Allah dan Rasul-Nya hukumnya adalah kafir. Oleh karenanya, siapa pun yang (masih) mempercayai pendapat keliru ini hendaknya bersegera ightifar, bertaubat, dan kembali ke jalan yang benar. Kitab Suci al-Quran dan hadits dengan jelas memberitakan bahwa jika seseorang bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, niscaya ia selamat. Namun jika tidak, maka ia akan mati dalam kekufuran.
Dalil-dalil yang menyatakan bahwa "kematian" Nabi Isa AS tidak seperti yang disangkakan sebagian besar umat Nasrani cukup banyak, bahkan sangat jelas diterangkan oleh Allah SWT sendiri melalui firman-Nya:
"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa'[4]:157-158)
Dan ini masih dikuatkan oleh hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang memberitakan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman sebagai hakim yang adil, yang akan membunuh Dajjal Sang Sesat, mematahkan palang salib, membunuh babi, meniadakan upeti (pajak), dan tiada satu agama pun yang ia terima kecuali agama Islam.
Hadits-hadits tersebut adalah hadits mutawatir dan status shahihnya akurat, sebab berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama sependapat menerima berita itu untuk diimani karena ada dalil dan mereka sebutkan sendiri di dalam buku-buku aqidahnya.
Adapun yang menolaknya dengan alasan karena haditsnya hadits ahad, juga tidak dapat menolaknya secara penuh, atau mentakwilkan hadits tersebut dengan pengertian bahwa manusia di akhir zaman nanti berpegang kepada akhlak Al-Masih AS, bersikap lembut, penyayang, merangkul orang-orang dengan semangat, tujuan, dan subtansi hukum - bukan dengan teks atau redaksi hukum - jelas merupakan pendapat yang keliru, batil, dan menyalahi pendapat mayoritas ulama Islam. Pendapat ini bahkan terang-terangan menolak nash yang tsabit (fakta) dan mutawatir sehingga dapat dianggap sebagai tindakan kriminal terhadap syariah, menentang ajaran Islam dan nabi yang ma'shum Muhammd SAW. Sebuah bentuk kebodohan jahiliyah yang menilai sesuatu dengan hukum prasangka dan hawa nafsu, atau keluar dari kebenaran serta petunjuk dari Allah SWT.
Orang yang berpegang teguh pada syariat, yang percaya sepenuhnya kepada para nabi dan rasul pembawa syariat, yang menjunjung tinggi hukum serta segala nash ajarannya, tentu tidak mungkin gegabah dan berani membuat pernyataan seperti itu.
Demikian pula dengan pendapat yang menyatakan bahwa hadits pembawa berita tentang turunnya Nabi Isa AS adalah hadits ahaddan tidak dapat dijadikan landasan hukum, adalah pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, hadits-hadits yang memberitakan hal itu cukup banyak, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits shahih, kitab sunan dan kitab musnad para ulama hadits dengan thariqul hadits serta sanad yang bervariasi, telah mencukupi kriteria mutawatir.
Lalu, bagaimana mungkin orang-orang yang pengetahuannya tidak cukup tentang syariah mengatakan tidak menerima dan menolak untuk berpegang pada hadits-hadits ini?
Sekiranya pun hadits-hadits ini dianggap sebagai hadits ahad, perlu difahami bahwa tidak semua hadits ahad tidak layak dijadikan landasan hukum. Sebab sesuai dengan metode ulama hadits dan ahli hahqiq hadits; maka hadits ahad, jika thariq haditsnya banyak, sanadnya lurus dan tidak cacat, ia sah dijadikan sebagai landasan hukun. Dengan metode ini, hadits-hadits tentang berita turunnya nabi Isa adalah hadits yang status keshahihannya sudah lulus kriteria, sanad dan riwayatnya juga bervariasi. Sehingga tidak ada alasan yang tepat untuk menolak hadits-hadits tersebut. Ia sah dijadikan dalil, baik itu disebut sebagai hadits ahad atau hadits mutawatir.
Dengan demikian, semoga kita menjadi lebih mengerti akan kekeliruan syubhat tentang memaknai "kematian" Nabi Isa AS yang telah diselewengkan dari kebenarannya menurut Islam. Tindakan yang paling parah dan penentangan paling dahsyat terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah pendapat yang mentakwilkan hadits-hadits tersebut kepada pengertian yang tiada sangkut-pautnya dengan dalil-dalil hadits.
Pelaku ini telah menggabungkan dua kesalahan sekaligus, yaitu pendustaan atas nash dan ketidakpercayaannya akan berita yang disampaikan melalui hadits Rasulullah SAW tentang turunnya Nabi Isa AS. Ia tidak menerima bahwa Nabi Isa AS akan menjadi hakim adil untuk sekalian umat manusia, membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung ia telah mengidentikkan Rasulullah SAW - salahsatu manusia terpilih yang paling mengetahui perkara-perkara syariat Allah di antara umat manusia - sebagai orang yang telah mencampuradukkan hukum, tidak sesuai antara ucapan dan maksud (atau tujuan) ucapannya - padahal redaksi ucapan beliau dalam hadits cukup jelas - lalu perkara ini diartikan sebagai puncak pendustaan, pengelabuan serta penggelapan terhadap umat sehingga tidak selayaknya Nabi Muhammad SAW masuk dalam kriteria seorang rasul Tuhan.
Orang yang mentakwilkan ini persis seperti penganut paham atheis yang menisbahkan para nabi dan rasul sebagai fantasi demi kepentingan mayoritas umat manusia, dan menurut mereka apa yang dipetik dari ucapan para nabi bukanlah redaksi yang sesungguhnya. Paham ini telah ditangkis oleh ahlul ilmi wal iman, mereka telah mencoret paham tersebut dengan pena fakta dan bukti-bukti akurat.
Semoga kita terlindungi dari penyakit hati, terhindar dari kerancuan, dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan dari godaan syaitan. Marilah kita memohon kepada Allah semoga kita terbebas dari ketundukan terhadap hawa nafsu dan syaitan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada kekuatan yang dapat menyelamatkan kita kecuali kekuasaan Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Semoga keterangan di atas dapat menjadi rujukan menuju kebenaran dan kejelasan aqidah yang diridhai oleh Allah SWT.
Amin Ya, Rabbal Alamin.
CATATAN KAKI:
[1] Lihat penjelasan dalam wikipedia tentang "berserah diri"
[3] Hadits HR. Bukhari nomor: 7393 Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Muslim dengan nomor hadits: 714. Kitab: Zikir, Doa, Toubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur don ketika berboring'. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Abu Daud dengan nomor hadits: 5050. Kitab: Adab. Bab: Doa sebelum tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ibnu Majah dengan nomor hadits: 3874. Kitab: Doa, Bab: Doa menjelang tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ahmad di kitab hadits Musnad (2/246, 422,432), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.
[4] HR. Bukhari (nomor hadits: 7394) Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna.' Diriwayatkan dari Huzaifah ra. Muslim dengan nomor hadits: 2811. Kitab: Zikir, Doa, Taubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur dan ketika berboring, diriwayatkan dari alBarra' ra. Abu Daud, dengan nomor hadits: 5049 Kitab Adab, Bab: Doa sebelum tidur, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ibnu Majah, dengan nomor hadits: 3880, Kitab: Doa, Bab: Doa ketika terjaga di tengah malam, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ahmad, dalam kitab hadits Musnad (5/385, 387), diriwayatkan dari Huzaifah ra.30. HR. Turmudzi, dengan nomor hadits: 3398, Kitab: Doa-doa. Nasai, dengan nomor hadits: 866, Bab: Amalan siang dan malam. Ibnu Sinni, dengan nomor hadits: 9. Hadits ini shahih menurut Imam Nawani dalam bukunya Af-Adzkar, nomor: 28. Dan oleh al-Bani, hadits ini statusnya hasan, dalam buku Shahih al-Kalim at Thayyib, nomor: 37.
[5] Pendapat yang tepat yang dipilih Ibnu Jarir-rahimahullah dalam tafsir Jami' al-Bayan (3/256), adalah pendapat yang menafsirkan dengan: "Sesungguhnya aku menarikmu dari bumi dan mengangkatmu ke langit." Alasannya, karena hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah SAW di antaranya hadits yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS akan turun, dan ia akan membunuh Dajjal, kemudian bertahan di muka bumi dalam jangka waktu tertentu. Sementara menurut Asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsir Fathul Qadir (1/344), yang tepat adalah bahwa Allah mengangkat nabi Isa AS ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu. Pendapat ini didukung oleh mufassir-mufassir dan dipilih oleh Ibnu Jarir at Thabari. Alasannya ialah bahwa hadits shahih dari Rasulullah SAW yang mengabarkan turunnya nabi Isa AS dan akan membunuh Dajjal.
Sebenarnya masih ada lagi pendapat selain ini yang menafsirkan bahwa Allah SWT mewafatkan Nabi Isa AS selama tiga jam di siang hari, kemudian mengangkatnya ke langit. Namun pendapat ini lemah karena tidak memiliki bukti yang akurat.
Nama lain Al-Quran banyak disebutkan oleh Allah SWT dalam beberapa firman-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril alaihisalam ini. Direktur Rumah Fiqih Indonesia, KH Ahmad Sarwat MA dalam bukunya Mengenal Al-Quran menjelaskan, nama-nama lain Al-Quran sebenarnya cukup banyak, dan para ulama pun berbeda pendapat tentang berapa jumlahnya yang pasti.
Imam Fakhru ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan sekitar 32 nama untuk Al Quran, dan yang pertama adalah al-Kitab.
Imam Az-Zarkasyi menyebutkan ada 55 nama untuk Al-Quran. Sedangkan Al-Harali menyebutkan bahwa sebutan untuk Al-Quran mencapai lebih dari 90 nama.
Adapun Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqaan Fii'uluum Al-Qur'an menyebutkan bahwa Al-Quran mempunyai 55 nama. Penyebutan nama-nama Al-Quran yang banyak itu tentu punya manfaat yang mendalam, bukan sekedar untuk nampak keren punya banyak nama dan penyebutan. Namun pada dasarnya nama-nama itu menjelaskan sifat dan karakternya masing-masing.
Untuk itulah kenapa menjadi perlu memahami setiap nama tsb agar kita bisa lebih menyelami karakter Al-Quran dengan baik
Berikut beberapa nama lain Al-Quran yang dikutip dari Buku Mengenal Al-Quran dan dari Kemenag RI adalah sbb:
1. Al Kitab atau Kitabullah
Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran. Al-Kitab itu dalam bahasa Arab berarti memang bermakna buku. Nama ini terdapat dalam surah Al-Baqarah.
"Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hanba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (QS. Al-Furqan: 1).
3. Adz-Dzikir
Nama lain Al Quran juga kadang disebut dengan Adz-Dzikr artinya pemberi peringatan. hal ini bahkan secara tersirat juga disebutkan pada ayat sebelumnya.
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)
5. Asy-Syifa’
Nama lain Al-Quran lainnya yakni, Asy-Syifa yang berarti penyembuh.
"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al-Isra: 82)
Al-Quran memang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW untuk mengobati penyakit hati manusia. Untuk itu saat kita merasa mempunyai penyakit yang berkaitan dengan hati, misalnya saja iri, kecewa, sedih, dan sebagainya dianjurkan untuk membaca Al-Quran. Membaca ayat suci Al-Quran Insya Allah dapat meringankan bahkan menghilangkan penyakit-penyakit tersebut.
6. Al-Hukmu
Al-Quran juga disebut dengan nama Al-Hukmu yang berarti hukum atau peraturan, sebagaimana diketahui bahwa sumber dari segala sumber hukum dalam Islam memang berdasarkan Al-Quran.
"Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam Bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu akan (siksa) Allah." (QS. Ar-Ra’d: 37).
7. Al-Hikmah
Nama lain Al-Quran selanjutnya yakni Al-Hikmah yang berarti kebijaksanaan. Nama ini disebutkan dalam Surat Al Isra:
"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain selain Allah yang (bisa) menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)." (QS. Al Isra’: 39)
8. Al-Huda
Nama lain Al Quran lainnya adalah Al-Huda yang bermakna petunjuk. Nama AL Huda terdapat dalam Surat Al Jin.
"Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk, kami beriman kepadanya (quran). Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak pula akan penambahan dosa serta kesalahan." (QS. Al-Jin: 13)
9. At-Tanzil
At-Tanzil merupakan nama lain Al-Quran. At Tanzil memiliki arti yang diturunkan.
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Dan sesungguhnya (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam." (QS. Asy Syu’araa’: 192)
10. Ar-Rahmat
Ar Rahmat juga nama lain Al Quran yang memiliki arti rahmat.
وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Dan sesungguhnya Quran itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. An-Naml: 77).
"Dan jika seorang diantara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, lalu antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Ddemikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." (QS. At-Taubah: 6)
14. Al-Busyra
Al-Busyra artinya kabar gembira juga satu dari sekian nama lain Al-Quran.
"Katakanlah! Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan (Al-Quran) itu dari Tuhanmu dengan benar untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl: 102).
15. An-Nur
An-Nur yang berarti cahaya juga nama lain Al Quran.
“Hai manusia, sesungguhnyatelah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS. An-Nisa: 174).
16. Al-Basha’ir
Al-Basha'ir yang memiliki arti pedoman, juga merupakan nama lain dari Al-Quran.
"Ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (QS. Al-Jatsiyah: 20)
17. Al Balagh
Nama lain Al-Quran selanjutnya yakni Al Balagh yang berarti kabar sempurna.
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ
"Dan ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia dan supaya mereka diberi peringatan dengannya agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran." (QS. Ibrahim: 52)
18. Al-Qaul
Al-Qaul yang berarti perkataan juga nama lain Al-Quran.
"Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut turut perkataan ini kepada mereka agar mendapat pelajaran." (QS. Al-Qashash: 51).
19. Al-‘Ilm
Dinamakan dengan sebutan “Al-’Ilm” karena Al-Quran menjadi sumber ilmu dalam Islam. Sumber nama tersebut berasal dari Surah Al-Baqarah
مِّنْۢ بَعْدِ مَاجَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ
“ .... setelah sampai ilmu kepadamu” (QS. Al-Baqarah:145)
20. Al-Haqq
Dikatakan sebagai “Al-Haqq” karena semua ajaran Al-Quran mengandung kebenaran. Sebagaimana ditegaskan dalam surat Ali ‘Imran:
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ
“Sungguh, ini adalah kisah yang benar” (QS. Ali ‘Imran: 62)
21. Al-Hady
Dinamakan “Al-Hady”, karena Al-Quran memberikan petunjuk dan hidayah kepada umat manusia.
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk.” (QS. Al-Isra’:9) .
22. Al- ‘Ajab
Al-Qur’an disebut juga dengan nama “Al-’Ajab”, dikarenakan keindahan susunan kata Al-Quran sehingga ia menjadi sebuah bacaan yang menakjubkan.
قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ
"Bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an)” (QS. Al-Jinn:1)
23. Al-Tadzkirah
Dinamakan dengan nama “al-Tadzkirah” dikarenakan Al-Quran merupakan sumber pelajaran bagi mereka yang ingin bertakwa.
وَاِنَّهٗلَتَذْكِرَةٌلِّلْمُتَّقِيْنَ
“Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Haqqah: 48)
24. Al-’Urwah Al-Wutsqa
Al-Quran disebut dengan nama “Al-’Urwah Al-Wutsqa” karena ia bagaikan tali yang sangat kuat, dan barangsiapa yang berpegang pada tali tersebut maka ia akan selamat.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman” (QS. Ali ‘Imran:193)
29. Al-Busyra
Dinamakan “Al-Busyra”, karena dalam Al-Quran terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.
هُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ
“Petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Naml: 2)
30. Al-Majid
Al-Qur’an dinamakan dengan nama “al-Majid” karena kemuliaan sifat-sifat yang dimiliki Al-Qur’an.
بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ
“Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia” (QS. Al-Buruj: 21)
31. Az-Zabur
Nabi Muhammad juga pernah menamakan kitab Zabur dengan Al-Qur’an, sebagaimana dalam sabdanya: Khuffifa ‘ala Dawud al-Qur’an (telah diperingan pada Nabi Dawud Al-Quran), tetapi tidak dijelaskan alasan penamaan tersebut. Nama ini dapat ditemukan dalam surah Al-Anbiya:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur.” (QS. Al-Anbiya’: 105)
32. Al-Basyir
Al-Quran dinamakan “Al-Basyir” karena Al-Quran membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, berupa surga.
“Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan peringatan.” (QS. Fussilat: 3-4)
33. Al-Nadzir
Disebut juga dengan nama “Al-Nadzir”, karena Al-Quran juga menjelaskan tentang peringatan-peringatan terkait neraka supaya umat Islam menghindarinya. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Quran sebelumnya.
34. Al-‘Aziz
Alasan penamaan “Al-’Aziz” karena Al-Quran selalu menang atas orang-orang yang menentang dan mengingkari kebenarannmya.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika (Al-Qur’an) itu disampaikan kepada mereka (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah Kitab yang mulia” (QS. Fussilat: 41)
35. Al-Qashash
Al-Qur’an juga disebut dengan nama “al-Qashash” karena di dalamnya diceritakan tentang kisah-kisah umat terdahulu supaya bisa diambil pelajaran (ibrah) dari kisah tersebut.
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ
“Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik” (QS. Yusuf: 3)
36. Shuhuf
Dinamakan “Shuhuf” karena Al-Qur’an terkumpul dan tertulis dalam beberapa lembaran (Shahifah).
فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ
“ ... di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah)” (QS. ‘Abasa: 13)
37. Al-Mukarramah
Ibnu Jarir al-Thabari mengatakan bahwa makna penamaan Al-Quran dengan kata “Al-Mukarramah” adalah karena di dalamnya terkandung kumpulan ilmu dan hikmah. Sehingga menjadikanya sebagai kitab yang mulia. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Quran sebelumnya.
38. Marfu’ah
Dinamakan “Al-Marfu’ah” dikarenakan Al-Quran berasal dari tingkatan alam tertinggi (Al-’alam Al-’ulwiy) yaitu di atas langit..
مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ
“ ... yang ditinggikan (dan) disucikan” (QS. ‘Abasa: 14):
39. Al-Muthahharah
Al-Quran memiliki nama “Al-Muthahharah” karena ia merupakan kitab yang suci dari penentangan dan penghinaan orang-orang kafir. Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya mengatakan bahwa suci dalam hal ini adalah bentuk majaz dari kemuliaan (syaraf). Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Quran di atas ini.
40. Al- Wa’id
Nama “Al-Wa’id” diberikan karena di dalam Al-Quran banyak disebutkan perkara-perkara terkait ancaman dan peringatan bagi umat manusia.
“Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku." (QS. Ibrahim: 14)
41. Al-Fashl
Nama Al-Quran yang satu ini, “Al-Fashl” karena Al-Quran memisahkan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah), sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat-ayat sebelumnya.
42. Al-Naba’ Al-‘Adhim
Al-Quran juga dinamakan dengan “Al-Naba’ Al-’Adhim”, karena adanya berita-berita besar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian.
عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ
“Tentang berita yang besar (hari kebangkitan)” (QS. Al-Naba’: 2)
43. Ahsan Al-Hadits
Dinamakan “Ahsan al-Hadits” karena Al-Quran merupakan sebaik-baik perkataan dan ucapan. Nama Al-Quran ini berdasar pada surah Az-Zumar:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang.” (QS. Al-Zumar: 23).
43. Al-Mutasyabih
Al-Quran juga dinamakan “Al-Mutasyabih”, karena adanya kemiripan atau persamaan dari sebagian ayat dengan ayat lainya (namun memiliki makna yang tidak selalu sama) dalam hal kebaikan (keindahan) dan kebenaran, sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Quran sebelumnya.
44. Al-Matsani
Penyematan nama “Al-Matsani” terhadap Al-Quran dikarenakan di dalamnya dikisahkan secara berulang perihal umat-umat terdahulu yang mengandung teladan, renungan, nasehat, dan peringatan
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang,.... " (QS. Az-Zumar: 23).
45. Al- Muhaimin
Al-Quran dinamakan sebagai “Al-Muhaimin” karena ia menjadi saksi terhadap adanya kitab-kitab samawi terdahulu dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan umat masa lampau.
“ .... yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya” (QS. ASl-Maidah: 48)
46. Al-Habl
Al-Quran memiliki nama lain sebagai “Al-Habl” yaitu tali. Hal ini dikarenakan barangsiapa yang berpegang teguh pada tali (Al-Quran) maka ia akan mendapatkan keselamatan dari Allah.
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah” (QS. Ali ‘Imran: 103)
47. Al-Shirath Al-Mustaqim
Nama lain dari Al-Quran adalah “Al-Shirath Al-Mustaqim”. Hal ini dikarenakan Al-Quran merupakan panduan yang menuntun kita menuju jalan yang lurus menuju surga.
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)
48. Al-Karim
Al-Quran diberi nama “Al-Karim” karena kemuliaan yang terkandung di dalamnya.
اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ “
" ... dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia.” (QS. Al-Waqi’ah: 77)
49. Mubarak
Al-Quran diberi nama “Al-Mubarak”, karena ia mengandung keberkahan. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama-nama Al-Quran sebelumnya.
50. Al- ‘Aliy
Dinamakan “Al-’Aliy” karena Al-Quran merupakan kitab suci yang mengandung nilai yang tinggi dan agung.
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar (bernilai) tinggi dan penuh hikmah” (QS. Az-Zukhruf: 4)
51. Al-Qayyim
Al-Quran dinamakan “Al-Qayyim” karena ia membimbing orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus, seperti di antaranya disebutkan dalam surah Al-Kahfi;
قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا
“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih” (QS. Al-Kahfi: 2)
52. Al-Wahy
Dinamakan “Al-Wahy” karena Al-Quran merupakan kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Nama ini tertulis dalam surah Al-Anbiya:
قُلْ اِنَّمَآ اُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِۖ
“Katakanlah (Wahai Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya memberimu peringatan sesuai dengan wahyu” (QS. Al-Anbiya’: 45)
53. Al-‘Arabiy
Penamaan Al-Quran dengan nama “Al-’Arabiy” karena Al-Quran menggunakan media perantara bahasa Arab dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi.
“(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa” (QS. Yusuf: 28)
54. Al-Mubiyn
Penamaan Al-Quran sebagai “al-Mubiyn” dikarenakan fungsi Al-Quran adalah memperjelas yang haq dari yang bathil, sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Quran sebelumnya.
55 Al-Qur’an
Dinamakan “Al-Qur’an” karena Al-Quran merupakan bacaan yang di dalamnya terkumpul hal-hal yang berkaitan dengan kisah, perintah, larangan, ayat, surah, dan lain sebagainya.
اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗوَقُرْاٰنَهٗۚ
“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya” (QS. Al-Qiyamah: 17)