Lagi, ayat-ayat "sangat mencurigakan" dalam alkitab!
TUHAN INGKAR JANJI?
Ah, Mustahil! Mana mungkin Tuhan ingkar janji?
Baiklah! Jika kita sepakat bahwa MUSTAHIL Tuhan ingkar janji, maka mari sama-sama kita perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini.
[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
Kitab yang sama ini mengisahkan bahwa Abraham memiliki dua orang anak. Lalu anak yang manakah yang dimaksud oleh Tuhan dalam perjanjian-Nya?
Jawabannya tertulis di bawah ini:
[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”
[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
Wah! Ternyata menurut kitab ini, perjanjian itu diadakan oleh Tuhan dengan anak Abram yang bernama Ishak, yang kelak akan menjadi nenek moyang bangsa Israel, dan diulang lagi seperti di bawah ini:
[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”
Apakah kemudian kitab ini membuktikan bahwa perjanjian tsb benar-benar dipenuhi oleh Tuhan?
Begini faktanya:
Jika anda benar-benar memperhatikan peta geografis yang dimaksud dalam perjanjian di atas, maka kita segera tahu bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini tidak ada satupun negeri dari keturunan Ishak [Israel] yang menguasai wilayah dari Mesir hingga sungai Eufrat.
Bahkan di masa puncak kejayaan bangsa Israel yang mampu membagun kerajaan terbesarnya di bawah pemerintahan Daud hingga Solomon sekalipun, ternyata wilayah yang dikuasainya hanya sebatas pojok sebelah utara mesir, dan luasnya pun tidak lebih besar dari luas pulau Jawa!
Dan silahkan anda yang kristen kaget barang sejenak -- atau kejang-kejang sekalian -- saat menyadari fakta yang ada, bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini seluruh wilayah dari Mesir hingga Sungai Efrat tsb nyatanya dipenuhi oleh bangsa-bangsa Arab keturunan Ismael!
Sampai di sini, sekali lagi, pasti anda akan bilang;
"Ah! Mustahil Tuhan ingkar janji!"
Dengan demikian kita perlu mulai serius memikirkan bahwa jika memang mustahil, pasti ada yang "tidak beres" di sini!
Tapi kira-kira apa yang tidak beres itu?
Mungkin tulisan ini salah menafsirkan informasi dari alkitab?
Mungkin alkitab yang dijadikan rujukan salah menuliskan informasinya?
Mungkin informasi alkitab sebenarnya tidak salah, tapi para editornya telah dengan sengaja mengganti nama-nama yang dimaksud dalam perjanjian tsb?
Dapatkah anda tolong bantu mencaritahu perihal temuan fakta alkitabiah yang 'sangat mencurigakan' ini? Jika dapat, maukah anda untuk selanjutnya menjelaskan kepada kami duduk perkara yang sebenarnya berikut bukti-bukti empiris yang mendukung penjelasan anda? Monggo, silahken.
Dalam tulisan yang terdapat di Targum oleh seorang Rabbi (pendeta Yahudi) yang termasyhur, Salomon bin Ishak (1040-1105) dari Troye (= Ilion = Pergame; sekarang Hissarlick di Turki):
"Hagar adalah puteri dari Firaun yang ketika melihat aneka mu'jizat dari pihak Sarah, berkata: lebih baik untuk anak perempuan saya menjadi keluarga dalam rumah (Ibrahim)," sehingga diangkatnya Ibrahim menjadi menantunya. Targum (Tafsir Taurat) berisi kitab-kitab sejarah dan kitab Para Nabi. Kebiasaan membacakan Kitab Suci kepada jemaat di synagoge dengan diikuti uraian secara lisan dalam bahasa Aram (bahasa pribumi) mulai berkembang pada abad-abad akhir Sebelum Masehi.
Bahasa Ibrani makin kurang dikenal khalayak ramai sebagai bahasa lisan, maka mereka perlu dilengkapi dengan tafsiran teks Kitab Suci dalam bahasa yang sungguh-sungguh mereka fahami, jika mereka diharapkan untuk mengerti apa yang dibacakan kepada mereka. Rabbi yang bertugas untuk memberikan uraian lisan ini disebut methurgeman (penerjemah atau penafsir) dan uraiannya itu disebut Targum.
Rabbi Salomon bin Ishak menyatakan: Hagar adalah puteri dari “Firaun”, dikarenakan pada waktu itu belum ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya Dinasti Fir'aun pernah "disela" selama 150 tahun oleh Dinasti Raja-Raja Hyksos. Dalam Al-Quran disebutkan Nabi Yusuf AS berhadapan dengan Malik, bukan Fir’aun: Raja berkata "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus."
Sedangkan Nabi Musa AS berhadapan dengan Firaun, dan Fir'aun berkata: "Datangkanlah kepadaku semua Ahli-ahli sihir yang pandai!" Maka tatkala Ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.” Bandingkan dengan Bible yang tidak mengenal Penguasa Mesir Kuno selain dari Dinasti Fir’aun:
[Kejadian 41:4] Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun.
[Keluaran 7:11] Kemudian Firaun pun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka.
Bagi ummat Islam tentu tidak perlu bukti pendukung tentang Dinasti Fir'aun, Penguasa Mesir Kuno, pernah digantikan oleh Dinasti Raja-Raja Hyksos selama 150 tahun. Tetapi bagi yang non-Muslim tentu saja membutuhkan rujukan arkeologis.
Rahasia membaca tulisan Mesir kuno Hieroglyph, pada akhirnya berhasil dipecahkan oleh Jean Francois Cahampollion (1780 - 1832). Sehingga dengan terbacanya lambang-lambang hieroglyph tsb, maka terkuaklah sejarah Mesir Kuno dengan sejelas-jelasnya. Antara lain sejarah Dinasti Hyksos (Al-Malik = Raja Gembala) dari Kan'an yang menaklukkan Mesir dan menumbangkan Dinasti Fir'aun.
Dinasti Hyksos menguasai Mesir selama kurang lebih 150 tahun, yakni mulai 1700-1550 SM. Dinasti Raja-Raja Hyksos, sebagai dinasti XV dan XVI mendapatkan legitimasi dalam Dokumen Hieroglyph yang tertera dalam Daftar Penguasa Mesir di Turin, sekitar tepi danau Manzala di mana terdapat reruntuhan kota Tanis. Kota ini pernah menjadi kota pelabuhan yang makmur. Tidak jauh dari daerah ini terletak situs Avaris, markas angkatan perang yang dibangun oleh Hyksos, Raja Gembala atau Raja Tanah Atas.
Disebutkan dalam tulisan Hieroglyph tsb, The Hyksos, atau The Shepherd Kings (1730 – 1580 SM) menginvasi Mesir dan menundukkan Dinasti Pharao ke-15. Sedangkan Daftar Penguasa Mesir dari Dinasty Hyksos dimulai dari Salitis - Bnon - Apachnan (Khian) – Khamudi 16th Dynasty AnatHer – UserAnat – Semqen – Zaket – Wasa – Qar – Pepi III – Bebankh – Nebmaatre – Nikare II – Aahotepre – Aaneterire – Nubankhre – Nubuserre – Khauserre – Khamure – JacobEl – Yakbam – Yoam – Apophis (Auserre Apepi) – terakhir Amu, yang ditundukkan oleh Ahmose pada 1580 SM.
Disebutkan juga dalam Hieroglyph di situs Turin itu bawa pernah terjadi para penguasa Mesir Kuno tidak bergelar Fir'aun (Per-Ah, Phar-Aoh) melainkan "Raja" (Al-Malik). Ini menunjukkan kebenaran Al-Quran yang sudah lebih dulu menjelaskanya 12 abad sebelum rahasia huruf hieroglyph terpecahkan pada tahun 1824 atas jasa Jean Francois Champollion (1780 - 1832M).
Dinasti Hyksos berasal dari kaum Al-'Ibriyah Al-Qadimah menerima kedatangan kepala kaum Al-'Ibriyah Al-Jadidah, yaitu Nabi Ibrahim AS yang datang ke Mesir. Nabi Ibrahim AS diterima dengan baik oleh Salitis, Raja pertama dari Dinasti Hyksos, berhubung bangsa Hyksos berasal dari kaum 'Ad, pengikut ajaran Nabi Hud AS. Selain Nabi Ibrahim AS diperlakukan baik sebagai tamu oleh Salitis, sang Raja bahkan menikahkan putrinya, yaitu Hajar (Hagar) dengan Nabi Ibrahim AS. Bangsa Hyksos ini adalah bangsa yang merubuhkan hampir seluruh kuil tempat menyembah dewa-dewa Mesir Kuno.
Ini diberitakan oleh JOSEPHUS yang mengutip MANETHO:
"By main force they easily overpowered the rulers of the land, and they razed to the ground the temples of gods." Manetho, juga dikenal sebagai Manethon dari Sebennytos, adalah seorang sejarawan Mesir dan tokoh agama dari Sebennytos (Mesir purba: Tjebnutjer) yang hidup pada zaman Periode Parsi Kedua.
KJVR-Gen 16:3 And Sarai Abram's wife took Hagar her maid the Egyptian, after Abram had dwelt ten years in the land of Canaan, and gave her to her husband Abram to be his wife.
[Terjemahan LAI: Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, -- yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya].
Ini antara lain salahsatu di antara sisa-sia Biblos yang masih asli, yaitu Hajar adalah isteri Ibrahim. Yang termasuk Israiliyat adalah her maid the Egyptian, maksudnya Hajar adalah orang Mesir pelayan Sarah. Ini Israiliyat yang berbau rasialis. Karena Hajar bukan Bani Israil maka derajatnya direndahkan menjadi sekadar pelayan,
BIBEL TELAH MEMALSUKAN SEJARAH! Padahal yang benar adalah: Ibrahim telah dinikahkan dengan Hajar puteri Raja Mesir Salitis dari Dynasty Hyksos. [The Hyksos (The Shepherd Kings) 1730 - 580 invaded Egypt, and conquered the Pharao Dynasty].
Demi upaya mempertahankan pembenaran yang salah, maka segala upaya dilakukan, terutama menyesatkan manusia!
DALAM BERBAGAI DISKUSI lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, soal ritual khitan (sunat) sering dimunculkan orang, umumnya kaum Muslim mempertanyakan mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan nabi Abraham dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus? Sebab sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga melaksanakannya.
Sebaliknya, sanggahan yang umumnya diberikan oleh Kristen adalah bahwa sunat hanya diwajibkan bagi Abraham dan keturunannya (atau kemudian dipersempit lagi menjadi kaum Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.
Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga nabi Ibrahim.
Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman memerintah Abraham (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya ke suatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, di situ Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Abraham
[Kejadian 12:2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
[Kejadian 12:7] Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu."
Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Abraham bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.
PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-1
Dalam Kejadian 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Abraham: [Kejadian 13:14] Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
[Kejadian 13:15] sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
[Kejadian 13:16] Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.
[Kejadian 13:17] Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu."
Di sini janji Tuhan mulai lebih terperinci:
Wilayah tersebut terbentang "sejauh mata memandang" dari posisi Abraham pada waktu itu (tanah Kanaan, sesuai Kejadian 13:12)
Jumlah keturunan Abraham "seperti debu tanah banyaknya’"
Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Abraham.
Namun sampai di sini kita masih bisa menyebutnya sebagai "janji sepihak" dan belum berupa perjanjian. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham baru disebut secara jelas pada Kejadian 15, setelah Tuhan memerintahkan Abraham untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Abraham kelak, lalu dibuatlah perjanjian:
[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
[Kejadian 15:19] yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
[Kejadian 15:20] orang Het, orang Feris, orang Refaim,
[Kejadian 15:21] orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."
Jadi perjanjian antara Abraham dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kejadian 15:9)
PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-2 Sampai di sini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. "Kekacauan" alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Abraham, yaitu antara istrinya Sarai dan "budak" perempuannya Hagar pada Kejadian 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Abraham muncul lagi pada Kejadian 17.
[Kejadian 17:2] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."
Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian JILID-2 ini tercantum "hak dan kewajiban" kedua-belah pihak:
[Kejadian 17:4] "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
[Kejadian 17:6] Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
[Kejadian 17:7] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
[Kejadian 17:8] Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."
Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian JILID-1, cuma di sini terlihat ada yang "menyempal" yaitu ayat Kejadian 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan? Kita bisa melihat kelanjutan ceritanya begini:
[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sarailah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
[Kejadian 17:20] Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."
REKAYASA HAK PERJANJIAN ISMAEL DAN ISHAK Ooo..ternyata rupanya ini menyangkut Ismail dan Ishak! Terlihat jelas adanya upaya "penggiringan" cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian JILID-1 dengan membuat perjanjian JILID-2, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat di mana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada kitab Keluaran:
[Keluaran 2:24] Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.
Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka "giringan" selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen di sini memperikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan "tidak menghargai" perjanjian tersebut. Dalam Kejadian 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar "konstitusional" dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Abraham!
Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian JILID-2 ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu "sunat" atau khitan.
[Kejadian 17:9] Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
[Kejadian 17:10] Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
[Kejadian 17:11] haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
Posedur sunat diterangkan sangat jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat, dan apa konsekuensinya jika tidak disunat:
[Kejadian 17:12] Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
[Kejadian 17:13] Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
[Kejadian 17:14] Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."
Isi perjanjian JILID-2 ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan, seperti di antaranya:
Kewajiban sunat yang ditujukan pada "kamu dan keturunanmu, berada di antara kamu" menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk di dalamnya atau tidak? Di sini kelihatan seolah Tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail "katut" alias ikutan disunat juga (Kejadian 17:23, dan Kejadian 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan, kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya di sini memakai satu ayat dan membuang, atau mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.
Memasukkan kalimat "dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang" ke dalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Abraham dan diberi hak atas tanah Kanaan? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Abraham dan menjadi "property"nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kejadian 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang di luar Abraham dan keturunannya (harap diingat, dalam perjanjian JILIOD-2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).
Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa "burungnya" dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian (seperti kasus Esau) misalnya? Ada pendapat menarik dari netters Kristen di sini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Di sini juga muncul pertanyaan: Bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki? Apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan? Ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki, ya, tidak perlu adanya tanda sunat. Tapi bukankah dengan demikian syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).
KOMPLIKASI di atas menunjukkan adanya keanehan pada perjanjian tersebut yang "dinyatakan" sebagai Firman Tuhan. Sebab, mustahil Tuhan akan menyatakan hal-hal yang membingungkan dan saling "tembak-menembak" di antara kata-kata-Nya sendiri.
TUHAN RAGU-RAGU Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga "tidak nyambung" dengan cerita selanjutnya:
[Kejadian 18:10] Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
[Kejadian 18:11] Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
[Kejadian 18:12] Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"
Ternyata Sara tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kejadian 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Abraham dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya?
[Kejadian 18:17] Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
[Kejadian 18:18] Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
[Kejadian 18:19] Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."
Melalui kalimat yang LUCU karena menggambarkan Tuhan yang terlihat bimbang, kita diinformasikan bahwa ternyata Abraham-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sara akan melahirkan anak di hari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian JILID-2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kejadian 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kejadian 15, 16 dan 18 terlihat "masih agak nyambung".
Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa [pentateuch] atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun dalam perkembangan selanjutnya -- bahkan para ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini -- sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa.
Hal ini tidak perlu diceritakan panjang lebar karena sudah banyak disampaikan orang, mari kita mengambil intinya saja bahwa: Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi, jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun tidak sedikit yang berasal dari karangan para Rabi Yahudi yang tentu saja dipengaruhi oleh situasi sosial politik pada saat karangan tersebut dibuat. Termasuk di sini perilaku para pemuka agamanya. Adapun mengenai bagaimana karakter umat Yahudi sesudah kematiannya, nabi Musa sendiri sudah meramalkan:
[Kejadian 31:26] "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.
[Kejadian 31:27] Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.
[Kejadian 31:29] Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."
SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DARI REKAYASA INI? Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Di sini kita bisa bertanya: Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian JILID-2 ini? Jawaban yang lugas tentulah YAHUDI!
Cerita soal perjanjian JILID-2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk "melegalisir" monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Abraham melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam.
Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan "Yahudi-sunat" ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang):
[Kisah 15:1] Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
Ini menunjukan Yahudi "memperalat" sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Abraham.
PAULUS YANG KEBABLASAN Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi, tentu saja merasa terhambat dan terhalangi oleh adanya pernyataan ini. "Target market" Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang "takut" disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, dan Paulus bakalan bangkrut! Maka dia pun kemudian mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara "iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan"
[anda dapat menyimak tulisan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan "‘pelintiran" Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Abraham ini di sini]
"Titik ekstrim" Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan "titik ekstrim" lainnya dari Paulus yang menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya, Paulus pun menyampaikan ancaman ini:
[Galatia 5:2] Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. [Galatia 5:3] Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. [Galatia 5:4] Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen di jaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan. Maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut "kualat" seperti yang diancam oleh Paulus.
Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka "moncong senjata" pun dialihkan.
Yahudi dan Kristen yang tadinya "gontok-gontokan" soal keyakinan masing-masing seakan-akan menemukan musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang paling seru adalah bahwa urusan sunat yang tadinya menjadi "senjata andalan" Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan oleh umat Kristen untuk menyerang Islam.
Perjanjian JILID-2 yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Islam "tidak punya tempat" dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan.
Kristen di satu sisi menentang sunatnya, tapi di lain pihak mengakui perjanjiannya. Dan agar mereka dapat berada di posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat pun digunakan dengan penafsiran yang penuh dengan gaya AKROBATIK!
Tidakkah rekayasa ayat-ayat alkitab ini selalu menarik untuk disimak? Wallahu 'alam bis shawab.
Judul di atas sengaja disuguhkan untuk membuktikan bahwa "Taurat" yang sekarang adalah Taurat yang sudah dirombak oleh tangan-tangan Bani Israel. Namun demikian, di sini hanya disuguhkan 2 contoh saja, sekedar untuk membuktikan bahwa "Taurat" sekarang sudah benar-benar dirubah dan ditambah!
Sebelum terlalu jauh, ada baiknya kita lihat dulu Kitab Kejadian berikut ini: 16:16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. 21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. 25:9 Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia (Abraham) dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre,
Dalam Kejadian 16, disebutkan Ismail lahir ketika Abraham berumur 86 tahun. Sedangkan dalam Kejadian 21, Ishak lahir ketika Abraham berumur 100 tahun. Ini berarti selisih usia antara Ismail dan Ishak adalah 14 tahun. Dalam Kejadian 25, Ismail dan Ishak secara bersama-sama menguburkan bapaknya, Abraham.
Jika anda sudah cukup memperhatikan catatan di atas, maka marilah sekarang kita perhatikan tela'ah alkitabiah berikut ini:
PERISTIWA TERBENTUKNYA SUMUR ZAM-ZAM Menurut catatan Alkitab dalam Kitab Kejadian 21:8-13, setelah menyapih Ishak, yang berarti Ismail berusia sekitar 16 tahun, Sarah cemburu dengan Ismail ketika melihat ia bermain bersama Ishak. Kemudian, ia meminta agar Abraham membuang Hagar dan Ismail. Abraham konon merasa tertekan dengan permintaan ini, tetapi Allah meyakinkan Abraham bahwa ia harus mengikuti permintaan Sarah. Kisah Alkitab kemudian dilanjutkan dalam Kitab Kejadian berikut ini:
[Kejadian 21:14-19 - DRB 1582 & KJV 1611]."Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah dia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah erat-erat dengan tanganmu, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum."
Dalam kutipan di atas, cetak tebal ditambahkan untuk frasa-frasa kunci yang mengilustrasikan kemustahilan catatan Kitab Kejadian mengenai Ismail yang berusia 16 tahun pada saat itu. Hagar dengan berbagai cara harus memperlakukan Ismail dengan cara:
meletakkan Ismail, roti dan sekirbat air di atas bahunya
membuang Ismail ke bawah semak-semak (membaringkannya)
mengangkat Ismail dari tempat ia terbaring dan memegang erat-erat Ismail dengan tangannya.
Tindakan Hagar di atas, mana mungkin dilakukan untuk anak berusia 16 tahun? Tindakan seperti itu hanya mungkin dilakukan terhadap seorang balita yang belum disapih dan belum bisa berjalan. Padahal sebelumnya, Ismail sudah bisa bermain bersama dengan Ishak (lihat Kejadian 21:9), yang berarti Ismail sudah cukup besar dan mampu mengasuh adiknya.
Perhatikan juga nama tempat yang tertulis dalam Taurat adalah Bersyeba, padahal peristiwa tersebut terjadi di lembah Baka/Mekah. Tidak ada bukti sama sekali bahwa peristiwa itu terjadi di Bersyeba (Palestina dan sekitarnya), tetapi bukti-bukti itu justru dapat dilihat di Baka/Mekah, yaitu Bukit Shafa dan Marwah, dan Sumur Zam-Zam. Oleh karena Ismail, semenjak diungsikan hingga wafatnya adalah di kota Baka/Mekah.
Ketika itu, Ismail memang masih bayi yang baru beberapa hari dilahirkan. Untuk menghindari kecemburuan Sara, istri pertama Abraham, Allah memerintahkan Abraham untuk mengungsikan Ismail dan ibunya, Hagar, ke lembah Baka/Mekah. Sesampainya di lembah Baka/Mekah, Abraham diperintahkan oleh Allah untuk kembali ke Palestina (Kanaan) menemui Sara dan meninggalkan Ismail dan Hagar di lembah tersebut. Beberapa saat kemudian, Ismail menangis kehausan dan segala persediaan sudah habis. Hagar pun harus mondar mandir antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali untuk mencari air dan tidak pula ia dapatkannya. Atas pertolongan Allah melalui malaikat Jibril, tiba-tiba muncullah mata air yang deras dari bawah kaki Ismail, dan Hagar pun berteriak kegirangan, "Zam Zam, Zam Zam!" Oleh karena itu, mukjizat Nabi Ismail ini sekarang dikenal sebagai Sumur Zam-Zam.
Indikasi peristiwa terbentuknya Sumur Zam-Zam di Baka/Mekah ini masih dapat ditemukan dalam Kitab Mazmur berikut ini:
84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! 84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.
Jelas sekali bahwa kisah di atas merupakan salah satu bukti telah terjadinya perombakan di dalam Taurat. Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti bayi yang masih berumur 2 bulanan. Perombak Taurat tampaknya ingin menunjukkan seolah-olah Ishaklah kakak Ismail, oleh karena Ishak baru saja disapih yang berarti usianya sekitar 2 tahunan, sementara Ismail masih bayi (padahal usia Ismail sekitar 16 tahunan). Dengan demikian, perombak Taurat dapat mengarang kisah bohong selanjutnya seperti di bawah ini.
KISAH QURBAN DAN PENYEBUTAN ISHAK SEBAGAI ANAK TUNGGAL Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. (Kejadian 22:1-13).
Dalam kisah di atas, terdapat 2 kejanggalan besar, yaitu:
Ishak disebut sebagai anak tunggal Abraham, padahal Ishak adalah adik Ismail.
Usia Ishak baru saja disapih, tapi diperlakukan seperti anak berusia 16 tahun ketika akan disembelih Abraham.
Silahkan periksa kembali Kejadian 21 di atas. Di sana Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti anak yang baru berumur 2 bulanan. Dengan dasar ini, perombak Taurat ingin menunjukkan seolah-olah Ishaklah kakak Ismail, karena Ishak baru saja disapih sementara Ismail masih bayi. Karenanya, mereka dengan konyol menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham. Padahal, bukti-bukti Alkitab sendiri sudah jelas, bahwa Ismail adalah kakak Ishak!
Kejanggalan-kejanggalan di atas tampaknya diakibatkan oleh banyaknya tangan-tangan Bani Israel yang turut merombak, sehingga antara pasal yang satu dengan yang lain kelihatan tidak ada kesesuaian. Sangat mungkin, ketika mengumpulkan Taurat, mereka tidak meneliti sedemikian jauh sehingga kejanggalan itu tetap saja terlihat dengan jelas.
Umat Yahudi dan Kristen menganggap penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Abraham adalah karena Ishak merupakan anak dari istri yang sah, yaitu Sara. Padahal, dalam Kitab Kejadian 16:3 dikatakan bahwa Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya. Ini berarti, Hagar juga adalah istri sah Abraham. Suatu alasan yang tidak masuk akal! Sesungguhnya, alasan tersebut sengaja dibuat oleh Bani Israel oleh karena mereka iri/dengki bahwa yang menjadi penerus agama samawi, sebagaimana masih dapat terlihat dengan jelas dalam "Taurat dan Injil", adalah keturunan Ismail (Muhammad).
Dalam kisah versi Taurat di atas, peristiwa penyembelihan itu terjadi di Moria, padahal peristiwa tersebut sebenarnya terjadi di Mina.
Sekarang, marilah kita lihat kisah penyembelihan Ismail menurut Al-Qur'an (QS. 37:102-113): [102] Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). [104] Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, [105] sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. [108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, [109] (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". [110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. [112] Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. [113] Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
Lihat ayat 102, memang tidak tersebut nama Ismail, sebab memang tidak perlu, mengingat sudah demikian populernya Ismail di Mekah pada saat itu. Sebut saja, adanya situs-situs peninggalan Ismail berupa kuburan Ismail, Ka'bah, Hijir Ismail, Sumur Zam-Zam, dan Bukit Shafa dan Marwah, serta situs peninggalan Ibrahim, maqam Ibrahim. Tapi identifikasi Ismail ini tidak diragukan lagi, oleh karena pada ayat 112, Ishak baru dilahirkan. Jadi, anak tunggal pada waktu penyembelihan itu adalah Ismail, bukan Ishak sebagaimana tertulis dalam "Taurat" sekarang.
Jika masih penasaran ingin membuktikannya dengan bersandar pada penjelasan lebih detil dari Al-Qur'an, maka perhatikan jugalah yang berikut ini:
Ayat-ayat di atas memang tidak secara spesifik menuliskan nama anak yang dikorbankan Ibrahim as, namun bukan berarti tidak bisa diketahui "siapa" anak yang dimaksud.
Inilah ketinggian sastra Al Quran. Kendati namanuya tak disebut, namun makna yang hakiki dari ayat-ayat Al-Qut'an dimaksud tetap dapat diketahui.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena inilah kalimat kunci agar kita bisa mengetahui bahwa anak Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail.
Pada ayat ke 112 Allah berfirman :
Di dalam ayat ini terdapat huruf Ùˆ(wauw) ‘Athf litartibi wa litisholi, maknanya, huruf wauw yang menghubungkan dua peristiwa yang berbeda, secara berurutan sesuai tertib/urutan waktunya, yaitu peristiwa pertama tentang penyembelihan anak Nabi Ibrahim as yang telah dewasa yaitu Nabi Ismail as dan dilanjutkan dengan peristiwa kedua, yaitu kelahiran Ishaq as.
Dasar yang menetapkan bahwa anak itu Ismail as. adalah kalimat عليه di ayat 113
kataعليهdi sini adalah milik Nabi Ismail dan bukan Nabi Ibrahim, mengapa demikian, karena pada kelanjutan ayat Allah berfirman : Dzurriyatihima
dhamirÙ‡ِـمَاadalah milik Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah saudara seayah, sehingga anak cucu mereka yang disebut Allah, bukan anak cucu Ibrahim dan Ishaq, karena keduanya adalah bapak beranak, jadi yang tepat adalah anak cucu Ibrahim dari putra beliau Ismail dan Ishaq.
Boleh jadi ada yang mempersoalkan bahwa dalam ayat 112 tidak ada kata ghulam atau maulid yang berarti kelahiran, tapi kata بشّـرpada ayat ini merupakan bentuk musytarak, yakni satu kata yang memiliki banyak arti (Homonim). Sama halnya denga kata المطهرونyang memiliki beberapa makna, antara lain:
suci dari hadast
suci dari najis
orang yang belum batal wudhu
orang beriman, bahkan
berarti malaikat.
Kata BISA dalam bahasa Indonesia, mempunyai beberapa arti, yaitu:
dapat
racun
Demikian pula kata بشّـرmemiliki 2 arti :
1. Kabar gembira biasa seperti tersebut di dalam Surat Al Baqarah 25 Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Baqarah: 25)
2. Kelahiran anak seperti Firman Allah di dalam Surat Az Zukhruf 17 dan An-Nahl:58 dan apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa * yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan marah. (QS. Az-Zukhruf: 17)
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (QS. An Nahl: 58)
Ibnu Katsir di dalam pengantar Tafsirnya mengatakan, bahwa sebaik-baiknya tafsir Alquran adalah mencari penjelasan dari ayat-ayat Al Quran itu sendiri.
Coba perhatikan jawaban anak Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan itu pada ayat 102: Ia menjawab: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar ( من الصبرين)
Di dalam Alquran, nabi yang memiliki predikat khusus sebagai (الصبرين) hanya 3 orang, yaitu:
Nabi Ismail
Nabi Idris
Nabi Dzulkifli
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Al Anbiya’ 85
Jadi jelaslah, bahwa Alquran telah menunjukkan hujjah yang terang, bahwa anak Nabi Ibrahim as yang hampir disembelih adalah Nabi Ismail as.
Inilah bukti nyata, bahwasannya kita ummat Islam dituntut bersungguh-sungguh di dalam mempelajari Alquran, tidak seperti kebanyakan kita saat ini, Alquran hanya jadi penghias lemari buku, Alquran hanya sekedar dijadikan ajang lomba membaca. Alquran dibaca hanya saat Ramadhan tiba dan berlomba-lomba paling banyak tammat dalam sebulan.
Hal seperti itu boleh dan sah-sah saja, namun alangkah indahnya kalau selain kita baca, kita perdalam pula ilmu yang tersimpan di dalam ayat-ayat suci tersebut, agar kita tidak menjadi seperti yang disindir Allah di Q.S. Al Jumuah:
" Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. "
Perlu diketahui juga bahwa Ibrahim (Abraham) bukanlah seorang Yahudi ataupun Kristen. Perhatikan Firman Allah berikut ini (QS. 3:67-71):
[67] Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Kristen, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." [68] Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. [69] Segolongan dari Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. [70] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).
[71] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?
Lihat ayat 67, bahwa Ibrahim (Abraham) bukanlah seorang Yahudi ataupun Kristen. Bagi orang awam mungkin kelihatan aneh. Bagaimana mungkin Abraham disebut Yahudi ataupun Kristen sementara Yehuda dan Yesus belum lahir? Ayat di atas diturunkan sekaligus untuk memberi jawaban kepada golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) pada waktu itu yang mengklaim Abraham sebagai golongan mereka (hingga sekarang).
Lihat juga ayat 68, bahwa nabi yang paling dekat dengan Ibrahim adalah Nabi Muhammad. Karena hanya umat Muhammad-lah yang senantiasa memuliakan nabi Ibrahim (Sholawat Nabi dalam setiap sholat).
Ismail as adalah putra pertama dari nabi Ibrahim as dengan Hajar, Ishaq as adalah anak kedua dari Ibrahim as dengan Sarah. Sarah adalah istri pertama Ibrahim, namun hingga umurnya yang telah mencapai seumur nenek-nenek belum juga dikarunia anak, maka Sarah memutuskan agar nabi Ibrahim mengawini budaknya yaitu Hajar. Maka Ibrahimpun mempunyai anak dengan Hajar yang diberi nama Ismail. Sarah cemburu hingga mengusir Hajar agar keluar dari rumahnya, Ibrahimpun membawa Hajar serta Ismail ke Mekah dan meninggalkannya di Mekah.
Menurut keimanan Kristen dan Yahudi putra yang dikorbankan oleh Ibrahim adalah Ishaq, tetapi menurut keimanan Islam putra yang dikorbankan adalah Ismail. Perbedaan ini tidak mungkin benar keduanya, atau salah keduanya. Sebab, walau bagaimanapun hanya salahsatu yang benar.
Memang dalam masalah siapakah yang dikorbankan bukanlah masalah akidah, namun kebenaran siapakah yang dikorbankan membawa konsekuensi yang teramat besar, terutama bagi orang-orang Kristen dan Yahudi, pasalnya kebenaran ini berhubungan langsung dengan keakuratan kitab suci dalam mengisahkan kejadian yang sesungguhnya.
Alqur'an menyatakan secara tidak langsung bahwa putra nabi Ibrahim as yang dikorbankan adalah Ismail, sementara menurut Talmud dan Bible yaitu kitab agama Yahudi dan Kristen, menyebutkan secara langsung dan tegas bahwa putra nabi Ibrahim yang dikorbankan adalah Ishaq.
Kajian secara teliti dan jujur, baik berdasarkan Alqur’an, Bible dan Talmud akan diperoleh kesimpulan yang sama bahwa putra nabi Ibrahim yang dikorbankan adalah Ismail as bukan Ishaq as seperti yang diaku-aku oleh orang-orang Yahudi dan Kristen selama ini. Penyebutan nama Ishaq dalam Bible dan Talmud secara tata bahasa berkualitas sebagai sisipan para penulis kitab karena kedengkiannya, mari kita kaji secara ilmiah dan obyektif.
MENURUT AL-QUR’AN
Mari kita perhatikan ayat 100-113 Surat Ash-Shaffat
[100] Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. [101] Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. [102] Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapat mu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [103] Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya),(nyatalah kesabaran keduanya) [104] Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, [105] Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [106] Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [107] Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. [108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian [109] (yaitu) " Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". [110] Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman. [112] Dan kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. [113] Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
Ayat ini tidak mencantumkan nama anak yang dikorbankan Ibrahim as. namun bukan berarti tidak bisa diketahui siapa anak tersebut.
Inilah ketinggian sastra Alqur'an, walaupun nama tak disebut, namun makna yang hakiki tetap bisa diketahui.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena inilah kalimat kunci agar kita bisa mengetahui bahwa anak Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail.
1. Pada ayat ke 112 Allah berfirman:
Di dalam ayat ini terdapat huruf Ùˆ(wauw) ‘Athf litartibi wa litisholi, maknanya, huruf wauw yang menghubungkan dua peristiwa yang berbeda, secara berurutan sesuai tertib/urutan waktunya, yaitu peristiwa pertama tentang penyembelihan anak Nabi Ibrahim as yang telah dewasa yaitu Nabi Ismail as dan dilanjutkan dengan peristiwa kedua, yaitu kelahiran Ishaq as.
2. Dasar yang menetapkan bahwa anak itu Ismail as. adalah kalimat عليه padai ayat 113:
kataعليه di sini adalah milik Nabi Ismail dan bukan Nabi Ibrahim, mengapa demikian, karena pada kelanjutan ayat Allah berfirman: Dzurriyati hima
dhamir Ù‡ِـمَا adalah milik Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah saudara seayah, sehingga anak cucu mereka yang disebut Allah, bukan anak cucu Ibrahim dan Ishaq, karena keduanya adalah bapak beranak, jadi yang tepat adalah anak cucu Ibrahim dari putra beliau Ismail dan Ishaq.
Coba perhatikan jawaban anak Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan itu pada ayat 102:
Ia menjawab: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar ( من الصبرين)
Di dalam Alquran, nabi yang memiliki predikat khusus sebagai (الصبرين) hanya 3 orang, yaitu:
Nabi Ismail
Nabi Idris
Nabi Dzulkifli
"Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka termasuk orang-orang yang sabar." (Al -Anbiya’ :85)
Jadi jelaslah, bahwa Alquran telah menunjukkan hujjah yang terang, bahwa anak Nabi Ibrahim as yang hampir disembelih adalah Nabi Ismail as.
Dalam ayat-ayat selanjutnya mengisahkan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail tentang perintah penyembelihan Ismail, dan beliau berdua berhasil melalui ujian yang nyata tersebut dengan amat sabar, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Setelah al-Qur’an mengisahkan kisah antara nabi Ibrahim dengan putranya Ismail, dalam ayat selanjutnya yaitu QS. As-Shaffat:112 Al-Qur’an mengisahkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kabar baik akan datangnya seorang anak lagi yang bernama Ishaq:
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. As-Shaffat:112)
Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa kabar gembira akan lahirnya Ishaq adalah setelah kisah kabar gembira akan lahirnya Ismail dan kisah perintah penyembelihannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an menyatakan Ismail-lah yang akan disembelih bukan Ishaq.
MENURUT BIBLE
Nabi Ibrahim dan Istrinya Sarah adalah dari bangsa yang sama, Sarah mempunyai budak bernama Hajar dari Mesir. Dalam pernikahannya dengan Sarah nabi Ibrahim belum dikaruniai anak padahal umur mereka sudah mencapai sekitar 80 tahun.Akhirnya Sarah memutuskan agar Ibrahim menikahi budaknya yaitu Hajar.
"Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hamba-nya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan –, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya." (Kejadian 16:1-3)
Bersama Hajar nabi Ibrahim mempunyai anak yang kemudian dinamainya Ismail, ketika itu nabi Ibrahim berumur 86 tahun:
Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. (Kejadian 16:16)
Dan ketika nabi Ibrahim berumur 99 tahun, Allah SWT menjanjikan seorang anak lagi namun dari pihak Sarah :
“Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram” (Kejadian 17:1)
Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” (Kejadian 17:16)
Dan setahun kemudian lahirlah anak dari Sarah yang diberi nama Ishaq, dua tahun kemudian nabi Ibrahim mengadakan perjamuan besar untuk menyapih Ishak, sehingga ketika Ishaq berumur 2 tahun Ismail berumur 16 tahun, namun Sarab berubah pikiran setelah mempunyai anak, ia menyuruh nabi Ibrahim untuk mengusir Hajar dan Ismail dari rumahnya, maka Hajar dan Ismail meninggalkan rumah Sarah.
Setelah itu Allah berfirman kepada nabi Ibrahim:
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22:2)
Dalam ayat tersebut dikisahkan secara jelas dan gamblang bahwa Bible mengisahkan Ishaqlah yang dikorbankan untuk disembelih bukan Ismail.
BENARKAH KISAH BIBLE?
Satu-satunya dasar bagi orang-orang Yahudi dan Kristen mengimani Ishaq yang dikorbankan adalah penyebutan nama Ishaq dalam kitab mereka yaitu dalam Kejadian 22:2.
“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishaq” . (Kejadian 22:2)
Setelah dikaji, kalimat “ yakni Ishaq” dalam ayat tersebut mempunyai kejanggalan yang teramat serius, alasannya:
Pertama: kalimat “yakni Ishaq” pada susunan tersebut adalah mubazir, karena kalimat tersebut telah sempurna justru bila tanpa “yakni Ishaq” : Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
Dengan susunan tersebut tentu nabi Ibrahim sudah paham siapa yang disebut sebagai anak tunggal yang dikasihinya. Apa mungkin seorang ayah tidak tahu siapa anak tunggalnya?
Kedua: Kalimat “yakni Ishaq” kontradiksi dengan kalimat sebelumnya yang menyatakan: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi"
Karena ketika itu, Ismail telah lebih dahulu lahir sebagai anak nabi Ibrahim, penyebutan Ishaq sebagai anak tunggal dalam ayat tersebut tidak sesuai dengan sejarah dan itu berarti mengingkari Ismail sebagai anak sah Ibrahim.
"Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu." (Kejadian 25:12)
Tentu saja menyebut Ishaq sebagai anak tunggal berarti mengingkari Ismail sebagai anak Ibrahim, mengingkari Ismail sebagai anak Ibrahim berarti mengingkari ayat-ayat dalam Bible itu sendiri.
ISHAQ ANAK TUNGGAL?
Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi” (Kejadian 22:2)
Siapakah anak tunggal yang dimaksud dalam ayat tersebut bila bukan Ishaq?
Ibrahim hanya mempunyai dua orang anak, yaitu Ismail dan Ishaq, Ishaq bisa disebut sebagai anak tunggal bila Ismail sebagai anak pertama telah meninggal, tetapi kenyataannya Ismail belum meninggal. Ismail bisa disebut sebagai anak tunggal bila Ishaq belum lahir, keadaan yang kedua inilah yang paling mungkin.
Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa peristiwa perintah penyembelihan terhadap Ismail adalah sebelum Allah memberikan kabar gembira yang kedua kalinya kepada nabi Ibrahim akan lahirnya seorang anak lagi yaitu Ishaq, seperti disebutkan dalam QS. 37:101-11.
Al-Qur’an menyatakan bahwa:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, , Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu” (QS.As-Shaffat:102)
Yang dimaksud pada umur sanggup adalah ketika seseorang sudah bisa untuk mencari kayu bakar, mengembala kambing, mencari air dan lain-lain, dan ketika Ismail mencapai pada umur sanggup Ishaq belumlah lahir, jadi ketika itu Ismail adalah anak tunggal nabi Ibrahim.
Penyebutan “yakni Ishaq” dalam kejadian 22:2 membuat fakta-fakta yang ada menjadi berantakan, ayat-ayat dalam Bible yang berhubungan dengan Ismail dan Ishaq menjadi banyak yang kontradiksi, Ishaq yang bukan anak tunggal disebut sebagai anak tunggal, Ismail yang anak sah nabi Ibrahim harus diingkari. Untuk mengingkari Ismail sebagai anak sah nabi Ibrahim, harus diingkari pula bahwa Hajar bukan istri sahnya, seperti ayat berikut ini:
“Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kejadian 21:10)
Bukankah ayat itu menyangkal Hajar dan Ismail sebagi istri dan anak nabi Ibrahim?
MENGAPA HARUS ISHAQ?
Orang-orang Israel sangat bangga atas kesukuannya, sangat mengagung-agungkan nenek moyangnya, mereka menjunjung tinggi nabi Ishaq tetapi merendahkan nabi Ismail, karena Ishaq adalah nenek moyang mereka yang berderajat tinggi dan berdarah murni sebagai keturunan nabi Ibrahim dengan Sarah yang berasal dari satu bangsa dan sebagai seorang majikan, sementara Ismail adalah nenek moyang bangsa Arab dari keturunan nabi Ibrahim dengan Hajar yang berdarah koptik (campuran) antara Israil dengan Mesir dan Hajar adalah budak dari Sarah. Menurut mereka bangsa Israel adalah bangsa yang lebih tinggi derajatnya daripada bangsa Arab.
Orang-orang Israel iri hati setelah Allah menjadikan Ismail sebagai korban yang akan disembelih, orang-orang Israel tidak mau orang-orang Arab mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT, mereka menginginkan segala kemuliaan dan berkah hanya untuk orang Israel, menurut mereka semestinya Ishaqlah yang dipilih sebagai korban sembelihan, karena kesombongan tersebut dan perasaan lebih tinggi dari bangsa Arab, mereka berani mengadakan kedustaan dengan mengubah-ubah ayat-ayat Allah, salah satunya dengan menambah kalimat:
Yakni Ishaq Ke dalam kalimat anakmu yang tunggal itu
Mereka sebenarnya mengetahui bahwa Ishaq bukanlah anak tunggal nabi Ibrahim, dan mereka mengetahui bahwa Ismail pernah menjadi anak tunggal nabi Ibrahim yaitu ketika Ishaq belum lahir, mereka tidak peduli bila penambahan tersebut akan mengakibatkan kontradiksi yang serius dalam kitab mereka, Allah SWT telah menyatakan dalam al-Qur’an:
“segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui” (QS.Al-Baqarah:75)
Begitu besar kebencian orang-orang Yahudi kepada orang-orang Arab sampai berani mengubah fakta bahwa Ishaq yang bukan anak tunggal ditulisnya sebagai anak tunggal dalam kitab mereka sebagai anak tunggal demi menghilangkan kemuliaan Ismail.
Kebencian orang-orang Yahudi dan Israel kepada bangsa Arab tidak hanya pada masa nabi Ishaq dan nabi Ismail hidup, tetapi kebencian mereka berlanjut hingga pada masa diutusnya nabi Muhammad saw sebagai Rasul bahkan hingga sekarang ini.
Ketika Yesus/nabi Isa as menyampaikan kabar kepada orang-orang Israel tentang akan datangnya seorang nabi terakhir dari keturunan Ismail, mereka langsung marah dan gusar yang akhirnya pada rencana pembunuhan nabi Isa as.
Makanya setelah orang-orang Israel/ Yahudi mengetahui bahwa nabi terakhir dari bangsa Arab dan jaman akan diutusnya seorang nabi sudah dekat, mereka banyak yang pergi ke Madinah untuk menunggu datangnya nabi tersebut dengan maksud akan membunuhnya, bukan untuk mengimaninya, dan mereka mengancam masyarakat Madinah:
Sekarang ini sudah hampir zaman seorang nabi yang diutus. Kami akan membunuh kalian bersamanya. Nasib kalian akan seperti kaum ‘Ad dari penduduk Iram [Sirah Ibnu Hisyam dengan sanad Hasan]
Namun Alhamdulillah karena ancaman yang sekaligus memberikan kabar tentang ramalan akan datangnya seorang nabi di Madinah tersebut, orang-orang Madinah mudah beriman kepada nabi Muhammad saw ketika nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah padahal mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.