Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Hablumminallah (Haq). Show all posts
Showing posts with label Hablumminallah (Haq). Show all posts

Friday, November 3, 2017

Ma'rifatullah Friday, November 3, 2017

KARAKTERISTIK AQIDAH ISLAM
Aqidah Islam adalah Aqidah Rabbaniy (berasal dari Allah) yang bersih dari pengaruh penyimpangan dan subyektifitas manusia. Aqidah Islam memiliki karakteristik berikut ini:

1. Al Wudhuh wa al Basathah 
(jelas dan ringan) tidak ada kerancuan di dalamnya seperti yang terjadi pada konsep Trinitas dlsb.

2. Sejalan dengan fitrah manusia, 
tidak akan pernah bertentangan antara aqidah salimah (lurus) dengan fitrah manusia. 
Firman Allah; 

"Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah.." (QS. 30:30)

3. Prinsip-prinsip aqidah yang baku, 
tidak ada penambahan dan perubahan dari siapapun. 
Firman Allah: 

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?" (QS. 42:21)

Dibangun di atas bukti dan dalil, tidak cukup hanya dengan doktrin dan pemaksaan seperti yang ada pada konsep-konsep aqidah lainnya. Aqidah Islam selalu menegakkan bukti kebenaran seperti firman Allah: 

 "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS 2:111)

4. Al Wasthiyyah (moderat) 
tidak berlebihan dalam menetapkan keesaan maupun sifat Allah seperti yang terjadi pada pemikiran lain yang mengakibatkan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Aqidah Islam menolak fanatisme buta seperti yang terjadi dalam slogan jahiliyah: 

"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka."

    PENGERTIAN MAKRIFATULLAH
    Makrifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas? Segelas susu yang dibuat seseorang tidak akan pernah mengetahui seperti apakah orang yang telah membuatnya menjadi segelas susu.

    Menurut Ibn Al Qayyim: "Makrifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul ma'rifah (orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi pengenalannya."

    Makrifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun ma'riaftullah dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.

    CIRI-CIRI DALAM MAKRIFATULLAH
    Seseorang dianggap mak'rifatullah (mengenal Allah) jika ia telah mengenali

    1. Asma (nama) Allah
    2. Sifat Allah, dan
    3. Af'al (perbuatan) Allah yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam kehidupan alam ini.

    Kemudian dengan bekal pengetahuan itu, ia menunjukkan pula prilaku seperti berikut:

    1. Sikap shidq (benar) dalam bermu'amalah (bekerja) dengan Allah,
    2. Ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah,
    3. Pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang membuatnya bertentangan dengan kehendak Allah SWT,
    4. Sabar dan menerima pemberlakuan hukum, aturan, atau ketetepan Allah atas dirinya,
    5. Berda'wah, mengajak orang lain mengikuti kebenaran ajaran Allah,
    6. Membersihkan da'wahnya dari pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas siapapun. Ia hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan Rasulullah SAW.

    Figur teladan dalam makrifatullah ini adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang paling utama dalam mengenali Allah SWT. 

    Sabda Nabi: 

    "Akuah orang yang paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya!" [HR Al Bukahriy dan Muslim]

    Hadits ini Nabi ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri.

    Tingkatan berikut setelah Nabi adalah para ulama amilun (ulama yang mengamalkan ilmunya). 

    Firman Allah: 

    "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." (QS. 35:28)

    Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai hidupnya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, dan pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, mengajar, mujahid, melayani masyarkat, dermawan, dlsb. Tidak ada ruang dan waktu untuk ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu di mana berlaku atasnya larangan Allah kecuali ia menjauhinya.

    Ada sebagian ulama yang mengatakan: "Duduk di sisi orang yang mengenali Allah (makrifatullah) akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu: dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlas, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu' (randah hati), dari buruk hati menjadi nasehat."

    URGENSI MAKRIFATULLAH
    • Makrifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena makrifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Firman Allah: "Ketiadaan makrifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). [QS.47:12]
    • Makrifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar. Sabda Nabi: "Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat pada siapapun selain mukmin, jika ditimpa musibah ia bersabar, dan jika diberi karunia ia bersyukur" [HR.Muslim]. Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.
    • Dari Makrifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.
    • Dari Makrifatullah ini pula manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.
    • Dari Makrifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan akhirat.

    SARANA MAKRIFATULLAH
    Sarana yang mengantarkan seseorang pada makrifatullah adalah:

    (a). Akal sehat
    Akal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an yang menjelaskan pengaruh perenungan makhluk (ciptaan) terhadap pengenalan al Khaliq (pencipta) seperti firman Allah: 

    "Katakanlah " Perhatikanlah apa yang ada di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS.10:101) atau (QS.3:190-191)

    Sabda Nabi : "Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu." [HR. Abu Nu'aim]

    (b). Para Rasul
    Para Rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya tentang makrifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakui sebagai orang yang paling mengenali Allah. 

    Firman Allah: 

    "Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." (QS. 57:25)

    (c). Asma dan Sifat Allah
    Mengenali Asma'ul Husna (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi jalan untuk mengenali Allah. Cara inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluk-Nya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. 

    Firman Allah: 

    "Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asma' al husna (nama-nama yang terbaik)  (QS. 17:110)

    Asma' al husna inilah yang Allah perintahkan pada kita untuk menggunakannya dalam berdoa. Firman Allah: 

    "Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma al husna itu." (QS. 7:180)

    Makrifat adalah sarana efektif yang Allah SWT ajarkan kepada umat manusia untuk mengenali-Nya. Dan makrifatullah ini sendiri tidak akan wujud sebelum seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu: tauhid rububiyyah, tauhid asma (dan sifat) - kedua tauhid ini sering disebut sebagai tauhid al ma'rifah wa al itsbat atau mengenal dan menetapkan - serta tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilaksanakan.

    Berikut beberapa catatan seputar  Makrifat dan aspek-aspek terkait yang meliputinya:
    Makrifat


    Wednesday, September 28, 2016

    Perbaharuilah Imanmu! Wednesday, September 28, 2016

    Urgensi memperbaharui iman.
    Kisah Ubaidillah bin Jahsyi yang berhijrah ke Habasyah bersama istrinya, Romlah r.a (Ummu habibah) dan anak mereka untuk menyelamatkan keimanan yang baru dipeluknya dari kemarahan Abu Sofyan bin Harb, ayah sang istri.

    Namun, setelah bertahun-tahun keluarga tersebut hidup dalam ketentraman dalam naungan Islam, tiba-tiba Ubaidillah bin Jahsyi murtad dan menjadi nasrani. Akhlaknya berubah menjadi pemabuk dan berlaku kasar terhadap Romlah Ra dan puncaknya adalah keputusannya untuk menceraikan sang istri karena setelah dipaksa tetap tidak mau mengikuti agama barunya sb.

    Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan setiap muslim untuk memperbaharui keimanannya, apa pun kelas imannya, apa pun amalnya, dan setinggi apa pun ilmu yang di milikinya. Rasulullah bersabda:

    “Jaddiduu diinikum, perbaharuilah diin kalian!” (HR Tirmidzi dari Ummu Salamah ra).

    Iman, letaknya ada dihati. Karenanya, perhatikanlah amalan-amalan hati untuk menjaga keimanan tsb. Perbanyaklah amalan-amalan hati yang akan menyuburkan makna iman dalam hati dan menebalkan keikhlasan kita kepada Allah sehingga terbangun rasa kebersamaan kita kepada Allah (ma’iyatullah).

    Rasulullah menjelaskan kepada kita, bahwa hati manusia mudah terbolak-balik. Adakalanya, anda melihat seorang muslim menunjukkan ketaatan kepada Allah sehingga mempesona manusia namun tak lama berselang ia berubah, terlalu banyak melakukan hal-hal yang mudah tanpa ada maslahat dinniyah atau membiarkan waktunya berlalu tanpa ada faedah atau maslahat syar’iyyah.

    ”Laa wa muqallibal quluub, Tidak. Demi (Dzat) yang membolak-balik hati”. (HR. Bukhary dari Abdullah bin Umar Ra).

    Saudaraku, perhatikanlah bahwa tanpa hidup tanpa keimanan di hati adalah kehidupan tanpa keberkahan. Karenanya, perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan kita untuk selalu memperbaiki kualitas keimanan kita. Allah berfirman:

    ”Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, Rasulnya, dan Kitab yang telah diturunkan kepada Rasulnya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya”. (QS. An-Nisaa’:136).

    Perhatikanlah! Bagaimana bisa, Al Qur’an menuntut keimanan dari orang-orang yang telah beriman sedangkan mereka telah menunjukkan keimanannya? Bahkan khittab (obyek) ayat tersebut berbunyi: ”hai orang-orang yangberiman!”. Apa yang sebenarnya makna iman yang dituntut oleh ayat Al Qur’an ini? Sesungguhnya, ayat tersebut menuntut orang-orang yang beriman untuk senantiasa memperbaharui keimanan mereka! Yang demikian itu, karena memang: iman memerlukan pembaharuan dari waktu ke waktu.

    Bagaimana memperbaharui keimanan?
    Diantara cara dari banyak cara memperbaharui keimanan adalah dengan memperbanyak amalan hati seperti menjaga waktu sholat, mencintai sholat malam, memperbanyak shoum sunnah, dzikir dan menjaga kekhusu’an.

    Salah satu cara sarana untuk memperbaharui keimanan, hendaklah kita menyediakan waktu khusus diluar waktu sholat, qiyamullail, dzikir dan tilawah qur’annya untuk menyendiri atau berkhalwah. Dalam sebuah atsar dikatakan, seorang yang berakal itu membagi waktunya menjadi empat: salah satunya adalah waktu yang ia isi untuk menyendiri, merenungi diri, bermuhasabah!

    Saat berkhalwat itulah, ia dapat semaksimal mungkin mendekatkan dirinya kepada Allah. Ia dapat sungguh-sungguh bersama Dzat yang paling dicintainya, dan disaat itu pulalah ia dapat merasakan manisnya bermunajat kepada Kholiqnya.

    Selain itu, dengan berkhalwah, ia bisa mengintrospeksi diri/bermuhasabah dengan menghitung-hitung semua yang telah dikerjakannya tanpa ada gangguan dari orang-orang yang memujinya maupun mereka yang mencelanya. Di saat itu, ia berkesempatan untuk mengingat dosa-dosanya, kemaksiatannya, ketelodorannya, serta kealpaan dirinya, khususnya terkait kemaksiatan bathiniyyah yang tidak diketahui oleh orang-orang yang memujinya, yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

    Di saat khalwah inilah, ia bisa mencucurkan air mata penyesalan dan taubat nashuha, menangis karena takut, malu, cinta dan khusyu’ kepada Allah Yang Maha Suci. Semoga saja, air mata yang mengalir itu adalah air mata kejujuran yang manfaatnya jauh lebih besar daripada amal-amal yang selama ini dibanggakan!

    Rasulullah saw mengabarkan bahwa salah satu dari kategori manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah di bawah ’Arsy pada hari tiada naungan selain naungan-Nya adalah laki-laki yang menangis dalam khalwahnya.

    ”Wa rajulun dzakarallah khaaliyan fa faadhot ’ainaaha. Dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendiriannya lalu air matanya mengalir.” (HR Bukhary-Muslim dari Abu Hurairah ra).

    Perhatikan kata khaaliyan yang berarti ’dalam kesendirian’ pada hadits di atas. Benar, orang itu berada dalam keadaan sunyi, jauh dari sum’ah (pamer), dan riya’ (agar dilihat orang lain). Ia ditemani oleh kemurnian dan keikhlasannya kepada Allah ’Azza wa Jalla.

    Pada saat khalwah itu, ia dapat mengingat-ingat cobaan dan musibah yang menimpanya dan juga saudara-saudaranya, kalau-kalau faktor penyebabnya adalah dosa-dosanya. Terlebih lagi jika ia berposisi sebagai seorang pemimpin. Kemudian hatinya terus mengumandangkan firman Allah:

    ”Qul huwa min ’indi anfusikum. Katakan: itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (Qs. Ali Imran: 165).

    Dan selanjutnya, ia bertekad untuk bertaubat dari dosa-dosa tsb, dan memperbaiki aib diri sendiri. ”Turunnya musibah itu hanyalah karena dosa, dan baru diangkat karena taubat!”. Demikian menurut sebagian ulama salaf.

    Dalam khalwah itu, manusia akan membiasakan diri untuk memperhatikan faktor-faktor turunnya bala’/mushibah dengan seksama menurut kacamata syari’at. Bukan semata-mata dari sudut pandang ilmu pengetahuan ansich.


    [Dari Blog Sampurna Budi Utama]


    Friday, July 23, 2010

    Cara Mencintai Allah Dan Rasul-Nya Friday, July 23, 2010


    Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.


    MENCINTAI ALLAH DAN RASUL-NYA


    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran [3]: 31)

    Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam bersabda:

    "Tidaklah beriman (secara sempurna) salah seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia." [HR al-Bukhari].

    Ayat di atas menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam. Menaati apa yang beliau perintahkan dan meninggalkan apa yang beliau larang, menurut hadits-hadits sahih yang beliau jelaskan kepada umat manusia. Tidaklah kecintaan itu dengan banyak bicara dengan tanpa mengamalkan petunjuk, perintah dan sunnah-sunnah beliau.
    Adapun hadits shahih di atas mengandung pengertian bahwa iman seorang muslim tidak sempurna, sehingga ia mencintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam melebihi kecintaannya terhadap anak, orang tua, dan segenap manusia, bahkan sebagaimana ditegaskan dalam hadits lain hingga melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Pengaruh kecintaan itu tampak ketika terjadi pertentangan antara perintah-perintah dan larangan-larangan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam dengan hawa nafsunya, keinginan isteri, anak-anak serta segenap manusia di sekelilingnya. Jika ia benar-benar mencintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam, ia akan mendahulukan perintah-perintahnya dan tidak menuruti kehendak nafsunya, keluarga atau orang-orang di sekelilingnya. Tetapi, jika kecintaan itu hanya dusta belaka maka, ia akan mendurhakai Allah dan rasul-Nya, lalu menuruti setan dan hawa nafsunya.
    Jika anda menanyakan kepada seorang muslim, "Apakah anda mencintai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam?" Ia akan menjawab, "Benar, aku korbankan jiwa dan hartaku untuk beliau." 

    Tetapi, jika selanjutnya ditanyakan, "Mengapa Anda tidak meninggalkan kebiasaan yang dibenci Rasulullah saw dan melanggar perintahnya dalam masalah ini dan itu, dan anda tidak meneladaninya dalam penampilan, akhlak dan ketauhidan Rasulullah saw?" 

    Dia akan menjawab, "Kecintaan itu letaknya di dalam hati. Dan alhamdulillah, hati saya baik."

    Kita mengatakan padanya, "Seandainya hatimu baik, niscaya akan tampak secara lahiriah, baik dalam penampilan, akhlak, maupun ketaatanmu dalam beribadah mengesakan Allah semata."

    Sebab, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam bersabda,

    "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging. Bila ia baik maka akan baiklah seluruh jasad itu, dan bila ia rusak maka akan rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati." [HR al-Bukhari dan Muslim].

    Suatu contoh, seorang alim bersilaturahmi kepada seorang yang kelihatan saleh, tetapi masih suka memasang gambar-gambar binatang. Orang alim itu lalu mengingatkannya dengan larangan Rasulullah dalam soal memajang gambar-gambar. Tetapi, ia menolak sambil mengatakan, "Ini gambar yang indah dan menarik."

    Suatu hal yang mengherankan, seorang yang kelihatan shaleh dan merasa mencintai Rasulullah saw tetapi masih senang dengan kesukaan yang kelihatan ringan tetapi termasuk dalam hal yang dilarang. Dalam hati penulis berkomentar, "Orang tersebut mendurhakai perintahnya, bagaimana mungkin akan masuk dalam kecintaannya. Dan, apakah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam akan rela dengan perbuatan tersebut? 

    Sesungguhnya kita dan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam berada di bawah perlindungan Allah semata."

    Kecintaan kepada Rasulullah adalah tidak dengan menyelenggarakan peringatan, pesta, berhias, dan menyenandungkan syair yang tak akan lepas dari kemungkaran.

    Demikian pula tidak dengan berbagai macam bid'ah yang tidak ada dasarnya dalam ajaran syariat Islam.

    Tetapi, kecintaan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa salam adalah dengan mengikuti petunjuknya, berpegang teguh dengan sunnahnya serta dengan menerapkan ajaran-ajarannya. Sungguh, alangkah indah ungkapan penyair tentang kecintaan sejati di bawah ini.

    "Jika kecintaanmu itu sejati, niscaya engkau akan mentaatinya. Sesungguhnya seorang pecinta, kepada orang yang dicintainya akan selalu ta'at setia."



    Sumber: Disadur dari Jalan Golongan yang Selamat, Syekh Muhammad bin Jamil Zainu Al-Islam
    Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


    Friday, July 9, 2010

    Di Manakah Allah Berada? Friday, July 9, 2010

    Ketika sambil lalu pertanyaan ini disampaikan kepada sekumpulan orang, hampir pasti kita akan mendapat jawaban yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan di surga, ada yang mengatakan di langit, ada yang mengatakan di dalam hati - atau di dalam diri setiap manusia, ada yang mengatakan di mana-mana, ada yang mengatakan lebih dekat dari urat leher kita, ada pula yang mengatakan pokoknya sangat dekat dengan saya!
    Dan masih banyak lagi.

    Namun jika pertanyaan ini diajukan kepada kita selaku pemeluk agama Islam, seorang muslim yang mengaku bertaqwa kepada Allah SWT, yang semata-mata tunduk, patuh dan bersarah diri hanya kepada-Nya, yang menjalankan semua ibadah demi mendapat ridha-Nya, apakah kita sudah mengetahui secara pasti sesungguhnya Tuhan kita berada di mana? Dapatkah kita menjawab pertanyaan ini tanpa sedikitpun keragu-raguan di dalam hati - dan tidak pula menimbulkan keragu-raguan baru di hati orang lain?

    Boleh jadi selama ini kita menganggap pertanyaan ini biasa-biasa saja, atau bahkan mungkin merupakan pertanyaan yang sangat jarang melintas di benak kita. Sehingga kita tidak merasa terdorong untuk "mencari kebenaran" mengenai perkara ini. Padahal sesungguhnya ini adalah pertanyaan paling mendasar yang sangat menentukan keimanan seorang muslim. Sebab, bagaimana bisa terjadi seseorang muslim yang taat melaksanakan ibadah dan berkata bahwa ia menyembah Allah, tapi tidak tahu Allah yang disembahnya berada di mana? Tidakkah ini menunjukkan bahwa sesungguhnya ia tidak berbeda jauh dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan? Orang yang pasti bohong bila mengatakan bahwa ia mencintai Tuhannya? Bagaimana mungkin mengaku cinta - dan berharap cintanya berbalas - bila tidak mengetahui dengan pasti yang dicintainya itu berada di mana?

    Mungkin anda tersenyum sendiri membaca ini. Tapi cobalah ajukan pertanyaan serupa kepada orang-orang terdekat anda, lalu perhatikanlah berapa banyak di antara mereka yang dapat menjawabnya dengan baik dan berapa banyak pula yang diam-diam "ternyata" masih kebingungan mengenai hal ini. Wallahualam Bissawab.

    Untuk membantu orang-orang yang kita sayangi itu menemukan jawaban yang pasti, marilah sama-sama kita simak penjelasan berikut.
    Jawaban yang benar atas pertanyaan ini adalah: Allah SWT bersemayam di atas Arsy. Dan Arsy berada di atas langit.


    Imam Asy Syafi’i berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada Illah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah - Oleh Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais, Bab-IV). Demikian juga keyakinan para imam mazhab seperti Imam Malik, Imam Hanafi, dan Imam Hambali.

    Sebagaimana kita ketahui, lazimnya para Imam menetapkan keyakinan mereka terhadap suatu perkara selalu dilandasi oleh dalil-dalil yang meliputi sumber-sumber dari Al-Qur’an, Hadits, Akal, Fitrah dan ‘Ijma. Untuk pertanyaan di atas, berikut adalah dalil-dalilnya:

    MENURUT AL-QUR'AN
    Di dalam Al Qur’anul Karim Allah Ta’ala banyak menyiratkan atau mensifati diri-Nya berada di atas Arsy, yaitu di atas langit. Di antaranya, perhatikan firman-firman Allah SWT sebagai berikut:

    إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى
    عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ
    "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Yunus:3)

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
    “(Yaitu) Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)

    أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
    “Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk:16)

    تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
    “Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4).

    هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ
    مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
    "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hadid:4)

    قُل لَّوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذاً لاَّبْتَغَوْاْ إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلاً
    Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy." (QS. Al-Isra:42)

    الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً
    "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. " (QS. Al-Furqaan[25]:59)

    MENURUT HADITS
    Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya: “Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)

    MENURUT AKAL
    Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi).” [Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha]

    MENURUT FITRAH
    Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrahnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain. Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam.

    Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura[26]: 11) Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara)–nya.

    Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis”. (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits).

    ALLAH BERSAMA MAKHLUK-NYA
    Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Allah bersamamu di mana pun kau berada” (QS. Al Hadid[57]: 4) Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Yang benar adalah Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya.

    Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut. Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya. Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini: “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya.” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .

    Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At-Taubah[9]: 40) Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya.” Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu.” (QS. Al Baqarah[2]: 186)

    Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman "Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku.” Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di).

    Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan. Kaum muslimin, akhirnya telah jelas bagi kita bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada dekat dan selalu bersama hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui isi-isi hati kita. Allah mengetahui segala sesuatu yang samar maupun yang tersembunyi.

    Allah tahu niat-niat buruk dan keburukan maksiat yang terbesit di hati. Allah bersama kita, maka masih beranikah kita berbuat bermaksiat kepada Allah dan meninggakan segala perintah-Nya? Allah tahu hamba-hambanya yang butuh pertolongan dan pertolongan apa yang paling baik. Allah pun tahu jeritan hati kita yang faqir akan rahmat-Nya. Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan mengabulkan doa-doa mereka. Maka, masih ragukah kita untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah? Padahal Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kemudian, masih ragukah kita bahwa Allah Ta’ala sangat dekat dan mengabulkan doa-doa kita tanpa perlu perantara, sehingga sebagian dari kita masih ada yang mencari perantara seperti dukun, paranormal, para wali dan sesembahan lain selain Allah? Wallahul musta’an.

    Untuk lebih memahami pengertian Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya, mari kita perhatikan juga penjelasan berikut:

    KAMI LEBIH DEKAT DARI URAT LEHER MANUSIA
    Allah SWT berfirman:

    إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌمَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌوَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
    "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaff:16-18)

    Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan tentang kekuasaan-Nya atas manusia bahwa Dia-lah yang menciptakannya dan ilmu pengetahuan-Nya mencakupi semua persoalan hidupnya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui apa yang dibisikkan dalam hati anak-cucu keturunan Adam tentang kebaikan, keburukan, dan tentang segala perkara. Telah ditetapkan pula di dalam sebuah hadits sahih dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Allah Subhanahu wa Ta'ala memaafkan apa yang dibisikkan oleh hati-hati umatku selama dia tidak mengatakannya atau mengerjakannya."

    Adapun maksud atau makna Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala; "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," adalah bahwa para Malaikat Allah itu sangat dekat kepada manusia daripada kedekatan mereka dengan urat lehernya sendiri.

    Perhatikan juga firman Allah berkenaan dengan sakaratul maut ini:

    وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ
    "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat." (QS. Al-Waaqi'ah:85).

    Yang dimaksud dengan Kami dalam ayat ini adalah para malaikat, sebagaiana difirmankan-Nya:

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    "Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan al Qur'an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr:9).

    Maka para malaikat itulah yang telah turun dengan membawa Al Qur'an dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demikian pula para malaikat adalah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya dengan penetapan Allah atas hal itu. Itulah sebabnya di sini Allah berfirman:

    "(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya," yang menjelaskan bahwa ada dua malaikat yang mencatat amalan manusia, yang satu mengawasi di sebelah kanan dan yang lain mengawasi di sebelah kiri."

    Firman Allah Subhanahu wa ta'ala: "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." menunjukkan bahwa setiap kalimat itu diawasi dan dicatat oleh malaikat. Malaikat itu tidak membiarkan satu kalimat atau satu gerakan pun, baik berupa niat, perbuatan, maupun ucapan, kecuali dituliskannya.

    Imam Ahmad meriwayatkan dari Bilal bin Harits Al Muzani radhiallahu anhu bahwa Rasulullahh Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

    "Seseorang yang mengucapkan kata-kata yang diridhai Allah tidak mengira bahwa ucapan itu berlanjut-lanjut. Allah Subhanahu wa ta'ala akan mencatatkan bagi orang itu keridhaanNya sampai orang itu bertemu dengan Allah. Dan seseorang yang mengucapkan kata-kata yang dibenci Allah tidak mengira bahwa ucapan itu berlanjut terus. Allah akan menuliskan murka-Nya untuk orang itu sampai dia bertemu dengan Allah." Alqamah pernah mengatakan: "Sudah berapa banyak ucapan yang tidak jadi aku ucapkan karena hadits Bilal bin Harits ini."

    Hadits ini turut pula diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan disahkannya. Dan pernah disebutkan kisah tentang Imam Ahmad yang merintih dikala sakitnya, kemudian sampai berita kepadanya dari Thawus bahwa dia berkata: "Malaikat itu akan mencatat segala sesuatu, termasuk rintihan." Semenjak itulah Imam Ahmad tidak merintih lagi hingga wafat. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau.

    Rujukan:

    "Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhthishari Tafsir Ibnu Katsier" edisiIndonesia: "Kemudahan dari Allah: ringkasan tafsir Ibnu Katsir" Penerjemah: Syihabuddin, Gema Insani Press, Jakarta cetatakan ke-2.

    Lebih jelas, simak video pendek berkut ini.

    Tuesday, June 1, 2010

    Wasiat Syaikh Abdurrazaq Abdul Muhsin Al-Abbad Tuesday, June 1, 2010


    Sesungguhnya segala puji adalah bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, ampunan dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan hawa nafsu kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada lagi yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, orang yang dikasihi dan dicintai-Nya, orang yang dipercaya oleh-Nya untuk menyampaikan wahyu dan syari’at-Nya kepada umat manusia. Semoga salawat dan keselamatan terlimpah kepada beliau dan juga kepada para pengikutnya, serta para sahabatnya semua, semoga keselamatan sebanyak-banyaknya selalu tercurah kepada mereka.
    Amma ba’du.

    Wahai hamba-hamba Allah,
    Aku wasiatkan kepada kalian dan juga kepada diriku untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaganya dan membimbingnya menuju kebaikan agama dan dunianya. Kemudian, ketahuilah -semoga Allah merahmati kalian- sesungguhnya perkara paling penting yang harus diperhatikan oleh setiap hamba di dalam kehidupan ini adalah keimanan. Itulah perkara paling utama yang digapai oleh jiwa dan dirasakan oleh hati. Dengan iman itulah seorang hamba akan mendapatkan ketinggian derajat di dunia dan di akhirat. Bahkan semua kebaikan di dunia dan di akhirat bergantung pada iman yang benar. Maka iman itu merupakan cita-cita terbesar, tujuan yang teragung, dan target yang paling utama. Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- seorang hamba akan merasakan kehidupan yang baik di dua alam (dunia dan akhirat) dan akan terselamatkan dari bebagai perkara yang dibenci, keburukan, dan perkara-perkara yang berat dan menyusahkan. Dengan iman itulah akan diperoleh pemberian yang terindah dan anugerah yang maha luas.

    Dengan iman itulah akan diraih pahala di akhirat dan memasukkan diri ke dalam surga yang lebarnya sebagaimana lebarnya langit dan bumi. Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik di dalam hati manusia. Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- seorang hamba akan selamat dari neraka yang siksanya sangat keras dan jurangnya sangat dalam, panasnya sangat menyakitkan. Dengan iman itulah seorang hamba akan bisa mendapatkan keberuntungan menggapai keridaan Rabbnya Yang Maha Suci, sehingga Allah tidak akan murka kepadanya selama-lamanya yang dengannya dia akan merasakan kelezatan pada hari kiamat dengan memandang wajah-Nya yang mulia tanpa ada kesempitan yang menyulitkan dan tanpa fitnah yang menyesatkan. Dengan iman itulah hati merasa tenteram, jiwa menjadi tenang, dan hati merasa ringan.

    Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah sesungguhnya dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’d: 28). Betapa banyak manfaat agung dan pengaruh yang penuh berkah, buah yang elok dan kebaikan yang senantiasa mengalir dari keimanan, ketika di dunia maupun kelak di akhirat. Manfaatnya begitu banyak sehingga tidak bisa kita hitung dan tidak bisa diliputi selain Alllah saja. Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah ada satu jiwa yang mengetahui kenikmatan yang disembunyikan dari mereka berupa kesenangan yang akan menyejukkan hati sebagai balasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Qs. as-Sajdah: 17)

    Wahai hamba-hamba Allah
    Sesungguhnya iman merupakan sebuah pohon yang diberkahi, manfaatnya sangat besar dan faidahnya sangat melimpah serta buahnya sangat lebat. Ia memiliki tempat untuk ditanami dan mata air untuk mengairinya. Ia memilki pokok dan cabang-cabang serta buah-buahan. Adapun tempat iman itu adalah di dalam hati seorang mukmin, di dalamnya diletakkan benih-benihnya dan tumbuh darinya pokok-pokoknya, dan darinya tumbuhlah cabang dan rantingnya. Adapun mata air yang akan mengairinya adalah wahyu yang terang yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melalui mata air itulah pohon iman yang diberkahi ini akan disirami. Tidak akan ada kehidupan dan pertumbuhan baginya kecuali dengan air tersebut.

    Adapun pokoknya -wahai hamba-hamba Allah- adalah pokok-pokok keimanan yang enam; iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Sedangkan pokok yang tertinggi dari pokok-pokok ini adalah keimanan kepada Allah, maka itulah pokok yang paling mendasar bagi pohon yang diberkahi ini. Adapun cabang-cabangnya adalah amal-amal salih dan ketaatan yang beraneka ragam serta berbagai amal yang mendekatkan diri kepada Allah yang dilakukan oleh seorang mukmin berupa sholat, zakat, haji, puasa, berbuat baik, ihsan, dan lain sebagainya. Sedangkan buah-buahannya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang diperoleh seorang mukmin ketika di dunia maupun di akhirat, maka itu semua merupakan buah dari keimanan dan hasil darinya. Allah berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang melakukan amal salih baik dari kalangan lelaki maupun perempuan sedangkan dia adalah orang yang beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka lakukan.” (Qs. an-Nahl: 97)

    Wahai hamba-hamba Allah
    Manusia itu bertingkat-tingkat dalam hal keimanan dengan perbedaan yang sangat bervariasi tergantung dengan keberagaman mereka dalam mewujudkan sifat-sifat ini, kuat maupun lemahnya, bertambah atau berkurangnya. Oleh sebab itu sudah semestinya seorang hamba muslim yang ingin mendapatkan kebaikan bagi dirinya untuk bersungguh-sungguh dalam memahami sifat-sifat ini dan memperhatikannya kemudian menerapkannya di dalam kehidupannya agar dia semakin bertambah iman dan menguat keyakinannya dan kebaikan-kebaikannya semakin melimpah. Sebagaimana pula sudah semestinya -wahai hamba-hamba Allah- agar menjaga dirinya dari terjerumus dalam perkara-perkara yang mengurangi keimanan dan melemahkan agama, hal itu supaya nantinya dia bisa terselamatkan dari akibat buruknya dan kerugiannya yang menyakitkan.

    Wahai hamba-hamba Allah
    Ada banyak sebab yang bisa meningkatkan keimanan dan mengokohkannya. Yang terpenting di antaranya adalah dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat, membaca al-Qur’an dan merenungkan isinya, mengenal nama-nama Allah yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi serta memperhatikan keelokan agama Islam yang hanif ini serta mempelajari sejarah perjalanan hidup Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejarah para sahabatnya yang mulia. Dan dengan memperhatikan dan meneliti alam raya yang luas ini dan berbagai penunjukan yang jelas di dalamnya serta hujjah-hujjah yang gamblang dan bukti-bukti yang terang.

    “Wahai Rabb kami, sama sekali Engkau tidak menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali Imran).

    Sebagaimana pula iman itu bertambah dengan kesungguhan dan usaha keras dalam melakukan ketaatan kepada Allah serta menjaga perintah-perintah-Nya dan memelihara waktu di dalam ketaatan kepada-Nya serta melakukan hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya. “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di atas jalan Kami maka Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan menuju keridaan Kami. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. al-’Ankabut: 69)

    Wahai hamba-hamba Allah
    Sesungguhnya di sisi lain ada juga perkara-perkara lain yang dapat mengurangi dan melemahkan keimanan. Wajib bagi setiap hamba yang beriman untuk melindungi dirinya agar tidak terseret ke sana dan berusaha berhati-hati untuk tidak terjerumus di dalamnya. Salah satu sebab utamanya adalah karena kebodohan tentang agama Allah, kelalaian, berpaling dari ketaatan, melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, berkubang dosa, menuruti keinginan nafsu yang mengajak kepada keburukan, bergaul dengan orang-orang fasik dan gemar berbuat dosa, mengikuti hawa nafsu dan syaitan, tertipu oleh kesenangan dunia dan terfitnah olehnya sehingga hal itu membuat dunia itulah yang menjadi puncak angan-angan seorang manusia dan tujuan hidupnya yang paling utama.
    Wahai hamba-hamba Allah

    Ketika para pendahulu umat ini dan generasi pertamanya beserta orang-orang pilihan di antara mereka menyadari keagungan iman ini dan merasakan betapa besar kebutuhan mereka kepadanya lebih daripada kebutuhan kepada makanan dan minuman serta udara untuk bernafas maka perhatian mereka kepadanya juga sangat besar dan lebih didahulukan daripada semua urusan. Dahulu mereka berusaha sekuat tenaga untuk memelihara iman mereka, memeriksa amal-amal mereka, dan saling menasihati di antara mereka. Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu mengatakan kepada para sahabatnya, “Marilah, kita berkumpul sejenak untuk meningkatkan iman.” Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Duduklah bersama kami sejenak, kita akan menambah keimanan.” Beliau juga sering mengatakan di dalam doanya, “Ya Allah, tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan, dan kepahaman.” Abdullah bin Rawahah radhiyallahu’anhu memegang tangan sekelompok orang dari para sahabatnya seraya mengatakan, “Marilah, kita beriman barang sejenak. Marilah, kita mengingat Allah dan menambah keimanan dengan ketaatan kepada-Nya semoga Allah mengingat kita dengan ampunan-Nya.” Abud Darda’ radhiyallahu’anhu mengatakan, “Salah satu bukti kepahaman seorang hamba adalah ketika dia mengetahui apakah dia sedang menambah atau mengurangi.” Maksudnya adalah iman. “Dan bukti kepahaman seseorang ialah tatkala dia mengetahui dari manakah datangnya bujukan syaitan kepadanya.” Umair bin Habib al-Khazhami radhiyallahu’anhu mengatakan, “Iman itu bertambah dan berkurang.” Maka ada orang yang bertanya kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan bertambah dan berkurangnya?” Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah ‘azza wa jala dan memuji-Nya dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan apabila kita lalai, menyia-nyiakan dan lupa maka itulah berkurangnya.” Nukilan-nukilan dari mereka tentang perkara ini banyak sekali.

    Wahai hamba-hamba Allah
    Oleh karena itulah, sesungguhnya seorang hamba beriman yang diberi taufik akan senantiasa berusaha di dalam hidupnya untuk mewujudkan dua perkara yang agung dan tujuan yang mulia.

    Pertama: memperkuat keimanan dan cabang-cabangnya serta menggapainya dengan sungguh-sungguh dalam bentuk ilmu maupun amalan. Dan yang kedua: berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan hal-hal yang dapat meniadakan atau membatalkan serta menguranginya berupa fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi dan berusaha untuk mengobati kekurangannya pada perkara yang pertama (kekurangan dalam memperkuat iman) serta mengobati perkara yang telah dilanggarnya dari perkara yang kedua (menepis pengikis keimanan) dengan cara bertaubat dengan tulus dan murni, mengejar amal sebelum waktunya lenyap, dan menghadapkan diri kepada Allah jalla wa ‘ala dengan sepenuhnya dan hati yang jujur ingin kembali taat kepada-Nya, jiwa yang merendah dan penuh ketenangan, patuh secara penuh kepada Allah, mengharapkan rahmat Allah dan takut akan hukuman-Nya. Maka kita meminta kepada Allah Yang Maha Mulia dengan nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua untuk bisa merealisasikan itu semua dan menyempurnakannya sebagaimana yang diridai oleh-Nya bagi kita.

    Semoga Allah melimpahkan kepada kita semua rezeki berupa keimanan yang jujur dan keyakinan yang sempurna, taubat yang tulus. Dan semoga Allah mengampuni kita, kedua orang tua kita, kaum muslimin lelaki dan perempuan, kaum mukminin lelaki dan perempuan. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Yang telah memberikan kebaikan yang sangat besar dan keutamaan yang sangat luas, yang maha pemurah lagi mencurahkan kenikmatan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya semoga salawat tercurah kepadanya dan kepada pengikutnya, para sahabatnya semua, beserta keselamatan sebanyak-banyaknya semoga terlimpah kepada mereka.

    Amma ba’du.

    Wahai hamba-hamba Allah,
    aku wasiatkan kepada kalian dan diriku untuk tetap bertakwa kepada Allah. Karena sesungguhnya ketakwaan kepada Allah jalla wa ‘ala adalah asas keberhasilan dan alamat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ketakwaan kepada Allah jalla wa ‘ala yaitu dengan cara seorang hamba melakukan amal ketaatan di atas cahaya dari Allah dan mengharapkan pahala dari Allah serta dengan meninggalkan kemaksiatan ke[ada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan hukuman Allah. Wahai hamba-hamba Allah, al-Hakim di dalam Mustadrak-nya dan at-Thabrani di dalam Mu’jam Kabir-nya meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhuma, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya iman akan usang di rongga salah seorang dari kalian sebagaimana halnya pakaian, maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui iman di dalam hati kalian.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan sifat iman itu bisa usang sebagaimana halnya pakaian, maksudnya ia bisa menjadi usang dan lemah dan bisa dimasuki oleh kekurangan akibat perbuatan apa saja yang dilakukan oleh manusia, yang berupa kemaksiatan, dosa serta apa pun yang ditemui olehnya di dalam kehidupan ini berupa hal-hal yang melalaikan yang beraneka ragam, fitnah-fitnah yang besar, sehingga dapat menghilangkan kekuatan iman, kehidupannya, dan kekokohannya, sehingga memperlemah keindahan, keelokan, dan kemegahannya.

    Oleh sebab itulah maka Nabi ‘alaihis sholatu was salam membimbing kita di dalam hadits yang agung ini agar selalu menjaga dan memelihara keimanan dan amal agar kuat dan meminta kepada Allah tabaraka wa ta’ala untuk menambahkan iman itu dan menetapkannya. Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi Allah lah yang membuat kalian senang kepada iman dan memperindahnya di dalam hati kalian, dan membuat kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang lurus.” (Qs. al-Hujurat). Maka termasuk kebaikan -wahai hamba-hamba Allah- termasuk kebaikan bagi seorang hamba yang beriman untuk menasihati dirinya sendiri demi kebaikan imannya yang itu merupakan harta paling berharga padanya dan sesuatu yang paling mahal miliknya, itulah bekal terbaik untuk berjumpa dengan Allah.

    Orang yang cerdik -wahai hamba-hamba Allah- adalah orang yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk menyambut apa yang akan terjadi setelah kematian. Sedangkan orang yang tidak mampu itu adalah orang yang membiarkan diri memperturutkan hawa nafsunya dan mengangankan berbagai keinginan kepada Allah.

    Ucapkanlah salawat dan salam kepada Muhammad bin Abdullah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian di dalam Kitab-Nya, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengucapkan salawat kepada Nabi, hai orang-orang yang beriman ucapkanlah salawat kepadanya dan doakanlah keselamatan untuknya.” (Qs. al-Ahzab). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa yang bersalawat kepadaku sekali maka Allah akan mengucapkan salawat kepadanya sepuluh kali.” Terdapat pula perintah dan dorongan dari beliau ‘alaihis sholatu was salam untuk memperbanyak salawat dan doa keselamatan untuknya pada malam Jum’at dan di siang hari Jum’at, maka perbanyaklah pada hari yang cerah dan diberkahi ini dengan mengucapkan salawat dan doa keselamatan bagi Rasulullah.
    • Ya Allah, curahkanlah pujian kepada Muhammad dan kepada pengikut Muhammad sebagaimana Engkau telah memuji Ibrahim dan pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berkahilah Muhammad dan pengikut Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan pengikut Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan ridailah ya Allah, para khulafa’ur rasyidin para iman yang berjalan di atas petunjuk yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Dan ridailah ya Allah, seluruh para sahabat dan para tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat dan ridailah kami bersama mereka dengan karunia-Mu dan kemurahan serta kebaikan dari-Mu wahai Dzat Yang Termulia di antara sosok-sosok yang paling mulia.
    • Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
    • Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
    • Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah syirik dan kaum musyrikin dan hancurkanlah musuh-musuh agama.
    • Ya Allah, tolonglah orang-orang yang menolong agama ini.
    • Ya Allah belalah agama-Mu ini, Kitab-Mu, dan Sunah nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    • Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin di semua tempat.
    • Ya Allah tolonglah mereka yang ada di Palestina dan di mana saja mereka berada.
    • Ya Allah, tolonglah mereka dengan sekuat-kuatnya.
    • Ya Allah, jagalah mereka dengan penjagaan dari-Mu dan kuatkanlah mereka dengan kekuatan-Mu dan peliharalah mereka dengan bimbingan dari-Mu dan perhatian-Mu wahai Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri.
    • Ya Allah, hukumlah Yahudi yang telah merampas negeri kaum muslimin, yang melanggar batas, sesungguhnya mereka sama sekali tidak bisa melawan diri-Mu.
    • Ya Allah, porak-porandakanlah mereka dengan sehancur-hancurnya.
    • Ya Allah, buatlah hati mereka saling memusuhi dan rusakkanlah persatuan mereka, dan jadikanlah untuk mereka kekalahan yang buruk wahai Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, wahai Yang Maha Perkasa.
    • Ya Allah, berikanlah keamanan di negeri-negeri kami dan perbaikilah para pemimpin kami dan orang-orang yang menguasai urusan-urusan kami dan berikanlah tampuk pemerintah kami kepada orang-orang yang takut kepada-Mu dan bertakwa kepada-Mu serta mengikuti keridaan-Mu wahai Rabb alam semesta.
    • Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemegang urusan kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridai, dan bantulah dia untuk melakukan kebaikan dan takwa dan luruskanlah dia di dalam ucapan-ucapan dan amal-amalnya, dan anugerahkanlah kepadanya kesehatan dan keselamatan, berikanlah kepadanya rezeki berupa pembantu-pembantu yang baik yang menunjukkannya kepada kebaikan dan menolongnya untuk itu.
    • Ya Allah, berikanlah taufik kepada segenap para pemimpin kaum muslimin untuk melaksanakan isi Kitab-Mu dan mengikuti Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan jadikanlah mereka lembut dan mengasihi hamba-hamba-Mu yang beriman.
    • Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwa-jiwa kami. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik penyuci baginya. Engkau lah penguasa dan penjaganya.
    • Ya Allah, kami meminta kepada-Mu iman yang jujur, keyakinan yang kokoh, taubat yang tulus.
    • Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan, dan kecukupan diri.
    • Ya Allah, perbaikilah bagi kami agama kami yang itu merupakan penjaga bagi urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang itu merupakan tempat penghidupan kami. Perbaikilah bagi kami akhirat kami yang itu merupakan tempat kembali kami dan jadikanlah kehidupan yang masih tersisa sebagai tambahan bagi kami dalam semua kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai perhentian bagi kami dari semua keburukan.
    • Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu surga dan hal-hal yang dapat mendekatkan diri ke sana berupa ucapan maupu perbuatan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang menyeret ke sana berupa ucapan maupun perbuatan.
    • Ya Allah, damaikanlah perselisihan yang ada di antara kami, satukanlah hati-hati kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan dan keluarkanlah kami dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Berkahilah harta-harta kami, waktu-waktu kami, istri-istri kami, anak-anak keturunan kami dan jadikanlah kami diberkahi di mana saja kami berada.
    • Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami semuanya, yang kecil maupun yang besar, yang awal maupun yang akhir, yang tersembunyi maupun yang tampak.
    • Ya Allah, ampunilah kesalahan yang dulu telah kami lakukan dan belum kami lakukan, yang kami sembunyikan maupun yang kami tampakkan dan kesalahan-kesalahan lainnya yang engkau tentu lebih mengetahui tentangnya daripada kami. Engkaulah Yang mendahulukan dan engkaulah Yang mengakhirkan. Tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau.
    • Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang yang melakukan dosa dan terimalah taubat orang yang bertaubat dan tetapkanlah kesehatan, keselamatan, dan kebaikan bagi keseluruhan kaum muslimin.
    • Ya Allah, berikanlah jalan keluar bagi kesedihan orang yang dilanda duka di antara kaum muslimin dan lepaskanlah kesulitan orang-orang yang tertimpa kesulitan, dan tunaikanlah hutang orang-orang yang terlilit hutang, dan sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan yang sakit di antara kaum muslimin yang lain.

    Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri maka apabila Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi. Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa neraka.

    Wahai hamba-hamba Allah
    Ingatlah kepada Allah Yang Maha Agung niscaya Dia akan mengingat kalian. Dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang diberikan-Nya kepada kalian niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepada kalian. Sungguh mengingat Allah itulah yang terbesar. Allah Maha Mengetahui apa pun yang kalian kerjakan.

    خطبة الجمعة ليوم 9/5/1428هـ
    بعنوان: الإيمان وأسباب زيادته ونقصان
    Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-’Abbad
    ***
    Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
    Artikel www.muslim.or.id





    Sunday, April 11, 2010

    Akankah Amalku Diterima? Sunday, April 11, 2010

    Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

    Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.

    Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?

    Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:

    “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)

    Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.

    Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.

    Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan
    Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.

    Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.

    Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.

    Allah berfirman di dalam Al Qur’an:

    “Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)

    Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”

    Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

    “Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)

    Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.

    AMAL
    Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:

    “Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)

    Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”

    Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169

    Allah berfirman:

    “Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)

    Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

    Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

    “Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)

    Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170

    Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)

    Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?

    SYARAT DITERIMA AMAL
    Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:

    Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.

    Allah Subhanahuwata’ala berfirman;

    “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)

    Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:

    “Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)

    Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.

    Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:

    “Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

    Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.

    Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah benar?

    Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.

    Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.

    Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

    “Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)

    Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396

    Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.

    Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah.

    Wallahu a’lam.

    Dikutip dari http://www.asysyariah.com Penulis: al Ustadz Abdurrahman Lombok, judul asli Akankah Amalku Diterima?

    wassalam, Abu Muawiah

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *