Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Debat (Notes). Show all posts
Showing posts with label Debat (Notes). Show all posts

Sunday, October 29, 2017

Hal Ikhwal Roh Menurut Keyakinan Umat Kristen Sunday, October 29, 2017


Perhatikan SS di bawah ini. 
Ini adalah "rebuttal" dik Marek Andrzej Rejniak terhadap salahsatu TS GM yang mempertanyakan ROH menurut doktrin kristen di sini.  Menurutnya, GM harus baca penjelasannya ini supaya mengerti "ilmu tingkat tinggi" kristen tentang ROH, dan supaya GM jangan bego terus kalau sudah bicara tentang ROH yang sangat dipahami seluk-beluknya oleh semua umat Krsiten. 

Lihat TS aslinya di sini, atau klik nama pemilik TS di bawah ini.


Tanpa perlu mempersoalkan penggunaan bahasa dan pilihan kata sebagai ungkapan rasa frustrasi yang sarat dengan ad-hominem kepada GM -- sebab itu adalah bukti betapa "halusnya" AJARAN KASIH Kristen -- maka membaca tulisan ini komentar pertama saya adalah, PENJELASAN YANG LUAR BIASA!

Tapi sayangnya masih mengundang banyak tanya, paling tidak pertanyaan kofirmasi untuk setiap paparannya, sebab dik Marek sudah terlanjur menganggapnya sebagai dalil-dalil shahih tentang definisi berbagai Roh berdasarkan informasi dari kitabnya.

Dalam TS bahkan disebutkannya bahwa Al-Quran "menyontek" informasi tentang Roh dari alkitab.  Jujur saja, saya kagum dan inilah sebabnya kenapa sejak awal tadi saya sudah tidak ragu untuk menybut penjelasannya tsb sebagai hal yang luar biasa!

Dik Marek memulai penjelasannya dengan menyatakan -- jadi ini pernyataan -- bahwa Roh adalah kehidupan.  Sebelum Tuhan memulai penciptaan yang melengkapi langit dan bumi, maka yang ada hanyalah ROH ALLAH sendiri di atas air. Tidak menyebutkan dalil kitabnya, tapi kita semua bisa langsung faham yang dimaksud tentulah Kejadian 1:2 yang sudah puluhan kali dibahas di banyak grup debat dan selalu saja berakhir dengan penuh gelak tawa karena TERBUKTI merupakan ayat ERROR!

Tapi kali ini kita tidak sedang mentertawai ayat ini, melainkan lebih fokus pada pembuktian klaim "pintar" dik Marek bahwa ROH ALLAH yang melayang-layang di atas permukaan samudra itu adalah ALLAH.

Bagaimana rata-rata pengikut Paulus mengartikan ROH ALLAH adalah ALLAH?
Salahsatu dalil yang masih sangat kuat mereka imani adalah ayat Kejadian 1:2 tadi.

Di sana tertulis begini: 

Bumi belum berbentuk dan kosong ; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kita bisa melihat dengan jelas bahwa rangkaian kata ROH ALLAH itu terdiri dari 2 suku kata, dan masing-masing kata sebetulnya menerangkan dirinya sendiri-sendiri sebagai dua objek yang berbeda. Yang satu adalah ROH dan yang lainnya adalah ALLAH. Artinya ROH dan ALLAH bukan ALLAH. Tapi pengikut Paulus tidak mau perduli. Pokoknya ROH ALLAH adalah ALLAH, titik!

Jadi kalau misalnya kita ganti kata ROH dalam kalimat itu dengan SENDAL JEPIT,  sehingga susunannya menjadi;

" ....... dan SENDAL JEPIT ALLAH melayang-layang di atas permukaan air",

maka umat tersesat ini akan tetap meyakini bahwa SENDAL JEPIT adalah ALLAH!

Dengan demikian, demi menjunjung tinggi nalar semua orang waras di muka bumi ini, klaim dik Marek bahwa ALLAH adalah ROH dalam "preambule" penjelasannya yang menggebu-gebu tentang ROH, terpaksa dinyatakan langsung ROBOH alias NYUNGSEP, cuma oleh sepasang sendal jepit!

Selanjutnya dik Marek menjelaskan bahwa "ternyata" ROH itu ada DUA. Yaitu ROH ALLAH dan ROH SEGALA MAKHLUK HIDUP.  Sedangkan dalam konteks ini, ROH ALLAH adalah "sumber segala roh mahluk hidup." 

Untuk menguatkan penejelasannya dia merujuk Bilangan 16:22 dan Bilangan 27:16 dalam  kitabnya sbb:

Tetapi sujudlah mereka berdua dan berkata: "Ya Allah, Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini? " 

"Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala makhluk, mengangkat atas umat ini seorang .. "

Memperhatikan dua ayat ini, maka seandainya kita tanya (sekedar untuk konfirmasi saja) bagaimanakah kitab adik kita ini mendefinisikan MAKHLUK? 

Saya yakin dia akan bingung sendiri, sebab kitabnya tidak pernah mejelaskan definisi "makhluk" seperti yang dipahami oleh umat manusia pada umumnya. Apalagi jika  kita minta kepastian, apakah Bilangan 16:22 dan 27:16 itu termasuk bicara tentang maklhluk-makhluk di sekitar kita, misalnya saja tumbuhan? 

Tumbuhan yang jelas-jelas adalah makhluk hidup, apakah menurut kitabnya juga memiliki roh?

Atau jika kita minta dia untuk menyebutkan objek-objek apa sajakah yang dimaksud sebagai "makhluk" menurut Bilangan 16:22 dan 27:16? Saya yakin dia akan ngarang bebas sebebas-bebasnya!

Sekedar referensi, umat di luar lingkar doktrin kristen mengenal definisi "makhluk" antara lain sbb:

Makhluk [makh·luk]  adalah sesuatu yang dijadikan atau yang diciptakan oleh Tuhan, seperti manusia, binatang, tumbuhan dlsb.

Contoh: 

  • Makhluk Dini (makhluk beragama): yaitu makhluk religius yang menjelaskan seorang anak manusia bukan saja makhluk jasadi, makhluk akhlaki, tetapi juga makhluk dini, 
  • Makhluk Halus: yaitu makhluk yang dianggap hidup di alam gaib yang berada di luar alam fisik, misalnya setan, jin, iblis dlsb, 
  • Makhluk  Ijtimaiah (makhluk sosial):  Makhluk  ijtimaiah berkewajiban membantu tetangga yang sedang mendapat musibah, 
  • Makhluk Rohaniah: yaitu makhluk yang tidak mempunyai nafsu, tidak memerlukan makan dan minum, bukan laki-laki dan bukan perempuan; contohnya malaikat, 
  • Makhluk Sosial: yaitu manusia yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lain, 
  • Makhluk Syahsiah (makhluk individu):  yang menegaskan bahwa sebagai individu, setiap orang mempunyai kewajibannya sendiri-sendiri  terhadap Allah.

CATATAN: Jadi, untuk mengerti apa itu "makhluk" dalam konteks ini tidak perlulah melihat berbagai definisi terkait "Makhluk"  menurut ajaran Islam yang jauh lebih kompleks, tapi cukup lihat definisi "MAKHLUK" menurut KBBI saja dulu.

Nah, kembali ke masalah ROH, dik Marek menyebutkan bahwa ROH CIPTAAN mudah sekali diketahui karena dapat rusak. Segala yang dapat rusak pasti ciptaan, demikian dia menjelaskan.

Membaca ini, tentu saja pembaca terdorong untuk segera bertanya, bagaimanakah caranya kau mengetahui mana yang ROH ALLAH dan mana ROH CIPTAAN?

Jika untuk membedakan kedua Roh ini saja tidak ada satu pengikut Paulus pun yang mampu, lalu bagaimana pula caranya kau dapat membuktikan bahwa ada roh ciptaan yang rusak?

Dengan penuh percaya diri dia "mencontek" apa yang dia pikir adalah ajaran Islam, bahwa Roh yang bisa rusak ini adalah Nyawa. Ya! Dia mengartikan Roh Ciptaan Allah sebagai nyawa! Artinya, harap dicatat! Paparannya tentang roh sudah bergeser menjadi nyawa!

Dan hebatnya, merujuk ayat Imamat berikut ini dia menegaskan BUKTI bahwa nyawa manusia ada dalam darahnya.

Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa. 

Ini dikuatkannya dengan penjelasan lebih pede lagi, bahwa untuk membuktikannya, dia menyarankan; "cobalah habiskan darahmu!"  karena jika manusia kehabisan darah, maka dipastikan dia akan mati!

Tentu saja! Dan tentang "mati kehabisan darah" ini tidak perlu alkitab untuk menjelaskannya, sebab setiap paramedis, apalagi Medikal Dokter, pasti dapat menjelaskannya dengan sangat rinci!

Rupanya adik kita ini sama sekali tidak menyadari FAKTA bahwa di atas penjelasannya itu, sejak jaman Adam dulu hingga hari ini, ada jutaan, bahkan milyaran manusia yang mati tanpa perlu mengeluarkan setetes darahpun dari tubuhnya. Artinya, manusia-manusia ini mati karena menurut Allah, Sang Penciptanya, memang sudah saatnya mereka harus mati!

Dan kalau dik Marek mengira penjelasannya tentang "Roh yang bergeser menjadi Nyawa" tadi berasal dari ajaran Islam, maka berbeda dengan angan-angannya, sesungguhnya Islam punya "logical explanation" tersendiri kenapa dan bagaimana prosesnya sehingga seorang manusia yang tadinya hidup kemudian mati. Sama sekali berbeda dengan apa yang diimani oleh umat Paulus!

Ini membuktikan bahwa "bergesernya" penjelasan adik kita tentang Roh yang berobah menjadi nyawa tadi, apalagi dengan mengandalkan dalil Imamat 17:11, praktis JEBOL, alias NYUNGSEP, karena tidak sesuai dengan kenyataan!

Kita lanjut ke wilayah yang lebih menakjubkan lagi, yaitu dimensi dunia ghaib, di mana semua jenis "makhluk halus" seperti Malaikat, Iblis, Jin, Setan, dan "hantu belau" lainnya hidup dan menjalankan segala aktifitasnya sehari-hari.

Dik Marek menjelaskan bahwa karena "makhluk halus" ini tidak memiliki darah, daging, dan tubuh sebagai wadah, maka yang tinggal ya, cuma rohnya doang! Artinya, semua makhluk halus ini dipastikannya BERWUJUD ROH! Itu sebabnya kenapa tidak dapat dilihat oleh manusia.

Sekali lagi adik kita luput memperhitungkan bahwa penjelasannya ini pasti mengundang pertanyaan sangat krusial seperti yang sejak awal tadi sebetulnya sudah ditanyakan oleh pemirsa;

"Jika kau tak kuasa melihat wujud masing-masing makhluk halus ini, lantas bagaimana pula caranya kau bisa membedakan mana Iblis, mana Malaikat, mana Jin, mana Setan, dan mana hantu belau lainnya? 

Jelas ini akan sangat sulit untuk dijawab, bukan saja oleh dik marek, tapi oleh 10 orang pendeta sekalipun! Kenapa? Karena kitab mereka tidak menjelaskan apa-apa tentang ini!

Sekali lagi, sangat jauh berbeda dengan Al-Quran yang membekali umat Islam dengan pengetahuan cukup tentang ini.

Dengan demikian, penjelasan dik Marek tentang wujud "maklhluk halus" bergenre Malaikat, Iblis, Jin, Setan, dan "hantu belau" lainnya dianggap GAGAL TOTAL, alias NYUNGSEP, karena tidak dapat bergeser lebih jauh lagi dari stigma konyol bahwa wujud mereka adalah Roh!

Masih berbekal segala dalil NYUNGSEP tadi, adik kita ini nekad melanjutkan penjelasannya dengan "promosi gila" bahwa kalau kita menerima Yesus sebagai Tuhan, maka Roh kita yang konon katanya tercemar akan dibersihkan, tapi entah oleh siapa!

Jadi ceritanya balik lagi dari yang tadinya sempat locat ke Nyawa, sekarang kembai ke Roh, dan kali ini dia bicara tentang wadah Roh pengikut Paulus yang mati, yang katanya kelak akan diganti dengan tubuh baru yang 100% anti rusak.

Sekalipun  tentang "tubuh baru" itu tidak disebutkan dalil kitabnya, tapi kita langsung mengerti bahwa maksudnya tentulah doktrin tentang "tubuh baru" yang akan digunakan oleh pengikut Paulus, termasuk rombongan dari Indonesia, kelak di sorga. Tapi sekedar info saja, sori nih, tidak jelas entah di sorga yang mana! 

Kenapa? 
Karena sepanjang yang diajarkan oleh Yesus dalam seluruh khidmatnya, jelas sorga yang beliau maksud hanya untuk bangsa Israel, dan itupun jumlahnya sangat terbatas hanya untuk 144.000 orang saja!

Adapun tentang "tubuh baru" dan hidup di sorga ini, junjungan umat Kristen sendiri, yakni Paulus; dan pengarang injil mereka, Matius; menjelaskannya begini:

Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. 

Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.

Tahukah anda di mana letak CACAT NALAR penjelasan dik Marek tentang ini?

Begini:
Di awal cerita tadi dik Marek sudah menjelaskan dengan demikian menggebu-gebu bahwa karena tidak ada wadahnya, alias tidak ada tubuhnya, maka wujud makhluk halus bergenre Malaikat itu adalah seperti Roh yang notabene: tidak dapat dilihat oleh manusia.

Sedangkan dalam salahsatu doktrinnya Paulus menegaskan bahwa tubuh kedagingan manusia tidak akan mendapat tempat di sorga!

CATAT!
Menurut adik kita ini malaikat itu TIDAK MEMILIKI TUBUH!
Tapi kemudian dia bercerita bahwa kelak pengikut Paulus yang menuhankan Yesus akan dibangkitkan dengan "tubuh baru" guna menjalani hidup SEPERTI MALAIKAT di sorga! 

Nah, bayangkanlah dengan segenap kemampuan olah pikir akal sehat anda; bagaimanakah bentuk "tubuh baru" seperti milik Malaikat yang "tidak ada tubuhnya" itu?

Jadi DUA MIMPI INDAH dik Marek mewakili umat kristen seluruh Indonesia tentang "tubuh baru" dan hidup "happily ever after" di Sorga sekaligus AMBROL alias NYUNGSEP, sebab terbukti melawan dalil kitabnya sendiri!

Puncaknya, dik Marek menantang GM untuk debat melawan keyakinanya bahwa ALLAH ADALAH ROH!

Guna memuaskan nafsunya yang sejak dulu memang demikian besar untuk membuat GM rersungkur dalam debat,  maka saya ikuti kemauannya dengan cara megajaknya mencari dalil paling shahih dari ALLAH sendiri dalam kitabnya, di bagaian mana Bibelkah ALLAH pernah berfirman bahwa wujud-Nya adalah ROH?

Seperti semua pengikut Paulus tiap kali diminta untuk menunjukkan dalil alkitab terkait iman mereka yang langsung berputar-putar seperti anak anjing mengejar ekor sendiri, maka adik kita ini juga melakukan aksi serupa! (Lihat selengkapnya di sini)

Terlepas bagaimana keras pun dik Marek berdolah-dalih, bahkan sampai nekad menuding GM kehabisan amunisi dan karenanya keok dalam debat, namun semua aksi "menghibur diri sendirinya" itu sama sekali tidak merobah kenyataan bahwa tetap saja dia tidak mampu menunjukkan BUKTI bahwa ALLAH pernah menyatakan DIRI-NYA sebagai ROH!

Dan untuk mengakhiri omong kosong dengannya sekaligus membuktikan bahwa sejatinya ALLAH BUKAN ROH seperti yang selama ini diimaninya, GM hanya menunjukkan 3 dalil saja dari kitabnya sendiri, yaitu:

Tidak ada yang seperti Allah, hai Yesyurun. Ia berkendaraan melintasi langit sebagai penolongmu dan dalam kejayaan-Nya melintasi awan-awan. 

Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulah-Ku terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi. 

Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. 

Jadi jika sejak awalnya dik Marek sudah menjelaskan dengan mulut sampai berbusa-busa bahwa Malaikat, Iblis, Jin, Setan, dan "hantu belau" lainnya adalah Roh, maka di akhir cerita tentu menjadi MUSTAHIL baginya untuk menyatakan bahwa ALLAH adalah ROH.

Sebab selain ALLAH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DIRI-NYA SEBAGAI ROH, Apa yang justru ALLAH jelaskan ternyata demikian sangat terang benderang bahwa TIDAK ADA YANG SEPERTI DIA!

Artinya, ALLAH TIDAK SAMA DENGAN SEGALA CIPTAAN-NYA YANG DAPAT KALIAN BAYANGKAN, TERMASUK TENTU SAJA TIDAK SAMA DENGAN APA YANG KALIAN SEBUT-SEBUT SEBAGAI ROH!

TEGASNYA: Jika ada ciptaan-Nya yang berbentuk ROH, maka dengan sendirinya ALLAH BUKAN ROH!

Sudah faham sekarang?

Kalau sudah, coba hitung sendiri, ditambah penutup cerita ini, sudah berapa banyak kau NYUNGSEP di lapak sendiri seperti kebiasaan Laskar Bakul Jamu yang kau wakili, dik Marek Andrzej Rejniak?

Jadi nasehatku, PELAJARILAH KITABMU LEBIH SERIUS DAN LEBIH GIAT LAGI!
Okeh?


[Catatan Ringan Gus Mendem] 

Monday, June 2, 2014

Islam Tidak Mengenal Doktrin Penebusan Dosa! Monday, June 2, 2014


Berdasarkan hadits ini: "Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kpada kami Abu Usamah dari Thalhah bin Yahya dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata: "Rasulullah saw telah bersabda: 'Pada hari kiamat kelak, Allah Swt akan menyerahkan seorang Yahudi ataupun seorang Nasrani kepada setiap orang Muslim. Kemudian Allah Swt akan berkata: 'Inilah penebusmu dari siksa api neraka." [Hadist Sahih Muslim 4969, Kitab 50 - Bab 1319]

Dalam salahsatu lapaknya di forum GUS MENDEM & KAWAN KAWAN, nampaknya seorang Theos Anner berupaya meyakinkan dirinya sendiri -- dan orang banyak tentunya -- bahwa di dalam ajaran Islam pun sebenarnya ada doktrin PENEBUSAN DOSA.

Dengan kata lain, menurutnya doktrin penebusan dosa dalam Kristen adalah ajaran yang pararel dengan ajaran Islam!

BEGINI:
Supaya penjelasan lebih lengkap, lihat juga hadits pembandingnya:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di hari kiamat kelak, sekelompok dari kaum muslimin akan datang membawa dosa mereka sebesar gunung. Lalu Allah mengampuni dosa-dosanya, kemudian dibebankan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan nasrani. (Itu menurut perkiraanku). Rauh berkata; "aku tidak tahu dari siapa keraguan ini." Abu Burdah berkata; "Maka hal ini aku ceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz. Lalu dia bertanya; "Apakah Bapakmu menceritakan hal ini dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?" Aku menjawab; "Ya." [HR Muslim 4971]

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal kecuali Allah akan memasukkan (memperlihatkan) ke dalam tempatnya neraka Yahudi atau Nashrani." [HR Muslim 4970]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah eorang mukmin meninggal kecuali Allah 'Azza Wajalla akan menggantikan tempatnya di neraka dengan orang yahudi dan nasrani." [HR Ahmad 18666]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, kecuali Allah 'azza wajalla akan menggantikan tempatnya di neraka dengan seorang Yahudi atau Nasrani." [HR Ahmad 18739]

Dari semua hadits tsb, maka kesimpulan dari kata 'penebus' adalah:

Bahwa dosa-dosa seorang Muslim yang diampuni oleh Allah 'dipindahkan' kepada Yahudi dan Nasrani yang kafir. 

Kepada Muslim akan diperlihatkan neraka yang sedianya menjadi tempatnya karena dosa-dosanya, namun kemudian tempat tersebut digantikan oleh Yahudi dan Nasrani yang kafir.

Kondisi ini sesuai dengan firman Allah:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (QS. Al-Mukminuun:1), Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Mukminuun:10-11) 
Kata 'waaritsuuna' dan 'yaritsuun' berasal dari akar kata 'waw-ra-tsa', maknanya berkisar pada "peralihan dari sesuatu kepada sesuatu yang lain".

Ada yang memahami ayat tersebut dalam arti, orang mukmin yang sudah memenuhi syarat akan mewarisi, yakni akan dialihkan kepada mereka surga yang tadinya Allah persiapkan untuk semua manusia. Tetapi karena ada di antara mereka yang kafir maka mereka tidak berhak memperolehnya.

Dengan demikian surga yang Allah siapkan buat orang-orang kafir tersebut diwarisi oleh seorang mukmin, atau beralih kepemilikannya. [Tafsir al-Mishbah buku ke-9 hal 162]

Jadi konsep surga dan neraka dalam ajaran Islam sebenarnya adalah begini:

Pada hakekatnya semua manusia sudah dipersiapkan oleh Allah tempatnya di neraka dan di surga, tidak peduli apakah dia seorang muslim atau bukan. Artinya, untuk muslim disiapkan 'kapling' di surga dan di neraka, demikian pula halnya bagi orang-orang kafir.

Apakah akhirnya nanti seorang hamba Allah akan masuk ke surga atau neraka yang sudah disiapkan tsb, sangat tergantung kepada pilihannya sendiri selama hidup di dunia. Apakah dia memilih menjadi kafir atau manusia beriman, menjadi orang baik atau tidak, dlsb. Semua itu ada perhitungannya sendiri-sendiri.

Ketika seorang kafir masuk neraka, maka kaplingnya di surga menjadi kosong atau tidak bertuan, itulah yang kemudian diwariskan kepada seorang mukmin. Sebaliknya, ketika seorang mukmin masuk surga, maka tempatnya yang sudah disediakan di neraka menjadi kosong, dan itulah yang kemudian diberikan kepada seorang kafir.

Jadi, selain seorang penghuni surga memperoleh jatahnya, dia juga mendapat warisan dari jatah orang kafir yang tidak dipergunakan. Itu sebabnya ayat Al-Qur'an yang lain menginformasikan bahwa:

"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, ada dua surga." (QS. Ar-Rahmaan: 46)

Sebaliknya buat kafir akan mengalami siksa neraka yang berlipat-ganda, selain menerima 'jatah'nya, si kafir juga mewarisi jatah neraka yang 'batal diisi' oleh seorang muslim.

Allah berfirman:
"Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui". (QS. Al-A'raaf: 38)

Sampai di sini, apa yang kemudian sangat penting untuk diketahui dan difahami dengan benar adalah definisi "MUSLIM" dan definisi "KAFIR" menurut ajaran Islam.

Secara ringkas, definisi "MUSLIM" dapat diartikan sebagai seorang [pelaku] yang dengan kesadaran penuh menyatakan dirinya patuh, tunduk, dan berserah diri kepada Allah SWT, baik secara rohani, lisan, maupun perbuatan.

Sedangkan "KAFIR" adalah kebalikannya, yaitu orang-orang yang kuffar atau melawan segala perintah maupun larangan Allah SWT secara lahir bathin!


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Wednesday, May 14, 2014

Al-Quran: Pertemuan Nabi Musa AS Dengan Allah Wednesday, May 14, 2014

Dalam salahsatu threadnya berjudul Satu Cerita Tiga Versi Dalam Alquran di forum diskusi GUS MENDEM DAN KAWAN-KAWAN, dengan bermodalkan studi terjemah Al-Qur'an dan riwayat urutan turunnya surah-surah Al-Quran, sparing-partner lama saya;Theos Anner, MEMPERTANYAKAN periwayatan 'pertemuan' nabi Musa dengan Allah yang menurutnya tidak konsisten karena bentuk penulisan dalam ayat-ayat yang merujuk kepada peristiwa tsb [dia menukil QS. 27:7-12; QS 28:29-35; dan QS 20:9-36] berbeda-beda.

Intinya -- seperti mudah sekali ditebak -- dia ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa firman ALLAH dalam Al-Qur'an mencla-mencle, dan hal ini sudah tentu cukup dijadikan alasan untuk mengajak seluruh pembaca supaya meragukan kebenaran Ilahiyah dalam Al-Qur'an.

Sebetulnya tidak ada yang aneh pada periwayatan dalam 3 surah yang ditudingnya sebagai '3 versi' tsb, sebab riwayat dalam QS. 27:7-12 sejatinya adalah 'penggalan' wahyu Allah kepada nabi Muhammad saw yang menceritakan tentang mukjizat tongkat nabi Musa dalam peristiwa -- kita persingkat saja -- pada QS 28:29-30 dan QS 20:9-14. 

Sedangkan muatan paling substansial dari QS 28:29-30 dan QS 20:9-14 sebenarnya adalah tentang bagaimana ALLAH MEMPERKENALKAN DIRI kepada nabi Musa. 

Dan karena peristiwa ini sama-sama tertulis, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Alkitab, maka cerita selanjutnya menjadi sangat menarik, sebab tela'ah komparatif terhadap dua kitab ini tentang peristiwa yang sama ternyata berujung menjadi bumerang bagi si penggugat Al-Qur'an!
PERIWAYATAN AL-QUR'AN TENTANG PERTEMUAN NABI MUSA DENGAN TUHAN 
Ketika beliau keluar dari negeri Madyan untuk kembali ke Mesir, di perjalanan Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Al-Qur'an memuat kisah ini dalam 2 rangkaian ayat yaitu pada [QS 28:29-30] dan [QS 20:9-14] 

[28:29] Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".

[28:30] Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam (Innii anaa allaahu rabbu al';aalamiina)

[20:9] Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? 
[20:10] Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu". 
[20:11] Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. 
[20:12] Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. 
[20:13] Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). 
[20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau';budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii).

Secara jelas Al-Qur'an menginformasikan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan nama "Allah", yang tiada "ilah" selain diri-Nya. Informasi ini menunjukkan bahwa nama tersebut merupakan proper name dari Tuhan. BUKAN istilah atau nama jabatan.

Kita menemukan catatan alkitab terhadap peristiwa yang sama pada kitab Keluaran 3:2-14 dengan gaya bahasa yang 'sangat manusiawi' tetapi sedikit agak 'complicated' sbb: 

[Keluaran 3:2-14] Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

Dalam rangkaian cerita ini terlihat pemakaian istilah untuk Tuhan dengan bermacam-macam sebutan: Malaikat TUHAN, Allah dan TUHAN. 

Dalam terminologi Kristen, kata Allah adalah nama jabatan, sedangkan kata TUHAN merupakan terjemahan dari nama diri YHWH (sebagian Kristen melafadzkannya dengan Yahweh, sebagian lain Yehova atau Jehova). Tidak jelas apakah ketika Tuhan akan bertemu dengan Musa, malaikatnya 'mempersiapkan jalan' terlebih dahulu, lalu baru Tuhan muncul dan menyapa Musa. 

Dan agak aneh juga ketika Musa menjawab: "ya Allah", maksudnya tentu "ya Tuhan", untuk menunjukkan bahwa Musa sudah mengerti yang menyapanya adalah Tuhan. Dan dialog 'nggak nyambung' ini kembali terjadi ketika Tuhan melanjutkan dengan penjelasan: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub." Tentunya ini dimaksudkan sebagai, "Akulah Tuhan dari nenek-moyangmu!" 

Lagi-lagi dialog ini terlihat nggak nyambung karena dari caranya menjawab, tampak jelas Musa sudah mengetahui bahwa yang menyapanya adalah Tuhan. Artinya Musa tentu memahami kalau Tuhan yang menyapanya merupakan juga Tuhan dari nenek-moyangnya, kecuali kalau Musa memang belum mengerti menggunakan logika sederhana ini.

Setelah Tuhan menjelaskan siapa diri-Nya dan melanjutkannya dengan perintah agar Musa menyelamatkan kaumnya dari siksaan Fir'aun di Mesir, Musa terkesan ragu. Dan keraguannya itu tampak bukan karena harus berhadapan dengan Fir'aun, tapi justru ditujukan kepada kaumnya sendiri. Musa mengatakan "apabila aku mendapatkan orang Israel" menunjukkan prediksinya bahwa amanat yang akan dia laksanakn akan mendapat tantangan dari kaum Israel sendiri, dan tantangan tersebut pasti terkait dengan pertanyaan: "Siapa yang menyuruh Musa?" 

Kembali dialog terlihat aneh karena Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan nenek-moyang Musa sekaligus merupakan Tuhan dari kaum Israel yang akan diselamatkan, tapi mengapa Musa masih meragukan sikap dari kaumnya sendiri? 

Sebagian tafsir Kristen mengungkapkan perkataan Musa selanjutnya soal pertanyaan tentang nama Tuhan:

"Mah shemo?" [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya "mi?" Namun penggunaan kata "ma", bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu. [Lihat penjelasannya di sini]  

Lalu Tuhan menjawab "Aku adalah Aku" dan "Akulah Aku yang mengutus kamu." 

Lebih lanjut penafsiran dari link tersebut:

"Ehyeh Asyer Ehyeh" yang artinya "AKU ADA YANG AKU ADA". Tapi Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkannya dengan sebagai, "AKU ADALAH AKU." 

Terjemahan ini tidak tepat. Jika "AKU ADALAH AKU", seharusnya dalam teks Ibrani tertulis "ANOKHI HAYAH ANOKHI". Kenapa? Sebab kata "EHYEH", merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata "HAYAH". 

G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan bahwa kata "Hayah" digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: 

1. "Exist, be Present" [Ada, Hadir] 
2. "Come into Being" [menjadi] 
3. Auxilaries Verb [kata kerja bantu]

[f2]. DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya IMAN KRISTEN, menyatakan bahwa kata "Ehyeh" bermakna "Aku Berada."  Namun penulis lebih cenderung menerjemahkannya menjadi "AKU [AKAN] ADA!"

Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyatakan nama diri-Nya. Hal ini berbeda dengan informasi Al-Qur'an yang menyatakannya dengan jelas bahwa Tuhan yang dimaksud adalah ALLAH. Penyebutan nama Tuhan berdasarkan Al-Qur'an tersebut juga bukan berasal dari pertanyaan Musa yang ragu akan sikap kaumnya, tapi merupakan 'inisiatif' Tuhan sendiri. Al-Qur'an mencatat kekhawatiran Musa justru tertuju kepada Fir'aun, bukan kepada bgaimana sikap kaumnya nanti.

[20:45] Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas."

[20:46] Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat."

Alkitab melanjutkan ceritanya bahwa pengenalan nama Tuhan dilakukan setelah Musa dan Harun menghadap Fir'aun dan meminta agar dia membebaskan kaum Israel dari penindasan. Lalu Fir'aun bereaksi dengan mempersulit pekerjaan kaum Israel (Keluaran 5:6-19) sehingga membuat Bani Israel berbalik menyalahkan Musa (Keluaran 5:20-21). Akibatnya, Musa 'memprotes' Tuhan (Keluaran 5 :22-23). Setelah itu Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan menaklukkan Fir'aun (Keluaran 6:1) dan ini dilanjutkan dengan 'proklamasi' nama Tuhan secara berulang-ulang:

Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: 

"Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN."

Kata TUHAN merupakan terjemahan dari YHWH, suatu nama yang dianggap merupakan nama diri Tuhan dalam kekristenan. Kisah ini menjelaskan bahwa jawaban Tuhan sebelumnya atas keraguan Musa terhadap umatnya tidak bekerja dengan efektif. Pernyataan "Aku adalah Aku" tidak akan bisa meyakinkan orang-orang Israel begitu mereka mendapat tekanan dari Fir'aun, sehingga Tuhan kembali menjelaskan siapa diri-Nya dengan menyatakan nama diri 'YHWH', lalu dilanjutkan dengan janji-janji bahwa kaum Israel yang mau mengikuti Musa akan dibebaskan dari perbudakan dan diberikan negeri yang dijanjikan kepada nenek-moyang mereka. 

Ada satu pernyataan yang menarik disini. Ketika Tuhan menegaskan bahwa nama YHWH tersebut belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub sekalipun Tuhan telah membuat perjanjian dengan mereka. Lalu dengan memakai nama apa Tuhan membuat perjanjian tsb? Katakanlah ada 2 pihak membuat perjanjian, seharusnya masing-masing pihak mencantumkan nama jelas yang menunjukkan identitasnya, kemudian keduanya membubuhkan tanda-tangan di atas materai sebagai suatu ikatan yang mengikat bagi masing-masing. Sangat aneh kalau ada salah satu pihak tidak mencantumkan nama jelasnya. Itu tidak dapat difahami sebagai suatu perjanjian, atau jika dipaksakan juga, maka merupakan perjanjian yang sangat ganjil. Dan hebatnya lagi, kaum Israel tetap saja tidak mempercayai nama yang disampaikan Musa (Keluaran 6:9)

[Lihat bagaimana alkitab memuat informasi yang simpang-siur tentang kapan nama YHWH pertama kali diperkenalkan di sini]

Persoalan ini tentu saja memunculkan banyak teori dari kalangan Kristen sendiri, dan tidak ada satu pihakpun yang bisa memastikan yang mana dari sekian banyak pendapat mereka yang benar.
  • Teori pertama dikemukakan oleh John Mc.Faydyen
Menurutnya, para Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama Tuhan bagi orang Israel.
  • Teori kedua dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson
Menurut mereka, ungkapan dalam Keluaran 6:3 bukan suatu pernyataan melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat, "Namun dengan Nama-Ku, Yahweh, belumkah, atau tidakkah Aku memperkenalkan diri pada mereka?"
  • Teori ketiga dari Henry Cowles. 
Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3 merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai nama Yahweh, namun bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para leluhur Israel. [Lebih lengkap, lihat di sini]

Si penulis lalu menyatakan keberpihakannya kepada teori ketiga dengan menyatakan:
Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat ini adalah: Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam [Kej 2:7], Enos [Kej 4:26] dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham, Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk menyebut nama Yahweh. Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai pemberi Torah bagi Israel. Ketiga, makna kata "tidak" atau "belum" dalam Keluaran 6:2, bukan bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan karakter dan karya-Nya.

Dalam suatu diskusi dengan penulis yang bersangkutan, dia menerima jawaban mengapa sampai nama YHWH tersebut tidak familiar dan populer pada jalan manusia sebelum Musa, dan jawabannya adalah: "Karena manusia semakin jauh terpisah dari Tuhan (Kej 3:24) maka bukan hanya mengakibatkan disorientasi hubungan personal dengannya melainkan pengetahuan mengenai nama pribadinya." Ini jelas merupakan alasan yang kembali menimbulkan tanda-tanya:

1. Karena Kejadian 3:24 bercerita tentang Adam dan Hawa, maka jika alasan tersebut yang digunakan, maka seharusnya pihak yang 'lupa' pada nama Tuhannya adalah Adam dan Hawa. Namun pada Kejadian 4:1 justru Hawa-lah yang dinyatakan menyebut nama tersebut. 

2. Jika terkait dengan soal popularitas, maka tentunya harus dijelaskan berapa banyak manusia sebelum jaman Musa yang bertindak jauh dari Tuhan dan berapa banyak yang merupakan hamba-Nya yang taat. Hal ini tidak bisa digeneralisir karena tokh disebut-sebut bahwa nama YHWH sudah dikenal?

Jelas terlihat betapa alasan yang dikemukakan sangat lemah, dan teori-teori yang muncul di sekitar simpang-siur informasi kapan nama YHWH tersebut pertama kali diperkenalkan pun tetap menjadi tanda-tanya besar.

ASAL MULA NAMA YHWH DAN TEMUAN ARKEOLOGI
Dari persepektif Islam, akan muncul pertanyaan: "Jika Al-Qur'an menyatakan bahwa nama tersebut adalah 'ALLAH' sedangkan alkitab menyebutnya YHWH, lalu darimana asalnya nama YHWH tersebut?" 

Indikasi tentang asal-mula nama ini bisa kita dapati pada temuan arkeologi berupa prasasti yang dibuat pada jaman Fir'aun Amenhotep III [Baca penjelasannya di sini]

Prasasti tersebut diperkirakan dibuat tahun 1400 BC pada masa pemerintahan Fir'aun Amenhotep III. Fir'aun ini termasuk salah seorang raja Mesir dari generasi ke-18, yaitu suatu generasi raja-raja Mesir yang berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan menyebar sampai ke wilayah Syria dan Palestina, sehingga terbuka kemungkinan untuk berinteraksi dengan suku-suku nomaden yang mendiami wilayah tersebut. Orang Mesir menjuluki suku-suku nomaden tersebut dengan kata 'Shahu'. Al-Qur'an dan alkitab mengindikasikan bahwa Shahu ini merupakan kelompok-kelompok penyembah berhala [QS 7:138] dan [Keluaran 23:23-24]. Prasasti tersebut mengidentifikasikan salahsatu Shahu yang berada di wilayah Palestina dengan sebutan "the land of the Shasu of Yahweh." 

Ada beberapa analisa dari para arkeolog soal nama ini:
Now let us draw some conclusions regarding the Land of the Shasu of Yahweh. Since no geographical term that is anything like Yahweh has been identified, this suggests that the hieroglyphic phrase t3 sh3sw ya-h-wa should be translated as "the land of the nomads who worship the God Yahweh" rather than as "the land of the nomads who live in the area of Yahweh." In addition, the fact that no geographical term anything like Yahweh has been identified also strengthens the likelihood that the words ya-h-wa in the Soleb and Amarah texts are indeed early mentions of the God of Israel. 

[[Sekarang mari kita menarik beberapa kesimpulan tentang Tanah Shasu Yahweh. Karena tidak ada istilah geografis yang sesuatu seperti Yahweh telah diidentifikasi, hal ini menunjukkan bahwa frase sh3sw hiroglif ya t3-h-wa harus diterjemahkan sebagai "tanah suku nomaden yang menyembah TUHAN," daripada sebagai "tanah suku nomaden yang tinggal di daerah Yahweh. "Selain itu, fakta bahwa tidak adanya istilah geografis yang mengidentifikasikan Yahweh juga memperkuat kemungkinan bahwa kata-kata ya-h-wa dalam teks Soleb dan Amarah memang awal menyebutkan dari Allah Israel]].

Para ahli ini berusaha untuk memunculkan istilah 'Yahweh' bukan merujuk kepada nama suatu tempat, tapi merupakan nama sesembahan dari suku nomaden tersebut.

Amnehotep III berkuasa tahun 1390 -1352 BC, jauh sebelum masa pemerintahan Ramses II, dan Meneptah berkuasa tahun 1279 - 1203 BC, sebagai Fir'aun yang diindikasikan berkuasa pada jaman nabi Musa saat peristiwa eksodus terjadi sebagaimana diinformasikan oleh alkitab. [Lihat penjelasan wikipedia di sini

Penyebutan nama tersebut memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan beberapa hipotesa tentang nama Yahweh dalam Perjanjian Lama:
  1. Berdasarkan alkitab, nama Yahweh belum diperkenalkan sebelum peristiwa eksodus, lalu darimana suku nomaden penyembah berhala yang hidup jauh di Palestina mengenal nama tersebut?
  2. Jika digunkan hipotesa lain yang menyatakan bahwa nama tersebut sudah diperkenalkan namun tidak populer (karena manusia yang hidup telah terpisah dari Tuhan), lalu mengapa justru nama Yahweh lebih populer di tengah-tengah suatu suku nomaden penyembah berhala, dan bukan didapatkan dari orang-orang Israel yang hidup ditengah-tengah bangsa Mesir sebagai budak?

Fakta-fakta tersebut memunculkan suatu kemungkinan bahwa nama Yahweh sebenarnya berasal dari nama berhala yang disembah oleh suku Shasu di wilayah Palestina, lalu orang-orang Israel yang diselamatkan Musa menyeberang ke wilayah tersebut mengadopsi nama itu menjadi nama Tuhan. Apakah mustahil ini yang terjadi?

KEDEGILAN BANGSA ISRAEL
Untuk memahami bahasan ini, terlebih dahulu kita harus mengungkapkan bagaimana sebenarnya perilaku kaum Israel pengikut nabi Musa ini. Alkitab menceritakan bahwa karakter mereka yang suka membangkang dan tidak tahu berterima-kasih, termasuk kecenderungan untuk menciptakan Tuhan selain yang disembah oleh nabi Musa. Baru saja mereka diselamatkan dari bangsa Mesir dan menyeberang lautan, mereka sudah mulai bertingkah banyak menuntut kepada Musa, bahkan ketika Musa tidak bersama mereka selama 40 hari karena sedang berada di atas bukti Sinai, mereka membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya. Hal ini benar-benar membuat Musa marah besar dan membanting loh-loh batu berisi hukum-hukum Taurat yang didapatnya dari Tuhan. Kerepotan Musa terhadap kelakuan kaumnya ini tercatat pada Kejadian 15 s.d 20 dan Kejadian 32, sehingga akhirnya Tuhan dan Musa sendiri menyatakan 'nubuat' tentang masa depan bangsa ini:

Begini firman Tuhan pada Ulangan 31:16-18
TUHAN berfirman kepada Musa: "Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain.

Ini ucapan Musa seperti yang tercatat pada Ulangan 31:24-29
Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

Bahkan sampai di jaman Yesus Kristus, alkitab mencatat kelakuan bangsa Israel ini melalui kecaman Yesus terhadap mereka, seperti tertulis dalam Matius 23:13-36.

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh, dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku (coba diganti dengan: Allah) mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"

Informasi ini menunjukkan bahwa keingkaran bangsa Israel terhadap nabi-nabi mereka terjadi terus-menerus mulai dari jaman Musa sampai ke jaman Yesus Kristus.

Indikasi alkitab tentang kelakuan bangsa Israel ini dikonfirmasi oleh Al-Qur'an:

[7:138] Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". 

[7:139] Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

Informasi dari alkitab dan Al-Qur'an ini membuka peluang bahwa masuknya tuhan-tuhan selain Tuhan yang diajarkan kepada bangsa ini merupakan suatu keniscayaan. Bahwa suatu waktu kelak, ketika Musa telah meninggal, bangsa Israel akan menyembah Tuhan yang lain! 

Lalu bagaimana cara menjelaskan mengapa nama Yahweh ini bisa masuk kedalam Perjanjian lama?

Terdapat penelitian para ahli alkitab yang menyatakan bahwa 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama yang disebut sebagai Taurat (Pentateuch) yang semula diklaim ditulis oleh Musa, merupakan hasil tulisan banyak orang yang dilakukan setelah Musa, sekalipun sebagian isinya masih merepresentasikan ajarannya. Kitab yang berisi informasi tentang pertemuan Musa dengan Tuhan yang memunculkan nama Yahweh bukan mustahil berasal dari orang-orang Israel setelah kematian Musa sebagaimana diprediksi sendiri oleh Musa akan melakukan penyimpangan terhadap apa yang sudah diajarkannya.

Secara umum Documentary Hypothesis adalah teori yang mengatakan bahwa 5 kitab pertama dalam Alkitab (Pentateukh) tidak ditulis oleh seorang penulis, melainkan dikumpulkan dan diedit dari karya-karya lainnya oleh beberapa orang penulis. [Silahkan Download di sini]

Sebagaimana halnya sebuah catatan sejarah, kita semua tahu bahwa isi dan arah informasi yang terdapat di dalamnya selalu terkait erat dengan kepentingan siapa yang menulisnya. Ketika bangsa Israel memasukkan nama Yahweh kedalam Taurat mereka, maka mereka memperkirakan akan munculnya pertanyaan dari pembaca: "Mengapa nama tersebut tidak pernah disebut oleh nenek-moyang kita sebelumnya?" 

Terlihat kesan bahwa ayat yang berbunyi: "tetapi dengan nama-Ku, TUHAN, Aku belum menyatakan diri" sengaja dicantumkan untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Namun penulis yang lain kemungkinan ingin memuat bahwa nama ini sudah dikenal dan disebut oleh nenek-moyang mereka, sebab nama Tuhan yang tidak dikenal sebelumnya -- dan tiba-tiba muncul pada jaman Musa -- terlihat tidak begitu meyakinkan, lalu sipenulis pun memunculkan penyebutan nama tersebut pada kitab Kejadian 2:7 dan Kejadian 4:26. 

Kelakuan bangsa Israel ini terhadap kitab mereka makin memperjelas bahwa apa yang mereka buat merupakan sebuah kitab sejarah yang tambal-sulam.

Berdasarkan urut-urutan penjelasan di atas, mulai dari penjelasan alkitab dan Al-Qur'an tentang peristiwa pertemuan Musa dengan Tuhan, pengungkapan beberapa hipotesa terhadap kapan pertamakali munculnya nama Yahweh, temuan dan analisa prasasti Amenhotep III, informasi kedegilan bangsa Israel, dan pendapat ilmiah tentang sipenulis Taurat (Pentateuch), maka kita bisa menarik suatu benang merah tentang kemungkinan besar nama Yahweh tersebut merupakan nama yang dimunculkan belakangan oleh bangsa Israel, hasil adopsi dari suatu nama berhala yang disembah oleh suatu kaum nomaden di wilayah Palestina. [Lihat lagi di sini]

INFORMASI TAMBAHAN:
  • Dari Mas Derry: Pemakaian nama YHWH sebagai nama BERHALA
  • Dari Sha La: Nama Tuhan "EHEYEH ASYEF EHEYEH"
  • Dari Ayuzaar: Yahudi bertuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai 'Yahweh'. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: "Yahweh: The God of Judaism as the 'tetragrammaton YHWH', may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God's name is never articulated, least of all in the Jewish.




Monday, November 12, 2012

Al-Quran: Jin Juga Diciptakan Dari Air Monday, November 12, 2012



Ngeyeler odong-odong di facebook dengan inisial Theos An-Naar tampaknya demikian bahagia mendapatkan informasi bahwa menurut Al-Qur'an, seluruh makhluk Allah diciptakan-Nya dari air. Tapi ternyata ada satu makhluk-Nya yang tercipta dari api! Hal ini, tentu saja membuatnya demikian bersemangat untuk menyerang Al-Qur'an karena begitu besar keyakinannya pada pameonya sendiri:

"Jika ada satu saja kesalahan dalam Al-Qur'an, maka rusaklah seluruh iman Islam!"
Sedangkan bukti yang ada di tangannya menunjukkan kontradiksi ayat-ayat Al-Quran yang sangat nyata dalam riwayat penciptaan Jin yang disebut-sebut berasal dari api, sementara di sisi lain Allah SWT memberitahu kita bahwa seluruh makhluk ciptaan-Nya berasal dari air!
Kontradiksi inilah yang kemudian disodorkannya pada GM dengan penuh percaya diri bahwa mustahil akan terjawab. Dan berikut ini adalah jawaban yang diperolehnya:

Sedikitnya ada dua ayat dalam Al-Qur'an yang menurut hemat saya patut dijadikan "trigger" bagi setiap manusia, khususnya muslim, untuk mencari sendiri jawaban logis atas pertanyaan-pertanyaan "menantang" menyangkut kebenaran firman Allah dalam Al-Quran, sekaligus membuktikan bahwa Al-Quran memang benar-benar diturunkan oleh Allah dengan ilmu-Nya sebagaimana firman-Nya:

 وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ
"Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." (QS. Yunus[10]:100)

 فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُواْ لَكُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أُنزِلِ بِعِلْمِ اللّهِ وَأَن لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia," (QS. Hud[11]: 14)

Di antara sekian banyak ayat Al-Qur'an yang coba-coba digugat oleh kaum kufar, ada dua yang mereka tuduh kontradiktif antara satu sama lain dan (boleh jadi mereka fikir) MUSTAHIL dapat diterangkan secara logis.

Dua ayat tsb adalah:
Surat Al Anbiyaa’ ayat 30: وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup
Surat Ar Rahman ayat 15: وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ ٥٥:١٥  dan Dia menciptakan jin dari nyala api.

Dari dua ayat di atas kita semua boleh menyimpulkan begini:
a. Allah menciptakan segala yang hidup dari air
b. Jin adalah makhluk hidup
c. Berarti Allah menciptakan jin dari air

Kesimpulan ini jika dibenturkan pada QS. Ar-Rahman:15  di atas pasti kontradiktif: Allah menciptakan jin dari NYALA API, sementara kita semua berkesimpulan bahwa Allah menciptakah segala makhluk hidup, termasuk tentu saja Jin, dari AIR.

Benarkah dua ayat di atas saling kontradiksi?
Kembali ke firman Allah seperti tertulis dalam QS. Yunus[10]:100 di atas, yakni peringatan keras dari Allah bahwa DIA akan menimpakan murka-Nya kepada umat manusia yang tidak menggunakan akal, maka mari kita coba melihatnya dari pendekatan sains, khususnya proses kimia.

Dalam ilmu kimia, kita mengenal sub-studi ELEKTROLISIS, yaitu peristiwa penguraian senyawa air (H2O) menjadi oksigen (O2) dan hidrogen gas (H2) dengan menggunakan arus listrik melalui air. 

Proses elektolisis
Dari proses elektrolisis inilah kita dapat mensinyalir bahwa Allah menciptakan Jin dari unsur hydrogen. Mengapa dari unsur hydrogen? Karena gas hydrogen adalah gas yang sangat mudah terbakar dan gas ini akan meledak sendiri di suhu 560 °C. [Lihat Wikipedia]

Ini pula jawaban mengapa kita tidak dapat melihat Jin, sebab mereka diciptakan dari unsur gas sebagaimana firman Allah:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
"Sesungguhnya ia (Iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari tempat yang kamu tidak bias melihat mereka. (QS. Al A’raff[7]:27)

Kenapa Hydrogen?
Bukankah menurut QS. Al-Hijr[15]:27 dan QS. Ar-Rahman[55]:15 disebutkan bahwa Jin diciptakan dari api yang SANGAT PANAS?

Kita semua tahu bahwa Hydrogen akan berobah menjadi ledakan api (yang sangat panas) pada suhu di atas 550 °C. Atau lima kali lebih panas dari api yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari!

Semoga uraian singkat di atas dapat dijadikan hujjah bahwa Al Quran benar benar kalimat Allah bagi mereka yang ragu-ragu, namun masih mendapat hidayah untuk membuka mata hati dan diberi kemauan keras untuk menggunakan seluruh kemampuan olah pikirnya secara paripurna.

Sesungguhnya Al Quran itu benar benar kalimat Allah sebagaimana friman-Nya:

 سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fush-Shilat[41]:53)


[Sumber: ahaeurika. | Gus Mendem Menjawab Fitnah].


Contact Form

Name

Email *

Message *