Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Nabi Musa. Show all posts
Showing posts with label Nabi Musa. Show all posts

Wednesday, July 20, 2016

Menurut Paulus, Kristen Adalah Ajaran Terkutuk! Wednesday, July 20, 2016

Perhatikan baik-baik!

Suatu hari ada yang bertanya pada GM begini:
"Tanya Gus! Kenapa ajaran kasih kristen kok sampeyan sebut sebagai ajaran terkutuk?"
Saya jawab, "karena ajaran itu diciptakan oleh manusia yang suka mengutuk, didukung pula oleh kroninya yang suka menjadi manusia-manusia terkutuk!"

Yang bertanya heran, "Lho, kok bisa gitu?"
Saya lanjutkan, "Ini cuma sedikit contoh saja ya?"

Begini:
Tidak ada satu katapun dalam Mazmur, Taurat, atau injil yang menyebutkan bahwa Taurat adalah sebuah kutukan. Tapi di antara surat-suratnya ke jemaat di Galatia, Paulus menegaskan bahwa Hukum Taurat, dalam kitab yang dihimpun oleh Musa berdasarkan firman Tuhan, dipastikannya sebagai kutukan Tuhan kepada umat manusia!

Dia mendefinisikan kutuk yang tidak pernah ada itu begini:
"Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." (Galatia 3:10)

Bermodalkan sebaris kalimat itu pula kemudian secara cerdik ia menggunakan nama Abraham untuk menghasut semua pengikutnya agar tidak perlu lagi mematuhi segala perintah dan larangan Tuhan yang tertulis dalam kitab Taurat. Kecuali, perhatikan ini! Kecuali perintah wajib kepada jemaat gereja untuk setiap bulan setor 10% dari penghasilan mereka ke gereja masing-masing guna menjamin kocek para petinggi gerejanya tetap menggelembung sepanjang waktu.

Kewajiban yang di 'extend' dari kitab Taurat ini, jika tidak dituruti, sangat boleh jadi akan melahirkan kutukan-kutukan lain kepada jemaat yang tidak mematuhi doktrin ini.
Aneh, bukan? Perintah dan larangan Tuhan yang mereka anggap memberatkan dicampakkan begitu saja ke tong sampah, sementara yang menguntungkan, mati-matian mereka pertahankan!
Untuk melegalkan inilah kemudian para pembangkang ini merekayasa sebuah perjanjian antara Tuhan dengan manusia -- yang tidak pernah ada -- sebagai apa yang mereka sebut Perjanjian Baru, sekaligus menjadikan Perjanjian fiktif ini sebagai justifikasi untuk membatalkan semua perjanjian Tuhan dengan umat manusia melalui nabi-nabi terdahulu, yang kemudian mereka sebut sebagai Peranjian Lama alias perjanjian kedaluwarsa!

Ini jelas salah, dan patut disebut sebagai perbuatan terkutuk, sebab Yohanes dalam injil yang dikanonisasi oleh gerombolan ini untuk melicinkan dogma ketuhanan Yesus justru dengan tegas menulis begini:

"Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" (Yohanes 7:49)

Kutukan Yohanes ini nampaknya sesuai dengan pernyataan Yesus yang dicatat oleh pengarang injil lainnya, yakni Matius, begini:

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:17-18).

Yesus menyatakan dengan terang benderang  bahwa dia datang sama sekali bukan untuk merobah, apalagi meniadakan kandungan dan hakekat hukum Taurat walau hanya satu titik sekalipun! Bahkan selama hidupnya ia berusaha sekuat tenaga mengajarkan agar selamanya bani israel berpegang teguh pada hukum Taurat hingga datangnya hari kiamat nanti!

Tapi lihatlah, orang-orang terkutuk ini malah memplesetkan arti "menggenapi" yang ditegaskan oleh Yesus sebagai ajaran yang harus dipelihara kelangsungannya itu justru menjadi "menyudahi" hukum Taurat!

Dengan demikian, umat yang kemudian mengaku kitab Taurat merupakan bagian dari kitab suci mereka ini sama sekali sudah tidak lagi mejalankan ritual ibadah kepada Tuhannya Yesus sesuai tuntunan Yesus berdasarkan Taurat Musa dan Injil Yesus, melainkan hanya menggunakan kitab tsb sebagai pembenar untuk melakukan banyak pembangkangan dan rekayasa terhadap larangan Tuhan!

Terkutuk lainnya adalah, Paulus memaksakan doktrin bahwa Yesus adalah anak tunggal Tuhan, sehingga di kemudian hari kroninya sampai kebablasan nekad menuhankan Yesus!

Dengan melawan semua ajaran Yesus, mereka melakukan konspirasi dengan kaisar Konstantinus, sang penguasa Romawi pada era kegemilangan tipu daya manusia-manusia terkutuk ini, untuk melantik Yesus menjadi Tuhan!

Ya! Utusan Tuhan ini mereka lantik menjadi Tuhan agar bisa dijadikan alasan untuk memaksakan doktrin baru bahwa sang utusan sudah menggantikan kedudukan Tuhan yang mengutusnya!

Padahal jauh sebelum itu, Paulus sendiri sudah mengatakan bahwa "anak Tuhan ciptaannya" ini adalah manusia terkutuk!

Benar! Yesus adalah manusia terkutuk karena pernah tergantung di kayu salib!

Bukan hanya itu, Yesus juga divonisnya sebagai manusia paling terkutuk yang pernah ada karena telah menjadi tumbal untuk menanggung kutuk Taurat terhadap seluruh umat manusia!

Begini dia menjelaskannya:
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Galatia 3:13).

Bayangkan, seorang anak yatim yang demikian lemah sehingga mudah saja dipaku oleh serdadu Romawi di atas tiang salib hingga mati, dipaksakan supaya kita percayai telah dengan sukarela memilih mati secara terkutuk guna menanggung dosa kutukan atas bermilyar-milyar umat manusia?

Anak manusia ini dijadikan satu-satunya andalan untuk menanggung dosa milyaran manusia?

Ini jelas adalah perbuatan yang dikutuk oleh Tuhannya semua nabi-nabi terdahulu, termasuk tentu saja oleh Tuhannya Yesus, seperti tertulis dalam kitab mereka:

"Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5)

Terkutuk berikutnya adalah ini.
Entah bagaimana ceritanya, tapi Paulus dan kroninya berhasil meyakinkan pengikut mereka bahwa dalam mewartakan "Injil", Yesus dipercaya tidak pernah menerima wahyu atau firman Tuhan melalui Malaikat seperti umumnya para nabi-nabi terdahulu dan nabi sesudahnya, apalagi sampai membawa-bawa kitab bernama injil. Padahal dalam kitab-kitab Perjanjian Baru yang mereka himpun sendiri ada tertulis begini:

"Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum," (Wahyu 14:6).

Ayat ini mudah kita fahami sebagai berita bahwa Tuhan mengirimkan firman-Nya melalui malaikat untuk disampaikan kepada bani Israel (terdiri atas 12 suku bangsa), termasuk melalui, dan tentu saja, kepada Yesus!

Artinya, karena Yesus adalah anak manusia seperti yang seringkali ditegaskannya sendiri, maka ia juga menerima wahyu dan firman Tuhan melalui malaikat. Dan karena disebutkan pula bahwa malaikat Tuhan tsb membawa injil, maka tentu saja ini berarti bahwa jauh sebelum ke-4 injil pilihan kroni Paulus dikanonisasi, sebenarnya sudah ada injil yang asli, yaitu Injil yang dikabarkan oleh Yesus!

Tapi tahukah anda apa kata Paulus tentang fakta ini?

Dia menulis begini: 
"Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia!" (Galatia 1:8)

Artinya, sekalipun ada injil yang berasal dari Tuhan sendiri dan dibawa turun ke bumi oleh malakat, Paulus tetap tidak mau tau dan menganggap injil yang dikabarkannyalah yang benar, sedangkan injil dari Tuhan adalah injil terkutuk!

Nah, baru sampai di sini saja rasanya kita sudah mendapati demikian banyak "kutukan" yang melekat pada prinsip-prinsip utama "ajaran kasih" ini, bukan?

Atau jika kita buatkan ringkasannya, maka "sisi lain" dari ajaran Paulus yang nampaknya luput dari perhatian pengikutnya adalah sbb:

  1. Seluruh firman Tuhan dalam kitab Taurat adalah KUTUK!
  2. Kitab Taurat adalah kitab suci TERKUTUK!
  3. Musa, nabi yang menghimpun firman Tuhan ke dalam kitab Taurat adalah manusia TERKUTUK!
  4. Umat Paulus yang mempercayai Taurat sebagai Kutuk adalah manusia-manusia TERKUTUK!
  5. Dana perpuluhan dari jemaat yang dinikmati oleh para rohaniawan gereja adalah dana TERKUTUK!
  6. Yesus yang di belakang hari ternyata "dituhankan" oleh umat Paulus adalah manusia TERKUTUK!
  7. Mengandalkan Yesus yang manusia sebagai penebus dosa seluruh umat manusia adalah perbuatan TEKUTUK!
  8. Injil asli yang diantarkan oleh malaikat Tuhan kepada bangsa-bangsa Israel melalui Yesus adalah injil TERKUTUK!
  9. Malaikat yang menghantar dan mengajarkan injil kepada Yesus adalah malaikat TERKUTUK!
  10.  Tuhan yang disembah oleh Yesus adalah Tuhan TERKUTUK!
  11. Yesus yang dipaksa menggantikan posisi Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan TERKUTUK!
  12.  ............

Jika baru sebentar saja sudah demikian banyak KUTUKAN dalam ajaran kristen, lantas untuk mengisi urutan No. [12] di atas ini, "ajaran kasih" Paulus pantasnya diberi nama sebagai "ajaran" apa, coba?

Apapun jawabannya, hendaklah segenap bangsa menjawab serta berkata: AMEN!

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
Semoga Tuhannya Yesus memberkati.


[Sumber: Catatan Lama GM]

Simak rekaman audio cerita di atas berikut ini:

Wednesday, May 14, 2014

Al-Quran: Pertemuan Nabi Musa AS Dengan Allah Wednesday, May 14, 2014

Dalam salahsatu threadnya berjudul Satu Cerita Tiga Versi Dalam Alquran di forum diskusi GUS MENDEM DAN KAWAN-KAWAN, dengan bermodalkan studi terjemah Al-Qur'an dan riwayat urutan turunnya surah-surah Al-Quran, sparing-partner lama saya;Theos Anner, MEMPERTANYAKAN periwayatan 'pertemuan' nabi Musa dengan Allah yang menurutnya tidak konsisten karena bentuk penulisan dalam ayat-ayat yang merujuk kepada peristiwa tsb [dia menukil QS. 27:7-12; QS 28:29-35; dan QS 20:9-36] berbeda-beda.

Intinya -- seperti mudah sekali ditebak -- dia ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa firman ALLAH dalam Al-Qur'an mencla-mencle, dan hal ini sudah tentu cukup dijadikan alasan untuk mengajak seluruh pembaca supaya meragukan kebenaran Ilahiyah dalam Al-Qur'an.

Sebetulnya tidak ada yang aneh pada periwayatan dalam 3 surah yang ditudingnya sebagai '3 versi' tsb, sebab riwayat dalam QS. 27:7-12 sejatinya adalah 'penggalan' wahyu Allah kepada nabi Muhammad saw yang menceritakan tentang mukjizat tongkat nabi Musa dalam peristiwa -- kita persingkat saja -- pada QS 28:29-30 dan QS 20:9-14. 

Sedangkan muatan paling substansial dari QS 28:29-30 dan QS 20:9-14 sebenarnya adalah tentang bagaimana ALLAH MEMPERKENALKAN DIRI kepada nabi Musa. 

Dan karena peristiwa ini sama-sama tertulis, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Alkitab, maka cerita selanjutnya menjadi sangat menarik, sebab tela'ah komparatif terhadap dua kitab ini tentang peristiwa yang sama ternyata berujung menjadi bumerang bagi si penggugat Al-Qur'an!
PERIWAYATAN AL-QUR'AN TENTANG PERTEMUAN NABI MUSA DENGAN TUHAN 
Ketika beliau keluar dari negeri Madyan untuk kembali ke Mesir, di perjalanan Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Al-Qur'an memuat kisah ini dalam 2 rangkaian ayat yaitu pada [QS 28:29-30] dan [QS 20:9-14] 

[28:29] Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".

[28:30] Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam (Innii anaa allaahu rabbu al';aalamiina)

[20:9] Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? 
[20:10] Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu". 
[20:11] Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. 
[20:12] Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. 
[20:13] Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). 
[20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau';budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii).

Secara jelas Al-Qur'an menginformasikan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan nama "Allah", yang tiada "ilah" selain diri-Nya. Informasi ini menunjukkan bahwa nama tersebut merupakan proper name dari Tuhan. BUKAN istilah atau nama jabatan.

Kita menemukan catatan alkitab terhadap peristiwa yang sama pada kitab Keluaran 3:2-14 dengan gaya bahasa yang 'sangat manusiawi' tetapi sedikit agak 'complicated' sbb: 

[Keluaran 3:2-14] Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

Dalam rangkaian cerita ini terlihat pemakaian istilah untuk Tuhan dengan bermacam-macam sebutan: Malaikat TUHAN, Allah dan TUHAN. 

Dalam terminologi Kristen, kata Allah adalah nama jabatan, sedangkan kata TUHAN merupakan terjemahan dari nama diri YHWH (sebagian Kristen melafadzkannya dengan Yahweh, sebagian lain Yehova atau Jehova). Tidak jelas apakah ketika Tuhan akan bertemu dengan Musa, malaikatnya 'mempersiapkan jalan' terlebih dahulu, lalu baru Tuhan muncul dan menyapa Musa. 

Dan agak aneh juga ketika Musa menjawab: "ya Allah", maksudnya tentu "ya Tuhan", untuk menunjukkan bahwa Musa sudah mengerti yang menyapanya adalah Tuhan. Dan dialog 'nggak nyambung' ini kembali terjadi ketika Tuhan melanjutkan dengan penjelasan: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub." Tentunya ini dimaksudkan sebagai, "Akulah Tuhan dari nenek-moyangmu!" 

Lagi-lagi dialog ini terlihat nggak nyambung karena dari caranya menjawab, tampak jelas Musa sudah mengetahui bahwa yang menyapanya adalah Tuhan. Artinya Musa tentu memahami kalau Tuhan yang menyapanya merupakan juga Tuhan dari nenek-moyangnya, kecuali kalau Musa memang belum mengerti menggunakan logika sederhana ini.

Setelah Tuhan menjelaskan siapa diri-Nya dan melanjutkannya dengan perintah agar Musa menyelamatkan kaumnya dari siksaan Fir'aun di Mesir, Musa terkesan ragu. Dan keraguannya itu tampak bukan karena harus berhadapan dengan Fir'aun, tapi justru ditujukan kepada kaumnya sendiri. Musa mengatakan "apabila aku mendapatkan orang Israel" menunjukkan prediksinya bahwa amanat yang akan dia laksanakn akan mendapat tantangan dari kaum Israel sendiri, dan tantangan tersebut pasti terkait dengan pertanyaan: "Siapa yang menyuruh Musa?" 

Kembali dialog terlihat aneh karena Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan nenek-moyang Musa sekaligus merupakan Tuhan dari kaum Israel yang akan diselamatkan, tapi mengapa Musa masih meragukan sikap dari kaumnya sendiri? 

Sebagian tafsir Kristen mengungkapkan perkataan Musa selanjutnya soal pertanyaan tentang nama Tuhan:

"Mah shemo?" [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya "mi?" Namun penggunaan kata "ma", bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu. [Lihat penjelasannya di sini]  

Lalu Tuhan menjawab "Aku adalah Aku" dan "Akulah Aku yang mengutus kamu." 

Lebih lanjut penafsiran dari link tersebut:

"Ehyeh Asyer Ehyeh" yang artinya "AKU ADA YANG AKU ADA". Tapi Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkannya dengan sebagai, "AKU ADALAH AKU." 

Terjemahan ini tidak tepat. Jika "AKU ADALAH AKU", seharusnya dalam teks Ibrani tertulis "ANOKHI HAYAH ANOKHI". Kenapa? Sebab kata "EHYEH", merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata "HAYAH". 

G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan bahwa kata "Hayah" digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb: 

1. "Exist, be Present" [Ada, Hadir] 
2. "Come into Being" [menjadi] 
3. Auxilaries Verb [kata kerja bantu]

[f2]. DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya IMAN KRISTEN, menyatakan bahwa kata "Ehyeh" bermakna "Aku Berada."  Namun penulis lebih cenderung menerjemahkannya menjadi "AKU [AKAN] ADA!"

Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyatakan nama diri-Nya. Hal ini berbeda dengan informasi Al-Qur'an yang menyatakannya dengan jelas bahwa Tuhan yang dimaksud adalah ALLAH. Penyebutan nama Tuhan berdasarkan Al-Qur'an tersebut juga bukan berasal dari pertanyaan Musa yang ragu akan sikap kaumnya, tapi merupakan 'inisiatif' Tuhan sendiri. Al-Qur'an mencatat kekhawatiran Musa justru tertuju kepada Fir'aun, bukan kepada bgaimana sikap kaumnya nanti.

[20:45] Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas."

[20:46] Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat."

Alkitab melanjutkan ceritanya bahwa pengenalan nama Tuhan dilakukan setelah Musa dan Harun menghadap Fir'aun dan meminta agar dia membebaskan kaum Israel dari penindasan. Lalu Fir'aun bereaksi dengan mempersulit pekerjaan kaum Israel (Keluaran 5:6-19) sehingga membuat Bani Israel berbalik menyalahkan Musa (Keluaran 5:20-21). Akibatnya, Musa 'memprotes' Tuhan (Keluaran 5 :22-23). Setelah itu Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan menaklukkan Fir'aun (Keluaran 6:1) dan ini dilanjutkan dengan 'proklamasi' nama Tuhan secara berulang-ulang:

Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: 

"Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN."

Kata TUHAN merupakan terjemahan dari YHWH, suatu nama yang dianggap merupakan nama diri Tuhan dalam kekristenan. Kisah ini menjelaskan bahwa jawaban Tuhan sebelumnya atas keraguan Musa terhadap umatnya tidak bekerja dengan efektif. Pernyataan "Aku adalah Aku" tidak akan bisa meyakinkan orang-orang Israel begitu mereka mendapat tekanan dari Fir'aun, sehingga Tuhan kembali menjelaskan siapa diri-Nya dengan menyatakan nama diri 'YHWH', lalu dilanjutkan dengan janji-janji bahwa kaum Israel yang mau mengikuti Musa akan dibebaskan dari perbudakan dan diberikan negeri yang dijanjikan kepada nenek-moyang mereka. 

Ada satu pernyataan yang menarik disini. Ketika Tuhan menegaskan bahwa nama YHWH tersebut belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub sekalipun Tuhan telah membuat perjanjian dengan mereka. Lalu dengan memakai nama apa Tuhan membuat perjanjian tsb? Katakanlah ada 2 pihak membuat perjanjian, seharusnya masing-masing pihak mencantumkan nama jelas yang menunjukkan identitasnya, kemudian keduanya membubuhkan tanda-tangan di atas materai sebagai suatu ikatan yang mengikat bagi masing-masing. Sangat aneh kalau ada salah satu pihak tidak mencantumkan nama jelasnya. Itu tidak dapat difahami sebagai suatu perjanjian, atau jika dipaksakan juga, maka merupakan perjanjian yang sangat ganjil. Dan hebatnya lagi, kaum Israel tetap saja tidak mempercayai nama yang disampaikan Musa (Keluaran 6:9)

[Lihat bagaimana alkitab memuat informasi yang simpang-siur tentang kapan nama YHWH pertama kali diperkenalkan di sini]

Persoalan ini tentu saja memunculkan banyak teori dari kalangan Kristen sendiri, dan tidak ada satu pihakpun yang bisa memastikan yang mana dari sekian banyak pendapat mereka yang benar.
  • Teori pertama dikemukakan oleh John Mc.Faydyen
Menurutnya, para Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama Tuhan bagi orang Israel.
  • Teori kedua dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson
Menurut mereka, ungkapan dalam Keluaran 6:3 bukan suatu pernyataan melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat, "Namun dengan Nama-Ku, Yahweh, belumkah, atau tidakkah Aku memperkenalkan diri pada mereka?"
  • Teori ketiga dari Henry Cowles. 
Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3 merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai nama Yahweh, namun bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para leluhur Israel. [Lebih lengkap, lihat di sini]

Si penulis lalu menyatakan keberpihakannya kepada teori ketiga dengan menyatakan:
Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat ini adalah: Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam [Kej 2:7], Enos [Kej 4:26] dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham, Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk menyebut nama Yahweh. Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai pemberi Torah bagi Israel. Ketiga, makna kata "tidak" atau "belum" dalam Keluaran 6:2, bukan bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan karakter dan karya-Nya.

Dalam suatu diskusi dengan penulis yang bersangkutan, dia menerima jawaban mengapa sampai nama YHWH tersebut tidak familiar dan populer pada jalan manusia sebelum Musa, dan jawabannya adalah: "Karena manusia semakin jauh terpisah dari Tuhan (Kej 3:24) maka bukan hanya mengakibatkan disorientasi hubungan personal dengannya melainkan pengetahuan mengenai nama pribadinya." Ini jelas merupakan alasan yang kembali menimbulkan tanda-tanya:

1. Karena Kejadian 3:24 bercerita tentang Adam dan Hawa, maka jika alasan tersebut yang digunakan, maka seharusnya pihak yang 'lupa' pada nama Tuhannya adalah Adam dan Hawa. Namun pada Kejadian 4:1 justru Hawa-lah yang dinyatakan menyebut nama tersebut. 

2. Jika terkait dengan soal popularitas, maka tentunya harus dijelaskan berapa banyak manusia sebelum jaman Musa yang bertindak jauh dari Tuhan dan berapa banyak yang merupakan hamba-Nya yang taat. Hal ini tidak bisa digeneralisir karena tokh disebut-sebut bahwa nama YHWH sudah dikenal?

Jelas terlihat betapa alasan yang dikemukakan sangat lemah, dan teori-teori yang muncul di sekitar simpang-siur informasi kapan nama YHWH tersebut pertama kali diperkenalkan pun tetap menjadi tanda-tanya besar.

ASAL MULA NAMA YHWH DAN TEMUAN ARKEOLOGI
Dari persepektif Islam, akan muncul pertanyaan: "Jika Al-Qur'an menyatakan bahwa nama tersebut adalah 'ALLAH' sedangkan alkitab menyebutnya YHWH, lalu darimana asalnya nama YHWH tersebut?" 

Indikasi tentang asal-mula nama ini bisa kita dapati pada temuan arkeologi berupa prasasti yang dibuat pada jaman Fir'aun Amenhotep III [Baca penjelasannya di sini]

Prasasti tersebut diperkirakan dibuat tahun 1400 BC pada masa pemerintahan Fir'aun Amenhotep III. Fir'aun ini termasuk salah seorang raja Mesir dari generasi ke-18, yaitu suatu generasi raja-raja Mesir yang berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan menyebar sampai ke wilayah Syria dan Palestina, sehingga terbuka kemungkinan untuk berinteraksi dengan suku-suku nomaden yang mendiami wilayah tersebut. Orang Mesir menjuluki suku-suku nomaden tersebut dengan kata 'Shahu'. Al-Qur'an dan alkitab mengindikasikan bahwa Shahu ini merupakan kelompok-kelompok penyembah berhala [QS 7:138] dan [Keluaran 23:23-24]. Prasasti tersebut mengidentifikasikan salahsatu Shahu yang berada di wilayah Palestina dengan sebutan "the land of the Shasu of Yahweh." 

Ada beberapa analisa dari para arkeolog soal nama ini:
Now let us draw some conclusions regarding the Land of the Shasu of Yahweh. Since no geographical term that is anything like Yahweh has been identified, this suggests that the hieroglyphic phrase t3 sh3sw ya-h-wa should be translated as "the land of the nomads who worship the God Yahweh" rather than as "the land of the nomads who live in the area of Yahweh." In addition, the fact that no geographical term anything like Yahweh has been identified also strengthens the likelihood that the words ya-h-wa in the Soleb and Amarah texts are indeed early mentions of the God of Israel. 

[[Sekarang mari kita menarik beberapa kesimpulan tentang Tanah Shasu Yahweh. Karena tidak ada istilah geografis yang sesuatu seperti Yahweh telah diidentifikasi, hal ini menunjukkan bahwa frase sh3sw hiroglif ya t3-h-wa harus diterjemahkan sebagai "tanah suku nomaden yang menyembah TUHAN," daripada sebagai "tanah suku nomaden yang tinggal di daerah Yahweh. "Selain itu, fakta bahwa tidak adanya istilah geografis yang mengidentifikasikan Yahweh juga memperkuat kemungkinan bahwa kata-kata ya-h-wa dalam teks Soleb dan Amarah memang awal menyebutkan dari Allah Israel]].

Para ahli ini berusaha untuk memunculkan istilah 'Yahweh' bukan merujuk kepada nama suatu tempat, tapi merupakan nama sesembahan dari suku nomaden tersebut.

Amnehotep III berkuasa tahun 1390 -1352 BC, jauh sebelum masa pemerintahan Ramses II, dan Meneptah berkuasa tahun 1279 - 1203 BC, sebagai Fir'aun yang diindikasikan berkuasa pada jaman nabi Musa saat peristiwa eksodus terjadi sebagaimana diinformasikan oleh alkitab. [Lihat penjelasan wikipedia di sini

Penyebutan nama tersebut memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan beberapa hipotesa tentang nama Yahweh dalam Perjanjian Lama:
  1. Berdasarkan alkitab, nama Yahweh belum diperkenalkan sebelum peristiwa eksodus, lalu darimana suku nomaden penyembah berhala yang hidup jauh di Palestina mengenal nama tersebut?
  2. Jika digunkan hipotesa lain yang menyatakan bahwa nama tersebut sudah diperkenalkan namun tidak populer (karena manusia yang hidup telah terpisah dari Tuhan), lalu mengapa justru nama Yahweh lebih populer di tengah-tengah suatu suku nomaden penyembah berhala, dan bukan didapatkan dari orang-orang Israel yang hidup ditengah-tengah bangsa Mesir sebagai budak?

Fakta-fakta tersebut memunculkan suatu kemungkinan bahwa nama Yahweh sebenarnya berasal dari nama berhala yang disembah oleh suku Shasu di wilayah Palestina, lalu orang-orang Israel yang diselamatkan Musa menyeberang ke wilayah tersebut mengadopsi nama itu menjadi nama Tuhan. Apakah mustahil ini yang terjadi?

KEDEGILAN BANGSA ISRAEL
Untuk memahami bahasan ini, terlebih dahulu kita harus mengungkapkan bagaimana sebenarnya perilaku kaum Israel pengikut nabi Musa ini. Alkitab menceritakan bahwa karakter mereka yang suka membangkang dan tidak tahu berterima-kasih, termasuk kecenderungan untuk menciptakan Tuhan selain yang disembah oleh nabi Musa. Baru saja mereka diselamatkan dari bangsa Mesir dan menyeberang lautan, mereka sudah mulai bertingkah banyak menuntut kepada Musa, bahkan ketika Musa tidak bersama mereka selama 40 hari karena sedang berada di atas bukti Sinai, mereka membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya. Hal ini benar-benar membuat Musa marah besar dan membanting loh-loh batu berisi hukum-hukum Taurat yang didapatnya dari Tuhan. Kerepotan Musa terhadap kelakuan kaumnya ini tercatat pada Kejadian 15 s.d 20 dan Kejadian 32, sehingga akhirnya Tuhan dan Musa sendiri menyatakan 'nubuat' tentang masa depan bangsa ini:

Begini firman Tuhan pada Ulangan 31:16-18
TUHAN berfirman kepada Musa: "Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain.

Ini ucapan Musa seperti yang tercatat pada Ulangan 31:24-29
Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

Bahkan sampai di jaman Yesus Kristus, alkitab mencatat kelakuan bangsa Israel ini melalui kecaman Yesus terhadap mereka, seperti tertulis dalam Matius 23:13-36.

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh, dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku (coba diganti dengan: Allah) mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"

Informasi ini menunjukkan bahwa keingkaran bangsa Israel terhadap nabi-nabi mereka terjadi terus-menerus mulai dari jaman Musa sampai ke jaman Yesus Kristus.

Indikasi alkitab tentang kelakuan bangsa Israel ini dikonfirmasi oleh Al-Qur'an:

[7:138] Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". 

[7:139] Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

Informasi dari alkitab dan Al-Qur'an ini membuka peluang bahwa masuknya tuhan-tuhan selain Tuhan yang diajarkan kepada bangsa ini merupakan suatu keniscayaan. Bahwa suatu waktu kelak, ketika Musa telah meninggal, bangsa Israel akan menyembah Tuhan yang lain! 

Lalu bagaimana cara menjelaskan mengapa nama Yahweh ini bisa masuk kedalam Perjanjian lama?

Terdapat penelitian para ahli alkitab yang menyatakan bahwa 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama yang disebut sebagai Taurat (Pentateuch) yang semula diklaim ditulis oleh Musa, merupakan hasil tulisan banyak orang yang dilakukan setelah Musa, sekalipun sebagian isinya masih merepresentasikan ajarannya. Kitab yang berisi informasi tentang pertemuan Musa dengan Tuhan yang memunculkan nama Yahweh bukan mustahil berasal dari orang-orang Israel setelah kematian Musa sebagaimana diprediksi sendiri oleh Musa akan melakukan penyimpangan terhadap apa yang sudah diajarkannya.

Secara umum Documentary Hypothesis adalah teori yang mengatakan bahwa 5 kitab pertama dalam Alkitab (Pentateukh) tidak ditulis oleh seorang penulis, melainkan dikumpulkan dan diedit dari karya-karya lainnya oleh beberapa orang penulis. [Silahkan Download di sini]

Sebagaimana halnya sebuah catatan sejarah, kita semua tahu bahwa isi dan arah informasi yang terdapat di dalamnya selalu terkait erat dengan kepentingan siapa yang menulisnya. Ketika bangsa Israel memasukkan nama Yahweh kedalam Taurat mereka, maka mereka memperkirakan akan munculnya pertanyaan dari pembaca: "Mengapa nama tersebut tidak pernah disebut oleh nenek-moyang kita sebelumnya?" 

Terlihat kesan bahwa ayat yang berbunyi: "tetapi dengan nama-Ku, TUHAN, Aku belum menyatakan diri" sengaja dicantumkan untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Namun penulis yang lain kemungkinan ingin memuat bahwa nama ini sudah dikenal dan disebut oleh nenek-moyang mereka, sebab nama Tuhan yang tidak dikenal sebelumnya -- dan tiba-tiba muncul pada jaman Musa -- terlihat tidak begitu meyakinkan, lalu sipenulis pun memunculkan penyebutan nama tersebut pada kitab Kejadian 2:7 dan Kejadian 4:26. 

Kelakuan bangsa Israel ini terhadap kitab mereka makin memperjelas bahwa apa yang mereka buat merupakan sebuah kitab sejarah yang tambal-sulam.

Berdasarkan urut-urutan penjelasan di atas, mulai dari penjelasan alkitab dan Al-Qur'an tentang peristiwa pertemuan Musa dengan Tuhan, pengungkapan beberapa hipotesa terhadap kapan pertamakali munculnya nama Yahweh, temuan dan analisa prasasti Amenhotep III, informasi kedegilan bangsa Israel, dan pendapat ilmiah tentang sipenulis Taurat (Pentateuch), maka kita bisa menarik suatu benang merah tentang kemungkinan besar nama Yahweh tersebut merupakan nama yang dimunculkan belakangan oleh bangsa Israel, hasil adopsi dari suatu nama berhala yang disembah oleh suatu kaum nomaden di wilayah Palestina. [Lihat lagi di sini]

INFORMASI TAMBAHAN:
  • Dari Mas Derry: Pemakaian nama YHWH sebagai nama BERHALA
  • Dari Sha La: Nama Tuhan "EHEYEH ASYEF EHEYEH"
  • Dari Ayuzaar: Yahudi bertuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai 'Yahweh'. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: "Yahweh: The God of Judaism as the 'tetragrammaton YHWH', may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God's name is never articulated, least of all in the Jewish.




Saturday, May 3, 2014

Tentang Nabi Musa, Haman, Dan Fir'aun Saturday, May 3, 2014


Nama “Haman” tidaklah diketahui hingga dipecahkannya huruf hiroglif Mesir di abad ke-19. Ketika hiroglif terpecahkan, diketahui bahwa Haman adalah seorang pembantu dekat Fir’aun, dan “pemimpin pekerja batu pahat”. (Gambar ini memperlihatkan para pekerja bangunan Mesir kuno). Hal teramat penting di sini adalah bahwa Haman disebut dalam Al Qur’an sebagai orang yang mengarahkan pendirian bangunan atas perintah Fir’aun. Ini berarti bahwa keterangan yang tidak bisa diketahui oleh siapa pun di masa itu telah diberikan oleh Al Qur’an, satu hal yang paling patut dicermati.[1]

Al Qur’an mengisahkan kehidupan Nabi Musa AS dengan sangat jelas. Tatkala memaparkan perselisihan dengan Fir’aun dan urusannya dengan Bani Israil, Al Qur’an menyingkap berlimpah keterangan tentang Mesir kuno. Pentingnya banyak babak bersejarah ini hanya baru-baru ini menjadi perhatian para pakar dunia. Ketika seseorang memperhatikan babak-babak bersejarah ini dengan pertimbangan, seketika akan menjadi jelas bahwa Al Qur’an, dan sumber pengetahuan yang dikandungnya, telah diwahyukan oleh Allah Yang Mahatahu dikarenakan Al Qur’an bersesuaian langsung dengan seluruh penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan, sejarah dan kepurbakalaan di masa kini.

Satu contoh pengetahuan ini dapat ditemukan dalam paparan Al Qur’an tentang Haman: seorang pelaku yang namanya disebut di dalam Al Qur’an, bersama dengan Fir’aun. Ia disebut di enam tempat berbeda dalam Al Qur’an, di mana Al Qur’an memberitahu kita bahwa ia adalah salah satu dari sekutu terdekat Fir’aun.

Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi, penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS. Al Qur’an, yang jauh lebih bersesuaian dengan penemuan-penemuan kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup Nabi Musa AS.

Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap Kitab Suci Islam oleh sejumlah kalangan di luar Muslim terbantahkan tatkala naskah hiroglif dipecahkan sekitar 200 tahun silam, dan nama “Haman” ditemukan di naskah-naskah kuno itu. Hingga abad ke-18, tulisan dan prasasti Mesir kuno tidak dapat dipahami. Bahasa Mesir kuno tersusun atas lambang-lambang dan bukan kata-kata, yakni berupa hiroglifik. Gambar-gambar ini, yang memaparkan kisah dan membukukan catatan peristiwa-peristiwa penting sebagaimana kegunaan kata di zaman modern, biasanya diukir pada batu dan banyak contoh masih terawetkan berabad-abad. Dengan tersebarnya agama Nasrani dan pengaruh budaya lainnya di abad ke-2 dan ke-3, Mesir meninggalkan kepercayaan kunonya beserta tulisan hiroglif yang berkaitan erat dengan tatanan kepercayaan yang kini telah mati itu. Contoh terakhir penggunaan tulisan hiroglif yang diketahui adalah sebuah prasasti dari tahun 394. Bahasa gambar dan lambang telah terlupakan, menyisakan tak seorang pun yang dapat membaca dan memahaminya. Sudah tentu hal ini menjadikan pengkajian sejarah dan kepurbakalaan nyaris mustahil. Keadaan ini tidak berubah hingga sekitar 2 abad silam.


Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani. Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-Françoise Champollion. 

Dengan demikian, sebuah bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini, banyak pengetahuan tentang peradaban, agama dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia ini.

Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman” benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan Fir’aun. [2]
Dalam kamus People in the New Kingdom , yang disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan prasasti tersebut, Haman disebut sebagai “pemimpin para pekerja batu pahat”. [3]

Temuan ini mengungkap kebenaran sangat penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para penentang Al Qur’an, Haman adalah seseorang yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS. Ia dekat dengan Fir’aun dan terlibat dalam pekerjaan membuat bangunan, persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an.

Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS. Al Qashas, 28:38)

Ayat dalam Al Qur’an tersebut yang mengisahkan peristiwa di mana Fir’aun meminta Haman mendirikan menara bersesuaian sempurna dengan penemuan purbakala ini. Melalui penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan tak beralasan dari para penentang Al Qur’an terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual.

Secara menakjubkan, Al Qur’an menyampaikan kepada kita pengetahuan sejarah yang tak mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.

[2] Walter Wreszinski, Aegyptische Inschriften aus dem K.K. Hof Museum in Wien, 1906, J. C. Hinrichs’ sche Buchhandlung
[3] Hermann Ranke, Die Ägyptischen Personennamen, Verzeichnis der Namen, Verlag Von J. J. Augustin in Glückstadt, Band I, 1935, Band II, 1952

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Friday, September 14, 2012

Pengertian Mukjizat Dalam Islam dan Kristen Friday, September 14, 2012


MUKJIZAT, mu'jizat atau mujizat (Arab معجزة, Baca Mu'jizah) adalah perkara yang di luar kebiasaan, yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya, untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya.[1]

Etimologi
Kata mukjizat berasal dari kata bahasa Arab yang berarti melemahkan, dari kata ‘ajaza (lemah). Dalam aqidah Islam mukjizat dimaknakan sebagai suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan yang digunakan untuk mendukung kerasulan seorang rasul, sekaligus melamahkan lawan-lawan para rasul. Pengertian ini terkait dengan kehadiran seorang nabi atau rasul. Nabi dan rasul di dalam menyampaikan ajarannya selalu mendapatkan tantangan dari masyarakatnya. Misalnya, ajarannya dianggap obrolan bohong, bahkan dianggap sebagai tipu daya (sihir).[2][3][4] Untuk membuktikan kerasulan tersebut sekaligus membantah tuduhan para penantangnya, lalu nabi diberi kelebihan (mukjizat) berupa peristiwa besar yang luar biasa. Peristiwa inilah yang disebut dengan mukjizat.

Mukjizat dalam Islam
Mukjizat merupakan kejadian/kelebihan di luar akal manusia yang tidak dimiliki oleh siapapun, karena mukjizat hanya dimilki oleh para rasul yang diberikan oleh Allah kepada para rasul-Nya. Sedangkan apabila ada seseorang yang memilki sesuatu yang luar bisa itu tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat melainkan karomah. Kemudian ada pula istilah irhasat dan khawariq, irhasat adalah pertanda yang terjadi untuk menunjukkan tanda kelahiran seorang nabi (sebelum kenabian). Sedankan khawariq adalah kejadian yang terjadi dalam keadaan yang luar biasa.[5]

Mukjizat biasanya berisi tentang tantangan terhadap hal-hal yang sedang menjadi trend pada zaman diturunkannya mukjizat tersebut. Misalnya pada zaman Musa, trend yang sedang terjadi adalah ilmu sihir maka dengan mukjizat tongkat Musa bisa berubah menjadi ular dan mengalahkan ilmu sihir orang lain yang ada di sekitarnya. Juga pada zaman Isa, trend yang sedang berkembang adalah ilmu kedokteran dan pengobatan, maka pada saat itu mukjizat Isa adalah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal yang merupakan puncak dari ilmu pengobatan.

Demikian juga pada zaman Muhammad, trend yang sedang berkembang adalah ilmu sastra. Maka disaat itulah dirunkan Al-Qur'an sebagai mukjizat Muhammad. Nabi yang pada saat itu tidak bisa membaca dan menulis tapi bisa menunjukkan Al-Quran yang diyakini oleh umat Muslim, memiliki nilai sastra tinggi, tidak hanya dari cara pemilihan kata-kata tapi juga kedalaman makna yang terkandung di dalamnya sehingga Al-Quran dapat terus digunakan sebagai rujukan hukum yang tertinggi sejak zaman masa hidup nabi sampai nanti di akhir zaman.

Beberapa contoh mukjizat para nabi dan rasul:
  1. Daud memiliki suara merdu sehingga makhluk lain pun ikut bertasbih bersamanya, sanggup berbicara dengan burung, dan berhasil mengalahkan Jalut seorang prajurit raksasa dari negeri Filistin, sanggup melunakkan besi dengan tangan kosong. 
  2. Ibrahim tidak hangus dibakar, karena api yang membakarnya berubah menjadi dingin. 
  3. Yusuf memiliki ketampanan luar biasa dan mampu mentakwilkan mimpi-mimpi. 
  4. Shaleh berupa unta betina yang tidak boleh disembelih, sebagai hujjah atas kaumnya. 
  5. Yunus bisa hidup di dalam perut ikan nun selama tiga hari. 
  6. Sulayman sanggup berbicara dalam bahasa hewan, menguasai bangsa jin, mampu menundukkan angin, memiliki permadani yang terbuat dari sutera hijau dengan benang emas dengan ukuran 60 mil panjang dan 60 mil lebar. 
  7. Musa berupa tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, topan, laut, dan peristiwa-peristiwa di Bukit Thur. 
  8. Isa berupa kemampuan menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penderita kusta dan menghidupkan orang mati. 
  9. Muhammad berupa Isra dan Mi'raj, membelah bulan untuk membuktikan kenabiannya terhadap orang Yahudi, bertasbihnya kerikil di tangannya, batang kurma yang menangis, pemberitaan Muhammad tentang peristiwa-peristiwa masa depan ataupun masa lampau, tetapi mukjizat yang terbesar adalah Al-Qur’an.
    Bentuk mukjizat

    Mukjizat-mukjizat tersebut tidak lepas dari bentuk-bentuk berikut ini:
    1. Ilmu, seperti pemberitahuan tentang hal-hal ghaib yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi, umpamanya pengabaran Isa kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Sebagaimana pengabaran Muhammad tentang fitnah-fitnah atau tanda-tanda hari kiamat yang bakal terjadi, sebagaimana banyak dijelaskan dalam hadits-hadits. 
    2. Kemampuan dan kekuatan, seperti mengubah tongkat menjadi ular besar, yakni mukjizat Musa yang diutus kepada Firaun dan kaumnya. Kemudian penyembuhan penyakit kulit, buta, serta menghidupkan orang-orang yang sudah mati, yang kesemuanya adalah mukjizat Isa. Juga terbelahnya bulan menjadi dua yang merupakan salah satu mikjizat Muhammad. 
    3. Kecukupan, misalnya perlindungan bagi Muhammad dari orang-orang yang menginginkan kejahatan kepadanya. Hal ini sering terjadi, ketika di Makah sewaktu malam hijrah, ketika di dalam gua, lalu dalam perjalanan ke Madinah ketika bertemu dengan Suraqah bin Malik, lalu di Madinah ketika orang-orang Yahudi ingin menculiknya dan lain-lain. Contoh-contoh ini yang diyakini oleh umat Muslim menunjukan bahwa Allah mencukupi rasul-Nya dengan perlindungan, sehingga tidak membutuhkan lagi perlindungan makhluk lain.

    Dari tiga jenis mukjizat para nabi di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya bertujuan untuk membenarkan kerasulan para rasul, dengan kemapuanya melebihi kemampuan masyarakatnya. Masyarakatnya tidak berdaya (‘ajaza) menantang para rasul, sehingga mereka menerima kebenaran ajaran yang dibawa para rasul.

    Para nabi memiliki mukjizat yang berbeda sesuai dengan kondisi masyaraktnya. Musa, karena masyarakatnya sangat ahli dalam ilmu sihir, maka mukjizatnya ialah kemampuan mengubah tongkat menjadi ular besar, yang mampu menelan semua ular yang dimunculkan para penyihir Fir’aun. Isa, karena masyarakatnya ahli di bidang pengobatan, mukjizatnya ialah kemampuan menyembuhkan orang buta sehingga mampu melihat kembali.

    Sedangkan Muhammad, karena masyarakatnya ahli dalam bidang sastra, maka mukjizatnya ialah Al-Qur’an, yang melebihi sastra Arab gubahan para sastrawan yang dianggap tidak ada yang mampu menyaingi Al-Qur’an ketika itu. Bagaimana canggihnya kemampuan sastrawan Arab, namun mereka tidak mampu (tidak berdaya) menyamai al-Qur’an.

    Mukjizat dalam Kristen
    Mukjizat' adalah suatu kejadian atau peristiwa yang luar biasa atau di luar kebiasaan yang dilakukan oleh TUHAN (YHWH) atau oleh Allah atau oleh Kuasa Roh TUHAN dengan tujuan tertentu, misalnya untuk meneguhkan pengutusan seorang Nabi TUHAN, seorang Rasul Tuhan maupun seorang hamba Tuhan.

    Etimologi
    Mukjizat' berasal dari Bahasa Arab المعجزات (Baca: al-Mu'jizat), bermakna "suatu kejadian atau peristiwa atau fenomena yang luar biasa atau di luar kebiasaan atau yang secara normal tidak dapat dilakukan oleh manusia atau oleh mesin buatan manusia maupun oleh makhluk hidup ciptaan Tuhan, sehingga secara meyakinkan hanya dapat dilakukan oleh kuasa Tuhan sendiri." Tetapi suatu kejadian yang luarbiasa mungkin saja merupakan sesuatu hal atau temuan yang baru yang nampak seperti sebuah mukjizat, namun jika dikemudian hari hal tersebut menjadi pengetahuan yang dapat dikuasai oleh manusia, sehingga banyak orang atau mesin buatan manusia dapat mengulangi kejadian, peristiwa atau fenomena serupa, maka kejadian, peristiwa atau fenomena tersebut tidak dapat dikategorikan atau digolongkan sebagai mukjizat.

    Alkitab mencatat begitu banyak kejadian atau peristiwa yang secara meyakinkan dapat digolongkan sebagai mukjizat. Berikut beberapa contoh mukjizat yang tercatat di Alkitab yang secara meyakinkan merupakan perbuatan TUHAN dengan alasan yang menguatkannya.

    Penciptaan langit dan bumi
    Kitab Kejadian menceriterakan bagaimana Allah menciptakan Bumi dan segala isinya dalam enam hari menurut bilangan Tuhan(Kejadian 1:1-31). Langit dan Bumi diciptakan dari ketiadaan (kosong) menjadi ada sehingga sangat meyakinkan bahwa penciptaan langit dan Bumi merupakan mukjizat yang dikerjakan oleh Allah.

    Mukjizat yang dilakukan melalui Nabi Musa
    (Lihat selengkapnya di sini)

    Kitab Keluaran mencatat mukjizat-mukjizat TUHAN yang dilakukan melalui Nabi Musa antara lain sebagai berikut.
    1. Mengadakan berbagai tulah kepada negeri Mesir demi membebaskan bangsa Israel, yang dikenal dengan nama 10 Tulah Mesir. 
    2. Mengadakan mukjizat membelah Laut Merah ketika orang Mesir mengejar orang Israel dengan maksud membawa orang Israel kembali, setelah orang Israel dibebaskan dari perbudakan.Mukjizat itu membuat seluruh orang Mesir hanyut tenggelam di dalam Laut Merah. 
    3. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut oleh karena persediaan makanan dan air mereka sudah habis. Oleh karena itu, Tuhan menjawab doa Musa dan mengirimkan Manna dan burung puyuh. Manna adalah seperti roti yang terbentuk dari embun. Manna ini muncul di pagi hari. Sementara burung puyuh dikirim oleh Tuhan setiap sore oleh angin yang kencang. 
    4. Ketika bangsa Israel menemukan sebuah mata air yang pahit. Lalu Musa melemparkan sebuah cabang kayu ke situ dan air itu menjadi manis. 
    5. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut oleh karena tidak ada air, sehingga Musa, atas perintah Tuhan, memukul sebuah bukit batu dengan tongkatnya, dan air memancar. Namun Musa mengatakan suatu perkataan yang dianggap Tuhan tidak pantas, sehingga itu menyebabkan Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan bersama bangsa Israel. 
    6. Ketika Bangsa Israel mendapat serangan dari ular ketika di padang gurun oleh karena Tuhan murka kepada bangsa Israel yang terus bersungut-sungut. Kemudian Tuhan menyuruh Musa membuat patung ular dari tembaga. Siapapun yang melihat kepada patung itu, akan sembuh dari racun gigitan ular-ular itu.
    Mukjizat Yesus
    (Lihat selengkapnya di sini.)

    Mukjizat Muhammad (saw)
    (Lihat selengkapnya di sini)



    CATATAN KAKI:
    1.  Al Irsyad ila Shahih al I’tiqad, karya Syeikh Shalih al Fauzan, hal.205.
    2.  "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala." (Al-Anfal 8:31)
    3.  "Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (Shad 38:4)
    4.  "Dan tatkala kebenaran (Al Quran) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya." (Al-Zukhruf 43:30)
    5.  Perbedaan Mukjizat, Irhasat dan Khawariq di Scribd.com
    Referensi
    Pranala luar

    [Sumber: Wikipedia]

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *