Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Rasulullah (Kehidupan Pribadi). Show all posts
Showing posts with label Rasulullah (Kehidupan Pribadi). Show all posts

Tuesday, December 10, 2019

Garis Suci Leluhur Rasulullah SAW Tuesday, December 10, 2019


Kisah Nabi Muhammad SAW terkait nasabnya banyak ditulis dalam Sirah Nabawiyah. Sejumlah penulis Sirah Nabawiyah menuliskan bahwa Muhammad SAW yang disebut khairul khalq atau makhluk terbaik dan sayyidul anbiyâ' wal mursalîn (pemimpin para nabi dan rasul) memiliki nasab alias garis keturunan yang suci.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti Wahab. Informasi mengenai kisah Nabi Muhammad SAW terkait silsilah garis keturunan diriwayatkan dalam hadits Muslim dan At-Tirmidzi yang mengutip pernyataan Watsilah bin Asyqo.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail dan Allah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim."

Dari garis sang ayah, Abdullah, Nabi Muhammad adalah cicit dari Hasyim, cikal-bakal lahirnya Bani Hasyim. Bani Hasyim adalah pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan Kakbah. Hasyim adalah ayah dari Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Cikal-bakal Bani Hasyim adalah Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay.

Bani Hasyim adalah bagian dari Suku Quraisy yang merupakan anak keturunan Fihr bin Malik bin Al Nadhr bin Kinanah. Kinanah sendiri adalah cikal bakal munculnya Bani Kinanah. Sehingga Quraisy oleh sejumlah sejarahwan disebut sebagai pecahan dari Bani Kinanah. Kinanah merupakan keturunan dari Adnan. Lengkapnya Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Di zaman Rasulullah SAW, masyarakat Arab hanya mengetahui garis leluhurnya hingga Adnan. Meski demikian para ulama mau pun penulis Sirah Nabawiyah meyakini bahwa nasab Adnan ujungnya adalah Ismail bin Ibrahim AS. "Nasab Adnan berakhir pada Sayyidina Isma'il bin Ibrahim Alaihima as-salam," tulis Abdul Hasan 'Ali al-Hasani an-Nadwi dalam Sirah Nabawiyah.

Imam Ibnu Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah juga menuliskan kisah Nabi Muhammad SAW. Disebutkan bahwa garis keturunan Adnan adalah anak dari Udda. Lengkapnya Adnan bin Udda-dilafalkan juga Udada bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya'ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim.

Sehingga Nasab Rasulullah sampai kepada Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim adalah sbb:
Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdu Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Add bin Humaisi' bin Salaman bin Aws bin Buz bin Qamwal bin Obai bin 'Awwam bin Nashid bin Haza bin Bildas bin Yadlaf bin Tabikh bin Jahim bin Nahish bin Makhi bin Ayd bin 'Abqar bin 'Ubayd bin Ad-Da'a bin Hamdan bin Sanbir bin Yathrabi bin Yahzin bin Yalhan bin Arami bin Ayd bin Deshan bin Aisar bin Afnad bin Aiham bin Muksar bin Nahith bin Zarih bin Sami bin Wazzi bin 'Awda bin Aram bin Qaidar bin Nabi Ismail AS bin Nabi Ibrahim AS.


[Sumber: Erwin Dariyanto]

Thursday, May 19, 2016

Menurut Hadits, Ayah Bunda Rasulullah SAW Kafir Dan Kini Berada Di Neraka Thursday, May 19, 2016

2
Muslim yang baru pertama kali mendengar, atau membaca judul seperti di atas pasti akan terkejut dan terheran-heran sendiri. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam, penutup para nabi, pembawa rahmat bagi seluruh alam, Nabi bagi seluruh umat manusia yang juga dikenal sebagai "kekasih" Allah, kedua orangtuanya disebut-sebut dalam hadits sebagai Kafir dan saat ini sudah berada di neraka pula?

Ya, memang mengherankan!
Tapi seperti kata para pendahulu, sebetulnya ini adalah perkara khilafiah yang sudah ada jauh sebelum kita sendiri lahir, dan tentu saja sudah selesai dibahas tuntas oleh para ahlul hadits yang paling mengetahui-seluk beluk cerita ini. Tapi belakangan, ternyata isu ini muncul lagi dan beredar di internet dalam berbagai bentuk tulisan, bahkan dalam tayangan video ceramah satu-dua orang ustadz kondang, yang baik disengaja atau tidak, dapat diartikan sebagai bentuk "pembunuhan krakter" Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam dengan cara menyerang martabat dan kehormatan beliau, sekaligus merendahkan intelektualitas seluruh umat Islam!

Ada tiga isu utama dalam cerita ini,
  1. Ayah bunda Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam kafir
  2. Ayah bunda Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam sudah berada di neraka
  3. Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam tidak mampu menyelamatkan kedua orangtuanya 


MAKNA KAFIR
MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN

kata "Kafir" disebutkan sebanyak 517 kali dalam 438 ayat Al-Quran


TINJAUAN SANAD HADITS 
AYAH  RASULULLAH SHALLALLAHU ALAYHI WASALAM 
KINI SUDAH BERADA DI NERAKA

● Dalil Firanda Talafi menyatakan orang tua Nabi Saw Kafir dan masuk Neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad: 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَن ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ فِي النَّارِ، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
Telah menyampaikan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, menyampaikan kepada kami ‘Affan, menyampaikan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas bahwasanya seorang laki-laki berkata: "Ya Rasulullah, dimanakah ayahku?" Nabi Saw bersabda: "Di dalam neraka." Ketika orang itu pergi, Nabi memanggilnya kembali dan bersabda: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka.”

Hadits ini Dha‘if menurut Imam as-Suyuthi, diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam an-Nasikh wa al-Mansukh. [Ad-Durar al-Muntatsirah (pinggir Fatawi Haditsiyah) hlm. 234]

■ SANAD
Dalam sanad HR Imam Muslim di atas terdapat nama perawi yang diperbincangkan para ulama, yakni: Hammad bin Salamah.

Mengenai Hammad bin Salamah, para ulama terbagi menjadi dua kelompok:

1. Para ulama ahlul hadits yang men-tsiqah-kan di antaranya:
  • Ibnu Mahdi,
  • Ibnu Mu’in
  • Al-Ajli, dan
  • Ibnu Hibban.
2. Para ulama ahlul hadits yang membuat catatan khusus tentangnya antara lain:
  • Yahya bin Sa’id al-Qaththan,
  • Ali bin Al-Madini,
  • Ahmad bin Hanbal,
  • An-Nasai,
  • Adz-Dzhabai,
  • Ya’qub bin Syaibah,
  • Abu Hathim 
  • dan yang lainnya,
●● Termasuk Imam Muslim sendiri.

■ PERAWI
Mengenai Hammad, Imam Muslim berkata:

وحماد يعدّ عندهم إذا حدّث عن غير ثابت؛ كحديثه عن قتادة، وأيوب، ويونس، وداود بن أبي هند، والجريري، ويحيى بن سعيد، وعمرو بن دينار، وأشباههم فإنه يخطىء في حديثهم كثيراً
“Dan Hammad dipermasalahkan menurut para ulama besar ahli hadits jika meriwayatkannya dari selain Tsabit; seperti periwayatan dari Qatadah, Ayyub, Yunus, Dawud bin Abu Hindi, Aljariri, Yahya bin Sa’id, Amr bin Dinar dan lainnya, karena Hammad melakukan banyak kesalahan dalam Hadits periwayatan mereka.”  [At-Tamyizi: 218]

■ ALASAN PENOLAKAN
Para ulama ahli hadits sepakat, bahwa ketika Hammad menginjak usia lanjut, hafalannya mengalami gangguan. Bahkan dicurigai anak angkatnya melakukan penyisipan teks pada hadits-hadits Hammad.

Imam al-Baihaqi berkata:
حماد ساء حفظه في آخر عمره، فالحفاظ لا يحتجون بما يخالف فيه
“Hammad buruk hafalannya di akhir usianya, maka para ulama hadits tidak menjadikan hujjah dengan hadits Hammad yang terdapat kontradiksi di dalamnya.” [Syarh al-‘Ilal: 2/783]

Imam Abu Hathim berkata:
حماد ساء حفظه فى آخر عمره
“Hammad buruk hafalannya di usia lanjutnya.” [Al-Jarh wa At-Ta’dil: 9/66].

Imam Az-Zaila’i berkata:

لما طعن فى السن ساء حفظه. فالاحتياط أن لا يُحتج به فيما يخالف الثقات
“Ketika Hammad berusia lanjut, hafalannya menjadi buruk, maka untuk lebih hati-hatinya hendaknya tidak menjadikannya sebagai hujjah pada hadits-haditsnya yang menyelisihi periwayat-periwayat tsiqah lainnya.” [Nashbu Ar-Rayah: 1/285].

PERBANDINGAN RIWAYAT HAMAD 
DENGAN RIWAYAT MA’MAR BIN AL-MUTSANNA

Berikut adalah jalur sanad Ma’mar dari Tsabit, dari Anas, 

اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله، اَيْنَ اَبِي؟ قَالَ فِي النَّارِ. قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْك..َ؟
قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِكَافِرٍ، فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ
Sesungguhnya seorang A’rabi bertanya kepada Rasulullah Saw: "Di mana ayahku?" Rasulullah bersabda: "Dia di neraka." A’rabi pun bertanya kembali: "Di mana ayahmu?" Rasulullah pun menjawab: "Sekiranya engkau melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira (padanya) dengan neraka."

● Dalam sanad Ma’mar ini tidak disebutkan keberadaan ayahanda Nabi SAW. 
●● Sanad Ma’mar ini dipandang lebih kuat (atsbat) daripada sanad Hammad. 

Para ahli hadits mencatat bahwa di hari tuanya daya ingat Hammad bin Salamah dipertanyakan (diragukan) dan sebagian riwayatnya telah ditolak. [Lihat penjelasannya di sini] 

IMAM BUKHARI 
SAMA SEKALI TIDAK MERUJUK RIWAYAT DARI HAMMAD

Demikian pula Imam Muslim dalam Ushul Hadits (hadits-hadist yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dalam syariat Islam), kecuali melalui Tsabit.

Dari berbagai perspektif, sanad Ma’mar tidak bercacat. Hal ini semakin dikuatkan lagi dengan pengakuan Imam Bukhari dan Imam Muslim yang sama-sama merujuk hadits dari Ma'mar. Dengan demikian, periwayatan Ma'mar dipercaya lebih jelas dan lebih dapat dipercaya.

Sementara itu, hadits dengan narasi serupa dengan riwayat Ma’mar juga muncul melalui jalur sanad yang lain.
  • Al-Bazzar,
  • Thabrani,
Baihaqi mengutipnya dari Ibrahim bin Sa’ad dari Al-Zuhri dari Amir bin Sa’ad dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Sanad hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim.

HADIST IMAM MUSLIM 
DARI JALUR HAMMAD ADALAH HADIST AHAD.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa Hadits Muslim dari jalur Hammad tersebut merupakan Hadits Ahad yang Matruk Ad-zhahir.

● Hadits Ahad adalah hadits yang bertentangan dengan nash Al-Quran, atau hadits mutawatir, atau kaidah-kaidah syariat yang telah disepakati atau ijma’ yang kuat. Maka zhahir hadits tersebut wajib ditinggalkan dan tidak boleh dijadikan hujjah dalam masalah-masalah aqidah.

Imam Nawawi menegaskan,

ومتى خالف خبر الاحاد نص القران او اجماعا وجب ترك ظاهره
“Kapan saja hadits Ahad bertentangan dengan nash ayat Al-Quran atau ijma’, maka wajib ditinggalkan zhahirnya.” [Syarh Al-Muhadzdzab, juz :4 hal : 342]

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani menulis,

قال الكرماني : ليعلم انما هو اي – خبر الاحاد – في العمليات لا في الاعتقاد
“Imam al-Karamani berkata, “Ketahuilah sesungguhnya hadits Ahad hanya boleh dibuat hujjah dalam hal amaliah bukan dalam hal aqidah.” [Fath Al-Bari juz : 13 hal : 231]

Ibnu Taimiyyah menjelaskan,

ان هذا من خبر الاحاد فكيف يثبت به اصل الدين اللذي لا يصح لايمان الا به
“Sesungguhnya ini termasuk hadits ahad, bagaimana (mungkin) fondasi agama yang merupakan standar keabsahan iman, bisa menjadi tsubut/tetap dengannya.” [Minhaj As-Sunnah, juz 2 hal : 133]

KONTRADIKSI HADITS HAMMAD 
DENGAN AL-QURAN DAN HADITS-HADITS SHAHIH LAINNYA

Berbekal satu hadits Ahad, musuh-musuh Islam tampaknya tidak ragu untuk terus menyerang martabat dan kehormatan Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam dengan tujuan yang jauh lebih buruk lagi, yakni berusaha mempengaruhi umat Islam untuk menerima pemikiran sempit mereka sebagai sebuah keniscayaan -- bahwa untuk menyelamatkan ayahnya sendiri dari neraka saja beliau tidak mampu -- apalagi untuk menolong seluruh umatnya? Dan ironisnya, dengan mengesampingkan sejumlah dalil-dalil shahih lainnya, ternyata ada juga sebagian dari umat Islam sendiri yang secara diam-diam atau secara terang-terangan ikut mengamininya! 

Ini keliru! Mengingat perkara sorga dan neraka pada hakekatnya adalah ghaib, dan tidak ada satu manusiapun di muka bumi ini yang mengetahuinya secara pasti kecuali hanya Allah Subhanahu Wata'ala semata!

Artinya, mengatakan si fulan dan si fulan saat ini ada di neraka atau di sorga adalah perbuatan lancang yang mendahului Allah!  

Firman Allah,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml:65)


وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud:123)

Dengan Hujjah dr Imam Muslim yg notabene nya Hadist tsb Perawi nya yg Lemah dan temasuk Hadist Ahad tsb, Wahabi Talafi telah Berani Ketok Palu Bahwa Ayah Dan Ibu Nabi Saw Kafir dan Dineraka

Hanya dengan 1 dalil Hadist, Wahabi telah membuang Dalil yg Lainnya.

Hadits Abu Hurairah ra:

نْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ
“Aku diutus dari sebaik-baik anak Adam, Keturunan demi keturunan, hingga aku berada di dalam keturunan yang kemudian melahirkan aku.” [HR Bukhari].

Ali bin Abu Thalib ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:

خَرَجتُ مِن نِكَاحِ وَ لَم أَخرُجُ مِن سفاح، مِن لدن آدم إلىَ أن ولدني أَبِي و أُمِّي لَم يُصِبنِي مِن سفاح الجاهلية شيءٌ
”Aku lahir dari pernikahan dan tak pernah lahir dari perzinaan, dari Adam hingga ayah dan ibuku melahirkan aku. Perzinaan tidak menyentuh diriku sekalipun pada zaman Jahiliyah. [HR Baihaqi, Abu Nu’aim, Ibnu Katsir, Ibnu Sa’ad, Thabrani, Al-Haitsami, Al-Hakim, dan lain-lain].

Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda: "Kakek buyutku dan nenek buyutku tak pernah berkumpul kecuali dalam perkawinan yang sah. Allah senantiasa memeliharaku dari tulang sulbi yang baik ke alam rahim yang suci, dan garis itu tak pernah bercabang kecuali aku berada di dalam dua cabang yang terbaik." [Lihat: Tarikh 1:349, karya Ibnu Asyakir, Ad-Durul Mantsur 3: 294 dan 5::98 karya As-Suyuthi, dan Al-Wafa’ Bagian Pertama, Bab 10 karya Ibnul Jauzi].

Imam Ibn Abbas ra berpendapat bahwa makna ayat di atas adalah turun temurunnya engkau di tubuh ayah ayahmu yang kesemuanya hamba yang bersujud.

Taqallubaka ditafsirkan sebagai terbolak balikmu maksudnya di antara ayah ke ibu, ke putra, lalu ke istrinya, lalu ke putra, lalu ke istrinya, dan kesemuanya mereka adalah hamba hamba Nya yang bersujud, yaitu bukan musyrikin.

Cukuplah keterangan berikut ini sebagai peringatan bagi kita:

Telah berkata sebagian ulama:

“Telah ditanya Qodhi Abu Bakar bin ‘Arobi, salah seorang ulama madzhab Maliki mengenai seorang laki-laki yang berkata bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka. Maka, beliau menjawab bahwa orang itu terlaknat, karena Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan melaknat mereka di dunia dan akherat dan menyiapkan bagi mereka itu adzab yang menghinakan”. (QS. Al-Ahzab: 57).

Dan tidak ada perbuatan Hina yang lebih besar dibandingkan dengan perkataan bahwa Ayahanda Nabi Saw berada di dalam neraka.

Betapa tidak?
Sedangkan Ibnu Munzir dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ketika kepada beliau dikatakan: “Engkau anak dari kayu bakar api neraka”, Maka berdirilah Rasulullah SAW dalam keadaan marah, kemudian berkata: 

ما بال أ قوام يؤذونني فى قرابتي و من أذاني فقد أذى الله
“Bagaimana keadaan kaum yang menyakiti aku dalam hal kerabatku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah”.

[Sumber: generasisalaf]



Sunday, June 8, 2014

Isteri-Isteri Rasulullah SAW Sunday, June 8, 2014

Berikut adalah nama-nama isteri Rasulullah dan alasan beliau menikahi mereka:

1. Khodijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal. Sedangkan anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.

2. Saodah binti Zam'ah RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.

3. Aisyah binti Abu Bakar RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Ia adalah seorang gadis dan Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah.

Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat pending dalam dakwah Rasulullah SAW baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna.

Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.

4. Hafsoh binti Umar bin Al-Khatab RA, beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.

Dengan menikahi hafshah putri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah SAW dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak heran karena Umar memiliki pernanan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah maupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia. Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua kabar gembira di masa Rasulullah SAW bahwa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.

5. Zainab binti Khuzaimah RA, dari Bani Hilal bin Amir bin Sho?sho?ah dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi mereka. Sebelumnya ia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW .

6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA, sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama.

Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.

7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA, dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di bulan Dzul Qo?dah tahun kelima dari Hijrah.

Pernikahan tersebut adalah atas perintah Alloh SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.

8. Juwairiyah binti Al-Harits RA, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza?ah. Ia merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya?ban tahun ke 6 Hijrah.

Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilhnya (karena ia adalah anak pemimpin kabilah tersebut) dan membebaskan tawanan perang.

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA, sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.

Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.

10. Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA, dari Bani Israel, ia merupakan tawan perang Khoibar lalu Rasulullah SAW memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khoibar tahun 7 Hijriyyah.

Pernakahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.

11. Maimunah binti Al- Harits RA, saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Ia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa'dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.

Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, tak satupun yang melahirkan anak hasil perkawinan mereka dengan Rasulullah SAW, kecuali Khadijatul Kubra seperti disebutkan di atas. Namun Rasulullah SAW pernah memiliki anak laki-laki selain dari Khadijah yaitu dari seorang budak wanita yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.

Demikianlah sekelumit data singkat para istri Rasulullah SAW yang secara khusus diizinkan menikahi mereka yang jumlahnya lebih dari 4 orang, batas maksimal poligami dalam Islam.

Dari kesemuanya itu, umumnya Rasulullah SAW menikahi mereka karena pertimbangan kemanusiaan dan kelancaran urusan dakwah.

Monday, October 29, 2012

Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Monday, October 29, 2012


Didasari nawaitu mengharap ridha Allah Subhanahu Wata'ala, dan demi kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihiwassalam, maka dengan mengucap Basmallah selanjutnya situs sederhana berbasis tulisan Muhammad Husain Haekal ini kami persembahkan kepada pembaca sebagai pelengkap referensi...

Friday, September 9, 2011

Rasulullah SAW Dan Seorang Pengemis Yahudi Friday, September 9, 2011


Saya masih ingat masa kecil saat belajar mengaji di madrasah (semacam sekolah "ekstra kurikuler" untuk anak-anak muslim di kampung halaman saya) dulu. Setidaknya sekali dalam seminggu kami mendapat kesempatan untuk melupakan sejenak bagaimana "membosankanya" belajar membaca Al-Qur'an dan mengkaji - pada taraf kemampuan berfikir anak kecil  - tentang hakikat dan dasar-dasar ajaran Islam. Sebab hari itu adalah saatnya anak-anak mendengarkan pak guru bercerita tentang berbagai kisah teladan islami demi memuaskan permintaan murid-muridnya yang dengan penuh minat saling berdesakan di sekelilingnya sambil tak bosan-bosannya berteriak-teriak; "Lagi, ... lagi, ... ceritakan yang lainnya lagi ustadz!" setiap kali beliau menyelesaikan sebuah kisah.

Salahsatu kisah teladan yang masih membekas dalam di hati saya adalah ini:

Syahdan pada jaman Rasululllah Salallahu'alaihi Wasallam dulu, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari selalu berseru kepada orang-orang yang lalu lalang di dekatnya dengan kalimat-kalimat yang hampir sama,  “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad! Muhammad adalah orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Oleh karena itu, jauhilah dia. Apabila kalian mendekatinya, maka kalian pasti akan celaka karena dipengaruhinya!"

Namun ia tidak pernah menyadari bahwa (mungkin sekali) karena itu, setiap pagi Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam selalu mendatanginya dengan membawakan makanan. Dan tanpa berucap sepatah kata pun beliau dengan lemah lembut dan penuh kesabaran menyuapkan makanan yang dibawanya itu kepada sang pengemis. Sementara itu, orang yang beliau suapi itu tiap sebentar tak bosan-bosannya menyerukan kalimat-kalimat penuh fitnah tentang diri Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam di hadapan beliau sendiri!

Kebiasaan Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam ini tercatat sebagai salahsatu amal beliau (bila tidak sedang bepergian atau berperang) hingga beliau wafat. Sepeninggal Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam, maka praktis tidak ada lagi orang yang setiap pagi datang membawakan makanan bagi pengemis Yahudi buta itu.

Masih dirundung duka atas wafatnya Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam, suatu hari, sahabat terdekat beliau, yakni Abubakar r.a, berkunjung ke rumah putrinya Aisyah r.a, yang dinikahkannya kepada sahabat yang sangat disayanginya itu.

Beliau bertanya kepada Aisyah r.a, “Anakku, adakah kebiasaan orang terkasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah r.a, menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu pun kebiasaan Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam yang belum ayah lakukan kecuali satu.”
“Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a, takjub.
“Setiap pagi sahabat ayah itu selalu pergi ke ujung pasar membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang duduk di sana." kata Aisyah r.a.

Keesokan harinya, Abubakar r.a, pun pergi membawa makanan ke pasar dengan maksud untuk diberikan kepada  pengemis buta yang diceritakan oleh putrinya itu. Abubakar r.a, menemukan sang pengemis di tempatnya biasa berada dan tentu saja, harus menahan rasa jengkel mendengar sang pengemis rupanya masih tetap menyerukan fitnah yang sama atas diri Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam. Namun karena sudah menjadi niat, maka beliau pun menghampiri sang pengemis seraya coba memberinya makan. Namun ketika baru saja mulai menyuapinya, tiba-tiba saja si pengemis marah sambil menghardik, “Hey, siapakah engkau?"

Sejenak Abubakar r.a, tertegun, lalu ragu-ragu menjawab, “Aku adalah orang yang biasa datang padamu.”

“Bukan! Engkau pasti bukan dia!” Bantah si pengemis buta dengan keras.
“Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah pula mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangi dan menyuapiku itu selalu menghaluskan makanannya dulu sebelum disuapkan padaku. Dan cara dia menyuapiku sangat berbeda dengan caramu!!” lanjut pengemis buta itu dengan bersungguh-sungguh.

Mendengar itu, Abubakar r.a, tidak dapat lagi menahan air matanya. Maka sambil menangis beliau pun berkata , “Memang aku bukan orang yang biasa datang padamu. Aku hanya salahseorang dari begitu banyak sahabat-sahabatnya. Tapi orang mulia itu kini telah tiada. Dan tahukah engkau bahwa dia adalah Muhammad Rasulullah Salallahu'alaihi Wassalam yang setiap hari engkau nistakan itu?”

Bagai mendengar petir di siang bolong, seketika itu juga pengemis buta itu menjatuhkan dirinya berlutut sambil ikut menangis karena penyesalan yang amat sangat. Ia merasa begitu malu pada dirinya sendiri karena telah berlaku sangat tidak pantas kepada orang yang selama ini diam-diam telah demikian baik padanya. Orang yang tak pernah berkata-kata padanya tapi senantiasa memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

Di tengah-tengah isaknya, pengemis Yahudi buta itu terdengar seolah berbicara pada dirinya sendiri, “Benarkah dia Muhammad? Orang yang setiap hari kuhina dan kufitnah dengan keji, tapi tak sekalipun dia menegur apalagi memarahiku? Sebaliknya, tak bosan-bosan pula dia setiap pagi mendatangiku dengan membawa makanan? Jadi, selama ini ternyata dialah orang yang setiap hari memberiku makan? Dia menyuapiku dengan laku yang amat sabar. Dia begitu baik, dia begitu mulia, dia .... dia .... "

Maka sejurus kemudian, tanpa ragu sedikitpun sang pengemis lalu mengahadapkan wajahnya kepada Abubakar r.a, seraya berkata, "Wahai Tuan, saat ini juga, bimbinglah aku untuk mengikuti ajaran Muhammad!“

Pengemis Yahudi buta itu pun akhirnya bersyahadat di hadapan Sayidina Abubakar r.a, dan sejak hari itu ia menjadi seorang Muslim yang taat.


                                                                          ooo0ooo


[Bandung, 28 Agustus 2011]
-----------------------------------
  • Mengingat Masa Kecil Di Kampung Halaman.
  • Sebuah Renungan Menjelang Berpisah Dengan Bulan Seribu Bulan 1432H.
  • Mengenang Sosok Teladan Dan Pribadi Mulia Seorang Rasul Pilihan.

Saturday, August 13, 2011

Bantahan Logis Usia Aisyah Saat Menikah Dengan Nabi Muhammad Saw Saturday, August 13, 2011


Masalah ini selalu menjadi topik yang ‘hangat’ dalam perdebatan lintas agama, bahkan di kalangan internal umat Islam sendiri. Bedanya, dalam konteks debat lintas agama, tujuannya si pencetus topik tidak lain hanya untuk menghina dan menghujat pribadi Rasulullah saw, meskipun hal ini sebetulnya sudah ratusan kali dijawab oleh umat Islam, namun tetap diulang-ulang lagi oleh penanya yang lain.

Jawaban yang paling sering kita temukan adalah dengan mengkaji dan menganalisa sanad dari hadits yang menginformasikan bahwa ketika menikah, Aisyah berusia 6 tahun dan hidup serumah (diartikan telah melakukan hubungan suami istri) pada umur 9 tahun. 

Secara keseluruhan terdapat beberapa hadits yang mencatat jelas soal umur Aisyah ini, termasuk dalam shahih Bukhari dan Muslim, artinya kedua ahli hadits ini ketika mengumpulkan hadits, menemukan cerita yang sama dari beberapa orang, lalu ketika ditelusuri jalur periwayatannya, mereka berkesimpulan bahwa orang-orang yang terlibat dalam ‘menurunkan’ kisah tersebut layak dipercaya. Makanya Bukhari dan Muslim mencatat hadits ini dengan kategori shahih.

Masalahnya, sekalipun ketika imam Bukhari dan imam Muslim memperoleh banyak sumber yang menceritakan umur Aisyah tersebut, jalur periwayatannya ternyata mengerucut kepada 1 orang, yaitu Hisyam, yang lahir tahun 61H (jadi tidak pernah bertemu dengan Aisyah yang wafat tahun 57H). Hisyam sendiri mendapatkan cerita tersebut dari bapaknya Urwah bin Zubair, salah seorang sahabat yang hidup di jaman Nabi Muhammad SAW, dia memperoleh kisah tersebut sebagaimana yang diceritakan Aisyah kepadanya.

Jadi sekalipun imam Bukhari dan Muslim menemukan banyaknya orang yang menceritakan hadits ini, sumbernya adalah 1 orang, melalui Hisyam, sebagai satu-satunya orang yang memperoleh informasi dari bapaknya Urwah. Redaksi hadits tersebut menunjukkan Aisyah bercerita kepada Urwah ‘face to face’, tidak ada orang lain, lalu beberapa tahun kemudian Urwah juga menceritakan ‘face to face’ kepada anaknya, Hisyam, setelah itu barulah Hisyam menyampaikan informasi kepada banyak orang.

Di sini saja sudah muncul pertanyaan logis. Peristiwa perkawinan Rasulullah dengan Aisyah merupakan kejadian yang terbuka dan diketahui oleh masyarakat, sebagaimana layaknya semua pernikahan yang ada pada waktu itu. Artinya semua orang tentu mengetahui berapa umur Aisyah ketika menikah, namun tidak satupun orang-orang di Madinah menginformasikan soal Aisyah yang menikah dengan Nabi pada usia belia tersebut.

Pertanyaan logis berikutnya, Hisyam selama 71 tahun tercatat tinggal lama di Madinah dan mempunyai banyak murid, termasuk ulama terkenal yang banyak menceritakan hadits, imam Malik dan imam Hanafi. Imam Malik misalnya menulis kitab ‘al-Muwaththa’ yang berisi kumpulan hadits yang beliau terima dan sudah diteliti keshahihannya, cerita tentang umur Aisyah tersebut tidak ada di sana.

Ketika ditelurusi lagi sanad matan dan perawinya, ternyata semuanya merupakan orang-orang yang tinggal di Irak, artinya Hisyam baru menceritakan kisah ini setelah berusia 71 tahun dan sudah pindah ke Irak, tempat Hisyam menghabiskan hari tuanya. Imam Malik sendiri berkomentar: “Hisyam layak dipercaya dalam semua perkara, kecuali setelah dia tinggal di Iraq“. Bagi anda yang tetap ngotot untuk membenarkan hadits tentang umur Aisyah ini tentu saja boleh mengatakan: ”Bisa saja Hisyam ketika di Madinah tidak menceritakan kisah ini dengan berbagai alasan, lalu baru disampaikannya ketika sudah pindah ke Irak..”.  Jadi, sekalipun pernyataan tersebut sudah lemah, namun kita terima saja dulu sebagai salah satu kemungkinan.

Persoalan logis berikutnya muncul ketika kita mensinkronkan antara hadist ini dengan hadist-hadits lain terkait dengan umur Aisyah, juga tercatat dalam kitab yang sama, Bukhari dan Muslim. Pada kesempatan lain dikisahkan tentang umur Aisyah ketika turunnya surat al-Qamar (maksudnya pada peristiwa mukjizat Rasulullah membelah bulan), ketika terjadinya perang Badar dan Uhud, perbandingan umur Aisyah dengan putri-putri nabi, Fatimah dan Asma’, dll, maka di sini juga terjadi ketidak-sesuaian.

Misalkan seseorang menginformasikan: ”Saya lahir pada bulan September 1964”, lalu memberikan informasi lain lagi: ”Ketika pemberontakan G30S PKI terjadi, saya lagi belajar di kelas 4 SD”. Kita tahu bahwa pemberontakan tersebut terjadi tahun 1965, apakah mungkin anak berumur 1 tahun duduk di kelas 4 SD? Maka pararelisme kedua informasi tersebut tentu menjadi lemah, atau paling tidak, salah-satunya pasti tidak akurat. Namun mungkin anda masih ngotot dan berargumen: ”Bisa saja informasi lain yang salah, karena tidak menyebut umur Aisyah dengan jelas, seperti hadits yang terang-terangan mencatat usia 6 dan 9 tahun, bukan?”  Sekali lagi, anggap saja pernyataan tersebut masih memiliki probabilitas.

Sekarang mari kita lihat ini. Peristiwa pernikahan antara nabi Muhammad SAW dengan Aisyah terjadi pada masa awal hijrah, ketika umat Islam yang masih berjumlah sedikit dan lemah, mengungsi dari Makkah ke Madinah, bahkan tercatat akad nikahnya dilakukan di Makkah sebelum mengungsi, namun baru berkumpul dengan Rasulullah ketika sudah tinggal di Madinah. 

Pertanyaan logisnya adalah: ”Apakah dalam masyarakat Arab waktu itu lumrah menikahkan anak perempuan mereka pada usia 6 atau 9 tahun?” Tidak ada catatan empiris yang menyebutkan bahwa hal tersebut merupakan adat-istiadat mereka, dipastikan kalau itu yang terjadi maka ini menjadi suatu peristiwa yang luar-biasa yang akan banyak diperbincangkan orang. Para musuh-musuh Islam di Makkah pasti akan menjadikan pernikahan ini sebagai ’sasaran tembak’ untuk menyerang Islam yang masih lemah. Tindakan Rasulullah bisa dinilai sebagai sesuatu yang kontra-produktif terhadap syi’ar Islam, pada keadaan beliau bisa memilih wanita lain yang berumur layak untuk dinikahi dan tidak akan menimbulkan masalah.

Sebagai perbandingan, ketika Aa Gym melakukan poligami beberapa tahun lalu, popularitasnya langsung menurun, jamaah pengajian langsung sepi, padahal beliau menjalankan sesuatu yang dibolehkan dalam syari’at, namun karena dalam masyarakat tertanam nilai-nilai yang menganggap poligami merupakan tindakan yang tidak tepat dan didasari nafsu, maka para ibu-ibu pengikut acara pengajiannya pada bubar. Bayangkan jika Aa Gym melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma-norma agama.

Tidak tercatat adanya serangan dari musuh-musuh Islam di Makkah terhadap pernikahan ini, juga tidak tercatat adanya ’eksodus’ para pengikut Rasulullah untuk kembali murtad, termasuk juga pada orang-orang di Madinah yang merupakan masyarakat yang baru menerima Islam, menunjukkan bahwa pernikahan RAsulullah SAW tsb tidak pernah dipermasalhkan.

Anda mungkin bisa saja tetap ngotot dengan mengatakan: ”Nabi Muhammad SAW telah menyihir para pengikutnya dengan mengatakan pernikahan tersebut merupakan perintah Tuhan, lalu membuat mereka takut untuk membantah. Tujuannya jelas karena ingin menyalurkan hasratnya yang pedofilia”.

Pertanyaan logisnya adalah: ”Kalau memang beliau memiliki kecenderungan pedofilia, lalu mengapa pada awalnya Rasulullah malah menikahi Siti Khadijah yang berumur lebih tua?” Anda mungkin berkelit: ”Kecenderungan tersebut muncul setelah beliau menjadi nabi, ketika Khadijah sudah meninggal dunia..” 

Kembali lagi muncul pertanyaan logis: ”Setelah Khadijah wafat, Rasulullah melakukan poligami dengan 10 orang istri. Faktanya yang 'tercatat' berumur 6 tahun hanyalah Aisyah. Jika memang mau mengikuti kecenderungan tersebut maka pastinya bukan hanya Aisyah yang dinikahi ketika berusia di bawah umur. Rasulullah bisa menikahi Aisyah, lalu apa sulitnya beliau menikahi wanita muda lain dengan alasan yang sama?”  Alasan pedofilia menjadi tidak akurat dalam menghadapi fakta pernikahan Rasulullah tersebut.

Lalu ada keberatan lain: ”Tidak layak seorang tua berumur 60 tahun menikahi gadis belia belasan tahun. Orang tua yang sudah uzur dan loyo seharusnya memikirkan yang lain ...”

Anehnya soal nikah beda usia ini terjadi sampai sekarang dan tidak pernah jadi masalah. Anda tahu Rod Stewart, si penyanyi idola asal Britania Raya? Pada tahun 2007 dia menikah untuk ketiga kalinya  dalam usia 62 tahun dengan seorang model yang lahir tahun 1971. Mick jagger masih loncat-loncatan di panggung musik pada usianya yang sudah mendekati 70 tahun. 

Tidak usah jauh-jauh, Ahmad Albar rocker gaek indonesia, masih pakai kaos buntung dan masih wara-wiri berteriak: ”Rock di udara!” Bahkan dalam khazanah Kristen, Bunda Maria belum berusia 12 tahun ketika menikah dengan Jusuf si tukang kayu yang sudah berumur 90 tahun lebih! Di antara mereka terbentang jarak usia yang sangat jauh. Sekali lagi, aneh kalau mempermasalahkan soal beda usia antara nabi Muhammad dengan Aisyah.

Soal berapa sebenarnya usia wanita yang layak untuk menikah juga menjadi pertanyaan. Secara biologis, wanita dikatakan layak untuk menikah ketika sudah mengalami menstruasi karena fisiknya sudah bisa melakukan pembuahan. Dunia kesehatan mengatakan wanita mengalami haid/menstruasi pertama kali secara normal  pada usia 8 tahun. Secara sosial terjadi perbedaan tergantung waktu/jaman dan tempat. 

Jaman kakek-nenek kita dulu, wanita tamat SD sudah layak menikah, bahkan ketika umur 20 tahun masih belum juga punya suami, maka dikatakan orang-orang sudah tidak lazim. Jaman sekarang usia yang pantas menikah menjelang 30 tahun.

Pada abad-19 di Amerika, masyarakat menerima pernikahan wanita pada umur 10 tahun, pada tahun 1930 terdapat 12 negara bagian di AS yang membolehkan wanita berumur 12 tahun untuk menikah atas ijin orang-tua.

Secara psikologis juga tidak bisa ditetapkan standardnya, wanita bisa saja secara matang menghadapi pernikahan dalam umur belasan, sementara di lain pihak ada yang sudah tua bangka tetap saja tidak mampu menghadapi perkawinan secara dewasa.

Dalam dunia Islam, pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ini sebenarnya sesuatu hal yang ’tidak penting’, ini hanya soal pribadi beliau yang memiliki istri lagi di antara istri-istri beliau yang lain. Pernikahan seperti ini bukan merupakan suatu syari’at yang harus diikuti, makanya umat Islam tidak menyatakan menikahi wanita dalam usia muda dan memiliki perbedaan umur yang jauh sebagai suatu keutamaan.

Silahkan saja anda lirik kaum Muslim di sekeliling anda, apakah mereka mempraktekkan pernikahan model seperti ini sebagai suatu keutamaan. Paling banter cuma Syekh Puji saja yang bakalan mengatakan ini sebagai ’sunnah rasul’. Kalau kemudian umat Islam memperoleh hikmah di balik pernikahan ini, memang demikianlah faktanya.

Aisyah adalah wanita yang cerdas dan karena punya perbedaan usia yang jauh dengan Rasululah, beliau hidup lama setelah kepergian nabi Muhammad SAW. Dari beliaulah umat Islam banyak menerima hadist-hadits tentang kehidupan rumah-tangga, soal hubungan suami-istri, soal wanita dalam menghadapi masa haid/menstruasi, termasuk juga soal adab Rasulullah untuk membersihkan diri, mandi wajib, shalat tahajud, dlsb.

Ngototnya anda mempermasalahkan pernikahan ini tidak lain hanya didasari niat ingin menghina dan menghujat, dan itu ditujukan bukan kepada ajaran Islam tapi semata-mata diarahkan kepada pribadi Rasulullah saw, orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan anda, tidak pernah bertemu, hidup di gurun pasir Arab lebih dari seribu tahun lalu.

Sikap ini menunjukkan ketika mempersoalkan perkawinan Rasulullah saw dengan Aisyah ini, anda sekalian sama sekali tidak mempunyai niat untuk mencari kebenaran atau meluruskan yang salah, bila memang ada yang terbukti salah, tapi sejak awal sudah dibutakan oleh nafsu untuk secara sefihak mendiskreditkan Nabi Muhammad saw sekalipun data yang anda punyai tidak sepenuhnya akurat.


Bagaimana? Sudah jelas sekarang?
Jika masih belum jelas juga, silahkan telusuri lebih detail di sini.

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Sunday, July 24, 2011

Benarkah Isra Mi'raj Hanya Cerita Untuk Menutup Aib Rasulullah Saw? Sunday, July 24, 2011


Bismillahirrohmanirrohim.
Kisah Isra’ Mi’raj dari rumah ummu Hani adalah cerita palsu yang diangkat dari hadits palsu. Bukan hanya diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, tapi diriwayatkan pula oleh Al-Kalbi - seorang pendusta besar dan Syi'ah tulen seperti masih banyak lagi orang-orang seperti mereka.

Kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq adalah sebagai berikut:
"Di antara kisah yang sampai kepada saya dari Ummu Hani' binti Abi Thalib berhubung Isra' Rasulullah SAW ialah beliau (Ummu Hani') menceritakan, “Rasulullah SAW tidak diIsra'kan melainkan ketika Baginda SAW berada di rumahku. Baginda SAW tidur di sampingku pada malam itu di rumah ku. Awalnya Baginda SAW shalat Isya' kemudian tidur. KAMI PUN TURUT TIDUR. Sebelum fajar Rasulullah telah mengejutkan kami lalu shalat Subuh. Kami shalat bersamanya."

Setelah itu Rasulullah bersabda, “Wahai Ummu Hani'! Malam tadi saya telah shalat bersama kamu seperti yang kamu tahu di wadi ini. Setelah itu saya pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana dan sekarang saya shalat Subuh bersama kamu seperti yang kamu saksikan."

"Setelah itu Rasulullah SAW bangkit untuk keluar. Aku memegang hujung selimut Baginda SAW, maka tersingkap perut Nabi SAW bagaikan kain qibti yang berlipat lalu aku pun berkata kepada Baginda SAW, “Wahai Nabiyullah! Janganlah engkau ceritakan perkara ini kepada orang banyak, nanti mereka akan mendustakan engkau dan menyakitimu". Baginda SAW berkata, “Demi Allah! Aku tetap akan menceritakan kepada mereka". Ummu Hani’ berkata, "Akupun memerintahkan seorang sahaya perempuanku berketurunan Habsyi, “Ikutilah Rasulullah SAW. supaya engkau dapat mendengar apa yang disampaikannya kepada orang banyak dan apa pula reaksi mereka terhadap keterangan Baginda itu."
Sebelum itu Ibnu Ishaq telah meriwayatkan peristiwa Isra' Mi'raj yang dinukilnya dari Hasan Basri di mana diceritakan, 

“Setelah pagi sekembalinya Rasulullah SAW dari Isra' Mi'raj, Baginda SAW menceritakan kepada orang-orang Quraisy peristiwa perjalanannya. Berkatalah kebanyakan orang, “Demi Allah! Pelik betul cerita ini. Jarak yang ditempuh oleh unta sebulan perjalanan dari Mekah ke Syam dan sebulan pula perjalanan kembali dari sana ke Mekah mungkinkah dapat ditempuh oleh Muhammad hanya dalam satu malam dan sudah pula ia sampai ke Mekah?" Maka banyaklah orang-orang yang telah memeluk Islam menjadi murtad. Orang banyak lalu pergi kepada Abu Bakar untuk bertanya kepada beliau.." [Ibid jilid 2 m.s. 32,33 & 34]

Ibnu Ishaq, Ibnu Sa'ad dan al-Kalbi tidak mengemukakan isnad mereka dalam menyampaikan kisah ini. Tetapi Ibnu Jarir, at-Thabari, Baihaqi, Ibnu Abi Hatim, Abu Ya'la dan Ibnu Asakir telah mengemukakan isnad atas kisah ini. Perawi-perawi yang tersebut dalam isnad mereka ialah Abu Ja'far -Ar Razi, Abu Harun Al-Abdi dan Khalid bin Yazid atau Abu Malik. 

Supaya menjadi lebih jelas, mari kita berkenalan dulu dengan para perawi tersebut. 

1. Abu Ja'far ar-Razi
Namanya Isa bin Abi Isa. Lahir di Basrah dan menetap di Ray. Di antara orang yang meriwayatkan dari beliau ialah anak beliau sendiri Abdullah dan Abu Nu'aim. Meskipun Yahya bin Ma'in dan Abu Hatim mengatakan beliau seorang tsiqah namun Ali Ibnu Madini mengatakan beliau seringkali melakukan kesalahan. Riwayat-riwayatnya diragukan. 

  • Fallas berkata, “Ingatannya sangat jelek." 
  • Ibnu Hibban berkata, “Dia seringkali mengemukakan riwayat-riwayat yang mungkar dengan menghubungkannya kepada Imam-Imam yang masyhur." 
  • Abu Zur'ah berkata, “Dia selalu mengalami kepikunan pikiran (waham)." 
  • Imam Zahabi berkata, “Dia telah mengemukakan peristiwa Mi'raj dalam satu riwayat yang panjang melalui Rabi' bin Anas. Diambilnya dari Abu al-'Aaliah yang mengutip dari Abu Hurairah. Di dalam riwayatnya itu banyak sekali perkara-perkara mungkar." [Mizan al-I'tidal jilid 3 m.s. 320] 
  • Imam Zahabi telah menghukumi riwayat ini mungkar karena terdapat dalam sanadnya nama Abu Ja'far ar-Razi, karena kecacatan pada buruknya ingatannya dan beliau selalu mengaitkan cerita dusta terhadap Imam-Imam yang masyhur. 

Bagaimana dengan dua orang lagi perawi dalam isnad tersebut? Mari kita berkenalan dengan perawi berikutnya. 

2. Khalid bin Yazid
  • Abu Malik ad-Dimasyqi - Dia adalah penduduk Damsyik. 
  • Yahya bin Ma'in berkata, “Dia adalah seorang manusia yang lemah". 
  • Imam Ahmad berkata, “Dia tiada bernilai langsung." 
  • Nasa'i berkata, “Dia tidak tsiqah". 
  • Daraquthni berkata, “Dia seorang da'if". 
  • Ibnu Abi al-Hawari menceritakan bahawa, “Saya pernah mendengar Yahya bin Ma'in berkata, “Di Iraq ada sebuah kitab yang perlu dikubur, yaitu tafsir al-Kalbi (yang di kemudian hari terkenal sebagai Tafsir Ibnu Abbas). Di Syam ada pula sebuah kitab yang juga perlu dikubur, yaitu kitab ad-Diyat tulisan Khalid bin Yazid. Hati Khalid ini tidak akan senang jika tidak berbohong tentang ayahnya dan para sahabat". 
  • Ahmad bin Abi al-Hawari ini juga berkata, “Dulu saya pernah menyalin kitab Khalid ini tetapi kemudian saya memberikannya kepada penjual obat untuk dijadikan kertas pembungkus obat-obatnya." Imam Zahabi berkata, “Dia dilahirkan pada tahun 105 H dan wafat ketika berumur 80 tahun." [Lihat Mizan al-I'tidal jilid 1 m.s 654]

Keterangan di atas membuktikan bahawa Khalid bin Yazid adalah seorang yang keterangannya tidak boleh diterima menurut ulama' hadits. Imam Yahya bin Ma'in bahkan mengatakan beliau seorang pendusta besar. Dia banyak berbohong tentang para sahabat. 

3. Abu Harun al-Abdi
  • Namanya ialah Umarah bin al-Juwain. Riwayat-riwayatnya terdapat dalam Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah.
  • Imam Zahabi berkata, “Dhoif." 
  • Hammaad bin Zaid berkata,“Pembohong." 
  • Imam Ahmad berkata, “Tidak bernilai langsung." 
  • Yahya bin Ma'in berkata, “Dia seorang dha'if (lemah). Riwayat-riwayatnya tidak dapat dibenarkan." 
  • Nasa'i berkata, “Matrukul hadits (seorang yang ditinggalkan dan tidak dipakai haditsnya)." 
  • Ibnu Hibban berkata, “Dia selalu mengaitkan riwayat-riwayatnya dengan Abu Sa'id al-Khudri yaitu riwayat-riwayat yang tidak pernah dikemukakan oleh Abu Sa'id." 
  • Imam Syu'bah berkata, “Kalau aku diberi pilihan di antara 2 perkara, apakah aku dibunuh atau mengemukakan kepada orang banyak riwayat-riwayat Abu Harun, maka aku akan memilih supaya dibunuh, aku tidak akan mengemukakan riwayatnya. Sebelumnya aku selalu mempertanyakan kepada setiap kafilah yang datang, tetapi kemudian dia datang ke Basrah. Padanya ada sebuah kitab. Aku membaca kitab itu dan aku mendapati dia menuliskan keburukan-keburukan Ali di dalamnya." 
  • Iman Daraquthni berkata, "Dia seorang yang senantiasa berubah-ubah. Kadang-kadang menjadi seorang Rafidhi (Syi'ah), kadang-kadang menjadi seorang Khariji (Khawarij)."
  • Ibnu Hibban berkata, “Riwayat-riwayat yang dikaitkannya dengan Abu Sa'id al-Khudri semuanya bohong. Abu Sa'id tidak pernah meriwayatkannya begitu." 
  • Jauzajani berkata, “Abu Harun adalah seorang pendusta besar. Dia selalu menuduh para sahabat dengan pelbagai tuduhan." 
  • Syu'bah berkata lagi, “Pernah aku pergi kepadanya dan meminta supaya ia menunjukkan kepadaku riwayat-riwayat yang dikaitkannya dengan Abu Sa'id. Dia meletakkan sebuah kitab di hadapanku. Di antara yang tersebut di dalam kitab itu ialah Abu Sa'id al-Khudri berkata bahwa Utsman bin Affan telah benar-benar kufur terhadap Allah s.w.t. sebelum beliau wafat. Aku mengembalikan kitab itu kepadanya dan langsung pulang."

Itulah Abu Harun al-Abdi yang menulis tentang keburukan-keburukan Sayyidina Ali dan juga keburukan-keburukan Sayyidina Utsman. Jika orang seperti ini mengemukakan riwayat yang menyebut bahwa, "Setelah Nabi SAW menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj yang dialaminya, maka murtadlah sekian banyak orang-orang yang telah memeluk Islam"; barangkali menurut Abu Harun al-Abdi ini tentunya termasuk juga Sayyidina Ali dan Sayyidina Utsman, sebab ketika itu masih belum banyak orang-orang yang telah memeluk agama Islam.

  • Yahya bin Ma'in berkata, “Abu Harun mempunyai satu sahifah yang dipanggilnya Sahifah al-Washi (penerima wasiat atau Sahifah Ali). 
  • Saleh bin Muhammad berkata pula bahwa, “Abu Harun lebih bohong daripada Firaun. Dia telah meninggal dunia pada tahun 134H." [Lihat Mizanu al-I'tidal jilid 3 m/s 173-174].

Demikian sekilas cerita tentang perawi-perawi kisah Isra' Nabi SAW dari rumah Ummu Hani'. Mereka terdiri dari orang-orang Syi'ah atau yang menyerupainya, seperti Ibnu Ishaq yang telah pula dihukumi oleh para ulama' Rijal dengan berbagai hukuman seperti dikemukakan di atas.

Sekarang mari kita cermati riwayat tersebut dengan neraca dirayah dan logika untuk menentukan di mana letak kepalsuannya sekaligus untuk mengetahui apa sesungguhnya tujuan para pemfitnah ini.

  1. Peristiwa Isra' Mi'raj terjadi sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pada waktu itu Ummu Hani' masih belum memeluk Islam. Beliau memeluk Islam setelah Mekah ditaklukkan oleh Rasulullah SAW pada tahun 8 Hijriah.
  2. Shalat Isya' dan shalat Subuh baru diwajibkan sejak peristiwa Isra' mi'raj. Lantas, mungkinkah Rasulullah SAW shalat Isya' dan shalat Subuh bersama Ummu Hani' yang belum Islam di rumahnya, sedangkan perintah untuk melaksanakan kedua shalat itu sendiri belum pernah diturunkan? 
  3. Siapakah yang dimaksudkan oleh Ummu Hani' sebagai 'kami' dalam riwayat ini: ” ..... Kami shalat bersama Nabi"? Jika yang dimaksudkannya termasuk suaminya Hubairah, maka ummu Hani tidak sendirian, sedangkan suaminya adalah satu di antara sekian musuh bebuyutan Rasulullah SAW. Bahkan setelah Mekah ditaklukkan oleh Rasululah SAW pun, dia tetap menolak untuk memeluk Islam. Sebaliknya, ia memilih lari ke Najran. Dari sana kemudian ia berangkat ke Roma lalu menganut Kristen dan mati sebagai seorang Kristen.
  4. Tercatat juga dalam Sirah bahwa Nabi SAW pernah melamar Ummu Hani' kepada Abu Thalib sebelum Baginda menikah dengan Khadijah, tetapi Abu Thalib menolak mentah-mentah lamaran itu dengan alasan Nabi seorang yang miskin dan tidak mulia. Setelah itu Abu Thalib menikahkan Ummu Hani' dengan Hubairah yang merupakan musuh bebuyutan Rasulullah SAW.

Dalam keadaan seperti itu, wajarkah Rasulullah SAW bermalam di rumah Ummu Hani'?

Dasar musuh-musuh Islam merekayasa cerita dengan maksud menebarkan tuduhan keji seperti itu terhadap Rasulullah SAW adalah sbb: 

  1. Jika kita andaikan Hubairah pada malam itu berada di rumah, maka ini menunjukkan betapa tidak tahu malunya Nabi SAW karena bermalam di rumah seorang yang menganggap Nabi sendiri sebagai orang miskin dan tidak mulia dibandingkan dengannya. Di atas semua itu, bagaimana mungkin Rasulullah SAW bisa bermalam di rumah musuhnya? Mustahilkah Hubairah juga mengetahui bahwa Nabi SAW pernah melamar Ummu Hani' sebelumnya? Tidakkah timbul rasa cemburu di dalam hati Hubairah, karena boleh jadi musuh bebuyutannya itu masih menaruh hati kepada isterinya? 
  2. Jika diandaikan bahwa pada malam itu Hubairah tidak berada di rumah pula, maka cerita ini akan membuka peluang seluas-luasnya bagi siapapun untuk meragukan kesucian pribadi Rasulullah SAW karena digambarkan tidur di rumah seorang perempuan yang pernah dilamarnya dulu, saat suaminya tidak berada di rumah. Malah cerita ini dibuat untuk menunjukkan betapa intimnya perhubungan Nabi SAW dengan Ummu Hani'. Keadaan ini dapat dilihat dengan jelas pada keesokan paginya bila mana Nabi SAW bersedia untuk keluar memberitahu orang banyak tentang Isra' Mi'rajnya, bagaimana Ummu Hani memegang ujung selimutnya sehingga terlihat perut beliau yang digambarkan seperti kain qibti yang berlipat.
  3. Kisah ini jelas bertentangan dengan Al-Quran dan hadits-hadits shahih menurut ilmu ushul hadits. Sedangkan salahsatu tanda kepalsuan sesuatu hadits adalah apabila ia bertentangan dengan Al-Quran dan hadits-hadits shahih.
  4. Tidak dapat diterima akal sama sekali bila Nabi meninggalkan rumahnya sepanjang malam untuk bermalam di rumah seorang perempuan asing sementara di rumah beliau sendiri ada dua orang putrinya yaitu Fatimah dan Ummi Kultsum. Dalam kisah ini tidak diterangkan kepada siapa beliau menitipkan mereka berdua dan untuk apa beliau bermalam di rumah Ummu Hani'.
  5. Tindakan Ummu Hani' memegang ujung selimut Nabi pada keesokan paginya menunjukkan dengan jelas bahwa Hubairah tidak berada di rumah. Jika Hubairah tidak ada di rumah, maka siapa lagikah yang tidur di rumah Ummu Hani ' pada malam itu dan shalat secara berjamaah? Sesungguhnya kisah ini merupakan satu serangan yang amat dahsyat terhadap kesucian pribadi Rasulullah SAW yang tidak mungkin direkayasa kecuali oleh musuh-musuh beliau.
  6. Dalam riwayat Hasan Basri disebut pula bahwa setelah Rasulullah SAW mengisahkan peristiwa Isra' Mi'raj, maka murtadlah banyak orang yang telah memeluk Islam. Tetapi tidak ada dalam riwayat ini disebutkan nama orang-orang yang murtad itu. Siapa sajakah mereka? Sedangkan orang-orang yang memeluk agama Islam ketika itu belum begitu banyak. Nama-nama mereka pun disebutkan dengan jelas dalam kitab-kitab Sirah. Sesungguhnya kisah ini sekaligus juga merupakan serangan terhadap keikhlasan dan keteguhan iman para sahabat Nabi yang merupakan rekayasa musuh-musuh Nabi dan para sahabat semata.
  7. Sebenarnya orang-orang yang mengarang kisah ini adalah orang-orang Syi'ah seperti yang terbukti pada latar belakang perawi-perawinya sebagaimana telah disebutkan di atas. Setiap cerita rekaan Syi'ah pasti akan mengandung unsur yang melebih-lebihkan Sayyidina Ali serta mengistimewakannya dari sahabat-sahabat Nabi yang lain. Bukankah Ummu Hani' ini kakaknya Sayyidina Ali, anaknya Abu Thalib? Bagaimana Syi'ah akan melepaskan peluang ini? Mereka tidak menerima sesuatu peristiwa besar yang terjadi pada Rasulullah SAW tanpa adanya peranan Sayyidina Ali atau keluarganya di balik peristiwa itu.

Wallahu'alam bishshawab.


Friday, September 3, 2010

Detik Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah Saw Friday, September 3, 2010


Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya:
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintaiku dan kelak, orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama denganku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu-persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, dada Umar naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba Rasulullah akan meninggalkan kita semua!” bisik hati para sahabat saat menangkap pandangan mata orang yang sangat mereka cintai.

Sosok mulia itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin terlihat saat Ali dan Fadhal dengan sigap memeluk Rasulullah yang terlihat sangat lemah ketika melangkah turun dari mimbar. Saat itu, jika saja mereka mampu, maka seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan berusaha keras menahan detik-detik yang berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalam, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan kening dan sekujur tubuh berkeringat membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang mengucapkan salam lalu meminta izin untuk masuk. “Bolehkah saya masuk?” pintanya dengan santun. Namun Fatimah yang menemui tamu ayahnya itu tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah wahai tuan, ayahku sedang sakit." kata Fatimah yang kemudian membalikkan badan dan menutup pintu kembali. "Tidak mengapa," kata tamu itu lagi dari balik pintu, "saya akan bersabar menunggu di sini sampai sahibul bait bersedia menemui tamunya." lanjutnya lembut. Lalu ia pun duduk di salahsatu sudut di depan rumah Rasulullah. Fatimah memperhatikannya sejenak, kemudian kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, “Siapakah yang datang itu, wahai anakku?”

“Tidak tahu, ayah. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lemah lembut. Mendengar itu Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian dari wajah anaknya itu ingin dikenangnya baik-baik.

“Ketahuilah, anakku. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah. "ijinkan ia masuk, dan katakan padanya bahwa aku sudah siap ... "

Mendadak hati Fatimah seakan luruh bagai gunung es yang tiba-tiba saja mencair. Namun sambil menahan ledakkan tangisnya, ia pun kemudian keluar mempersilakan sang tamu untuk masuk menemui ayahnya.

Saat melihat kedatangan tamunya itu, Rasulullah pun menanyakan mengapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Mendengar itu, maka atas ijin Allah SWT, dipanggilah Malaikat Jibril yang sebelumnya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan ruh kekasih Allah dan penghulu dunia itu di langit.

Setelah mengetahui bahwa Malaikat Jibril telah berada di ruangan itu, maka Rasulullah pun berkata, “Wahai Jibril, jelaskan padaku apa saja hakku nanti di hadapan Allah?” pintanya dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Sedangkan semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ya, Rasulullah!” kata Malaikat Jibril.

Tapi, jawaban Jibril itu rupanya belum memuaskan hati Rasul, matanya masih memancarkan kekhawatiran dan tanda tanya. “Tidakkah engkau senang mendengar kabar ini, ya, Rasulullah?” tanya Malaiakat Jibril.

Seakan tak mengindahkan pertanyaannya, Rasulullah kembali berucap, “Kabarkanlah padaku bagaimana nasib umatku kelak setelah aku tiada." pintanya.

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah. Aku mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Malaikat Jibril meyakinkannya. Mendengar itu Rasululullah pun kemudian diam.

Detik-detik kian mendekat hingga tibalah saatnya Izrail, sang Malaikat Maut, melakukan tugasnya. Setelah lebih dulu menanyakan kesiapan Rasul yang dijawab dengan isyarat sebagai tanda sudah, maka perlahan-lahan ruh Rasulullah pun ditarik oleh Malaikat Maut.

Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Wahai Izrail, betapa sakitnya sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Malaikat Jibril pun memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku hingga memalingkan wajah, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup menyaksikan kekasih Allah meregang nyawa?” kata Jibril sambil terus berpaling. Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, sungguh dahsyat rasa sakaratul maut ini! Hamba mohon timpakanlah semua siksa maut ini kepadaku saja, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seperti hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii ...... !!!” Terdengar ucapan terakhir Rasulullah sangat lirih, dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan kepada umat manusia itu.

Hari ini, dapatkah kita mencintainya seperti beliau mencintai kita?


Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

Betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya.



[Disadur dari Blog Wawasan]


Contact Form

Name

Email *

Message *