Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Referensi (Kristen). Show all posts
Showing posts with label Referensi (Kristen). Show all posts

Monday, December 19, 2016

Syahadat Nicea, Doktrin Bingung Lagi Membingungkan Monday, December 19, 2016


DOKTRIN YANG MELAHIRKAN UMAT SESAT LAGI MENYESATKAN! 

Ketuhan Yesus ditetapkan pada konsili di Nicea tanggal 20 Mei 325M. Kaisar Romawi Constantine, menghimpun 220 uskup di Nicea tahun 325. Sebagian besar mereka berasal dari Gereja bagian Timur yang mendukung Athanasius. 

Kosili memutuskan mengutuk paham tauhid Arius dan mengumumkan kredo (creed) anti Arian yang dikenal dengan nama "the Creed of Nicea". 

Dalam konsili inilah diterbitkan S.K. Ketuhan Yesus dan sejak saat itu Yesus diresmikan sebagai Tuhan, malah sekaligus ditetapkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya (true God), 300 tahun setelah Yesus tiada. Dalam konsili inilah Kaisar Romawi menetapkan bahwa Yesus satu zat dengan Allah (Homoousios).

"He (Jesus) is God from God, Light from Light and true God from true God" 

(Dia [Yesus] adalah Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari Cahaya, dan Tuhan Sesungguhnya yang berasal dari Tuhan yang sesungguhnya)

Sejak saat itulah Tuhan menjadi dua yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus yang harus dipercayai bahwa keduanya bersatu padu dalam satu zat (homoousios) sebagaimana yang diputuskan oleh Kaisar Romawi. 

Apakah ada ketetapan resmi untuk menyembah Yesus sebelum abad ke IV? Belum ada! Dalam kitab "Shepherd of Hermes" nama Yesus sama sekali tidak disebut-sebut.

"First of all belive that God is one, who has made all thing, bringing them out of nothing into being". 

(Pertama-tama percayalah bahwa Tuhan itu Esa, yang menciptakan segala makhluk, dari tidak ada menjadi ada) 

Selanjutnya dalam Apostle Creed yang menurut Gereja diperkirakan ditulis oleh para rasul pada akhir abad ke II, ada menyebut nama Yesus, tetapi bukan sebagai Tuhan yang disembah.

"And in Jesus Christ, his onl y Son, our Lord..." 

(Dan di dalam Yesus Kristus, anaknya yang tunggal, tuan kita)

Kredo ini telah mengalami beberapa kali tambahan dan perubahan sepanjang abad ke IV dan ke-V untuk disesuaikan dengan perkembangan ajaran kristen. Kesulitan apakah yang dihadapi Gereja sehingga dibutuhkan waktu sekian ratus tahun untuk mengangkat status Yesus dari sekedar Nabi menjadi "Tuhan penguasa alam semesta"?

Pertama, di abad pertama perkembangan agama Kristen, persoalan yang cukup berat muncul di permukaan. Bagaimana caranya agar Tuhan Filsafat Yunani yang Mulia, dan sempurna, dapat menyelamatkan manusia yang berdosa dan tidak sempurna. Untuk mengatasi hal ini, logos filsafat Yunani digunakan sebagai perantara Tuhan dan manusia. Beberapa ahli pikir Yunani yang memeluk agama kristen memandang Yesus sebagai Logos filsafat Yunani (Frost, 1989). "Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita..." (Yohanes 1:14)

"... Kristus Yesus yanq walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, itu sebaqai milik yanq harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seoranq hamba dan menjadi sama denqan manusia" (Filipi 2:5-7) Tetapi karena Logos bukan Tuhan sehingga otomatis Yesus pun bukan Tuhan.

Ketika Gereja mulai berusaha mengangkat status Yesus menjadi Tuhan, problem lain tampil ke permukaan. Bagaimana caranya mengangkat status Logos yang lebih rendah dari Tuhan ini menjadi setara dengan Tuhan? Untuk mengatasi hal ini, Gereja memperkenalkan ide Logos (Firman) adalah Tuhan Allah. 

"Pada mulanya adalah Firman Logos Firman Logos itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman Logos itu adalah (dari) Allah. la Logos pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia Logos dan tanpa Dia (Logos) tidak ada sesuatu pun yanq telah jadi dari seqala yanq telah dijadiakan" (Yohanes 1:1-3) 

Paham penyembah berhala ini digunakan sebagai senjata pamungkas oleh para penginjil (termasuk Hamran Ambrie) untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan menempatkan Yesus sebagai Logos penyembah berahala. 

Dengan demikian, tuhan Allah (yang "katanya" adalah Logos) yang berada di sorga sudah turun ke bumi mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus. Dalam buku "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal", hal 94, 

Hamran Ambrie mengatakan: 
"Dulu wahyu melalui mimpi etc. disebut Firman, tetapi kemudian (setelah ajaran Kristen dicemari filsafat Yunani), Firman itu sendiri menjadi daging kehiduopan melalui kelahiran seorang manusia Maria, maka penyebutan firman itu pun berubah menjadi "Anak Allah". 

Catatan: tambahan dalam kurung dimaksudnya untuk memperjelas. Konsep penyembahan berhala sudah ranum ini, akhirnya tersaji dalam SK Ketuhanan Yesus yang disponsori bersama oleh Kaisar Romawi, Constantine dan para pemimpin Gereja pada Konsili di Nicea 20 Mei 325 M.

Dapatkah kita menganggap the Creed of Nicea sebagai formulasi dan definisi Trinitas?

Tidak! 
Karena Konsili tidak pernah menganggap Roh Kudus sebagai Tuhan atau sesuatu yang harus disembah. Dalam konsili tersebut tidak pernah dibahas tentang Roh Kudus. Nanti belakangan, Gereja kemudian menambahkan kalimat tentang Roh Kudus dalam kredo tersebut (Karen Armstrong 1993). "And in the holy Spirit" (Dan dalam Roh Kudus).

Lalu siapa yang pertama memberikan perhatian serius terhadap status Roh Kodus? 

Athanasius! 
Sampai dengan pertengahan abad ke IV perhatian Gereja dicurahkan pada bagaimana bentuk dan corak hubungan antara Bapa (Tuhan) dan Anak (Yesus). Kalimat yang baru ditambahkan dalam Kredo: dan dalam Roh Kudus, memperlihatkan betapa kecilnya perhatian yang diberikan terhadap status Roh Kudus. Dalam tulisannya "Oration Aqainst the Arians 2:24, 33", athanasius mempromosikan ketuhanan Yesus tanpa menyinggung-nyinggung Roh Kudus. Selanjutnya pada suratnya kepada Serapion berubahlah dia berbicara tentang status Roh Kudus.

S.K. untuk menyembah Roh Kudus di tetapkan? 

Pada Konsili di Konstantinople yang didelenggarakan dari bulan Mei s/d Juli 381M. Konsili ini dapat dikatakan Konsili para pemimpin Capadocian yang mendukung Trinitas. Gregory dari Nazianzus (329-389M), yang merupakan tokoh Capadocian memperkenalkan formula Trinitas dalam bukunya "Five Theological Oration", hal. 39:

"Godhead is one in three and the three are one.... " 

(Kesatuan Tuhan itu adalah satu dalam tiga dan ketiganya adalah satu) 

Dia memainkan peranan penting dalam menggolkan ajaran Trinitas dalam konsili. Kaisar Theodorius yang merupakan pendukung Ketuhanan Yesus ingin sekaligus menghabisi paham Tauhid Arius. Dalam konsili inilah untuk pertama kali dinyatakan bahwa Roh Kudus harus disembah. 

"And in the Holy Spirit, the Lord and life giver, who proceeds from the Father. Toqether with the Father and the son he is worshipped and glorified". 

(Dan dalam Roh Kudus, Tuan dan pemberi hidup, yang datang dari bapa. Bersama dengan Bapa dan Anak dia disembah dan dimuliakan).

Jadi, apakah Konsili di Constantinople memutuskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan? 

Tidak! 
Walaupun dalam Konsili ini Roh Kudus dinyatakan sebagai obyek yang disembah, tetapi belum dinyatakan sebagai Tuhan.

Konsili ini juga dihadiri oleh 36 Uskup Macedonia yang menentang keras segala bentuk penyenbahan terhadap Roh Kudus. Mereka berpendirian bahwa Roh Kudus hanyalah makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu dia bukan Tuhan, sehingga tidak perlu disembah. Namun karena para uskup Capadocia jumlahnya lebih banyak sehingga para uskup Macedonia kalah. Dalam penentuan apakah Roh Kudus adalah Tuhan atau tidak, bantahan mereka masih didengar. Namun ketika para uskup Capadocia ngotot untuk menyembah Roh Kudus, akhirnya para uskup Macedonia menyerah dan meninggalkan ruangan konsili (walk out). 

Lalu kapan ide lengkap tentang Trinitas pertama kali dijelaskan oleh Athanasius?

Antara tahun 359-360M ketika Athanasius didesak untuk menghadapi kelompok Tropici dari Mesir yang mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya sekedar makhluk yang diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Uskup mereka, Serapion, yang tidak mampu menghadapi mereka meminta tolong pada Athanasius. Dalam suratnya "Letter to Serapion", Atahnasius untuk pertama kalinya menjelaskan secara detail tentang Teologi Trinitas.

Apakah Athanasian Creed merupakan formulasi yang ditampilkan oleh Athanasius kepada Serapion? 

Tidak! 
Athanasian Creed bukanlah sebuah kredo dan juga tidak ditulis oleh Athanasius. Gereja yang tidak tahu siapa penulis Athanasian Creed, menganggapnya di tulis oleh Athanasius hanya karena dia dianggap sebagai pencipta ajaran Trinitas.

Athanasian Creed yang diperkirakan ditulis pada abad ke VI menetapkan sesuatu yang dapat dianggap sebagai formulasi dan fefinisi akhir dari Trinitas. Ketetapan penting yang tercantum dalam Kredo ini adalah diumumkannya S.K. Ketuhanan Roh Kudus.

"Thus the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God. Yet there are not three God but only one God". 

(Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan tetapi hanya satu Tuhan.) 

Yesus sama sekali tidak dapat menerima mereka yang menyembahnya, dengan mengikuti ajaran penyembah berhala yang di ajarkan manusia (Plato dan Zeno). Sementara Yesus sendiri mengajarkan pada umat Israel untuk hanya menyembah Allah.

"Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaku. Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan a jaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia" (Matius 15:8-9) 

Berbagai kredo yang dihasilkan oleh konsili bukan merupakan penjelasan atau konfirmasi dari Allah atau Yesus tentang siapa Tuhan sebenarnya, melainkan sekedar pertarungan antar pendapat yang selalu dimenangkan oleh kelompok yang didukung Kaisar. Hal ini dijelaskan oleh Uskup John Shelby Spong dalam bukunya: Why Christian must Change or Die, 1998, hal 18.

"The purpose of every written creed historically was not to clari f y the truth o f God. It was, rather, to rule out some contending point o f view." 

(Tujuan dari setiap kredo (yang dihasilkan di setiap konsili) bukan untuk menjelaskan siapa sesungguhnya Tuhan, tetapi sekedar untuk menyingkirkan pendapat yang tidak sejalan (dengan yang dianut Kerajaan dan Gereja) 

Oleh karena itu Yesus tidak punya urusan dengan ajaran maupun definisi Trinitas sebagaimana yang dianut oleh umat Kristiani saat ini. Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas kepada murid-muridnya, apalagi bermimpi bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas. Hal ini ditegaskan oleh A.N.Wilson dalam bukunya Jesus A Live, 1992, hal XIV:

"I had to admin that I found it impossible to believe that a f irst century Galilean holy man (Jesus) had at any time of his life believed himself to be the Second Person of the Trinity. " 

(Saya harus mengakui bahwa memang musthahil untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galilea di abad ke-I (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya merasa dirinya sebagai oknum kedua dari Trinitas) 

Gerejalah yang menciptakan Matius 28:19 dan menyuapkannya kepada Yesus untuk diucapkan. "Karena itu pergilah, jadikanlah senua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus".

Apa yang diajarkan oleh Yesus adalah tauhid (Ke-Esa-an Allah). Filsafat Platonis dan Stoic yang diajarkan Plato (?-347 SM) dan Zeno (?-263 SM) tentang Logos menjadi jembatan untuk mempertuhankan Yesus menuju konsep Trinitas yang dinanti-nantikan para penyembah berhala untuk dikawinkan dengan ajaran Kristen. Ajaran tiga Tuhan dalam satu yang dianut para penyembah berhala inilah yang menginspirasi para pemimpin Gereja unutk mengembangkan ajaran tersebut dalam Kristen. Upaya para pemimpin Gereja yang saat itu dikenal dengan golongan Apologis untuk mengawinkan ajaran filsafat Yunani dengan ajaran Kristen dijelaskan oleh Paul Tilich dalam bukunya A History of Christian Thought sebagai berikut:

"The Apologist arose to attempt a joining of Christianity dan Greek thought" 

(Para pemimpin Gereja yang umumnya Aplogis - mereka yang ingin mengawinkan filsafat Yunani dengan ajaran Kristen) bangkit untuk mencoba mengawinkan ajaran Kristen dengan filsafat Yunani) 

Di satu pihak umat Kristen memiliki Yesus yang diambil dari Yahudi, sememtara dipihak lain, para pengikut ajaran Platonis dan Stoic memiliki Logos yang diambil dari Plato (?-347 SM) dan zeno (?-263 SM). Hasil akhir dari perpaduan keduanaya yang diterima oleh umat Krsistiani adalah Logos Yesus. Yesus bukan lagi sekedar seorang Nabi Isa untuk bani Israel, tetapi sudah berubah menjadi Yesus baru yang penuh dengan embel-embel Platonis dan Stoic- Yesus Kristus anak Allah, perantara antara Tuhan dan manusia, Tuhan dan juru selamat.

Athanasius kemudian menambahkan satu Tuhan lagi yakni Roh Kudus untuk melengkapi Ketuhanan Kristen menjadi Tiga dalam Satu (Trinitas), persis seperti ajaran Ketuhanan Agama Mesir, dimana Athanasius berdomisili. Pengaruh agama Mesir terhadap Kristen dijelaskan oleh Cave sebagai berikut: 

"The Trinity was a major preoccupation of Egytian theologians.... Three gods are combined and treated as single being, addressed in the singular. In this way the spiritual force of Egyptian religion shows a direct link with Christian theology" 

(Trinitas merupakan paham utama para penganut agama Mesir.... Tiga Tuhan bersatu dan diperlakukan sebagai satu, yang disebut esa. Dalam hal ini nampak kekuatan spiritual agama Mesir yang langsung mempengaruhi agama Kristen)

Apa saja yang ditetapkan oleh Kaisar Romawi dan para pemimpin Gereja dianggap benar, sah dan berlaku untuk umat pada saat itu. Kebenaran dalam Kristen berubah dari satu konsili ke konsili lainnya. Kebenaran sangat tergantung kepada golongan mana yang mayoritas dalam konsili, atau golongan mana yang didukung oleh Kaisar Romawi. 

Oleh karena itu, kutuk mengutuk dalam setiap konsili merupakan hal yang lumrah. Ignatius dalam suratnya kepada orang-orang Smyrna mengatakan: 

"Where the bishop is, there the congregation should be Prophets who appear may be riqht or wrong, but the bishop is right, because the bishop were the representative of the true doctrine" 

(Apa saja pendapat sikap uskup, jemaat harus mengikutinya. Para Nabi boleh benar atau salah, tetapi uskup selalu benar, karena uskup adalah yang mewakili ajaran yang benar)

Keputusan-keputusan Gereja yang di luar ajaran Yesus dilindungi oleh hukum keimanan (regulafidei). Apa yang sudah diyakini dan diucapkan oleh pemimpin Gereja menjadi hokum yang mutlak berlaku, walaupun tidak ada dasarnya atau tidak sejalan dengan Alkitab. Alhasil ajaran Trinitas tumbuh subur dan berkembang dari satu konsili ke konsili lainnya, bukan karan ajaran Trinitas merupakan ajaran yang dipetik dari ajaran murni Yesus, tetapi karena kaisar Romawi mendukung ajaran ini menjadi ajaran resmi kerajaan.

Mereka hidup siang malam dengan Yesus. Saudara-saudaranya, ibunya, familinya melihat Yesus lahir dan tumbuh sebagai seorang bayi. Dalam kenyataan seperti itu, mereka tentu tidak mungkin membayangkan bahwa yang menangis dalam ayunan atau basah guritanya adalah Tuhan yang pernah berpartisipasi dalam penciptaan jagat raya atau penguasa alam semesta. Begitu pula murid-murid seta para pengikutnya. Mereka melihat Yesus sebagai seorang Rabi (guru) mengajarkan Taurat dan berkhotbah di rumah ibadat setiap hari sabtu. Dari berbagai sumber yang dapat diperolah, tidak satu pun pertanda bahwa Yesus pernah disembah sebagai Tuhan di Rumah Ibadat. Murid dan pengikutnya mengenal dirinya sebagai pemimpin mereka, sebagai tuan mereka, malah sebagai nabi, tetapi sama sekali mereka tidak akan pernah menganggap bahwa yang naik berkhotbah di mimbar adalah "Tuhan penguasa alam semesta."

"Dan mereka berusaha menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada oranq banyak karena orang banyak itu menganggap dia nabi". (Matius 21:46) 

Yesus telah mengajarkan syahadah sebagai pegangan bagi murid-murid dan pengikutnya agar tidak tercampak ke neraka. 

"Inilah hidup yang kekal itu (masuk sorga), yaitu bahwa mereka menqenal Engkau (Allah) satu-satunya Tuhan yang benar. Dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus". (Yohanes 17:3)

Benarkah Yesus bukan Tuhan? 

Ya, benar!
1. Yesus mengajari umatnya agar hanya menyembah Allah. Dia tidak pernah memerintahkan murid-muridnya untuk menyembah dirinya dengan alasan bahwa Allah berada di dalam dirinya. "Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti" (Matius 4:10) " Karena itu berdoalah demikian:'Bapa kami yang di sorga"'(Matius 6:9) 

2. Yesus adalah guru Yahudi yang mengajarkan Taurat untuk hanya menyembah Tuhan Allah. "Denqarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa".(Markus 12:29) Kata "Tuhan itu Esa" berarti Tuhan tidak ada dalam diri Yesus. Andaikata Tuhan itu adalah dirinya, atau ada dalam dirinya, maka dengan tegas beliau akan mengatakan "Tuhan ini" sambil menunjuk dirinya.

3. Ketika Yesus akan ditangkap di taman Getsemani semua muridnya lari meninggalkan beliau. "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri" (Markus 14:50)

Coba bayangkan! Ketika "Tuhan" dalam keadaan genting, mereka justru lari tunggang langgang meninggalkan dia. Kepada siapa murid-muridnya mencari perlingdungan? Kepada setan? Bukankah yang mereka tinggalkan adalah Tuhan? Padahal "katanya" segala kuasa di sorga dan di bumi telah diserahkan oleh Tuhan Allah kepada "Tuhan" Yesus? (Matius 28:18)

Jika memang murid-murid Yesus yakin bahwa Yesus adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta, dimana segala kuasa disorga dan di bumi sudah diberikan kepada beliau, untuk apa mereka lari? Ini ikut membuktikan bahwa Matius 28:18 adalah ayat palsu yang tidak pernah diucapkan oleh Yesus. 

Di sinilah akal sehat yang dianugrahkan Allah perlu digunkan untuk menyaring mana yang masuk akal, mana yang tidak. Jika Tuhan berkehendak, cukup sekali tiup saja, tentara Romawi sudah pasti akan berterbangan seperti potongan kertas dihempas badai!

Tetapi tidak! Mereka menyadari bahwa Yesus adalah pemimpin mereka. Namun mereka tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan yang mereka sembah. Buktinya dalam keadaan kepepet, mereka lebih memilih menyelamatkan diri masing-masing dan membiarkan "Tuhan" mereka ditangkap dan dihukum salib oleh tentara Romawi!

Sekarang, perhatikan ini:

Syahadat Nicea: 

Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem 
Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa, 

factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium. 
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan 

Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum, 
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, 

Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine, 
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. 

Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri 
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa 

per quem omnia facta sunt. 
segala sesuatu dijadikan olehnya. 

Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis. 
Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. 

Et incarnatus est de Spiritu Sancto 
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus 

ex Maria virgine et homo factus est. 
dari Perawan Maria dan menjadi manusia. 

Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato, 
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus 

passus et sepultus est. 
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan. 

Et resurrexit tertia die secundum Scripturas. 
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. 

et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris. 
Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa 

Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos, 
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; 

cuius regni non erit finis. 
KerajaanNya takkan berakhir. 

Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem, 
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; 

qui ex Patre (Filioque)* procedit. 
Ia berasal dari Bapa (dan Putra)* 

Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur: 
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan. 

qui locutus est per prophetas. 
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi 

Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam. 
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katholik* dan apostolik. 

Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum. 
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. 

Et expecto resurrectionem mortuorum, 
Aku menantikan kebangkitan orang mati, 

et vitam venturi saeculi. Amen. 
dan kehidupan di akhirat. Amin. 

Sungguh ribet dan membingungkan bukan?


[Sumber: Bigaku​ | Kompasiana​]









Wednesday, February 15, 2012

Mengenal Naskah-Naskah Alkitab Menurut Pemahaman Kristen Wednesday, February 15, 2012


TEKS MASORIT
Teks Alkitab yang kita miliki kerap kali adalah Tulisan-tulisan tangan  (- Tulisan tangan salinan Alkitab), terjemahan-terjemahan yang merupakan  sebuah hasil proses sastera selama ratusan tahun. Teks asli Alkitab sudah hilang. Teks Alkitab yang asli pada umumnya diwariskan oleh para pengarang kepada kita tanpa perubahan yang hakiki.

Teks Alkitab dari PERJANJIAN LAMA
Saksi yang paling penting mengenai Teks Alkitab Ibrani adalah teks Masorit. Teks itu merupakan sebuah hasil karya para Masorit, yaitu para pengkritik naskah Yahudi (yang bekerja antara tahun 750-1000 sesudah masehi.). Mereka adalah orang-orang yang menyanggupkan diri untuk memikul tugas untuk menetapkan naskah Alkitab menurut orthografinya ( penentuan konsonan-konsonan dan huruf hidup yang ditulis dalam KITAB SUCI), menurut ungkapannya dan bagaimana perkembangannya sampai pada ketentuan yang terakhir. Penelitian yang ketat itu mereka lakukan dengan maksud untuk melindungi KITAB SUCI, agar tidak ada perubahan yang tersisip di dalamnya.

Sekarang sudah dapat dipastikan, bahwa teks Alkitab Ibrani mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis konsonan-konsonan sejak tahun 100 sesudah masehi. Teks Alkitab pada saat itu pada garis besarnya dapat dikatakan identik dengan teks Masorit. Tetapi juga kelihatan jelas, bahwa di banyak tempat digunakan sebuah teks Ibrani oleh para - Septuaginta, yang menyimpang cukup jauh dari Naskah Masorit, bukan hanya dalam soal-soal kecil, melainkan juga dalam pengaturan dan tambahan-tambahannya. Cetakan ketiga dari Biblica Hebraica, yang diterbitkan Kittel (1937) dan teks yang sedang diterbitkan, Biblica Hebraica Stuttgartensia adalah edisi teks Masorit yang paling baik.

Teks Alkitab dari PERJANJIAN BARU
Jumlah tulisan tangan yang banyak sekali mengenai Alkitab, diatur menurut kelompok-kelompok tertentu. Tiap kelompok mempunyai coraknya sendiri. Orang tahu akan adanya kelompok Alexandria (B), kelompok Eropa (D), kelompok Antiokhia (A, atau disebut juga "koine"). Sejak abad 19 telah diterima secara merata, bahwa kelompok B itu paling dekat dengan teks aslinya. Tetapi kelompok A lebih dipakai dalam tradisi tulisan di waktu kemudian. Kelompok A menjadi bentuk percontohan pada Teks Alkitab yang disahkan kembali di waktu berikut, bahkan menjadi dasar untuk penerbitan-penerbitan yang pertama.

TEKS  SEPTUAGINTA (LXX)
Terjemahan tertua dan terpenting dari PERJANJIAN LAMA ke dalam bahasa Yunani. Nama Septuaginta berasal dari legenda yang diwariskan dalam  surat Aristeas. Di dalam legenda itu disebutkan bahwa 72 orang Yahudi menyelesaikan terjemahannya selama 72 hari.

ASAL DAN SEJARAH
Septuaginta dibuat di  Aleksandria untuk memenuhi kebutuhan  orang  Yahudi diaspora (kelompok-kelompok kecil yang disingkirkan) yang berbicara bahasa Yunani. Semula diterjemahkanlah - Pentateukh (5 kitab Musa, pertengahan abad 3 sebelum masehi.), kemudian secara lambat laun diterjemahkan pula Kitab-kitab PERJANJIAN LAMA lainnya (sampai menjelang tahun 100 sebelum masehi.). Terjemahan Septuaginta segera digunakan menjadi Alkitab resmi dalam Yudaisme helenis di dalam sinagoga-sinagoga.

Para penulis PERJANJIAN BARU lebih suka mengutip PERJANJIAN LAMA dari naskah terjemahan itu. Setelah hancurnya Yerusalem, kewibawaan Septuaginta diserang oleh orang-orang Yahudi sendiri. Padahal sampai saat itu Septuaginta tidak pernah mengalami serangan demikian. Di dalam perdebatannya dengan orang-orang Kristen, orang Yahudi meragukan kesetiaan penterjemahan naskah Ibrani oleh kelompok Septuaginta (misalnya: Kitab Yesaya 7:14; dan Kitab Mazmur 95:10).  Kecuali itu isi daripada Septuaginta tidak cocok dengan  Kanon (kumpulan kitab-kitab) seperti yang di tetapkan oleh Yudaisme (90/95 sesudah masehi). Akhirnya naskah Septuaginta tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolah Rabi Akiba. Dari situlah timbul terjemahan baru bagi orang-orang Yahudi helenis dalam abad kedua (Akwila, Theodotion, Syamkhus;  Terjemahan-terjemahan Alkitab I.1. b-d).

Mengenai sejarah Septuaginta di dalam gereja Kristen sebelum Origenes sedikitlah yang diketahui.  Sekitar tahun 200 naskah Septuaginta sudah begitu rusak, sehingga Origenes berusaha meniadakan perbedaan yang telah terjadi dengan membuat Heksapla ( naskah Ibrani dan terjemahan-terjemahan Yunani dalam 6 kolom yang sejajar) dan memulihkan kembali naskah-naskah aslinya.  Heksapla dan usaha di waktu berikut untuk memperbaiki naskah menimbulkan adanya resensi-resensi dan bentuk-bentuk naskah yang lain lagi.

NILAI TERJEMAHAN
Septuaginta itu tidak membentuk sebuah kesatuan, sehingga nilai  terjemahan tiap kesatuan itu berbeda jauh; Misalnya: Pentateukh (5 kitab Musa)  diterjemahkan dengan baik sekali. Kitab Yesaya dan para Nabi Kecil diterjemahkan secara jelek sekali. Kitab Dan lebih baik dikatakan sebuah saduran bebas daripada sebuah terjemahan.  Tetapi terjemahan Septuaginta masih tetap tidak dirubah-rubah sejak adanya usaha mempersatukan  naskah-naskah Alkitab pada abad pertama/kedua.  Dari segi pandangan lain Septuaginta adalah hasil usaha Kristen untuk mempersatukan naskah karena adanya maksud liturgis.  Penemuan Kitab-kitab Suci di  Kumran menyatakan, bahwa pada abad terakhir sebelum masehi. ada sebuah bentuk naskah Ibrani yang beredar dan dekat sekali bentuknya dengan naskah Septuaginta.  Setiap perbedaan naskah harus diperiksa sendiri-sendiri; Misalnya: di dalam memberi huruf vokal pada nama-nama pribadi, kelihatan, bahwa Septuaginta lebih baik daripada naskah Masorit yang kita miliki (yang lebih muda).

TULISAN TANGAN DARI KUMRAN
Di dalam musim semi 1947 ada gembala-gembala yang menemukan "gulungan" yang pertama. Tempatnya di padang gurun Yehuda, 3 km di sebelah utara en Feskha dan dekat dengan puing-puing sebuah bangunan besar di sebelah utara pantai Laut Mati. Orang-orang Arab menamakan puing-puing itu Khirbet Kumran. Di kemudian waktu naskah-naskah lain ditemukan di wadi Murrabba'at sejauh 18 km barat-daya dari Khirbat Kumran dan ada tambahan penemuan lagi di Khirbet Mird. Setelah gurun itu diselidiki secara sistematis ditemukanlah naskah-naskah (kebanyakan berbentuk fragmen-fragmen) yang berada di dalam 11 gua.

Publikasi dari keseluruhan bahan itu masih akan makan waktu bertahun-tahun. Penyelidikan arkeologis (1952-1956) telah memastikan, bahwa di Khirbet Kumran ditemukan pusat satu-satunya "perserikatan Kumran" (oleh kebanyakan para penyelidik, perserikatan itu disamakan dengan gerakan  Esseni). Sebuah ekspedisi Israel menemukan naskah-naskah Alkitab maupun profan di dalam (wadi) Nahal Heber dan di  Masada, sebuah benteng di lereng timur pegunungan Yehuda di dekat Laut Mati, tidak jauh dari En-gedi. Terletak pada suatu dataran tinggi padas yang curam. Diperluas secara megah oleh Herodes dan menjadi tempat pertahanan terakhir dalam perang Yahudi melawan Roma (66-73 sesudah Masehi). Di situ antara lain ditemukan surat-surat dari Bar Kokhba pada saat perang kemerdekaan Yahudi yang kedua (132-135;  Papiri, yaitu tanaman pandan-air yang tersebar luas di zaman Mesir kuno (Kitab Keluaran 2:3) dan kini sudah jarang lagi tumbuh. Tanaman itu dipakai untuk anyaman (Kitab Keluaran 2:3), untuk pembuatan perahu (Kitab Yesaya 18:2) dan terutama sebagai  bahan untuk menulis (kata "paper" = kertas). Dari batang yang ditaruh dalam bentuk tumpang-silang, orang mengepres dan membuatnya halus, sehingga timbullah lembaran-lembaran yang dilem menjadi gulungan.).

TULISAN ALKITAB.
Tulisan tangan yang paling penting adalah gulungan Yesaya yang hampir lengkap. Gulungan itu ditemukan pada tahun 1947 dan diumumkan pada tahun 1950. Di samping itu masih ada sebuah naskah Alkitab dengan komentar atas Habakuk 1-2. Gua tempat menyimpan fragmen-fragmen semua Kitab PERJANJIAN LAMA-Ibrani dengan pengecualian Ester. Dalam gua 11 ditemukan sejumlah sisa besar sebuah gulungan Mazm., yang saat ini merupakan tulisan Alkitab yang nomor dua besarnya. Gua-gua lainnya memuat fragmen-fragmen Alkitab yang lebih kecil. Hukum (terutama kitab Ulangan.), Yesaya. dan Mazmur., termasuk penemuan yang paling besar. Di dalam "perserikatan Kumran" kitab-kitab itu barangkali merupakan bagian kitab-kitab yang paling disayangi.

Titik tanggal yang pasti merupakan masalah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan Alkitab. Kini rasanya seperti sudah pasti, bahwa kebanyakan buku-buku Alkitab berasal dari dua abad terakhir sebelum masehi., atau dari abad pertama sesudah masehi. Penyelidikan tentang keadaan penemuan itu memberi petunjuk bahwa buku-buku itu ditaruhkan dalam gua-gua tadi pada tahun atau bahkan sebelum tahun 68 sesudah masehi. Barangkali beberapa di antaranya berasal dari abad 1 atau 2 sebelum masehi. Beberapa fragmen lainnya mungkin tergolong lebih tua (abad 3 atau 4 sebelum masehi).

Tulisan-tulisan tangan dari Kumran memberikan sebuah Naskah Alkitab yang ditulis seribu tahun lebih tua daripada kodeks-kodeks Ibrani yang kita miliki sebelum penemuan itu. Meskipun demikian naskahnya itu di dalam keseluruhannya tidak lebih baik daripada naskah Masorit. Dengan demikian terbuktilah bahwa naskah Masorit pada hakekatnya termasuk jauh lebih tua daripada yang diperkirakan. Ejaan baik (ortografi) yang ditemukan,- penting bagi pelajaran sejarah bahasa Ibrani -, nampak berbeda dalam naskah-naskahnya. Selanjutnya nampak dari beberapa fragmen yang ditemukan, bahwa LXX (SEPTUAGINTA) termasuk pada teks-teks yang katanya diterjemahkan secara bebas atau atas keinginan pribadi perorangan tertentu, barangkali juga dikembalikan pada asal Ibrani-nya.

Dari penemuan-penemuan itu tersingkap bahwa naskah PERJANJIAN LAMA yang berbahasa Ibrani itu belum ditetapkan secara pasti pada tahun 68 sesudah masehi. Pada tahun 132-135 orang baru mempunyai sebuah naskah kesatuan, yang dalam garis besarnya nampak seperti naskah Masorit. Tetapi naskah ini bukan satu-satunya naskah yang beredar.

TULISAN-TULISAN BUKAN ALKITAB
Tulisan-tulisan itu boleh jadi berasal dari zaman yang sama dengan zaman naskah-naskah Alkitab. Tetapi orang harus membedakan tuanya tulisan-tulisan bukan Alkitab itu dengan tuanya teks aseli dari tulisan itu. Sebab tulisan yang ditemukan sudah merupakan edisi kesekian kalinya daripada teks aselinya.

Jemaat Kumran tentunya memiliki sebuah perpustakaan komentar yang cukup luas mengenai KITAB SUCI. Eksegese di situ caranya aneh dan menyimpang dari tipe midrasy seperti yang dikenal orang sampai sekarang. Mereka suka menghubungkan kata-kata Kitab dengan dirinya dan dengan zamannya. Anggapan mereka, bahwa zaman merekalah yang terakhir. Adapun komentar yang paling luas isinya adalah komentar Habakuk atas Habakuk 1-2. Isinya menarik sekali oleh permainan yang dipakai untuk menyinggung keadaan zaman penyusun. Mengenai komentar-komentar lainnya hanya dikenal fragmen-fragmen melulu (komentar Hosea., Mikha., Mazmur., Yesaya.).

PERATURAN-PERATURAN
Yang paling penting adalah peraturan sekte atau pengaturan jemaat. Oleh penerbitnya yang pertama (1951) disebut Manual of Discipline. Naskah itu (11 kolom) hanya sedikit yang rusak. Peraturan itu mengajar para anggota jemaat, bagaimana mereka akan hidup, sesuai dengan penafsiran pimpinan, memenuhi hukum (taurat). Peraturan jemaat ini boleh jadi diperuntukkan para pengikutnya yang nampaknya hanya pria melulu. Masih ditambah lagi dengan sebuah dokumen yang juga membicarakan soal para istri dan anak-anak. Barangkali peraturan-peraturan itu diperuntukkan bagi zaman keselamatan yang akan datang, sebab di situ antara lain dibicarakan tentang kemungkinan, bahwa Mesias itu akan hadir di dalam perjamuan.

Tulisan tangan Damsyik menurut isi dan coraknya termasuk ke dalam sastra Kumran. Hal itu dapat dibuktikan lagi dari kenyataan, bahwa fragmen-fragmen dari berbagai eksemplarnya ditemukan dalam gua-gua Kumran. Sudah hampir dapat dipastikan, bahwa tulisan itu berasal dari periode yang lain daripada aturan jemaat itu. Ada tulisan soal peraturan berperang. Tulisan itu berusaha melukiskan sebuah perang yang dilakukan oleh para putera cahaya, artinya: oleh para anggota perserikatan, yang berperang pada akhir zaman melawan seluruh bagian dunia yang lainnya. Para imam memegang peran besar di situ.

 Di luar Mazmur Alkitab, jemaat Kumran masih mendoakan Mazmur-nya sendiri. Sebetulnya mereka doakan nyanyian pujian, yang di dalam tinjauan sastranya merupakan sebuah mosaik kata-kata Mazm Alkitab, tetapi menunjukkan sebuah kesatuan konsepsi theologi tersendiri. Oleh karenanya perlu dipandang sebagai karya satu orang pribadi. Sebagai ungkapan cara berpikir religius di Kumran, maka Mazm-Mazm itu mempunyai nilai yang besar bagi kita. (4) Sisa naskah lainnya. Di antara naskah-naskah ini, kesaksian-kesaksian sebuah sastra apokrif-apokaliptik sangat meluas isinya dan mengambil tempat yang besar di dalamnya. Padanya termasuk tulisan-tulisan yang sudah terkenal (Yub., Hen., Test XII) seperti yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya: sebuah gambaran tentang Yerusalem baru, sebuah doa dari Nabonid dan tiga buah fragmen lain dari siklus Daniel. Menyolok pula banyaknya naskah liturgi, yang dalam cara tertentu bisa dijadikan pendahulu surat Ibrani dan Why.: Liturgi dan kenisah di surga nampak sebagai contoh dari liturgi dan kenisah di dunia.

ARTI DAN NILAI PENEMUAN
Penemuan Kumran  telah memberikan cahaya terang baru pada Yudaisme  Palestina dalam zaman pergantian PERJANJIAN LAMA menuju PERJANJIAN BARU Kini kita telah tahu, bahwa Yudaisme zaman Yesus mempunyai lebih banyak segi-segi pandangan lainnya daripada anggapan orang sebelumnya. Naskah-naskah Kumran memberikan kelonggaran atas pandangan-pandangan baru tentang dunia tempat agama kristen timbul. Pada banyak tempat di PERJANJIAN BARU yang dulunya diperkirakan mempunyai pengaruh helenis, kini lebih mudah dinyatakan sebagai pengaruh dari kalangan Yahudi sendiri.

THEOLOGI
Meskipun pendiri perserikatan Kumran (ia disebut "guru keadilan") maupun sebab-musabab konkrit mengenai pendirian jemaat itu tidak dikenal (rupanya pertanyaan atas "penanggalan yang tepat" menjadi penentu yang penting), namun di dalam Kitab-kitab yang ditemukan harus diakui adanya sebuah konsepsi theologi yang mengesankan: Jemaat Kumran  yang yakin, bahwa Allah membuka kembali dan memberikan kepada jemaat itu persekutuan denganNya dan dengan para malaekatNya. Mereka secara khusus dijiwai semangat untuk menjadi mirip dengan Tuhan dalam segala-galanya. Mereka bukan hanya merasa berkewajiban memenuhi nasihat yang diberikan oleh Tuhan dengan tepat, melainkan harus juga memisahkan diri dari semua orang dosa dan dari a pa saja yang mengandung dosa. Sebab Tuhan sendiri memberi rokh kegelapan, sehingga semua para anggota Kumran wajib membenci semua hal yang mengandung dosa dan menolaknya.

Bahkan setiap anggota yang melanggar sebuah perintah dari hukum, artinya: memberikan tempat pada rokh kejahatan, harus dipisahkan dari perserikatan untuk sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Memiliki rokh itu sekaligus menentukan tempat setiap orang sesuai peraturan perserikatan. Di dalam peraturan itu harus dicerminkan "peraturan surgawi": Tak seorangpun boleh ada di atas tempat nasibnya (yang ditentukan Tuhan).

Petunjuk-petunjuk yang disingkapkan oleh Rokh Allah tidak cukup hanya dijadikan norma belaka. Dengan bantuan sebuah tanggalan yang hanya mengikuti perhitungan matahari, yang dianggap sebagai "tanggalan surgawi", orang harus memberi susunan peraturan pada hidupnya sendiri. Ia harus membantu perserikatan, menjawab kurnia Tuhan sesuai waktunya. Justru karena Kumran merupakan perserikatan yang sadar, bahwa terpanggil oleh Tuhan sebagai hadiah melulu yang penuh rakhmat, maka para saudara sewarga berusaha untuk tidak menyombongkan diri dalam menghayati perserikatan itu, melainkan memasuki jalan yang dibuka Tuhan baginya di dalam hukumNya.


[Sumber: Sanggar Alkitab]

Tuesday, February 14, 2012

Sekilas Tentang Kitab Septuaginta Tuesday, February 14, 2012


SEPTUAGINTA adalah terjemahan kitab-kitab dalam Alkitab Ibrani atau Tanakh yang merupakan bagian Perjanjian Lama di Alkitab Kristen dari bahasa Ibrani (ditulis dalam huruf Ibrani Kuno) ke dalam bahasa Yunani pada abad ke-3 SM. Terjemahan ini disebut "septuaginta" yang dalam bahasa Yunani artinya adalah 70 dan sering ditulis sebagai "LXX" karena konon disusun 70 orang Yahudi yang ditugaskan oleh Ptolemaios II Philadelphos (285 - 247 SM), raja Mesir untuk dimasukkan ke Perpustakaan Alexandria (Iskandariyah).

Pada kenyataannya Septuaginta dikerjakan oleh 72 orang pakar yang mengenal baik tentang hukum-hukum Yahudi dan mampu menterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Yunani. Ada juga yang mengatakan bahwa ke 72 orang tersebut berasal dari 6 orang dari tiap suku Israel yang berjumlah 12 (6 x 12 = 72), tetapi pendapat ini masih perlu dipertanyakan (baca: Important Early Translations of the Bible)

Pada abad 19 dan abad 20 tersedia banyak sekali translasi Alkitab ke dalam berbagai bahasa. Namun sebelumnya, Alktab yang tersedia hanya terdapat dalam beberapa penerjemahan saja. Penerjemahan Alkitab mula-mula terjadi ke dalam bahasa Yunani yaitu Septuaginta tercatat dari abad ke 3 hingga ke 2 sebelum Kristus (abad ke-3 sampai abad ke-2 SM). Bukan hanya sebagai terjemahan yang tertua tetapi juga bermanfaat sebagi penghubung antara kitab Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru yang menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa penulisannya.

Alasan sebenarnya untuk melaksanakan penerjemahan ini adalah untuk memenuhi keperluan pendidikan dan liturgis dari komunitas Yahudi di Aleksandria yang jumlahnya cukup besar. Kebanyakan dari mereka telah lupa bahasa Ibrani atau telah tumbuh dan berbicara sehari-hari dengan bahasa Yunani Umum. Tetapi mereka adalah orang Yahudi dan ingin mengerti Kitab-kitab suci Tua, dimana tempat bergantungnya Iman dan Hidup mereka. Kepentingan Septuaginta sangat jelas. Disamping sebagai terjemahan pertama yang pernah di buat dari Kitab berbahasa Ibrani, juga merupakan media untuk membawa pemikiran keagamaan orang-orang Ibrani kepada dunia.

Septuaginta juga merupakan Kitab yang digunakan pada masa Jemaat Kristen mula-mula, dan para penulis Perjanjian Baru sering mengutip dari Septuaginta. Pengaruh lanjutan dari Septuaginta juga membuat Origen menggabungkan Septuaginta ke dalam karyanya bernama Hexapla, yaitu edisi kesarjanaan yang cukup rumit dari Perjanjian Lama. Berabad-abad Septuaginta memiliki pengaruh yang luas, seperti menjadi dasar penerjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Latin, Koptik, Gothic, Armenian, Georgia, Etiopia, Aram Kristen Palestina, Syria, Arab, dan Slavonic. Dan yang paling terpenting saat ini digunakan Otoritas dalam teks alkitabiah dari Perjanjian Lama bagi Gereja Ortodok Yunani.

[Sumber: Wikipedia]

Saturday, July 2, 2011

Mengenal Umat Al-Masih Timur Saturday, July 2, 2011

Sangat menarik untuk disimak, berikut adalah tulisan bang Rido Simangunsong di halaman pribadinya di KOMPASIANA. Beliau asli anak Batak yang lahir dan besar di Sumatera Utara dan, seperti umumnya anak Sumatera Utara, kemudian merantau meninggalkan kampung halaman hingga akhirnya memutuskan untuk menetap dan jadi semakin "eksentrik" di kota kembang Bandung. Dia bilang, sesekali dia suka menulis, dan salahsatu tulisannya adalah Mengenal Al-Masih Timur seperti berikut ini:

“Kamu kan Kristen, kenapa shalat?”, seorang aktifis gereja Protestan bertanya dengan nada menuduh. Saya hanya tersenyum, sembari menimbang-nimbang mau memberi penjelasan yang merentang cakrawala, atau menjawab sekenanya. Soalnya saya tak berpangkat apapun dalam jagad aktifis keagamaan Protestan, tidak punya gelar Pemimpin doa tidur (Pdt), Pemimpin doa makan (Pdm), atau Pemimpin nyanyian tidur (Pnt). Tidak juga gelar kesarjanaan seperti Sarjana tukang hayal (STh). Hal itu hampir berarti saya tak akan didengar. Saya pun tidak terlalu dekat dengan aktifis gerejawi ini, padahal kalau mau didengar oleh mereka, katanya harus kenal dekat dulu. Semua yang asing dan menyalahi kelazimannya pasti dianggap aneh, syukur-syukur bukan sesat.

Sayangnya saya harus sadar bahwa saudara terkasih itu butuh penjelasan. Demikian pula rekan-rekannya yang lain, yang kemungkinan sama ber-mentalitas “harus rohani atau harus dekat baru didengar,” juga butuh penjelasan. Penjelasan yang insya Allah akan mencerahkan dan lebih menambah khasanah soal betapa kayanya ekspresi iman para pengikut Al-Masih, juga soal jalan indah untuk memahami dan menjembatani dialog dengan umat Nabi Muhammad.

Ya, pemahaman dan praktik ibadah umat Al-Masih Timur memang kurang dikenal di negeri ini. Bagi kebanyakan orang Indonesia, para pengikut Al-Masih hampir selalu diidentikkan dengan dua mahzab besar, Katolik Roma dan Protestan. Tradisi dan ekspresi iman yang dikenal pun seolah hanya dari Eropa Barat dan Amerika Utara saja. Pengstilahan dan ajaran pun seolah hanya bersumber dari kedua tempat itu. Maka terkadang saat mereka diperhadapkan pada ritus krisitiani yang lebih asali seperti dalam iman umat Al-Masih Timur, mereka serasa bertemu “agama lain”.

Padahal tradisi gereja Barat (apalagi pada denominasi Protestan yang baru seperti Kharismatik dan Pentakosta) sebenarnya berasal dari usia yang jauh lebih muda. Beberapa ajarannya pun pada hakikatnya merupakan respon iman para perintisnya terhadap peristiwa-peristiwa di tempat tertentu. Misalnya saja reformasi kaum Lutheran yang erat kaitannya dengan kewenangan Paus dan pergolakan politik di Eropa, atau Pembaruan Calvinis yang ajarannya menjadi fondasi pembaruan Kota Jenewa. Tradisi Katolik Roma pun baru mulai menunjukkan coraknya sendiri selepas era St.Thomas Aquinas (1274) meski fondasinya telah dibangun oleh Paus Gregorius I (604), tiga “Doktor Latin”, St. Agustinus (430), St. Hieromius (420) dan St. Ambrosius(397), serta “Bapa Gereja Latin”, St. Tertulianus (230). Perkembangan tradisi ini ditandai dengan melimpahnya literatur dan ritual liturgi berbahasa Latin. Lantas seperti apa tradisi umat Al-Masih Timur itu?

Maka saya membiarkan si aktifis gerejawi itu penasaran sejenak.

Bapak itu sedang mengorat-oret buku persiapan khutbahnya. Nampaknya dia salah satu dari sedikit ulama kristiani yang masih mau belajar sebelum memberi ceramah. Nah… bapak itu sekarang sedang berpatah-patah mengucapkan Bahasa Latin… “Verre deo, verre homo,” ucapnya dengan logat Jawa campur Hokkien. Ah… pasti dia orang Protestan dari denominasi Reform Injili atau aliran Calvinis lainnya. Soalnya dia demen berbahasa aneh, yang sering diangguk-sukai oleh jemaatnya yang justru gak ngerti bahasa aneh. Berbeda dengan orang Karismatik atau Pentakosta, disini tak hanya ulama, seluruh orang juga demen berbahasa aneh. Ups!

“Pak… lagi mau ceramah tentang apa sih? Kok melulu pakai Bahasa Latin?”

“Oh… ini soal keesaan Tuhan. Aku mencoba melacak sampai ke akar-akar permasalahan doktrin ini. Sampai ke jaman Tertulianus. Kau bayangkanlah betapa bagusnya nanti ceramah ini. Biar nanti jemaat bisa mengerti apa yang dipercayainya”

Ah… bapak ini tampak sangat bergairah, walau memang impian ini akan jauh dari kenyataan. Yang ada umatnya akan pulang dengan lebih mengingat dan merindukan cemilan serta sapaan teman gosipnya ketimbang isi ceramah si Bapak.

Tapi bukan hal itu yang paling ingin disorot. Yang unik adalah pendapat si Bapak seolah menegaskan bahwa iman umat Al-Masih yang sejati lebih banyak diajarkan dalam Bahasa Latin. Seolah asal-muasal semua dogma utama hanya berasal dari gereja Barat. Padahal kalau dia mau mempelajari teologia Timur, penjelasannya mungkin akan lebih lengkap. Tidak hanya untuk umat binaannya, tapi juga saat ia menjelaskan pada umat Nabi Muhammad misalnya. Apalagi dasar-dasar penjelasan untuk masalah keesaan Allah, justru bermula dari umat Al-Masih Timur.

“Timur? Timur mana yang kamu maksud? Kita kan orang Timur?”

“Yang jelas bukan umat Al-Masih yang dibina Pak Timur Pradopo, apalagi yang (dibiarkan) dibinasakan olehnya, hehe…”

Ups lagi…

1. APA YANG DIMAKSUD DENGAN TIMUR?

Sebenarnya istilah umat Al-Masih (teologi) Timur bermula untuk menyebut umat yang ada di wilayah timur kekaisaran Romawi, baik yang merupakan kekaisaran Romawi Timur (Yunani, Asia Kecil, Afrika Utara, Syiria dan Palestina), maupun wilayah yang lebih timur lagi, yang bukan wilayah kekaisaran Romawi (Eddesa, Semenanjung Arabia, Persia dan India). Jadi umat Al-Masih Timur waktu itu berarti umat Al-Masih yang tinggal di sebelah timur kekaisaran Romawi. Injil memang lebih dahulu sampai di wilayah ini, mengingat upaya dakwah para hawariyyun (keduabelas murid Al-Masih) awalnya banyak dikerjakan di wilayah ini.

Namun saat ini umat Al-Masih Timur diartikan sebagai umat Al-Masih yang mengikuti ajaran dan tradisi jemaat Timur tersebut. Saat ini Teologia Timur setidaknya terbagi atas empat mahzab besar, ada pula beberapa segmentasi yang kecil. Adapun keempat mahzab besar tersebut Gereja Orthodoks Timur, Gereja Orthodoks Oriental, Kanisah Assyiria Timur, dan Gereja Katolik Timur.

Sebutan Timur ini juga menjadi penting sebagai pembeda dengan tradisi dan ajaran umat Al-Masih Barat. Memang keduanya berhulu pada sumber yang sama, yaitu ajaran Al-Masih yang diteruskan oleh murid-muridnya. Namun penghayatan, penekanan dan penerapannya tentu memilik perberbedaan. Tradisi dan ritual Timur selain lebih awal, juga lebih beragam, tidak hanya bersentuhan dengan budaya Latin-Romawi, seperti pada umat Al-Masih Barat.

Jadi meskipun, umat Al-Masih banyak terdapat di Indonesia, Cina, Philipina, Jepang dan Korea, yang notabene adalah belahan dunia Timur, kebanyakan mereka tetaplah umat Al-Masih Barat, sebab teologi yang dianut berasal dari Gereja Barat.

Literatur dan ritual ibadah umat Al-Masih Timur itu lebih beragam. Bahasa yang digunakan juga. Bahasa Aram, Yunani, Koptik, Latin dan Armenia adalah bahasa tertua yang dipakai dalam ritual ibadah dan literatur. Belakangan setelah menyebar, umat Al-Masih Timur juga banyak memakai Bahasa Arab (yang merupakan perkembangan Bahasa Aram dialek Timur), Etiopia, Slavonik, dan Malangkaran. Saat Gereja Barat selama ribuan tahun hanya memakai Kita Suci dan Liturgi berbahasa Latin, umat Al-Masih Timur justru berperan besar dalam menerjemahkan Injil ke banyak bahasa. Bahkan untuk Bahasa Arab dan Bahasa-bahasa Eropa Timur, umat ini berperan besar dalam mengembangkan bahasa dan aksaranya.

Si Bapak tadi tertegun sejenak. Belum pernah didengarnya sejarah jemaat Al-Masih versi yang lebih luas ini. Padahal dia kan seorang ulama. Sejarah milik orang kuat? Ya, tapi sejarah juga dirampok dari orang yang tak ingin keluar dari kenyamanan kelazimannya.

Carissa Putri dulu pernah bilang bahwa sebelum memerankan tokoh Maria Girgis dalam film Mayat-mayat, eh, Ayat-ayat Cinta (2008), ia sudah riset sangat mendalam tentang umat Al-Masih dari mahzab Koptik, yang menjadi keyakinan semula si Maria. Kenyataannya si manis Carissa, sama seperti penulis novel dan sutradara film tersebut, tetap terperangkap pada ketaktahuan yang sama. Tatto salibnya yang terbalik dan terlalu besar, cara berdoa Ny.Girgis yang melipat tangan, keheranan Maria atas tilawat Qur’an dan permintaannya agar diajari shalat, adalah bukti ketaktahuan kru film ini tentang bagaimana sebenarnya ritual ibadah Koptik. Mereka malah menyamakannya dengan Kristen Barat (Katolik Roma).

Kalau mereka faham soal keyakinan yang dianut mantan sekjen PBB Bouthros Boutros Ghali itu, tentu tatto salibnya akan lebih proporsional. Ny.Girgis akan berdoa dengan menengadahkan tangan dan memakai kerudung. Maria tentu tak perlu terheran-heran soal alunan tilawat Quran, sebab Injil juga dibaca dengan cara demikian. Lebih lagi, permintaan Maria di akhir film harusnya, “Ajari aku shalat secara Islam”, bukan sekedar “Ajari aku shalat”, sebab umat Koptik pun melakukan ritual shalat yang bentuknya hampir mirip, namun memang tidak sama dengan agama Islam.

Tidak hanya soal film yang promosi poligami itu, pencampur-kaburan juga sering terjadi kalau orang mulai berbicara soal umat Al-Masih Timur. Sampai saat ini banyak yang mengira Khalil Gibran adalah seorang umat Nabi Muhammad, semata-mata karena ia menulis puisi dalam Bahasa Arab. Padahal sampai akhir hayatnya Gibran tetap menjadi anggota jemaat Maronit. (Nah apa pula ini? Cukup disayangkan kalau sedikit yang mengenal Abuna (Romo) Elias Chacour, salah seorang pejuang spritual untuk perdamaian Palestina. Padahal ia adalah tokoh yang selalu memberi dukungan penuh pada alm. Yasser Arafat. Dia seorang umat Al-Masih tentu saja, namun bukan Katolik Roma, tapi Katolik Melkit (apa lagi ini?). Bicara soal orang Palestina yang mengaku diri pengikut Al-Masih, tentu orang ingat Juirjuis (George)”al-Hakim” Habash, orang kepercayaan Arafat, salah satu tokoh garis keras di PLO. Apa keyakinan formalnya? Dia anggota jemaat Orthodoks Timur di Palestina. (Nah lo?). Mau yang lebih konyol lagi? Di Tampa, A.S, seorang biarawan Orthodoks dikira teroris dan dipukuli oleh seorang Polisi pada Nopember 2009. Anda bisa tebak kenapa polisi itu langsung mengira sang biarawan teroris? Sebab calon imam itu berjanggut dan berjubah panjang, hm… betapa naifnya ketaktahuan yang dilandas curiga.

2. KUSUT CAMPUR KABUR SOAL UMAT AL-MASIH TIMUR

Sudah melihat kekusutan campur-kaburnya kan? Pertama ada yang menyamakan umat Al-Masih di Timur ini dengan umat Nabi Muhammad. Ini terjadi mungkin karena atribut luarannya (gedung dengan atap berbentuk kubah, baju panjang, janggut para imam, kerudung untuk perempuan, cara menilawatkan kitab suci, dan bahasa yang digunakan) hampir mirip. Padahal keberadaan umat Al-Masih di Timur sudah ada jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad. Jadi kemiripan tadi bukanlah bentuk meniru-niru Islam. Ada pula yang menyamakannya dengan umat Al-Masih dari Barat. Padahal ada perbedaan penghayatan atas beberapa doktrin dengan dunia kekristenan Barat. Saat ini, umat Al-Masih Barat (khususnya Katolik Roma, Anglikan dan Evangelikal) ada juga yang berdiam di wilayah Timur, namun keberadaannya tentu tak mengakar seperti keyakinan Al-masiyah Timur, yang mengutip seorang Syekh Al-Azhar, bukanlah suatu minoritas asing, melainkan suatu originalitas di wilayah Timur. Jadi harus dibedakan memang, apalagi bentuk ekspresi ibadahnya memang jelas-jelas berbeda.

Nah, yang sudah bisa melihat perbedaan itu pun (antara umat Al-Masih Timur dengan umat Nabi Muhammad dan umat Al-Masih Barat yang tinggal di Timur), masih belum bisa membedakan ragam-ragam yang terdapat di dalam umat Al-Masih Timur. Asal tahu saja beberapa mahzab dalam umat Al-Masih Timur sebenarnya pernah bertentangan dengan cukup keras. Konfliknya pun sering menjalar ke bidang politik. Penulis The Black Swan, Nassim Nicholas Thaleb, pernah menguraikan, untuk waktu yang lama, pertikaian besar di wilayah Syria dan Libanon justru lebih banyak terjadi antar sesama umat seagama (antara Maronit dengan Orthodoks Timur dan Syira, atau antara Islam Sunni dengan Syiah) alih-alih konflik antar agama. Nah kalau sudah begini, tentu suatu kesalahan fatal kalau kita menyamakan semua mahzab dalam keyakinan umat Al-Masih Timur.

Kekaburan yang terakhir juga tak kalah parahnya. Orang-orang suka salah memahami nama atau malah salah memberi nama kepada mahzab-mahzab dalam keyakinan umat Al-Masih Timur.
  • Sebutan “Kristen” mungkin bisa tepat untuk menyebut umat ini, bisa juga tidak, sama seperti sebutan “Nasrani”. Maka lebih baik jika menyebut mereka dengan “umat Al-Masih” (Bahasa Arab: Al-Masihin) saja.
  • Sebutan “Katolik” hendaknya tidak dimaknai sebagai “Katolik Roma”, sebab katolik itu sejatinya berarti “Am, Universal”. Jadi seluruh umat Al-Masih (baik Barat maupun Timur) tentu terhisab dalam satu jama’ah yang kudus, rasuliyah dan katolik sebagai mana dinyatakan dalam Kanun al-iman (Pengakuan Iman atau Kredo) Nicea-Konstantinopel. Maka dari itu semua mahzab dalam keyakinan Al-Masiyah tentu berhak menyebut dirinya “katolik”. Meski di Barat, kaum Protestan umumnya alergi dengan istilah ini, di Timur istilah “katolik” diterima dengan hormat.
  • Sebutan yang sifatnya tuduhan, yang umumnya dimunculkan oleh Gereja Barat, sudah sepatutnya dihindari. Alih-alih menyebut “Kaum Jacobit” atau “kaum monofisit”, hendaknya kita menyebut “Kaum Orthodoks Oriental atau Syria”, “kaum meafisit”, atau paling banter “kaum non-kalsedon”. Alih-alih menyebut “Nestorian”, hendaknya kita menyebut “Kanisah Assyrian Timur”.
3. KERAGAMAN DALAM UMAT AL-MASIH TIMUR

Seperti telah disampaikan, ada empat mahzab besar (Orthodoks Timur, Orthodoks Oriental, Assyrian Timur dan Katolik Timur) dan beberapa sempalan kecil dalam umat Al-Masih Timur. Diantara semuanya mahzab Katolik Timur mungkin yang paling beragam coraknya, semua aliran dalam mahzab Katolik Timur (Maronit, Melkit, Khaldean, Katolik Koptik, Ukranian, dll) hanyalah disatukan oleh persekutuan mereka dengan Paus di Roma, ritualnya amat beragam, sebagian mirip dengan salah satu dari ketiga mahzab lainnya. Sedangkan Kanisah Assyrian Timur hanya memiliki satu corak ajaran dan tradisi. Gereja Orthodoks Oriental merupakan persekutuan dari lima cabang (Gereja Orthodoks Koptik, Gereja Orthodoks Syria dengan Gereja Orthodoks Malangkara sebagai cabang independennya, Gereja Orthodoks Armenia, Gereja Tehawedo Orthodoks Ethiopia dan Gereja Orthodoks Tehawedo Eritrea) dengan Patriakh Gereja Aleksandria (Orthodoks Koptik) sebagai yang dituakan. Sementara itu mahzab Orthodoks Timur memiliki empat belas cabang yang saling setara (diantaranya Gereja Orthodoks Konstantinopel, Yunani, Rusia, Serbia, dll) dengan Patriakh Gereja Konstantinopel sebagai yang dituakan.

Selain karena doktrinnya, umat Al-Masih Timur juga dibedakan atas bahasa awal liturginya. Ada yang berbahasa Aram atau Syria, Koptik, Armenia, Yunani, dan Latin. Dalam perkembangannya sebagian besar umat yang memakai Bahasa Aram atau Syria dan Koptik akhirnya mengadopsi Bahasa Arab. Sementara yang berbahasa Yunani ada yang akhirnya mengadopsi Bahasa Slav dan Bahasa Eropa Timur yang lebih modern.

Waraqah bin Naufal katanya seorang kristen, lantas kristen yang bagaimana pula dia itu? Sangat sedikit umat Nabi Muhamad yang bisa memberi jawab pasti soal hal ini. Di sisi lain kebanyakan umat Al-Masih Barat tidak peduli akan riwayat tersebut, beberapa malah meragukan kebenarannya.

Ya, lagi-lagi semuanya mentok, sebab yang sering dibangun dalam beragama adalah tembok, bukannya jembatan. Padahal peran Waraqah bin Naufal, sama seperti seorang Rahib Nasrani di Bahira dan Raja Negus dari Habbasiyah (Ethiopia) sangat menarik untuk diperhatikan. Baik dalam kaitannya dengan sejarah perkembangan agama Islam, juga sebagai titik temu dalam dialog antar dua umat Ibrahim ini.

Nah, Waraqah menurut beberapa riwayat adalah seorang pemimpin Umat Al-Masih di Mekkah. Ia adalah seorang yang paham Kitab Suci umat Al-Masih dalam bahasa aslinya (Sahih Bukhari 1:3; Sahih Muslim 301). Waraqah sangat berperan dalam meneguhkan hati Nabi Muhamad atas pewahyuan yag di terimanya. Beberapa sejarahwan Islam bahkan meyakini Waraqah lah yang mengawinkan Nabi dengan Siti Khadijah (saya mengutip Tuan K.H Munawar Khalil dalam Burhanuddin, 1984:10-11). Hal yang mungkin menjadi alasan mengapa Nabi Muhamad tetap bermonogami selama masa hidup Khadijah (menurut tradisi umat Al-Masih dalam peneguhan perkawinan ada ikrar untuk hidup bermonogami dengan pasangannya, sampai kematian memisahkan).

Mengapa Waraqah yang mengawinkan? Apakah Siti Khadijah juga seorang pengikut Al-Masih? Mungkin saja, jika menilik pakaiannya yang serba tertutup dan berbeda dengan kebanyakan perempuan Arab waktu itu, ada kemungkinan ia seorang biarawati (dalam beberapa mahzab Al-Masih Timur biarawati boleh menikah), namun tentu sulit sekali untuk membuktikannya. Ataukah Nabi Muhamad yang seorang pengikut Al-Masih, mengingat waktu kecil ibunya juga membawa dia kepada seorang Rahib umat Al-Masih di Bahira? Mungkin, namun pendapat ini akan ditentang oleh hampir semua riwayat yang menyebut bahwa Sang Nabi adalah seorang Hanif (monotheisme Ibrahim yang diturunkan lewat Ismail). Tapi setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa Nabi Muhamad cukup dekat dan sangat menghargai satu bentuk keyakinan umat Al-Masih yang disebut dalam Al-Quran sebagai “Nasrani”. Lantas, umat Al-Masih bagaimanakah “Nasrani” yang satu ini?

Yang jelas “Nasrani yang benar”, yang dimaksud oleh Qur’an, bukanlah Nasrani seperti beberapa bidah di Mekkah, yang disebut sebagai “Nasrani kafir” oleh Al-Quran. Di Mekkah waktu itu memang berkembang ajaran-ajaran yang mirip iman umat Al-Masih sejati, namun kenyataannya sesat (Bambang Noorsena, History of Allah, Pasal 3). Injil dan Al Quran sama-sama menentang umat yang menyatakan Siti Maryam, Bunda Al-Masih, sebagai ilah. Keyakinan ini merupakan sinkretisme antara keyakinan Al-Masih dengan ritus kepercayaan kepada Dewi Kesuburan (disebut dengan nama berbeda-beda diberbagai tempat Isthaar, Asytera, Diana, Aikah, dll dilambangkan dengan seorang perempuan). Kedua kitab suci ini juga menentang penyembahan kepada tiga ilah. Ajaran triteisme ini jadi berkembang, karena keyakinan tauhid umat Al-Masih dimaknai secara politeisme, jadinya umat bidah ini menyembah kepada tiga tuhan, Bapa, Maryam dan Al-Masih. Ada lagi ajaran yang mengatakan Al-Masih itu adalah anak biologis Allah, ada pula ajaran yang menolak kemanusiaan Al-Masih, sehingga meragukan kematian Al-Masih di salib. Kedua ajaran ini agaknya terpengaruh oleh pandangan Gnostik dan mitologi Arab. Tapi tentu saja dari sekian banyak yang palsu, masih ada yang asli.

4. SEJARAH KANISAH ASSYIRIAN TIMUR

Sampainya iman umat Al-Masih di jazirah Arab, tidak lepas dari pengaruh para hawariyyun dan juga kaum awam dalam umat ini, yang berkelana ke wilayah Timur Palestina dan Syria. Menurut tradisi, dua orang hawari, yaitu St. Thomas (Mar Thoma) dan St. Tadeus (Mar Addai), bahkan sampai ke tanah Persia dan India Utara dalam dakwah injiliyahnya. Sudah pasti mereka melewati sebagian kota-kota di Semenanjung Arabia, saat melakukan perjalanan ini. Selang beberapa waktu kemudian, dicatat oleh sejarahwan Eusebius, bahwa tokoh gerejawi Aleksandria, Origenes (Mar Urijan) pada tahun 200-an, mengunjungi umat Al-Masih di wilayah Arab dan Persia yang ternyata jumlahnya sudah sangat berkembang. Konsili Efesus tahun 431 bahkan mencatat ada seorang uskup dari Arab, bernama Abdullah (Yunani : Abdelles) yang mewakili gereja-gereja di Arab untuk menghadiri konsili itu.

Semenanjung Arab di tahun 200-600an adalah wilayah penyangga, sama seperti Edessa di sebelah utaranya. Ada dua imperium besar yang mengapit wilayah ini, Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) di sebelah Barat dan Shah Persia (Iran) di Timur. Bahasa Arab waktu itu belumlah berkembang, masih merupakan dialek khusus dari Bahasa Aram atau Syria Timur. Umat Al-Masih yang lebih terpelajar banyak membantu perkembangan Bahasa dan Aksara Arab dengan banyak meminjam istilah Aram (Lihat bukunya Bambang Noorsena dan Robert Jaffray).

Umat Al-Masih di wilayah Arab lebih netral secara politis. Berbeda dengan di Byzantium, dimana umat Al-Masih mendapat perlindungan negara, atau dengan di Persia dimana umat Al-Masih malah ditindas, karena dicurigai sebagai antek-antek Byzantium. Namun semuanya masih satu adanya. Waktu itu di segala tempat, meski coraknya berbeda, semua umat Al-Masih mengakui kalau mereka adalah jamah yang satu, kudus, katolik dan rasuliyah (meneruskan tradisi para hawariyyun).

Setelah dua konsili besar yang keputusannya diterima di semua jamaah Al-Masiyah (Konsili Nicea 325 dan Konsili Konstantinopel 381), umat Al-Masih di Persia mulai berusaha untuk tidak disamakan dengan rekan-rekannya di Byzantium, agar dipandang loyal oleh Shah Persia. Isu teologis untuk agenda ini akhirnya memang ada. Tersebutlah Nestorius, seorang uskup di Konstantinopel, Ibukota Byzantium, yang menekankan ajaran tentang keterpisahan antara kodrat kemanusiaan Al-Masih dengan kodratnya sebagai Firman Allah. Ajarannya ini ditentang oleh Kyrillios, uskup di Aleksandria, yang sangat menekankan keilahian Al-Masih. Kyrillios akhirnya menggagas Konsili ketiga di kota Efesus (431) dan dengan pengaruhnya akhirnya Nestorius disingkirkan dan ajarannya dinyatakan sesat.

Umat Al-Masih di Persia tidak hadir pada konsili itu, karena sedang terjadi perang antara Byzantium dan Persia, sementara konsili dilangsungkan di wilayah Byzantium. Namun mereka sangat menghargai Nestorius, mengingat ia adalah murid Theodorus dari Mopsuestia yang adalah guru besar sekolah teologi Antiokhia (hampir semua imam di Persia, dididik di sekolah Antiokhia atau oleh alumni sekolah ini). Maka dari itu mereka menolak hukuman terhadap Nestorius dan melindungi para pengikutnya. Umat Al-Masih yang tinggal di kekaisaran Romawi Timur menentang hal itu dan menuduh Umat Al-Masih di Persia sebagai “Nestorian”. Sementara itu umat Al-Masih di jazirah Arab terpecah, ada yang mengikuti rekan-rekannya di Byzantium (mengingat itu adalah suara mayoritas), ada pula yang mengikuti rekan-rekannya di Persia (mengingat kebanyakan ulama di Arab juga keluaran sekolah Antiokhia). Yang disebut terakhir ini akhirnya mempersekutukan diri dengan rekan-rekannya di Persia dalam satu kesatuan yang menyebut dirinya “Gereja Timur yang Katolik, Kudus dan Rasuliyah”. Karena mereka banyak memakai Bahasa Aram dialek Timur (Assyrian), maka jama’ah ini juga dikenal dengan sebutan Kanisah (Gereja) Assyria Timur.

Selepas perpisahan ini, Kanisah Assyria Timur, mengalami perpecahan antara yang pro dan kontra terhadap pemisahan diri. Namun selepas kepemimpinan Mar Babai Agung (610), jamaah ini justru berkembang pesat. Mereka tak lagi dianiaya oleh Shah Iran, sehingga memudahkan mereka membangun banyak sekolah dan mengutus juru dakwah ke berbagai tempat. Di India, Cina, bahkan Nusantara terdapat jejak-jejak dakwah para imam Assyria Timur ini antara abad VI-XI. Mereka juga mencintai pembelajaran, Umat Al-Masih inilah yang menerjemahkan banyak sekali literatur Yunani ke Bahasa Aram Timur dan kemudian diwariskan serta dikembangkan luar biasa pada zaman kekhalifahan Islam setelahnya.

Nampaknya Waraqah memang berasal dari mahzab ini. Perhatikanlah bahwa masa-masa Nabi Muhammad mendapat wahyu, itu kira-kira sama dengan masa dimana Kanisah Assyrian Timur sudah mulai berkembang lagi. Sangat mungkin jama’ah yang kuat yang berada di Mekkah adalah mahzab Assyria Timur. Apalagi jama’ah Assyria Timur memang banyak memberi penekanan ke soal kodrat kemanusiaan Al-Masih. Mereka sangat sering menyebut dirinya sebagai Pengikut Sang Orang Nazaret (Nazarini atau Nasrani), tentu pas dengan keterangan Al Quran dan sejahrawan Islam.

Kalau benar begitu, lewat mahzab ini kita tentu bisa menjumpai banyak titik temu antara Umat Al-Masih dengan Umat Nabi Muhammad, bukan? Sayangnya belum tentu. Sebab titik temu itu kini semakin jauh. Umat Assyrian Timur adalah umat yang paling banyak didiskriminasikan dalam beberapa pemerintahan Khalifah Islam yang lebih baru (terutama oleh dinasti Ottoman), meski sebelumnya mereka diperlakukan dengan baik oleh pemerintahan Nabi dan para Khulafa’ur Rasyidin. Keberadaan mereka saat ini hanya tinggal sekitar 50.000 jiwa di tanah aslinya (sekarang Irak Utara, Syria Utara, Iran dan Turki). Perlakuan itu yang sering menjadi luka untuk dialog, sebab mereka hanya diperhadapkan pada kebencian. Ah! sayang sekali.

Kali ini saya harus minta maaf kepada kaum pecinta fanatik kekhalifahan Ottoman, maaf sedikit membongkar, hehe ....

“Perpulungen teledis. Perpulungen kundul”

Dua kalimat itu petunjuk laku yang paling sering anda jumpai jika membaca tata liturgi Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Pak (Ustad) Kaban pasti mengetahui kalimat formal itu berarti, “jama’ah berdiri” dan “jama’ah duduk”, satu gerak yang paling sering dilakukan di ibadah gereja-gereja yang berasal dari Eropa Barat. Memang kenapa harus berdiri dan duduk? Pak Kaban mungkin tak tahu jawabnya, yang jelas itu adalah keharusan dalam tata ibadah gerejawi. Tapi adakah itu diharuskan dalam Kitab Suci?

Ternyata dalam perkumpulan raya yang dituliskan dalam Kitab-kitab Taurat dan Para Nabi, tidak ada petunjuk untuk berdiri-duduk, lalu menyanyikan lagu-lagu bernada mayor, seraya melipat tangan dengan mata terpejam yang kesemuanya didahului oleh bunyi lonceng. Yang ada justru, menegadahkan tangan, membungkuk, berlutut, bersujud, serta membaca ayat-ayat kitab suci dengan didaraskan(ditilawatkan), terkadang didahului dengan tiupan sangkakala atau seruan beribadah.

Kalaulah Pak Kaban sempat membaca tulisan Gubernur Nahimya (Nehemia) berikut ini, ia mungkin sedikit heran, betapa bedanya ritual ibadah Yahudi dengan yang dilihatnya pada Umat Al-Masih di Tanah Karo dulu. Juga betapa miripnya ritual itu dengan apa yang dilakukannya sekarang di Jakarta.

Ezra (Uzair), ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu ...

Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!“, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah...

Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti ... (Nehemia 8: 4, 7, 9)

Jika Pak Kaban memiliki rasa penasaran yang dibalut oleh kerendahan hati, mungkin ia akan bertanya, mengapa ritual seperti ini tidak dilihatnya dalam umat Al-Masih? Atau jika balutannya adalah tuduhan, ia mungkin sekedar berujar, semua umat Al-Masih saat ini memang sudah melenceng dari yang diajarkan Allah lewat para nabi, Islamlah yang datang memulihkanya. Sayangnya tidak demikian. Bentuk seperti itu masih ada di sebagian Umat Al-Masih Timur, bahkan masih terlihat dalam sebagian kecil tradisi kuno Gereja Barat.

Dalam upaya dakwah injiliyah memang ada dua hal yang menjadi pekankan, murninya pesan asli Injil atau terserapnya hakikat ajaran Injil ke dalam budaya setempat. Para perinis dakwah Injil di Barat memang lebih menekankan pada hal yang kedua, sementara di Timur mencoba menyeimbangkan kedua amaran itu. Maka dari itu para penginjil di Eropa merubah beberapa hal. Sujud dimaknai sebagai bentuk penghormatan ala Timur, sedang di Eropa (apalagi setelah abad pertengahan), jika raja atau orang yang dihormati memasuki ruangan, orang menghormatinya dengan berdiri. Mengumpulkan orang dengan suara seperti berteriak dirasa kurang sopan kalau di Eropa, maka seruan beribadah digantikan dengan lonceng. Tilawat dan nyanyian padang pasir pun dirasa kurang tegas, sehingga digantikan dengan ucapan dan lagu bernada mayor. Penyelewengan kah? Tidak juga, sepanjang meyakini bahwa yang tidak boleh diubah hanyalah hakikatnya, bukan bungkusnya.

Memang setelah lewat ribuan tahun orang Eropa jadi bersikap kurang adil. Sebab jika mereka meneladani para juru dakwah injil Barat itu, harusnya mereka membiarkan orang-orang di Asia mengganti berdiri dengan sungkem atau tor-tor somba, sebagaimana mereka mengganti sujud. Harusnya mereka membiarkan bedug atau kentongan mengganti lonceng dan lagu-lagu pentatonik mengganti keruwetan melodi mayor ala Handel. Tapi sudahlah, toh mereka juga punya jasa meski sembari menjajah. Ups!

5. CIRI KHAS RITUAL IBADAH UMAT AL-MASIH TIMURBanyak tradisi keagamaan Yahudi yang masih diteruskan oleh umat Al-Masih, terutama yang disebutkan dalam Injil dan ajaran para hawariyyun. Tentu saja ada sedikit modifikasi dan pemahaman yang ditambahkan pada pewarisan tradisi tersebut, mengingat Al-Masih sendiri meneladankan hal-hal yang lebih hakiki dalam memaknai ritual-ritual tersebut.

  • Shalat (doa Harian)
Shalat (doa harian) adalah salah satu elemen yang diwariskan. Shalat dibedakan dengan doa-doa permohonan yang spontan. Shalat lebih bersifat rutin, pujian pengagungan kepada Sang Khalik, meski di dalamnya juga ada permohonan. Kitab-kitab terdahulu (Taurat, Kitab Para Nabi dan Zabur atau Mazmur) menuliskan banyak sekali petunjuk tentang doa harian ini. Saya menuliskan dua saja contohnya:

Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil (Mazmur 119:164).

"…. dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (Daniel 6:11b).

Pada zaman Al-Masih, tradisi shalat sudah sedemikian baku dan rutin dijalankan oleh semua umat Yahudi. Awalnya ada tujuh waktu shalat jika menuruti versi shalat panjang Nabi Da’ud, penulis Zabur. Ketujuh waktu itu adalah pagi-pagi benar (voker), pertengahan pagi hari, tengah hari (tsohorayim), pertengahan sore hari(minhah), petang hari (erev atau ma’ariv), malam (layla) dan tengah malam (kaytsi layla). Waktunya hampir setara dengan waktu shalat yang dilakukan dalam Islam (shalat lima waktu ditambah dua shalat sunnah, dhuha dan tahajud). Tapi umumnya umat hanya mengerjakan tiga dari tujuh waktu tersebut (pagi, siang dan petang, voker wa tsohorayim wa erev), seperti yang diteladankan oleh Nabi Danil (Daniel) ketika di pembuangan Babil. Selepas pembuangan Babil, minhah (shalat sore) mulai ditambahkan ke dalam ketiga waktu shalat tadi. Namun belakangan para rabbi dalam Talmud memberi keleluasaan, sehingga umat boleh hanya dengan mengucapkan syahadat Yahudi (syema) pada petang dan pagi hari (hal yang akhirnya dilakukan oleh sebagian mahzab Yahudi modern, meski demikian bererapa mahzab kuno masih kukuh mempertahankan tradisi shalat). Gerakan di dalam shalat Yahudi ini merupakan kombinasi dari berbagai gerakan yang disebutkan dalam kitab suci, yaitu berdiri tegak, membungkuk, berlutut, sujud sampai mencium tanah, lalu berdoa menegadahkan tangan.

Kitab Injil mencatat bahwa Al-Masih juga melakukan shalat tersebut (misal Markus 1:35), demikian pula para muridnya (misal Kisah Para Rasul 3:1). Yang semakin menarik, Injil menunjukkan dengan jelas bahwa peristiwa-peristiwa penting dalam iman umat Al-Masih justru terjadi pada jam-jam tersebut. Penjatuhan hukuman atas Al-Masih dan peristiwa nuzulnya Dzat Allah (Pentakosta) terjadi pada jam shalat pagi. Penyaliban Al-Masih terjadi pada jam shalat tengah hari. Peristiwa wafatnya Al-Masih terjadi pada jam shalat sore, penguburannya pada jam shalat petang hari. Perjamuan Suci dilakukan oleh Al-Masih dan murid-muridnya pada jam shalat malam. Lalu jam shalat tengah malam dimaknai sebagai peristiwa menghayati penangkapan Al-Masih, sekaligus sebagai seruan berjaga-jaga, karena kedatangan Al-Masih yang kedua kalinya terjadi dengan tiba-tiba, diibaratkan seperti pencuri yang datang tengah malam. Puncak sekaligus awal dari iman umat Al-Masih tergambar dalam penghayatan akan jam shalat pagi, mengenang peristiwa Al-Masih dibangkitkan dan oleh kuasa Allah ia mengalahkan maut. Hal-hal inilah yang akhirnya menambah penghayatan pemaknaan umat Al-Masih akan shalat yang diwarisi dari tradisi Yahudi tersebut. Maka dari itu muncullah shalat khas umat Al-Masih.

Bentuk tertua shalat umat Al-Masih adalah shalat dari Mar Yakub (St. Yakobus saudara Al-Masih). Gerakannya meliputi tanda salib (sebagai lambang mengikut Al-Masih), berdiri dengan bersidekap, membungkuk, berlutut, sujud dengan muka mencium lantai, dan berdoa dengan menegadahkan tangan. Doa-doa yang dikumandangkan dalam shalat ini umumnya mengutip kitab Mazmur atau Zabur, lalu ditambahkan dengan doa yang diajarkan oleh Al-Masih (doa “Bapa Kami” atau shalatul rabbaniyah), beberapa doa rutin (trisagion, mubarak, dll.) serta doa syafaat. Awalnya, arah menghadap (kiblat) dalam shalat ini adalah Baitul Maqdis (Bait Allah) di Yerusalem. Selepas penghancuran kota Yerusalem oleh Jendral Titus (tahun 70M), kiblat dimodifikasi dengan menghadap ke timur (mengacu pada ayat Matius 24:27, yang menyebut bahwa kedatangan Al-Masih dari arah timur pada akhir zaman nanti dan ayat II Petrus 1:19, dimana Al-Masih diibaratkan sebagai Bintang Timur, terang yang sejati). Lalu sesudah Konsili Konstantinopel (381), Kanun al-iman (pengakuan iman atau kredo Nicea-Konstantinopel) disertakan sebagai bagian yang diucapkan dalam shalat ini.

Shalat Mar Yakub mulanya dikembangkan di Yerusalem, lalu seluruh Palestina dan Syria. Hingga saat ini masih dikembangkan di sebagian jama’ah Al-Masih Syiria (khususnya Kanisah atau Gereja Orthodoks Syria yang mahzabnya Orthodoks Oriental). Selain bentuk shalat ini, ada beberapa bentuk shalat lain yang merupakan adaptasi setempat dari shalat Mar Yakub. Shalat Mar Addai di Persia (dipakai di Kanisah Assyiria Timur), St. Markus dan St. Panteus di Aleksandria (dipakai di Orthodoks Koptik) adalah bentuk shalat yang lebih baru dari shalat Mar Yakub. Agaknya beberapa jama’ah memang melakukan adapatasi, terutama agar tidak lantas disamakan dengan umat Yahudi. Ada pula penambahan beberapa doa, karena penekanan doktrin tertentu (misalnya saja penambahan frasa dalam doa Trisagion di mahzab Orthodoks Koptik yang menekankan keilahian Al-Masih sebagai Firman Allah).

Setelah tradisi biara dikembangkan oleh St. Antonius dari Aleksandria dan St. Paulus dari Thebes, perubahan juga dilakukan dengan memperbanyak pengulangan (raka’at). Kemudian St. Basilus dan St. Benedictus menambahkan jumlah sujud, berlutut dan perenungan berdiam diri dalam ritus shalatnya, sebagai bentuk disiplin dan perendahan diri di hadapan Allah. Bentuk inilah yang akhirnya dikembangkan di Barat. Meski waktu-waktu shalatnya masih dipertahankan, gereja Barat apalagi setelah era biarawan Fransiskan dan Dominikan, memang tidak mengenali lagi bentuk-bentuk gerakan shalat, namun lebih banyak posisi berlutut dan berdiam diri (berdoa dalam hati).

Shalat ala biara itu memang jadi terlalu panjang, sehingga di sebagian jama’ah Barat, shalat hanya dilakukan oleh para rohaniwan. Untuk jama’ah awam diformulasikan doa harian yang lebih pendek, terutama untuk dua waktu khusus yaitu petang (Bahasa Latin: vesper) dan pagi (loudes). Di beberapa jama’ah Timur (terutama yang mahzabnya Katolik Timur seperti Melkit dan Khaldean) hal ini juga terjadi, sehingga shalat atau doa harian bukanlah hal yang lazim dikerjakan oleh umat awam. Tapi tentu tidak semuanya begitu, masih banyak umat Al-Masih Timur yang mempertahankan shalat, walau bukanlah suatu hal yang wajib seperti di Yahudi Kuno dan Islam. Dalam perspektif umat Al-Masih Timur, shalat adalah bentuk penghayatan dan ekspresi iman dan kecintaan pada Allah serta penyerahan diri untuk mengikuti teladan Al-Masih, jadi umat yang sungguh-sungguh dalam imannya pasti melakukan shalat.

Nah, sesudah sejauh ini, apa kabar ya, Pak Kaban? Hehehe …

Mohon maaf untuk Pak Kaban, bukan bermaksud menyinggung kok, hanya suka aja sama Bapak, maksudnya suka mengambil Bapak sebagai contoh. Ups!

Catatan: postingan tentang mahzab-mahzab lain dalam Umat Al-Masih Timur (Orthodoks Oriental, Orthodoks Timur dan Katolik Timur) sengaja dikemudiankan, mengingat beberapa pertanyaan penasaran akan ritual shalat umat Al-Masih Timur.

Jika “tujuh” sering disemiotikkan sebagai “kesempurnaan”, maka “enam” adalah lambang ketaksempurnaan itu, dimana “yang tak sempurna” berusaha menjumpai kesempurnaan. Enam juga melambangkan kemanusiaan, yaitu pihak “yang tak sempurna namun berusaha menjumpai kesempurnaan” tadi. Jadi bukan kebetulan (frasa nampaknya selalu bertendensi rohani) kalau kajian yang keenam soal umat Al-Masih Timur ini, erat kaitannya dengan ketaksempurnaan manusia. Tapi hati-hati, berhubung “enam yang diulang tiga kali” dekat artinya dengan “si jahat”, maka harus dijauhi pengulangan tiga kali (misalnya dengan ketigakalinya mengatakan: “lanjuuut…”, tanpa komentar lanjutan, hehehe…).

Sebenarnya upaya menjumpai Yang Sempurna adalah inti dan hakikat dari shalat, ritual yang telah dibahas sebelumnya. Namun pemaknaan seperti itu akan semakin mendalam jika kita juga melihat unsur ritual lain yang mendukung shalat. Dalam (sebagian) umat Al-Masih Timur, shalat dipraktikan bersama beberapa ritual lain yang juga bisa diperlihatkan paralelisasinya dengan yang dilakukan di umat Nabi Musa dan umat Nabi Muhammad.

  • Membasuh diri (berwudhu).
Manusia makhluk yang sarat dosa, sebenar-benarnya tidak pernah layak menghadap Sang Khalik yang begitu suci. Namun dalam keyakinan samawi, Allah lewat welas asih-Nya mengizinkan diri-Nya untuk dihampiri, melalui doa dan bentuk ibadah lainnya. Inilah yang memberanikan anak-anak ruhani Nabi Ibrahim untuk menyeru kepada Allah. Tanpa harus berpayah-payah, tanpa harus menyakiti diri seperti kaum pemuja ilah yang amat trasenden, semua yang beriman pada Allah diperkenan untuk menghadap-Nya.

Tapi sayang, kemudahan seperti itu sering disalah arti, bahwa manusia bisa bebas saja seenaknya di hadapan Allah. Orang sering lupa, bahwa kalau dia diperkenan untuk menghela nafas sembari mengucapkan doa, itu adalah semata-mata karunia Allah. Allah yang menguasai setiap detak dan hembusan hidup manusia. Maka dari itu sedari awal manusia perlu diingatkan dan mengingat-ingat posisi dia sebenarnya saat berdoa.

Ritual membasuh diri dalam jama’ah Israil

Imam besar dalam umat Israil Purba sangat menyadari hal ini. Sekali setahun sang imam akan masuk ke Ruang Maha Suci, tempat paling kudus dalam Kemah Suci atau Bait Allah, dimana diletakkan tabut perjanjian lambang shekinah (sinar kemuliaan dan kehadiran Allah). Sang imam harus pasrah, dengan kerendahan hati mengakui bahwa Allah lah yang empunya hidupnya. Imam besar itu lalu mengikat kakinya dengan tali panjang. Seandainya ia tidak keluar lagi dari ruangan itu, jelaslah bagi umat bahwa Allah tidak berkenan padanya. Mereka akan menarik mayat sang imam dari luar. Wahhhhhh… Benar sekali pasrah, merendahkan hati, mengakui keberdosaan, sembari menyadari hanya dibolehkan karena welas asih adalah sikap hati yang benar untuk menghadap Yang Maha Suci.

Tidak hanya untuk imam besar. Para imam lain juga diharuskan memiliki sikap yang sama. Untuk itulah sebelum ibadah mereka melakukan satu ritual untuk mengingatkan dirinya agar bersikap benar saat menghadap Tuhan. Ritual itu adalah pembasuhan diri.

Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Suci dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan–seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. (Keluaran 40:30-32)

Yang menarik bahwa bejana tempat untuk pembasuhan itu dasarnya berupa cermin:

Dibuatnyalah bejana pembasuhan dan juga alasnya dari tembaga, dari cermin-cermin para pelayan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. (Keluaran 38:8)

Jadi setiap kali imam membasuh diri, ia selalu bercermin, lambang seruan agar ia selalu menyadari diri dan sikapnya.

Awalnya ritual pembasuhan ini hanya untuk imam, sedang untuk umat awam hanya ditahirkan lewat air pentahiran (Lihat Bilangan 19). Namun pada zaman Nabi Daud, upacara membasuh diri sebelum beribadah juga ditujukan pada siapa saja yang melakukan shalat. Pembasuhannya tidak hanya pada kaki dan tangan, tapi juga telinga, mulut dan keseluruhan wajah. Doa untuk ritual pembasuhan itu dituliskan oleh Nabi Daud dalam salah satu bab di kitab Mazmur (Zabur)-nya:

Dari Daud. Berilah keadilan kepadaku, ya TUHAN, sebab aku telah hidup dalam ketulusan; kepada TUHAN aku percaya dengan tidak ragu-ragu. Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu. Aku tidak duduk dengan penipu, dan dengan orang munafik aku tidak bergaul; aku benci kepada perkumpulan orang yang berbuat jahat, dan dengan orang fasik aku tidak duduk.

(Umat berdiri bertafakur, sembari menguji hati)

Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN,

(Kedua tangan dibasuh)

sambil memperdengarkan nyanyian syukur dengan nyaring..

(Kedua telinga dibasuh)

dan menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.

(Berkumur)

TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam. Janganlah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa, atau hidupku bersama-sama orang penumpah darah, yang pada tangannya melekat perbuatan mesum, dan yang tangan kanannya menerima suapan.

(Membasuh wajah dan seluruh kepala, karena dalam kepercayaan Yahudi kepala itu adalah lambang nyawa seseorang. Bagi beberapa mahzab Yahudi, ayat ini juga yang menjadi dasar bahwa bagian tubuh yang terlebih dahulu dibasuh adalah bagian sebelah kanan)

Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan (dalam Bahasa Ibrani ani betumi elek, arti harafiahnya : “aku akan berjalan dalam ketulusan”); bebaskanlah aku dan kasihanilah aku.

(Kedua telapak kaki dibasuh)

Kakiku berdiri di tanah yang rata; aku mau memuji TUHAN dalam jemaah.

(Seluruh tungkai kaki dibasuh)

[Seruan doa tercantum dalam : Mazmur 26: 1-12]

Ritual pembasuhan ini menjadi hal yang wajib dan lazim dilakukan oleh umat Yahudi sebelum melakukan shalat dan bentuk perayaan lainnya. Belakangan dalam Talmud para rabbi memberi keringanan untuk wilayah yang langka air, sehingga boleh hanya dengan menggunakan tanah atau debu yang bersih (mirip dengan tamayyum dalam Islam)

Ritual membasuh diri dalam umat Al-Masih

Umat Al-Masih juga menghayati upacara pembasuhan itu, apalagi Al-Masih sendiri meneladankan pembasuhan kaki kepada para hawariyyun saat Peramuan Suci Terakhir (Dicatat dalam Inil Yohanes 13). Meski hanya membasuh kaki, namun Al-Masih mengakui bahwa memang ada pembasuhan kepala dan tangan (Yohanes 13:9-10). Jadi dalam hal ini, pembasuhan diri (khususnya kaki) diberi makna lebih dalam oleh Al-Masih. Bahwa bukannya air pembasuhan itu yang menguduskan kita, tapi karunia iman dan teladan sikap yang rindu mengasihi Tuhan serta mau melayani-berkorban bagi sesama.

Sebelumnya, Yohanes Sang Pembabtis sebagai pendahulu Al-Masih, telah meneladankan bentuk lain pembasuhan, yaitu pembaptisan (menenggelamkan diri kedalam air sebagai tanda taubat). Umat Al-Masih mengadopsi hal ini mengingat Al-Masih juga dibaptiskan. Bagi umat Al-Masih pembaptisan adalah proklamasi diri kepada dunia, bukti bahwa ia menyerahkan diri bertaubat kepada Allah dan mengikut Al-Masih.

Kedua hal inilah yang ingin ditambahkan dalam memaknai pembasuhan sebagaimana ditulis dalam Surat Kepada Orang Ibrani:

Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (Ibrani 10:22)

Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, umat Al-Masih melakukan tiga jenis upacara pembasuhan:
  1. Baptisan. Dilakukan sekali saat seseorang menerima ajaran Injil dan menyatakan diri mengikut Al-Masih. Asalinya dilakukan dengan cara menyelamkan seseorang ke dalam air yang mengalir. Namun diizinkan untuk hanya dipercikkan, jika air langka atau orang tersebut dalam keadaan sakit (dicatat dalam Kitab Didaskalia atau Ajaran Para Rasul).
  2. Pembasuhan sebelum shalat (doa harian) dan sebelum ibadah raya sebagaimana ritual umat Yahudi.
  3. Pembasuhan kaki umat oleh imam sekali dalam setahun saat melaksanakan Perjamuan Suci Perayaan Paskah. Ini dilakukan untuk mengenang dan meneladani kasih serta pengorbanan Al-Masih. Ritual ini juga dimakanai sebagai bentuk penggenapan upacara pentahiran di Yahudi. Dimana umat Al-Masih menyadari Al-Masih sebagai Imam Besar Sejati telah masuk ke Ruang Maha Suci Sejati menjadi pengantara sekali untuk selamanya (Ibrani 8).
Ketiga upacara pembasuhan itu kini masih ada dalam umat Al-Masih. Hanya saja di Umat Al-Masih Barat mahzab Protestan, yang ditekankan hanya yang pertama (baptisan). Agaknya kecuali kaum Advent dan beberapa denominasi Pentakosta atau Kharismatik (yang melakukan ritual pembasuhan kaki), seluruh umat Protestan memang hanya melakukan upacara pembasuhan dalam bentuk baptisan. Umat Katolik Roma dan Katolik Timur masih melakukan ketiganya, walau untuk shalat atau doa harian mereka biasanya tidak lagi membasuh diri. Pembasuhan yang kedua hanya dilakukan sebelum ibadah raya. Sedangkan sebagian umat Al-Masih Timur lainnya masih melakukan ketiga-tiganya secara utuh.

Di Umat Al-Masih Timur, doa-doa untuk pembasuhan diri sebelum shalat masih tetap dipertahankan sebagaimana dalam umat Yahudi. Namun tentu saja dimaknai dengan pemaknaan yang diajarkan oleh Al-Masih dan para muridnya. Sehingga sebelum dan sesudah pembasuhan umat Al-Masih ini menyertainya dengan tanda salib.

  • Doa bertasbih
Tali sembahyang (Bahsa Ibrani tzittzit) awalnya melambangkan syahadat. Dengan tali ini umat Yahudi biasanya menggantungkan kalimat syahadat Israil, “syema Yisrael YHWH elohinu, YHWH ekhad, (dengarlah wahai Israil YHWH adalah ilahmu, YHWH itu esa”, pada jumbai-jumbai penutup kepalanya (tallit) dan juga mengikatnya pada tangan, sesuai perintah Taurat:

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (terjemahan LAI untuk YHWH) itu Illah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Illahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu (Ulangan 6:8).

Tali ini merupakan bagian yang terpisahkan untuk shalat dan perayaan ibadah serta keseharian umat Yahudi. Hal tersebut menegaskan bahwa dalam segala hal umat menyadari Allah itu esa adanya, tiada terbagi-bagi serta tak satupun yang seperti apalagi setara dengan dia. Ini penting, sebab apalah artinya doa dan semua ritual ibadah, jika hati seseorang ternyata mendua, mempersekutukan Allah dengan yang lain.

Dalam umat Al-Masih Purba tali sembahyang digunakan juga, namun hanya yang dipegang dengan tangan. Mengapa demikian? Karena Al-Masih pernah mengecam penggunaan tali sembahyang yang begitu menyolok di kalangan ahli Taurat dan kaum Farisi. Dengan memakai yang demikian orang-orang ini justru memamerkan kepongahan rohani (Matius 23:5), sehingga menyalahi hakikat semula penggunaan tali sembahyang. Al-Masih bersabda agar umatnya melakukan kebajikan dengan sembunyi-sembunyi, dalam arti tidak dengan maksud agar dilihat “alim” oleh orang lain (Matius 6:1). Maka dari itu tali sembahyang tidak perlu terlalu diperlihatkan. Tambahan lagi para murid Al-Masih mengajarkan agar jama’ah pria dalam doa dan pertemuan tidak perlu lagi memakai tudung kepala, sebab kemuliaan Allah yang diajarkan oleh Al-Masih adalah penggenapan sejati dari kemuliaan Allah yang ditunjukkan lewat hukum Nabi Musa. Pria dalam umat Nabi Musa memang harus bertudung, namun tidak lagi demikian dalam umat Al-Masih, sebab janji kemuliaan itu sudah digenapi (2 Korintus 3:7-11). Jadi memang tali sembahyang di tudung kepala tidak digunakan lagi dalam umat Al-Masih. Umat Al-Masih hanya memakai tali sembahyang kecil yang dipengang dengan tangan.

Tali sembahyang Yahudi pun mengalami perubahan bentuk dalam ritual umat Al-Masih (dikenal dengan nama komboskini dalam Bahasa Yunani). Kedua ujung tali ini dipertemukan dengan salib ditengahnya, sebagai lambang Al-Masih telah menggenapi janji kemuliaan Allah dan memperbarui hubungan Allah dengan umat-Nya. Selain sebagai bentuk syahadat, tali sembahyang ini pun dimaknai sebagai bentuk seruan doa yang tak putus-putusnya (I Tesalonika 5:17) sebagaimana Al-Masih juga mengajarkan agar umatnya selalu berjaga-jaga dalam doa (Matius 26: 41).

Seiring dengan berkembangnya kehidupan bujangga atau biara (mirip dengan tradisi sufi di Islam), tali sembahyang menjadi elemen tak terpisahkan dalam ritual doa-doa yang mendalam. Dalam umat Al-Masih dikenal adanya Doa Puja Al-Masih dan Doa Tuhan Kasihanilah (Kyrie eleison) yang sangat sederhana, namun sangat mendalam maknanya. Doa inilah yang diseru berulang-ulang dalam hati sembari memusatkan diri pada keesaan Allah dan mengingat keteladanan Al-Masih sewaktu berdoa. Bagi orang yang pernah mengalaminya, keindahan dan keteduhan hati yang dirasakan memang sangat agung, nyaris tak tergambarkan lewat kata-kata. Setelah mengalaminya, yang ada hanyalah keheningan yang indah, berjam-jam bisa berlalu tanpa kata.

Bentuk tali sembahyang semacam ini akhirnya semakin beragam, sesuai dengan kekhasan budaya umat Al-Masih. Karena doa yang berulang seperti tadi, bentuk komboskini pun dirasa lebih enak jika berbentuk bulatan-bulatan tasbih. Sampai sekarang tali sembahyang seperti komboskini masih digunakan oleh umat Al-Masih Timur sebagai penghantar Doa Puja Al-Masih atau Kyrie tadi. Dalam mahzab Katolik Roma, doa yang mendalam itu dikenal dengan nama doa rosario, sehingga tali sembahyangnya disebut kalung rosario.

Sangat mungkin bentuk doa bertasbih inilah yang akhirnya juga diadopsi oleh umat Nabi Muhamad. Apalagi konsep yang mendasari pemakaiannya pun hampir mirip: syahadat dan doa yang tak putus-putusnya. Saya senantiasa mengingat ucapan dari seorang Sufi Andalusia, bahwa zikir paling agung dalam Islam adalah la ilaha’ilallah (tidak ada ilah selain Allah), namun beliau menyarankan agar kita hanya berzikir dengan menyebut “Allah… Allah…” saja. Mengapa? “Sebab”, katanya, “nafasku adalah milik Allah, apa jadinya jika aku mati sementara aku baru berzikir? Jangan-jangan aku malah berkata ‘la.. (tidak)’, kepada Allah…” Ah, bukankah itu satu sikap yang sungguh sangat tepat dalam memposisikan diri di hadapan Sang Pencipta?

Nampaknya sikap itu pula yang jadi kesimpulan bahasan kali ini.

---------------------------








Rido Simangunsong

---------------------------



Baca tanggapan atas tulisan ini di sini, di sini, di sini, di sini, di sini, dan di sini.



Contact Form

Name

Email *

Message *