Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Islam (Populasi Dunia). Show all posts
Showing posts with label Islam (Populasi Dunia). Show all posts

Sunday, April 14, 2019

Mencermati Ledakan Populasi Muslim Dunia Sunday, April 14, 2019


SAAT INI jumlah populasi muslimin dunia tercatat mencapai satu setengah miliar jiwa atau sekitar 23 persen dari seluruh penduduk bumi. Umat Islam tersebar di lebih dari 120 negara, sementara di 35 negara, warga Muslim tercatat sebagai mayoritas sementara di sekitar 29 negara, umat Islam adalah warga minoritas yang berpengaruh. Di 28 negara, Islam ditetapkan sebagai agama resmi seperti di Republik Islam Iran, Mesir, Kuwait, Irak, Maroko, Pakistan dan Arab Saudi.

Dari seluruh negara di dunia, Indonesia menempati urutan teratas jumlah populasi Muslim terbanyak dengan lebih dari 200 juta jiwa, menyusul setelahnya Pakistan dengan lebih dari 170 juta jiwa dan India dengan 160 juta jiwa. Tempat keempat hingga keenam diduduki oleh Bangladesh, Mesir dan Nigeria. Sementara Iran, Turki, Aljazair dan Maroko berada di urutan berikut.

Berdasarkan data yang dihimpun tahun 1980, populasi umat Islam tercatat sebanyak 800 juta jiwa. Jumlah itu membengkak menjadi 1,3 miliar jiwa pada tahun 2004. Sejak tahun 1995, India tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan warga Muslim paling pesat di dunia disusul kemudian oleh Pakistan, Indonesia, Nigeria dan Bangladesh. Perkembangan dan meningkatnya jumlah populasi Muslim di dunia khususnya di Eropa menjadi fenomena yang menarik perhatian para sosiolog. Fenomena ini ditanggapi oleh para pemimpin negara-negara Barat dengan sinis dan dianggap sebagai bahaya yang mengancam kepentingan mereka.

Peningkatan populasi umat Islam tidak bisa lepas dari kian membaiknya indeks kesehatan di negara-negara Islam yang disertai dengan menurunnya angka kematian bayi. Banyak pakar yang meyakini bahwa negara-negara Barat menutup mata dari membaiknya kondisi kesehatan dan kemajuan kedokteran di negara-negara Muslim sehingga mengaitkan pertumbuhan pesat populasi Muslim dunia dengan peningkatan angka kelahiran semata. Padahal, keberhasilan negara-negara Islam dalam menekan angka kematian bayi merupakan faktor yang sangat signifikan.

Dewasa ini ada dua pandangan dan analisa tentang demografi umat Islam di dunia yang menunjukkan bahwa masalah kependudukan, khususnya menyangkut umat Islam dipengaruhi oleh kondisi politik. Pandangan pertama melihat dari ketaatan dalam melaksanakan ibadah dan kewajiban beragama. Untuk itu, mereka yang digolongkan ke dalam komunitas Muslim hanya mereka yang melaksanakan shalat dan aktif dalam kegiatan agama.

Sementara pandangan kedua dengan cakupan yang lebih luas adalah memasukkan kecenderungan budaya dan keagamaan, sehingga menyebut semua orang yang menerima Islam sebagai bagian dari komunitas Muslim. Tentunya jika parameter pertama yang menjadi ukuran, mayoritas umat Yahudi dan Kristen akan dikeluarkan dari kelompok agama mereka, karena sebagian besar tidak mengikuti ritual keagamaan yang mereka anut.

Pertumbuhan populasi umat Islam di dunia dianggap sebagai ancaman oleh sejumlah rezim Barat dengan mengesankannya sebagai revolusi populasi kependudukan dunia oleh umat Islam. Hal itu sengaja dilakukan sebagai upaya dari Islamphobia yang memang sedang digalakkan oleh Barat. Padahal dalam 30 tahun terakhir, keluarga Muslim cenderung mengurangi jumlah anak yang tentunya berakibat pada menurunnya jumlah populasi umat.

Tahun 1975 tercatat rata-rata keluarga Muslim memiliki 6,5 anak. Angka ini menurun menjadi 4 anak pada tahun 2004, bahkan di sejumlah negara Muslim penurunan terjadi lebih drastik menjadi 2,6 anak dalam setiap keluarga. Kondisi yang lebih parah terjadi di masyarakat Muslim di Indonesia, Aljazair dan negara-negara Asia tengah termasuk Rusia. Sementara kondisi di Turki dan Azerbaijan sama dengan kebanyakan masyarakat Eropa. Memang di sejumlah kawasan, mengingat peningkatan jumlah warga Muslim di wilayah yang berdekatan dengan kawasan non Muslim terjadi peningkatan yang signifikan akibat pertumbuhan internal atau imigrasi umat Islam dalam skala besar.

Timur Tengah, Eropa, Rusia dan India adalah kawasan di mana demografi kependudukan sangat menentukan pergeseran kondisi sosial, politik dan budaya. Sebelum memasuki penjelasan masalah ini perlu dicermati unsur geopolitik dan hubungannya dengan benturan dan gesekan antar umat beragama di kawasan tersebut. Dengan demikian, besarnya jumlah populasi akan menentukan keunggulan satu kelompok.

Misalnya, di Palestina, pertumbuhan populasi warga Arab dibanding warga Yahudi sangat menentukan perimbangan kekuatan warga Palestina. Tahun 2004, di wilayah yang oleh Barat disebut Israel, jumlah populasi warga Arab mencapai satu juta 70 ribu jiwa atau sekitar 16 persen dari total warga Israel. Dari jumlah itu 450 ribu berusia di bawah 15 tahun. Pertumbuhan warga Arab dilihat dari angka kelahiran anak mencapai 3,4 persen sementara angka ini di kalangan warga Yahudi tidak lebih dari 1,4 persen.

Masih tentang Palestina. Di wilayah otonomi jumlah populasi warga mencapai 3,5 juta jiwa. Di Gaza warga Palestina tercatat sebanyak 1,25 juta jiwa dengan pertumbuhan 4 persen. Tercatat, pertumbuhan populasi warga Palestina tiga kali lipat lebih besar dari pertumbuhan warga Yahudi. Di sela-sela masalah pengungsi Palestina yang belum juga tuntas, populasi warga Palestina lebih besar dua kali lipat dibanding warga Yahudi.

Israel, yang mengklaim diri sebagai negara Yahudi di tengah lautan umat Islam hanya memiliki populasi 7,5 juta jiwa. Sementara, negara-negara yang bertetangga dengan Palestina pendudukan yaitu Negara-negara Arab-Islam yang terdiri dari Lebanon, Suriah, Jordania dan Mesir memiliki populasi penduduk lebih dari 100 juta jiwa. Israel semakin terjepit dengan menurunnya angka imigrasi warga Yahudi ke Palestina.

Yang lebih menarik adalah berkurangnya populasi warga Kristen di sejumlah negara Timur Tengah seperti Mesir, Suriah, Lebanon dan Palestina. Tahun 1914, warga Kristen mencapai 26 persen populasi negara-negara ini. Namun data tahun 1995 angka itu menurun drastis menjadi 9,2 persen.

Kondisi yang terjadi di Rusia juga menarik perhatian para pemerhati. Pendataan yang dilakukan tahun 1989 menunjukkan bahwa populasi warga Muslim Rusia tercatat sebanyak 12 juta jiwa atau delapan persen dari total kependudukan negara itu. Sementara pada tahun 2002 dicatat peningkatan populasi warga Muslim menjadi lebih dari 14 juta jiwa. Sejumlah sumber tak resmi bahkan menyebutkan angka yang mencapai 20 juta jiwa. Tahun 2005, Ketua Dewan Mufti Rusia Ainuddin mengatakan bahwa jumlah warga Muslim di Rusia mencapai 23 juta jiwa. Diperkirakan bahwa salah satu faktornya adalah imigrasi warga Muslim dari negara-negara Muslim bekas Uni Soviet ke Rusia. Dengan demikian, Islam menempatkan diri sebagai agama mayoritas kedua di Rusia.

Data tahun 1991 menyebutkan adanya 300 masjid di Rusia. Jumlah ini meningkat menjadi delapan ribu masjid pada saat ini. Ketika Uni Soviet runtuh dan Republik Federasi Rusia terbentuk, tidak ada satupun pusat pendidikan agama Islam di sana. Namun kini minimal ada 50 sampai 60 sekolah Islam yang memberikan pendidikan agama kepada lebih dari lima ribu pelajar Muslim. Tahun 1991, hanya 40 warga Muslim Rusia yang menunaikan ibadah haji. Akan tetapi angka itu meningkat menjadi 13500 orang pada tahun 2005.

Data tak resmi menyebutkan bahwa di ibukota Moskow terdapat 1,5 juta warga Muslim dengan enam masjid. Dengan demikian, Moskow menjadi ibukota Eropa dengan populasi jumlah warga Muslim terbesar. Sebagian kalangan bahkan memprediksikan bahwa kedepannya Rusia bakal menjadi negara dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam.

Imigrasi orang Islam ke Amerika terjadi secara bertahap. Pada abad 19, kelompok-kelompok Muslim didatangkan ke Amerika untuk menggarap pekerjaan-pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang keturunan Eropa. Setelah berakhinya perang saudara di Negara itu dan sebelum pecahnya Perang Dunia I, pemerintah Amerika mendatangkan orang-orang Arab dari Suriah, Lebanon, Jordania dan Palestina untuk bekerja di sana. Mereka umumnya beragama Kristen namun ada pula kelompok Muslim di antara mereka, meliputi Muslim Sunni, Syiah, Alawi dan Druz.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I yang disusul dengan runtuhnya imperium Utsmani terjadi gelombang kedua imigrasi orang Islam ke Amerika. Mereka umumnya berasal dari negara-negara yang dulunya berada di bawah kendali pemerintahan Utsmani. Pemetaan kependudukan berdasarkan etnik dalam undang-undang keimigrasian Amerika yang di awal abad 20 lebih banyak diperuntukkan bagi warga Eropa, jumlah imigran Muslim di Amerika masih sangat terbatas.

Gelombang ketiga imigrasi dimulai pada tahun 1930. Saat itu, berdasarkan undang-undang keimigrasian Amerika warga Muslim berhak untuk mengundang sanak keluarganya berhijrah ke Amerika. Gelombang keempat imigrasi terjadi pasca Perang Dunia II dan berlanjut sampai dekade 1960. Kebanyakan mereka yang berhijrah ke Amerika pada periode ini adalah pedagang, mahasiswa, dan teknisi di berbagai bidang. Mereka memilih berhijrah ke AS karena faktor ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial. Dengan adanya perubahan mendasar pada undang-undang keimigrasian di Amerika pada tahun 1965, pemerintah setempat menghapuskan pemetaan imigrasi berdasarkan etnis dan kebangsaan untuk digantikan dengan keahlian dan unsur ekonomi. Undang-undang ini kembali membuka peluang bagi sebagian warga Muslim untuk berpindah ke Amerika.

Gelombang kelima imigrasi berbarengan dengan terjadinya transformasi di tingkat global, kemelut di sejumlah negara Islam dan keterbatasan yang didapat di benua Amerika. Imigrasi gelombang, umumnya terjadi dengan tujuan wilayah Amerika utara dan Amerika Serikat. Imigran Muslim terbanyak pada periode ini berasal dari Pakistan, Bangladesh, Afghanistan, Iran, Indonesia, Malaysia, India, negara Arab, Palestina, Turki dan Afrika utara. Imigran Muslim ke Amerika semakin meningkat karena dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya perang Arab-Israel yang terjadi pada tahun 1967 dan 1973, perang saudara di Lebanon pada dekade 1970-80, dan pendudukan negara-negara Islam seperti Afghanistan yang dijajah oleh Uni Soviet. Transformasi lain yang berpengaruh adalah serangan Israel ke Lebanon, dua perang yang terjadi di Irak, kemerdekaan negara-negara Kaukasus dari Uni Soviet, dan pergolakan politik di wilayah utara Afrika.

Setengah abad yang lalu, para sosiolog dan pakar ilmu politik di Dunia Barat tak pernah menduga bahwa Islam di kemudian hari bakal menjadi satu kekuatan besar dalam tatanan internasional. Sebab, sampai saat itu, pengaruh umat Islam dalam percaturan politik, ekonomi, budaya dan regional sangat kecil. Di Amerika utara dan Amerika Serikat, komunitas Muslim dan aktivitas mereka tak pernah dipertimbangkan. Namun sejak tiga dekade silam, tepatnya setelah kemenangan revolusi Islam di Iran, semua prediksi dan peta kekuatan mendadak berubah. Islam kini menjadi satu kekuatan besar yang diperhitungkan oleh semua pihak dalam percaturan internasional.

Sejauh ini belum ada data akurat tentang populasi Muslim di Amerika. Sebab sensus kependudukan di negara itu yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali tidak menyertakan mazhab dan agama dalam pendataan. Karenanya, jumlah warga Muslim di negara tidak lebih dari perkiraan saja. Dalam datanya, pemerintah AS menyatakan bahwa sejak kemerdekaan Amerika sampai tahun 1965 jumlah imigran Muslim yang datang ke negara ini sangat kecil dibanding imigran dari negara-negara dan masyarakat non-Muslim. Ditambahkan bahwa jumlah imigran Muslim yang datang ke Amerika antara tahun 1820 sampai 1965 tercatat sebanyak 520 ribu orang yang kebanyakannya berasal dari kawasan Balkan di Eropa, Turki, India, Pakistan, dan Bangladesh.

Sementara itu, dari tahun 1966 sampai tahun 1980, imigran yang datang ke Amerika dari negara-negara Muslim meningkat hingga 800 ribu orang. Meski mayoritas mereka beragama Islam namun sebagian menganut agama lain seperti Kristen dan Yahudi. Jumlah imigran dari negara-negara Muslim kembali menunjukkan peningkatan mencapai 920 ribu jiwa pada dekade 1980 dan lebih dari satu juta jiwa antara tahun 1990 sampai 1997. Dengan penjelasan tadi, berarti jumlah imigran dari negara-negara Muslim yang datang ke AS antara tahun 1820 sampai 1997 mencapai total 3,3 juta jiwa atau hanya lima persen dari keseluruhan jumlah imigran yang mencapai 64 juta jiwa.

Saat ini populasi warga Muslim di AS diperkirakan berjumlah minimal enam juta dan maksimal 10 juta jiwa. Dari sekitar 10 juta warga Muslim sebagian besar menganut mazhab Ahlussunnah dan sekitar dua juta jiwa mengikuti mazhab Syiah. Sebagian besar Muslim Syiah di Amerika berasal dari Iran yang diperkirakan jumlah mereka mencapai satu juta jiwa. Selain dari Iran, warga Muslim Syiah di Amerika berasal dari Irak, Lebanon, Afghanistan, Arab Saudi, Pakistan, India, Azerbaijan, Tajikistan, Turkmenistan, Suriah dan negara-negara lain. Pada dekade 1970 dan 1960, Syiah di Amerika tergolong sebagai komunitas muslim yang aktif di kancah politik. Mereka memiliki andil besar dalam menggalang persatuan di antara umat Islam di Amerika.

Kecenderungan kepada Islam di kalangan Afro-Amerika menarik perhatian para pakar kependudukan. Sebagian besar mereka bermazhab Sunni dan hanya sebagian kecil yang mengikuti mazhab Syiah. Kelompok Muslim Amerika keturunan Afrika ini biasanya menunjukkan identitas keislaman lewat nama dan tradisi mereka.

Tingkat kecenderungan untuk memeluk Islam di Amerika pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 20 ribu kasus. 63 persen di antaranya berkenaan dengan warga keturunan Afrika, 27 persen wawrga kulit putih dan sembilan persen dari etnis Hispanik. Belum lama ini Radio Amerika seksi siaran bahasa Persia dalam sebuah laporannya membahas tentang perkembangan Islam di Amerika. Laporan ini dimulai dengan suara adzan. Reporter selanjutnya mengatakan bahwa suara adzan ini bukan berasal dari salah satu jalanan di Jakarta atau sebuah desa di Pakistan, tetapi dari menara Pusat Islam Washington yang berada di jalan Massachusset Washington tempat kebanyakan kedutaan besar asing berada. Pertumbuhan Islam di Amerika sedemikian pesat dan hal ini diakui oleh para petinggi Gedung Putih.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Madeline Albright dalam sebuah pidatonya di Asosiasi Asia di New York menyebut Islam sebagai agama yang tumbuh pesat lebih cepat dibanding agama yang lain di Amerika. Sebagian besar warga Muslim Amerika tinggal di New York yang jumlah diperkirakan mencapai satu juta jiwa. Setelah New York, Los Angeles menempati urutan kedua disusul oleh Washington dan Detroit tempat kebanyakan imigran Arab Muslim memilih bertempat tinggal. Di New York terdapat 50 masjid dan pusat agama Islam yang sebagiannya dikelola oleh Louis Farrakhan.

Berbagai kalangan memprediksikan bahwa pada sepuluh tahun mendatang, Eropa harus membenahi kembali identitasnya dan menerima agama Islam dengan ajarannya yang mulia dan peradaban yang besar sebagai bagian dari budaya yang tak terpisahkan dari Eropa. Prediksi ini mengemuka sejalan dengan pertumbuhan warga Muslim di benua ini. Memang sejauh ini belum ada data yang pasti mengenai populasi jumlah warga Muslim mengingat tidak pernah ada upaya lembaga-lembaga resmi untuk mendatanya. Tahun 2010, sebuah koran Jerman menerbitkan laporan mengenai populasi warga Muslim Eropa yang diklaimnya mencapai 15 juta jiwa atau 3,3 persen dari total 455 juta penduduk benua ini.

Dari seluruh negara Eropa Barat, Jerman, Perancis, Austria dan Belanda adalah Negara dengan warga muslim terbanyak. Empat persen warga Jerman atau 3,2 juta jiwa beragama Islam. Angka ini sekaligus menempatkan warga Muslim sebagai minoritas terbesar di Jerman. Dari jumlah itu, 2,4 juta jiwa berasal dari etnis Turki sementara sisanya adalah imigran asal bekas Yugoslavia, Arab dan Iran. Di Inggris dengan populasi warga sebesar 60 juta jiwa, dua juta tercatat sebagai warga Muslim atau 3 persen dari total penduduk negara itu. Kebanyakan mereka berasal dari negara bekas jajahan Britania khususnya Pakistan dan Bangladesh. Di Perancis dengan pendudukan 60 juta jiwa, enam juta jiwa beragama Islam yang umumnya pendatang. Populasi warga Muslim Perancis didominasi oleh keturunan Turki.

Belanda, negara dengan penduduk 16 juta jiwa, 900 ribu warganya beragama Islam. di Austria, 340 ribu warga Muslim tercatat sebagai bagian dari masyarakat negara itu dengan total penduduknya yang berjumlah 8,1 juta jiwa. Warga muslim Austria umumnya datang dari Bosnia, diikuti oleh pendatang dari Turki, dan imigran dari negara-negara Muslim lainnya. Di Belgia dengan penduduknya yang berjumlah 10,3 juta jiwa, 380 ribu orang atau 3,7 persen beragama Islam yang kebanyakan datang dari Maroko dan Turki. Sementara itu, 70 persen warga Albania yang berjumlah 3,1 juta jiwa beragama Islam. Di Bosnia Herzegovina, 1,5 juta warga dari total 5,4 juta jiwa adalah warga Muslim.

Di Denmark dengan penduduknya sebanyak lima juta jiwa, lima persen warganya beragama Islam. Di Italia, jumlah warga Muslim mencapai 850 ribu jiwa atau setara dengan 1,4 persen penduduk. Di Spanyol yang mengakui Islam sebagai salah satu agama resmi, terdapat sekitar satu juta warga yang beragama Islam. Jumlah ini kurang lebih sama dengan 2,5 persen dari total penduduk di negara itu. Di Swedia jumlah warga Muslim mencapai 300 ribu jiwa dari sembilan juta penduduknya yang mayoritas beragama Kristen.

Beberapa waktu lalu, The Guardian menurunkan laporan dari Pusat Riset Piu di Eropa tentang pertumbuhan populasi warga Muslim yang sangat signifikan. Diprediksikan bahwa dalam 20 tahun ke depan, populasi warga Muslim di Inggris akan mengalami pertumbuhan yang paling tinggi di Eropa. Pusat riset lainnya di eropa bahkan menyebutkan angka yang jauh lebih tinggi. para pakar strategis Barat sebelumnya sudah memperingatkan akan terbentuknya komunitas Eropa Muslim pada tahun 2050. Faktor yang melahirkan fenomena ini adalah peningkatan imigrasi Muslim ke Eropa yang meningkat tajam disertai dengan kelahiran anak Muslim yang tinggi, dan di sisi lain menurunnya populasi warga pribumi di negara-negara Eropa. Apalagi, kepercayaan agama di tengah komunitas warga Eropa terhadap agama mereka juga semakin menurun.

Riset yang dilakukan oleh lembaga penelitian Kristen menunjukkan bahwa penurunan partisipasi warga Kristen dalam acara-acara ritual keagamaan di gereja. Riset ini menyebutkan bahwa di Inggris, hanya 6,3 persen warga Kristen yang setiap minggunya datang ke gereja untuk menghadiri acara keagamaan. Disebutkan pula bahwa dalam 15 tahun terakhir sekitar empat ribu gereja tepaksa ditutup dan dijual atau dialihfungsikan karena sepi pengunjung. Sebagian kalangan memprediksikan bahwa dalam beberapa tahun mendatang jumlah orang Kristen di Eropa yang beralih agama dan memeluk agam Islam akan mengalami peningkatan yang signifikan. Contohnya di Glasco, ada sekitar 200 orang yang asalnya beragama Kristen beralih ke agama Islam.

Para pemerhati mengatakan bahwa loyalitas warga Muslim di Eropa dan ketaatannya dalam menjalankan ritual keagamaan jauh lebih besar dibanding warga Kristen. Mereka rajin pergi ke masjid dan getol memedalam pengetahuan akan agama mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda Muslim di Eropa justeru nampak lebih taat dalam beragama ketimbang orang tua mereka. Fenomena ini ditanggapi dengan sinis oleh sejumlah kalangan sehingga memunculkan isu yang menyebutkan tentang Eropa Islam. Isu inilah yang disinggung oleh Bernard Louis, salah seorang pakar budaya Barat dalam suratnya kepada Pemimpin umat Katolik dunia Paus Benediktus XVI. Dalam surat yang dikirin tahun lalu itu, Louis memperingatkan Paus akan kemungkinan jatuhnya Eropa ke tangan umat Islam di masa mendatang.

Pusat penelitian Piu dalam sebuah laporannya menyinggung soal penurunan polulasi warga Eropa seraya menambahkan bahwa pada tahun 2048, Perancis akan menjadi negara Republik Islam karena pertumbuhan populasi Muslim yang pesat yang di sana. Kondisi yang sama bakal dialamai Jerman pada sekitar tahun 2050. Koran Inggris The Guardian dalam laporannya menyebutkan bahwa bahaya yang lebih besar justeru muncul karena tidak adanya tindakan yang semestinya di Eropa terhadap warga Muslim khususnya di Inggris. Guardian menambahkan, diprediksikan bahwa pertumbuhan populasi warga Muslim bakal terjadi lebih pesat di Eropa barat dan utara.

Kenyataan bahwa Islam adalah agama yang sejalan dengan fitrah manusia sering diabaikan. Padahal faktor itulah yang menjadi pemicu ketertarikan banyak orang kepada agama ini. Alih-alih membuka mata dan menerima kenyataan yang ada, para penguasa rezim-rezim Eropa justeru mem,andang perkembangan Islam dan pertumbuhan jumlah warga Muslim di Eropa sebagai ancaman. Dengan memutarbalikkan fakta dan mengesankan Islam sebagai agama kekerasan dan anti damai, para pemimpin Eropa berusaha menjauhkan warganya dari Islam. Akibatnya propaganda Islamphobia gencar dilakukan oleh rezim-rezim itu. Seiring dengan itu, kubu nasionalis ekstrim di Eropa sengaja membesar-besarkan jumlah populasi umat Islam untuk mengesankannya sebagai ancaman besar bagi masyarakat Eropa. Padahal, jika dilihat dari prinsip demokrasi yang diagung-agungkan oleh Barat, seharusnya warga Muslim berhak hidup damai di kawasan itu.

Alhasil, seperti ditulis oleh The Guardian, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 populasi warga Muslim di sembilan negara Eropa termasuk Perancis, Rusia dan Belgia akan meningkat menjadi lebih dari 10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa untuk sepuluh tahun mendatang, Eropa sudah harus mempersiapkan diri mengubah identitasnya dan menerima Islam sebagai bagian dari peradaban Eropa.

[Sumber: IRIB Indonesia]

Baca juga:

Thursday, December 28, 2017

Populasi Muslim di Eropa Akan Meningkat Thursday, December 28, 2017


Persentase populasi Muslim di Eropa akan meningkat lebih dari dua kali lipat sampai 2050. Demikian hasil studi yang dilakukan Pew Research Center di 30 negara Eropa.


Survei yang dilakukan Pew Research Center mencakup 28 negara Uni Eropa ditambah Norwegia dan Swiss. Hasil survei ini bisa kembali memicu debat tentang migrasi dan Islam di Eropa. Ada tiga skenario yang digunakan. 
  1. Pertumbuhan populasi biasa, artinya tanpa imigran dan pengungsi. 
  2. Pertumbuhan populasi dengan migrasi dan 
  3. Pertumbuhan populasi dengan migrasi dan arus pengungsi.
Untuk skenario pertama, artinya jika sama sekali tidak ada migrasi atau migrasi dihentikan saat ini juga (konsep "zero migration”), populasi Muslim diproyeksikan naik menjadi menjadi 7,4 persen pada tahun 2050, dari 4,9 persen tahun 2016. Di Jerman, populasi Muslim akan mencapai hampir 9 persen tahun 2050, dari 6 persen saat ini.

Namun para peneliti menegaskan, sangat sulit untuk memprediksikan perkembangan populasi, dan proyeksi hanya mungkin dilakukan beradasarkan hipotesa-hipotesa tertentu. Misalnya faktor-faktor yang mendorong adanya migrasi saat ini terutama adalah konflik di Afrika dan Timur Tengah. Berapa besar arus migrasi juga sangat tergantung pada kebijakan politik setiap negara, yang bisa berubah-ubah.

Jika migrasi dihentikan saat ini juga, populasi Muslin di Eropa tetap akan tumbuh lebih cepat dari pada populasi seara keseluruhan. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan struktur usia dan fertilitas antara warga Muslin dan non-Muslim Eropa. Populasi Muslim di Eropa rata-rata lebih muda (30,4 tahun) daripada non-Muslim (43,8 tahun). Artinya, makin banyak juga perempuan Muslim pada usia subur.

Para peneliti memprediksikan, rata-rata seorang ibu Muslim akan melahirkan 2,6 anak. Sedangkan ibu non-Muslim di Eropa rata-rata hanya melahirkan 1,6 anak. Memang tidak semua anak yang lahir akan mengkuti agama orang tuanya. Namun para ahli mengatakan, anak-anak di kalangan Muslim cenderung mengikuti agama orang tuanya.


Skenario migrasi tingkat 'sedang' dan 'tinggi'
Di bawah dua skenario lainnya, kaum Muslim diprediksikan tumbuh antara 11 dan 14 persen populasi Eropa pada 2050. Bagi Jerman, yang telah menerima banyak migran dan pengungsi Muslim dalam beberapa tahun terakhir, persentase Muslim diproyeksikan antara 11 dan 20 persen.

Skenario migrasi "tinggi" tersebut mengasumsikan arus pengungsi seperti tahun 2014 dan 2016 akan akan berlanjut, sementara migrasi reguler juga terus berlangsung. Skenario migrasi "sedang" mengasumsikan arus pengungsi akan berhenti namun migrasi reguler akan berlanjut pada tingkat sebelumnya.


"Migrasi nol dan skenario migrasi tinggi benar-benar merupakan eksperimen pemikiran, apa yang akan terjadi pada kedua ujung spektrum," kata Conrad Hackett, salah satu peneliti utama. "Sepertinya skenario sedang, atau yang sedikit lebih tinggi dari itu, adalah perkiraan yang lebih masuk akal."

Banyak variabel
Antara tahun 2010 dan 2016, ada 7 juta orang dari semua latar belakang agama tiba di Eropa sebagai migran reguler atau pengungsi. Lebih dari setengah (3,7 juta) adalah Muslim. Hanya 1,6 juta dari total 7 juta orang yang punya status pengungsi. Sebagian besar pengungsi adalah Muslim (1,3 juta). Ini mencerminkan kondisi di Suriah, Irak dan Afghanistan yang yang dilanda perang dan konflik berkepanjangan. Yang lainnya datang ke Eropa sebagai migran reguler.

Angka 7 juta migran reguler ditambah pengungsi belum mencakup 1,7 juta pencari suaka. Status mereka belum jelas, karena permohonan suakanya belum tentu diterima. Dari 1,7 jutanüpencari suaka itu, sekitar 1 juta beragama Islam.

Faktor tambahan yang mungkin mempengaruhi jumlah populasi Muslim di masa depan adalah penyatuan kembali keluarga. Pencari suaka yang diterima umumnya diizinkan untuk memboyong keluarga dekat, walaupun di beberapa negara, misalnya Jerman, pemerintah sudah membuat aturan baru dan memberlakukan pembatasan.

"Jika kebijakan penyatuan kembali keluarga tidak berubah, itu akan mendorong jumlah populasi Muslim yang lebih tinggi, tetapi tidak harus mencapai tingkat yang telah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir," kata Conrad Hackett.

[Sumber: dw.com]

Thursday, March 24, 2016

5 Negara Dengan Pertumbuhan Islam Tercepat Di Dunia Thursday, March 24, 2016



Merdeka.com - Awal pekan ini, the Telegraph melaporkan data terbaru perkembangan umat muslim di inggris. Untuk pertama kalinya tahun ini, jumlah pemeluk Islam di Negeri Ratu Elizabeth mencapai tiga juta jiwa. Perkembangannya sangat pesat dalam satu dekade terakhir, mengingat pada 1991, penduduk beragama Islam di Britania Raya baru sebesar 950 ribu jiwa.

Pertumbuhan pemeluk Islam dipicu beberapa faktor. Dua aspek utama adalah tingginya angka kelahiran keluarga muslim, serta arus imigran beragama Islam di Inggris.

Terlepas dari alasan spesifik di setiap negara, situasi demografi Inggris sejalan dengan tren yang dicatat Lembaga survei Pew Research Center dari Amerika Serikat. Pew menyatakan umat Islam akan mencapai 34,9 persen dari total populasi dunia selepas 2070. Hal ini ditopang pertambahan penduduk muslim sebesar 2,2 persen saban tahun.

Artinya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, jumlah umat muslim diyakiani akan melampaui penganut agama Kristen yang selama beberapa abad dominan.

"Pada 2050 populasi umat Kristen dunia (2,9 miliar jiwa) nyaris diimbangi umat Islam (2,8 miliar). Ini kondisi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah," tulis laporan Pew tahun lalu.

Lantas, di negara mana saja agama Islam berkembang paling pesat? Berikut rinciannya mengacu pada data Pew:


1. INDIA
Inilah calon negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar sedunia, melewati Indonesia. Pew menyatakan apabila tidak ada perubahan berarti dari sisi demografi, diperkirakan pada 2050 India resmi menjadi negara penduduk muslim terbanyak sejagat.

Situasi di India dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang padat baik dari kalangan Hindu maupun Muslim. Usia pemeluk dua agama itu di Negeri Sungai Gangga juga sangat muda, lebih dari 30 persen di bawah 30 tahun. Prpyeksi peningkatan populasi penduduk muslim mencapai 18,4 persen (setara 311 juta jiwa) hingga 2050 nanti, jauh lebih tinggi dibanding pemeluk agama lainnya.

Saat ini, umat Islam di India baru berjumlah 177 juta jiwa. Hanya berselisih satu juta jiwa dari negara mayoritas muslim terbesar kedua dunia, Pakistan.

"Mayoritas penduduk India tetaplah warga penganut Hindu. Namun jumlah pemeluk Islam di India juga meningkat drastis melampaui Indonesia," tulis laporan Pew tersebut.


2. INGGRIS
Inggris adalah salah satu negara Barat dengan pertumbuhan pemeluk Islam tercepat di dunia. Seperti sudah dijabarkan di awal artikel ini, penduduk muslim di Negeri Ratu Elizabeth kini mencapai tiga juta jiwa.

Selain dipicu kelahiran dan arus imigran, komunitas Islam di Inggris juga berkembang karena perpindahan agama. Berdasarkan Badan Sensus Inggris, setidaknya 6 ribu warga Inggris beralih memeluk Islam saban tahun. Kebanyakan perpindahan agama ini dilakukan oleh warga Inggris berjenis kelamin perempuan.

Persentase warga Muslim terbanyak berada di Ibu Kota London. Komunitas muslim besar tinggal di London Timur, mencapai 45,6 persen.

Sedangkan untuk populasi Muslim terbesar di luar ibukota, letaknya terdapat di Blackburn, Lancashire, dengan 29,1 persen dari jumlah populasi.


3. RUSIA
Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, mencakup 21-28 juta jiwa. Jumlah itu setara dengan 20 persen dari total populasi Negeri Beruang Merah. Pertambahan jumlah pemeluk Islam di bekas Uni Soviet diproyeksikan mencapai 14,4 persen hingga 2030 mendatang.

Pew meramalkan Rusia akan menjadi salah satu negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Indikasi sudah terlihat sejak lima tahun terakhir, dengan pesatnya pembangunan masjid di Ibu Kota Moskow.

"Moskow perlahan-lahan beradaptasi menjadi kota berpenduduk Muslim terbesar di Eropa," kata peneliti sosial Alexei Malashenko.

Komunitas Islam di Rusia masyarakat sejauh ini terbagi dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama berada di sekitar Volga-Ural, Siberia Barat, dan Moskow. Sedangkan, kelompok kedua berada di Kaukasus Utara. Etnis Muslim terbesar di Rusia berasal dari suku bangsa Tatar (7 juta), Bashkirs (1,5 juta), dan Chechen (1 juta).


4. KANADA
Negara yang bertetangga dengan Amerika Serikat ini menjadi wilayah keempat yang mencatat tingginya pertambahan populasi umat muslim di dunia. Untuk kasus Kanada, lonjakan itu dipicu terutama oleh arus imigran selama dua dekade terakhir.

Padahal, masjid pertama di Kanada baru dibangun pada 1932. Namun pada 2015, di Kota Toronto saja, terdapat lebih dari 20 masjid dengan 20 ribu umat muslim.

Berdasarkan sensus oleh Badan Statistik Kanada pada 2013, populasi umat Muslim melampaui agama-agama lain. Sedangkan survei Rumah Tangga Nasional dua tahun lalu, Islam disebut tumbuh melebihi jumlah warga Kanada yang ateis.

Jumlah umat Islam di Kanada telah mencapai 1.053.945 jiwa atau 3,2 persen dari total populasi penduduk. Dalam satu dekade, pertumbuhannya mencapai 2 persen


5. CHINA
Pertumbuhan jumlah pemeluk Islam sangat pesat di Republik Rakyat China (RRC). Islam merupakan agama mayoritas yang dianut warga etnis Uighur, Hui, maupun Kazakh. Pada sensus lima tahun lalu, jumlah mereka sudah tembus 50 juta jiwa. Tiga kali lipat dibanding sensus pada 2000.

Namun, harus diakui pertumbuhan jumlah ini tak berbanding lurus dengan kebebasan beragama. Warga etnis Uighur di Provinsi Xinjiang mengalami penindasan rutin oleh pemerintah pusat Beijing.

Warga Uighur dituding punya kecenderungan 'memberontak'. Kebijakan ekonomi China yang mengutamakan etnis Han memperburuk situasi di Xinjiang.

[Sumber: merdeka.com]


Friday, July 17, 2015

Menurut Protestan, Berapa Persenkah Populasi Kristen Dunia Hari Ini? Friday, July 17, 2015



MENURUT KAUM PROTESTAN, 
BERAPA PERSENKAH POPULASI KRISTEN DUNIA HARI INI? 


Pertanyaan gampang-gampang susah!

Kenapa?
Karena faktanya banyak perbedaan pendapat tentang siapa sebenarnya yang disebut sebagai "Kristen" dalam konteks ini. Tapi mari kita sederhanakan, kemudian kita coba pula rinci seperlunya saja. 

Populasi dunia dewasa ini diperkirakan sekitar 7,6 miliar. Sedangkan menurut statistik -- merujuk sumber kredibel, PEW -- prakiraan jumlah "Kristen" adalah sekitar 2,3 miliar. 

Dengan demikian, persentase populasi Kristen dunia adalah (7,6 miliar minus 2,3 miliar dibagi 7,6 miliar dikali minus 100) = 30.26%.

Tapi, angka ini sebenarnya memiliki varian luas, karena perlu dipertegas lagi, apakah umat Katolik beragama Kristen? Sebagian besar dunia akan mengatakan "Ya!" Tetapi, tidak sedikit pula kalangan reformis (yang juga mengaku sebagai Kristen) mengatakan "Tidak", karena menurut mereka, umat Katolik tidak menuhankan Yesus Kristus dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan.

Inilah alasan kenapa umat ini disebut “Protestan.” Mereka memprotes Gereja Katolik telah berhenti menjadi Kristen. Dan dalam konteks pertanyaan di atas, protes mereka praktis menganulir jumlah sangat besar dari 2.3 miliar Krisen dunia tsb — karena sejauh ini Katolik merupakan agama “Kristen” terbesar, yakni sekitar 16,99% dari total 30,26% atau setara dengan 1.54 miliar! 

Jadi, ketika "Protestan" ingin menunjukkan jumlah populasi kristen yang besar, mau tidak mau mereka harus mengikutkan umat Katolik dalam kelompoknya. Tapi ketika mereka ingin menunjukkan betapa istimewanya "kristen yang satu ini", maka mereka tidak akan ragu mengecualikan umat Katolik sebagai kaum pagan “non-Kristen”.

Sampai hari ini, masalah yang sama juga menimpa kelompok-kelompok atau denominasi "Kristen" lainnya. Padahal menurut statistik age of the sage 2007, komposisi kristen dunia berbanding total populasi kristen berdasarkan statisik PEW 2015 adalah sbb: 
  • Katolik = 66,99% = 1.54 miliar 
  • Protestan = 5,78% = 132.940 juta 
  • Ortodoks = 3,53% = 81.190 juta 
  • Anglikan = 1,25% = 28.750 juta 
  • Denominasi lainnya = 5,77% = 132.710 juta 

Jadi, ketika anda bertanya berapa banyakkah jumlah umat Kristen dunia saat ini, maka perlu diperjelas dulu, umat kristen mana yang anda maksud? 

Sebab kendati sama-sama mengaku Kristen, faktanya masing-masing denominasi Kristen ini saling mengklaim kelompok merekalah yang paling kristen, sementara denominasi lainnya dianggap sebagai "bidat", alias bukan Kristen!

Boleh jadi ada Kristen yang tidak setuju pada pernyataan ini lalu "protes" dan siap bertegar tengkuk mempertahankan argumennya bahwa di dunia ini hanya ada satu kristen, terlepas apapun nama atau denominasinya. 

Sayangnya, tegar tengkuknya ini tetap tertolak, sebab dari contoh yang paling mudah saja; kita tidak pernah melihat ada umat Katolik yang beribadat di gereja Protestan, atau sebaliknya, bukan?

Kenapa?
Karena keduanya saling membidatkan, sehingga mustahil masing-masing akan menerima dengan tangan terbuka jemaat bidat lain melaksanakan ibadat di rumah ibadat mereka. 

Lagipula, jika benar hanya ada satu Kristen, mengapa hingga dewasa ini terdapat lebih dari 34.000 denominasi kristen di dunia yang dalam prakteknya saling membidatkan antara satu sama lain?

Isu ini memang jarang dipersoalkan di ranah publik semisal di grup-grup debat lintas iman yang berserakan di fesbuk seperti contohnya di sini. Alasannya tentu mudah dimengerti. Terlepas seberapa tajampun perbedaan di antara mereka, namun ada yang perlu sama-sama mereka pertimbangkan, yaitu jaga nama korps!

🔴 LALU, BAGAIMANA DENGAN POPULASI ISLAM DUNIA?

Berdasarkan statisik PEW 2015, jumlah penduduk Islam dunia adalah 1.8 miliar, atau setara dengan 23.68% dari 7.6 miliar. Jumlah ini tebagi dalam dua kelompok besar yaitu Sunni -- antara 87% s.d 90% atau setara dengan 1.62 miliar, dan Syiah -- antara 10% s.d 13% atau setara dengan 180 juta jiwa.

🔴 PERBANDINGAN JUMLAH PENDUDUK KRISTEN DAN ISLAM?

Silahkan bandingkan saja sendiri!
Baru dengan jumlah Sunni yang 1.62 miliar saja, jumlah umat Katolik yang 1.54 miliar sudah KO!

Bagaimana pula ceritanya jumlah seluruh Islam yang 1.8 miliar mau dibandingkan dengan jumlah seluruh umat protestan yang cuma 132.940 juta saja?

Makanya kita patut merasa iba seiba-ibanya, kasihan sekasihan-kasihannya, ketika adik kita, Vincent R. Sibri yang bernaung dalam denom reformis sekenanya saja Waton Jeplak mengatakan jumlah kristen dunia dewasa ini ada 3 miliar!

GM tidak mengartikan pernyataannya itu sebagai sebuah dusta, tapi lebih banyak sebagai ketololan absolut dari doktrin kristen yang tiada hari tanpa membodohi jemaat!

Bayangkanlah, selisih angka antara klaim waton jeplaknya dengan fakta yang ada mencapai 700 juta jiwa, atau lebih dari 2 kali lipat jumlah penduduk Republik Indonesia hari ini!

📌 Padahal, jumlah seluruh umat Protestan dunia sekalipun, sejatinya tidak lebih besar dari setengah jumlah seluruh penduduk negeri tercinta kita ini!

Teralu sedikit untuk gede kepala, apalagi untuk omong besar di forum agama mana saja!
Ya! Begitu!

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


[GM Menjawab Mimpi Kristen]






Wednesday, June 11, 2014

Statistik Terkini Populasi Muslim Dunia Wednesday, June 11, 2014


Dalam tulisan-tulisan atau ceramah-ceramah, selalu disebut bahwa Kristen adalah agama terbesar di dunia.

Hari ini, sebutan itu tidak berlaku lagi. Karena perkembangan agama dunia sudah menunjukan hal yang lain. Mari kita cermati fakta-fakta berikut ini.

Jumlah penduduk dunia (2013) adalah 7.021.836.029, dan sebaran menurut agama adalah: 
  • Islam 22.43%, 
  • Kristen Katolik 16.83%, 
  • Kristen Protestan 6.08%, 
  • Orthodok 4.03%, 
  • Anglikan 1.26%, 
  • Hindu 13.78%, 
  • Buddhist 7.13%, 
  • Sikh 0.36%, 
  • Jewish 0.21%, 
  • Baha’i 0.11%, 
  • Lainnya 11.17%, 
  • Non Agama 9.42%, dan 
  • Atheists 2.04%  
[Sumber: 30-days.net].

Bahkan dikatakan bahwa jumlah pemeluk Islam pada 2012 adalah 2.1 milyar. Sedangkan jumlah pemeluk Kristen dan Protestan adalah 2 milyar . Sehingga Islam saat ini, kendati dibandingkan dengan pemeluk Kristen dan Protestan sekalipun, sudah menjadi agama terbesar di dunia [Sumber: www.religiouspopulation]. Subhanallah!

Penduduk dunia (2011) tumbuh 137% dalam satu dekade terakhir, di mana Kristen tumbuh sebanyak hanya 46%, sebaliknya,  Islam tumbuh sebanyak 5 kali lipatnya: 235%. (The Almanac Book of Facts, 2011). Dikatakan, bila tren pertumbuhan ini terus berlangsung, diperkirakan pada tahun 2030, 1 dari 3 penduduk dunia adalah orang Islam. [Sumber: www.muslimpopulation.com].

Dilihat per benua, menurut data UN (2012), sejak tahun 1989 sampai tahun 2012, perkembangan jumlah pemeluk agama Islam yang paling cepat terjadi di Australia  dan Oceania/Pacific 257.01%; kemudian berturut-turut diikuti oleh Eropa 142.35%; Amerika 25%; Asia 12.57%; Afrika 2.15%; dan Amerika Latin 4.73% [Sumber: www.30-days.net].

Menurut The Almanac Book of Facts (2011), dalam sepuluh tahun terakhir, penduduk dunia bertambah sebanyak 137%. Di mana pemeluk agama Kristen bertambah sebanyak 46%. Sedangkan pemeluk agama Islam bertambah sebanyak 235% [Sumber:  www.geocities.com].

Sehingga disimpulkan bahwa Islam adalah agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tertinggi di dunia, setiap tahunnya. Antara 1990 sampai 2000, diperkiraan sekitar 12.5 juta orang dari berbagai agama, pindah ke agama Islam. [Guinness Book of World Records,2011].

Perkembangan Islam yang sangat cepat ini disebabkan oleh dua faktor penting. Pertama, oleh tingkat kelahiran (fertility rate) yang tinggi di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Kedua, oleh jumlah orang-orang yang pindah (conversion) dari agama lain ke agama Islam yang juga tinggi, terutama di Amerika, Eropa dan Australia dalam 20 tahun terakhir [The Almanac Book of Facts, 2011].

Menurut hasil poll (2012) di Amerika, diketahui sekitar 200.000 orang setiap tahunnya pindah dari agama Kristen ke agama Islam. [Sumber: www.usislam.org].

Sebuah studi oleh Faith Matters (2011) di Inggris, diketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir, diperkirakan jumlah orang Inggris yang pindah dari agama lain (Kristen) menjadi pemeluk agama Islam adalah sebanyak 5.000 orang setiap tahun [Sumber: www.insideislam.wisc.edu].

Terkait dengan perkembangan Islam yang cepat ini, menurut CNN, pemeluk Kristen semakin tidak meyakini kebenaran ajaran agama mereka. Sebaliknya pemeluk Islam, keyakinan terhadap kebenaran agama mereka semakin meningkat.

Di Indonesia tidak diketahui dengan pasti jumlah semua muallaf. Namun pemeluk agama lain yang pindah ke agama Islam merupakan fenomena sosial yang nyata dan trennya terus meningkat. Diperkirakan setiap tahun muallaf bertambah 10% sampai 15% [Syafii Antohio].

Sebagai contoh, dari sekian banyak muallaf di Indonesia, 7 orang terkenal  yang sudah pindah ke agama Islam adalah: Sandrina Malakiano,  Marini, Chicha Koeswoyo, Syafii Antonio, Bob Hasan, W. S. Rendra, dan El Manik.

Di dunia, 7 orang di antara jutaan muallaf yang namanya relatif terkenal adalah: Yusuf Islam (Penyanyi Inggris), Muhammad Ali (petintu Amerika), Yusuf Estes (Penghotbah Kristen, Amerika), Murad Hofmann (Diplomat, Jerman), Muhammad Assad (Wartawan Internasional, Austria), Selma A. Cook (Penulis, Australia), dan Jeffery Lang (Profesor matimatika, Amerika).

Tingginya jumlah orang yang menjadi muallaf, memfasilitasi berkembangnya Islam menjadi lebih pesat lagi. 

Di Jerman, pernah terjadi sebanyak 1.250 orang non-Muslim yang menghadiri dakwah muallaf Amerika, Yusuf Estes, mengambil keputusan untuk menjadi Muslim dan  bersyahadat langsung dihadapan beliau. 



[DR M Masri Muadz MSc |  Penulis Buku Paradigma Al-Fatihah | Republikaonline]




Eropa Akan Jadi Benua Islam?


“If any religion had the chance of ruling over England, nay Europe within the next hundred years, it could be Islam,”  [Sir George Bernard Shaw, The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936].

“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris, bahkan Eropa – beberapa ratus tahun dari sekarang, maka Islam-lah agama tersebut”

Pada tahun 2050 nanti, diprediksi jumlah Muslim di Eropa dapat menjadi 20% dari total populasi benua tersebut karena meningkatnya  imigrasi dan rendahnya angka kelahiran penduduk asli Eropa. Inggris, Spanyol, dan Belanda bahkan akan memiliki jumlah Muslim lebih  banyak daripada penduduk asli dalam waktu dekat, ujar sebuah laporan di Daily Telegraph.

Tahun lalu, lima persen dari total populasi 27 negara di Eropa adalah Muslim namun ini akan meningkat secara signifikan dalam empat  dekade mendatang dengan semakin meningkatnya jumlah Muslim yang bermigrasi ke Eropa untuk mencari kehidupan yang lebih baik sementara  jumlah penduduk asli terus menurun.

Inggris, Spanyol, dan Belanda akan memiliki proporsi Muslim yang lebih tinggi dalam waktu dekat. Inggris, yang saat ini memiliki jumlah penduduk 20 juta lebih sedikit daripada Jerman, juga diproyeksikan akan menjadi negara  terpadat di Eropa pada tahun 2060 dengan jumlah penduduk 77 juta jiwa. Pada tahun 2009, jumlah Muslim di Perancis mencapai 9% dari total populasi. Di kota-kota seperti Marseilles dan Rotterdam, angkanya  mencapai 25%.

Di London dan Copenhagen, penduduk Muslim berjumlah 10% dari total populasi. Sedangkan Spanyol adalah negara dengan peningkatan jumlah populasi Muslim terbesar dengan masuknya satu juta imigran Moroko ke negara itu dalam  beberapa tahun terakhir.

Penemuan itu telah memicu tuduhan bahwa para penyusun kebijakan gagal melawan tantangan-tantangan dari “bom waktu demografis”. Para ahli mengatakan kurang ada perdebatan mengenai bagaimana perubahan populasi akan mempengaruhi wilayah-wilayah kehidupan mulai dari pendidikan dan perumahan hingga kebijakan luar negeri dan pensiun.

Data mengenai tingkat pertumbuhan Islam menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah Muslim di negara-negara non muslim disebabkan terutama  oleh imigrasi (di negara-negara Barat) dan angka kelahiran yang lebih tinggi (di seluruh dunia).

Tahun 2006, negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim memiliki angka pertumbuhan penduduk rata-rata 1.8% per tahun. Bandingkan dengan angka pertumbuhan penduduk dunia yang hanya 1.12% per tahun.

Islam adalah agama dengan pertumbuhan paling pesat di Eropa. Didorong oleh imigrasi dan angka kelahiran yang tinggi, jumlah Muslim di  benua ini telah meningkat tiga kali lipat dalam 30 tahun terakhir.

Sebagian besar ahli demografis memprediksi angka pertumbuhan yang serupa untuk beberapa dekade mendatang. Carnegie Endowment for International Peace, Database Kristen Dunia pada tahun 2007 memperkirakan enam agama dengan pertumbuhan paling cepat adalah Islam (1.8%), aliran keyakinan Bahai’i (1.7%), Sikhisme (1.62%), Jainisme (1.57%), Hinduisme (1.52%),  dan Kristen (1.32%). Tingginya angka kelahiran disebut sebagai penyebab pertumbuhan tersebut.

Monsignor Vittorio Formenti, yang menyusun buku tahunan Vatikan, dikutip dari tabloid Vatikan, L’Osservatore Romano, bahwa “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita tidak lagi berada di puncak, Muslim telah menggeser posisi kita.” Ia mengatakan bahwa jumlah umat Katolik adalah 17.4% dari total populasi dunia, sedangkan Muslim mencapai 19.2%.

“Benar bahwa keluarga-keluarga Muslim, seperti yang telah diketahui, terus melahirkan banyak keturunan, sebaliknya, keluarga Kristen semakin sedikit memiliki anak,” ujarnya.

Juga disebutkan dalam sejumlah klaim dan rumor bahwa peningkatan jumlah Muslim disebabkan semakin banyaknya orang yang masuk agama Islam. Namun, data jumlah mualaf ini sulit untuk diverifikasi.

New York Times telah mengklaim bahwa 25% Muslim Amerika adalah mualaf. Di Inggris, juga ada klaim bahwa sekitar 10.000  hingga 20.000 orang masuk Islam tiap tahunnya.

Benarkah prediksi George Bernard Shaw akan menjadi kenyataan? Kita tunggu saja!

Tapi menurut saya sih, prediksi "beberapa ratus tahun lagi" itu tampaknya terlalu lama dibandingkan dengan apa yang sedang terjadi pada hari-hari belakangan ini.
Jika anda suka angka-angka statistik misalnya, cobalah singgah di sini untuk melihat catatan terbaru dari THE PEW FORUM on religions and public life tentang pesatnya pertumbuhan Islam di dunia!

Bagaimana menurut anda?

[Dari Rizal Hasan | lensaindonesia.com]

Populasi Muslim Dunia Terus Meningkat



Pusat Kajian Agama dan Kehidupan Publik Pew (<a href="http://www.pewforum.org/">Pew Forum on Religion and Public Life</a>) Amerika, baru-baru ini merilis laporannya tentang jumlah kaum muslimin di seluruh dunia. Ada beberapa data-data menarik yang layak diketahui.

Berdasarkan laporan tersebut, jumlah kaum muslimin di seluruh dunia telah melampaui 1,5 milyar muslim, atau sama dengan seperempat jumlah penduduk bumi seluruhnya. Inipun oleh seorang pengamat Islam; DR. Ahmad Isa, dianggap bahwa jumlah kaum muslimin sebenarnya lebih dari apa yang dilaporkan oleh lembaga tersebut.

Dari jumlah tersebut, populasi kaum muslimin terbesar berada di Asia, bahkan di antara sepuluh Negara berpenduduk muslim terbesar, tujuh di antaranya di Asia. Kesepuluh Negara tersebut adalah; Indonesia (203 juta), Pakistan (174 juta), India (161 juta), Bangladesh (145 juta), Mesir (79 juta), Nigeria (78 juta), Iran (74 juta), Turki (74 juta), Aljazair (34 juta) dan Maroko (32 juta). Dengan demikian 62% populasi kaum muslimin menetap di Negara-negara Asia, sejak dari sisi barat Turki hingga sisi Timur Indonesia. Sedangkan di Timur Tengah dan Afrika Utara, keseluruhan kaum muslimin hanya mencapai 20 % saja dari seluruh kaum muslimin yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mendunia, bukan semata-mata milik bangsa Arab sebagaimana yang sering dikatakan sebagian orang.

Tabel jumlah kaum muslimin berdasarkan benua

Wilayah                                   Jumlah [juta]      % muslim                  % muslim sedunia
Asia                                        972,6                 24,1%                       61,9%
Tim-Teng dan Afrika Utara        315,3                 91,2%                       20,1%
Afrika lainnya                           240,6                 30,1%                       15,3%
Eropa                                        38,1                  5,2%                         2,4%
Benua Amerika                            4,6                  0,5%                         0,3%

Bahkan menurut laporan lembaga ini bahwa terdapat beberapa negara yang selama ini sama sekali tidak dikenal sebagai Negara muslim, ternyata di dalamnya terdapat komunitas muslim yang sangat besar, seperti Rusia, Cina dan India. India yang dikenal sebagai Negara Hindu misalnya, ternyata di dalamnya terdapat 161 juta kaum muslimin, melebihi jumlah Negara Islam manapun kecuali Indonesia dan Pakistan. Di Cina, berdasarkan laporan tersebut, populasi kaum muslimin mencapai 20 juta orang. Inipun oleh para pengamat masih dianggap jauh dari jumlah sebenarnya. Karena beberapa penelitian, termasuk yang bersumber dari kalangan muslin Cina, jumlah mereka dapat mencapai 100 juta orang.

Di Eropa, jumlah kaum muslimin juga terus bertambah. Sebagian orang mengira bahwa penganut Islam di Eropa hanyalah para pendatang. Namun berdasarkan laporan ini, setengah dari penganut Islam di Eropa adalah penduduk Asli, khususnya wilayah Rusia, Albania dan Kosovo. Kemudian di Eropa barat, setengah dari kaum muslimin di sana telah menetap di Eropa sejak lahir.

Ada perbandingan cukup unik di antara beberapa negara yang tidak dikenal sebagai negara muslim. Di antaranya, bahwa jumlah kaum muslimin di Jerman, melebihi jumlah kaum muslimin di Libanon. Jumlah kaum muslimin di Rusia, lebih banyak dari jumlah kaum muslimin di Yordan dan Libiya. Jumlah kaum muslimin di Etiopia, melebihi jumlah kaum muslimin di Afghanistan. Sedangkan jumlah kaum muslimin di Cina, melebihi jumlah kaum muslimin di Suriah.

Vatikan sendiri, yang mewadahi Kristen Katolik sedunia dalam laporannya pada tahun lalu (2010) mengumumkan bahwa populasi kaum muslimin telah melampaui jumlah kaum Kristen Katolik sedunia yang  1,3 milyar. Berdasarkan laporannya, pada awal abad 20 (1900) jumlah kaum muslimin hanya 12,3% dari seluruh penduduk bumi, namun jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 23% dari keseluruhan penduduk bumi. Selain faktor kelahiran, tidak dapat dipungkiri, non muslim yang masuk Islam juga sangat mempengaruhi angka tersebut.

Disebutkan pula dalam laporan ini bahwa pengikut suni di kalangan muslim mencapai 1,4 milyar, melebih pengikut Katolik yang berjumlah 1,3 milyar.

Percaya atau tidak, ini adalah dampak dari Tragedi 911 yang secara sembrono telah dituduhkan sebagai tanggungjawab umat Islam!

Semoga mereka yang berakal dapat memetik pelajaran dari fenomena anomali ini. 


[Sumber: Mujtama |islamedia | Data 2011] 

Monday, July 4, 2011

Keajaiban 11 September Monday, July 4, 2011


Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah badan observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati.

Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%.

80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi. Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%.

Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) melampaui jumlah penganut Kristen sebelumnya. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun.

17 tahun dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua.

World Almanac and Book of Fact, New York Times Bestseller nomor 1, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang atau sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara!

Fenomena di Amerika sendiri sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika lainnya waktu itu, bahwa masyarakat Amerika malah berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 - dikenal dengan 911 - yang sudah demikian gencar mereka gaungkan ke seluruh pelosok dunia sebagai aksi biadab terroris Islam. Peristiwa 911 dan propaganda itu semestinya memberikan citra sangat buruk terhadap Islam. Akan tetapi, benarkah demikian menurut pendapat rakyat Amerika sendiri?

Pasca 911 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. Tercatat 8 juta orang Muslim kini ada di Amerika, dan sekitar 20.000 orang warga negaranya masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa itu.

Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya. Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lainnya, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya seperti yang juga diamini oleh The Population Reference Bureau USA Today yang menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.”

Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.

Atas dasar daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.

ANOMALI 11 SEPTEMBER
Peristiwa 911 menyimpan misteri yang tidak terduga. Pemboman itu dikutuk dunia, terlebih Amerika, sebagai biadab dan barbar buah tangan para “teroris Islam.” Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah merasakan getahnya mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat: dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

Pemerintah George Walker Bush segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigran Muslim secara berlebihan. Siaran televisi Fox News Channel, dalam acara mingguan “In Focus” menggelar diskusi dengan mengundang enam orang nara sumber, bertemakan Stop All Muslim Immigration to Protect America and Economy.” Selain terang-terangan menunjukkan sikap diskriminatif atas agama, acara ini, tentu saja, menggambarkan betapa besar kekhawatiran Amerika tidak hanya dalam masalah terorisme, tetapi juga ekonomi, di mana pengaruh para pengusaha Arab dan Timur Tengah mulai dominan dan mengendalikan ekonomi Amerika.

Tapi, rupanya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Islam mematahkan “logika akal sehat” manusia modern. Bagaimana mungkin ada sekelompok orang nekad berbuat biadab membunuh hampir 3.000 orang tidak berdosa dengan mengatasnamakan sebuah agama, tetapi tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang "berakal sehat" berbondong-bondong secara sukarela menyatakan diri masuk agama orang-orang biadab itu, dan bahkan, menemukan kedamaian di dalamnya?

911 telah berfungsi menjadi ikon yang memproduksi arus sejarah yang tidak logis dan mengherankan. Selain 20.000 orang Amerika yang masuk Islam setiap tahun pasca 911 itu, ribuan yang lain dari negara-negara non Amerika (Eropa, Cina, Korea, Jepang dst) juga mengambil keputusan yang sama, masuk Islam!

Bagaimana arus ini bisa dijelaskan? Sejauh yang bisa dicari, jawabannya tidak ada dalam semua teori-teori gerakan sosial, sebab fenomena ini benar-benar adalah sebuah anomali. Karenanya gejala ini hanya bisa dijelaskan oleh “teori tangan Tuhan.” Tangan Tuhan dalam bentuk "blessing in disguise" adalah nyata dibalik peristiwa 911, dan ini diakui oleh masyarakat Islam Amerika.

Karena peristiwa 911 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika justru kemudian terpancing rasa penasarannya untuk mengetahui Islam lebih jauh. Sebagian karena murni semata-mata ingin mengetahui saja, sebagian lagi mempelajari dengan sebuah pertanyaan di benaknya:

“Bagaimana mungkin pada zaman modern dan beradab ini ada agama yang mengajarkan teror, kekerasan, dan bom bunuh diri dengan mengorbankan ratusan, bahkan ribuan, korban tidak berdosa?”

Kendati alasannya berbeda, tapi keduanya berbasis pada kondisi yang sama, yakni ignorance of Islam atau ketidaktahuan sama sekali tentang Islam.

Sebelumnya, sumber pengetahuan masyarakat Barat (Amerika dan Eropa) tentang Islam hanya satu, yaitu media yang menggambarkan Islam tidak lain kecuali stereotip-stereotip buruk seperti teroris, uncivilized, kejam terhadap perempuan, dan sejenisnya. Namun seperti disaksikan Eric, seorang Muslim pemain cricket warga Texas, setelah peristiwa 911 masyarakat Amerika menjadi sangat ingin tahu tentang Islam. Karenanya setiap hari kemudian mereka ramai-ramai membeli dan membaca Al-Qur’an, membaca biografi Muhammad, termasuk buku-buku tentang Islam lainnya untuk mengetahui apa saja isinya.

Hasilnya, dari membaca sumbernya langsung, mereka menjadi mengenal ajaran Islam yang sesungguhnya. Alih-alih bertambahnya kebencian, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka menemukan keagungan serta keindahan ajaran agama yang satu ini. Keagungan ajaran Islam ini bertemu pada saat yang tepat dengan kegersangan, kegelisahan dan kekeringan spritual masyarakat Amerika yang sekuler selama ini.

Karena itu, Islam justru menjadi jawaban bagi proses pencarian spiritual mereka selama ini. Islam menjadi melting point atas kebekuan spiritual yang selama ini dialami masyarakat Amerika. Inilah pemicu terjadinya Islamisasi Amerika yang mengherankan para pengamat sosial dan politik.

Inilah tangan Tuhan di balik peristiwa 911!



Contact Form

Name

Email *

Message *