Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Teologi Biblika. Show all posts
Showing posts with label Teologi Biblika. Show all posts

Sunday, November 11, 2018

Teologi Perjanjian Lama Sunday, November 11, 2018

Teologi Perjanjian Lama merupakan bagian dari Teologi Kristen, secara khusus Teologi Biblika yang membahas tema-tema atau isu-isu teologis yang ada di dalam Alkitab Perjanjian Lama.[1] Sebagai bagian dari Teologi Biblika, Teologi Perjanjian Lama mempunyai suatu fungsi kritis yang dijalankan dalam dialog dengan gereja, tradisinya serta persoalan yang dihadapinya.

Sejarah dan Perkembangan

Era Reformasi Gereja

Teologi Perjanjian Lama tidak dapat dilepaskan dari Teologi Biblika. Perkembangan Teologi Biblika ini mulai terlihat pasca zaman reformasi gereja di mana golongan Protestan sangat menekankan pada prinsip sola scriptura atau Alkitab sebagai satu-satunya sumber dalam berteologi. Dalam periode ini, teologi Biblika dipahami sebagai sebuah teologi yang ajaran-ajarannya bersumber pada Alkitab dan dasarnya adalah Alkitab dan juga dipahami sebagai teologi yang dikandung oleh Alkitab itu sendiri. Namun yang terjadi pada saat itu, Teologi Biblika masih digunakan untuk mendukung sistem doktrin Kristen yang tradisional. Peranan tambahan Teologi Biblika sejajar dengan hal-hal dogmatis ditetapkan secara kuat oleh Abraham Calovius yang berpendapat bahwa Teologi Biblika merupakan nama baru dari Teologi Eksegetika yang berfungsi untuk mendukung dogmatika gereja. Dengan demikian, Teologi Biblika menjadi suatu disiplin tambahan yang mendukung dogmatika gereja.

Pada perkembangan selanjutnya, golongan pietisme dari Jerman mengubah arah perkembangan Teologi Biblika. Di dalam gerakan pietisme ini, Teologi Biblika menjadi alat reaksi terhadap sifat ortodoks Protestan yang kering. Dengan demikian, Teologi Biblika malah digunakan untuk menyerang dogmatika gereja. Akhirnya sejak tahun 1745, Teologi Biblika terpisah dari dogmatika gereja dan menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri.

Abad Pencerahan

Abad Pencerahan menjadi salah satu zaman yang mengubah perkembangan Teologi Biblika, di antaranya adanya reaksi rasionalisme terhadap supernaturalisme sehingga perkembangan tersebut menghasilkan bentuk penafsiran dengan menggunakan metode penelitian sejarah.Karya-karya dari Anton Friedrich Busching yang didorong oleh gerakan pietisme dan rasionalisme ini menimbulkan adanya persaingan antara Teologi Biblika dengan Teologi Dogmatika. Tokoh lainnya yang memengaruhi perkembangan Teologi Biblika pada abad ini adalah Johann Philipp Gabler (1753-1826) yang membedakan antara antara Teologi Biblika Teologi dan Teologi Dogmatika. Menurut Gabler, Teologi Biblika memiliki sifat historis dan meneruskan pemahaman para penulis Alkitab sedangkan Teologi Dogmatika memiliki sifat mendidik, mengajarkan penalaran filosofis seorang teolog tertentu sesuai dengan kemampuan, waktu, usia, tempat, aliran atau mazhab yang dianut oleh teolog tersebut. Pendapat ini kemudian dikembangkan lagi oleh Georg Lorenz Bauer (1755-1806) yang memisahkan Teologi Biblika menjadi Teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru atas dasar penelitian sejarah yang memperlihatkan perbedaan tema teologis yang ada di dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.

Pasca Abad Pencerahan, terbit beberapa jilid buku Teologi Perjanjian Lama yang isinya membahas disiplin ilmu tersebut dari pendekatan masing-masing sesuai dengan zamannya, tidak lagi menggunakan pendekatan historis seperti yang berkembang pada periode sebelumnya. Pendekatan yang pertama-tama berkembang adalah pendekatan filsafat yang menjauhkan Teologi Perjanjian Lama dari rasionalisme. Pendekatan kedua adalah pendekatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan Alkitab yang konservatif yang muncul bersamaan dengan mazhab sejarah keselamatan. Pendekatan ini menempatkan kembali Perjanjian Lama sebagai awal atau pembuka sejarah keselamatan manusia yang kemudian dilanjutkan di dalam Perjanjian Baru. Pendekatan berikutnya yang berkembang adalah sejarah agama-agama (religionsgeschicte) yang menghancurkan kesatuan Perjanjian Lama dan dianggap sebagai sebuah koleksi bahan-bahan dari periode yang berdiri sendiri-sendiri dan isinya hanya berupa refleksi beragam dari bangsa Israel.

Abad Modern

Perang Dunia I telah mengubah banyak tatanan masyarakat di dunia, termasuk bagi Teologi Perjanjian Lama yang memasuki masa kebangunan kembali. Era ini ditandai dengan terbitnya buku E. Konig yang berjudul Theologie des Alten Testaments yang mengkaji Perjanjian Lama berdasarkan sejarah tata bahasa dan mengkombinasikan sejarah perkembangan agama Israel dengan sejarah faktor-faktor teologis tertentu dari iman Perjanjian Lama. Pada dekade 1930, Teologi Perjanjian Lama memasuki periode keemasan ketika E. Sellin dan L. Kohler menggunakan susunan Allah-manusia-keselamatan sebagai kerangka untuk menyusun ulang tema-tema teologis yang dapat diambil dari Perjanjian Lama. Periode ini juga menempatkan Teologi Perjanjian Lama dalam Teologi Dialektik. Teologi Dialektik yang juga dikenal sebagai Teologi Neo-Ortodoks menempatkan penafsiran Alkitab bukan sekadar masalah kritik historis tetapi juga menghubungkannya dengan para saksi yang melihat pewahyuan Alkitab secara nyata di dalam dunia.[3] Tokoh yang berperan besar dala Teologi Dialektika ini adalah Karl Barth.

Metode Teologi Perjanjian Lama

Memerhatikan metode yang para teolog gunakan dalam membangun sebuah Teologi Perjanjian Lama menjadi hal yang cukup penting karena dengan metode tertentu, kita dapat mengeluarkan pesan yang beragam dari sejarah Perjanjian Lama melalui penafsiran eksegetis sehingga memberikan dampak pada sejarah dogmatika dan filsafat agama-agama. Sebelum menentukan metode apa yang akan digunakan, para teolog perlu mengetahui tugas dari Teologi Perjanjian Lama yakni tugas deskriptif dan tugas normatif. Tugas deskriptif mengarahkan para teolog untuk memusatkan perhatiannya pada soal menguraikan arti asli dari ayat, bukan makna ayat itu pada masa kini berbeda dengan tugas normatif dari Teologi Perjanjian Lama yang menuntut para teolog untuk memusatkan perhatiannya dalam menguraikan arti dan makna ayat itu bagi masa kini sehingga bersifat normatif bagi iman dan kehidupan saat ini. Dalam perkembangan selanjutnya, para teolog tidak dapat memilih kedua tugas tersebut karena tugas deskriptif maupun normatif dapat saling melengkapi sebuah bangunan Teologi Perjanjian Lama. Berdasarkan pergumulan tersebut, muncul beberapa pendekatan penting yang menjadi metode seorang teolog dalam membangun sebuah Teologi Perjanjian Lama.

Sebelum memahami metode yang akan digunakan, para teolog juga perlu memerhatian beberapa watak yang dimiliki oleh Teologi Perjanjian Lama. Pertama, Teologi Perjanjian Lama perlu dilepaskan dari sifat pengajaran/kerygmatic sehingga fokus dari Perjanjian Lama bukanlah terhadap disiplin ilmu teologi melainkan pada Firman Allah. Kedua, setiap bagian dalam Perjanjian Lama memiliki sifat dan karakter yang kaya dan beragam. Ketiga, Teologi Perjanjian Lama merupakan disiplin ilmu yang menggunakan pendekatan sejarah. Dari ketiga watak tersebut, kemudian muncul empat pendekatan utama yang sering digunakan pada periode saat ini. Empat pendekatan itu adalah:

  1. Pendekatan tipe struktural. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan cara mendeskripsikan kerangka berpikir Perjanjian Lama dengan menggunakan disiplin-disiplin ilmu lain seperti Teologi Sistematika, Sosiologi atau disiplin ilmu lainnya yang saling berhubungan dan memengaruhi.
  2. Pendekatan tipe diakronik. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan cara menyusun setiap kesaksian dan kisah-kisah sejarah Israel yang terekam dalam berbagai sumber yang beragam.
  3. Pendekatan tipe leksikografis. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan cara menginvestigasi setiap perkataan dan keadaan kelompok tertentu yang disebutkan di dalam Perjanjian Lama.
  4. Pendekatan tipe tema biblika. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan meneliti teks bukan sekadar redaksionalnya saja melainkan mencari tahu tema yang membangun teks tersebut.

Teologi Perjanjian Lama di Indonesia

Buku-Buku Teologi Perjanjian Lama di Indonesia

Sampai tahun 1969 sebenarnya Indonesia belum memiliki Teologi Perjanjian Lama yang dibuat berdasarkan konteks Indonesia hingga pada akhirnya anak dari teolog terkenal Karl Barth yakni Christoph Barth menyusun sebuah buku Teologi Perjanjian Lama untuk Indonesia yang sebenarnya merupakan kompilasi dari bahan-bahan kuliah yang ia berikan di STT GKE di Banjarmasin dan STT Jakarta. Teologi yang dihasilkan oleh Christoph Barth sangat terpengaruh dari Teologi Perjanjian Lama yang disusun oleh Gerhard von Rad. Salah satu pernyataan yang terkenal dari von Rad adalah pernyataan bahwa Teologi Perjanjian Lama tidak memiliki pusat. Selain itu, von Rad juga menempatkan Teologi Perjanjian Lama sebagai sebuah konsep teologi yang dibangun berdasarkan pekerjaan-pekerjaan Allah sehingga Teologi Perjanjian Lama yang dihasilkan tidak memberi ruang sama sekali terhadap isu-isu yang dianggap tidak termasuk dalam pekerjaan Allah seperti hikmat lokal, keberadaan agama suku, keberadaan agama-agama lain dan sebagainya.

Metode yang diperkenalkan oleh von Rad ternyata tidak dapat dikembangkan dengan baik di Indonesia karena Indonesia adalah negara yang beragam.[1] Oleh karena itu pada tahun 2003, istri dari Christoph Barth yakni Marie-Claire Barth-Frommel merevisi Teologi Perjanjian Lama yang dihasilkan oleh suaminya. Pada edisi revisi ini, Marie-Claire Barth-Frommel menempatkan keberadaan pihak lain (yang awalnya dianggap sebagai pihak-pihak yang tidak termasuk dalam karya Allah) sebagai rekan untuk berdialog dengan tujuan memberikan motivasi kepada para pembaca untuk mewujudkan keadaan masyarakat yang adil dan manusiawi.


[Sumber:wikipedia]


Perjanjian Baru

Perjanjian Baru (bahasa Yunani Koine: Ἡ Καινὓ Διαθήκη, Hē Kainįø• Diathįø—kē), atau biasa disingkat PB, merupakan bagian utama kedua kanon Alkitab Kristen, yang bagian pertamanya adalah Perjanjian Lama (PL) yang utamanya didasarkan pada Alkitab Ibrani. Perjanjian Baru berbahasa Yunani ini membahas ajaran-ajaran dan pribadi Yesus, serta berbagai peristiwa dalam Kekristenan pada abad ke-1. Umat Kristen memandang PB bersama-sama dengan PL sebagai kitab suci. PB (baik sebagian maupun secara keseluruhan) telah sering kali menyertai penyebaran agama Kristen di seluruh dunia. Selain itu PB juga dianggap mencerminkan dan berfungsi sebagai suatu sumber bagi moralitas dan teologi Kristen. Berbagai frase dan bacaan yang diambil langsung dari PB juga dimuat (bersama dengan bacaan-bacaan dari PL) ke dalam beragam liturgi Kristen. PB telah mempengaruhi berbagai gerakan keagamaan, filosofis, dan politik dalam dunia Kristen.

Perjanjian Baru merupakan sebuah antologi, yakni koleksi karya-karya Kristiani yang ditulis dalam bahasa Yunani yang umum digunakan pada abad pertama, pada waktu yang berbeda-beda oleh berbagai penulis yang adalah murid-murid Yahudi pertama kali dari Yesus. Dalam hampir semua tradisi Kristen masa kini, PB meliputi 27 kitab. Teks-teks aslinya dituliskan pada abad pertama dan mungkin abad kedua Era Kristen, dan secara umum diyakini tertulis dalam bahasa Yunani Koine, yang mana merupakan bahasa umum (lingua franca) di Mediterania Timur mulai dari masa Penaklukan Aleksander Agung (335–323 SM) sampai evolusi dari bangsa Yunani Bizantium (ca. 600 M). Semua karya yang pada akhirnya tergabung dalam PB ini tampaknya dituliskan paling akhir ca. 150 M, dan beberapa akademisi menganggapnya tidak lebih dari 70 M atau 80 M.

Koleksi teks-teks terkait seperti surat-surat dari Rasul Paulus (suatu koleksi utama yang telah ada pada awal abad ke-2) dan Injil kanonik dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes (ditegaskan oleh Ireneus pada akhir abad ke-2 sebagai Keempat Injil) secara bertahap bergabung dengan karya tunggal dan koleksi lainnya dalam beragam kombinasi yang berbeda untuk membentuk berbagai kanon Kitab Suci Kristen. Seiring berjalannya waktu beberapa kitab yang diperdebatkan seperti Kitab Wahyu dan beberapa Surat-surat Umum dimasukkan ke dalam kanon, yang mana pada awalnya karya-karya ini tidak dianggap sebagai Kitab Suci. Karya-karya lainnya yang pada awalnya dianggap sebagai Kitab Suci, seperti 1 Klemens, Gembala Hermas, dan Diatessaron, tidak dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru. Kanon Perjanjian Lama tidak sepenuhnya seragam di antara semua kelompok Kristen utama seperti Katolik Roma, Protestan, Ortodoks Yunani, Ortodoks Slavia, dan Ortodoks Armenia. Namun demikian kanon Perjanjian Baru yang berisikan 27 kitab ini, setidaknya sejak Abad Kuno Akhir, telah diakui hampir secara universal dalam Kekristenan (lihat: Perkembangan kanon Perjanjian Baru).

Perjanjian Baru memuat:

Kitab-kitab

Dalam naskah-naskah kuno sampai abad ke-5, kitab-kitab ini terbagi atas 4 bagian, untuk memudahkan penggunaan, di mana kitab Kisah Para Rasul selalu digabung dan ditempatkan sebelum surat-surat umum.


Empat Unit Literatur Perjanjian Baru



Injil

  • Matius - Menceritakan kisah Yesus dari segi sebagai Mesias, Raja orang Israel. Injil ini penuh dengan penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama.
  • Markus - Menceritakan kisah Yesus dari segi sebagai Hamba.
  • Lukas - Mempresentasikan Yesus sebagai Anak Manusia yang datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang.
  • Yohanes - Mempresentasikan Yesus sebagai Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, Kristus, yang berarti, Yang Diurapi.

Kisah Para Rasul

Surat-surat

Surat-surat Paulus

  • Roma - Penelaahan yang sistematis atas pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Menelaah rencana Allah atas orang Yahudi maupun non-Yahudi.
  • 1 Korintus - Surat ini menyoroti perpecahan dalam jemaat dan teguran atas pelanggaran susila, masalah mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak beriman, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam Perjamuan Kudus. Juga menyinggung tentang penyembahan berhala, pernikahan, dan kebangkitan.
  • 2 Korintus - Pembelaan Paulus atas kerasulannya.
  • Galatia - Paulus membuktikan kesalahan dari legalisme (menganggap Hukum Taurat sebagai mutlak dalam memperoleh keselamatan) dan menelaah mengenai tempat yang layak bagi anugrah di dalam kehidupan orang-orang Kristen.
  • Efesus - Posisi orang percaya di dalam Kristus dan informasi mengenai peperangan rohani.
  • Filipi - Paulus membicarakan tentang pemenjaraannya, kasihnya kepada jemaat di Filipi. Ia mendesak mereka ke arah kesalehan dan memperingatkan mereka akan bahaya legalisme.
  • Kolose - Paulus memfokuskan pada keutamaan Yesus Kristus dalam penciptaan, penebusan, dan kekudusanNya.
  • 1 Tesalonika - Pelayanan Paulus kepada jemaat Tesalonika. Pengajaran mengenai kesucian dan menyinggung tentang kembalinya Kristus untuk yang kedua kalinya.
  • 2 Tesalonika - Koreksi-koreksi atas pendapat yang salah mengenai Hari Tuhan.
  • 1 Timotius - Instruksi-instruksi kepada Timotius mengenai kepemimpinan yang benar dan cara-cara menghadapi ajaran sesat, peranan wanita dalam gereja, doa, dan syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken.
  • 2 Timotius - Sepucuk surat untuk menguatkan Timotius.
  • Titus - Paulus meninggalkan Titus di Kreta guna menggembalakan gereja-gereja di sana. Syarat-syarat menjadi penatua gereja dan penilik jemaat.
  • Filemon - Sepucuk surat kepada seorang tuan mengenai budaknya yang melarikan diri. Permohonan Paulus kepada Filemon supaya mengampuni Onesimus, budaknya.
  • Ibrani - Sepucuk surat kepada jemaat Kristen Yahudi yang sedang di ambang kembali memeluk Yudaisme. Surat ini menunjukkan keunggulan Kristus dibandingkan dengan sistem Perjanjian Lama. Menyinggung juga tentang keimaman Melkisedek. Penulis tidak diketahui. Beberapa pakar menilai dari gaya tulisannya bahwa penulisnya adalah Paulus, namun karena kurangnya bukti selain gaya penulisan, maka pakar lain memilih untuk tidak berpendapat.

Surat-surat umum

  • Yakobus - Ajaran tentang hubungan antara iman dan perbuatan.
  • 1 Petrus - Surat ini untuk menguatkan penerima suratnya dalam penderitaan mereka dan agar mereka tetap rendah hati.
  • 2 Petrus - Membicarakan mengenai batin tiap pribadi, peringatan mengenai ajaran palsu, dan menyinggung mengenai Hari Tuhan.
  • 1 Yohanes - Surat yang memperingatkan jemaat terhadap ajaran-ajaran sesat pada permulaan sejarah Gereja.
  • 2 Yohanes - Puji-pujian untuk mereka yang berjalan di dalam Kristus dan sebuah peringatan untuk tetap berjalan di dalam kasih Allah.
  • 3 Yohanes - Yohanes berterimakasih kepada Gayus atas kebaikannya terhadap jemaat Allah dan menegur Diotrefes.
  • Yudas - Mengekspos guru-guru palsu dan menggunakan ibarat-ibarat dalam Perjanjian Lama dalam melukiskan penghakiman atas mereka. Nasihat-nasihat untuk meneguhkan iman.

Ketujuh surat terakhir disebut surat-surat umum.

Kitab Wahyu

  • Wahyu - Kitab eskatologi yang dikirimkan kepada jemaat-jemaat yang mengalami penganiayaan oleh pemerintah Roma dan anjuran agar mereka tetap setia di dalam iman mereka.

Naskah-naskah awal 

Rylands Library Papyrus P52 umumnya dianggap sebagai saksi tertua yang masih ada untuk teks Perjanjian Baru, dibuat antara tahun 117 dan 138 Masehi.

Beberapa naskah penting yang berisi teks awal dari kitab-kitab dalam Perjanjian Baru misalnya:



[Sumber: wikipedia]


Tuesday, June 12, 2012

Sejarah Kitab Kitab Suci Kristen Tuesday, June 12, 2012

Secara teritorial, pada tahun 284 M. kaisar Diocletian menghasilkan keputusan strategis untk membagi kekaisaran Romawi dalam dua teritori dengan penguasanya sendiri-sendiri, untuk alasan keamanan dan kemudahan administrasi. Penyatuan kekaisaran dilakukan kembali oleh Konstantin setelah ia mengalahkan penguasa Romawi Timur, tetapi kemudian terbagi lagi pada tahun 392 M. saat Theodosius I membagi kembali teritori kekuasaan Kekaisaran kepada dua anaknya yang masih kecil, wilayah timur untuk anaknya Arcadius yang masih berumur 18 tahun, dan bagian barat kepada Honorius yang masih berumur 10 tahun. Tindakan ini menandakan awal kehancuran kekaisaran Romawi. Gereja Barat dikepung dan oleh bangsa barbar, sedangkan Gereja Timur akan menghadapi tekanan dari Kerajaan Persia dan Muslim.

Kembali pada masa kekuasaan Konstantin, Pada masa awal pertumbuhan kekristenan, paska digelarnya konsili nikea, polarisasi antara gereja wilayah Romawi barat dan timur mulai meruncing. Pada dasarnya perbedaan utama kedua gereja tersebut terletak pada kecenderungan mereka terhadap penerimaan baik paham Arian maupun Athanasius. Gereja barat yang dimotori kekaisaran dapat menerima sepenuhnya kredo Nikea yang dipengaruhi pemikiran Tertullian dan Athanasius. Sedangkan di pihak lain gereja Timur lebih dipengaruhi Arian dan pemikiran Origen bahwa anak (Yesus) lebih rendah dari Bapak. Pendukung doktrin Arian terutama adalah Kaisar Konstantin dan anak-anaknya. Nantinya, Gereja Timur akan berpusat di Konstantinopel, Byzantium, kota yang didirikan oleh Konstantin tahun 330 M. dan menjadi Ibu Kota Romawi guna menggantikan teritori barat yang semakin terancam bangsa barbar.

Konsili Nikea tidak berhasil meredam kekisruhan antar pengikut Kristen, hal ini sangat dirisaukan Konstantin. Konsensus tidak berhasil ditemukan dan Konstantin mendesak agar Athanasius mau berunding kembali, sayangnya pendirian Athanasius terlalu kuat untuk menerima tawaran tersebut. Hal ini membuat sang kaisar putus asa. Ia dan penerusnya menganggap Athanasius sebagai pembuat masalah. Pada tahun 330, sang Kaisar memanggil kembali Arius dan kawan-kawan yang telah diasingkan oleh keputusan Nikea. Ia ingin mengembalikan nama Baik Arius dan pendukungnya. Usaha Konstantin ini didukung oleh Eusebius dari Nicomedia dan Origen, pendukung setia faksi Arius, yang juga haus akan balas dendam terhadap pendukung doktrin Nikea, khususnya Athanasius.

Tindakan paling nekat mereka adalah menyerang Athanasius yang saat itu menjabat sebagai uskup Alexandria menggantikan Alexander. Ia dikeluarkan dari kantornya berdasarkan keputusan Konsili Tyre di tahun 335 M. Dan kemudian dibuang ke Gaul. Tetapi Athanasius adalah orang yang keras kepala dan selalu berusaha untuk pulang kembali ke Alexandria. Bahkan pengusiran Athanasius dari Alexandria sempat dilakukan oleh 6 kaisar yang berbeda. Kebebalan Athanaius sangat dikenal saat itu hIngga sempat muncul frase “Athanasius contra mundum” atau Athanasius melawan dunia. Di tahun yang sama, Arius dan kerabatnya diijinkan untuk mendapat komuni Gereja di konsili Yerusalem. Tetapi semua ini tetap tidak dapat meyakinkan para penatua di Alexandria untuk menerima Arius sepenuhnya. Konstantin selajutnya memanggil Arius ke Konstantinople pada 336 M., dan memerintahkan Alexander, uskup kota tersebut untuk mengijinkan Arius memasuki gereja kota tersebut. Tetapi sebelum hal itu tewujud, Arius keburu tewas akibat penyebab yang misterius, beberapa mencurigai kalau ia diracuni. Beberapa pihak mencurigai bahwa rival Arius berada di balik kematian ini. Konstantin menyusul kematian Arius tidak lama setelahnya.

Walaupun doktrin Arian mungkin akan dirasakan asing oleh umat Kristen awal-generasi Yakobus. Ia mungkin masih memiliki beberapa kesamaan dalam memandang posisi Yesus yang lebih rendah dari Bapa. Bertentangan dengan pandangan kebanyakan, yang menganggap Gereja Barat dengan pusatnya Roma sebagai asal mula penyebaran Kristen, Gereja Timur ternyata memiliki konsep-konsep kekristenan yang lebih tua. Perlu diingat bahwa Penyebaran Kristen awal dimulai di Jerusallem oleh dewan rasul, bukan di Roma. Konsep Kristen Gereja Barat lebih terpengaruh oleh pemikiran Paulus dan pagan Romawi.

Kematian Konstantin mengantar salah satu anaknya, Konstantius, kaisar romawi Timur beserta kalangan terdekatnya untuk tetap mendukung perkembangan doktrin Arius. Saudaranya, Constans yang menguasai gereja barat mendapat dukungan dari faksi konsili Nikea. Kemudian terjadilah berbagai intrik dan pesaingan untuk memperebutkan kekuasaan. Berbagai konsili berbau politik diadakan oleh kedua belah pihak untuk menyerang satu sama lain. Constans meninggal di tahun 350 M., dan dua tahun kemudian sebagianbesar daerah kekuasaanya dikuasai oelh saudaranya, Konstantinus. Peristiwa ini merupakan pukulan telah bagi faksi Nikea. Sang Kaisar merupakan pendukung Arianisme sejati, dan memperlakukan pendukung faksi Nikea dengan penuh kekejaman untuk memasukan mereka ke dalam paham Arian. Sejarah Kristen dalam era Konstantinus dikenal sebagai periode yang kelam. Kaum Arian akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas segala perlakuan yang merek dapat paska doktrin Nikea diberlakukan.

Kematian Konstantinus di tahun 362 M. Menandakan berakhirnya masa keemasan Arianisme. Penggantinya, Julianus tidak memiliki pendirian di antara baik paham Arian maupun Ortodoksi Nikean. Julianus adalah seorang Pagan sejati. Selanjutnya Jovian mendukung sentimen ortodox dan menentang Arianisme, akibatnya seluruh bagian Barat mengikuri pandangannya dan kembali mempercayai doktrin Nikea. Tetapi keandaanya mulai berubah saat dua bersaudara Valentinian dan Valens, memasuki kekuasaan tahun 364 M.. Valentinian mendukung keputusan Nikea dan menghabisi seluruh gereja Arian di barat. Bersebrangan dengannya, Valens mengambil posisi Arianisme dan menyerang penyebaran ortodksi di bagian Timur.

Sayangnya sang Kaisar terburu menghadapi perang dengan bangsa Goth di tahun 378 M., Gratian, yang menggantikan Valentinian di Barat, di tahun 376, menjadi penguasa seluruh kekaisaran di tahun 378 - mengembalikan posisi ortodoks ke atas angin. Selanjutnya Theodosius Agung, dengan melarang penyebaran Arianisme di gereja-gereja dan mengeluarkan peraturan yang membatasi gerak Arianisme, menghasilkan kejayaan Doktrin Nikea di mana-mana. Tidak ada yang berani mengexpresikan pandangan Arianisme kecuali Bangsa Barbar seperti Goth, Vandal, dan Burgundy. Tampaknya sejarah persaingan antar faksi yang penuh kekerasan ini belum bisa berakhir, dengan tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan atas kesalahan terbesar. Tahun 382 Konsili Konstantinopel digelar oleh pendukung Athanasius dan berhasil menguatkan posisi ortodoks. Sayangnya kemenangan ini tidak sempat disaksikan Athanasius.

Kaum Arian akan memiliki posisi yang lebih kuat seandainya mereka tidak saling bertikai di dalam faksi mereka sendiri. Sebagaimana diketahui, setelah putusan Nikea diberlakukan, kaum Arian terbagi atas berbagai sekte yang masing-masing darinya mengklaim kebenaran. Beberapa bahkan sudah melenceng jauh dari pemikiran Arius yang sebenarnya. Kaum Arian yang berusaha menafsirkan sendiri pemikiran Arius cenderung memasuki kesalahan yang sama. Terdapat tiga faksi utama dalam tubuh Arianisme, yang pertama adalah Anomeans, yang menekankan perbedaan antara Bapa dan Anak; Homeans, yang menyiratkan kesamaan antara anak dan Bapa “berdasarkan kesesuaian kitab suci”, dan Semi-Arians, yang menekankan istilah homoiousion, yang mengexpresikan baik kesamaan dan perbedan antara Bapa dan Anak.

Di abad kelima, kaum Arian yang semakin tertekan oleh perlakukan Kekaisaran, mengungsi kepada bangsa-bangsa Barbar yang lambat laun mulai menguasai Romawi barat. Mereka menemukan tempat di antara kaum Goth, Heruli, Suevi, Vandals, dan Burgundy. Setelah merasa aman, mereka kemudian memperlakukan kaum ortodoks dengan kekejaman yang hampir sama dengan yang pernah mereka dapatkan. Kaum Vandal, yang menancapkan kekuasaan di Afrika, turut memberlakukan kebijakan yang sama terhadap pendukung Nikea. Awalnya Ginseric, raja mereka, dan kemudian Huneric, anaknya, menghancurkan gereja-gereja dan membuang uskup-uskupnya ke pengasingan, dengan dasar perlakukan tersebut serupa dengan yang pernah dilakukan Kaisar terhadap kaum Donatik, Arian, dan lainnya yang dianggap menyimpang dari ajaran ortodoks.

Di awal abad keenam, kaum Arian berjaya di sebagian Asia, Eropa, dan Afrika. Banyak dari uskup Asia yang mendukung Arianisme. Kaum Vandal di Afrika, Goth di Italia, kaum Gaul, babgsa Suevi, Burgundy, dan Spaniard dengan terbuka menyokong kepercayaan Arianisme mereka. Kaum Yunani yang sempat mendukung doktrin Nikea turut memperoleh kekerasan dimanapun mereka berada. Dalam periode yang disebut sebagai abad kegelapan di Eropa ini, kekerasan antara Arian dan Ortodoks terjadi seakan tidak pernah berhenti dan selalu berulang. Hingga kemudian Justinian berkuasa dan merestorasi keadaan. Ia berhasil mengusir kaum Vandal dari Afrika dan Goth dari Italia. Akhirnya beberapa raja penganut Arian, seperti Sigismund, raja Burgundy, Theodimir-Raja Suevi di Lusitania, dan Receared, raja Spanyol, tanpa penumpahan darah mengakui pelepasan meeka dari doktrin Arian. Entah ada alasan apa di balik peristiwa tersebut, tetapi efeknya sejak itu, Kaum Arian mulai sedikit demi sedikit melemah dan tidak pernah memperoleh kekuatan yang sama lagi.

Dalam hal penggunaan kitab Suci, Saat gereja barat tengah menuju persetujuan dalam penentuan canon Perjanjian Baru, Gereja timur masih belum sepenuhnya sepakat dalam hal tersebut. Penyebabnya antara lain, Gereja timur mencakup wilayah yang lebih heterogen, mulai dari Syria, Turki (Byzantium) hingga Mesir. Sebelumnya gereja di wilayah-wilayah tersebut sudah memiliki pilihan canon kitab suci masing-masing. Gereja Syria contohnya, walaupun sempat menggunakan canon Tatian selama beberapa waktu, pada abad keempat seluruh naskah Diatessaron dimusnahkan oleh perintah Uskup Theodoretus dari Cyrrhus dan Rabbula dari Edessa. Mereka menggantikannya dengan empat Injil yang terpisah. Pada abad kelima, gereja Syria menggunakan Pesshita yang berisi seluruh kitab Perjanjian Baru kecuali surat II dan III Johannes, II Petrus, Yudas, dan kitab Wahyu. Beberapa aliran gereja timur masih menggunakan canon tersebut hingga saat ini. Tetapi secara keseluruhan, konsep kristianitas versi Paulus yang menyebar pesat di barat mengelami penerimaan yang lebih lambat di kawasan ini.

Selanjutnya sebagai pengingat, ada pula gereja Afrika (Koptik) yang berpusat di Alexandria. Dalam hal penggunaan kitab suci, gereja ini sangat dipengaruhi pemikiran Clement dari Alexandria. Contohnya gereja ini mengakui dua surat Clement sebagai bagian dari kitab suci. Gereja aliran lain yang berpusat di Ethiopia bahkan menggunakan kitab-kitab tak dikenal seperti Sinodos (kumpulan doa yang dianggap sebagai karya Clement dari Roma), Octateuch (dianggap ditulis Petrus kepada Clement dari Roma), Kitab Perjanjian (berisikan instruksi Yesus sebelum peristiwa kenaikan), dan Didascalia (lebih seperti Didache yang berisikan peraturan-peraturan gereja). Naskah tertua yang pernah ditemukan saat ini merupakan naskah yang berasal dari keluarga Alexandria, tidak lain adalah codex Sinaiticus yang turut memuat kitab Hermas dan surat Barnabas. Membuktikan bahwa pada abad keempat masih ada gereja yang tidak menggunakan canon resmi.

Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa gereja barat lebih sepakat dalam menentukan canon, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan politik dan sosial pasca-Nikea. Contohnya saat Athanasius melarikan diri dari tekanan gereja timur (yang masih menganut Arianisme), ia malah mendapatkan tanggapan yang baik di gereja barat. Sinode Carthage merupakan penentu akhir kontroversi canonisasi, dan setelah itu hampir-hampir tidak ada revisi terhadap Perjanjian Baru. Gereja Katolik tidak segera meresmikan susunan Bible hingga tanggal 8 April 1546, di mana konsili Trent terpaksa diadakan akibat tekanan politik. Gereja Katolik akhirnya mengakui Bible yang berisi 73 kitab sebagai bacaan utama mereka. Keputusan ini mengakibatkan perbedaan dengan aliran Protestan yang hanya menggunakan Bible yang berisi 66 kitab.

Pihak Protestan menyebut 7 kitab tambahan yang digunakan Katolik sebagai apokrip, sedangkan Martin Luther walaupun tidak secara terbuka menolak keotentikan beberapa surat dalam Perjanjian Baru, kadang ia menempatkan beberapa surat dalam derajat yang rendah dibandingkan dengan surat lainnya. Seperti Marcion, ia menempatkan surat–surat Paulus dalam derajat utama dan harus dianggap sebagai sumber keterangan utama mengenai ajaran Kristen. Surat lainnya seperti Yudas, Yakobus, dan Petrus (Catholic Epistles) ia tempatkan pada derajat yang lebih rendah karena menyiratkan pertentangan terhadap ajaran Paulus.

Hingga kini dapat kita simpulkan bahwa kanonisasi Perjanjian Baru tidak pernah didasarkan atas pertimbangan literal atau historis, melainkan lebih atas dasar konsensus di antara gereja-gereja masa lampau. Akibatnya seperti yang bisa ditemukan saat ini, berupa banyaknya kontradiksi ditemukan di antara kita-kitab Perjanjian Baru. Martin Luther yang menyadari adanya pertentangan ajaran Paulus dalam beberapa surat akhirnya harus menempatkan beberapa surat dalam derajat yang berbeda. Belum lagi dengan ditemukannya berbagai keraguan atas keotentikan kitab-kitab tertentu di abad pasca-pencerahan yang menambah keraguan terhadap kredibilitas para Bapak Gereja awal dalam memproses canonisasi Perjanjian Baru.

Beberapa naskah kuno yang selama ini diungkap bahkan seakan membuka mata kita bahwa selama ini terdapat berbagai bacaan lain di luar Perjanjian Baru yang dianggap sebagai tulisan suci oleh gereja-gereja di abad awal. Masalah hilangnya beberapa bacaan tersebut dari sejarah, kita dapat menyalahkannya pada tindakan-tindakan gereja pada masa sesudahnya yang sangat protektif.

[Sumber: Sejarah Kekristenan Awal]

Wednesday, February 15, 2012

Mengenal Naskah-Naskah Alkitab Menurut Pemahaman Kristen Wednesday, February 15, 2012


TEKS MASORIT
Teks Alkitab yang kita miliki kerap kali adalah Tulisan-tulisan tangan  (- Tulisan tangan salinan Alkitab), terjemahan-terjemahan yang merupakan  sebuah hasil proses sastera selama ratusan tahun. Teks asli Alkitab sudah hilang. Teks Alkitab yang asli pada umumnya diwariskan oleh para pengarang kepada kita tanpa perubahan yang hakiki.

Teks Alkitab dari PERJANJIAN LAMA
Saksi yang paling penting mengenai Teks Alkitab Ibrani adalah teks Masorit. Teks itu merupakan sebuah hasil karya para Masorit, yaitu para pengkritik naskah Yahudi (yang bekerja antara tahun 750-1000 sesudah masehi.). Mereka adalah orang-orang yang menyanggupkan diri untuk memikul tugas untuk menetapkan naskah Alkitab menurut orthografinya ( penentuan konsonan-konsonan dan huruf hidup yang ditulis dalam KITAB SUCI), menurut ungkapannya dan bagaimana perkembangannya sampai pada ketentuan yang terakhir. Penelitian yang ketat itu mereka lakukan dengan maksud untuk melindungi KITAB SUCI, agar tidak ada perubahan yang tersisip di dalamnya.

Sekarang sudah dapat dipastikan, bahwa teks Alkitab Ibrani mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis mempunyai tanda-tanda tetap untuk menulis konsonan-konsonan sejak tahun 100 sesudah masehi. Teks Alkitab pada saat itu pada garis besarnya dapat dikatakan identik dengan teks Masorit. Tetapi juga kelihatan jelas, bahwa di banyak tempat digunakan sebuah teks Ibrani oleh para - Septuaginta, yang menyimpang cukup jauh dari Naskah Masorit, bukan hanya dalam soal-soal kecil, melainkan juga dalam pengaturan dan tambahan-tambahannya. Cetakan ketiga dari Biblica Hebraica, yang diterbitkan Kittel (1937) dan teks yang sedang diterbitkan, Biblica Hebraica Stuttgartensia adalah edisi teks Masorit yang paling baik.

Teks Alkitab dari PERJANJIAN BARU
Jumlah tulisan tangan yang banyak sekali mengenai Alkitab, diatur menurut kelompok-kelompok tertentu. Tiap kelompok mempunyai coraknya sendiri. Orang tahu akan adanya kelompok Alexandria (B), kelompok Eropa (D), kelompok Antiokhia (A, atau disebut juga "koine"). Sejak abad 19 telah diterima secara merata, bahwa kelompok B itu paling dekat dengan teks aslinya. Tetapi kelompok A lebih dipakai dalam tradisi tulisan di waktu kemudian. Kelompok A menjadi bentuk percontohan pada Teks Alkitab yang disahkan kembali di waktu berikut, bahkan menjadi dasar untuk penerbitan-penerbitan yang pertama.

TEKS  SEPTUAGINTA (LXX)
Terjemahan tertua dan terpenting dari PERJANJIAN LAMA ke dalam bahasa Yunani. Nama Septuaginta berasal dari legenda yang diwariskan dalam  surat Aristeas. Di dalam legenda itu disebutkan bahwa 72 orang Yahudi menyelesaikan terjemahannya selama 72 hari.

ASAL DAN SEJARAH
Septuaginta dibuat di  Aleksandria untuk memenuhi kebutuhan  orang  Yahudi diaspora (kelompok-kelompok kecil yang disingkirkan) yang berbicara bahasa Yunani. Semula diterjemahkanlah - Pentateukh (5 kitab Musa, pertengahan abad 3 sebelum masehi.), kemudian secara lambat laun diterjemahkan pula Kitab-kitab PERJANJIAN LAMA lainnya (sampai menjelang tahun 100 sebelum masehi.). Terjemahan Septuaginta segera digunakan menjadi Alkitab resmi dalam Yudaisme helenis di dalam sinagoga-sinagoga.

Para penulis PERJANJIAN BARU lebih suka mengutip PERJANJIAN LAMA dari naskah terjemahan itu. Setelah hancurnya Yerusalem, kewibawaan Septuaginta diserang oleh orang-orang Yahudi sendiri. Padahal sampai saat itu Septuaginta tidak pernah mengalami serangan demikian. Di dalam perdebatannya dengan orang-orang Kristen, orang Yahudi meragukan kesetiaan penterjemahan naskah Ibrani oleh kelompok Septuaginta (misalnya: Kitab Yesaya 7:14; dan Kitab Mazmur 95:10).  Kecuali itu isi daripada Septuaginta tidak cocok dengan  Kanon (kumpulan kitab-kitab) seperti yang di tetapkan oleh Yudaisme (90/95 sesudah masehi). Akhirnya naskah Septuaginta tidak bisa mencukupi kebutuhan sekolah Rabi Akiba. Dari situlah timbul terjemahan baru bagi orang-orang Yahudi helenis dalam abad kedua (Akwila, Theodotion, Syamkhus;  Terjemahan-terjemahan Alkitab I.1. b-d).

Mengenai sejarah Septuaginta di dalam gereja Kristen sebelum Origenes sedikitlah yang diketahui.  Sekitar tahun 200 naskah Septuaginta sudah begitu rusak, sehingga Origenes berusaha meniadakan perbedaan yang telah terjadi dengan membuat Heksapla ( naskah Ibrani dan terjemahan-terjemahan Yunani dalam 6 kolom yang sejajar) dan memulihkan kembali naskah-naskah aslinya.  Heksapla dan usaha di waktu berikut untuk memperbaiki naskah menimbulkan adanya resensi-resensi dan bentuk-bentuk naskah yang lain lagi.

NILAI TERJEMAHAN
Septuaginta itu tidak membentuk sebuah kesatuan, sehingga nilai  terjemahan tiap kesatuan itu berbeda jauh; Misalnya: Pentateukh (5 kitab Musa)  diterjemahkan dengan baik sekali. Kitab Yesaya dan para Nabi Kecil diterjemahkan secara jelek sekali. Kitab Dan lebih baik dikatakan sebuah saduran bebas daripada sebuah terjemahan.  Tetapi terjemahan Septuaginta masih tetap tidak dirubah-rubah sejak adanya usaha mempersatukan  naskah-naskah Alkitab pada abad pertama/kedua.  Dari segi pandangan lain Septuaginta adalah hasil usaha Kristen untuk mempersatukan naskah karena adanya maksud liturgis.  Penemuan Kitab-kitab Suci di  Kumran menyatakan, bahwa pada abad terakhir sebelum masehi. ada sebuah bentuk naskah Ibrani yang beredar dan dekat sekali bentuknya dengan naskah Septuaginta.  Setiap perbedaan naskah harus diperiksa sendiri-sendiri; Misalnya: di dalam memberi huruf vokal pada nama-nama pribadi, kelihatan, bahwa Septuaginta lebih baik daripada naskah Masorit yang kita miliki (yang lebih muda).

TULISAN TANGAN DARI KUMRAN
Di dalam musim semi 1947 ada gembala-gembala yang menemukan "gulungan" yang pertama. Tempatnya di padang gurun Yehuda, 3 km di sebelah utara en Feskha dan dekat dengan puing-puing sebuah bangunan besar di sebelah utara pantai Laut Mati. Orang-orang Arab menamakan puing-puing itu Khirbet Kumran. Di kemudian waktu naskah-naskah lain ditemukan di wadi Murrabba'at sejauh 18 km barat-daya dari Khirbat Kumran dan ada tambahan penemuan lagi di Khirbet Mird. Setelah gurun itu diselidiki secara sistematis ditemukanlah naskah-naskah (kebanyakan berbentuk fragmen-fragmen) yang berada di dalam 11 gua.

Publikasi dari keseluruhan bahan itu masih akan makan waktu bertahun-tahun. Penyelidikan arkeologis (1952-1956) telah memastikan, bahwa di Khirbet Kumran ditemukan pusat satu-satunya "perserikatan Kumran" (oleh kebanyakan para penyelidik, perserikatan itu disamakan dengan gerakan  Esseni). Sebuah ekspedisi Israel menemukan naskah-naskah Alkitab maupun profan di dalam (wadi) Nahal Heber dan di  Masada, sebuah benteng di lereng timur pegunungan Yehuda di dekat Laut Mati, tidak jauh dari En-gedi. Terletak pada suatu dataran tinggi padas yang curam. Diperluas secara megah oleh Herodes dan menjadi tempat pertahanan terakhir dalam perang Yahudi melawan Roma (66-73 sesudah Masehi). Di situ antara lain ditemukan surat-surat dari Bar Kokhba pada saat perang kemerdekaan Yahudi yang kedua (132-135;  Papiri, yaitu tanaman pandan-air yang tersebar luas di zaman Mesir kuno (Kitab Keluaran 2:3) dan kini sudah jarang lagi tumbuh. Tanaman itu dipakai untuk anyaman (Kitab Keluaran 2:3), untuk pembuatan perahu (Kitab Yesaya 18:2) dan terutama sebagai  bahan untuk menulis (kata "paper" = kertas). Dari batang yang ditaruh dalam bentuk tumpang-silang, orang mengepres dan membuatnya halus, sehingga timbullah lembaran-lembaran yang dilem menjadi gulungan.).

TULISAN ALKITAB.
Tulisan tangan yang paling penting adalah gulungan Yesaya yang hampir lengkap. Gulungan itu ditemukan pada tahun 1947 dan diumumkan pada tahun 1950. Di samping itu masih ada sebuah naskah Alkitab dengan komentar atas Habakuk 1-2. Gua tempat menyimpan fragmen-fragmen semua Kitab PERJANJIAN LAMA-Ibrani dengan pengecualian Ester. Dalam gua 11 ditemukan sejumlah sisa besar sebuah gulungan Mazm., yang saat ini merupakan tulisan Alkitab yang nomor dua besarnya. Gua-gua lainnya memuat fragmen-fragmen Alkitab yang lebih kecil. Hukum (terutama kitab Ulangan.), Yesaya. dan Mazmur., termasuk penemuan yang paling besar. Di dalam "perserikatan Kumran" kitab-kitab itu barangkali merupakan bagian kitab-kitab yang paling disayangi.

Titik tanggal yang pasti merupakan masalah yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan Alkitab. Kini rasanya seperti sudah pasti, bahwa kebanyakan buku-buku Alkitab berasal dari dua abad terakhir sebelum masehi., atau dari abad pertama sesudah masehi. Penyelidikan tentang keadaan penemuan itu memberi petunjuk bahwa buku-buku itu ditaruhkan dalam gua-gua tadi pada tahun atau bahkan sebelum tahun 68 sesudah masehi. Barangkali beberapa di antaranya berasal dari abad 1 atau 2 sebelum masehi. Beberapa fragmen lainnya mungkin tergolong lebih tua (abad 3 atau 4 sebelum masehi).

Tulisan-tulisan tangan dari Kumran memberikan sebuah Naskah Alkitab yang ditulis seribu tahun lebih tua daripada kodeks-kodeks Ibrani yang kita miliki sebelum penemuan itu. Meskipun demikian naskahnya itu di dalam keseluruhannya tidak lebih baik daripada naskah Masorit. Dengan demikian terbuktilah bahwa naskah Masorit pada hakekatnya termasuk jauh lebih tua daripada yang diperkirakan. Ejaan baik (ortografi) yang ditemukan,- penting bagi pelajaran sejarah bahasa Ibrani -, nampak berbeda dalam naskah-naskahnya. Selanjutnya nampak dari beberapa fragmen yang ditemukan, bahwa LXX (SEPTUAGINTA) termasuk pada teks-teks yang katanya diterjemahkan secara bebas atau atas keinginan pribadi perorangan tertentu, barangkali juga dikembalikan pada asal Ibrani-nya.

Dari penemuan-penemuan itu tersingkap bahwa naskah PERJANJIAN LAMA yang berbahasa Ibrani itu belum ditetapkan secara pasti pada tahun 68 sesudah masehi. Pada tahun 132-135 orang baru mempunyai sebuah naskah kesatuan, yang dalam garis besarnya nampak seperti naskah Masorit. Tetapi naskah ini bukan satu-satunya naskah yang beredar.

TULISAN-TULISAN BUKAN ALKITAB
Tulisan-tulisan itu boleh jadi berasal dari zaman yang sama dengan zaman naskah-naskah Alkitab. Tetapi orang harus membedakan tuanya tulisan-tulisan bukan Alkitab itu dengan tuanya teks aseli dari tulisan itu. Sebab tulisan yang ditemukan sudah merupakan edisi kesekian kalinya daripada teks aselinya.

Jemaat Kumran tentunya memiliki sebuah perpustakaan komentar yang cukup luas mengenai KITAB SUCI. Eksegese di situ caranya aneh dan menyimpang dari tipe midrasy seperti yang dikenal orang sampai sekarang. Mereka suka menghubungkan kata-kata Kitab dengan dirinya dan dengan zamannya. Anggapan mereka, bahwa zaman merekalah yang terakhir. Adapun komentar yang paling luas isinya adalah komentar Habakuk atas Habakuk 1-2. Isinya menarik sekali oleh permainan yang dipakai untuk menyinggung keadaan zaman penyusun. Mengenai komentar-komentar lainnya hanya dikenal fragmen-fragmen melulu (komentar Hosea., Mikha., Mazmur., Yesaya.).

PERATURAN-PERATURAN
Yang paling penting adalah peraturan sekte atau pengaturan jemaat. Oleh penerbitnya yang pertama (1951) disebut Manual of Discipline. Naskah itu (11 kolom) hanya sedikit yang rusak. Peraturan itu mengajar para anggota jemaat, bagaimana mereka akan hidup, sesuai dengan penafsiran pimpinan, memenuhi hukum (taurat). Peraturan jemaat ini boleh jadi diperuntukkan para pengikutnya yang nampaknya hanya pria melulu. Masih ditambah lagi dengan sebuah dokumen yang juga membicarakan soal para istri dan anak-anak. Barangkali peraturan-peraturan itu diperuntukkan bagi zaman keselamatan yang akan datang, sebab di situ antara lain dibicarakan tentang kemungkinan, bahwa Mesias itu akan hadir di dalam perjamuan.

Tulisan tangan Damsyik menurut isi dan coraknya termasuk ke dalam sastra Kumran. Hal itu dapat dibuktikan lagi dari kenyataan, bahwa fragmen-fragmen dari berbagai eksemplarnya ditemukan dalam gua-gua Kumran. Sudah hampir dapat dipastikan, bahwa tulisan itu berasal dari periode yang lain daripada aturan jemaat itu. Ada tulisan soal peraturan berperang. Tulisan itu berusaha melukiskan sebuah perang yang dilakukan oleh para putera cahaya, artinya: oleh para anggota perserikatan, yang berperang pada akhir zaman melawan seluruh bagian dunia yang lainnya. Para imam memegang peran besar di situ.

 Di luar Mazmur Alkitab, jemaat Kumran masih mendoakan Mazmur-nya sendiri. Sebetulnya mereka doakan nyanyian pujian, yang di dalam tinjauan sastranya merupakan sebuah mosaik kata-kata Mazm Alkitab, tetapi menunjukkan sebuah kesatuan konsepsi theologi tersendiri. Oleh karenanya perlu dipandang sebagai karya satu orang pribadi. Sebagai ungkapan cara berpikir religius di Kumran, maka Mazm-Mazm itu mempunyai nilai yang besar bagi kita. (4) Sisa naskah lainnya. Di antara naskah-naskah ini, kesaksian-kesaksian sebuah sastra apokrif-apokaliptik sangat meluas isinya dan mengambil tempat yang besar di dalamnya. Padanya termasuk tulisan-tulisan yang sudah terkenal (Yub., Hen., Test XII) seperti yang tidak diketahui sebelumnya, misalnya: sebuah gambaran tentang Yerusalem baru, sebuah doa dari Nabonid dan tiga buah fragmen lain dari siklus Daniel. Menyolok pula banyaknya naskah liturgi, yang dalam cara tertentu bisa dijadikan pendahulu surat Ibrani dan Why.: Liturgi dan kenisah di surga nampak sebagai contoh dari liturgi dan kenisah di dunia.

ARTI DAN NILAI PENEMUAN
Penemuan Kumran  telah memberikan cahaya terang baru pada Yudaisme  Palestina dalam zaman pergantian PERJANJIAN LAMA menuju PERJANJIAN BARU Kini kita telah tahu, bahwa Yudaisme zaman Yesus mempunyai lebih banyak segi-segi pandangan lainnya daripada anggapan orang sebelumnya. Naskah-naskah Kumran memberikan kelonggaran atas pandangan-pandangan baru tentang dunia tempat agama kristen timbul. Pada banyak tempat di PERJANJIAN BARU yang dulunya diperkirakan mempunyai pengaruh helenis, kini lebih mudah dinyatakan sebagai pengaruh dari kalangan Yahudi sendiri.

THEOLOGI
Meskipun pendiri perserikatan Kumran (ia disebut "guru keadilan") maupun sebab-musabab konkrit mengenai pendirian jemaat itu tidak dikenal (rupanya pertanyaan atas "penanggalan yang tepat" menjadi penentu yang penting), namun di dalam Kitab-kitab yang ditemukan harus diakui adanya sebuah konsepsi theologi yang mengesankan: Jemaat Kumran  yang yakin, bahwa Allah membuka kembali dan memberikan kepada jemaat itu persekutuan denganNya dan dengan para malaekatNya. Mereka secara khusus dijiwai semangat untuk menjadi mirip dengan Tuhan dalam segala-galanya. Mereka bukan hanya merasa berkewajiban memenuhi nasihat yang diberikan oleh Tuhan dengan tepat, melainkan harus juga memisahkan diri dari semua orang dosa dan dari a pa saja yang mengandung dosa. Sebab Tuhan sendiri memberi rokh kegelapan, sehingga semua para anggota Kumran wajib membenci semua hal yang mengandung dosa dan menolaknya.

Bahkan setiap anggota yang melanggar sebuah perintah dari hukum, artinya: memberikan tempat pada rokh kejahatan, harus dipisahkan dari perserikatan untuk sementara waktu atau untuk selama-lamanya. Memiliki rokh itu sekaligus menentukan tempat setiap orang sesuai peraturan perserikatan. Di dalam peraturan itu harus dicerminkan "peraturan surgawi": Tak seorangpun boleh ada di atas tempat nasibnya (yang ditentukan Tuhan).

Petunjuk-petunjuk yang disingkapkan oleh Rokh Allah tidak cukup hanya dijadikan norma belaka. Dengan bantuan sebuah tanggalan yang hanya mengikuti perhitungan matahari, yang dianggap sebagai "tanggalan surgawi", orang harus memberi susunan peraturan pada hidupnya sendiri. Ia harus membantu perserikatan, menjawab kurnia Tuhan sesuai waktunya. Justru karena Kumran merupakan perserikatan yang sadar, bahwa terpanggil oleh Tuhan sebagai hadiah melulu yang penuh rakhmat, maka para saudara sewarga berusaha untuk tidak menyombongkan diri dalam menghayati perserikatan itu, melainkan memasuki jalan yang dibuka Tuhan baginya di dalam hukumNya.


[Sumber: Sanggar Alkitab]

Contact Form

Name

Email *

Message *