Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Allah SWT. Show all posts
Showing posts with label Allah SWT. Show all posts

Saturday, January 2, 2021

Al-Quran, Tentang pengertian Kalimatullah Saturday, January 2, 2021

Ada pertanyaan dari penginjil yang menuntut penjelasan dari Muslim walaupun pada dasarnya cuma dimaksudkan untuk memaksakan sebuah pemahaman keliru bahwa Nabi Isa Alayhisalam adalah Tuhan, atau Isa Almasih adalah Allah. 

Mereka mendasari pemahaman sesat itu melalui ayat ini,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

"Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisa':171)

Ayat ini kerapkali digunakan oleh para evangelis untuk mendukung ketuhanan Isa Al Masih Alayhi salam (Jesus pbuh) dengan menitikberatkan konsentrasinya hanya pada dua kata saja, sementara rangkaian kata lainnya yang membentuk keutuhan kalimat diabaikan begitu saja.

Kita sudah lama maklum bahwa mereka memang suka memenggal ayat-ayat Al-Quran  dengan mengutip satu bagian, atau bagian-bagian tertentu saja, dan meninggalkan bagian lainnya demi kelancaran proses dusta mereka. Oleh karena itu dalam tela'ah ini ayat dimaksud sengaja disalin secara utuh seperti tertulis di atas. 

Perhatikan kalimat dalam cetak tebal. Sebenarnya ayat tersebut justru menguatkan bahwa Yesus bukan Tuhan!

Tapi, ya, sudahlah!  Para salesmen produk kadaluarsa berlabel "ajaran kasih" Kristen ini memang gemar mengkorupsi ayat sesuai dengan keinginan mereka dengan tujuan membuat fitnah atas ayat-ayat tersebut. Hal yang sudah biasa dan lumrah terjadi di dunia maya maupun dunia nyata.

Dengan mengulas sedikit saja makna Kalimatullah berikut ini, sebetulnya sudah tidak perlu lagi dijelaskan apa itu Ruhullah, yang juga merupakan kata andalan para penggiat kristenisasi yang mengklaim Yesus adalah tuhan, karena memang seharusnya dimaknai menurut kaidah bahasa yang sama. 

Kata kalimatullah yang dimaksud dalam ayat di atas berasal dari bunyi ayat: وَكَلِمَتُهُ (Kalimat-Nya, Kalimatullah).

Bagaimanakah memahami kata ini menurut kaidah bahasa aslinya?
Kalimatullah adalah bentuk kata Idhafah, artinya adalah “kalimat” yang di-mudhafkan (disandarkan) pada kata Allah. Artinya adalah kalimat yang disampaikan atau diucapkan oleh Allah, karena ada dua kata yang menjadi satu, yakni kata “Kalimat” (sebagai mudhaf) dan kata “Allah” (sebagai mudhaf ilaih).

Kalimat bukan Allah, dan Allah bukan kalimat
Seperti misalnya ketika saya berkata-kata, maka kata-kata saya bukan saya dan saya juga bukan kata-kata saya. Contoh kata bentuk Idhafah lainnya sebut saja misalnya بَيْتُ الله (Baitullah). Artinya adalah rumah Allah. Kata “baitun” di-mudhaf-kan pada kata Allah di sini bukan berarti bahwa rumah adalah Allah atau Allah adalah rumah. Jelas ya?

Nah, setelah mengerti bahwa kalimatullah adalah kata bentukan Idhafah, maka mari kita kenali apa sih sesungguhnya arti “kalimatullah” dalam ayat di atas?
Kalimatullah berasal dari kata “kalimat” dan "Allah" yang dalam bahasa Arab berarti “kata” dan "Allah". Perlu dicatat bahwa Arti "kalimat" dalam bahasa Arab berbeda dengan "kalimat" dalam bahasa Indonesia. Jika dalam bahasa Arab kalimat berarti "kata", maka dalam bahasa Indonesia artinya adalah "kumpulan kata." Sedangkan “kumpulan kata”, dalam bahasa Arab disebut “jumlah”.
Jangan bingung!
Supaya lebih jelas, saya ulangi. Dalam bahasa Arab, kalimat artinya kata, sedangkan jumlah artinya kumpulan kata (yang membentuk kalimat).  Jadi, menurut kaidah bahasa Arab, maksud dari kata “kalimat” yang tertulis dalam ayat di atas adalah satu kata. Bukan rangkaian kata seperti pengertiannya dalam bahasa Indonesia. Lebih spesifik lagi, artinya adalah satu kata dari Allah.

Kata apakah itu?
Dari sedikit penjelasan di atas, mari sama-sama kita lihat kata “kalimat" yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Maryam. Perhatikan bunyi ayat: وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ.  Ada kata "kalimat" dari Allah di sana. Lantas,  kalimat atau satu kata apakah yang disampaikan Allah kepada Maryam sehingga Maryam menjadi hamil padahal dia belum pernah "disentuh" oleh laki-laki manapun juga?

Kata yang dimaksud itu sesungguhnya sudah diterangkan pada ayat sebelumnya, saat Maryam bertanya bagaimana ia bisa hamil sedangkan dirinya belum bersuami bahkan belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun juga? Maka Jibril menyampaikan berita dari Allah:

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu. Maka Allah hanya cukup berfirman kepadanya: “Kun" lalu "Jadilah." (Q.S. Ali Imran: 47)

Nah, sekarang kita sudah tahu bahwa satu kata yang dimaksud dalam ayat di atas adalah “kun” (jadilah!) untuk menciptakan manusia bernama Isa Almasih yang diyakini oleh umat Kristen sebagai Yesus. Kata inilah yang membuat Maryam hamil  tanpa melalui proses normal hubungan antara suami istri.

Kejadian serupa juga diperkuat dengan keterangan ayat lain, yang menerangkan bahwa penciptaan Adam dan Isa (Yesus) tanpa melalui proses hubungan suami istri, tapi sama-sama dengan satu kata yakni “kun” saja.

Perhatikan ayat berikut ini:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman/berkata kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Jadi, yang membedakan penciptaan Isa dan Adam dengan kita adalah, beliau berdua tercipta melalui satu kata saja, yaitu “Kun”, sedangkan kita tercipta melalui proses biologis orangtua kita masing-masing.

Nah, sekarang sudah jelas apa yang dimaksud dengan “kalimatullah” bukan?!

Karena itu membaca ayat Al-Quran harus secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong. Contohnya seperti membaca ayat QS. 4:171 di atas. Perhatikan baik-baik kalimat intinya adalah begini:
“.. janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya."
Sangat jelas bahwa ayat Al-Quran yang coba diplintir dan dimanipulasi oleh Evangelis Kristen untuk menguatkan doktrin Trinitas, justru adalah ayat yang paling keras menentang doktrin Trinitas!

Mengapa lanjutan dari kata "kalimatullah" dalam ayat di atas kalian mutilasi?
Demi keyakinan akan ampuhnya ajaran Paulus tentang berdusta seperti yang diajarkannya ini? 

“ ..... sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” (Filipi 1:18 Alkitab edisi TB)


[Sumber: Almubayyin | Diperbaharui 3 Januari 2021]

Sunday, March 18, 2018

Nama Allah Dalam Sejarah Kekristenan Sunday, March 18, 2018

Etimologi dari kata Allāh telah dibahas secara luas oleh para filolog Arab klasik. Ahli tata bahasa dari aliran Basra menganggapnya sebagai salah satu yang dibentuk secara spontan (murtajal) atau sebagai bentuk lāh (dari akar kata bahasa "lyh" dengan makna luhur atau tersembunyi). Yang lain berpendapat bahwa kata itu dipinjam dari bahasa Syria atau Ibrani, tetapi sebagian besar menganggapnya berasal dari kontraksi kata Arab itu sendiri yang menggabungkan kata al- (sang) dan ilāh (sesembahan) menjadi "al-lah" yang berarti Yang Disembah, atau Tuhan.

Akademisi lain ada yang menyatakan bahwa nama Allāh dapat ditemui dalam bahasa Semit lainnya, termasuk bahasa Ibrani dan Aram yang beasal dari kata "El". Sedangkan bentuk bahasa Aram yang sesuai adalah Elah (אלה), tetapi bentuk empatiknya adalah Elaha (אלהא). Ini ditulis sebagai ܐܠܗܐ (Ĕlāhā) dalam bahasa Aram Alkitab dan ܐܲܠܵܗܵܐ (Alâhâ) dalam bahasa Suryani sebagaimana digunakan oleh Gereja Suriah Timur. Kedua kata tsb hanya memiliki satu arti, yaitu Tuhan.

Penutur bahasa Arab dari semua agama Abraham, termasuk Kristen dan Yahudi, menggunakan kata "Allah" untuk kata ganti "Tuhan". Sampai dewasa ini orang-orang Arab Kristen tidak memiliki kata lain untuk "Tuhan" selain "Allah". Kata Allah dalam tradisi Kristen Asyria (Church of the east) di Mesopotamia (sekarang Iraq) juga digunakan dalam liturgi berbahasa Arab. Demikian juga Gereja Syria dan Koptik Mesir yang sama-sama menyebar sejak abad pertama, yakni sejak Yesus mengutus para muridnya ke berbagai daerah. Bahkan keturunan bahasa Arab yang berbahasa Malta, menggunakan kata Allah untuk "Tuhan" meskipun hampir seluruh populasi Malta adalah pemeluk Katolik Roma.

Orang Kristen Arab menggunakan istilah Allāh al-ab (الله الأب) untuk Allah Bapa, Allāh al-ibn (الله الابن) untuk Allah Anak, dan Allāh al-rūḥ al-quds (الله الروح القدس) bagi Allah Roh Kudus di dalam banyak ritual Tradisi Gereja. Contohnya dalam tradisi Tanda Salib ketika berdoa, memasuki ruang ibadah, dan juga pembaptisan. Mereka menggunakan terms "basmallāh" sendiri untuk Tuhan Trinitas yang berbunyi: "Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Satu Tuhan." Akan tetapi doa Syria, Latin, dan Yunani tidak menyertakan kata "Satu Tuhan" di akhir kalimat. Penambahan kata "satu Tuhan" ini dimaksudkan untuk menekankan aspek monoteistik dalam keyakinan Trinitarian, tapi lebih khusus untuk membuatnya terdengar familiar di kalangan Muslim yang tegas-tegas menolak konsep Tuhan Trinitas.

Beberapa temuan arkeologi seperti penemuan prasasti pra-Islam kuno dan makam yang dibuat oleh orang Kristen Arab di reruntuhan gereja Umm el-Jimal di Yordania Utara, berisi referensi kata-kata Allah. Beberapa batu nisan makam di sana bertuliskan nama-nama seperti "Abd Allah" yang artinya adalah "hamba Allah".

Nama Allah dapat pula ditemukan berkali-kali dalam laporan dan daftar nama-nama para martir Kristen di Arab Selatan, seperti yang dilaporkan oleh dokumen-dokumen Syriac antik tentang nama-nama para martir sejak era kerajaan Himyarite dan Aksumite yang dimulai pada tahun 110 SM.

Seorang pemimpin Kristen bernama Abd Allah ibn Abu Bakar bin Muhammad menjadi martir di Najran pada tahun 523, ia mengenakan cincin yang bertuliskan "Allah adalah Pemilikku". Pada sebuah prasasti martyrion Kristen dari era 512M, referensi tentang Allah dapat ditemukan dalam bahasa Arab dan Aram yang menyebut kata "Allah" dan "Alaha", demikian pula dalam tulisan-tulisan lain yang dimulai dengan kalimat "Dengan Pertolongan Allah".

Dalam Injil-injil pra-Islam pun, nama yang digunakan untuk Tuhan adalah "Allah", sebagaimana dibuktikan oleh beberapa versi  Perjanjian Baru bahasa Arab yang ditemukan oleh orang-orang Kristen Arab selama era pra-Islam di Arabia Utara dan Selatan.

Jadi, kalau ada orang kristen yang mengatakan nama Allah baru muncul di tanah Arab pada abad ke-5 dengan asumsi bodoh bahwa sebelum masa itu tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang mengenal nama Allah, maka kita patut menaruh rasa belas kasihan yang sebesar-besarnya di atas kepala orang ini karena sejarah menunjukkan bahwa dia lebih bodoh dari asumsi bodohnya sendiri, sekaligus membuktikan pula bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sejarah kekristenan.

Kita tidak perlu harus repot-repot menggali sejarah dari masa dinasti Himyarite dan Aksumite yang sudah ada 400 tahun sebelum Kristen sendiri lahir, tapi cukup merujuk pada sejarah kristen saja, khususnya Kristen Arab dan Kristen Suriah Timur - atau Kristen Koptik - yang sejak abad pertama Masehi sudah  menyebut Tuhan dengan nama Allah!

Jelas ya?

[Sumber: wikipedia]

Friday, December 22, 2017

Sekalipun Disebut Dengan Nama Yang Berbeda, ALLAH Adalah Satu-Satunya Tuhan Yang Benar Friday, December 22, 2017


Screenshot di atas ini hanya sebagian dari contoh penulisan ayat pertama Kitab Kejadian 1:1 Bibel versi pararel dalam berbagai bahasa (lebih lengkap, lihat di sini), di mana menurut Smith & Van Dyke, kata "ELOHIM" dalam ayat berbahasa Ibraninya, atau "GOD" dalam terjemah Inggrisnya, diartikan sebagai "ALLAH" dalam terjemah bahasa Arabnya.

Kita bisa lihat pula dalam alkitab online Ortodoks Koptik bahwa kata ELOHIM tsb juga diartikan sebagai ALLAH oleh umat kristen sekte ini (lihat di sini). Sementara dalam Bibel terjemah Indonesia, LAI juga mengartikan "ELOHIM" dalam Kitab Kejadian 1:1 sebagai "ALLAH" (lihat di sini).

Artinya, terlepas ditulis dalam bahasa apa dan disebut dengan lafadz apapun, kata ganti TUHAN dalam Kitab Kejadian 1:1 itu tetap dimaksudkan sebagai ALLAH dalam bahasa Arab.

Ini membuktikan kepada umat kristen bahwa:

Pertama: Nama ALLAH sudah ada dan dikenal oleh manusia, bahkan jauh sebelum manusia itu sendiri diciptakan!  [1] 

Ingat! Kitab Kejadian 1:1 dalam Bibel anda adalah ayat yang menceritakan awal proses penciptaan alam semesta saat mana manusia sendiri belum tercipta, akan tetapi nama ALLAH sudah disebut!

Kedua: Disebut dengan nama apapun, khususnya dalam kitab-kitab suci agama Samawi atau dalam Bibel anda sendiri, misalnya saja menurut terminologi yang dikenal oleh bangsa Yahudi sebagai Adonai, El, Elohim, Elyon, Elohe Yisrael, El Olam, El Roi, El Shaddai, Immanuel, YHWH, Ehyeh-Asher-Ehyeh, Eloah dst, sekali lagi, di dalam Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, tetap saja sama artinya dengan ALLAH!

Sementara itu, dengan merujuk pada kitab-kitab yang dipercaya oleh umat Kristen sebagai Taurat, Zabur dan Injil, maka Bibel -- yang dianggap sebagai gabungan dari ketiga kitab tadi -- memperkenalkan ALLAH sebagai YHWH, dengan tambahan 10 "nama pribadi" dan 7 "nama gelar" yang kesemuanya akan kembali lagi kepada YHWH yang menurut alkitab adalah sebagai pemilik nama pribadi & gelar tsb (lihat di sini), atau kepada ALLAH menurut Al-Quran. (lihat di sini). 

Tentang ini kita kerapkali melihat umat Kristen langsung kalang kabut tatkala diminta untuk menjelaskan nama pribadi dan gelar YHWH ini secara gamblang alias tidak "mbulet" seperti pada umumnya tiap kali coba menjelaskan doktrin-doktrin Kristen lainnya kepada umat Islam.


Sedangkan Al-Quran memperkenalkan ALLAH dengan 98 "nama indah lainnya" yang dikenal dengan sebutan "asmaul husna" sebagai nama-nama yang menjelaskan sifat-sifat utama-Nya sebagai Sang Khalik (lihat di sini). 

Nama-nama ini jauh lebih banyak dan tentunya lebih sempurna merepresentasikan ALLAH dengan segala sifat-sifat utama-Nya yang perlu diketahui oleh manusia dibandingkan dengan 17 "nama pribadi & gelar" YHWH menurut alkitab.

Kebalikan dari umumnya umat Kristen, tentang asmaul husna ini umat Islam tidak pernah bingung apalagi sampai kalang kabut untuk menjelaskannya satu demi satu, mengingat keterangan tentangnya lebih dari cukup di dalam literatur Islam.


CATATAN KAKI
[1] Ketika masih di dalam kandungan, seorang janin mengadakan perjanjian dengan Allah Ta'ala. Janin yang menyanggupi perjanjiannya akan lahir ke dunia. Sedangkan yang tidak sanggup memenuhi perjanjian tersebut tidak akan hidup, atau mati sesaat setelah dilahirkan.

Mengenai perjanjian Allah Ta'ala dengan janin ini sudah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan terdapat dalam Al Qur'an Surat Al A'raaf ayat 172: 

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah Ta'ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" merka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)".

Janji janin kepada Allah Ta'ala adalah pengakuan atas Keesaan Allah Ta'ala. Hal ini disaksikan oleh Adam dan penduduk langit. Namun setelah terlahir ke dunia, kita tidak mengingat perjanjian itu karena fitrah manusia yang pelupa.

Sebenarnya, semua bayi yang berada di dalam rahim beragama Islam dan berada di jalan Allah Ta'ala. Hanya orang tua merekalah yang menjadikannya beragama selain Islam dan melupakan perjanjiannya dengan Allah Ta'ala.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

[Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` (No. 507); Al-Imam Ahmad  dalam Musnad-nya (No. 8739); Al-Imam Al-Bukhari  dalam Kitabul Jana`iz (No. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (No. 4775), Kitabul Qadar (No. 6599); Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar (No. 2658)].

Wallahu a'lam bisyawwab....


[Dari Catatan Bagus Pamungkas]

Friday, September 30, 2016

Al-Quran: Surah Al-Ikhlas Friday, September 30, 2016

KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS 


Surat Al-Ikhlas memiliki banyak keutamaan, antara lain: 
Surat ini berisikan sifat Allâh Azza wa Jalla, orang yang mencintainya dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla. 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ 

Dari ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang laki-laki memimpin sekelompok pasukan, (ketika mengimami shalat) dia biasa membaca di dalam shalat jama’ah mereka, lalu menutup dengan ”Qul huwallaahu ahad”. Ketika mereka telah kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka beliau berkata: “Tanyalah dia, kenapa dia melakukannya!” Lalu mereka bertanya kepadanya, dia menjawab: “Karena surat ini merupakan sifat Ar-Rahmaan (Allâh Yang Maha Pemurah), dan aku suka membacanya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allâh mencintainya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7375; Muslim, no. 813] 

Sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân 

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ 

Dari Abud Darda’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Apakah seseorang dari kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’ân di dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang (mampu) membaca sepertiga al-Qur’ân (di dalam satu malam)?” Beliau bersabda: “Qul Huwallaahu Ahad sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân.” [HR. Muslim, no. 811] 
Maknanya adalah bahwa kandungan al-Qur’ân ada tiga bagian: 
1) hukum-hukum, 2) janji dan ancaman, 3) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Dan surat ini semuanya berisi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . [Majmu’ Fatawa 17/103] 

SEBAB TURUN SURAT AL-IKHLAS 

Sebab turun surat al-Ikhlâs ini adalah pertanyaan orang-orang kafir tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana disebutkan di dalam hadits:
 
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ 

Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allâh menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa). [HR. Tirmidzi, no: 3364; Ahmad, no: 20714; Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah 1/297. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani] 

Hadits ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlâs termasuk surat Makiyyah, dan nampaknya termasuk surat yang awal turun di kota Makkah. 


ARTI AYAT DAN TAFSIRNYA 

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 
Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa”. 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yakni: Dia Yang pertama dan Esa, tidak ada tandingan dan pembantu, tidak ada yang setara dan tidak ada yang menyerupai-Nya, dan tidak ada yang sebanding (dengan-Nya). Kata ini tidak digunakan untuk menetapkan pada siapapun selain pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , karena Dia Maha Sempurna dalam seluruh sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya”. [Tafsir Ibnu Katsir] 

Para Ulama penyusun Tafsir al-Muyassar berkata, “Katakanlah wahai Rasul, ‘Dia-lah Allâh Yang Esa dengan ulûhiyah (hak diibadahi), rubûbiyah (mengatur seluruh makhluk), asma’ was shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya), tidak ada satupun yang menyekutui-Nya dalam perkara-perkara itu”. [Tafsir al-Muyassar, 11/96] 


اللَّهُ الصَّمَدُ 
Allâh adalah ash-Shamad. 

Ash-Shamad adalah satu nama di antara Asmaul Husna yang dimiliki Allâh Azza wa Jalla . Penjelasan para Ulama Salaf tentang makna ash-Shamad berbeda-beda, tetapi semua perbedaan itu bisa diterima, karena maknanya tidak kontradiksi, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu semua arti itu dapat ditetapkan pada diri Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Inilah keterangan para Ulama tentang makna ash-Shamad: 

(Rabb) yang segala sesuatu menghadap kepada-Nya dalam memenuhi semua kebutuhan dan permintaan mereka. Ini pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ikrimah. 

  1. As-Sayyid (Penguasa) yang kekuasaan-Nya sempurna; as-Syarîf (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna; al-‘Azhîm (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna; al-Halîm (Maha Sabar) yang kesabaran-Nya sempurna; al-‘Alîm (Mengetahui) yang ilmu-Nya sempurna; al-Hakîm (Yang Bijaksana) yang kebijaksanaan-Nya sempurna. Dia adalah Yang Maha Sempurna dalam seluruh sifat kemuliaan dan kekuasaan, dan Dia adalah Allâh Yang Maha Suci. Sifat-Nya ini tidak layak kecuali bagiNya, tidak ada bagi-Nya tandingan dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Maha Suci Allâh Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Ini pendapat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah Radhiyallahu anhu. 
  2. Yang Maha Kekal setelah semua makhluk-Nya binasa. Ini pendapat al-Hasan dan Qatâ 
  3. Al-Hayyu al-Qayyûm (Yang Maha Hidup, Maha berdiri sendiri dan mengurusi yang lain), yang tidak akan binasa. Ini pendapat al-Hasan. 
  4. Tidak ada sesuatupun yang keluar dari-Nya dan Dia tidak makan. Ini pendapat ‘Ikrimah. 
  5. Ash-Shamad adalah yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Ini pendapat ar-Rabi’ bin Anas. 
  6. Yang tidak berongga. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ‘Atha bin Abi Rabbah, ‘Athiyah al-‘Aufi, adh-Dhahhak, dan as-Suddi. 
  7. Yang tidak memakan makanan dan tidak minum minuman. Ini pendapat asy-Sya’bi. 
  8. Cahaya yang bersinar. Ini pendapat Abdullah bin Buraidah 

Imam Thabarani rahimahullah berkata, “Semua makna ini benar, dan ini semua merupakan sifat Penguasa kita ‘Azza wa Jalla. Dia adalah tempat menghadap di dalam memenuhi semua kebutuhan, Dia adalah yang kekuasaan-Nya sempurna, Dia adalah ash-Shamad, yang tidak berongga, dia tidak makan dan tidak minum, Dia adalah Yang Maha Kekal setelah makhlukNya (binasa)“. 

Dan imam al-Baihaqi juga berkata seperti ini. [Lihat semua keterangan di atas di dalam Tafsir Ibnu Katsir surat al-Ikhlas] 

Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah menyebutkan lima makna ash-Shamad, lalu berkata, “Perselisihan ini termasuk ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan jenis) dalam ungkapan, bukan perselisihan dalam makna. Karena semua pendapat ini kembali kepada satu makna, yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya. Dan janganlah merisaukanmu pengingkaran sebagian khalaf terhadap sebagian makna-makna yang diriwayatkan dari Salaf ini, demikian juga anggapan mereka (khalaf) bahwa perkataan-perkataan Salaf ini tidak didukung oleh lughah (bahasa Arab). Karena itu adalah perkataan orang yang tidak memahami (kedudukan-pen) tafsir Salaf, dan dia tidak mengambil faedah ketetapan makna-makna lafazh lughah (bahasa Arab) dari tafsir salaf, Wallahu a’lam.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/201, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr] 


لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ 
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 

Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Yaitu: (Allah) ini Yang berhak diibadahi, Dia tidak dilahirkan sehingga akan binasa. Dia juga bukan suatu yang baru yang didahului oleh tidak ada lalu menjadi ada. Bahkan Dia adalah al-Awwal yang tidak ada sesuatupun sebelum-Nya, dan al-Âkhir yang tidak ada sesuatupun setelah-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyaar] 


وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” 


Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang menyamai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya”. [Syarh Aqîdah Wasitiyah, hlm. 114, penerbit. Dar Ibnu Haitsam] 

Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Dan tidak ada tandingan yang menyamai-Nya dalam nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr] 

BANTAHAN ANGGAPAN “ALLAH MEMILIKI ANAK” 

Banyak sekali bantahan Allâh Azza wa Jalla di dalam kitab suci-Nya terhadap orang-orang yang beranggapan bahwa Allâh memiliki anak, antara lain firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:
 
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.[Al-An’am/6: 101]
 
Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah pemilik dan pencipta segala sesuatu, maka bagaimana mungkin ada di antara makhluk-Nya yang menandingi-Nya. Allâh Maha Tinggi dan Maha Suci dari anggapan mereka itu. 

Sesungguhnya beranggapan bahwa Allâh memiliki anak merupakan celaan manusia kepada Allâh Yang Maha Kuasa, padahal mereka sangat tidak pantas mencela-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ أَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ إِنِّي لَنْ أُعِيدَهُ كَمَا بَدَأْتُهُ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُؤًا أَحَدٌ 

Allâh berfirman: “Anak Adam mendustakanKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Dia juga mencelaKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah memulai penciptaannya. Sedangkan celaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku memiliki anak, padahal Aku adalah Ash-Shamad, Aku tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara denganKu.” [HR. Bukhori, no. 4975] 

Karena besarnya dosa keyakinan Allâh Azza wa Jalla memiliki anak, maka hampir-hampir dunia ini hancur karenanya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ﴿٨٨﴾ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا 

Dan mereka berkata, “Rabb yang Maha Pemurah mempunyai anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan bahwa Allâh yang Maha Pemurah mempunyai anak. [Maryam/19: 88-91] 

Namun walaupun demikian besar dosa manusia itu, tetapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Sabar. Bahkan Dia tetap memberikan rizqi dan kesehatan sementara di dunia ini kepada orang-orang yang sangat lancang tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ 

Tidak ada seorangpun yang lebih sabar daripada Allâh terhadap gangguan yang dia dengarkan. Sebagian manusia menganggap Allâh memiliki anak, namun Dia tetap memberikan keselamatan/kesehatan dan memberi rizqi kepada mereka. [HR. Al-Bukhâri, no. 6099; Muslim, no. 2804] 

KANDUNGAN SURAT AL-IKHLAS 

Surat ini memuat berbagai kandungan dan faedah yang agung, antara lain: 
  • Penetapan sifat ahadiyyah (keesaan) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . 
  • Penetapan sifat shamadiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya 
  • Mengenal Allâh dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya[1]
  • Penetapan tauhid dan kenabian. 
  • Kedustaan orang yang menganggap Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak. 
  • Kewajiban beribadah kepda Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, karena hanya Dia yang memiliki hak untuk diibadahi.[2]

Inilah sedikit penjelasan tentang surat yang mulia ini, semoga bermanfaat. 

Wallahu A’lam.

Dari Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

________ 
Footnote 
[1] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi
[2] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi





Sunday, June 26, 2016

Tuhan Negeri Mekkah Dan Presiden Kepulauan Riau Sunday, June 26, 2016

Termasuk negara-negara "negeri mekkah", di bawah ini adalah daftar 26 negara yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, atau bahasa nasional negaranya.

Total populasi seluruhnya lk. 398.7 juta jiwa dan mayoritas penduduknya beragama Islam yang tidak membaca Al-Quran terjemah Indonesia, tapi tentu saja bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.

Sedangkan peta di sampingnya adalah wilayah penyebaran penduduk keduapuluh enam negara tadi yang meliputi lebih dari separoh belahan benua Afrika, sementara peta di bawahnya adalah wilayah penyebaran penduduk beragama islam dunia yang yang pada hari ini -- termasuk ke duapuluh enam negara tadi -- totalnya sudah hampir 2 milyar manusia.

Tahukah kalian apa yang menarik dari fakta ini?
BANYAK!

Tapi kita cuma akan mencermati SATU SAJA, yaitu pertanyaan yang sampai hari ini masih membuat laskar odong-odong paulus bingung dan tidak habis pikir, yaitu;

"Kenapa hampir 2 milyar manusia tsb tidak sedikitpun ragu untuk mengakui dan menyembah satu-satunya Tuhan yang benar, yaitu "Tuhan negeri Mekkah", Tuhan yang disembah oleh Yesus Kristus (pbuh) dan Tuhan yang mereka sembah juga, padahal orang-orang ini bukan seluruhnya bangsa Arab, apalagi tinggal di Mekkah?"

Jawaban paling mudah untuk adik-adik laskar kacang polong ini adalah:

"Sebab mereka membaca, mempelajari, dan memahami firman Allah dalam Al-Quran yang banyak dijelaskan oleh nabi Muhammad SAW melalui hadits-hadits beliau yang dituturkan dalam bahasa Arab!"

Apa hubungannya?
Tegasnya begini. Seluruh umat Islam di muka bumi ini mengetahui secara pasti bahwa ayat pertama dalam surah pertama Al-Quran -- yang ditulis dalam bahasa Arab -- memperkenalkan Allah sebagai "Robbul Alamin" atau dalam terjemah bahasa manapun di dunia ini artinya adalah "Tuhan seluruh alam semesta"

Jadi, orang-orang cerdas yang memilih menjadi Muslim di seluruh dunia, yang tingkat intelektualitasnya berada di atas rata-rata pengikut Paulus, dengan mudah mengerti bahwa ketika disebut sebagai "Tuhan negeri Mekkah", atau sebagai "Tuhan negeri Tiongkok", atau sebagai "Tuhan negeri Israel" bahkan sebagai "Tuhan planet Mars" sekalipun, sebutan-sebutan itu tidak sedikitpun merobah kedudukan Allah sebagai satu-satunya "Tuhan seluruh alam semesta" di mana Mekkah, Tiongkok, Israel, dan planet Mars berada.

Tapi laskar odong-odong Paulus yang kemampuan olah pikirnya memang memprihatinkan seperti dicontohkan oleh adik-adik kita yang hari gini masih kristen, sungguh menggelikan, sekaligus membuat kita sedih dan patut merasa iba seiba-ibanya!

Dengan berbekal terjemah indonesia ayat QS. 27:9, mereka bukan main percaya diri mengira lebih pinter dari umat islam, lalu coba "mengajari" umat Islam yang dalam angan-angannya tidak menyadari bahwa Tuhan yang selama ini disembah sebenarnya cuma "Tuhan negeri Mekkah", alias "bukan Tuhan yang sesungguhnya!"

Padahal jika paradigma mentog seperti ini disodorkan kepada penduduk mana saja dari negeara-negara berebahasa Arab di atas, dijamin mereka akan tertawa terpingkal-pingkal saking geli mendapati pada jaman semodern ini ternyata masih ada manusia yang berpikir sangat terkebelakang layaknya  manusia purba!   

Nah, untuk membuktikan bagaimana kualitas oleh pikir adik-adik kristen kita ini, coba mari kita tanya mereka hal-hal yang bersifat lokalan sajalah dulu, misalnya begini:

Adik-adik kristen,
SIAPAKAH PRESIDEN KEPULAUAN RIAU SEKARANG INI?
APA ALASANMU MENGATAKAN BAHWA DIA ORANGNYA?

Okeh!
Silahkan buktikan sendiri bagaimana menyedihkannya cara berpikir mayoritas laskar odong-odong Paulus dari jawaban dan komentar mereka di bawah ini. 


Thursday, December 11, 2014

20 Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Allah Subhanahuwata'ala Thursday, December 11, 2014


Sifat-Sifat Allah SWT

Sifat-sifat utama Allah yang diperkenalkan kepada umat manusia terdiri atas 3 bagian, yaitu:

● Sifat wajib,
● Sifat mustahil dan
● Sifat jaiz.

1. SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT

Sifat wajib adalah sifat yang harus ada pada Dzat Allah swt. sebagai kesempurnaan bagi-Nya. Sifat-sifat wajib Allah tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal (wajib aqli) dan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Nabi saw. (wajib naqli). 

Menurut para ulama kalam sifat wajib bagi Allah itu ada 20 sifat, sebagai berikut:

  1. Wujud artinya Ada
  2. Qidam artinya Dahulu
  3. Baqa’ artinya Kekal
  4. Mukhallafatu lil Hawaditsi artinya Berbeda dari Semua Makhluk
  5. Qiyamuhu Binafsihi artinya Tidak membutuhkan unsur lain di luar diri-Nya  
  6. Wahdaniyah artinya Esa
  7. Qudrat artinya Maha Kuasa
  8. Iradat artinya Berkehendak
  9. Ilmu Maha Mengetahui
  10. Hayat artinya Hidup
  11. Sama’ artinya Mendengar
  12. Bashar artinya Melihat
  13. Kalam artinya Berfirman
  14. Qadiran artinya Mahakuasa
  15. Muridan artinya Maha Berkehendak
  16. ‘Aliman artinya Maha Mengetahui
  17. Hayyan artinya Mahahidup
  18. Sami’an artinya Maha Mendengar
  19. Bashiran artinya Maha Melihat
  20. Mutakalliman artinya Maha Berkata-kata 

Kedua puluh sifat wajib Allah ini dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.

(a). Sifat Nafsiyah adalah sifat yang hanya berkaitan dengan Dzat Allah semata-mata. Sifat ini terdapat dalam sifat wujud.

(b). Sifat Salbiyah adalah sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, sedangkan makhluk tidak memilikinya. Sifat ini terdapat dalam lima sifat Allah, yaitu qidam, baqa, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah. 

(c). Sifat Ma’ani adalah sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Sifat ini terdapat pada tujuh sifat Allah, yakni qudrat, iradat, ‘ilmu, hayat, sama’, basher, dan kalam. 

(d). Sifat Ma’nawiyah adalah keumuman/kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat ini tidak dapat berdiri sendiri karena setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Sifat-sifat yang termasuk ma’nawiyah ada tujuh, yaitu qadiran, muridan, ‘aliman, hayyan, sami’an, bashiran, mutakalliman. 

2. SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH SWT
Sifat mustahil bagi Allah swt. adalah sifat yang tidak layak dan tidak mungkin ada pada Allah swt. Sifat-sifat mustahil ini merupakan kebalikan dari sifat wajib bagi Allah sehingga jumlahnya sama. Sifat-sifat mustahil bagi Allah adalah sebagai berikut:

  1. 'Adam artinya tidak ada
  2. Huduts artinya baru atau permulaan
  3. Fana artinya binasa atau rusak
  4. Mumatsalatu lil Hawaditsi artinya menyerupai yang baru
  5. Ihtiyaju li ghairihi artinya membutuhkan sesuatu selain dirinya
  6. Ta’adud artinya berbilang lebih dari satu
  7. ‘Ajzun artinya lemah
  8. Karahah artinya terpaksa
  9. Jahlun artinya bodoh
  10. Mautun artinya mati
  11. Shamamun artinya tuli
  12. ‘Umyun artinya buta
  13. Bukmun artinya bisu
  14. ‘Ajizan artinya Mahalemah
  15. Mukrahan artinya Maha terpaksa
  16. Jahilan artinya Mahabodoh
  17. Mayyitan artinya Mahamati
  18. Ashamma artinya Mahatuli
  19. A’ma artinya Mahabuta
  20. Abkama artinya Mahabisu

3. SIFAT JAIZ BAGI ALLAH SWT
Allah swt selain memiliki sifat Wajib dan Mustahil juga memiliki sifat Jaiz. 
Menurut bahasa, Jaiz artinya "boleh". Yang dimaksud dengan sifat Jaiz bagi Allah swt. adalah sifat yang boleh ada dan boleh tidak ada pada-Nya.

Sifat Jaiz ini tidak menuntut pasti ada, atau pasti tidak ada. Sifat Jaiz Allah hanya satu yaitu "Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu", artinya membuat sesuatu mungkin terjadi, atau tidak membuatnya terjadi sama sekali.

Maksud kalimat ini adalah, Allah memiliki kekuasaan penuh untuk menciptakan, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, sesuai dengan kehendak-Nya.

Demikian.

[Sumber: Slunt-Up]

Friday, October 12, 2012

Al-Quran: Cara Allah Menyebut Diri-Nya Friday, October 12, 2012

Persoalan sangat simpel tapi (seolah-olah) tidak pernah dapat dimengerti oleh kristen abangan penghujat Islam dalam Al-Quran adalah “dhamir”, atau kata ganti.

Al-Quran adalah firman Allah. Sedangkan isi dan kandungan Al-Quran adalah wa’ad, wa’id, kisah, pengajaran, amaran (peringatan), larangan, ilmu pengetahuan, dan lain-lain persoalan mendasar yang meliputi hampir setiap detil aspek kehidupan umat manusia.

Ketika Allah menceritakan kisah-kisah yang terjadi pada masa lampau, misalnya kisah kedurhakaan iblis kepada Allah ketika diperintah untuk sujud kepada Adam, iblis merasa enggan dan berkata; “aku lebih baik dari pada Adam.” Siapakah “aku” dalam ayat ini? Yang dimaksud jelas adalah Iblis. Siapa yang mengatakannya? Yang mengatakannya adalah yang menceritakannya. Siapa yang menceritakan? Yang menceritakan adalah Allah. Dengan demikian maka kata “aku” dalam ayat di atas adalah perkataan Allah. Bukan perkataan Iblis.

Begitu juga dengan pengajaran yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad sang penerima wahyu Al-Quran. Semua itu bukan perkataan Rasulullah tapi Allah memerintah beliau untuk berkata seperti itu.

Logika sederhananya begini:
Anda ingin mengirim surat kepada teman anda melalui kantor Pos yang berisi kisah-kisah yang ingin anda ceritakan. Kira-kira bagaimana isi surat anda? pasti dialognya seolah-olah anda sedang berbicara langsung kepada teman yang anda kirimi surat tsb bukan? Apa mungkin anda membuat surat yang isinya ngobrol dengan tukang pos? Ya, nggak nyambung dong itu namanya!

Sedangkan tugas pengantar surat (pak pos), hanya menyampaikan surat anda apa adanya tanpa mengurangi atau menambahkan. Dengan demikian maka pesan anda akan tersampaikan dengan utuh.

Al-Qur'an adalah kitab yang bersifat interaktif terhadap pembacanya. Jadi, Allah menggunakan bahasa (yang mudah dimengerti oleh manusia) seolah-olah Dia sedang bercerita langsung pada makhluk-NYa. Adapun mengenai kata ganti yang adakalanya berbeda-beda, bukankah sangat mudah untuk difahami dengan cara melihat konteks kalimatnya?

  • Maka aku (Allah) bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. (QS. Al-ma;ariij[70]:40)
  • Tuhan Yang memiliki timur dan barat, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (QS. Al Muzzamil[73]:9)
  • Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat (QS.Al Baqarah[2]:115)

Tuhan mana lagi yang dimaksud? Tentu saja ALLAH bersumpah demi Diri-Nya Sendiri! Kenapa? Sebab tiada lain Tuhan Yang Memiliki timur dan barat kecuali ALLAH semata!

Mengapa ALLAH bersumpah dengan menyebut diri-Nya sendiri? Sebingung apa pun anda yang Kristen, sesungguhnya ini bukan hal yang mustahil untuk dimengerti mengingat dalam Alkitab pun hal serupa dapat sama-sama kita temui.

[Amsal 8:7] TUHAN telah bersumpah DEMI KEBANGGAAN YAKUB: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!

Apakah KEBANGGAAN YAKUB itu?
[Mazmur 47:4-5] Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya.

Kebanggaan Yakub adalah tanah yang dijanjikan. Artinya, Tuhan di PL juga bersumpah demi ciptaannya sendiri.

Jadi, jangan samakan Al-Qur'an dengan Alkitab yang isinya campur-aduk mulai dari cerita, gosip, dongeng, mitos dan hasil dengar-dengar cerita dari orang lain seperti contohnya 4 Injil kanonik yang “dikarang” oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Mengapa patut disebut -- dalam tanda petik -- "dikarang?"
Sebab mereka menulis Injil tidak berdasarkan sabda Yesus kata-demi-kata (seperti didiktekan) atau sebagai hasil dari kesaksian langsung, melainkan hanya terinspirasi oleh kisah-kisah Yesus yang beredar di masyarakat pada saat itu, baik yang berupa tulisan maupun lisan. Statement ini dapat dipertanggung-jawabkan berdasarkan pengakuan salahseorang pengarang Injil bernama Lukas dalam Injil karangannya:

LUKAS 1:1-3
[1] Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,
[2] seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.
[3] Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,

Menurut Lukas sendiri, Injil karangannya adalah injil yang berdasarkan pada berita-berita yang beredar di masyarakat yang kemudian sampai kepada dirinya dan diselidikinya dengan seksama lalu diklaimnya sebagai suatu kebenaran.

Dari pernyataan Lukas sendiri dalam Injilnya 1:1-3 yang menyatakan “seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman”, menunjukkan bahwa dia bukanlah murid Yesus dan bukan saksi langsung atas ajaran Yesus, dia hanya menerima berita dari orang-orang yang menerima berita dari saksi mata dan murid-murid Yesus.

Hanya Yohanes dan Matius yang (patut diduga) merupakan bagian dari 12 orang murid Yesus. Sedangkan Lukas dan Markus itu siapa, coba? Kok bisa-bisanya diakui sebagai pengarang injil?

Aneh, injil karangan penulis yang tidak jelas kok dipercaya? Sementara injil yang ditulis oleh murid-murid Yesus sendiri malah dimusnahkan! Atau barangkali anda tidak pernah tahu bahwa seluruh injil-injil tulisan murid-murid Yesus generasi awal sudah dirampas lalu dimusnahkan oleh pengikut setia Paulus? Wah, kalau belum pernah dengar berita sedahsyat itu, silahkan dibaca-baca dulu sejarahnya di sini deh.

Belum lagi jika kita bahas kitab Perjanjian Lama yang full dongeng dan mitos, mulai dari cerita naga, ada makhluk aneh mirip macan tutul berkapala tujuh dan bertanduk sepuluh, plus, nah ini nih yang seru! Majalah bokep gratis yang menceritakan kisah-kisah cabul, incest, lengkap dengan metode seks serta tips rayuan maut di ranjang tanpa sensor, dan lain-lain cerita berbau sangat mesum!

Nah, sekarang jelaslah mana kitab yang murni firman Tuhan, dan mana pula yang bukan!
Sedangkan selebihnya, terserah anda sajalah!

Semoga Tuhannya Yesus berkenan memberi hidayah-Nya pada anda dan keluarga.
Amin.


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Saturday, September 29, 2012

Al-Quran: Bagaimana Allah Memelihara Firman-Nya Saturday, September 29, 2012

ALLAH MEMELIHARA FIRMAN-NYA

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون الحجر
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr:9)

TAHLIL LAFADZ
نحن:  Ada dua tafsiran yaitu Allah saja dan yang kedua Allah beserta para Malaikat
الذكر:   Al-Quran sebagaimana perkataan al-Hasan dan ad-Dhahaq
حافظون: Dalam Kitab Tafsir al-Bahr disebutkan bahwa makna dari al-Hifz ada tiga:

Pertama, Allah menjaganya dari syetan.
Kedua, Allah menjaganya dengan cara mengekalkan syariat Islam sampai hari kiamat, hal ini sebagai mana disinggung oleh Imam Hasan al-Bashri dan 
Ketiga, Allah menjaganya di dalam hati orang-orang yang menginginkan kebaikan dari al-Quran sehingga jika ada satu huruf saja yang berubah dari al-Quran, maka seorang anak kecil akan mengatakan “engkau telah berdusta dan yang benar adalah demikian.”

Selanjutnya dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa kata “Lahu” itu kembali kepada az-Zikr atau al-Quran, dan hal ini adalah perkataan Qatadah, Mujahid yang selain keduanya.

Dan dalam kitab Tafsir al-Mawardi disebutkan bahwa ada tiga perkataan tentang maksud dari penjagaan ini,
  1. "Kami menjaga al-Quran sampai terjadi hari kiamat," ini adalah perkataan dari Ibnu Jarir. 
  2. "Kami menjaga al-Quran dari syetan yang ingin menambah kebatilan atau menghilangkan kebenaran," sebagaimana tafsiran dari Qatadah, dan 
  3. Menjaganya pada hati orang yang mengingnkan kebaikan dan menghilangkannya dari orang yang ingin kejelekan. 
Dalam tafsir al-Ajibah disebutkan juga bahwa makna al-Hifz adalah bahwa Allah akan menjaga al-Quran dan salah satu caranya adalah melalaui para Qurra’, dan hati para Qurra’ adalah tempat simpanan dari kitabullah.

I’RAB AYAT
Dalam kitab I’rabul Quran al-Karim disebutkan demikian [1]:

إن وإسمها, ونحن تأكيد لاسم إن, أو ضمير فصل لا محل له, وجملة نزلنا خبر إن, وإنا عطف, وله متعلقتان بحافظون, واللام المزحلقة, وحافظون خبر إن

BAGAIMANA ALLAH MEMELIHARA AL-QUR'AN
Allah SWT memuji keagungan al-Quran dengan menyebutkan pemeliharaannnya sebelum ia diturunkan dalam beberapa ayat, di antaranya,

Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,  maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,  yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat),  yang mulia lagi berbakti. (QS. Abasa: 11-16)

Allah menjaga al-Quran ketika ia diturunkan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT,

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS al-Jin: 26-27)

Allah menjaga terhadap al-Quran setelah diturunkan, seperti disebutkan dalam firman-Nya, 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS al-Hijr: 9).

Karena pemeliharaan ini semua, maka al-Quran tetap dalam keasliannya. Ia tetap kokoh berdiri, kemuliannya tak terkontaminasi oleh segala cela.[2]

GRAND DESIGN ALLAH DALAM PEMELIHARAAN AL-QUR'AN
Allah telah menyiapkan suatu umat yang kuat dalam ingatan dan hafalannya. Yang demikian itu karena bangsa arab pada masa Jahiliyah terkenal dengan kekuatan hafalannya. Di mana mereka meriwayatkan beribu-ribu bait syair yang tidak dibukukan. Karena sesungguhnya mereka bertumpu pada hafalan mereka.

Allah memudahkan bagi manusia untuk menghafal al-Quran sebagaimana firmanNya, 

“Dan sesungguhnya Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adalah orang yang mau mengambil pelajaran.” (QS al-Qamar: 17)

Allah menyediakan suatu generasi yang memiliki ketajaman hafalan, kefahaman dan amanah. Para Huffadz menghafalnya langsung dari Rasulullah SAW sehingga rekatlah hafalan mereka.

Allah mengutus malaikat Jibril untuk memuraja’ah hafalan Nabi SAW sekali dalam setahun dan ditahun terakhirdari kehidupan beliau. Jibril mengoreksi hafalan beliau dua kali.

Dan setelah Al-Quran dibukukan, para Huffaz mengoreksi lembar perlembar dari mushaf ketika akan dicetak oleh percetakan tertentu. Dengan metode seperi inilah Allah telah menepati janjinya bahwa al-Quran adalah terpelihara.[3]

Dan Sayid Qutb yang telah menulis kitab Tafsir fenomenal di abad ini, dalam kitab Tafsirnya Fi Dhilalil Quran menyebutkan bahwa al-Quran sejak kemunculannya telah mengalami banyak usaha perubahan dan talbis dan tahrif dan juga fitnah-fitnah dari kelompok-kelompok yang menyimpang, sebagian mereka seperti Yahudi dan penyeru Qaumiyah bisa melakukan penakwilan terhadap hadits dan ayat al-Quran atau untuk mendukung pendapat mereka, tetapi satu yang tidak dapat mereka lakukan yaitu mendatangkan satu ayat seperti dalam al-Quran, sehingga al-Quran tetap terjaga sebagaimana ia diturunkan oleh Allah[4]

Selanjutnya mari kita bandingkan beberapa pendapat para ilmuwan non-Muslim tentang al-Quran dan bibel [5] di antaranya sebagai berikut:

Tentang Al-Qur'an:

Harry Gaylord Dorman berkata: “Kitab Qur’an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu mukjizat yang tetap aktual hingga kini, untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad.” [Towards Understanding lslam”, New York, 1948, p.3]

Sir William Muir berkata: “Qur’an adalah karya dasar Agama Islam. Kekuasaannya mutlak dalam segala hal, etika dan ilmu pengetahuan …” [“The Life of Mohamet”, London, 1907; p. VII]

DR. J. Shiddily berkata: “Qur’an adalah Bible kaum Muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan kitab perjanjian Baru.” [“The Lord Jesus in the Qur’an”, p. 111]

Tentang alkitab:

Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama”, tahun 1963, halaman 12 dan 13, berkata: “Buku ini dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan oleh suasana di sekitarnya dan oleh pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan dari salinan dan seterusnya. Sering di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah salah salin.”

Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya “Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru”, tahun 1966, pagina 24 dan 25, berkata sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja.”[6]

KEUTAMAAN MENGHAFAL AL-QUR'AN
Allah SWT telah memuliakan uamt ini, dimana Dia telah menjadikan hati orang-orang yang shalih sebagai tempat pemeliharaan firman-firman-Nya dan dada-dada mereka sebagai mushaf untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Allah SWT berfirman dalam salah satu hadits Qudsi: “Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk menguji dirimu dan Aku menguji denganmu. Dan aku telah menurunkan sebuah kitab kepadamu, yang tidak akan luntur karena air, engkau membacanya di kala tidur maupun terjaga.” [HR Muslim, 4/2197 no: 2865] yang maksudnya bahwa al-Quran ini terjaga di dalam hati kaum muslimin, tidak disapa oleh kepunahan. Bahkan ia abadi sepanjang masa.

Salahsatu mukjizat dari al-Quran adalah mudah untuk dihafal dan Imam Abu Hasan al-Mawardi dalam kitab A’lam an-Nubuwah memasukkan hal ini sebagai pertanda kekhususan Ilahi, dimana Allah mengutamakannya dari kitab-kitab selainnya.

KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN AL-HAFIZ
Memiliki derajat dan kedudukan yag lebih tinggi dari yang lain ketika di akhirat, hal ini sebagaimana hadits Nabi SAW: “Dikatakan kepada ahli al-Quran: Bacalah dan naiklah dan tartilkanlah bacaanmu sebagaimana engkau dulu membacanya secara tartil di dunia, karena sesungguhnya temoatmu terketak di akhir ayat yang engkau baca.” [HR Abu Daud, 2/73 no: 1464] at-Thiby mengomentari hadits ini mengatakan: “Bacaan al-Quran bagi mereka seumpama tasbih bagi para malaikat, dimana mereka tidak disibukkan oleh berbagai macam kelezatan dunia, karena bacaan al-Quran bagi mereka merupakan kelezatan yang terbesar.”[7]

Al-Hafiz didahulukan urusannya, baik di dunia mauoun akhirat, di antaranya ia lebih berhak menjadi pemimpin, sebagai contoh Umar ra pernah menyetujui pilihan Nafi bin Abdul Harits yang mengangkat budaknya sebagai pemimpin karena ia adalah seorang hafiz, umar teringat sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini dan menghinakan pula kaum yang lain.”[HR Muslim, 1/559 no: 817], al-Hafiz lebih berhak menjadi imam, pendapatnya lebih didahulukan dalam syura dan al-hafiz didahulukan penguburannya.

Al-Hafiz adalah Ahlullah dan kekasih-Nya, Rasulullah SAW bersabda: “Seungguhnya Allah SWT memiliki kekasaih dari manusia, para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Nabi menjawab: “Mereka adalah ahlu al-Quran, mereka menjadi Ahlullah dan kekasih-Nya.” [HR Ibnu Majah, 1/78 no: 215]

Jasad seorang hafiz tidak dapat tersentuh api neraka, Rasulullah SAW bersabda: “Kalau sekiranya al-Quran itu berada di atas kulit, niscaya ia tidak akan termakan api.” [HR Ahmad, 4/155] maksud dari api dalam hadits ini adalah api neraka dan orang yang selalu menghafal dan membaca al-Quran tidak akan dijlat oleh api neraka.

Setelah mengetahui keutamaan-keutamaan ini maka hendaknya seorang muslim berkeinginan kuat untuk bisa menghafal al-Quran, dan berikut ini kami sampaikan pesan zahabi (pesan emas) yang diriwayatkan dari Imam az-Zahabi di dalam kitab Siyaru ‘Alam an-Nubala dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah, karena ia merupakan pangkal dari segala sesuatu. Berjihadlah, karena ia merupalan dalil-dalil ke-Islam-an. Dan hendaklah kalian mengingat Allah dan membaca al-Quran, karena ia merupakan Ruh-mu di Ahli langit dan zikirmu di Ahli bumi.” [Nuzhatul Uqala’ Tahzib Siyaru ‘Alam an-Nubala: 2/247][8]

 Baca juga: Sejarah pemeliharaan al-Qur'an di sini


REFERENSI
  • Terjemah al-Quranul Karim
  • Adhamah al-Quranul Karim, Syaikh Mahmud bin Ahmad bin Shalih al-Dosari, Darus Salam, Riyadh, Jeddah dan dicetak dalam bahasa Indonesia dengan judul: Kegungan al-Quran al-Karim.
  • Cara Mudah Menghafal al-Quran, Ali Shalih Muhammad bin Ali Jaber.
  • Aunul Ma’bud Sarh Sunan Abu Dawud,
  • Tafsir Fi Dhilalil Quran, Sayid Qutb
  • I’rabul Quran al-Karim wa Bayanuhu, Muhyiddin ad-Durwais
  • Pendapat Non Muslim terhadap al-Quran dan Bibel
CATATAN KAKI
[1] I’rabul Quran al-Karim wa Bayanuhu, Muhyiddin ad-Durwais, 4/173
[2] Keagungan al-Quran al-Karim, Syaikh Mahmud bin Ahmad bin Shalih al-Dosari: 53
[3] Ibid: 57
[4] Tafsir Fi Dhilalil Quran, Sayid Qutb:
[6] Pendapat Non Muslim terhadap al-Quran dan Bibel
[7] Aunul Ma’bud Sarh Sunan Abu Dawud, 4/237-238
[8] Cara Mudah Menghafala al-Quran, Khadimul Quran: Ali Slaeh Muhammad bin Ali Jaber: 46

Filed under: TAFSIR MAUDHU’I Tagged: | Tafsir Qs. al-Hijr ayat 9

Contact Form

Name

Email *

Message *