Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Ahlussunnah. Show all posts
Showing posts with label Ahlussunnah. Show all posts

Sunday, July 18, 2010

Akidah Salaf As Shalih Sunday, July 18, 2010

Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

PENDAHULUAN

Kebangkitan dunia Islam telah menyadarkan banyak orang tentang kekuatan Islam, meskipun kebangkitan tersebut tidak melalui kekuasaan. Tetapi Islam memasuki kalbu, otak dan urat nadi orang yang mencari kebenaran, hanya saja kebangkitan tersebut perlu lebih diarahkan kepada satu asas dan bingkai yang diterima oleh semua pihak yang secara jujur membawa misi Islam, li'ilaa'i kalimatillah. 

Firman Allah Azza wa Jalla:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS.An-Nisaa' [4]:1)

Pembaca rahimakumullah,
Arah dan bingkai tersebut tak lain dan tak bukan adalah manhaj Salafusshalih; berupa perangkat pemahaman yang utuh dari ajaran Rasulullah saw.
Hal tersebut tentunya untuk menghindari berbagai penyimpangan yang dialamai oleh sebagian ummat Islam.

Penyimpangan tersebut bervariasi; dari yang besar sampai kepada dualisme pemahaman dengan maksud memilah-milah untuk kepentingan tertentu. Hal itu sangat berbahaya, karena dasarnya adalah hawa nafsu. Karena pemahaman sesungguhnya harus menyeluruh dan kita terima tanpa tawar menawar.

Salaf dan Aqidah Rasulullah saw sejak diutus oleh Allah SWT, telah mengajarkan aqidah tauhid kepada para shabatnya, sehingga mengakui kebesaran Allah SWT, keagungan syariat-Nya.

mereka cinta kepada Allah SWT berharap hanya kepada Allah SWT dan tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT. Mereka digambarkan oleh Allah SWT dalam firmanNya,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُبَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ 
"Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-easul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Rabb dan kepada Engkaulah tempat kembali." (QS. Al-Baqarah [2]:285).

Di samping itu Allah berfirman, 

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَوَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَوَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَوَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka... [Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka...Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)...Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka". (QS. Al-Mukminun [23]:57-60)

Untuk melihat keutuhan aqidah Salaf, marilah kita simak ucapan Sufyan bin Uyainah berikut ini,

"Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus nabi kita Muhammad saw, kepada seluruh manusia, untuk menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwasanya dia (Muhammad) adalah utusan-Nya. Maka tatkala mereka telah mau mengatakan bersaksi seperti itu, terjaminlah darah dan hartanya, kecuali dengan haknya, dan hisabnya hanya kepada Allah. Ketika Allah SWT mengetahui ketulusan hal itu dari hati nurani mereka, ia memerintahkan kepadanya (Muhammad) untuk menyuruh mereka sholat. Maka memerintahlah ia (Muhammad), dan mereka mau mengerjakannya. Demi Allah, seandainya mereka tidak mau mengerjakannya (sholat) maka sia-sialah ikrar/syahadat mereka tadi, juga sholatnya.

Ketika Allah mengetahui ketulusan hati mereka (dalam mengerjakan perintah tersebut), Allah memerintahkan kepadanya (Muhammad) agar menyuruh mereka berhijrah menuju Madinah. Maka ia (Muhammad) memerintah kepada mereka, dan mereka mau mengerjakannya. 

Demi Allah seandainya mereka tidak mau mengerjakannya, niscaya sia-sialah syahadat dan sholat mereka. Lalu ketika Allah mengetahui ketulusan hati mereka (dalam mengerjakan perintah tersebut), Allah memerintahkan mereka untuk kembali ke Mekkah, memerangi/membunuh bapak dan anak-anak mereka, sehingga bapak dan anak-anak mereka tersebut mau bersyahadat sebagaimana syahadat mereka, shalat sebagaimana shalat mereka, dan hijrah sebagaimana mereka hijrah. 

Mereka mau mengerjakan hal itu, sampai-sampai ada diantara mereka yang membawa kepala bapaknya, sambil berkata: "Wahai Rasulullah, inilah kepala pemuka orang-orang kafir." 

Demi Allah seandainya mereka tidak mau mengerjakannya, niscaya sia-sialah syahadat, shalat dan hijrah mereka. Ketika Allah mengetahui ketulusan hati mereka. Ia memerintah kepadanya (Muhammad) agar memerintah mereka bertawaf (mengelilingi) Ka'bah sebagai ibadah dan mencukur rambut mereka sebagai lambang rendah diri, dan mereka mau mengerjakannya. Demi Allah, seandainya mereka tidak mau mengerjakannya, niscaya sia-sialah syahadat, shalat, hijrah dan haji serta perlawanan perang (yang mereka lakukan) terhadap bapak-bapak mereka. Ketika Allah SWT mengetahui ketulusan hati mereka, maka Ia memerintahkan kepadanya (Muhammad) untuk mengambil harta mereka sebagai sedekah yang menyucikan mereka. Maka ia (Muhammad) memerintah mereka untuk itu, dan mereka mau mengerjakannya, sehingga mereka membawa harta mereka baik sedikit maupun banyak. Demi Allah, andaikan mereka tidak mau mengerjakannya, maka sia-sialah syahadat, shalat, hijrah, perang terhadap bapak mereka dan thawaf mereka. Ketika Allah SWT mengetahui ketulusan hati mereka, dalam mengerjakan syari'at-syari'at iman dan batas-batasnya;"

Allah SWT berfirman: 

"Katakanlah (hai Muhammad) kepada mereka!" "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.

Sufyan berkata: "Barangsiapa meninggalkan satu prinsip dari ajaran Islam, bagi kami ia adalah kafir. Barangsiapa meninggalkannya karena malas atau meremehkan, kita akan menghukumnya, dan ia menurut kita adalah kurang (imannya). Inilah sunnah.....sampaikanlah dari akau, apabila manusia bertanya kepadamu." (Al-Ajurry, Kitabu Asy-Syari'ah hal. 103 - 104).

Untuk itu kita menggali tauhid sedalam-dalamnya, seperti yang diungkapkan oleh imam Al-Laalikaa'i yang artinya:

"Sesungguhnya hal yang paling wajib atas seseorang adalah ma'rifat terhadap dien dan apa-apa yang Allah bebankan kepada hamba-hamba-Nya berupa pemahaman tauhid terhadap-Nya, sifat-sifat-Nya dan membenarkan utusan-utusan-Nya dengan dalil dan keyakinan, dengan cara istidlal dengan hujjah dan penjelasan. Dan sebaik-baik ucapan dan hujjah yang rasional adalah Al-Qur'an dan sabda Rasulullah serta perkataan shahabat, kemudian ijma' para Salaf As-Shaleh dan berpegang teguh terhadap keseluruhannya sampai hari kiamat serta menjauhi berbagai bid'ah yang diada-adakan oleh para penyesat, sekalipun hanya mendengarkannya." (Syarh Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah oleh Al-Laalikaa'i Juz I hal. 9)Demikianlah nasehat dan wasiat dari para ulama salaf, dari kalangan shahabat, tabi'in dan seterusnya..


SALAF DAN KAITANNYA DENGAN IBADAH

Secara bahasa, ibadah artinya tunduk dan patuh.
Secara syara', ibadah adalah nama yang mencakup semua kebaikan yang mengarah kepada ridha Allah SWT.

Secara lebih rinci Syaikh Abdurrahman Sa'di menyebutkan makna ibadah sbb:

"Ibadah adalah sempurnanya ketaatan dan kepatuhan kepada perintah-perintah Allah, berhenti dari larangan-larangan-Nya, mengendalikan diri dari batasan yang dibuat-Nya dan menerima semua yang diajarkan-Nya melalui lisan nabi-Nya tanpa menolak atau menyimpangkannya." (Shofwatul Atsr wal Mafaahim, hal. 46).

Sesuai dengan difinisi diatas, makna ibadah sangat luas, yang menyangkut dhohir maupun bathin. Dan pada makalah ini, kita akan membatasi pada makna dhohirnya saja. 

Seperti selalu kita baca yang artinya:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Katakanlah, Shalatku, korbanku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al-An'am [6]: 162).

Untuk mengetahui detil dari rincian ibadah dhohiriyah itu, sebaiknya kita simak hadits Rasulullah SAW berikut ini: 

"Dari Mu'adz bin Jabal, telah berkata;
'Aku telah berkata, 'Ya Rasulullah!, beritahukannlah aku suatu amal yang dapat memasukkan aku kedalam jannah dan menjauhkan akau dari neraka.' Nabi menjawab, 'Engkau telah bertanya tentang suatu perkara besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala atasnya".

Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah.'

Kemudian beliau berkata, 'Inginkah engkau kuberi petunjuk kepadamu akan pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai dan sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api dan shalat seorang ditengah malam.'

Kemudian beliau membaca ayat berikut,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُو
نَفَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo'a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (QS. As-Sajdah : 16 - 17).

Kemudian beliau bersabda:
'Maukah bila aku beritahukan kepadamu pokok amal dan tiang-tiangnya seta puncak-puncaknya? Aku menjawab, 'Mau ya Rasulullah!

Rasulullah bersabda, 'Pokok amal adalah Islam dan tiang-tiangnya adalah shalat dan puncknya adalah jihad.'

Kemudian beliau bersabda; 'Maukah aku beritahukan kepada tentang kunci perkara itu semua?'Aku menjawab, 'Mau,'Maka ia memegang lidahnya dan bersabda,'Jagalah ini!'Aku berkata, 'Ya Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?'

Maka beliau bersabda; 'Semoga selamat engkau! Adakah yang menjerumuskan orang keatas mukanya, (atau sabdanya, keatas hidungnya). kedalam neraka, selain buah ucapan mereka?"(Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia berkata 'Hadits itu hasan shahih).Keutamaan seseorang tidak hanya ditentukan dari kewajiban-kewajiban yang sudah dikerjakannya, namun juga oleh sejauh mana ia mengerjakan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

Lihatlah wasiat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA kepada Umar bin Khattab RA saat sudah dekat ajalnya. Dalam sebuah riwayat diriwayatkan yang artinya: "Sesungguhnya aku akan memberimu sebuah wasit jika kamu mau menerimanya. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mempunyai hak-hak dimalam hari yang Ia tidak mau menerimanya disiang hari. Demikian juga Allah Azza wa Jalla mempunya hak-hak disiang hari yang Ia tidak mau menerimanya dimalam hari. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima amalan sunnah sebelum amalan wajib dikerjakan." Kalau kita perhatikan kehidupan Salaf Ash-Shaleh akan kita dapatkan kesimpulan bahwa mereka persis seperti pernyataan: "Yaitu pendeta-pendeta diwaktu malam dan joki-joki diwaktu siang."

Bahkan kita dapatkan bagaimana kalau seseorang sudah kecapaian karena kerja keras di siang hari, sang isteri berperan untuk mengingatkan seperti riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Rojab Rahimahullah yang artinya:

"Suatu malam isteri Habib (yakni Abu Muhammad Al-Fars) membangunkan dan berkata: Bangun hai Habib, sesungguhnya perjalanan amatlah panjang, sedang bekal kita sedikit. Rombongan orang-orang shaleh telah berlalu, sedangkan kita tetap berhenti." (dinukil dari kitab Al-Hujjah fi Sairi Ad-Daljah karangan ibnu Rajab, hal. 67).

Yang harus menjadi catatan kita bahwa sebaik-baik ibadah itu adalah yang kontinyu dan berdasar petunjuk Nabi SAW. Abu Ubaidah bin Al-Mursanna berkata yang artinya:

"Sesungguhnya berlebih-lebihan didalam beribadah itu buruk, lengahpun buruk, dan sedang-sedang saja itu bagus."Oleh karena itu Ibnu Mas'ud Rahimahullah mendapatkan bahwa ibadah para tabi'in itu lebih banyak dari para Shahabat, ucapannya yang artinya:

"Kalian (para tabi'in) lebih banyak puasa dan shalat daripada para shahabat Muhammad SAW padahal mereka lebih baik daripada kalian". Mereka bertanya, 'Apa sebabnya? Beliau menjawab, 'Karena mereka lebih zuhud dari kalian dalam masalah dunia dan lebih mengutamakan akhiratnya."

Oleh karena itu batasan yang diajarkan oleh Nabi SAW dalam kaitannya dengan ibadah dhahir ini diantaranya yang artinya:

"Rasulullah SAW memerintahkan Abdullah bin Amru untuk mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu pekan. Dalam riwayat selama tiga hari. Beliau bersabda, orang yang membaca mengkhatamkannya lebih cepat dari itu tidak akan dapt memahaminya (Al-Qur'an). Demikian pula masalah puasa (yang paling afdhal) adalah puasa Daud Alaihissalam. Tidak ada puasa yang lebih afdhal daripada puasa Daud. Dan dalam masalah qiyam, adalah qiyam Daud."


Semoga kita diberikan hidayah dan kekuatan 
untuk mengikuti para Salaf Ash-Shaleh Ridhwanullah alaihim, Amin. 


Wednesday, May 19, 2010

Kufur Dan Takfir Wednesday, May 19, 2010



Tidak diragukan lagi, bahwa kekafiran merupakan kekejian dan kekotoran. Jika pengakuan iman tanpa didasari dengan ilmu dan tujuan yang benar, iman itu tidak hanya goyah, tetapi ia berbalik kepada kekafiran. Pembahasan berikut ini mengupas secara singkat masalah kufur dan takfir.

DEFINISI KUFUR
Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara', kufur adalah tidak beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Shalallahu 'alaihi wassalam, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya. [1] Orang yang melakukan kekufuran, tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya disebut kafir.

DEFINISI TAKFIR
Takfiri (Arab: تكفيري‎ takfīrī) adalah sebutan bagi seorang Muslim yang menuduh Muslim lainya (atau kadang juga mencakup penganut ajaran Agama Samawi lain) sebagai kafir dan murtad.

PRINSIP AHLUS SUNNAH DALAM KUFUR DAN TAKFIR 
1. Masalah pengkafiran adalah hukum syar'i dan tempat kembalinya adalah Allah SWT dan Rasul-Nya Shalallahu 'alaihi wassalam.

2. Barang siapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislaman itu tidak bisa lenyap darinya kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula. [2]

3. Tidak setiap ucapan dan perbuatan yang disifatkan nash sebagai kekafiran yang besar (kufur akbar) mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada dua macam; kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar). Maka, hukum atas perbuatan ini sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metode para ulama Ahlu Sunnah dan hukum-hukum yang mereka keluarkan.

4. Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir kepada seorang muslim, kecuali telah ada petunjuk yang jelas, terang dan mantap dari al-Qur'an dan as-Sunnah atas kekufurannya. Maka, dalam permasalahan ini tidak cukup hanya dengan syubhat dan zhan (persangkaan-asumsi) semata. (Ahlu Sunnah tidak menghakimi atas pelaku dosa besar tersebut dengan kekafiran. Namun menghukumi sebagai bentuk kefasikan dan kurangnya iman, apabila bukan dosa syirik dan dia tidak menganggap halal perbuatan dosanya). 

Hal ini karena Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An-Nisaa':48) 

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam memperingatkan dengan keras tentang tidak bolehnya seseorang menuduh orang lain dengan "kafir" atau "musuh Allah". Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Barangsiapa yang menyatakan kepada saudaranya 'ya kafir' maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya, apabila seperti yang ia katakan, namun apabila tidak, maka akan kembali kepada yang menuduh." [3]

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Dan barangsiapa yang menuduh kafir kepada seseorang atau mengatakan ia musuh Allah sedangkan orang tersebut tidaklah demikian, maka tuduhan tersebut berbalik, kepada dirinya sendiri." [4] Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan ataupun kekufuran, karena tuduhannya akan kembali kepada dirinya jika orang yang dituduh tidak seperti yang ia tuduhkan." [5]

5. Terkadang ada keterangan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah yang mendefinisikan bahwa suatu ucapan, perbuatan atau keyakinan merupakan kekufuran/bisa disebut kufur. Namun, tidak boleh seorang dihukumi kafir kecuali telah ditegakkan hujjah atasnya dengan kepastian syarat-syaratnya, yakni mengetahui, dilakukan dengan sengaja dan bebas dari paksaan, serta tidak ada penghalang-penghalang (yang merupakan kebalikan dari syarat-syarat tersebut) [6] Dan yang berhak menentukan seseorang telah kafir atau tidak adalah Ahlul 'Ilmi yang dalam ilmunya dan para ulama Rabanni [7], dengan ketentuan-ketentuan syari'at yang sudah disepakati.

6. Ahlu Sunnah tidak mengkafirkan orang yang dipaksa (dalam keadaan diancam) selama hatinya tetap dalam keadaan beriman. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar." (QS An-Nahl:106) 

7. Kufrun Akbar (kekafiran besar) ada beberapa macam: 
  • Istihlal (penghalalan) 
  • Juhud (mengingkari) 
  • Takdzib (mendustakan) 
  • Iba' (keengganan)
  • Syakk (keraguan) 
  • Nifaq (kmunafikan) 
  • I'radh (sikap berpaling) 
  • Istihza' (memperolok-olok)

8. Sebab-sebab yang dapat membawa kepada kekafiran besar ada 3 (tiga) macam: perkataan, perbuatan dan i'tikad (keyakinan). Diantara kufur 'amali (perbuatan) dan qauli (ucapan) ada yang bisa mengeluarkan pelakunya dari agama dengan sendirinya dan tidak mensyaratkan penghalalan hati. Yaitu sesuatu perbuatan atau perkataan yang jelas bertentangan dengan iman dari segala seginya, misalnya menghujat Allah SAW, mencaci-maki Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam, bersujud kepada berhala, membuang mushaf al-Qur'an ditempat sampah, dan perbuatan lain yang semakna dengan itu. Dijatuhkannya hukum kufur ini kepada orang-orang tertentu tidak boleh, melainkan setelah memenuhi syarat-syarat (kufur) yang bisa diterima, sebagaimana perbuatan-perbuatan lain yang menyebabkan kafir bagi pelakunya.

9. Sesungguhnya amalan kekafiran adalah kufur dan bisa menyebabkan pelakunya kafir., sebab keadaannya menunjukkan kepada batinnya yang juga kufur. Ahlu Sunnah tidak mengatakan seperti ucapan para ahli bid'ah: "Amalan kekafiran tidak kufur, tapi dia menunjukkan kepada kekufuran!" Perbedaan keduanya jelas.

10. Sebagaimana ketaatan merupakan sebagian dari cabang-cabang iman, demikian juga maksiat merupakan sebagian dari cabang kekafiran. Masing-masing sesuai dengan kadarnya.

11. Ahlu Sunnah tidak mengkafirkan seorangpun dari ahlul Kiblat (kaum Muslimin), karena dosa-dosa besarnya. Mereka mengkhawatirkan terjadinya nash-nash ancaman kepada pelaku dosa-dosa besar, walaupun mereka tidak kekal didalam neraka. Bahkan mereka akan bisa keluar dengan syafa'at dari para pemberi syafa'at dan karena rahmat Allah SWT, disebaban pada diri mereka masih ada tauhid. Pngkafiran karena dosa besar adalah madzhab Khawarij yang keji. [8]

PERBEDAAN ANTARA KUFUR BESAR DAN KUFUR KECIL
  • Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufurkecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi (pahala) nyasesuai dengan kadar kekufurunnya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.
  • Kufur besar menjadikan pelakunya kekal didalam Neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk Neraka, maka ia tidak kekal didalamnya, dan bisa saja Allah SWT memberi ampunan kepada pelakunya sehingga ia tidak masuk Neraka sama sekali.
  • Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.
  • Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Dan orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapapu ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya.[9] 

Wallahu'alam.

Demikianlah, semoga menjadi lebih jelas hendaknya bagi kita semua.
Amin.


CATATAN KAKI
[1] Majmu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimuyyah (XII/335) dan 'Aqidah Tauhid (hal 81) oleh Syaikh Shalih al-Fauzan.
[2] Majmu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimuyyah (XII/335)
[3] HR Muslim (no.60), Abu Awawah (1/23), Ibnu Hibban (no.250 at-Ta'liqatul Hisan 'ala Shahih Ibnu Hibban)
[4] HR.Muslim (no.61), dari Shahahabat Abu Dzarr Rahimahullah
[5] HR.Bukhari (no.6045) dan Ahmad (V/181), dari Shahabat Abu Dzarr Rahimuhullah
[6] Syarat-syarat seseorang bisa dihukumi kafir: Mengetahui dengan jelas, Dilakukan dengan sengaja dan tidak ada paksaan. Sedangkan tidak ada penghalang yang menjadikan seseorang dihukum kafir yaitu: Tidak mengetahui, Tidak disengaja dan Karena dipaksa.
[7] Rabbani ialah orang yang bijaksana, alim dan penyantun serta banyak ibadah dan ketaqwaannya. (Lihat Tafsr Ibnu Katsir (I/405)
[8] Lihat bahasan kufur dan takfir: Mujmal Masaa-il al-Iman wal Kufr al-'Ilmiyyah fii Ushuulil 'Aqiidah as-Salafiy (hal.28-35) oleh Musa Alu Nashr, 'Ali Hasan al-Halaby al-Atsary, Salim bin 'Ied al- Hilaly, Mashur Hasan Alu Salman, Husain bin 'Audah al-Awayisyah, Bassim bin Faishal al-Jawaabirah, al-Wajiiz fii 'Aqiidatis Salafish Shahih (hal.121-126 oleh 'Abdullah bin Abdil Hamid al-Atsary, dimuraja'ah dan ditaqdim oleh beberapa ulama dan fitnatut Takfir oleh Muhadditsul 'Ashr Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, taqdim oleh Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz, taqlid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dikumpulkan oleh Ali bin Husain Abu Lauz, Cet.II/1418H
[9] Disadur dari syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, hal.218-224 Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Contact Form

Name

Email *

Message *