Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Shalawat. Show all posts
Showing posts with label Shalawat. Show all posts

Thursday, September 3, 2020

Macam Macam Shalawat Thursday, September 3, 2020


Kapan saja, dalam situasi seperti apa saja, melantunkan shalawat artinya sama dengan  menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT dan wujud cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Membaca Shalawat merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT yang mengandung berbagai keistimewaan bagi yang mengamalkannya. Menariknya, menjadikan Shalawat  sebagai amalan sehari-hari dapat mengubah kehidupan menjadi lebih berkah dan urusan menjadi lebih mudah. Hukum membaca Shalawat adalah sunnah muakkad. Namun sebagai salah satu rukun shalat bagi setiap Muslim, shalawat tentu wajib dan selalu dibaca pada tasyahud akhir.

Pengertian Shalawat 
Secara bahasa, shalawat adalah bentuk jamak dari 'shala' yang berarti doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Menurut istilahnya, shalawat adalah bentuk doa dan pujian untuk nabi sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Ada tiga macam shalawat, yaitu:
  1. Shalawat dari Allah, 
  2. Shalawat dari malaikat, dan 
  3. Shalawat dari manusia. 

Pengertian shalawat menurut ulama: 
  1. Shalawat dari Allah adalah pemberian rahmat dan kemuliaan, 
  2. Shalawat dari malaikat berarti memohonkan ampunan.
  3. Shalawat dari umat manusia artinya adalah doa agar beliau (Nabi Muhammad SAW) dilimpahi rahmat dan kemuliaan dari Allah.

Macam-macam shalawat menjadi bagian dari amalan sehari-hari umat Islam. Dengan bershalawat sesering mungkin, seseorang akan memperoleh berbagai kebaikan dan keutamaan dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat. Tidak hanya itu, mereka yang rajin bershalawat akan dikaruniai hati yang penuh dengan ketentraman.

Dalil Shalawat
Shalawat bukan permintaan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya, akan tetapi merupakan perintah Allah Subhanahu Wata'ala kepada setiap Muslim. 

Allah SWT berfirman, 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab: 56)

"Maka lakukanlah penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik atau kembalikanlah penghormatan itu." (QS. An Nisa: 86).

Sedangkan di sisi lain, doa nabi Muhammad SAW merupakan syafaat, dan semua ulama sepakat bahwa doa-doa beliau tidak akan ditolak oleh Allah SWT. 

Nabi Muhammad SAW bersabda, 
"Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya ucapan shalawat kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada." [HR. Abu Daud No. 2044 dengan Sanad Hasan]

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memiliki Malaikat-Malaikat yang terbang ke berbagai tempat di bumi menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” [Shahih HR Imam Ahmad]

Macam-Macam Shalawat 
Ada 6 macam shalawat, yakni; shalawat faith, shalawat nariyah, shalawat matsurah, shalawat mukafaah, shalawat ibrahimiyah, dan shalawat nur al-anwar. Setiap shalawat memiliki bacaannya masing-masing seperti berikut:

1. Shalawat Fatih
Allahumma sholli ala sayyidina muhammaddinil fatihi lima ughliqo wal khotimi lima sabaqo, nashiril haqqi bil haqqi wal hadi ila shirotikal mustaqim wa ala alihi haqqo qodrihi wa miq darihil adzim.

Artinya: 

Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan serta berkah kepada nabi Muhammad SAW, sebagai pemuka sesuatu yang terkunci, dan penutup sesuatu (para nabi) yang terdahulu, dialah penolong yang benar dengan membawa kebenaran serta petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada keluarga dan para sahabatnya dengan sebenar-benarnya dengan pangkat dan kedudukan yang agung.

2. Shalawat Nariyah
Allaahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaamaan taamman alaa sayyidinaa muhammadinil ladzii tanhallu bihiluqodu watanfariju bihilkurobu watuqdhoo bihilhawaaiju watunaalu bihir roghooibu wahusnul khowaatimi wayustasqaal ghomaamu biwajhihilkariimi waalaa aalihii washohbihii fii kulli lamhatin wanafasin biadadi kulli maluumin laka.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujan pun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

3. Shalawat Matsurah
Allaahumma sholli alaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi wasallim.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad yang tiada dapat membaca dan menulis (Ummy) dan semoga keselamatan tercurah kepada segenap keluarganya.

4. Shalawat Mukafaah
Allohumma sholli ala sayidina muhammadin wa ala alihi sayidina muhammad, sholatan maqbulatan tu,addi biha anna haqqohul adzim.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kita Muhammad SAW yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang menjadi kekasih Allah SWT, yang luhur pangkatnya dan yang agung kemuliaannya, dan limpahkanlah pula atas keluarganya dan para sahabatnya.

5. Shalawat Ibrahimiyah
Allahumma shalli alaa sayyidinaa muhammad waalaa aali sayyidinaa muhammadin kamaa shallaita alaa sayyidinaa ibraahiima waalaa aali sayyidinaa ibrahiia wabaarik alaa aali sayyidinaa muhammadin kamaa baarakta alaa sayyidinaa alaa sayyidinaa ibraahima wa alaa aali sayyidina ibraahima, fil aalamiina innaka hamiidun majiidun.

Artinya:

Ya Allah, berilah kasih sayang kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi kasih sayang-Mu kepada junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kita nabi Ibrahim dan keluarganya di antara makhluk makhluk-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

6. Shalawat Nur Al-Anwar
Allahumma Shalli Alaa Nuuril Anwaari Wasirril Asraari, Watiryaaqil Aghyaari Wamiftaahi Baabil Yasaari, Sayyidinaa Wamaulaana Muhammadinil Muhtaari Wa Aalihil Ath Haari Wa Ash Haabihil Ahyaari Adada Niamillaahi Wa Ifdhaalih.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada cahaya dari segala cahaya, di balik tabir dari segenap rahasia, penawar sedih dan kebingungan, pembuka pintu kemudahan, yakni junjungan kami, Nabi Muhammad saw. yang terpilih, keluarganya yang suci, dan para sahabatnya yang mulia sebanyak hitungan nikmat Yang Mahakuasa dan karunia-Nya

Keutamaan dan Manfaat Membaca Shalawat 
Sebagai amalan ibadah yang dianjurkan, membaca shalawat tentu memiliki keutamaan dan banyak manfaat bagi umat muslim. Keutamaan dari shalawat banyak dijelaskan oleh hadis. Di antaranya apa yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya dari haditsnya Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali, serta menghapus sepuluh kejelekannya." [HR. Ahmad 19/57 no: 11998]

Berbagai berkah akan memancar dalam kehidupan umat muslim yang selalu mengamalkan shalawat dalam kehidupan sehari-hari. Di antara berbagai kebaikan serta keutamaan yang akan diperoleh para pecinta shalawat adalah:
  • Melaksanakan perintah Allah SWT.
  • Meneladani Allah SWT yang bershalawat untuk nabi-Nya, walau jelas jauh berbeda antara shalawat kita, umat manusia, dengan shalawat Allah Ta'ala. Karena maksud shalawat manusia kepada nabi adalah do'a serta permohonan berkah sedangkan shalawat Allah SWT adalah memuji dan memuliakan nabi-Nya.
  • Bershalawat dapat mengangkat derajat dan menghapus kejelekan, sebagaimana telah dijelaskan dalam banyak hadits.
  • Mengharapkan terkabulkan do'a apabila di tutup dengan membaca shalawat. Di riwayatkan oleh Dailami di dalam kitabnya Musnad Firdausnya dari haditsnya Anas, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Setiap do'a terhalangi sampai sekiranya ia mau bershalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam." HR Dailami no: 4754. Dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Silsilahnya 5/57 no: 2035.
  • Sebagai penutup kesedihan seorang hamba.
  • Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW termasuk di antara hak dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh umatnya sebagai balasan atas kebaikan yang mereka peroleh dari beliau.
  • Hidup akan diselimuti ketenangan jiwa serta manisnya iman dan taat dalam beribadah.
  • Doa menjadi lebih mudah terkabul apabila selalu diiringi dengan shalawat.
  • Disinari oleh pancaran cahaya iman, rahmat, dan keberkahan.
  • Kehidupannya akan diriingi oleh semangat yang tinggi dalam beribadah.

Wallahu a'lam bisyawwab - Imelda Rahmah

Saturday, October 20, 2012

Bagaimana Seharusnya Umat Kristen Memahami Shalawat Saturday, October 20, 2012

Kaum kufar seringkali menuduh umat Muslim bershalawat kepada Nabi Muhammad saw sebagai tanda bahwa beliau belum selamat. Tuduhan ini, tentu saja didasari oleh ketidakmengertian mereka tentang bagaimana seharusnya memaknai shalawat.
Untuk itu, mari sama-sama kita fahami terlebih dahulu arti dari shalawat itu sendiri.
Shalawat artinya memohonkan kemuliaan atau kesejahteraan. Sedangkan shalawat adalah perintah Allah SWT kepada setiap muslimin melalui firman-Nya, 

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab' 33:56) 

Jika dilihat, shalawat itu memang hampir mirip seperti doa, tapi sesungguhnya tidak bermakna seperti doa kita pada umumnya. Bershalawat dari Allah berarti memberi rahmat: Maksud malaikat bershalawat kepada Nabi yaitu malaikat turut memohon ampunan kepada Allah. Sedangkan shalawat orang-orang beriman kepada Nabi maksudnya ucapan salam dan penghormatan atas rahmat dan kesejahteraan diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 

Jadi ayat diatas menegaskan bahwa shalawat itu adalah wajib bagi kaum Muslim perintah dari Allah, lantas apakah itu berarti Nabi Muhammad belum selamat? Kesemuanya itu bukan berarti karena Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam belum selamat atau tidak mendapat keselamatan dari Allah Subhana Wa Ta'ala. 

NABI MUHAMMAD DAN SEMUA NABI ALLAH DIJAMIN MASUK SORGA
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah dijamin masuk surga, ayatnya secara implisit dalam Al-Qur'an: 

 إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu (Muhammad) terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus," (QS. Al-Fath' 48:1-2) 

Dosa Nabi Muhammad telah diampuni oleh Allah baik yang telah lalu maupun yang akan datang serta dipimpin ke jalan yang lurus. Itulah salah satu kelebihan para Nabi-Nabi Allah yang semuanya sudah pasti mendapat jaminan surga dari Allah, semua Nabi-Nabi pilihan Allah sudah pasti akan diselamatkan diakhirat kelak serta orang-orang yang beriman: 

 إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ
"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)," (QS. Al-Mu'min' 40:51) 

Kita sudah mengetahui bahwa para Rasul Allah pasti selamat dunia dan akhirat, tapi jaminan itu tidak menyurutkan mereka untuk tetap taat beribadah kepada Allah serta terus memohon ampunan kepada-Nya. Dan hal tersebut merupakan kelebihan lain para Nabi Allah dibanding manusia biasa. Walaupun jaminan surga sudah mereka dapatkan, tapi mereka tidak henti-hentinya bersyukur dengan ibadah yang lebih khusyuk lagi. Inilah contoh bagaimana Nabi Muhammad tidak henti-hentinya bersyukur walaupun sudah dijamin kehidupannya dunia dan akhirat: 

Diriwanyaatkan dari Aisyah R.A:
‘Sungguh Nabi Muhammad Shallallahu’ Alaihi Wasallam shalat malam hingga merekah kedua telapak kakinya. Aisyah berkata kepada beliau :”Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”, Beliau menjawab, “Apa aku tidak ingin menjadi hamba yang bersyukur?” [HR Bukhori dan Muslim No.5046] 

Tanpa perlu penjelasan yang lebih lebar lagi kita sudah mengetahui bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alahi Wasallam telah dijamin masuk surga. Sekarang pertanyaannya, mengapa kita masih harus bershalawat kepada Nabi Muhammad, bukankah dia sudah pasti masuk surga? Lantas apa fungsi shalawat itu? 

FUNGSI SHALAWAT
Tujuan Allah menyuruh manusia bershalawat kepada Nabi Muhammad ialah agar umat Islam seluruhnya menaruh rasa hormat kepada beliau. Sebab beliau adalah pilihan-Nya untuk menjadi Nabi terakhir dan penutup para Nabi, yang membebaskan manusia dari kehidupan jahiliyah. Atas perjuangan beliau, umat manusia bisa dihantarkan ke alam yang terang benderang. Beliaulah yang mengantarkan umat manusia dari kehidupan hewani menjadi kehidupan yang manusiawi. Jika tidak ada beliau, entah kebejatan moral apa yang dilakukan oleh umat manusia. 

Oleh sebab itu, sebagai orang yang tahu diri, umat manusia sangat wajib untuk mensyukuri jasa beliau. Untuk mengabadikan rasa syukur dan jasa beliau inilah maka 'shalawat serta salam' dijadikan sebagai salah satu rukun dzikri, yaitu suatu bacaan rukun bagi umatnya setiap mengerjakan shalat. 

Dimasyarakat modern inipun kita melihat mereka mempunyai cara tersendiri untuk mengenang jasa orang yang menurut mereka pahlawan, contohnya membuat patungnya, gambarnya, atau seperti para pahlawan Indonesia yang wajah mereka diabadikan dalam uang kertas. Sedangkan Allah memberi petunjuk kepada kita untuk mengenang jasa Nabi terakhir pahlawan terbesar dan terpuji umat manusia dengan mengucapkan shalawat kepada beliau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Seandainya Allah tidak memberikan contoh dan petunjuk tentang tata cara mensyukuri karunia-Nya yang telah diberikan melalui baginda Nabi, tentu akan terjadi bermacam-macam cara dalam mensyukuri nikmat tersebut. Misalnya, dengan memberikan sesajian, tumbal, korban hewan dan lain-lain menurut selera dan keinginan masing-masing dan akhirnya mengarah pada pengkhultusan kemusyrikan. 

Oleh karena Allah memberikan petunjuk Al Qur'an dalam hal etika menghormati manusia pilihan-Nya itu, maka umat Islam mematuhi perintah tersebut agar tidak terjadi kekacauan dalam beribadah kepada-Nya. 

Fungsi lain shalawatpun tertera dalam salah satu hadits disebutkan sebagai berikut:
"Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam: "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali saja, niscaya Allah akan memberikan sepuluh kesejahteraan kepadanya dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan dan diangkat baginya sepuluh derajat." [HR. Bukhari, Nasa'i, Ibnu Hibban dan Hakim]. 

Atas dasar hadits di atas, maka umat Islam di manapun berada selalu membacakan shalawat kepada Rasulullah setiap waktu shalat maupun setiap kali mendengar namanya disebut. Sebab dengan membacakan satu kali shalawat kepada Rasulullah, maka balasannya adalah mendapat sepuluh kebaikan dan dihapuskan sepuluh keburukan. Nah, siapa yang tidak mau mendapat pahala sebanyak itu? 

Dengan demikian, keberadaan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah sungguh membawa berkah dan rahmat bagi umatnya. Sebab dengan bershalawat kepadanya satu kali saja, akan memperoleh pahala sepuluh kebaikan dan menghilangkan sepuluh keburukan. Subhanallah, sungguh beruntung menjadi pengikut beliau. 

Jadi intinya shalawat kepada Nabi itupun kembali kepada diri kita sendiri. Lalu apa hanya Nabi Muhammad yang mesti dishalawatkan? 

DALAM AL-QUR'AN PARA NABI PUN DISHALAWATKAN
  • Shalawat untuk para Rasul Allah
"Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam." (T-QS. Ash-Shaaffaat' 37:180-183)
  • Shalawat untuk Nabi Ibrahim Alaihissalam
"Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (T-QS. Ash-Shaaffaat' 37:108-109)
  • Shalawat untuk Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Harun Alaihissalam
"Dan Kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian; (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Musa dan Harun." (T-QS. Ash-Shaaffaat' 37:119-120)
  • Shalawat untuk Nabi Nuh Alaihissalam
"Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian; "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam." (T-QS. Ash-Shaaffaat' 37:78-79)
  • Shalawat untuk Nabi Ilyas Alaihissalam
"Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?" (T-QS. Ash-Shaffaat' 37:129-130)
  • Shalawat untuk Nabi Isa Alaihissalam
"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (T-QS. Maryam' 19:30-33)
  • Shalawat untuk Nabi Yahya Alaihissalam
"Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali." (T-QS. Maryam' 13:12-15) 

Itulah ucapan shalawat untuk para Nabi dalam Al-Qur'an. Gelar "Alaihissalam" sendiri yang dimiliki oleh para Nabi juga merupakan shalawat yang berarti "semoga keselamatan dilimpahkan kepadanya", begitu juga dengan gelar Nabi Muhammad yaitu "Shallallahu 'Alaihi Wasallam". 

Intinya bershalawat kepada Nabi adalah perintah Allah, bukan atas inisiatif para Nabi, bukan karena semata-mata keinginan Nabi Muhammad, tapi perintah Allah kepada manusia beriman sebagai bentuk pernghormatan kepada para Nabi-Nya. Ketauhilah bershalawat atau tidaknya kita kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak akan menurunkan derajad beliau disisi Allah sebagai manusia termulia. Seandainya pun didunia ini tidak ada yang bershalawat kepada beliau, tentu tetap tidak menurunkan urutan beliau Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai manusia yang pertama kali mengetuk pintu surga. Semoga ini dapat menjawab keraguan anda terhadap Islam. 

Allahumma Shalli 'alaa Muhammad, Wa'alaa aali Muhammad. Kama Shallaita' alaa Ibrahima Wa'alaa aali Ibrahima Wabarikh 'alaa Muhammad Wa'alaa aali Muhammad, Kama Barakhta 'alaa Ibrahima wa'ala aali Ibrahima, fil' aalamiinaa' Innaka hamidun majiid. 

Salam Bagi Kaum Yang Mengikuti Petunjuk!

[Sourse: Islam Menjawab Fitnah]

Friday, September 7, 2012

Alkitab Juga Mengajarkan "Shalawat" Untuk Yesus Friday, September 7, 2012


DALAM ALKITAB YESUS JUGA DISHALAWATKAN
Umat Kristen begitu bersemangat mempermasalahkan masalah shalawat Nabi dalam ajaran Islam karena mereka berpikir dalam Biblenya tidak mengajarkan shalawat kepada Nabi. Apa betul demikian? Ternyata mereka salah, sebab sang Nabi dari Nazaret pun sesungguhnya dishalawatkan oleh para pengikut beliau pada zaman itu. 

[Matius 23:39] Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat aku lagi, hingga kamu berkata: DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan!” 

[Lukas 13:35] Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat aku lagi hingga pada saat kamu berkata: DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan!” 

[Lukas 19:38] Kata mereka: “DIBERKATILAH DIA yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” 

[Yohanes 12:13] Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Isa Al Masih sambil berseru-seru: “Hosana! DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” 

[Matius 21:9] Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" 

Doa hosana dan doa berkat tersebut diatas adalah untuk Yesus. Apakah arti HOSANA? Doa atau pujian? Kita lihat Hosana dalam Perjanjian lama pada Mazmur 118:25.

אנא יהוה הושיעה נא אנא יהוה הצליחה נא
ānnā’ yəhwâ HWOSI‘AH NA’ ’ānnā’ yəhwâ haṣəlîḥâ nnā’
Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!

Kita bisa mengerti bahwa HOSANA mengandung pengertian seruan doa, ”A Hebrew exclamation of praise to the Lord, or an invocation of blessings.” Lihat penjelasan lebih detildi sini.

Asal kata HOSANA secara jelas dari situs Wikipedia:
"The word hosanna is etymologically derived from the Hebrew, הושיעה־נא hôšî‘âh-nā’ (baca howsyi’ahnnaa). Christian usage has come through the Greek Bible, giving it the form ὡσαννά, hōsanná." 

"Kata HOSANNA berasal dari bahasa Ibrani הושיעה־נא , hôšî‘âh-nā’. Umat Kristen mengambilnya dari Injil berbahasa yunani yang tertulis HOSANNA."

From the Bauer lexicon: derived from Aramaic (הושע נא) from Hebrew (הושיעה נא)  (Psalm 118:25, הוֹשִׁיעָהנָּא ), meaning “help” or “save, I pray“, “an appeal that became a liturgical formula; as part of the Hallel… familiar to everyone in Israel.”

Dari Kamus kata Bauer: Diambil dari bahasa aram (הושע נא) dan juga bahasa Ibrani (הושיעה נא) (Mazmur 118:25, הוֹשִׁיעָהנָּא) yang berarti “Tolong” atau “Selamatkanlah, Ku berdoa”. Sebuah seruan yang menjadi tata cara ibadah; sebagai bagian dari Hallel yang dikenal setiap orang di israel.

From the Friberg Lexicon: hosanna, indecl. particle translit. fr. the Heb.; strictly, a cry expressing an appeal for divine help “save! Help, we pray!”; in a liturgical usage, a shout of praise and worship “hosanna, we praise you” (Matthew 21.9). 

Dari Kamus kata Friberg: HOSANNA, diambil dari bahasa Ibrani yang berarti: seruan dengan sungguh sungguh & tegas untuk meminta pertolongan Tuhan. “Selamatkanlah! Tolonglah, kami memohon!”. Dalam tata ibadah, seruan untuk berdoa & memohon “HOSANA, Kami memberkatimu” 

From the UBS Lexicon: hosanna (in Aramaic), an exclamation of praise literally meaning, “Save, I pray”. 

Dari Kamus kata Lexicon: HOSANNA (bahasa aram), sebuah seruan doa yang berarti: “Selamatkanlah, Kumohon” 

From the Louw-Nida Lexicon: hosanna (an Aramaic expression meaning “help, I pray” or “save, I pray,” but which had become a strictly liturgical formula of praise) a shout of praise or adoration – “hosanna; blessed is the one who comes in the name of the Lord” Mark 11.9; “hosanna in the highest” Mark 11.10; “hosanna to the Son of David” Matt 21:9. Mt 21.9 may also be rendered as “praise to you, Son of David” or “we praise you who are the Son of David” or “…a descendant of David.”

Dari Kamus kata Louw Nida: HOSANA (sebuah ekspresi dari orang aram yang berarti “Selamatkanlah, Ku doakan”, tapi menjadi susunan kata ibadah doa yang tegas). 

Hosanna in the highest,” the closing words of which no longer give any sense The same is the case with the words “Hosanna to the son of David” in Matt xxi. 9, “Hosanna in the highest” being a corruption of the original version. Lebih detil lihat di sini.

Menurut info dari Wikipedia pengertian kata “hosanna” ada 2 pandangan: 

1. Judaism “Hoshana” (הושענא) is a Hebrew word meaning PLEASE SAVE OR SAVE NOW. In Jewish liturgy, the word is applied specifically to the Hoshana Service, a cycle of prayers from which a selection is sung each morning during Sukkot, the Feast of Booths or Tabernacles. The complete cycle is sung on the seventh day of the festival, which is called Hoshana Rabbah (הושענא רבא, “Great Hosanna”). 

2. Christianity "Hosanna" (Greek transcription: ὡσαννά, hōsanna) is the CRY OF PRAISE OR ADORATION shouted in recognition of the Messiahship of Jesus on his entry into Jerusalem, Hosanna! Blessed is the one who comes in the name of the Lord![3] It is used in the same way in Christian praise. Lihat detil di sini

Pengertiannya jelas berbeda bukan? Yahudi yang empunya kata “hosanna” mengartikannya sebagai permohonan alias doa sedangkan Christian mengartikannya sebagai pujian/sanjungan. 

Etymology: Hosanna \Ho*san”na\ (h[-o]*z[a^]n”n[.a]), noun; plural Hosannas(-n[.a]z). [Greek, from Hebrew h[=o]sh[=i]‘[=a]h nn[=a]save now, save, we pray, h[=o]sh[=i]a’ to save (Hiphil, a causative form, of y[=a]sha’) + n[=a], a particle.]. Lebih jelas, lihat di sini

Dari etymology diatas jelas bahwa “hosanna” adalah mengharap/ memohon selamat bukan memuji “sang penyelamat” 

Perhatikan lagi Mazmur 118:25

אנא יהוה הושיעה נא אנא יהוה הצליחה נא
ānnā’ yəhwâ HWOSI‘AH NA’ ’ānnā’ yəhwâ haṣəlîḥâ nnā’
We beseech Thee, O LORD, SAVE NOW! We beseech Thee, O LORD, make us now to prosper!

O LORD, SAVE NOW!, terj. Literal: Oh Gusti, selamatkanlah sekarang! Apakah Permohonan atau Doa atau pujian?
Check juga pengertian “hosanna” sebelum kedatangan Christianity.

Perhatikan Mazmur 117:25 di sini
ω κυριε σωσον δη ω κυριε ευοδωσον δη (Septuagint)
o kurie SOSON de o kurie euodoson de
O Lord, save now: O Lord, send now prosperity

Save now = selamatkanlah sekarang, bermakna permohonan/doa atau pujian? 
σωσον SOSON verb – aorist active middle – second person singular sozo sode’-zo: to save, i.e. deliver or protect — heal, preserve, save (self), do well, be (make) whole.

Bandingkan arti kata σωσον SOSON dalam Perjanjian Baru pada Markus 15 :30.
σωσον σεαυτον και καταβα απο του σταυρου sôson
seauton kai kataba apo tou staurou
Turunlah dari salib itu dan SELAMATKAN diri-mu! 

Apakah kata soson bermakna permohonan atau pujian? Apakah saudara masih Kurang yakin? Silahkan cermati juga Vulgate. 

Psalm 117:25 o Domine salvum fac o Domine prosperare
O Lord, SAVE ME: O Lord, give good successsave me = selamatkanlah diriku 

Bermakna permohonan/doa atau pujian? Jadi, berdasarkan info-info diatas, kata “hosanna” bermakna permohonan dilimpahkan keselamatan alias doa, chek juga pemakaian kata itu pada liturgy Jahudi, dan ternyata para patriarch Abraham, Isaac, Jacob, Moses, Aaron, Joseph dan David juga “dihosannahi” alias di mohonkan keselamatan. Lihat juga di sini.

Hoshanot Today is Hoshana Rabbah, the seventh day of the festival of Sukkot which is also a minor holiday of its own. The name means “The Great Hoshana” or “The Great ‘Please Save Us’!” 

Dalam penggalan ayat Bible di bawah ini kita dapat melihat doa sekaligus berkat tersebut adalah untuk Yesus Kristus atau Nabiullah Isa Al Masih alaihissalam: 

[Lukas 19:38] Kata mereka: “DIBERKATILAH DIA yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!”

[Yohanes 12:13] Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Isa Al Masih sambil berseru-seru: “Hosana! DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” 

[Matius 21:9] Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"

Anda dapat mendoakan orang lain (misal teman) dengan format yang serupa dengan format doa berkat itu. Misal, “Diberkatilah kamu oleh Tuhan“, “Allah memberkatimu“, “Dilapangkanlah jalan-jalanmu“, “Dimudahkanlah ujian hari ini“, dsb.Dalam bahasa Arab, seringkali anda akan mendengar seorang muslim mendoakan saudaranya dengan “Barokallahu fiikum” yang berarti ” Semoga ALLAH memberkahi anda“, “Berkat ALLAH tercurah atas anda“ 


Yesus bukan hanya mendoakan para pengikutnya, bahkan para Nasrani generasi pertama pun juga mendoakan sholawat dan berkat untuk beliau. Sekali lagi, doa sholawat dan salam adalah kebiasaan para pengikut para Nabi dari dahulu untuk Nabi mereka.


[Sumber: Islam Menjawwb Fitnah]

Thursday, February 16, 2012

Menjawab Kebingungan Kristen Tentang Shalawat Thursday, February 16, 2012


Kaidah-kaidah ilmu Ushul digunakan untuk mengetahui keinginan atau maksud dari sebuah redaksi yang bagi orang awam sedikit membingungkan. Misalnya sebuah kata perintah (amr) atau larangan (Nahyu), akan bisa diterjemahkan maknanya apabila ada kata yang mendukung kata yang lainnya atau kata itu akan berubah arti dari arti sebenarnya jika dikaitkan keadaan subjek dan objek yang dibicarakan. Sebagai contoh, perintah (amar), yang artinya: Tuntunan melakukan pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya). Yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal ini adalah Allah dan yang lebih rendah kedudukannya adalah manusia (mukallaf).

Jadi Amr ialah perintah Allah Swt yang harus dilakukan oleh ummat manusia yang mukallaf. Misalnya: wa aqiimush shalata. (QS. Al baqarah: 43). Dan dirikanlah shalat!

Amar itu mempunyai ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar pengambilan atau penetapan hukum. Ketentuan-ketentuan itu kemudian kita kenal dengan istilah kaidah. Amar mempunyai beberapa kaidah:

  1. Al ashlu fil amar lil wujub. Artinya: pada dasarnya amr itu menunjukkan wajib. Setiap amr atau perintah itu menunjukkan hukum wajib , kecuali ada petunjuk yang menunjukkan arti selain wajib.
  2. Amr menunjukkan arti sunnah/ Nadb, seperti Firman Allah : Hendaklah kamu buat perjanjian (menebus diri) dengan mereka (hamba sahaya), jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka (QS. An Nur: 33)
  3. Amr menunjukkan arti irsyad lil irsyad, atau petunjuk , seperti Firman Allah ; Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (hutang)untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah: 282)
  4. Amr menunjukkan arti ibahah, mubah seperti firman Allah : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar (QS. Al Baqarah: 187)
  5. Amr menunjukkan arti tahdid (ancaman)
  6. Amr menunjuk pada arti ikram (memuliakan).
  7. Amr menunjukkan pada arti taskhir (penghinaan), jadilah kamu kera yang hina (QS.Al Baqaarah: 65)
  8. Amr menunjukkan pada ta'jiz (melemahkan)
  9. Amr menunjukkan pada arti taswiyah (mempersamakan)
  10. Amr menunjukkan pada arti doa, atau permohonan seperti Firman Allah:Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201)
Terakhir ada amr yang menunjukkan kepada arti iltimas, yaitu ajakan seperti kata-kata kepada kawan-kawan sebaya kerjakalah ~ misal: tolong ambilkan baju itu, datang dong kepesta ulang tahunku dll.

Kembali kepada persoalan diskusi kita mengenai shalawat kepada Nabi, yang berarti memohon doa keselamatan, kesejahteraan dan rahmat untuk junjungan Nabi Muhammad Saw. Seperti Firman Allah:

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al Ahzab: 56)

Setelah kita mengetahui kaidah ushul fiqh diatas, bahwa setiap kata perintah belum tentu menentukan sebuah hukum wajib, bisa jadi kata perintah itu berarti memohon, mengajak, petunjuk, anjuran, mengharapkan, dll

Mari kita kaji surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut terdapat kalimat bahwa Allah bershalawat kepada Nabi. Kemudian para malaikat, dan selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi. Arti shalawat adalah doa, memberi berkah, dan ibadat.

Shalawat Allah kepada Muhammad, berarti Allah memberi berkah, penghargaan, dan menempatkan Rasulullah yang mulia disisi-Nya. Kemudian shalawat Malaikat kepada Muhammad: Adalah memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan kerasulan Muhammad, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam as.

Dikarenakan Allah selalu memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, (kebesaran), maka ummat Muhammad hanya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng untuk beliau dan keluarganya, walaupun shalawat orang-orang mukmin tiada artinya bagi Muhammad karena beliau telah medapatkan curahan rahmat dan keberkatan itu langsung dari Allah selamanya. Sesungguhnya Allah bershalawat (memberi keselamatan, keberkatan, penghargaan, kebahagiaan) kepada Muhammad dan keluarganya. (QS. Al Ahzab 56)

Perhatikan kata shalawat Allah kepada Muhammad pada ayat di atas, bagaimana menurut anda jika kata shalawat diartikan berdoa, Apakah Allah akan berdoa untuk Muhammad? Allah berdoa kepada siapa?

Berkata Al Hulaimi dalam Asy syu'ab, tegasnya, pengertian shallu alaihi ~ bershalawat-lah kepadanya, ialah: ud'u rabbakum bish shalati alaihi ~ mohonlah kamu kepada Tuhanmu supaya melimpahkan shalawat kepadanya .

Penghormatan anda kepada presiden bukan berarti kehormatan presiden itu akan bertambah atau berkurang kalau anda tidak menghormatinya, karena kedudukan presiden itu adalah tempat yang paling terhormat di suatu negara. Sebagai rakyat seharusnyalah kita mengormati dan menghargai presiden sebagaimana Allah telah memuliakan orang yang diangkat derajatnya sebagai presiden. Sebab orang tersebut tidak akan menjadi presiden tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hargailah dan bersyukurlah kita telah memiliki presiden.

Logika anda yang menyebutkan bahwa mana mungkin bahwa seorang rakyat yang menderita memerintahkan presiden untuk menaikkan pangkat dan gajinya sang panglima sementara diri kita yang menderita masih kekurangan.

Setelah anda membaca uraian saya mengenai kaidah ushul, mari kita coba membandingkan makna kata perintah yang terdapat dalam Alqur'an, yang apabila membaca ayat tersebut tidak memahami kaidahnya maka artinya akan rancu. Misalnya kata perintah yang berbunyi: "Allahumma dammir man ada aka wa ada ad dien, Ya Allah hancurkan orang yang mengganggu Engkau dan yang mengganggu agamamu.

Allahumma shayyiba naafi'a , Ya Allah turunkanlah hujan yang berguna (QS. Al Adzkar:81)

Rabbana aatina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar (QS. Al Baqarah: 201)~ Ya Allah datangkan kepada kami kebaikan di dunia , dan kebaikan di akhirat.

Seperti apa yang telah diurai diatas, bahwa kata perintah atau Amr secara umum merupakan tuntutan melakukan suatu pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya).

Akan tetapi kalau anda perhatikan bentuk yang di gunakan redaksi ayat dan hadist diatas menggunakan kata perintah, seperti kata dammir (hancurkan), shayyiba (turunkan hujan), atina fiddunya hasanah (datangkan kepada kami kebaikan) dst.

Kalau melihat kaidah ushul secara umum dalam kasus diatas, seharusnya yang lebih tinggi memerintahkan yang rendah derajatnya. Akan tetapi ayat diatas telah mengguna-kan kata perintah dari bawah keatas (dari hamba kepada Tuhan). Apakah hal ini akan diartikan memerintah Allah ?? Tentu tidak. Akan tetapi amar disini berarti doa.

Kemudian bandingkan dengan kata shalawat yang juga artinya berdoa atau memberikan berkah. Apakah kita akan memberikan berkah kepada Rasulullah yang telah tercurahkan dari Allah swt? Apakah kita juga termasuk memerintahkan Allah untuk memberikan berkah kepada Rasulullah? Atau apakah Rasulullah butuh shalawat kita agar beliau mendapat Rahmat dari Allah. Padahal Rasulullah telah dijamin syurga oleh Allah. Apakah kita akan tetap menterjemahkan kata shalawat berarti doa untuk Nabi?

Baiklah saya akan meneruskan pengertian shalawat dengan mengambil makna yang lain agar tampak jelas pengertian shalawat bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa ummatnya.

Bersabda Nabi:
Barang siapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali [HR Muslim dari Abu Hurairah, Al Mirqah II :5]

Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan dimuka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampai-kan kepadaku ( sabda nabi) akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku. [HR. Ahmad, An Nasaiy & Ad Damrimy Syarah Al Hishn, Al Mirqah II:6]

Barang siapa bershalawat untukku dipagi hari sepuluh kali dan dipetang hati sepuluh kali mendapatkan ia syafaatku pada hari kiyamat [ HR . At Thabrany Al Jami']

Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari kiyamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat untukku [HR At Thurmudzy]

Semakin terang bagi kita atas arti shalawat pada hadist diatas, bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa dari kita, akan tetapi justru Rasulullah yang akan memberikan pertolongan nanti dihari kiyamat apabila kita sering memberikan salam atau shalawat penghormatan kepada beliau. Dan Allah juga memberikan shalawat kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah. Hadist yang mengatakan bahwa: Barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali [HR Muslim dari Abu Hurairah]

Hadist inilah yang menguatkan bahwa Allah bershalawat kepada siapa saja, bukan hanya kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Untuk lebih tegasnya kita perhatikan bacaan shalawat dalam tahiyyat shalat. 

"At tahiyyatul mubarakatush shalawatu thoyyibatulillah, assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh, asssalamu'alaina wa'ala ibaadillahish shalihin." ~ Salam hormat, keberkahan, shalawat yang terbaik untuk Allah, keselamatan atasmu wahai nabi serta rahmat dan keberkatan, juga salam hormat kepada para ahli ibadah yang shalih.

Tahiyyat berarti penghormatan dan kita bershalawat kepada Allah yang berarti kita memuja Allah, kemudian menghormati Nabi dan yang terakhir menghormati orang-orang yang shalih. Itulah arti shalawat, di mana kata itu bisa berarti berbeda jika penempatan kata tersebut berbeda.

Seperti saya uraikan diatas tadi, kata perintah tidak harus berarti memerintah dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, akan tetapi kata perintah bisa berarti memohon, meminta pertolongan, anjuran, memberikan khabar (seperti iklan/promosi), menghina, meremehkan, penjelasan dll.

Demikian uraian dari saya, mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk memahaminya. Dan saya menyarankan dan menghimbau kepada saudaraku yang sedang ghirah belajar agama berhati-hatilah dengan doktrin agama yang terkadang tidak menempatkan makna yang sebenarnya, sehingga tidak menguraikan secara objektif sesuai kata aslinya. bukan diterjemahkan menurut keinginan nafsu golongannya.


[Dari Situs Dzikrullah]

Wednesday, February 1, 2012

Memahami Makna Shalawat Menurut Ajaran Islam Wednesday, February 1, 2012


Muhammad SAW adalah mutiara yang sangat indah bagi alam semesta ini. Beliau hadir di tengah-tengah umat manusia atas rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah umat Islam memuliakan kedudukan beliau di sisi Allah dan para malaikat di seluruh lapisan langit. Beliau adalah insan yang lahir dari tengah-tengah kita, tetapi beliau bukan insan biasa, melainkan insan yang menggenggam hakikat seluruh alam semesta.

Karena kedudukannya yang mulia di sisi Allah, di antara para malaikat dan orang-orang mukmin ini, Allah SWT berfirman, 

اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَیۡہِ وَ سَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS Al-Ahzâb [33]: 56).

Untuk memahami ayat ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

Shalawat jika dinisbatkan kepada Allah berarti pemberian rahmat dan kehidhaan-Nya kepada Nabi SAW. Jika dinisbatkan kepada malaikat berarti doa dan permohonan ampunan baginya; dan jika dinisbatkan kepada umat Muslimin berarti doa dan pengagungan kepadanya. [Al-Bashâ'ir, jilid 32. hal. 237].

Frase "yushallûna" adalah kata kerja dalam bahasa Arab dalam bentuk mudhâri‘ yang menunjukkan pekerjaan yang akan dan sedang berlangsung. Ini artinya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepadanya secara terus-menerus dengan shalawat yang kekal dan abadi.

Para mufasir berbeda pendapat dalam menjabarkan perbedaan antara shallû dan sallimû. Namun, ditinjau dari segi bahasa dan dilihat dari lahiriah ayat Al-Quran tersebut, shallû bisa berarti perintah untuk memohon rahmat dan shalawat untuk Nabi SAW, sedangkan sallimû berarti perintah agar patuh dan taat (taslîm) pada perintah-perintah Nabi SAW, seperti yang terdapat dalam surah An-Nisâ’ ayat 65: "kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." 

Selain itu, kita temukan dalam riwayat dari Ja‘far ash-Shâdiq as., bahwa Abu Bashir bertanya kepadanya, “Saya sudah tahu shalawat kami kepada Nabi SAW, tetapi apa yang dimaksud dengan taslîm?” Beliau menjawab, “Yaitu kepatuhan kepadanya dalam segala perintah.” Atau, bisa juga taslîm itu artinya salam kepada Nabi SAW. Dengan membaca atau mengucapkan "Assalâmu ‘alaika yâ rasûlallâh" (salam sejahtera bagimu, wahai Rasulullah), dan sebagainya, berarti memohon kepada Allah SWT untuk kesejahteraan bagi Nabi SAW. 

Abu Hamzah al-Tsumali meriwayatkan dari Ka‘ab (seorang sahabat Nabi SAW): Ketika ayat ini turun, kami berkata (kepada Nabi Saw), “Kami sudah tahu bagaimana bersalam kepadamu, tetapi bagaimana kami bershalawat kepadamu?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah Allâhumma shalli ‘alâ muhammad wa âli muhammad kamâ shallaita ‘alâ ibrâhîm wa âli ibrâhîm innaka hamîdum-majîd, wa bârik ‘alâ muhammad wa âli muhammad ka mâ bârakta ‘alâ ibrâhîm wa âli ibrâhîm innaka hamîdum-majîd (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahamulia; dan anugerahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah menganugerahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahamulia).” 

Bertolak dari hadis ini, menjadi jelas tentang bagaimana bershalawat kepada Nabi SAW, dan demikian pula makna salam. Walau demikian, dua makna salam ini benar-benar tampak berbeda, kecuali jika kita mengembalikan kedua makna itu ke satu hal, yaitu taslîm kepada Nabi SAW dalam ucapan dan tindakan, karena orang yang bersalam kepadanya dan berharap kepada Allah atas keselamatannya akan selalu merindukan beliau dan mengenali beliau sebagai seorang Nabi yang ketaatan kepadanya merupakan sebuah tuntutan dan keharusan.

Termasuk yang perlu diperhatikan adalah, bahwa banyak hadits yang menyebutkan tatacara bershalawat kepada Nabi SAW menyertakan juga shalawat kepada keluarga Muhammad. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa‘i, Ibn Majah, Ibn Mardawaih, dan lain-lain—seperti dikutip dalam al-Durr al-Mantsûr—dari Ka‘ab bin ‘Ujrah, bahwa seseorang datang kepada Nabi SAW dan bertanya, “Bersalam kepadamu, kami sudah tahu. Tetapi bagaimana bershalawat kepadamu?” Nabi Saw. menjawab, “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahamulia; dan anugerahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah menganugerahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Mahamulia.’” 

Dalam tafsir al-Durr al-Mantsûr juga dikutip hadits-hadits lain yang semuanya menjelaskan kewajiban menyertakan keluarga Muhammad SAW ketika bershalawat kepada beliau. Hadits-hadits yang menjelaskan hal ini juga terdapat dalam kitab-kitab hadits lain yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi Saw., seperti Ibn ‘Abbas, Thalhah, Abu Sa‘id al-Khudri, Abu Hurairah, Abu Mas‘ud al-Anshari, Buraidah, Ibn Mas‘ud, dan Ka‘ab bin ‘Ujrah.

Lebih jauh, ayat di atas berbicara tentang keagungan Rasulullah SAW dan hukum-hukum yang menjadikan beliau istimewa. Allah menyeru kaum Mukmin agar bershalawat kepadanya dan memberikan penghormatan untuk meneladaninya. Penanggulangan lingkungan sosial tidak akan menjadi sempurna kecuali melalui shalawat kepada Rasulullah SAW dan kepatuhan kepadanya.

Lalu, apa makna shalawat kepada Nabi SAW? 
Barangkali, asal makna shalawat adalah bersimpati (ta‘aththuf) dan berbelas kasih (tara’’uf). Adapun shalawat kepada Nabi SAW adalah doa agar Allah menyayanginya dan mengantarkannya ke kedudukan terpuji seperti yang telah Dia janjikan. [Min Hudâ al-Qur'ân, jil. 10, hal. 380]

Belas kasih Allah kepada manusia adalah dengan memberinya hidayah dan kenikmatan. Shalawat-Nya kepada Nabi SAW adalah Dia mengabulkan doa-doa untuknya dan atau melalui perantaraannya. Shalawat malaikat kepada Rasulullah SAW berarti doa untuknya di sisi Tuhan mereka dan pertolongan kepada para pengikutnya. Adapun shalawat kaum Mukmin yang diwajibkan oleh Allah dalam shalat dan disunnahkan dalam segala waktu berarti mendoakannya dan mendekat ke maqamnya yang mulia.

Dalam hal ini, terdapat banyak hikmah yang diperoleh umat Islam, dan hikmah yang paling utama di antaranya adalah:

Perbaikan akidah Muslim
Pada saat seorang Muslim harus mengagungkan Nabinya, ia tidak boleh melakukan tindakan yang berlebihan sehingga menodai agama, tentu saja. 

Memuliakan Nabi SAW melalui doa kepada Allah SWT
Dimaksudkan agar hubungannya dengan Tuhannya tidak terputus. Dengan mengesakan Allah dan cinta yang besar kepada-Nya, seorang Muslim memuliakan dan mencintai Rasulullah Saw. Pada saat yang sama, hubungannya dengan Rasulullah SAW dan wasilahnya untuk mendekat kepada Allah tetap terjaga. Tanpa penghormatan atau kepatuhan kepadanya dan kepada orang-orang yang telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW agar diikuti, dan tanpa kecintaan kepada Rasulullah SAW dan orang-orang yang diperintahkan oleh beliau untuk dicintai tidak mungkin seorang Muslim bisa mendekat kepada Tuhannya. 

Demikianlah, kalimat shalawat kepada Rasulullah SAW dan keluarganya membingkai akidah Islam, dan itu berarti bertambahnya kedekatan diri kepada Allah tetapi bersama Rasulullah SAW dan bertambahnya cinta kepada Rasulullah SAW tetapi atas nama Allah SWT.

Hal itu merupakan kewajiban setiap Muslim terhadap Rasulullah SAW yang telah berjuang sungguh-sungguh untuk kepentingan umat manusia dan memikul amanah dan penderitaan untuk menyampaikan hidayah Allah SWT kepada umat manusia. Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak pernah ada seorang nabi pun yang disakiti seperti yang kualami.” Maka, syukur yang paling utama yang kita persembahkan kepada Nabi SAW atas hidayah dan kebaikan yang kita raih, yang kita dapatkan berkat perjuangan beliau, adalah bershalawat kepadanya.

Manfaat dan kebaikan dari shalawat kita kepadanya akan kembali lagi kepada kita, sebagaimana doa kepada seorang Mukmin. Ja‘far ash-Shâdiq as. berkata, “Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya dapat mendatangkan rezeki dan menghindarkan bencana, dan malaikat berkata kepadanya, ‘Kamu mendapatkan dua kali lipatnya.’” 

Ketika kita berdoa kepada Allah untuk Rasulullah SAW agar Dia meninggikan derajatnya dalam aspek spiritual dan material, maka derajat kita pun sebagai pengikutnya akan terangkat. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
“Barangsiapa bershalawat kepadaku, Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya. Oleh karena itu, siapa yang ingin membacanya sedikit, silakan, dan siapa yang ingin membacanya banyak, juga silakan.”
Rasulullah SAW adalah pemimpin kita di dunia dan akhirat. Setiap kali derajatnya terangkat dan maqamnya ditinggikan, maka derajat kaum Mukmin pun ikut menjadi tinggi dan terangkat karenanya. Ja‘far ash-Shâdiq as. berkata, “Seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya persembahkan shalat saya untukmu. Oh tidak, bahkan separuh shalat saya untukmu. Oh tidak, bahkan seluruh shalat saya untukmu.’ Maka, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika begitu, kepentingan dunia dan akhiratmu dicukupi.’”

Dalam sebuah hadis diriwayatkan pula bahwa pada suatu hari, Rasulullah SAW datang dan kabar gembira tampak pada wajah beliau, lalu bersabda, “Malaikat Jibril telah datang kepadaku. Ia berkata, ‘Tidakkah kamu ridha, wahai Muhammad, bahwa tak seorang pun dari umatmu yang bershalawat kepadamu satu kali melainkan aku bershalawat kepadanya sepuluh kali, dan tak seorang pun dari umatmu yang bersalam kepadamu satu kali melainkan aku bersalam kepadanya sepuluh kali.”

Bahkan di dunia ini, setiap kali derajat beliau terangkat maka terangkat pula derajat kaum Muslim seluruhnya.

Shalawat kepada Nabi SAW merupakan salah satu wasilah kemakbulan doa. Seorang hamba kadang-kadang berdoa kepada Tuhannya seribu kali, tetapi doanya tidak dikabulkan sebelum ia bershalawat kepada Nabi SAW di awal dan akhirnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Shalawat kalian kepadaku adalah kemakbulan doa-doa kalian dan zakat amal-amal kalian.”

Imam ‘Alî as. berkata, “Doa akan senantiasa terhalang sebelum disertai dengan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Ja‘far ash-Shâdiq as berkata, “Barangsiapa memiliki hajat kepada Allah SWT, hendaklah ia memulai dengan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, lalu menyampaikan hajatnya, lalu menutupnya dengan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebab, Allah terlalu mulia untuk menerima dua tepi dan meninggalkan tengahnya, karena shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad tidak akan terhalang dari-Nya.”

Tujuan langsung shalawat ini adalah penghormatan kepada Rasulullah SAW, mengambil teladan darinya, dan menjadikannya pemimpin. Dengan shalawat pula, kaum Mukmin menunjukkan cinta mereka kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian, semakin sering dan semakin banyak mereka bershalawat kepada beliau, maka semakin tumbuh dan semain besar pula cinta mereka kepada beliau. Cinta inilah yang menjadi modal utama mereka dalam meneladani, menaati, dan mengikuti sunnah beliau. Hal itu ditegaskan Allamah al-Majlisi dalam bukunya Bihâr al-Anwâr, seperti berikut:
Betapa agung, hamba yang beriman menyambut seruan Tuhannya agar bershalawat kepada Nabi SAW sehingga ia bergabung dalam partai Allah tempat bergabung para malaikat yang didekatkan. Namun, tidak semua shalawat bisa menghasilkan penggabungan seperti ini, melainkan hanya shalawat yang diucapkan dengan lisannya seraya mengetahui batasan-batasannya dalam akalnya, memasrahkan diri padanya, dan menundukkan anggota-anggota badannya. Jika ia mendengar khathib (atau siapapun) berkata, “Bersabda Rasulullah SAW …” maka ia harus bershalawat kepadanya dengan lisannya, memahami shalawat itu dengan makrifatnya dan bersiap-siap untuk mengaplikasikannya dalam dirinya. Kemudian, ia beranjak untuk mengamalkan kandungannya dan segala tuntutannya.
Secara psikologis, jika seseorang mendoakan orang lain yang tidak hadir di hadapannya, maka ia akan mencintainya sekalipun sekiranya di antara mereka terdapat permusuhan. Hal itu karena, di satu sisi, doa dapat melunakkan hati si pendoa kepada pihak lain yang didoakan, dan di sisi lain, orang yang didoakan akan merasakan kecenderungan dan bahkan cinta kepada orang yang mendoakannya sekalipun bila si pendoa tidak melakukan apapun selain mendoakan, karena hati menyaksikannya. Maka hati dengan hati bertaut di alam gaib sebagaimana hati dengan hati bertaut di alam nyata.

Ketika kita bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka cinta dan penghormatan kepadanya dalam hati kita menjadi semakin besar sehingga kita mengasihinya. Keadaan ini dapat memudahkan kita untuk taat kepadanya dan meneladaninya. 

Dalam buku-buku psikologi, dijelaskan bahwa setelah beberapa kali dilakukan pengujian, terbukti bahwa cinta merupakan faktor yang paling utama dalam ketaatan. Seorang anak, misalnya, lebih patuh kepada ibunya karena cinta kepadanya, bukan karena takut kepadanya. Sebaliknya, ibu memberikan kasih sayang dan pengorbanan yang luar biasa kepada anaknya semata-mata karena mencintai buah hatinya. Itulah cinta!

Pepatah lama mengatakan, "Tak kenal maka tak sayang", dan umat Islam yang mengenal nabinya tentulah menyayangi dan mencintainya.

 
Wallahi 'alam bisawwab

[Dari Mas Irwan Kurniawan | Ikatan Alumni Jami'ah Al-Musthafa]

Daftar Pusataka
  1. Abu Ja‘far Muhammad bin al-Hasan bin ‘Alî al-Thusi, Al-Tibyân fî Tafsîr al-Qur‘ân, Qum: Maktabah al-A‘lâm al-Islâmî, cet. 1, 1409 H.
  2. Aminuddin Abu ‘Alî al-Fadhl bin al-Hasan al-Thabrisi, Majma‘ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur‘ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabî, 1379 H.
  3. Mir Sayid ‘Alî al-Ha’iri al-Thihrani, Muqtaniyât al-Durar wa Mutaqithât al-Tsamar, Teheran: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, 1337 HS.
  4. Sayid Muhammad Husain al-Thabathaba’i, Al-Mîzân fî Tafsîr al-Qur’ân, Teheran: Dâr al-Kutub al-Islâmiyyah, cet. 3, 1397 H.
  5. Syaikh Muhammad al-Sabziwari al-Najafi, Al-Jadîd fî Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Ta‘ârif li al-Mathbû‘ât, cet. 1, 1402 H.
  6. Muhammad Husain Fadhlullah, Min Wahy al-Qur’ân, Beirut: Dâr al-Zahrâ’ li al-Thibâ‘ah wa al-Nasyr wa al-Tauzî‘, cet. 2.
  7. Muhammad Jawad Mughniyyah, Tafsîr al-Kâsyif, Beirut: Dâr al-‘Ilm li al-Malâyîn, cet. 3, 1981 M.
  8. Nashir Makarim al-Syirazi, Al-Amtsal fî Tafsîr Kitâbillâh al-Munzal, Beirut: Mu’assasah al-Bi‘tsah li al-Mathbû‘ah wa al-Nasyr wa al-Tauzî‘, cet. 1,1412H
  9. Sayid Muhammad Taqi al-Madrasi, Min Hudâ al-Qur’ân, Dâr al-Hudâ, cet. 1, 1406 H.
  10. ‘Abdurrahman bin al-Kamal Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Durr al-Mantsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, cet. 1, 1993 M.
  11. Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi al-Majlisi, Bihâr al-Anwâr al-Jâmi‘ah li Durar Akhbâr al-A’immah al-Athhâr as, Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, cet. 1, 1412 H.
  12. Ya'subuddin Rusghar Jauwaibari, Tafsîr Al-Bashâ'ir, Qum: Al-Mathba'ah Al-Islâmiyyah, 1399.

Contact Form

Name

Email *

Message *