Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Hablumminallah (Bathil). Show all posts
Showing posts with label Hablumminallah (Bathil). Show all posts

Tuesday, July 16, 2013

Perbuatan Syirik Yahudi Dan Nasrani Tuesday, July 16, 2013



Allah Taala Berfirman,
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?. Mereka menjadikan orang- orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. At Taubah 30-31)

Tafsir 
Ibnu Abbas dalam tafsirnya mengatakan bahwa kaum Yahudi penduduk kota Madinah mengatakan bahwa Uzair putra Allah sedangkan kaum Nasrani penduduk daerah Najran mengatakan Isa Al Masih putra Allah. Itu adalah penyataan lisan mereka. Ucapan mereka itu menyerupai ucapan orang- orang kafir sebelum mereka, yakni kaum kafir Makkah. Sebab kaum kafir penduduk Makkah telah mengatakan bahwa Laata, Uzza, dan Manatha sebagai putri-putri Allah. Lalu orang-orang Yahudi mengatakan seperti itu, yakni Uzair putra Allah. Dan orang-orang Nasrani, sebagian dari mereka mengatakan bahwa Isa Al Masih putra Allah. Sebagian mereka yang lain mengatakan bahwa Isa sekutu Allah, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa Isa itu adalah Allah sendiri. Dan sebagian yang lain lagi mengatakan bahwa Isa adalah salah satu di antara oknum yang tiga (trinitas). Allah SWT melaknat mereka.

Dari mana mereka bisa melakukan kebohongan itu?
Kaum Yahudi telah menjadikan para ahbar atau ulama mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah yang mereka taati dalam melakukan kemaksiatan. Demikian juga kaum nasrani telah menjadikan para rahib sebagai tuhan-tuhan mereka yang mereka taati dalam melakukan maksiat kepada Allah. Padahal dalam berbagai kitab yang diterima oleh kaum Yahudi dan Nasrani mereka hanyalah diperintahkan untuk mentauhidkan Allah, tuhan yang satu. Tidak ada tuhan kecuali Dia, mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Dalam tafsir Al Wajiz diterangkan bahwa mereka telah menjadikan para ulama dan ahli ibadat mereka sebagai tuhan-tuhan alias sesembahan selain Allah dimana mereka mentaati para ulama dan ahli ibadat itu dalam menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah (tahliilu maa harramallah) dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah (tahriimu maa ahallallah).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dinukil satu riwayat dari Imam Ahmad, Tirmidzy, dan Ibnu Jarir dari bayak jalan periwayatan dari Ady bin Hatim r.a. bahwasanya ketika sampai dakwah rasulullah saw. kepadanya, Ady lari ke Syam (yang sedang diduduki tentara Romawi di bawah Kaisar Heraclius). Ady telah menjadi Nasrani pada masa jahiliyah. Saudara perempuannya yang telah lebih dulu masuk Islam mendorongnya untuk masuk Islam dan mendatangi Rasulullah saw. Ady memimpin delegasi kaumnya Thai’ menghadap rasulullah saw. ke kota Madinah. Dia mengenakan kalung salib dari perak. Lalu Rasulullah saw. membaca ayat: "Mereka menjadikan orang- orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah." 

Maka Adi bin Hatim berkata: “Mereka tidak menyembah mereka”.
Lalu rasulullah saw. bersabda: “Memang, tapi bukankah mereka mengharamkan atas Bani Israil apa yang halal dan menghalalkan buat Bani Israil apa yang haram lalu bani Israil itu mengikuti para ulama dan rahib-rahib mereka. Maka itulah ibadah Bani Israil itu kepada mereka”.

Lalu Rasulullah saw.bersabda: hai Ady katakanlah apa yang membuatmu lari dari perkataan Allah Akbar? Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah? Apa yang membuat anda lari? Apakah engkau lari dari perkataan Lailahaillallah? Apakah anda mengetahui adanya tuhan selain Allah? Lalu Rasulullah saw. mengajaknya masuk Islam hingga Ady masuk Islam dan mengucapkan syahadat, sebuah kesaksian atas kebenaran. Lalu Ady meriwayatkan bahwa dia melihat Rasulullah saw. bergembira dan bersabda: “Sesungguhnya kaum Yahudi itu dimurkai Allah dan kaum Nashara itu adalah kaum yang sesat”.

Demikianlah ucapan Hudzaifah bin Yaman, Abdullah bin Abbas, dan yang lain dalam menafsirkan ayat Bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nasrani ahli kitab itu telah mengikuti para ulama dan rahib-rahib mereka dalam apa saja yang mereka halalkan dan haramkan. Oleh karena itu, firman Allah SWT:

“ ...... padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa”

Maknanya adalah bahwa dialah tuhan Yang Esa yang bila Dia mengharamkan sesuatu apapun maka itulah yang haram dan apa saja yang Dia halalkan maka itulah yang halal. Dan apa saja yang Dia syariatkan itulah yang diikuti. Dan apa saja yang Dia putuskan hukumnya, itulah yang yang harus dijalankan. Mahasuci Allah dari segala sekutu, penolong, dan anak. Tidak ada tuhan kecuali Dia dan tidak ada rabb selain Dia.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al- Anbiya’: 25).

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. AlAnkabut : 17)



[Sumber: cites-sat]

Saturday, April 7, 2012

Al-Quran: Menolak Tegas Musyrik & Syirik Saturday, April 7, 2012

Ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan penolakan aqidah Islam terhadap segala bentuk pengakuan, atau pemaksaan pengakuan, bahwa ada objek atau sosok sesembahan selain Allah, termasuk di dalamnya ajaran yang mempertuhankan Yesus.

[QS. Al-An’aam(6):19] Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Alquran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".

[QS. At-Taubah(9):31] Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Almasih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

[QS. Al-Israa(17):42-43] Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy". Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

[QS. Al-Anbiyaa(21):17-18] Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan apa yang kamu sifatkan (kepada Allah dengan sifat yang tidak layak bagi-Nya).

[QS. Al-Anbiyaa(21):21-24] Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: "Unjukkanlah hujjahmu!. (Alquran) ini adalah peringatan bagi orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang yang sebelumku". Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling.

[QS. Al-Mu'minuun(23):91] Tidaklah sekali-kali Allah mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, tentu masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang dia ciptakan, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

[QS. Az-Zukhruf(43):81-85] Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka aku (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan-(nya). Maha Suci Tuhan yang memiliki langit dan bumi, Tuhan yang memiliki 'Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu. Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. Dan Dia Tuhan (yang diibadahi) di langit dan Tuhan (yang diibadahi) di bumi dan Dia Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Maha Suci Tuhan yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

[QS. Al-Baqarah(2):116] Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.

[QS. An-Nisaa(4):171] Hai Ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih; Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan pada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Hal itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

[QS. Al-A’raaf (7):33] Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."

[QS. Yunus(10):105-106] Dan (aku telah diperintah): "Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (demikian), maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim".

[QS. Al-Israa(17):22] Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).

[QS. Asy-Syu'araa(26):213] Maka janganlah kamu menyeru Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.

[QS. Al Qashash(28):88] Dan janganlah kamu menyeru Tuhan yang lain di samping Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

[QS. Adz-Dzaariyaat(51):51] Dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.

[QS. Al-Israa(17):39-40] Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).{39}

Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat?. Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

[QS. Al-Kahf(18):110] Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan yang Esa". Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

[QS. Al-Anbiyaa(21):29] Dan siapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah Tuhan selain Allah", maka ia Kami balas dengan Jahanam, demikianlah Kami membalas orang-orang zalim.

[QS. Al-Mu'minuun(23):117] Dan siapa yang menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.

[QS. Yunus(10):35] Katakan: "Adakah di antara sekutu-sekutumu yang menunjukkan kebenaran?" Katakanlah "Allah-lah yang menunjukkan kebenaran". Maka apakah yang menunjukkan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk?. Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?

[QS. Ar-Ra'd(13):33-34] Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri atas apa yang ia perbuat (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?. Mereka menjadikan sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifat-sifat mereka ". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah.

[QS. An-Nahl(16):73-76] Dan mereka menngabdi kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu ia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama?. Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan ia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, ia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan ia berada pula di atas jalan yang lurus?

[QS. An-Nahl(16):51] Dan Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua Tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".

LIHAT JUGA:
At Taubah [9]: 31, Al Anbiyaa' [21]: 43, Al Furqaan [25]: 42 – 43, 68, Ash Shaaffaat [37]: 86, Shaad [38]: 5, Az Zukhruf [43]: 45, Al Jaatsiyah [45]: 23, Qaaf [50]: 26.

SYIRIK ADALAH KEPERCAYAAN YAHUDI DAN KRISTEN
[QS. Al-Maaidah(5):17-18] Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Almasih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Almasih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya, Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah kembali (segala sesuatu).

[QS. At-Taubah(9):30-35] Orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah," dan orang Nasrani berkata: "Almasih itu putera Allah". Demikianlah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka dibinasakan (dilaknat) Allah, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Almasih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani sungguh memakan harta orang dengan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih, Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."

[QS. Yunus(10):68-70] Mereka (orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung". (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat disebabkan kekafiran mereka.

[QS. Al-Israa(17):56-57] Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya." Mereka yang kamu seru itu sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
Semoga ayat-ayat di atas dapat dijadikan rujukan untuk mengerti kenapa sesuai dengan ajaran nabi-nabi terdahulu -- termasuk ajaran Yesus sendiri -- umat Muhammad saw sama sekali tidak dapat menerima segala bentuk apologet yang memaksakan pemahaman bahwa Tuhan Semesta Alam berbilang!


[Sumber: Dari Eliza Ernawati]

Monday, February 14, 2011

Pengertian SYIRIK Menurut Islam Monday, February 14, 2011


Dalam pengertian yang paling sederhana, Syirik adalah suatu perbuatan (dalam sikap dan, atau niat) terutama menyangkut aqidah di mana seseorang melakukan sesuatu bukan sepenuhnya karena Allah SWT - atau secara sadar mencampur baurkan ke-esaan dzat Allah SWT dengan unsur-unsur lain yang menurut ajaran Islam dapat diartikan sebagai perbuatan menyekutukan Alah SWT. Adapun menurut sifatnya, Syirik terbagi dalam 3 (tiga) kelompok besar yakni:

SYIRIK YANG MENYELISIHI SIFAT-SIFAT ALLAH TA'ALA
Syirik Rububiyyah, yaitu meyakini bahwa selain Allah ada yang mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan hal-hal lain dari sifat-sifat rububiyyah.

Syirik Uluhiyyah, yaitu meyakini bahwa selain Allah ada yang mampu memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.

Syirik Asma' Wa Sifat, yaitu meyakini atau percaya kepada makhluk Allah yang memiliki sifat-sifat khusus yang dimiliki Allah Ta'alla, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lain yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.


SYIRIK MENURUT KADARNYA
Syirik Akbar (besar), yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

  • Syirik dalam berdoa, yakni merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan isti'anah kepada selain-Nya.
  • Syirik dalam niat, kehendak dan maksud, manakala melakukan ibadah semata-mata ingin mendapat pujian, atau untuk kepentingan-kepentingan bersifat duniawi lainnya.
  • Syirik dalam keta'atan, yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut.
  • Syirik dalam kecintaan, adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menyetarakan kecintaannya kepada makhluk dengan kecintaanya kepada Allah SWT.

Syirik Ashghar (kecil), yaitu Riya', hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi mewajibkan pelakunya untuk bertaubat. Riya' bukan satu-satunya yang termasuk dalam Syirik Ashgar. Atau Riya' memang termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar berupa Riya'.

Syirik Khafi (tersembunyi), yaitu seorang melakukan amal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk dalam Riya', dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, namun pelakunya wajib bertaubat.


SYIRIK MENURUT TEMPAT KEJADIAN

Syirik I'tiqodi, yaitu Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun misalnya, dapat mengubah takdir yang telah digariskan Allah SWT kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

Syirik Amali
, yaitu setiap amalan zahir yang dinilai oleh syari'at islam sebagai sebuah kesyirikan, seumpama menyembelih hewan (atau makhluk Allah lainnya) untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lain sebagainya.

Syirik Lafzhi
, yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari'at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti misalnya , "Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau", dan "Aku bertawakal kepadamu", "Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka tak akan begini dan begitu jadinya", dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan (menyekutukan Allah SWT).

Dengan mengetahui serba sedikit tentang Syirik ini mudah-mudahan kita dapat menghindari diri darinya, mendorong diri untuk senantiasa berupaya mempertebal keyakinan dan iman kepda Allah SWT agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun, atau dengan cara apa pun juga. Wallahualam Bissawab.



[Sumber: Penjelasan Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid (terjemahan)]


Saturday, August 28, 2010

Syirik, Penyakit Ganas Yang Menyerang Fitrah Saturday, August 28, 2010


Segala puji bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya, para tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan seluruh mukminin yang memegang teguh syari'at Islam hingga akhir zaman.

Pada dasarnya tubuh manusia itu sehat dan bebas dari penyakit. Hanya saja tubuh itu menjadi rentan apabila manusia lengah, tidak menjaga dan merawatnya, sehingga penyakit apa saja bisa menjangkitinya.

Demikian pula halnya jiwa manusia. Awal penciptaannya adalah bersih dan suci. Allah mengabarkan hal ini dengan firmanNya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا
"Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Rabbmu?' Mereka menjawab: 'Betul, kami menjadi saksi'." (QS Al-A'raaf [7]: 172).

Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah mengilhamkan kepada manusia bahwasanya hanya Allah-lah satu-satunya Rabb mereka, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan dalam surat Ar-Ruum Allah SWT berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا"
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu". (QS Ar-Rum [30]: 30)

Jadi jelas bahwa manusia terlahir secara fitrah, yakni men-Tauhid-kan Allah. Sebagaimana pula yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tidak lahir seorang bayi kecuali dilahirkan dalam keadaan suci, kemudian kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi" [HR. Al-Bukhari Muslim]

Namun sebagaimana tabiatnya jasad, jiwa manusia demikian rentan terhadap penyakit apabila kemurnian fitrah itu tidak dijaga, lengah dari dzikir kepada Allah, sehingga syetan menjauhkannya dari fitrah tersebut. Dan saat itulah berbagai penyakit jiwa masuk dan mengotori fitrahnya,Syirik adalah salah satu penyakit jiwa yang paling berbahaya. Karena bukan hanya kehinaan di dunia, tapi kesengsaraan abadi yang akan diperoleh pelakunya di akhirat nanti.

Sebab-sebab syirik
Ada beberapa hal yang menyeret manusia menuju kepada kesyirikan. Diantaranya ialah: Kekaguman dan Pengagungan (I'jab wa ta'zhim).

Dalam batas tertentu, kedua hal di atas tidaklah tercela, justru dibutuhkan. Sebagaimana kekaguman dan penghormatan seseorang kepada para nabi, orang-orang shalih, dan pemimpin. Namun hal ini akan sangat berbahaya apabila melampaui batas sehingga pada tingkat pengkultusan. Saat itulah seseorang telah masuk pada lingkaran kesyirikan. Karena pengkultusan hanya menjadi hak Allah semata. Dan kesyirikan yang dilakukan kaum Nuh yang mengawali kesyirikan di muka bumi ini juga berangkat dari hal ini. Kecenderungan pada hal-hal yang indrawi serta lengah akan hal-hal yang tidak bisa diindera (gaib). 

Manusia difitrahkan untuk mengimani sesuatu yang bila diketahui keberadaannya dengan pendengaran, penglihatan, bisa diraba dan dirasa di samping mengimani hal-hal yang di luar jangkauan indera dan akalnya. Jika ia hanya condong pada sesuatu yang tampak saja dengan melengahkan hal-hal yang gaib, sedikit demi sedikit ia akan masuk pada penyimpangan (kesyirikan). Pada tahap awal ia mungkin tidak mengingkari keberadaan Allah. Akan tetapi ia mereka-reka dan mencari-cari suatu bentuk yang lebih konkrit, yang dikhayalkan memiliki sebagian sifat ketuhanan seperti mendatangkan manfaat dan mudharat yang berupa manusia, malaikat, jin, dan patung-patung serta benda-benda lainnya. Mereka menyembahnya di samping menyembah Allah. 

Allah SWT berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Dan sesunggunya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Sudah tentu mereka menjawab: "Allah". Ucapkan (wahai Muhammad) : "Alhamdu-lillah" (sebagai syukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian - tidak mengingkari Allah), bahkan kebanyakan mereka tidak Mengetahui (hakikat tauhid dan pengertian syirik). (QS Luqman [31]: 25)

Sebagaimana penyakit yang tidak segera diobati, kesesatan inipun meluas, hingga mereka menggambarkan sembahan-sembahan itu sebagai Allah yang memiliki seluruh sifat-sifat ilahiah. Orang-orang Majusi menisbatkan "api" sebagai tuhan yang bisa menghidupkan dan mematikan, mendatangkan manfaat dan menolak bencana, sementara orang-orang Nasrani mengatakan "Isa bin Maryam" adalah Allah!.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam". (QS Al-Maidah [5]: 72).

Bahkan Bani Israil lebih parah dari itu, dan karenanya mereka dilaknat Allah. Mereka mengatakan pada nabinya:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً
"Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang". (QS Al-Baqarah [2]: 55).

Keterangan: Mereka ingin melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri,... dan karena permintaan yang semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai azab dari Tuhan].

Menuruti hawa nafsu dan syahwat.
Nafsu dan syahwat manusia akan selalu menyeru pada penyimpangan. Dan manusia banyak yang tersesat olehnya. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya.?" (QS Al-Furqan [25]:43)

Kesombongan untuk beribadah kepada Allah (Alkibru min 'ibadatillah). Kesombongan ini diawali dari kesombongan di hadapan manusia yang berlanjut pada kesombongan untuk taat pada Allah SWT.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak akan masuk Surga barangsiapa yang di hatinya ada kesombongan walau hanya seberat biji sawi". [HR. Muslim].

Allah menerangkan pada kita melalui kitab-Nya bahwa kesombongan adalah termasuk hal yang menyebabkan syirik. Sebagaimana kisah raja Namruz.

Allah SWT berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang [Namrudz] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: orang itu berkata: "Saya pun dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,".."Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS.Al-Baqarah [2] : 258)

Kisah kesombongan Fir'aun yang menolak untuk menyembah Allah bahkan mendakwakan dirinya tuhan, Allah SWT berfirman: 

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِن تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ
"Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata:"Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku." (QS Az-Zukhruf: 51) .

dan dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: 

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىفَقُلْ هَل لَّكَ إِلَى أَن تَزَكَّىوَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَىفَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَىفَكَذَّبَ وَعَصَىثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىفَحَشَرَ فَنَادَىفَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىفَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى
"Pergilah kamu kepada Fir'aun, susungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Apakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepadaNya. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu'jizat yang besar. Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). maka ia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: "Akulah Rabbmu yang paling tinggi". Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia." (An-Nazi'at [79]: 17-25)

Adanya orang-orang yang melampaui batas yang menghendaki manusia mentaati dan menghambakan diri pada mereka. Mereka ini dengan kekuasaannya membuat undang-undang yang bertentangan dengan hukum Allah dan memaksa manusia mentaati dan memakainya. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعْمَةَ اللّهِ كُفْراً وَأَحَلُّواْ قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ
"Tidakkah engkau melihat (dan merasa ajaib) terhadap orang-orang kafir yang telah menukar kesyukuran nikmat Allah dengan kekufuran, dan yang telah menempatkan kaum mereka dalam kebinasaan?" (QS Ibrahim [14]: 28)

Itulah perbuatan-perbuatan yang mengantarkan manusia menuju jurang kesyirikan dengan segala kehinaan dan kedahsyatan balasan yang akan diterima para pelakunya. Allah telah menjanjikan untuk mereka adzab Neraka yang mana panasnya tujuh puluh kali lipat dari api dunia.
Dari Jabir Radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menemui Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun maka dia masuk Surga. Dan barangsiapa menemui Allah dengan menyekutukan-Nya, maka ia masuk Neraka". [HR. Muslim].
Semoga Allah berkenan selalu membimbing dan memberikan rahmat-Nya pada kita sehingga kita termasuk orang-orang yang berada pada fitrah yang Allah telah menciptakan manusia menurut firtrah itu.

"Subhanakallahumma Rabbana wabihamdika, Allahummaghfirlie."



Friday, August 13, 2010

Tentang Syirik Friday, August 13, 2010


Setelah kita mengetahui, walaupun serba sedikit, tentang bahaya syirik terhadap kehidupan umat manusia secara keseluruhan, maka sebagai umat Islam, sudah semestinyalah kita berhati-hati dari bahaya syirik ini. Oleh karenanya kita harus memahami dengan baik apakah yang dimaksud dengan syirik, dan bagaimana pula jenis-jenisnya. Dengan adanya pemahaman yang baik dan benar tentang perkara ini, mudah-mudahan kita akan senantiasa waspada terhadap bahaya yang mengancam aqidah setiap muslim ini.

PENGERTIAN SYIRIK

1. Menurut As Syaikh Al Allamah Hafidh bin Ahmad Hakami rahimahullah:
"Syirik itu ialah bila seseorang hamba Allah menjadikan segala yang selain Allah sebagai sesuatu yang sederajat dengan-Nya, sehingga mencintainya seperti mencintai Allah, takut kepadanya seperti takut kepada Allah, mengikutinya di dalam hal yang tidak diridhoi Allah, mentaatinya padahal dengan perbuatannya itu dia bermaksiat kepada Allah, dan mensejajarkan dengan-Nya dalam hal mendapatkan haq peribadatan."
2. Menurut As-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Ali Syaikh:
"Yang dinamakan syirik itu ialah menyerupakan makhluk dengan Khaliq Yang MahaTinggi dan mengkuduskan makhluq dengan sifat-sifat kebesaran sebagai sesembahan, sepetrti memiliki kemampuan untuk memberikan kerugian dan kemanfaatan, mampu memberikan apa yang dibutuhkan makhluq dan menahan segala apa yang dibutuhkan makhluq, mampu memenuhi segala do'a Allah, ditakuti dengan sebenar-benarnya takut, dijadikan tempat bergantung harapan kepadanya dan bertawakal kepadanya serta mempersembahkan kepadanya segala macam ibadah yang sesungguhnya semuanya itu hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Maka barangsiapa yang menunjukkan hal-hal tersebut di atas kepada selain Allah, berarti dia telah menyerupakannya dengan Al-Khaliq."
3. Menurut Al Imam Muhammad bin Isma'il Al Amir As Shan'ami Al Yamani:
"Barangsiapa berkeyakinan bahwa pohon, batu, kuburan, malaikat, jin, dan manusia hidup atau mati, semuanya itu dapat memberikan kemanfaatan dan mudharat atau menjadi perantara dalam menyampaikan amal ibadah kepada Allah (tanpa seizin-Nya) dan dalam memenuhi keperluan-keperluan dunia, hanya meminta kepada selain Allah itu dan bertawassul dengan selain Allah itu kepada-Nya maka sesungguhnya dia telah melakukan syirik dengan selain-Nya dan berarti dia telah ber'itikadnya dengan 'itikadyang tidak benar sebagaimana 'itikadnya kaum musyrikin terhadap berhala-berhalanya."

JENIS-JENIS SYIRIK

Untuk mengetahui akibat-akibat syirik terhadap keimanan seorang muslim, kita perlu mengenal berbagai macam syirik. Sedangkan secara garis besar, syirik terbagi dua, yaitu:

Syirikul Akbar (syirik besar) yang akibatnya dapat membatalkan iman pelakunya. Yang termasuk jenis ini adalah segala bentuk peribadatan yang ditujukan kepada selain Allah Ta'ala, karena meyakini bahwa selain Allah itu adalah dzat yang berhak mendapatkan peribadatan tauhid tersebut sebagaimana peribadatan kepada Allah Ta'ala.

Syirkul Ashghor (syirik kecil) yang akibatnya dapat merusak amal ibadah kita namun tidak membatalkan iman kita. Yang termasuk jenis ini ialah segala macam peribadatan yang diperuntukkan selain Allah di samping juga mencari ridho Allah. Atau dalam pengagungan kepada Allah dicampuri dengan niat pengagungan kepada selain Allah.

Pelaku syirkul akbar dianggap sebagai orang yang keluar dari Islam atau murtad dan harus disikapi sebagai orang murtad. Sedangkan pelaku syirkul Ashghor dianggap sebagai seorang muslim yang melakukan kemaksiatan besar. Pelaku syirkul Akbar dianggap tidak lagi mempunyai amalan sholih di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Allah telah menegaskan dalam firman-Nya: "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu, kalau engkau berbuat syirik, sungguh-sungguh kamu akan menjadi golongan yang merugi." (QS. Az Zumar: 65)

Bahkan Allah ta'ala tidak akan menimbang amalan mereka di hari kiamat. Mereka ini sesungguhnya tidak memiliki amalan sholih di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya: "Mereka itulah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat tuhan mereka dan terhadap hari perjumpaan dengan-Nya (yakni hari kiamat) sehingga Allah batalkan amalan mereka. Maka Kami tidak akan menegakkan amal timbangan mereka dihari kiamat." (QS. Al Kahfi: 105)

Demikianlah nasib orang yang mati dalam keadaan belum sempat bertaubat dari perbuatan syirik akbar. Adapun keadaan orang yang mati dalam keadaan belum bertaubat dari syirkul Ashghor, dia tidak diampuni dosa syiriknya dan akan masuk neraka walaupun tidak kekal didalamnya. Karena seluruh dosa syirik itu yang akbar maupun yang ashghor adalah termasuk dalam pernyataan Allah Ta'ala pada firman-Nya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dan akan mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa: 84)

Yakni apabila seseorang mati dalam keadaan membawa dosa syirik mereka tidak akan diampuni Allah, akan tetapi dia mati dalam keadaan membawa dosa selainnya (selain dosa syirik), maka dia berada di bawah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala apakah akan diampuni atau akan disiksa di neraka (walaupun tidak kekal didalamnya) bila menyangkut syirkul Ashghor.

Demikian dinyatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam salah satu fatwanya tenteng syrikul Ashghor. Amalan syirkul ashghor ini hanya membatalkan amalan yang ada padanya syirik jenis ini. Adapun amalan lainnya yag tidak terdapat padanya syirik ini, sangat diharapkan untuk diterima Allah Ta'ala sebagai amalan shalih. Karena pada dasarnya pelaku syirkul ashghor ini masih tergolong mukmin yang 'ashyi (yang melakukan perbuatan kemaksiatan).

Macam-macam perbuatan syirik yang tergolong jenis syirkul akbar adalah segala jenis ibadah yang ditujukan kepada selain Allah Ta'ala karena meyakini bahwa selain Allah Ta'ala itu berhak mendapatkan peribadatan tersebut. Sedangkan jenis-jenis ibadah itu banyak sekali, antara lain sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab rahimahullah sebagai berikut:

Dan macam-macam Ibadah yang diperintahkan Allah untuk kita amalkan ialah:
  • Al-islam,
  • Al-iman, dan
  • Al-ihsan.

Sedangkan termasuk dalam ibadah adalah do'a dan,

  • Al Khauf yakni takut (dengan sangat kepada yang diimani),
  • Ar Raja' yakni berharap (dengan sangat) agar diberi, atau tawakal menyandarkan hidup sepenuhnya kepada yang di imani),
  • Ar Rahbah (takut dari ancaman siksaan dari yang di imani),
  • Ar Raghbah (mempunyai keinginan sangat kuat mendapatkan rahmat dari yang di imani),
  • Al Khusyu' (tunduk dan mantap serta tenang terhadap yang di imani),
  • Al Khsyyah (ketakutan untuk tidak mendapatkan rahmat dari yang diimani),
  • Al Inabah (bertaubat dari perbuatan syirik dan kembali kepada Islam),
  • Al Isti'anah (meminta tolong dalam perkara yang makhluk tidak mampu melakukannya),
  • Al Isti'adhah (meminta tolong dari bahaya yang makhluk tidak mampu mengatasinya),
  • Al Istighotsah (meminta tolong dalam hal makhluk tidak mampu menolongnya),
  • Bernadzar (berjanji akan melakukan suatu perkara bagi dzat yang dimuliakan dan diagungkan bila mendapatkan ni'mat), dan lain-lain yang Allah perintahkan, yang kesemuanya itu diperuntukkan bagi Allah semata.

Dengan demikian, barang siapa yang mempersembahkan amalan-amalan tersebut bagi selain Allah maka pelakunya tergolong sebagai musyrik dan kafir. Selanjutnya syaikh Muhammad bin Abdulwahhab menyatakan bahwa Syirik Akbar itu ada empat yaitu:

a. Syirkud Dakwah (yakni mempersekukan Allah dalam berdoa kepada AllahTa'ala dengan berdoa kepada selain-Nya) hal ini dfirmankan Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 65.

b. Syirkun Niyyah wal Iradah wal Qashad (yakni mempersekutukan Allah dalam hal niat keinginan dan tujuan), yaitu ibadahnya di samping diniatkan kepada Allah juga diniatkan kepada selain-Nya, menginginkan dengan amalannya itu selain ridha Allah juga keridhaan dari selain-Nya, atau menujukkan ibadahnya kepada Allah juga kepada selain-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 15-16.

c. Syirkut Ta'ah (yakni mentaati selain Allah dalam hal menyatakan baik dan buruknya sesuatu, halal dan haramnya sesuatu walaupun itu semua diketahui bertentangan dengan syariat Allah. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah dalam surat At-taubah:31 (termasuk syirkut ta'ah ialah bila seseorang membuat undang-undang yang melanggar syariat Allah dengan berkeyakinan bahwa undang-undang tersebut lebih baik atau sama baiknya dengan hukum Allah, sehingga mentaati undang-undang yang menyeleweng dengan syariat Allah itu dengan sepenuh-penuh ketaatan). Hal ini dinyatakan Allah dalam surat An Nisa' 65 dan Al An'am 121.

d. Syirkul Mahabbah
(yakni menyekutukan Allah dengan lain-Nya dalam hal mencintai. Karena ibadah itu sendiri adalah merendahkan diri dengan serendah-rendahnya disertai cinta yang sepenuh-penuhnya. Menyikapi selain Allah Ta'ala dengan sikap seperti ini berarti telah melakukan syirkul mahabbah) hal ini dinyatakan oleh Allah dalam surat Al Baqarah:165.

Macam-macam perbuatan syirkul ashghor ialah seperti riya' (yakni melakukan atau meninggalkan sesuatu amal sholih karena Allah, tetapi akan lebih semangat amalan tersebut bila dilihat manusia). Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam surat Al Kahfi: 110 dan dari hadits Nabi shalallauh alahiwasalam yang diriwayatkan dari Jundab radhiyallahu 'anhu dia mengatakan: Rasulullah shalallahu 'alahi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang beramal untuk didengar orang, Allah akan perdengarkan kepalsuannya di hari kiamat, dan barangsiapa yang beramal untuk dilihat orang, maka Allah akan memperlihatkan kepalsuannya di hari kiamat di hadapan segenap makhluk. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Termasuk syirkul asghar ialah bersumpah dengan selain nama Allah, umpamanya bersumpah atas nama nabi seperti menyatakan: Wan Nabi (Demi Nabi), atau dengan Ka'bah, seperti Wal Ka'bah (Demi Ka'bah) atau dengan nama para wali seperti: Wa Syaikh Abdul Qadir Jailani dan lain sebagainya. Semua ini adalah perbuatan syirkul asghar bila yang melakukan ini meyakini bahwa dzat yang disebut namanya dalam sumpah tersebut mulia walau tidak semulia Allah Ta'ala. Akan tetapi bila yang bersumpah tersebut meyakini bahwa dzat yang disebut itu mempunyai kemuliaan seperti kemuliaan Allah, maka pelakunya telah melakukan syirkul akbar. Demikin yang diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

Diriwayatkan dari Sa'ad bin Ubaidah bahwa Ibnu Umar mendengar seorang mengatakan: "Tidak, demi Ka'bah!" Maka berkatalah Ibnu Umar radhiyallahu anhuma: "Janganlah dipakai sumpah-sumpah selain Allah karena aku sungguh pernah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa bersumpah dengan nama-nama selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau telah berbuat syirik. (Riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud).

Komentar At Tirmidzi atas hadits ini:

"Ini adalah hadits hasan dan hadits ini ditafsirkan oleh sebagian ulama bahwa pernyataan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: "Maka sesungguhnya ia telah kafir atau telah berbuat syirik ..." adalah pernyataan yang maksudnya mengancam pelakunya dengan ancaman yang keras (pelakunya tidaklah kafir dan keluar dari Islam), pengertian demikian berdalil pada hadits ibnu Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam mendengarkan Umar bin Khattab berkata: "Demi ayahku, demi ayahku!" Maka Nabi bersabda: "Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian. (yakni di sini ditunjukkan bahwa Umar tidak dianggap kafir atau keluar dari Islam, sebab Nabi tidak memerintahkannya untuk masuk Islam kembali), dan juga hadits dari Abu Hurairah radhiyuallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa bersumpah dalam sumpahnya dengan perkataan: Demi berhala latta dan Uza, maka hendaklah ia mengatakan Laa ilahailla lahu."

BERTAUBAT DARI SYIRIK

Adapun bertaubat dari perbuatan kedua jenis syirik tersebut harus disesuaikan dengan jenis syiriknya. Bila bertaubat dari syirik akbar tentunya dengan jalan masuk Islam kembali, karena pada hakekatnya pelakunya telah murtad (keluar dari Islam). Sedangkan bretaubat dari syirik ashghor ialah dengan meminta ampun kepada Allah Ta'ala dan menyempurnakan tauhidnya sehingga terbebas dari kedua jenis syirik tersebut.

Oleh karena itu, sebaiknya kita harus rajin-rajin mempelajari tauhid dan segala perbuatan syirik yang akan merusakkannya. Dan setiap saat kita harus pula bertaubat dari perbuatan syirik baik yang kita ketahui maupun yang sama sekali tidak kita ketahui.


Musyrik Dan Tingkatannya

Bukan saja tauhid yang terdapat tingkatannya, kemusyrikan juga ada tingkatannya. Kalau kita membandingkan keduanya, kita dapat lebih mengetahui tauhid maupun kemusyrikan. Karena mem­bandingkan dua hal yang berseberangan tersebut, maka kita dapat menjelaskannya. Sejarah memperlihatkan bahwa eksistensi beragam kemusyrikan selalu menandingi tauhid yang diajarkan oleh para nabi.

Percaya Pluralitas Zat Tuhan
Bangsa-bangsa tertentu memiliki kepercayaan kepada dua (dualisme), tiga (trinitas) atau lebih dari sumber kreatif dan abadi yang satu sama lain saling mandiri. Mereka percaya bahwa dunia ini memiliki banyak kutub dan banyak pusat. Dari mana sumber gagasan-gagasan seperti itu? Apakah masing-masing gagasan ini mencerminkan kondisi sosial masyarakat bersangkutan. Misal, ketika orang mempercayai dua sumber kreatif dan abadi serta dua orbit orisinal dunia, masyarakat mereka terbagi menjadi dua bagian yang berlainan, dan ketika orang mempercayai tiga sumber dan tiga Tuhan, sistem sosial mereka trilateral. Dengan kata lain, dalam setiap kasus, sistem sosial tersebut tecermin pada pikiran masyarakat dalam bentuk doktrin. Apakah juga merupakan fakta bahwa para nabi mengajarkan tauhid hanya ketika pusat sistem sosial cenderung satu?

Pandangan ini berasal dari sebuah teori filsafat yang sudah kita bahas sebelumnya. Menurut teori ini, aspek-aspek spiritual dan intelektual pada diri manusia, dan kecenderungan moral serta konvensional masyarakat seperti ilmu pengetahuan, hukum, filsafat, agama dan seni, kedudukan atau arti pentingnya berada di bawah sistem sosial manusia, khususnya berada di bawah sistem ekonominya, dan posisinya tidak mandiri. Teori ini sudah kami buktikan kesalahannya. Kami mempercayai nilai intrinsik pemikiran, ideologi dan sisi manusiawi manusia, karena itu kami anggap tak berdasar pandangan-pandangan sosiologis seperti itu mengenai tauhid dan kemusyrikan.

Namun demikian, ada masalah lain yang tidak boleh dikacaukan dengan teori ini. Terkadang ajaran agama disalahgunakan dalam sistem sosial. Misal, sistem berhala kaum Quraisy penyembah berhala merupakan skema untuk melindungi kepentingan kaum praktisi riba Arab. Orang-orang seperti Abu Sofyan, Abu Jahal dan Walid bin Mughirah sedikit pun tidak mempercayai berhala. Mereka membela berhala hanya untuk melindungi sistem sosial yang ada. Ketika sistem tauhid Islam yang antiriba tampil, mereka semakin hebat dalam membela berhala. Karena takut diri mereka bakal hancur, maka kaum penyembah berhala praktisi riba ini pun mengemukakan dalih bahwa kepercayaan-kepercayaan masyarakat itu suci. Al-Qur'an banyak menyinggung hal ini, khususnya dalam kisah tentang Fir'aun dan Nabi Musa. Namun demikian, haruslah dipahami bahwa masalah ini beda sekali dengan pandangan yang menyebutkan bahwa sistem ekonomi merupakan infrastruktur sistem doktrin dan bahwa setiap sistem intelektual merupakan reaksi sistem ekonomi dan sosial.

Yang ditolak keras oleh mazhab para nabi adalah pandangan yang menyebutkan bahwa setiap ideologi niscaya merupakan bentuk kristalisasi keinginan masyarakat, dan keinginan masyarakat ini muncul akibat kondisi ekonomi. Menurut teori materialistis, mazhab tauhid para nabi itu sendiri merupakan bentuk kristalisasi keinginan sosial yang muncul akibat kebutuhan ekonomi pada zaman para nabi tersebut. Perkembangan alat produksi melahirkan banyak keinginan sosial yang dijelaskan melalui pandangan tauhid. Para nabi sesungguhnya menjelaskan secara terperinci kebutuhan sosial dan ekonomi ini. Ada kaidah yang berlaku umum, yaitu bahwa setiap gagasan dan setiap kepercayaan ada infrastruktur ekonominya. Kaidah ini berlaku pula pada pandangan atau gagasan tauhid.

Al-Qur'an percaya bahwa fitrah manusia merupakan dimensi pokok dari eksistensinya. Al-Qur'an juga berpandangan bahwa fltrah manusia melahirkan sejumlah keinginan yang hanya dapat dipenuhi dengan tauhid. Karena itu Al-Qur'an memandang dakwah tauhid para nabi memenuhi kebutuhan manusia. Al-Qur'an tidak mempercayai infrastruktur lain tauhid, juga tidak memandang kondisi kelas sebagai faktor yang memaksa lahimya gagasan atau kepercayaan. Seandamya kondisi kelas merupakan infrastruktur kepercayaan manusia, maka setiap orang tentu cenderung ke arah yang dikehendaki posisi kelasnya. Dalam kasus ini tak akan ada pilihan bagi siapa pun dalam masalah kepercayaan. Orang-orang seperti Fir'aun tak dapat disalahkan, para penentang mereka juga tak dapat dipuji, karena orang baru dapat disalahkan atau dipuji kalau dia memiliki pilihan untuk menjadi lain. Kalau tidak, dia tak dapat disalahkan, juga tak dapat dipuji. Seorang kulit hitam atau kulit putih tak dapat disalahkan atau dipuji karena warna kulitnya. Namun kita tahu bahwa manusia tidak harus berpikir seperti pikiran kelasnya. Dapat saja dia menentang kepentingan kelasnya, seperti yang dUakukan Nabi Musa, sekalipun Nabi Musa dibesarkan dalam lingkungan mewah Fir'aun. Hal ini membuktikan bahwa soal infrastruktur dan suprastruktur, di samping meniadakan sisi manusiawi manusia, tak lebih daripada sebuah mitos.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kondisi material dan intelektual tidak saling mempengaruhi satu sama lain. Yang ditolak adalah kalau kondisi material dan kondisi intelektual masing-masing dianggap sebagai infrastruktur dan suprastruktur. Al-Qur'an mengatakan:

"Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup." (QS. al-'Alaq: 6)

Al-Qur'an mengakui bahwa kaum kaya dan kaum berkuasa berperan penting dalam menentang para nabi, sedangkan kaum tertindas dan kaum kurang mampu berperan mendukung para nabi. Namun karena fitrah mereka, mereka pun semuanya dapat menerima kebenaran.

Dari sudut pandang spiritual, perbedaan satu-satunya adalah bahwa satu kelompok, kendadpun memiliki fitrah, harus terlebih dahulu mengatasi rintangan besar sebelum dapat diyakinkan untuk menerima kebenaran, karena kelompok ini harus melepaskan keuntungan materialnya yang ada dan keistimewaannya yang dimilikinya secara ddak adil, sementara kelompok lain tak menghadapi rintangan seperti itu. Dengan bahasa Salman al-Farisi (sahabat istimewa Nabi Muhammad saw), mereka yang bebannya ringan, terselamatkan. Bukan saja begitu, kelompok kedua ini memiliki dorongan yang positif. Setelah menerima kebenaran, kondisi hidup kelompok ini mengalami perbaikan, dan kehidupannya pun semakin enak. Itulah sebabnya mayoritas pengikut para nabi adalah kaum kurang mampu. Namun demikian, para nabi selalu mampu mendapat pengikut dari kalangan kaum mampu, dan mampu meyakinkan mereka untuk menentang kelas mereka sendiri dan kepentmgan kelas mereka. Menurut Al-Qur'an, orang-orang seperti Fir'aun dan Abu Sofyan membela sistem musyrik pada zaman mereka, dan membangkitkan semangat religius kaum mereka untuk menentang Nabi Musa dan Nabi Terakhir (Muhammad saw—pen.) bukan semata-mata lantaran mereka—karena posisi kelas mereka—tidak dapat berpikir untuk berbuat lain, atau bukan karena tuntutan kelas mereka mengkristal dalam bentuk ke-percayaan musyrik. Al-Qur'an mengatakan bahwa mereka durhaka. Berkat fitrah mereka, mereka mempercayai Allah dan menyadari kebenaran, namun tetap saja mereka menolak dan menentang kebenaran. Al-Qur'an menyebutkan:

"Dan mereka mengingkari ayat-ayat Kami, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya." (QS. an-Naml: 14)

Al-Qur'an menggambarkan kekafiran mereka sebagai pengingkaran terhadap apa yang diyakini hati mereka. Dengan kata lain, pengingkaran mereka merupakan semacam revolusi menentang hati nurani mereka sendiri. Dalam hubungan ini ada kesalahpahaman yang serius. Sebagian orang berpendapat bahwa Al-Qur'an mendukung teori materialisme sejarah Marxis. Masalah ini akan kami bahas secara terperinci pada saat mengkaji masyarakat dan sejarah di bagian lain buku ini. Teori ini tidak sesuai dengan realitas aktual sejarah, juga tidak dapat dipertahankan dari sudut pandang ilmiah.

Namun demikian, mempercayai beberapa sumber berarti mempercayai pluralitas Zat Tuhan, dan bertentangan sekali dengan mempercayai keesaan Zat Tuhan. Dalam kaitan ini Al-Qur'an mengemukakan argumen:

"Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa." (QS. al-Anbiyâ': 22)

Orang yang meyakini pluralitas Zat Tuhan berarti dia berada di luar batas Islam, karena Islam menolak keras keyakinan seperti ini dalam setiap bentuknya.

Pluralitas Pencipta
Sebagian orang meyakini bahwa Allah tak bersekutu. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya sumber alam semesta ini. Namun, sejauh menyangkut Tuhan sebagai pencipta, mereka menyekutukan Tuhan dengan beberapa makhluk. Misal, sebagian dari mereka berpendapat bahwa keburukan atau kejahatan di-ciptakan oleh sebagian makhluk, bukan oleh Allah. Keyakinan seperti ini sama juga dengan keyakinan bahwa pencipta itu banyak, dan keyakinan seperti ini bertentangan sekali dengan ajaran keesaan perbuatan Tuhan. Namun demikian, keyakinan akan pluralitas pencipta ada beberapa tingkatannya. Sebagiannya tidak sama dengan kemusyrikan yang terang-terangan, dan karena itu penganut keyakinan ini belum berada di luar batas Islam.

Pluralitas Sifat-sifat Allah
Karena pelik, maka bukan orang biasa yang mengangkat persoalan ini. Hanya sebagian pemikir yang kurang mendalam wawasannya saja yang tertarik dengan persoalan ini. Di antara kaum teolog skolastis (penganut skolastisisme; skolastisisme adalah teologi dan falsafah Kristen abad pertengahan yang didasarkan pada falsafah Aristoteles dan menekankan dasar rasional bagi iman Kristen—pen.), kaum Asya'irah mempercayai pluralitas Sifat-sifat Allah. Karena keyakinan seperti ini tidak sama dengan kemusyrikan terang-terangan, maka penganutnya belum berada di luar batas Islam.

Pluralitas Ibadah (Penyembahan)
Banyak orang yang menyembah kayu, batu atau logam, atau mereka menyembah hewan, bintang, pohon atau sungai. Dahulu kemusyrikan seperti ini lazim. Sekarang pun kemusyrikan seperti ini masih ada di beberapa belahan dunia. Pluralitas penyembahan merupakan lawan dari tauhid ibadah. Semua tingkat kemusyrikan yang disebutkan sebelumnya merupakan beragam jenis ke­musyrikan teoretis. Semuanya dapat dilukiskan sebagai persepsi atau pengetahuan yang salah. Pluralitas ibadah merupakan ke­musyrikan praktis, semacam "menjadi" yang salah.

Namun demikian, kemusyrikan praktis juga begitu banyak tingkatannya. Tingkatannya yang paling tinggi adalah tingkatan yang membuat orang berada di luar batas Islam. Tingkatan ini disebut kemusyrikan yang terang-terangan. Namun ada banyak jenis kemusyrikan yang tersembunyi. Karena memiliki program tauhid praktis, maka Islam memerangi semua jenis kemusyrikan itu. Ada jenis-jenis kemusyrikan yang begitu tak kentara dan tersembunyi, sehingga nyaris tidak kelihatan. Nabi saw bersabda: "Kemusyrikan lebih tak terlihat ketimbang semut yang berjalan di batu yang licin di kegelapan malam. Kemusyrikan yang paling kecil kadarnya adalah lebih cenderung kepada tindak kezaliman ketimbang tindak keadilan." Orang baru dapat disebut religius kalau dia mencintai dan membenci karena Allah semata. Allah SWT berfirman:

"Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mmgasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Âli 'Imrân: 31)

Islam memandang perbuatan menuruti hawa nafsu, cinta jabatan, cinta kehormatan dan uang, maupun memuja pahlawan atau tokoh, sebagai bentuk kemusyrikan. Dalam kisah tentang konflik antara Nabi Musa dan Fir'aun, Al-Qur'an menggambarkan kekuasaan tiran Fir'aun atas Bani Isra'il. sebagai pemaksaan dedikasi dan perbudakan. Nabi Musa digambarkan menjawab Fir'aun: "Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Isra'il." (QS. asy-Syu'arâ’: 22)

Jelaslah bahwa Bani Isra'il tidak menyembah Fir'aun dan juga tidak menjadi budaknya. Mereka hanyalah hidup di bawah ke­kuasaan tirani Fir'aun. Di bagian lain Fir'aun digambarkan mengatakan: "Sesungguhnya kami memiliki kekuasaan penuh atas mereka." Di bagian lain lagi Fir'aun digambarkan mengatakan: "Kaum mereka (kaum Nabi Musa as dan Nabi Harun as) adalah budak kami dan menyembah kami." Dalam ayat ini kata "kami" penting artinya. (lihat QS. al-A'raf: 127)

Sekalipun kita berasumsi bahwa Bani Isra'il dipaksa menyembah Fir'aun, tetap saja tak dapat dibayangkan bahwa Bani Isra'il menyembah pembesar-pembesar Fir'aun. Bani Isra'il hanya dipaksa tunduk dan menaati Fir'aun. Dalam sebuah khotbah yang meng­gambarkan keadaan menyedihkan yang dialami Bani Isra'il di bawah kekuasaan tirani Fir'aun. Imam Ali as berkata: "Orang-orang seperti Fir'aun telah memperbudak mereka." Imam Ali as menjelaskan diperbudaknya Bani Isra'il dengan kata-kata seperti ini: "Orang-orang seperti Fir'aun itu menyiksa mereka dan membuat hidup mereka menyedihkan. Bani Isra'il hidup di bawah kondisi yang sangat menindas dan tak dapat menemukan jalan untuk melepaskan diri dari penindasan dan penghinaan, atau untuk membela diri." (Nahj al-Balâghah)

Ayat yang menjanjikan bahwa kaum mukmin akan menjadi khalifah Allah, sangat jelas dalam kaitan ini. Ayat itu mengatakan: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutvkan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) Kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. an-Nûr: 55)

Ayat ini menunjukkan, bahwa bila pemerintahan yang baik dan kekhalifahan Allah tegak, maka kaum mukmin terbebaskan dari menaati setiap tiran. Ayat ini mengatakan bahwa kaum mukmin hanya menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun juga. Ini memperlihatkan bahwa dari sudut pandang Al-Qur'an, menaati penguasa merupakan tindak menyembah Allah asalkan penguasa tersebut ditaati karena Allah. Kalau tidak, maka perbuatan seperti itu merupakan tindak kemusyrikan. Mengherankan bahwa terpaksa taat, yang secara moral tidak dianggap sebagai tindak menyembah, juga dianggap demikian dari sudut sosial. Nabi saw bersabda: "Ketika jumlah Bani al-'As (leluhur Marwan bin Hakam dan sebagian besar khalifah Umayah) mencapai tiga puluh, mereka akan menjarah milik Allah dan mengubahnya menjadi milik pribadi mereka, akan memperbudak hamba Allah, dan akan mengintervensi agama-Nya."

Di sini Nabi Muhammad saw mengisyaratkan bahwa Bani Umayah akan menjadi penindas atau tiran. Memang Bani Umayah tidak meminta disembah, juga tidak memperbudak rakyat mereka. Bani Umayah hanya menjalankan kekuasaan tirani. Nabi saw, melalui wahyu Allah sehingga dapat melihat apa yang akan terjadi kelak, menyebut posisi ini pembudakan dan semacam kemusyrikan.

Batas antara Tauhid dan Kemusyrikan
Apa garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan (termasuk bentuknya yang teoretis dan praktis?) Mana pandangan yang tauhid dan mana pandangan yang musyrik? Perbuatan seperti apa yang dapat disebut Tauhid praktis, dan yang dapat disebut kemusyrikan praktis? Apakah musyrik kalau mempercayai eksistensi apa pun selain Allah? Apakah Tauhid Zat-Nya menuntut kita untuk tidak mem­percayai eksistensi sesuatu dalam bentuk apa pun di samping Dia, yang bahkan bukan ciptaan-Nya (semacam monoisme ontologis).

Jelaslah bahwa segala ciptaan adalah pekerjaan Allah. Tidak dapat dipandang sebagai tandingan-Nya. Ciptaan Allah merupakan manifestasi kemahakuasaan-Nya. Mempercayai eksistensi suatu ciptaan sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Allah, tidak bertentangan dengan tauhid. Akan tetapi justru melengkapi tauhid. Karena itu, garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan bukanlah ada atau tidak adanya sesuatu selain Allah.

Apakah mempercayai sebab-akibat segala ciptaan sama dengan kemusyrikan atau pluralitas pencipta? Apakah mempercayai tauhid perbuatan Allah berarti kita juga menolak sistem sebab-akibat, dan beraiti kita juga menganggap bahwa setiap akibat tentu penyebabnya adalah Allah langsung? Misal, apakah kita percaya bahwa api sama sekali tak punya peran dalam pembakaran, air sama sekali tak punya peran dalam menghilangkan dahaga, hujan sama sekali tak punya peran dalam menumbuhkan tanaman, dan obat sama sekali tak punya peran dalam penyembuhan, dan bahwa Allah langsung yang membakar, langsung yang menghilangkan dahaga, langsung yang menumbuhkan tanaman, dan langsung yang menyembuhkan penyakit Benarkah ada atau tak adanya faktor-foktor lain sama saja? Paling banter dapat dikatakan bahwa Allah biasanya berbuat bila ada faktor-faktor tertentu. Jika seseorang biasa memakai topi di kepalanya bila dia mau menulis surat, maka tidak dapat dikatakan bahwa ada atau tak adanya topi mengakibatkan dia menulis surat. Yang jelas adalah bahwa dia tak suka menulis surat tanpa mengenakan topi di kepalanya. Menurut pandangan ini, seperti itulah karakter dan ada dan tidak adanya segala sesuatu yang disebut sebab dan faktor. Kalau kita mempercayai sebaliknya, berarti kita menganggap bahwa Allah ada sekutu-Nya dalam berbuat. Itulah pandangan kaum Asya'irah dan kaum Jabariah.

Sekali lagi pandangan ini salah. Karena mempercayai eksistensi sesuatu ciptaan tidaklah sama dengan mempercayai pluralitas Zat Tuhan, tetapi justru melengkapi kepercayaan akan keesaan Allah, maka mempercayai sistem sebab-akibat tidaklah sama dengan mempercayai pluralitas pencipta. Karena eksistensi segala ciptaan itu bukan dengan sendirinya, maka efektivitas mereka juga bergantung. Karena eksistensi dan efektivitas segala yang ada bergantung pada Allah, maka tak ada soal pluralitas pencipta. Mempercayai sistem sebab-akibat sesungguhnya melengkapi kepercayaan akan kepenciptaan Allah. Tentu saja sama dengan kemusyrikan kalau kita percaya bahwa segala ciptaan ada sendiri, atau percaya bahwa hubungan antara Allah dan alam semesta adalah hubungan pabrikan dan produk. Mobil pada mulanya membutuhkan pabrikan agar mobil itu ada, namun setelah ada mobil itu berjalan sesuai dengan mekanismenya sendiri. Meskipun pabrikannya mati, mobil itu tetap dapat jalan. Kalau kita beranggapan bahwa hubungan faktor alamiah, seperti air, hujan, energi, panas, bumi, tumbuhan dan manusia dengan Allah seperti itu, seperti terkadang cenderung jadi pandangan kaum Mu'tazilah, maka pandangan seperti itu tentu saja membawa ke kemusyrikan.

Efektivitas segala ciptaan bergantung pada Pencipta mereka, karena asal-usul, eksistensi dan kelangsungan mereka bergantung pada-Nya. Alam semesta adalah ciptaan-Nva dan merupakan rahmat dari-Nya. Alam semesta sepenuhnya bergantung pada-Nya. Karena itu, efektivitas segala ciptaan sesungguhnya merupakan efektivitas Allah, dan kreativitas mereka merupakan kreativitas-Nya dan perpanjangan pekerjaan-Nya. Bahkan dapat dikatakan bahwa memandang musyrik keyakinan akan adanya peran makhluk dalam urusan dunia itu sendiri adalah pikiran musyrik, karena pikiran seperti itu menunjukkan secara tidak sadar mempercayai kemandirian segala yang ada, seperti ditunjukkan oleh anggapan bahwa mempercayai efektivitas segala yang ada berarti sama dengan mempercayai adanya dua pusat. Namun demikian, mempercayai atau mengingkari sebab-akibat segala ciptaan di samping Allah bukanlah garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan.

Apakah mempercayai kekuatan supranatural dari sesuatu yang eksis, apakah itu malaikat atau manusia seperti nabi atau imam, itu musyrik, padahal mempercayai kekuatan dan efektivitas nabi atau imam dan seterusnva dalam batas-batas normal tidak musyrik? Begitu pula, apakah dapat disebut berpikiran musyrik kalau mempercayai kekuatan dan efektivitas seseorang yang sudah mati, mengingat orang yang sudah mati itu nampaknya hanyalah sebuah benda inorganis. Jelaslah, dari sudut pandang hukum alam, benda inorganis tak memiliki kesadaran, tak memiliki daya, tak memiliki kehendak. Karena itu, percaya bahwa orang yang sudah mati bisa melihat, atau menghormati orang yang sudah mati, dan meminta sesuatu dari orang yang sudah mati, semuanya itu merupakan perbuatan musyrik, karena dengan berbuat begitu berarti menganggap bahwa yang punya kekuatan supranatural bukan saja Allah tetapi juga makhluk.

Begitu pula, tentu saja musyrik kalau percaya bahwa tanah di tempat tertentu bisa untuk menyembuhkan penyakit, atau bahwa berdoa di tempat tertentu pasti dikabulkan, karena kepercayaan seperti itu sama saja dengan mempercayai bahwa benda tak ber-nyawa memiliki kekuatan supranatural. Mengingat semua itu alamiah, dapat diidentifikasi, dapat dialami, dan dapat dilihat, maka bukanlah musyrik, seperti anggapan kaum Asya'irah, kalau mem­percayai efektivitas hal-hal itu. Namun tentu saja musyrik kalau percaya bahwa makhluk memiliki kekuatan supranatural.

Eksistensi memiliki dua segi: fisis dan metafisis. Segi metafisis merupakan wilayah khusus Allah, sedangkan segi fisis merupakan wilayah khusus makhluk, atau merupakan wilayah bersama antara Allah dan makhluk. Sejumlah fungsi yang memiliki segi metafisis, seperti menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, dan seterusnya, bersama beberapa fungsi normal dan biasa, merupakan wilayah khusus Allah. Sejauh menyangkut Tauhid Teoretis, begitulah posisinya. Adapun Tauhid praktis, maka memberikan perhatian kepada makhluk dengan maksud membina hubungan spiritual dengan makhluk tersebut, agar makhluk tersebut memberikan perhatian kepada kita, atau agar makhluk tersebut memberikan tanggapan kepada kita, maka itu semua merupakan kemusyrikan, dan sama saja dengan menyembah makhluk tersebut. Karena menyembah selain Allah itu tidak dibolehkan oleh akal dan juga oleh syariat Islam, maka orang yang melakukan perbuatan tersebut keluar dari Islam. Kemudian, karakter ritus yang membutuhkan adanya perhatian semacam itu, tak beda dengan karakter ritus yang dilakukan oleh kaum penyembah berhala. Kalau orang melakukan ritus seperti itu, maka artinya dia menganggap sosok yang jadi objek ritus tersebut memiliki kekuatan metafisis (misalnya Imam atau Nabi saw). Itulah pandangan kaum Wahabi dan kaum semi-Wahabi di zaman ini.

Di zaman ini pandangan seperti ini banyak dianut, dan di kalangan-kalangan tertentu malah dianggap sebagai tanda berpikir jemih. Namun dari sudut pandang tauhid, teori kaum Asya'irah itu termasuk musyrik. Sesungguhnya teori tersebut merupakan seburuk-buruk teori, bila dilihat dari sudut pandang tauhid kepenciptaan dan tauhid perbuatan Tuhan.

Dalam kesempatan menunjukkan kekeliruan teori kaum Asya'irah, sudah kami kemukakan sebelumnya bahwa mereka menafikan sistem sebab-akibat, dengan alasan bahwa kalau orang mempercayai efektivitas dan sebab-akibat makhluk berarti dia mempercayai adanya beberapa sumber lain selain Allah. Sudah kami kemukakan bahwa sesuatu dapat menjadi sumber kalau eksistensi sesuatu tersebut terjadi dengan sendirinya, dan sesuatu tersebut tidak bergantung pada Allah. Kaum Asya'irah rupanya secara tidak sadar mempercayai independensi makhluk. Kepercayaan ini jelasjelas musyrik, karena sama saja dengan menyangkal Tauhid Zat Allah. Namun demikian, mereka tidak menyadari konsekuensi teori mereka. Mereka ingin menegaskan tauhid kepenciptaan, namun secara tak sadar justru ujungnya malah mendukung pluralitas Zat Tuhan.

Kritik yang sama juga tertuju kepada kaum semi-Wahabi. Secara tak sadar mereka pun setuju dengan semacam independensi-diri makhluk, karena mereka beranggapan bahwa mempercayai faktor supranatural sama saja dengan mempercayai kekuatan lain selain kekuatan Allah. Mereka ini mengabaikan fakta bahwa kalau satu makhluk dapat melakukan perbuatan supranatural, dan segenap eksistensi makhluk tersebut bergantung pada Allah, dan yang statusnya sendiri tidak mandiri, maka sebenarnya kualitas untuk melakukan perbuatan tersebut berasal dari Allah yang diberikan kepadanya. Makhluk tersebut hanyalah sarana untuk menyampaikan rahmat Allah. Apakah musyrik kalau orang percaya bahwa Malaikat Jibril merupakan perantara yang digunakan untuk menyampaikan wahyu dan ilmu, Malaikat Mikail merupakan perantara untuk memberikan sarana hidup, Malaikat Israfil merupakan perantara untuk Kebangkitan, dan Malaikat Izrail merupakan perantara untuk mencabut nyawa?

Dari sudut pandang tauhid, teori ini berakibat seburuk-buruk kemusyrikan, karena mempercayainya sama saja dengan semacam membagi kerja antara Pencipta (Allah SWT) dan makhluk. Menurut teori ini, perbuatan supranatural merupakan wilayah khusus Allah, sedangkan perbuatan alamiah merupakan wilayah khusus makhluk atau wilayah bersama antara Pencipta dan makhluk. Mempercayai wilayah khusus makhluk, berarti mempercayai pluralitas kerja yang merupakan gagasan musyrik. Begitu pula, mempercayaiwilayah bersama juga merupakan kemusyrikan.

Bertentangan dengan konsepsi tauhid, Wahabisme bukan saja merupakan sebuah doktrin yang bertentangan dengan imamiah, namun juga bertentangan dengan tauhid dan kemanusiaan. Doktrin Wahabi ini anti-tauhid, karena doktrin ini mempercayai adanya pembagian kerja. Seperti sudah dijelaskan di atas, Wahabisme merupakan semacam kemusyrikan terselubung. Juga anti-kemanusiaan, dalam pengertian tidak menghargai bakat dan kemampuan manusia, dua hal yang membuat manusia lebih unggul daripada malaikat sekalipun. Dengan jelas Al-Qur'an menyebutkan bahwa manusia adalah khalifah Allah, dan malaikat diperintahkan untuk sujud di hadapan manusia. Namun Wahabisme masih saja berkeinginan menurunkan maitabat manusia sampai ke tingkat binatang buas.

Lalu, membedakan antara yang hidup dan yang mad, seperti katakanlah bahwa yang mad itu tidak akan hidup lagi meski di akhirat sekalipun, dan bahwa segenap kepribadian manusia itu terletak pada raganya, dan raga ini kemudian berubah menjadi barang inorganis setelah manusia tersebut mati, merupakan gagasan materialistic dan keji. Masalah ini akan kami bahas nand, yaitu ketika membahas Han Kiamat.

Yang juga musyrik adalah, apabila membedakan antara efek sesuatu yang bersifat supranatural dan tak dapat dimengerti (efek pertama) dan yang bersifat dapat dimengerti (efek kedua), dan memandang efek pertama sebagai efek metafisis yang bertentangan dengan efek kedua. Sekarang dapat dimengerti apa maksud Nabi Suci saw ketika bersabda bahwa kemusyrikan begitu diam-diam, dan tak kelihatan ketika menyusup masuk ke dalam iman, bagaikan semut yang berjalan di atas batu pada kegelapan malam.

Faktanya adalah bahwa garis pemisah antara tauhid dan syirik adalah hubungan antara Allah di satu pihak, dan manusia serta alam semesta di pihak lain. Hubungan ini adalah hubungan "dari-Nya" dan "kepada-Nya". Dalam tauhid teoretis, garis pembatas tersebut adalah "dari-Nya". "Kita semua dari Allah". Dari sudut pandang tauhid, sikap kita baru benar kalau kita memandang bahwa hakikat, sifat dan efekdvitas kualitas eksistensi pada sedap kebenaran dan setiap sesuatu yang ada itu dari Allah. Apakah efeknya tunggal, beberapa, atau tak berefek sama sekali, dan apakah punya efek supranatural atau tidak, itu tak penting. Allah bukan Tuhannya dunia metafisis saja. Allah adalah Tuhan alam semesta. Dekatnya Dia dengan dunia fisis, sama dengan dekatnya Dia dengan dunia metafisis. Dia bersama segala sesuatu, dan rezeki untuk segala sesuatu' tersebut adalah dari-Nya. Kalau sesuatu memiliki segi metafisis, itu berarti bahwa sesuatu tersebut memiliki segi ketuhanan. Seperti sudah kami kemukakan sebelumnya, menurut konsepsi Islam, karakter wujud yang dimiliki alam ini adalah "dari-Nya". Dalam banyak ayat Al-Qur'an disebutkan bahwa para nabi memiliki mukjizat, seperti dapat menghidupkan sesuatu yang sudah mati, dan mengembalikan penglihatan orang yang buta sejak lahir.

Namun demikian, selalu ada tambahannya, yaitu "dengan kehendak-Nya". Frase "dengan kehendak-Nya" ini menunjukkan karakter mukjizat tersebut, dan memperlihatkan bahwa mukjizat ini berasal dari-Nya. Orang tak boleh beranggapan bahwa para nabi itu independen (dalam hal mukjizat—pen.). Yang juga termasuk musyrik adalah kalau mempercayai adanya eksistensi yang bukan "dari Allah". Juga, kalau percaya bahwa efektivitas sesuatu yang ada itu bukan "dari-Nya", maka itu adalah musyrik. Apakah efeknya bersifat supranatural seperti menciptakan bumi dan langit, atau apakah efeknya begitu remeh seperti membalikkan daun, itu tak penting.

Kalau dalam tauhid praktis, maka garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan adalah "kepada-Nya". "Kita semua akan kembali kepada-Nya", seperti dikatakan Al-Qur'an Suci. Kalau kita memberikan perhatian kepada sesuatu yang ada, baik perhatian itu bersifat spiritual atau bukan, dengan maksud untuk sampai kepada Allah, dan bukan sebagai tujuan itu sendiri, maka perbuatan kita ini sama dengan memberikan perhatian kepada Allah. Segala yang ada supaya dipandang hanya sebagai tanda untuk menuju ke Allah. Hanya Allah sajalah tujuannya.

Para nabi dan para imam digambarkan sebagai "rule utama dan jalan lurus, papan penunjuk jalan bagi manusia, mercusuar di darat, pemandu ke jalan Allah, penyampai risalah-Nya dan penyingkap kehendak-Nya." (Ziyârah Jâmi'ah). Karena itu, masalahnya bukanlah kalau ber-wasîlah (menjadikan sebagai perantara) kepada imam, memohon atau berharap agar imam berbuat mukjizat, maka itu musyrik. Bukan ini masalahnya. Sesungguhnya masalahnya adalah sesuatu yang lain.

Pertama,
kita harus yakin apakah para nabi dan imam itu memang sedemikian dekat dengan Allah, sehingga mereka dianugerahi kekuatan dan kualitas supranatural. Al-Qur'an Suci menunjukkan bahwa Allah telah menganugerahkan posisi seperti itu kepada sebagian orang.

Kedua,
apakah kalau orang ber-wasîlah kepada imam dan wali, ziarah ke makam mereka dan memohon kepada mereka, dari sudut pandang tauhid, memiliki pengertian yang benar mengenai apa yang dilakukannya atau tidak. Apakah dalam benaknya ada "kepada-Nya", ketika mereka ke makam? Ataukah dia lalai akan Dia dan menganggap imam atau wali, yang makam mereka dia ziarahl, sebagai tujuan itu sendiri. Tak syak lagi, sebagian besar orang secara naluriah dalam benak mereka ada Allah. Sebagian orang mungkin benar-benar tak memiliki pandangan tauhid. Mereka harus diingatkan tentang pandangan tauhid ini. Namun demikian, tak ada alasan untuk menyebut musyrik terhadap ziarah ke makam.

Ketiga,
bahwa juga musyrik kalau memuliakan dan memuji makhluk sedemikian seakan makhluk tersebut benar-benar sempurna dan eksis sendiri. Hanya Allah sajalah yang benar-benar sempurna. Hanya Dia sajalah yang pantas mendapat segala pujian. Hanya Dia sajalah yang Mahakuasa. Menganggap makhluk memiliki sifat-sifat sempurna seperti itu, baik anggapan tersebut dilakukan dalam bentuk kata maupun perbuatan, maka hal yang demikian itu adalah musyrik. Sudah kami bahas sebelumnya perbuatan-perbuatan yang bisa disebut ibadah dan memuja.

Taat dan Sungguh-sungguh
Kalau seseorang sadar akan Allah, maka kesadarannya tersebut mempengaruhi segenap kepribadian, semangat, jiwa, moral dan perilakunya. Sejauh mana pengaruh tersebut, itu bergantung pada tingkat imannya. Kalau imannya kuat, maka pengaruh tersebut juga kuat. Pengaruh kesadaran akan Allah pada din manusia, bertingkat dan bertahap. Karena tingkat dan tahap tersebut beragam, maka beragam pula kesempumaan dan kedekatan manusia dengan Allah.

Tingkat ini disebut tingkat ketaatan dan kesungguhan. Seperti dikemukakan sebelumnya, kalau kita berpaling kepada Allah dan menyembah Allah, berarti kita memperlihatkan bahwa Dia sajalah yang patut ditaati dan kita tunduk patuh mutlak kepada-Nya. Penyembahan seperti ini, dan ungkapan ketundukan total ini tidak boleh dilakukan kepada makhluk, kecuali kepada Allah. Adapun masalah sejauh mana kesungguhan kita dalam ketundukan dan kepatuhan total kepada Allah dan ketidaktundukan dan ketidak-patuhan kepada makhluk, itu bergantung pada iman kita. Jelas, ketaatan dan kesungguhan kita semua tidaklah sama.

Sebagian orang membuat kemajuan sedemikian rupa, sehingga jiwa dan raga mereka hanya dikendalikan oleh perintah Allah. Hawa nafsu tak dapat mempengaruhi mereka. Siapa pun tak dapat mutlak mengendalikan mereka. Mereka memenuhi tuntutan hawa nafsu kalau tuntutan tersebut diridai Allah. Tampak jelas, mencari keridaan Allah menjadi jalan satu-satunya untuk mencapai kesempurnaan. Orang-orang seperti ini taat kepada kedua orang tua mereka, guru mereka, dan seterusnya hanya karena Allah dan hanya dalam batas-batas yang dibolehkan Allah. Bahkan ada yang lebih dari itu. Mereka hanya mencintai Allah SWT. Kalau mereka mencintai makhluk-Nya, itu karena makhluk merupakan ayat (tanda kekuasaan)-Nya, dan mengingatkan akan-Nya. Meski tidak banyak, ada yang bahkan lebih dari tahap ini. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali Dia, dan memandang segalanya sebagai perwujudan-Nya. Bagi mereka, dalam segala sesuatu ada Dia.

Imam Ali as berkata: "Kalau aku melihat sesuatu, maka sebelum atau bersama sesuatu itu aku melihat Allah." Kalau dalam hidupnya seseorang berupaya memberikan bentuk nyata pada apa yang dikomunikasikannya kepada Allah ketika beribadah, maka orang tersebut mencapai kesempurnaan dan mencapai tahap ketaatan. Bagi orang tersebut, ibadahnya merupakan kontrak nyata, yang pasal-pasal dalam kontrak tersebut harus ditaatinya. Dalam kontrak ini ada dua pasal utama:
  • Pertama, tidak menaati siapa pun dan apa pun, termasuk di dalamnya hawa nafsunya.
  • Kedua, menerima dan tunduk patuh sepenuhnya kepada perintah Allah.

Baginya, ibadah merupakan jalan yang tepat untuk mendidik diri dan untuk perkembangan rohaninya. Ibadah secara sistematis mendidik kita untuk berpandangan terbuka tanpa prasangka, untuk berkorban diri, untuk mencintai Allah, untuk mencintai umat manusia, untuk bergaul dengan orang-orang yang berpikiran lurus, untuk berbuat bajik, dan untuk memberikan jasa kepada umat manusia.

Dari apa yang telah kami paparkan, jelaslah bahwa Tauhid Islam tak mau adanya alasan lain selain untuk mendapatkan keridaan Allah. Realitas evolusioner manusia dan dunia adalah "menuju kepada-Nya." Apa pun yang orientasinya bukan kepada Allah, maka menyimpang dan bertentangan dengan evolusi alam. Dari sudut pandang Islam, apa pun yang dilakukan manusia, entah itu untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, maka haruslah untuk mendapatkan keridaan Allah. Adalah salah kalau mengatakan bahwa "mencari keridaan Allah" identik dengan "untuk kepentingan manusia," dan bahwa berbuat sesuatu untuk mencari keridaan Allah tanpa untuk kepentingan manusia tak lain adalah mistisisme dan pedagogisme.

Dari sudut pandang Islam, jalan satu-satunya adalah jalan Allah, dan tujuan satu-satunya adalah mencari keridaan-Nya. Dan jalan Allah adalah berinteraksi dengan orang lain. Berbuat demi diri sendiri berarti egoisme, berbuat demi manusia berarti menyembah berhala, dan berbuat demi Allah dan manusia berarti kemusyrikan dan dualisme. Tauhid sejati adalah "Berbuat untuk diri sendiri dan untuk orang lain demi Allah." Menurut Islam, jalan tauhid adalah memulai segalanya dengan Nama Allah, bukan atas nama manusia, juga bukan dengan Nama Allah sekaligus atas nama manusia. Dari Surah al-Ikhlâsh dapat ditarik poin yang menarik: mukhlish, yaitu berbuat semata-mata demi Allah, dan mukhlash, yaitu tulus atau suci diri, ada bedanya.

Alam Semesta yang Satu
Apakah alam semesta yang beruang waktu yang diciptakan Allah itu benar-benar satu? Apakah keesaan Allah, yaitu keesaan Zat-Nya, keesaan Sifat-sifat-Nya dan keesaan perbuatan-Nya mengharus-kan ciptaan-Nya juga satu? Kalau alam semesta merupakan satu unit yang solid dan bertalian, bagaimana sebenarnya pertaliannya itu? Apakah organis, dalam pengertian bahwa hubungan berbagai bagian alam semesta dengan keseluruhan alam semesta adalah seperti hubungan berbagai anggota badan dengan tubuh, atau apakah mekanis sehingga berbagai bagian alam semesta adalah seperti berbagai komponen sebuah mesin?

Bagaimana sebenarnya alam semesta yang satu itu, sudah kami bahas dalam buku kami "Prinsip-prinsip Filsafat". Dalam buku kami yang lain "Keadilan Ilahi", kami kemukakan bahwa alam semesta merupakan sesuatu yang tak dapat dipotong-potong. Kalau satu bagiannya tidak ada, berarti alam semesta itu sendiri tak ada. Dan kalau apa yang disebut keburukan itu sirna, maka sirna pula alam semesta.

Kaum Filosof modern, khususnya Filosof besar Jerman, Hegel. Mendukung pandangan yang mengatakan bahwa hubungan antara alam dan berbagai bagiannya adalah seperti hubungan tubuh dan anggota tubuh. Namun demikian, diterima atau tidak diterimanya argumen-argumen yang dikemukakannya, tergantung pada di­terima atau tidak diterimanya segenap prinsip filsafatnya. Para pendukung materialisme dialektis berpandangan seperti ini juga. Mereka mati-matian mempertahankan pandangan ini di bawah prinsip efek timbal balik dan interdependensi hal-hal kontrakdisi, dan mengklaim bahwa di alam semesta hubungan antara satu bagian dan alamnya itu sendiri bersifat organis, namun ketika mereka mengemukakan argumen, maka yang dapat mereka buktikan hanyalah hubungan mekanis. Sesungguhnya, berdasarkan filsafat materialistis, tidaklah mungkin membuktikan bahwa alam sebagai keseluruhan adalah seperti tubuh, dan hubungan bagian-bagiannya dengan alam itu sendiri adalah seperti hubungan anggota badan dan tubuh. Hanya kaum Filosof Ilahiah yang—sejak dahulu berpandangan bahwa alam adalah makrokosmos sedangkan manusia adalah mikrokosmos—telah menggambarkan hubungan ini dengan benar. Dan kalangan Filosof Muslim, Ikhwan ash-Shafa, adalah yang banyak menekankan hal ini. Bahkan lebih dan kaum filosof, kaum sufi memandang alam semesta sebagai satu unit. Menurut mereka, seluruh kosmos merupakan satu perwujudan tunggal Realitas Ilahiah.

Kaum ahli makrifat menyebut alam semesta "tumpahan suci." Mereka mengatakan bahwa alam semesta itu seperti kerucut, puncak kerucut yang ada kontak dengan Allah tak dapat dilihat, dan dasar kerucut sangat luas sekali.

Pada kesempatan ini karni tidak bermaksud membahas pandangan kaum filosof dan pandangan kaum Muslim ahli makrifat itu, dan membahas lagi persoalan yang sudah kami bahas sebelumnya. Seperti sudah kami katakan, realitas alam semesta adalah "dari-Nya" dan "kepada-Nya". Bahwa alam semesta bukanlah semata-mata realitas yang bergerak dan terus berubah, namun alam semesta itu sendiri merupakan perwujudan dari gerakan dan perubahan terus-menerus, merupakan fakta yang tak terbantahkan. Fakta ini sudah dapat dibuktikan oleh filsafat Islam. Ketika mengkaji gerak, juga sudah dijelaskan bahwa satunya permulaannya, satunya akhir (tujuan)-nya dan satunya jalannya membuat gerakan-gerakannya satu. Karena itu, bila melihat fakta bahwa awal (permulaan) alam semesta itu satu, akhir (tujuan)-nya satu, dan jalan evolusionernya juga satu, maka jelaslah bahwa alam semesta itu merupakan semacam satu unit tunggal.

Kasat Mata dan Tak Kasat Mata
Menurut konsepsi Islam tentang kosmos, alam merupakan agregat (satuan yang terbentuk dari) segala yang kasat mata dan yang tak kasat mata. Menurut konsepsi ini, alam semesta terbagi menjadi alam kasat mata dan alam tak kasat mata. Al-Qur'an Suci sendiri menyebut yang kasat mata (syahadah) dan yang tak kasat mata (gaib) , khususnya yang gaib. Mempercayai yang gaib merupa­kan rukun iman. Al-Qur'an Suci memfirmankan:

  • "Mereka yang mempercayai yang gaib." (QS. al-Baqarah: 3)
  • "Di sisi-Nya kunci-kunci untuk segala yang gaib. Hanya Dia sajalah yang mengetahuinya. "(QS. al-An'am: 59)

Ada dua macam kegaiban (tak kasat mata): Kegaiban relatif dan kegaiban mutlak. Kegaiban relatif adalah sesuatu yang tak dapat ditangkap indera seseorang karena sangat jauh letaknya. Misal, bagi seseorang yang ada di Teheran, Teheran kasat mata sedangkan Isfahan tak kasat mata (gaib) . Namun bagi seseorang yang ada di Isfahan, Isfahan kasat mata sedangkan Teheran gaib.

Dalam beberapa tempat, Al-Qur'an Suci menggunakan kata "gaib" (tak kasat mata) dalam pengertian yang relatif ini juga. Al-Qur'an Suci menerangkan:

"Peristiwa-peristiwa gaib (yang tak diketahui) ini yang telah Kami wahyukan (singkapkan) kepadamu, tidak pernah kamu mengetahui­ dan tidak pula kaummu sebelum ini." (QS. Hud: 49)

Jelaslah, kejadian-kejadian kaum di masa lalu adalah "gaib" bagi masyarakat dewasa ini, sekalipun kejadian-kejadian tersebut "terlihat" oleh orang-orang yang menyaksikannya. Di tempat lain, kata "gaib" digunakan Al-Qur'an Suci untuk realitas-realitas yang mutlak gaib. Ada bedanya antara realitas-realitas yang nampak jelas oleh indera namun tak nampak karena letaknya yang sangat jauh, dan realitas-realitas yang tak nampak dan gaib karena realitas-realitas tersebut non-material dan tak terbatas. Ketika Al-Qur'an Suci mengatakan bahwa orang mukmin mempercayai yang gaib, maka yang dimaksud bukanlah kegaiban relatif, karena siapa pun, apakah dia beriman atau kafir, mempercayai kegaiban relatif. Lagi, ketika Al-Qur'an Suci mengatakan bahwa di sisi Allah saja kunci-kunci semua yang gaib, maka maksudnya adalah kegaiban mutlak, karena makna ayat tersebut tidak sesuai dengan kegaiban relatif. Begitu pula dengan ayat-ayat yang menyebutkan hal yang kasat mata dan hal yang gaib. Misal, Al-Qur'an Suci menyebutkan:

"Dialah yang mengetahui yang gaib dan yang kasat mata. Dan Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. al-Hasyr: 22)

Ayat itu juga merujuk kepada kegaiban mutlak, bukan kepada kegaiban relatif. Bagaimana saling hubungan antara dua alam ini, yaitu alam kasat mata dan alam gaib? Apakah alam kasat mata ada garis batasnya, yang berada di luar garis batas tersebut adalah alam gaib? Misal, apakah dari bumi ke langit ada alam kasat mata, dan di luar itu ada alam gaib? Jelaslah, konsepsi semacam itu carut-marut Kalau kita berasumsi bahwa dua alam ini dipisahkan oleh garis pemisah yang bersifat fisis, maka itu artinya bahwa dua alam ini fisis dan material. Hubungan antara yang gaib dan yang kasat mata tak dapat dijelaskan secara material. Paling banter, yang dapat kita katakan agar hubungannya dapat dipahami adalah, bahwa hubungan dua alam ini hampir mirip dengan hubungan antara tubuh dan bayangannya. Dengan kata lain, alam ini merupakan refleksi alam lain. Al-Qur'an Suci menunjukkan bahwa segala yang ada di alam ini merupakan "bentuk rendah" dari apa yang ada di alam lain. Penyebutan "kunci-kunci" dalam ayat di atas, dalam ayat lain disebut "khazanah". disebutkan dalam Al-Qur'an Suci:

"Dan tidak ada sesuatu pun mdamkan pada sisi Kamilah khazanah-nya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." (QS. al- Hijr: 21)

"Berdasarkan inilah Al-Qur'an Suci memandang segala sesuatu, bahkan batu dan besi, itu diturunkan. Kami turunkan (ciptakan) besi." (QS. al-Hadîd: 25)

Ini tidak berarti bahwa segala sesuatu, termasuk di dalamnya besi, merupakan pindahan dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Sesungguhnya segala yang ada di dunia ini, maka "akar" dan "hakikat"-nya ada di alam lain, yaitu alam gaib, dan segala yang ada di alam gaib, maka "bayang-bayang" dan "bentuk rendah"-nya ada di dunia ini.

Al-Qur'an Suci menyebutkan bahwa mengimani kegaiban itu wajib hukumnya. Al-Qur'an Suci juga memerintahkan supaya kita mengimani para malaikat, para nabi dan Kitab-kitab Suci. Kata Al-Qur'an, Rasul telah beriman kepada apa yang telah diwahyukan kepada-nya dari Tuhannya (Al-Qur'an), demikian pula orang-arangyang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasu-rasul-Nya. (QS. al-Baqarah: 285)

"Barangsiapa kafir kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sesungguhnya orangitu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. an-Nisâ': 136)

Dalam dua ayat ini Kitab-kitab Allah disebutkan secara tersendiri. Seandainya yang dimaksud adalah Kitab-kitab Suci yang diwahyukan kepada para nabi, maka tentu saja sudah cukup dengan hanya menyebutkan para rasul. Itu menunjukkan bahwa di sini arti Kitab-kitab tersebut adalah beberapa realitas yang berbeda. Al-Qur'an Suci sendiri merujuk kepada beberapa kebenaran yang tersembunyi. Al-Qur'an Suci menyebut kebenaran-kebenaran ini "Kitab yang nyata", "lembar yang terjaga", "Kitab induk", "Kitab yang tertulis", dan "Kitab yang tersembunyi". Mengimani Kitab-kitab metafisis seperti ini merupakan bagian dari doktrin Islam.

Para nabi pada dasarnya datang untuk memberdayakan umat manusia untuk, sejauh mungkin, memiliki pandangan umum tentang seluruh sistem penciptaan. Yang diciptakan itu bukan saja apa-apa yang terinderakan dan material yang menjadi bidang kajian ilmu-ilmu eksperimental. Para nabi ingin mengangkat pandangan manusia, dari yang terinderakan ke yang terpahamkan, dari yang kasat mata ke yang gaib, dan dari yang terbatas ke yang tak terbatas. Sayangnya, gelombang pemikiran materialistis yang terbatas yang datang dari Barat telah menyebar sedemikian rupa, sehingga sebagian orang bersikeras menurunkan konsepsi Islam yang tinggi dan substansial tentang dunia ke tingkat hal-hal yang terinderakan dan material.

Dunia dan Akhirat
Prinsip dasar lain dari konsepsi Islam tentang alam semesta adalah terbaginya dunia menjadi dunia kini dan dunia kelak (akhirat). Apa yang sudah kami kemukakan tentang yang nyata (kasat mata) dan yang gaib berkaitan dengan sebuah dunia yang mendahului dunia ini—sebuah dunia yang memberikan bentuk kepada dunia ini. Sekalipun dari satu sudut, akhirat adalah alam gaib dan dunia fana ini adalah alam kasat mata, namun kalau kita ingat fakta bahwa akhirat merupakan akibat dari dunia fana ini dan merupakan alam yang menjadi tempat kembali manusia, maka ini perlu dibahas tersendiri. Alam gaib adalah alam yang menjadi asal-usul kita, dan akhirat adalah alam tempat kita kembali. Itulah yang dimaksud Imam Ali as ketika mengatakan, "Semoga Allah memberkati orang yang tahu asal-usulnya, tempat eksistensinya sekarang, dan tempat kembalinya." Imam Ali as tidak mengatakan, "Semoga Allah memberkati orang yang tahu dari apa dia berasal dan apa tempat kembalinya." Kalau Imam Ali as berkata demikian, maka tentunya itu berarti bahwa kita diciptakan dari debu, kita akan kembali menjadi debu, dan kita akan dibangkitkan lagi dari debu. Kalau begitu, Imam Ali as tentu merujuk kepada ayat Al-Qur'an yang menyebutkan:

"Dari bumi (tanah) itulah Kami, menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." (QS. Thâhâ: 55)

Yang dikatakan Imam Ali as di sini merujuk kepada beberapa ayat lain dan menunjukkan konsepsi yang lebih tinggi. Yang dimaksud oleh Imam Ali as adalah "alam tempat asal-usul kita, alam tempat kita berada sekarang, dan alam tempat kita kembali nanti."

Dari sudut pandang konsepsi Islam tentang dunia, seperti dunia kasat mata (alam syahadah) dan dunia gaib, dunia fana dan dunia kelak (akhirat) juga memiliki arti yang mutlak, bukan arti yang relatif. Yang relatif adalah perbuatan yang kita lakukan. Jika perbuatan dilakukan untuk memenuhi tuntutan keinginan kita sendiri, maka perbuatan itu merupakan perbuatan duniawi. Dalam banyak kasus, jika perbuatan dilakukan untuk Allah dan untuk mendapatkan keridaan-Nya, maka perbuatan itu merupakan perbuatan akhirat. Kami akan membahas alam semesta dan akhirat secara terperinci nanti dalam Bab
"Kehidupan Abadi".



Contact Form

Name

Email *

Message *