Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Iman. Show all posts
Showing posts with label Iman. Show all posts

Monday, June 13, 2016

Setelah Ratusan Tahun, Jazad Para Sahabat Nabi Tetap Utuh Monday, June 13, 2016

DUA JASAD SAHABAT RASULULLAH YANG UTUH

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al Baqarah (2) : 154) – lihat juga QS Ali Imran : 169.
 Hudzaifah Ibnu Al Yamani RA Dan Jabir bin Abdullah Al Ansari RA
Sebagaimana lazimnya kita mengetahui bahwa apabila mayat sudah dikubur pasti akan segera mengalami proses pembusukan dan penguraian apalagi mayat yang sudah dikubur dalam waktu yang sangat lama. Namun, dengan kuasa Allah Swt, kita bisa temui banyak fakta dan bukti yang sangat kuat bahwa mayat atau jenazah para Syuhada (orang yang mati syahid), para Nabi dan orang-orang suci (Waliyullah) itu tetap segar bugar dan tidak mengalami proses pembusukan ketika kuburan mereka itu digali kembali.
Salah satunya adalah peristiwa yang sangat luar biasa ini, yang sempat menghentak publik dunia terutama penduduk di kawasan Timur Tengah. Pada tahun 1932 (bertepatan dengan tahun 1351 H). Pemimpin Iraq yang bernama Shah Faisal I bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh Huzaifah Al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi saw) yang berkata “Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir Al-Ansari (sahabat Nabi saw juga) dari tepian sungai Tigris dan kemudian kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku dan Jabir sekarang dipenuhi oleh air”. Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya akan tetapi Shah Faisal I tidak terlalu memperdulikan mimpi itu. Pada malam ketiga Huzaifah Al-Yamani hadir dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Huzaifah Al-Yamani berkata dalam mimpi sang Mufti itu “Aku telah memberitahukan Raja dua malam sebelumnya untuk memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. Beritahukanlah kepada Raja agar ia mau sedikit berempati untuk memindahkan kuburan-kuburan kami”.
Maka setelah dimusyawarahkan maka diputuskan pada tanggal 20 Dzulhijjah setelah shalat Dzhuhur dan Ashar, makam kedua sahabat Nabi itu akan dibuka dan jenazahnya akan dipindahkan ke tempat lain. Ketika makam Hudzaifah Al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya. Selanjutnya tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan.
Kedua jenazah suci dari sahabat sejati Nabi ini kelihatan masih segar dan tak tersentuh oleh bakteri pengurai sedikitpun. Keduanya dengan mata terbuka, mata yang telah menatap sinar Kenabian, Subahanallah ! Selain tubuh keduanya yang tampak segar bugar, juga pakaian yang mereka kenakan pada saat dimakamkan semuanya utuh dan kalau dilihat sekilas kedua Sahabat Nabi ini tampak seperti masih hidup dan hanya terbaring saja. Kedua jasad suci ini akhirnya dibawa dan dikebumikan kembali di kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan sahabat Nabi lainnya yaitu Salman Al-Farisi. Seorang ahli fisiologis dari Jerman, Ia melihat langsung kondisi tubuh jenazah kedua sahabat Nabi itu yang telah dikuburkan selama 1300 tahun lamanya, kemudian beliau mendatangi Mufti Besar Iraq dan mengatakan Bukti apalagi yang harus dicari bahwa Islam itu benar, Sekarang juga aku masuk Islam, Ajari aku tentang Islam“. Dan seketika itu juga banyak orang lainnya yang beragama Nasrani dan Yahudi turut juga menyatakan ke Islamanya.
Hudzaifah Ibnu Al Yaman RA
Penduduk kota Madain berduyun-duyun menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Khalifah Umar ra. Ketika mereka menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncul seorang lelaki dengan wajah berseri-seri. Ia mengenderai seekor keledai yang beralaskan kain usang, kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam. Orang itu tidak lain dari Hudzaifah Ibnul Yaman. Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar? Hudzaifah meneruskan perjalanan, sementara orang-orang berkerumun mengelilinginya lalu beliau berkata  “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!” Ujar mereka, “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?” Ia berkata, “Pintu-pintu rumah pembesar! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan!”. Suatu pernyataan yang luar biasa dan sangat menakjubkan.
Hudzaifah Ibnul Yaman, Ia terdidik di tangan Rasulullah Saw dengan kalbu terbuka, tak ubah bagai cahaya subuh. Ia mengutuk orang-orang yang riya, berbelit-belit, dan culas bermuka dua! Ia bergaul dengan Rasululah Saw, dan sungguh tak ada lagi tempat baik agar bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang selain didalam pangkuan Islam. Hudzaifah telah di karuniai fikiran yang jernih yang menyebabkan sampai pada suatu kesimpulan bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gambling, yang jelek adalah yang gelap dan samar-samar. Oleh karena itu, orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah Saw tetang kebaikan, tetapi Hudzaifah Ibnul Yaman menanyakan kepada Nabi tentang kejahatan karena takut akan terlibat di dalamnya. ”Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?’ ‘Ada,’ ujarnya. ‘Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?’ Tanyaku pula. ‘Memang, tetapi kabur dan bahaya,’ jawabnya. Tanyaku, ‘Apa bahaya itu?’ Jawabnya, ‘Yaitu segolongan umat mengikuti sunah bukan sunahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah.’ Kemudian setelah kebaikan tersebut, masihkah ada lagi kejahatan? Tanyaku pula. ‘Masih,’ ujar Nabi, ‘yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka!’ Lalu kutanyakan kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?’ Ujar Rasulullah, ‘senantiasa mengiuti jamaah Kaum Muslimin dan pemimipin mereka!’ Bagaimana kalau mereka tidak punya jamaah dan tidak pula pemimpin? ‘Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian…!” Nah, tidakkah anda perhatikan ucapan Hudzaifah r.a. “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya?”
Suatu ketika ia melihat bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud, dan di tangan laskar Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik! Hudzaifah melihat dari jauh pedang sedang di hunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak, “Ayahku, ayahku, jangan, ia ayahku!” Tetapi qadha Allah telah tiba. Ketika kaum Muslimin mengetahui hal itu, mereka pun merasa duka dan sama-sama membisu. Sambil memandangi mereka dengan penuh sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, Ia mengatakan, “Semoga Allah mengampuni tuan-tuan. Ia adalah sebaik-baik Penyayang”. Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya. Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah Saw. Maka di suruhnya membayar diat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudzaifah ini dan di suruh membagikannya kepada Kaum Muslimin. Keimanan dan kecintaan Hudzaifah tidak kenal lelah dan lemah. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya.
Sewaktu perang Khandaq, yakni setelah merayapnya kegelisahan dalam barisan kafir Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari golongan yahudi, Rasulullah Saw bermaksud hendak mengetahui perkembangan terakhir di lingkungan perkemahan musuh-musuhnya. Suasana di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang gawat dikalangan sahabat Rasulullah Saw. Siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan apa pun kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya, untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mereka? Maka, Rasulullah Saw memilih di antara para sahabatnya orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini, dia adalah Hudzaifah ibnu Yaman. Beberapa pertempuran kaum muslimin yang diikuti oleh Hudzaifah ibnu Yaman ketika dimasa Kekhalifahan Umar yaitu perang Nehawand, beliau sebagai komandan pasukan dibawah pimpinan Nukman bin Muqarrin. Namun ketika Nukman wafat atas perintah Khalifah maka digantikan kepemimpinan oleh Hudzaifah ibnu Yaman. Kemudian Hudzaifah ibnul Yaman pernah diperintah oleh khalifah Umar untuk mencari pemukiman di kuffah. “Dari beberapa tugas yang dimanahkan terlihat bahwa Hudzaifah ibnul Yaman adalah orang yang aktif didalam struktural Islam, beliau selalu ambil bagian dan tidak pernah menolak tugas yang diamanahkan kepadanya”.
Pada suatu hari dalam tahun 36 Hijriyah, saatnya Hudzaifah menghadap Sang Ilahi. Dan tatkala ia sedang berkemas-kemas untuk berangkat untuk melakukan perjalanannya yang terakhir, masuklah beberapa orang sahabatnya. Maka di tanyakannya kepada mereka, “Apakah tuan-tuan membawa kain kafan?” “Ada,” ujar mereka. “Coba lihat,” kata Hudzaifah pula. Maka tatkala dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah di bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, lalu katanya, “Kain kafan ini tidak cocok bagiku, cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju. Tidak lama aku akan berada di kubur, menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau yang lebih jelek” Kemudian ia menggumamkan beberapa kalimat tatkala di dengarkan oleh hadirin dengan mendekatkan telinga mereka “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di waktu rindu. Hati bahagia, tidak ada keluh sesalku”. Ketika itu, naiklah membumbung ke hadirat Ilahi, ruh suci di antara arwah para shalihin, ruh yang cemerlang, taqwa, tunduk dan berbakti. Semoga Allah merahmatinya, Aamiin. (Untuk pembahasan sirah sahabat Jabir bin Abdullah Al Ansari insya Allah edisi mendatang).
Jabir bin Abdullah Al Ansari RA
Rombongan kendaraan melaju mempercepat langkah dari Yatsrib ke Mekah karena didorong oleh rasa kerinduan kepada seseorang yang dicintai. Mereka sudah berjanji kepada Rasulullah untuk bertemu. Setiap orang yang berada di rombongan itu sangat rindu dengan suatu waktu pada saat akan merasakan kebahagiaan bertemu dengan Nabi Muhammad Saw dan meletakkan tangan di atas tangan beliau dengan membai‘atnya untuk selalu mendengarkan perintahnya dan taat, serta berjanji untuk saling menguatkan dan menolong. Di antara rombongan itu, ada orang tua, salah seorang pemuka kaum, membonceng anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil di belakangnya. Ia meninggalkan sembilan anak perempuan di Yatsrib karena ia tidak memiliki anak laki-laki yang kecil selainnya. Orang tua itu sangat ingin anaknya bisa menyaksikan bai‘at dan tidak kehilangan hari agung yang dianugerahkan itu. Orang tua itu bernama Abdullah ibnu Amr al-Khazraji al-Anshari dan anaknya bernama Jabir ibnu Abdullah al-Anshari. Keimanan bersinar di hati Jabir ibnu Abdullah, sedangkan ia masih kecil dan segar. Keimanan pun menyinari setiap sendinya. Islam menyentuh jiwanya yang halus seperti tetesan-tetesan hujan menyentuh kelopak bunga. Tetesan-tetesan itu pun membukanya dan memenuhinya dengan semerbak wangi-wangian. Hubungan Jabir dan Rasulullah Saw menjadi kuat sejak mudanya.
Ketika Rasulullah Saw yang mulia datang berhijrah ke Madinah, anak kecil yang mukmin ini berguru kepada Nabi pembawa petunjuk dan rahmat. Ia pun menjadi sebagian orang utama yang diluluskan oleh pendidikan Muhammad menjadi penghafal Kitab Allah untuk kepentingan manusia dan menjadi periwayat hadits Rasulullah Saw.. Cukuplah kita mengetahui bahwa Musnad Jabir ibnu Abdullah terkumpul di antara kedua sisinya sebanyak 1.540 hadits. Dihafallah semua hadits itu oleh seorang murid yang pandai dan meriwayatkannya dari Nabi kaum muslimin yang agung. Imam Bukhari dan Imam Muslim menetapkan dalam dua kitab shahihnya lebih dari 200 hadits dari hadits-haditsnya. Ia menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi kaum muslimin sepanjang waktu. Allah pun memanjangkan kehidupannya sehingga umurnya sampai satu abad.
Jabir ibnu Abdullah tidak mengikuti Perang Badar dan Perang Uhud bersama Rasulullah Saw karena di satu sisi ia masih kecil dan di sisi lain ayahnya memerintahkannya untuk tinggal bersama sembilan saudara perempuannya. Hal itu terjadi karena tidak ada seorang pun selainnya yang menjaga urusan mereka. Jabir menceritakan, “Ketika pada suatu malam menjelang Perang Uhud, ayah memanggilku dan berkata, ‘Sungguh aku tidak melihat diriku, kecuali terbunuh bersama sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan sesungguhnya, demi Allah, aku memiliki utang kepada seseorang. Kau lunasilah utangku, sayangilah saudara-saudara perempuanmu, dan berikanlah wasiat kebaikan kepada mereka”. Ketika waktu sudah pagi, ayahku menjadi orang pertama yang terbunuh di Perang Uhud. Ketika ingin menguburkannya, aku mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku telah membebankan utangnya kepadaku. Dan aku tidak memiliki sesuatu pun untuk melunasinya, kecuali apa yang dapat dipetik dari pohon kurmanya. Kalau aku mengandalkan pohon itu untuk melunasi utangnya, maka aku akan melunasinya selama beberapa tahun, sedangkan saudara-saudara perempuanku tidak memiliki harta untuk dinafkahkan kecuali dari pohon itu”.
Rasulullah berdiri dan pergi bersamaku ke tempat penyimpanan korma kami. Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Panggillah orang-orang yang berpiutang kepada ayahmu.” Maka aku pun memanggil mereka. Beliau masih saja menakar hingga Allah melunasi utang ayahku dengan korma. Aku melihatnya seperti sediakala, seakan-akan tidak berkurang satu biji korma pun. Sejak ayahnya meninggal, Jabir tidak pernah absen dari satu peperangan pun bersama Rasulullah Saw.. Di setiap peperangan, ia mengalami sebuah peristiwa yang diriwayatkan dan dijaga. Kita tinggalkan pembicaraan tentangnya. Ia sendiri yang menceritakan salah satu peristiwa bersama Rasulullah Saw. Jabir berkata, “Pada hari persiapan Perang Khandaq, kami menggali. Lalu batu besar yang keras menghalangi kami, sehingga kami pun tidak mampu untuk memecahkannya. Kami datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘Wahai Nabi Allah, jalan kami terhalang dengan batu besar yang keras. Cangkul-cangkul kami tidak dapat berbuat apapun terhadapnya.’ Maka Nabi Muhammad Saw berkata, ‘Tinggalkan batu itu, aku akan turun ke batu itu.’ Kemudian beliau berdiri sedangkan perutnya diganjal dengan batu karena sangat lapar. Hal itu terjadi karena kami tidak makan selama tiga hari. Maka beliau mengambil cangkul dan memukul batu itu. Maka batu itu pun menjadi pasir secara perlahan-lahan.”
Ketika itu, keinginanku untuk menolong rasa lapar yang menimpa Rasulullah Saw bertambah. Maka aku pun menghadapnya dan berkata, “Apakah kau izinkan aku pergi ke rumahku wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Pergilah.” Ketika sampai di rumah, aku berkata kepada istriku, “Aku lihat baginda Rasulullah merasakan rasa lapar yang amat sangat. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menahannya. Apakah kau mempunyai sesuatu?” Dia berkata, “Aku punya sedikit biji gandum dan kambing kecil.” Aku berdiri menuju kambing itu lalu menyembelihnya dan memotong-motongnya. Setelah itu, aku letakkan di kuali. Aku juga mengambil biji gandum dan menggilingnya. Lalu aku serahkan kepada istriku. Ia pun memasaknya. Ketika aku tahu daging itu hampir matang, dan adonan sudah lembut dan hampir matang, aku pergi menuju Rasulullah Saw.. Aku katakan kepadanya, “Kami sudah membuat sedikit makanan untukmu wahai Nabi Allah. Makanlah beserta satu orang atau dua orang yang kau ajak makan bersamamu.” Beliau bertanya, “Berapa banyak makannya?”
Aku pun menyebutkan banyaknya. Ketika Rasulullah Saw tahu ukuran makanan itu, beliau berkata, “Wahai para pembuat parit, Jabir telah membuat makanan untuk kalian. Kemarilah kita menuju rumahnya. “Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Pergilah ke istrimu dan katakan kepadanya, ‘Jangan kau turunkan kualimu dan jangan kau buat roti adonanmu sampai aku datang“. Aku pun pergi ke rumah. Aku merasa gundah dan malu. Tidak ada yang tahu keadaanku ini kecuali Allah. Aku pun berkata, “Apakah penduduk Khandaq akan datang kepada kita dengan hanya disuguhi satu sha gandum dan satu kambing kecil? “Aku pun menemui istriku dan berkata, “Celakalah engkau, ketahuan keadaanku yang sebenarnya. Rasulullah Saw akan datang bersama semua pembuat parit ke rumah kita.”Ia pun berkata, “Apakah beliau berkata, ‘Berapa banyak makananmu? Aku jawab, “Ya”. Ia berkata, hilangkanlah kegundahanmu dari dirimu, Allah dan Rasul-Nyalah lebih tahu. Hilanglah kesedihanku dengan perkataannya itu. Makanan itu hanya sedikit hingga Rasulullah tiba. Bersama beliau, ada orang-orang Anshar dan Muhajirin. Beliau berkata, “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.”Kemudian beliau berkata kepada istriku, “Datangkan seorang pembuat roti untuk membuat roti bersamamu. Duduklah menunggui kualimu dan jangan menurunkannya dari tempat apinya.”
Kemudian ia pun mulai memperbanyak roti, mengisinya dengan daging, dan mendekatkannya kepada para sahabat beliau, sedangkan mereka menyantap makanan hingga semuanya kenyang. Kemudian Jabir menyusul sambil berkata, “Aku bersumpah kepada Allah, bahwa mereka ramai-ramai memakan makanan itu, sedangkan periuk kami mendidih dengan penuh seperti sediakala dan adonan kami bisa dibuat kue seperti sediakala. Kemudian Rasulullah Saw berkata kepada istriku, “Makanlah dan bagikanlah.” Ia pun makan dan mulai menghadiahkannya sepanjang hari itu. Karena itulah, Jabir ibnu Abdillah al-Anshari telah menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi umat muslim dalam tempo yang lama. Allah telah memanjangkan umurnya hingga hampir satu abad. Di suatu tahun, ia keluar menuju Kerajaan Romawi untuk jihad fi sabilillah. Pasukan itu dipimpin oleh Malik ibnu Abdillah al-Khatsami. Malik berkeliling-keliling dengan tentaranya. Mereka berangkat untuk mengetahui situasi mereka dan memperkuat kekuatan mereka, serta berbuat baik kepada para pembesarnya dengan kekuatan yang mereka miliki.
Malik kemudian bertemu dengan Jabir ibnu Abdillah yang sedang berjalan kaki, padahal ia sedang membawa keledainya yang diikat dengan tali kekangnya dan dituntun olehnya. Maka Malik berkata, “Ada apa denganmu, wahai Abu Abdullah? Kenapa kau tidak menungganginya? Padahal Allah memberikan kemudahan kepadamu dengan punggungnya yang dapat membawamu.”Maka ia pun berkata, “Aku dengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, maka Allah akan mengharamkannya masuk neraka.” Kemudian Malik meninggalkannya dan pergi hingga esok pagi ia muncul mendahului para tentara. Kemudian Malik menoleh kepadanya dan memanggilnya dengan suara keras, “Wahai Abu Abdullah, kenapa engkau tidak menunggangi keledaimu, padahal itu milikmu”. Jabir pun mengetahui maksudnya dan menjawabnya dengan suara yang keras, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu dalam melaksanakan perintah Allah, maka Allah mengharamkannya masuk neraka“. Orang-orang pun melompat dari binatang tunggangannya. Mereka semua mendapatkan ganjaran ini. Tidak ada pasukan yang pejalan kakinya lebih banyak dari pasukan itu. Beruntunglah Jabir ibnu Abdillah al-Anshari. Ia telah membaiat Rasulullah Saw yang mulia, sedangkan ia masih kecil, belum balig, berguru kepada Nabi Muhammad Saw sejak kuku-kukunya masih halus, meriwayatkan hadits-hadits yang dinukil oleh para perawi hadits, berjihad bersama Rasulullah Saw padahal ia seorang pemuda dan menebarkan debu ke kakinya di jalan Allah padahal ia sudah tua.



[Dari Khilafatul Muslimin | Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid – Edited redaksi].

** Lihat juga kisah-kisah serupa di sini




Friday, September 14, 2012

Pengertian Mukjizat Dalam Islam dan Kristen Friday, September 14, 2012


MUKJIZAT, mu'jizat atau mujizat (Arab معجزة, Baca Mu'jizah) adalah perkara yang di luar kebiasaan, yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya, untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya.[1]

Etimologi
Kata mukjizat berasal dari kata bahasa Arab yang berarti melemahkan, dari kata ‘ajaza (lemah). Dalam aqidah Islam mukjizat dimaknakan sebagai suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan yang digunakan untuk mendukung kerasulan seorang rasul, sekaligus melamahkan lawan-lawan para rasul. Pengertian ini terkait dengan kehadiran seorang nabi atau rasul. Nabi dan rasul di dalam menyampaikan ajarannya selalu mendapatkan tantangan dari masyarakatnya. Misalnya, ajarannya dianggap obrolan bohong, bahkan dianggap sebagai tipu daya (sihir).[2][3][4] Untuk membuktikan kerasulan tersebut sekaligus membantah tuduhan para penantangnya, lalu nabi diberi kelebihan (mukjizat) berupa peristiwa besar yang luar biasa. Peristiwa inilah yang disebut dengan mukjizat.

Mukjizat dalam Islam
Mukjizat merupakan kejadian/kelebihan di luar akal manusia yang tidak dimiliki oleh siapapun, karena mukjizat hanya dimilki oleh para rasul yang diberikan oleh Allah kepada para rasul-Nya. Sedangkan apabila ada seseorang yang memilki sesuatu yang luar bisa itu tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat melainkan karomah. Kemudian ada pula istilah irhasat dan khawariq, irhasat adalah pertanda yang terjadi untuk menunjukkan tanda kelahiran seorang nabi (sebelum kenabian). Sedankan khawariq adalah kejadian yang terjadi dalam keadaan yang luar biasa.[5]

Mukjizat biasanya berisi tentang tantangan terhadap hal-hal yang sedang menjadi trend pada zaman diturunkannya mukjizat tersebut. Misalnya pada zaman Musa, trend yang sedang terjadi adalah ilmu sihir maka dengan mukjizat tongkat Musa bisa berubah menjadi ular dan mengalahkan ilmu sihir orang lain yang ada di sekitarnya. Juga pada zaman Isa, trend yang sedang berkembang adalah ilmu kedokteran dan pengobatan, maka pada saat itu mukjizat Isa adalah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal yang merupakan puncak dari ilmu pengobatan.

Demikian juga pada zaman Muhammad, trend yang sedang berkembang adalah ilmu sastra. Maka disaat itulah dirunkan Al-Qur'an sebagai mukjizat Muhammad. Nabi yang pada saat itu tidak bisa membaca dan menulis tapi bisa menunjukkan Al-Quran yang diyakini oleh umat Muslim, memiliki nilai sastra tinggi, tidak hanya dari cara pemilihan kata-kata tapi juga kedalaman makna yang terkandung di dalamnya sehingga Al-Quran dapat terus digunakan sebagai rujukan hukum yang tertinggi sejak zaman masa hidup nabi sampai nanti di akhir zaman.

Beberapa contoh mukjizat para nabi dan rasul:
  1. Daud memiliki suara merdu sehingga makhluk lain pun ikut bertasbih bersamanya, sanggup berbicara dengan burung, dan berhasil mengalahkan Jalut seorang prajurit raksasa dari negeri Filistin, sanggup melunakkan besi dengan tangan kosong. 
  2. Ibrahim tidak hangus dibakar, karena api yang membakarnya berubah menjadi dingin. 
  3. Yusuf memiliki ketampanan luar biasa dan mampu mentakwilkan mimpi-mimpi. 
  4. Shaleh berupa unta betina yang tidak boleh disembelih, sebagai hujjah atas kaumnya. 
  5. Yunus bisa hidup di dalam perut ikan nun selama tiga hari. 
  6. Sulayman sanggup berbicara dalam bahasa hewan, menguasai bangsa jin, mampu menundukkan angin, memiliki permadani yang terbuat dari sutera hijau dengan benang emas dengan ukuran 60 mil panjang dan 60 mil lebar. 
  7. Musa berupa tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, topan, laut, dan peristiwa-peristiwa di Bukit Thur. 
  8. Isa berupa kemampuan menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penderita kusta dan menghidupkan orang mati. 
  9. Muhammad berupa Isra dan Mi'raj, membelah bulan untuk membuktikan kenabiannya terhadap orang Yahudi, bertasbihnya kerikil di tangannya, batang kurma yang menangis, pemberitaan Muhammad tentang peristiwa-peristiwa masa depan ataupun masa lampau, tetapi mukjizat yang terbesar adalah Al-Qur’an.
    Bentuk mukjizat

    Mukjizat-mukjizat tersebut tidak lepas dari bentuk-bentuk berikut ini:
    1. Ilmu, seperti pemberitahuan tentang hal-hal ghaib yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi, umpamanya pengabaran Isa kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Sebagaimana pengabaran Muhammad tentang fitnah-fitnah atau tanda-tanda hari kiamat yang bakal terjadi, sebagaimana banyak dijelaskan dalam hadits-hadits. 
    2. Kemampuan dan kekuatan, seperti mengubah tongkat menjadi ular besar, yakni mukjizat Musa yang diutus kepada Firaun dan kaumnya. Kemudian penyembuhan penyakit kulit, buta, serta menghidupkan orang-orang yang sudah mati, yang kesemuanya adalah mukjizat Isa. Juga terbelahnya bulan menjadi dua yang merupakan salah satu mikjizat Muhammad. 
    3. Kecukupan, misalnya perlindungan bagi Muhammad dari orang-orang yang menginginkan kejahatan kepadanya. Hal ini sering terjadi, ketika di Makah sewaktu malam hijrah, ketika di dalam gua, lalu dalam perjalanan ke Madinah ketika bertemu dengan Suraqah bin Malik, lalu di Madinah ketika orang-orang Yahudi ingin menculiknya dan lain-lain. Contoh-contoh ini yang diyakini oleh umat Muslim menunjukan bahwa Allah mencukupi rasul-Nya dengan perlindungan, sehingga tidak membutuhkan lagi perlindungan makhluk lain.

    Dari tiga jenis mukjizat para nabi di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya bertujuan untuk membenarkan kerasulan para rasul, dengan kemapuanya melebihi kemampuan masyarakatnya. Masyarakatnya tidak berdaya (‘ajaza) menantang para rasul, sehingga mereka menerima kebenaran ajaran yang dibawa para rasul.

    Para nabi memiliki mukjizat yang berbeda sesuai dengan kondisi masyaraktnya. Musa, karena masyarakatnya sangat ahli dalam ilmu sihir, maka mukjizatnya ialah kemampuan mengubah tongkat menjadi ular besar, yang mampu menelan semua ular yang dimunculkan para penyihir Fir’aun. Isa, karena masyarakatnya ahli di bidang pengobatan, mukjizatnya ialah kemampuan menyembuhkan orang buta sehingga mampu melihat kembali.

    Sedangkan Muhammad, karena masyarakatnya ahli dalam bidang sastra, maka mukjizatnya ialah Al-Qur’an, yang melebihi sastra Arab gubahan para sastrawan yang dianggap tidak ada yang mampu menyaingi Al-Qur’an ketika itu. Bagaimana canggihnya kemampuan sastrawan Arab, namun mereka tidak mampu (tidak berdaya) menyamai al-Qur’an.

    Mukjizat dalam Kristen
    Mukjizat' adalah suatu kejadian atau peristiwa yang luar biasa atau di luar kebiasaan yang dilakukan oleh TUHAN (YHWH) atau oleh Allah atau oleh Kuasa Roh TUHAN dengan tujuan tertentu, misalnya untuk meneguhkan pengutusan seorang Nabi TUHAN, seorang Rasul Tuhan maupun seorang hamba Tuhan.

    Etimologi
    Mukjizat' berasal dari Bahasa Arab المعجزات (Baca: al-Mu'jizat), bermakna "suatu kejadian atau peristiwa atau fenomena yang luar biasa atau di luar kebiasaan atau yang secara normal tidak dapat dilakukan oleh manusia atau oleh mesin buatan manusia maupun oleh makhluk hidup ciptaan Tuhan, sehingga secara meyakinkan hanya dapat dilakukan oleh kuasa Tuhan sendiri." Tetapi suatu kejadian yang luarbiasa mungkin saja merupakan sesuatu hal atau temuan yang baru yang nampak seperti sebuah mukjizat, namun jika dikemudian hari hal tersebut menjadi pengetahuan yang dapat dikuasai oleh manusia, sehingga banyak orang atau mesin buatan manusia dapat mengulangi kejadian, peristiwa atau fenomena serupa, maka kejadian, peristiwa atau fenomena tersebut tidak dapat dikategorikan atau digolongkan sebagai mukjizat.

    Alkitab mencatat begitu banyak kejadian atau peristiwa yang secara meyakinkan dapat digolongkan sebagai mukjizat. Berikut beberapa contoh mukjizat yang tercatat di Alkitab yang secara meyakinkan merupakan perbuatan TUHAN dengan alasan yang menguatkannya.

    Penciptaan langit dan bumi
    Kitab Kejadian menceriterakan bagaimana Allah menciptakan Bumi dan segala isinya dalam enam hari menurut bilangan Tuhan(Kejadian 1:1-31). Langit dan Bumi diciptakan dari ketiadaan (kosong) menjadi ada sehingga sangat meyakinkan bahwa penciptaan langit dan Bumi merupakan mukjizat yang dikerjakan oleh Allah.

    Mukjizat yang dilakukan melalui Nabi Musa
    (Lihat selengkapnya di sini)

    Kitab Keluaran mencatat mukjizat-mukjizat TUHAN yang dilakukan melalui Nabi Musa antara lain sebagai berikut.
    1. Mengadakan berbagai tulah kepada negeri Mesir demi membebaskan bangsa Israel, yang dikenal dengan nama 10 Tulah Mesir. 
    2. Mengadakan mukjizat membelah Laut Merah ketika orang Mesir mengejar orang Israel dengan maksud membawa orang Israel kembali, setelah orang Israel dibebaskan dari perbudakan.Mukjizat itu membuat seluruh orang Mesir hanyut tenggelam di dalam Laut Merah. 
    3. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut oleh karena persediaan makanan dan air mereka sudah habis. Oleh karena itu, Tuhan menjawab doa Musa dan mengirimkan Manna dan burung puyuh. Manna adalah seperti roti yang terbentuk dari embun. Manna ini muncul di pagi hari. Sementara burung puyuh dikirim oleh Tuhan setiap sore oleh angin yang kencang. 
    4. Ketika bangsa Israel menemukan sebuah mata air yang pahit. Lalu Musa melemparkan sebuah cabang kayu ke situ dan air itu menjadi manis. 
    5. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut oleh karena tidak ada air, sehingga Musa, atas perintah Tuhan, memukul sebuah bukit batu dengan tongkatnya, dan air memancar. Namun Musa mengatakan suatu perkataan yang dianggap Tuhan tidak pantas, sehingga itu menyebabkan Musa tidak dapat masuk ke tanah Kanaan bersama bangsa Israel. 
    6. Ketika Bangsa Israel mendapat serangan dari ular ketika di padang gurun oleh karena Tuhan murka kepada bangsa Israel yang terus bersungut-sungut. Kemudian Tuhan menyuruh Musa membuat patung ular dari tembaga. Siapapun yang melihat kepada patung itu, akan sembuh dari racun gigitan ular-ular itu.
    Mukjizat Yesus
    (Lihat selengkapnya di sini.)

    Mukjizat Muhammad (saw)
    (Lihat selengkapnya di sini)



    CATATAN KAKI:
    1.  Al Irsyad ila Shahih al I’tiqad, karya Syeikh Shalih al Fauzan, hal.205.
    2.  "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala." (Al-Anfal 8:31)
    3.  "Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta." (Shad 38:4)
    4.  "Dan tatkala kebenaran (Al Quran) itu datang kepada mereka, mereka berkata: "Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya." (Al-Zukhruf 43:30)
    5.  Perbedaan Mukjizat, Irhasat dan Khawariq di Scribd.com
    Referensi
    Pranala luar

    [Sumber: Wikipedia]

    Wednesday, September 21, 2011

    Tentang Syariat, Tarikat, Hakikat, Dan Ma'rifat Wednesday, September 21, 2011



    Dalam SYARIAT ada hijab...
    Tidak akan tertembus kecuali oleh HAKIKAT..
    Syariat jalannya umat...
    untuk berkhidmat pada Yang Maha Kuat...

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..
    Ada yang bertanya tentang apakah yang dimaksudkan dengan Syariat, apa itu Tarikat, dan ada juga yang bertanya tentang Hakikat. Dengan segala keterbatasan, kami mencoba untuk menjelaskannya secara singkat, dengan harapan semoga dapat di pahami. ~ Mohon koreksi.

    Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
    SYARIAT adalah 'Pandangan Hidup' (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah), dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk seluruh umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dlm hidup dan kehidupannya..

    SEBAGAI PANDANGAN HIDUP
    Seorang muslim yang ISLAM oriented akan selalu setia pada syariat dalam berbagai persoalan hidupnya dengan senantiasa berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

    Firman Allah SWT:

    "Syara'a lakum mina alddiini maa washshaa bihi nuuhan waalladzii awhaynaa ilayka wamaa washshaynaa bihi ibraahiima wamuusaa wa'iisaa an aqiimuu alddiina walaa tatafarraquu fiihi kabura 'alaa almusyrikiina maatad'uuhum ilayhi allaahu yajtabii ilayhi man yasyaau wayahdii ilayhi man yuniibu..."

    "(Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama^1341 dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)".(QS Asy-Syura [42]:13) [^ 1341: Yang dimaksud "agama" di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta menta'ati segala perintah dan larangan-Nya.]

    Firman-Nya pula:

    "Tsumma ja'alnaaka 'alaa syarii'atin mina al-amri faittabi'haa walaa tattabi' ahwaa-a alladziina laa ya'lamuuna..." 

    (Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS Al-Jatsiyah [45]:18)

    "Wa-anzalnaa ilayka alkitaaba bialhaqqi mushaddiqan limaa bayna yadayhi mina alkitaabi wamuhayminan 'alayhi fauhkum baynahum bimaa anzala allaahu walaa tattabi' ahwaa-ahum 'ammaa jaa-aka mina alhaqqi likullin ja'alnaa minkum syir'atan waminhaajan walaw syaa-a allaahu laja'alakum ummatan waahidatan walaakin liyabluwakum fiimaa aataakum faistabiquu alkhayraati ilaa allaahi marji'ukum jamii'an fayunabbi-ukum bimaa kuntum fiihi takhtalifuuna..." 

    (Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian421 terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu422, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS Al-Maidah [5]:48).

    Dan untuk mengetahui hakikat..makrifat.maka ada baiknya kita pahami dulu istilah2 yang sering dipakai oleh para sufi..

    TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
    HAKIKAT berarti "kebenaran" atau "kenyataan yang sebenarnya", seakar dengan kata al-Haqq, "reality", "Absolut" adalah kebenaran esoteris yang merupakan batas-batas dari transendensi dan teologis.

    Dalam pengertian seperti ini, hakikat merupakan unsur ketiga dlm ilmu tasawuf, yakni:
    • SYARI'AT (hukum yang mengatur), 
    • TAREKAT (suatu jalan atau cara); ~ sebagai suatu tahapan dalam perjalanan spiritual menuju ALLAH Al-HAQQ, 
    • HAKIKAT (Kebenaran yang essensial), dan 
    • MA'RIFAT (mengenal ALLAH dengan sebenar-benarnya, baik Asma, Sifat, maupun Af'al-Nya). 
    Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

    "Inna haadzaa lahuwa haqqu alyaqiini, fasabbih biismi rabbika al'azhiimi.." 

    "Sungguh, yang demikian itu adalah hakikat yang meyakinkan maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (QS Al-Waqiah [56]: 95-96)

    "Fadzaalikumu allaahu rabbukumu alhaqqu famaatsaa ba'da alhaqqi illaa aldhdhalaalu fa-annaa tushrafuuna.." 

    "Maka ikutilah DIA Tuhanmu yang hakiki. Tidak ada sesudah kepastian itu melainkan kesesatan. Tetapi bagaimanakah kamu dapat dipalingkan dari kebenaran?" (QS Yunus [10]: 32) 

    Ilmu "HAKIKAT" ini termasuk ilmu Maknun (Ilmu yang tersimpan) yang tidak boleh disebarkan kecuali kepada ahlinya karena mengandung unsur yang membahayakan bagi orang awam (kebanyakan), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berikut ini:

    "Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian, adapun yang kedua seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau untuk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat)". 

    Al-Ghazali menegaskan bahwa Ilmu HAKIKAT termasuk ilmu rahasia yang kelihatannya bertentangan dengan Ilmu SYARIAT, namun hakekatnya tidaklah bertentangan.

    Ilmu ini, yang tidak boleh ditulis dan tidak boleh disebar-luaskan secara umum, tetapi harus disembunyikan kecuali kepada orang-orang yang terpercaya (yang dapat menyimpan amanah), sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ali Zainuddin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib.

    "Banyak Ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebar-luaskan, niscaya orang-orang menganggapku termasuk para penyembah berhala, dan banyak tokoh kaum Muslimin menganggap halal darahku hingga mereka menganggap membunuhku itu lebih baik." 

    HAKIKAT, juga disebut 'lubb' ("dalam", "saripati", "inti") kaitannya dengan sebuah frase Al-Qur'an (dalam surah Al-Qashash ayat 29, dan ayat-ayat lain).

    Sedangkan Ulul Albab adalah orang yang memiliki pengetahuan (yang mendalam), yakni mereka yang memiliki pandangan atau pengertian tentang HAKIKAT. Kaitannya dengan hal ini terdapat pada pepatah Sufi,

    "Untuk mencapai Hakikat (inti), Anda harus mampu menghancurkan kulit", yang mengandung pengertian bahwa paham eksoterisme (perwujudan), melampaui batas-batas pemahaman eksoteris, karena esensi melampaui bentuk-bentuk luaran yang mana ia tidak dapat direduksikan kepada bentuk luaran yang bersifat eksoterik.

    Lebih lanjut dapat dilihat dari uraian "SYARIAT".

    Secara sederhana kita ambil contoh ibadah Shalat yang menjadi inti daripada hakekat hidup kita sekalian, yaitu "Hakekat hidup adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (liya' buduni), sedangkan ibadah yang paling pokok dan utama adalah Shalat!

    SHALAT
    SYARI'AT-nya adalah memenuhi kewajiban. Sesuai dengan firman-Nya; 

    " Inna alshshalaata kaanat 'alaa almu'miniina kitaaban mawquutaan.."

    "Bahwa sesungguhnya shalat itu diwajibkan atas orang-orang mukmin pada waktu-waktu yang sudah ditentukan." (QS An-Nisaa [4]:103). 

    TAREKAT-nya adalah memberi pengaruh pada sikap dan membekas pada perbuatan. 
    HAKIKAT-nya adalah zikir kepada ALLAH Subhanahu wa Ta'ala. 

    Sebagaimana firman-Nya: 

    "Innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii.." 

    "Sungguh, AKU inilah ALLAH, tiada Tuhan melainkan AKU. Maka sembahlah AKU dan tegakkanlah shalat ini untuk dzikir kepada-KU." (QS Thaha [20]:14) 

    MAKRIFAT-nya adalah mi'raj ruhani kehadirat Ilahi. 

    "Shalat adalah Mi'raj-nya orang-orang yang beriman." (HR Baihaqi dan Muslim)

    Seperti telah disinggung pada awal tulisan ini, dimana diuraikan bahwa:

    SYARIAT adalah 'Pandangan Hidup' (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah), dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk seluruh umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dalam hidup dan kehidupannya.. 

    Sebagai PANDANGAN HIDUP, seorang muslim yang ISLAM oriented akan selalu setia pada syariat dalam berbagai persoalan hidupnya dengan senantiasa berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah (QS Asy-Syura:13, Al-Jatsiyah:18, QS Al-Maidah:48). 

    Sebagai PEGANGAN HIDUP, SYARI'AT diturunkan ALLAH Subhanahu wa Ta'ala ke dunia ini dengan Ilmu-Nya yang tak terbatas. Oleh karena itu, SYARIAT bersifat UNIVERSAL. 

    Kemudian, DIA mengutus Rasulullah SAW. sebagai RAHMATAN LIL ALAMIIN yang memberlakukan Syariat sampai akhir zaman. (Lihat QS Al-Furqan:1; dan QS Al-Anbiya:107). 
    Sebagai PERJUANGAN HIDUP, Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijtihad sebagai sumber syariat meliputi: 

    (1) Prinsip Dasar (Iman/Aqidah/Islam /Ibadah, dan Ikhsan/Akhlak) dan
    (2) Norma-norma Hukum Islam.

    Menurut Syaikh Athaillah As-Sakandary dan para sufi, bhw amal perbuatan terdiri atas tiga bagian, yaitu: Amal Syariat; ~ Amal Tarekat, dan ~ Amal Hakikat; atau... 
    • Amal Islam, Amal Iman, dan Amal Ihsan; ATAU.. 
    • Amal Ibadah, Amal Ubudiyyah, dan Amal Ubudah; ATAU.. 
    • Amal Ahli Bidayah (tahap pemula); Amal ahli Wasat (tahap pertengahan), dan Amal Ahli Nihayah (tahap akhir). 
      1. SYARIAT untuk memperbaiki 'zawahir' atau 'zawarih' (anggota badan),
      2. TARIKAT untuk memperbaiki 'dhamir' (hati); dan
      3. HAKIKAT untuk memperbaiki 'sarair' (ruh).
      Memperbaiki zahir (anggota badan) dgn tiga perkara pula yaitu: 
      • Ikhlas 
      • Sidq (jujur), dan 
      • Tumaninah (ketenangan). 
      Dan, memperbaiki 'Ruh' juga dengan tiga perkara, yaitu; 
      1. Muraqabah (waspada/merasa di awasi/seolah-olah melihat ALLAH Subhanahu wa Ta'ala), 
      2. Musyahadah (menyaksikan Asma, Sifat, dan Afal Alllah Subhanahu wa Ta'ala.), dan, 
      3. Makrifat (mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala.) 
      Atau ...
      • Memperbaiki Zahir (anggota badan) yaitu dgn 'menjauhi larangan Allah Swt.dan mengikuti perintah-Nya. 
      • Memperbaiki Hati yaitu dgn menjauhi sifat2 tercela dan menghiasinya dgn sifat2 utama..Dan,.. 
      • Memperbaiki Ruh yaitu dgn menghinakannya dan menundukkannya shgga menjadi terdidik adab,tawaduk, dan berbudi.. 
      Ahli Syariat ialah orang yang melaksanakan amal ibadah 'litalabil ujur' (karena mengharapkan upah atau pahala dari Allah Swt.). 

      Ahli Tarekat masih dalam perjalanan antara syariat dan hakikat. Sedangkan ahli Hakikat ialah orang-orang yang melaksanakan 'ibadah' (pengabdian kepada Allah Swt.) semata-mata karena mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. (ikhlas), disertai dgn rasa 'khawf' (takut/gentar), 'raja' (harap), 'mahabbah' (cinta) dst. 

      Syaikh Athaillah As-Sakandariyah berkata;

      "Orang yang telah sampai pada Hakikat Islam, maka ia tidak kuasa menghindari melaksanakan Syariat; 

      Orang yang telah sampai pada Hakikat Iman, maka ia tidak kuasa berpaling kepada amal perbuatan atas dasar selain Allah Subhanahu wa Ta'ala (riya); 

      Dan, orang yang telah sampai pada Hakikat Ihsan, maka ia tidak kuasa berpaling kepada segala apapun selain Allah Swt." 

      Menurut Syaikh Ali bin al-Haitamy r.a.,

      "Syariat ialah apa yang berkaitan dengan 'taklif' (pembebanan suatu ibadah), sedangkan Hakikat ialah apa yang dapat menghasilkan 'pengenalan kepada Allah'. Syariat dikuatkan oleh Hakikat, dan hakikat terikat pada Syariat. 

      Syariat adalah sebagai wujud perbuatan Allah Swt., dan melaksanakannya dengan syarat disertai ilmu melalui perantaraan para Rasul, sedangkan Hakikat ialah 'menyaksikan hal ihwal mengenal Allah Swt. dan menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya tanpa ada perantaraan". 

      Syaikh al-Arif Billah Sayyid Ibrahim ad-Dasuqi al-Quraisy r.a., berkata:

      "Syariat adalah POKOK, sedangkan Hakikat adalah CABANG. Syariat mengandung segala ilmu yang disyariatkan, sedangkan Hakikat mengandung segala ilmu yang tersembunyi, dan seluruh maqam (kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala) bertingkat-tingkat di dalam keduanya". 

      "Syariat itu Pohon dan Hakikat itu Buahnya." 

      "Ahli Syariat akan batal shalatnya dengan bacaan yang buruk, sedangkan ahli Hakikat akan batal shalatnya dengan akhlak yang buruk.~ Jadi apabila di dalam bathinnya terdapat kedengkian atau iri hati, buruk sangka kepada seseorang, mencintai dunia, shalatnya batal. 

      Karena sesungguhnya pemilik akhlak buruk itu berada pada hijab (terhalang) dari menyaksikan keagungan Allah Swt di dalam shalat. Dan orang yang hatinya terhijab maka ia tidak shalat, karrna sesungguhnya shalat adalah sebuah hubungan dengan Allah Swt.".

      Seorang Sufi bersyair:


      Dalam Syariat Ada hijab
      Tidak akan tertembus kecuali oleh Hakikat 
      Syariat jalannya umat 
      Untuk khidmat pada Yang Maha Kuat

      Sedang Hakikat ada syariat yang samar bagi umat
      Hingga disangka sesat,  
      Padahal jalan yang selamat 
      Syariat adalah awalan 

      Hakikat bukan akhiran 

      Karena pada hakikat terdapat syariat 

      Yang berbeda dengan syariat awalan, 
      Pada khidmat umat 

      Padahal pada tiap ayat
      Ada makna yang tersirat dan tersurat 
      Adalah sabda Rasul berpendapat 
      Maka apakah mereka tidak melihat? 

      Pada tiap-tiap umat ada syariat 
      Begitulah ayat berpendapat 
      Apakah mereka tidk melihat? 
      Maka Hakikat dalah Syariat 

      Yang berasal dari syariat umat 
      Sedangkan dia berpijak 
      Maka bagaimanakah Hakikat dikatakan sesat? 
      Sedangkan dia berpijak pada syariat 

      Yang dibawa oleh Rasul yang mulia 
      Sebagai amanat 
      Tetapi Allah mempunyai pendapat 
      Siapakah para hamba yang mendapat hidayah 

      Untuk dapat mengenal hakikat 
      Maka siapa yang menolaknya 
      Berarti melepaskan hidayah 

      Karena mencapai makrifat adalah dengan syariat 
      Yang terususun dengan hakikat 
      Maka syariat dan hakikat adalah syariat-Nya 
      Apakah mereka tidak melihat?




      Segala puji hanya bagi Allah 'Azza wa Jalla semata.., dan Shalawat dan Sallam semoga senantiasa tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam beserta ahlul baitnya, para sahabat serta para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.-

      Wassalam

      Makna Kalimat "La Illaha Illallah"


      Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu'alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain ALLAH yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa MUHAMMAD adalah Hamba dan Utusan-Nya..


      Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
      Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
      Amma Ba'du:

      Sesungguhnya yang dimaksud dengan kalimat ikhlas adalah kalimat: ‘La ilaha ilallah” sebab kalimat ini mengandung makna mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah Ta'ala, meng-Esa-kan-Nya dalam beribadah dan arti kalimat ini adalah tiada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah subhanahu wata'ala. ~Kalimat ini sangat agung, dengan sebab kalimat inilah para Rasul diutus, Kitab-Kitab diturunkan dan dalam rangka menegakkan kalimat ini maka Allah Subhanahu wata'ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berjihad, pedang-pedang terhunus dan kuda-kuda dikendalikan.

      "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu , melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan AKU, maka sembahlah olehmu sekalian akan AKU." (Q S. Al-­Anbiya': 25)
        Dan setiap Rasul menyeru kaumnya untuk mewujudkan Kalimat ini, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

        "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, karena sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain DIA."(Q S.Al-Mu'minun: 23)
          Dan orang-orang kafir yang didatangkan Rasul kepada mereka mengakui bahwa tiada Tuhan yang menciptakan kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana firman -Nya:

          "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: " Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "ALLAH", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah?". (Q S.Al­Zukhruf: 87)
            Hanya saja pengakuan ini tidak cukup dalam mewujudkan Tauhidullah, sebab pengakuan ini harus dibarengi dengan peng-Esaan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dalam beribadah kepada -Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan inilah yang dikehendaki oleh Allah Azza Wa Jalla, dengan firman -Nya:

            "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Yang Haq melainkan Allah". (Q S.Muhammad: 19).
              Di antara kaum muslimin ada yang mengucapkan kalimat ini, mendirikan shalat, berpuasa, berhaji dan bersedeqah namun bersamaan dengan hal tersebut mereka memalingkan sebagian dari ibadah kepada selain Allah Ta'ala, seperti istigotsah kepada selain Allah.., kepada para wali dan orang­orang yang shaleh, bernazar untuk mereka atau berdo'a kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka orang-orang yang mengerjakan perbuatan seperti ini sebenarnya belum mewujudkan makna ‘La ilaha ilallah” , sebab kalimat tersebut menuntut mengesakan Allah dalam beribadah dan memalingkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan orang yang memalingkan bagian tertentu dari ibadah ini kepada selain Allah maka dia Musyrik sekalipun dirinya mengucapkan ‘Laila hailallah” mendirikan shalat, berpuasa dan mengakui dirinya sebagai muslim. ~ Sesungguhnya seorang hamba tidak dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya dan tidak akan selamat dari kekekalan di dalam api neraka Jahannam kecuali dengan iman yang bersih yang tidak bercampur kesyirikan dan tidak pula dihapuskan oleh kekafiran.
              "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang- orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS.Al-An'am: 82).
                Maka barangsiapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan dibarengi dengan ibadah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka ibadah tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.

                "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-­nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" (QS.Al-Zumar: 65)
                  Para ulama telah menyebutkan bahwa makna ‘La ilaha ilallah" ini mengandung beberapa syarat yang jika tidak terpenuhi maka dia tidak akan sempurna.

                  Dan syarat kalimat ‘LA ILAHA ILALLAH" adalah 8 (delapan), yaitu:

                  Pertama
                  ~ Memahami maknanya, maksudnya dan apa-apa yang dilarangnya serta apa-apa yang menjadi tuntutannya.

                  "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa) orang­orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (Q S. Muhammad: 19).
                    Pada riwayat Muslim di dalam kitab shahihnya dari Utsman radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                    "Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebanarnya kecuali Allah maka dia pasti masuk surga".
                      Dan banyak manusia yang mengucapkannya dengan lisannya semata namun dia tidak mengetahui apapun dari artinya, oleh karena itulah mereka terjebak di dalam kesyirikan.

                      Kedua
                      ~ Keyakinan yang menghilangkan keraguan,yaitu orang yang mengucapkannya harus meyakini apa-apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini. Dan jika di dalam hatinya terdapat keraguan terhadap apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini maka ucapannya tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.

                      "Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu". (Q S. Al-Hujurat: 15).
                        Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                        "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, maka tidaklah seorang hamba yang bertemu Allah dengan meyakini kalimat tersebut dan dirinya tidak ragu dengannya kecuali dia akan masuk surga".(HR Muslim no: 26)
                          Ketiga
                          ~ Ikhlas yang menghapuskan kesyirikan.Seseorang tidak mengucpakannya karena riya' atau sum'ah.

                          "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada -Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (Q S. Al-An'am: 5).
                            Diriwayatkan oleh Al- Bukhari di dalam kitab shihihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                            "Orang yang paling bahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat kelak adalah orang yang mengucapkan "Laila hailallah" dengan ikhlas dari dirinya".
                              Keempat
                              ~ Kebenaran yang menghapuskan kebohongan.Dia mengucapkan kalimat "La ilaha ilallah" dengan benar bersumber dari hatinya.

                              "Alif laam miim.. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." ( QS. Al‑Ankabut: 1-3).
                                Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu'adz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                                "Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dengan ucapan yang benar-benar dari hatinya kecuali Allah mengharamkan dirinya dari api neraka". (Muslim no: 26 / Al- Bukhari)
                                  Di dalam hadits ini disyaratkan pengucapan kalimat ini dengan sebenar­-benarnya.

                                  Kelima
                                  ~ Cinta yang menghapuskan kebencian.Dia mencintai kalimat ini dan apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini serta orang-orang yang berbuat dengan tuntutan kalimat ini.

                                  "Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah". (QS. Al­Baqarah: 165).
                                    Keenam
                                    ~ Tunduk terhadap apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini,yaitu tunduk yang menghapuskan sikap meninggalkan tuntutan kalimat ini. Maka wajib bagi orang yang beriman untuk tunduk terhadap makna yang dikandung oleh kalimat "Laila hailallah" baik secara lahiriyah atau bathiniyah.

                                    "Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, (QS. Al-Nisa': 125) 

                                    Kepasrahan adalah bentuk ketundukan kepada perintah Allah Subahanahu Wa Ta'ala.
                                      Ketujuh
                                      ~ Penerimaan yang menghapuskan penolakan.Maka wajib menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini baik berupa ibadah kepada Allah Subahanahu Wa Ta'ala semata tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah Subahanahu Wa Ta'ala, maka barangsiapa yang mengucapkannya namun dia tidak menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini maka dia termasuk orang yang dikatakan oleh Allah Subahanahu Wa Ta'ala di dalam firman -Nya:

                                      "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka :Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri". ( QS. Al -Shoffat: 35)
                                        Kedelapan
                                        ~ Mengingkari setiap sesembahan selain Allah Subahanahu Wa Ta'ala, seperti penyembahan terhadap thagut dan menetapkan ibadah hanya kepada Allah Subahanahu Wa Ta'ala semata.

                                        "..sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat". ( QS. Al-Baqarah: 256).
                                          Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Malik dari bapaknya bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan "Laila hailallah" dan meningkari penyembahan selain Allah maka harta dan darahnya menjadi haram dan perhitungan dirinya diserahkan kepada Allah". (Muslim: no: 23)

                                          Di antara keutamaan kalimat agung ini 

                                          Pertama
                                          Akan dibukakan bagi orang yang mengucapkannya, delapan pintu surga.
                                            Diriwayatkan oleh Al -Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ubadah bin Shamit radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                                            "Barangsiapa yang mengucapkan tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subahanahu Wa Ta'ala semata, tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya, dan ISA a.s. adalah hamba Allah Subahanahu Wa Ta'ala dan anak dari hamba Allah Subahanahu Wa Ta'ala dan kalimat-Nya yang dihunjamkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, maka Allah Subahanahu Wa Ta'ala akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu manapun dari delapan pintu surga yang disukainya". (Shahih Muslim: no: 28 dan Bukhari no: 3435)
                                              Kedua
                                              Orang yang mengakui kebenaran kalimat ini sekalipun dia seorang pelaku maksiat dan dimasukkan ke dalam neraka akibat kemaksiatannya namun mereka tetap akan dikeluarkan dari api neraka.
                                                Di dalam kitab as-shahihaini dari Anas radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                                                "Allah subahanhu wa ta'ala berfirman: "Demi Keperkasaan -Ku, demi kemuliaan -Ku, demi kebesaran - Ku, demi keagungan -Ku, Aku akan mengeluarkannya dari neraka orang yang mengatakan 'Laila hailallah'.
                                                  Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam Al-mu'jamul Ausath dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersada:

                                                  "Barangsiapa yang mengucapkan 'Laila hailallah' maka ucapannya itu akan memberikannya manfaat pada suatu masa dan sebelum itu dia akan mendapatkan apa yang sebelumnya diperbuat oleh dirinya". [Al-Thabrani 6/274 no: 6369 dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab shahihul jami's shagir 2/1098 no: 2434]
                                                    Ketiga
                                                    Barangsiapa yang mengucapkannya sebelum kematiannya dan dia meninggal atasnya maka dia masuk surga.
                                                      Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

                                                      Barangsiapa yang akhir kalamnya ‘LA ILAHA ILALLAH' maka dia pasti masuk surga". [Sunan Abu Dawud no: 3116]
                                                        Aku bersaksi atas Abu Sa’id dan Abu Hurairah, bahwa mereka bersaksi atas Nabi saw, bahwa Beliau saw bersabda:
                                                        • Barangsiapa mengatakan: ‘Laa ilaaha illallahu allahu akbar’, Allah membenarkan dia dan berfirman: ’Tidak ada tuhan kecuali Aku’ dan ‘Aku Maha Besar’.
                                                        • Bila ia berkata: ’Laa ilaaha illallahu wahdah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku sendiri’.
                                                        • Jika ia berkata: ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikallah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku Sendiri dan tidak ada sekutu bagi-Ku’.
                                                        • Bila ia berkata: ‘Laa ilaaha illallahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, bagi-Ku kerajaan-Ku dan bagi-Ku segala puji’.
                                                        • Bila ia berkata: ’Laa ilaaha illallahu, laa haula walaa quwwata illaa billah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, tidak ada upaya dan tidak pula kekuatan kecuali dengan izin-Ku’.
                                                        Nabi Salallahu'alaihi wa salam bersabda: ‘Barangsiapa mengucapkannya di dalam sakitnya, kemudian mati, ia tidak dimakan api neraka’.” (HR. At-Tirmidzi)

                                                        Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman. - [Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi]



                                                        Sunday, September 18, 2011

                                                        Makna, Hakekat, Dan Kedudukan Tauhid Sunday, September 18, 2011

                                                        Segala puja dan puji hanyalah milik Allah Azza wa Jalla Semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam beserta ahlul baitnya, para shahabatnya, Khulafaur Rasidin, para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta para pengikut setia Beliau SAW hingga akhir zaman.


                                                        MAKNA, HAKEKAT, DAN KEDUDUKAN TAUHID


                                                        Para Sahabat rahimakumullah,
                                                        Topik kita kali ini adalah berkenaan dengan Makna-Hakekat serta Kedudukan Tauhid yang merupakan intisari dari agama Islam sebagai agama yang meyakini kalimat "La ilaha ilallah" yang seyogianya diketahui, dimaknai, dihayati dan dipegang teguh oleh setiap Muslim.

                                                        Makna Tauhid
                                                        Allah Taala telah berfirman:

                                                        وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
                                                        "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz-Dzariyat: 56) 

                                                        Menyembah atau beribadah kepada Allah SWT ialah penghambaan diri kepada Allah Taala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. ~ Inilah hakikat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. 

                                                        Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridlai Allah. Suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila ikhlas karena Allah dan mengikuti dan sesuai tuntunan Rasulullah saw.

                                                        وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم
                                                        "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat ( untuk menyerukan): "Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut. " (QS An-Nahl [16]: 36). 

                                                        "Thaghut" yaitu setiap yang diagungkan--selain Allah--dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun setan. Menjauhi taghut yaitu mengingkari, membencinya, tidak mau menyembah dan memujanya dalam bentuk dan dengan cara apa pun. 

                                                        وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا
                                                        أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
                                                        "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".

                                                        وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
                                                        "Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka keduanya telah mendidikku waktu kecil." (QS Al-Isra' [17]: 23-24) 

                                                        وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
                                                        "Sembahlah Allah (saja) dan janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya." (QS An-Nisaa' [4] : 36) 

                                                        Makna Syirik
                                                        Syirik yaitu memperlakukan sesuatu--selain Allah--sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya. 

                                                        Ibnu Mas'ud ra telah berkata yang artinya, "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Muhammad saw yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah dia membaca firman Allah Ta'ala:,

                                                        قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
                                                        "Katakanlah (Muhammad), 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahami(nya)". (QS Al-An'aam [6]:151)

                                                        وَلاَ تَقْرَبُواْ مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُواْ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللّهِ أَوْفُواْ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
                                                        "Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya, dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat".(QS Al-An'aam [6]:152)

                                                        وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
                                                        "Dan (bahwa yang Ku perintahkan ini), Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS Al-An'am [6]: 151-153)
                                                        "Aku pernah diboncengkan Nabi saw di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, "Hai Mu'adz! tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau pun bersabda, "Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.' Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau menjawab, 'Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri." [HR Bukhari dan Muslim | Atsar ini diriwayatkan Tirmizi, Ibnu al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim]. 
                                                        Sesungguhnya tauhid itu adalah pangkal ibadah. Praktik tauhid adalah PRAKTIK SYAHADAT secara nyata. Inilah praktek beragama yang paling susah dan sulit karena di dalamnya terdapat hambatan-hambatan serta rintangan-rintangan dan godaan-godaan yang besar yang akan menjumpai setiap orang yang menempuhnya. 

                                                        Hanya atas pertolongan, taufik, dan hidayah Allah sajalah setiap hamba dapat menempuhnya dengan benar dan selamat. 

                                                        Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan pertolongan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
                                                        Aamin.

                                                        Subhanakallahumma wa bihamdika - Allahummaghfirlii.

                                                        Sumber: Terjemahan kitab Alladzi Huwa Haqqullah 'Alal 'Abid, 
                                                        Penerbit Darul Haq Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia



                                                        Contact Form

                                                        Name

                                                        Email *

                                                        Message *