Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Zionis. Show all posts
Showing posts with label Zionis. Show all posts

Saturday, May 31, 2014

Agenda Penghancuran Islam Saturday, May 31, 2014




Perkembangan jaringan internet di dunia sangatlah pesat. Saking pesatnya kemajuan dan pemanfaatan ini, internet menjadi salah satu sarana sebagian orang-orang jahat untuk menunjukkan secara nyata kebencian dan rasa permusuhan terhadap Islam dan mereka tidak segan untuk melakukan pembodohan terhadap kaum muslimin. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menghancurkan Islam.

Saat ini mereka tidak menggunakan cara-cara untuk mengeluarkan orang Islam dari Islam, tetapi yang mereka lakukan adalah menjauhkan orang dari Islamnya. Tulisan-tulisan sesat dan menyesatkan yang mereka buat tidak sedikit terpampang di grup-grup diskusi dunia maya. Brainwashing yang mereka lakukan tak ayal menyebabkan sebagain pemuda-pemudi kaum muslimin terpengaruh dan akhirnya mereka tak segan lagi menjadi orang yang meragukan Islam. 


Sebagian besar dari mereka tidak segan melakukan penipuan-penipuan dan pengakuan-pengakuan palsu untuk meyakinkan kita para pembaca untuk melakukan pembenaran apa yang jelas-jelas salah. Perkembangan yang muncul dikarenakan sifat Islamophobia yang dirasakan oleh orang-orang yang membenci Islam.

Robert Morey dalam bukunya Islamic Invasion yang secara global berisi kebohongan-kebohongan dan secara nyata menunjukkan Islamophobia menyatakan bahwa:
“Islam is the world's second largest and fastest growing religion. Across America, mosques are shooting up in record numbers. To reach Muslims with the gospel, you must first shake their faith in their religion, Islam”
Moorey secara sadar mengakui Islam, sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin dan satu-satunya yang diridhai Allah seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an, adalah agama yang paling cepat berkembang semenjak keruntuhan Ottoman ditahun 1924.

Ini semua disadari oleh musuh-musuh Islam, dan semuanya berawal dari rasa kebencian, dan munculnya keragu-raguan dari mereka sendiri terhadap apa yang selama ini mereka imani. 

Di Amerika Serikat; sebagai negara dimana orang secara bebas bisa membeli senjata, kekerasan, pemerkosaan, homosexual, Rasisme, penyimpangan sexual, pembunuhan di sekolah-sekolah (seperti kasus Virginia tech), dan turis-turis yang di perlakukan sebagai kriminal; muncul suatu propaganda yang bertujuan untuk membuat suatu opini publik tentang negatif dari Islam, yang disebut Neo-Conservative.

Neo-con adalah sebutan bagi jelmaan partai konservatif gaya baru yang didirikan oleh George H. Bush. Di dalam mewujudkan agenda politik dan tendensi zionisme di Amerika Serikat. Semenjak didirikannya partai ini, ideologi neo-con ini menyebar ke penjuru Eropa dan menjadi suatu ideologi tersendiri yang membawa misi sikap skeptis terhadap Islam dan memusuhi Islam. Agenda memerangi Islam telah mulai dicanangkan dengan berbagai bentuk propaganda, diantaranya adalah jargon “War against terrorism” dan melabelkan Islam sebagai teroris.

Mantan kepala biro “Jerussalem Post” dan asisten ilmuwan di “Cato Institute”, Leon T. Hadar, telah mendokumentasikan indikasi kebijakan luar negeri AS yang dikuasai Neo Con dalam bukunya yang ditulis awal 90-an tentang kebijakan pemerintah AS sebagai berikut:
“Now that the Cold War is becoming a memory, America’s foreign policy establishment has begun searching for new enemies. Possible new villains include ‘instabilty’ in Europe – ranging from German resurgence to new Russian imperialism – the ‘vanishing’ ozone layer, nuclear proliferation and narcoterrorism. Toping the list of potential new global bogeymen, however are the Yellow Perril, the alleged threat to America economic security emanating from East Asia, and the so-called Green Peril (green is the color of Islam). The peril is symbolized by the Middle Eastern Moslem fundamentalist”  [Leon T. Hadar, The ‘Green Peril': Creating the Islamic Fundamentalist Threat, Policy Analysis, Cato Institute, no. 177, 27 Agustus 1992]
Untuk memenuhi ambisi dan agenda politik neo-con, upaya pembentukan opini dan pemburukan citra Islam dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan bombardir opini publik via media-media baik cetak maupun elektronik. Artikel dan esai yang tersebar di majalah, surat kabar maupun jurnal ramai memperbincangkan tentang isu Islam dan terorisme.

Di Indonesia sendiri, seorang muslim yang secara kaafah memahami Islam berdasarkan Al-Qur'an dan tuntunan Nabi-Nya, akan mudah mengenali model perusakan citra Islam melalui opini publik. Mereka-mereka yang sudah tinggal lama dan "dimanjakan" di negara-negara yang menganut Neo-konservatif ini, akan berusaha membantu untuk memuluskan jalan dalam penghancuran Islam.

Untuk mengelabui tindak-tanduk mereka, tidak sedikit dari mereka melakukan pembohongan dengan cara mengaku sebagai muslim yang taat, memahami Al-Qur'an, dan Al Hadist, faham bahasa arab dan banyak di antara mereka dengan pongah mengsejajarkan diri dengan Nabi Muhammad -Alahi Sholatu Wassalam-, dan para sahabatnya serta ulama kau muslimin. Opini-opini mereka tidak akan jauh dari Islam, Arab Saudi, dan Wahabi.

Sayangnya, banyak pemuda muslimin yang lemah iman menerima mentah-mentah opini-opini menyesatkan ini. Itulah yang terjadi. Sangat mudah ditebak, pemuda-pemuda yang mulai dihinggapi rasa jijik kepada Al-Qur'an dan Hadist, adalah pemuda-pemuda yang sangat mudah dipengaruhi. Pemuda-pemuda yang masih dalam taraf mencari jati diri, yang konon mereka mengakui mengalami pergulatan bathin dalam menemukan kebenaran versi mereka. Mereka-mereka adalah pemuda-pemuda yang merasa paling komunis setelah membaca buku-buka Karl Marx atau D.N Aidit, atau paling liberal setelah buku-buku liberal dan mereka tidak segan menginjak-injak Al-Qur'an dan Hadist Nabi. 

Apabila kita menelaah ulasan para jurnalis neo-con yang islamfobia, mereka banyak mengambil sumber informasi dari sumber-sumber yang secara nyata memusuhi Islam. Opini-opini itu kini tersebar di berbagai media. Sebagai contoh adalah yang bersumber dari nama-nama sebagai berikut:

1. Nina Shea, seorang direktur ”Center for Religious Freedom”. Ia menulis sebuah essay berjudul ”Saudi Publication on Hate Ideology Fill American Mosques” setelah melakukan studi yang inadequate (tidak memadai) dan absurd ridiculous (tidak masuk akal dan menggelikan). Ia hanya melakukanobservasi pada 15 masjid di AS (yang tidak sampai 1 % dari jumlah keseluruhan Masjid di AS) lalu mengambil kesimpulan yang bias dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, Nina Shea banyak melakukan penukilan-penukilan dengan memotongnya sehingga keluar dari konteks dan membawa alur studi kepada pemahamannya yang anti Islam.

2. Daniel Pipes. Seorang kolumnis Amerika Zionis dan Islamfobia. Ia adalah direktur sebuah forum yang disebut dengan ”Middle East Forum”. Operasinya didukung oleh beberapa grup seperti ”Christian Coalition”, ”The America Israel Public Affair Commitee”, ”The American Jewish Congress” dan ”Zionist Organization of America”. Dia juga orang yang berada di belakang website “Campus Watch”. Ayahnya, Richard Pipes, adalah salah satu arsitek kebijaksanaan metodologi neo-con mantan seorang dosen di Harvard University selama lebih dari 46 tahun yang pensiun pada tahun 1996. Richard sendiri adalah seorang kelahiran Polandia yang lahir dari keluarga Yahudi kaya raya. Richard Pipes pernah menjabat sebagai “Tim B” CIA pada tahun 1976 dan mengklaim bahwa Soviet memiliki senjata pemusnah massal, yang memicu perang dingin berkepanjangan.

3. Robert Spencer, seorang katolik yang berideologi neo-con yang namanya melambung pasca peristiwa 11 September dan memproklamasikan dirinya sebagai ‘spesialis Islam’. Dia adalah editor buku The Myth of Islamic Tolerance: How Islamic Law Treat Non Muslims (Mitos tentang toleransi Islam: Bagaimana hukum Islam memperlakukan non muslim) [New York: Promotheus Books, 2005]. Ia berada di belakang website “Jihad Watch” dan “Dhimmi Watch” bersama dengan rekannya, Hugh Fitzgerald.

4. Bat Ye’or, seorang konseptor utama pencipta istilah Dhimmitude yang ia formulasikan dalam bukunya yang berjudul “Islam and Dhimmitude : Where Civilisations Collide” [Cranbury, Ney Jersey : Associated University Presses, 2002]. Bat Ye’or sendiri sebenarnya bukanlah nama aslinya, ini adalah nama samaran pseudonim dengan bahasa Ibrani. Nama aslinya adalah Giselle Littman, seorang kelahiran Mesir namun beragama Yahudi. Ia mengklaim sebagai ahli spesialis Timur Tengah. Ia juga pernah menulis buku yang berjudul “The Jews in Egypt” pada tahun 1971 dengan nama samaran Yahudiyya Masriya. Dia menuduh bahwa bangsa muslim merampas hak kaum Yahudi dan mengkhianati perjanjian-perjanjian mereka dengan Yahudi. Dia memiliki dendam pribadi terhadap Islam setelah dirinya diusir oleh pemerintahan Mesir dan tinggal di Inggris.

5. Stephen Schwarts, Ia mengklaim dirinya sebagai ahli dalam masalah keislaman, Schwarts sangat anti dengan Wahhabi dan Saudi Arabia. Di dalam bukunya yang berjudul “The Two Faces of Islam: The House of Saud from Tradition in Terror”, Schwarts tidak pernah menyokong satupun pendapatnya tentang Islam dengan Al-Qur’an maupun Sunnah. Sangat menggelikan ketikan orang yang mengaku ahli masalah Islam tidak pernah menyokong pernyataannya dari sumber Islam. Bahkan lebih parah lagi, sebagaimana diutarakan oleh Amir Butler, bahwa Schwarts bersikap kelewat batas dengan membandingkan antara Wahhabisme dengan Fasisme di Italia, Komunisme di Soviet atau Militerisme Jepang. Schwarts, yang berpindah dari agama Yahudi ke agama Islam ala sufi Naqshabandiyah, tetap menunjukkan sikap antipati terhadap dakwah.

6. Oriana Falacci, seorang penulis Italia yang dikenal dengan buku best-sellernya Anger and Pride (Kemarahaan dan Kebanggan) ini menyamakan antara ayat suci Al-Qur’an dengan Mein Kampf-nya Hittler [Mein-Kampf = perjuanganku adalah catatan harian Hittler yang dianggap kitab suci-nya kaum NAZI].





7. Melanie Philips, penulis Londonistan: How Britain is Creating a Terror State within [London: Gibson Square, 2006]. Di dalam bukunya, Melanie banyak melakukan klaim-klaim tanpa bukti, seperti ia menyatakan bahwa toko-toko buku Islam turut menjual buku Mein Kampf-nya Hittler. Ia juga menyandarkan beberapa ucapan kepada Abdurrahman as-Sudays (Imam besar Masjidil Haram, Makkah Al Mukarromah) yang sangat aneh dan tidak menunjukkan di mana perujukan ucapan tersebut ia dapatkan. Banyak sekali sumber-sumber penukilan di buku ini yang tidak diketahui asal muasalnya. Dan ini jelas merupakan kebohongan untuk memuluskan propagandanya.


8. Patrick Sookhdeo, mantan muslim asal Guyana yang murtad menjadi Kristen Anglikan Kanon. Ia menjadi direktur lembaga tidak jelas bernama “Institute for The Study of Islam and Christianity”. Dia memiliki beberapa tulisan, diantaranya “The Chalenge of The Church” (2006), “Understanding Islamic Terrorist: The Islamic Doctrin of War” (2004) dan lainnya. Sookhdeo menulis artikel berjudul “The Myth of a Moderate Islam” yang menyatakan bahwa kaum teroris dan ekstrimis Islam melakukan tindakan teror adalah berangkat dari ajaran islam itu sendiri, sehingga aktivitas itu sendiri merupakan representasi dari Islam.

9. Ayaan Hirsi Ali, seorang wanita zindiq asal Somalia yang mengaku sebagai muslimah, namun tindak-tanduk dan karya tulisnya menunjukkan akan kebenciannya terhadap Islam. Dan ini dapat dengan mudah kita dapatkan di grup-grup diskusi yang secara nyata menyokong ini. Ia hijrah ke Belanda dengan cara keimigrasian gelap, dan pernah menjadi mantan anggota partai sayap kanan Belanda. Hirsi Ali menyeru pemerintahan kafir untuk lebih waspada menghadapi kaum muslimin dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyudutkan kaum muslimin.

Sikap anti islammnya inilah menyebabkan dirinya menjadi “one of the most influential people of 2005” versi majalah “Times”. Di dalam bukunya, “The Caged Virgin: An Emancipation for Women and Islam” menunjukkan sikap kebencian kepada syari'at Islam dan kecenderungannya di dalam atheis dan menentang syariat-syariat Islam. Di bukunya ini ia lebih banyak mengejek dan menghina syariat islam terhadap perlindungan wanita, ia juga mengejek wanita-wanita muslimah yang secara komitmen menjalani syari'at Islam secara kaffah. Tidak aneh pula kalau kebenciannya terhadap Islam sangat tinggi karena ia juga pernah menghadiri pertemuan tahunan Komite Yahudi Amerika.

Dan masih banyak lagi dari para jurnalis dan penulis neo-con yang islamfobia, yang mendiskreditkan dan menfitnah Islam, termasuk di Indonesia ini. Ada suatu agenda tersembunyi dan propaganda terang-terangan di dalam menyudutkan kebangkita Islam di dunia. Barat khawatir akan kebangkitan Islam, dalam hal ini Amerika memiliki kepentingan besar di dalam menjaga eksistensinya. Mereka menjadi paranoid dan ketakutan besar terhadap gerakan puritan dan kebangkitan kaum muslim. Mereka khawatir bangkitnya kembali Daulah Khilafah Islamiyyah sebagaimana pada masa-masa kegelapan Eropa. Untuk itulah, mereka berupaya mempersiapkan diri melawan suatu ’peperangan’ dan mencuri start dengan memerangi Islam dengan mengatasnakaman anti terorisme. 

Madeline Albright, mantan dubes AS bagi PBB menyatakan ketika dirinya masih menjabat sekretaris negara: ”The Islamic terrorism threat will lead to a war of the future” [London: The Observer, 23 Oktober 1998, hal. 14]

Dan inilah yang mereka takutkan. Oleh karena itu mereka akan senantiasa menjaga ko-eksistensi mereka, mereka melakukan peperangan dan kekerasan terorganisir atas nama humanity (kemanusiaan) padahal merekalah yang pertama kali menginjak-injak humanity. Sikap arogan seperti inilah yang akan membenamkan Amerika ke dalam jurang kehancuran –dengan izin Allah Subhana wa Ta'ala- ke dalam jurang kehinaan.

Samuel Huntington dalam bukunya Clash of Civilitation and the Remaking of World Order [New York: Touchstone books: 1996, hal 51] menulis:
“The West won the world not by the superiority of its ideas or values or religion (to which few members of other civilization were converted) but rather by its superiority in applying organized violence. Westerners often forget this fact; non westerner never do.”
Dari pernyataan ini jelas bahwa orang barat tidak pernah menyadari kesalahan mereka ini, sedangkan lawan mereka tidak pernah melupakannya. Dan inilah yang akan menjadi bumerang bagi mereka, di saat itulah civilitation (peradaban) Amerika akan hancur dan kepemimpinan Islam akan bangkit dan menggantikan posisi mereka, dengan izin Allah -Subhana wa Ta'ala.

Dan sebagai kaum muslimin, mari kita jadikan Al-Qur'an dan As Sunnah sebagai tuntunan kita. Cintailah Allah dan Rasul-Nya. Letakkanlah keduanya di kepala-kepala kita. Dan yakinlah akan semua janji-janji Allah -Subhana wa Ta'ala-. Jangan takut untuk memperkenalkan Islam kepada istri-istri kita, dan lingkungan keluarga kita. Ajarilah anak-anak kita seperti Lukman Al Hakim mengajari anaknya.

Ajarilah anak-anak kita berbahasa arab sehingga mereka mampu membaca dam memahami Al-Qur'an, Janganlah kita meninggalkan sholat 5 waktu sekali pun, karena ketika kita mulai berani meninggalkan, maka Allah akan mencabut kecintaan kita kepada Islam dan akan menghinakan kita di hari kiamat. Ajari mereka Islam yang benar, jauhilah dari perbuatan-perbuatan syirik, dan menyimpang dari tuntunan Islam. Jauhkan keluarga kita dari makanan-makanan haram yang akan meracuni darah-darah mereka. Cintailah Makkah dan Madinah, karena Rasulullah SAW telah menyatakan keutamaan kedua kota tersebut di Hadistnya yang mulia.

Rasulullah SAW tidaklah menyebutkan Washington D.C, New York, California, Amsterdam, Delft, Groningen, atau Jakarta sekalipun sebagai negeri yang rahmatan lil alamin. Tapi Rasulullah SAW menyebut Makkah dan Madinah. Negeri-negeri yang Rahmatan lil Alamin bukanlah negeri-negeri di mana orang secara bebas bisa membeli senjata lalu menembakkannya kepada masyarakat sipil, bukanlah negeri di mana kekerasan, pemerkosaan, homosexual, Rasisme, penyimpangan sexual, anak-anak lahir di luar nikah, pembunuhan di sekolah-sekolah (seperti kasus Virginia tech), dan turis-turis yang di perlakukan sebagai kriminal, poltik standar ganda berlaku di sana.

Namun negeri yang Rahmatan lil Alamin adalah negeri di mana Penduduknya menyembah hanya kepada Allah -Subhana wa Ta'ala-, Yaitu Allah -Subhana wa Ta'ala- yang disembah Nabi Adam Alaihi Salam hingga Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq Yakub Yusuf Ayub, Musa, Harun dan Daud -Alaihi Sallam-, yaitu Allah -Subhana wa Ta'ala- yang disembah oleh Nabi Isa dan Nabi Muhammad -Alaihi Sholatu Wassalam-, dan tidak melakukan kesyirikan, negeri di mana hukum-hukum Allah -Subhana wa Ta'ala ditegakkan, negeri di mana penduduknya saling mencintai atas dasar ketakwaan hanya kepada Allah -Subhana wa Ta'ala. Negeri yang dulunya gersang dan hanya suatu lembah yang tandus, dan kemudian di do'akan Nabi Ibrahim -alaihi Salam- hingga seperti sekarang. Negeri di mana Nabi Ismail dan ibundanya, Hajar, akhirnya menetap di sana.

Jangan pernah terpengaruh oleh manisnya kalimat-kalimat orang yang secara jelas menunjukkan Islamophobia, yang hanya bisa mengandalkan otak-otak mereka. Tanyailah setiap pernyataan mereka dengan dalil dari Al-Qur'an dan Al Hadist, maka niscaya kita akan temui mereka tak berdaya, yang hanya berteriak tanpa dalil yang jelas kecuali berdasarkan otak-otak ayam mereka, dan ingatan mereka pada masa kecil yang kita dapat pertanggungjawabkan. Merekalah dajjal-dajjal para pendusta agama ini.

Mereka adalah orang-orang yang meletakkan Al-Qur'an dan Al Hadist di tumpukan paling bawah. Mereka adalah musuh-musuh yang nyata. Slogan mereka tak lebih dari muntahan barang haram yang telah mereka makan dan kenakan. Mereka adalah orang-orang pengecut yang berlindung di balik ketiak-ketiak tuan mereka. Mereka yang terlena dengan keindahan dunia, dan menggadaikan iman-iman mereka. Mereka bekerja untuk kepentingan orang-orang yang membenci Islam. Sesungguhnya mereka tidak sadar siapa yang mereka hadapi. Mereka itu sombong, dan mereka menantang Allah -Subhana wa Ta'ala.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nuur[24]:55)

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”
(QS. Al-Hajj[22]:40)

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ

“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?” (QS. Ali-Imran[3]:160)

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali-Imran[3]:120)

Semoga rangkuman ini bermanfaat buat kita, dan semakin meningkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kaum Muslimin. Seluruh kebenaran datangnya hanya dari Allah -Subhana wa Ta'ala- dan kesalahan datang dari kekhilafan pribadi. Dan sesungguhnya seluruh urusan kaum muslimin adalah selalu baik, baik disaat diberikan kenikmatan oleh Allah -Subhana wa Ta'ala- dan kita bersyukur, dan disaat diberikan cobaan maka kita senantiasa bersabar.

Semoga Allah memberikan kita keteguhan di atas Islam yang Haq.
Amin.


[Sallysety | Dari berbagai sumber] 





Friday, May 14, 2010

Sekilas Tentang Zionis Friday, May 14, 2010

Satu hal yang sangat mencengangkan dalam perjalanan gerakan Zionis internasional Hanya dalam tempo 50 tahun, Israel berdiri di bumi Palestina.

Tahun ini, usia gerakan Zionisme Internasional hampir melewati seratus tahun, terhitung dari Konferensi Yahudi Internasional pertama yang berlangsung di kota Bassel, Swiss, Agustus 1897.

Konferensi yang diprakarsai oleh Theodore Hertzl ini, melahirkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah negara yang akan menyatukan bangsa Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sejak semula pergerakan Zionis telah bergerak dengan rapi dan sistematis.

Sebagai realisasi keinginan untuk mendirikan negara nasional Zionis, konferensi meletakkan dua agenda besarnya; menyusun agenda Zionis yang dikenal dengan Agenda Basl. Dan mendirikan organisasi Zionis internasional untuk mewujudkan agenda Basl yaitu mendirikan negara nasional Yahudi di Palestina yang dijamin oleh undang-undang publik.

Untuk itu perlu disusun beberapa langkah berikut ini:
  1. Menggalang dan mengembangkan pemukiman Yahudi di Palestina dan mendirikan perumahan-perumahan.
  2. Koordinasi Yahudi internasional dan legalisasi hubungan yang mengikat mereka dengan organisasi dan institusi Zionis.
  3. Menyebarkan spirit nasionalisme, mengembangkan rasa dan kesadaran nasional Yahudi internasional.
  4. Mengambil langkah-langkah semestinya untuk mendapatkan dukungan dan persetujuan negara-negara asing berkenaan dengan konsep negara nasional Yahudi di Palestina. (Samir Syathara, 100 tahun Konferensi Basl, al Mujtama, 1267, 16/9/1997)
  5. Menguasai dunia dengan menundukkan bangsa non-Yahudi yang dalam terminologinya mereka sebut sebagai Goyim (kafir).
Dengan pemikiran itulah, Zionisme internasional kemudian melanjutkan program yang bergerak secara simultan melalui tiga jalur. Jalur politik yang dieksekusi oleh gerakan Zionis internasional, jalur agama melalui Rabi-rabi Yahudi. Dan yang terakhir, melalui jalur sosial kemanusiaan yaitu gerakan Freemasonry internasional. Ketiga jalur perjuangan Yahudi di atas tidak lepas dari kaidah dokumen 24 yang biasa disebut dengan Protokolat Yahudi atau dikenal dengan The Protocol of Learned Elders of Zion." Buku kecil ini ditemukan tahun 1905 di Rusia yang dianggap sebagai `grand strategy' (strategi besar) kaum Yahudi untuk menghancurkan dunia dan Islam. Yang dikenal dengan "Tatanan Dunia Baru".

Gerakan Zionis internasional
Peristiwa penggempuran yang dilakukan oleh militer Zionis terhadap wilayah otoritas Palestina akhir-akhir ini terutama di Ramallah, Nablus, Bethlehem dan Jenin benar-benar membuat semua orang skeptis. Ada apa dengan dunia? Mengapa slogan HAM, keadilan, demokrasi dan humanisme yang kerap didengungkan negara Barat tidak sesuai dengan kejadian yang dialami di Palestina? Jawabannya sangat jelas;

Bahwa Barat, sangat tuli dengan tragedi kemanusiaan di Palestina, sebab hampir seluruh institusi vitalnya sudah jatuh ke tangan gerakan Zionis melalui jalur politik, ekonomi dan intelijen. Termasuk diantaranya; CIA, FBI, Kongres, bahkan Federal Reservenya!

Perhatikanlah pemilik saham di Federal Reserve - bank yang dianggap paling besar sedunia - ini. Sunarsip, dalam artikelnya di Republika (16/4/2002), "Memotong Jalur Ekonomi Zionisme", menyebutkan bagaimana kuatnya `cengkraman kuku' ekonomi Zionis di AS adalah dominasinya atas;
  1. Rochschlid Bank of London,
  2. Rothschilds bank of Berlin,
  3. Israel Moses Seif Bank of Italy,
  4. Warburg Bank of Hamburg,
  5. Warburg Bank of Amsterdam,
  6. Lazard Brothers of Paris,
  7. Lehman Brothers of New York,
  8. Kuhn and Loeb Bank of New York,
  9. Chase Manhattan Bank of New York,
  10. Goldman-Sachs of New York.
Semua bank di atas adalah milik Yahudi. Harap tahu saja, nama Rotshchilds, adalah nama seorang konglomerat Yahudi pertama, Amschell Mayer Rochschlid yang tinggal di Jerman.

Dengan menguasai bank sentral Amerika tersebut, maka dengan leluasa mereka dapat menguasai perekonomian Amerika keseluruhan dan bahkan dapat mengokohkan rezim dollar sebagai alat tukar semua transaksi internasional.

Dominasi dan monopoli mereka dalam sektor kapital menjadi bagian dari apa yang disebut dalam Protokolat ke 14-nya: "Perbedaan ini, adalah perbedaan antara bangsa Goyim (Non-Yahudi) dan kita dalam kemampuan berpikir dan berargumentasi dapat dengan jelas dilihat dari ketentuan terseleksi kita sebagai bangsa pilihan, selaku manusia berkelas atas. Ini jauh berbeda dengan kaum Goyim yang semata-mata berpikir secara insting dan kehewanan. Mereka mengamati tapi tidak meramalkan hal ke depan. Mereka tidak menemukan hal baru apapun (kecuali mungkin hal-hal material). Dari sini jelas bahwa alam itu sendiri telah mentakdirkan kita semua untuk memimpin dan memandu dunia." (Henry Ford, 'The international Jew and the protocols of the elders of Zion, Global Publisher, Johannesburg, hal.138).

Dominasi Yahudi tidak hanya di Amerika, tapi di Inggris, Belgia, Prancis, Jerman, Swiss sampai Eropa Timur. (Lihat majalah al Mujtama', no.1200, 21/5/1996)

Tipu daya gerakan Zionis juga dilakukan dengan cara penyebaran peradaban dan budaya-budaya sesat. Diantaranya adalah penyebaran minuman dan makanan yang memabukkan.

Baginya, membudayakan minuman keras di tengah masyarakat Goyim —terutama masyarakat Muslim sama halnya menciptakan generasi bodoh yang mudah diperalat. Ini sesuai dikutip dalam Protokolat I yang berbunyi;

"…masyarakat Goyim terbuai dengan minuman-minuman keras; generasi muda mereka tumbuh dungu dengan hal-hal klasik dan membuat kebejatan moral. Dan hal ini dipromosikan oleh agen-agen khusus kita baik oleh guru, pembantu, guru privat wanita di rumah-rumah orang kaya sampai pegawai kantoran." (Protokolat I, Henry, hal. 178)

Hal serupa juga dilakukan melalui media massa. Henry Ford, dalam Protokolat II mengatakan bahwa hampir dipastikan Yahudi menguasai seluruh jaringan media massa di New York dan di seluruh ibukota negara-negara Eropa. Jaringan raksasa media itu juga merambah ke Indonesia. Cara dominasi seperti ini dilakukan terutama bila perusahaan yang bersangkutan membutuhkan investor dan dana segar. Secara cepat pula, para investor dunia yang kebanyakan Yahudi akan segera turun tangan.

Karena bagi Zionis, seperti kutip Ford, menguasai media massa, sama halnya menyuarakan aspirasi mereka.

"Di tangan negara sekarang ini ada suatu kekuatan besar yang menciptakan gerakan pemikiran di tengah masyarakat dan itu adalah pers. Bagian yang diperankan oleh pers adalah untuk terus membuat tuntutan-tuntutan kita bagaikan hal niscaya, menyuarakan keluaran masyarakat, mengekspresikan dan menciptakan ketidakpuasan. Dan berkat pers, kemenangan kebebasan berbicara berinkarnasi kembali. Tapi negara-negara Non-Yahudi tidak mengetahui bagaimana memanfaatkan kekuatan ini; dan hal itu telah jatuh ke tangan kita." (Protokolat II)

Kebebasan dan Persamaan Hak
Semangat kebebasan, dan persamaan adalah gerakan Yahudi dan Zionisme pada Goyim (non-Yahudi). Sehingga menjadi simbol pemberontakan terhadap tiran di mana-mana. Tanpa disadari, kampanye simbol-simbol ini telah ikut mempropagandakan missi Zionis. Kehancuran semua paham dan ideologi dunia adalah tujuan bagi berkembangnya ideologi Zionis.

"Mengakhiri kedamaian, ketentraman, solidaritas dan menghancurkan seluruh fondasi negara-negara Non-Yahudi di mana-mana - sebagaimana Anda akan lihat nanti adalah satu hal yang akan membantu kemenangan kita)." (Protokolat I, hal.178)

Untuk hal seperti itu, Zionis bisa berkawan dengan bahkan menyusup dalam faham-faham lain yang sedang popular di dunia. Gerakan-gerakan sosialis, dengan mengesankan membela kaum buruh, kelompok miskin kota, pejuang kaum tertindas, adalah sasaran kaum Zionis pada masyarakat Goyim. Walau banyak tidak dipercaya, gerakan halus seperti ini terus berkembang pesat. Bahkan kalau perlu bergabung dengan Komunispun. Ini diakui seperti dalam Protokolat III.

"Kita muncul seolah-olah penyelamat para kaum buruh dari ketertindasan. Di saat kita usulkan kepadanya untuk masuk jajaran pasukan kita kaums sosialis, anarkis dan komunis yaitu mereka yang selalu mendapat `dukungan' sesuai dengan aturan main yang bernuansa persaudaraan semu —yaitu solidaritas seluruh manusia dari gerakan Freemasonry kita". (Protokolat III, hal.183)

Tirani Riba

Tirani dan penjajahan ekonomi, adalah salah satu diantara prioritas utama kaum Yahudi. Tirani ekonomi yang paling sering dikampanyekan itu adalah sistem riba yang kemudian menjadi fondasi kokoh Zionis dalam menjerat negara-negara Goyim agar tunduk dan dapat memperbudak mereka. Berbagai lembaga keuangan internasional seperti IMF.

Dalam Protokolat (XX, hal. 244), secara jujur kaum Zionis mengaku;

"Apa yang benar-benar prinsipil adalah hutang, khususnya hutang luar negeri. Hutang adalah persoalan peraturan transaksi pemerintah yang memuat prosentase obligasi sesuai dengan jumlah pokok pinjaman. Bila pinjaman dikenakan 5%, jadi dalam tempo 20 tahun negara akan membayar riba (bunga) dengan jumlah yang sama dengan yang dipinjam. Dalam waktu 40 tahun akan membayar jumlah dua kali lipat. Dan 60 tahun akan tiga kali lipat, sementara hutang pokok tetap sebagai hutang yang belum dibayar." Cara-cara seperti inilah yang digunakan Zionis —terutama terhadap negara-negara miskin agar mudah bergantung dan dikendalikan. Termasuk dalam kasus Indonesia.

Gerakan Freemasonry
Protokolat Yahudi yang tidak kalah adalah gerakan Freemasonry-nya, gerakan tertua Yahudi yang ada sejak zaman nabi-nabi dahulu. Tujuannya meratakan jalan persaudaraan berdasarkan asas-asas freemasonry pada seluruh keanggotaannya, melakukan propaganda lisan atau tulisan dalam menyeru kebaikan dan kemakmuran, menyerukan kerja sama dalam semua kebaikan dengan tidak membedakan ras, bangsa, suku dan agama. Freemasonry lah yang mempelopori kawin antar agama agar tercipta persatuan di antara semua pengikut agama sehingga tidak ada lagi egoisme dalam agama. ("Kabut-kabut Freemasonry Melanda Dunia Islam", A.D.El Marzdedeq, Al Huda, hal.36). Gerakan ini punya prinsip-prinsip yang disebut dengan khoms kanon; Humanisme (internasionalisme), demokrasi, sosialisme, monotheisme dan nasionalisme.

Ada 10 agenda dalam gerakan Freemasonry, di antaranya adalah Shada; yaitu mendirikan agama baru dan agama tandingan di seluruh dunia. Karena itu, jangan heran bila di Amerika, misalnya berbagai aliran Kristen seperti gereja Setan, Mormon, Advent, Gereja Anak Tuhan dan sejenisnya. Di India lahirlah Islam Ahmadiyah yang dibawa oleh Mirz Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Al Mahdi dan mendakwakan diri sebagai nabi akhir zaman. Kemudian muncul gerakan "Protestan" yang tampil sebagai gerakan reformasi agama dengan misi bermuatan konsep Ibrani. Gerakan ini menekankan keimanan pada Perjanjian Lama yaitu Taurat dan ditindaklanjuti dengan mengimani kebangkitan kembali Isa di Palestina. Kemudian gerakan Puritanisme di abad ke 17 di Inggris yang merupakan gerakan ekstrim Protestan atau yang terkadang disebut dengan Judaizing. Pada tahun 1621 terbit buku pertama yang mengangkat soal pemukiman Yahudi di Palestina dengan judul "Kembalinya Yahudi" yang dikarang oleh pengacara Sir Henry Finish. Kemudian disusul oleh dukungan tokoh-tokoh Eropa lainnya seperti Martin Luther (1483-1546), Isaac Newton (1643-1778) dan lain-lain.

Pengakuan kaum Yahudi terbukti seperti dikutip dalam Protokolat XVII (hal. 32), "Kemerdekaan kesadaran telah dideklarasikan di mana-mana, jadi sekarang hanya dalam hitungan tahun yang memisahkan kita dari satu masa kehancuran agama Kristen secara total. Adapun hal yang berkenaan dengan agama lain kita masih tidak terlalu kesulitan menangani mereka, tapi itu masih terlalu primatur untuk diperbincangkan sekarang".

Onan yang bertujuan mengekang pertambahan keturunan Goyim atau non-Yahudi dan menyuburkan perempuan-perempuan Yahudi.


Plotisme yang bertujuan untuk mendidik alim ulama Plotis yang faham agamanya terapung dan mengambang, alim ulama plotis disebarkan ke berbagai lembaga pendidikan Islam dan mengangkat alim ulama plotis sebagai anggota kehormatan Freemasonry. Para intelektual plotis ini didukung untuk membuat pergerakan yang dapat mendangkalkan keyakinan pada agama Islam. Dan mengkader tokoh-tokoh seperti ini ke universitas-universitas kenamaan di Barat. Hal ini sesuai dengan Protokolat IV (We shall destroy God). Di Indonesia sendiri, produk Plotis ini kita kenal dengan sebutan JIL atau Jaringan Islam Liberal.

"…inilah alasannya mengapa kita mau tak mau harus melemahkan semua iman (agama), guna menghancurkan dasar-dasar ke-Tuhanan bangsa Non-Yahudi otak dan spirit atau lahir dan batin, menggantikannya dengan kalkulasi aritmatika dan kebutuhan-kebutuhan material". (Henry, hal. 188)

Sungguh apa yang dapat diangkat di atas adalah bagian kejujuran dari 24 The Protocol Elders of Zion untuk mendominasi dunia yang sebagian besar telah termanifestasikan dalam penggalan sejarah hidup manusia modern.

Maka tidak berlebihan jika seorang kenamaan Amerika dan pendiri perusahaan mobil FORD, Henry Ford berkesimpulan dalam wawancaranya yang dimuat di New York World (17/2/1921) mengatakan, "The only statement I care to make about the Protocols is that they fit in with what is going on. They are sixteen years old. And they have fitted the world situation up to this time. They fit it now." (Satu-satunya pernyataan yang perlu saya sampaikan tentang Protokolat-protokolat Yahudi bahwa hal itu sesuai dengan apa yang terjadi dewasa ini).

Usia perjalanan gerakan kaum Yahudi di dunia hampir mencapai enam puluh tahun dan masih sejalan dengan realita dan situasi hingga kini. Tapi, kebanyakan di antara kita justru mengingkarinya. Wallahu a'lam bishshawaab.


[Dari arsip lama Majalah Hidayatullah Mei 2002]
Lebih jauh tentang Zionis, silahkan simak tulisan Letjen (Purn) ZA. Maulani di wattpad.com

Di Balik Perang Terhadap Teroris


Kapitalis barat tidak berhenti melakukan evaluasi dan studi tentang kaum Muslimin dan Islam. Mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa kekuatan Islam dan umatnya ada pada akidah Islam dan pemikiran-pemikiran yang lahir darinya. Karena itu, mereka tetap berkepentingan untuk memusnahkan Islam. Caranya adalah dengan menghapuskan Islam sebagai akidah siyâyisah (dasar sistem politik) dan menggantikannya dengan akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Mereka pun gencar mengembangkan ide-ide yang muncul dari aqidah sekularisme ini seperti nasionalisme, demokrasi, pluralisme politik, HAM, kebebasan, dan politik pasar bebas.

Di samping itu, untuk menjauhkan keinginan kaum Muslim untuk kembali ke Islam, mereka secara sistematis melakukan pendiskreditan Islam dengan predikat-predikat seperti teroris, fundamentalis, konservatif, ekstremis, dan sebutan-sebutan penghinaan lainnya. Mereka juga melakukan perang propaganda seperti melakukan obfuskasi(pembingungan), disformasi (pemberian informasi yang tidak benar), desepsi, deversi, dan cara-cara propaganda lainnya. Intinya, mereka melakukan penyesatan opini terhadap kaum Muslim. Semuanya itu, sekali lagi, bermuara pada satu hal: memberangus Islam sebagai kekuatan politik dan ideologis sekaligus menghalangi tegaknya Daulah Islamiyah dan penerapan Islam yang kâffah.

Propaganda Sistematis
Penyesatan opini, dalam berbagai bentuknya, sesungguhnya merupakan bagian dari sebuah propaganda. Propaganda sering diartikan sebagai suatu proses yang melibatkan seorang komunikator yang bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku penduduk yang menjadi sasarannya melalu simbol-simbol verbal, tulisan, dan perilaku; dengan menggunakan media seperti buku-buku, pamflet, film, ceramah, dan lain-lain. Propaganda merupakan salah satu metode standar yang digunakan negara untuk mengamankan, memelihara, dan menerapkan power (kekuasaan) dalam rangka memajukan kepentingan nasionalnya. (Columbus dan Wolf, Pengantar Hubungan Internasional, hlm. 184).

Melihat defenisi di atas, propaganda merupakan perkara yang ‘wajib’ ada dalam sebuah negara, apalagi negara yang ideologis. Di sinilah penguasa atau rakyat sebuah negara harus benar-benar mampu menilai mana yang merupakan propaganda mana yang tidak. Penguasa atau rakyat sebuah negara yang gagal memahami propaganda negara lain akan mengakibatkan perubahan sikap, pendapat, dan perilakunya justru sejalan dengan kepentingan musuh.

Umat Islam sebagai umat yang ideologis harus benar-benar menyadari bahwa propaganda itu benar-benar ada. Propaganda bisa dilakukan secara sistematis untuk mendapat kemanfaatan jangka pendek atau bisa juga untuk kemanfaatan jangka panjang. Untuk jangka pendek, misalnya, melegalisasi serangan ke sebuah negara dan menjatuhkan sebuah rezim atau pemerintahan di sebuah negara; seperti propaganda AS untuk menjatuhkan rezim Saddam Hussein, Soekarno, dan Soeharto, termasuk Taliban di Afganistan. Sebagai contoh, saat hendak menyerang Irak dalam Perang Teluk II, AS melancarkan propaganda dengan melakukan pembohongan informasi kepada kongres dan publik AS.

Terungkap kebohongan Nariyah yang katanya merupakan saksi kekejaman tentara Irak. Namun ternyata, gadis ini tidak pernah bekerja di Kuwait dan saat peristiwa ada di Paris. Atas dasar laporan bohong itulah, kongres menyetujui serangan ke Irak. (Lihat: ZA Maulani, Terorisme dan Konspirasi Anti Islam, hlm. 9). Untuk menjatuhkan rezim Taliban, AS dalam propagandanya mendaftar pengkhianatan Taliban terhadap rakyat Afganistan seperti pembantaian, pelanggaran hak asasi wanita dan anak perempuan, perilaku korup, dan menggunakan Islam sebagai selubung pembantaian etnis. (Deparlu AS, Jaringan Teroris, hlm 13).

Propaganda bisa dilakukan juga untuk kepentingan jangka panjang. Propaganda seperti ini biasanya lebih bersinggungan dengan nilai-nilai ideologis yang ingin disebarkan di pihak lawan dan, sebaliknya, menanamkan ‘citra jelek’ terhadap nilai-nilai ideologis yang dianut oleh negara musuh. Tipe propaganda seperti ini biasa lebih membutuhkan waktu yang panjang, namun secara sistematis dan kontinu terus dilakukan. Sebagai contoh, bagaimana AS dengan gencar menyebarkan nilai-nilai ideologisnya seperti sekularisme, demokrasi, HAM, kebebasan, dan pasar bebas. Sesungguhnya ini merupakan propaganda jangka panjang AS. Tujuannya jelas, yakni untuk kepentingan AS sendiri. Sebaliknya, AS membuat citra jelek terhadap lawan ideologinya seperti tuduhan teroris, ekstrimis, konservatif, dan pencitraan jelek lainnya. Metode utama propaganda jangka panjang ini yang dilakukan oleh AS adalah disinformasi, yakni melakukan penyesatan opini. Inilah yang sekarang ini sedang dilakukan oleh AS kepada musuh utama ideologisnya, yakni Islam.

Teknis Khusus ‘Penyesatan Opini’
KJ Holsti, dalam Politik Internasional: Kerangka untuk Analisis, hlm 220, dengan mengutip buku The Fine Art of Propaganda: A Study of Father Coughlin’n Speeches, mengemukakan beberapa teknis propaganda yang sering dilakukan untuk melakukan penyesatan opini.

I. Nama Julukan.
Propagandis mencantelkan lambang yang dibebani emosi pada seseorang atau suatu negeri. Sasaran diharapkan akan menanggapi cap tersebut tanpa memeriksa bukti. Sebagai contoh, Saddam Hussain diberi julukan ‘Pembantai dari Baghdad’. Selama Perang Teluk II, media massa AS menyebut Presiden Irak ini dengan sebutan ‘Binatang Buas’ (Mary McGroriy, Washington Post, 7/8/90) atau ‘Monster’ (Newsweek, 20/8/90). Orang-orang Arab (yang jelas sangat berhubungan dengan Islam) dalam budaya populer Barat digambarkan sebagai orang yang licik, tidak bisa dipercaya, jalang, bernafsu seks besar, dan kejam. Rasulullah saw. dijuluki ‘si Maniak Seks’ atau ‘sang Teroris’. Perusahaan kartun a Doaug Marlette membuat headline dengan judul, "What Would Mohammed Drive?" Digambarkan di sana, Rasulullah mengendrai truk yang berisi bom nuklir-laden yang mirip dengan truk yang digunakan oleh Timothy McVeigh dalam pengeboman di Oklahoma City 1995. Pejuang Hamas diberi gelar teroris. Para penegak syariat Islam dilabeli secara sistematis dengan julukan ‘kaum skriptualis’, kaum tekstualis’, atau ‘kaum ortodoks dan konservatif’. Iran diberi gelar ‘negeri para mullah’ (tentu dengan konotasi negatif). Istilah ‘Muslim garis keras’, sebagai lawan dari ‘Muslim moderat’, digunakan untuk memberikan kesan negatif pada pelaku penegak syariat Islam. Negara yang tidak sejalan dengan AS di Timur Tengah dicap sebagai ‘negara militan’, sementara negara yang sejalan dengan AS disebut ‘negara
sahabat’ atau ‘negara moderat’.

Dalam teknis propaganda ini, para propagandis biasanya menggunakan istilah-istilah emosional dan stereotif yang telah melekat di telinga pendengar. Seperti kata ‘buas’, ‘maniak’, garis keras’, biasanya merupakan istilah yang sudah melekat dianggap ‘jahat’. Berbeda dengan kata ‘moderat’, ‘pejuang’, dan ‘substansialis’; merupakan kata-kata yang dianggap ‘baik’. Kata-kata tersebut kemudian dilekatkan pada seseorang atau negara tanpa diperiksa lagi kebenarannya.

II. Generalitas Gemerlapan.
Kalau yang pertama lebih berkaitan dengan individu atau suatu negeri, yang kedua ini digunakan untuk gagasan atau kebijakan. Istilah ‘dunia bebas’, ‘dunia beradab’, atau ‘dunia yang makmur’ adalah generalitas yang paling disukai oleh Barat untuk mendukung ide kapitalismenya.

III. Pengalihan.
Pelaku propaganda berupaya mengidentifikasikan suatu gagasan, seseorang, suatu negara, atau kebijakan dengan mengalihkannya pada gagasan atau kebijakan yang bertolak belakang. Hal ini untuk menimbulkan citra jelek pada gagasan atau kebijakan pihak musuh. Khilafah Islamiyah atau negara Islam dijuluki sebagai ‘negara pada zaman batu’, ‘sistem abad kegelapan’, ‘dunia jumud dan tidak beradab’, ‘sistem utopis’, ‘sistem penuh darah’, serta julukan-julukan negatif lainnya. Perlawanan terhadap penjajah Israel di Palestina dialihkan dengan gagasan lain seperti ‘anti Semit’ atau ‘anti negara demokrasi’.

Saat Irak diserang oleh AS dalam Perang Teluk II, untuk menutupi maksud AS sebenarnya, dipropagandakan bahwa hal itu demi membebaskan Kuwait. Demikian juga saat sekarang; untuk menutupi tujuan AS sebenarnya, yakni menguasai minyak Irak, dipropagandakan bahwa penyerangan atas Irak adalah bukan untuk menyerang umat Islam, tetapi untuk menjatuhkan diktator Saddam Hussein. Pada faktanya, saat AS menyerang Irak dalam Perang Teluk II, 200.000 orang Irak meninggal dunia. Pemerintah dan media massa AS mengabaikan hal ini. Bahkan, Colin Powel, saat ditanya jumlah korban sipil di Irak yang meninggal sejak tahun 1991 dalam tersebut, dengan arogan menjawab, tidak peduli dengan angka-angka korban tersebut, "It’s really not a number I am terribly interested in."

"Kalaulah AS memang bermaksud baik menjatuhkan diktator Saddam Hussein, mengapa Raja Fahd, Musharaf, Husni Mubarak, dan Islam Karimov yang juga diktator tidak diserang. Mengapa pula Ariel Sharon, yang jelas-jelas membantai umat Islam Palestina, tidak diserang AS?

IV. ‘Orang Sederhana’.
Setiap pelaku propaganda sadar bahwa masalah bertambah rumit jika ia tampak pada pendengarnya sebagai ‘orang asing’. Karena itu, mereka berupaya mengidentifikasikan diri sedekat mungkin dengan nilai dan gaya hidup sasaran dengan menggunakan logat, aksen, dan ungkapan setempat. Untuk itu, para propagandis biasanya lebih suka menggunakan penduduk ‘pribumi’ untuk menyuarakan kepentingan mereka. Cara yang paling efektif adalah merekayasa seseorang untuk menjadi tokoh, sumber rujukan, atau ilmuwan yang kompeten. Hal ini dilakukan lewat proses pendidikan, rekayasa media dengan menampilkan tokoh tersebut secara terus-menerus, atau dengan memberinya gelar/penghargaan. Tentu saja dengan kesan wah dan go internasional. Jadi, umat Islam harus waspada, kalau ada calon tokoh atau tokoh, yang idenya bertentangan dengan Islam bahkan menyerang Islam, tetapi mendapat banyak penghargaan dari Barat.

V. Kesaksian.
Di sini propagandis menggunakan seseorang atau lembaga yang dihargai untuk mendukung atau mengecam suatu gagasan atau kesatuan politik. Diharapkan sasaran mempercayainya karena hal ini disampaikan oleh yang ‘berwenang’. Propagandis, misalnya, menggunakan narasumber yang diberi gelar ‘pakar’, ‘ahli’, ‘ilmuwan’, ‘yang berpengalaman’, atau ‘saksi langsung’ untuk menambah keyakinan para pendengarnya.

Untuk menambah keyakinan pembaca tentang adanya jaringan Jamaah Islamiyah atau Jaringan al-Qaedah di Asia Tenggara, media massa Barat merujuk pada pendapat orang yang mereka sebut sebagai ‘pakar teroris’ seperti Rohan Gunaratma. Dia disebut ‘pakar’ antara lain karena melakukan studi tentang terorisme atau mengarang buku tentang terorisme. Di sini tidak dipersoalkan, apakah buku yang dikarangnya memberikan bukti-bukti ilmiah atau tidak. Demikian juga untuk menambah keyakinan pendengar tentang ‘pemahaman Islam yang benar’—maksudnya yang sejalan dengan kepentingan Barat, media massa Barat merujuk pada orang yang mereka sebut dengan ‘pakar Islam’ atau ‘cendekiawan Muslim. Padahal, yang dirujuk sering merupakan antek Barat yang dicangkokkan di tubuh umat. Di sini umat Islam penting untuk tetap melihat argumentasi dari ‘sumber-sumber’ tersebut, bukan terpesona dengan gelar-gelarnya.

Di samping itu, untuk menambah percaya pendengarnya, propagandis juga merujuk pada lembaga-lembaga swasta yang dikesankan independen. Padahal, pada praktiknya, lembaga ini merupakan lembaga pesanan yang menjalankan proyek-proyek penelitian berskala besar dengan biaya pemerintah. Banyak studi-studi tentang Islam atau Timur Tengah yang disponsori oleh pemerintah AS atau organasisi donor yang berafiliasi kepada pemerintah AS. Lembaga-lembaga yang terkesan independen ini kemudian memperkuat pandangan pemerintah AS dan mereka kemudian menjadi rujukan media massa. Di Indonesia, sudah diketahui umum, pada imasa Orde Baru, untuk memperkuat kebijakan pemerintah yang otoriter dan korup, penguasa sering merujuk pada CSIS. Padahal, CSIS adalah lembaga thinktank yang diketahui berhubungan dengan penguasa Orba pada waktu itu. Dalam kampanye AS sekarang ini juga banyak lembaga-lembaga yang mendapat bayaran dari Barat untuk mendukung propaganda Barat. Di AS beberapa lembaga ‘independen’ diketahui memiliki hubungan erat dengan pemerintah seperti Heritage Foundation.

VI. Pilihan.
Hampir semua propaganda biasanya melakukan pilihan fakta; meskipun aktual, namun jarang rinci. Kalaupun rinci, propagandis menggunakan ‘fakta-fakta’ yang diperlukan saja untuk membuktikan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dulu. Pilihan ini biasanya digunakan untuk melakukan generalisasi. Perjuangan syariat Islam diidentikkan dengan kekerasan. Kesimpulan ini dibangun dengan memilih fakta adanya aksi kekerasaan yang dilakukan oleh sekelompok kaum Muslim yang ingin menegakkan syariat Islam (itu pun sering tanpa bukti hukum). Sementara itu, adanya fakta lain berupa perjuangan syariat Islam tanpa kekerasaan—seperti yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di Uzbekistan, Yordania, Mesir, dan belahan dunia lainnya—cenderung ditutupi. Akibatnya, ada kesan kuat bahwa perjuangan syariat Islam identik dengan teror dan kekerasan.

Pemerintah AS mengeluarkan propaganda khusus untuk membantah diskriminasi Muslim di AS pasca Serangan 11 Septermber. Dalam iklan propaganda yang disiarkan di hampir seluruh Dunia Islam, dipilih fakta-fakta tertentu untuk mendukung tujuan tersebut. Empat orang warga AS yang berasal dari Arab bicara tentang kebebasan dan kesempatan hidup di Negeri Paman Sam itu. Padahal, banyak fakta lain di AS yang bertolak belakang dengan iklan tersebut diabaikan; seperti kewajiban cap jari bagi orang-orang dari Arab, Pakistan, dan negeri-negeri Islam lainnya; perusakan masjid dan Islamic Centre; gangguan terhadap wanita Muslimah di Amerika.

Di samping pilihan fakta, pilihan kata yang digunakan oleh media massa juga berperan dalam propaganda. Jika yang melakukan penyerangan adalah Muslim Palestina, serangan itu disebut sebagai serangan dari kelompok militan, fundamentalis, garis keras, bahkan teroris. Sebaliknya, jika yang melakukan penyerangan dan pembantaian adalah Israel atau Amerika Serikat, kata yang sering digunakan adalah serangan balasan (retaliation), serangan untuk mendahului (preempative strike), atau tindakan hukuman (punitive action). Pilihan kata itu tentu saja lebih baik dari istilah teroris, bahkan bisa dijadikan pembenaran tindakan. Hamas yang ingin membebaskan diri dari penjajah Israel disebut teroris. Sebaliknya, sebutan pejuang pro kemerdekaan diberikan kepada kelompok Fretilin di Timor Timur yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Jika yang tertangkap adalah tentara AS, mereka disebut sandera atau hostage (berkonotasi tidak bersalah). Sebaliknya, pejuang al-Qaedah yang tertangkap disebut tahanan atau detainer (yang berkonotasi jahat dan sudah bersalah).

VII. Ikut Pihak Yang Banyak.
Teknik ini memanfaatkan keinginan pendengar untuk ‘menjadi bagian’ atau ‘satu sikap’ dengan orang banyak. Propaganda AS dan sekutunya sering menggunakan ungkapan ‘masyarakat internasional’, ‘sahabat-sahabat AS’, dsb. Dengan teknik ini akan terbangun suatu anggapan: siapa yang menentang propaganda tersebut akan menjadi minoritas dan terkucil.Teknis ini paling sering digunakan oleh AS dalam kampanye ‘Perang Melawan Terorisme’-nya saat ini. AS dan sekutunya sering menyatakan bahwa terorisme adalah serangan terhadap dunia.Sama halnya dengan ungkapan para penolak syariat Islam yang sering menggunakan ungkapan, ‘mayoritas umat Islam Indonesia adalah moderat’, ‘organisasi Islam terbesar di Indonesia saja menolak syariat Islam’, ‘mereka itu hanya minoritas…’, dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya. Padahal jelas, kebenaran tidaklah bergantung pada suara mayoritas.

VIII. Kambing Hitam Frustasi.
Salah satu cara untuk menciptakan kebencian dan melepaskan frustasi adalah menciptakan kambing hitam. Propaganda kapitalis acapkali menuduh terorisme sebagai pengacau kemakmuran dunia, penyebab kemelaratan dan kemiskinan, dan pengganggu kebebasan dunia dan demokrasi. Padahal semua itu justru merupakan buah dari sistem kapitalisme yang keji. Syariat Islam dituduh merendahkan wanita dan menjadi pangkal kemunduran wanita, padahal sistem kapitalismelah penyebabnya. Tuduhan ‘pemecah-belah’ sering dilontarkan terhadap pejuang syariat Islam. Padahal pada faktanya, justru ide nasionalisme, kebebasan menentukan nasib sendiri, dan ide-ide kapitalisme lainnyalah yang menyebabkan terpecahbelahnya kaum Muslim. Bukankah ini terjadi pada Timor Timur yang melakukan referandum untuk memisahkan diri? Alasannya, kebebasan menentukan nasib sendiri.

Merangkul Media Massa
Hubungan antara propagaganda dengan media massa dan para intelektual adalah hal yang lumrah. Sebab, propaganda untuk mengubah pemikiran dan sikap sasarannya membutuhkan media massa sebagai alat yang efektif. Sementara itu, para intelektual sering dimanfaatkan sebagai narasumber yang dipercaya oleh masyarakat untuk memperkuat sebuah propaganda. Coulombus dan Wolf menulis, bahwa salah satu fungsi bisnis propaganda adalah memonitor, mengklasifikasi, mengevaluasi, dan mempengaruhi media massa. Para wartawan, kolumnis, komentator, dan pembuat opini yang dianggap bersahabat biasanya diundang ke kedutaan besar. Pihak kedutaan besar biasanya memberikan informasi ekslusif, bila perlu menawarkan bonus. Di negara-negara Barat, peran dinas propaganda luar negeri sangat besar. Hal ini mengingat opini publik, kelompok penekan, dan media massa terlibat terus-menerus untuk mempengaruhi kebijakan sebuah negara. (Columbus dan Wolf, Pengantar Hubungan Internasional, hlm., 186-187).

Pemerintah AS saat dipimpin oleh Presiden Eisenhower pernah membentuk Badan Informasi Amerika Serikat (U.S.I.A) untuk menjalankan fungsi propaganda ini. Badan yang kemudian berganti nama ini menjalankan program-program radio multi bahasa pada Radio Voice of America (VOA); Radio Free Europe, telivisi, film dan media berita; serta program khusus seperti pertukaran mahasiswa dan sarjana, pidato keliling, konferensi-konferensi artistik, keilmuan, dan ilmiah. (Columbus dan Wolf, Pengantar Hubungan Internasional, hlm. 186).

Pemerintah AS juga melakukan propaganda lewat media massa ‘swasta’ yang mengklaim diri independen. Dalam kasus isu terorisme, misalnya, sebagian besar media massa AS menggunakan pemerintah sebagai sumber utama berita mereka. Dari sebuah riset yang dilakukan oleh Edward Herman dan Gerry O’Sulivan, terbukti bahwa sumber-sumber media massa yang digunakan sebagian besar adalah pejabat pemerintah (42,3%).(Lihat: Satrio Arismunandar, Jurnal Ilmu Politik no. 12, hlm. 69). Tentu saja, informasi itu akan sangat bias, karena dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah, dan biasanya, tanpa pengujian.

Keterlibatan pemerintah AS, dengan memanfaatkan wartawan sebagai agen intelijen mereka, sudah terjadi sejak Perang Dingin. Seperti yang ditulis surat kabar New York Times, "Sejak berakhirnya Perang Dunia II, lebih dari 30 atau bahkan 100 wartawan Amerika dari sejumlah organisasi berita dilibatkan sebagai pekerja operasi intelijen yang dibayar sementara menjalankan tugas-tugas reportasenya.

"Pada pertemuan dengan serikat redaktur surat kabar bergengsi, American Society of Newspaper Editors, pada April 1980, Direktur CIA Marsekal Stansfeild Truner mengatakan, "Bila dibutuhkan, ia tak akan ragu-ragu merekrut jurnalis."

Agen CIA juga memiliki, mensubsidi, dan mempengaruhi banyak surat kabar, kantor berita, dan media lainnya. (Ade Armando, Terorisme dan Konspirasi Anti Islam, hlm. 78-79). Dalam era Perang Dingin, Badan Propaganda Amerika Serikat (ICA) sering mendukung penulis atau editor surat kabar asing yang menulis secara baik mengenai AS dan kebijakannya. (K.J. Holsti, Politik Internasional: Kerangka untuk Analisis, hlm 222). Tidak aneh jika kemudian media massa Barat sangat miring dalam memberitakan perjuangan umat Islam. Di Indonesia, bahkan ada TV yang dengan tegas menyatakan visinya sekularisme dan anti syariat Islam. Kalaupun membuat talkshow tentang syariat Islam dan menghadirkan pembicara yang pro dan yang kontra, biasanya acaranya direkasaya sedemikian rupa, baik dari segi waktu maupun moderatornya.

Perhatikan perubahan istilah ‘pejuang’ menjadi ‘teroris’ yang digunakan untuk kaum mujahidin Afganistan. Media massa Barat menggunakan istilah pejuang, karena saat itu AS memiliki kepentingan untuk mengusir pengaruh komunis di negeri itu. Setelah kepentingan AS berubah, yakni ingin menguasai Afganistan, dan istilah ‘pejuang’ kemudian menjadi ‘teroris’.

Para Intelektual Penghianat
Kaum intelektual Islam juga digunakan sebagai alat propaganda AS, baik sadar maupun tidak. Karena itu, AS sangat getol memberikan beasiswa kepada para pelajar di seluruh dunia. Pemerintah AS sangat sadar bahwa para pelajar yang sudah dibina oleh mereka akan menjadi corong-corong propaganda kepentingan Amerika di negara asal mereka masing-masing.

Mereka pun sangat jeli memilih siapa pelajar yang mereka beri beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Mereka biasanya adalah para aktivis serta para pelajar yang cerdas dan unggul namun lemah secara ideologis atau mereka yang berasal dari organisasi, etnis, atau agama yang berpengaruh di sebuah negara. Tidak mengherankan, untuk Indonesia, beasiswa luar negeri sering diberikan kepada para pelajar dari organisasi Islam yang besar di Indonesia. Tentu saja, mereka berharap, para pelajar yang bisa dipengaruhi akan menjadi corong mereka dengan legitimasi yang kuat, yakni dari organisasi Islam yang besar di Indonesia; meskipun tidak semua kemudian ‘berhasil’ mereka jadikan corong. (Lebih jelas, lihat: Holsty, Politik Internasional: Kerangka untuk Analisis, hlm. 223).

Dunia Islam saat ini dipenuhi oleh para intelektual pengkhianat semacam di atas. Mereka menyebarkan ide-ide kapitalis seperti sekularisme, demokrasi, individualisme, HAM, pluralisme, dll. Mereka juga menjadi pembela sejati ‘yang dibiayai’ oleh pemerintah kapitalis. Tujuannya adalah untuk merusak akidah umat dan menjauhkan mereka dari syariat Islam. Dua perkara ini, akidah dan syariat Islam, memang menjadi sumber kekuatan umat Islam yang utama.

Lihat saja, bagaimana para alumnus universitas Barat pengkhianat itu membela habis-habisan kebijakan ekonomi kapitalis di Indonesia; membela IMF dan Bank Dunia. Mulut mereka juga berbusa-busa membela privatisasi, penghapusan utang konglomerat, pencabutan subsidi, dan mengikuti arahan tuan kapitalis mereka. Mereka tidak mau tahu, bagaimana penderitaan rakyat yang semakin terpuruk akibat diterapkan sistem ekonomi kapitalis tersebut.

Perhatikan pula pengusung ide liberalisme yang ingin menghancurkan akidah umat dan syariat Islam. Mereka getol menyerukan ‘dialog antarumat beragama’ untuk menyatakan semua agama itu sama. Sekularisme juga mereka ajarkan kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Islam itu adalah masalah individual; tidak ada hubungannya dengan masalah publik seperti ekonomi dan politik; juga tidak ada urusannya dengan negara. Seruan-seruan mereka ini kemudian melanggengkan sistem sekularisme di Dunia Islam yang berarti melanggengkan penjajahan kapitalis barat!


[Dari Mas Farid Wadjdi]

Israel, Zionis, Barat, dan Islam


Upaya Israel mengobok-obok urusan dalam negeri Palestina, khususnya Masjidil Al Aqsha tidak pernah berhenti. Para Zionist melakukan segala cara demi mewujudkan keinginan mereka untuk menguasai al Aqsha atau menghancurkanya melalui galian yang mereka klaim berada di bawah bangunan masjid walau sampai saat ini belum terbukti.

Sudah puluhan tahun dan puluhan ahli arkeologi, baik dari Israel sendiri maupun dari negara-negara barat coba membuktikan keberadaan haikal yahudi di bawah masjidil Al-Aqsha. Namun selalu gagal. Mereka tidak menemukan apa-apa di bawah Masjid Al-Aqsha. Yang kemudian dapat mereka lakukan adalah membangun tembok rasial di atas perdamaian ataupun inisiatif semu untuk menguasai palestina.

Penggalian dan upaya Zionist radikal Israel dalam menyebarkan kebencian dan dendam terhadap bangsa Arab dan Islam mulai terlihat sejak mereka menemukan tanah subur yang strategis yang mendorong mereka untuk melancarkan permusuhanya terhadap Islam khususnya bangsa Palestina. Maka, sejak saat itu pulalah rakyat Palestina menjadi bulan-bulanan konspirasi dan rencana pembersihan etnis.

Setelah gagal dalam upaya mereka menguasai dan menodai Masjid Al-Aqsha, maka kelompok radikal yahudi pun berusaha untuk mengintervensi sejumlah peraturan yang diterapkan Israel terhadap kiblat pertama ummat Islam ini.

Mereka melakukan segala cara untuk menghapus identitas keislaman al-Quds melalui penyempurnaan program yahudisasi serta realisasi rencana penghancuran Masjid secara bertahap dengan pola-pola baru. Namun dunia melihat jelas kejahatan mereka terhadap kota al-Quds dan masjidnya. Di antaranya dengan membangun jembatan alternatif yang menghubungkan Gerbang Al-Mugaribah dengan Masjid Al-Aqsha setelah sebelumnya pemerintah Israel menghancurkan jembatan lama. Hal ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, baik negara barat sendiri maupun negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

Perbuatan mereka telah melanggar semua kesepakatan internasional terkait tempat suci seluruh umat ini. Oleh karena itu, sebelum bangsa Arab dan umat Islam dunia dikagetkan dengan hancurnya Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama, dan al-Haram ketiga di dunia, maka hendaklah mereka bergerak bersama organisasi-organisasi internasional lainnya guna menjalin kerjasama untuk menghentikan upaya penggalian Israel tersebut. Memaksa mereka tunduk pada undang-undang internasional agar tidak melakukan perubahan apapun terhadap tempat-tempat bersejarah di seputar al-Quds seperti di antaranya pagar, perlintasan, jembatan dan bangunan-bangunan bersejarah lain yang mengelilingi al-Quds serta Kota Lama yang didirikan antara tahun 1536 dan 1542 M.

Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa sebelum terlambat, mari kita bergandeng tangan sebagai sesama umat Islam untuk menyelamatkan Al-Quds dan Al-Aqsha dari rencana jahat Zionist Israel itu.

Sebenarnya kebencian dan ketakutan Zionist Israel dan dunia Barat terhadap Islam - dekenal dengan istilah Islamofobia atau anti-Islam - kian hari kian meningkat. Berbagai upaya penistaan dan penghancuran dan adu domba sesama umat islam kerap mereka lakukan, baik terhadap negara yang berstatus Islam (negara Islam) maupun kepada kaum minoritas Islam yang hidup di negara-negara barat. Sebagai cntoh, lihat apa yang terjadi di UK misalnya.

Meningkatnya permusuhan barat terhadap Islam semakin memuncak dengan disebarkannya tuduhan bahwa teroris Islamlah yang bertanggungjawab atas serangan 11 September 2001. Namun tidak lama setelah itu bermunculan pula bantahan-bantahan dari dalam negeri AS sendiri yang mengarah pada sinyalemen kuat bahwa peristiwa tersebut sesungguhnya merupakan hasil kosnspirasi besar kepentingan Yahudi dan Nasrani dalam upaya mereka mendiskreditkan Islam dan memuluskan agenda-agenda politik yang jauh lebih besar lagi. Tak pelak, peristiwa ini menuai berbagai kontroversi berkepanjangan di dunia internasional, namun di dalam negeri sendiri terjadilah keajaiban Islam!

Pasca peristiwa tersebut, atas nama perang terhadap teroris, Amerika Serikat dan sekutunya pun mulai membombardir negara-negara Islam di Timur Tengah tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan serta protes dunia internasional. Mereka meluluh lantakkan negeri-negeri muslim yang telah menjadi symbol peradaban Islam beratus-ratus tahun silam. Ini menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya mereka inilah yang justru patut disebut sebagai penyebar terror, khususnya terhadap umat muslim!

Genderang perang terhadap Islam sudah ditabuh, negara-negara barat telah memperlihatkan watak aslinya. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghancurkan Islam, baik secara terang-terangan maupun rahasia. Ternyata apa yang mereka bangga-banggakan selama ini sebagai negara yang menghormati hak asasi manusia (HAM) hanya symbol semata guna mengelabui bangsa-bangsa lain di dunia. Pelecehan terhadap simbol-simbol Islam kian merajalela. Mulai dari pelarangan penerbitan dan peredaran Al-Qur’an, penempatan nama Allah di tempat-tempat yang tidak terhormat (di sepatu, pakaian dalam wanita, lantai dll) sampai pelecehan terhadap Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dengan gambaran yang sangat tidak pantas terus dilakukan.

Walau menuai berbagai protes dan kecaman dari dunia, kebencian mereka tidak pernah berhenti. Maka benarlah firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan (pernah) senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka" (QS. Al-Baqarah: 120)


[Tarqiyah Online 27 April 2010]

Contact Form

Name

Email *

Message *