Ketika keotentikan kabar dari bibel bahwa bumi berbentuk datar dan memiliki 4 sudut sebagai cerminan visualisasi dari "flat earth" diangkat ke permukaan, dan tentunya menjadi tertawaan pemirsa, maka Theos An-Naar, produsen Analisis Telek kita pun buru-buru menerbitkan tulisan berjudul PENJURU - PENJURU LANGIT berdasarkan terjemah Indonesia QS. 69:15-17 berikut tafsir-tafsir dalam bahasa Inggris dari Jalalain, Ibnu Abbas, Ibnu Kathir, dan Al-Tustari
Mungkin tulisan itu -- lihat di sini -- dimaksudkannya sebagai "tandingan" menjawab dagelan bibel perkara "flat earth", bahwa menurut nalarnya yang payah, ternyata error serupa juga ditemui di dalam Al-Quran!
Guna mengukuhkan anggapannya ini, dia menambahkan lagi informasi ekstra bahwa arti kata "arjāihā" yang tertulis sebagai "edge" dalam terjemah bahasa Inggris QS. 69:17 adalah TEPI, dengan menafikan arti lain yang juga "applied", yaitu UJUNG, atau BATAS AKHIR.
Blunder lagi!
Perhatikan (1) Judul, (2) Pengantar, (3) Dalil Al-Quran, (4) Sorot Kata, (5) Tafsir, dan (6) Pembahasan dalam konstruksi tulisannya yang seperti biasa; tidak pernah nyambung antara judul, konten, dan kesimpulan, alias seperti kata mang Tubagus Bontot dan om Andry Chakra dalam SS di sini; wira-wiri dari Pasar Senen, ke Pasar Rebo, lalu ke Pasar Minggu, lanjut ke Pasar Baru, namun tetap saja berakhir NYUNGSEP di Pasar Induk!
Puncaknya, sebagai bukti kenapa tulisannya ini, demikian pula semua tulisannya yang lain selalu kena stempel ANALISIS TELEK adalah karena dia melakukan logical fallacy cukup parah dengan mengaitkan informasi tentang 8 malaikat pengusung arsyi - yang tidak ada hiubungannya sama sekali - dengan kosmologi masyarakat purba tentang bentuk bumi!
Artinya, jika ditanya apa hubungan judul tulisannya PENJURU - PENJURU LANGIT dengan apa yang saya quote dalam kotak kuning di atas, saya yakin dia akan mengajak kita untuk mondar-mandir lagi dari satu pasar ke pasar lainnya karena bingung tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tulisannya sendiri!
Kenapa? Karena QS. 69:15-17 bercerita tentang peristiwa luar biasa dahsyat pada hari kiamat di mana bentuk alam semesta ini sudah tidak jelas lagi akibat porak poranda dalam prosesnya menuju kehancuran massif yang paling akhir!
Lantas kondisi ini ingin dikaitkannya dengan pemahamannya yang payah bahwa bentuk bumi - sejak awal hingga kiamat nanti - adalah datar?
Gagal faham kronis! Perhatikanlah bagaimana sebenarnya QS. 69:15-17 itu harus dimaknai. Dan karena dalam konteks ini produsen ANALISIS TELEK kita selalu mengutip teks dalam bahasa Inggris, maka untuknya sengaja saya pilihkan terjemah bahasa Inggris dari Muhammad Picktal yang lumayan dikenal luas, berikut tafsir dari Al-Maududi yang dikenal lebih luas lagi sebagaimana tergambar di bawah ini.
Coba perhatikan dengan seksama, adakah pembahasan yang menyiratkan kata "penjuru-penjuru langit" dalam seluruh narasi berikut?
Saya kira yang sedikit ini sudah lebih dari cukup untuk mementahkan lagi segala bentuk usaha sutradara Dagelan Bakul Jamu yang masih belum kapok-kapok juga coba mencari celah kesalahan Al-Quran yang tentu saja mustahil akan dapat dibuktikannya!
Dari ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang laki-laki memimpin sekelompok pasukan, (ketika mengimami shalat) dia biasa membaca di dalam shalat jama’ah mereka, lalu menutup dengan ”Qul huwallaahu ahad”. Ketika mereka telah kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka beliau berkata: “Tanyalah dia, kenapa dia melakukannya!” Lalu mereka bertanya kepadanya, dia menjawab: “Karena surat ini merupakan sifat Ar-Rahmaan (Allâh Yang Maha Pemurah), dan aku suka membacanya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allâh mencintainya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7375; Muslim, no. 813]
Dari Abud Darda’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Apakah seseorang dari kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’ân di dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang (mampu) membaca sepertiga al-Qur’ân (di dalam satu malam)?” Beliau bersabda: “Qul Huwallaahu Ahad sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân.” [HR. Muslim, no. 811]
Maknanya adalah bahwa kandungan al-Qur’ân ada tiga bagian:
1) hukum-hukum, 2) janji dan ancaman, 3) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Dan surat ini semuanya berisi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . [Majmu’ Fatawa 17/103]
SEBAB TURUN SURAT AL-IKHLAS
Sebab turun surat al-Ikhlâs ini adalah pertanyaan orang-orang kafir tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana disebutkan di dalam hadits:
Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allâh menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa). [HR. Tirmidzi, no: 3364; Ahmad, no: 20714; Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah 1/297. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani]
Hadits ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlâs termasuk surat Makiyyah, dan nampaknya termasuk surat yang awal turun di kota Makkah.
ARTI AYAT DAN TAFSIRNYA
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa”.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yakni: Dia Yang pertama dan Esa, tidak ada tandingan dan pembantu, tidak ada yang setara dan tidak ada yang menyerupai-Nya, dan tidak ada yang sebanding (dengan-Nya). Kata ini tidak digunakan untuk menetapkan pada siapapun selain pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , karena Dia Maha Sempurna dalam seluruh sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya”. [Tafsir Ibnu Katsir]
Para Ulama penyusun Tafsir al-Muyassar berkata, “Katakanlah wahai Rasul, ‘Dia-lah Allâh Yang Esa dengan ulûhiyah (hak diibadahi), rubûbiyah (mengatur seluruh makhluk), asma’ was shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya), tidak ada satupun yang menyekutui-Nya dalam perkara-perkara itu”. [Tafsir al-Muyassar, 11/96]
اللَّهُ الصَّمَدُ
Allâh adalah ash-Shamad.
Ash-Shamad adalah satu nama di antara Asmaul Husna yang dimiliki Allâh Azza wa Jalla . Penjelasan para Ulama Salaf tentang makna ash-Shamad berbeda-beda, tetapi semua perbedaan itu bisa diterima, karena maknanya tidak kontradiksi, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu semua arti itu dapat ditetapkan pada diri Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Inilah keterangan para Ulama tentang makna ash-Shamad:
(Rabb) yang segala sesuatu menghadap kepada-Nya dalam memenuhi semua kebutuhan dan permintaan mereka. Ini pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ikrimah.
As-Sayyid (Penguasa) yang kekuasaan-Nya sempurna; as-Syarîf (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna; al-‘Azhîm (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna; al-Halîm (Maha Sabar) yang kesabaran-Nya sempurna; al-‘Alîm (Mengetahui) yang ilmu-Nya sempurna; al-Hakîm (Yang Bijaksana) yang kebijaksanaan-Nya sempurna. Dia adalah Yang Maha Sempurna dalam seluruh sifat kemuliaan dan kekuasaan, dan Dia adalah Allâh Yang Maha Suci. Sifat-Nya ini tidak layak kecuali bagiNya, tidak ada bagi-Nya tandingan dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Maha Suci Allâh Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Ini pendapat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah Radhiyallahu anhu.
Yang Maha Kekal setelah semua makhluk-Nya binasa. Ini pendapat al-Hasan dan Qatâ
Al-Hayyu al-Qayyûm (Yang Maha Hidup, Maha berdiri sendiri dan mengurusi yang lain), yang tidak akan binasa. Ini pendapat al-Hasan.
Tidak ada sesuatupun yang keluar dari-Nya dan Dia tidak makan. Ini pendapat ‘Ikrimah.
Ash-Shamad adalah yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Ini pendapat ar-Rabi’ bin Anas.
Yang tidak berongga. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ‘Atha bin Abi Rabbah, ‘Athiyah al-‘Aufi, adh-Dhahhak, dan as-Suddi.
Yang tidak memakan makanan dan tidak minum minuman. Ini pendapat asy-Sya’bi.
Cahaya yang bersinar. Ini pendapat Abdullah bin Buraidah
Imam Thabarani rahimahullah berkata, “Semua makna ini benar, dan ini semua merupakan sifat Penguasa kita ‘Azza wa Jalla. Dia adalah tempat menghadap di dalam memenuhi semua kebutuhan, Dia adalah yang kekuasaan-Nya sempurna, Dia adalah ash-Shamad, yang tidak berongga, dia tidak makan dan tidak minum, Dia adalah Yang Maha Kekal setelah makhlukNya (binasa)“.
Dan imam al-Baihaqi juga berkata seperti ini. [Lihat semua keterangan di atas di dalam Tafsir Ibnu Katsir surat al-Ikhlas]
Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah menyebutkan lima makna ash-Shamad, lalu berkata, “Perselisihan ini termasuk ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan jenis) dalam ungkapan, bukan perselisihan dalam makna. Karena semua pendapat ini kembali kepada satu makna, yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya. Dan janganlah merisaukanmu pengingkaran sebagian khalaf terhadap sebagian makna-makna yang diriwayatkan dari Salaf ini, demikian juga anggapan mereka (khalaf) bahwa perkataan-perkataan Salaf ini tidak didukung oleh lughah (bahasa Arab). Karena itu adalah perkataan orang yang tidak memahami (kedudukan-pen) tafsir Salaf, dan dia tidak mengambil faedah ketetapan makna-makna lafazh lughah (bahasa Arab) dari tafsir salaf, Wallahu a’lam.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/201, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Yaitu: (Allah) ini Yang berhak diibadahi, Dia tidak dilahirkan sehingga akan binasa. Dia juga bukan suatu yang baru yang didahului oleh tidak ada lalu menjadi ada. Bahkan Dia adalah al-Awwal yang tidak ada sesuatupun sebelum-Nya, dan al-Âkhir yang tidak ada sesuatupun setelah-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyaar]
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang menyamai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya”. [Syarh Aqîdah Wasitiyah, hlm. 114, penerbit. Dar Ibnu Haitsam]
Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Dan tidak ada tandingan yang menyamai-Nya dalam nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]
BANTAHAN ANGGAPAN “ALLAH MEMILIKI ANAK”
Banyak sekali bantahan Allâh Azza wa Jalla di dalam kitab suci-Nya terhadap orang-orang yang beranggapan bahwa Allâh memiliki anak, antara lain firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:
Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.[Al-An’am/6: 101]
Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah pemilik dan pencipta segala sesuatu, maka bagaimana mungkin ada di antara makhluk-Nya yang menandingi-Nya. Allâh Maha Tinggi dan Maha Suci dari anggapan mereka itu.
Sesungguhnya beranggapan bahwa Allâh memiliki anak merupakan celaan manusia kepada Allâh Yang Maha Kuasa, padahal mereka sangat tidak pantas mencela-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Allâh berfirman: “Anak Adam mendustakanKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Dia juga mencelaKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah memulai penciptaannya. Sedangkan celaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku memiliki anak, padahal Aku adalah Ash-Shamad, Aku tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara denganKu.” [HR. Bukhori, no. 4975]
Karena besarnya dosa keyakinan Allâh Azza wa Jalla memiliki anak, maka hampir-hampir dunia ini hancur karenanya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan mereka berkata, “Rabb yang Maha Pemurah mempunyai anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan bahwa Allâh yang Maha Pemurah mempunyai anak. [Maryam/19: 88-91]
Namun walaupun demikian besar dosa manusia itu, tetapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Sabar. Bahkan Dia tetap memberikan rizqi dan kesehatan sementara di dunia ini kepada orang-orang yang sangat lancang tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak ada seorangpun yang lebih sabar daripada Allâh terhadap gangguan yang dia dengarkan. Sebagian manusia menganggap Allâh memiliki anak, namun Dia tetap memberikan keselamatan/kesehatan dan memberi rizqi kepada mereka. [HR. Al-Bukhâri, no. 6099; Muslim, no. 2804]
KANDUNGAN SURAT AL-IKHLAS
Surat ini memuat berbagai kandungan dan faedah yang agung, antara lain:
Penetapan sifat ahadiyyah (keesaan) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Penetapan sifat shamadiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya
Mengenal Allâh dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya[1].
Penetapan tauhid dan kenabian.
Kedustaan orang yang menganggap Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak.
Kewajiban beribadah kepda Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, karena hanya Dia yang memiliki hak untuk diibadahi.[2]
Inilah sedikit penjelasan tentang surat yang mulia ini, semoga bermanfaat.
Wallahu A’lam.
Dari Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote
[1] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi
[2] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi
"(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu, pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan)." (QS Al-Qalam: 42-43).
TAFSIR
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:
Setelah menyebutkan perihal apa yang diperoleh orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka, yaitu surga-surga yang penuh dengan kenikmatan, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan saat kejadian itu.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Pada hari betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu. (QS. Al-Qalam [68]: 42)
Yakni di hari kiamat nanti berikut segala sesuatu yang terjadi di dalamnya berupa huru-hara, keguncangan, malapetaka, ujian, dan peristiwa-peristiwa yang besar lagi dahsyat.
Imam Bukhari sehubungan dengan hal ini mengatakan:
Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Khalid ibnu Yazid, dari Sa’id ibnu Abu Hilal, dari Zaid ibnu Aslam, dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:
Kelak (di hari kiamat) Tuhan menyingkapkan betis (sebagian kekuasaan)Nya, maka bersujudlah kepada-Nya semua orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan tertinggallah orang yang dahulunya ketika di dunia sujud karena ria dan pamer, maka ia berupaya untuk melakukan sujud, tetapi punggungnya kembali berbalik menjadi tegak (tidak dapat sujud).
Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain dan kitab-kitab hadis lainnya melalui berbagai jalur dan dengan lafaz yang beraneka ragam. Hadisnya cukup panjang lagi terkenal.
Abdullah ibnul Mubarak mengatakan dari Usamah ibnu Zaid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari betis disingkapkan. (QS. Al-Qalam [68]: 42)
Bahwa hari itu adalah hari kiamat, yaitu hari kesusahan dan hari yang keras.
Demikianlah menurut Ibnu Jarir dalam riwayatnya, dan ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Sufyan, dari Al-Mugirah, dari Ibrahim, dari Ibnu Mas’ud atau dari Ibnu Abbas —Ibnu Jarir ragu— sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari betis disingkapkan. (QS. Al-Qalam [68]: 42)
"karena terjadinya peristiwa yang sangat besar (dahsyat), semakna dengan ucapan seorang penyair,
"Perang itu kian memuncak hingga menyingkapkan betis orang-orang yang terlibat di dalamnya."
Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari betis disingkapkan.(QS. Al-Qalam [68]: 42)
Yaitu karena terjadinya peristiwa yang sangat menyusahkan. Ibnu Abbas mengatakan bahwa peristiwa merupakan saat yang paling menyusahkan di hari kiamat.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari betis disingkapkan. (QS. Al-Qalam [68]: 42)
Yakni karena peristiwa yang sangat menyusahkan di hari itu.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari betiss disingkapkan. (QS. Al-Qalam [68]: 42)
Ini merupakan ungkapan kinayah yang menggambarkan terjadinya peristiwa yang sangat mengerikan lagi sangat menakutkan di hari kiamat.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Pada hari betis disingkapkan. (QS. Al-Qalam [68]: 42)
Maksudnya, di hari ditampakkan semua urusan dan semua amal perbuatan dipamerkan. Makna kasyf adalah memasuki negeri akhirat dan dibukakannya semua peristiwa yang terjadi di hari itu. Hal yang semisal telah dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya, dari Ibnu Abbas, yang semuanya dikemukakan oleh Ibnu Jarir.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan:
Telah menceritakan kepadaku Abu Zaid alias Umar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Umar Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’ id alias Rauh ibnu Janah, dari seorang mania milik Umar ibnu Abdul Aziz, dari Abu Burdah ibnu Abu Musa, dari ayahnya, dari Nabi subhanahu wa ta’ala yang telah bersabda: Pada hari betis disingkapkan, yakni cahaya Yang Mahabesar yang semua makhluk terjungkal bersujud kepada-Nya.
Abu Ya’la telah meriwayatkannya dari Al-Qasim ibnu Yahya, dari Al-Walid ibnu Muslim dengan sanad yang sama; tetapi di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang misteri (tidak diketahui namanya). Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. (QS. Al-Qalam [68]: 43)
Yakni di negeri akhirat nanti disebabkan dosa-dosa mereka dan kesombongan mereka ketika di dunia, maka mereka dihukum dengan kebalikan dari apa yang pernah mereka perbuat.
Ketika mereka diseru untuk bersujud di dunia, mereka menolaknya, padahal keadaan mereka sedang sehat dan sejahtera.
Maka demikianlah mereka diazab dengan tidak mempunyai kemampuan untuk bersujud di hari kemudian, yaitu bilamana Tuhan Yang Mahamulia lagi Mahaagung menampakkan diri-Nya, dan orang-orang mukmin semuanya bersujud kepada-Nya;
maka tiada seorang pun dari orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang mampu melakukan sujud kepada-Nya, bahkan punggung mereka kembali berdiri tegak!
Tiap kali seseorang dari mereka mencoba untuk sujud, punggungnya mental kembali ke arah kebalikan sujud, seperti keadaan mereka ketika di dunia; berbeda dengan keadaan kaum mukmin.
Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Surat Al-Baqarah [2]:121)
(1). Perlu disampaikan bahwasanya kita sekarang sudah memasuki ayat-ayat terakhir pembahasan panjang tentang Bani Israil. Pembahasan yang dimulai di ayat 40 ini sebentar lagi berakhir (untuk sementara) di ayat 123. Artinya tinggal 2 ayat lagi. Pembahasan berikutnya pindah ke Nabi Ibrahim dan keluarganya, guna menjelaskan terjadinya—dan sekaligus penyebab terjadinya—inkonsistensi, bias dan deviasi di sepanjang sejarah Bani Israil terhadap مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) datuk mereka Nabi Ibrahim. Sehingga gelar “agama-agama ibrahimik” yang sering disandangkan kepada agama-agama mereka (Yahudi dan Nashrani) hanyalah bersifat genealogi (garis keturunan bilogis) semata dan sama sekalai tidak lagi bersifat teologis. Ayat 119, 120, dan 121 bisa dikatakan kesimpulan dan sekaligus maksud dari penceritaan tersebut. Sedangkan ayat 122 dan 123 hanyalah epilog untuk mengingatkan pembaca bahwa rangkaian cerita ini adalah berkenaan dengan Bani Israil yang melupakan nikmat agama tauhid yang Allah karuniakan kepada mereka yang menyebabkan mereka (seharusnya) menjadi wangsa yang utama dan termulia (ayat 122); tetapi karena mereka selalu menyelisihi risalah tersebut, dengan cara menentang dan merusaknya, maka mereka masing-masing (secara personal) akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah swt (ayat 123). Mari kita lihat sepintas ayat 119 dan 120.
Satu, ayat 119: “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggung-jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” Ayat ini hendak berpesan bahwa “Kamu Muhammad adalah pewaris agama Ibrahim yang sah, pewaris مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) Ibrahim yang sebenar-benarnya. Kamu bukan hanya keturunan genealoginya, tapi sekaligus penerus ajaran teologinya. مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka (Yahudi dan Nashrani) bukan lagi Ibrahim punya, melainkan hasil rekayasa mereka masing-masing. مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka bukan lagi penyerahan diri kepada Allah, tapi penyerahan diri kepada (kehendak) hawa nafu mereka. Alih-alih mereka meneruskan agama ibrahimik, mereka malah membunuh nabi-nabi dan merusak ajarannya.”
Dua, ayat 120: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” Artinya, bukti terjadinya inkonsistensi, bias, dan deviasi yang terjadi pada mereka ialah sikap kebenciannya kepada Nabi Muhammad. Padahal agama ibrahimik tidak pernah menolerasi dan membenarkan kebencian kepada perbedaan agama dan keyakinan, bahkan dari rumpun kenabian yang berbeda sekalipun. Agama hanya memerintahkan membenci pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan, pelaku ketidakadilan, dan orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Kebencian kepada kebenaran inilah yang menerangkan kenapa Nashrani berkolaborasi dengan penguasa Romawi selama 1000 tahun menjeremuskan bangsa-bangsa Eropa ke dalam Abad Kegelapan, kemudian berlanjut menjadi pendudukung kolonialisme Barat terhadap negara-negara lainnya selama hampir 500 tahun. Ini juga yang menerangkan kenapa wangsa Israil merampas tanah-tanah Bangsa Palestina dan membunuh penduduk aslinya dengan keji dan tak berperikemanusiaan, sebuah kejahatan yang tak pernah terdengar di sepanjang sejarah kemanusiaan. Pesan ini Allah sampaikan kepada umat Islam, melalui al-Qur’an, Kitab Suci terakhir hingga hari akhir, agar umat Islam jangan mengulangi apa yang terjadi pada mereka. Dan bukti kalau umat Islam juga mengalami inkonsistensi, bias dan deviasi ialah apabila mereka (umat Islam) juga sudah takut dan bahkan benci kepada perbedaan. Apabila mereka sudah mulai takut membaca karya-karya keilmuan yang berbeda dengan pandangan mereka. Kalau nanti umat Islam sudah TIDAK RIDHA kepada kelompok keagamaan dan kepercayaan lain, maka pada saatu itu muncul pertanda yang jelas bahwa umat Islam pun sudah mengalami inkonsistensi, deviasi dan biasa dari ajaran Islam Muhammadi, sebagaimana TIDAK RIDHA-nya Yahudi dan Nashrani kepada Nabi Muhammad yang dipandangnya berbeda dari apa yang mereka miliki dan amalkan selama ini. “Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya, dan batu ujian (tola ukur) terhadap (kebenaran) kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian melalui pemberian-Nya kepadamu; maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semuanya (kelak akan) kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kalian perselisihkan itu.” (5:48)
(2). Kenapa bisa terjadi inkonsistensi, bias, dan deviasi pada perjalanan sejarah Bani Israil terhadap garis teologi agama datuknya, Nabi Ibrahim as? Ayat 121 ini menjawabnya. Yaitu karena mereka menyimpan dan membaca Kitab Suci yang mereka imani tetapi tidak mebacanya dengan benar. Klausa “tidak mebacanya dengan benar” di sini bukan dalam pengertian tidak membaca dengan tahsin dan makhraj (spelling atau pengucapan) yang benar menurut kaidah-kaidah ilmu tajwid, tapi tidak menurut maksud dan kandungan makna ayat-ayat dari Kitab Suci tersebut. Mereka melakukan tahrif terhadap Kitab Suci sehingga ayat-ayatnya keluar dari makna sejatinya, menjadi tidak rasional dan ridak inspiratif. Ayat-ayat tersebut ‘dimanipulasi’ sedemikian rupa sehingga kehilangan ĕlan vital-nya. Ujung-ujungnya, agama menjadi kering dan kehilangan kemandiriannya. Agama menjadi tidak bisa berdiri tanpa topangan kekuasan yang justru berasal dari luar dirinya. Ulama-ulama—sebagai pemegang otoritas keagamaan—puas hanya menjadi mufti (tukang fatwa) dari penguasa tersebut. Fatwa ulama menjadi tidak memihak kepada rakyat yang tertindas, tapi kepada penguasa yang membayarnya. Ulama, atas nama agama dan Kitab Suci, menjadikan dirinya sebagai corong penguasa. Inilah yang menyebabkan ulama-ulama Bani Israil tidak lagi bertugas sebagai pembimbing umat menemukan, memilih, dan mengikuti kebenaran; sebaliknya, mereka justru memprovokasi umat untuk menentang legalitas Nabi Muhammad sebagai nabi yang telah ternubuwatkan di dalam Kitab suci mereka dengan jelas. Kalau begitu apakah di antara mereka pada akhirnya tidak ada yang mengimani Nabi Mhammad? Ada. Banyak juga. Siapa sajakah mereka itu? الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ [alladzĭyna ātaynaɦumul-kitāba yatlŭwnaɦu haqqa tilāwatiɦi ŭwlāika yu’minŭwna biɦi, orang-orang yang telah Kami berikan Kitab Suci kepadanya, (kemudian) mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah (yang) beriman kepadanya]. Mereka inilah yang diisyaratkan Allah di ayat berikut ini: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada (juga) golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” (3:113)
(3). Berdasarkan ayat yang barusan kita kutip (3:113), ternyata yang dimaksud dengan يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ (yatlŭwnaɦu haqqa tilāwatiɦi, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya) ialah “membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Berdasarkan lahiriah ayat, “membaca Kitab Suci dengan bacaan yang sebenarnya” adalah membacanya di malam hari, kemudian tiap-tiap ayatnya membuat yang bersangkutan tersungkur sujud menunjukkan penerimaannya yang tanpa resĕrve kepada kandungan dari ayat-ayat tersebut, persis seperti bersujudnya para malaikat kepada Adam saat menerima perintah dari Tuhannya. Mengapa musti malam hari? Karena, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (73:6-7) Sedangkan secara batiniah, kata “malam” bisa diartikan sebagai “kondisi gelapnya jiwa” akibat kepandiran dan kejahilan diri. Artinya Kitab Suci hanya akan berfungsi sebagai penuntun manakala pembacanya menempatkan dirinya sebagai orang bodoh, orang tak berilmu, di hadapannya. Jikalau kondisi ini tidak tercapai, alih-alih mendapatkan petunjuk dan pencerahan, si pembaca malah justru menggurui Kitab Suci dengan menafsirkannya sekehendak hawa nafsunya, atau menafsirkannya sesuai dengan kecenderungan mazhabnya, organisasinya, partainya. Ketahuilah bahwa hanya orang yang merasa berada dalam kegelapanlah yang membuthkan suluh sebagai sumber cahaya yang menerangi. “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kalian, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kalian tidak mendengar?’.” (28:71)
(4). Dan memang, faktanya, tanpa cahaya ilahi, jiwa manusia akan terus berkubang dalam kegelapan. Itu sebabnya Allah menekankan: وَمن يَكْفُرْ بِهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (wa man yakfur biɦi fa uwlāika ɦumul-khāsirŭwn, dan siapa saja yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi). Orang yang menolak atau menutup diri terhadap Kitab Suci sama sekali tidak merugikan Allah sedikit pun. Karena Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (2:267, 14:8, 31:12, 35:15). Yang mereka rugikan adalah diri mereka sendiri. Allah mengirim Rasul dan Kitab Suci adalah bukti cinta-Nya kepada kita hamba-Nya. Dia dan Rasul-Nya tidak berpamrih kepada kita. “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (26:109, 127, 145, 164, dan 180). Iman kita tidak menambah kemuliaan Allah dan Rasul-Nya. Keingkaran kita tidak mengurangi kemuliaan keduanya. Allah Maha Suci dari segala bentuk kebutuhan. Kitalah yang butuh kepada-Nya. Kitalah yang butuh kepada Rasul-Nya. Kitalah yang butuh kepada Kitab Suci-Nya. Ahli Kitab yang men-tahrif Kitab Sucinya, menentang dan mengkhianati Rasul-Nya, sungguh tidaklah merugikan Allah dan Rasulnya. Yang merugi adalah diri mereka sendiri beserta anak-anak mereka yang datang sesudahnya karena tertipu oleh ulah orang-orang tuanya. “Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (39:63)
AMALAN PRAKTIS
Umat Islam semuanya, dari mazhab manapun, memegang dan membaca Kitab Suci yang sama. Lalu kenapa mereka berpecah-belah sehingga persatuan baginya hanyalah angan tanpa kenyataan? Jawabannya: kita tidak membaca Kitab Suci dengan bacaan yang sebenarnya. Kita membacanya menurut perpekstif mazhab, kelompok, organisasi, dan partai kita masing-masing. Kitab Sucilah yang kita paksa bersujud kepada golongan kita, dan bukan golongan kita yang kita paksa bersujud kepada Kitab Suci.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah.’ Mereka berkata: ‘Kami banya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Qur’an itu (Kitab) yang bak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa dahulu kamu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 91)
"Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 92)
Firman Allah: wa idzaa qiila laHum (“Dan apabila dikatakan kepada mereka.”) yaitu orang-orang Yahudi dan sebangsanya dari kalangan Ahlul Kitab. Aamanuu bimaa anzalallaaHu (“Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah,”) kepada Muhammad saw., benarkan dan ikutilah ia. Maka: qaaluu nu’minu bimaa unzila ‘alainaa (“Mereka berkata, kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.”) Artinya, cukup bagi kami mengimani kitab Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepada kami. Kami tidak akan pernah mengakui kecuali kedua kitab itu saja.
Wa yakfuruuna waraa-aHu (“Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya.”) wa Huwal haqqu mushaddiqal limaa ma’aHum (“Padalah al-Qur’an itu adalah [Kitab] yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka.”) Maksudnya, padahal mereka tahu bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad saw. al-haqqu mushaddiqal limaa ma’aHum (“Yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka”) Artinya, al-Qur’an membenarkan kitab suci yang ada pada mereka, Taurat dan Injil, dengan demikian hujjah itu tegak di atas mereka, sebagaimana firman Allah: alladziina aatainaaHumul kitaaba ya’rifuunaHuu kamaa ya’rifu abnaa’aHum (“Orang-orang [Yahudi dan Nasrani] yang telah Kami beri al-Kitab [Taurat dan Injil] mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”) (QS. Al-Baqarah: 146).
Kemudian Allah berfirman: fa lima taqtuluuna anbiyaa allaaHi min qablu in kuntum mu’miniin (“Lalu mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah, jika kamu mengaku benar-benar orang yang beriman?”) Artinya, jika kalian mengaku benar-benar beriman kepada apa yang diturunkan kepada kalian, lalu mengapa kalian membunuh para nabi yang datang kepada kalian dan membenarkan kitab Taurat yang ada pada kalian, berhukum pada isinya, dan tidak menghapusnya, sedang kalian mengetahui kebenaran mereka? Kalian membunuh mereka karena melampaui batas, keras kepala, dan sombong kepada para Rasul Allah. Kalian ini tidak mengikuti kecuali hawa nafsu, pendapat, serta keinginan kalian sendiri.
Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, (makna ayat ini) “Hai Muhammad, jika engkau katakan kepada orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah’, dan mereka menjawab, `Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’, maka katakanlah kepada mereka, `Jika kalian benar-benar beriman, mengapa kalian membunuh para nabi, wahai orang-orang Yahudi, padahal di dalam kitab yang diturunkan kepada kalian; Allah telah mengharamkan kalian membunuh mereka, bahkan Dia memerintah kalian untuk mengikuti, mentaati, dan membenarkan mereka. Yang demikian itu merupakan pembeberan kebohongan dan celaan kepada mereka atas ucapan mereka, yaitu kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami saja.”‘
Firman-Nya: wa laqad jaa-akum muusaa bil bayyinaati (“Dan Musa telah datang kepadamu dengan membawa bukti-biikti kebenaran [mukjizat].”) Yaitu bukti-bukti yang jelas dan dalil-dalil qath’i bahwa ia adalah Rasul Allah dan bahwa tiada Ilah yang hak selain Allah. Yang dimaksud dengan “al aayaatul bayyinaatu” (“bukti-bukti yang jelas”) adalah berupa angin badai, belalang, kutu, kodok, darah, tongkat, tangan, pembelahan laut, penaungan dengan awan, manna, salwa, batu, dan mukjizat lainnya yang mereka saksikan. Setelah itu kalian jadikan anak sapi sebagai sembahan selain Allah pada zaman hidupnya Musa as.
Firman-Nya: mim ba’diHii (“Sesudah,”) maksudnya sesudah kepergian Musa ke gunung Thursina untuk bermunajat kepada Allah; wa antum dhaalimuun (“Sedang kamu berbuat zhalim”) Artinya, dengan tindakan kalian menyembah anak sapi itu, kalian telah berbuat zhalim, padahal kalian tahu bahwasanya tiada Ilah yang hak selain Allah.
Sebagaimana firman-Nya: wa lammaa suqitha fii aidiiHim wa ra-au annaHum qad dlalluu qaaluu la il lam yarhamnaa rabbanaa wa yaghfirlanaa lanakuunanna minal khaasiriin (“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.”) (QS. Al-A’raaf: 149).
Ini tulisan yang panjang dan karenanya saya menganjurkan pembaca - apa pun keyakinan anda, untuk lebih bersabar dalam menyimaknya dan mudah-mudahan saja dapat pula memahami pandangan Islam tentang issue-issue krusial seputar Isa Alaihissalam - menurut Islam, atau Yesus Kristus - menurut Kristiani, yang seolah tidak ada habisnya diperdebatkan oleh kedua umat ini sejak jaman dahulu hingga hari ini.
Dari begitu banyaknya topik yang selama ini kerap "dipertentangkan" oleh berbagai pihak (maupun kepentingan) melalui polemik terbuka di banyak situs internet - yang ujung-ujungnya sering berubah menjadi ajang saling menghujat - maka dalam tulisan berikut ini saya ingin coba menyoroti, atau lebih tepatnya menelaah kajian terbatas pada hal-hal yang menurut hemat saya sangat prinsip. Untuk itu, demi memelihara adab seperti yang diajarkan Tuhan melalui Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW khususnya kepada umat muslim, maka dengan lebih dulu mengucap Basmalah, mari kita mulai dengan firman Allah SWT berikut ini:
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (QS. Al-Ankabut[29]:46)
Dalam pengertian yang sangat sederhana, ayat di atas menyiratkan 3 pesan kepada Rasulullah SAW dan tentu saja, kepada seluruh pengikut beliau untuk:
Pertama: Senantiasa menahan diri dari perdebatan (tentang agama) dengan ahli kitab (pengikut ajaran kitabullah - atau kitab-kitab Allah) yang juga diimani umat Islam seperti Zabur (Mazmur), Taurat (Torah) dan Injil sebagai kitab-kitab pendahulu dari Al-Qur'an.
Kedua: Dalam hal terpaksa berdebat, maka tidak ada cara lain yang dibenarkan oleh Allah SWT untuk dilakukan kecuali cara-cara yang paling baik. Dengan demikian, menghujat agama manapun, terutama agama samawi (yang datang dari Allah melalui para nabi dan rasul), di dalam ajaran Islam adalah perbuatan yang jelas-jelas DILARANG!
Ketiga: Kendati ada "pengecualian" tentang larangan berdebat ini, namun sangat penting untuk difahami bahwa itu hanya berlaku kepada orang-orang zalim (atau yang menzalimi agama Allah SWT) dengan tujuan untuk menyampaikan 2 pesan penting, yakni bahwa umat Islam mengimani semua kitabullah, dan bahwa sesungguhnya Tuhan dari semua ahli kitab adalah satu, yakni Allah SWT, satu-satunya llahi kepada siapa kita semua diperintahkan untuk tunduk, patuh, dan berserah diri.[1]
Berangkat dari pemahaman sederhana ini, maka marilah selanjutnya sama-sama kita simak penjelasan serba ringkas menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
I. Kenapa Nabi Isa Di Juluki Al Masih?
Jawab:
Tidak diragukan lagi, bahwa nama aslinya adalah Isa. Nama itulah yang disebutkan dalam al-Quran seperti dalam ayat berikut:
"(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai 'Isa putra Maryam, ingatlah ni'mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."(QS al-Maidah [5]:110)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya, seperti di antaranya:
(Ingat!ah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih `Isa putera Maryam." ( QS. Ali Imran [3]: 45)
Perhatikan juga firman Allah ini: "Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah." (QS.An-Nisa' [4]:172) dan "Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam." (QS. An-Nisaa [4]:171)
Sebagian ulama Salaf berpendapat, nabi Isa dijuluki al-Masih dari kata saaha, yaitu karena beliau sering berpindah tempat, atau banyak berjalan kaki. Pendapat lain mengatakan karena telapak kakinya datar. Dan ada juga yang memberi alasan kata al-Masih dari akar kata ma-sa-ha, karena dengan izin Allah, setiap kali ia mengusap orang yang sakit, maka si sakit segera sembuh.
Laits dan Abu `Ubaid berkata; "Kata al-Masih berasal dari bahasa Ibrani, Machih. Kemudian diserap ke dalam bahasa Arab, dan lafadznya ikut berubah dari huruf Syin Masyih menjadi huruf Sin Masih. Oleh sebab itu, dalam bahasa Arab kata al-Masih tidak ditemui akar katanya." Namun mayoritas ulama (jumhur) berpendapat, bahwa kata al-Masih itu adalah musytaq (memiliki akar kata). Menurut ahli bahasa yang lain, kata al-Masih berarti As Siddiq (yang membenarkan).
Pendapat lain mengatakan, karena sentuhan (masaha) nabi Zakariya kepada Isa. Dan ada juga yang memberi alasan karena nabi Isa berkelana di bumi (dari kata masaha yang artinya qatha'a atau menempuh jarak). Berikutnya ada ahli bahasa yang memberi alasan karena saat terlahir ke bumi, tubuh nabi Isa AS sudah terolesi minyak (dari kata masaha). Pendapat lain, karena nabi Isa AS ketika lahir disentuh oleh keberkahan. Pendapat berikutnya, masih dari kata masaha yang artinya khalaqa; nabi Isa AS diciptakan Allah dengan fisik yang sempurna dan bagus. Dan masih banyak lagi pendapat lain, sebagaimana diterangkan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim [Lihat Syarh Kitab al-Imam Muslim li an-Nawawi (Bab tentang al-Masih bin Maryam dan Masih Dajjal), (1/510). Dan lihat juga Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar AI 'Asqalani, Kitab Hadits-hadits kisah para nabi. (6/544)].
Wallahu'alam.
II. Bagaimana dengan QS. 66:12 menyebutkan bahwa:"Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami ...." yang kemudian diyakini oleh umat Nasrani sebagai salahsatu bukti bahwanabi Isa adalah anak Tuhan?
Jawab: Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari anggapan yang merendahkan dzat Allah SWT seperti itu. Ayat tersebut selengkapnya terdapat dalam (QS At-Tahrim [66]: 12) seperti firman Allah SWT:
"Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta'at."
Selain itu disebut juga dalam (QS. Al-Anbiya' [21]: 91)
"Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (QS. Maryam [19]: 17).
Ruh yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat yang kemudian berbicara kepada Maryam; "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:19)
Dalam tafsir disebutkan bahwa malaikat meniupkan ruh ke kantung baju Maryam, lalu ruh itu masuk ke dalam rahim, maka jadilah nabi Isa.
Yang dimaksud dengan Ruh adalah sesuatu - atau makhluk - yang diciptakan Allah dari ruh, yang dengan adanya ruh itu maka sang makhluk menjadi hidup. Sama seperti yang terjadi pada penciptaan nabi Adam sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran:
"Maka apabila Aku telah menyempumakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk karnu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijir [15]:29)
Allah telah meniupkan ruh kepada Nabi Adam AS, sama halnya dengan ditiupnya ruh kepada nabi Isa AS. Ini jelas menunjukkan bahwa baik Nabi Adam AS maupun Nabi Isa AS adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah. Lebih jelas perhatikan ayat-ayat berikut:
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf." (QS. an-Naba'[ 78] : 38).
Kesimpulannya, nabi Isa AS tercipta dari ruh yang berasal dari Allah, yakni ruh ciptaan Allah, sama kejadiannya bahwa dengan ruh itu pula Allah menciptakan sekalian manusia. Adapun seperti kita ketahui, manusia yang pertama kali "dihidupkan" dengan ditiupkannya ruh ke dalam jasadnya adalah Nabi Adam AS.
Allah berfirman: "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajadah [32]: 9)
Dengan demikian, tentunya dapat difahami bahwa bukan ruh itu, sekali lagi; BUKAN RUH ITU yang menjadikanNabi Isa AS istimewa. Sebab Ruh yang ditiupkan kepadanya sama dengan ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT kepada seluruh makhluk bernyawa ciptaan-Nya, yakni makhluk yang bergerak dan bertebaran di alam semesta ini sampai tiba saatnya ruh-ruh itu satu persatu dicabut kembali oleh Allah SWT melalui tangan-tangan malaikat pencabut nyawa Izrail AS. Lalu, apa yang menjadikan Nabi Isa AS istimewa? Jawabnya, tentu saja, kenabian beliau! [2]
Wallahu'alam.
III. Jika demikian, siapakah sebenarnya Roh Kudus atau Ruhullah itu?
"Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."(QS. An-Nahl[16]:162)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam bukunya al-Jawab Ash-Shahih li man Baddala bi Din al-Masih - ditahqiq dan dikomentari oleh Dr. Ali bin Hasan, Dr. Abdul Aziz Askar dan Dr. Hamdan al-Hamdani (3/248) - tentang penjelasan makna yang tepat terhadap kata ruhullah - Ruh Allah, adalah malaikat yang merupakan ruh pilihan Allah, dan Allah mencintainya seperti tersebut dalam al-Quran: "Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa." la (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:17-19).
Allah memberitakan bahwa Dialah yang mengirim ruh-Nya (melalui ruhullah - Jibril AS) kepada nabi Isa, lalu nabi Isa menjadi manusia yang sempurna. Kita semua mengetahui bahwa nabi Isa adalah rasul utusan Allah. Maka dapat mengerti bahwa ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat, yaitu ruh pilihan Allah. Allah menyandingkan kata ruh itu kepada Dzat-Nya, sama halnya dengan penyandingan kata benda yang lain dengan lafzul jalalah, seperti dalam ayat: "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." (QS. asy-Syams [91]:13) dan ayat: "Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud" (QS. AI-Hajj[22]:26) dan firman Allah: "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum." (QS. Al-Insan [76]: 6)
Kata yang disandingkan kepada Allah, jika itu adalah kata keterangan (sifat), tidak bermakna makhluk, seperti kata `llm, Qudrah, Kalam, dan Hayat (hidup), menjadi sifat kesucian Allah. Dan jika kata itu adalah kata benda, ia berdiri sendiri atau menjadi kata keterangan dari yang lain, contohnya: kata bait (rumah), naqah (unta), 'abd (hamba) dan ruh (nyawa) menjadi milik, ciptaan yang disandarkan kepada pencipta dan pemiliknya.
Hanya saja, dalam kaidah idhafat, mudhaf ilaih tidak terlepas dari pengkhususan kata mudhaf dengan sifat yang membuat mudhaf ilaih berbeda dari yang lain sebagai syarat sahnya idhafat. Misalnya dalam hal ini khusus Ka'bah, Naqah (unta tertentu) dan Ibadussholihin (hamba-hamba shalih)-lah yang sesungguhnya dimaksudkan dalam idhafatbaitullah, naqatullah dan ibadullah.
Demikianlah ruh khusus pilihan Allah yang disebut dalam idhafat ruhullah tadi tidak boleh dijeneralisir sehingga termasuk ruh-ruh yang buruk, seperti syaitan, Iblis, orang kafir, dlsb.
Ruh syaitan dan orang-orang kafir itu memang makhluk ciptaan Allah, namun tidak sah diidhafatkan kepada Allah seperti mengidhafatkan ruh-ruh yang suci dan bersih. Begitu juga tidak sah mengidhafatkan segala benda mati kepada Allah kecuali Ka'bah, dan tidak sah mengidhafatkan unta-unta lain kecuali naqatullah (unta Allah) sebagaimana diterangkan dalam surat asy-Syams di atas, yaitu unta nabi yang Shalih.
Menurut Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, makna yang benar dari idhafat ruhullah itu adalah 'malaikat utusan dari sisi Allah' seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an: "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam[19]:19). Bukan seperti yang selama ini diimani oleh umat Nasrani sebagai: `Ruh Allah menyatu dengan jasad Isa' atau`Ruh Allah berpindah ke jasad Isa'. Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari prasangka seperti itu.
Seandainya keyakinan umat Nasrani di atas benar, pasti Allah juga akan mewajibkan mereka untuk menyembah Nabi Adam AS. Sebab ayah dari seluruh umat manusia ini bahkan diciptakan tanpa ayah dan ibu, dan lebih jauh lagi, ruh Nabi Adam AS ditiupkan oleh Allah SWT tanpa melalui perantara malaikat Jibril (ruhullah) yang dalam penciptaan Nabi Isa AS, harus turun dulu ke bumi untuk menemui Maryam.
Difirmankan oleh Allah SWT, sebagaimana tersirat dalam Al-Quran "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr[15]:29). Di sana terlihat bahwa sesungguhnya tiada perbedaan antara peciptaan Nabi Adam AS dan Nabi Isa AS, begitu juga dengan seluruh umat manusia ciptaan Allah SWT.
Al-Quran menegaskan hal itu dalam ayat: "Sesungguhnya penciptaan 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (QS. Ali `Imran 3:59). Kesimpulannya, sudah seharusnya mereka yang berkeyakinan di luar batasan ini untuk kembali ke ajaran yang benar. Berpaling dari kekeliruan selama ini untuk selanjutnya menyembah Allah yang Esa, yang tiada satu dzat pun pantas menjadi sekutu-Nya.
IV. Ayat:"(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada Ku" (QS Ali 'Imran [3]:55). Apakah pengertian yang menyebutkan Isa 'wafat' dalam surah ali Imran ini mengandung makna yang sesungguhnya atau bukan?
Jawab:
Makna 'wafat' yang tepat di sini adalah 'tidur'. Yaitu, Allah mengangkat nabi Isa ke sisi-Nya dalam keadaan tidur. Dalam bahasa Arab, kata 'tidur' sah dipakaikan dalam makna wafat, setidaknya hampir serupa dengan wafat (mati), sebagaimana firman Allah:
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." (QS az-Zumar [39]:42)
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia (hidup) sesungguhnya wafat di dalam tidur. Saat tertidur - dan ruh terpisah dari jasad - manusia praktis kehilangan kepekaannya sebagai makhluk hidup. Otak meraka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan gerak atau aktifitas bagian mana pun dari seluruh organ tubuhnya (kecuali hal-hal yang terjadi di alam bawah sadar seperti mengigau, tidur berjalan dan hal-hal sejenis itu).
Saat terbangun dari tidur, atau tepatnya saat ruhnya dikembalikan oleh Allah SWT ke jasad masing-masing, maka kecuali Allah SWT menghendaki lain, segala kemampuan normalnya sebagai manusia akan kembali berfungsi sebagaimana lazimnya.
Dalam hadits disebutkan bahwa sebelum beranjak tidur Rasululah SAW selalu berdoa: "Dengan Nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan badanku, dan dengan Nama-Mu juga aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, sayangilah ia, dan jika Engkau belum mencabutnya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga nyawa hamba-hamba-Mu yang shalih". [3]Ketika Rasulullah SAW terbangun, ia membaca doa: "Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali." [4] serta membaca: "Segala puji bagi Allah Yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan Yang telah menyehatkan jasadku." [5]
Dengan adanya hadits-hadits ini jelaslah bahwa makna ayat tersebut adalah: "Sesungguhnya Aku mematikanmu (seperti rupa yang mati waktu tidur), ketika itu engkau tidak merasakan diangkat ke langit."
Artinya nabi Isa tertidur pulas, dan dalam keadaan tidur pulas itulah Allah mengangkatnya ke langit sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Nabi Isa tidak terbangun kecuali setelah sampai di langit. Ulama lain berpendapat, nabi Isa diwafatkan, dengan pengertian mati yang sesungguhnya, namun hanya sebentar. Ketika dalam kondisi tidak bernyawa, ia diangkat ke langit, kemudian ia dibangkitkan, dan kembali hidup.
Lebih jauh tentang hal ini, mari sama-sama kita simak penjelasan berikut:
Mathar al-Warraq menafsirkan ayat "Sesungguhnya Aku mewafatkanmu ..." bermakna mewafatkanmu dari dunia, tapi bukan berarti mati. Penafsiran yang sama juga ditarik oleh Ibnu Jarir: Sesungguhnya wafatnya Isa AS adalah diangkatnya ia dari dunia karena telah ditetapkan bukan sebagai ahli (penghuni) dunia lagi. Dan atas kuasa Allah SWT setelah itu ia tidak lagi memerlukan segala kebutuhan ahli dunia seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain hal yang bersifat manusiawi. Cukup banyak hadits yang mengkabarkan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman nanti, dan ia akan menjalankan hukum Islam. Ia akan mematahkan palang-palang salib, memusnahkan babi, meniadakan upeti (pajak), dan yang ia terima hanyalah agama Islam. Hal ini diperkuat oleh firman Allah SWT:
"Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian Isa). Dan di hari akhir nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka" (QS. an-Nisa'[4]: 159).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi Arabia, rahimahullah menulis dalam bukunya Majmu' Al Fatawa, Bab: Tauhid dan hal-hal yang berkenaan dengannya (1/433) sebagai berikut:
Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata almutawaffa (dimatikan/diwafatkan) yang ada dalam ayat "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengongkat kamu kepada-Ku."
Pendapat-pendapat tersebut di antaranya:
Pertama: Yang dimaksud dengan wafat di sini adalah wafat dalam artian mati, sebab itulah pengertian yang zahir (tekstual) dari ayat tersebut jika tidak disandingkan dengan bukti-bukti terkait lainnya. Dan dikarenakan kata mutawaffa terdapat dalam al-Quran lebih dari sekali, seperti dalam ayat: "Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..." (QS. As-Sajadah[32]:11), dan dalam ayat: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar" (QS. Al-Anfal[8]:50). Demikian pula di ayat lain, kata waffa juga memiliki pengertian 'mati'. Atas dasar makna inilah penafsiran ayat tersebut memakai uslub (gaya) taqdim dan ta'khir.
Kedua: Dengan makna qabd (berada dalam genggaman). Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari sekelompok ulama salaf, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini sekaligus mendudukkannya di tingkat pertama dibanding dengan pendapat-pendapat lain. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi ke alam langit, engkau dalam keadaan hidup kemudian aku mengangkatmu ke sisi-Ku."
Dalam ucapan orang-orang Arab juga terdapat makna yang persis dengan makna waffa dalam ayat tersebut, yaitu: "tawaffaitu maali min fulan," maksudnya, aku menggenggam (menguasai) seluruh harta kekayaanku dari si Fulan. Atau dengan kata lain, aku berkuasa sepenuhnya atas kekayaanku dari gangguan si fulan.
Ketiga: Maksud wafat pada ayat tersebut adalah wafat yang berarti 'tidur'. Sebab kata naum (tidur) dalam bahasa Arab dapat diartikan juga sebagai wafat (mati). Maka pemaknaan ayat tersebut adalah tidur dengan merujuk kepada dalil dari ayat-ayat al-Qur'an seperti firman Allah SWT yang artinya: "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari", dan ayat: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka la tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan."
Pendapat yang kedua dan ketiga lebih kuat dari pendapat yang pertama. Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah yang didukung oleh dalil-dalil yang jelas, dan dikuatkan dengan fakta, bahwa ia diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Dengan kata lain Nabi Isa AS belum pernah mati, dan senantiasa dalam keadaan hidup di langit sampai pada suatu saat nanti akan turun ke bumi untuk melaksanakan tugas yang diembannya sesuai dengan pemberitaan lewat hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW. Setelah menyelesaikan tugas-tugas itu, barulah beliau wafat - sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan Allah.
Dari keterangan ini dapat dimengerti bahwa penafsiran kata yatawaffa dengan makna maut (mati dengan dicabut nyawa) adalah pendapat yang lemah, tidak akurat. Sekiranya pun pendapat itu benar, maka sudah barang tentu yang dimaksud adalah wafatnya Isa di akhir zaman nanti. Artinya, penyebutan kata itu sebelum kejadian "pengangkatan" termasuk gaya bahasa taqdim (mendahulukan sesuatu) dengan makna ta'khir (diakhirkan). Sebab sebagaimana diingatkan oleh ulama dan ahli bahasa Arab, huruf "waw" (kata sambung) tidak selamanya mengandung pengertian tartib (urutan).
Sedangkan anggapan bahwa nabi Isa AS tewas dibunuh, atau tewas disalib, ayat-ayat di dalam Al-Quran secara terang dan tegas membatalkan dan menolaknya. Al-Qur'an juga dengan sendirinya menolak pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa AS tidak diangkat ke langit tapi hijrah ke Kashmir (India) dan lama hidup di sana (sampai wafat secara normal) dan tidak akan turun sebelum hari Kiamat. Dan jika pun ada, maka yang akan datang itu adalah "duplikat" nabi Isa.
Pendapat ini benar-benar pendapat batil, menentang ketetapan Allah SWT dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT serta hadits Rasulullah SAW yang jelas menyiratkan bahwa Nabi Isa AS senantiasa hidup sampai sekarang dan akan turun di kemudian hari sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW.
Berpegang pada keterangan di atas tentunya kita menjadi lebih faham bahwasanya siapa pun yang "mengklaim" nabi Isa AS tewas terbunuh di tiang salib, atau yang mengatakan bahwa nabi Isa AS berhijrah ke negeri Kashmir dan hidup di sana cukup lama sebelum mati dengan cara yang normal - dan setelah mati tidak pula diangkat ke langit - adalah pendapat yang menentang Allah SWT , mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta menafikan hadits Rasulullah SAW.
Kita semua tahu bahwa barangsiapa mendustakan Allah dan Rasul-Nya hukumnya adalah kafir. Oleh karenanya, siapa pun yang (masih) mempercayai pendapat keliru ini hendaknya bersegera ightifar, bertaubat, dan kembali ke jalan yang benar. Kitab Suci al-Quran dan hadits dengan jelas memberitakan bahwa jika seseorang bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, niscaya ia selamat. Namun jika tidak, maka ia akan mati dalam kekufuran.
Dalil-dalil yang menyatakan bahwa "kematian" Nabi Isa AS tidak seperti yang disangkakan sebagian besar umat Nasrani cukup banyak, bahkan sangat jelas diterangkan oleh Allah SWT sendiri melalui firman-Nya:
"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa'[4]:157-158)
Dan ini masih dikuatkan oleh hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang memberitakan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman sebagai hakim yang adil, yang akan membunuh Dajjal Sang Sesat, mematahkan palang salib, membunuh babi, meniadakan upeti (pajak), dan tiada satu agama pun yang ia terima kecuali agama Islam.
Hadits-hadits tersebut adalah hadits mutawatir dan status shahihnya akurat, sebab berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama sependapat menerima berita itu untuk diimani karena ada dalil dan mereka sebutkan sendiri di dalam buku-buku aqidahnya.
Adapun yang menolaknya dengan alasan karena haditsnya hadits ahad, juga tidak dapat menolaknya secara penuh, atau mentakwilkan hadits tersebut dengan pengertian bahwa manusia di akhir zaman nanti berpegang kepada akhlak Al-Masih AS, bersikap lembut, penyayang, merangkul orang-orang dengan semangat, tujuan, dan subtansi hukum - bukan dengan teks atau redaksi hukum - jelas merupakan pendapat yang keliru, batil, dan menyalahi pendapat mayoritas ulama Islam. Pendapat ini bahkan terang-terangan menolak nash yang tsabit (fakta) dan mutawatir sehingga dapat dianggap sebagai tindakan kriminal terhadap syariah, menentang ajaran Islam dan nabi yang ma'shum Muhammd SAW. Sebuah bentuk kebodohan jahiliyah yang menilai sesuatu dengan hukum prasangka dan hawa nafsu, atau keluar dari kebenaran serta petunjuk dari Allah SWT.
Orang yang berpegang teguh pada syariat, yang percaya sepenuhnya kepada para nabi dan rasul pembawa syariat, yang menjunjung tinggi hukum serta segala nash ajarannya, tentu tidak mungkin gegabah dan berani membuat pernyataan seperti itu.
Demikian pula dengan pendapat yang menyatakan bahwa hadits pembawa berita tentang turunnya Nabi Isa AS adalah hadits ahaddan tidak dapat dijadikan landasan hukum, adalah pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, hadits-hadits yang memberitakan hal itu cukup banyak, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits shahih, kitab sunan dan kitab musnad para ulama hadits dengan thariqul hadits serta sanad yang bervariasi, telah mencukupi kriteria mutawatir.
Lalu, bagaimana mungkin orang-orang yang pengetahuannya tidak cukup tentang syariah mengatakan tidak menerima dan menolak untuk berpegang pada hadits-hadits ini?
Sekiranya pun hadits-hadits ini dianggap sebagai hadits ahad, perlu difahami bahwa tidak semua hadits ahad tidak layak dijadikan landasan hukum. Sebab sesuai dengan metode ulama hadits dan ahli hahqiq hadits; maka hadits ahad, jika thariq haditsnya banyak, sanadnya lurus dan tidak cacat, ia sah dijadikan sebagai landasan hukun. Dengan metode ini, hadits-hadits tentang berita turunnya nabi Isa adalah hadits yang status keshahihannya sudah lulus kriteria, sanad dan riwayatnya juga bervariasi. Sehingga tidak ada alasan yang tepat untuk menolak hadits-hadits tersebut. Ia sah dijadikan dalil, baik itu disebut sebagai hadits ahad atau hadits mutawatir.
Dengan demikian, semoga kita menjadi lebih mengerti akan kekeliruan syubhat tentang memaknai "kematian" Nabi Isa AS yang telah diselewengkan dari kebenarannya menurut Islam. Tindakan yang paling parah dan penentangan paling dahsyat terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah pendapat yang mentakwilkan hadits-hadits tersebut kepada pengertian yang tiada sangkut-pautnya dengan dalil-dalil hadits.
Pelaku ini telah menggabungkan dua kesalahan sekaligus, yaitu pendustaan atas nash dan ketidakpercayaannya akan berita yang disampaikan melalui hadits Rasulullah SAW tentang turunnya Nabi Isa AS. Ia tidak menerima bahwa Nabi Isa AS akan menjadi hakim adil untuk sekalian umat manusia, membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung ia telah mengidentikkan Rasulullah SAW - salahsatu manusia terpilih yang paling mengetahui perkara-perkara syariat Allah di antara umat manusia - sebagai orang yang telah mencampuradukkan hukum, tidak sesuai antara ucapan dan maksud (atau tujuan) ucapannya - padahal redaksi ucapan beliau dalam hadits cukup jelas - lalu perkara ini diartikan sebagai puncak pendustaan, pengelabuan serta penggelapan terhadap umat sehingga tidak selayaknya Nabi Muhammad SAW masuk dalam kriteria seorang rasul Tuhan.
Orang yang mentakwilkan ini persis seperti penganut paham atheis yang menisbahkan para nabi dan rasul sebagai fantasi demi kepentingan mayoritas umat manusia, dan menurut mereka apa yang dipetik dari ucapan para nabi bukanlah redaksi yang sesungguhnya. Paham ini telah ditangkis oleh ahlul ilmi wal iman, mereka telah mencoret paham tersebut dengan pena fakta dan bukti-bukti akurat.
Semoga kita terlindungi dari penyakit hati, terhindar dari kerancuan, dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan dari godaan syaitan. Marilah kita memohon kepada Allah semoga kita terbebas dari ketundukan terhadap hawa nafsu dan syaitan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada kekuatan yang dapat menyelamatkan kita kecuali kekuasaan Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa.
Semoga keterangan di atas dapat menjadi rujukan menuju kebenaran dan kejelasan aqidah yang diridhai oleh Allah SWT.
Amin Ya, Rabbal Alamin.
CATATAN KAKI:
[1] Lihat penjelasan dalam wikipedia tentang "berserah diri"
[3] Hadits HR. Bukhari nomor: 7393 Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Muslim dengan nomor hadits: 714. Kitab: Zikir, Doa, Toubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur don ketika berboring'. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Abu Daud dengan nomor hadits: 5050. Kitab: Adab. Bab: Doa sebelum tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ibnu Majah dengan nomor hadits: 3874. Kitab: Doa, Bab: Doa menjelang tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ahmad di kitab hadits Musnad (2/246, 422,432), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.
[4] HR. Bukhari (nomor hadits: 7394) Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna.' Diriwayatkan dari Huzaifah ra. Muslim dengan nomor hadits: 2811. Kitab: Zikir, Doa, Taubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur dan ketika berboring, diriwayatkan dari alBarra' ra. Abu Daud, dengan nomor hadits: 5049 Kitab Adab, Bab: Doa sebelum tidur, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ibnu Majah, dengan nomor hadits: 3880, Kitab: Doa, Bab: Doa ketika terjaga di tengah malam, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ahmad, dalam kitab hadits Musnad (5/385, 387), diriwayatkan dari Huzaifah ra.30. HR. Turmudzi, dengan nomor hadits: 3398, Kitab: Doa-doa. Nasai, dengan nomor hadits: 866, Bab: Amalan siang dan malam. Ibnu Sinni, dengan nomor hadits: 9. Hadits ini shahih menurut Imam Nawani dalam bukunya Af-Adzkar, nomor: 28. Dan oleh al-Bani, hadits ini statusnya hasan, dalam buku Shahih al-Kalim at Thayyib, nomor: 37.
[5] Pendapat yang tepat yang dipilih Ibnu Jarir-rahimahullah dalam tafsir Jami' al-Bayan (3/256), adalah pendapat yang menafsirkan dengan: "Sesungguhnya aku menarikmu dari bumi dan mengangkatmu ke langit." Alasannya, karena hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah SAW di antaranya hadits yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS akan turun, dan ia akan membunuh Dajjal, kemudian bertahan di muka bumi dalam jangka waktu tertentu. Sementara menurut Asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsir Fathul Qadir (1/344), yang tepat adalah bahwa Allah mengangkat nabi Isa AS ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu. Pendapat ini didukung oleh mufassir-mufassir dan dipilih oleh Ibnu Jarir at Thabari. Alasannya ialah bahwa hadits shahih dari Rasulullah SAW yang mengabarkan turunnya nabi Isa AS dan akan membunuh Dajjal.
Sebenarnya masih ada lagi pendapat selain ini yang menafsirkan bahwa Allah SWT mewafatkan Nabi Isa AS selama tiga jam di siang hari, kemudian mengangkatnya ke langit. Namun pendapat ini lemah karena tidak memiliki bukti yang akurat.