Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Kitab Samawi. Show all posts
Showing posts with label Kitab Samawi. Show all posts

Tuesday, June 13, 2017

Taurat Dan Empat Injil Perjanjian Baru Tuesday, June 13, 2017

KETIDAK-ASLIAN KITAB TAURAT
DALAM PERJANJIAN LAMA
DAN EMPAT INJIL
DALAM PERJANJIAN BARU
(Sebuah Studi Terhadap Proses Penulisan Taurat)


M. Darojat Ariyanto
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Pabelan Tromol Pos I Kartasura, Surakarta 57102


Abstrak
Tulisan ini mencoba mengkaji proses penulisan Kitab Taurat yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama dan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes Yahya) yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Hasil penulisan menunjukkan, bahwa Kitab Taurat tidak asli lagi, sebab tidak ditulis dari satu sumber saja, tetapi dari empat sumber (Yahwist, Elohist, Deuteronomis, dan Priester), ditulis oleh banyak penulis (para imam dan penulis-penulis lainnya) dari rentang waktu yang lama (antara tahun 900 SM sampai dengan 500 SM) dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacam-macam (Israel, Yehuda, dan Babilonia). Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber tadi dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat.

Adapun Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) tidak asli lagi, sebab proses penulisannya sejak dari empat dokumen (A, B, C, dan Q) menjadi Injil sementara (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya) sampai menjadi Injil yang sekarang ini atau yang definitif (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) telah terjadi banyak perubahan.

Kata kunci:
Kitab Taurat, Perjanjian Lama, Empat Injil, Perjanjian Baru.

Pendahuluan
Ada beberapa cara pemeluk agama Islam mengkritisi keaslian Kitab Taurat dan Empat Injil. Cara yang pertama, dengan menilainya dari kacamata Al Qur’an. Misalnya dengan menyatakan bahwa Kitab Taurat dan Kitab Injil yang dipakai sebagai kitab suci pemeluk agama Yahudi dan Nasrani sudah dipalsukan atau sudah ada campur tangan manusia. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat dari Al Qur’an yang memberi informasi tentang ketidakasliannya Kitab Taurat dan Empat Injil yang sekarang dipakai oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani Misalnya di dalam Surat Al An Nisaa’: 46, Surat Al Baqarah: 75, dan Surat Al Maidah: 41, diinformasikan bahwa isi Taurat sudah dirubah. Selanjutnya di dalam Surat Al Baqarah: 146 dan Surat Ali ‘Imran: 17 diinformasikan bahwa orang-oang Yahudi dan Nasrani telah menyembunyikan kebenaran tentang Muhammad. Cara ini biasanya dilakukan oleh para muballig atau da’i Muslim.

Cara yang kedua, dengan menunjukkan beberapa kontradiksi di dalam Kitab Taurat dan Empat Injil. Misalnya kontradiksi antara ajaran Tuhan Yang Maha Esa dengan ajaran Trinitas atau ajaran-ajaran lainnya baik yang ada di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Cara ini misalnya dilakukan oleh kelompok Arimatea, Irena Handono, Hasbullah Bakri, dsb.

Cara yang ketiga, dengan analisis sejarah agama yang menunjukkan bahwa ajaran Trinitas Kristen dipengaruhi oleh ajaran agama lain sebelum agama Kristen ada. Misalnya dengan menyatakan bahwa ajaran Trinitas yang ada di dalam Perjanjian Baru dipengaruhi oleh ajaran Trimurti dari agama Hindu, ajaran agama Yunani Kuno, dan sebagainya. Cara ini dilakukan oleh O. Hashem, M. Arsyad Thalib Lubis, dsb.

Adapun pada tulisan ini penulis tidak memakai beberapa cara di atas, tetapi mencoba memakai cara lain yaitu dengan cara mengkaji proses penulisan Kitab Taurat yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama dan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes Yahya) yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru.

Tulisan ini dilakukan dengan cara mengkaji beberapa literatur yang membahas tentang penulisan Kitab Taurat dan Empat Injil, terutama yang dikarang oleh pemeluk Kristen sendiri, baru kemudian dari penulis non Kristen. Setelah beberapa literatur tersebut dikaji kemudian dianalisis secara kualitaif.

Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama
Kitab Taurat merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Untuk memberi gambaran yang jelas mengenai kedudukan dan proses penulisan Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama perlulah di sini diuraikan tentang isi dari Perjanjian Lama dan proses penulisan Kitab Taurat.

1. Isi perjanjian Lama
Perjanjian Lama terdiri dari 39 Kitab, yaitu: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemis, Ester, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi (LAI, 1983: 5).

Bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Lama adalah bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani kadang-kadang disebut dengan bahasa Yehuda, bahasa Yahudi dan bahasa Kanaan. Bahasa Ibrani termasuk dalam kelompok bahasa Semitik, yaitu bahasa yang dipakai oleh orang-orang keturunan Sem, salah seorang anak Nabi Nuh. Di samping ditulis dalam Bahasa Ibrani, ada sebagian kecil Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Arami (Syria) (Santoso, 1981: 45-46).

Ke 39 kitab di dalam Perjanjian Lama diklasifikasikan menjadi tiga bagian besar, yaitu:

1.1. Taurat/Thora/Pentateuch
Bagian dari Taurat ini terdiri dari Kitab kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.
Bagian Taurat ini ditetapkan keabsahannya sebagai ukuran ajaran yang benar bagi umat Nasrani (kanonik) pada tahun 456 SM. Pada saat itu Ezra (ahli Kitab Suci dari Babel) telah membacakan Kitab-kitab Musa (Taurat/ Thora/ Pentateuch) pada bangsa Yahudi di pembuangan.

1.2. Nabi-Nabi (Nebiim)
Bagian Nebiim ditetapkan sebagai kitab kanonik pada tahun 200 SM. Kitab-kitab ini sudah ada pada masa pembuangan dan baru dibukukan sesudah masa pembuangan. Pada saat itu Yesus Sirach (190 SM) dan 12 nabi Kecil telah mengenal 3 Nabi Besar. Bagian ini terdiri dari :

a. Nabi-nabi yang terdahulu (Nebiim Risyonim), yaitu: Yosua (Yusak), hakim-hakim (Syofetim), I, II Samuel (I, II Syemuel), dan I, II Raja-raja (I, II Melakim).
b. Nabi-nabi yang terkemudian (Nebiim Akharonim). Ini terdiri dari dua bagian yaitu:
i) Nabi-nabi Besar, yaitu: Yesaya (Yesyayahu), Yeremia (Yirmeyahu) dan Yehezkiel (Yechezqel).
ii) Nabi-nabi Kecil, yaitu: Hosea (Hosyea), Yoel (Joel), Amos, Obaja (Obadyah), Yunus (Yonah), Mikha (Mikah), Nahum, Habakuk, Zefanya (Sefanyah) dan Maleakhi (Malaki).

1.3. Kitab-kitab (Ketubim)
Bagian ini disahkan sebagai kitab yang bersifat kanonik pada tahun 100 M pada Synode Jamnia. Kitab-kitab ini dihimpun pada masa sesudah pembuangan, walaupun ada bahan-bahan dari sebelum masa pembuangan, yaitu Mazmur dan Amsal. Kitab-kitab (Ketubim) ini terdiri dari: Mazmur (Tehillim), Ayub (Iyob), Amsal (Misyele), Rut (Ruth), Kidung Agung (Syir’ul- Asyar atau Syir hasysyiirim), Pengkhotbah (Alkhatib atau Qohelet), Ratapan (Nudub-Yeremia atau Ekah), Ester (Esther), Daniel, Ezra, Nehemia (Nehemiyah), dan I, II Tawarikh (I, II Dibre Hayyamim) (Naipospos, 1988: 9-10).

Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Kitab Taurat merupakan lima kitab yang pertama dari 39 kitab yang ada di Perjanjian Lama. Lima kitab di dalam Kitab Taurat ini adalah Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan.

Kitab Taurat juga merupakan bagian yang pertama dari tiga bagian besar Perjanjian Lama yang mencakup: a. Taurat, b. Nabi-nabi (Nebiim), dan c. Kitab-kitab (Ketubim).

2. Penulisan Kitab Taurat
Kitab Taurat disebut juga dengan istilah Thora atau Pentateuch merupakan lima kitab yang pertama dari 39 kitab yang ada di dalam Perjanjian Lama. Kitab Taurat terdiri dari lima kitab yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.

Beberapa peneliti Kitab Taurat menemukan beberapa kejanggalan atau keanehan di dalam Kitab Taurat. Beberapa kejanggalan tersebut antara lain sebagai berikut:

Pertama, di dalam Kitab Taurat sering terjadi pengulangan dalam isi atau cerita. Misalnya sepuluh firman Allah yang sudah disebutkan di dalam Keluaran 20 ditulis lagi dalam Ulangan 5 dengan sedikit perbedaan. Pengusiran Hagar oleh Abraham juga diceritakan dua kali, yaitu di dalam Kejadian 16 dan 21. Demikian juga masih banyak pengulangan cerita lagi di berbagai tempat.

Kedua, sering terjadi perubahan bahasa, seolah-olah penulisnya berganti dialek dalam satu bahasa. Contoh yang paling menonjol adalah nama untuk Tuhan. Sebagian teks memakai nama “Elohim” untuk Tuhan, sebagian memakai istilah “Yahwe,” dan sebagian kecil lainnya memakai kombinasi yang disengaja “Yahwe-Elohim.”

Ketiga, cerita kadang-kadang juga memberikan kesan seakan-akan tidak begitu logis dan konsekuen. Misalnya di dalam sebagian cerita, Moses sendiri yang memegang peranan paling penting. Dia mengucapkan pidato di muka Fir’aun seraya memegang tongkatnya. Tetapi di dalam cerita lain, Harunlah yang menyampaikan pidato dan memegang tongkat (Steenbrink, 1987: 100).

Berdasarkan beberapa kejanggalan tersebut, beberapa peneliti memberikan teorinya tentang penulisan Kitab Taurat.

Menurut A. Kuenen dan J. Wellhausen, Kitab Taurat ini berasal dari 4 sumber yang berbeda-beda, yaitu:

i. Sumber yang menggunakan nama “Yahwe” (Y).
ii. Sumber yang menggunakan nama “Elohim” (E).
iii. Sumber yang khususnya terdapat dalam Kitab Ulangan atau Deuteronium (D).
iv. Sumber yang terutama dipelopori oleh imam-imam yang disebut “Priester Codex” (P).

Sumber Yahwist menulis sejarah Israel dari penciptaan sampai kepada Kelepasan (Keluaran) bangsa Israel dari Mesir, dan perkembangan mereka setelah berada di Kanaan. Sumber ini muncul dan ditulis kira-kira tahun 900-800 Sm di daerah selatan (Yehuda). Ciri-ciri sumber Yahwist adalah sbb:

1) Allah selalau disebut dengan nama Yahwe; juga nenek moyang Israel sudah mengenal nama ini.
2) Pada umumnya Allah di dalam wahyu-Nya (penyataan-Nya) dilukiskan dan digambarkan dalam bentuk seorang manusia (antropomorf).
3) Sumber ini bersifat universal, Allah adalah Khalik langit dan bumi (Kej. 2: 4b dst.), dan Allah seluruh dunia dan semua manusia.

Berikutnya di dalam sumber Elohist (E), Allah disebut dengan nama Elohim. Sumber E menggunakan nama Elohim sampai cerita pemangilan Musa (Keluaran 2), dimana Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa. Jadi Musa-lah orang pertama yang mengenal nama Yahwe.

Selanjutnya sumber E lahir di Kerajaan Utara (Israel) kurang lebih tahun 800 dan 700 SM, ketika sinkretisme Baalistis melanda kehidupan agama Israel. Situasi ini diprotes oleh para nabi, terutama dibawahi oleh Nabi Elia dan Elisa. Gerakan para nabi ini mempengaruhi sumber E dan menjadi dasar kemunculan sumber tersebut. Sumber ini menitikberatkan bangsa Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah, atau menekankan hubungan yang khusus antara Allah dengan bangsa Israel. Maka sumber ini bersifat partikularistik.

Seterusnya sumber Deuteronomist (D) muncul pada tahun 622 SM di Yerusalem ketika Bait Allah sedang diperbaiki atas perintah Raja Yosia. Pada saat itu para tukang menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai Taurat (II Raja 22: 8) yang ternyata adalah sebagian dari Kitab Ulangan, yaitu fasal 12-26.

Secara teologis sumber ini menentang sinkretisme. Hal ini terlihat di dalam pembaharuan Deutoronomis, dimana kuil-kuil di luar kota Yerusalem diprotes dan ditutup, sebab kuil-kuil tersebut disebut sebagai pusat sinkretisme. Di samping itu sumber ini juga menekankan pemanggilan Allah kepada bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Konsekuensinya bangsa Israel harus mematuhi segaka perintah dan hukum-hukum Allah. Apabila mereka tidak mematuhinya, maka Allah akan menghukum dan menolak mereka.

Akhirnya sumber Imamat atau Priester codex (P) lahir kira-kira pada tahun 550 sampai 500 SM. Penulisan ini terjadi di masa bangsa Israel ditawan di Babilonia dan Bait Allah di Yerusalem hancur. Pada masa ini para imam menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya tidak hilang. Maksud P menulis ialah untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa merekalah bangsa kudus Allah. Dalam kerangka ini P sangat menekankan peranan kultus. Dengan demikian tulisan-tulisan P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan semua hal yang berhubungan dengan dengan imamat. Aturan-aturan kultus P teristimewa terdapat dalam Kitab Imamat.

Sementara itu para ahli lain menaruh perhatian pada bagian yang paling kecil dari Pentateukh, kepada bentuk sasteranya dan peranannya dalam kebudayaan bangsa Israel. Ada ahli yang menguraikan ke-empat sumber besar di atas menjadi anak-anak sumber yang lebih kecil. Misalnya sumber “Y” diuraikan menjadi Y, Y1, Y2, Y3. Sumber “E” juga diurai menjadi E, E1, E2, E3.

Selanjutnya Engnell menggantikan teori sumber ini dengan memperhatikan tradisi-tradisi lisan dan tradisi tulisan. Menurut dia setelah dalam perkembangan yang lama, tradisi-tradisi lisan dikumpulkan oleh seorang redaktur menjadi Kitab Kejadian sampai Bilangan. Sementara itu seorang redaktur lain mengumpulkannya menjadi Kitab Ulangan sampai Raja-raja (Naipospos, 1988: 17-22).

Empat Injil dalam Perjanjian Baru
Sebagaimana disebutkan di atas, Empat Injil merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Untuk dapat memahami kedudukan dan proses penulisan Empat Injil dalam Perjanjian Baru perlulah di sini diuraiakan mengenai isi dan proses penulisan dari Perjanjian Baru.

1. Isi Perjanjian Baru
Perjanjian Baru terdiri dari 27 Kitab. Nama-nama kitab tersebut adalah sebagai berikut: Matius, Markus, Lukas, Yohanes (Yahya), Kisah Para Rasul, Roma, I Korintus, II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, Wahyu (LAI, 1983: 5). Sedang istilah Kitab Injil yang biasa diketahui oleh kebanyakan orang Islam ialah empat kitab yang pertama dari Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Mereka kurang menyadari bahwa masih ada 23 kitab lain di dalam Perjanjian Baru.

Bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Baru adalah bahasa Yunani Koine. Bahasa Yunani Koine ini biasa disebut juga dengan Koine dialektos atau Hellenistik Greek atau terkadang disebut dengan bahasa Yunani umum, karena paling luas daerah pemakaiannya. Yang dipakai bukan bahasa Yunani Homeric (bahsa Yunani klasik), Attic (bahasa Yunani yang dipakai oleh penduduk di pedalaman negeri Grika, di Attica, suatu distrik dekat dengan Atena), Byzantine maupun Modern. Hanya sebagian kecil dari Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Arami (Syria) (Santoso, 1981: 46, 47).

Secara garis besar ke-27 kitab dari Perjanjian Baru dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan besar, yaitu:

a. Injil-injil dan Kisah Para Rasul
Injil-injil ini berisi kesaksian tentang perkataan dan perbuatan Yesus dimana di dalam Yesus kerajaan Allah telah datang, menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Raja Abadi, Mesias yang dijanjikan. Dia diberi gelar Kristus (Christos dalam bahasa Yunani, yang berarti yang diurapi) “Christos” (bahasa Yunani) sama dengan Masyiyah (bahasa Ibrani), sedang dalam bahasa Indonesia disebut Messias.
Adapun Kisah Para Rasul berisi tentang perkembangan kerajaan Allah sesudah Yesus naik ke sorga, sampai ke pusat dunia zaman itu (Roma).

b. Tiga Belas Surat Paulus dan Surat Ibrani.
Surat-surat Paulus menyertai dan membimbing perkembangan Gereja dan memberitakan Injil (Duyverman, 1975: 35). Ketiga belas surat Paulus ini adalah Surat Roma, I Korintus, II Korintus, Galatia, Efsus, Filipi, Kolose, I Tesalonika, II Tesalonika, I Timotius, II Timotius, Titus, dan Filemon (Yayasan, 2001: 12).

Sembilan dari Surat-surat Paulus ditujukan ke gereja-gereja dan empat buah ditujukan kepada perseorangan. Kebanyakan dari surat-surat tersebut menguraikan masalah-masalah yang timbul di gereja (kecuali Surat Efesus). Ada beberapa surat yang bernada sangat akrab (Filipi dan II Korintus) dan yang lainnya mempunyai gaya yang lebih resmi dan mirip sebuah tesis, dan dalam unsur-unsur pokoknya (tidak termasuk pembukaan dan penutup yang biasanya bersifat pribadi) menunjukkan nada yang praktis. Mungkin Surat Roma merupakan contoh yang terkemuka dari jenis ini. Selanjutnya, isi surat-surat kiriman Paulus tersebut beraneka ragam dan juga gabungan antara bagian ajaran dengan bagian praktiknya seimbang (Yayasan, 2001: 14).

Surat Ibrani berbeda dengan surat-surat lainnya, tidak ditujukan kepada jemaat tertentu tetapi berupa uraian (Duyverman, 1975: 35). Surat ini terutama membicarakan masalah penderitaan (sama dengan isi surat Yakobus dan I Petrus) (Yayasan, 2001: 14).

c. Ke-7 Surat Am
Sering juga Surat Am disebut dengan Surat-surat Katolik. Maksudnya surat-surat tersebut tidak ditujukan kepada jemaat tertentu seperti surat-surat Paulus, tetapi kepada gereja seluruhnya. Dalam bahasa Yunani-nya disebut dengan surat-surat “kath holen ten oikomenen, “ artinya bagi seluruh bumi (Duyverman, 1975: 36).
Ke-7 SuratAm ini adalah Surat Yakobus, I Petrus, II Petrus, I Yohanes, II Yohanes, III Yohanes, dan Yudas (Yayasan, 2001: 12).

Meskipun penulis surat-surat ini bermacam-macam, tetapi isinya dapat dikelompokkan menjadi dua judul utama.Pertama, beberapa surat yang terutama membicarakan masalah penderitaan (Yakobus dan I Petrus). Kedua, yang terutama membicarakan masalah ajaran palsu (I dan II Petrus, I, II, III Yohanes, dan Yudas) (Yayasan, 2001: 14).

d. Wahyu
Kitab ini termasuk jenis kitab eskhatologis dan apokaliptis, yang menghibur jemaat dalam pengembaraannya di dunia ini. Kata eskhatologis berasal dari kata Yunani ta eskala, artinya hal ihwal yang akhir, dalam arti theologios khususnya ialah akhir zaman. Sedang kata apokalptis berasal dari kata Yunani apokalyptem yang berarti membuka tudung, menyingkapkan: khususnya mengenai akhir zaman (Duyverman, 1975: 36).

Sebagaimana kitab nubuat Daniel dalam Perjanjian Lama, sebagian besar dari kitab Wahyu menguraikan penghukuman Allah pada akhir zaman terhadap “semua orang yang diam di atas bumi.” Di dalam kitab Wahyu klimaks penebusan digambarkan. Kata-kata Paulus yang pernah diucapkan sebelumnya bahwa rencana Allah ialah “mempersatukan di dalam Kristus . . . segala sesuatu” (Efesus 1: 10), telah menjadi kenyataan ketika Yohanes menulis :Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Wahyu 11: 15) (Yayasan, 2001: 15).

Gaya bahasa di dalam Perjanjian Baru bermacam-amacam. Ada kitab yang gaya bahasanya kurang baik (misalnya Kitab Wahyu), ada yang terlatih (misalnya Kitab Lukas dan Kitab Ibrani), dan ada yang sederhana (misalnya Markus). Injil yang empat (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun 170 M. Sebelum Injil yang empat ditulis di masyarakat Kristen sudah beredar surat-surat dari Paulus.

Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes/ Yahya) merupakan empat kitab yang pertama dari 27 kitab yang ada di dalam Perjanjaian Baru.

Demikian juga Empat Injil merupakan bagian yang pertama dari empat bagian besar di dalam Perjanjian Baru, yaitu: a. Injil-injil dan Kisah Para Rasul, b. Tiga Belas Surat Paulus dan Surat Ibrani, c. Ke-7 Surat Am, dan d. Wahyu.

2. Penulisan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes/Yahya)
Pada zaman modern beberapa peneliti Injil mulai mengerti bahwa setiap pengarang Injil, meskipun mengambil informasi yang ada pada pengarang lain, ia juga menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan pandangan pribadinya. Oleh karena itu beberapa ahli mulai memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, di satu pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan di lain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramik yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin merupakan suatu kumpulan yang utuh atau berupa bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai oleh setiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.

Holtzmann berteori bahwa Matius dan Lukas memakai sumber dari Markus dan dari suatu dokumen yang sekarang hilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing memakai sumber sendiri. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:


Teori di atas dikritik oleh O. Culmann sebagai berikut:
Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius tersebut belum tentu merupakan Injil Markus. Boleh jadi yang dianggap Injil Markus tersebut berupa karangan lain yang ditulis sebelumnya.

Teori tersebut mengabaikan tradisi lisan. Padahal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya setiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang merupakan tradisi lisan.

Menurut R.P. Boismard ada 4 dokumen yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C dan Q.
Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.

Dokumen B adalah interpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, keculi Matius.

Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.

Dokumen Q merupakan bagian besar dari sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebut dalam teori “dua sumber.”

Di antara 4 macam dokumen tersebut di atas tidak ada yang menjadi teks definitif yang dimiliki sekarang. Antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara yang dinamakan Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara tersebut akhirnya menjadi Injil yang empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dari satu Injil.

Bagan dari teori di atas adalah sebagai berikut:


Keterangan:
Q A B C Q = dokumen-dokumen dasar.
Mt. inter = Matius intermedier
Mk. inter = Markus intermedier
Proto Lukas = Lukas intermedier
Yahya = Yahya intermedier
Final Mt. = redaksi final Matius
Final Mk. = redaksi final Markus
Final L = redaksi final Lukas
Final Y = redaksi final Yahya

Berdasarkan informasi di atas dapatlah disimpulkan bahwa dengan membaca Injil, pembaca sama sekali tidak yakin bahwa pembaca telah membaca kata-kata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi konpensasi sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung dari Yesus, ia mendengar suara Gereja (Rasjidi, 1979: 118-123).

Ada lagi teori tentang penulisan Injil yang dinamakan teori Formgeschichte. Menurut teori ini cerita-cerita tentang kehidupan Yesus bertahun-tahun lamanya beredar di antara pengikut-pengikutnya secara lisan. Kemudian bentuk-bentuk cerita tersebut ditulis dan diklasifikasikan sesuai dengan isinya, yaitu mujizat-mujizat, nasihat-nasihat, pengajaran-pengajaran dsb. Kemudian fragmen-fragmen tersebut dikumpulkan dan dicocokkan dengan maksud penulis setiap kitab Injil. Oleh karena itu kitab-kitab Injil bukanlah merupakan laporan historis 100% dari kehidupan dan perbuatan Yesus, tetapi suatu kisah yang disusun dan ditulis untuk memenuhi kebutuhan rohani jemaat permulaan (Tulluan, t.th.: 43).

Selanjutnya Injil Matius, Markus dan Lukas mempunyai banyak cerita yang sama, bahasa yang sama, susunan kalimat dan kata-kata yang sama. Oleh karena itu dinamakan Injil synopsis. Berdasarkan beberapa persamaan ini ada dugaan:

Pertama, adanya satu sumber tulisan-tulisan yang digunakan atau dengan kata lain yang dijiplak. Berdasarkan dugaan ini, ada beberapa kemungkinan:

i. Markus, Matius dan Lukas ditulis secara sendiri-sendiri.
ii. Markus dikarang lebih dahulu, baru dipergunakan sebagai sumber oleh Matius, kemudian Lukas mengambil pula karangan Matius sebagai dasar.
iii. Markus menjadi dasar untuk Matius dan Lukas, yang mengarang Injil-injil mereka tanpa saling mempengaruhi.
iv. Markus merupakan petikan dari Markus dan Lukas.

Kedua, Injil Markus dikarang lebih dahulu. Selanjutnya Injil Matius dan Lukas ditulis kemudian lepas satu sama lain. Kedunya (Matius dan Lukas) mengambil sumber baik Injil Markus (terutama untuk ajaran-ajaran) maupun sumber lain (Q). Di samping itu masing-masing Injil (Markus, Matius dan Lukas) masih mengambil bahan-bahan khas yang diambil dari tradisi yang tersiar dalam gereja (Duyverman, 1976: 36-41).

Analisis terhadap penulisan Kitab Taurat
Berdasarkan pendapat A. Kuenen dan J. Wellhausen Kitab Taurat berasal dari empat sumber yang berbeda-beda.

Pertama, sumber “Y” (Yahwist). Sumber ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Tuhan disebut dengan “Yahwe”, antropomorf, dan universal. Sumber ini berisi tentang sejarah Israel dari penciptaan sampai kepada Kelepasan (Keluaran) bangasa Israel dari Mesir, dan perkembangannya setelah berada di Kanaan. Sumber “Y” muncul dan ditulis kira-kira tahun 900-800 SM di daerah selatan (Yehuda).

Kedua, sumber “E” (Elohist). Sumber ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Tuhan disebut dengan “Elohim” dan bersifat partikularistik. Sumberi ini menggunakan nama “Elohim” sampai cerita pemanggilan Musa (Keluaran 2) dimana Tuhan menyatakan nama-Nya kepada Musa. Jadi Musalah orang pertama yang mengenal nama Yahwe. Sumber “E” lahir di Kerajaan Utara (Israel) kuranf lebih tahun 800 – 700 SM.

Ketiga, sumber “D” (Deutoronomist). Sumber ini berisi tentang penolakan sinkretisme yang berada di kuil-kuil di luar kota Yerusalem. Sumber ini juga menekankan pemanggilan Tuhan kepada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya. Konsekuensinya bangsa Israel harus mematuhi semua perintah dan hukum Tuhan. Bila mereka tidak mematuhinya, maka Tuhan akan menghukum dan menolak mereka. Sumber “D” ada pada tahun 622 SM di Yerusalem ketika Bait Allah diperbaiki atas perintah Raja Yosia. Pada saat itu para tukang menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai taurat (II Raja 22: 8) yang ternyata adalah sebagian dari Kitab Ulangan, yaitu fasal 12-26.

Keempat, sumber “P” (Priester Codex). Sumber ini lahir kira-kira pada tahun 550-500 SM. Penulisan ini terjadi pada masa bangsa Israel ditawan di Babilonia dan Bait Allah di Yerusalem hancur. Pada masa ini para imam menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya tidak hilang. Sumber ini mengingatkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa kudus Allah. Dalam kerangka ini sumber P menekankan peranan kultus. Oleh karena itu tulisan-tulisan dari sumber P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan imamat. Aturan-aturan kultus P teristimewa terdapat di dalam Kitab Imamat.

Berdasarkan teori empat sumber di atas, dapatlah diambil suatu pengertian bahwa Kitab Taurat ditulis bukan oleh seorang penulis (Musa). Tetapi ditulis oleh banyak penulis (para imam dan penulis-penulis lainnya) dari rentang waktu yang lama (kurang lebih tahun 900 SM sampai dengan 500 SM) dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacam-macam (Israel, Yehuda, dan Babilonia). Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber di atas dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Sebagai konsekuensinya di dalam Kitab Taurat terdapat beberapa kejanggalan, misalnya dalam pengulangan isi atau cerita, perubahan bahasa, cerita tidak begitu logis dan konsekuen. Secara logis maka Kitab Taurat yang sekarang ini dipercayai sebagai kitab suci agama Yahudi dan Kristen tidak asli lagi sebagai wahyu Allah, karena sudah melibatkan banyak campur tangan manusia dari berbagai status sosial penulisnya, dari berbagai lingkungan sosio-budaya dan disusun selama berabad-abad lamanya.

Berkaitan dengan campur tangan manusia dalam penulisan Kitab Taurat ini Dr. Maurice Bucaille menyatakan:

Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah (Pentateuque) memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacam-macam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi terdahulu (Rasjidi, 1979: 39).

Selanjutnya Prof. Dr. M.M. Al A’zami dalam hal ini menyatakan:

Sebuah kesan yang salah telah terbangun di antara para pembaca umum bahwa PL telah ditransmisikan sepanjang masa secara persis kata demi kata, dan huruf demi huruf. Padahal tidaklah demikian kasusnya; bahkan “Sepuluh Perintah (The Ten Commandments) saja berbeda dalam dua versi.

Para sarjana sepakat bahwa pada akhir era pra-Masehi, teks PL dikenal dalam berbagai tradisi yang berbeda satu sama lain pada tingkat yang beragam. Untuk menyelesaikan teka-teki tipe teks yang sangat beragam ini, para sarjana telah menggunakan pendekatan-pendekatan (approaches) yang berbeda. “Frank M. Cross menafsirkan keberagaman tersebut sebagai bentuk-bentuk teks lokal Palestina, Mesir, dan Babilonia,” yang berarti bahwa setiap pusat dari pusat-pusat itu memelihara teks PL masing-masing, yang sama sekali berdiri sendiri (independent) dan tak ada hubungan apapaun dengan teks-teks yang digunakan pusat-pusat yang lain. Shemaryahu Talmon menolak teorinya Cross; sebagai gantinya dia berpendapat bahwa “para pengarang, penghimpun, dan juru tulis dulu itu menikmati apa yang bisa diistilahkan sebuah kebebasan yang terkontrol tentang keragaman teks . . . .

Dari tahap transmisi manuskripnya yang paling awal, teks Perjanjian Lama memang dikenal dalam sebuah keragaman tradisi yang berbeda satu sama lain sampai pada kadar yang beragam pula. Jadi, sementara Cross berpendapat bahwa setiap pusat (centre) menentukan bentuk teksnya masing-masing, Talmon berargumen bahwa keberagaman ini tidak disebabkan karena pusat-pusat yang berbeda, akan tetapi karena para penghimpun dan juru tulis teks-teks itu sendiri yang sejak semula memang menggunakan sedikit kebebasan dalam hal bagaimana mereka membentuk ulang teks itu. Apa pun jawabannya, wujudnya bentuk-bentuk teks yang berbeda tidak mungkin dimungkiri”. (Solihin at. all., 2005: 269-270).

Dalam konteks ini Al Qur’an, Surat An Nisa’ ayat 46 telah menyatakan:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. (Depag., 2003: 126).

Demikian juga di dalam Surat Al Maidah ayat 41 dinyatakan:
“. . . (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah” . . . (Depag.,2003: 166).

Dengan demikian informasi Al Qur’an tentang ketidakaslian Al Kitab, termasuk di dalamnya Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama, sesuai dengan hasil penelitian ilmiah modern yang menyimpulkan bahwa dalam proses penulisannya Kitab Taurat mengalami banyak perubahan.

Analisis terhadap penulisan Empat Injil
Menurut R.P. Boismard ada empat dokumen yang menjadi sumber penulisan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) yang ada sekarang ini. Untuk memudahkan keempat sumber tersebut diberi nama dokumenr A, B, C dan Q.

Dokumen A merupakan sumber yang berasal dari lingkungan Yahudi Kristen. Dokumen ini memberi inspirasi pada Matius dan Markus dalam menulis Injilnya.

Dokumen B merupakan interpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini menjadi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya dalam menulis Injilnya. Hanya Matius yang tidak mengambilnya sebagai insprasi penulisan Injilnya.

Dokumen C memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.

Akhirnya dokumen Q merupakan bagian besar dari sumber bersama yang digunakan oleh Matius dan Lukas dalam menulis Injilnya.

Di antara 4 macam dokumen tersebut di atas tidak ada yang menjadi teks definitive yang dimiliki sekarang. Di antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-rdaksi antara yang dinamakan Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara tersebut akhirnya menjadi Injil yang empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dari satu Injil.

Berdasarkan pendapat R.P. Boismard tersebut di atas jelaslah bahwa Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) yang ada sekarang ini tidak asli dari kata-kata atau perbuatan-perbuatan Yesus sendiri yang didengar, dilihat secara langsung oleh Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang kemudian ditulisnya. Injil yang ada sekarang ini berasal dari empat dokumen (A, B, C dan Q). Injil Matius ditulis berdasarkan inspirasi dokumen A, dan Q. Injil Markus ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumen A, B, dan C. Injil Lukas ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumen B, C dan Q. Akhirnya Injil Yahya ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumrn B dan C.

Selanjutnya sebelum menjadi Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang sekarang ini atau yang difinif, ternyata melalui tulisan Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) yang bersifat “sementara” yang disebut dengan istilah Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Tentu saja proses penulisan dari dokumen-dokumen A, B, C, dan Q menjadi “Injil sementara” terjadi banyak perubahan.

Akhirnya proses dari “Injil sementara” (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas, dan Proto Yahya) menjadi Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) yang ada sekarang ini atau yang “difinitif,” terjadi lagi perubahan-perubahan.

Ringkasnya proses sejak dari empat dokumen (A, B, C, dan Q) menjadi “Injil sementara” (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas, dan Proto Yahya), kemudian menjadi Injil yang sekarang ini atau yang “definitif” (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya), telah terjadi banyak sekali perubahan. Dengan kata lain Injil yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi.

Dalam hal ini Dr. Maurice Bucaille menyatakan bahwa dengan membaca Injil pembaca sama sekali tidak yakin bahwa pembaca telah membaca kata-kata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi konpensasi bahwa jika pembaca tidak dapat mendengarkan suara langsung dari Yesus, paling tidak ia telah mendengar suara gereja (Rasjidi, 1979: 123).

Beberapa perubahan yang melibatkan banyak tangan manusia di dalam penulisan Empat Injil ini telah diinformasikan di dalam Surat Al Baqarah ayat: 79 sebagai berikut:

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (Depag., 2003: 23).

Dengan demikian informasi Al Qur’an tentang ketidakaslian Al Kitab, termasuk di dalamnya Empat Injil di dalam Perjanjian Baru, sesuai dengan hasil penelitian ilmiah modern yang menyimpulkan bahwa dalam proses penulisannya Empat Injil telah mengalami banyak perubahan.

Kesimpulan
Kitab Taurat tidak asli lagi, sebab tidak ditulis dari satu sumber saja, tetapi dari empat sumber (Yahwist, Elohist, Deuteronomis, dan Priester) , ditulis oleh banyak penulis (para imam dan penulis-penulis lainnya) dari rentang waktu yang lama (antara tahun 900 SM sampai dengan 500 SM) dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacam-macam (Israel, Yehuda, dan Babilonia). Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber tadi dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Proses penulisan dari empat sumber tadi sampai ditulis oleh seorang penulis akhir menjadi Kitab Taurat telah terjadi banyak perubahan.

Sedangkan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) tidak asli lagi, sebab proses penulisannya sejak dari empat dokumen (A, B, C, dan Q) menjadi Injil sementara (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya) sampai menjadi Injil yang sekarang ini atau yang definitif (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) telah terjadi banyak perubahan.


DAFTAR PUSTAKA

  • Al Qur’an dan Terjemahnya. 2003. Jakarta: Depag.
  • Duyverman, M.E. 1975. Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  • Lembaga Alkitab Indonesia. 1983. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
  • Naipospos, P.S (ed.). 1988. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
  • Rasjidi, M (trans.). 1979. Bibel, Qur-an dan Sains Modern. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.
  • Santoso, Miriam. 1981. Bibliologi Pengantar Alkitab (Reviced). Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang.
  • Solihin, Sohirin. at. all. (trans.). 2005. Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: Gema Insani Press.
  • Steenbrink, Karel A. 1987. Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.
  • Tulluan, Ola. t.t. Introduksi Perjanjian Baru. Malang: Departemen Literatur YPPII.
  • Yayasan Penerbit Gandum Mas (trans.). 2001. Pengantar Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas.


[Sumber: Kitab Risalah]



Tuesday, November 8, 2016

Al-Quran: Fungsinya Terhadap Kitab-Kitab Suci Terdahulu Tuesday, November 8, 2016



FUNGSI AL-QUR’AN TERHADAP KITAB KITAB SEBELUMNYA 

Dalam penjelasan ini ada dua unsur pokok yang sangat penting untuk dipahami sebelum melangkah lebih jauh ke pembahasan mengenai fungsi Al-Qur’an terhadap kitab sebelumnya. Kedua unsur tersebut adalah tentang kitab dan fungsi Al-Qur’an serta hal-hal yang berkaitan dengan keduanya. 

A. Kitab-kitab Allah dan Ahlul Kitab 
Kata “kitab” atau “buku suci” digunakan dalam Al-Qur’an baik dalam pengertian umum maupun khusus. Dalam pengertian umum, kitab adalah dasar dari seluruh wahyu, sumber dari hukum Allah yang abadi dan terdiri dari firman-firman (kalimat) yang merupakan ketetapan-katetapan yang tidak dapat diubah. Sedangkan dalam pengertian khusus, kitab berarti perjanjian lama dan perjanjian baru dan juga Al-Qur’an. Tetapi Al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai wahyu yang paling sempurna atau kitab yang menyeluruh.

Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia dalam meyakini Allah SWT dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT yang artinya:

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya dan apa yang kami berikan kepada Musa dan Isa seperti apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 136). 

Nabi menerima syariat melalui wahyu yang berasal dari tuhan untuk dirinya dan juga bisa diberikan kepada selainnya, sedangkan rasul adalah seorang Nabi yang bertugas menyampaikan syariat, petunjuk aatau hal lainnya kepada sebagian umat yang menjadi tanggungannya, jadi seorang Rasul pastilah dia seorang Nabi dan dengan demikian seorang Nabi belum tentu berfungsi sebagai Rasul. Rasul menerima suhuf atau Kitab yang dalam arti harfiahnya bermakna lembaran-lembaran yang tertulis, berisi tentang syariat, perintah atau larangan. Dan diantara kitab tersebut adalah: 

  1. Nabi ibrahim AS 
  2. Nabi Musa AS, disebut Taurat, berisi hukum syariat yang ditujukan kepada Bani Israil. 
  3. Nabi Daud AS, disebut Zabur, juga ditujukan kepada Bani Israil. 
  4. Nabi Isa al-Masih AS, disebut injil yang merupakan penyempurnaan dan penjelas bagi kitab-kitab sebelumnya yaitu Zabur dan Taurat dan ditujukan juga untuk Bani Israil. 
  5. Nabi Muhammad SAW, disebut Al-Qur'an, merupakan petunjuk berupa syariat dan hukum bagi seluruh umat manusia dan sebagai penjelas dan penyempurna kitab-kitab Allah sebelumnya. 

Jadi, Al-Quran merupakan wahyu tertulis terakhir (Final Revelation) berisi tentang penjelasan segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam menempuh kehidupan di dunia agar mencapai kesejahteraan, keselamatan dengan tujuan akhir adalah kebahagiaan hidup di akhirat nanti.

Semua kitab-kitab tersebut berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. Oleh karena sumbernya satu, maka semua ajarannya adalah sejalan selaras dan bisa dijadikan dasar untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya. 

Adapun yang dimaksud sebagai ahlul kitab secara umum berarti kaum yang percaya kepada kitab agama tertentu, sebagaimana digunakan dalam Al-Qur’an. Namun istilah ini secara khusus tertuju kepada kaum Yahudi dan Kristen. Istilah ahlul kitab terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an. Pengertainnya jelas yaitu para pengikut agama yang diberikan kitab suci, khususnya Yahudi dan Kristen. Tetapi QS. Al-Baqarah ayat 62 memasukkan shabiin ke dalam kelompok Ahlulkitab dan memperluas makna istilah ini hingga mencakup semua orang yang percaya Allah dan hari akhirat serta mengerjakan amal shalih.

William Montgomery Watt mengatakan bahwa Muhammad menyandarkan pernyataan kenabian beliau berdasarkan pada kesamaan pengalaman kenabian beliau dengan pengalaman Musa dan Isa (Yesus). Maka beliau tidak dapat mengingkari kalau orang-orang Yahudi dan orang Kristen itu adalah ahli kitab, walaupun mereka nyaris hampir menyimpang dari keaslian wahyu yang diberikan kepada Isa dan Musa, sebagaimana yang diduga. 

Kendati Al-Quran memberikan argumen-argumen yang menyerang iman umat Kristen dan sebagian terbesar umat mengatakan bahwa perubahan serta ketidak murnian kitab suci Kristen dan Yahudi itu secara eksplisit disebutkan di dalam Al-Qur'an, namun persepsi pokok Al-Qur'an terhadap Yahudi dan Kristen dapat dikatakan kalau mereka adalah ahli kitab, yang menerima kitab suci, pada hakikatnya mengajarkan ajaran-ajaran yang sama seperti yang ada pada Al-qur’an. Sekalipun demikian, orang Yahudi dan orang Kristen ini nyaris hampir menyimpang dari kebenaran kitab suci yang asli, sekurang-kurangnya mereka makin memperluas ketidak mengertian dan ketidak menerimaannya kepada nabi Muhammad

B. Fungsi dan Peranan Al-Qur’an 
Al-Qur’an tidak mengkhususkan pembicaraanya kepada bangsa tertentu, seperti hanya kepada bangsa arab saja, misalnya. Begitu juga ia tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada satu kelompok tertentu, seperti kepada kaum muslim saja. Melainkan ia mengarahkan pembicaraannya kepada orang-orang non-muslim, sebagaimana ia berbicara kepada kaum muslim. Bukti tentang hal ini sangat banyak dijumpai di dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah pembicaraan Al-Qur’an yang ditujukan kepada orang-orang kafir, kaum musyrik, Ahlulkitab, Yahudi, Bani Israil, dan Kristen. Al-Qur’an mengajukan argumentasi kepada setiap golongan ini dan menyeru mereka untuk menerima ajaran-ajaran yang benar. Al-Qur’an mengajukan argumentasi kepada golongan tersebut dan mengajak mereka kepada agama islam, tanpa mengaitkan pembicaraan itu dengan bangsa arab semata. Mengenai hal ini telah terlasnir dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an, misalnya QS. Ali Imran ayat 64 dan QS. At-Taubah ayat 11.

Selain ayat-ayat yang telah disebutkan di atas, ada pula ayat-ayat yang menunjukkan universalitas dakwah islam. Di antaranya firman allah dalam QS. Al-An’am: 19, QS. Al-Qalam: 52, QS. Shaad: 87, QS. Al-Muddatstsir: 35-36. Sehingga dari sejarah kita mengetahui banyak di antara para penyembah berhala, orang-orang Yahudi, dan Nasrani yang masuk islam. Begitu pula sekelompok orang dari bangsa non-arab, seperti Salma dari Persia, Shahib dari Romawi, Bilal dari Ethiopia, dan lain-lain.

Al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam merupakan kitab suci paling sempurna dinyatakan oleh Allah sendiri dalam QS. Al-Ma’idah: 48. Mengandung hakikat syariat para nabi dalam  QS. Asyuara:13, dan meliputi segala sesuatu pada QS. An-Nahl: 89. 

Jadi, kesimpulan ayat-ayat ini adalah bahwa Al-Qur’an mengandung kebenaran-kebenaran seperti yang dijelaskan di dalam kitab-kitab samawi lainnya, namun disertai beberapa tambahan. Hal itu disebabkan karena Al-Qur’an merupakan kitab terakhir dan paling sempurna serta sebagai korektor bagi kitab-kitab yang turun sebelumnya. Muhammad Ali As-Shabuny memberikan penjelasan tentang QS. Al-Ma’idah:  48 bahwa selain mengoreksi dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, maka pada ayat selanjutnya sampai ayat 50 Allah memperingatkan rasul-Nya agar tidak mengikuti kesesatan orang-orang Yahudi dan Kristen, serta memerintahkan Nabi Muhammad untuk berpegang teguh kepada wahyu Al-Qur’an.

Al-Qur'an adalah wahyu Allah (QS. 7:2) yang berfungsi sebagai mu'jizat bagi Rasulullah Muhammad saw (QS. 17: 88; 10: 38) sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim (QS. 4: 105; 5: 49-50; 45: 20) dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya (QS. 5: 48,15; 16: 64), dan bernilai abadi. 

Sebagai mu'jizat, Al-Qur'an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur'an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (QS. 7: 158) yang hidup pada awal abad ke-VI Masehi (571- 632 M). Di antara ayat-ayat tersebut adalah: QS. 39: 6; 6: 125; 23: 12,13,14; 51: 49; 41: 11-41; 21: 30-33; 51: 7,49, dan lain-lain.

Al-Qur'an sebagai final revelation, dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan ditujukan kepada seluruh umat manusia, berisi seluruh rangkuman dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, petunjuk ke jalan yang benar, pembeda antara yang bathil dan yang hak, dan sebagai penerang. Al-Qur’an berisi segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia baik yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan, sosial, ekonomi, negara, teknologi, jual-beli (bisnis), hukum privat dan sebagainya. 

Adapun dalam hubungannya dengan kitab-kitab lain yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut, di antaranya: 

(a) Al-Qur'an menuntut kepercayaan umat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: ”Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. Al-Baqarah: 4)

(b) Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan pembukti (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. Menganai hal ini dijelaskan dalam salah satu ayat Al-Qur’an, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS. Al-Ma’idah: 48). Sebagai korektor Al-Qur'an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Qur'an sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum,prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya. 

Ayat lain yang berkaitan dengan pembenaran Al-Qur’an terhadap kitab-kitab sebelumnya juga terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 91; ”Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al-Qur'an yang diturunkan Allah," mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” 

(c). Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara umat-umat rasul yang berbeda. Mengenai perkara ini dijelaskan dalam QS. An-Nahl: 63–64; ”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” 

(d). Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat kisah-kisah mengenai kaum para rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian tentang kehidupan para rasul tersebut. Cerita-cerita itu pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh Yahudi maupun Kristen. Dengan demikian ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba'. Tsamud, 'Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah SWT. (QS. 30: 2-4; 5: 14). 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulakan bahwa Al-Qur’an dalam kaitannya dengan kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Suhuf-suhuf, memiliki fungsi yang sangat jelas. Beberapa fungsi Al-Qur’an terhadap kitab sebelumnya terlansir dalam QS. Al-Baqarah ayat 91 dan QS. Al-Ma’idah ayat 48. Di dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki peranan penting bagi kitab sebelumnya, yaitu sebagai evaluator - korektor dan sebagai pembenar isi-isi kitab tersebut. 

Dengan demikian sesungguhnya Al-Qur’an bukan hanya menyeru Ahlulkitab untuk mengamalkan ajaran agama. tapi justru mengukuhkan beberapa ajaran dasar mereka seperti ibadah pada hari sabtu, qishas, aturan makanan halal dan haram dlsb. 

Sedangkan yang dicela oleh Al-Qur’an adalah tindakan melampui batas dalam beragama (QS. Al-Ma’idah: 78), penyimpangan dalam menafsirkan ajaran agama, mengubah ayat-ayat Allah dari kebenarannya dan mempraktikkan kebohongan-kebohongan (QS. An-Nisa’: 47), mereka mengingkari perintah Allah dan berusaha menyesatkan orang lain. Dan terhadap orang-orang ini Al-Qur’an benar-benar memerintahkan kita untuk waspada, misalnya dalam QS. Ali Imran: 29 dan QS. At-Taubah:110. Tetapi meskipun Al-Qur’an mengukuhkan dan membenarkan ajaran kitab-kitab sebelumnya, bukan berarti kita diperbolehkan untuk mencampur adukkan dan mempraktikkan semua ajaran agama.

Jadi, umat islam harus harus berpegang teguh pada Al-Qur’an karena ia merupakan kitab yang paling sempurna dan terbebas dari rekayasa dan tangan jahil manusia. 

Sementara dalam kesimpulan yang cukup kontradiktif dengan pernyataan di atas, William Montgomery Watt mengatakan dalam bukunya bahwa Umat Kristen harus mengikuti kebenaran mendalam pada pernyataan Al-Qur’an agar mengakui agama Ibrahim. Umat Yahudi, Kristen, dan Islam, semua memiliki keimanan yang kembali kepada Ibrahim, sekalipun dengan nama apa saja keimanan itu diberi nama. Sementara sebagian umat islam agaknya berpikir bahwa suatu agama itu wajib tetap asli murni tidak berubah-rubah. Dalam pada itu, sebagian umat Kristen melihat agama sebagai suatu hal yang hidup yang tumbuh dan berkembang sampai-sampai menemukan kebutuhan-kebutuhan masyarakat manusia yang senantiasa menjadi dan berubah tak kenal usai, dan hanya di pusatnyalah yang tetap dan tidak berubah untuk selama-lamanya.


KEUTAMAAN AL-QURAN 


1. Al-Qur’an adalah Cahaya 
Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya Al-Qur’an dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52) 

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu Al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38) 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.”(QS. an-Nisaa’: 174) 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.” (QS. al-Baqarah: 257) 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122) 

Mengenai tafsiran ayat ini, Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata “Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35) 

2. Al-Qur’an adalah Petunjuk 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9). 

Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29). 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi Al-Qur’an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad: 24). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi Al-Qur’an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” (QS. an-Nisaa’: 82) 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123). 

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49). 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menerangkan, bahwa maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah: 
  1. Membenarkan berita yang datang dari-Nya, 
  2. Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman, 
  3. Mematuhi perintah, 
  4. Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Mu’assasah ar-Risalah) 

3. Al-Qur’an Rahmat dan Obat 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu Al-Qur’an), obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57). Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an itu obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Israa’: 82) 

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Al-Quran itu mengandung ilmu yang sangat meyakinkan yang dengannya akan lenyap segala kerancuan dan kebodohan. Ia juga mengandung nasehat dan peringatan yang dengannya akan lenyap segala keinginan untuk menyelisihi perintah Allah. Ia juga mengandung obat bagi tubuh atas derita dan penyakit yang menimpanya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465 cet. Mu’assasah ar-Risalah) 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan pasti akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan meliputi mereka, para malaikat pun akan mengelilingi mereka, dan Allah pun akan menyebut nama-nama mereka diantara para malaikat yang ada di sisi-Nya.” [HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a’ wa at-Taubah wa al-Istighfar (2699)] 

4. Al-Qur’an dan Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat serta menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka berharap akan suatu perniagaan yang tidak akan merugi. Supaya Allah sempurnakan balasan untuk mereka dan Allah tambahkan keutamaan-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Berterima kasih.” (QS. Fathir: 29-30) 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang sangat pedih. Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalian pun berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Maka niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di surga-surga ‘and. Itulah kemenangan yang sangat besar. Dan juga balasan lain yang kalian cintai berupa pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. ash-Shaff: 10-13) 

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak akan mendapatkan surga. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka berhasil membunuh (musuh) atau justru dibunuh. Itulah janji atas-Nya yang telah ditetapkan di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih memenuhi janji selain daripada Allah, maka bergembiralah dengan perjanjian jual-beli yang kalian terikat dengannya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 111) 

5. Al-Qur’an dan Kemuliaan Suatu Umat 
Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.” [HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin (817)] 

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il Al-Qur’an (5027)] 

6. Al-Qur’an dan Hasad Yang Diperbolehkan 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang diberikan ilmu oleh Allah tentang Al-Qur’an sehingga dia pun membacanya sepanjang malam dan siang maka ada tetangganya yang mendengar hal itu lalu dia berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.” Dan seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya maka dia pun menghabiskan harta itu di jalan yang benar kemudian ada orang yang berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.”.” [HR. Bukhari dalam Kitab Fadha’il Al-Qur’an (5026)]

7. Al-Qur’an dan Syafa’at 
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an! Sesungguhnya kelak ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa’at bagi penganutnya.” [HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin (804)]

8. Al-Qur’an dan Pahala Yang Berlipat-Lipat 
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” [HR. Tirmidzi dalam Kitab Tsawab Al-Qur’an (2910), disahihkan oleh Syaikh al-Albani] 

9. Al-Qur’an Menentramkan Hati 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28). Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat/merenungkan Al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan Al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324) 

10. Al-Qur’an dan as-Sunnah Rujukan Umat 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. an-Nisaa’: 59) 

Maimun bin Mihran berkata, “Kembali kepada Allah adalah kembali kepada Kitab-Nya. Adapun kembali kepada rasul adalah kembali kepada beliau di saat beliau masih hidup, atau kembali kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 14) 

11. Al-Qur’an Dijelaskan oleh as-Sunnah 
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr (Al-Qur’an) supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka mau berpikir.” (QS. an-Nahl: 44). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS.. an-Nisaa’: 80). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Rasulullah, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir.” (QS. al-Ahzab: 21) 

Mak-hul berkata, “Al-Qur’an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah dibandingkan kebutuhan as-Sunnah kepada Al-Qur’an.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 13). Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya as-Sunnah itu menafsirkan Al-Qur’an dan menjelaskannya.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah, hal. 13) 

Wallahu a’lam bish showab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. 

Sunday, July 6, 2014

Bukti Sejarah Bahwa Muhammad Memang Nabi Terakhir Yang Ditunggu Sunday, July 6, 2014

 
Dr. J. Verkuyl seorang tokoh nasrani membantah perihal kedatangan rasulullah SAW yang tanda-tandanya terungkap dalam injil, dia menulis sebagai berikut: ”Apabila orang menyangka bahwa sesudah Tuhan Yesus, masih ada orang yang datang menambah pengajaran Tuhan Yesus atau menyangka masih ada orang yang seperti Yesus, maka salahlah ia. Allah telah berfirman dan menyatakan diri sesempurnanya didalam Tuhan Yesus Kristus. 

Selanjutnya ia menulis lagi: “Jadi sesudah Kristus tidak ada lagi seorang nabi yang muncul, yang dapat menambah, mengubah, mengganti atau membatalkan pengajarannya. Sesudah Yesus tidak ada lagi seorang Nabi yg muncul yg dapat menambah, mengubah dan membatalkan ajaran Yesus. Pendapat itu menurut ajaran agama Kristen sudah seharusnya demikian. Seperti telah diterangkan, menurut ajaran agama Kristen, kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelesaikan akibat kesalahan Adam mengenai pelanggaran dalam persoalan memakan buah kayu yang terlarang. Adam telah berdosa sebab memakan sebuah buah kayu di taman Firdaus dan manusia seluruhnya telah mewarisi dosa itu. Maka Yesus sebagai anak Allah lalu datang ke dunia menjelma menjadi manusia kemudian mati disalibkan untuk menebus dosa itu. Menurut ajaran agama Kristen, Yesus telah melaksanakan tugasnya. Dengan demikian persoalannya telah selesai. Maka tidak ada yang akan di tambah dan yang akan dibatalkan lagi”.

Menurut ajaran agama Islam Yesus hanya seorang manusia yang diutus Tuhan bertugas menjadi Nabi untuk memimpin manusia pada jalan kebaikan. Ia termasuk golongan Nabi-nabi yang sudah diutus Tuhan pada zaman-zaman yang lalu dan telah melakukan tugasnya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Oleh karena manusia sesudah Yesus masih memerlukan petunjuk Tuhan yg benar dan yang lebih sempurna, maka Tuhan mengutus lagi Rasul-Nya menyampaikan petunjuk itu. Tuhan telah mengutus Nabi Muhammad SAW Sebagai Rasul yang terakhir dengan membawa petunjuk yang lebih lengkap dan sempurna.

Lebih jauh lagi, sesudah Yesus sebetulnya masih ada nabi-nabi lagi, hal ini terungkap dalam Alkitab. Antara lain:

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 11 tertulis: 

(27) Pada masa itu datanglah beberapa orang nabi dari Jeruzalem turun ke Antiochia.
(28) Maka bangkitlah seorang dari antara mereka itu bernama Agabus, lalu menyatakan dengan ilham Roh, bahwa suatu bala kelaparan yang besar akan jadi di seluruh dunia ini. Maka berlakulah yang demikian itu pada zaman Kalaudius.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 21 tertulis: 

(10) Sementara kami tinggal beberapa hari lamanya disitu, maka turunlah dari tanah Judea seorang nabi, namanya Agabus. 
(11) lalu datang kepada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat kaki tangannya sendiri serta berkata: “Inilah sabda Rohul kudus, bahwa orang yang empunya ikat pinggang ini, sedemikian inilah akan diikat di Jerusalem oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan orang kafir.

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa pada zaman rasul-rasul Yesus beberapa orang nabi telah datang dari Jerusalem ke Antiochia, seorang diantaranya bernama Agabus.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 13 tertulis: 

(1) Adalah di Antiochia di dalam sidah jumat beberapa nabi dan guru, yaitu Barnabas dan Simon yang bergelar Nigar, dan Lukas orang Kireni, dan Manahen saudara susuan Herodes, raja seperempat negeri, dan Saul.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 15 tertulis: 

(32) Maka Yudas dan Silas, yang sendirinyapun nabi juga, menyegarkan hati segala saudara itu sambil meneguhkan mereka itu dengan beberapa banyak perkataan.

Dalam ayat ini disebutkan lagi bahwa pada zaman murid-murid Yesus ada lagi seorang Nabi yang bernama Silas. Dengan demikian ternyata bahwa menurut Alkitab masih ada Nabi yang datang sesudah Yesus. Jadi Yesus bukanlah Nabi terakhir.

Menurut Yesus masih akan datang lagi Nabi yang benar kemudiannya, karena itu ia menunjukkan tanda-tandanya. Ada nabi yang benar dan ada nabi yang palsu. Oleh karena itu beliau menunjukkan tanda-tanda pengenalannya. Dalam Injil Matius pasal 7 tersebut:

(15) Jagalah dirimu dari pada segala nabi palsu, yang datang kepadamu mereka seperti serigala buas.
(16) Dari pada buah-buahnya kamu akan mengenal dia. Pernahkah orang memetik buah anggur dari pada pohon duri, atau buah ara dari pada pohon unak?
(17) Demikian juga tiap-tiap pohon kayu yang baik, berbuahkan buah yang baik; tetapi pohon kayu yang jahat, berbuahkan buah yang jahat.
(18) Tiada dapat pohon kayu yang baik berbuahkan buah yang jahat, atau pohon yg jahat itu berbuahkan buah yang baik.
(19) Tiap-tiap pohon kayu, yang tiada memberi buah yang baik, akan dipotong dan dibuangkan ke dalam api.
(20) Sebab itu dari pada buahnya kamu akan mengenal dia.

Seterusnya dalam 1 Yohanes pasal 4 tertulis demikian:

(1) Hari segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu kalau-kalau dari pada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia.
(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu dari pada Allah.
(3) dan tiap-tiap roh, yang tiada mengaku Yesus itu, bukanlah dari pada Allah, melainkan inilah roh di Dajjal, yang telah kamu dengar yang akan datang, dan sekarang ini sudah ada di dalam dunia.

Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas ini Yesus menyuruh menjaga diri dari pada nabi-nabi palsu yang akan datang. Yesus menyuruh mengenalnya dari pada buahnya, baik itu jahat. Seterusnya Yesus menyuruh pula menguji tiap-tiap roh yang datang , apakah dari pada Allah atau dari pada Dajjal. 

Keterangan Yesus ini memberi pengertian bahwa Nabi yang benar akan datang lagi sesudah Yesus, karena ia masih menyuruh memeriksa dan mengujinya dengan mengemukakan tanda-tanda Nabi dan roh yang benar itu. Seandainya tiap-tiap Nabi yang akan datang palsu, tentulah Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi ia akan memperingatkan supaya jangan mempercayai tiap-tiap Nabi yang akan datang, karena Nabi yang benar tidak akan datang lagi. 

Menurut Yesus, Nabi yang benar itu akan dapat diketahui dari pada buahnya yang baik dan dari pada ajarannya yang mengakui bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia. Tanda itu kedua-duanya telah sesuai kepada Nabi Muhammad SAW yg datang setelah Yesus. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajarannya yang lengkap dan sempurna telah mengeluarkan buah yang baik.

Dalam masa 23 tahun ia telah mengubah keadaan masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sebaik-baiknya. Seterusnya buah ajarannya yang baik itu telah mendatangkan kebahagiaan bagi manusia berabad-abad lamanya. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah mengakui bahwa Yesus Kristus benar-benar datang ke tengah-tengah kaumnya dalam keadaan sebagai manusia dan ia menolak dengan sangat tegas Yesus yang disebut-sebut sebagai anak Tuhan apalagi sebagai Tuhan sendiri.

Bukti-bukti Sejarah Bahwa Kedatangan Muhammad Memang Ditunggu-tunggu.
 

Menurut sejarah, orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang menunggu kedatangan seorang Nabi. Hal itu dapat dibuktikan oleh keterangan sejarah sbb:

1. Ketika Nabi Muhammad SAW, berumur dua belas tahun ia dibawa oleh Abu Thalib, pamannya, ikut berniaga ke negeri Syam (Syria). Ketika mereka tiba dekat suatu tempat bernama Bushra (sebuah kampung diperbatasan tanah Arab dengan Syam), mereka bertemu dengan seorang pendeta Kristen yang tinggal di tempat itu bernama Bahiera. Pendeta itu bertanya kepada mereka tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa Arab yang dijumpai dalam kitab-kitab sucinya. Ketika ia memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada Nabi Muhammad, ia mengatakan kepada Abu Tahlib bahwa suatu keadaan yang luar biasa terdapat pada anak itu dan ia berharap supaya anak itu dipelihara baik-baik. Pendeta itu melihat Muhammad senantiasa dilindungi sekumpulan awan. Dalam keterangan ini, Bahiera menyatakan bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang di tanah Arab.

2. Ketika Nabi Muhammad SAW telah berumur empat puluh tahun dan ia sedang berada di gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat yang menyatakan bahwa ia adalah Malaikat Jibril. Lalu kepada Muhammad SAW disampaikannya wahyu Al-Quran yang mula-mula. Sesudah kejadian itu, Muhammad kembali ke rumahnya dengan gemetar dan ketakutan. Khadijah, isterinya, lalu membawanya kepada seorang laki-laki yang telah tua, anak saudara bapaknya yang bernama Waraqah bin Naufal yang beragama Kristen dan pandai menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Waraqah menerangkan bahwa yang datang kepada Muhammad SAW itu adalah utusan Tuhan yang juga pernah datang kepada Nabi Musa dahulu dan Muhammad adalah Nabi bagi umat saat ini. Disini Waraqah sebagai seorang alim Kristen mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang diutus Tuhan pada masa itu.

3. Pada ketika Nabi Muhammad SAW sedang tinggal di Mekkah, ia dan kaum muslimin pernah diboikot oleh orang-orang kafir penduduk Mekkah tiga tahun lamanya, sampai mereka memakan daun-daun kayu karena ketiadaan makanan. Selama pemboikotan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyuruh sahabat-sahabatnya mengungsi ke negeri Ethiopia, Afrika, untuk meringankan penderitaan mereka. Delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan berangkat diketuai Jafar, anak Abu Thalib. Disana mereka diterima dengan baik oleh Negus, raja Ethiopia. Pada tahun yang ke tujuh hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Negus untuk mengajaknya memeluk Islam. Di Ethiopia surat itu disampaikan oleh Jafar kepada Negus. Ketika surat itu diterimanya ia berkata: “Aku menjadi saksi kepada Allah bahwa sesungguhnya dialah Nabi yang ditunggu-tunggu Ahli Kitab.”

Lalu ia menulis jawaban surat Nabi itu, antara lain katanya: “Saya mengakui bahwa tuan utusan Allah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya saya telah berbaiat kepada tuan dan telah berbaiat kepada anak saudara bapak tuan (yaitu Jafar anak Abu Thalib). Dan saya telah memeluk agama Islam dihadapannya karena Allah Tuhan semesta alam”. Negus ini sebelum memeluk agama Islam adalah seorang yang beragama Kristen. Dalam keterangannya diatas ia mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi dan Kristen.

4. Pada musim haji pada tahun kesebelas, banyak orang Arab datang berkunjung ke negeri Mekkah, diantaranya enam orang penduduk Medinah. Mereka itu acapkali mendengar dari orang-orang Yahudi yang tinggal disekeliling kota Medinah itu mengatakan, bahwa seorang Nabi akan datang pada masa itu. Manakala mereka berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan mendengar pengajarannya, teringatlah mereka kepada ucapan orang-orang Yahudi tersebut Mereka lalu berbicara dengan sesamanya : “Sebenarnya inilah Nabi yang selalu disebut-sebut orang Yahudi itu. Maka janganlah mereka mendahului kamu mengikutnya”. Mereka lalu beriman dan kembali ke negeri Medinah menjadi penyiar Islam. Sehingga pada tahun kedua belas datang dua belas orang lagi, semuanya beriman juga. Dan pada tahun ketiga belas datang pula tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, semuanya lalu masuk Islam. Dengan perantaraan penduduk Medinah yang masuk Islam itu agama Islam telah tersiar dengan semakin luas sehingga merata di tiap-tiap rumah di Medinah.

5. Pada tahun ketujuh hijrah Nabi SAW mengirim surat kepada raja-raja yang ada pada waktu itu untuk mengajak mereka memeluk Islam. Antara lain Nabi Muhammad SAW telah mengirim surat kepada Maqauqas pembesar Kibti di Mesir. Dan pembesar tersebut membalas surat Nabi itu sebagai berikut: ”Kepada Muhammad anak Abdullah, dari Maqauqas, pembesar Kibti. Salam kepada tuan. Kemudian itu saya telah membaca surat tuan dan telah memahami apa yang tuan sebutkan didalamnya dan apa yang tuan ajak. Dan sebenarnya saya mengetahui bahwa seorang Nabi masih ada lagi. Saya menduganya bahwa ia keluar di Syam (Syria). Saya telah menghormati utusan tuan.”

Maqauqas ini seorang pembesar yang beragama Kristen. Walaupun ia tidak memeluk Islam, tetapi dalam suratnya itu ia mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang lagi.

6. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Medinah, beberapa waktu kemudian beliau di datangi oleh seorang pendeta besar Yahudi, bernama Abdullah bin Salam. Setelah pendeta itu bertemu dengan Nabi, ia lalu menanyai Nabi beberapa hal. Jawaban nabi itu meyakinkan kepadanya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Sebab itu ia lalu masuk Islam. Dia berkata kepada Nabi: “Saya menyaksikan bahwa tuan adalah Rasul Allah dan tuan datang membawa kebenaran. Orang Yahudi mengetahui bahwa saya ada lah penghulu orang Yahudi dan anak penghulu mereka. Dan saya seorang alim di antara mereka dan anak dari seorang yang teralim diantara mereka. Harap tuan tanyakan kepada mereka siapa saya, sebelum mereka mengetahui bahwa saya telah Islam. Karena jika mereka nanti mengetahui saya telah Islam, akan bermacam-macam perkataan mereka mengenai saya.”

Nabi lalu memanggil orang-orang Yahudi. Mereka datang. Dan Abdullah bin Salam bersembunyi. Nabi meminta kepada mereka agar takut kepada Allah. Dan Nabi mengatakan dengan sumpah bahwa mereka mengetahui Muhammad SAW adalah benar Rasul kepada mereka yang membawa kebenaran. Lalu orang-orang Yahudi menjawab: “Kami tidak mengetahui hal ini”. Lalu Rasul bertanya: “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam pada kamu ?”. Mereka menjawab: “Dia penghulu kami dan anak penghulu kami. Dia orang yang amat alim pada kami dan anak orang yang amat alim pada kami”. Maka kata Nabi: “Bagaimana jika ia telah Islam?”. Jawab mereka: “Ia tidak akan mau masuk Islam. Tiga kali Nabi mengatakan, bagaimana jika ia telah masuk Islam. Mereka menjawab tiga kali juga mengatakan jauh sekalilah jika ia mau masuk Islam. Nabi SAW lalu menyuruh Abdullah bin Salam keluar dari tempat persembunyiannya. Iapun keluar lalu berpidato dihadapan orang-orang Yahudi itu mengajak mereka masuk Islam. Katanya: “Hai kaum Yahudi, takutlah kamu kepada Allah, Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain dari padaNya, dialah Rasul Allah yang kamu ketahui itu. Dia telah datang membawa kebenaran”.

Mendengar keterangan Abdullah bin Salam yang selama ini mereka hormati, mereka lalu berkata kepadanya: “Tuan telah berdusta!” Nabi SAW lalu menyuruh orang-orang Yahudi itu keluar. Demikianlah riwayat Abdullah bin Salam, seorang alim Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia telah menjadi saksi bahwa orang-orang Yahudi mengetahui Nabi Muhammad SAW itu benar, tetapi mereka tidak mau mengakui.

7. Dalam kisah Salman Farisi yang datang dari Persi (Iran) mencari Nabi Muhammad SAW hingga dia memeluk Islam, telah dinyatakan bahwa seorang pemuka agama Kristen memesankan kepadanya agar pergi mencari Nabi itu. Kata pemuka Kristen itu: “Hai anakku, tidak ada lagi saya ketahui sekarang seorang manusia yang seperti kita ini diantara seluruh manusia untuk tempat saya menyuruh engkau mendatanginya. Akan tetapi, sekarang telah dekat masanya seorang Nabi akan dilahirkan dengan membawa agama Ibrahim yang keluar dari tanah Arab. Tempat berhijrahnya di suatu tempat antara dua lapangan tanah yang berbatu-batu dan diatnara keduanya itu pohon-pohon kurma. Dia mau memakan pemberian, tetapi tidak mau memakan zakat. Diantara dua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup pergi ke negeri itu, lakukanlah”. Demikianlah keterangan pemuka agama Kristen itu kepada Salman Farisi. Akhirnya Salman sampai juga ke tempat itu bertemu dengan Nabi Mu hammad SAW dan memeluk Islam.

Dari bukti-bukti sejarah yang tersebut diatas ini dapat diketahui bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang benar terbukti sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang Nabi.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul.” (QS.Ali Imran 3:144)

“Tidaklah ia itu berkata-kata menurut nafsunya sendiri melainkan apa yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diberikan.” (QS. an-Najm 53:3-4)



Catatan: artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi: 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M

Contact Form

Name

Email *

Message *