Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts

Monday, May 22, 2017

Menggapai Lailatul Qadar Monday, May 22, 2017




MENGGAPAI LAILATUL QADR

Di dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang dimuliakan oleh Allah dari malam-malam lainnya. Pada malam itu Allah memberikan keutamaan dan kebaikan yang teramat banyak kepada ummat Islam.

Allah SWT pun telah menjelaskan tentang malam itu di dalam firman-Nya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِإِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَأَمْراً مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَرَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُرَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِن كُنتُم مُّوقِنِينَلَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ
"Haa Miim. Demi Kitab (al-Qur'an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Rabbmu.Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Rabb Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang menyakini. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.(Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu¡¨ (QS. ad-Dukhan [44] :1-8)

Allah Subhannahu wa Ta'ala telah menyifati malam itu dengan "mubarakah" (yang diberkahi) karena banyaknya kebaikan, berkah dan keutamaannya. Di antara berkah itu adalah bahwa al-Qur'an diturunkan pada malam Lailatul Qadr ini. Allah SWT juga menyebutkan bahwa malam itu adalah malam yang di dalamnya dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Allah SWT memerinci di dalam Lauhul Mahfudz agar ditulis para malaikat penulis berbagai hal yang ditetapkan Allah SWT sepanjang tahun, baik berupa rizki, ajal, kebaikan, keburukan dengan penuh hikmah dengan sangat jelas dan teliti, tanpa ada kekeliruan, kebodohan dan kebatilan. Demikianlah ketetapan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 

Allah Subhannahu wa Ta'ala juga telah berfirman:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِإِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِوَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍسَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan nya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. al-Qadr [97]:1-5)

Al Qadr artinya asy-Syarfu wat Ta'dzim (mulia dan agung) dan juga memiliki arti at-Taqdir wal Qadla' (ketetapan dan keputusan). Disebut demikian karena malam itu merupakan malam yang mulia dan agung yang pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai perkara penuh hikmah yang terjadi sepanjang tahun. 

Berdasarkan ayat, "hatta mathla'i'l fajr¡¨ maka batas lailatul qadr adalah jika telah terbit Fajar (Shubuh) yang menandakan selesainya berbagai aktivitas ibadah malam hari. Adapun keutamaan Laitul Qadr berdasarkan surat al-Qadr ini adalah sebagai berikut:

Bahwasanya Allah menurunkan al-Qur'an pada malam tersebut, yang dengan al-Qur'an itu manusia dapat mengambil petunjuk untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 

Dalam firman Allah yang berupa pertanyaan, "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Menunjukkan kebesaran dan keagungan malam tersebut. 

Bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan dalam hal kemuliaan dan keutamaannya. 
Pada malam itu para malaikat turun, dan tidaklah malaikat turun kecuali dengan membawa kebaikan, berkah dan rahmat. 

Malam itu penuh dengan keselamatan karena banyak orang yang diselamatkan oleh Allah dari siksa dan adzab disebabkan mereka melakukan berbagai macam ketaatan kepada Allah di malam itu. 

Bahwa pada malam itu Allah Subhannahu wa Ta'ala menurunkan satu surat yang senantiasa dibaca hingga hari kiamat. 

Ada pun keutamaan Lailatul Qadr berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam adalah seperti yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah zbahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,

"Barang siapa shalat malam pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala (ihtisab) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." 

Yang dimaksud dengan iman di sini adalah percaya kepada Allah SWT dan kepada apa yang disediakan Allah berupa pahala bagi siapa saja yang menghidupkan malam itu, sedang ihtisab memiliki arti mengharapkan pahala dan balasan. Keutamaan ini akan didapatkan oleh siapa saja, baik yang mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadr atau yang tidak mengetahuinya, karena Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak mensyaratkan bahwa yang mendapatkan pahala harus orang yang tahu Lailatul Qadr ini.

LAILATUL QADR 
HANYA ADA PADA BULAN RAMADHAN

Lailatul Qadr terjadi pada bulan Ramadhan, karena Allah SWT menurunkan al-Qur'an pada malam itu. Sedangkan Allah telah menjelaskan bahwa turunnya al-Qur'an adalah pada bulan Ramadhan. Allah berfirman:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِإِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan." (QS. al-Qadr [97]:1)

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an. sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).¨ (QS. al-Baqarah [2]:185)
Berdasarkan ayat ini maka jelas sekali bahwa Lailatul Qadr itu terjadi pada bulan Ramadhan, dan ia terus ada pada ummat ini hingga hari Kiamat berdasarkan hadits riwayat imam Ahmad dan an-Nasa'i dari Abu Dzar dia berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang Lailatul Qadr, apakah dia itu di bulan Ramadhan atau lainnya? Maka Nabi SAW menjawab, "Dia ada di bulan Ramadhan." Abu Dzar zberkata, "Dia ada bersama para nabi selagi mereka masih hidup, maka apabila para nabi meninggal apakah Lailatul Qadr itu diangkat atau tetap ada hingga hari Kiamat? Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Dia tetap ada hingga hari Kiamat."
Akan tetapi besarnya keutamaan dan pahala secara khusus bagi ummat ini hanya Allah Subhannahu wa Ta'ala yang mengetahui nya, sebagaimana ummat ini juga telah dikhusukan dengan hari Jum'at dari hari-hari lainnya dengan berbagai keutamaan -walillahil hamd-

Lailatul Qadr di Sepuluh Akhir Ramadhan
Lailatul Qadr ada pada sepuluh akhir Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi saw, "Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam akhir pada bulan Ramadhan." (Muttafaq ¡¥alaih)

Dan kemungkinan terjadi pada malam-malam yang ganjil lebih besar daripada malam-malam yang genap, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,

"Carilah lailatul qadr itu pada malam yang ganjil pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan." (HR. al-Bukhari)

Dan lebih mendekati lagi adalah pada tujuh malam terakhir berdasarkan hadits dari Ibnu Umarzbahwa beberapa orang shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi melihat Lailatul Qadr terjadi pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Maka Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Aku melihat bahwa mimpi kalian adalah benar pada tujuh malam terkahir. Maka barang siapa mencarinya maka hendaknya dia mencari pada tujuh malam terakhir." (Muttafaq alaih). Dan dalam riwayat Muslim Nabi bersabda, "Carilah ia pada sepuluh malam terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lelah atau lemah maka jangan sampai terlewatkan pada tujuh malam yang tersisa."

Dan di antara tujuh malam terakhir yang paling mendekati adalah pada malam ke dua puluh tujuh. Ini berdasarkan hadits Ubay bin Ka'ab dia berkata, "Demi Allah sungguh aku mengetahui mana malam yang pada malam itu kita semua diperintahkan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam untuk melakukan shalat malam, yaitu malam dua puluh tujuh." (HR Muslim).

Lailatul Qadr tidak terjadi pada malam tertentu secara khusus dalam setiap tahunnya, namun berubah-ubah atau berpindah-pindah. Mungkin pada suatu tahun terjadi pada malam dua puluh tujuh dan pada tahun yang lain terjadi pada malam dua puluh lima, dan demikian seterusnya sesuai dengan kehendak Allah Subhannahu wa Ta'ala dan hikmah-Nya. Ini ditunjukkan dalam sebuah sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, "Carilah ia pada sembilan terakhir, atau tujuh terakhir, atau lima terakhir." (HR. al-Bukhari).

Disebutkan di dalam kitab Fathul Bari bahwa malam itu terjadi pada malam yang ganjil pada sepuluh hari terkahir Ramadhan, dan bahwasanya dia berpindah pindah.

Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadr
Allah Subhannahu wa Ta'ala merahasiakan kapan terjadinya lailatul qadr kepada hamba-hamba-Nya tidak lain adalah sebagai rahmat bagi mereka agar mereka banyak-banyak mengerjakan amal kebaikan dalam rangka mencari malam itu. Yaitu dengan banyak melakukan shalat, dzikir, do'a dan lain-lain sehingga terus bertambah kedekatan nya kepada Allah , dan bertambah pula pahala mereka. Allah juga merahasiakan itu sebagai ujian agar diketahui siapakah yang sungguh- sungguh di dalam mencarinya dan siapa yang bermalas-malasan dan meremehkannya. Karena orang yang berkeinginan mendapatkan sesuatu maka dia pasti akan bersungguh- sungguh untuk memperolehya, tanpa mempedulikan rasa letih dalam rangka menempuh jalan untuk mencapainya.

Hanya saja di antara tanda-tanda yang sempat terlihat pada masa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam adalah bahwasanya beliau bersujud di waktu Shubuh di atas tanah yang basah oleh air, artinya bahwa pada malam itu turun hujan sehingga beliau sujud di atas tanah yang berair.

Lailatul Qadr adalah malam dibukanya seluruh pintu kebaikan, didekatkannya para kekasih Allah, didengarkannya permohonan dan dijawabnya doa. Amal kebaikan pada malam itu ditulis dengan pahala sebesar besarnya, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Maka hendaknya kita berusaha untuk menggapainya.


Sumber: Majalis Syahr Ramadhan, hal 104-107, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah (Ibnu Djawari)






Saturday, July 23, 2016

Seputar Fiqh Ibadah Pada Bulan Ramadhan Saturday, July 23, 2016

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, musim berbagai macam ibadah seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, berbuat baik, dzikir, do'a, istighfar, memohon Surga, berlindung dari masuk Neraka serta macam-macam ibadah dan amal kebajikan lainnya. 

Orang yang beruntung adalah yang menjaga setiap detik waktunya, baik di siang atau malam hari untuk berbagai amal perbuatan yang menjadikannya berbahagia serta lebih dekat kepada Allah, sesuai dengan yang diperintahkan, tanpa menambah atau mengurangi. Karena itu, setiap muslim wajib belajar tentang hukum-hukum puasa.
Seputar Fiqh Ibadah Pada Bulan Ramadhan

Friday, July 15, 2016

RAMADHAN, NINE QUESTIONS ABOUT MUSLIM HOLY MONTH YOU WERE TOO EMBARRASED TO ASK Friday, July 15, 2016



Palestinians take part in a prayer called Taraweeh on the eve of the holy fasting month of Ramadan in Gaza City, on June 17, 2015.
 MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images

The Muslim holy month of Ramadan starts Friday evening, and most of the world's 1.6 billion Muslims will be observing. This means there's a good chance you might encounter someone — a friend, a co-worker, the barista making your latte at Starbucks, your child's teacher — who is celebrating Ramadan.
But what is Ramadan, exactly? And how can I make sure I don't accidentally offend my Muslim friends and acquaintances during Ramadan?
We've got you covered: Here are the most basic answers to the most basic questions about Ramadan.

1) What is Ramadan actually about?

Ramadan is the most sacred month of the year for Muslims — the Prophet Mohammed reportedly said, "When the month of Ramadan starts, the gates of heaven are opened and the gates of Hell are closed and the devils are chained."
Muslims believe it was during this month that God revealed the first verses of the Quran, Islam's sacred text, to Mohammed, on a night known as "The Night of Power" (or Laylat al-Qadr in Arabic).
During the entire month of Ramadan, Muslims fast every day from dawn to sunset. It is meant to be a time of spiritual discipline — of deep contemplation of one's relationship with God, extra prayer, increased charity and generosity, and intense study of the Quran.
But if that makes it sound super serious and boring, it's really not. It's a time of celebration and joy, to be spent with loved ones. At the end of Ramadan there is a big three-day celebration called Eid al-Fitr, or "the Festival of the Breaking of the Fast." It's kind of like the Muslim version of Christmas, in the sense that it's a religious holiday where everyone comes together for big meals with family and friends, exchanges presents, and generally has a lovely time.
Eid presents!!!
 Cem Ozdel/Anadolu Agency/Getty Images

Despite the hardship of fasting for a whole month, most Muslims (myself included) actually look forward to Ramadan and are a little sad when it's over. There's just something really special about knowing that tens of millions of your fellow Muslims around the world are experiencing the same hunger pangs, dry mouth, and dizzy spells that you are, and that we're all in it together.

2) How does fasting work?

Fasting during Ramadan is one of the five pillars — or duties — of Islam, along with the testimony of faith, prayer, charitable giving, and making pilgrimage to Mecca. All Muslims are required to take part every year, though there are special dispensations for those who are ill, pregnant or nursing, menstruating, or traveling, and for young children and the elderly.
The practice of fasting serves several spiritual and social purposes: to remind you of your human frailty and your dependence on God for sustenance, to show you what it feels like to be hungry and thirsty so you feel compassion for (and a duty to help) the poor and needy, and to reduce the distractions in life so you can more clearly focus on your relationship with God.
During Ramadan, Muslims abstain from eating any food, drinking any liquids, smoking cigarettes, and engaging in any sexual activity, from dawn to sunset. That includes taking medication (even if you swallow a pill dry, without drinking any water). Chewing gum is also prohibited (though I didn't find that one out until about halfway through my first Ramadan after converting — oops).
Doing any of those things "invalidates" your fast for the day, and you just start over the next day. To make up for days you didn't fast, you can either fast later in the year (either all at once or a day here and there) or provide a meal to a needy person for each day you missed.
Muslims are also supposed to try to curb negative thoughts and emotions like jealousy and anger, and even lesser things like swearing, complaining, and gossiping, during the month. Some people may also choose to give up or limit activities like listening to music and watching television, often in favor of listening to recitations of the Quran.

3) What is a typical day like during Ramadan?

During Ramadan, Muslims wake up well before dawn to eat the first meal of the day, which has to last until sunset. This means eating lots of high-protein foods and drinking as much water as possible right up until dawn, after which you can't eat or drink anything. At dawn, we perform the morning prayer. Since it's usually still pretty early, many go back to sleep for a bit before waking up again to get ready for the day (I certainly do).
Muslims are not supposed to avoid work or school or any other normal duties during the day just because we are fasting. In many Muslim countries, however, businesses and schools may reduce their hours during the day or close entirely. For the most part, though, Muslims go about their daily business as we normally would, despite not being able to eat or drink anything the whole day.
When the evening call to prayer is finally made (or when the alarm on your phone's Muslim prayer app goes off), we break the day's fast with a light meal — really more of a snack — called an iftar (literally "breakfast"), before performing the evening prayer. Many also go to the mosque for the evening prayer, followed by a special prayer that is only recited during Ramadan.
This is usually followed by a larger meal a bit later in the evening, which is often shared with family and friends in one another's homes throughout the month. Then it's off to bed for a few hours of sleep before it's time to wake up and start all over again.
(Note: There are good reasons for only having a small snack to break your fast before performing the evening prayer and then eating a bigger meal later. Muslim prayers involve a lot of movement — bending over, prostrating on the ground, standing up, etc. Doing all that physical activity on a full stomach after not having eaten for 15 hours is a recipe for disaster. Just trust me on this one.)

4) So do you lose weight during Ramadan?

Some of you may be thinking, "Wow, that sounds like a great way to lose weight! I'm going to try it!" But in fact, Ramadan is actually notorious for often causing weight gain. That's because eating large meals super early in the morning and late at night with a long period of low activity bordering on lethargy in between can wreak havoc on your metabolism.
But if you're careful, you can avoid putting on weight, and you may actually lose a few pounds. One meta-analysis of scientific studies on the effects of Ramadan fasting on body weight found that "[w]eight changes during Ramadan were relatively small and mostly reversed after Ramadan, gradually returning to pre-Ramadan status. Ramadan provides an opportunity to lose weight, but structured and consistent lifestyle modifications are necessary to achieve lasting weight loss." [Italics mine.]
So just like with any other extreme diet plan, you may lose a few pounds, but unless you actually make "structured and consistent lifestyle modifications," you're probably not going to see major, lasting results.

5) Why do the dates of Ramadan change every year?

For religious matters, Muslims follow a lunar calendar — that is, one based on the phases of the moon — whose 12 months add up to approximately 354 days. That's 11 days shorter than the 365 days of the standard Gregorian calendar. Therefore, the Islamic lunar calendar moves backward approximately 11 days each year in relation to the regular Gregorian calendar.
So that means that the first day of the month of Ramadan, which is the ninth month of the Islamic lunar calendar, moves backward by about 11 days each year.
This has a large impact on how people experience Ramadan from year to year. When Ramadan falls in the winter, it's much easier to fast: the days are shorter, which means you don't have to fast as long, and it's colder out, so not being able to drink water all day isn't as big of a deal, because you're not sweating as much.
Conversely, when Ramadan falls in the summer (as it has every year since I converted, because of course), fasting can be brutal. In many Muslim countries in the Middle East and Africa, summer temperatures can reach levels usually reserved for the deepest bowels of hell.
And in some northern European countries such as Iceland, Norway, and Sweden (where, yes, there are Muslims), fasting can last an average of 20 hours or more in the summer. (And in a few places above the Arctic Circle, the sun never actually sets in the summer. In these cases, Muslim religious authorities have decreed that Muslims can either fast along with the closest Muslim country or fast along with Mecca, Saudi Arabia.)

6) Okay, but why is there always confusion every year about exactly what day Ramadan starts on?

There's a reason "Ramadan start date" is one of the most-searched phrases right now. That's because Muslims around the world do not know when exactly Ramadan is actually supposed to start. If you Google it, you'll see there's a little disclaimer under Google's answer that says "Dates may vary":

"Dates may vary." Thanks, that's super helpful.

That also has to do with the moon — as well as disagreements about science, history, and tradition, plus a bit of geopolitical rivalry.
The beginning of each new month in the Islamic calendar starts on the new moon. Which means the month of Ramadan starts on the new moon. Simple enough, right?
Wrong.
If it's been a while since your high school astronomy class, here's a reminder of what the phases of the moon look like:

Pictured: the source of much consternation and hilarity every single Ramadan.
 Griffith Observatory

Back in Mohammed's day, in sixth-century Arabia, astronomical calculations weren't as precise as they are today, so people went by what they could see with the naked eye.
Since the new moon isn't actually super visible in the night sky (as you can see above), Muslims traditionally waited to start fasting until the small sliver of crescent moon became visible. There's even a saying attributed to the Prophet Mohammed about waiting to start the fast until you see the crescent. (Some people think this is why the star and crescent is the symbol of Islam, but the crescent was used as a symbol long before Islam.)
This method was a bit messy, though, since things like clouds or just the difficulty of spotting the moon in some locations often led to different groups starting their fast on separate days, even within the same country. Each community, village, or even mosque within the village might send its own guy out to look for the crescent, with rival groups arguing over whether the other guy really saw it or not.
Today, however, we have precise scientific calculations that tell us exactly when the new moon begins, and we don't need to wait until someone spots a tiny crescent in the sky. (In fact, according to the Oxford Dictionary of Islam, "The need to determine the precise appearance of the hilal [crescent moon] was one of the inducements for Muslim scholars to study astronomy.")
So, problem solved! Except that some Muslim scholars believe we should still wait until the slight crescent moon is visible in the night sky, because that's what Mohammed said to do and that's the way we've always done it.
Others argue that Islam has a strong tradition of reason, knowledge, and science, and that if Mohammed were around today he'd choose the more precise scientific calculations over sending the guy at the mosque with the best eyesight outside to squint at the night sky.
To make things even more fun, some argue that the whole world should just follow the official moon-sighting decrees of Saudi Arabia, the birthplace of Islam and the location of its holiest sites. But not everyone thinks that's such a swell idea — especially rival countries like Pakistan and Iran, which balk at the idea of treating Saudi Arabia as the ultimate authority on anything having to do with Islam.
All this means that each year Muslims around the world get to experience the delightful lunacy of "moon-sighting fighting." Indeed, it's such a familiar feature of Ramadan that there are memes about it:

Yes, Muslims use this meme too. There's really no escaping it.

7) Are there differences between how Sunni Muslims and Shia Muslims observe Ramadan?

For the most part, no. Both Sunni and Shia Muslims fast during Ramadan. But there are some minor differences — for instance, Sunnis break their daily fast at sunset, when the sun is no longer visible on the horizon (but there's still light in the sky), whereas Shia wait until the redness of the setting sun has completely vanished and the sky is totally dark.
Shia also celebrate an additional holiday within the month of Ramadan that Sunnis do not. For three days — the 19th, 20th, and 21st days of Ramadan — Shia commemorate the martyrdom of Ali ibn Abi Talib, the cousin and son-in-law of the Prophet Mohammed who was both the revered fourth caliph of Sunni Islam and the first "legitimate" imam (leader) of Shia Islam.
Ali was assassinated in the fierce civil wars that erupted following the death of Mohammed over who should lead the Muslim community in his stead. On the 19th day of the month of Ramadan, while Ali was worshipping at a mosque in Kufa, Iraq, an assassin from a group of rebels who opposed his leadership fatally struck him with a poisoned sword. Ali died two days later.
Ali is a hugely important figure in Shia Islam. His tomb in nearby Najaf, Iraq, is the third-holiest site in Shia Islam, and millions of Shia make pilgrimage there every year. Although Sunnis revere Ali as one of the four "rightly guided" caliphs who ruled after Mohammed's death, they do not commemorate his death or make pilgrimage to his tomb.

The tomb of Ali ibn Abi Talib in Najaf, Iraq.
 Toushiro, public domain

8) What can I do to be respectful of my Muslim friends during Ramadan?

In some Muslim countries, it is a crime to eat and drink in public during the day in the month of Ramadan, even if you're not Muslim.
Of course, this is not the case in the United States, where we enjoy freedom of (and freedom from) religion. And most American Muslims, myself included, don't expect the non-Muslims around us to radically change their behavior to accommodate our religious fast during Ramadan.
I've had friends and co-workers who have chosen to fast along with me out of solidarity (or just because it seems "fun"), and that was sweet of them, but it's not something I ever expected people to do. (Plus, they usually last about four days before they decide solidarity is overrated and being thirsty for 15 hours is not even remotely "fun.")
All that said, there are things you can do — and not do — to make things a little easier for friends or colleagues who happen to be fasting for Ramadan. If you share an office with someone fasting, maybe eat your delicious, juicy cheeseburger in the office break room rather than at your desk, where your poor, suffering Muslim co-workers will have to smell it and salivate (if they even have enough moisture left in their bodies to salivate at that point).
Try to remember not to offer them a bite or a sip of what you're eating, because it's sometimes hard for us to remember that we're fasting and easy to absentmindedly accept and eat that Lay's potato chip you just offered us. But if you do, it's okay. We're not going to get mad or be offended (unless you're doing it on purpose, in which case, what is wrong with you?).
If you're having a dinner party and you want to invite your Muslim friends, try to schedule it after sunset so they can eat. Muslims don't drink alcohol or eat pork, but we usually don't mind being around it. (Contrary to popular belief, we are not scared of or allergic to pork; we just don't eat it. It's not like we're vampires and pork is garlic.) But do let us know if there's alcohol or pork in something so we don't accidentally eat it.
If you want to wish your Muslim friends or acquaintances a happy Ramadan, you're welcome to just say, "Happy Ramadan!" That's not offensive or anything. But if you want to show them you made an effort to learn more about their religion, the standard Ramadan greetings are "Ramadan kareem" (which means "have a generous Ramadan") or "Ramadan mubarak" (which means "have a blessed Ramadan").
Even something as simple as learning one of those expressions and saying it with a smile to your Muslim friends will go a long way toward making them feel comfortable and welcome.

9) So if you're not supposed to get angry or complain or gossip during Ramadan, how come terrorist attacks by groups like ISIS and al-Qaeda always seem to spike during Ramadan?

Because terrorists are assholes.

[Source: VOX | Updated by 

Thursday, August 4, 2011

Nikmat Bulan Suci Ramadhan Thursday, August 4, 2011

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, kami sajikan risalah ini dengan mengharap kepada Allah agar menjadikan amalan-amalan kita semua ikhlas semata-mata karena-Nya. Dan sesuai apa yang dibawa nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, maka kami sampaikan dengan mengharap pertolongan dn ridha Allah subhanahuwata'ala:

1. Tidak ada keraguan lagi bahwasannya di antara nikmat Allah subhanahu wata’ala yang dianugerahkan kepada hamba-Nya adalah bulan Ramadhan yang mulia ini. Allah subhanahu wata’ala menjadikan bulan ini sebagai bulan terkumpulnya segala kebaikan dan kesempatan untuk melaksanakan amalan-amalan shalih. Dan Allah subhanahu wata’ala mencurahkan nikmat kepada hamba-Nya pada bulan ini dengan nikmat-nikmat yang telah lalu, dan nikmat yang terus-menerus.

Pada bulan ini Allah subhanahu wata’ala menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelas dari Al-Huda dan Al-Furqan. Padanya terjadi perang Badar kubra, dimana Allah subhanahu wata’ala memuliakan Islam dan kaum muslimin serta menghinakan kesyirikan dan para pelakunya, sehingga hari tersebut dinamakan dengan Yaumul Furqon (Hari Pembeda antara yang benar dan yang batil). Padanya pula terjadi Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) yang dengannya Allah mensucikan Baitul Haram dari berhala-berhala, dan umat manusia pun berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam.

Barangsiapa berpuasa pada bulan ini karena iman dan mengharap ridha serta pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menunaikan Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mengharap ridha serta pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam (shalat tarawih) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap ridha serta pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu.

2. Shalat tarawih yang kita lakukan di bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala sebagaimana yang telah disebutkan di atas, akan mendapatkan keutamaan sebagaimana penjelasan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai maka dicatat baginya seperti shalat semalam suntuk.”

Ini merupakan nikmat yang besar, tidak sepantasnya bagi seorang mukmin untuk meninggalkannya, bahkan sudah seyogyanya ia menekuninya, serta menjaga shalat tarawih bersama imam dari awal hingga akhirnya.

3. Mayoritas dari para imam masjid mempercepat ruku’ dan sujud di dalam shalat tarawih sehingga memberatkan para makmum yang shalat di belakangnya. Bahkan tidak jarang sebagian para imam sangat cepat (shalatnya) sehingga dapat menghilangkan tuma’ninah. Padahal tuma’ninah itu merupakan rukun shalat, dan tidaklah sah shalat seseorang tanpa adanya tuma’ninah. Kalaupun sekiranya dia tidak meninggalkan tuma’ninah, ia akan menghilangkan kebersamaan gerakan makmum. Karena tidak memungkinkan bagi mereka mengikuti imam secara sempurna karena cepatnya gerakan imam.

Berkata para ulama -semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati mereka: “sesungguhnya makruh hukumnya bagi seorang imam mempercepat gerakan yang menghalangi makmum untuk mengerjakan perkara sunnah.” Maka bagaimana kalau sekiranya dia sampai menghalangi makmum untuk mengerjakan perkara yang wajib?

Maka harapan kita bagi para imam untuk membimbing jamaah yang shalat yang menjadi makmum di belakangnya, agar menunaikan shalat tarawih dengan penuh tuma’ninah. Hendaknya para imam mengetahui bahwa shalat yang mereka kerjakan itu dalam rangka menghadap kepada maula (Rabb mereka) dalam keadaan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya dengan membaca kalam-Nya, bertakbir kepada-Nya, mengagungkan-Nya, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya dengan sesuatu yang mereka cintai dari kebaikan dunia dan akhirat. Mereka akan lebih di atas kebaikan jika mereka ingin menambah ssedikit waktu, dan sebenarnya perkara ini sangatlah mudah walhamdulillah.

4. Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kewajiban bagi seluruh kaum muslimin yang mukallaf, yang memiliki kemampuan dan yang bermukim untuk ber-shaum. Adapun bagi anak kecil yang belum baligh, maka tidak ada kewajiban baginya. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ : وَذَكَرَ: الصَّبِي حَتَّى يَبْلُغَ
“Telah diangkat pena dari 3 golongan, (dan disebutkan diantaranya) Anak kecil sampai ia baligh.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi].

Akan tetapi sudah merupakan kewajiban bagi orang tua agar memerintahkan anak-anaknya untuk ber-shaum apabila telah sampai pada batasan yang anak tersebut mampu untuk ber-shaum. Karena hal itu termasuk bagian pendidikan dan latihan baginya untuk mengerjakan rukun-rukun Islam. Kita melihat sebagian orang tua membiarkan anak-anaknya, mereka tidak memerintahkan shalat dan puasa, maka ini adalah suatu kesalahan. Sesungguhnya dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Dalam keadaan mereka menyangka dengan tidak menyuruh anak-anak mereka shaum itu sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang kepada mereka.

Dan pada hakekatnya, orang tua yang berlemah lembut dan berkasih-sayang kepada anak-anaknya adalah orang tua yang melatih mereka di atas perilaku kebaikan, bukan orang tua yang mengabaikan tentang pengajaran dan pendidikan yang bermanfaat bagi mereka.

Sedangkan hukum bagi orang yang gila, pikun, dan semisalnya, maka tidak ada kewajiban bagi mereka shaum dan membayar fidyah, karena tidak adanya akal pada mereka. Adapun orang yang lemah tapi bisa diharapkan hilangnya kelemahan darinya, hukumnya seperti orang sakit yang bisa diharapkan kesembuhannya, maka dia menunggu sampai Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan-Nya, kemudian ia meng-qadha’. Berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala:

أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah[2]: 184)

Adapun orang lemah (tua) yang tidak bisa diharapkan hilangnya kelemahannya seperti orang tua (jompo) dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka tidak ada kewajiban shaum baginya. Namun dalam hal ini ia berkewajiban memberikan makan setiap hari seorang fakir miskin.

Adapun wanita yang haidh dan nifas, maka tidak ada kewajiban untuk ber-shaum. Namun ia meng-qadha’ setelah suci sejumlah hari yang ia tinggalkan. Dan jika haidh atau nifas itu terjadi di siang hari, maka batal shaumnya. Dan wajib baginya untuk mengganti di hari yang lain sejumlah hari yang dia tidak berpuasa karena haidh/nifas. Sebagaimana pula jika berhentinya darah haidh atau nifas di tengah hari bulan Ramadhan, maka wajib baginya untuk menahan diri (tidak makan dan minum) dari sisa waktu shaum. Akan tetapi, ia tidak menganggap itu sebagai shaum yang sempurna, bahkan dia tetap wajib meng-qadha’-nya.

Adapun bagi seorang musafir, maka ia diberi pilihan. Jika ia mau, boleh baginya berpuasa dan boleh baginya untuk berbuka. Kecuali apabila shaum itu memberatkan baginya maka sesungguhnya yang lebih baik baginya adalah berbuka. Dan dimakruhkan baginya untuk berpuasa karena perbuatan itu dapat memalingkan dan meremehkan rukhshah (keringanan) yang telah diberikan oleh Dzat Yang Maha Penyayang lagi Maha Mulia (Allah subhanahu wata’ala). Jika shaum tidak memberatkan baginya dan kebutuhannya tetap terpenuhi, maka ber-shaum lebih utama baginya. Sebagaimana hadits Abu Darda’ yang terdapat di dalam Ash Shahihain, ia berkata:

“Kami keluar bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca yang sangat panas sampai salah seorang di antara kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panas yang sangat, dan tidak ada di antara kami yang berpuasa, kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan Abdullah bin Rawahah.” [HR. Abu Darda]

Semoga bermanfaat!

Thursday, August 26, 2010

Keajaiban Bulan Ramadhan Thursday, August 26, 2010


Segala puji bagi Allah semata, shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam beserta seluruh keluarga dan sahabatnya, para tabi'in, tabi'ut tabi'in, 
dan seluruh mukminin yang memegang teguh syari'at Islam hingga akhir zaman.

Selama Ramadhan, Imam Syafi’i menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam shalat.


20 KEAJAIBAN RAMADHAN!


Selama Ramadhan, Allah memerintahkan seluruh penghuni surga berhias. Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” [HR. Baihaqi]. Itulah sisi menarik keajaiban bulan Ramadhan yang tak banyak orang tahu.

1. Ramadhan jalan menuju ketaqwaan

Allah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (QS Al Baqarah [2]: 183).

Ayat di atas menerangkan bahwa puasa adalah sarana yang bisa mengantarkan pelakunya menuju ketaqwaan, karena puasa mampu meredam syahwat. Ini sesuai dengan salah satu penafsiran yang disebutkan Imam Al Qurthubi, yang berpatokan kepada hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai.

2. Ramadhan bulan mujahadah
Para ulama’ salaf adalah suri tauladan bagi umat, mujahadah mereka dalam mengisi bulan Ramadhan amat perlu dicontoh.

  • Seperti Imam Asyafi’i, dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran dua kali dalam semalam, dan iti dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan.
  • Imam Abu Hanifah juga menghatamkan Al-Quran dua kali dalam sehari selama Ramadhan.
3. Puasa Ramadhan menumbuhkan sifat amanah
Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al Fiqh Al Islami berpendapat bahwa puasa mengajarkan rasa amanat dan muraqabah di hadapan Allah Ta’ala, baik dengan amalan yang nampak maupun yang tersembunyi. Maka tidak ada yang mengawasi seseorang yang berpuasa agar menghindari hal-hal yang dilarang dalam berpuasa kecuali Allah Ta’ala

4. Puasa Ramadhan melatih kedisiplinan
Puasa juga melatih kedisplinan, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa seorang yang berpuasa harus makan dan minum dalam waktu yang terbatas. Bahkan dalam berbuka puasa pun harus disegerakan.

5. Puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim
Wahbah Zuhali juga menjelaskan bahwa puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas di antara sesama muslim. Pada bulan ini semua umat Islam, dari timur hingga barat diwajibkan untuk menjalankan puasa. Mereka berpuasa dan berbuka dalam waktu yang sama, dikarenaka mereka memiliki Rabb yang satu.

Seorang yang merasa lapar dan dahaga akhirnya juga bisa ikut merasakan kesengsaraan saudara-saudaranya yang kekurangan atau tertimpa bencana. Sehingga tumbuh perasaan kasih sayang terhadap umat Islam yang lain.

6. Puasa Ramadhan melatih kesabaran
Bulan Ramadhan adalah bulan puasa di mana pada siang hari kita diperintahkan meninggalkan makanan yang asalnya halal, terlebih lagi yang haram. Begitu pula di saat ada seseorang mengganggu kita. Rasulullah Saw. bersabda: “Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata 'Sesungguhnya aku sedang puasa." (HR. Bukhari)

7.
Puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit.
Rasulullah bersabda: ”Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Sunni), ada yang menyatakan bahwa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahwa derajat hadits ini sampai dengan tingkat hasan (lihat, Fiqh Al Islami wa Adilatuh, hal 1619).
Tapi makna matan hadist bisa tetap diterima, karena puasa memang menyehatkan. Al Harits bin Kaldah, tabib Arab yang pernah mengabdi kepada Rasulullah Saw. juga pernah menyatakan: ”Lambung adalah tempat tinggal penyakit dan sedikit makanan adalah obatnya”.

  • Rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahwa puasa menempa tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.
8. Lailatul Qadar adalah hadiah dari Allah untuk umat ini
Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha’, dia telah mendengar dari seorang ahlul ilmi tsiqah yang telah mengatakan: “Sesungguhnya telah diperlihatkan usia-usia umat sebelumnya kepada Rasulullah Saw., atau apa yang telah Allah kehendaki dari hal itu, dan sepertinya usia umat beliau tidak mampu menyamai amalan yang telah dicapai oleh umat-umat sebelumnya, maka Allah memberi beliau Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.” (HR. Malik).

9. Ramadhan bulan ampunan.
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, Rasulullah Saw. bersabda: “Dan siapa yang berpuasa Ramadhan dengan didasari keimanan dan pengharapan ridha Allah, diampunkan untuknya dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari)

10. Siapa yang dilihat Allah, maka ia terbebas dari adzab-Nya
Dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda: ”Pada bulan Ramadhan umatku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku. Yang pertama, sesungguhnya jika Allah melihat mereka di awal malam dari bulan Ramadhan, dan barang siapa yang telah dilihat Allah maka Ia tidak akan mengadzabnya selamanya…” (HR. Baihaqi).

11. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari misk di hadapan Allah..
Rasulullah Saw. bersabda: ”…Yang kedua, sesungguhnya bau mulut mereka ketika sore hari lebih harum di hadapan Allah daripada bau misk…” (HR. Baihaqi).

12. Di Bulan Ramadhan para malaikat meminta ampunan untuk umat ini
Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang ketiga, sesungguhnya para malaikat meminta ampunan untuk mereka siang dan malam…” (HR. Baihaqi).

13. Di bulan Ramadhan sorga berbenah diri
Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” (HR. Baihaqi).

14. Di malam akhir Ramadhan Allah mengampuni umat ini
Rasulullah Saw. bersabda: ”…Adapun yang kelima, sesungguhnya jika tiba malam terakhir Ramadhan Allah memberi ampun kepada mereka semua". Lalu bertanyalah seorang lelaki dari sebuah kaum: ”Apakah itu lailatul qadar? Beliau bersabda: ”Bukan..! apakah kau tidak mengetahui perihal orang-orang yang bekerja, jika mereka selesai melakukan pekerjaan maka imbalannya akan dipenuhi". (HR. Baihaqi)

15. Pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu
Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu sorga dan ditutuplah pintu neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu". (HR. Bukhari).

Dalam Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa makna hadits di atas bisa bermakna haqiqi, yaitu pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup serta syaitan dibelenggu secara haqiqi, sebagai tanda datangnya Ramadhan sekaligus pemulyaan terhadapnya. Tapi bisa juga bermakna majaz yang mengisyaratkan besarnya pahala dan ampunan di bulan itu, sehingga syaitan seperti terbelenggu.

16. Pahala syuhada bagi yang melakukan kewajiban dan menghidupkan Ramadhan
Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi Saw. Dan mengatakan: ”Wahai Rasulullah, tahukah anda jika saya telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya anda adalah utusan Allah, aku juga telah melakukan shalat lima waktu, juga telah menunaikan zakat, serta aku telah berpuasa Ramadhan dan menghidupkannya, maka termasuk golongan siapakah saya? Rasulullah Saw. Bersabda: “Termasuk dari orang-orang yang sidiq dan syuhada’”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

17. Pahala amalan bulan Ramadhan berlipat ganda
Dari Salman ra., bahwasannya Rasulullah Saw. berkhutbah di hari terakhir bulan Sya’ban: ”Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan agung yang penuh berkah. Bulan yang terdapat di dalamnya sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban, dan qiyamul lail sebagai hal yang disunnahkan, barang siapa mendekatkan diri di dalamnya dengan perbuat kebajikan, maka ia seperti mengerjakan kewajiban selainnya, dan barang siapa mengerjakan kewajiban di dalamnya, maka ia seperti mengerjakan tujuh puluh kewajiban selainnya…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

18. Seluruh hari dalam Ramadhan memiliki keutamaan
Rasulullah Saw. bersabda: “…Dia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, serta paripurnanya adalah pembebasan dari neraka…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

19. Keutamaan memberi minum orang yang berpuasa
Allah akan memberi minum kelak di akhirat Rasulullah Saw. bersabda: “Dan barang siapa memberi minuman orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya dari telaga minuman yang tidak menghauskan hingga ia masuk ke dalam sorga”. (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya).

20. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan
Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan.” (HR.Tirmidzi).



[Dikutip dari Majalah Hidayatullah September 2007]



Contact Form

Name

Email *

Message *