Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Habluminanas. Show all posts
Showing posts with label Habluminanas. Show all posts

Thursday, September 29, 2016

Adab Menjenguk Orang Sakit Dan Mengurus Jenazah Thursday, September 29, 2016

KEUTAMAAN MENJENGUK ORANG YANG SAKIT
1. Hak dan kewajiban sesama muslim

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: حق المسلم على المسلم ست, قيل ماهن يا رسول الله؟ قال: إذا لقيته فسلم عليه, وإذا دعاك فأجبه, وإذا استنصحك فانصح له, وإذا عطس فحمد الله فشمته, وإذا مرض فعده, وإذا مات فاتبعه. (روى البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

2. Mendapatkan permohonan ampun dan keselamatan dari Malaikat

APA YANG DISYARI’ATKAN BAGI YANG SAKIT?
1. Ridho dan Sabar terhadap ketentuan Allah. Yang dimaksud dengan sabar adalah menahan jiwa dari penderitaan, menahan lisan dari mengumpat, serta menahan anggota tubuh dari merusak atau merobek-robek pakaian dan yang semisalnya.

روى مسلم عن صهيب بن سنان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: عجبا لأمرالمؤمن إن أمره كله له خير, وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكرفكان خيراله, وإن أصابته ضراء صبرفكان خيراله

2. Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

روى مسلم عن جابر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول قبل موته بثلاث: لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله عز وجل.

3. Memiliki rasa takut dan harap. Takut akan hukuman Allah karena dosa-dosanya dan mengharapkan rahmat Rabb-nya.

روى الترمذي وابن ماجه عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل على شاب وهو في الموت: فقال: كيف تجدك؟ قال والله, يا رسول الله, إني أرجوالله وإني أخاف ذنوبي. فقال صلى الله عليه وسلم: لا يجتمعان في قلب عبد في مثل هذا الموطن إلا أعطاه الله ما يرجو وآمنه مما يخاف.

4. Sekalipun berat penderitaan, tidak boleh mengharapkan kematian.

روى البخاري ومسلم عن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يتمنين أحد منكم الموت لضر نزل به: فإن كان لابد متمنيا للموت فليقل: اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرالي, وتوفني إذا كانت الوفاة خيرالي.

5. Memperbanyak taubat dan memohon ampunan dari Allah.
6. Diharamkan berobat dengan sesuatu yang dapat merusak aqidah, seperti menggantungkan jampi-jampi yang mengandung kalimat syirik/nama-nama asing. Berobat kepada dukun dan sejenisnya.
7. Dianjurkan berobat dengan ruqyah yang disyari’atkan, seperti ayat-ayat al-Qur’an dan do’a-do’a dari Nabi. Ibnu Qayyim berkata: ’Yang termasuk pengobatan paling tepat adalah melakukan kebaikan, berzikir, dan berdo’a juga tunduk kepada Allah dengan taubat."
8. Dibolehkan berobat dengan obat-obat yang mubah.
9. Bila ada hak yang harus ditunaikan, maka sampaikanlah kepada teman atau saudaranya bila hal itu memudahkannya, namun bila tidak maka berwasiatlah.
10. Menulis wasiat.

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT
1. Duduk di samping kepalanya.
2. Menanyakan keadaannya.
3. Menanyakan keinginannya.
4. Mengusap tubuh yang sakit dengan tangan kanan.
5. Mendoakannya.

قال النبي صلى الله عليه وسلم: اللهم رب الناس أذهب البأس واشفه: أنت الشافي, لا شفاء إلا شفاؤك شفاء لا يغادر سقما. (أخرجه البخاري ومسلم)
6. Mengunjungi yang sakit bisa dilakukan kapan saja.

TANDA-TANDA SAKARATUL MAUT
1. Ujung jemari kaki menjadi dingin.
2. Dahi mengeluarkan keringat. 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: موت المؤمن بعرق الجبين.
3. Gelisah dan takut.
4. Kerongkongan dan dadanya berbunyi karena napas dan ruh yang akan keluar.

HAL-HAL YANG DILAKUKAN KERABAT MAYIT
1. Menghadapkannya ke arah kiblat.
2. Mentalkinkannya dengan Kalimat syahadatain.

روى مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لقنوا موتاكم لا إله إلا الله.
وروى أبو داود والحاكم عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة.

TATACARA TALKIN
1. Tuangkan beberapa tetes air ke bibir dan kerongkongannya, agar mudah mengucapkan syahadat. Bisa menggunakan siwak, kain, atau kapas.
2. Usap wajah dan keningnya dengan kain basah.
3. Bersiwak bila memungkinkan.
4. Duduk di samping kepalanya seraya mentalkinkannya.
5. Dengan kalimat perintah serta panggil dengan panggilan kesukaannya kemudian lakukan tiga kali berturut-turut.
6. Dengan membimbing atau mencontohkannya. Hal itu dilakukan bila orang tsb tidak merespon cara yang pertama.

HAL-HAL YANG HARUS DIJAGA DAN DIPERHATIKAN
1. Apabila orang tersebut mengulang-ulang syahadat, maka tidak perlu ditalkinkan.
2. Apabila telah mengucapkan syahadat, maka jangan ditalkinkan lagi kecuali bila ia mengucapkan kalimat lain atau pingsan.
3. Tidak disukai mentalkinkan yang sedang sakaratul maut dengan merengek-rengek lebih dari tiga kali.
4. Apabila menggerakkan jari telunjuknya dan memberikan isyarat syahadat, serta tidak mampu mengucapkannya, maka tdk ditalkinkan.
5. Mendo’akannya serta tdk berkata kecuali yang baik-baik saja.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا حضرتم المريض أو الموت فقولوا خيرا, فإن الملائكة يؤمنون على ما تقولون (رواه مسلم)

6. Bila dia orang yang memiliki iman yang kuat atau orang kafir, maka ditalkinkan dengan cara pertama (perintah). Jika ia muslim yang lemah imannya, menggunakan cara yang kedua (bimbing).
7. Boleh seorang muslim mengunjungi orang kafir saat sakaratul maut untuk menawarkan keislaman kepadanya.

كما في حديث أنس رضي الله عنه السابق عند ما عاد النبي صلى الله عليه وسلم الغلام اليهودي, حضوره صلى الله عليه وسلم وفاة عمه أبي طالب.
8. Tidak mengkhususkan membaca surat yasin, akan tetapi boleh dibacakan surat-surat lain dari al-qur’an untuk mengingatkannya dan melembutkan hatinya.

TANDA-TANDA KEMATIAN
1. Terbelalak dan terbaliknya mata, karena mata mengikuti arah ruh ketika keluar dari jasad.
2. Berubahnya batang hidung ke kanan atau ke kiri.
3. Berpautnya betis antara satu dengan yang lainnya.
4. Turunnya rahang.
5. Jantung atau nadi berhenti berdetak.
6. Terlepasnya persendian tulang.
7. Kulit menjadi tegang terutama di bawah ketiak.
8. Suhu tubuh menjadi dingin seluruhnya.
9. Tubuh menjadi keras dan kaku terutama jika mayit telah meninggal cukup lama.
10. Perubahan dalam bau.
11. Hilangnya tanda hitam pada mata, terutama pada mayit dewasa.

• Apabila seseorang mati mendadak, maka tunggulah sesaat hingga muncul tanda-tanda tersebut. (minta bantuan dokter/ahli)
• Benar-benar memastikan tanda-tanda yang sudah ada.

HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH MENINGGAL
1. Memejamkan kedua matanya.
2. Mengikat kedua bibirnya.
3. Menggerak-gerakkan dan melemaskan persendiannya.
4. Mengikat kedua kakinya agar tidak keluar kotoran.
5. Melepaskan pakaiannya dengan tetap menjaga auratnya.
6. Meletakkan sesuatu yang berat di atas perutnya agar tdk kembung.
7. Meletakkannya di atas ranjang atau tempat yang tinggi agar tubuhnya tidak terpengaruh oleh tanah atau lantai yang dingin/basah.
8. Menutupinya dengan kain, kecuali meninggal dlm keadaan ihram.
9. Berdo’a untuk mayit.
10. Keluarga yang ditinggalkan harus bersabar dan ridho.
11. Mengucapkan kalimat Istirja’.
12. Tidak menyebutnya kecuali dengan kebaikan.
13. Melunasi hutang-hutangnya.
14. Bersegera mempersiapkan pengurusannya berupa memandikan, mengkafani, mensholati dan menguburkannya.
15. Dikuburkan di tempat dia meninggal.
16. Memberitahukan kerabatnya untuk menghadiri shalat dan mengurus jenazahnya.
17. Yang mendengar kematian, dianjurkan mendoakan dan memohonkan ampun.
18. Menyegerakan wasiatnya..

HAL-HAL YANG DIHARAMKAN ATAS KERABAT MAYIT
1. Meratapi Mayit.
2. Memukul-mukul pipi dan merobek-robek baju (Syaaqah). Rasulullah bersabda:

ليس منا من لطم الخدود, وشق الجيوب, ودعا بدعوى الجاهلية. (رواه البخارى ومسلم)
3. Mencukur rambut kepala (Haliqah).
4. Menguraikan rambut atau membiarkan rambut lebat (gondrong).
5. Menyebarkan berita kematian melalui pengeras suara atau di jalan-jalan dan pasar, karena yang demikian termasuk An-Na’yu. Namun apabila memberitahukan kerabatnya/jama’ah untuk membantu mengurusi jenazahnya, maka yang demikian itu tidak termasuk An-Na’yu yang dilarang. Bahkan terkadang menjadi wajib bila tidak ada orang yang bisa mengurus jenazahnya.

KEUTAMAAN MEMANDIKAN JENAZAH
1. Diampuni dosa-dosanya.
2. Mendapatkan pakaian dari sutra di Jannah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من غسل ميتا فستره, ستره الله من الذنوب, ومن كفنه كساه الله من السندس.
(حسنه الألباني في صحيح الجامع)

Makna dari merahasiakan adalah menutupinya dan tidak menceritakan aib mayit, seperti luka atau cacat pada tubuhnya yang pada masa hidupnya disembunyikan, maka setelah wafatnya pun harus dirahasiakan sebagai penghormatan, juga aib-aib maknawiyah lainnya dari tanda-tanda meninggal su’ul khatimah. Jika mayit terkenal kefasikan dan kebid’ahannya, ahli ilmu berpendapat bukan termasuk sunnah merahasiahkannya akan tetapi justru perlu diberitakan keburukannya sebagai pelajaran bagi yang hidup dan peringatan akan kebid’ahannya.

SYARAT–SYARAT YANG MEMANDIKAN
1. Islam
2. Berakal
3. Amanah
4. ‘Alim
5. Merahasiakan

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
1. Yang paling utama memandikan adalah yang diberi wasiat, kemudian kerabat yang lebih dekat dan seterusnya.
2. Tidak terlalu banyak orang.
3. Dua orang ‘alim dan seorang dari kerabatnya yang lalai dan suka berbuat maksiat.
4. Tidak disyaratkan bersuci, itu hanya keutamaan. Wanita haid boleh memandikan.
5. Memandikan tidak membatalkan wudhu kecuali jika menyentuh. Menurut pendapat yang kuat tidak wajib baginya untuk mandi, namun disunnahkan untuk mandi dan wudhu.
6. Menggunakan air yang suci. Disesuaikan dengan suhu cuaca.

SYARAT TEMPAT MEMANDIKAN
1. Suci dan Besih ( Tidak di WC atau Kamar Mandi )
2. Tertutup Atap Dingdingnya
3. Tidak Terdapat Patung dan Gambar Makhluk Bernyawa

TATA CARA MEMANDIKAN
1. Letakkan mayit di atas tempat pemandian. Lepaskan pakaiannya dengan tetap menjaga dan menutup auratnya. Dudukkan dan tekanlah perut mayit dengan tangan kanan sambil diurut-urut 3 atau 5 kali untuk mengeluarkan sisa kotoran yang ada.
2. Gunakan sarung tangan atau kain untuk membersihkan mayit di bawah kain penutupnya. Pakai masker, celemek dansepatu bot.
3. Mulailah dengan mewudukan mayit seperti wudhunya shalat.
4. Pemandian pertama dengan menggunakan air yang dicampur daun bidara hingga berbusa. Takaran dewasa lk. 1 ember air + 2,5 sloki daun bidara/1 cangkir. Anak kecil ½ dari takaran dewasa.
5. Mulai dengan membasuh kepala, wajah, dada dan ketiak mayit 3x.
6. Mulai dengan bagian sisi kanan mayit. Membasuh tangan mulai dari pangkal hingga pergelangan tangan, pundak, pinggang hingga betis kanannya. Tuangkan air dari atas dan bawah kain penutup tanpa membuka aurat. Hal yang serupa dilakukan pada sisi yang kiri. Posisi mayit masih dalam keadaan terlentang.
7. Kemudian mayit dibalikkan dengan posisi bertumpu pada sisi kiri hingga punggung, pinggang, paha dan betis kanannya bisa dibersihkan. Mayit tidak boleh ditelungkupkan. Hal serupa dilakukan pada sisi kiri mayit.
8. Tuangkan air ke seluruh badan mulai dari kepala hingga kaki. Mayit dalam keadaan terlentang.
9. Lakukan hal tersebut untuk kedua kalinya. Yang ketiga menggunakan air yang dicampur dengan kapur barus. Bila kurang bersih, ulangi lima atau tujuh kali sesuai kebutuhan. Semuanya kembali kepada ijtihad yang memandikan.
10. Setelah selesai keringkan seluruh tubuhnya dengan kain/handuk. Ganti kain penutupnya dengan yang baru dan kering dengan tetap menjaga auratnya.
11. Pindahkan mayit dengan hati-hati ke tempat pengkafanan.
12. Memandikan jenazah wanita sebagaimana jenazah pria, hanya saja setelah selesai dimandikan, tambutnya digerai dan disisir kemudian dikepang menjadi tiga bagian kemudian dikebelakangkan.

MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DALAM HAL INI
Pertama. Diharamkan lelaki memandikan mayit wanita demikian juga Sebaliknya, kecuali dalam keadaan sbb:
1. Suami Istri.
2. Wanita yang sedang ditalak raj’i.
3. Mayit anak berusia dibawah 7 (tujuh) tahun. Karena dianggap tidak memiliki aurat. Jika badannya besar sehingga nampak padanya beberapa hal yang dapat menimbulkan fitnah. Lebih utama dimandikan oleh wanita.
4. Seandainya ada wanita yang meninggal di tengah-tengah kaum pria dan tidak ada wanita lain bersamanya, maka mayit tersebut ditaya- mumkan. Begitu pula sebaliknya.

Kedua. Jika ada seorang wanita hamil, kemudian dia mengalami keguguran. Apa yang harus dilakukan?
1. Jika usia janin 4 (empat) bulan atau lebih, maka dia dimandikan, dikafani dan dishalatkan, bahkan diberi nama dan diaqiqahi.
2. Bila usianya kurang dari 4 bulan, tidak perlu dimandikan dan dikafani tapi cukup dibungkus dengan kain putih dan dikuburkan di pekuburan karena janin tersebut belum ditiupkan ruh ke dalamnya sehingga diperlakukan seperti anggota bagian tubuh yang lainnya.

Ketiga. Apabila wanita hamil wafat, maka diharamkan membedah perutnya dan mengeluarkan bayinya. Karena biasanya bayi akan segera meninggal setelah ibunya meninggal satu atau dua jam setelahnya. Mayit dimandikan sebagaimana mestinya. Jika dokter memastikan bahwa bayi yang ada dalam kandungan masih hidup, maka boleh mengeluarkannya dengan berupaya terlebih dahulu melalui jalan keluarnya. Jika tidak bisa, maka boleh dengan alternatif lain dengan azas lemah lembut dan tidak menyakiti sang ibu serta atas dasar pertimbangan dokter ahli.

Keempat. Orang kafir, murtad, dan meninggalkan shalat selamanya (tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali), mayitnya tidak dimandikan, tidak dikafani,tidak dishalatkan, serta tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin. Mayitnya dikubur dengan pasir di tempat yang jauh sekedar untuk menutupinya supaya tidak menyebarkan bau.

Kelima. Orang yang terbunuh dengan sebab qishash atau had seperti muhshan yang berzina atau terbunuh karena dzalim, atau orang yang bunuh diri. Semuanya dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum Muslimin, karena mereka adalah pelaku dosa besar dan tidak keluar dari agama Islam.

Keenam. Orang yang berihram dan haji apabila wafat cukup dimandikan dengan air dan daun bidara. Tidak diberi minyak wangi, dan tidak ditutupi kepalanya, serta dikafani dengan pakaiannya.

Ketujuh. Memandikan anggota bagian tubuh mayit yang wajib hanyalah satu kali

Kedelapan. Apabila keluar sesuatu dari perut mayit pada pertengahan atau sesudah dimandikan, maka hal ini tidak terlepas dari 4 keadaan berikut ini:
(a).  Jika keluar sesuatu dari dua lubang disela-sela memandikan, maka cukup mandikan atau bersihkan tempat keluarnya, kemudian diwudukan dan mandikan hingga 5 kali. Apabila masih keluar najis setelah itu, maka wudukan, terus mandikan hingga 7 kali setelah itu sumbat dengan kapas atau kain.
(b). Bila keluar sesuatu dari perutnya setelah dimandikan, maka cukup wudukan saja.
(c). Jika keluar sesuatu dari perutnya setelah dikafani. Jika yang keluarnya sedikit, maka tidak perlu diulang wudhu dan mandinya. Cukup tempat keluarnya kotoran tadi dicuci kafannya, namun apabila yang keluar banyak dan kotor, maka mandinya harus diulang.
(d). Jika keluar sesuatu dari selain dua jalan, seperti muntah, darah, atau yang lainnya, maka tidak perlu diulang tapi cukup dicuci tempatnya yang kotor. Namun jika yang keluar itu banyak dan menyebabkan kotor, maka mandi dan wudunya perlu diulang.

Kesembilan. Jenazah yang syahid dalam peperangan, tidak dimandikan dan tidak dikafani. Namun jika terkena luka pada waktu perang kemudian sempat dirawat sehari atau beberapa hari lantas meninggal, maka mayitnya diperlakukan sebagaimana lainnya.

Kesepuluh. Jika ada sebagian anggota badan yang terpotong, maka cukup dibungkus dengan kain putih kemudian dikuburkan tanpa harus dicuci dan dishalatkan.

Kesebelas. Dimakruhkan berdebat dan meninggikan suara ketika memandikan.

Keduabelas. Jika ada anggota tubuh mayit yang terputus, seperti kaki/tangan, maka anggota tersebut diletakkan di tempat asalnya dan dicuci sebagaimana yang lainnya.

Ketigabelas. Dimakruhkan memberikan bayaran kepada yang memandikan, tapi apabila dibutuhkan, maka cukup mengambil dari Baitul Mal.

Keempatbelas. Apabila tidak terdapat daun bidara, maka dapat diganti dengan yang Semisal seperti sabun mandi/sampo.

MENGKAFANI MAYIT 
Landasan Hukum

عن عائشة قالت: كفن الرسول صلى الله عليه وسلم في ثلاثة أثواب بيض سحولية جدد, ليس فيها قميص ولا عمامة. والسحولية: نسبة إلى سحول – قرية في اليمن -. (أخرجه البخاري ومسلم)

HAL-HAL YANG DIANJURKAN
1. Hendaknya kain kafan yang digunakan bagi mayit laki-laki sebanyak tiga 3 (lapis). Sedangkan bagi wanita sebanyak 5 (lima) lapis terdiri dari sarung, ghamis, khimar, dan dua helai kain.
2. Menggunakan kain yang bersih dan baik serta menutupi seluruh tubuh.

عن أبي قتادة أن الرسول صلى الله عليه وسلم قال: إذا ولي أحدكم أخاه فليحسن كفنه (رواه أبو داود والنسائي) وعند مسلم بلفظ إذا كفن أحدكم أخاه ...

3. Menggunakan kain yang berwarna putih.

قال النبي صلى الله عليه وسلم: البسوا من ثيابكم البياض, فإنها من خير ثيابكم, وكفنوا فيها موتاكم ...(رواه أحمد و أبو داود و الترمذي وقال حسن صحيح)

4. Memberikan wewangian

عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا أجمرتم الميت فأجمروه ثلاثا (رواه أحمد وإبن حبان وصححه الألباني في أحكام الجنائز). وأوصى ابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم أن تجمر أكفانهم بالعود.

5. Tidak berlebih-lebihan dalam kain kafan.
6. Menaburi kain kafan dengan kafur.
7. Hendaknya kain kafan yang terbaik diletakkan di bagian atas.

TATA CARA MENGKAFANI
1. Cara Mengukur Kain Kafan:
Panjang: Ukur panjang mayit dengan meteran dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki dengan melebihkannya kira kira 60 cm. contoh: seandainya panjang mayit 170 cm, maka ditambah 60 cm sehingga keseluruhan panjang 230 cm. penambahan panjang kain disesuaikan agar dapat mengikat ujung kepala dan ujung kaki.

Lebar: Ukur lebar mayit mulai dari ujung bahu kanan mayit hingga ujung kiri, kemudian hasil pegukuran dikalikan tiga. Contoh: jika lebar mayit 40 cm, maka lebar kain yang dibutuhkan 40 x 3 = 120 cm.

Perhatian:
· Kain kafan yang ideal berukuran panjang 280 cm dan lebar 180 cm untuk memudahkan pemotongan sesuai dengan kebutuhan.
· Membuat kira-kira 7 ikatan dari kain kafan yang panjangnya sesuai dengan lebar kain yang telah diukur sesuai kebutuhan mayit. Lebar ikatan kira-kira 10 cm.
· Membuat popok yang gunanya untuk menjaga kotoran yang dikhawatirkan keluar dari mayit. Dengan lebar kira-kira 30 cm dan panjang kira-kira 100 cm.

2. Siapkan keranda dekat dengan tempat pemandian, kemudian letakkan ikatan yang sudah dipersiapkan di atas keranda dengan jumlah ganjil. Simpan di daerah kepala, dada, perut, paha, lutut dan kaki
3. Letakkan lipatan kain pertama, dan dianjurkan kain yang terbaik dan yang paling bersih untuk memperlihatkan kepada manusia dengan gambaran yang baik dan indah. Pada bagian kepala dilebihkan kira-kira 40 cm dan bagian kaki 20 cm.
4. Letakkan lipatan kedua dan ketiga di atas lipatan yang pertama dengan cara yang serupa. Letakkan popok di atas kafan dekat dengan daerah duburdan selangkangan. Lalu tambahkan kapas di atasnya.
5. Kain kafan yang telah siap kemudian ditaburi wewangian dan kapur barus. Kemudian letakkan mayit di atasnya dengan hati-hati dan tetap menjaga auratnya. Letakkan kepala pada bagian yang telah dilebihkan serta duburnya di atas popok.
6. Buka kedua kakinya untuk mengikat popok yang telah siap diantara dua kaki dan perutnya. Lakukan hal itu dibawah kain penutup agar aurat mayit tetap terjaga. Setelah selesai rapatkan kembali kedua kakinya.
7. Oleskan minyak wangi pada tubuh mayit dan yang dianjurkan pada tujuh anggota sujud (kening, lutut, telapak kaki, telapak tangan, hidung), dan di sela-sela persendian.
8. Lalu ambil ujung kain yang pertama (paling bawah/dalam) arah kanan kemudian lipat ke sebelah kiri secara bersamaan mulai dari kaki hingga kepala. Setelah itu pegang ujungnya dengan kuat dan lipat atau putar. Lalu pegang lipatan ujung kain dengan tangan kiri, lalu ambil kain yang kedua dan lakukan seperti yang pertama, begitu juga dengan kain yang ketiga.
9. Ikat dengan kuat dan jadikan ikatannya di sebelah sisi kiri mayit. Selimuti mayit yang telah dikafani agar benar-benar tertutup dan terjaga sebelum dikuburkan.
10. Untuk wanita lakukan hal serupa bila tdk terdapat 5 helai kain yang dibutuhkan,

HAL-HAL YANG BERKAITAN DALAM MASALAH INI
1. Dimakruhkan melebihi batasan kain kafan dari yang ditentukan.
2. Yang paling utama mengkafani adalah yang diberi wasiat kemudian kerabat terdekat dan selanjutnya.
3. Membeli kain kafan dengan harta si mayit, kalau tidak ada maka keluarga yang menanggungnya, dan bila tidak ada juga diambil dari harta kaum Muslimin (Baitul Mal).
4. Dimakruhkan memberi kain kafan dari wol/rambut atau kain yang dicelup warna kuning. Diharamkan mengkafani mayit dengan kulit.
5. Para Ulama membenci membakar kain kafan.
6. Dilarang memasukkan wewangian/kafur ke dalam mata mayit.
7. Disunnahkan bilangan ikatan berjumlah ganjil.
8. Untuk mayit anak laki-laki menggunakan tiga helai kain, sedangkan untuk anak perempuan dua helai kain dan satu ghamis.
9. Bila kain kafan tidak mencukupi, maka tutup bagian kepalanya sedang sisanya ditutup dengan ilalang atau rumput.

SHALAT JENAZAH
Landasan Hukum

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صلى على جنازة ولم يتبعها, فله قيراط. فإن تبعها فله قيراطان. قيل: وما القيراطان؟ قال: أصغرهما مثل أحد. (أخرجه البخاري و مسلم)

SIFAT SHALAT JENAZAH
1. Letakkan jenazah di hadapan imam. Imam berdiri di hadapan kepala mayit jika laki-laki. Jika mayitnya perempuan, maka imam berdiri di tengah-tengah mayit. Kemudian makmum berdiri di belakang imam.

والدليل على ذلك: ما رواه الترمذي عن أنس رضي الله عنه أنه صلى على رجل فقام عند رأسه, ثم صلى على امرأة فقام حيال وسط السرير فقال له العلاء: أهكذا رأيت الرسول صلى الله عليه وسلم قام على الجنازة مقامك منها, ومن الرجل مقامك منه؟ قال: نعم. فلما فرغ قال: احفظوا (أخرجه أبو داود والترمذي وإبن ماجه وأحمد وصححه الألباني في أحكام الجنائز)

وأخرج الجماعة من حديث سمرة رضي الله عنه أنه صلى وراء الرسول صلى الله عليه وسلم على امرأة ماتت في نفاسها, فقام وسطها. (أخرجه البخاري ومسلم)
• Disunnahkan membuat tiga shaf (barisan).
• Disukai yang menshalatinya jama’ah yang banyak
• Jika mayitnya anak laki-laki dan perempuan, maka posisi imam berdiri seperti pada posisi mayit wanita dewasa.
• Tidak mengapa bagi Imam meberitahukan jenis kelamin mayit kepada makmum, agar dapat berdo’a sesuai dengan kata gantinya.

2. Imam bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangannya, kemudian meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada. Kepala menunduk dan pandangan tertuju kepada tempat sujud.
3. Berta’awudz, membaca basmallah, tidak membaca do’a iftitah, membaca surat al-fatihah. Semuanya dibaca secara sir (pelan).
4. Imam takbir yang kedua seraya mengangkat tangan kemudian membaca shalawat.
5. Kemudian bertakbir yang ketiga sambil mengangkat tangan terus berdo’a bagi sang mayit.

قال الرسول صلى الله عليه وسلم : إذا صليتم على الميت فاخلصوا له الدعاء (أخرجه أبوداود وإبن حبان والبيهقي من حديث أبي هريرة وحسنه الألباني)

6. Diantara do’a yang disyari’atkan adalah sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان إذا صلى على جنازة يقول: اللهم اغفر لحينا وميتنا, وشاهدنا وغائبنا, وصغيرنا وكبيرنا, وذكرنا وأنثانا, اللهم من أحييته منا فأحيه على الإسلام , ومن توفيته منا فتوفه غلى الإيمان. اللهم لا تحرمنا أجره, ولا تضلنا بعده. (أخرجه أبوداود والترمذي وإبن ماجه والبيهقي من طريق محمد بن إبراهيم التيمي عن أبي سلمة وصححه الألباني في أحكام الجنائز)
Diantara do’a yang disyari’atkan adalah sebagai berikut:

عن عوف بن مالك رضي الله عنه قال: صلى الرسول صلى الله عليه وسلم على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: اللهم اغفرله وارحمه, وعافه واعف عنه, وأكرم نزله, ووسع مدخله, واغسله بالماء والثلج والبرد , ونقه من الخطايا, كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس, وأبدله دارا خيرا من داره, وأهلا خيرا من أهله, وزوجا خيرا من زوجه, وأدجله الجنة , وأعذه من عذاب القبر – أو من عذاب النار- قال: حتى تمنيت أن أكون أنا ذلك الميت. (أخرجه مسلم)
Jika mayitnya anak-anak, maka berdo’a sebagai berikut:

اللهم اجعله ذخرا لوالديه, وفرطا وأجرا وشفيعا مجابا, اللهم ثقل به موازينهما, وأعظم به أجورهما, وألحقه بصالح سلف المؤمنين, واجعله في كفالة إبراهيم, وقه – برحمتك – عذاب الجحيم.

Imam bertakbir terakhir, diam sejenak lantas salam seraya memalingkan muka ke kanan satu kali.

MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DALAM HAL INI
Pertama. Hukum Shalat jenazah adalah Fardhu Kifayah.
Kedua. Disyari’atkan shalat jenazah pada setiap:
1. Janin yang gugur berusia empat bulan atau lebih.
2. Orang yang mati syahid. Walaupun hukum asalnya tidak disholatkan akan tetapi bila dilakukan itu lebih utama.
3. Orang yang terbunuh karena hukuman had.
4. Orang fajir yang banyak melakukan kemaksiatan.
5. Orang yang memiliki hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasi hutangnya.

Ketiga. Diharamkan mensholati orang kafir, munafik dan yang meninggalkan sholat wajib. Tidak boleh merasa kasihan dan tidak boleh memohonkan ampun bagi mereka.

Keempat. Yang paling utama untuk mensholati mayit adalah yang diberi wasiat, imam masjid dan kerabat keluarga mayit.

Kelima. Jika hanya terdiri dari seorang makmum, maka dia berdiri di belakang imam.

Keenam. Lebih diutamakan agar mensholati mayit di luar masjid dan hal ini adalah petunjuk yang sering dicontohkan oleh Rasulullah. Tidak boleh mensholatinya di antara kuburan, tapi bila sudah dikuburkan maka hal itu diperbolehkan.

Ketujuh. Tidak boleh mensholati mayit pada tiga waktu yang terlarang kecuali darurat.

لحديث عقبة بن عامر رضي الله عنه: ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع, وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس, وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب. (أخرجه مسلم)

Kedelapan. Wanita dibolehkan menghadiri sholat jenazah baik sendiri maupun berjama’ah dengan syarat tidak sholat di kuburan, karena wanita dilarang memasukinya.

MENGUBURKAN MAYIT
Landasan Hukum

روى مسلم عن خباب رضي الله عنه قال: ياعبد الله بن عمرألا تسمع مايقول أبوهريرة ؟ أنه سمع الرسول صلى الله عليه وسلم يقول: من خرج مع جنازة من بيتها, وصلى عليها ثم تبعها حتى تدفن كان له قيراطان من أجر, كل قيراط مثل أحد. ومن صلى عليها ثم رجع, كان له من الأجر مثل أحد, فأرسل إبن عمر رضي الله عنه خبابا إلى عائشة يسألها عن قول أبي هريرة, ثم يرجع إليه فيخبره ما قالت...فقال قالت عائشة: صدق أبوهريرة...فقال إبن عمر - رضي الله عنهما - : لقد فرطنا في قراريط كثيرة.

TATACARA MEMBAWA JENAZAH
1. Letakkan mayit di atas keranda dengan terlentang.
2. Tutup dengan selimut/kain. Lebih disukai jika mayit wanita kerandanya ditutup denga kubah/kayu.
3. Disunnahkan yang membawa keranda sebanyak empat orang.
4. Disunnahkan untuk bersegera dalam berjalan.

قوله صلى الله عليه وسلم: أسرعوا بالجنازة, فإن تك صالخة فخير- لعله قال: تقدمونها عليه-, وإن تك غيرذلك فشرتضعونه عن رقابكم (أخرجه البخاري ومسلم)

5. Dibolehkan bagi yang mengiringi jenazah untuk berjalan di depan, belakang, samping kanan atau kirinya.
6. Tidak boleh duduk hingga jenazah diletakkan di atas tanah

لحديث أبي سعيد رضي الله عنه مرفوعا: إذا رأيتم الجنازة فقوموا, فمن تبعها فلا يقعد حتى توضع (أخرجه البخاري ومسلم)

7. Disunnahkan bagi yang mengantarkan jenazah untuk khusyu’, berfikir akan perjalanannya, dan mengambil pelajaran dari kematian, juga dengan apa yang akan dialami oleh sang mayit. Tidak disukai tertawa, senyum, atau berbicara tentang urusan dunia.
قال سعد بن معاذ رضي الله عنه: ما تبعت جنازة فحدثت نفسي بغيرماهومفعول بها.

LUBANG KUBUR
1. Disunnahkan memperdalam dan memperluas kuburan, karena memperdalam kuburan dapat menahan bau yang tidak enak, selamat dari gangguan hewan liar, juga lebih menjaga mayit.

لقول الرسول صلى الله عليه وسلم في قتلى أحد: احفروا وأوسعوا وأحسنوا... (أخرجه أبوداود والنسائي والترمذي وابن ماجة والبيهقي وأحمد وصححه الألباني في المشكاة)
2. Disunnahkan memperluas kuburan pada bagian kepala dan kaki.

للحديث الذي رواه البيهقي أن النبي عليه الصلاة والسلام قال لحفار: أوسع من قبل الرأس, وأوسع من قبل الرجلين. قال النووي في المجموع وإسناده صحيح.
3. Lebih disukai membuat lahat dari pada syaq.

وقال الرسول صلى الله عليه وسلم: اللحد لنا والشق لغيرنا (أخرجه أبوداود والنسائي والترمذي وابن ماجة وصححه الألباني في أحكام الجنائز)
TATA CARA MENGUBURKAN
1. Masukkan mayit ke dalam kubur melalui bagian kaki kubur dengan memasukkan kepala terlebih dahulu karena ia adalah bagian tubuh yang paling mulia. Namun bila hal tersebut tidak memungkinkan, maka dari jalan mana saja yang mudah.

وعبد الله بن يزيد أدخل الحارث قبره من قبل رجلي القبروقال: هذه السنة (أخرجه أبوداود والبيهقي وصححه الألباني في صحيح أبوداود)

2. Yang memasukkan mayit ke dalam kubur adalah laki-laki. Yang diberi wasiat lebih berhak untuk itu. Bila mayit tidak berwasiat, maka kerabat terdekatnya.
3. Bila memasukkan mayit wanita, maka kuburnya ditutup agar terhindar dari pandangan disaat penguburan. Sedangkan bagi mayit pria tidak diharuskan, kecuali bila ada udzur seperti hujan.
4. Letakkan mayit dengan lembut di dalam kubur dengan berbaring di sisi lambung kanannya, karena dia menyerupai orang yang tidur dan menghadap kiblat.
5. Kemudian buka dan lepaskan ikatan yang mengikat kafannya dengan tanpa membuka wajahnya, karena yang demikian tidak ada dalilnya dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat.

لقول عبدالله بن مسعود رضي الله عنه : إذا أدخلتم الميت القبر فحلوا العقد.

6. Dekatkan dan masukkan mayit ke dalam lahat, kemudian tahan dengan batu atau tanah di depannya dan di pertengahan punggungnya agar mayit tidak berbalik dan jatuh.
7. Tutup lahat dengan kayu. Tutup celah yang kosong antara kayu dengan tanah liat agar mayit tidak kejatuhan tanah saat dikubur.
8. Dianjurkan untuk melemparkan tiga kali genggaman tanah dengan kedua tangannya usai penutupan liang lahat ke arah bagian atas kepala.

لحديث أبي هريرة رضي الله عنه أن الرسول صلى الله عليه وسلم صلى على جنازة ثم أتى قبر الميت فحثى عليه من قبل رأسه ثلاثا (أخرجه ابن ماجه وجوده إسناده النووي في المجموع وصححه الشيخ الألباني)

9. Masukkan tanah ke dalam kubur dan tinggikan dari atas permukaan tanah sekedar sejengkal kemudian dibentuk seperti punuk.
10. Perciki kubur dengan air kemudian taburi dengan kerikil agar kubur menjadi kuat tidak terbawa angin dan aliran air. Kemudian tandai dengan kayu atau batu pada bagian kepala.
11. Dianjurkan setelah itu berdo’a untuk mayit.

ولحديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال: إستغفروا لأخيكم وسلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل (أخرجه أبو داود والحاكم والبيهقي. وقال النووي في المجموع : رواه...بإسناد جيد)

والله أعلم
شكرا على اهتمامكم
جزاكم الله أحسن الجزاء
والعفو منكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Wednesday, September 28, 2016

Doa Untuk Ibu Bapa Wednesday, September 28, 2016




Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka
perindahlah ucapanku di hadapan mereka
lunakkanlah watakku terhadap mereka
dan lembutkanlah hatiku untuk mereka

Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya atas didikan yang kuterima
serta pahala yang besar atas kasih sayang yang mereka curahkan padaku
peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku

Ya Allah,
Setiap kesusahan yang mereka derita karana perbuatanku
atau hilangnya hak-hak mereka karana kebodohanku
maka dengan perkenan-Mu,
jadikanlah semua itu sebagai penyebab susutnya dosa-dosa mereka
dan bertambahnya pahala mereka

Ya Allah,
Hanya Engkau yang paling berhak membalas setiap perbuatan
dengan keburukan maupun dengan kebaikan yang berlipat ganda
demi sifatmu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
aku memohon kepada-Mu
balaslah setiap pebuatan mereka
dengan kebaikan yang telah Engkau sediakan
di dunia maupun di akhirat

Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku
izinkanlah aku memohonkan ampun bagi mereka
namun bila sebaliknya
izinkan pula mereka memohon ampunan untukku

Ya Allah,
Sesungguhnya Engkaulah pemilik sifat-sifat Yang Maha Agung
Engkaulah pemberi balasan yang tiada batas
dan Engkaulah yang senantiasa mendahulukan sifat-Mu yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi setiap makhluk

Ya Allah,
Dengarkanlah doaku

Ya Allah,
Kabulkanlah permohonanku

Amin, Ya, Rabbul Alamin


Wednesday, July 16, 2014

Pernikahan Beda Agama Menurut Hukum Islam Wednesday, July 16, 2014


Hukum pernikahan beda agama, atau biasa juga dikenal dengan pernikahan lintas agama. Selalu menjadi polemik yang cukup kontroversial dalam masyarakat, khususnya negara yang berpenduduk heterogen dan menganut agama-agama yang bersifat majemuk 

Indonesia merupakan negara mayoritas muslim terbanyak di seluruh dunia, namun tetap saja sering muncul pertanyaan menyangkut perihal pernikahan. Bolehkah seorang muslim atau muslimah menikahi seorang non muslim dan jika boleh, bagaimana islam menyikapi hal tersebut?

Mari kita lihat isu ini dari dua sudut pandang dalam hukum pernikahan beda agama ini terlebih dahulu. Pernikahan beda agama dikelompokkan menjadi dua berdasarkan pasangan yang menikah, yaitu:

Seorang Muslim menikahi seorang wanita non-Muslim dan sebaliknya, seorang Muslimah menikahi seorang pria  non-Muslim. Pembagian ini dilakukan karena hukum Islam untuk masing-masing kelompok ini memang berbeda. 

BAGAIMANA HUKUM PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM ISLAM?

A. Hukum seorang pria muslim menikahi wanita non-muslim
Pernikahan seorang Muslim dengan seorang wanita non-Muslim pada prinsipnya diperbolehkan, tapi di sisi lain boleh jadi terlarang. Untuk itu kita perlu memahami terlebih dahulu sudut pandang dari non muslim itu sendiri.

1. laki-laki yang menikah dengan perempuan ahli kitab (Agama Samawi), yang dimaksud agama samawi atau ahli kitab disini yaitu orang-orang (non muslim) yang telah diturunkan padanya kitab sebelum al quran. Dalam hal ini para ulama sepakat dengan agama Injil dan Taurat, begitu juga dengan nasrani dan yahudi yang sumbernya sama. Untuk hal seperti ini pernikahannya diperbolehkan dalam islam. Adapun dasar dari penetapan hukum pernikahan ini, yaitu mengacu pada firman Allah:  

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al Maidah[5]:5)

2. Lelaki muslim menikah dengan perempuan bukan ahli kitab. Yang dimaksud dengan non muslim yang bukan ahli kitab disini yaitu kebalikan dari agama samawi (langit), yaitu agama ardhiy (bumi). Agama Ardhiy (bumi), yaitu agama yang kitabnya bukan diturunkan dari Allah swt, melainkan dibuat di bumi oleh manusia itu sendiri. Untuk kasus yang seperti ini, maka diakatakan haram. Adapun dasar hukumnya yaitu firman Allah ini:

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”  (QS. Al-Baqarah[2]: 222)

Hukum perempuan muslim menikah dengan laki-laki non muslim.

Dari Al-Quran surah Al-Baqarah[2]:221 sudah jelas tertulis bahwa:

"... Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman..."

Pernikahan seorang muslim perempuan sudah menjadi hal mutlak diharamkan dalam islam, jika seorang perempuan tetap memaksakan diri untuk menikahi lelaki yang tidak segama dengannya, maka apapun yang mereka lakukan selama bersama sebagai suami istri dianggap sebagai perbuatan zina.
Kesimpulan:
Seorang laki-laki muslim boleh menikahi perempuan yang bukan non muslim selama perempuan itu menganut agama samawi, apabila lelaki muslim menikahi perempuan non muslim yang bukan agama samawi, maka hukumnya haram. Sedangkan bagi perempuan muslim diharamkan baginya untuk menikah dengan laki-laki yang bukan Muslim.

[Sumber: islamnyaislam]


Tuesday, March 18, 2014

Hukum Qisas Dalam Islam Tuesday, March 18, 2014


Qisas yang selama ini kita ketahui terkadang masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat angker, menakutkan, dan tidak manusiawi, sehingga timbul sikap yang dinamakan “Islam phobia“. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifatkan qisas dalam firman-Nya,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 179).

Imam asy-Syaukani menjelaskan ayat ini dengan menyatakan, “Maknanya, kalian memiliki jaminan kelangsungan hidup dalam hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan ini, karena bila seseorang tahu akan dibunuh secara qisas apabila ia membunuh orang lain, tentulah ia tidak akan membunuh dan menahan diri dari mempermudah dan terjerumus padanya.

Dengan demikian, hal itu seperti kedudukan jaminan kelangsungan hidup bagi jiwa manusia. Ini adalah satu bentuk sastra (balaghah) yang tinggi dan kefasihan yang sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan qisas yang sebenarnya adalah kematian sebagai jaminan kelangsungan hidup, ditinjau dari akibat yang ditimbulkannya, berupa tercegahnya manusia saling bunuh di antara mereka. Hal ini dalam rangka menjaga keberadaan jiwa mereka dan keberlangsungan khidupan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyampaikan ayat ini untuk ulil albab (orang yang berakal), karena merekalah orang yang memandang jauh ke depan dan berlindung dari bahaya yang munculnya menyusul nanti. Adapun orang yang pandir, dia berpikiran pendek dan gampang emosi, ketika amarah dan emosinya bergejolak dia tidak memandang akibat yang muncul nantinya dan dia pun tidak memikirkan masa depannya.” [1]

Dikarenakan bersikap terburu-buru dan tidak mengerti hakikat syariat yang AllahSubhanahu wa Ta’ala tetapkan, banyak orang bahkan kaum muslimin yang belum mau menerima atau simpati atas penegakan qisas ini. Padahal, pensyariatan qisas akan membawa kemaslahatan bagi manusia.
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan menyatakan, “Pensyariatan qisas berisi rahmat bagi manusia dan penjagaan atas darah mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ
‘Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu.‘ (Qs. al-Baqarah: 179).
Sehingga, betapa jelek orang yang menyatakan bahwa qisas itu sesuatu yang tidak berprikemanusiaan (biadab) dan keras. Mereka tidak melihat kepada kebiadaban pelaku pembunuhan ketika membunuh orang tak berdosa, ketika menebar rasa takut di daerah tersebut, dan ketika menjadikan para wanita janda, anak-anak menjadi yatim, serta hancurnya rumah tangga.

Mereka ini hanya merahmati pelaku kejahatan dan tidak merahmati korban yang tak berdosa. Sungguh jelek akal dan kedangkalan mereka. Allah berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
‘Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?‘ (Qs. al-Ma`idah: 50)” [2]

Untuk itu, penjelasan tentang qisas ini sangat diperlukan, agar kaum muslimin bisa mengerti keindahan dan rahmat yang ada dalam qisas.

Definisi Qisas
Kata “qisas” (قصاص) berasal dari bahasa Arab yang berarti “mencari jejak”, seperti “al-qasas“. Sedangkan dalam istilah hukum Islam, maknanya adalah pelaku kejahatan dibalas seperti perbuatannya, apabila ia membunuh maka dibunuh dan bila ia memotong anggota tubuh maka anggota tubuhnya juga dipotong. [3]

Sedangkan Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan mendefiniskannya dengan, “Al-Qisas adalah perbuatan (pembalasan) korban atau walinya terhadap pelaku kejahatan sama atau seperti perbuatan pelaku tadi.” [4]

Dapat disimpulkan bahwa qisas adalah mengambil pembalasan yang sama atau serupa, mirip dengan istilah “utang nyawa dibayar dengan nyawa”.

Dasar Pensyariatan Qisas
Qisas disyariatkan dalam al-Quran dan as-sunnah, serta ijma‘. Di antara dalil dari al-Quran adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنثَى بِالأُنثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاء إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ . وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, qisas diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 178-179).

Sedangkan dalil dari as-Sunnah di antaranya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل
“Barangsiapa yang menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga dibunuh (qisas).” (HR. al-Jama’ah).

Sedangkan dalam riwayat at-Tirmidzi adalah dengan lafal,

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يَعْفُوَ وَإِمَّا أَنْ يَقْتُلَ
“Barangsiapa yang menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memilih dua pilihan, bisa memilih memaafkannya dan bisa membunuhnya.” [5]

Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa wali (keluarga) korban pembunuhan dengan sengaja memiliki pilihan untuk membunuh pelaku tersebut (qisas) bila menghendakinya, bila tidak bisa memilih diyat dan pengampunan. Pada asalnya, pengampunan lebih utama, selama tidak mengantar kepada mafsadat (kerusakan) atau ada kemashlahatan lainnya. [6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah me-rajih-kan, bahwa pengampunan tidak boleh diberikan pada qatlu al-ghilah (pembunuhan dengan memperdaya korban). [7]

Sedangkan Ibnu al-Qayyim rahimahullah, ketika menyampaikan kisah al-’Urayinin, menyatakan, “Qatlu al-ghilah mengharuskan pembunuhan pelaku dilakukan secara had(hukuman), sehingga hukuman baginya tidak gugur dengan adanya pengampunan dan tidak dilihat kembali kesetaraan (mukafah). Inilah mazhab ahli Madinah dan salah satu dari dua pendapat dalam Mazhab Ahmad, serta yang dirajihkan asy-Syaikh (Ibnu Taimiyah, pen) dan beliau rahimahullah berfatwa dengan pendapat ini.” [8]

Hikmah Pensyariatan Qisas
Allah al-Hakim menetapkan satu ketetapan syariat dengan hikmah yang agung. Hikmah-hikmah tersebut ada yang diketahui manusia dan ada yang hanya menjadi rahasia AllahSubhanahu wa Ta’ala. Demikian juga, dalam qisas terdapat banyak hikmah, di antaranya:

1. Menjaga masyarakat dari kejahatan dan menahan setiap orang yang akan menumpahkan darah orang lain. Yang demikian itu disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 179).

2. Mewujudkan keadilan dan menolong orang yang terzalimi, dengan memberikan kemudahan bagi wali korban untuk membalas kepada pelaku seperti yang dilakukan kepada korban. Karena itulah, Allah berfirman,

وَمَن قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَاناً فَلاَ يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُوراً
“Dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Qs. al-Isra`: 33).

3. Menjadi sarana taubat dan penyucian dari dosa yang telah dilanggarnya, karena qisas menjadi kafarah (penghapus dosa) bagi pelakunya. Hal ini dijelaskan Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

تُبَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا قَرَأَ عَلَيْهِمْ الْآيَةَ فَمَنْ وَفَّى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ عَلَيْهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَسَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ
“‘Berbai’atlah kepadaku untuk tidak berbuat syirik, tidak mencuri, dan tidak berzina.’ Beliau membacakan kepada mereka ayat, (lalu bersabda), ‘Barangsiapa di antara kalian yang menunaikannya maka pahalanya ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barangsiapa yang melanggar sebagiannya lalu di hukum maka hukuman itu sebagai penghapus dosa baginya. (Adapun) barangsiapa yang melanggarnya lalu Allah tutupi maka urusannya diserahkan kepada Allah, bila Dia kehendaki maka Dia mengazabnya dan bila Dia menghendaki maka Dia mengampuninya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Syarat Kewajiban Qisas
Secara umum, wali (keluarga) korban berhak menuntut qisas, apabila telah syarat-syarat berikut ini telah terpenuhi:
  1. Jinayat (kejahatan)-nya termasuk yang disengaja. Ini merupakan ijma’ para ulama, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Para ulama ber-ijma’ bahwaqisas tidak wajib, kecuali pada pembunuhan yang disengaja, dan kami tidak mengetahui adanya silang pendapat di antara mereka dalam kewajibannya (sebagai hukuman pada) pembunuhan dengan sengaja, apabila terpenuhi syarat-syaratnya.” [9]
  2. Korban termasuk orang yang terlindungi darahnya (‘ishmat al-maqtul) dan bukan orang yang dihalalkan darahnya, seperti orang kafir harbi dan pezina yang telah menikah. Hal ini karena qisas disyariatkan untuk menjaga dan melindungi jiwa.
  3. Pembunuh atau pelaku kejahatan adalah seseorang yang mukalaf, yaitu berakal danbaligh. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan, “Tidak ada silang pendapat di antara para ulama bahwa tidak ada qisas terhadap anak kecil dan orang gila. Demikian juga orang yang hilang akal dengan sebab uzur, seperti tidur dan pingsan.” [10]
  4. At-takafu’ (kesetaraan) antara korban dan pembunuhnya ketika terjadi tindak kejahatan dalam sisi agama, merdeka, dan budak. Sehingga, seorang muslim tidak di-qisas dengan sebab membunuh orang kafir, dengan dasar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ
“Tidaklah seorang muslim dibunuh (di-qisas) dengan sebab membunuh orang kafir.” [11]

     5. Tidak ada hubungan keturunan (melahirkan), dengan ketentuan korban yang dibunuh adalah                 anak pembunuh atau cucunya, dengan dasar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يُقْتَلُ الوَالِدُ بِوَلَدِهِ
“Orangtua tidak di-qisas dengan sebab (membunuh) anaknya.” [12]

Syekh as-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan syarat diwajibkannya qisas menyatakan, “Pembunuh bukan orangtua korban, karena orangtua tidak dibunuh dengan sebab membunuh anaknya.” [13]

Sedangkan bila anak membunuh orangtuanya, maka si anak tetap terkena keumuman kewajiban qisas.

Syarat Pelaksanaan Qisas
Apabila syarat-syarat kewajiban qisas terpenuhi seluruhnya, maka syarat-syarat pelaksanaannya masih perlu dipenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah:
  1. Semua wali (keluarga) korban yang berhak menuntut qisas adalah mukalaf. Apabila yang berhak menuntut qisas atau sebagiannya adalah anak kecil atau gila, maka hak penuntutan qisas tidak bisa diwakilkan oleh walinya, sebab pada qisas terdapat tujuan memuaskan (keluarga korban) dan pembalasan. Dengan demikian, pelaksanaan qisaswajib ditangguhkan, dengan memenjarakan pelaku pembunuhan hingga anak kecil tersebut menjadi baligh atau orang gila tersebut sadar. Hal ini dilakukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang memenjarakan Hudbah bin Khasyram dalam qisas, hingga anak korban menjadi baligh. Hal in dilakukan di zaman para sahabat dan tidak ada yang mengingkarinya, sehingga seakan-akan menjadi ijma’ di masa beliau. Apabila anak kecil atau orang gila membutuhkan nafkah dari para walinya, maka wali orang gila saja yang boleh memberi pengampunan qisas dengan meminta diyaat, karena orang gila tidak jelas kapan sembuhnya, berbeda dengan anak kecil. [14]
  2. Kesepakatan para wali korban terbunuh dan yang terlibat dalam qisas dalam pelaksanaannya. Apabila sebagian mereka -walaupun hanya seorang- memaafkan si pembunuh dari qisas, maka gugurlah qisas tersebut. [15]
  3. Aman dalam pelaksanaannya dari melampaui batas kepada selain pelaku pembunuhan, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,


وَمَن قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَاناً فَلاَ يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُوراً
“Dan barangsiapa yang dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Qs. al-Isra`: 33).

Apabila qisas menyebabkan sikap melampaui batas, maka hal tersebut terlarang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas. Dengan demikian, apabila wanita hamil akan di-qisas, maka ia tidaklah di-qisas hingga ia melahirkan anaknya, karena membunuh wanita tersebut dalam keadaan hamil akan menyebabkan kematian janinnya. Padahal janin tersebut belum berdosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” (Qs. al-An’am: 164).

Siapakah Yang Berhak Melakukan Qisas?
Yang berhak melakukannya adalah yang memiliki hak, yaitu para wali korban, dengan syarat mampu melakukan qisas dengan baik sesuai syariat. Apabila tidak mampu, maka diserahkan kepada pemerintah atau wakilnya. Hal ini tentunya dengan pengawasan dan naungan pemerintah atau wakilnya, agar dapat mencegah sikap melampai batas dalam pelaksanaannya, serta untuk memaksa pelaksana menunaikannya sesuai syariat. [16]

Demikianlah beberapa hukum seputar qisas. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan akan keindahan dan pentingnya menerapkan qisas di masyarakat kita.

Wabillahit taufiq.

[Sumber: iloveislam | Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. | Artikel www.EkonomiSyariat.com]

Referensi:
  1. Imam Ibnu Qudamah, al-Mughni, tahqiq Abdullah bin Abdil Muhsin at-Turki, cetakan kedua, tahun 1413 H, penerbit Hajar.
  2. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, al-Mulakhash al-Fiqh, cetakan kedua, tahun 1426 H, Jam’iyah Ihya` at-Turats al-Islami.
  3. Muhammad bin Shalih Ibnu Utsaimin, asy-Syarhu al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, cetakan pertama, tahun 1428 H, Dar Ibnu al-Jauzi, KSA, 14/5.
  4. Muhammad Nashirudin al-Albani, Irwa’ al-Ghaalil, al-Maktab al-Islami.
  5. Lain-lain.

Catatan kaki: 
[1] Fathu al-Qadir: 1/179, dinukil dari al-Mulakhash al-Fiqh: 2/471.
[2] Al-Mulakhash al-Fiqh: 2/475.
[3] Asy-Syarhu al-Mumti’: 14/34.
[4] Al-Mulakhash al-Fiqh: 2/476.
[5] HR. at-Tirmidzi, no. 1409.
[6] Lihat: al-Mulakhash al-Fiqh: 2/473 dan asy-Syarhu al-Mumti’: 14/34.
[7] Al-Mulakhash al-Fiqh: 2/473.
[8] Lihat: Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’: 7/207.
[9] al-Mughni: 11/457.
[10] al-Mughni: 11/481.
[11] HR. al-Bukhari, no. 111.
[12] HR. Ibnu Majah no. 2661 dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 2214.
[13] Minhaj as-Salikin, hal. 237.
[14] Lihat: al-Mulakhash al-Fiqh: 2/476.
[15] Lihat: asy-Syarhu al-Mumti’: 14/38.
[16] Lihat: asy-Syarhu al-Mumti’: 14/54 dan al-Mulakhash al-Fiqh: 2/478.

Contact Form

Name

Email *

Message *