Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Adab. Show all posts
Showing posts with label Adab. Show all posts

Thursday, September 23, 2010

Beberapa Adab Dalam Ajaran Islam Thursday, September 23, 2010



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa menjaga diri-diri kita dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan cara mengamalkan Islam yang telah dikaruniakan kepada kita. Agama yang mengajarkan serta mengatur seluruh perkara yang dibutuhkan untuk perbaikan individu dan masyarakat. Baik yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, maupun yang berkaitan dengan adab.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan melalui utusan-Nya adab-adab yang sangat dibutuhkan dan sangat bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Adab-adab tersebut sangat lengkap dan meliputi seluruh sisi kehidupan manusia, baik yang berkaitan dengan makan, minum, berpakaian, tidur, dan lain-lainnya.

Adapun yang berkaitan dengan makan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ؛ فَإِنْ نَسِيَ فِيْ أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
“Apabila salah seorang dari kalian (hendak) memakan suatu makanan maka bacalah ‘bismillah’ dan apabila dia lupa (untuk membaca) di awalnya maka ucapkanlah ‘bismillah fii awwalihi wa akhirihi’.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi serta dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Disamping itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ
“Sesunguhnya setan menghalalkan (baginya) makanan apabila tidak disebut nama Allah pada (saat memakan)nya.” (HR. Muslim)

Hadirin rahimakumullah,
Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwa meninggalkan membaca bismillah ketika hendak makan atau minum bukanlah perkara yang sederhana atau remeh. Karena di antara hikmah disyariatkannya membaca bismillah adalah agar setan tidak ikut serta menikmati makanan yang sedang kita makan. Dan siapa di antara kita yang suka untuk makan bersama setan yang hakikatnya adalah termasuk musuh yang paling besar dan sangat berbahaya? Oleh karena itu, sudah semestinya kita memerhatikan adab ini. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa barangsiapa sengaja tidak membaca ‘bismillah’ maka dia berdosa karena meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Adapun setelah selesai makan, maka kita telah diberi petunjuk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berdoa. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan dalam sabdanya:

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ؛ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang setelah makan membaca:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوةٍ
‘Segala puji hanya untuk Allah, Dzat yang telah memberiku makan dengan makanan ini, dan merizkikannya kepadaku, tanpa usaha dan kekuatan dari diriku.’ maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, serta dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu).

  • Berkaitan dengan adab makan dan minum, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ
“Apabila salah seorang di antara kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan apabila minum maka minumlah dengan tangan kanannya karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits ini, maka kita mengetahui diharamkannya makan dengan tangan kiri.


  • Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya, dikisahkan adanya seseorang yang lumpuh tangan kanannya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan orang tersebut agar tidak bisa mengangkat tangannya ketika dengan sombongnya dia mengatakan: “Saya tidak bisa (makan dengan tangan kanan saya).”

Oleh karenanya, kita harus benar-benar memerhatikan adab ini. Jangan sampai ada yang meremehkannya apalagi menghinakannya. Karena kalau kita perhatikan ternyata tidak sedikit kaum muslimin yang kurang memerhatikan adab ini, terutama ketika sedang makan makanan ringan atau ketika sedang memberikan makanan di saat menyuapi anaknya.

  • Termasuk adab yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini adalah tidak diperbolehkannya untuk mencela makanan.
  • Disamping itu dianjurkan pula untuk makan dan minum dengan duduk serta minum dengan tiga kali bernafas. Yaitu dengan tidak menghabiskan minumnya dengan sekali teguk akan tetapi dengan cara menjauhkan tempat minum dari mulut untuk bernafas setelah meneguknya, dan hal ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

  • Adapun berkaitan dengan adab dalam berpakaian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada umatnya agar mendahulukan yang kanan ketika hendak memakai baju, celana, sandal, atau sepatu serta mendahulukan yang kiri ketika hendak melepasnya. Adab ini terkadang kurang diperhatikan oleh sebagian kaum muslimin terutama ketika sedang memakaikan atau melepas baju atau celana anak-anaknya.

Termasuk yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan adab ini adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih, yaitu disunnahkan bagi orang yang memakai pakaian yang baru untuk memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengatakan:


اللَّهُمَّ لَكَ الْحمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

“Ya Allah, segala puji hanyalah untuk-Mu yang telah mengaruniakan kepadaku (pakaian ini). Aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan akibat memakainya serta aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan akibat yang jelek di saat memakainya.”


Termasuk adab dalam berpakaian adalah sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:


حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِيْ وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR.At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)
  • Disamping itu, tidak diperbolehkan pula untuk mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian orang kafir seperti pakaian yang menampakkan aurat atau sangat ketat serta memakai pakaian yang terdapat gambar makhluk yang bernyawa dan sebagainya dari kekhususan yang ada pada pakaian mereka.
  • Termasuk pula adab dalam berpakaian adalah dilarang bagi laki-laki untuk memanjangkan jubah, sarung, atau celananya dan yang semisalnya hingga menutupi mata kakinya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancamnya dengan hukuman akan dimasukkannya apa yang ada di bawah mata kakinya ke dalam neraka, sebagaimana dalam sabdanya:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِيْ النَّارِ
“Sesuatu yang (menutup sampai) di bawah mata kaki dari kain maka tempatnya adalah di neraka.” (HR. Al-Bukhari)

  • Termasuk perkara yang perlu diingatkan dalam kaitannya dengan adab berpakaian adalah tidak diperbolehkan bagi laki-laki untuk menyerupai perempuan dalam berpakaian dan begitu pula sebaliknya. Larangan ini meliputi semua pakaian, baik berupa baju maupun alas kaki seperti sandal dan yang semisalnya, yang merupakan kekhususan bagi laki-laki maupun baju atau alas kaki yang merupakan kekhususan bagi perempuan. Hal ini perlu diperhatikan karena ada sebagian orang yang tidak hati-hati dalam hal ini terutama ketika di dalam rumah, sehingga terkadang memakai sandal khusus wanita milik istrinya di saat hendak ke dapur atau kamar kecil dan yang semisalnya.

Hadirin rahimakumullah,
Demikian sebagian dari adab-adab ketika makan atau minum dan adab dalam berpakaian.

Mudah-mudahan kita semuanya diberi kemudahan untuk bisa mengamalkan adab-adab yang telah kita pelajari dan semakin memerhatikan adab-adab yang telah disyariatkan di dalam ajaran Islam. Wallahu a’lam bish-shawab, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

KHUTBAH KEDUA:


الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بَيَّنَ لَنَا أَفْضَلَ الْمَسَالِكِ وَأَحْسَنَ الْآدَابِ وَوَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِسُلُوْكِهَا وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَإِلَيْهِ الْمَآبُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ قَامَ بِالْأَخْلاَقِ الفَاضِلَةِ وَأَتَمَّهَا وَحَذَّرَ أُمَّتَهُ مِنَ سَفَاسِفِهَا وَأَرْذَلِهَا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِآدَابِهِ وانْتَهَجُوْا مَنَاهِجَهَا وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di antara adab yang juga telah diatur dalam agama Islam adalah adab ketika tidur.

Berkaitan dengan adab tidur, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila engkau mendatangi pembaringanmu (untuk tidur) maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat selanjutnya berbaringlah pada sisi kananmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa di antara adab ketika tidur adalah tidur dalam keadaan suci dan tidur dengan posisi miring pada sisi kanan bagian tubuh. Disamping itu, disyariatkan pula bagi seorang muslim ketika hendak tidur untuk membaca salah satu doa, seperti ayat kursi atau doa-doa lainnya yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tersebut dalam hadits-hadits yang shahih dan disyariatkan pula untuk berdoa ketika bangun tidur dengan mengucapkan:


الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami (dengan bangun tidur) setelah matinya kami (dari tidur) dan hanya kepadanyalah kami akan dibangkitkan.”

Selanjutnya disyariatkan pula untuk mencuci telapak tangannya tiga kali dan ber-istinsyaq serta istintsar, yaitu dengan memasukkan air ke hidung serta mengeluarkannya, sebanyak tiga kali, sebagaimana hal ini tersebut dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:


إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah memasukkan (tangannya) ke air sampai dia mencucinya tiga kali karena dia tidak tahu di mana tangannya tadi malam berada.”
Dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيْتُ عَلَى خَيْشُوْمِهِ
“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidur maka berisytinsyarlah (yaitu memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkannya) tiga kali, karena setan bermalam di rongga hidungnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jamaah jum’ah yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Adab-adab lainnya yang disyariatkan dalam agama Islam adalah adab dalam buang hajat. Di antaranya adalah bahwa ketika hendak masuk ke kamar kecil disunnahkan untuk membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Sedang ketika keluar dari kamar kecil maka disunnahkan untuk berdoa dengan mengucapkan:

غُفْرَانَكَ
Termasuk dari adab ketika buang hajat adalah tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat saat buang air besar maupun buang air kecil.
  • Akan tetapi para ulama menjelaskan adanya rukhshah atau keringanan dalam masalah ini apabila buang hajatnya dilakukan di kamar kecil yang tertutup, yaitu meskipun dia melakukannya dengan menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya, hal tersebut tidaklah terlarang. Termasuk adab buang hajat adalah tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanannya saat buang hajat dan saat beristinja’, yaitu membersihkan kemaluan dari najis.
  • Begitu pula termasuk adab buang hajat adalah tidak melakukannya dengan berdiri kecuali saat dibutuhkan, karena kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika buang air kecil adalah dengan posisi duduk atau jongkok, meskipun pernah juga melakukannya dengan berdiri namun itu bukan kebiasaan beliau.

Hadirin rahimakumullah,

Perkara penting lainnya yang harus diperhatikan dalam masalah buang hajat adalah menjaga diri agar tidak terkena cipratan air kencing saat buang air kecil. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika melewati dua makam atau kuburan, beliau mengatakan:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَتَنَزَّهُ مِنَ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ
“Sesungguhnya kedua orang yang dikubur ini sungguh sedang disiksa (di alam kubur) dan tidaklah keduanya disiksa karena perkara yang besar (dalam pandangan orang). Adapun salah satunya (dia disiksa) karena sebab tidak berhati-hati dari terkena najis saat buang air kecil dan yang lainnya (dia disiksa) karena sebab mengadu domba.”

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Demikian beberapa adab dalam ajaran Islam yang bisa kita sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Dan masih banyak lagi yang belum disampaikan, bahkan yang belum kita sampaikan masih lebih banyak dari yang sudah kita sampaikan.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya sehingga kita bisa mengamalkan adab yang telah sampai kepada kita.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ إِذَا أَتَيْتَمَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْئَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأيْمَانِ



Friday, September 3, 2010

Keutamaan Etika Dalam Islam Friday, September 3, 2010


Kalau orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk kemashlahatan (kebaikan) dan kebahagiaan manusia, termasuk juga anjuran menebarkan salam..

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi*). Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya"*). (QS al-Ahzab [33]:56)

Keterangan:
"Bershalawat" artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat;  dari malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mu'min berarti berdo'a supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: "Allahuma shalli ala Muhammad", sedangkan ucapan salam dengan mengucapkan perkataan seperti: "Assalamu'alaika ayyuhan Nabi" artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu hai Nabi.]

I. KEUTAMAAN SALAM

Mengucapkan salam merupakan salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam, sebagaimana dalam hadits Barra’ bin Azib, ia berkata:

“Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk melakukan tujuh perkara, yaitu;
  • melayat dan memandikan jenazah,
  • mengiringi jenazah ke pekuburannya,
  • mendo’akan orang bersin yang mengucapkan alhamdulillah,
  • membantu orang yang lemah,
  • menolong orang yang dizhalimi,
  • mengucapkan salam dan
  • memenuhi sumpah.” (Muttafaq alaih).

MENIMBULKAN KASIH SAYANG ANTAR SESAMA

Menebarkan salam akan menimbulkan rasa saling berkasih sayang diantara sesama sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., katanya:

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak beriman sehingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu tebarkan salam antar sesamamu.” [HR. al Bukhari - Muslim].


MERUPAKAN AMALAN YANG TERBAIK DALAM ISLAM

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Apakah amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab: “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. al Bukhari - Muslim).> Mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah,

Sebagaimana firman-Nya:


فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya". (QS An-Nuur [24]:61)

 TERMASUK PERBUATAN YANG DAPAT 
MENGANTAR PELAKUNYA KE SURGA

Abu Yusuf Abdullah bin Salam Radhiallaahu anhu berkata; saya pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: ”Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukan silaturrahim, dan shalatlah ketika orang lain tidur malam, maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” [HR. At Tirmidzi, dia berkata: “hasan shahih”].

II. CARA MENGUCAPKAN SALAM

Imam an-Nawawi berkata; Disunahkan untuk memulai salam dengan mengucapkan: “Assalaamu‘alaikum warahmatullah”, dengan memakai dhamir jamak (kum), sekalipun sendirian. Dan menjawabnya dengan ucapan ”Wa’alaikumus-salam warahmatullah wabarakatuh”, dengan menambah “wa” pada kata wa’alaikum. [Riyadhush-shalihin halaman 290].
  • Orang yang mendapatkan salam, wajib menjawabnya dengan yang lebih baik atau semisal dengan salam yang dia terima.

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
“Apabila kamu diberi hormat (salam), maka hendaklah engkau menjawabnya dengan salam yang lebih baik atau yang serupa dengan yang diucapkannya.” (QS An-Nisa; 86)

Apabila mendatangi para sahabat, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam mengucapkan salam sampai tiga kali [HR. al Bukhari dari Anas bin Malik].

Imam an Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan; "hal ini mungkin dilakukan karena sahabat dalam jumlah yang besar". [Riyadhush-shalihin halaman 290].
  • Orang yang mengendarai kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki. 
  • Yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk. 
  • Dan yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan, 
  • yang kecil (muda) mengucapkan salam kepada yang besar (tua).
sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Bukahri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu.

Mengucapkan salam dengan suara sebatas yang bisa didengar oleh orang yang diberikan salam, sebagai-mana yang diriwayatkan oleh Miqdad beliau berkata; "kami menyediakan susu untuk Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau datang di waktu malam dan mengucapkan salam yang bisa didengar oleh orang yang terjaga dan tidak membuat orang yang tidur terbangun". (HR. Muslim).

TIDAK BOLEH MEMULAI SALAM KEPADA ORANG KAFIR

Orang-orang yang datang kepada kita, baik dari timur maupun dari barat yang non muslim, tidak halal bagi kita untuk memulai mengucapkan salam kepada mereka, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Janganlah kalian memulai kepada kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam “[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam 2167]

Tapi jika mereka lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka hendaklah kita megucapkan seperti salam mereka kepada kita, hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)” (QS An-Nisa [4] : 86]

Ucapan salam mereka dengan ungkapan salam Islam “Assalamu ‘alaikum” tidak terlepas dari dua hal.
Pertama: Mereka jelas-jelas mengucapkan dengan adanya salam yaitu, “Assalamu ‘alaikum (semoga kesejahteraan bagimu), maka kita boleh mengucapkan ‘Alaikumus salam atau wa alaikum (semoga juga bagimu).

Kedua: Jika mereka tidak jelas mengucapkan salam, misalnya mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” (semoga kematian menimpamu), maka kita mengucapkan, “wa ‘alaikum” (juga menimpamu). [Muttafaq Alaih].
Demikian ini, karena dulu kaum Yahudi pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam kepada beliau dengan ucapan, “Assamu ‘alaikum”, mereka tidak jelas mengucapkan lam. As-Sam artinya al-maut (kematian), maksudnya mereka mendo’akan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mati. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan pada mereka, “wa ‘alaikum”. Jadi, jika mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” maka kita membalas dengan ucapan, “wa ‘alaikum”, maksudnya, semoga kematian itu menimpa kalian pula.

Dan jika mereka mengucapkan salam kepada kita, cukup dijawab dengan ucapan “Wa’alaikum” (Muttafaq alaih). Apabila di sebuah majlis bercampur antara orang muslim dan non muslim maka boleh mengucapkan salam, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam ketika melewati sebuah majlis yang di sana ada orang muslim, musyrik, penyembah patung, beliau memulai mengucapkan salam. (Muttafaq Alaih).
  • Adapun memulai salam kepada mereka dengan ucapan salam, maka ini telah dilarang oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam

III. WAKTU MENGUCAPKAN SALAM
  • Ketika bertemu dengan orang lain baik yang sudah dikenal maupun yang belum. Dan yang lebih baik adalah orang yang pertama memulai, sebagaimana hadits Abi Umamah al-Bahili, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda;
“Sesungguhnya orang yang lebih baik di sisi Allah adalah yang memulai mengucapkan salam.
[HR. Abu Daud dengan sanad yang baik]

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Apabila kamu bertemu dengan saudaramu maka ucapkanlah salam, Jika terhalang dengan pohon, tembok atau batu, maka ucapkan salam ketika menemuinya”. [HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih].
  • Mengucapkan salam juga disunahkan ketika bertemu dengan anak kecil sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau mengucapkan salam kepada anak kecil (Muttafaq alaih).
Imam al Bukhari dalam kitabnya al Adabul Mufrad menyebutkan bahwa Salamah bin Wirdan berkata; "Saya melihat Anas bin Malik menyalami orang-orang dan berkata kepadaku: “Siapa kamu?” Saya menjawab: “Saya seorang anak dari Bani Laits”, kemudian beliau mengusap kepalaku tiga kali dan berkata; “Semoga Allah memberkati-mu.” [Imam Albani berkata sanadnya hasan].
  • Juga boleh mengucapkan salam kepada wanita, baik yang mahram maupun orang lain selama tidak menimbulkan fitnah. Sebaliknya wanita juga boleh mengucapkan salam kepada laki-laki seperti yang dilakukan oleh Umi Hani, ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam di waktu terjadinya penaklukan kota Makkah. [HR. Muslim].
  • Ketika akan memasuki rumah orang lain.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuk ke rumah orang lain, hingga kamu minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni-nya”. (QS.An-Nur 24]; 27).
  • Juga ketika memasuki rumah sendiri.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nur ayat 61.

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya". (QS An-Nuur [24]:61)
  • Ketika masuk dan keluar dari sebuah majelis
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:

”Apabila seorang masuk ke sebuah majlis maka hendaknya mengucapkan salam. Dan jika dia mau pergi hendaklah mengucapkan salam, tidaklah (salam) yang pertama tadi lebih berhak (untuk diucapkan) daripada yang akhir.”. [HR. Abu Daud, Imam al Albani berkata; hadits hasan dan shahih]. Maksudnya, kedua salam tersebut sama haknya untuk diucapkan.
  • Apabila ada orang yang menitipkan salam, maka yang menerima titipan salam tersebut mengatakan “Wa’alaihis-salam warahmatullahi wabara-kaatuh”. Sebagaimana yang dilakukan Aisyah ra ketika menerima titipan salam dari Jibri as lewat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam. [HR.al Bukhari- Muslim].




Rujukan: 1. Riyadhus Shalihin, oleh Abu Dzakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, 2. Kitabul Adab oleh Fu’ad bin Abdul ‘Aziz al Syalhub. (Nurul Mukhlisin)

Thursday, September 2, 2010

Adab Memberi Salam Thursday, September 2, 2010



MENGUCAPKAN SALAM, merupakan salah satu hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Hak seorang muslim terhadap seorang muslim enam perkara.” 
Lalu beliau ditanya: “Apa saja ya Rasulullah?” Maka beliau menjawab, 
(1) Bila engkau bertemu (berpapasan)dengannya maka uapkanlah salam kepadanya. 
(2) Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. 
(3) Bila dia meminta nasihat, berilah dia nasihat. 
(4) Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, do’akanlah semoga dia beroleh rahmat. 
(5) Bila dia sakit, kunjungilah dia. 
(6) Dan bila dia meninggal, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.” 

[Shahih Muslim, Hadits No.2025]

Salam yang kita ucapkan kepada orang lain dapat membuahkan rasa kasih sayang antar sesama. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: “Tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan tidak beriman hingga kamu saling mencintai. Dan maukah aku tunjukkan suatu perbuatan yang bisa membuatmu saling mencintai; yaitu terbarkanlah salam diantara sesamamu.” [HR Muslim]

KEISTIMEWAAN SALAM
1. Merupakan amalan yang terbaik dalam Islam
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: “Amalan apakah yang terbaik dalam Islam?” Beliau saw menjawab: “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal.” (HR Bukhori. No.12)

2. Mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah SWT
Sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلَى أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَ يِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُون
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya..” (QS An-Nur [24]:61)

3. Termasuk perbuatan yang dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga
Abu Yusuf Abdullah bin Salam r.a., berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukanlah shilaturarahim, dan shalatlah ketika orang lain tidur malam; maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi: 2485, Ibnu Majah: 1334, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Ibnu Majah: 1097)

UCAPAN DAN JAWABAN SALAM YANG PALING BAIK

Al-Imam An-Nawawi r.a. menuturkan: “Disunnahkan bagi orang yang memulai salam mengucapkan Assálamu’alaikum warahmatullah, dengan memakai dhomir jamak (kum,) sekalipun sendirian. Dan menjawabnya dengan ucapan Wa’alaikumus-salám warahmatullahi wabarakátuh, dengan menambah wa pada kata wa’alaikum.” [Riyadhush-Sholihin: 274]

Oleh karena itu, orang yang mendapatkan salam wajib menjawabnya dengan yang lebih baik atau semisal dengan salam yang dia terima. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS An-Nisa’ [4]:86)

SIAPAKAH YANG LEBIH BERHAK MEMULAI SALAM?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada pejalan kaki, Anak kecil mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua, orang yang lewat memberi salam kepada yang duduk, dan orang yang jumlahnya sedikit memberi salam kepada yang jumlahnya lebih banyak.” (HR Bukhari:6231-Shahih Muslim:2021)

WAKTU MENGUCAPKAN SALAM

1. Ketika akan memasuki rumah orang lain
Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An-Nur [24]:27) .

Begitu pula ketika memasuki rumah sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat an-Nur [24] ayat 61.

2. Ketika masuk dan keluar dari sebuah majelis
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw. bersabda (artinya): “Apabila seseorang masuk ke sebuah majelis maka hendaklah mengucapkan salam, dan jika dia mau pergi hendaklah mengucapkan salam. Tidaklah (salam) yang pertama tadi lebih berhak (untuk) di ucapkan daripada yang akhir.” [HR. Abu Dawud: 5208, Tirmidzi:2706, Bukhari dalam Adabul Mufrad:1008, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah:183]

Di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat ialah mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalnya saja. Sebuah kenyataan yang tak dapat kita pungkiri lagi pada zaman sekarang ini, banyak orang yang hanya mau mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikenalnya saja. Perilaku seperti ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW sebab beliau menganjurkan menebarkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Tidakkah mereka menyadari sabda Rasulullah SAW:

Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mau tidak mau mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja.” [HR. Ahmad dalam Musnad-nya: 1/387, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah:348].

ETIKA MENUCAPAN SALAM

1. Makruh memberi salam dengan ucapan ‘Alaikassalàm
Perhatikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Jabir bin Sulaim r.a, ia menuturkan: Aku pernah menjumpai Rasulullah saw., maka aku berkata: “ ’Alakaikassalàm ya Rasulullah saw.” Maka beliau saw., menjawab: “Jangan kamu mengatakan ’Alakaikassalàm, tetapi ucapkanlah: ” A’ssalamu’alaika.”

Dan di dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan ’Alakaikassalàm itu adalah untuk orang-orang yang sudah mati.” [HR. Tirmidzi:2722, Abu Dawud:5209 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud:2/516].

2. Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali
Dianjurkan mengucapkan salam dengan mengulangnya sebanyak tiga kali jika di khalayak ramai atau terhadap orang yang ketika disampaikan salam ia tidak mendengarnya. Di dalam hadits riwayat Anas r.a. disebutkan bahwa: Rasulullah saw apabila mengucapkan kalimat maka beliau mengulangnya tiga kali, dan apabila mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali. “ [HR.Bukhori:6244]

Imam Nawawi rah.a mengatakan: “Hadits ini mengandung kemungkinan jika di khalayak ramai yang sebagian mereka tidak mendengarnya dan bermaksud untuk memperjelas.” [Kitabul Adab:43, dinukil dari kitab Riyadush Sholihin:291]

3. Tidak boleh memulai salam kepada orang kafir
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Jangan kamu memulai mengucapkan salam kepada Jahudi dan Nashrani.” (Shahih Muslim: 2029). Dan jika mereka mengucapkan salam kepada kita, cukup dijawab dengan ucapan “Wa’alaikum”, sebagaimana hadits yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian maka ucapkanlah “Wa’alaikum.” [HR. Bukhari:6258; Shahih Muslim:2026]

Apabila di sebuah majelis bercampur antara orang muslim dan non-muslim maka kita boleh mengucapkan salam. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika melewati sebuah majelis yang di dalamnya ada orang muslim, musyrik, penyembah berhala, beliau mengucapkan salam. [HR.Bukhori:6254, Muslim:2168]

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar r.a bahwasanya dia mendengar Ibnu Umar bertanya kepada Rasulullah saw., maka beliau saw., menjawab: “Orang-orang Yahudi, bila mereka memberi salam kepadamu, maka ada salah seorang di antara mereka yang mengucapkan:”Assamu ‘alaikum” (racun untukmu), maka jawablah “’Alaika

4. Sunnah mengucapkan salam kepada anak kecil
Hal ini adalah untuk mendidiknya sejak kecil dengan adab-adab yang Islami dan membiasakan diri untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. Shahabat Anas bin Malik r.a. telah mengabarkan “bahwa ia pernah berjalan bersama Rasulullah saw, kemudian tatkala melewati anak-anak kecil beliau mengucapkan salam kepada mereka.” [Shahih Muslim:2030]

5. Larangan mengucapkan dan menjawab salam saat buang hajat
Dari al-Muhajir bin Qunfudz r.a., bahwasanya ia mendatangi Rasulullah saw dan memberi salam saat beliau buang air kecil, Beliau saw tidak menjawab salamnya sampai beliau berwudhu, kemudian beliau saw meminta maaf kepadanya seraya bersabda: “Aku tidak suka menyebut nama Allah SWT kecuali dalam keadaan suci.” [HR.Abu Dawud:17, Nasa-i:38 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud: 13].

Apabila ada orang yang menitipkan salam, maka yang menerima titipan salam tersebut mengatakan “Wa’alaihissalàm warohmatullahi wabarokàtuh”, sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Aisyah r.a. ketika meneima titipan salam dari Jibril as. Lewat Rasulullah saw.” [HR Bukhari: 6253]

Demikianlah wahai saudaraku, semoga risalah yang singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Marilah kita tebarkan salam kepada sesame muslim, karena dengan inilah akan timbul rasa cinta dan kasih saying . Jangan sampaiseorang muslim bertemu dengan muslim lainnya menampakkan sikap acuh tak acuh atau cuek , atau mengucapkan perkataan yang tak layak untuk di ucapkan oleh seorang muslim.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.beserta keluarga dan shahabatnya.


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً 
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” 
(QS Al-Ahzab [33]:56)



[Dari: Mukhlis Abu Dzar]

Monday, August 30, 2010

Qana'ah Dan Bersyukur Monday, August 30, 2010




Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: “Barang siapa sudi menerima bagian yang telah AKU berikan untuknya (Qonaah & bersyukur) maka, Rezekinya AKU beri "keberkahan” dan harta benda duniawi pun memaksa diri untuk mendatanginya walaupun ia tidak menginginkannya."

Marilah kita contoh Nabiullah Sulaiman AS yang dikarunia Allah menjadi manusia sangat kaya raya yang tidak ada tolok bandingnya. Allah SWT telah mengabulkan doa-doanya untuk menjadi manusia terkaya di muka bumi, dan sepeninggalnya tidak akan pernah ada satu manusia pun yang memiliki kekayaan sebanyak dirinya.

Dengan seluruh kekayaan dan segala kelebihan yang dimilikinya yang merupakan karunia Allah Ta'ala; yaitu kemampuan untuk memerintah golongan jin dan binatang; mampu berbahasa binatang; mampu menundukkan angin; dan mampu mengendarai awan, namun beliau AS tidak pernah berhenti mensyukuri segala nikmat yang di karuniakan Allah padanya.

Dalam Surat An-Naml [27] ayat 40, Allah berfirman tentang Nabi Sulaiman yang artinya adalah:

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرّاً عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni'mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih." (QS Saba' [34]:13)
Dalam Hadits Qudsi Allah SWT berfirman:
“Hai anak Adam! Rezeki adalah Rezeki-KU, Puji, syukur, hanya untuk diri-KU, sedangkan manfa’atnya kembali kepadamu. Mengapa kamu tidak mau bersyukur kepada-KU atas segala ni’mat yang AKU berikan padamu? Hai anak Adam! Sampai kapan kamu mengumpulkan harta dunia, padahal ia bakal Fana? Dan kamu hancurkan akhirat, padahal ia adalah Kekal?"
Renungkanlah Firman-firman Allah berikut ini:

Karena Rahmat dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya, Allah Azza wa Jalla telah menggilirkan Siang dan malam menurut orbitnya yang teratur, di mana dengan adanya pergantian siang dan malam, manusia dapat mencari rizki pada siang hari dan beristrirahat pada malam harinya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim [14]: 7) 

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur." (QS Al-A'raf [7]:10)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukur-lah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah." (QS Al-Baqarah [2]: 172)

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَاباً مُّؤَجَّلاً وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا
وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS Ali-Imran [3]: 145)

Firman Allah SWT:

وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya." (QS Al-Qashash [28]:73)

Pernahkah kita merenungkan apa jadinya dunia yang kita tempati ini seandainya tidak ada rotasi bumi dan planet lainnya?
Mampukah kita bertahan hidup?
Jawabannya adalah: TIDAK!

Selama milyaran tahun, bumi berputar melalui porosnya mengeliling matahari sedangkan bulan berotasi mengelilingi bumi yang dengannya kita bisa menghitung hari dan menetapkan tanggal. Pada siang hari di bagian bumi yang menghadap matahari, maka di bagian bumi yang lain, terjadi malam, sehingga seluruh daratan bumi memperoleh matahari dan bila matahari terbenam, kita akan dapat menikmati keindahan bulan yang secara perlahan berubah dari bentuk sabit sehingga menjadi purnama yang indah gilang gemilang.

Sekiranya bumi, bulan, matahari, dan seluruh planet yang ada di alam semesta ini berhenti berputar (tidak berotasi), dapat dipastikan bahwa belahan bumi yang terkena sinar matahari, atau terjadinya siang yang berkepanjangan (tanpa adanya malam) itu, akan megalami kenaikan suhu udara yang ekstrim. Sehari berlalu panasnya sudah di atas suhu normal. 2-3 hari kemudian hutan-hutan pun mulai terbakar dan dalam tempo seminggu saja, kemungkinan besar air laut mulai mendidih, begitu juga dengan darah yang mengalir disekujur tubuh manusia ikut menggelegak dan pada saat seperti, maka tidak ada satu makhluk-pun yang mampu bertahan hidup!

Begitu juga kondisi yang terjadi pada bagian bumi yang sama sekali tidak terkena cahaya matahari, atau terjadi malam terus menerus (tanpa adanya siang), suhu udara semakin lama akan menjadi semakin dingin, bahkan segera membeku. Seminggu kemudian air laut dan semua cairan yang ada di belahan bumi itu menjadi beku. Mungkin manusia masih bisa berlindung di dalam rumah atau goa untuk beberapa lama, tapi apa yg terjadi kalau suhu udara di luar sudah mencapai titik minus (-) 1000 derajat DI BAWAH NOL? Masih mungkinkah ada makhluk yg mampu bertahan hidup?

Firman Allah SWT dlm Surat An-Nahl, ayat 12:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya),"

Subhanallah!

Walhamdulillah wa ilaha illallah Allahu Akbar, lahaula wala quwata ila billahil'aliyul adziim.
Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:5)




Berbuat Baik Disukai oleh Allah


Para pembaca yang mulia, 
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita diatas agama yang lurus, agama yang Haq dan yang di ridhoi-Nya. “Inad- diina indal laahil islam”

Segenap puji dan syukur diperuntukkan hanya bagi Allah ‘Azza wa alla, karena dengan taufiq dan ‘inayah-Nya jualah yang telah menggerakkan hati kami untuk selalu berusaha menyampaikan yang haq, meskipun hanya berupa sepenggal ayat maupun hadits.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, utusan Allah yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, yaitu baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga (ahlul bait)nya serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.

إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah [2]: 195). 

Ali bin al-Husain memiliki hamba sahaya perempuan. Suatu hari sang budak menuangkan air wudu untuknya. Tanpa disengaja, ceret, tempat air wudhu, jatuh menimba wajah Ali hingga terluka. Ali Zainal Abidin dengan marah menatap wajah sang budak. Merasa bersalah sang budak berkata, (mengutip surah Ali Imran ayat 134 yang menyebutkan kriteria orang bertakwa), "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wal kaazimiinal ghaidl,' (Dan orang yang menahan amarahnya)." Ali menjawab, "Aku telah menahan amarahku." Hamba sahaya berkata lagi, "Wal 'aafiina 'anin nas" (Dan orang-orang yang memberikan maafnya). Ali menimpali, "Semoga Allah memaafkan kamu." Ia berkata lagi, "Wallahu yuhibbul muhsiniin" (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan). Ali membalas, "Engkau telah kubebaskan karena Allah Azza wa Jalla." (Al-Bidayah IX/112). 

Subhanallah! sungguh sebuah sikap yang mengagumkan. Amarah yang berhenti dalam sekejab karena dibacakan ayat, disusul pemberiaan maaf, bahkan pembebasan budak karena dorongan berbuat ihsan. Tercermin sebuah kematangan emosi, pengagungan akan ayat Allah, dan sikap memilih dan melakukan yang terbaik (ahsanahu). 

Itulah profil muslim. Karena, Islam dibangun di atas tiga pilar: Islam, iman, dan ihsan. "Tadi adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan din kepada kalian." Itulah jawaban Rasulullah ketika malaikat datang dan bertanya perihal Islam, iman dan ihsan. Jadi, dinul Islam dibangun di atas ketiganya. 

Perbuatan ihsan itu banyak bentuk dan ragamnya. Ihsan dalam hal ibadah, seperti jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril, "Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim). Ihsan dalam ibadah adalah adanya rasa selalu diawasi Allah Taala ketika menunaikannya, seolah ia melihat Allah, atau minimal merasakan bahwa Allah melihatnya. Untuk itu, harus dilakukan dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunah dan tata-caranya. Karena, ibadah tidak akan dilihat oleh Allah jika menyelisihi tata-cara yang disyariatkan. Demikian ditulis oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Minhajul Muslim. Beliau juga menilis bentuk-bentuk berbuat ihsan dalam bidang muamalah, misalnya dengan berbuat baik kepada orang tua, sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, musafir, pembantu, manusia secara umum dan hewan, seperti tersebut dibawah ini. 

Berbuat baik kepada orang tua bisa dengan menaatinya, memberikan kebaikan kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat-wasiat keduanya dan menghormati teman-teman keduanya. 

Berbuat baik kepada sanak keluarga misalnya dengan menyayangi mereka, lemah lembut terhadap mereka, mengerjakan perbuatan baik bersama mereka, tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyusahkan mereka dan tidak menjelek-jelakkan ucapan mereka. 

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mendidik mereka, membina mereka, tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, ceria di depan mereka, dan mengusap kepala mereka. 

Berbuat baik kepada orang-orang miskin adalah dengan menghilangkan kelaparan mereka, menutup aurat mereka, menganjurkan manusia memberi makan kepada mereka, tidak mencaci kehormatan mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menimpakan kesusahan kepada mereka. 

Berbuat baik kepada musafir ialah dengan memenuhi kebutuhannya, menutup aibnya, menjaga hartanya, melindungi kemuliannya, memberinya petunjuk jika ia meminta petunjuk, dan menunjukkannya jika tersesat. 

Berbuat baik kepada pembantu adalah dengan menggajinya sebelum keringatnya kering, tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan, menjaga kemuliaannya, dan menghormati kepribadiannya. Jika pembantu tersebut menetap di rumah yang dibantu, baginya memberi makan seperti yang ia makan, memberi pakaian seperti yang ia kenakan. 

Berbuat baik kepada manusia secara umum antara lain dengan berkata lembut kepada mereka, mempergauli mereka dengan pergaulan yang baik setelah sebelumnya menyuruh mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di antara mereka, mengajari orang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak mengganggu mereka dengan mengerjakan tindakan yang membahayakan mereka dan lain sebagainya. 

Berbuat baik kepada hewan adalah dengan memberinya makan jika lapar, mengobatinya jika sakit, tidak membebani dengan muatan yang tidak mampu ditanggungnya, lemah lembut terhadapnya jika bekerja, dan mengistirahatkannya jika lelah. 

Begitulah bentuk-bentuk ihsan. Semoga kita tergolong dalam barisan muhsinin yang dicintai Allah, seperti dalam firman di atas, 

إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah [2]: 195). 

Wallahu a'lam bish shawab.

Monday, July 26, 2010

Menangis Karena Takut Kepada Allah SWT Monday, July 26, 2010



Segala puji bagi Allah Yang membaguskan susunan ciptaan-Nya, Yang menciptakan langit dan bumi, mengatur rezeki dan makanan, Yang menghidupkan dan mematikan, serta Yang memberi pahala atas perbuatan-perbuatan baik. Shalawat dan salam bagi junjungan kita, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beserta ahlul baitnya, para shahabat salaffus Shalih serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.


Menangis adalah karunia Allah Subhannahu wa Ta'ala yang sangat besar yang diberikan kepada manusia. Setiap orang yang menangis tentu memiliki alasan-alasan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Bisa jadi seseorang menangis karena takut pada sesuatu, karena bahagia, karena terharu, bisa jadi juga seseorang menangis karena iba, karena menderita, karena kehilangan sesuatu, kematian, musibah dan sebagainya.

Namun ada satu tangisan yang sangat disenangi dan dipuji oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala, yaitu seseorang yang mengingat Allah Subhannahu wa Ta'ala, lalu air matanya bercucuran karena merasa takut kepada-Nya. Dan sungguh luar biasa keutamaan yang akan diberikan Allah Subhannahu wa Ta'ala kepada orang yang bisa mencucurkan air mata karena takut pada-Nya. 

KEUTAMAAN MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH TA'ALA

Menangis karena takut kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala memiliki kedudukkan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah, sebagaimana ditegaskan dalam nash-nash Al-Qur'an maupun Hadits-hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, diantaranya:

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala:
وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعاً
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan kekhusyuan mereka bertambah". (QS. Al-Isra [17]:109)

Firman-Nya yang lain,
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar" (QS. Al-Mulk [67]:12) ·

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda;
"Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah; …(dan disebutkan diantaranya) seseorang yang berzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendiriannya kemudian air matanya mengalir" [HR. al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya]

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda,
"Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu ibu (yang sudah diminum oleh anaknya) kembali ke tempat asalnya" ( HR.at-Tirmidzi ) · Sabda Rasulullah , artinya,"Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak" [HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih]

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
"Semua mata pada hari Kiamat nanti akan menangis kecuali (ada beberapa mata yang tidak menangis) (pertama) mata yang dijaga dari hal-hal yang diharamkan Allah, (ke dua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah, (ke tiga) mata yang darinya keluar sesuatu (menangis) walau (air mata yang keluar) hanya sekecil kepala seekor lalat karena takut pada Allah" [HR.Ashbahâni]

Dari Ibnu Mas'ud Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda;
"Setiap mukmin yang meneteskan air mata karena takut kepada Allah walau hanya sekecil kepala seekor lalat, lalu air matanya itu membasahi pipinya niscaya Allah haramkan neraka untuk menyentuhnya" [HR.Ibnu Majah, al-Baihaqi dan Ashbahâni]

Dari al-Abbâs Bin Abdul Muthallib Radhiallaahu anhu, Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." [HR. At-Thabrani]

Dari Zaid Bin Arqom Radhiallaahu anhu, dia berkata,
"Seseorang bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, “Ya Rasulullah, dengan apa aku membentengi diri dari api neraka?

Rasulullah menjawab, “Dengan air matamu, karena mata yang menangis karena takut pada Allah niscaya neraka tidak akan menyentuhnya selama-lamanya" [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ashbahâny]

Hal-Hal Yang Dapat Membuat Kita Menangis 
  • Memperbanyak membaca al-Qur'an dengan memahami maknanya, terutama ayat-ayat yang kita baca di dalam shalat, kemudian berusaha untuk merenungi dan meresapi maknanya ke dalam hati. Di samping itu pilih waktu, suasana dan tempat yang tepat, seperti tengah malam, ketika shalat tahajjud dan sebagainya. Jika hal ini bisa kita perhatikan, insya Allah akan membawa pengaruh yang berarti dalam kehidupan kita, sehingga kita akan mudah tersentuh dan menangis ketika membaca al-Qur'an, atau ketika sedang shalat.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Syukhair Radhiallaahu anhu dia berkata, "Aku mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang sedang shalat, dan (aku mendengar) dari rongga dadanya ada gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau" [HR.Abu Daud dan at-Tirmidzi] 

Demikian juga Abu Bakar As-Shiddîq Radhiallaahu anhu, beliau sangat mudah tersentuh dengan bacaan Al-Qur'an dan selalu menangis tatkala melantunkan bacaan al-Qur'an. Juga Umar bin Khattab Radhiallaahu anhu apabila menjadi imam shalat Isya dan Subuh, beliau sering membaca surat Yusuf, dan setiap kali membaca surat ini maka beliau menangis dan suara tangisannya terdengar hingga shaf yang paling belakang, dan karena seringnya beliau menangis sehingga ada bekas menghitam di kedua pipinya. 
  • Mengenali Nama-Nama Allah yang Maha Tinggi dan Sifat-Sifat-Nya yang Agung sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
  • Berusaha untuk merenungi kebesaran, keagungan, ketinggian dan kesempurnaan Allah melalui keindahan dan keunikan ciptaanNya, disertai dengan introspeksi atas kelemahan diri kita sebagai hambaNya. 
  • Menghadiri majlis-majlis ilmu, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh batin kita, sehingga membuat kita menangis.
  • Shalatlah berjamaah di belakang imam yang mudah menangis ketika melantunkan ayat-ayat suci al-Qur'an, simaklah kaset-kaset ceramah yang berisi nasehat-nasehat terutama mengenai tazkiyatun nafs, bacaan-bacaan murattal yang isinya penuh dengan kekhusyu'an dan tangisan. Suasana seperti itu bisa menyentuh dan mempengaruhi diri kita.
MENGINGAT KEMATIAN DIRI SENDIRI
Bagaimana kita akan meregang nyawa mengadapi sakaratul maut dan kita ingatlah ajal kita yang semakin dekat ke ambang pintu kematian. Perhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang sedang sakaratul maut, baik yang tampak padanya tanda-tanda khusnul khatimah ataupun sû`ul khatimah. Lalu renungkan kejadian-kejadian itu secara mendalam. Kemudian kita bayangkan jika kejadian-kejadian yang mengerikan itu menimpa diri kita sendiri, dengan tubuh yang semakin lemah, semakin dingin dan semakin tidak berdaya menghadapi kematian, dengan nafas yang tersengal-sengal meregang nyawa. Tubuh kita menggigil menahan sakitnya sakaratul maut, lalu malaikat maut menarik nyawa dari tubuh kita yang sudah kaku tak bergerak.

Hanya diri kita sendiri yang merasakan sakitnya sakaratul maut. Tak seorang pun bisa membantu untuk meringankan betapa sakitnya sakaratul maut, dan tak seorangpun bisa berbuat tatkala nyawa kita dipegang oleh Malaikat Maut. Setelah nyawa kita berpisah dengan jasad, berarti kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya, maka orang-orang yang ada di sekeliling kita menangis sambil meneteskan air mata menyaksikan tubuh kita yang sudah tidak bernyawa.

Lalu tubuh kita dimandikan, dikafani, lalu dishalatkan dan dikuburkan. Anak, istri, keluarga, kerabat dan teman kita mengantarkan jasad kita ke kuburan. Lalu setelah itu mereka meninggalkan kita sendirian di dalam kubur dengan pemandangan yang mengerikan, dan kita tidak tahu apakah kuburan kita itu menjadi taman surga atau justru lorong menuju ke neraka?

Di tengah pekatnya kegelapan alam kubur yang menakutkan itu, tiada seorang pun yang menemani kita. Tiada seorang pun yang bisa menolong kita. Tiada seorang pun yang bisa memberi bantuan pada kita selain amalan yang merupakan bekal yang telah kita persiapkan semasa hidup.

Kita hanya berharap agar semua amal ibadah yang sempat kita lakukan semasa hidup di dunia diterima Allah, karena sangat banyak amalan manusia yang tidak mendapat ridha Allah Subhannahu wa Ta'ala.
  • Menyadari bahwa banyaknya amalan ibadah yang dilakukan oleh seseorang belum menjadi jaminan untuk terbebasnya dia dari azab kubur kecuali apabila Allah berkenan menerimannya.
  • Mengingat dan membayangkan kedahsyatan hari Kiamat. Pada hari itu terdengar tiupan pertama terompet malikat Israfil yang sangat dahsyat, sehingga menggelegarkan alam jagat raya ini dan seluruh isinya. Semua makhluk dicekam ketakutan. Semua manusia dalam kebingungan, panik, dan sangat takut. Mereka semua seperti orang yang sedang mabuk. Semua lari tapi entah ke mana tujuannya. Pada hari itu seorang ibu yang sedang menyusui anaknya tidak peduli lagi dengan anak yang sedang dia susui. Seorang bapak tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong anak dan istrinya. Semua hanya mengurusi diri sendiri tapi tidak ada yang bisa diperbuat. Semuanya dicekam ketakutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Lalu terdengar lagi suara tiupan terompet malikat Israfil untuk yang ke dua kali. Semua makhluk semakin histeris lalu semuanya musnah. Bumi, gunung, bangunan dan apa saja yang ada semuanya hancur. Semuanya mati dan tiada satupun makluk yang selamat dan lolos dari kehancuran alam semesta ini. 
  • Mengingat Murka Allah kepada umat-umat terdahulu, seperti umat nabi Luth alaihissalam. Mereka dibinasakan dengan hujan batu, lalu bumi mereka dibalikkan oleh Allah Ta'alakarena mereka bergelimang dengan dosa liwath (gay/ homoseksual). Dan masih banyak lagi umat-umat terdahulu yang dihancurkan Allah Ta'ala karena kedurhakaan mereka kepada-Nya.
  • Ingatlah Kondisi Ummat Islam di masa lalu yang penuh dengan kejayaan dan kemuliaan, lalu bandingkan dengan kondisi kita saat ini yang begitu lemah dan dihinakan.
  • Memperbanyak Do'a agar Allah Ta'alamenganugerahkan karunia-Nya kepada kita agar bisa menangis karena takut padaNya. Hendaklah kita selalu bermunajat pada-Nya dan sungguh-sungguh dalam berdo'a agar kita dijauhkan dari hati yang tidak khusyu' dan mata yang tidak bisa menangis.
  • Jangan Meremehkan Dosa, karena dosa sekecil apa pun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Ibnu Mas'ud ra berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan dia berada di bawah sebuah gunung dan dia khawatir kalau gunung itu ditimpakan kepadanya. Sedangkan seorang fasik melihat dosa-dosanya seperti dia melihat seekor lalat yang bertengger di hidungnya.

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita termasuk hambaNya yang senantiasa menangis karena takut padaNya.



[Dari: Bulletin: An-Nuur | Abu Abdillah Dzahabi]

Contact Form

Name

Email *

Message *