Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Nabi Adam. Show all posts
Showing posts with label Nabi Adam. Show all posts

Tuesday, November 5, 2019

Al-Quran: Allah SWT Menciptakan Adam Seperti Bentuk-Nya? Tuesday, November 5, 2019

Hadits ini menjadi salah satu perbincangan yang sangat serius di kalangan ahli hadits, ahli makna, dan ahli tafsir. Banyak ahli hadits yang menilainya shahih dengan memberikan ta’wil mulai dari yang sewajarnya sampai pada tingkat yang melebihinya. Ada pula kalangan ahli hadits yang menilainya dhaif, walaupun hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak sahabat dan terdapat dalam kitab-kitab Shahih s/d Mu’jam. Hadits tersebut sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Saw:

فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Maka sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti bentuk-Nya“. [Shahih Muslim 4/2017, 4/21/83 - derajat hadits shahih]

Yang menjadi perdebatan adalah “ha-dhamir“ yang terdapat dalam kata عَلَى صُورَتِهِ apakah artinya “seperti bentuk-Nya" (Allah), ataukah “seperti bentuknya" (Adam). Bila “ha-dhamir“ tersebut dikhitabkan kepada Allah, maka sesuatu yang mustahil bentuk Allah berwujud seperti bentuk Adam sebagai makhluk.

Bila bentuk Adam sebagaimana bentuk Allah dalam wujud-Nya, maka ini pun bisa berarti bahwa setiap bentuk keturunan Adam adalah manifestasi dari bentuk Allah. Sedangkan bentuk Allah tidak dapat disifati dengan apa pun. Dan apa pun bayangan kita tentang bentuk Allah dapat dipastikan bukanlah bentuk Allah.

Karena sesuatu yang berbentuk adalah sesuatu yang dapat dikenali oleh indera pengihatan. Sedangkan indera penglihatan kita belum pernah bertemu dengan-Nya, jadi bagaimana mungkin sesuatu yang belum pernah dilihat dapat dikenali bentuknya ?

Kesalahan ini terjadi karena hadits yang disampaikan terlalu pendek. Seandainya hadits tersebut disampaikan sedikit lebih lengkap, maka tidak akan ada perdebatan di kalangan para ahli. Mari kita cermati redaksi tersebut lebih lengkap dari sebelumnya.

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا
“Allah menciptakan Adam seperti bentuknya, tingginya 60 hasta.“

Dengan penambahan kata 60 hasta, sudah pasti itu adalah tingginya Adam a.s bukan tingginya Allah. Karena kata tinggi di sini di sifatkan untuk ukuran tinggi badan Adam a.s.

Ada satu lagi hadits yang diperdebatkan sebagaimana hadits di atas. Hadits tersebut sebagaimana sabda Nabi Saw:

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ، فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Di mana (kalian) memukul seseorang, maka jangan dipukul diwajahnya, karena sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti wajahnya.“ [Shahih Ibnu Hibban 12/420, 13/19, Musnad Ahmad 12/275, 12/382, 16/427, Mushanaf Aburrazzaq 9/444, as-Sunnah, Abdullah bin Ahmad 1/267, as-Sunnah, Ibnu Abi Ashim 1/229, Musnad al-Bazzar 15/161, as-Sunan al-Kabir, an-Nasai 6/479, Musnad Abu Ya’la 11/157, at-Tauhid, Ibnu Khuzaimah 1/82 - derajat hadits hasan shahih]

Wajah di sini pun, adalah wajah Adam a.s bukan wajah Allah. Tentang wajah Allah Quran suci telah menerangkannya:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.“ (QS. 55 – ar-Rahman: 27)

Sedangkan setiap wajah manusia tidak ada yang memiliki kebesaran, kemuliaan dan kekal sebagaimana Wajah Allah. Jadi mustahil apabila hadits tersebut harus diartikan bahwa wajah Adam sebagaimana wajah Allah.

Tentang ta’wil hadits tersebut, Imam Ibnu Qutaibah berkata: “Saya membaca di dalam kitab Taurat: “Sesungguhnya ketika Allah Swt menciptakan langit dan bumi, Dia berfirman: “Kami menciptakan manusia dengan bentuk Kami. Lalu Dia menciptakan Adam dari intisari bumi. Kemudian ditiupkan pada wajahnya kehidupan.“ [Ensiklopedia Hadits hal. 213-214]

Dalam kalimat: “Allah menciptakan Adam dari intisari bumi“ dapat dikatakan sebagai penutup perdebatan ini. Karena tidak mungkin kita akan beranggapan bahwa bentuk dan wajah Allah pun berasal dari inti sari bumi. Bila bentuk dan wajah Allah berasal dari inti sari bumi berarti penciptaan bumi lebih dahulu daripada keberadaaan Allah. Dan bila Allah memiliki bentuk dan wajah, maka harus ada pula al-mushawwir (pembentuk)-nya, dan bila al-mushawwir-nya ada, maka ia pun berwujud terlebih dahulu daripada Allah. Apabila begitu jadinya, maka konsekwensinya ada tuhan lain selain Allah, karena Allah ada dari hasil penciptaan bukan yang menciptakan. Dan ini mustahil.

Sebenarnya penjelasan tentang kedua hadits di atas telah dijelaskan di dalam al-Quran. Hanya mungkin saja ayat ini terlewat oleh para ahli dari penelitiannya. Adapun ayat itu berbunyi:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِيْنَ
“Dan ketika Rabb Pemelihara kamu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan telah Kutiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dalam keadaan bersujud.” (QS. 15 – al-Hijr: 28-29)

Tahulah kita sekarang tentang maksud dari kitab Taurat yang mengatakan “Allah menciptakan Adam dari intisari bumi” adalah “dari tanah liat kering dari lumpur hitam” dan setelah itu “yang diberi bentuk.” Dengan keterangan ini semakin jelaslah, bahwa yang dibentuk itu adalah Adam a.s. bukan Allah.

Perlu pula diketahui, bahwa yang dikatakan dengan “intisari bumi“ adalah bahan-bahan penciptaan manusia. Al-Quran suci telah menerangkan hal tersebut kepada kita. Adapun bahan-bahan tersebut adalah:

Di dalam QS. 3 - Ali-Imran : 99, firman-Nya

آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Adam diciptakan oleh-Nya dari tanah (thuraab) kemudian Dia berfirman kepada Adam Jadilah, maka Jadi ”

Maksud dari kata تُرَابٍ (thuraab) adalah: unsur-unsur dzat asli yang terdapat dalam tanah yang dinamakan dzat anorganis.

Sedangkan maksud dari kata كُنْ فَيَكُونُ (jadilah maka jadi) mengisyaratkan kepada unsur kegaiban atau kekuatan mistis yang Allah lekatkan kepada Adam dan sebagian anak keturunannya. Sehingga Adam dan sebagian anak keturunannya diberikan kemampuan untuk mempelajari, mendalami dan menjalankan ilmu-ilmu gaib.

Di dalam QS.15 - al-Hijr: 28, firman-Nya

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
“dan sesungguhnya aku menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk.”

Yang dimaksud dengan kata حَمَإٍ (hamaain) berarti zat lemas (Nitrogen)

Di dalam QS.55 – ar-Rahman: 14,  firman-Nya

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia (Allah) menciptakan manusia dari tanah kering (tembikar)”

Yang dimaksud dengan kata صَلْصَالٍ (shal-shalin) adalah: tanah setengah kering yakni, dzat pembakar (Oksigen) dan yang dimaksud dengan اَلْفَخَّارِ (al-fakhor) adalah dzat arang (Carbonium).


Di dalam QS. 32 – as-Sajadah : 7-8, firman-Nya

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
“yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah (at-thiin). Kemudian Dia menjadikan keturunannya (Adam) dari saripati air yang hina (air mani).”

Yang dimaksud dengan طِينٍ (thiin) adalah: atom dzat cair (Hidrogenium). Sedangkan yang dimakud dengan مَاءٍ مَهِينٍ (main mahiin) adalah: protein, vitamin dan calcium.

Di dalam QS. 37 - ash-Shafat: 11, di dalam firman-Nya

إِنَّا خَلَقْناهُمْ مِنْ طِينٍ لاَّزِبٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat (laazib).”

Yang dimaksud dengan لاَّزِبٍ (Laazib) adalah: dzat besi (Ferrum, Yodium, Kalium, Silicum dan Mangan). Dengan adanya unsur-unsur besi ini, maka tidaklah aneh apabila ada sebagian keturunan Adam yang mampu memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Bahkan, adapula di antara mereka yang memiliki kekebalan tubuh seperti tak mempan oleh pukulan besi dan yang sejenisnya.Hal ini dikarenakan mereka mampu memaksimalkan potensi dzat-dzat besi yang berada di dalam tubuh mereka, baik melalui jalan latihan atau pun melalui doa-doa khusus.

Di dalam QS. 99 - al-Alaq: 2, firman-Nya

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
"(Dia telah) menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Yang dimaksud dengan عَلَقٍ (alaq) adalah proses akhir dari penciptaan bentuk manusia, yang mana Allah memberikan daging, kulit, darah, urat syaraf, tulang, organ-organ dalam tubuh seperti : paru-paru, jantung, hati, lambung dan yang lainnya, sebelum Allah meniupkan ruh kehidupan kepada janin tersebut.

Adalah proses peniupan ruh kehidapan kepada janin, sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan telah Ku-tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku,”

Dengan penjelasan ini maka selesai pula perjalanan intelektual kita dalam pembahasan topik ini.
Alhamdulillah


Sunday, June 8, 2014

Doa Nabi Adam AS Dan Nama Nabi Muhammad SAW Sunday, June 8, 2014


Bismillahirrohmanirrahim.

Bila anak-cucu Adam AS berdosa dan takut memohon kepada Allah SWT maka hendaklah dia ingat sabda Nabi Muhammaad SAW berikut ini
"Bahwa suatu saat nabi Adam AS berdoa kepada Allah: "Oh, Allah demi namaMu yang maha berkat, tatkala engkau mencipta aku maka aku mengangkat kepalaku ke arasy tiba-tiba terlihat olehku tulisan "Lailaha illallahu muhammad darasulullah" maka aku meyakini bahwa tidak ada yang besar kemuliaannya disisiMu daripada dia yang Engkau letakkan namanya di sisi namaMu." Allah pun berfirman kepada nabi Adam as: "Wahai Adam sesungguhnya dia adalah nabi yang terakhir daripada zuriat engkau dan kalaulah tidak kerananya tidak Kujadikan engkau." 

[Riwayat Imam Tabrani, Hakim, dan lain-lain].

SEMOGA BERGUNA!



Monday, November 12, 2012

Al-Quran: Adam Dan Tragedi Buah Khuldi Monday, November 12, 2012

Mari kita simak informasi Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Thaahaa (20): 121-122: “Maka keduanya memakan dari pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun surga, Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Tuhan memilihnya maka Dia menerima taubatnya Dan memberi petunjuk.”

Buah Khuldi dianggap sebagai biang keladi turunnya Adam dan Hawa dari surga. Seandainya Adam dan Hawa tak makan buah khuldi, niscaya mereka tidak akan diusir dari surga. Dan kita, semua keturunan adam, masih tetap tinggal di surga dengan segala kenikmatannya sampai kini.

Begitulah keyakinan sebagian besar kita (khususnya Kristen) tentang peristiwa di sekitar turunnya Adam dan Hawa dari surga. Setan menggunakan buah khuldi itu untuk menyesatkan Adam dan Hawa agar keduanya membangkang perintah Allah SWT.

Ada beberapa kontroversi yang muncul seputar turunnya Adam dan Hawa dari surga ini. Di antaranya adalah tentang buah khuldi yang ternyata tidak disebut secara eksplisit oleh Allah. Allah hanya menyebut pohon tersebut secara sepintas lalu tanpa menyebutkan nama. Nama ‘buah khuldi’ justru muncul dari istilah yang digunakan oleh setan ketika merayu Adam dan Hawa untuk memakannya. Itu pun tidak secara eksplisit menyebut buah, melainkan menyebut "syajaratul khuldi" alias ‘pohon keabadian’. Demikian ulasan Agus Mustofa dalam bukunya: Adam Tak Diusir dari Surga.

Pohon keabadian itulah yang memunculkan istilah buah khuldi. Padahal, kata ‘buah’ pun secara eksplisit tidak disebut dalam Al-Qur’an. Allah hanya mengatakan bahwa Adam dan Hawa memakan bagian dari pohon itu. Cuma karena kebiasaannya yang dimakan adalah buah, maka kebanyakan kita mempersepsikan sebagai buah khuldi. Di kalangan kawan-kawan yang beragama kristen malah digambarkan sebagai buah Apel.

Sebenarnya kalau kita cermati substansi ayat-ayat yang terkait dengan pohon khuldi, bentuk fisiknya tidaklah menjadi masalah penting. Yang lebih penting adalah LARANGAN Allah untuk mendekati pohon itu. Terbukti, Allah tidak menyebut nama pohon, kecuali hanya menyinggung sepintas lalu dengan sebutan ‘pohon ini’ (haadzihis syajarat). Dan bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali. Termasuk setan pun hanya menyebut dengan ‘pohon ini’.

Munculnya istilah pohon khuldi itu, sekali lagi, karena kita sendiri yang menamakannya berdasarkan ‘rayuan setan’ kepada Adam. Dan yang menarik adalah, larangan Allah kepada Adam untuk mendekati pohon itu adalah karena Allah tidak menginginkan Adam menjadi orang yang zalim sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:  “…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-A’raaf:19)

Jadi, kunci pemahaman atas pohon khuldi itu sebenarnya adalah kata ‘zalim’. Bahwa jika Adam dan Hawa mendekati atau apalagi memakannya, mereka bakal menjadi orang yang zalim. Dengan kata lain agar kita bisa memahami substansi pohon larangan itu, maka kita juga harus memahami makna kata zalim.

Kata zalim di dalam Al-Qur’an diulang-ulang oleh Allah dalam ratusan ayat. Tak kurang dari 200 ayat, dengan segala variasinya. Makna yang paling dominan adalah ‘melanggar perintah Allah’, kemudian diikuti dengan arti yang hampir sama seperti ‘menyekutukan Allah’, mengikuti yang selain Allah. Berbuat tanpa petunjuk Allah, '‘menentang peringatan Allah’, ‘mendustakan allah’, dan sebagainya.

Pada ayat yang lain,  Allah memberikan gambaran bahwa orang-orang zalim itu adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya tanpa memiliki ilmu pengetahuan tentangnya. Mereka adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan tidak memperoleh petunjuk dari Allah.

Jadi substansi pohon larangan itu sebenarnya adalah UJIAN KETAATAN Adam dan Hawa. Fisik benda yang dilarang tidaklah menjadi hal penting, sebagimana tersirat dari cara Allah bercerita, yang tanpa menyinggung langsung materinya. Yang lebih penting adalah bahwa Allah menguji Adam dan Hawa dengannya, apakah mereka termasuk orang-orang yang taat kepada-Nya atau tidak.

Ketika Adam dan Hawa diperintahkan untuk tinggal di sorga, Allah memberikan fasilitas kenikmatan sesuai dengan kebutuhan dasar hidup mereka. Yaitu makanan, minuman dan pasangan hidup, sambil menguji mereka apakah fasilitas kehidupan surga itu membuat mereka lupa diri atau tidak. Allah hanya memberikan satu larangan saja, yang disimbolkan sebagai ‘pohon’.

Pohon itu menyimpulkan dua hal sekaligus. Yaitu makanan dan aurat. Karena itu perintah-Nya dikaitkan dengan kedua hal sekaligus. Awalnya, Allah mengatakan Adam dan Hawa boleh memakan apa saja yang ada di dalam surga, kecuali pohon itu. Allah memberikan gambaran tidak langsung bahwa larangan itu berkaitan dengan makanan.

Dan pada cerita selanjutnya, disebutkan bahwa memakan sebagian pohon itu bisa menyebabkan auratnya terbuka. Ini menyiratkan bahwa pohon itu tidak hanya mewakili larangan terhadap makanan, melainkan juga simbol hawa nafsu yang tersimpan di dalam diri setiap manusia.

Allah menegaskan bahwa di surga itu Adam dan Hawa tak akan kekurangan apa pun sebab selama masih berada di dalamnya, mereka dijamin tidak akan kekurangan makanan, minuman, atau pun pakaian. Mereka tidak akan telanjang. Juga tidak kepanasan. Artinya dari segi fasilitas, semuanya tersedia.

Maka, ketika Adam dan Hawa terbuka auratnya karena memakan pohon khuldi, tentu saja itu bukan karena di dalam surge sudah tidak ada fasilitas pakaian. Bukan! Tetapi lebih dikarenakan terjadi ‘transformasi kesadaran’ di dalam diri mereka tentang makna aurat.

Sebelum memakan pohon khuldi itu pemahaman mereka tentang aurat tidak sama dengan sesudah memakannya. Karena itu kalimat yang bercerita tentang aurat mereka itu bukan berbunyi “terbukalah” aurat mereka malainkan “tampaklah” begi keduanya aurat-auratnya. Hal ini menujukkan bahwa itu bukan proses fisik belaka, melainkan lebih bersifat transformasi kesadaran akan makna aurat. Tadinya tidak tampak, sekarang menjadi tampak. Adam menjadi ‘melihat’ aurat Hawa. Demikian pula sebaliknya, Hawa menjadi bisa ‘melihat’ aurat Adam. Padahal, tadinya mereka tidak melihatnya sebagai aurat.

Jadi, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa keterbukanya aurat Adam dan Hawa itu lebih kepada keterbukaan persepsi mereka atas sesuatu yang memalukan, sesuatu yang seharusnya disembunyikan kepada lawan jenisnya. Adam menjadi malu kepada Hawa, dan Hawa demikian pula sebaliknya. Sehingga mereka menutupinya dengan daun-daun surga.


[Oleh: Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U. | Peminat Sains Qur’an, Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR]

Al-Quran: Adam, Iblis, Dan Dosa Manusia

Dengan memetik ayat surah Al-A'raf, kemarin malam seorang ngeyeler kristen berinisial Theos An-Nar menulis di salahsatu forum dialog lintas agama GM begini:

Post terakhir untuk didiskusikan hari ini:
Apakah kau bisa menjelaskan padaku, apa maksud dari ayat Alquran ini:

QS. Al-A'raf: 20
fawaswasa lahumaa sysyaythaanu liyubdiya lahumaa maa wuuriya 'anhumaa min saw-aatihimaawaqaala maa nahaakumaa rabbukumaa 'an haadzihi sysyajarati illaa an takuunaa malakayni aw takuunaa mina lkhaalidiin.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".

PERHATIKAN KALIMAT INI: 
" ... melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)."

Ada yang mau diskusi tentang hal ini?
  1. Adam dilarang oleh Allah memakan buah itu karena apa menurut Allahmu?
  2. Godaan Iblis adalah supaya Adam menjadi hidup kekal di dalam surga, maka setelah Adam mendengar godaan iblis itu, maka seharunya Adam hidup kekal di surga. Lalu kenapa Adam bisa mati akhirnya dalam penceritaan Adam dan Hawa di surga itu?
  3. Adam menurut Alquran, dari yang tidak kekal menjadi kekal setelah memakan godaan iblis itu, lalu kenapa keturunan Adam akhirnya menemui kematian bila Adam sudah menjadi kekal di surga dengan memakan godaan iblis itu?

Menaggapi soalan di atas, dengan sedikit revisi saya menulis begini:

Jawaban 1
Menurut Allah seluruh umat manusia, jadi bukan Allahku seorang, larangan itu hanya ujian bagi Adam. Allah ingin membuktikan kepada Adam sendiri seberapa tangguh sebenarnya dia dalam melawan godaan Iblis demi mempertahankan kepatuhan dan ketundukannya kepada Allah. Ingat, sebelum peristiwa ini terjadi, dalam islam diketahui Iblis yang terusir mohon kepada Allah untuk menyesatkan Adam dan sebanyak-banyaknya keturunan Adam dan Hawa.  

Di belakang hari, terbukti ternyata Adam tidak cukup tangguh dan karenanya Allah kemudian mengajarkan kepada Adam sebab-sebab dan alasan kenapa Allah menyebut Iblis (dan setan) adalah musuh utama bagi setiap anak manusia.

Allah Maha Mengetahui bahwa pada dasarnya manusia antara lain memiliki sifat congkak tapi bodoh. Sehingga pelajaran yang paling efektif (terbukti hingga hari ini) adalah melalui pengalaman pahit! Ini pernah kusebut sebagai pelajaran pertama bagi seluruh umat manusia menyangkut segala atribut terkait dengan eksistensi iblis.

Bentuk ujian bagi Adam berikut anak cucunya bermacam-macam, dimulai dari Adam sendiri, yaitu larangan mendekati pohon terlarang yang kemudian diikuti dengan pelajaran pahit sebagai akibat yang harus ditanggungnya karena melanggar larangan Allah tsb.

Salahsatu contoh yang mudah kita mengerti dalam kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini misalnya, adalah larangan Allah untuk mendekati zina. Tidak perlu disebut angkanya, tapi setiap kita pasti punya pengetahuan sendiri tentang berapa banyak anak-cucu Adam yang sanggup melawan godan iblis untuk tidak terlibat di dalamnya, bukan?

Jawaban 2
Apa pun yang dibisikkan iblis kepada Adam agar Adam mau menuruti ajakannya 'melanggar' larangan Allah adalah tipu daya semata. Sama seperti kenikmatan dunia yang dijanjikan iblis kepada setiap kita untuk melanggar perintah Allah. Setelah kita lakukan (bila kepatuhan kita kepada Allah memang lemah), ternyata tidak pernah terbukti, bahkan rata-rata bukti yang kita saksikan sendiri adalah kebalikannya!

Jadi apa yang kau garisbawahi;
PERHATIKAN KALIMAT INI:
" ...melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)", pada prinsipnya tidak pernah dapat dibuktikan sebagai suatu keniscayaan. Tokh itu bukan firman Allah, melainkan hanya akal-akalan iblis saja.

Adapun perkara mati bagi Adam (dan seluruh anak-cucunya) tidak ada hubungannya dengan pemahaman kristen yang mengira bahwa Adam dan seluruh keturunannya seharusnya hidup kekal di sorga. Dalam hal ini Al-Quran sudah lebih dari cukup menjelaskan bahwa sejak sebelum Adam sendiri diciptakan, Allah sudah lebih dulu memberitahu para malaikat bahwa DIA akan menciptakan khalifah di muka bumi, bukan di sorga, yaitu manusia bernama Adam.

Meskipun para malaikat memprotes dengan alasan yang masuk akal, tapi Allah menjawab bahwa DIA tahu apa yang tidak diketahui oleh para malaikat. Ini adalah isyarat bahwa Allah mempunyai rencana besar (grand design) untuk Adam dan seluruh keturunannya, dan justru inilah yang sesungguhnya perlu digarisbawahi; HANYA Allah saja yang Paling Mengetahui setiap detil dari rencana besar tsb!

Jawaban 3: Perhatikan lagi jawaban nomor 2 diatas. Dan hanya sebagai tambahan, Al-Qur'an tidak pernah secara eksplisit menyebutkan bahwa kehidupan abadi manusia hanya di sorga tanpa melalui kehidupan fana di dunia yang diikuti dengan kematian, lalu (pada gilirannya nanti akan) dibangkitkan kembali untuk memulai kehidupan abadinya di negeri akhirat.

Sesuai ketetapan Allah menyangkut ajal, Adam memang telah wafat (dan tentunya sedang menjalani kehidupan abadi di akhirat), tapi ini tidak menjadikan seluruh anak-cucunya harus hidup abadi di dunia. Kenapa? Karena sama seperti leluhurnya, setiap anak manusia (bahkan dalam Al-Qur'an disebutkan setiap yang bernyawa) akan mengalami mati. Ini adalah ketetapan Allah yang tidak menyelisihi ayat mana pun di dalam Al-Qur'an.

KESIMPULAN:
  1. Konsep dosa waris dan upah maut seperti yang diajarkan kristen MUSTAHIL disejajarkan apalagi disamakan dengan ajaran Islam. Islam tidak mengenal dosa waris dan penebusan dosa.
  2. Islam mengajarkan bahwa dosa adalah tanggungjawab setiap individu dan hanya dapat dihapus melalui permohonan pengampunan dosa oleh individu sendiri. Islam juga mengajarkan seluk-beluk pertaubatan yang mengikat antara individu dan Allah. Segala hal menyangkut pertanggugjawaban dosa individu tidak akan dipengaruhi oleh campur tangan fihak lain meski itu kerabat paling dekat sekalipun. Apa yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam hal ini hanya sebatas memohonkan pengampunan bagi sang individu, sedangkan keputusan akhir sepenuhnya bergantung pada murka atau ridha Allah semata.
  3. Islam tidak mengenal kehidupan abadi di dunia (mortality) karena kehidupan abadi yang sesunguhnya (immortality) adalah di akhirat.
  4. Islam mengajarkan bahwa dunia adalah tempat setiap anak manusia diuji guna menentukan sendiri (dalam kristen di sebut free will) di mana kelak ia akan menjalani kehidupan abadinya. Manusialah sesungguhnya yang memilih sendiri apakah ia ingin hidup abadi di sorga atau di neraka. Sedangkan risalah dan petunjuk mengenai bagaimana cara memilih kedua tempat ini sudah sangat jelas diberikan oleh Allah melalui ajaran semua nabi dan rasul yang diutus-Nya sejak nabi pertama Adam as, hingga nabi terakhir sekaligus penutup risalah seluruh nabi Allah, yaitu Muhammad saw.
Kenapa saya memilih menjawab tidak jauh-jauh dari issue menyangkut hidup kekaldosa waris, dan penebusan dosa? Jawabnya adalah karena belajar dari pengalaman beinteraksi dengan ybs selama ini rasanya saya dapat menduga 'ke mana' sebetulnya arah pertanyaan di atas mau dibawa.

Ia ingin membuktikan bahwa konsep ajaran kristen menyangkut issue di atas didukung oleh ayat-ayat Al-Qur'an. Sayangnya, harapan itu mustahil terpenuhi karena menunjuk surah Al-A'raf: 20 yang dipilihnya sendiri, maka ayat-ayat berikutnya justru jelas-jelas menolak semua konsep ajaran kristen yang selama ini mereka yakini!

Perhatikanlah penjelasan SURAH AL-A'RAAF berikut ini:

[20] Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: `Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam syurga).`

Lihat juga Surah Thaha:
(Maka setan mulai menggoda keduanya) yakni iblis (untuk menampakkan) memperlihatkan (kepada keduanya apa yang tertutup) dengan wazan fu`ila dari lafal al-muwaaraah (dari mereka, yaitu auratnya dan setan berkata, "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini melainkan) karena khawatir (supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat) dan menurut suatu qiraat dibaca dengan malikaini/lam dikasrahkan (atau tidak menjadi orang-orang yang kekal dalam surga") berdasarkan hal itu maka memakan pohon itu adalah suatu keharusan sebagaimana yang disebutkan pula di dalam ayat lain, yaitu, "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan binasa." (Q.S. Thaha 120)

[21] Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. `Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua`

Untuk menguatkan bisikan jahat dan tipu dayanya itu dia bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa dia sebenarnya adalah pemberi nasihat yang benar-benar menginginkan kebahagiaan keduanya dan apa yang dinasihatkannya itu adalah benar dan timbul dari hati nuraninya penuh dengan keikhlasan.

[22] maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun syurga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: `Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:` Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?

Dengan cara ini tampak oleh Adam kesungguhan iblis yang tidak sedikit pun membayang di mukanya sesuatu yang mencurigakan, dan apa yang dikemukakannya dan diadviskannya itu adalah bohong atau tipu daya belaka, maka terpengaruhlah keduanya kepada bujukan iblis penipu itu, lalu memakan buah pohon yang Allah melarang mendekatinya, lalu keduanya lupa sama sekali akan kedudukan mereka dan larangan Allah kepada mereka sebagaimana firman Allah:

Lihat juga Surah Thaha:
"Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat." (QS Taha: 115)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa yang terpengaruh lebih dahulu dari bujukan iblis itu ialah Hawa yang kemudian menyuruh suaminya memakan buah yang dilarang Allah memakannya sebagaimana pengakuan Adam a.s. di dalam riwayat berikut: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Adam memakan buah kayu itu dikatakan kepadanya, kenapa kamu memakan buah kayu yang Aku larang memakannya itu? Adam menjawab: "Hawa yang menyuruh saya." Kenyataan menunjukkan bahwa wanita itu mudah dan gampang terpengaruh kepada sesuatu apalagi yang berupa bujukan dan rayuan tanpa memikirkan dan memperhitungkan akibatnya, kecuali yang kuat imannya. Tatkala keduanya telah merasakan buah yang dimakannya itu, maka mulai tampak oleh mereka aurat masing-masing. Adam a.s. ketika melihat auratnya memetik daun pohon di dalam surga untuk menutupi auratnya, demikian pula Hawa.

Setelah kejadian tersebut Allah swt. mencercanya karena tidak mengindahkan larangan-Nya dan tidak mematuhi-Nya namun ia terpedaya dan menuruti bujukan iblis penipu itu lalu memperingatkannya: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Dan telah menandaskan kepadamu, bahwa setan itu adalah musuhmu yang nyata apabila kamu turutkan kemauan dan kehendaknya Aku mengeluarkan kamu dari kehidupan yang lapang, senang dan bahagia kepada kehidupan yang penuh kesulitan, penderitaan dan kesusahan." Sejalan dengan hal tersebut Allah swt. berfirman:

Lihat juga surah Thaha:
Maka Kami berkata: "Hai Adam sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menyebabkan kamu jadi celaka." (Q.S Taha: 117)

Perhatikan lagi ayat 22 di atas:
(Maka setan membujuk keduanya) untuk menurunkan kedudukan keduanya (dengan tipu daya) darinya. (Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu) mereka berdua telah memakannya (nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya) yakni kedua kemaluan masing-masing tampak oleh lainnya; kedua anggota tubuh itu dinamakan sau`ah, sebab jika terbuka akan membuat malu orang yang bersangkutan (dan mulailah keduanya menutupi) maksud keduanya mengambil penutup untuk menutupi (kedua auratnya dengan daun-daun surga) untuk menutupinya. (Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.')" yang jelas permusuhannya; kata tanya menunjukkan makna penegasan. 

[23] Keduanya berkata:` Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.`

Setelah Adam a.s. dan istrinya menyadari kesalahan yang diperbuatnya, yaitu menuruti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah swt. dia segera bertaubat, menyesali perbuatannya. Dengan segala rendah hati, penuh khusyuk dan di waktu dia berdoa dia mengucapkan:

Atas ucapan doa yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya dengan penuh kesadaran disertai dengan keikhlasan, maka Allah swt. memperkenankan doanya, mengampuni dosanya dan melimpahkan rahmat kepadanya. Firman Allah swt.:

Lihat juga surah Al-Baqarah:
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Baqarah: 37)

[24] Allah berfirman:` Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.`

Setelah selesai peristiwa Adam a.s. sejak dia membuat kedurhakaan yang menjadikan dia sesat, lalu dia taubat dan taubatnya diterima Allah swt. sehingga menjadilah dia orang pilihan kembali dan mendapatkan pimpinan dari Allah swt. sebagaimana firman-Nya:

Lihat juga surah Thaha:
Dan durhakalah Adam kepada Tuhan, maka sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama." (Q.S Taha: 121-123)

Telah menjadi sunnatullah bahwa setiap perbuatan buruk akan mempunyai akibat yang buruk pula. Di bumi ini akan terjadilah permusuhan, sebagian akan menjadi musuh dari sebagian yang lain. Iblis dan kawan-kawannya akan selalu memusuhi anak cucu Adam a.s. Sebaliknya anak cucu Adam a.s. harus selalu waspada dan tetap memandang dan menjadikan iblis itu musuh yang sangat berbahaya karena kalau tidak mereka akan dijebloskan ke dalam neraka sebagai firman Allah swt.:

Lihat juga surah Fatir:
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu) karena sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S Fatir: 6)

Mereka akan tinggal dan menetap di bumi dilengkapi dengan sumber penghidupan yang menjadi kesenangannya sampai kepada waktu yang telah ditentukan oleh Allah swt., yaitu pada waktu berakhirnya ajal dan tibanya hari kiamat sesuai dengan firman Allah swt.:

Lihat juga surah Al-A'raf:
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Q.S Al-A'raf: 10)

[25] Allah berfirman: 'Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa di bumi inilah mereka akan hidup sepanjang umur yang telah ditakdirkan bagi mereka dan di bumi ini pula mereka akan mati apabila sampai ajal mereka, suatu ketentuan yang tak dapat diubah lagi, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa pula ditangguhkan sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah Al-A'raf:
Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. (Q.S Al A'raf; 34)

Lihat juga surah Al-Munafiqun:
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya (ajalnya). (Q.S Al-Munafiqun:11)

Lihat juga surah Taha:
Selanjutnya di bumi ini pulalah mereka akan dibangkitkan dan ayat 25 ini sejalan dengan firman Allah swt.:

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (Q.S Taha: 55)

[26] Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Pada ayat ini Allah swt. menyeru kepada anak cucu Adam dan memperingatkan nikmat yang begitu banyak yang telah dianugerahkan-Nya supaya mereka tidak melakukan maksiat, tetapi hendaklah mereka bertakwa kepada-Nya di mana mereka berada sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw.:

اتق الله حيثما كنت
Bertakwalah kepada Allah swt. di mana saja engkau berada. [H.R At Turmuzi dari Mu'az bin Jabal]

Dialah yang menurunkan hujan dari langit, menyebabkan adanya kapas, rami, wool dan sebagainya yang kesemuanya itu dapat dijadikan bahan pakaian sesudah diolah untuk dipakai menutupi aurat kita, tubuh kita dan untuk menahan panas dan dingin dan dipakai dalam peperangan untuk menahan senjata (baju besi), dijadikan keindahan sebagai perhiasan, satu hal yang disukai oleh Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:

إن الله جميل يحب الجمال
Sesungguhnya Allah itu sangat indah menyenangi keindahan. [H.R Muslim dan Turmuzi dari Ibnu Mas'ud]

Ini semuanya adalah merupakan pakaian dan keindahan lahiriah. Di samping itu ada lagi macam pakaian yang sifatnya abstrak (rohaniah) jauh lebih baik dari pakaian lahiriah tadi karena ia dapat menghimpun segala macam kebaikan, yaitu takwa kepada Allah swt.
Sabda Nabi Muhammad saw.:

عليك بتقوى الله فإنها جماع كل خير
Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah karena sesungguhnya takwa itu menghimpun segala kebaikan. [H.R Abu Ya'la dari Abu Said]

Dengan takwa itu Allah swt. senantiasa memberikan kepada kita petunjuk untuk dapat mengatasi dan keluar dari kesulitan yang dihadapi, Dia akan memberikan kepada kita rezeki dari arah yang tidak terduga-duga sebelumnya dan selalu dimudahkan urusan kita sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah At-Talaq:
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Q.S At Talaq: 2-4)

Segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah swt. seperti memberikan pakaian adalah tanda bagi kekuasaan Allah swt. dan membuktikan kebaikan-Nya kepada anak cucu Adam a.s. maka pada tempatnyalah kalau kita selalu mengingat Allah swt. mensyukuri nikmat-Nya, menjauhi ajakan setan dan tidak berlebih-lebihan dalam ucapan dan lain-lain sebagainya.

[27] Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Pada ayat-ayat ini, Allah swt. menyerukan kepada anak cucu Adam sekali lagi untuk memperingati mereka jangan sampai lalai dan lengah melupakan dan menyia-nyiakan dirinya, tidak mensucikan dan membentenginya dengan takwa tetapi hendaklah mereka selalu berpikir mengingat Allah karena kalau tidak hatinya akan berkarat sebagaimana berkaratnya besi. Dengan demikian mereka akan mempunyai kekuatan yang membaja untuk menghadapi bujukan dan rayuan setan dan selamatlah mereka dari tipu dayanya dan tidak akan mengalami nasib buruk sebagaimana yang telah dialami ibu bapak manusia yaitu Adam a.s. dengan istrinya Siti Hawa, sehingga keduanya dikeluarkan dari surga, pakaiannya tanggal sehingga auratnya kelihatan. Setan dan pengikutnya turun-temurun memusuhi terus-menerus anak cucu Adam. Dia senantiasa mengintip dan memperhatikan di mana adanya kelemahan-kelemahan mereka di sanalah dia memasukkan jarumnya sebagai godaan dan tipuan. Dialah musuh yang sangat berbahaya karena dia melihat mereka, sedang mereka tidak melihatnya. Dia lebih berbahaya dari musuh biasa yang dapat dilihat karena musuh-musuh lahiriah itu dapat diketahui di mana adanya dan ke mana arah tujuannya malah lebih berbahaya lagi dari musuh dalam selimut. Dia mengalir pada tubuh manusia seperti mengalirnya darah sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:

إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم
Sesungguhnya setan itu mengalir pada tubuh anak cucu Adam melalui saluran darah. [H.R Bukhari dan Muslim dari Anas]

Tidak ubahnya dengan bahaya penyakit yang tidak kelihatan kecuali dengan alat mikroskop yang biasanya dibawa oleh lalat atau nyamuk yang dimasukkan ke dalam makanan dan minuman. Ia menembus masuk ke dalam tubuh tanpa diketahui yang akibatnya menyedihkan sekali karena sukar akan dapat sembuh dalam waktu singkat dan ada kemungkinan tidak dapat sembuh lagi karena parahnya. Berbeda dengan penyakit yang dapat dilihat dengan mata kepala seperti kudis dan sebagainya dengan cepat-cepat diobati dan dalam waktu singkat sudah dapat sembuh. Kekhawatiran-kekhawatiran yang berakibat buruk seperti tersebut di atas itu dapat terjadi hanya pada manusia yang kurang atau sama sekali tidak beriman, karena mereka itulah yang akan menjadi mangsanya dan kepada merekalah Allah swt. telah menjadikan setan sebagai pemiliknya.

[28] Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: `Kami mendapati nenek-moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah:` Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. `Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, orang-orang yang telah menjadikan setan sebagai pemimpinnya apabila berbuat kejahatan, seperti bertawaf di sekeliling Kakbah dalam keadaan telanjang, mengingkari Allah dan menyekutukan-Nya, yang dicela oleh manusia sekitarnya, mereka mengemukakan alasan dan uzur bahwa begitulah yang kami ketahui dan kami dapati dari nenek moyang kami. Kami hanya mengikuti apa yang telah dikerjakan mereka, bahkan Allah telah memerintahkan kepada kami yang demikian itu, dan kami hanya menuruti perintah-Nya. Pengakuan mereka tentunya tidak dapat dibenarkan, karena Allah swt. mempunyai sifat kesempurnaan tidak mungkin dan tidak masuk akal akan menyuruh dan memerintahkan mereka berbuat jahat dan keji seperti perbuatan tersebut di atas. Sebenarnya yang memerintahkan mereka berbuat jahat dan keji tentunya tiada lain melainkan setan sebagaimana firman Allah:

Lihat juga surah Al-Baqarah dan surah Al-Isra:
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Q.S Al Baqarah: 268)

Mereka mengeluarkan perkataan yang dialamatkan kepada Allah swt. bahwa Dialah yang menyuruh berbuat jahat dan keji. Itu adalah ucapan yang tidak beralasan yang tidak didasarkan atas pengetahuan padahal yang demikian itu akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat sebagaimana firman Allah swt.:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan ditanya.(Q.S Al Isra': 36)

[29] Katakanlah:` Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.` Dan (katakanlah): `Luruskanlah muka (diri) mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.`

Pada ayat ini Allah swt. memperbaiki kekeliruan mereka, yaitu supaya mereka mengetahui bahwasanya Tuhan kami hanya memerintahkan kepada kami supaya kami beristiqamah, berlaku adil di dalam semua hal dan urusan dan tidak melampaui batas sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah An-Nahl dan surah Al-An'am:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (Q.S An-Nahl: 90)

Selanjutnya Allah swt. menyuruh supaya mereka mengarahkan mukanya ke Kakbah yang telah ditetapkan menjadi kiblat bagi setiap orang yang salat, baik di merjid maupun di tempat lain penuh dengan keikhlasan karena sesuatu amal tanpa disertai dengan keikhlasan tak akan diterima oleh Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:

إن الله تعالى لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا
Sesungguhnya Allah swt. tidak akan menerima amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas untuk (memperoleh rida)-Nya. [H.R Nasa'i dari Abu Umamah]

Untuk mendorong mereka supaya tetap ingat dan patuh kepada Allah swt. tidak terpengaruh kepada ajakan dan bujukan setan, mereka harus selalu ingat kepada Allah sebagaimana mereka diciptakan-Nya pada permulaannya, mereka akan kembali kepada-Nya pada hari pembalasan di mana mereka akan mempertanggungjawabkan semua amal yang telah mereka kerjakan di dunia ini. Firman Allah swt.:

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu. (Q.S Al-An'am: 94)

[30]. Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa manusia itu terbagi atas dua golongan. Golongan pertama yaitu golongan yang telah diberi petunjuk oleh Allah swt. di dunia ini dan diberi taufik mengerjakan salat, menyembah-Nya dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Sedang golongan kedua ialah golongan yang telah sesat karena mengikuti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah Penciptanya. Setan itulah yang dijadikan pelindungnya, bukan Allah swt. Anehnya mereka sudah sesat menempuh jalan yang dilarang oleh Allah swt. mengerjakan perbuatan yang tidak diridai-Nya, tetapi masih menyangka bahwa mereka memperoleh petunjuk. Orang yang demikian itu adalah orang yang paling merugi sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah An-Nahl dan surah Al-Kahfi
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan di dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (Q.S Al Kahfi: 103-104)


[Sumber: Tafsir Al-Qur'an DEPAG RI | Gus Mendem Menjawab Fitnah]

Friday, February 3, 2012

Al-Quran: Gugatan Kaum Feminis Terhadap Penciptaan Siti Hawa Friday, February 3, 2012

Oleh: Dr. Khalif Muammar
KAUM Feminis Barat menuduh bahwa agama-agama samawi adalah agama yang membenci wanita. Terbukti teks-teks agama yang berkaitan dengan perempuan selalu berkonotasi negatif. Wanita selalu ditempatkan pada posisi yang rendah dibanding laki-laki.

Persoalan kedudukan wanita tidak dapat diketahui dengan baik tanpa mengkaji terlebih dulu asal usul kejadian wanita, yaitu Hawa. Seperti diketahui, di antara sebab kenapa semua agama samawi dituduh misogynist (pembenci wanita), karena mengatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Pendapat ini sebenarnya ada dalam tradisi Kristen, kemudian sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu juga diakui oleh Islam. Namun pendapat ini pada hakekatnya tidak kuat. Islam tidak menjelaskan secara spesifik penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Secara faktual yang mendukung hal ini adalah teks-teks Bible.

Berbeda dengan keterangan Bible, al-Qur`an sama sekali tidak menyebut kejadian Hawa dari tulang rusuk Adam. Yang jelas, al-Qur`an hanya menyatakan bahwa manusia diciptakan dari satu jiwa. Ini berarti Adam dan Hawa berasal dari jiwa yang sama. Dalam konteks ini, Sayyid Qutb di dalam kitab tafsirnya mengatakan, masing-masing merupakan dua bagian yang tidak mungkin dipisahkan (shatray al-nafs al-wahidah). Seterusnya, al-Qur`an juga menjelaskan bahwa dari satu jiwa itu diciptalah pasangan bagi Adam, yaitu Hawa. Surah al-Nisa, ayat 1 menjelaskan:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Namun dari keterangan ini, kaum Feminis Muslim kemudian menuduh para ulama Islam telah mengambil kisah kejadian Hawa dari tulang rusuk Adam dari kisah-kisah Israiliyyat. Sebenarnya, tidak dinafikkan bahwa fakta tersebut diambil oleh sebagian besar ulama dari kisah-kisah Israiliyyat. Namun, para ulama juga bersandar pada beberapa Hadits yang menjelaskan penciptaan Hawa dari tulang rusuk. Meski kemudian dari mereka menerjemahkan Hadits itu secara literal. Bunyi Hadits tersebut:

”Dari Abu Hurairah ra. berkata: ‘Telah bersabda Rasulullah Shallalluh ‘alaihi wa salam (SAW), jagalah kaum wanita (dengan baik), sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (min dil‘) dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang teratas, maka jikalau engkau berusaha meluruskannya engkau akan mematahkannya dan jika engkau biarkannya ia akan kekal bengkok, maka jagalah kaum wanita (dengan baik)”.

Hadits tersebut secara harfiyah atau literal artinya, Hawa telah diciptakan oleh Allah SWT dari tulang rusuk. Namun, beberapa persoalan timbul, apakah pemahaman Hadits secara harfiyyah ini betul dan tepat? Mungkinkah yang dimaksudkan dan dikehendaki oleh Nabi SAW adalah makna majazi dan bukan makna haqiqi atau literal?

Tidak ada satu Hadits pun yang merinci tentang kejadian wanita dari tulang rusuk Adam. Yang pasti, yang ingin disampaikan oleh Rasulullah SAW bukan penciptaan Hawa, tapi memerintahkan supaya lelaki berlemah lembut dalam hubungannya dengan wanita karena kekerasan tidak akan berdampak baik. Demikian juga jika membiarkannya, ia akan merugikan kedua belah pihak. Dengan memahami hakekat wanita yang sedemikian rupa, lelaki hendaklah bersikap lebih bijaksana dalam berinteraksi dengan mereka. Atas dasar inilah Rasulullah SAW menasihati agar kaum wanita dijaga dengan baik, dan inilah sebenarnya mafhum Hadits tersebut.

Selain itu, terdapat berbagai lafaz yang digunakan dalam matan Hadits itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad dan Tirmizi dengan lafaz yang sedikit berbeda. Riwayat Bukhari dalam Sahih Bukhari dan riwayat Muslim menyebut khuliqat min dil’, sedang dalam riwayat Ahmad disebut khuliqna min dil‘. Namun, terdapat juga riwayat Bukhari, Tirmizi dan Imam Ahmad dari musnad Samrah bin Jundub yang berbunyi al-mar’atu ka al-dil‘.Berkaitan dengan Hadits yang kedua ini, Imam Tirmizi mengatakan disampaikan melalui riwayat atau jalan lain yaitu oleh Abu Zar, Samrah dan ‘Aishah.

Jika dianalisa dari segi bahasa, perkataaan min dalam bahasa Arab biasanya bermakna ‘dari’, tetapi kadangkala juga bisa bermakna ‘seperti’ (mithl).

Persoalannya ialah, apakah qarinah untuk membuktikan bahwa yang dikehendaki dan dimaksudkan Hadits ini (Hadits yang menyebut frasa ka al-dil‘) adalah ‘seperti’ (mithl) dan bukannya ‘dari’? Jika diambil prinsip dan kaidah bahwa suatu Hadits bisa ditafsiri dengan menggunakan Hadits yang lain, maka makna yang rajih (kuat) bagi Hadits tersebut adalah hakekat kejadian wanita seperti tulang rusuk (ka al-dil‘), bukan dari tulang rusuk. Oleh karena itu, qarinah atau bukti kesahihan makna ‘seperti’ (mithl) dalam Hadits ini adalah Hadits sahih yang lain.

Walaupun orang awam biasanya cenderung kepada makna zahir/literal Hadits dan memberi makna dari ‘tulang rusuk’; tetapi karena ada Hadits yang memberi pemahaman yang lebih sempurna, maka makna literal harus diganti dengan metafora atau makna majazi. Penafsiran seperti ini sangat cocok dengan pesan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah SAW yaitu adanya persamaan di antara wanita dengan tulang rusuk. Persamaan tersebut dari segi sifat keduanya yang bengkok, melengkung atau tidak lurus, dan lelaki harus menerima keadaan itu dengan hati tanpa mencoba memaksa wanita atau meluruskannya. Dengan penafsiran yang thematic dan bukan harfiyah ini, hilanglah kemusykilan bahwa wanita diciptakan dari sebagian kecil anggota badan lelaki yang memberi konotasi kerendahan asal-usul wanita.

Apabila diteliti dengan saksama, kekeliruan yang sering terjadi dalam memahami suatu Hadits ataupun ayat disebabkan oleh sikap selektif dan atomistik. Dalam memahami satu Hadits, seseorang harus bersikap terbuka dan mencoba memahaminya dalam kerangka maqasid syari‘ah (objektif shari‘ah). Demikian juga, seperti juga dalam ilmu tafsir, di dalam ilmu Hadits juga terdapat kaedah menafsirkan Hadits dengan Hadits yang lain. Jadi, jelaslah dari kajian ini bahwa yang dimaksudkan oleh Hadits asal kejadian wanita bukanlah makna haqiqi dan literal, tetapi makna majazi atau metafora.

Namun bagaimanapun, pendapat sebagian ulama tradisional yang menjustifikasi penciptaan wanita dari tulang rusuk tidak dapat disalahkan secara mutlak, karena zahir sebagian Hadits mengatakan demikian. Bagi ulama tersebut, penciptaan wanita dari tulang rusuk Adam bukan bermakna kerendahan dari segi martabat tetapi merupakan simbol hubungan keduanya yang sangat erat serta saling melengkapi (complementary), sehingga tidak mungkin salah satunya hidup tanpa yang lain.

Kesimpulannya, kedua pendapat itu boleh diambil karena masing-masing berdasarkan Hadits. Tetapi pendapat yang menolak Hadits ini sama sekali, sama saja dengan manafikan kesahihannya, meski dengan alasan hal itu tidak dapat diterima dalam konteks zaman sekarang. Pemikiran ini jelas merupakan pendekatan asing yang tidak ada dalam tradisi Islam.


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah | hidayatulLah.com]

Dr. Khalif Muammar adalah seorang akademia di Kolej Dar al-Hikmah dan Penyelidik di Akademi Kajian Ketamadunan (AKK). Menamatkan program Sarjana Muda di Universiti Mu’tah, Jordan (1998) dalam bidang Syariah dan Pengkajian Islam, lalu memperoleh M.A. (Islamic Civilization) pada tahun 2003 dari ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), UIAM.

Contact Form

Name

Email *

Message *