Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Kasus. Show all posts
Showing posts with label Kasus. Show all posts

Thursday, October 6, 2016

Agama Menurut Sigmund Freud Thursday, October 6, 2016


A. Pendahuluan
            Sejarah perkembangan psikologi mencatat bahwa Sigmund Freud dilahirkan di Cekoslowakia pada 6 Mei 1856 dan meninggal pada tahun 1939. Ia adalah bangsa Yahudi yang tinggal berpindah-pindah dari Negara satu ke Negara lain. Di Negara tempat kelahirannya Cekoslowakia, Freud hanya tinggal selama 4 tahun kemudian pindah ke Wina, Austria. Freud mempunyai kebiasaan dari kecil, yaitu gemar sekali membaca kitab Injil.

            Perjalanan keilmuan Freud yang kemudian membuatnya dikenal oleh banyak orang dimulai setelah tamat sarjana muda. Freud giat mempelajari kebudayaan dan hubungan antarmanusia di dunia ini. Hal tersebut dikaji oleh Freud dengan sangat detail bahkan ia berani mengungkap keburukan-keburukan selain kebaikan-kebaikan perilaku manusia. Langkah yang telah ditempuh oleh Freud tersebut kemudian diketahui oleh orang banyak dan membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi Freud, yaitu dibenci oleh masyarakat luas pada zamannya.

            Meskipun demikian, Freud tampaknya tidak terlalu memperdulikan penentangan dari mereka. Ia tetap konsisten melakukan penyelidikan berkaitan dengan manusia dan kejiwaannya. Hal itu dibuktikan dengan tindakan konkret dalam kehidupannya. Selain mengkaji secara mendalam tentang kebudayaan dan hubungan antarmanusia, Freud mempelajari secara serius dan mengkritisi teori evolusi Darwin.

            Kemajuan ilmu pengetahuan ilmiah pada zaman itu tampak begitu pesatnya. Begitu juga dengan ilmu psikologi. Bidang psikologi mengalami revolusi, terutama dalam wawasan kehidupan jiwa dan kepribadian manusia. Hal tersebut berkat rintisan Sigmund Freud seperti diakui oleh banyak orang, seorang dokter sakit jiwa (psikiater) lulusan Universitas  di Wina tahun 1881 dengan spesialisasi psikoterapi. Freud sebagai dokter ahli jiwa, sembari bekerja menyusun teori kepribadian dan metode terapi untuk metode penelitian psikologi. Teori terapi tersebut terkenal dengan sebutan analisis asosiasi bebas.  Paham Freud selanjutnya disebutpsikoanalisis,  seperti yang dipelajari oleh banyak orang di zaman sekarang.[1]

B. Pendapat beberapa tokoh tentang Agama
            Agama adalah kekuatan ghaib yang diyakini berada di atas kekuatan manusia, didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya. Manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Sebagai relisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan ghaib tersebut.[2]


(a) A. Vergote

            Seluruh agama pasti didasari secara psikologis oleh psikisme manusia yang paling elementer dan fundamental. Dan tidak menjadi agama yang sejati sebelum mengalami bermacam-macam konflik dan ketegangan. Dengan itu orang akan mempunyai keyakinan religious yang mantap dan matang.

            “agama bersifat komuniter. Maka dari itu agama harus mempersatukan manusia dalam suatu persaudaraan. Orang sebetulnya baru dapat menghadap Allah secara otentik bila ia sanggup melibatkan orang lain pula dalam kehidupan pribadinya. Tidak mungkin menghadap Tuhan sendirian. Oleh karena itu kepekaan seseorang terhadap kepentingan komunitas merupakan tolak ukur yang baik untuk menilai sikap beragama seseorang.”[3]

(b) Carl Gustav Jung
          Agama untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Maka, kedewasaan seseorang terlihat setelah ia beragama.

(c) Emile Durkheim
           Agama sebagai suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.” Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu “sifat kudus” dari agama dan “praktek-praktek ritual” dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas.[4]

(d) William James
            Agama adalah keyakinan tertentu yang merupakan tempat paling “hangat” dalam kepribadian kita. Tempat itulah pusat kepribadian kita, sebab dari padanya kita hidup dan berkarya. Demi “set” keyakinan itu kita melibatkan diri dengan segenap jiwa raga kita. Oleh karena itu, dalam bukunya, ia menyebut “set” keyakinan tersebut “the habitual centre of his personal energy.”[5]


(e) Mircea Eliade

            percaya kepada independensi atau otonomi agama. Agama bukan penampilan dari ekonomi atau lainnya. Agama bukan hasil dari realitas yang lain, agama bukan suatu variable dependen, seperti yang dikemukakan oleh ahli lain. Agama, menurut Eliade, harus dipahami sebagai yang mempengaruhi aspek-aspek kehidupan yang lain, sebagai variable independen. Agama tidak cukup dipahami seperti cara kerja sejarawan, tetapi juga harus dengan pendekatan dari dalam, secara fenomenologis. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pembicaraan mengenai saling mempengaruhi ini tidaklah spesifik mengungkap definisi agama, tetapi lebih dekat kepada pembahasan tentang teori. Namun, pendapatnya bahwa agama adalah sesuatu yang independen dan otonomi.[6]

            Eliade juga memulai menjelaskan agama dengan membedakan antara kehidupan sakral dan kehidupan profan. Yang sakral itu aktifitas kehidupan yang disengaja, yang supranatural, mengesankan, yang substansial dan penting; yang teratur, sempurna, tempat bersama leluhur, para pahlawan dan para dewa. Sebaliknya, yang profan adalah yang biasa-biasa saja dalam kehidupan sehari-hari, yang selalu berubah.[7]

C.  Agama Menurut Sigmund Freud
            Sigmund Freud menyatakan bahwa agama adalah ilusi, neurosis, menghalangi pemikiran kritis dan pemenuhan sikap kekanak-kanakan.

            Ia memandang bahwa agama adalah sebagai pemuasan keinginan kekanak-kanakkan. Ini menilik dari arti nama psikoanalisis itu sendiri yang secara sederhana diartikan sebagai sebuah perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Lebih jauh lagi Freud dan para pengikutnya yang meyakini agama sebagai sesuatu hal yang negatif dan neurotis (sakit saraf/jiwa) sekaligus agama sebagai pemuasan keinginan kekanak-kanakkan. Penyebabnya adalah paling tidak ada dua faktor yaitu:

            Pertama, kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan dalam sosok bapak.
            Faktor ini lebih banyak disebabkan oleh adanya pengalaman hidup yang dilalui orang-orang beragama pada usia dini/kanak-kanak yang menganggap orang tua, terutama bapak yang dengan penuh kasih sayang dapat menenteramkan anak yang tidak berdaya dan ketakutan, dan pada akhirnya terciptalah surga buatan baginya. Dengan demikian agama adalah sebuah ilusi menurut Freud.

            Kedua, ritus-ritus wajib yang dijalankan secara rumit.
         Tidak dapat kita pungkiri adanya sejumlah aturan-aturan di dalam agama dan upacara-upacara keagamaan lainnya. Maka tidak heran jika Freud memandang agama adalah gejala neurosis atau penyakit jiwa dimana ketika manusia yang pada dasarnya adalah makhluk yang bebas lalu dengan adanya agama manusia menjadi makhluk yang terbatas dengan banyaknya aturan yang harus ditaati di dalam agama. Baginya dengan adanya agama malah akan membatasi manusia untuk bertindak sesuai keinginannya atau dengan kata lain terkekang oleh agama. Maka tidak heran jika hanya orang gilalah yang mau untuk dikekang oleh aturan agama sedangkan dia sendiri dapat memutuskan bagi dirinya untuk hidup bebas.

            Agama juga digambarkan berupa kekuatan untuk membela dan bertahan atau mental defense dalam menghadapi segala musibah seperti bencana alam yakni gempa bumi, banjir, penyakit, dan lain sebagainya. Manusia beragama ketika dalam masalah seperti ini dipandang oleh Freud sebagai anak-anak yang kemudian lantas mencari perlindungan kepada bapaknya. Itulah salah satu alasan dari Freud yang memandang bahwa agama merupakan pemuasan keinginan kekanak-kanakan.

D. Catatan Untuk Pemikiran Sigmund Freud
            Freud menyatakan bahwa agama adalah ilusi, neurosis dan menghalangi pemikiran kritis. Padahal tidak semua agama begitu. Agama khususnya Islam, sangat menghargai kebebasan berpikir sepanjang tidak keluar dari pemikiran yang menyesatkan. Pemikiran filsafat pun memiliki rambu-rambu metode berpikir yang ketat. Pemikiran yang bebas dapat disimak dalam dialog antara Tuhan dengan Ibrahim As. Yang mempertanyakan bagaimana cara menghidupkan orang mati. Allah tidak menghukum Nabi Ibrahim atas pertanyaan yang seakan-akan meragukan keagungan-Nya. Allah bahkan memperkuat keimanan Ibrahim dengan cara menunjukkan kearifan keagungan-Nya. Empat ekor burung lumat tercencang kemudian diletakkan di atas bukit yang berbeda arah. Setelah mendapatkan panggilan, burung itu hidup dan terbang kembali mendatangi Ibrahim As. Peristiwa tersebut bukanlah ilusi dari seorang penderita neurosis. Peristiwa itu kongkrit, bukan angan-angan, bukan salah persepsi terhadap stimulus yang biasanya terjadi pada penderita neurosis.

            Menggunakan kebebasan berpikir untuk mencari kebenaran tidaklah sama dengan ilusi dari seorang pengidap neurosis. Manusia yang sakit mentalnya karena mengalami neurosis tanpa bantuan pencerahan agama tidak akan mampu mencari kebenaran. Itulah sebabnya agama memerintahkan untuk memelihara akal dan melarang mengkonsumsi sesuatu yang dapat merusaknya, sehingga dengan demikian akal dapat menjalankan fungsinya dengan jalan berpikir secara jernih dan bebas disertai pilihan bertanggung jawab untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan manusia.

            Orang yang sering berilusi dan terkena neurosis adalah orang yang menggunakan dan menyalahgunakan obat-obat psikoterapika seperti shabu-shabu, ganja, heroin dan semacamnya. Agama melarang keras penggunaan  segala macam makanan, minuman dan perbuatan yang bisa merusak akal pikiran manusia. Bahayanya bisa berakibat fatal karena dapat merusak jaringan otak manusia, sehingga kehidupan pemakainya hanyaakan dipenuhi dengan ilusi. Oleh karena itu, tidak mungkin orang yang beragama mengidap ilusi dan neurosis karena hal ini berarti dia sakit dan tidak dapat menjalankan fungsi pengabdiannya kepada ilahi yang memerlukan kesadaran penuh. Hasil interogasi polisi terhadap pemakai obat-obat psikoterapika pada umumnya adalah tergolong orang yang kurang memiliki keyakinan beragama yang kuat.

            Kesediaan dan kesadaran untuk bertobat, ketenangan, ketegaran dan kepasrahan menghadapi suatu masalah rumit bukan pertanda suatu ilusi. Keadaan kejiwaan ini menunjukkan pula bahwa agama bukan sia-sia. Akan tetapi, agama merupakan kekuatan penyembuh yang sangat besar bagi manusia yang mengalami keguncangan emosi yang luar biasa.

Daftar Pustaka
  • Atmaja Prawira, Purwa, Psikologi Kepribadian: Dengan Perspektif Baru,(Yogyakarya: Ar-Ruzz media, 2013).
  • Dister, Niko Syukur, Psikologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANIUS (anggota IKAPI), 1989).
  • Jalaluddin, Psikologi Agama, (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004).
  • Saebani, Beni Ahmad, Pengantar Antropologi, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2012).
  • Dhavamony, Mariasusai, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS (anggota IKAPI), 1995).

[1] Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Kepribadian: Dengan Perspektif Baru, (Yogyakarya: Ar-Ruzz media, 2013), hal. 182
[2] Dr. Jalaludin, Psikologi Agama, (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 13
[3] Dr. Niko Syukur Dister, Psikologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANIUS (anggota IKAPI), 1989), hal. 107. Lihat juga, Vergote,Godsdienstpsychologie, Tielt/Den Haag, 1967, hal. 214-220
[4] http://bennydaniarsa.blog.fisip.uns.ac.id/2011/03/13/agama-dan-masyarakat/ E. Durkheim juga menulis tentang agama pada bukunya: The Elementary Forms of Religious Life, transl. by J.W. Swain, London, hal. 37 dan 41, lihat: Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS (anggota IKAPI), 1995), hal. 87
[5] Op, cit. Dr. Niko Syukur Dister, hal. 109. Lihat juga, William James, The Varieties of Religious Experience, New York, 1958, Mentor Books, hal. 162
[6] Beni Ahmad saebani, Pengantar Antropologi, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2012).
[7] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS (anggota IKAPI), 1995), hal. 87

[Sumber: Ciputra Raharjo]



Tuesday, September 27, 2016

Al-Quran: Mustahil Ditulis Oleh Manusia Tuesday, September 27, 2016

Al-Quran adalah kalam Allah yang merupakan sebuah Mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi akhir jaman Muhammad. Tidak ada yang menandingi keindahan bahasa Al-Quran dan keindahan ketika kita melantunkan Al-Quran. Banyak orang yang hatinya tergetar jika di bacakan ayat-ayat Al-Quran, sehingga kemudian dia mendapatkan risalah kebenaran. Al-Quran adalah satu-satunya kitab yang terjaga keasliannya walau telah diturunkan 14 abad yang lalu akan tetapi tetap terjaga dalam satu Bahasa dan satu huruf yang terangkai didalamnya.

Banyak usaha-usaha yang di lakukan oleh orang-orang kafir untuk memalsukan Al-Quran, namun usaha itu selalu kandas dan sia-sia. Al-Quran yang berjumlah 30 juz, 112 surat, 6666 ayat dan 51.900 kata itu dengan mudah di hafalkan oleh orang-orang yang beriman dan mempunyai hati yang bersih.

Al-Quran adalah sumber ilmu yang tidak pernah ketinggalan zaman bahkan selalu mendahului zaman, karena kebenarannya baru terbukti ketika zaman sudah mampu menciptakan tekhnologi mulai dari ilmu matetamtika, Biologi, kedokteran,fisika,kimia,bahasa, sejarah dll, segala ilmu telah terbukti sebelum ditemukan alquran telah menafsirkan dan menuliskannya. Keajaiban lain dari Al-Quran yang tak kalah mencengangkan adalah bahwa Al-Quran ternyata tersusun menurut perhitungan Matematis yang sangat teliti dan sangat cerdas!

Berikut ini sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan mukjizat.

  • Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, yang sama jumlahnya dengan jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah
  • Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk jamak sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan
  • Kata “Syahr” (Bulan) sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun.
  • Kata “Sab’u (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu
  • Jumlah “Saah” (jam) yang didahului dengan “Harf” sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari
  • Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah rakaat dalam sholat 5 waktu
  • Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumah sholat wajib sehari semalam
  • Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” Sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu.
  • Kata “al-Dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-Akhirah” sebanyak 115 kali
  • Kata “ al-Israf” disebutkan 23 kali, begitu juga kata kebalikannya “al-Sur’ah”
  • Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya “al-Syayathin” juga 88 kali
  • Kata “al-Sulthan” disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “al-Nifaq” juga 37 kali
  • Kata “Harb” (panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “al-Bard” (dingin) juga 4 kali
  • Kata “al-Harb” (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “al-Husra” (tawanan) 6 kali
  • Kata “al-Hayat” (Hidup) sebanyak 145 kali, kebalikannya “al-Maut” (mati) 145 kali
  • Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” (katakanlah) juga sebanyak 332 kali
  • Kata “al-Sayyiat” (keburukan) yang menjadi kebalikannya kata “al-Shahihat” (Kebajikan) masing-masing 180 kali
  • Kata “al-Rahbah” (cemas/takut) yang menjadi kebalikan kata “al-Ragbah” (harap/ingin) masing-masing 8 kali
  • Kata “al-Naf’u” yang menjadi kebalikan kata “al-Fasad” masing-masing 50 kali
  • Kata “al-Nas” yang menjadi kebalikan kata “al-Rusul” masing-masing 368 kali
  • Kata “al-Asbath” yang menjadi kebalikan kata “al-Awariyun” masing-masing 5 kali
  • Kata “al-Jahr” yang menjadi kebalikan kata “al-Alaniyah” masing-masing 16 kali.

Masih banyak lagi, yang tidak dapat disebutkan satu-persatu

Sekarang lakukan perhitungan sebagai berikut:

Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr” (lautan) terhadap total jumlah kata (bahr dan barr ) kita dapatkan : (32/45) x 100 % = 71.1111111%

Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan) terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan : (13/45) x 100 % = 28.888888889 %Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT.

Dalam Al-Quran pada 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111 %, dan persentase daratan adalah 28.8888888889, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan.

Itulah sebagian kecil keajaiban dan mukjizat Al-Quran. Keajaiaban lain masih merupakan mega misteri yang senantiasa menunggu untuk, Insya Allah, satu demi satu ditemukan oleh para cendikiawan yang mendapat petunjuk dan hidayah dari Yang Maha Mengetahui.

Seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturuna Mesir dan seorang ilmuwan Muslim, Dr. Rashad Khalifa, adalah orang yang pertama yang menemukan sistem matematika pada desain Al-Quran. Dia memulai meneliti komposisi Matematik dari Al-Quran pada tahun 1968, dan memasukka Al-Quran ke dalam sistem computer pada tahun 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban dalam menjelaskan inisial pada beberapa surah dalam Al-Quran (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”. Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al-Quran ke dalam sistem computer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Alphabet” pada Oktober 1973., bertepatan dengan Ramadhan 1393

Sementara itu Angka yang sering keluar daalam alquran adalah angka 19

Dalam Al Qur’an. Keistimewaan angka 19 di dalam Al Qur’an ini, di antaranya:

  1. Kata bismillahirrahmanirrahim, yang merupakan kata pembuka dari surah Al Qur’an terdiri dari 19 huruf.
  2. Paket wahyu pertama (QS. Al Alaq (96) ayat 1—5), diturunkan sebanyak 76 huruf atau 19 x 4.
  3. Ayat pertama kali turun, (QS. Al Alaq ayat 1), terdiri dari 19 huruf.
  4. Jumlah surah Al Qur’an ada 114 atau 19 x 6.

Angka 19 inilah yang menjadi alat kontrol huruf di dalam Al Qur’an, sehingga Al Qur’an terpelihara dari perubahan yang dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab. Tidak akan pernah sedikitpun meleset dari hitung-hitungan, anda bisa bandingkan dengan kitab suci lain. perhatikan bagaimana Angka 19 dalam mengontrol Al Qur’an:

Surah ke-68, yang diawali huruf nun. Jumlah nun dalam surah tersebut 133 atau 19 x 7.
Surah ke-36, yang diawali huruf ya sin, memiliki huruf ya sebanyak 237 dan huruf sin 48. Bila dijumlahkan mejadi 285 atau 19 x 15.
Surat ke-13, yang diawali huruf alif lam mim ra’, di mana jumlah alif = 605, lam = 480, mim = 260 dan ra’ = 137, total keempat huruf tersebut 1482 atau 19 x 78.
Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat. Bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk cobaan bagi orang-orang kafir (QS. Al Muddassir ayat 30—31).

“Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat, dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?’ Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan kepada manusia.”

Selain penjelasan di atas, dalam beberapa kejadian di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari, ada yang mengacu kepada bilangan 19, di antaranya sebagai berikut:

Bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun.
Komet Halley mengunjungi sistem tata surya kita pada setiap 76 tahun (19 x 4).
Tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19 x 11.Selain berhubungan dengan kejadian di alam, bilangan 19 juga berkaitan dengan ibadah umat Islam, seperti:
Sholat, jumlah rakaat pada shalat Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ masing-masing adalah 2, 4, 4, 3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau 19 x 1286.

Di abad modern pun banyak orang-orang yang memang ingin mengubah isi alqur’an akan tetapi sampai detik ini alquran masih asli dari pertama diturunkan karena alquran adalah tuntunan dan mukjizat terbesar yang di ciptakan Allah kepada Umat Muhammad Umat akhir jaman!

[Sumber: n/a]

Wednesday, April 30, 2008

Ancaman Islam Terhadap Negeri Barat Wednesday, April 30, 2008

Dalam waktu seratus tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad, para penggantinya (khalifah-khalifah) mendirikan suatu kerajaan yang lebih besar daripada Roma. Guncangan terhadap tata internasional dan terutama Kristen tak tepermanai. Adalah sesuatu yang sulit diterima oleh akal bahwa suku-suku di Arab mampu bersatu dan menundukkan kerajaan Byzantium (Roma Timur) dan kerajaan Persia (Sassaniah), dan menjelang akhir abad itu mampu menciptakan wilayah kekhalifahan yang terbentang dari Afrika Timur sampai India.

Banyak alasan mengapa ekspansi Arab itu cepat dan berhasil: terkurasnya kekuatan kekaisaran Byzantium dan Persia setelah peperangan bertahun-tahun, ketidakpuasan rakyat kepada penguasa, keterampilan para prajurit Badui, dan daya tarik pampasan perang. Namun, faktor yang utama adalah berdirinya negara dan peran Islam dalam mempersatukan berbagai suku dan memberikan pengertian akan arti dan tujuan yang lebih besar. [Read More - not available]


Maaf, buku online dari Swara Muslim sudah tidak tersedia.
Sebagai pengganti, selanjutnya silahkan simak yang berikut ini:

ISLAM ANCAMAN TERBESAR BAGI PERADABAN BARAT DAN KRISTEN EROPA


Islam dan Barat, atau Barat dan Islam, adalah kisah benturan peradaban yang langgeng dan tak kunjung usai. Selama hampir 1.300 tahun orang-orang Eropa memandang Islam sebagai ancaman terbesar bagi peradaban dan kebudayaan mereka. Penyebab awalnya berkaitan dengan persoalan sistem kepercayaan yang berbeda, baru kemudian dikaitkan dengan masalah ekonomi, politik, dan kebudayaan. Karenanya sejak itu pula mereka menyusun berbagai siasat dan strategi untuk menghancurkan dan memorakporandakan kebudayaan serta peradaban Islam.

Untuk memahami akar dari prasangka dan anggapan Barat bahwa Islam merupakan ancaman terbesar bagi peradaban dan kebudayaan mereka, kita perlu melihat sejarah di belakang kita — tepatnya ketika agama Islam muncul sebagai agama baru pada abad ke-7 M.

Berawal dari doktrin akidah

Ketika agama Islam muncul dan berkembang dengan pesatnya, kekaisaran Byzantium baru saja mengalahkan kemaharajaan Persia di Hilal Subur, Irak, tidak jauh dari perbatasan Semenanjung Arab yang telah dikuasai kaum Muslimin. Selama hampir sepuluh abad dua adikuasa ini terlibat dalam peperangan memperebutkan wilayah-wilayah yang strategis, khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara. Pada abad ke-7 M itu pula agama Kristen telah mapan dan mantap sebagai agama resmi kekaisaran Byzantium. Doktrin trinitas telah disahkan sebagai satu-satunya akidah Kristen yang diakui. Mazhab-mazhab Nasrani lain yang tidak mengakui trinitas dan ketuhanan Yesus seperti aliran Nasaritah (Nestoria), Yaakibah (Yacobian), Koptik, dan lain-lain dianggap sebagai aliran sesat. Sejalan dengan itu, Injil Barnabas juga tidak diakui karena mengandung ajaran yang cenderung menolak ketuhanan Yesus.

Tetapi tidak lama setelah Byzantium memeroleh kemenangan atas Persia, pasukan kaum Muslimin menyapu bersih kemarahajaan Persia dan wilayah-wilayah yang dikuasai Byzantium misalnya Syam, Palestina, Mesir, Irak, dan Yaman. Wilayah-wilayah ini sangat strategis karena merupakan gerbang masuk ke daratan Asia dan laluan perdagangan internasional yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Afrika. Anggapan bahwa Islam merupakan ancaman besar benar-benar menjadi kenyataan dan bukan merupakan isapan jempol.

Telah dikatakan bahwa anggapan orang Eropa Kristen terhadap Islam sebagai ancaman besar berakar dalam perbedaan yang menyolok antara akidah dan doktrin Kristen dengan akidah dan doktrin Islam. Lahirnya agama Islam dan pesatnya perkembangan agama ini dalam waktu yang relatif singkat, menumbuhkan perasaan benci yang amat mendalam. Betapa tidak. Doktrin trinitas yang mereka agungkan digugat habis-habisan oleh ajaran tauhid Islam. Yesus Kristus yang mereka yakini sebagai putra Tuhan, dianggap hanya sebagai nabi seperti halnya nabi-nabi lain sebelum Isa. Islam juga menolak anggapan bahwa yang mati di palang salib adalah Yesus Kristus untuk menebus dosa umat manusia. Bagi Islam yang mati di palang salib adalah orang lain yang rupanya mirip Nabi Isa AS. Nabi Isa sendiri raib entah ke mana berkat pertolongan Tuhan.
Orang Islam juga yakin bahwa Injil yang berada di tangan orang Nasrani dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, bukanlah kitab Injil yang pernah diwahyukan kepada Nabi Isa dalam bahasa Suryani (Syria Kuno). Memang, seperti halnya orang Kristen, orang Islam percaya pada hari kebangkitan serta surga dan neraka. Namun tentang pahala yang diperoleh orang beriman di surga, terdapat perbedaan yang menggelisahkan bagi orang Kristen. Orang Islam percaya bahwa penghuni surga akan hidup bahagia bersama pasangan mereka yang cantik atau tampan. Orang Kristen beranggapan bahwa orang Islam patuh menjalankan syariat agama karena mempunyai pamrih sensual dan seksual. Agama Kristen melarang penganutnya berpoligami, agama Islam membenarkan poligami. Ini menjadi sasaran kecaman orang Barat terhadap Islam berikutnya.

Persoalan-persoalan tersebut ditambah lagi dengan kenyataan bahwa akhir abad ke-8 M, setelah berhasil menguasai Andalusia dan semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang), pasukan kaum Muslimin berhasil menerobos wilayah Prancis, salah satu jantung utama peradaban Kristen pada masa itu. Pada abad ke-16 dan ke-17 M, peristiwa serupa terulang lagi. Pasukan Turki Usmani memorak-porandakan Eropa yang selama satu milenium membangun peradaban dan kebudayaan dengan tenang, tanpa gangguan yang berarti dari luar benua itu. Bahkan pada abad ke-18 dan ke-19 M, ketika kekuasaan kolonial Eropa (Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda, dan Prancis) telah mencengkeram banyak negeri dunia termasuk wilayah kaum Muslimin yang luas, sekali lagi pasukan Turki Usmani yang perkasa menusuk jantung Eropa dan memorak-porandakan kota-kota mereka. Mereka hampir saja menguasai Hongaria dan Austria, pintu masuk utama ke Eropa Barat dan Skandinavia. Kenyataan ini semakin memperkuat anggapan Barat bahwa Islam adalah agama pedang yang disebarkan melalui peperangan dan tindakan kekerasan, dan karenanya merupakan ancaman besar bagi peradaban Eropa. Untuk membendungnya merupakan kewajiban bangsa Eropa, sebab kalau dibiarkan tatanan dunia akan porak poranda disebabkan hadirnya agama yang lahir di padang pasir Arabia yang tandus itu.

Lupa
Namun Barat lupa bahwa lebih sepuluh abad sejak tahun 600 SM hingga abad ke-7 M saat lahirnya agama Islam, tidak henti-hentinnya kemaharajaan Romawi dan Makedonia menggobrak-abrik wilayah yang dihuni orang-orang Semit dan Persia, yang nantinya akan berbondong-bondong memeluk agama Islam. Mereka lupa bahwa kerajaan-kerajaan nenek moyang bangsa Arab seperti Hira, Petra, Himyar, Palestina, dan lain-lain telah berulang kali diserbu dan menjadi ajang rebutan kekaisaran Romawi dan Persia. Selama beberapa abad pula orang Arab hidup di bawah penjajahan bangsa Romawi. Orang Arab baru memeroleh kesempatan merebut kembali wilayah nenek moyang mereka setelah datangnya agama Islam. Itulah sebabnya, bagi bangsa Arab agama Islam dipandang sebagai agama yang membebaskan dan menyelamatkan, serta dapat memersatukan mereka. Jadi pandangan mereka sangat berbeda dari pandangan orang Eropa yang menetapkan Islam sebagai sumber bencana dan malapetaka.

Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad (1096-1270 M) dalam enam gelombang, menambah parah kebencian orang Eropa terhadap Islam, dan sebaliknya orang Islam terhadap Eropa Kristen. Orang Eropa jengkel karena tidak memeroleh kemenangan yang diharapkan dari peperangan yang lama itu dan tidak pula berhasil merebut Yerusalem tempat salib suci disimpan. Ketika itu kekuasaan Bani Saljuq di wilayah Irak, Iran, dan sebagian Asia Tengah sedang mencapai puncaknya. Pada akhir abad ke-11 M, Armenia yang merupakan wilayah paling timur dari kekaisaran Byzantium ditaklukkan oleh pasukan Saljuq. Perang dahsyat berkobar pada tahu 1071 di Manzicert, dekat perbatasan Armenia dan Anatolia. Tentara Byzantium mengalami kekalahan telak. Hasrat Byzantium untuk membalas kekalahannya itu berubah menjadi perang agama.

Dalam Encyclopaedia of World History (1956:255) William K Langer menggambarkan sebab-sebab timbulnya Perang Salib I (1906-1099). Menurut Langer, perang ini bermula dari permintaan bantuan pasukan dari kaisar Byzantium kepada Paus Gregorius VII. Setelah bala bantuan datang dari berbagai negara Eropa, berupa 300 ribu tentara reguler, Paus Gregorius VII mengubah bantuan militer menjadi Perang Suci (Perang Salib) melawan tentara Islam yang dianggapnya kafir. Hasrat Byzantium untuk berperang ditambah lagi dengan berita-berita buruk yang disebarkan para peziarah Kristen yang berkunjung ke Yerusalem. Setelah mereka kembali ke kampung halamannya, mereka menebar isu bahwa orang Kristen di Yerusalem dan Palestina banyak yang dianiaya dan disiksa, serta wanita-wanita mereka diperkosa oleh tentara Saljuq. Ini menimbulkan amarah kasir Byzantium di Konstantinopel. Berita pun segera tersebar ke seluruh daratan Eropa.

Ketika itu sedang terjadi pula pergolakan internal dalam tubuh gereja Katolik. Gereja Romawi dan Gereja Yunani Ortodoks saling bersaing merebut kepemimpinan umat Kristen. Paus Gregorius VII berkeinginan menjadikan Perang Salib itu sebagai upaya menyatukan Dunia Kristen. Pada saat Perang Salib sedang digodok, Paus Gregorius VII diganti oleh Paus Victor II dan Victor II diganti pula oleh Paus Urbanus II (1088-1099). Ketika Paus Urbanus II dinobatkan muncul pula Paus tandingan berkedudukan di Auvergne, Prancis, yaitu Paus Clement III (1084-1100). Kaisar Alexius dari Byzantium selain meminta bantuan Paus di Roma, juga mengimbau seluruh umat Nasrani di Eropa untuk membantu rencana perangnya. Dalam imbauannya Kaisar Byzantium menjanjikan bahwa barang siapa berani bergabung dengan tentara salib, sebagai balas jasanya akan dilimpahi kekayaan dan memeroleh wanita-wanita Yunani yang cantik jelita.

Perang Salib tambah berkobar disebabkan khutbah keliling yang dilakukan seorang rahib bernama Peter the Hermit. Menurut sang rahib barang siapa yang ikut berperang membela kehormatan agama Kristen akan mendapat pengampunan dosa, walaupun dahulunya ia seorang penyamun dan penjahat. Demikianlah tentara Salib berangkat ke medan perang pada bulan Agustus 1095 dan pada permulaan tahun 1096 perang pun berkobar. Meskipun tentara Salib mengalami kekalahan di Anatolia dan Armenia, mereka berhasil menguasai Yerusalem selama beberapa tahun.

Tembok pemisah
Fakta-fakta yang telah dikemukakan cukup memberi gambaran bahwa sejak awal orang Eropa atau Barat memerlihatkan sikap bermusuhan terhadap Islam, baik Islam sebagai agama ataupun Islam sebagai kesatuan masyarakat yang memiliki kebudayaan dan peradaban berbeda dari mereka. Selama beberapa abad kekaisaran Byzantium di Konstantinopel berhasil membangun tembok tinggi yang memisahkan secara tegas antara dunia Islam di Timur dan dunia Kristen di Barat. Kesalahpahaman Eropa terhadap Islam adalah buah yaang dihasilkan oleh pembangunan tembok pemisah antara dua peradaban ini. Sumber-sumber Byzantium yang memandang Islam sangat buruk dalam semua aspek dari ajaran agamanya dijadikan kacamata Barat dalam memandang dan menyikapi Islam.

Dikatakan misalnya bahwa agama Islam tidak lebih dari aliran sesat dan bentuk kermutadan yang timbul dari agama Kristen. Dengan kata lain, Islam adalah ajaran Kristen yang menyimpang. Muhammad adalah nabi palsu, yang memeroleh pengetahuan agama dari seorang pendeta Kristen bernama Bahira. Kitab suci al-Quran pula dianggap sebagai kitab yang dibawa di atas tanduk lembu putih. Lebih jauh dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah tukang sihir yang berhasil meyakinkan orang banyak bahwa dia memeroleh wahyu dari Tuhan setelah melakukan ritual yang menjijikkan, yaitu melakukan hubungan seksual dengan banyak wanita di luar nikah.




Contact Form

Name

Email *

Message *