Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Al-Quran (Kajian). Show all posts
Showing posts with label Al-Quran (Kajian). Show all posts

Thursday, April 19, 2018

Al-Quran: Nama YAHYA Dalam QS. 19: 7 Thursday, April 19, 2018


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

1. Pengantar
Pada surah ke-19 dalam Al-Qur’an yang menyandang nama Maryam, kisah kelahiran ‘Isa yang penuh mukjizat (ayat 16-34) didahului oleh kisah kelahiran Yaḥya yang juga penuh mukjizat (ayat 1-15). Ia terlahir sebagai anak Nabi Zakariyya ‘alayhis-salaam yang uzur serta istrinya yang renta dan mandul. Dalam berbagai tradisi, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam diidentifikasi sebagai John Sang Pembaptis (John the Baptist). Sebagian misionaris Kristen lantas merujuk kepada satu permasalahan yang muncul pada ayat ketujuh dalam Surah Maryam, di mana kelahiran Yaḥya diumumkan:

yohanna1
“Wahai Zakariyya, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yaḥya; tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.”

Para misionaris tadi menyatakan bahwa ayat ini mengandung kesalahan. Dalam pemahaman mereka, menurut ayat ketujuh itu nama Yaḥya (John) semestinya unik, sehingga tak seorang pun sebelum kelahirannya memiliki nama demikian. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima rujukan terhadap nama John. Maka menurut mereka nama John (Yaḥya) tidaklah unik atau istimewa dan kesalahan Al-Qur’an menjadi jelas.

Sepertinya, awal mula kontroversi ini adalah Abraham Geiger yang menulis buku berjudul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?:

“Ia (yakni Muhammad) mengajukan bahwa sebelum John Sang Pembaptis tak seorang pun menyandang nama John. Seandainya ia memahami sejarah Yahudi maka ia sepatutnya sadar bahwa, selain beberapa orang bernama sama yang menurut sejarah tidaklah penting dalam Kitab Tawarikh (Chronicles), ada ayah dan anak dari pendeta Makabea yang terkenal, Mattathias, yang sama-sama bernama John. Kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab, maka mereka mencoba memberikan makna lain bagi kata-kata yang terang dan tak diragukan lagi itu.”[1]

Namun Geiger tidak mengutip satu pun penafsir dari kalangan Muslim untuk mendukung pernyataan-pernyataannya, dan sebagaimana akan ditunjukkan pada bagian-bagian di bawah, kita perlu berpikir bahwa jangan-jangan klaimnya bahwa “kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab” adalah karangannya semata-mata.

Karena para misionaris itu tidak mampu memberi jawaban lebih lanjut atas masalah ini, maka kitalah yang harus menyelidiki serta menyediakan informasi utama yang seolah hilang. Benarkah nama Yaḥya dan John dapat dipertukarkan antara satu dengan yang lainnya? Apakah makna ayat tadi memang sejalan dengan terjemahannya? Tulisan ini akan menyelidiki berbagai hal terkait dengan nama Yaḥya.

2. Apakah John secara Linguistik Sama dengan Yaḥya?
Menurut para misionaris Kristen, nama Yaḥya adalah bentuk Arab dari nama John, dengan jabaran sebagai berikut: Nama John dalam bentuk Ibrani adalah Johanan, yang dalam bentuk Arab-nya adalah Yaḥya, dan dalam bentuk Yunani adalah Ioannes.

Nyatanya, padanan Arab untuk nama John dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna, bukan Yaḥya. Demikian pula padanan Arab untuk nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya. Siapapun yang memiliki pengetahuan dasar akan rumpun bahasa Semit dapat langsung menunjukkan bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda. Anda tak perlu menjadi ahli bahasa-bahasa Semit untuk memverifikasi klaim ini; Alkitab terjemahan berbahasa Arab sudah mencukupi.

Nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yowchanan {yo-khaw-nawn’}, atau Johanan dalam Authorized (King James) Version, yang artinya: Jehovah has graced (Tuhan membahagiakan). Dan tokoh-tokoh dalam Alkitab yang menyandang nama itu adalah (1) seorang pendeta pada periode kependetaan agung Joiakim yang kembali bersama Zerubbabel; (2) seorang pemimpin Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem; (3) anak tertua Raja Josiah; (4) seorang pangeran di era pasca-pengasingan dari garis keturunan Daud; (5) ayah dari Azariah, pendeta di era Sulaiman; (6) salah satu ksatria Daud dari suku Benjamin; (7) salah satu ksatria Daud dari suku Gad; (8) seorang buangan yang kembali.

Dalam berbagai alkitab versi Arab, nama ini diubah menjadi Yuḥanan sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks di bawah ini.

I Kings 25 23
1Raja-Raja 25:23
I Chronicles 3 15
1Tawarikh 3:15
yohanChro2
1Tawarikh 3:24
Uzair 8 12
Ezra 8:12

Kini kita ambil contoh dari Perjanjian Baru. Nama John (Sang Pembaptis) dalam bahasa Yunani adalah Ioannes {ee-o-an’-nace}, nama asli Ibrani. Dalam Authorized (King James) Version terdapat nama John (Sang Pembaptis), anak dari Zacharias dan Elisabeth, pendahulu Kristus, dan dengan perintah Herod Antipas ia dipenjara dan akhirnya dipenggal. John juga nama salah satu murid Yesus, penulis Gospel Keempat, anak dari Zebedee dan Salome, serta adik dari murid Yesus yang lain bernama James, dan ia pula yang (tanpa disebut namanya) dibicarakan dalam Gospel Keempat sebagai murid kesayangan Yesus dan menurut pendapat tradisional merupakan pengarang Kitab Wahyu. John juga nama sahabat dari Barnabas dan Paulus, nama belakangnya Markus. Ada pula seorang John yang merupakan anggota Sanhendrin.

Dalam berbagai alkitab Arab, nama John sebagaimana disebutkan dalam Maccabees dan Perjanjian Baru adalah Yuḥanna.


Maccabees 2 2
1Makabe 2:2
John 1 6
Yohanes 1:6

Dan tentu saja, Injil Yohanes pun menggunakan nama Yuḥanna.


Gospel John
Injil menurut Yuḥanna (Yohanes)

Maka dari itu, padanan nama John (Yowchanan) dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya, dan padanan Arab untuk nama John (Ioannes) dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna bukan Yaḥya. Dengan membabibuta menggadang-gadang polemik anti-Islam, sebagaimana dihadirkan oleh Abraham Geiger, para misionaris Kristen telah dibuat tersesat.

3. Makna Nama Yaḥya
Kedua nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda. Al-Qur’an menyampaikan bahwa putra Zakariyya bernama Yaḥya, bukan John. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama John dalam bentuk bahasa Arabnya entah itu Yuḥanan maupun Yuḥanna.

Para peneliti bibel menekankan bahwa nama Yuḥanna dan Yuḥanan adalah sama. Dalam gospel-gospel terjemahan berbahasa Ibrani, mereka tidak menggunakan Yuḥanna melainkan mengembalikannya ke dalam bentuk asli yakni Yuḥanan. Mereka juga memberikan makna yang sama bagi kedua nama itu. Keduanya memuat Yu, yang merupakan penyingkatan dari Jehovah, nama Tuhan dalam bahasa Ibrani. Sedangkan ḥanan atau ḥanna, keduanya turunan dari kata-dasar ḥanan dalam bahasa Aramaik (sama dengan kata-dasar ḥanna dalam bahasa Arab) yang berarti “kelembutan/kebahagiaan dari Tuhan”, sama dengan nama Ibrani Hanania.

Lantas, nama Yaḥya asli Arab ataukah asing? Dalam bahasa Arab, bentuk present Yaḥya adalah bentuk orang-ketiga dari kata-dasar ḥaya. Kata-dasar ḥaya ini (yang dapat ditulis dengan alif panjang maupun alif khanjariyyah dalam bentuk present maupun past) memiliki dua makna:
  • Yang pertama berasal dari al-ḥayah, yakni “hidup” yang merupakan lawan dari “mati” sebagaimana dalam contoh lan ansa laka hadha as-saniʿa ma ḥayit, yang artinya, “Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda ini selama saya hidup.” 
  • Makna kedua dari kata-dasar ḥaya berasal dari al-ḥaya’ yang diakhiri dengan hamzah berarti “rasa malu/kesucian”. Dalam pengertian kedua ini bisa dikatakan ḥayitu minhu yang maksudnya seseorang malu atau bingung terhadap orang lain. Inilah mengapa ular disebut ḥayyah, yakni karena ia mengelung tubuhnya sendiri dalam bentuk melingkar. 

Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama mengenai asal-muasal nama ini. As-Suyuti menyatakan dalam Al-Itqan fi ʿUlum al-Qur’an:

“Yaḥya: Anak dari Zakariyya, orang pertama yang menyandang nama itu menurut Al-Qur’an. Ia dilahirkan enam bulan sebelum ‘Isa, dan diserahi kenabian di usia muda, serta dibunuh tanpa haq. Allah menggerakkan Nobukhod Nosor dan balatentaranya terhadap para pembunuhnya. Yaḥya adalah nama non-Arab, namun dikatakan pula [oleh sebagian] sebagai berasal dari Arab. Menurut al-Wahidi: Dalam kedua kemungkinan itu, nama ini tidak dapat di-tanwin-kan.

“Al-Kirmani menyatakan: Pada kemungkinan kedua [yakni nama itu berasal dari Arab], disebutkan bahwa ia digelari demikian karena Allah membuatnya hidup dengan iman, karena rahim ibundanya menjadi hidup dengan kehadirannya, dan karena ia syahid, sebab para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka [bal aḥya’un ʿinda Rabbihim yurzaqun].

“Dikatakan pula bahwa maknanya adalah yamut, yakni “ia mati” sebagaimana kita menggunakan mafazah untuk menyatakan mahlakah atau menggunakan salim untuk menyatakan ladigh.”[2]

Nama Yaḥya juga telah membuat bingung banyak orientalis. Paul Casanova beropini bahwa Yaḥya adalah sebuah “kesalahan” yang perlu “dikoreksi”:

“Maka dari itu cukup lama saya ragu untuk menyarankan koreksi-koreksi yang lebih pas menurut saya. Yang membuat saya kini melakukan hal itu adalah, harus saya sebutkan, bahwa para peneliti Barat cenderung semakin melepaskan diri dari rasa hormat penuh tahayul terhadap integritas absolut Al-Qur’an, dan bahwa peneliti “Semitisasi” Jerman, Barth, juga telah menyarankan koreksi-koreksi yang cukup penting yang salah satu di antaranya menarik perhatian saya secara khusus, karena saya telah memikirkan soal ini untuk waktu lama dan saya senang melihat hal ini disampaikan sebagaimana saya telah membayangkannya. Koreksi itu yakni Youḥanna untuk Yaḥya, Youḥanna dan bukan Yaḥya, nama untuk St. John Sang Pembaptis. Saya tadinya tak berani mempublikasikannya, pertama-tama karena alasan umum yang telah disebutkan sebelumnya, karena hal ini mengarah kepada suatu kebetulan yang aneh. Betul, orang-orang Mandai atau kaum pseudo-Kristen Santo John, yang bisa disamakan dengan orang-orang Sabian yang disebutkan dalam Al-Qur’an, memiliki kitab yang di dalamnya nabi utama mereka disebut Yahio [sic!]. Jika nama itu muncul akibat kesalahan pembacaan para pengarang Al-Qur’an, kitab itu semestinya lebih tua ketimbang difusi Al-Qur’an resmi dan segala teori yang dibangun di atas identifikasi itu akan runtuh.[3]

Mingana, mengikuti jejak Margoliouth, percaya bahwa ranah puisi pra-Islam merupakan penipuan pasca-Islam (suatu teori yang telah dibantah dengan baik oleh para peneliti Muslim maupun non-Muslim). Maka dari itu, bagi Mingana, Al-Qur’an merupakan kitab pertama dalam bahasa Arab yang “pengarangnya” menghadapi:

“… kesulitan-kesulitan besar. Ia harus menyesuaikan kata-kata baru dan ungkapan-ungkapan baru terhadap ide-ide segar, dalam suatu bahasa yang belum lagi baku dari segi tata-bahasa maupun leksikografi.”

Mingana bersandar pada penggunaan bahasa Syria demi memahami “asal” kata Yaḥya. Ia menyatakan:

“Untuk mengekspresikan ‘John’, Al-Qur’an yang sampai kepada kita memakai bentuk yang aneh yakni ‘Yaḥya’. Saya sependapat dengan Margoliouth, bahwa nama itu hampir pasti merupakan ‘Yoḥannan‘ dalam bahasa Syria.”

Ia juga membuat pernyataan cukup aneh bahwa dalam naskah-naskah Al-Qur’an awal tanpa harakat, huruf-huruf Arab y-ḥ-y yang menyusun Yaḥya dapat dibaca menjadi:

“Yoḥanna, Yoḥannan, atau Yaḥya, dan para qari Muslim yang tak mengenal bahasa selain Arab mengadopsi bentuk yang salah yakni Yaḥya.”

Arthur Jeffery percaya bahwa pernyataan tersebut layak untuk didukung namun secara bersamaan ia memberitahu kita bahwa:

“Sepertinya tidak ada jejak nama tersebut (yakni Yaḥya) dalam literatur-literatur kuno (orang-orang Arab).”

Sebuah pertanyaan retoris perlu diajukan: Jika tidak ada jejak nama Yaḥya dalam literatur-literatur Arab pra-Islam, maka mengapa teks tanpa harakat itu harus dibaca “Yaḥya” (y-ḥ-y)? Kenapa tidak dibaca lain, misalnya t-ḥ-t? C.C. Torrey, sebagaimana Casanova dan Jeffery, juga percaya bahwa Yaḥya dalam Al-Qur’an adalah pembacaan yang salah dari Yuḥanna, namun semua qira’at (metode pembacaan) kompak dalam menyatakan bahwa y-ḥ-y tanpa harakat itu hanya bisa dibaca sebagai Yaḥya dan bukan Yuḥanna atau Yuḥanan. Selanjutnya, para orientalis yang pendapat-pendapatnya dikutip di atas juga percaya bahwa nama Yaḥya sebenarnya asing (non-Arab), namun anggapan-anggapan mereka bahwa nama Yaḥya merupakan sebuah “kesalahan” disampaikan tanpa bukti sama sekali! Meskipun kebanyakan peneliti Barat (tidak seperti Geiger atau para misionaris Kristen) sadar bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda dan ditarik dari akar yang berbeda pula, mereka hanya dapat menerka-nerka asal-muasal nama tersebut.
4. Orang-orang Mandai, “Orang-orang Kristen Santo John”
Adakah John Sang Pembaptis dikenal sebagai Yaḥya oleh kelompok tertentu?

Orang-orang Mandai adalah sebuah komunitas yang hidup di Iraq dan Iran, dan berbicara dalam dialek Aramaik (atau Mandaik sebagaimana dirujuk dalam berbagai literatur). Mereka mengaku sebagai pengikut Santo John Sang Pembaptis dan terkadang dirujuk (secara salah) sebagai “Orang-orang Kristen Santo John”, suatu julukan yang awalnya dipakai oleh para misionaris Kristen dari Portugis. Mereka secara pasaran dikenal sebagai Ṣubba (tunggal: Ṣubbi). Panggilan Ṣubba diakui merujuk pada ritual utama agama mereka, yakni pembaptisan dengan cara pencelupan. Nama yang mereka sendiri pakai untuk menyebut agama dan ras mereka adalah Mandai, atau Mandaea.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas sejenak identifikasi kaum Sabian atau Ṣabi’un. Ada begitu banyak spekulasi tentang Ṣabi’un, suatu kelompok agama yang disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an. Para penafsir Al-Qur’an telah berteori tentang kemungkinan identitas kelompok ini. Kita hanya akan meringkas berbagai pandangan yang ada. Bagi yang tertarik, silakan konsultasikan subjek ini sebagaimana telah dibahas panjang lebar oleh Jane Dammen McAuliffe.

Sebagian penafsir Al-Qur’an telah menyebut Ṣabi’un sebagai pemuja para malaikat, dan sebagian menyebut mereka kaum monoteis, yakni mereka yang sembahyang menghadap kiblat, dan berbeda dari orang-orang Yahudi, Kristen, maupun Magi. Mereka biasanya diidentifikasi sebagai sekelompok orang dari Iraq.

Penelitian Barat mengenai identifikasi Ṣabi’un dalam Al-Qur’an kemungkinan dimulai dengan karya besar Daniel Chwolson. Satu ringkasan atas pandangan Chwolson dibuat oleh John Pederson. Chwolson mengajukan identifikasi rancu kaum Ṣabi’un. Orang-orang Mandai yang monoteis adalah salah satunya, dan yang lain adalah para pagan pemuja bintang di Harran yang oleh para sejarawan Muslim dianggap mengadopsi nama Ṣabi’un agar turut dimasukkan ke dalam kategori Ahli Kitab.

Akan tetapi Pederson membuat pengecualian terhadap identifikasi rancu dari Chwolson. Ia menyebutkan bahwa Ṣabi’un semestinya diidentifikasi sebagai golongan hanif karena:

“Mereka juga orang-orang yang percaya pada Tuhan, meski bukan Yahudi maupun Kristen; mereka contoh terdekat golongan mukmin, sebagaimana Ibrahim sendiri adalah hanif.”

Identifikasi oleh Pederson ini hadir menyamakan hanif dengan gnostik. Akibat dari hal ini adalah ia menyamaratakan penyebutan Ṣabi’un bagi orang-orang Mandai dan Ḥarran.

Penyamarataan dari Pederson juga didukung oleh E.S. Drower; namun ia mengenali pada kelompok Ḥarran pembedaan antara kelas pendeta, disebut sebagai orang-orang Naṣorai, dan kelas awam jahiliyah atau semi-jahiliyah yang disebut orang-orang Mandai. Pandangan dari Bayard Dodge adalah bahwa bukti bagi identifikasi semacam ini tidaklah mencukupi. Ia cukup puas dengan korelasi antara Ṣabi’un dan Mandai, namun ia tak bersedia melangkah lebih dari itu, sebagaimana pernyataannya:

“… kita tidak tahu asal-muasal mereka atau kelompok-kelompok mana yang kemungkinan bisa disebut para Sabian.”

Orang-orang Mandai menyebut guru mereka John Sang Pembaptis dengan sebutan Yahia Yuhana. Dalam kitab doa resmi mereka bisa dibaca:

“Raja Yahia-Yuhana,
Perlindungan dan kejayaan bagimu.”

Salah satu kitab suci mereka disebut Drasha d-Yahia atau Kitab Yahia. Kamus bahasa Mandai menyajikan keterangan lebih lanjut untuk nama “iahia” dan “iuhana” sebagaimana digunakan dalam kitab-kitab suci mereka.

yahmand1
iahia (Arab: Yaḥya) nama malwasa khas laki-laki, sering digunakan bersamaan dengan bentuk Aramaik aslinya menjadi iahia iuhana, John Sang Pembaptis. Variasi: iihia.
yahmand2
iuhana: John, khususnya John Sang Pembaptis, disebut juga iahia iuhana (merupakan nama umum Mandai)

Perhatikan tiadanya (h tegas atau ح dalam abjad Arab, ditransliterasi lewat simbol h dengan titik di bawahnya), sehingga Yahia Yuhana menggunakan “h lembut”, tidak seperti dalam bentuk Arab dan Aramaik-nya. Dalam dialek Aramaik dari orang-orang Mandai, bunyi memang pernah ada, namun vokalisasi ini telah hilang.

Nama Yahia dalam Yahia Yuhana telah menjadi teka-teki bagi para peneliti Barat. Menurut mereka, Yahia bukanlah nama Aramaik melainkan nama Arab, namun sebagaimana telah kita bahas, ada perbedaan pendapat di kalangan linguis Arab mengenai asal-usul dan makna nama Yaḥya. Kata ḥaya dalam bahasa Arab memiliki padanan dalam bahasa Aramaik dan Ibrani, dan jelas memiliki akar yang sama, dengan asal-usul yang identik. Dalam bahasa Syria, kata kerja ḥy (past tense) berarti “hidup; sembuh; reda (terkait rasa sakit)”; dengan neḥḥe sebagai bentuk present/future tense untuk orang ketiga tunggal. Dan dalam banyak dialek Aramaik, nama ini menjadi yeḥye atau yaḥye; yang terakhir mirip dengan bentuk Arab Yaḥya, yang apabila bertanda imalah akan dibaca Yaḥyei. Dalam qira’at (metode pembacaan) Ḥafṣ, dibaca Yaḥya tanpa imalah. Sedangkan dalam qira’at Warsh dan Ḥamzah dibaca Yaḥyei dengan imalah.

Kembali ke bahasa Aramaik, kata-sifat ḥayya berarti “hidup, mentah (tidak dimasak), murni (tidak bercampur), mengalir (terkait air)” sedangkan ḥayye berarti “hidup, keselamatan”, ḥayutha berarti “kehidupan”, ḥaywtha berarti “hewan”, ḥaytha berarti “bidan”.

Untuk memecahkan teka-teki ini (yakni keberadaan nama Yahia dalam Yahia Yuhana), para peneliti Barat telah menyajikan berbagai penjelasan, mulai dari diselipkannya nama Yahia ke dalam mushaf-mushaf pada periode belakangan hingga pemaksaan dari kaum Muslim terhadap kaum Mandai untuk menggunakannya! Tak satu pun dari teori ini didukung oleh bukti sejarah

Maka ini mungkin waktu yang tepat untuk membahas pentingnya nama Yahia dalam literatur Mandai. Setiap orang Mandai memiliki dua nama, yakni malwasha atau nama spiritual, dan laqab atau nama sehari-hari. E.S. Drower menjelaskan perbedaan antara malwasha dan laqab:

“Yang terakhir biasanya nama Muslim dan digunakan untuk seluruh kepentingan sehari-hari, sedangkan yang pertama [yakni malwasha] adalah nama asli dan spiritualnya dan digunakan untuk seluruh kegiatan keagamaan dan spiritual.”

Maka, pada Yahia Yuhana, Yahia adalah malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama pasaran. Yang menarik di sini adalah bahwa Al-Qur’an hanya menggunakan nama asli atau spiritualnya, yakni Yaḥya. Namun bagaimana dengan Yuḥanna?

5. “Wa ḥananan min ladunna…“
Penggunaan Yahia Yuhana oleh orang-orang Mandai untuk menyebut John Sang Pembaptis cukup menarik sebagaimana telah kita lihat di bagian sebelumnya. Kini kita akan melenceng sedikit dan membahas atribut-atribut Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut Yaḥya namun bagaimana dengan Yowchanan/Yuḥanna? Kita tahu bahwa Yowchanan/Yuḥanna bermakna “kasih sayang Tuhan”, atau bisa pula berarti “Jehovah (nama Ibrani untuk Tuhan) adalah pemberi yang baik”. Nama ini terdiri dari dua kata yakni “Yu” yang merupakan pemendekan dari Jehovah dalam Bibel Ibrani dan ḥanna, dari kata-dasar ḥanan. Ternyata, Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:


yahhanan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya artinya “berikut kasih sayang [ḥananan] dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh.” (Al-Qur’an 19:13)
Dengan kata lain, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam adalah ḥananan dari Allah; ini tiada lain adalah parafrase dari apa yang dimaksud dengan Yowchanan/Yuḥanna, yakni “Tuhan adalah pemberi yang baik”. Yang lebih menarik adalah bahwasanya kata ḥananan muncul hanya satu kali di dalam Al-Qur’an, yakni dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pada ayat di atas. Perlu diingat bahwa kata dasar ḥanan memiliki makna yang mirip dalam bahasa Aramaik, Ibrani, maupun Arab.

Perhatian juga perlu diberikan pada nama Yuḥanna. Secara etimologis, “Yu” dalam bahasa Arab tidak bermakna Tuhan, berbeda dari bahasa Ibrani; maka dari itu nama “Yuḥanna” akan menjadi kurang bermakna. Kata dalam bahasa Arab untuk Tuhan adalah “Allah”. Tampaknya “Yuḥanna” dipinjamkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Syria atau Ibrani demi kebutuhan-kebutuhan tertentu semata.

Mari kini kita lihat apa kata para penafsir terkait ayat ketigabelas dari Surat Maryam tadi. Di bawah ini adalah pendapat Ibnu Katsir:

hanaan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya
artinya, “berikut kasih sayang dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh” – Tentang “berikut kasih sayang dari sisi Kami”: `Ali bin Abi Thalḥah menarasikan dari Ibnu `Abbas bahwa wa ḥananan min ladunna means “kebaikan [Arab: raḥmat] dari sisi Kami” dan serupa itu berkata pula `Ikrimah dan Qatadah dan ad-Dahhak dan ia menambahkan “Tiada yang mampu mengadakan [rahmat] yang demikian itu melainkan Kami”. Qatadah menambahkan “kebaikan dari Allah untuk Zakariyya”. Mujahid berkata wa ḥananan min ladunna artinya “rasa iba dari Tuhannya terhadap ia”. `Ikrimah berkata wa ḥananan min ladunna bermakna “kasih sayang baginya”. Ibnu Zayd berkata: Sedangkan “ḥanan” artinya cinta. `Aṭa’ Ibn Abi Rabaḥ berkata: wa ḥananan min ladunna bermakna “kemuliaan [Arab: ta`zhim] dari sisi Kami”. Ibnu Jurayj memberitahu kami, `Amr Ibn Dinar menyampaikan kepadaku bahwa ia mendengar `Ikrimah menarasikan dari Ibnu `Abbas perkataannya: “Tidak, demi Allah, aku tak tahu apa arti hanan“. Ibnu Jarir berkata: Ibnu Ḥumayd menyampaikan kepada kami, Jarir menarasikan kepada kami dari Manṣur: Aku bertanya kepada Sa`id Ibn Jubayr tentang wa ḥananan min ladunna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang itu dan ia tidak tahu banyak tentang hal tersebut. […]

Banyak referensi Islami seperti Tafsir al-Qurtubi atau Al-Itqan oleh As-Suyuti dan lainnya yang menarasikan keterangan-keterangan serupa dari Ibnu ‘Abbas terkait “ḥanan”.
6. Eksegesis Surah Maryam Ayat 7
“… lam naj’al lahu min qablu samiyya.”
“… tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.” [Al-Qur’an 19:7]

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya mengenai ayat ini:

yahya_ibnkathir
Artinya:
“Dan Mujahid berkata: ‘[Untuk] lam naj’al lahu min qablu samiyya, [samiyya berarti] ‘shabihan’ – yang sepadan dengannya.’ Ia menarik pemaknaan ini dari perkataan Allah [surah 19 ayat 65]: ‘… fa’budhu washthabir liʿibadatihi hal ta’lamu lahu samiyya’, ‘… maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah Engkau mengetahui ada sesuatu yang [layak untuk menjadi] samiyya bagi-Nya?’. Maka arti [dari samiyya] adalah shabihan – yang sepadan dengannya. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalḥah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa itu artinya: Tiada perempuan mandul yang melahirkan seseorang seperti dia sebelumnnya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Zakariyya ‘alayhis salaam mandul sebagaimana istrinya [yang mandul sejak semula], tidak seperti Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah. Alasan terkejutnya mereka [Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah] terhadap berita gembira kelahiran Ishaq adalah karena usia tua dan bukan karena kemandulan. Inilah mengapa Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam berkata [dalam keterkejutannya]: ‘abasy-syartumunii ‘alaa am-massaniya l-kibaru fabima tubasy-syiruun’, artinya: ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut? Lalu bagaimana engkau menyampaikannya?’ [surah 15 ayat 54]. Meskipun ia berputrakan Isma’il 13 tahun sebelumnya. Demikian pula istrinya berkata: ‘yaa waylataa a-alidu wa anaa ‘ajuu zuwwa haadzaa ba’lii syaikhan inna haadzaa lasyai-un ‘ajiib. Qaaluu ata’jabiina min amrilLahi rahmatulLahi wabarakaatuHuu ‘alaykum ahla l-bayti innaHuu Ḥamiidu m-Majiid’, artinya: ‘Aduhai, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. Mereka (para malaikat) berkata: Mengapa engkau merasa heran terhadap ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Mulia’ [surah 11 ayat 72-73].”

Kata kuncinya di sini adalah samiyya dan analisis rinci atas kata ini disajikan pada Appendix A. Kata samiyya muncul hanya dua kali di dalam Al-Qur’an, pada surah 19 ayat 7 dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam dan pada surah 19 ayat 65 yang merujuk kepada Allah

Dengan metode menggunakan ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an lainnya, Ibnu Katsir sampai pada poin bahwa kelahiran Yaḥya tidaklah seperti kelahiran-kelahiran lain. Penjelasan ini juga didukung oleh hadits dari Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata bahwa yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada anak lelaki seperti Yaḥya dalam pengertian terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. Meskipun Ishaq lahir dari orangtua yang juga tua, tak satu pun dari mereka mandul. Dengan alasan inilah Ishaq tidak sama dengan Yaḥya dalam hal kelahiran.

Dan As-Suyuti menyebutkan dalam tafsirnya:

yahya_durr
Artinya:
“Diriwayatkan Al-Faryabi dan Ibnu Abi Shaybah juga ‘Abd ibn Humayd dan Ibnu al-Mundhir serta Ibnu Abi Ḥatim dan Al-Hakim yang menilainya sahih bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’. Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq dan Aḥmad dalam Al-Zuhd dari jalur ‘Ikrimah. Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’: Tak pernah seorang perempuan mandul melahirkan anak seperti ia. Diriwayatkan Aḥmad dalam Al-Zuhd dan ‘Abd Ibnu Ḥumayd dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim bahwa Sai’id Ibnu Jubayr berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’ yakni [samiyya berarti] shabihan – yang sepadan dengannya. ‘Abd Ibnu Ḥumayd meriwayatkan keterangan serupa dari jalur ‘Atha’. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh dari Yaḥya Ibnu Khallad al-Zarqi bahwa ketika ia [Yaḥya] lahir, ia dibawa kepada Sang Nabi yang memberinya kurma yang telah dikunyah dan berkata: “Aku akan memberinya nama yang tidak pernah diberikan [kepada siapapun] sebelumnya: Yaḥya bin Zakariyya” dan ia pun memanggilnya Yaḥya.

Dari pembahasan di atas, kita lihat bahwa para ‘ulama memiliki dua pandangan terkait ayat lam najʿal lahu min qablu samiyya:
  1. Samiyy berarti shabihan atau mithlan, yakni yang sepadan dengannya. Ayat ini diartikan bahwa kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam tidak seperti kelahiran yang lain, yang mana ia terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. 
  2. Tidak seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam pernah diberi nama demikian oleh Allah.

At-Ṭabari menyajikan hadits untuk kedua penafsiran tersebut, namun berpendapat bahwa penafsiran yang kedua lebih tepat. Al-Qurtubi menyebutkan kedua pendapat tersebut, namun tidak cenderung pada salah satunya. Dan Ibnu Katsir, yang mengutip pendapat At-Tabari, juga tidak cenderung pada yang manapun.

7. Kesimpulan

Geiger dan para misionaris Kristen telah menunjuk kepada suatu kerumitan yang muncul pada ayat ke-17 dalam surah ke-19 di mana kelahiran Yaḥya disebutkan. Menurut pemahaman mereka, nama Yaḥya adalah padanan dalam bahasa Arab untuk nama John. Mereka juga memahami bahwa nama Yaḥya unik, dan tiada seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pernah memiliki nama tersebut. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua-puluh-lima rujukan pada nama John, dan untuk alasan inilah Al-Qur’an dianggap salah. Tulisan ini telah menunjukkan secara menyeluruh bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda dan berasal dari dua akar bahasa yang berbeda.

Geiger dan para Misionaris gagal memahami bahasa asli dari dua nama tsb dan karenanya salah kaprah dalam menyimpulkan bahwa Al-Quran salah.

Ayat dalam QS 19:7 yang dibaca lam najʿal lahu min qablu samiyya dapat diterjemahkan dalam dua pengertian:
  1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, contohnya; seseorang seperti dia. Terjemahan ayat ini adalah menjelaskan bahwa proses kelahiran Yahya tidak sama dengan anak-anak lainnya karena ia lahir dari ayah yang sudah uzur dan dari ibu yang mandul. 
  2. Nama Yahya unik, dan tidak ada seorang pun sebelum kelahirannya yang pernah diberi nama Yahya oleh Allah. Ini yang tampak jleas luput dari perhatian para misionaris.

Apakah Yaḥya juga disebut Yowchanan [atau Yuḥanna]? Tampaknya begitu, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Melalui Mandaeanlah kita mendapatkan nama ganda Yahia Yuhana. Menurut literatur Mandaic, Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah nama laqab atau awam. Al-Qur'an hanya menggunakan nama sebenarnya dan nama rohani, yaitu Yaḥya; Yuḥanna dinyatakan sebagai parafrasa dalam ayat 19:13 mungkin karena fakta bahwa "Yu" dalam bahasa Arab tidak berarti Tuhan, maka membuat kata "Yuḥanna" secara etimologis tidak memiliki arti apa-apa. Agaknya, "Yuḥanna" dipinjam ke dalam bahasa Arab melalui sumber-sumber Ibrani atau Siria. Yang menarik, Encyclopaedia Judaica di bawah entri 'Yohanes Pembaptis' [37] hanya menyebutkan nama Arab: Yaḥya ibn Zakariyya. Tidak seperti entri untuk Musa, Yesus, dll, tidak ada catatan apapun tentang nama ini.

Penggunaan nama Yahia Yuhana di antara orang-orang Mandaean tentu menarik. Perlu juga dicatat bahwa banyak literatur mereka yang mencatat memang ada mantera Mandaean yang berasal dari masa pra-Islam. [38] Penelitian dan temuan temuan lebih lanjut tentunya akan memberi lebih banyak informasi tentang asal mula sastra Mandaic, insya allah.


Sekali lagi misionaris Kristen gagal menunjukkan kontradiksi “historis” dalam Al-Qur'an. Seandainya mereka mau menyelidiki kontroversi ini, bahkan sedikit saja, maka mereka tidak akan pernah membuat blunder seperti itu. Tetapi sebagaimana kita ketahui, ada preferensi di antara para misionaris Kristen untuk secara buta mengikuti setiap polemik murahan, dan karena perdebatan tentang asumsi "kontradiksi" ini tidak sampai berlarut-larut, maka kita tidak akan terganggu olehnya.


CATATAN:
Lebih lengkap, silahkan pelajari di sini

Dan seperti biasa, Maha Benar Allah Dengan segala Firman-Nya
[Disadur bebas dari ISLAMIC AWARNESS - And No One Had The Name Yaḥya (John?) Before: A Linguistic & Exegetical Enquiry Into Qur'an 19:7]

Tuesday, October 24, 2017

Al-Quran, Asbabun Nuzul Dan Tafsir QS. 17:85 Tuesday, October 24, 2017


وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra: 85)

ASBABUN NUZUL
Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari hadits ‘Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Ketika aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah daerah pertanian dalam keadaan beliau bertumpu pada sebuah tongkat dari pelepah kurma, tiba-tiba lewat beberapa orang Yahudi.

Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, “Tanyakan kepada dia tentang ruh.”

Sebagian dari mereka berkata, “(Jangan tanya dia). Jangan sampai dia mendatangkan sesuatu yang kalian benci.”

Berkata lagi (sebagiannya), “Tanyalah dia!”

Mereka pun bertanya tentang ruh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak menjawab sedikit pun. Aku tahu wahyu sedang diturunkan kepada beliau, maka aku pun berdiri dari tempatku. Turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka katakanlah bahwa itu urusan Rabb-ku dan kalian tidaklah diberi ilmu tentangnya kecuali sedikit.” [HR. al-Bukhari no. 4352 dan Muslim no. 5002]

PENJELASAN AYAT
Di kalangan ulama terjadi perselisihan tentang maksud dari kata ruh yang terdapat di dalam ayat ini. Ibnu Tin rahimahullah telah menukilkan beberapa pendapat, di antaranya ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ruh manusia. Ada yang mengatakan ruh hewan dan ada pula yang mengatakan yang dimaksud adalah Jibril ‘alaihissalam.

Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam, ada yang mengatakan al-Qur’an, ada yang mengatakan wahyu, dan ada yang mengatakan malaikat yang berdiri sendiri sebagai shaff pada hari kiamat.

Ada lagi yang mengatakan maksudnya adalah sosok malaikat yang memiliki sebelas ribu sayap dan wajah. Ada yang mengatakan ia adalah suatu makhluk yang bernama ruh yang bentuknya seperti manusia, mereka makan dan minum, dan tidak turun satu malaikat dari langit melainkan ia turun bersamanya. Ada lagi yang berpendapat lain. [Fathul Bari, Ibnu Hajar, 8/254, Tafsir al-Qurthubi, 10/324, Tafsir Ibnu Katsir, 3/62]

Namun mayoritas ahli tafsir memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ruh yang terdapat pada kehidupan jasad manusia. Yaitu bagaimana keadaan ruh tersebut, tempat berlalunya di dalam tubuh manusia, dan bagaimana cara dia menyatu dengan jasad dan hubungannya dengan kehidupan Ini adalah sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. [Tafsir al-Qurthubi, 10/324]

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Yang benar adalah di-mubham-kan (pengetahuan tentang ruh dibiarkan seperti itu, yaitu tersamar) berdasarkan firman-Nya, “Ruh itu dari perkara Rabb-ku,” yaitu merupakan perkara besar dari urusan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak diberikan perinciannya agar seseorang mengetahui secara pasti kelemahannya untuk mengetahui hakikat dirinya dalam keadaan dia meyakini wujud ruh tersebut.

Apabila seorang manusia lemah (mengalami kesulitan) dalam mengetahui hakikat dirinya, maka lebih-lebih lagi (kelemahannya) untuk menjangkau hakikat Al-Haq (Allah subhanahu wa ta’ala). Hikmahnya adalah (untuk menunjukkan bahwa) akal memiliki kelemahan untuk menjangkau pengetahuan tentang makhluk yang dekat dengannya (yaitu ruh). Dengan demikian memberikan pengetahuan kepada akal bahwa menjangkau (pengetahuan) tentang Rabb-Nya lebih lemah lagi.” [Tafsir al-Qurthubi, 10/324]

KETERBATASAN PENGETAHUAN DAN AKAL
Akal merupakan salah satu nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada manusia. Dengan akal seseorang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya dan mana yang mendatangkan kemudaratan. Dengan akal itu pula seseorang bisa memahami apa saja yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla dan hukum-hukum.

Dengan akal, seorang manusia bisa memahami syariat dan melaksanakan perintah-Nya dengan penuh ketaatan dan ketundukan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, “Tidak ada makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla yang lebih baik daripada manusia. Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia dalam keadaan memiliki kehidupan, berilmu, memiliki kekuatan, memiliki kehendak, pandai berbicara, mendengar, melihat, pandai mengatur, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.” [Tafsir al-Qurthubi, 20/114]

Namun ketika mereka tidak menggunakan akalnya untuk tunduk terhadap perintah Allah ‘azza wa jalla dan tidak mendengar peringatan-peringatan-Nya, bahkan mengerjakan apa yang diharamkan, maka Allah k mengembalikan mereka ke tempat yang paling buruk yaitu neraka Jahannam. Wal ‘iyadzu billah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ نُزُلَۢا بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٩ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖكُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ٢٠

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka jannah-jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir) maka tempat mereka adalah an-naar. Setiap kali mereka hendak keluar darinya mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah siksa an-nar yang dahulu kamu mendustakannya’.” (QS. As-Sajdah: 19—20)

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala sering menyebutkan di dalam al-Qur’an bentuk pengingkaran terhadap orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk berjalan di atas jalan Allah k dan mengikuti syariat yang telah diperintahkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu) sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

كَذَٰلِكَ يُحۡيِ ٱللَّهُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٧٣

“Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 73)

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ قَالُوٓاْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمۡ لِيُحَآجُّوكُم بِهِۦعِندَ رَبِّكُمۡۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٧٦

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami pun telah beriman,’ tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata, ‘Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Rabbmu; tidakkah kamu mengerti?’.” (QS. Al-Baqarah: 76)

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢٤٢

“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum hukum-Nya) supayakamu memahaminya.” (QS. Al-Baqarah: 242)

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٣٢

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendagurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya yang menjelaskan bahwa orang yang tidak tunduk terhadap syariat-Nya, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya pada tempat yang semestinya. Sebab akal merupakan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang terbatas kadar keilmuannya, yang seharusnya berada di bawah kekuasaan Allah Yang Mahasempurna dan Maha Berilmu terhadap segala sesuatu.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diimani dan penukilan (berita itu) sahih dari beliau tentang permasalahan yang (bisa) kita saksikan atau pun sesuatu yang (sifatnya) gaib. Kita mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dan kejujuran, baik masuk akal maupun tidak, dan kita belum mengetahui hakikat maknanya.” [Lum’atul I’tiqad poin no. 55]

MEMBANTAH SYARIAT DENGAN AKAL (Metode Orang Kafir)
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kafir untuk selalu menolak apa yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya berupa berita-berita serta ancaman-Nya dengan akal mereka dan menyangka bahwa akal mereka di atas segalanya dalam menentukan keputusan. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan tentang orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata, Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 78)

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengabarkan bahwa orang-orang kafir membantah apa yang dikabarkan kepada mereka tentang tauhid dengan akal mereka:

أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ٥

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Mereka pun membantah tentang kenabian dengan akal mereka,

وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١

Mereka berkata, “Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, yang jika kita memerhatikan dengan saksama akan tampak bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para pengikut hawa nafsu dari kalangan para penyembah akal seperti kaum filosof, Jaringan Islam Liberal, dan yang sejalan dengan mereka ini hanyalah mengikuti cara-cara nenek moyang mereka dalam ber-istidlal (mengambil dalil) untuk menolak al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menentang para rasul atau berita mereka dengan ma’qulat (sesuatu yang dianggap masuk akal) adalah metode orang-orang kafir.” [Mukhtashar ash- Shawa’iq al-Mursalah, hlm. 121]

Ternyata kebiasaan nenek moyang mereka ini pun diwariskan kepada para penerus pemeluk kesesatan dan para pengekor hawa nafsu untuk memelihara keabadian dan kelestarian budaya setan tersebut beserta para anteknya. Mereka masih saja menjadikan akal mereka sebagai tolak ukur untuk menilai sesuatu benar atau tidak, bahkan sampai kepada tingkat menilai benar tidaknya perkataan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya dengan kedangkalan akal yang mereka miliki.

Berikut ini beberapa contoh penolakan nash-nash dengan akal.

1. Menolak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِذّا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً

“Apabila lalat jatuh ke salah satu tempat minum kalian maka hendaklah dia menenggelamkan (lalat tersebut) lalu mengangkatnya. Karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawarnya.” [HR. al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu]

Orang-orang berpenyakit ini pun berkata, “Hadits ini lemah karena bertentangan dengan penelitian para ahli (kesehatan) yang berkesimpulan bahwa pada lalat semuanya terdapat racun dan tidak ada penawarnya!”

Sungguh suatu tindakan yang lancang dalam melemahkan hadits yang para ulama ahli hadits sepakat menerimanya hanya dengan alasan bertentangan dengan hasil penelitian? Apakah mungkin menolak hadits yang sifatnya qath’i (pasti) dengan penelitian yang masih bersifat zhanni (dugaan)? Sungguh ini merupakan suatu kebodohan yang nyata.

2. Menolak kandungan hukum dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۚ

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian (bahwa) bagi seorang laki-laki mendapat bagian dua kali wanita.” (QS. An-Nisa: 11)

Orang-orang yang berpenyakit ini mengatakan bahwa ayat tersebut sudah tidak relevan karena sekarang sudah ada persamaan hak antara laki-laki dan wanita sehingga (dalam pembagian warisan) mereka harus mendapatkan bagian yang sama.

Sungguh merupakan suatu tindakan yang sangat lancang terhadap ayat Allah Yang Maha adil dan Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Ayat yang muhkam (jelas) ini merupakan ayat yang terus berlaku pada setiap zaman dan tidak dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia atau adanya gerakan emansipasi yang terjadi di zaman tertentu. Semoga Allah k menyumbat mulut orang-orang yang melampaui batas!

SIKAP PARA SAHABAT TERHADAP AKAL
Para sahabat sebagai manusia termulia di antara umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling paham dalam menempatkan akal mereka. Disaat mereka diajak untuk bermusyawarah dalam membicarakan siasat pertempuran, mereka mengungkapkan berbagai siasat dengan kepandaian akal dan pengalaman yang mereka miliki, seperti yang terjadi pada Perang Badr dan Khandaq.

Dalam perdagangan, dengan akal dan kepandaian yang mereka miliki dalam berjual beli mereka mampu melakukan__muamalah jual beli yang mendatangkan keuntungan berlipat tanpa harus berbuat curang. Dalam bercocok tanam, mereka ahli dalam mengembangkan hasil ladang dan tanaman sehingga membawa hasil yang melimpah.

Namun dalam perkara yang telah menjadi ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul- Nya, tidak keluar dari lisan mereka kecuali pernyataan, “Kami dengar dan kami menaatinya!”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥١

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orangorang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang ketaatan kaum Muhajirin dan Anshar, walaupun dalam perkara yang mereka benci. Inilah perkataan mereka, dan sekiranya mereka kaum mukminin maka tentunya mereka pun akan mengatakan (seperti yang dikatakan oleh kaum Muhajirin dan Anshar), ‘Kami mendengar dan kami taat’.” [Tafsir al-Qurthubi, 12/294— 295]

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yang lurus.

Wallahul musta’an.


Friday, July 28, 2017

Apakah Umat Yahudi Mengimani Roh Kudus Seperti Halnya Umat Kristen? Friday, July 28, 2017

Ketika pertanyaan ini diajukan oleh QUORA kepada umat Yahudi, setidaknya ada 15 responden lain (hampir seluruhnya adalah umat Yahudi) di samping yang GM kutip tulisannya di bawah ini dengan tegas menolak mengimani ROH KUDUS sebagaimana umat Kristen mengimaninya sebagai unsur Tuhan Tritunggal.

Seperti penjelasan masing-masing responden yang dapat kita simak sendiri di sini, penolakan mereka pada umumnya berdasarkan pada pengertian, atau konsep tentang Roh Kudus sebagaimana dimaksud dalam kitab Tanakh, alkitab Ibrani. Bukan seperti doktrin Kristen yang memaksa sosok Roh Kudus menjadi Tuhan!

Artinya, secara kolektif umat Yahudi menganggap umat Kristen terlanjur salah kaprah mengartikan eksistensi Roh Kudus yang sesungguhnya sebagaimana dimaksud dalam kitab Tanakh.

Simak contohnya seperti salahsatu jawaban di bawah ini:  


TERJEMAH BEBAS
Apakah Umat Yahudi Mengimani Roh Kudus Seperti Halnya Umat Kristen?

Pertanyaan Anda sebetulnya memiliki dua sisi: satu bersifat teologis, yang lainnya bersifat linguistik. Masalahnya, bahasa tidak dapat ditafsirkan secara satu-per-satu dalam semua kasus. Beberapa kata dalam suatu bahasa bisa jadi memiliki arti langsung dan tunggal dalam bahasa lain. Bahkan dalam bahasa Inggris, terutama bila Anda menganggapnya sebagai jargon, Anda dapat menemui kata-kata dengan banyak arti - bahkan dalam  pengucapannya - semisal "bow" yang bisa berarti bagian depan dari perahu, atau bisa juga berarti pita yang diikatkan pada rambut anak perempuan. Dua makna yang tidak ada hubungannya, dan dua cara pengucapan yang sama tapi tidak terkait apapun antara arti yang satu dengan lainnya.

Ketika menerjemahkan kata dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris, Anda terpaksa harus berurusan dengan ambivalensi transliterasi dari huruf Ibrani sampai Romawi - terkadang tanpa cara yang jelas untuk menuliskan suara (vocal) yang tidak ditemui dalam perbendaaraan kata bahasa Inggris.

Berbagai kata Ibrani yang bisa diartikan dalam bahasa Inggris sebagai "roh" adalah:

Shekinah, Shechinah, atau Schechinah (bahasa Ibrani: שְׁכִינָה) - secara teknis artinya "tinggal" atau "menetap", dan secara khusus adalah di mana hadirat Tuhan berada.

Ruach ha-kodesh (bahasa Ibrani: רוח הקודש, atau "roh kudus" juga diterjemahkan sebagai ruaḥ ha-qodesh) -- ini mungkin bahasa Ibrani yang paling mendekati arti kata "Roh Kudus" -- dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai "Roh Kudus Yang Kudus."  Elke Weiss sudah menjelaskan konsep ini dengan sangat baik.

Nephesh (bahasa Ibrani נפש, secara harfiah berarti "makhluk hidup") - ini bisa dianggap sebagai jiwa seseorang, terkait dengan naluri alami.

Neshama (Ibrani: נשמה, harfiahnya "nafas") - berhubungan dengan intelek dan kesadaran akan Tuhan.

Chaya (Ibrani חיה, secara harfiah berarti "hidup") - dianggap sebagai bagian dari Tuhan.

Yechidah (Ibrani יחידה, secara harfiah berarti "singularitas") - juga disebut pintel Yid ("[batin] utama Yahudi").  

Aspek ini pada dasarnya adalah satu dengan Tuhan, Namun, ketika Anda mengacu pada konsep Kristen tentang Roh Kudus dalam Kekristenan - Anda menabrak konsep teologis yang dimaksud dalam Tanakh - atau Alkitab Ibrani. 

Yudaisme pada umumnya adalah monoteistik (itu karena ada konsep seperti nama Tuhan "Elohim" yang secara inheren merupakan kata jamak dan ada poin bahwa Yudaisme mengatakan bahwa Tuhan Yahudi lebih besar dari pada allah lain). Dengan demikian, Yudaisme melihat Tuhan sebagai Satu, dan tidak bisa menerima konsep Tritunggal tentang Tuhan. Dalam artian tertentu, Anda boleh mengatakan bahwa pendekatan Yudaisme terhadap Tuhan adalah sebagai Roh Kudus secara keseluruhan atau sebagai Tuhan/Bapa secara keseluruhan - namun tidak pernah keduanya sebagai kesatuan Tuhan, dan tentu saja bukan sama-sama sebagai Tuhan.

[Ted Exstein - Terlahir sebagai Yahudi]

Dari penjelasan ini tentu saja ganjil rasanya jika umat Kristen yang mendaulat kitab-kitab umat Yahudi bernama Taurat (5 kitab Tanakh, Alkitab Ibrani) dan Zabur termasuk bagian dari kitab suci Kristen -- yang dalam hal ini mereka anggap sebagai "kitab kadaluwarsa" dan karenanya disebut sebagai Perjanjian Lama -- secara suka-suka mengartikan ROH KUDUS sebagai bagian dari Tuhan Tritunggal, sementara umat Yahudi sendiri, yang masih berpegang teguh pada kitab-kitab tsb, tidak pernah menganggapnya demikian.

Lebih jauh lagi, umat Yahudi yang masih  berpegang teguh pada kitab Taurat tidak pernah mengenal konsep Tuhan Tritunggal yang pada prinsipnya sangat bertentangan dengan Konsep Monotheisme yang merka anut!

Dengan kata lain, doktrin Tuhan Tritunggal dalam Kekristenan sebenarnya tidak memiliki sumber pijakan yang jelas, melainkan hanya rekayasa para pendirinya saja yang memaksakan masuknya kepercayaan Pagan ke dalam ajaran murni Yesus yang sejatinya adalah Monotheisme. 

Jadi, jangan heran bila iman umat Kristen selalu terbentur keras bila coba dibandingkan dengan iman umat Yahudi, apalagi dengan iman umat Islam yang seperti halnya iman umat Yahudi, sama-sama tidak mengenal doktrin tuhan Tritunggal!

Karena "keganjilannya" yang menyempal jauh dari ajaran semua nabi terdahulu -- termasuk ajaran nabi Yesus as sendiri dan ajaran nabi Muhammad saw -- maka iman Kristen ini, dalam bahasa Jawa termasuk yang boleh disebut sebagai "nyeleneh" alias diciptakan sedemikian rupa supaya menjadi aneh sendiri!

Itu sebabnya kenapa rata-rata pengikutnya selalu bingung, lalu panik, dan ujungnya histeris, bila pengetahuan mereka tentang iman Kristen didesak terus dengan pertanyaan-pertanyaan serius yang berhubungan langsung dengan dalil-dalil dalam bundel beberapa kitab yang mereka namai sendiri sebagai alkitab!

Demikian.

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
Semoga Tuhannya Yesus memberkati,
- Amen!

Contact Form

Name

Email *

Message *