Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Do'a. Show all posts
Showing posts with label Do'a. Show all posts

Sunday, June 24, 2018

7 Doa Untuk Anak Sunday, June 24, 2018



Orang tua pada umumnya menaruh harapan pada tumbuh kembang anak. Harapan biasanya meliputi kebaikan jasmani, kebaikan psikologi, juga kebaikan rohani. Untuk mencapai harapan-harapan tersebut, sejumlah acara biasa dilakukan. Dalam agama Islam, salah satu bentuk cara mencapai harapan-harapan adalah berusaha atau ikhtiar.

Setelah berusaha, seseorang dianjurkan untuk berdoa, memohon bantuan Allah SWT. Berikut sejumlah doa untuk anak yang bisa dipanjatkan untuk mewujudkan harapan-harapan orang tua:

1. Doa agar anak diberi perlindungan

Terlindung dari bahaya, ancaman, dan hal buruk lainnya merupakan salah satu harapan yang umumnya dimiliki orang tua. Dilansir dari NU Online Nabi Muhammad SAW kerap melafalkan sebuah doa untuk keselamatan anak-anaknya Hasan dan Husein.

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّة
U'īdzukuma bi kalimātillāhit tāmāti min kulli syaithānin wa hāmmatin wa min kulli 'aynin lāmmah.

Artinya: "Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, hewan melata, dan segala penyakit ain yang ditimbulkan mata jahat."  [HR Abu Daud]

2. Doa agar anak menjadi shaleh dan shaleha
Orang tua umumnya ingin anak-anaknya menjadi manusia yang sholih dan sholihah. Berikut merupakan sebuah doa yang bisa dilafalkan, sebagai harapan bagi anak-anaknya agar tumbuh menjadi sholih dan sholihah.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا أَوْلَادًا صَالِحِيْنَ حَافِظِيْنَ لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فُقَهَاءَ فِى الدِّيْنِ مُبَارَكًا حَيَاتُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
Allahummaj 'al awladana awladan sholihiin haafizhiina lil qur'ani wa sunnati fuqoha fid diin mubarokan hayatuhum fid dun-ya wal akhirah

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholih sholihah, orang-orang yang hafal Al-Qur'an dan Sunnah, orang-orang yang faham dalam agama dibarokahi kehidupan mereka di dunia dan di akhirat"

3. Doa agar anak menjadi pintar
Anak yang pintar merupakan anak yang diidamkan banyak orang tua. Selain berusaha memberikan sebanyak-banyaknya ilmu, sebuah doa juga bisa dipanjatkan. Berikut doa sebagai harapan agar anak menjadi pintar.

اَللَّهُمَّ امْلَأْ قُلُوْبَ أَوْلَادِنَا نُوْرًا وَحِكْمَةً وَأَهْلِهِمْ لِقَبُوْلِ نِعْمَةٍ وَاَصْلِحْهُمْ وَاَصْلِحْ بِهِمُ الْأُمَّةَ
Allaahummam-la' quluuba aulaadinaa nuuron wa hik-matan wa ahlihim liqobuuli ni'matin wa ashlih-hum wa ashlih bihimul ummah

Artinya: "Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka."

4. Doa agar anak mendapat berkah
Selain keselamatan dan kepintaran, banyak juga orang tua yang berharap anak-anaknya mendapatkan rezeki dan berkah selama hidupnya. Doa untuk anak yang satu ini fokus pada pengharapan rezeki, keberkahan, dan kebahagiaan sepanjang hidupnya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا فِي أَئِمَّتِنَا وَجَمَاعَتِنَا وَأَهْلِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَفِيمَا رَزَقْتَنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Allahumma ashlih lana fi aimmatina wa jamaa'atina wa ahlina wadzurriyyatina wa amwaalina wafiimaa razaqtana wa baariklana fiihim fid dunya wal aakhiroh

Artinya: "Ya Allah perbaikilah untuk kami di dalam imam-imam kami, jama'ah kami, keluarga kami, istri-istri kami, anak-anak turun kami, harta-harta kami dan di dalam apa-apa (rizqi) yang engkau berikan kepada kami dan berilah kami kebarokahan dalam urusan mereka di dunia dan akhirat"

5. Doa agar anak berbakti pada orang tua

Setelah mendapat segala kebaikan, sehat, pintar, dan diberkahi, orang tua juga berharap anak-anaknya bisa mengabdi dan hormat pada mereka. Doa berikut bisa dibacakan untuk memohon pengharapan tersebut.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ
Allahumma barikliy fii awladiy, wa la tadhurruhum, wa waf fiqhum li tho'atik, war zuqniy birrohum

Artinya: "Ya Allah berilah barokah untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepadaMu dan karuniakanlah hamba rejeki berupa bakti mereka"

6. Doa nabi Ibrahim
Salah satu tauladan orang tua dalam mencintai anaknya adalah nabi Ibrahim, dalam kisahnya bersama sang anak Ismail. Berikut merupakan salah satu doa Ibrahim yang tertulis di Al-Quran. Doa ini secara spesifik meminta anak-anak agar tetap teguh pada agama dan mendirikan salat.

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
Robbij'alniy muqimash sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du'a

Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku" (QS. Ibrahim: 40)

7. Doa agar keluarga sehat dunia dan akhirat
Salah satu tujuan manusia yang paling mulia adalah menjadi bahagia di dunia dan akhirat, begitupun untuk keluarganya. Sebuah doa bisa dipanjatkan untuk keselamatan dan kesehatan keluarga di dunia dan akhirat.

للَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى
Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fii diinii wa dun-yaaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur 'awrootii wa aamin row'aatii.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut."

Itulah sejumlah doa untuk anak yang dapat  dipanjatkan oleh setiap orangtua. Selain doa, orangtua juga seyogyanya terus berikhtiar demi kebaikan anak sepanjang hidupnya. Selebihnya, sebagai hamba Allah SWT yang tunduk dan patuh,  selanjutnya tetaplah tawakal,  berserah diri pada kuasa dan kehendak Allah. 
 
Semoga berguna. 

Wednesday, September 28, 2016

Doa Untuk Ibu Bapa Wednesday, September 28, 2016




Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka
perindahlah ucapanku di hadapan mereka
lunakkanlah watakku terhadap mereka
dan lembutkanlah hatiku untuk mereka

Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya atas didikan yang kuterima
serta pahala yang besar atas kasih sayang yang mereka curahkan padaku
peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku

Ya Allah,
Setiap kesusahan yang mereka derita karana perbuatanku
atau hilangnya hak-hak mereka karana kebodohanku
maka dengan perkenan-Mu,
jadikanlah semua itu sebagai penyebab susutnya dosa-dosa mereka
dan bertambahnya pahala mereka

Ya Allah,
Hanya Engkau yang paling berhak membalas setiap perbuatan
dengan keburukan maupun dengan kebaikan yang berlipat ganda
demi sifatmu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
aku memohon kepada-Mu
balaslah setiap pebuatan mereka
dengan kebaikan yang telah Engkau sediakan
di dunia maupun di akhirat

Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku
izinkanlah aku memohonkan ampun bagi mereka
namun bila sebaliknya
izinkan pula mereka memohon ampunan untukku

Ya Allah,
Sesungguhnya Engkaulah pemilik sifat-sifat Yang Maha Agung
Engkaulah pemberi balasan yang tiada batas
dan Engkaulah yang senantiasa mendahulukan sifat-Mu yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi setiap makhluk

Ya Allah,
Dengarkanlah doaku

Ya Allah,
Kabulkanlah permohonanku

Amin, Ya, Rabbul Alamin


Thursday, July 22, 2010

Adab Doa Dan Keutamaannya - I Thursday, July 22, 2010


Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.   


Allah SWT berfirman:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-A'raaf [7]: 55-56).

Ada beberapa point penting yang dapat kita petik dari firman Allah di atas, yaitu sebagai berikut:
  • Berdoa hanya kepada Allah Ta'ala, karena hanya Allah semata yang berhak disembah, dan doa adalah termasuk ibadah yang merupakan perwujudan dari penyembahan kepada Allah. Bahkan, inti ibadah itu sendiri adalah doa.
  • Merendahkan diri dalam berdoa adalah suatu yang mutlak wajib, karena manusia itu lemah, jadi sudah sewajarnya kita menampakkan kelemahan kita di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta alam semesta, disertai dengan rasa takut tidak diterima dan rasa penuh harap akan diterima, akan memberi nilai tak ternilai dalam sebuah doa.
  • Berdoa dengan suara yang lemah lembut, bukan keras-keras yang mengganggu, apalagi berirama seperti mendendangkan lagu-lagu.
  • Jangan melampaui batas yang Allah tentukan.
  • Jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan segala bentuk kerusakan, kecil maupun besar.
  • Perintah berbuat baik selain berdoa, karena rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
  • Jika ada yang berdoa namun masih suka berbuat kemungkaran adalah sangat wajar kalau doanya tidak dikabulkan.
Selain itu, ada beberapa faidah tentang menyembunyikan doa atau mengucapkannya dengan suara yang lemah lembut sebagaimana disebutkan Ibnu Qayyim dalam tafsirnya:
  • Mencerminkan iman yang lebih besar. Sebab, orang yang berdoa tahu bahwa Allah pasti mendengar doanya yang diucapkan dengan suara lembut itu, karena Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  • Mencerminkan adab dan pengagungan yang lebih besar. Ketika engkau menyampaikan permohonan dan permintaan kepada seorang raja, engkau tentu tidak menyampaikannya dengan suara yang keras, tetapi engkau akan merendahkan volume suaramu dan memelankannya sebatas raja bisa mendengarnya. Sesungguhnya Allah mempunyai perumpamaan yang lebih tinggi. Jika Allah mendengar doa dengan suara yang lembut, maka tidak ada adab yang lebih tepat di hadapan-Nya selain dengan merendahkan suara ketika berdoa kepada-Nya. Melembutkan suara lebih pas untuk merendahkan diri dan khusyu'. Padahal, merendahkan diri dan khusyu' itu merupakan roh doa, inti, dan maksudnya.
  • Orang yang khusyu' dan merendahkan diri memohon layaknya orang yang hina dan miskin yang hatinya lembut, anggota tubuhnya tunduk dan suaranya lemah, sampai-sampai kehinaan, kemiskinan, dan kelemahan hatinya membuat lidahnya seakan kelu tak mampu berucap kata.
  • Hatinya meminta dan berharap. Karena kehinaan dan ketundukkannya, lidahnya menjadi diam tak bergerak. Keadaan ini sama sekali tidak akan terjadi jika suara dinyaringkan ketika berdoa.
  • Lebih menggambarkan keikhlasan.
  • Lebih dapat menyatukan hati dengan Allah dalam doa. Sebaliknya, menyaringkan suara bisa memisahkan hati dan menjauhkannya dari Allah.
  • Dengan melemahkan suara lebih mudah untuk memuji-Nya, membebaskan hasrat dan tujuan kepada Dzat yang dimohon kepada-Nya. Yang ini termasuk rahasia doa yang sangat mengagumkan, bahwa melembutkan suara dalam berdoa menunjukkan kedekatan pelakunya dengan Allah. Karena kedekatan dan kebersamaan inilah, dia memohon kepada Allah. Dia menyampaikan permohonan layaknya bisikan seseorang kepada orang yang sangat dekat dengannya, bukan seruan seseorang kepada orang yang jauh darinya.
Karena itu, Allah memuji hamba-Nya, Nabi Zakariya, dengan firmannya:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاء خَفِيّاً
"Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut." (QS Maryam [19]: 3).
  • Selagi hati merasakan kedekatan dengan Allah, bahwasanya Allahlah yang paling dekat dengannya dari segala seuatu, tentu ia akan melembutkan doanya semaksimal mungkin.
  • Lebih menggambarkan keberlangsungan permintaan dan permohonan, karena dengan begitu lisan tidak mudah jenuh dan anggota tubuh tidak mudah letih.
  • Menyembunyikan doa lebih menjauhkan berbagai macam penghalang, kekalutan dan hal-hal yang melemahkan.
  • Nikmat yang paling agung ialah menghadap kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan menyendiri dengan-Nya, disamping setiap nikmat ada pendengki menurut takarannya, besar maupun kecil.
  • Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada nikmat ini. Maka, tidak ada yang lebih menyelamatkan diri orang yang didengki selain dengan menyembunyikan nikmatnya dari orang yang mendengkinya, dan tidak menampakkannya.
Kesimpulannya, marilah kita dengan cara-cara yang ditentukan Allah dan rasul-Nya agar doa kita terijabah dan diterima. Kalau kita mau berpikir dan merenung sejenak, mengapa begitu banyak doa yang sudah kita panjatkan untuk kebaikan bangsa ini, namun sepertinya ijabah menjadi hal langka dan sulit dijangkau, padahal ia dekat. Kita rupanya masih berdoa dengan cara kita sendiri, kita masih banyak berbuat maksiyat daripada mematuhi perintah Allah dan rasul-Nya. Mengabulkan adalah hak mutlak Allah semata, agar permohonan dikabulkan, mohonlah dengan cara yang Allah tentukan.

Wallahu a'lam.

[Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia]

Adab Doa Dan Keutamaannya - II


Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman. 


TANYA:
Bagaimanakah adab-adab berdoa dalam Islam Seperti yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.?

JAWAB:
Adab berdoa dalam Islam yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah sebagai berikut :
  • Menghadap Qiblat.
  • Mengangkat kedua tangan dalam do’a.
  • Jika mungkin berwudhu’ terlebih dahulu sebelum berdo’a.
  • Ikhlas karena Allah semata.
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. Al-Mu’min: 14),

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". (QS. Al-Bayyinnah [96]: 5)
  • Mengawalinya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu diikuti dengan bacaan shalawat kepada atas Rasulullah dan diakhiri dengannya.
  • Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a serta yakin akan dikabulkan
  • Mendesak dengan penuh kerendahan dalam berdo’a dan tidak terburu-buru.
  • Menghadirkan hati dalam do’a.
  • Memanjatkan do’a, baik dalam keadaan lapang maupun susah.
  • Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali hanya kepada Allah semata.
  • Tidak mendo’akan keburukan kepada keluarga, harta, anak dan diri sendiri.
  • Merendahkan suara ketika berdo’a, yaitu antara samar dan keras.

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas".(QS. Al-A’raaf [7]: 55)

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
"Dan sebutlah (nama) Tuhan-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai". (QS. Al-A’raaf [7]:205).
  • Mengakui dosa yang telah diperbuat, lalu mohon ampunan atasnya, serta mengakui nikmat yang telah diterima dan bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.
  • Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam do’a.
  • Tadharru’ (merendahkan diri), khusyu’, raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan rahbah (rasa takut tidak dikabulkan).


إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami". (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 90).
  • Mengembalikan (hak orang lain) yang dizhalimi disertai dengan taubat.
  • Memanjatkan do’a tiga kali.
  • Tidak berlebih-lebihan dalam berdo’a.
  • Tawassul kepada Allah dengan Asmaa’-ul Husna dan sifat-sifatNya yang Maha Tinggi, atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakannya sendiri atau dengan do’a seorang shalih yang masih hidup dan berada di hadapannya.
  • Makanan dan minuman yang dikonsumsi serta pakaian yang dikenakan harus berasal dari usaha yang halal.
  • Tidak berdo’a untuk suatu dosa atau memutuskan silaturahmi.
  • Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
  • Harus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran).
  • Hendaklah orang yang berdo’a memulai dengan mendo’akan diri sendiri, jika dia hendak mendo’akan orang lain.
Berikut adalah beberapa ayat Al Qur’an yang terkait dengan doa :

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَيْءٍ إِلاَّ كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ
إِلَى الْمَاء لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاء الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (QS. Ar-Raad [13] : 14).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS.Al-Baqarah [2] : 186).

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS.An-Naml [27] : 62).

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS.Al-Mu'min 40 : 60).

وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضْلِهِ وَالْكَافِرُونَ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras” (QS.Asy-Syura [42] : 26).

Subhanakallahumma rabbana wabihamdika..Allahumaghfirli.

Semoga bermanfaat!

Friday, July 16, 2010

Adab Doa Dan Faedahnya Friday, July 16, 2010


Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.



Firman Allah Azza wa Jalla,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ
إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-A'raaf [7]: 55-56).

Ada beberapa point penting yang dapat kita petik dari firman Allah di atas, yaitu sebagai berikut:
  • Berdoa hanya kepada Allah Ta'ala, karena hanya Allah semata yang berhak disembah, dan doa adalah termasuk ibadah yang merupakan perwujudan dari penyembahan kepada Allah. Bahkan, inti ibadah itu sendiri adalah doa.
  • Merendahkan diri dalam berdoa adalah suatu yang mutlak wajib, karena manusia itu lemah, jadi sudah sewajarnya kita menampakkan kelemahan kita di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta alam semesta, disertai dengan rasa takut tidak diterima dan rasa penuh harap akan diterima, akan memberi nilai tak ternilai dalam sebuah doa.
  • Berdoa dengan suara yang lemah lembut, bukan keras-keras yang mengganggu, apalagi berirama seperti mendendangkan lagu-lagu.
  • Jangan melampaui batas yang Allah tentukan.
  • Jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan segala bentuk kerusakan, kecil maupun besar.

Perintah berbuat baik selain berdoa, karena rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Jika ada yang berdoa namun masih suka berbuat kemungkaran adalah sangat wajar kalau doanya tidak dikabulkan. Selain itu, ada beberapa faidah tentang menyembunyikan doa atau mengucapkannya dengan suara yang lemah lembut sebagaimana disebutkan Ibnu Qayyim dalam tafsirnya:
  • Mencerminkan iman yang lebih besar. Sebab, orang yang berdoa tahu bahwa Allah pasti mendengar doanya yang diucapkan dengan suara lembut itu, karena Allah Maha Mndengar lagi Maha Mengetahui.
  • Mencerminkan adab dan pengagungan yang lebih besar. Ketika engkau menyampaikan permohonan dan permintaan kepada seorang raja, engkau tentu tidak menyampaikannya dengan suara yang keras, tetapi Anda akan merendahkan volume suara anda dan memelankannya sebatas raja bisa mendengarnya. Sesungguhnya Allah mempunyai perumpamaan yang lebih tinggi. Jika Allah mendengar doa dengan suara yang lembut, maka tidak ada adab yang lebih tepat di hadapan-Nya selain dengan merendahkan suara ketika berdoa kepada-Nya.
  • Melembutkan suara lebih pas untuk merendahkan diri dan khusyu'. Padahal, merendahkan diri dan khusyu' itu merupakan roh doa, inti, dan maksudnya. Orang yang khusyu' dan merendahkan diri memohon layaknya orang yang hina dan miskin yang hatinya lembut, anggota tubuhnya tunduk dan suaranya lemah, sampai-sampai kehinaan, kemiskinan, dan kelemahan hatinya membuat lidahnya seakan kelu tak mampu berucap kata. Hatinya meminta dan berharap. Karena kehinaan dan ketundukkannya, lidahnya menjadi diam tak bergerak. Keadaan ini sama sekali tidak akan terjadi jika suara dinyaringkan ketika berdoa.

Lebih menggambarkan keikhlasan.
Lebih dapat menyatukan hati dengan Allah dalam doa. Sebaliknya, menyaringkan suara bisa memisahkan hati dan menjauhkannya dari Allah. Dengan melemahkan suara lebih mudah untuk memuji-Nya, membebaskan hasrat dan tujuan kepada Dzat yang dimohon kepada-Nya.

Yang ini termasuk rahasia doa yang sangat mengagumkan, bahwa melembutkan suara dalam berdoa menunjukkan kedekatan pelakunya dengan Allah. Karena kedekatan dan kebersamaan inilah, dia memohon kepada Allah. Dia menyampaikan permohonan layaknya bisikan seseorang kepada orang yang sangat dekat dengannya, bukan seruan seseorang kepada orang yang jauh darinya. Karena itu, Allah memuji hamba-Nya, Nabi Zakariya, dengan firmannya:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاء خَفِيّاً 
"Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut." (QS Maryam [19]: 3).

Selagi hati merasakan kedekatan dengan Allah, bahwasanya Allahlah yang paling dekat dengannya dari segala seuatu, tentu ia akan melembutkan doanya semaksimal mungkin.

Lebih menggambarkan keberlangsungan permintaan dan permohonan, karena dengan begitu lisan tidak mudah jenuh dan anggota tubuh tidak mudah letih.

Menyembunyikan doa lebih menjauhkan berbagai macam penghalang, kekalutan dan hal-hal yang melemahkan.

Nikmat yang paling agung ialah menghadap kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan menyendiri dengan-Nya, disamping setiap nikmat ada pendengki menurut takarannya, besar maupun kecil. Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada nikmat ini. Maka, tidak ada yang lebih menyelamatkan diri orang yang didengki selain dengan menyembunyikan nikmatnya dari orang yang mendengkinya, dan tidak menampakkannya.

Kesimpulannya, marilah kita dengan cara-cara yang ditentukan Allah dan rasul-Nya agar doa kita terijabah dan diterima. Kalau kita mau berpikir dan merenung sejenak, mengapa begitu banyak doa yang sudah kita panjatkan untuk kebaikan bangsa ini, namun sepertinya ijabah menjadi hal langka dan sulit dijangkau, padahal ia dekat.

Kita rupanya masih berdoa dengan cara kita sendiri, kita masih banyak berbuat maksiyat daripada mematuhi perintah Allah dan rasul-Nya. Mengabulkan adalah hak mutlak Allah semata, agar permohonan dikabulkan, mohonlah dengan cara yang Allah tentukan.

Wallahu a'lam.


Sumber:
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sunday, April 11, 2010

Untukmu, Ibu Dan Ayah! Sunday, April 11, 2010

Sebuah kebahagiaan yang mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata manakala orang tua mendapati di hari tuanya perlakuan yang demikian istimewa dari anak-anaknya. Ketika ia mulai lemah dan mungkin sakit-sakitan, anak-anaknya dengan sabar dan penuh perhatian memberikan perawatan kepadanya. Ini semua tentu tidak didapat begitu saja, namun melalui pendidikan dan perjuangan yang panjang dari orang tua tersebut agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih dan berbakti pada orang tuanya.

Sesosok anak tidak akan dapat terlepas dari ayah dan ibunya. Bagaimanapun keadaannya, ia adalah bagian dari diri keduanya. Dia adalah darah daging keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaiannya yang pertama di dunia ini. Air susunya menjadi sumber makanan yang menumbuhkan jasadnya. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang selalu dia rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidurnya. Kegelisahan ibu menyisakan kebahagiaan untuknya.

Timangan sang ayah dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringat ayah memberikan rasa kenyang dan hangat bagi dirinya. Doa-doa yang mereka panjatkan menjadi sebab segala kebaikan yang didapatinya. Tak terhingga dengan hitungan jemari untuk merunut kembali segala kebaikan yang mereka curahkan untuk buah hati mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hak bagi kedua orang tua untuk memperoleh bakti, kelembutan, penjagaan dan kasih sayang dari anak-anaknya, dan Allah kuatkan hak ini dengan mengiringkannya setelah hak-Nya, karena hak orang tua mengandung pemuliaan dan pengagungan. Bahkan di dalam Kitab-Nya yang mulia termaktub berbilang ayat yang memberikan wasiat dan mendorong setiap anak untuk berbakti kepada orang tua, serta menjanjikan banyak kebaikan bagi anak-anak yang melaksanakannya berikut ancaman berupa balasan yang akan menimpa siapapun yang mendurhakai ayah bundanya. [Wa bil Walidaini Ihsana, hal. 11]. 

Di antara sekian banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An-Nisa: 36)

Dalam kalam-Nya ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya, karena Dialah Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Ar-Raziq (Yang Memberikan Rizki), Al-Mun’im (Yang Memberikan Nikmat), yang memberikan keutamaan kepada makhluk-Nya setiap saat dan setiap keadaan. Oleh karena itu, Dialah yang berhak untuk diesakan dan tidak disekutukan dengan sesuatu pun dari kalangan makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:

أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ ؟ قَالَ : اللهُ وَرَسُوْلُهُُ أَعْلَمُ. قَالَ  أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا  ثُمَّ قَالَ  أَتَدْرِي مَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ ؟ أَنْ لاَ يُعَذِّبَهُمْ 

“Tahukah engkau, apa hak Allah atas hamba-Nya?” Mu’adz menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau (Rasulullah) berkata, “Yakni beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” Kemudian beliau berkata lagi, “Tahukah engkau, apa hak hamba atas Allah bila mereka melaksanakannya? Allah tidak akan mengadzab mereka.” [HR. Al Bukhari no 5967 dan HR. Muslim no. 30)

Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, karena Allah jadikan keduanya sebagai sebab seseorang dari ketiadaan menjadi ada. [Tafsir Ibnu Katsir, 2/213]

Oleh karena itu, semestinya semenjak dini kedua orang tua mulai menanamkan hal ini kepada putra-putri mereka, mengiringi pengajaran tentang keimanan terhadap Rabb mereka. Inilah pula yang dilakukan oleh Luqman yang mengiringi wasiatnya kepada anaknya untuk beribadah kepada Allah semata dengan wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dengan melaksanakan peribadahan kepada-Nya serta menunaikan hak-hak-Nya, dan tidak menggunakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan-Nya untuk bermaksiat pada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan untuk bersyukur kepada kedua orang tua dengan berbuat baik kepada keduanya. Hal ini dilakukan dengan berucap lemah lembut, melakukan perbuatan yang baik, dan merendahkan diri terhadap mereka. Juga dengan memuliakan dan menanggung kebutuhan hidupnya, serta tidak menyakiti mereka dengan cara apa pun, baik dengan ucapan atau pun perbuatan. [Taisirul Karimir Rahman, hal. 648]

Di dalam ayat ini pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut tentang pendidikan seorang ibu, kesulitan dan kesusahannya ketika harus berjaga siang dan malam. Penyebutan ini untuk mengingatkan anak tentang kebaikan seorang ibu yang telah diberikan kepadanya sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

“Dan ucapkanlah doa: Wahai Rabbku, kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku.” (QS. Al-Isra: 24) [Tafsir Ibnu Katsir, 6/192]

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pengajaran, bagaimana semestinya seorang anak bersikap terhadap kedua orang tuanya yang musyrik:

“Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka jangan engkau ikuti keduanya, dan pergaulilah mereka berdua di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

Janganlah seseorang menyangka bahwa hal ini (mentaati perintah orang tua dalam kejelekan) termasuk kebaikan terhadap orang tua, karena hak Allah lebih diutamakan daripada hak siapa pun juga, dan tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam kemaksiatan terhadap Al-Khaliq.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan, “Apabila mereka berdua memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, maka durhakailah keduanya.” Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, “Jangan engkau ikuti mereka dalam perbuatan syirik mereka.”

Adapun berbakti terhadap mereka, maka engkau harus terus melakukannya. Oleh karena itulah Allah berfirman (وَصاَحِبْهُماَ فِي الدُّنْياَ مَعْرُوْفاً), yaitu pergaulilah mereka di dunia ini dengan penuh kebaikan. Adapun mengikuti mereka sementara mereka berkubang dalam kekufuran atau kemaksiatan, maka hal itu janganlah engkau lakukan. [Taisirul Karimir Rahman, hal. 648]

Sementara itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkan tentang ancaman durhaka kepada kedua orang tua. Bahkan beliau nyatakan bahwa hal itu termasuk dosa besar. Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu menyampaikan ucapan beliau ini:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ ؟ قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُوْلَ الله. قَالَ ثَلاَثًا  الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الوَالِدَيْنِ  وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ  أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ. أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرِ وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ  فَمَا زَالَ يَقُوْلُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ.

“Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau pun berkata tiga kali, “Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua.” Semula beliau dalam keadaan bersandar, lalu beliau pun bangkit duduk dan mengatakan, “Ketahuilah, ucapan dusta dan saksi palsu! Ketahuilah, ucapan dusta dan saksi palsu!” Beliau terus-menerus mengatakan hal itu hingga aku berkata, “Andaikan beliau diam.” [HR. Al-Bukhari no. 5976 dan Muslim no. 87]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pun meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ancaman beliau:

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ  قِيْلَ : مَنْ؟ يَا رَسُوْلَ الله! قَالَ  مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ 

“Nista dan hinanya! Nista dan hinanya! Nista dan hinanya!” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang mendapati salah seorang atau kedua orang tuanya dalam keadaan lanjut usia, namun dia tidak masuk ke dalam surga.” [HR. Muslim no. 2551]

Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan dorongan untuk berbakti kepada orang tua serta menunjukkan besarnya pahala amalan itu. Di dalam ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut didapati makna bahwa berbakti kepada kedua orang tua pada saat mereka telah lanjut usia dan lemah, dengan mencurahkan khidmat (pelayanan), nafkah ataupun lainnya merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Barangsiapa yang meremehkannya, maka dia akan terluput dari masuk surga dan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. [Syarh Shahih Muslim, 16/109]

Sebuah kisah tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya, yang amalan itu dapat melepaskannya dari belenggu musibah yang menimpa, disampaikan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 بَيْنَمَا ثَلاَثَةُ نَفَرٍ يَتَمَشَّوْنَ أَخَذَهُمُ المَطَرُ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فِي جَبَلٍ ، فَانْحَطَّتْ عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ فَأَطْبَقَتْ عَلَيْهِمْ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : انْظُرُوا أَعْمَالاً عَمِلْتُمُوهَا صَالِحَةً للهِ فَادْعُوا اللهَ تَعَالَى بِهَا لَعَلَّ اللهَ يَفْرُجُهَا عَنْكُمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ : اللّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَامْرَأَتِي وَلِيَ صِبْيَةُ صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ ، حَلَبْتُ فَبَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ بَنِيَّ. وَإِنَّهُ نَأَى بِي ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَ فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ أَحْلٌبُ فَجِئْتُ بِالحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ رُؤُسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِيَ الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ حَتَّى أَطْلَعَ الفَجْرُ ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ ، فَفَرَجَ اللهُ مِنْهَا فُرْجَةً فَرَأَوْا مِنْهَا السَّمَاءَ … 
Ada tiga orang yang sedang dalam perjalanan. Tiba-tiba turun hujan menimpa mereka hingga mereka pun berteduh di dalam gua di sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalam gua, runtuhlah sebuah batu besar dari gunung di mulut gua hingga menutupi mereka. Maka ada di antara mereka yang berkata kepada temannya, “Lihatlah amalan shalih yang pernah kalian kerjakan karena Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amalan tersebut. Semoga dengan itu Allah akan memberikan jalan keluar kepada kalian.” Maka salah seorang di antara mereka berdoa, “ Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dua orang tua yang telah renta, dan aku pun memiliki istri dan anak-anak kecil. Aku biasa menggembala kambing-kambing untuk mereka. Apabila aku telah membawa pulang kambing-kambingku, aku biasa memerah susu dan aku awali dengan memberikan minum kepada kedua orang tuaku sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu ketika aku terlalu jauh menggembala sehingga belum juga pulang sampai sore hari, hingga kudapati mereka berdua telah tidur. Maka aku pun memerah susu sebagaimana biasa. Kemudian aku datang membawa susu perahan itu dan berdiri di sisi kepala ayah ibuku. Aku tak ingin membangunkan mereka berdua dari tidurnya dan aku pun tak ingin memberi minum anak-anakku sebelum mereka berdua, sementara anak-anakku menangis kelaparan di sisi kedua kakiku. Terus menerus demikian keadaanku dengan mereka hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku lakukan semua itu untuk mengharap wajah-Mu, berikanlah jalan keluar dari batu itu hingga kami dapat melihat langit.” Maka Allah pun memberikan kepada mereka kelapangan hingga mereka dapat melihat langit kembali…” [HR. Al-Bukhari no. 2215 dan HR. Muslim no. 2743]

Kisah ini menunjukkan gambaran keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, keutamaan melayani dan mendahulukan mereka berdua dari yang lainnya, baik anak-anak, istri dan selain mereka. [Syarh Shahih Muslim, 17/56]

Bila demikian keadaannya, adakah hati orang tua yang tidak tergerak untuk mendidik anak-anak mereka agar berbakti kepada ayah bundanya? Adakah orang tua yang akan membiarkan anak-anak mereka berkubang dalam kedurhakaan sehingga mendapati balasan yang nista? Tidakkah mereka ingin anak-anak mereka seperti gambaran seorang Abu Hurairah yang memberikan salam kepada ibunya:

عَلَيْكِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ يَا أُمَّتَاه ! تَقُوْلُ : وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، يَقُوْلُ : رَحِمَكِ اللهُ كَمَا رَبَّيْتِنِي صَغِيْرًا. فَتَقُوْلُ : يَا بُنَيَّ! وَأَنْتَ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا وَرَضِيَ عَنْكَ كَمَا بَرَرْتَنِي كَبِيْرًا.

“Keselamatan atasmu, serta rahmah dan barakah Allah, wahai Ibunda!” Ibunya pun menjawab, “Dan keselamatan pula atasmu, serta rahmah dan barakah Allah.” Dia berkata lagi, “Semoga Allah mengasihimu, wahai Ibu, sebagaimana engkau telah mendidikku semasa kecilku.” Ibunya membalas, “Wahai anakku! Dan engkau juga, semoga Allah memberi balasan yang baik dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku pada masa tuaku.” [Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani: hasanul isnad dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 11]


Betapa banyak kisah yang terhimpun dalam Kitabullah dan kalam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat disampaikan kepada anak-anak, yang berbicara tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan ancaman bagi seorang yang durhaka terhadap keduanya. Semogalah mereka memetik banyak faidah yang akan mendorong mereka untuk mempersembahkan kebaikan kepada ayah bundanya.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Dikutip dari: Asy Syariah | Penulis : Penulis : Al Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu Imran Judul: Bagimu Ayah dan Ibu

Wassalam, Abu Muawiah

Contact Form

Name

Email *

Message *