Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Misionari. Show all posts
Showing posts with label Misionari. Show all posts

Monday, June 6, 2011

Misionaris Di Dunia Islam - 1 Monday, June 6, 2011



Di antara realitas dan berita mengenai negara-negara Islam, adakalanya kita dihadapkan pada masalah yang memang penting dan layak untuk diperhatikan, yakni kehadiran misionaris dan upaya mereka melakukan kristenisasi di tengah-tengah pemeluk Islam. Kehadiran dan aktivitas misionaris di negara-negara Islam selalu menjadi topik "krusial" yang seolah tiada habisnya menjadi pembahasan dalam berbagai media massa di banyak negara.

Kehadiran misionaris di negara-negara Islam merupakan satu gerakan yang kompleks dan ada kalanya berbentuk kegiatan kebudayaan yang tersembunyi. Kegiatan ini sebagian besar mendapat dukungan moril dan materil dari para kapitalis besar di barat. Dengan melihat kepada aktivitas dan kinerja mereka dalam masyarakat Islam selama beberapa dasawarsa yang lalu, banyak pengamat sejarah dan politik yang menilai bahwa para misionaris ini, sedikit atau banyak, sebetulnya merupakan pelaksana dari kebijakan imperialisme dunia.

Tulisan berikut coba menelusuri kembali beberapa aktivitas misionaris di negara-negara Islam sekaligus juga meninjau sejarah kedatangan mereka, tujuan, dan metode yang mereka terapkan dalam upaya mengkristenkan sebanyak mungkin non-kristen, khususnya pemeluk Islam.

Aktivitas misionaris di negara-negara Islam memiliki sejarah yang panjang. Misionaris adalah sebutan bagi siapa saja yang mengemban tanggungjawab untuk menyebarkan ajaran kristen. Misionaris masuk ke berbagai negara dengan tujuan untuk memperkenalkan dan memperluas penyebaran akidah Kristen. Seiring dengan perubahan zaman, mereka pun masuk bersama-sama dengan invasi kaum imperialis. Dengan cara ini mereka dapat menyusup jauh ke adalam dan melakukan infiltrasi di kawasan-kawasan yang telah ditaklukkan kaum imperialis tadi. Pak, seorang peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West menukil ucapan Napoleon sbb:

“Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buat saya di Asia, Afrika, dan Amerika karena saya dapat memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian tidak saja melindungi mereka, bahkan juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mata saya di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.”

Pada awalnya aktivitas misionaris hanya bergantung pada tenaga manusia. Namun kemudian para misionaris pun bergerak secara lebih sistematik, dan dalam rangka mencapai tujuannya mereka pun mulai membentuk lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi. Mengenai ini Aeten Sezar, penulis Turki menulis:

“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan misi mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Untuk kepentingan propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan guna memberikan latihan yang lebih baik kepada para misionaris."

Yang memberikan kesempatan bagi meluasnya kehadiran misionaris kristen di negara-negara timur adalah masuknya tentara imperialis di kawasan itu. Seperti kita ketahui, aksi penjajahan Portugis dan Spanyol mendapat dukungan Paus Iskandar VI pada abad ke-15 masehi. Paus memberi dukungan kepada pemerintah Spanyol dan Portugal dengan syarat kedua imperialis ini memberi jalan kepada misionaris kristen untuk masuk ke negara jajahan dan mendukung segala upaya dan aktivitas delegasi misionaris kristen untuk menyebarkan ajaran mereka di tengah-tengah penduduk negeri jajahan.

Dalam rangka perluasan infiltrasi dan pengokohan gerakan kristen, pada tahun 1516 Kardinal Ximenes memberi perintah supaya setiap serangan ke India Timur dan Barat haruslah diiringi oleh misionaris kristen. Adakalanya delegasi dakwah kristen ini juga disertai oleh penemu dunia. Abdulhadi Haeri, penulis buku ‘Pertentangan pertama pemikiran Iran’ menulis:

“Langkah pertama dunia barat dalam menaklukkan bumi timur pada dasawarsa 15 masehi dilakukan oleh orang-orang Portugis. Pelopor pertama dari kaum penjajah itu adalah Henry si Pelaut. Dia juga disebut sebagai pemimpin besar kelompok Kristen. Ambisinya yang terbesar adalah menumpas umat Islam. Dia berusaha keras memperluas imperialisme portugis di timur dan melakukan kristenisasi di sana.”

Sebagian percaya bahwa sebab utama permusuhan di antara sebagian kapitalis dengan umat Islam adalah dampak dari perang salib. Karl Heinrich Bekker, orientalis dan politikus Jerman, menyebutkan bahwa permusuhan kapitalis gereja dengan Islam mempunyai sejarah yang bermula sejak zaman kemunculan Islam. Islam kemudian semakin berkembang pada abad pertengahan dan secara bertahap masuk ke negara-negara berpenduduk kristen. Gairdner juga membenarkan pernyataan Bekker ini. Dia menyatakan bahwa kekuatan yang tersembunyi dalam Islam menyebabkan Eropa merasa takut dan terjadilah permusuhan antara gereja dan Islam.

Invasi dua negara imperialis Portugis dan Spanyol ini, kemudian diikuti pula oleh negara-negara Eropa lainnya seperti Belanda, Perancis, Inggeris, dan Russia. Mereka pun turut melaksanakan kebijakan mengembangkan agama kristen dan menggunakannya sebagai faktor pendukung bagi penguasaan dan penaklukan daerah jajahan.

Setelah itu, agama Protestan juga turut melakukan aktivitas mereka di dunia timur dan memperluas agama mereka di negara-negara jajahan. Para misionaris agama Protestan yang mendapat dukungan negara-negara Eropa dan berbagai perusahaan mereka di timur ini memulai aktivitasnya dengan mengkristenkan penduduk negeri jajahan (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [1]
Simak Juga Bagian:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Misionaris Di Dunia Islam - 1

Di antara realitas dan berita mengenai negara-negara Islam, adakalanya kita dihadapkan pada masalah yang memang penting dan layak untuk diperhatikan, yakni kehadiran misionaris dan upaya mereka melakukan kristenisasi di tengah-tengah pemeluk Islam. Kehadiran dan aktivitas misionaris di negara-negara Islam selalu menjadi topik "krusial" yang seolah tiada habisnya menjadi pembahasan dalam berbagai media massa di banyak negara.

Kehadiran misionaris di negara-negara Islam merupakan satu gerakan yang kompleks dan ada kalanya berbentuk kegiatan kebudayaan yang tersembunyi. Kegiatan ini sebagian besar mendapat dukungan moril dan materil dari para kapitalis besar di barat. Dengan melihat kepada aktivitas dan kinerja mereka dalam masyarakat Islam selama beberapa dasawarsa yang lalu, banyak pengamat sejarah dan politik yang menilai bahwa para misionaris ini, sedikit atau banyak, sebetulnya merupakan pelaksana dari kebijakan imperialisme dunia.

Tulisan berikut coba menelusuri kembali beberapa aktivitas misionaris di negara-negara Islam sekaligus juga meninjau sejarah kedatangan mereka, tujuan, dan metode yang mereka terapkan dalam upaya mengkristenkan sebanyak mungkin non-kristen, khususnya pemeluk Islam.

Aktivitas misionaris di negara-negara Islam memiliki sejarah yang panjang. Misionaris adalah sebutan bagi siapa saja yang mengemban tanggungjawab untuk menyebarkan ajaran kristen. Misionaris masuk ke berbagai negara dengan tujuan untuk memperkenalkan dan memperluas penyebaran akidah Kristen. Seiring dengan perubahan zaman, mereka pun masuk bersama-sama dengan invasi kaum imperialis. Dengan cara ini mereka dapat menyusup jauh ke adalam dan melakukan infiltrasi di kawasan-kawasan yang telah ditaklukkan kaum imperialis tadi. Pak, seorang peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West menukil ucapan Napoleon sbb:

“Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buat saya di Asia, Afrika, dan Amerika karena saya dapat memaksa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian tidak saja melindungi mereka, bahkan juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi mata-mata saya di bidang politik dan perdagangan tanpa sepengetahuan rakyat.”

Pada awalnya aktivitas misionaris hanya bergantung pada tenaga manusia. Namun kemudian para misionaris pun bergerak secara lebih sistematik, dan dalam rangka mencapai tujuannya mereka pun mulai membentuk lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi. Mengenai ini Aeten Sezar, penulis Turki menulis:

“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan misi mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Untuk kepentingan propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan guna memberikan latihan yang lebih baik kepada para misionaris."

Yang memberikan kesempatan bagi meluasnya kehadiran misionaris kristen di negara-negara timur adalah masuknya tentara imperialis di kawasan itu. Seperti kita ketahui, aksi penjajahan Portugis dan Spanyol mendapat dukungan Paus Iskandar VI pada abad ke-15 masehi. Paus memberi dukungan kepada pemerintah Spanyol dan Portugal dengan syarat kedua imperialis ini memberi jalan kepada misionaris kristen untuk masuk ke negara jajahan dan mendukung segala upaya dan aktivitas delegasi misionaris kristen untuk menyebarkan ajaran mereka di tengah-tengah penduduk negeri jajahan.

Dalam rangka perluasan infiltrasi dan pengokohan gerakan kristen, pada tahun 1516 Kardinal Ximenes memberi perintah supaya setiap serangan ke India Timur dan Barat haruslah diiringi oleh misionaris kristen. Adakalanya delegasi dakwah kristen ini juga disertai oleh penemu dunia. Abdulhadi Haeri, penulis buku ‘Pertentangan pertama pemikiran Iran’ menulis:

“Langkah pertama dunia barat dalam menaklukkan bumi timur pada dasawarsa 15 masehi dilakukan oleh orang-orang Portugis. Pelopor pertama dari kaum penjajah itu adalah Henry si Pelaut. Dia juga disebut sebagai pemimpin besar kelompok Kristen. Ambisinya yang terbesar adalah menumpas umat Islam. Dia berusaha keras memperluas imperialisme portugis di timur dan melakukan kristenisasi di sana.”

Sebagian percaya bahwa sebab utama permusuhan di antara sebagian kapitalis dengan umat Islam adalah dampak dari perang salib. Karl Heinrich Bekker, orientalis dan politikus Jerman, menyebutkan bahwa permusuhan kapitalis gereja dengan Islam mempunyai sejarah yang bermula sejak zaman kemunculan Islam. Islam kemudian semakin berkembang pada abad pertengahan dan secara bertahap masuk ke negara-negara berpenduduk kristen. Gairdner juga membenarkan pernyataan Bekker ini. Dia menyatakan bahwa kekuatan yang tersembunyi dalam Islam menyebabkan Eropa merasa takut dan terjadilah permusuhan antara gereja dan Islam.

Invasi dua negara imperialis Portugis dan Spanyol ini, kemudian diikuti pula oleh negara-negara Eropa lainnya seperti Belanda, Perancis, Inggeris, dan Russia. Mereka pun turut melaksanakan kebijakan mengembangkan agama kristen dan menggunakannya sebagai faktor pendukung bagi penguasaan dan penaklukan daerah jajahan.

Setelah itu, agama Protestan juga turut melakukan aktivitas mereka di dunia timur dan memperluas agama mereka di negara-negara jajahan. Para misionaris agama Protestan yang mendapat dukungan negara-negara Eropa dan berbagai perusahaan mereka di timur ini memulai aktivitasnya dengan mengkristenkan penduduk negeri jajahan (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [1]

Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21



Monday, August 30, 2010

Misionaris Di Dunia Islam - 2 Monday, August 30, 2010


Pada bagian pertama telah disebutkan proses masuknya misionaris Kristen bersama tentara imperialis Eropa ke negara-negara timur, termasuk negara-negara Islam, untuk menyampaikan ajaran agama mereka. Aktivitas dan kinerja misionaris ini bisa disebut sebagai bantuan terhadap imperialis. Kini timbul pertanyaan, faktor apakah yang menyebabkan gerakan misionaris ini bekerjasama dengan imperialisme di negara-negara Islam?

Sebagian ahli menyebutkan bahwa akar utama kerjasama antara gerakan misionaris dengan para imperialis ialah perang salib. Salah satu periode amat penting dalam sejarah hubungan dunia Islam dan Kristen adalah era Perang Salib.

Perang Salib dimulai pada tahun 1095 Masehi atau 489 Hijriah dan berlangsung selama hampir dua abad. Jumlah perang yang terjadi selama masa itu tidaklah jelas, namun perang terbesar tercatat sebanyak sepuluh kali. Sepanjang Perang Salib - yang dimulai dengan serangan orang-orang Kristen ekstrim untuk menaklukkan Baitul Maqdis, ratusan ribu umat Islam telah terbunuh. Namun, umat Islam berhasil mempertahankan Baitul Maqdis dan tentara salib terpaksa meninggalkan Suriah, Mesir, dan kawasan muslim lainnya.

Banyak pendapat yang dikemukakan mengenai penyebab dan motivasi terjadinya Perang Salib ini. Doktor John L. Esposito, dosen universitas George Town Amerika menulis:

"Sebagian besar masyarakat Barat mengakui adanya kenyataan tertentu yang berhubungan dengan Perang Salib, tetapi banyak di antara mereka yang tidak mengetahui bahwa Perang Salib yang mengakibatkan korban yang amat besar ini adalah atas perintah Paus. Bagi umat Islam, kenangan atas Perang Salib merupakan satu contoh nyata dari militerisasi kristen ekstrim, sebuah kenangan yang membawa pesan bagi serangan dan imperialisme Kristen barat."

Menurut para ahli sejarah, Perang Salib adalah hasil dari kebijakan para pemimpin gereja, pemerintah Eropa, serta misionaris yang menentang Islam. Sikap tamak dan kefakiran yang melanda masyarakat Barat membuat mereka berambisi merebut kekayaan umat Islam dan inilah salah satu alasan dimulainya Perang Salib. Alasan-alasan lainnya adalah keinginan melakukan ekspansi wilayah Eropa, timbulnya fanatisme terhadap agama, keinginan untuk menaklukkan Baitul Maqdis, serta membebaskan pemakaman suci di sana.

Perang Salib pertama dimulai di bawah pimpinan Urbanus-II. Dengan fatwa para pendeta kristen, pasukan besar Eropa, disertai tokoh-tokoh pemerintah Eropa dan pimpinan gereja bergerak menuju Baitul Maqdis yang berlokasi di tanah pendudukan Palestina. Di sepanjang kota-kota Islam yang mereka lalui, mereka membunuhi ratusan ribu manusia, lelaki, wanita, dan anak-anak. Sejarawan terkenal Perancis, Gustav Lubon mengenai Perang Salib menulis:

“Di zaman terjadinya Perang Salib, peradaban timur berada dalam tahap kegemilangannya berkat Islam. Sebaliknya, Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kezaliman. Ada sekelompok tentara salib yang ganas. Mereka membunuh dan merampok kawan maupun lawan, kelompok sendiri maupun pasukan asing.”

Perang Salib membawa kemajuan sosial bagi masyarakat Barat. Rakyat Eropa yang saat itu berperadaban rendah, mulai mengenal kecemerlangan peradaban umat Islam dan mereka mulai mempelajari ilmu dan peradaban muslim. Tetapi, seperti apa yang telah ditulis oleh sejarawan terkenal bernama Twin B:

“Orang-orang Kristen mengambil manfaat dari kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam tetapi permusuhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam Timur tidak pernah berkurang.”

Will Durant penulis sejarah yang terkenal, mengenai infiltrasi dua dunia, yaitu Kristen dan Islam, di sepanjang Perang Salib, menulis:

“Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada sebagian budaya agama dan perang, tetapi dunia Islam melakukan berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedokteran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode industri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan."
Sepanjang era perang Salib dan pasca perang, terutama ketika Byzantium jatuh ke tangan umat Islam, mereka mulai merusak citra Islam dan menyajikan gambaran yang telah diubah di kalangan orang-orang Kristen. William Montgomery Watt, seorang peneliti Inggris, pernah menulis bahwa wajah Islam telah diubah oleh para pendeta Kristen. Dalam pemikiran umat Kristen pada abad ke-12 ditanamkan gambaran bahwa Islam adalah agama pedang dan kekerasan serta Nabi Muhammad SAW adalah penentang Nabi Isa a.s. Menurut Watt, hasil dari distorsi penggambaran Islam ini berlanjut hingga abad ke-19 di dalam banyak pemikiran orang-orang Eropa. Bahkan hingga saat ini distorsi itu tetap kekal dalam pemikiran masyarakat Barat dan dampaknya masih dapat dilihat sampai hari ini. Watt juga menambahkan bahwa pembentukan gambaran buruk mengenai Islam sebagian besar merupakan reaksi umat Kristen yang melihat bahwa peradaban umat Islam di Andalusia amat tinggi melampaui mereka.

Sebagian peneliti menyebutkan bahwa selain Perang Salib, alasan politik juga menjadi penyebab lain terjadinya kerjasama antara misionaris dengan imperialis. Mereka menggunakan ucapan pemimpin gereja seperti Yulius Richter sebagai dalil. Yulius telah mencerca umat Kristen yang telah membiarkan kekaisaran Byzantium secara berangsur-angsur digantikan oleh emperator Islam dan berlanjut dengan jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke tangan Islam. Para peneliti yang berpendapat seperti ini sepertinya lupa bahwa infiltrasi umat Islam di berbagai penjuru dunia muncul sebelum adanya gerakan militer. Infiltrasi ini berakar dari masalah kebudayaan dan kepercayaan.

Dari sudut ini, bisa dipahami mengapa umat Islam dalam masa yang singkat dan dengan fasilitas yang sedikit mampu memperluas kekuasaannya. Thomas V Arnold, menerangkan falsafah kemajuan Islam sebagai berikut:

“Ketika tentara Islam tiba di Jordan, orang-orang Kristen Jordan menulis surat yang isinya sbb: Wahai umat Islam, kalian lebih kami sayangi daripada orang-orang Roma, meskipun mereka seagama dengan kami, tetapi kalian berperilaku lebih mulia, lebih adil, dan lebih baik terhadap kami.”

Infiltrasi dan perkembangan Islam di Eropa, bisa disebutkan sebagai salah satu penyebab terjadinya kerjasama antara gerakan misionaris gereja dengan pihak imperialis. Menurut pandangan Norman Daniel dalam bukunya berjudul “Islam and the West: The making of an image”, penentangan politik dunia Kristen terhadap dunia Islam berubah menjadi satu pemikiran yang menguasai Barat. Ide ini terus tertanam dalam pikiran Barat meskipun ideologi persatuan Eropa telah hancur dan agama Kristen telah terpecah menjadi Katolik dan Protestant (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [2]
Simak Juga Bagian:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sunday, August 29, 2010

Misionaris Di Dunia Islam - 3 Sunday, August 29, 2010


Pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas Masehi, misionaris Eropa masuk ke negara-negara Islam dan memulai kegiatannya secara luas. Awalnya, gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan pemikiran Kristen dan mengganti agama kaum Muslimin. Namun, usaha mereka mengalami kegagalan. Karena itu, mereka mengganti metode penyeberluasan misi mereka. Alih-alih mengajarkan ajaran Kristen, mereka malah mempropagandakan kebudayaan Barat dan nasionalismenya.

Metode ini banyak dilakukan oleh misionaris asal Amerika. Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti George Antonius, benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh misionaris Kristen di negara-negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu tehadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Para misionaris, dengan mendirikan sekolah-sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam.

Universitas St. Joseph di Suriah dan Universitas Amerika di Beirut dan Libanon, adalah beberapa contoh dari pusat keilmuan yang didirikan oleh para misionaris. Tentang aktivitas dua universitas itu, J.B. Gibb dalam bukunya “Suriah, Libanon, dan Jordania” menulis:

“Kedua universitas ini membuka jalan bagi masuknya pemikiran Barat ke Suriah, Libanon, dan Jordania. Sedangkann unsur pemikiran baru terpenting yang mereka sebarkan adalah nasionalisme.”

Universitas St. Joseph didirikan pada tahun 1874 Masehi, sementara Universitas Amerika di Beirut didirikan tahun 1866. Universitas St. Joseph menekankan pada pengkristenan kaum muslimin dan penyebaran kebudayaan Barat di Suriah. Sementara Universitas Amerika di Beirut yang nama awalnya adalah Sekolah Protestan Suriah, berusaha menyampaikan pahamnya dengan metode westernisasi dan liberalisasi. Universitas ini menerapkan rencananya dengan jalan menyebarluaskan materialisme, nasionalisme, dan liberalisme. Oleh karena itu, Universitas Amerika di Beirut dengan tujuan memecah-belah dunia Islam dan kaum muslimin, mempropagandakan nasionalisme Arab dan anti-Turki.

Akibat pengajaran sistem pendidikan Barat yang dilakukan oleh kedua universitas ini dan universitas serupa lainnya yang didirikan di berbagai negara Islam, terjadilah gelombang penjajahan budaya dan penindasan budaya pribumi dan juga masuknya ideologi-ideologi dan pendidikan Barat. Namun, bidang industrialisasi dan kemajuan ekonomi dan ilmu-teknologi sama sekali tidak dikembangkan di negara-negara Islam. Joseph Szyliowicz, dalam bukunya yang berjudul Pendidikan dan Modernisasi di Timur Tengah mengakui bahwa program-program kedua universitas ini lebih banyak bermanfaat bagi Perancis dan Amerika daripada memenuhi kebutuhan masyarakat Timur Tengah.

Pengakuan ini menjelaskan jatidiri dan tujuan yayasan pendidikan yang didirikan oleh misionaris. Yayasan-yayasan itu jelas-jelas merupakan alat propaganda dan westernisasi yang bertujuan untuk mengamankan posisi kaum imperialis. Dengan memperhatikan catatan sejarah, masuknya misionaris ke negara-negara Islam biasanya diikuti oleh para pedagang Eropa. Menyusul setelah itu, datang pula tentara-tentara Inggris, Perancis, Portugis, Belgia, dan Rusia. Setelah pemerintahan imperialis berdiri, para penjajah itu amat melindungi gerakan misionaris dengan tujuan agar penyebaran kebudayaan Barat dapat terus berlanjut. Perlindungan ini tampak dalam berbagai bentuk materil dan moril. Contohnya, dalam masalah pendidikan, pemerintah imperialis memberikan dana yang cukup besar bagi pendirian berbagai yayasan oleh misionaris. Di samping itu, sistem pendidikan serta tanah air yang mereka kuasai, secara terbatas diserahkan kepada misionaris untuk dikelola.

Salah satu tujuan sekolah-sekolah dan pusat-pusat keilmuan yang dikelola oleh misionaris adalah mendidik manusia menjadi penurut dan pendiam. Seperti misalnya di Afrika, misionaris mendidik rakyat Afrika agar tidak menentang hukum. Patrice Lumumba, ketua Gerakan Nasional Kongo, yang pernah belajar di sebuah sekolah misionaris, dalam bukunya “Hidup dan Peperanganku” menulis:

“Tidak pernah dapt saya pahami mengapa di sekolah-sekolah selalu diajarkan kepada kami agar menjaga dasar perdamaian dan kesucian Al-Masih, sementara di luar sekolah orang-orang Eropa melakukan penindasan kepada kami.”

Sampai di sini, kita dapat menyimpulkan bahwa misionaris juga memainkan peranannya dalam menenangkan warga pribumi dan menidurkan semangat perlawanan mereka terhadap penjajah. Misionaris juga berada di balik peristiwa pembunuhan Patrice Lumumba di Katanga pada periode Musa Chumbe tahun 1961, perang dalam negeri Nigeria, juga pembangkangan dan revolusi bersenjata separatis Kristen di selatan Sudan.

Pada tahun 1983 Ahmad Sekou Toure, Presiden Ghana, telah mengusir semua misionaris Eropa dari negara itu. Sekou Toure adalah pemimpin perjuangan rakyat melawan penjajahan Perancis di tahun 1957. Dalam masa pengusiran misionaris Eropa tersebut dia mengatakan bahwa misionaris agama dan pendeta Eropa adalah musuh terbesar Afrika karena mereka melakukan kegiatan mata-mata dan perusakan (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [3]


Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Misionaris Di Dunia Islam - 4


Meskipun India bukanlah negara muslim, namun aktivitas para misionaris di negeri ini juga patut kita cermati. Di India, para misionaris ternyata menggunakan metode lain, yaitu dengan berkedok sebagai turis. Salahsatu contohnya adalah pendeportasian seorang misionaris Amerika Joseph W. Cooper dari India yang menunjukkan aktivitas ilegal kaum misionaris di kawasan barat India.

Cooper adalah seorang misionaris Amerika yang berkunjung ke India dengan menggunakan visa turis. Tapi di sana ia malah sibuk menyampaikan ajaran agama Kristen. Pemerintah India akhirnya memberikan dia tempo satu minggu untuk meninggalkan India. Menurut polisi India, Cooper telah melanggar undang-undang tahun 1995 pemerintah India. Berlandaskan kepada undang-undang ini, tidak dibenarkan seseorang melakukan aktivitas penyebaran agama dengan menggunakan visa turis.

Sebenarnya, tidak ada laporan menyangkut isi ceramah misionaris Kristen di Propinsi Kerala itu. Tetapi, serangan terhadapnya oleh sekelompok extremis Hindu hingga ia cedera, memperlihatkan betapa sensitifnya upaya yang dilakukan Joseph W. Cooper. Untuk mencegah berlanjutnya ketegangan, sembilan orang anggota sebuah organisasi extrim Rashtriya Swayamsevak Singh telah ditangkap.

Pengesahan undang-undang tahun 1995 mengenai larangan aktivitas penyebaran agama bagi pengunjung yang memiliki visa turis menunjukkan bahwa kasus serupa pernah terjadi. Untuk menghalangi aktivitas misionaris agama yang menggunakan visa turis itulah akhirnya pemerintah India telah mengesahkan undang-undang ini. Dengan melihat keragaman ras, agama, dan bahasa, juga kemiskinan yang meluas, India merupakan lapangan yang potensial bagi aktivitas misionaris agama.

Pertumbuhan penduduk secara berlebihan, juga keterbatasan sumber dana pemerintah India untuk melaksanakan program pembangunan, kesehatan, dan pendidikan, telah menyebabkan meningkatnya kemiskinan di India. Selain masalah kemiskinan, terdapat 44 persen orang dewasa di India yang buta huruf. Ini merupakan salah satu faktor pendukung maraknya aktivitas misionaris agama di negara tersebut. Dari sudut ini, yang mengkhawatirkan pemerintah India ialah pemanfaatan atas kondisi ini oleh pihak asing untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka.

Salah satu metode yang diterapkan oleh negara asing ialah melalui pengiriman para misionaris berkedok wisatawan. Oleh sebab itu, pemerintah India memperhatikan perilaku para turis dengan lebih teliti sehingga mereka jangan sampai berceramah masalah keagamaan.

Aktivitas misioner di India sepanjang tahun-tahun terakhir ini telah menggerakkan sentimen orang-orang Hindu extrim dan meningkatkan kekerasan berdarah. Tampaknya sentimen atas gerakan misioner ini menjadi bertambah kuat dengan berkuasanya Partai Bharatiya Janata. Extrimis Hindu memiliki agenda pelaksanaan kebijakan Hinduisme di India dan aktivitas religius apapun yang berpotensi menyinggung agama Hindu pasti akan ditentang.

Orang-orang Kristen yang merupakan dua persen dari satu milyar penduduk orang India, hingga kini hidup dalam keadaan damai dengan para penganut agama lain ataupun kelompok minoritas lainnya.

Oleh karena itu, muncul kekhawatiran dalam masyarakat Kristen India bahwa ada oknum-oknum yang ingin menjalankan aktivitas misionernya di bawah kedok turis. Sebab masalah ini dapat menyebabkan meruncingnya hubungan Hindu dan Kristen di sana.

Menurut pandangan para pengamat politik, dengan memperhatikan kondisi ekonomi rakyat negara-negara Asia Selatan, lahan aktivitas misioner tidak saja terbatas di India. Di negara-negara lain juga aktivitas itu sangat mungkin ada. Oleh karenanya, keberhasilan aktivitas misionaris Kristen berkedok turisme di India itu akan berakibat kepada semakin merebaknya aktivitas serupa di kawasan lain.

Dari sudut ini, para pengamat percaya bahwa salah satu faktor meningkatnya perang di antara kelompok di kawasan Asia Selatan termasuk India, ialah aktivitas misionaris agama. Dalam hal ini, salah satu metode adikuasa dan imperialis untuk mengembangkan infiltrasinya ialah dengan menggunakan missionaris di perbagai kawasan dunia. Memberi hadiah dan membangun pusat-pusat pelayanan yang secara lahiriah memberikan manfaat pragmatis bagi masyarakat setempat, termasuk salah satu langkah misioner di berbagai negara.

Sebagaimana disebutkan dalam beberapa berita, misionaris yang telah dideportasi dari India itu sebenarnya telah bertahun-tahun keluar masuk ke negara ini. Realitas ini menyebabkan kekhawatiran pemerintah India bahwa dengan menggunakan paspor turis, Joseph W. Cooper telah mengunjungi berbagai kawasan untuk meneliti tradisi, budaya, serta kondisi sosial-politik dan kebudayaan setempat.

Sebagian organisasi India dan aktivis keagamaan menilai aktivitas misionaris Amerika di bawah kedok turisme itu dilakukan secara terorganisir. Karenanya, aktivitas agama Kristen mendapat reaksi negatif yang sangat keras.

Karena dianggap menciptakan suasana saling curiga di antara orang-orang Hindu dan Kristen, pada tahun-tahun lalu, sejumlah gereja diserang oleh orang yang tidak dikenal. Tahun 2000 lalu, untuk pertama kalinya selepas kemerdekaan India, minoritas Kristen India merasa tidak aman. Sebagian organisasi India melihat aktivitas misioner untuk menarik orang-orang Hindu kepada agama kristen itu dilakukan dalam rangka sebuah program yang meluas dengan tujuan untuk mengubah India menjadi sebuah negara Kristen. Oleh sebab itu, Hindu extremis menentang keras kehadiran misionaris agama.

Tahun 2000 lalu, kelompok Bajrang Dal, sebuah cabang militer Organisasi RSS meminta penganut Kristen supaya dikeluarkan dari wilayah Uttar Pradesh. Dengan demikian, yang menciptakan kekhawatiran tidak saja aktivitas agama misioner dan ruhaniawan Kristen.

Tentu saja, sikap fanatisme ekstrim kaum Hindu di India tidak hanya mengambil korban kaum Kristen, melainkan juga umat muslim India yang telah hidup di India sejak berabad-abad yang lalu. Umat muslim India bahkan turut serta secara aktif dalam perang memperjuangkan kemerdekaan India.

Reaksi yang ditunjukkan oleh kelompok extrim Hindu di India sangatlah mengkhawatirkan. Peperangan berdarah di antara umat beragama terjadi di berbagai kawasan India. Dalam hal ini, dipastikan bahwa tidak ada satu golongan pun yang akan mendapatkan keuntungan (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [4]


Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Misionaris Di Dunia Islam - 5


Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan pembahasan mengenai metode para misionaris Barat dalam memilih penduduk pribumi dan mengajarkan dasar-dasar ajaran Kristen. Juga telah disampaikan pembahasan mengenai pendirian berbagai lembaga keilmuan dan universitas di negara-negara Eropa dan Amerika yang bertujuan untuk mendidik para misionaris. Selanjutnya, mari kita simak karakteristik delegasi misionaris yang dikirim ke berbagai negara muslim tersebut.

Para misionaris Kristen yang dikirim oleh berbagai pusat keagamaan di Barat ke berbagai negara dunia ketiga, termasuk negara-negara Islam, bekerja secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka bekerja untuk menarik perhatian penduduk setempat pada ajaran Al-Masih dan memberi pengajaran, sebagian untuk berdialog, dan sebagian lainnya datang untuk bekerja di pusat-pusat keilmuan dan pengajaran gereja-gereja.

Berkaitan dengan hal ini, meskipun tujuan asli mereka adalah menyebarkan agama Kristen, namun ada sekelompok misionaris datang dengan berbagai tujuan yang ditentukan oleh gereja dengan berkedok di balik berbagai profesi seperti dokter, insinyur, psikolog, dosen, pedagang, dan penasehat militer. Tentu saja ada pula kelompok misionaris yang datang secara terang-terangan sebagai pendakwah resmi agama Kristen. Berdakwah di balik kedok berbagai profesi merupakan metode yang paling banyak dipakai para misionaris. Dengan cara ini, mereka bisa menyampaikan ajaran Kristen tanpa perlu memberitahukan kepada penduduk pribumi mengenai tujuan asli mereka.

Salah satu delegasi misionaris yang bisa kita jadikan bahan pembahasan adalah delegasi misionaris Inggris yang dikirim ke Uganda. Menurut buku “Century of Christiating in Uganda”, anggota delegasi misionaris itu adalah Stephan Shergoldsmith, seorang perwira angkatan laut yang menjadi ketua delegasi ini; C.T. Wilson, seorang uskup lulusan Universitas Oxford; James Collyhust, seorang arsitektur; James Robertson, seorang petani; dan John Smith, seorang dokter. Anggota-anggota lain delegasi ini berprofesi sebagai insiyur teknik sipil dan ahli mekanik. Dalam komposisi ini, bisa terlihat bahwa anggota delegasi misionaris yang berprofesi sebagai ruhaniwan hanya satu orang. Namun demikian, semua anggota delegasi itu mengambil peran sesuai dengan profesinya masing-masing dalam kegiatan penyebaran agama Kristen.

Para misionaris itu, dengan menggunakan prinsip psikologis dan disiplin-disiplin ilmu lainnya berusaha menancapkan pengaruh mereka di hati penduduk pribumi dan dengan cara itu, mereka pun lalu menyebarkan ajaran Kristen. Bahkan di negara-negara muslim, para misionaris ini berusaha keras mempelajari ajaran Islam demi menarik perhatian penduduk. Salah satu contoh yang paling sering ditemui adalah dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran berkenaan dengan Nabi Isa as. Oleh para misionaris tersebut ayat-ayat ini dijadikan sebagai alat untuk memperkenalkan ajaran Kristen kepada penduduk. Al-Quran menyebut Al-Masih sebagai Ruhullah atau RuhTuhan.

Para misionaris dengan menunjukkan ayat-ayat ini dan menyebut nama Al-Quran berusaha untuk menarik perhatian penduduk pribumi. Kemudian mereka menyampaikan pandangan Kristiani tentang Isa Al-Masih dan syafaat yang dapat diberikannya kepada para pengikutnya sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran. Dengan demikian, tujuan mereka untuk menyampaian ajaran Kristen dilakukan dengan cara tidak langsung dan dengan mempengaruhi kepercayaan dan keyakinan kaum pribumi.

Karakteristik lain dari delegasi misionaris ini adalah upaya pengenalan mereka terhadap adat istiadat penduduk pribumi. Mereka mempelajari bahasa-bahasa pribumi sehingga dapat beinteraksi secara langsung dengan penduduk pribumi. Mereka juga mempelajari kebudayaan setempat agar bisa menarik perhatian para penduduk di sana dan kemudian memanfaatkan kelebihan dan kekurangan kebudayaan asli itu untuk menyebarkan ajaran mereka. Para misionaris ini melalui dialog dan interaksi langsung dengan penduduk setempat kemudian masuk dalam kehidupan pribadi mereka, menyelami rahasia kehidupan mereka, lalu memanfaatkannya demi mencapai tujuan misionaris.
Doktor Mustafa Khaledi dan Doktor A. Farukh, penulis buku “Misionaris dan Imperialisme” dengan menyebutkan berbagai contoh alasan-alasan pengiriman misionaris ke berbagai negara muslim menyatakan bahwa tujuan para misionaris itu bukanlah perbaikan kehidupan maknawi penduduk pribumi, melainkan merusak dan menjadikan kaum muslimin berada di bawah pengaruh dan kekuasaan mereka. Dalam salah satu bagian buku ini, disebutkan pula bahwa seorang misionaris bernama Roise di Tarablus barat pernah berkata, “Penyebaran ajaran Kristen di Tarablus sangatlah sulit. Setelah lima belas tahun berusaha, baru saya memahami bahwa satu-satunya cara untuk mengkristenkan bangsa ini adalah dengan mempengaruhi mereka dan mengubah kehidupan pribadi dan perilaku khusus mereka sehingga dengan cara ini kami bisa mencapai tujuan kami.”

Kardinal Lavigerie dan Charles De Foucauld melarang anggota delegasi misionarisnya menggunakan cara-cara langsung dalam menyebarkan ajaran Kristen, terutama bila berhadapan dengan kaum muslimin. Speer E. Robert, juga mengajarkan kepada para misionaris agar menjauhi pembahasan dan perdebatan dengan kaum muslimin dan memulai pekerjaan mereka dari poin-poin yang selaras dengan ajaran Islam. Misionaris lainnya, J.H. Bavick, menghimbau agar para misionaris berhati-hati sehingga dalam pikiran para pribumi tidak tercipta gambaran bahwa para misionaris itu menganggap peradaban dan kebudayaan mereka lebih tinggi dari kebudayaan kaum pribumi.

Masalah ini juga disinggung oleh William Montgomery Watt dalam bukunya Muslim-Christian Encounter. Dia menulis:

“Para misionaris, sebagaimana orang Eropa lainnya, menganggap diri mereka lebih unggul daripada kaum pribumi. Dengan anggapan seperti ini, para misionaris secara gradual malah mencampuradukkan ajaran Kristen dengan keyakinan atas superioritas orang Eropa atau peradaban Barat.”

Dengan demikian kita dapat melihat bahwa demi tercapainya tujuan utama mereka, salahsatu metoda penyebaran agama kristen oleh para misionaris ini adalah dengan menciptakan perubahan dalam alam pikiran kelompok-kelompok yang menjadi sasaran mereka. Dalam kerangka ini, ajaran Kristen memperbolehkan mereka menggunakan segala cara yang diperlukan, termasuk juga di dalamnya menyelewengkan wahyu Tuhan (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [5]


Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Misionaris Di Dunia Islam - 6


Salah satu metode penyerangan Barat terhadap kebudayaan dan ajaran Islam adalah dengan mengadakan berbagai penelitian dan penyelidikan mengenai Islam. Para misionaris merupakan peneliti barat pertama yang hadir di berbagai negara Islam dan melakukan penelitian mengenai Islam dan aspek-aspek kehidupan umat Muslim. Di masa lalu, motivasi terpenting para misionaris adalah motivasi agama. Sebagian besar tulisan-tulisan mereka mengenai Islam menggunakan berbagai sumber dari abad pertengahan dengan memperhatikan kondisi waktu itu, misalnya perang Salib dan interaksi antara Islam dan Kristen di Andalusia dan Spanyol pada abad 10-11 M.

Berbagai tulisan diterbitkan agar orang-orang Kristen Eropa berpandangan buruk terhadap Islam. Tujuan utama para misionaris pada tahun-tahun tersebut ialah untuk menjauhkan orang-orang Kristen dari mengenali Islam yang sebenarnya. Para misionaris tersebut berupaya memunculkan citra Islam yang negatif dan gambaran wajah Islam yang telah tercoreng dan karenanya tidak dapat diterima di kalangan masyarakat Barat. Namun kemudian, tentu saja, setelah terjadinya Renaisance motivasi politik dan ekonomi menjadi bercampur-baur dengan motivasi agama.

Pada tahun-tahun ini, terbentuklah kelompok baru dari kalangan peneliti Barat yang disebut sebagai orientalis atau ahli ketimuran, yang secara lahiriah mengadakan penelaahan dan penelitian mengenai Islam dengan cara dan metode ilmiah. Namun beberapa waktu kemudian terbukti bahwa penelitian ini menghasilkan penulis-penulis yang menulis tentang Islam dengan cara-cara menyimpang dan tendensius. Mereka berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap agama-agama samawi.

Para misionaris selalu berusaha menciptakan keragu-raguan terhadap Islam dan menghapuskan kesucian agama Ilahi ini. Mereka mengenalkan agama Islam sebagai sebuah agama duniawi yang jauh dari nuansa dan eksistensi Ilahi. Mereka menginginkan agar proses tahrif atau penyelewengan yang terjadi pada sejarah dua agama Ilahi terdahulu, yaitu Yahudi dan Kristen, juga terjadi dalam sejarah agama Islam.

Sebagaimana kita ketahui, dalam sejarah Yahudi dan Kristen, tampil sebuah kelompok yang mengklaim diri sebagai pendukung utama agama. Orang-orang tersebut, meski secara lahiriah menjaga dan berpegang teguh pada risalah mereka, yaitu Taurat dan Injil, namun secara bertahap menyampaikan khutbah-khutbah yang bertentangan dengan kitab suci mereka.

Penyimpangan dalam kedua agama ini terlihat secara jelas dan bahkan diakui oleh para pemuka gereja dengan dikeluarkannya sebuah perintah dari Paus untuk membentuk sebuah komisi penyelidikan khusus guna menyusun penafsiran baru terhadap Injil. Masalah ini dilaporkan oleh berbagai kantor berita pada tahun 1993. Komisi penelitian itu menyebutkan bahwa setelah mengadakan pengkajian dan mengamatan berbagai segi terhadap berbagai versi kitab Injil, disimpulkan bahwa isi kitab tersebut tidak relevan dengan hukum-hukum Ilahi.

Surat kabar Australia “The Australian” terbitan Sydney pada tahun 1995 telah melaporkan bahwa Dewan Yahudi dan Kristen Australia mengusulkan penghapusan nama orang-orang Yahudi dari Injil, kemudian diganti dengan nama-nama sebagian penduduk Baitul Maqdis. Surat kabar Australia ini menulis bahwa revisi terhadap berbagai pasal Injil yang bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan umat manusia dewasa ini, mendapatkan reaksi keras dan luas dari kalangan orang-orang Kristen.

Para misionaris dengan memunculkan berbagai keraguan terhadap kitab suci umat Muslim, yakni Al-Qur’anul Karim, berusaha mengurangi nilai kesucian kitab Ilahi ini. Para misionaris ini meyakini bahwa melalui cara tersebut, apa yang terjadi dalam agama yahudi dan Kristen juga akan terjadi dalam agama Islam. Oleh karena itu, salah satu cara propaganda kelompok misionaris dan orientalis ini adalah berusaha agar orang-orang Islam menerima bahwa Nabi saw memiliki guru orang-orang Yahudi dan Kristen. Hal ini dinyatakan oleh David Shamuel Margoliuth, seorang dosen di Universita Oxford yang hidup antara tahun 1858 sampai 1940.

Dalam bukunya yang berjudul Mohammad and The Rise of Islam dia menulis bahwa Jabir adalah seorang guru yang mengajar Nabi Muhammad. Lalu, setelah dia mendengar wahyu Ilahi yang disampaikan oleh nabi Muhammad, yaitu beberapa ayat dari Surat Yusuf, jabir pun akhirnya masuk Islam. Fakta yang ditulis Margoliuth ini memiliki kontradiksi. Bagaimana mungkin seseorang yang awalnya adalah guru nabi, kemudian bisa dipengaruhi oleh muridnya dan memeluk agama Islam?

Metode dakwah kaum Misionaris, selalu menyelewengkan Islam dan berupaya untuk merendahkan nilai-nilai Islam serta menunjukkan wajah buruk Islam yang jauh dari peradaban umat Muslim yang sesungguhnya. Hendry Jesp seorang propagandis AS, menyebut umat Islam tidak berperadaban. Ia menulis:

"Islam telah memberikan pukulan yang telak terhadap kebudayaan dan peradaban manusia. Tidak bisa dilupakan bahwa dalam periode kegelapan Abad Pertengahan, dimana saat itu Eropa berada di bawah kekuasaan Gereja, sehingga tak seorang pun dapat berbicara dengan Ilmu, namun umat Muslim telah berpengalaman dan menjadi bukti sejarah, betapa mereka yang senantiasa dibawah ajaran-ajaran Islam, telah tampil menjadi pelopor pada salah satu periode berkembangnya Ilmu dan Peradaban Sejarah Ummat Manusia."

Ny. Dr. Zigrid Hunakeh seorang peneliti Jerman dalam sebuah buku yang berjudul Kebudayaan Islam di Eropa, menyinggung berbagai kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Industry umat Muslim. Dalam mukaddimah bukunya ia menulis:

"Meski Dunia Islam berkembang di Eropa spanjang 1400 tahun, namun berbagai informasi mengenai peradaban Islam sangat sedikit yang mereka (orang Eropa) peroleh bila dibandingkan dengan berbagai peradaban lainnya. Meski demikian, kebanyakan informasi mengenai Islam adalah salah. Dan ini merupakan dosa orang-orang Barat dalam penulisan sejarah yang senantiasa mencegah menjelaskan hakikat. Para penulis sejarah Kristen sengaja melakukan penyelewengan yang serius terhadap umat Islam sehingga mahakarya-mahakarya yang bersumber dari Peradaban Islam nampak menjadi remeh dan tidak berarti. Bahkan para penulis sejarah baru juga melakukan tekhnik meremehkan semacam ini, sekecil apapun konspirasi yang nampak mereka tutup mulut dan membiarkan hal itu terus berlanjut."

Ny. Dr. Zigrid Hunakeh dalam lanjutan pernyataannya menulis:

"Tak seorangpun dapat bercerita bahwa sesungguhnya pada abad-abad perengahan tetangga Eropa yang paling dekat adalah kaum Muslimin, kaum yang selama 800 tahun menjadi pelopor dunia peradaban. Berkembangnya peradaban Islam mencapai dua kali lipat peradaban Yunani, sehingga mempengaruhi dunia barat. Siapa yang berbicara mengenai kenyataan ini, dan siapa pula yang kemudian disebut-sebut mengenainya di dalam sejarah?"

Peneliti Jerman ini menandaskan:

"Yang penting kita harus jujur mengenai kebenaran peradaban Islam. Ini tentang sikap seseorang terhadap kebenaran yang hakiki, dimana masyarakat Eropa hingga saat ini tidak mampu menjadi juri yang jujur dan tidak memihak, apalagi menunjukkan rasa hormat terhadap kenyataan tersebut. Mereka bahkan menutupi kepalanya dan tidak menjelaskan peranan mendasar umat Muslim dalam pembangunan peradaban Eropa. Mereka, umat Muslim itu, telah merajut berbagai perangkat Peradaban. Mereka semua dengan segala kemampuannya telah berkecimpung dalam hal tersebut, sehingga mereka semua berhak unuk mendapatkan ucapan terima kasih."

Dengan memperhatikan aktifitas para misionaris semacam ini, nampaknya secara maksimal mereka berusaha melakukan propaganda tentang kehebatan ajaran Kristen, meski sesungguhnya mereka memiliki berbagai informasi (terbatas) mengenai keunggulan ajaran-ajaran Islam yang dapat ditelusuri dari sejarah perkembangan peradaban penganut Agama Ilahi ini. Karena itu, barangsiapa yang tidak mengenal cara dan teknik-teknik debat para misionaris pastilah tidak mengerti tujuan delegasi-delegasi yang konon membawa berita gembira dari Tuhan ini (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [6]

Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Misionaris Di Dunia Islam - 7

Pada bagian sebelumnya kita telah menyimak aktifitas kelompok misionaris Kristen yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan berbad-abad, yakni dengan berbagai cara "menyusupkan" utusan-utusan mereka ke tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka telah berhasil membentuk lembaga-lembaga yang terorganisir rapi, dengan apa kemudian secara sistematis dan tiada henti berupaya menciptakan berbagai keraguan di dalam keyakinan umat muslim akan ajaran Islam. Untuk itu, selanjutnya mari coba kita lihat usaha lain mereka yang terbilang sangat "rendah", yakni melakukan penyelewengan terhadap penerjemahan Al-Quran.

Sebagian besar dari terjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai Bahasa Eropa yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh para misionaris dan kelompok orientalis ini jauh dari kebenarannya yang hakiki. Peneliti seperti Marakachi dari Italia, memperoleh inspirasi untuk menerjemahkan Al-Qur’an dari para misionaris. Andre Duryer (1580-1660) seorang warga Burgan Prancis telah menerbitkan sebuah terjemahan sederhana mengenai Al-Qur’an dalam bahasa Prancis dengan judul Alcoron Mahomet. Dia bekerja sebagai pedagang dan melaksanakan urusan-urusan Konsuler Prancis di negara-negara Timur. Buku Duryer ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa, dan selama lebih dari satu abad telah menjadi sumber pengetahuan masyarakat Eropa tentang Islam.

Setelah itu, muncul tokoh lain bernama Arthur John Arberry (1905-1969) seorang Inggris ahli masalah timur yang dengan menyebutkan berbagai contoh kekurangan dalam terjemahan Andre Duryer, lalu menulis:

“Inilah pandangan penterjemah yang tendensius, fanatik, dan memiliki keyakinan terhadap Al-Qur’an. Terjemahan Andre sangat jauh dari kebenaran dan tidak melakukan penelaahan yang mendalam.”

George Sale (1697-1736), satu lagi orang Inggris ahli masalah timur dan juga seorang penerjemah Al-Qur’an, juga menulis:

“Selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, berbagai informasi yang diperoleh oleh masyarakat Eropa mengenai Islam dan Al-Qur’an bersumber dari kelompok-kelompok Kristen fanatik. Dengan dasar tendensi dan dendam, mereka mengetengahkan berbagai alasan yang dibuat-buat. Sifat dan perilaku umat Muslim yang baik, dilupakan samasekali. Namun, apabila mereka membicarakan keburukan umat Muslim, mereka justru menampilkan kekurangan itu sebesar gunung."

Salah satu cara yang ditempuh oleh kelompok misionaris ialah melakukan berbagai penerjemahan Al-Qur’an ke dalam berbagai bahasa daerah secara tidak sempurna dan kurang, lalu menerbitkan dan membagi-bagikannya di antara kabilah-kabilah dan suku-suku yang jauh. Misalnya, sewaktu kelompok misionaris Kristen masuk ke Afrika, mereka langsung mencetak Injil dan terjemahan sebagian dari surat-surat Al-Qur’an. Sudah barang tentu para misionaris menterjemahkan Al-Qur’an sedemikian rupa sesuai dengan kehendak mereka, kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat. Tujuan utama kelompok misionaris ini adalah agar warga pribumi mengerti bahwa Al-Qur’an telah diselewengkan, sehingga mereka dapat membandingkan dan mengesankan sedemikian rupa bahwa Kristen lebih baik dari Islam.

Sekalipun kelompok misionaris ini telah berupaya dalam bidang tersebut, namun berbagai peristiwa sejarah dan berlalunya zaman telah menunjukkan betapa para misionaris tersebut tidak berhasil mencapai tujuannya. Karena itulah penduduk asli Afrika tidak menggubris pernyataan dan perbuatan mereka, bahkan mereka memalingkan wajah mereka. Hasil dari perbuatan kelompok misionaris yang memutarbalikkan fakta ini justru adalah semakin berkembangnya Islam di Afrika. Bahkan Islam menyebar ke benua Amerika dari Afrika. Contoh-contoh gerakan ini juga dapat dilihat di Asia. Misalnya di Libanon pendeta Kristen yang fanatik bernama Yusuf Haddad, telah menerbitkan puluhan buku Islam dan Al-Qur’an yang banyak mengandung ayat-ayat yang diselewengkan.

Perlu diketahui bahwa pertentangan yang ada di dunia Kristen sendiri telah melahirkan empat versi Injil yang saling berbeda, yaitu Injil Markus, Johanes, Lukas, dan Matius. Sementara di dunia Islam hanya ada satu kitab suci, yakni Al-Qur’anul Karim. Kitab yang sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw hingga detik ini isinya tidak sedikitpun berubah, dan tidak ada perbedaan samasekali antara satu dengan yang lain (meski dicetak di berbagai negara - terutama yang dicetak di Madinah) baik pada ayat maupun kalimat-kalimatnya. Ini merupakan saalahsatu bukti bahwa ia merupakan wahyu Allah swt yang betul-betul sangat terpelihara untuk disampaikan kepada umat manusia dari generasi ke generasi.

James A. Mechz, seorang wartawan surat kabar, menulis: "Al-Qur’an bukan seperti Injil. Ia tertulis dalam bentuk untaian indah, tapi bukan syair, dan bukan pula sajak-sajak biasa. Isi Al-Quran dapat memberikan kenikmatan dan gelora iman kepada yang mendengarnya!"

Upaya kelompok misionaris untuk mencoreng citra dan ajaran-ajaran Al-Qur’an ini, memiliki berbagai alasan yang berbeda-beda. Di antaranya adalah usaha untuk menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan ajaran Kristen, takut kehilangan kekayaan dan kedudukan di dunia, serta karena kebodohan dan fanatisme yang tidak logis. Namun demikian, ada juga orang-orang orientalis yang berusaha secara obyektif mengetahui hakikat ajaran Islam yang cemerlang ini. Misalnya dalam menghadapi orang-orang seperti Ignaz Goldziher (1850-1921) seorang Orientalis asal Hungaria, Hertwick Hirchfield, menyebutkan bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah ajaran tunggal, ia menulis:

"Sejak saat kami menemukan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber berbagai ilmu pengetahuan, tidak perlu diherankan lagi bila seluruh permasalahan yang berhubungan dengan langit dan bumi, kehidupan manusia, perdagangan, dan berbagai jenis transaksi dimuat dalam Al-Qur’an dengan sangat baik dan mengagumkan. Melalui cara inilah Al-Qur’an menghadapi berbagai masalah yang besar dan penting. Perkembangan ilmu pengetahuan yang menakjubkan yang dipelopori oleh dunia Islam yang selama 5 abad telah memberikan pengaruh positif pada dunia kemanusiaan, secara tidak langsung membuat kita berhutang budi pada dunia Islam ini.

Pada berbagai ayatnya, Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk mengajak umatnya agar memperhatikan masalah maknawi. Pada bagian lain, ayat-ayat Allah ini menyeru umat manusia untuk membantu dan berbuat baik kepada orang lain. Al-Qur’an juga menciptakan berbagai perkembangan yang besar dalam penelitian kedokteran, bahkan secara global dan tersirat memberi petunjuk kepada dunia kedokteran. Dengan alasan itulah Nabi Mohammad saw dalam menyifati Al-Qur’an, berkata, “Al-Qur’an itu secara lahiriah indah dan secara batiniah mengandung makna yang sangat dalam. Ayat-ayatnya memiliki makna yang tak akan pernah berakhir dan tidak pernah ketinggalan zaman.” (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [7]


Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Misionaris Di Dunia Islam - 8

Sebagaimana diketahui, para rasul yang diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kebenaran dan menyelamatkan manusia, memiliki tempat yang mulia di antara para pengikutnya. Oleh karena itu, para rasul amat dicintai dan dihormati oleh para pengikutnya. Ketidakhormatan atau pelecehan terhadap posisi seorang rasul merupakan penghinaan terhadap agama Ilahi. Menurut kepercayaan kaum muslimin, semua rasul Tuhan, khususnya Rasulullah Muhammad SAW memiliki posisi yang mulia. Oleh karena itu, kaum muslimin menghormati semua utusan Tuhan yang suci ini.

Sebaliknya, kaum misionaris berusaha menempatkan para rasul utusan Tuhan itu sebagai manusia biasa, atau bahkan lebih rendah dari itu. Sebagaimana kita lihat dalam tahun-tahun terakhir ini di Barat, banyak buku-buku atau film-film yang isinya merendahkan Nabi Isa a.s.

Cara ini juga diterapkan terhadap Rasul Islam Muhammad SAW oleh sebagian orang yang fanatik dan berpandangan sempit di Barat. Apalagi, usaha penyelewengan atau pemutarbalikan kepribadian Rasulullah memiliki preseden dalam sejarah gereja dan sejarah Barat.

Penyelewengan para misionaris dan orientalis dalam tulisan atau pembicaraan mereka mengenai Rasulullah menunjukkan niat buruk mereka atau, terkadang, kedangkalan pengetahuan mereka tentang ajaran Islam. Mereka juga sama sekali tidak memberikan dalil atau argumen yang dapat diterima dalam mendiskreditkan Rasulullah. Misalnya, sebagian orientalis seperti Elvis Springer dari Austria, menyatakan bahwa nama Muhammad bukanlah nama khusus untuk nabi umat Islam. Nama tersebut berasal dari Dinasti Injil dan pengikutnya. Padahal, bukti sejarah jelas menunjukkan bahwa nama Muhammad telah diberikan kepada rasul Islam sejak dia lahir ke dunia.

Kelompok misionaris dan orientalis lainnya dengan menyelewengkan sejarah berusaha untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya nabi Muhammad adalah seorang yang bisa membaca dan menulis, sehingga Al-Quran merupakan hasil pikiran beliau dan bukan murni firman Allah. Padahal, dalam Al-Quran banyak ayat yang menyebutkan rahasia dan petunjuk mengenai fenomena alam semesta yang mengandung ilmu-ilmu yang tidak diketahui manusia pada zaman Rasulullah, bahkan berabad-abad setelahnya.

Misalnya, dalam surat An-Naml ayat 88, Allah berfirman:

“Kau melihat bahwa gunung-gunung itu dan mengira bahwa mereka diam tidak bergerak, padahal, mereka itu bergerak seperti awan.”

Ayat ini merupakan salah satu mukjizat Al-Quran. Meskipun gunung-gunung itu kelihatannya diam, Al-Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya mereka bergerak bagaikan gerakan awan. Gerakan gunung ini memiliki beberapa penafsiran. Salah satunya, gerakan gunung menunjukkan pada gerakan bumi. Yaitu, gunung-gunung juga bergerak seiring dengan bumi yang berotasi mengelilingi matahari. Artinya, Al-Quran, ribuan tahun yang lalu telah memberitahukan manusia tentang rotasi bumi.

Dengan bukti seperti ini, bagaimana mungkin para misionaris dan orientalis bisa menyatakan bahwa Al-Quran adalah hasil pikiran Nabi Muhammad? Fenomena mengenai rotasi bumi baru dipahami oleh para ilmuwan berabad-abad setelah Al-Quran diturunkan. Galileo Galilei dan Copernicus pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 mengungkapkan fenomena rotasi bumi ini dan menimbulkan kemarahan gereja. Ini adalah salah satu bukti sejarah bahwa memang sesungguhnya Nabi Muhammad adalah manusia yang ummi atau tidak bisa baca-tulis. Artinya, isi Al-Quran Al-Karim adalah murni firman Tuhan dan bukan hasil olah-pikir Rasulullah.

Kaum misionaris dan orientalis juga membicarakan Rasulullah dengan membuat legenda dan kisah-kisah bohong. Grotius menyatakan bahwa Rasulullah telah mengharamkan umatnya untuk membaca Al-Quran agar mereka tidak menemukan kebohongan dalam kata-kata Muhammad SAW. Padahal, Quran sendiri bermakna sesuatu yang dibaca dan Al-Quran banyak mengandung ayat yang menyeru kepada manusia agar selalu membaca (dan mempelajari) Al-Quran. Al-Quran juga memiliki banyak ayat yang menyuruh manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya.

Pemikiran dan hasil penulisan para misionaris dan orientalis Barat merupakan sumber kesalahkaprahan para penulis dan pengamat masalah dunia Timur di Eropa generasi berikutnya. Misalnya penulis Perancis Voltaire pernah memberikan penilaian yang salah terhadap Islam karena dia terpengaruh oleh pemikiran Jean Gagnier. Namun setelah Voltaire mengenal hakikat Islam, dia berbalik mengecam Gagnier. Voltaire membela Islam dengan mengkritik para penulis yang menggunakan sumber yang tidak benar untuk menukil legenda-legenda yang buruk.

Voltaire mengatakan: “Saya telah membuat kesalahan besar terhadap Muhammad.” Dia lalu membuat tulisan berisi puji-pujian terhadap Nabi Muhammad. Dia mengakui, “Agama Muhammad adalah agama yang berlandaskan akal yang jernih dan Muhammad bukanlah orang gila. Dia adalah seorang pemimpin besar dan pembebas dunia yang hebat serta menyampaikan agama terbesar bagi umat manusia.”

Dewasa ini, para misionaris masih terus melanjutkan cara-cara pendahulunya. Di Barat, kini banyak yang membuat tulisan-tulisan yang lemah untuk menyerang Islam dan karena itu, mereka mendapat hadiah dari para pemimpin negara Barat. Pada tahun-tahun terakhir, dengan semakin meningkatnya perhatikan umat manusia terhadap agama Islam, kaum misionaris berusaha menyampaikan kritikan-kritikan baru mereka terhadap Islam agar umat manusia bisa dijauhkan dari kebenaran Islam. Salah satu metode mereka adalah dengan menggunakan orang-orang Islam yang telah menjual diri dan aqidahnya demi sedikit kesenangan dunia.

Jika di masa-masa lalu, para misionaris dan orientalis Barat berusaha menyelewengkan kebenaran untuk menutup-nutupi kebenaran Islam dan tokoh-tokoh sucinya, kini,orang-orang seperti Taher bin Jalun, Salman Rushdi, Taslima Nasrin melanjutkan pekerjaan Uskup Turpin, Pendeta Inchbald, dan Pendeta Henry Martin. Mereka menciptakan tulisan yang dikatakan sebagai karya sastra yang pada kenyataannya jauh dari kebenaran sejarah bahkan berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Dengan cara itu, mereka berusaha menjatuhkan agama Allah ini. Meski demikian, jelas dapat dilihat bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia dan ketertarikan mereka terhadap agama Islam, usaha para misionaris itu menjadi kian sulit (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [8]


Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Misionaris Di Dunia Islam - 9

Lutfi Liqunian, seorang penulis Kristen, meyakini bahwa periode baru dalam metode misionaris telah dimulai. Dia menulis;
“Eropa dalam Perang Salib menggunakan pedang, sekarang menggunakan penyebaran paham sebagai cara untuk mencapai maksud-maksudnya. Dengan Perang Salib baru ini, Eropa ingin mencapai tujuannya tanpa pertumpahan darah. Dalam usahanya ini, Eropa memanfatkan gereja, sekolah-sekolah, dan rumah sakit serta menyebarkan misionaris mereka."
Dewasa ini, penyebaran ajaran Kristen di berbagai negara merupakan salah satu strategi politik para pemimpin negara Barat. Kerjasama antara gereja dan negara-negara Barat merupakan kerjasama bersejarah yang dimulai sejak abad pertengahan sampai pada periode kolonialisme baru. Negara-negara Barat dan perusahaan-perusahaan multinasional telah menanamkan modal yang sangat besar pada yayasan-yayasan penyebar ajaran Kristen. David Waren, penanggung jawab Ensiklopedia Dunia Kristen, berkenaan dengan biaya propaganda misionaris di seluruh dunia, menyatakan bahwa data statistik tahun 1970 menunjukkan bahwa 70 milyar dolar telah dihabiskan untuk membiayai aktivitas misionaris pada tahun itu. Menurutnya, kurang dari dua dekade jumlah ini telah mencapai hampir dua kali lipatnya dan terus akan meningkat.
Dalam dunia Kristen, terdapat banyak kelompok atau sekte yang berbeda-beda. Namun, dalam melakukan aktivitas propagandanya di seluruh dunia, kelompok-kelompok ini menghilangkan perbedaan di antara mereka dan bersatu-padu dalam kelompok yang sama. Kita bisa melihat bahwa di Afrika isalnya, misionaris Katolik dan Protestan saling berdampingan untuk menyebarkan ajaran yang sama. John B. Nas, seorang penulis Inggris dalam bukunya berjudul Sejarah Agama-Agama menulis bahwa persatuan yang signifikan di antara berbagai kelompok Protestan terjadi dalam aktivitas misionaris yang memiliki kepentingan dan makna yang sangat besar. Penyebaran ajaran Kristen ke berbagai negara membuktikan bahwa perbedaan antara berbagai gereja dan kelompok Kristen sama sekali tidak memiliki hasil. Para misionaris terikat pada semua kelompok dan gereja. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengurusi perbedaan ini. Jika diperlukan, mereka siap untuk melupakan berbagai perbedaan yang ada di antara mereka.

Benua Afrika adalah salah satu kawasan terpenting bagi penyebaran ajaran Kristen oleh kaum misionaris. Ajaran Kristen di Afrika memiliki sejarah yang panjang. Serangan Eropa ke Afrika yang terjadi sejak akhir abad ke-15, telah membuka jalan bagi infiltrasi kaum misionaris ke benua ini. Para misionaris selama berabad-abad berada di samping tentara kolonialis di berbagai tempat di Afrika. Dalam kongres Baitul Maqdis yang dibentuk tahun 1963, semua orang Afrika peserta kongres itu menyatakan bahwa menurut pandangan rakyat Afrika, kehadiran para misionaris menghidupkan kenangan kolonialisme. Kenyataannya, di mana saja misionaris menginjakkan kaki, kolonialisme di negara itu pun segera dimulai.

Sejarah kehadiran misionaris di Afrika menjelaskan adanya kesefahaman dan kerjasama mereka dengan negara-negara penjajah. Selama perang, para misionaris memberikan bantuan yang berharga kepada pasukan penjajah. Biasanya, ketika pasukan penjajah masuk ke sebuah negara, pusat-pusat misionaris akan dijadikan pangkalan militer. Para misionaris itu kemudian akan menjadi salah satu penyuplai senjata, pasukan, dan makanan bagi para kolonialis. Selain itu, karena mereka mengenal suku-suku dan daerah-daerah, mereka akan menjadi mata-mata dan sumber informasi untuk para kolonialis.

Dalam serangan tentara Belgia ke Stanleyville, kita bisa melihat bahwa para misionaris telah menjadi penunjuk jalan bagi para tentara penjajah. Kota Stanleyville yang pada tahun 1966 diubah namanya menjadi Kisangani, adalah salah satu kota berpenduduk muslim di Kongo. Rakyat kota ini berjuang gigih menentang kehadiran pasukan Belgia. Pada tanggal 24 dan 25 September 1964, penduduk kota ini diserang habis-habisan oleh tentara Belgia yang mendapat dukungan dari tentara Amerika.

Jenderal Mike, komandan kulit putih bayaran yang dipekerjakan oleh Musa Chumbe, pemimpin pemberontak Kongo, mengutarakan kenangannya atas kejadian tersebut sebagai berikut:

“Kami tidak mengasihani anak kecil atau orang dewasa karena ada kemungkinan bahwa setiap mereka adalah anggota gerakan kemerdekaan Kongo. Kami telah membunuh minimalnya lima ribu orang Kongo sehingga kami kemudian bisa membebaskan para tawanan kulit putih. Dalam kejadian ini, para pendeta kulit putih yang terkait dengan gerakan misionaris telah memberi kami petunjuk karena mereka mengenal kondisi daerah itu.”

Harian Observer terbitan London pada tahun 1964 memuat tulisan seorang penulis yang membahas masalah pembunuhan massal di Stanleyville. Tulisan itu antara lain berbunyi:

“Mungkin sebagian orang membayangkan bahwa kelompok-kelompok religius dan misionaris Kristen adalah orang-orang yang baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap rakyat Kongo. Namun saya menyaksikan sendiri bahwa pada masa Musa Chumbe, semua misionaris di Katanga menjadi pelindung politik yang kuat bagi Rezim Chumbe, yang pada saat itu bahkan mengumumkan perang terhadap PBB.”

Patrice Lumumba, pemimpin rakyat Kongo, juga memperhatikan masalah ini. Setelah terpilih menjadi perdana menteri, dia mengumumkan bahwa sebagian misionaris merupakan anggota resmi Angkatan Bersenjata Belgia. Oleh karena itu, dia menuntut agar para misionaris meninggalkan Kongo!

Peran seperti ini juga dilakukan oleh para misionaris di negara-negara Afrika lainnya, seperti Uganda, Nigeria, Sudan, Ghana, dan Senegal. Sebagai contoh, uskup Richard Ruzdir dengan alasan campur tangan atas urusan internal Ghana telah diusir dari negara ini.

Dengan memperhatikan kenangan pahit rakyat Afrika terhadap para misionaris, komisi penyebaran agama Kristen pada tahun-tahun terakhir ini telah mengubah metode dan politik mereka untuk hadir di Afrika. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa metode dakwah yang paling membawa hasil adalah metode tidak langsung. Oleh karena itu, kehadiran misionaris secara fisik dalam bentuknya yang khas, tidak akan banyak menarik perhatian kaum pribumi.

Para misionaris mengetahui bahwa dengan wajah dan profesi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyebarkan paham kebudayaan mereka. Dokter, guru, insinyur, peneliti, anggota kelompok ilmuwan, dan perawat merupakan sekian di antara profesi-profesi yang digunakan sebagai kedok oleh para misionaris. Mereka dikirim ke negara-negara tujuan untuk menyebarkan ajaran Kristen tanpa harus menyinggung sensitivitas penduduk pribumi (Bersambung).


Anda sedang menyimak SEJARAH GERAKAN MISIONARIS DI DUNIA ISLAM Bagian [9]


Simak Juga Bagian: 
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21


Contact Form

Name

Email *

Message *