Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Al-Quran (Mukjizat). Show all posts
Showing posts with label Al-Quran (Mukjizat). Show all posts

Friday, October 7, 2016

Mukjizat Nabi Muhammad SAW Friday, October 7, 2016




‎"Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al An'aam[6]:37)


Mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah kemampuan luar biasa yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya untuk membuktikan kenabiannya. [1] Kendati demikian, di dalam Islam, mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an.

Di antara mukjizat-mukjizat itu; Nabi Muhammad SAW diyakini pernah membelah bulan pada masa penyebaran Islam di Mekkah dan melakukan Isra dan Mi’raj dalam kurun waktu tidak sampai satu hari. Kemampuan lain yang dimiliki nabi Muhammad SAW adalah kecerdasannya mengenai ilmu ketuhanan. Hal ini tidak sebanding dengan dirinya yang ummi atau buta huruf. Walau begitu, umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Muhammad adalah mukjizat. Hal itu terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan para sahabat mengenai berbagai mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Kita sering menemui masih ada umat muslim, apalagi kaum kufar yang tak percaya pada mukjizat Rasulullah SAW – yang dengan seizin ALLAh – dapat:
  • Mengerti bahasa binatang seperti Nabi Sulaiman,
  • Memerintah bumi dan pohon seperti Nabi Musa,
  • Diberi mukjizat seperti Nabi Ibrahim,
  • Menghidupkan anak yang sudah meninggal,
  • Menyembuhkan orang buta,
  • Menyembuhkan orang lumpuh,
  • Menyembuhkan orang cacat sejak lahir,
  • Mengetahui isi hati orang.
  • Memberi makan beribu orang dengan sepotong makanan,
  • Memberi minum beribu orang dengan sedikit air,
  • Mengeluarkan air ditengah padang gurun,
  • Mengeluarkan air dari sela jari untuk wudhu ribuan orang,
  • Menyembuhkan putri raja yang cacat tanpa tangan dan kaki.
  • Membelah bulan menjadi 2 bagian
  • Mengetahui apa yang telah terjadi,
  • Mengetahui apa yang sedang terjadi,
  • Mengetahui apa yang akan terjadi,
  • Melihat sesuatu di belakang punggungnya seolah-olah seperti melihatnya dari depan.
  • Musuh bergetar sehingga tak mampu membunuh,
  • Bumi “menelan” orang yang hendak membunuh beliau,
  • Musuh tak dapat melihat beliau,
  • Tidak dapat dibunuh musuh.
  • Pasukan berkuda para sahabat dapat menyebrangi laut dengan berkuda saat mengejar musuh yang melarikan diri dengan menggunakan kapal,
  • Dan masih banyak mukjizat-mukjizat lainnya.

Pertanyaan dan perdebatan tentang mukjizat Nabi Muhammad SAW sebetulnya muncul karena banyak sekali di antara kita yang belum – atau sama sekali tidak – pernah membaca hadist lengkap shahih Bukhari dan Muslim, atau Shahih Ahmad yang menuliskan kisah-kisah lengkap tentang ini (bukan sekedar ringkasan hadist), seperti di antaranya:

SEBELUM MASA KENABIAN

Tradisi Islam banyak menceritakan bahwa pada masa kelahiran dan masa sebelum kenabian, Muhammad sudah diliputi banyak mukjizat. Muhammad dilahirkan pada tanggal 22 April 570 di kalangan keluarga bangsawan Arab, Bani Hasyim. Ibnu Hisyam, dalam Sirah Nabawiyah menuliskan Muhammad memperoleh namanya dari mimpi ibunya, [2] Aminah binti Wahab ketika mengandungnya. Aminah memperoleh mimpi bahwa ia akan melahirkan “pemimpin umat”. Mimpi itu juga yang konon menyuruhnya mengucapkan, “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa dari segala kejahatan dan dengki.” Kisah Aminah dan Abdul Muthalib juga menunjukkan bahwa sejak kecil Muhammad adalah anak yang luar biasa. [3] Berikut ini adalah mukjizat yang terjadi pada saat kelahiran dan masa kecil Muhammad:

  1. Aminah binti Wahab, ibu Muhammad pada saat mengandung Muhammad tidak pernah merasa lelah seperti wanita pada umumnya.
  2. Saat melahirkan Muhammad, Aminah binti Wahab tidak merasa sakit seperti wanita sewajarnya.
  3. Muhammad dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan.
  4. Pada usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
  5. Halimah binti Abi-Dhua’ib, ibu susuan Muhammad dapat menyusui kembali setelah sebelumnya ia dinyatakan telah kering air susunya. [4] Pada awalnya Halimah dan suaminya menolak Muhammad karena yatim. Namun, karena alasan ia tidak ingin dicemooh Bani Sa’d, maka ia pun kemudian menerima Muhammad. Selama hidup dengan Halimah, Muhammad hidup nomaden bersama Bani Sa’d di gurun Arab kurang lebih empat tahun lamanya. [5]
  6. Abdul Muthalib, kakek Muhammad menuturkan bahwa berhala yang ada di Ka’bah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan bersujud saat kelahiran Muhammad. Ia juga menuturkan bahwa ia mendengar dinding Ka’bah berbicara, [6] “Nabi yang dipilih telah lahir, yang akan menghancurkan orang-orang kafir, dan membersihkan dariku dari beberapa patung berhala ini, kemudian memerintahkan untuknya kepada Zat Yang Merajai Seluruh Alam Ini.” [7]
  7. Dikisahkan saat Muhammad berusia empat tahun, [8] ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang terakhir diketahui sebagai malaikat. Peristiwa itu terjadi tatkala Muhammad sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian itu, Muhammad dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah. [9] Sirah Nabawiyyah, memberikan gambaran detai bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya, mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya. Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.” [10] Peristiwa seperti itu juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad diisra’kan ke Yerusalem lalu ke Sidratul Muntaha dari Mekkah. [11]
  8. Dikisahkan pula pada masa kecil Muhammad, ia telah dibimbing oleh Allah. Hal itu mulai tampak setelah ibu dan kakeknya meninggal. Dikisahkan bahwa Muhammad pernah diajak untuk menghadiri pesta dalam tradisi Jahiliyah, namun dalam perjalanan ke pesta ia merasa lelah dan tidur di jalan sehingga ia tidak mengikuti pesta tersebut. [12]
  9. Pendeta Bahira menuturkan bahwa ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Muhammad saat itu berusia 12 tahun sedang beristirahat di wilayah Bushra dari perjalannya untuk berdagang bersama Abu Thalib ke Syiria. Pendeta Bahira menceritakan bahwa kedatangan Muhammad saat itu diiringi dengan gumpalan awan yang menutupinya dari cahaya matahari. Ia juga sempat berdialog dengan Muhammad dan menyaksikan adanya sebuah “stempel kenabian” (tanda kenabian) di kulit punggungnya. [13]
  10. Mukjizat lain adalah Muhammad pernah memperpendek perjalanan. Kisah ini terjadi saat pulang dari Syiria. Muhammad diperintahkan Maisarah membawakan suratnya kepada Khadijah saat perjalanan masih 7 hari dari Mekkah. Namun, Muhammad sudah sampai di rumah Khadijah tidak sampai satu hari. Dalam kitab as-Sab’iyyatun fi Mawadhil Bariyyat, Allah memerintahkan pada malaikat Jibril, Mikail, dan mendung untuk membantu Muhammad. Jibril diperintahkan untuk melipat tanah yang dilalui unta Muhammad dan menjaga sisi kanannya sedangkan Mikail diperintahkan menjaga di sisi kirinya dan mendung diperintahkan menaungi Muhammad. [14]

PADA MASA KENABIAN
  • Kharisma
  1. Tatapan mata yang menggetarkan Ghaurats bin Harits, yaitu seorang musuh yang sedang menghunus pedang kearah leher Muhammad. [15]
  2. Menjadikan tangan Abu Jahal kaku.
  3. Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad, kemudian jin itu diganti namanya menjadi Abdullah bin Abhar.
  • Menghilang dari pandangan mata dan menidurkan musuh
  1. Menghilang saat akan dibunuh oleh utusan Amr bin at-Thufail dan Ibad bin Qays utusan dari Bani Amr pada tahun 9 Hijriah, atau Tahun Utusan. [16]
  2. Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar. [17]
  3. Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal di mana saat itu ia sedang shalat. [18]
  4. Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya hanya dengan taburan pasir.
  • Berinteraksi dengan Binatang, tumbuhan, alam dan benda mati
  1. Seekor srigala berbicara kepada Muhammad. [19]
  2. Berbicara dengan unta yang lari dari pemiliknya yang menyebabkan masyarakatnya meninggalkan shalat Isya’.
  3. Berbicara dengan unta pembawa hadiah raja Habib bin Malik untuk membuktikan bahwa hadiah tersebut bukan untuk Abu Jahal melainkan untuk Muhammad.
  4. Mengusap kantung susu seekor kambing untuk mengeluarkan susunya yang telah habis.
  5. Dua Sahabat Nabi saw dibimbing oleh cahaya. [20]
  6. Mimbar menangis setelah mendengar bacaan ayat-ayat Allah. [21]
  7. Pohon kurma dapat berbuah dengan seketika. [22]
  8. Batang pohon kurma meratap kepada Muhammad. [23, 24, 25]
  9. Pohon menjadi saksi dan dibuat berbicara kepada Muhammad. [26]
  10. Berhala-berhala runtuh dengan hanya ditunjuk oleh Muhammad. [27]
  11. Mendatangkan hujan dan meredakan banjir saat musim kemarau tahun 6 Hijriah di Madinah yang saat itu mengalami kekeringan. [28]
  12. Berbicara dengan gunung untuk mengelurkan air bagi Uqa’il bin Abi Thalib yang kehausan.
  13. Berbicara dengan gilingan tepung Fatimah yang takut dijadikan batu-batu neraka.
  14. Merubah emas hadiah raja Habib bin Malik menjadi pasir di gunung Abi Qubaisy.
  15. Memerintahkan gilingan tepung untuk berputar dengan sendirinya. [29]
  16. Tubuh Muhammad memancarkan petir ketika akan di bunuh oleh Syaibah bin ’Utsman pada Perang Hunain.
  • Dengan Makanan dan minuman
  1. Makanan yang dimakan oleh Muhammad mengagungkan Nama Allah. [30]
  2. Sedikit makanan yang dapat dinikmati oleh 800 orang prajurit pada perang Khandaq. [31]
  3. Sedikit roti yang cukup untuk memberi makan orang banyak. [32]
  4. Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang. [33]
  5. Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat. [34]
  6. Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari. [35]
  7. Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad. [36]
  8. Air memancar dari sela-sela jari. [37] Kemudian air itu untuk berwudhu 300 orang sahabat hanya dengan semangkuk air. [38, 39]
  9. Susu dan air kencing unta – atas ijin Allah – dapat menyembuhkan penyakit. [40]
  • Mendo’akan dan menyembuhkan
  1. Menyembuhkan betis Ibnu al-Hakam yang terputus pada Perang Badar, kemudian Muhammad meniupnya, lalu sembuh seketika tanpa meresakan sakit sedikit pun.
  2. Qatadah terluka pada Perang Uhud, sehingga jatuh dari kelopaknya, kemudian oleh Muhammad mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
  3. Mendo’akan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
  4. Mendo’akan Anas bin Malik dengan banyak harta dan anak. [41]
  5. Menyembuhkan daya ingat Abu Hurayrah yang pelupa. [42]
  6. Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam perang Khaibar. [43]
  7. Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Tsur dari pengejaran penduduk Mekah.
  8. Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
  9. Menyambung tangan orang Badui yang tangannya putus setelah dipotong oleh dirinya sendiri setelah menampar Muhammad.
  10. Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian do’a tersebut dikabulkan. [45]
  11. Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam. [46]
  • Hal ghaib dan ru’yah
  1. Mengetahui siksa kubur dua orang dalam makam yang dilewatinya karena dua orang tersebut selalu shalat dalam keadaan kotor karena kencingnya selalu mengenai pakaian shalat. [46]
  2. Mengetahui ada seorang Yahudi yang sedang disiksa dalam kuburnya. [47]
  3. Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan di sekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad. [48]
  4. Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad. [49]
  5. Meramalkan Abdullah bin Abbas akan menjadi “bapak para khalifah” yang terbukti pada keturunah Abdullah bin Abbas yang menjadi raja-raja kekhalifahan Abbasiyah selama 500 tahun. [50]
  6. Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.
  • Mukjizat terbesar
  1. Membelah bulan untuk membuktikan kenabiannya pada penduduk Mekkah. [52, 53]
  2. Isra ke Masjidil Aqsa dari Masjidil Haram lalu Mi’raj ke Sidratul Muntaha dari Baitul Maqdis tidak sampai satu malam pada tanggal 27 Rajab tahun 11 Hijriah.
  3. Menerima Al-Qur’an sebagai Firman Tuhan terakhir dan menyerukannya kepada umat manusia, padahal ia seorang yang buta huruf.

Dan harap diketahui, daftar mukjizat di atas masih belum mencukupi bila dibandingkan dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab hadist lengkap yang jumlahnya mencapai 300 kisah mukjizat Rasulullah MuhammadSAW, baik yang serupa di atas maupun lainnya.

Namun perlu pula untuk difahami bahwa penulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengedepankan mukjizat beliau sebagai Rasul, akan tetapi lebih khusus kepada Al Qur’an, yakni Firman Allah SWT yang diturunkan kepada umat manusia melalui Muhammad SAW yang sesungguhnya MERUPAKAN MUKJIZAT TERBESAR SEPANJANG MASA.


Semoga berguna.
Wassalam.



CATATAN KAKI
  1. ^ Abu Zahra [1990].
  2. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 293. Makna dari nama Muhammad adalah “orang yang sering dipuji” atau “orang yang layak dipuji.”
  3. ^ Ramadan [2007], halaman 34
  4. ^ Kauma [2000], halaman 42
  5. ^ Ramadan [2007], halaman 35
  6. ^ Kauma [2000], halaman 43
  7. ^ Kauma [2000], halaman 43
  8. ^ Menurut pendapat mayoritas pakar sejarah, saat itu Muhammad berusia empat atau lima tahun. Namun, Ibnu Ishaq berpendapat bahwa usia Muhammad saat itu adalah tiga tahun.
  9. ^ Ramadan [2007], halaman 42
  10. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 302.
  11. ^ Ramadan [2007], halaman 43
  12. ^ Ramadan [2007]. halaman 46
  13. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 319: Ibnu Hisyam dalam bukunya menuturkan bahwa “Stempel Kenabian” adalah tanda yang terdapat pada setiap nabi yang tertulis dalam kitab Pendeta Bahira.
  14. ^ Kauma [2000], halaman 90-91
  15. ^ Hadits Riwayat Imam Bukhari.
  16. ^ Kauma [2000], halaman 23-25
  17. ^ Ibid, halaman 185-187
  18. ^ Ibid, halaman 28
  19. ^ Hadits Sahih Bukhari, Juz-3 No. 517.
  20. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: Ada dua orang sahabat Nabi saw meninggalkan Nabi SAW di tengah malam yang gelap gulita. Keduanya lalu berjalan dengan diterangi dua cahaya di depan mereka. Tatkala berpisah di perempatan jalan, masing-masing sahabat ini ditemani satu cahaya yang terus membimbing mereka sampai ke rumah.” (Sahih Bukhari, Juz-1 No. 454).
  21. ^ Diriwayatkan oleh Ibn Umar: Rasulullah SAW naik ke atas mimbar dan berkotbah. Sedang Rasulullah SAW berkotbah, beliau mendengar mimbar itu menangis seperti tangisan anak kecil, sehingga mimbar itu seolah-olah akan pecah. Lalu Rasulullah SAW turun dari mimbar dan merangkul mimbar itu sehingga tangisnya berkurang sampai mimbar itu diam sama sekali. Rasulullah SAW berkata, “Mimbar itu menangis mendengar ayat-ayat Allah dibacakan di atasnya.” (Sahih Bukhari, Juz-4 No. 783).
  22. ^ Diriwayatkan oleh Jabir: Sewaktu Bapakku meninggal, ia masih mempunyai utang yang banyak. Kemudian aku mendatangi Rasulullah ASW untuk melaporkan kepada Beliau mengenai utang bapakku. Aku berkata kepada Rasulullah: Ya Rasulullah, bapakku telah meninggalkan banyak hutang. Aku sendiri sudah tidak mempunyai apa-apa lagi kecuali yang keluar dari pohon kurma. Akan tetapi pohon kurma itu sudah dua tahun tidak berbuah. Hal ini sengaja aku sampaikan kepada Rasulullah agar orang yang memiliki piutang tersebut tidak berbuat buruk kepadaku. Kemudian Rasulullah mengajakku pergi ke kebun kurma. Sesampainya disana beliau mengitari pohon kurmaku yang dilanjutkan dengan berdo’a. Setelah itu beliau duduk seraya berkata kepadaku, “Ambillah buahnya.” Mendengar perintah Rasulullah saw tersebut, aku langsung memanjat pohon kurma untuk memetik buah yang tiba-tiba saja berbuah. Buah kurma itu kupetik sampai cukup jumlahnya untuk menutupi utang bapakku, bahkan sampai berlebih. (Hadits Sahih Bukhari, Juz-4 No. 780).
  23. ^ Ratapan batang pohon kurma kepada Rasulullah SAW dan suara tangisannya yang keras sehingga terdengar oleh seluruh orang yang berada di masjid beliau. Itu terjadi setelah Rasulullah SAW meninggalkannya. Sebelumnya Rasulullah SAW berkhutbah di atas batang tersebut sebagai mimbar beliau. Ketika beliau telah dibuatkan mimbar, dan tidak naik lagi ke atas batang kurma tersebut, batang tersebut meratap menangis dan rindu kepada Rasulullah SAW. Suara tangisnya seperti tangis unta yang hamil sepuluh bulan. Batang pohon kurma tersebut tidak berhenti menangis hingga Rasulullah SAW datang padanya, dan meletakkan tangannya yang mulia di atasnya. Setelah itu ia pun berhenti menangis.
  24. ^ Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah, “Sang nabi sering berdiri dekat sebuah pohon palem kurma. Ketika sebuah tempat duduk disediakan baginya, kami mendengar pohon itu menangis bagaikan unta betina hamil sampai sang nabi jongkok dan memeluk pohon itu. (Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari vol.II No.41).
  25. ^ Dikisahkan oleh Ibnu Umar, “Sang nabi sering berkutbah sambil berdiri dekat batang pohon kurma. Ketika dia dibuatkan tempat duduk, dia lebih memilih duduk. Pohon kurma itu mulai menangis dan sang nabi menghampirinya, mengelusnya dengan tangannya (agar pohon itu berhenti menangis). (Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari vol. IV No. 783).
  26. ^ Dikisahkan, orang Arab dusun mendekat kepada beliau, kemudian beliau bersabda kepada orang Arab Dusun tersebut, “Hai orang Arab dusun, engkau akan pergi ke mana?” Orang Arab dusun tersebut menjawab, “Pulang ke rumah.” Rasulullah SAW bersabda, “Apakah engkau ingin kebaikan?” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Kebaikan apa?” Rasulullah SAW bersabda, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Rasul-Nya.” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan?” Rasulullah SAW bersabda, “Pohon ini!" seraya menunjuk ke arah salah satu pohon di tepi lembah. Kemudian pohon tersebut berjalan hingga berdiri di depan beliau. Beliau meminta pohon tersebut bersaksi hingga tiga kali, dan pohon tersebut pun bersaksi seperti perintah Rasulullah SAW.
  27. ^ Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud katanya: Ketika Nabi SAW memasuki Mekah terdapat sebanyak tiga ratus enam puluh buah berhala di sekitar Ka'bah. Lalu Nabi SAW meruntuhkannya dengan menggunakan tongkat yang berada di tangannya seraya bersabda: "Telah datang kebenaran dan musnahlah kebatilan karena sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti musnah." (Maksudnya: Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan dimulai lagi dan tidak akan terulang). Ibnu Abu Umar menambahkan: "Peristiwa itu terjadi pada masa pembukaan Kota Mekah." (Sahih Bukhari, kitab Jihad).
  28. ^ Diriwayatkan oleh Anas: Pernah suatu masa di mana sangat lama di Madinah tidak turun hujan sehingga terjadilah kekeringan yang sangat parah. Pada suatu hari Jumat ketika Rasulullah SAW sedang berkotbah Jumat, berdirilah seorang Badui dan berkata: “Ya Rasulullah, telah rusak harta benda dan lapar segenap keluarga, doakanlah kepada Allah agar diturunkan hujan atas kita." Berkata Anas: "Mendengar permintaan orang badui tersebut, Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya kel angit (berdo’a). Sedang langit ketika itu bersih, tidak ada awan sedikitpun. Tiba-tiba berdatanganlah awan tebal sebesar-besar gunung. Sebelum Rasulullah SAW turun dari mimbarnya, hujan turun selebat-lebatnya, sehingga Rasulullah SAW sendiri kehujanan. Air mengalir melalui janggut Beliau. Hujan tidak berhenti sampai Jumat yang berikutnya, sehingga kota Madinah mengalami banjir besar, rumah-rumah terbenam. Maka datang orang Badui berkata kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, sudah tenggelam rumah-rumah, karam segala harta benda. Berdo’alah kepada Allah agar hujan dihentikan di atas kota Madinah ini, agar hujan dialihkan ke tempat lain yang masih kering. Rasulullah SAW kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit berdo’a: "Allahuma Hawaaliinaa Wa laa Alainaa." (Artinya: "Ya Allah turunkanlah hujan di tempat-tempat yang ada di sekitar kami, jangan atas kami"). Berkata Anas: "Di waktu berdo’a itu Rasulullah SAW menunjuk dengan telunjuk beliau ke awan-awan di langit, seakan-akan beliau mengisyaratkan daerah-daerah mana yang harus didatangi. Sesaat setelah Rasulullah menunjuk demikian, maka berhentilah hujan diatas kota Madinah. (Sahih Bukhari, Juz-8 No. 115).
  29. ^ Kisah dari Abu Hurayrah.
  30. ^ Diriwayatkan oleh Abdullah: “Sesungguhnya kami mendengar makanan yang dimakan Rasulullah SAW mengagungkan nama Allah.” (Sahih Bukhari, Juz-5 No. 779.
  31. ^ Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah katanya: "Semasa parit Khandak digali, aku melihat keadaan Rasulullah SAW dalam keadaan sangat lapar. Maka akupun segera kembali ke rumahku dan bertanya kepada isteriku, "Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk dimakan, karena aku melihat Rasulullah SAW sangat lapar." Isteriku mengeluarkan sebuah kantung yang berisi satu cupak gandum. Kami mempunyai seekor anak kambing dan beberapa ekor ayam. Lalu aku menyembelihnya saat isteriku menumbuk gandum. Kami sama-sama selesai, kemudian aku memotong-motong anak kambing itu dan memasukkannya ke dalam kuali. Ketika aku hendak pergi menemui Rasulullah SAW, isteriku berpesan: "Jangan engkau permalukan aku di hadapan Rasulullah SAW dan orang-orang yang bersamanya." Aku pun kemudian pergi menghampiri Rasulullah SAW dan berbisik kepada Baginda: "Wahai Rasulullah, kami telah menyembelih anak kambing dan isteriku telah menumbuk satu cupak gandum yang ada pada kami. Karena itu, kami mengundang baginda dan beberapa orang bersamamu untuk makan di rumah kami. Tiba-tiba saja Rasulullah SAW berseru: "Wahai wargaKhandak! Jabir telah membuat makanan untuk kalian! Kalian semua dipersilahkan ke rumahnya. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepadaku: "Jangan engkau turunkan kualimu dan jangan engkau buat roti adonanmu sebelum aku datang." Lalu aku pun bergegas pulang ke rumah bersama Rasulullah SAW mendahului yang lainnya. Aku menemui isteriku yang menyongsong dan berkata: "Ini semua adalah karena kamu!" Aku berkata bahawa telah melakukan semua pesanannya. Maka isteriku pun mengeluarkan adonan roti tersebut. Rasulullah SAW meludahinya dan mendoakan keberkatannya. Kemudian Baginda menuju ke kuali kami lalu meludahinya dan mendoakan keberkatannya pula. Setelah itu Baginda bersabda: "Sekarang panggillah para pembuat roti untuk membantumu dan ambillah dari kualimu, tapi jangan engkau turunkannya." Ternyata kaum muslimin yang datang adalah sebanyak seribu orang. Aku bersumpah demi Allah, mereka semua mendapat makanannya hingga kenyang dan pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara itu kuali kami masih mendidih seperti sediakala. Demikian juga dengan adonan roti masih tetap seperti asalnya. Sebagaimana kata Ad-Dahhak: "Masih tetap seperti asalnya!" (Sahih Bukhari-Muslim, kitab Minuman).
  32. ^ Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA katanya: "Abu Talhah telah berkata kepada Ummu Sulaim: "Aku mendengar suara Rasulullah SAW begitu lemah. Tahulah aku baginda dalam keadaan lapar. Apakah engkau mempunyai sesuatu? Ummu Sulaim menjawab: Ya! Kemudiannya dia menghasilkan beberapa kerat roti dari gandum dan setelah itu mengambil kain tudungnya dan membungkus roti itu dengan separuh kain tudung. Lalu disisipkannya di bawah bajuku, sedangkan yang separuh lagi diselendangkan kepadaku. Setelah itu dia menyuruhku pergi ke tempat Rasulullah SAW Akupun berangkat membawa roti yang dibungkus kain tudung itu. Aku mendapatkan Rasulullah SAW yang sedang duduk di dalam masjid bersama orang banyak dan berada di sisi mereka. Rasulullah SAW bertanya: "Abu Talhah mengutusmu? Aku menjawab: Ya, benar! Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi: "Untuk makanan?" Aku menjawab: Ya! Rasulullah SAW pun bersabda kepada orang banyak yang ada bersamanya: "Bangunlah kamu sekalian!" Rasulullah SAW lalu berangkat diiringi para sahabat dan aku berjalan di antara mereka untuk segera memberitahu Abu Talhah. Maka Abu Talhah berkata: Wahai Ummu Sulaim! Rasulullah SAW datang bersama orang banyak, padahal kita tidak mempunyai makanan yang mencukupi untuk mereka. Dia menjawab: "Allah dan RasulNya lebih tahu." Lalu Abu Talhah menjemput Rasulullah SAW dan beliau pun masuk bersamanya. Rasulullah SAW bersabda: "Bawa ke sini apa yang ada di sisimu wahai Ummu Sulaim!" Ummu Sulaim menyerahkan roti tersebut kepada baginda yang kemudian memeras bekas lemaknya untuk dijadikan lauk dimakan dengan roti. Kemudian Rasulullah SAW mendoakan makanan itu. Setelah itu baginda bersabda: "Izinkan sepuluh orang masuk!" Abu Talhah memanggil sepuluh orang Sahabat. Mereka makan sehingga kenyang kemudian keluar. Rasulullah s.a.w menyambung: "Biarkan sepuluh orang lagi masuk!" Sepuluh orang berikutnya pun masuk dan makan sehingga kenyang lalu keluar. Rasulullah SAW kemudian bersabda lagi: "Suruhlah sepuluh orang lagi masuk!" Demikian berlangsung terus-menerus sehingga semua orang makan hingga kenyang, padahal jumlah mereka adalah lebih kurang tujuh puluh atau delapan puluh orang. (Sahih Bukhari-Muslim, kitab Minuman).
  33. ^ Diriwayatkan dari Abdul Rahman bin Abu Bakar katanya: "Kami yang berjumlah seratus tiga puluh orang sedang bersama Nabi SAW. Beliau bertanya: "Adakah salah seorang di antara kalian yang mempunyai makanan?" Didapati ada seorang yang mempunyai kurang lebih satu gantang gandum, lalu dijadikannya adonan roti. Kemudian datang seorang lelaki tinggi dan kusut rambutnya membawa kambing-kambing untuk dijual. Nabi SAW bertanya: "Apakah kambing-kambing ini untuk dijual atau dihadiahkan?" Lelaki itu menjawab: "Untuk dijual!" Maka dibelilah darinya seekor kambing. Setelah disembelih, Rasulullah SAW memerintahkan supaya diambil hatinya untuk dipanggang. Dia (Abdul Rahman bin Abu Bakar) berkata: "Demi Allah! Setiap seratus tiga puluh orang itu, kesemuanya mendapat sepotong hati kambing dari Rasulullah SAW! Jika orang itu ada bersama, maka Rasulullah SAW memberikannya. Jika sebaliknya, Rasulullah SAW menyimpan untuknya. Makanan itu dibagikan dalam dua talam. Kami makan dari kedua talam itu sehingga kenyang. Sisa yang masih ada pada kedua talam tersebut dibawa ke atas unta atau mungkin juga riwayatnya begitu. (Hadits Sahih Bukhari-Muslim, kitab Minuman).
  34. ^ Diriwayatkan dari Abdul Rahman bin Abu Bakar katanya: "Mereka yang disebut Ashaab As-Suffah adalah orang-orang miskin. Suatu ketika Rasulullah SAW pernah bersabda: "Siapa mempunyai makanan untuk dua orang, hendaklah dia mengajak orang yang ketiga dan siapa mempunyai makanan untuk empat orang, hendaklah dia mengajak orang kelima, keenam, atau seperti diriwayatkan dalam Hadits lain: Abu Bakar RA datang dengan tiga orang. Nabi pergi dengan sepuluh orang dan Abu Bakar dengan tiga orang yaitu aku, ibu dan bapaku. Tetapi aku tidak yakin adakah dia berkata: "Isteriku dan khadamku berada di antara rumah kami dan rumah Abu Bakar." Abdul Rahman berkata lagi: "Abu Bakar makan malam bersama Nabi SAW dan terus berada di sana hingga waktu Isyak. Selesai shalat dia kembali lagi ke tempat Nabi SAW hingga Rasulullah SAW kelihatan mengantuk. Sesudah lewat malam, barulah dia pulang. Isterinya menyambutnya dengan pertanyaan: "Apa yang menghalang dirimu untuk pulang menemui tetamumu?" Abu Bakar berkata: "Bukankah engkau telah menjamu mereka makan malam?" Isterinya menjawab: "Mereka tidak mau makan sebelum engkau pulang, padahal anak-anak sudah mempersilakan tetapi mereka tetap enggan. Akupun berundur untuk bersembunyi." Lalu terdengar Abu Bakar memanggil: "Hai dungu!" Diikuti dengan sumpah-serapah. Kemudian dia berkata kepada para tetamunya: "Silakan makan!" Barangkali makanan ini sudah tidak enak lagi. Kemudian dia bersumpah: "Demi Allah, aku tidak akan makan makanan ini selamanya!" Abdul Rahman meneruskan ceritanya: "Demi Allah, kami tidak mengambil satupun kecuali sisanya bertambah lebih banyak lagi, sehinggalah saat kami sudah merasa kenyang, makanan itu menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Abu Bakar memandanginya , dan ternyata makanan itu tetap seperti sediakala atau bahkan lebih banyak lagi. Dia berkata kepada isterinya: "Wahai saudara perempuanku, Bani Firas, apakah ini? Isterinya menjawab: "Tidak! Demi cahaya mataku, sekarang ini makanan tersebut bertambah tiga kali lipat lebih banyak daripada sebelumnya." Lalu Abu Bakar makan dan berkata: "Sumpahku tadi adalah dari syaitan. Dia makan satu suap, kemudian membawa makanan tersebut kepada Rasulullah SAW dan membiarkannya di sana hingga pagi hari. Pada waktu itu di antara kami (kaum muslimin) dengan suatu kaum akan dilangsungkan satu perjanjian. Ketika tiba waktunya, kamipun menjadikan dua belas orang sebagai ketua saksi, masing-masing mengepalai beberapa orang. Hanya Allah yang tahu berapa orang sebenarnya yang diutus bersama mereka. Yang pasti adalah bahwa Rasulullah SAW memerintah agar mereka semua dpanggil. Lalu semuanya makan dari makanan yang dibawa oleh Abu Bakar, atau sebagaimana yang diriwayatkan dalam riwayat lain. (Sahih Bukhari-Muslim, Kitab Minuman).
  35. ^ Hadits Riwayat Muslim
  36. ^ Kauma [2000], halaman 98 -102
  37. ^ Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Dalam pandangan kami mukjizat adalah anugerah Allah, tetapi dalam pandangan kalian mukjizat adalah peringatan. Suatu ketika kami menyertai Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan dan kami nyaris kehabisan air. Nabi SAW bersabda: “Bawalah kemari air yang tersisa!” Orang-orang membawa kantung yang berisi sedikit air. Nabi SAW memasukkan telapak tangannya kedalam kantung itu dan berkata, “Mendekatlah pada air yang diberkahi dan ini berkah dari Allah.” Aku melihat air memancar dari sela-sela jemari tangan Rasulullah SAW.” (Sahih Bukhari, Juz-5 No. 779).
  38. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Semangkuk air dibawa ke hadapan Nabi SAW di Al Zawra. Beliau memasukkan kedua telapak tangannya kedalam mangkok itu dan air memancar dari jari-jemarinya. Semua orang berwudhu dengan air itu. Qatadah bertanya kepada Anas, “Berapa orang yang hadir pada waktu itu?” Anas menjawab, “Tiga ratus orang atau mendekati tiga ratus orang.” (Sahih Bukhari, Juz-4 No. 772). Lihat juga: (Sahih Bukhari, Juz-4 No. 777) dan (Sahih Bukhari, Juz-1 No. 340)
  39. ^ Hadits Riwayat Muslim No. 4224
  40. ^ Diriwayatkan dari Anas bin Malik katanya: "Sesungguhnya beberapa orang dari daerah Urainah datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW. Mereka telah mengidap sakit perut yang agak serius. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: "Sekiranya kamu mau, keluarlah dan carilah unta sedekah, maka kamu minumlah susu dan air kencingnya." Lalu mereka meminumnya, dan ternyata mereka menjadi sehat. Kemudian mereka pergi kepada sekumpulan pengembala lalu mereka membunuh pengembala yang tidak berdosa itu dan mereka telah menjadi murtad (keluar dari Islam.) Mereka juga telah melarikan unta milik Rasulullah SAW, kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah SAW. Lalu baginda memerintahkan kepada para Sahabat agar menangkap mereka. Setelah ditangkap dan dihadapkan kepada baginda, maka Rasulullah SAW pun memotong tangan dan kaki serta mencungkil mata mereka. Kemudian baginda membiarkan mereka berada di al-Harrah (sebuah daerah di Madinah yang terkenal penuh dengan batu hitam) sehingga mereka meninggal dunia. (Sahih Bukhari-Muslim, kitab Qishas dan Diyat).
  41. ^ Diriwayatkan dari Anas RA dari Ummu Sulaim katanya: "Wahai Rasulullah! Aku menjadikan Anas sebagai khadammu, tolonglah berdoa untuknya. Rasulullah SAW pun berdoa: "Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya dan berkatilah apa yang diberikan kepadanya." Berkata Anas: “Demi Allah, harta bendaku memang banyak. Begitu juga anak dan anak dari anakku memang banyak sekali dan sekarang sudah berjumlah lebih dari 100 orang. (Hadits Sahih Bukhari-Muslim, kitab Kelebihan Para Sahabat).
  42. ^ Abu Hurairah mengeluh kepada Rasulullah SAW bahwa dia terlalu pelupa. Lalu Rasulullah saw membentangkan kainnya diatas tanah, lalu memegang-megang kainnya dengan tangan beliau. Abu Hurairah disuruh Rasulullah memeluk kain itu. Sejak itu Abu hurairah tidak pernah lupa lagi. Dan beliau terkenal paling banyak menghafal hadits. (Hadits Sahih Bukhari-Muslim).
  43. ^ Pada peristiwa penaklukkan Khaibar Rasulullah SAW bersabda, “Esok hari aku akan memberikan bendera kepada seorang yang akan diberikan kemenangan oleh Allah SWT melalui tangannya, sedang ia mencintai Allah dan Rasulnya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Maka semua orang pun melewatkan malam mereka sambil bertanya-tanya dalam hati kepada siapa gerangan di antara mereka akan diberikan bendera itu. Hingga memasuki pagi harinya masing-masing masih mengharapkan hal itu terjadi padanya. Kemudian Rasulullah SAW bertanya: “Kemana Ali?” lalu ada yang mengatakan kepada beliau bahwa Ali sedang sakit kedua matanya. Lantas Rasulullah SAW meniup kedua mata Ali seraya berdoa untuk kesembuhannya hingga sembuhlah kedua mata Ali seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Lalu Rasulullah SAW memberikan bendera itu kepadanya. (Hadits Sahih Bukhari).
  44. ^ Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
  45. ^ Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
  46. ^ Hadits Riwayat Bukhari
  47. ^ Hadits Riwayat Bukhari
  48. ^ Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas.
  49. ^ Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah.
  50. ^ Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas.
  51. ^ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi).
  52. ^ “Telah hampir saat (qiamat) dan telah terbelah bulan.” (Quran, 54:1). Berita tentang terbelahnya bulan pada jaman Nabi SAW banyak diriwayatkan oleh para sahabat, sehingga hadits tentang terbelahnya bulan adalah hadis Muthawatir. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud: “Pada masa hidup Nabi SAW, bulan terbelah dua dan melihat ini Nabi SAW bersabda: “Saksikanlah!” (Sahih Bukhari, Juz-4 No. 830). Diriwayatkan oleh Anas: “Ketika orang-orang Mekah meminta Rasulullah SAW untuk menunjukkan mukjizat, maka Nabi menunjukkan bulan yang terbelah.” (Sahih Bukhari, Juz-4 No. 831). Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: “Bulan terbelah menjadi dua pada masa hidup Nabi SAW.” (Sahih Bukhari, Juz-4 No. 832). Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Orang-orang Mekah meminta Nabi saw untuk menunjukkan sebuah mukjizat. Maka Beliau menunjukkan bulan yang terbelah menjadi dua bagian, sehingga gunung Hira’ itu dapat mereka lihat diantara dua belahannya.” (Sahih Bukhari, Juz-5 No. 208). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Di waktu kami bersama-sama Rasulullah SAW di Mina, maka terbelah bulan, lalu sebelahnya berlindung di belakang gunung, maka sabda Rasulullah SAW: “Saksikanlah! ” Saksikanlah! ” (Sahih Bukhari, Juz-5 No. 209). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Pada masa hidup Nabi SAW bulan terbelah menjadi dua.” (Sahih Bukhari, Juz-5 No. 210). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Bulan terbelah menjadi dua.” (Sahih Bukhari, Juz-5 No. 211). Lihat juga di: (Sahih Bukhari, Juz-6 No. 350), (Sahih Bukhari, Juz-6 No. 387), (Sahih Bukhari, Juz-6 No. 388), (Sahih Bukhari, Juz-6 No. 389), (Sahih Bukhari, Juz-6 No. 390), (Sahih Bukhari, Juz-6 No. 391), (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wal Janna wa’n-Nar, Juz-039 No. 6721), (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wal Janna wa’n-Nar, Juz-039 No 6724), (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wal Janna wa’n-Nar, Juz-039 No. 6725), (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wal Janna wa’n-Nar, Juz-039 No. 6726), (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wal Janna wa’n-Nar, Juz-039 No. 6728), (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wal Janna wa’n-Nar, Juz-039 No. 6729) (Hadits sahih Muslim, Juz-039 No. 6730).
  53. ^ Hadits riwayat Muslim No.5010, 5013, 5015





Monday, June 13, 2016

Setelah Ratusan Tahun, Jazad Para Sahabat Nabi Tetap Utuh Monday, June 13, 2016

DUA JASAD SAHABAT RASULULLAH YANG UTUH

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS Al Baqarah (2) : 154) – lihat juga QS Ali Imran : 169.
 Hudzaifah Ibnu Al Yamani RA Dan Jabir bin Abdullah Al Ansari RA
Sebagaimana lazimnya kita mengetahui bahwa apabila mayat sudah dikubur pasti akan segera mengalami proses pembusukan dan penguraian apalagi mayat yang sudah dikubur dalam waktu yang sangat lama. Namun, dengan kuasa Allah Swt, kita bisa temui banyak fakta dan bukti yang sangat kuat bahwa mayat atau jenazah para Syuhada (orang yang mati syahid), para Nabi dan orang-orang suci (Waliyullah) itu tetap segar bugar dan tidak mengalami proses pembusukan ketika kuburan mereka itu digali kembali.
Salah satunya adalah peristiwa yang sangat luar biasa ini, yang sempat menghentak publik dunia terutama penduduk di kawasan Timur Tengah. Pada tahun 1932 (bertepatan dengan tahun 1351 H). Pemimpin Iraq yang bernama Shah Faisal I bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh Huzaifah Al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi saw) yang berkata “Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir Al-Ansari (sahabat Nabi saw juga) dari tepian sungai Tigris dan kemudian kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku dan Jabir sekarang dipenuhi oleh air”. Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya akan tetapi Shah Faisal I tidak terlalu memperdulikan mimpi itu. Pada malam ketiga Huzaifah Al-Yamani hadir dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Huzaifah Al-Yamani berkata dalam mimpi sang Mufti itu “Aku telah memberitahukan Raja dua malam sebelumnya untuk memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. Beritahukanlah kepada Raja agar ia mau sedikit berempati untuk memindahkan kuburan-kuburan kami”.
Maka setelah dimusyawarahkan maka diputuskan pada tanggal 20 Dzulhijjah setelah shalat Dzhuhur dan Ashar, makam kedua sahabat Nabi itu akan dibuka dan jenazahnya akan dipindahkan ke tempat lain. Ketika makam Hudzaifah Al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya. Selanjutnya tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan.
Kedua jenazah suci dari sahabat sejati Nabi ini kelihatan masih segar dan tak tersentuh oleh bakteri pengurai sedikitpun. Keduanya dengan mata terbuka, mata yang telah menatap sinar Kenabian, Subahanallah ! Selain tubuh keduanya yang tampak segar bugar, juga pakaian yang mereka kenakan pada saat dimakamkan semuanya utuh dan kalau dilihat sekilas kedua Sahabat Nabi ini tampak seperti masih hidup dan hanya terbaring saja. Kedua jasad suci ini akhirnya dibawa dan dikebumikan kembali di kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan sahabat Nabi lainnya yaitu Salman Al-Farisi. Seorang ahli fisiologis dari Jerman, Ia melihat langsung kondisi tubuh jenazah kedua sahabat Nabi itu yang telah dikuburkan selama 1300 tahun lamanya, kemudian beliau mendatangi Mufti Besar Iraq dan mengatakan Bukti apalagi yang harus dicari bahwa Islam itu benar, Sekarang juga aku masuk Islam, Ajari aku tentang Islam“. Dan seketika itu juga banyak orang lainnya yang beragama Nasrani dan Yahudi turut juga menyatakan ke Islamanya.
Hudzaifah Ibnu Al Yaman RA
Penduduk kota Madain berduyun-duyun menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Khalifah Umar ra. Ketika mereka menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncul seorang lelaki dengan wajah berseri-seri. Ia mengenderai seekor keledai yang beralaskan kain usang, kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam. Orang itu tidak lain dari Hudzaifah Ibnul Yaman. Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar? Hudzaifah meneruskan perjalanan, sementara orang-orang berkerumun mengelilinginya lalu beliau berkata  “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!” Ujar mereka, “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?” Ia berkata, “Pintu-pintu rumah pembesar! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan!”. Suatu pernyataan yang luar biasa dan sangat menakjubkan.
Hudzaifah Ibnul Yaman, Ia terdidik di tangan Rasulullah Saw dengan kalbu terbuka, tak ubah bagai cahaya subuh. Ia mengutuk orang-orang yang riya, berbelit-belit, dan culas bermuka dua! Ia bergaul dengan Rasululah Saw, dan sungguh tak ada lagi tempat baik agar bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang selain didalam pangkuan Islam. Hudzaifah telah di karuniai fikiran yang jernih yang menyebabkan sampai pada suatu kesimpulan bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gambling, yang jelek adalah yang gelap dan samar-samar. Oleh karena itu, orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah Saw tetang kebaikan, tetapi Hudzaifah Ibnul Yaman menanyakan kepada Nabi tentang kejahatan karena takut akan terlibat di dalamnya. ”Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?’ ‘Ada,’ ujarnya. ‘Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?’ Tanyaku pula. ‘Memang, tetapi kabur dan bahaya,’ jawabnya. Tanyaku, ‘Apa bahaya itu?’ Jawabnya, ‘Yaitu segolongan umat mengikuti sunah bukan sunahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah.’ Kemudian setelah kebaikan tersebut, masihkah ada lagi kejahatan? Tanyaku pula. ‘Masih,’ ujar Nabi, ‘yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka!’ Lalu kutanyakan kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?’ Ujar Rasulullah, ‘senantiasa mengiuti jamaah Kaum Muslimin dan pemimipin mereka!’ Bagaimana kalau mereka tidak punya jamaah dan tidak pula pemimpin? ‘Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian…!” Nah, tidakkah anda perhatikan ucapan Hudzaifah r.a. “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya?”
Suatu ketika ia melihat bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud, dan di tangan laskar Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik! Hudzaifah melihat dari jauh pedang sedang di hunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak, “Ayahku, ayahku, jangan, ia ayahku!” Tetapi qadha Allah telah tiba. Ketika kaum Muslimin mengetahui hal itu, mereka pun merasa duka dan sama-sama membisu. Sambil memandangi mereka dengan penuh sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, Ia mengatakan, “Semoga Allah mengampuni tuan-tuan. Ia adalah sebaik-baik Penyayang”. Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya. Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah Saw. Maka di suruhnya membayar diat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudzaifah ini dan di suruh membagikannya kepada Kaum Muslimin. Keimanan dan kecintaan Hudzaifah tidak kenal lelah dan lemah. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya.
Sewaktu perang Khandaq, yakni setelah merayapnya kegelisahan dalam barisan kafir Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari golongan yahudi, Rasulullah Saw bermaksud hendak mengetahui perkembangan terakhir di lingkungan perkemahan musuh-musuhnya. Suasana di kala itu mencekam hingga menimbulkan kebimbangan dan kegelisahan, mengundang kekecewaan dan kecemasan, sementara kelaparan telah mencapai saat-saat yang gawat dikalangan sahabat Rasulullah Saw. Siapakah ketika itu yang memiliki kekuatan apa pun kekuatan itu yang berani berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh di tengah-tengah bahaya besar yang sedang mengancam, menghantui dan memburunya, untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam, yakni untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mereka? Maka, Rasulullah Saw memilih di antara para sahabatnya orang yang akan melaksanakan tugas yang amat sulit ini, dia adalah Hudzaifah ibnu Yaman. Beberapa pertempuran kaum muslimin yang diikuti oleh Hudzaifah ibnu Yaman ketika dimasa Kekhalifahan Umar yaitu perang Nehawand, beliau sebagai komandan pasukan dibawah pimpinan Nukman bin Muqarrin. Namun ketika Nukman wafat atas perintah Khalifah maka digantikan kepemimpinan oleh Hudzaifah ibnu Yaman. Kemudian Hudzaifah ibnul Yaman pernah diperintah oleh khalifah Umar untuk mencari pemukiman di kuffah. “Dari beberapa tugas yang dimanahkan terlihat bahwa Hudzaifah ibnul Yaman adalah orang yang aktif didalam struktural Islam, beliau selalu ambil bagian dan tidak pernah menolak tugas yang diamanahkan kepadanya”.
Pada suatu hari dalam tahun 36 Hijriyah, saatnya Hudzaifah menghadap Sang Ilahi. Dan tatkala ia sedang berkemas-kemas untuk berangkat untuk melakukan perjalanannya yang terakhir, masuklah beberapa orang sahabatnya. Maka di tanyakannya kepada mereka, “Apakah tuan-tuan membawa kain kafan?” “Ada,” ujar mereka. “Coba lihat,” kata Hudzaifah pula. Maka tatkala dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah di bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, lalu katanya, “Kain kafan ini tidak cocok bagiku, cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju. Tidak lama aku akan berada di kubur, menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau yang lebih jelek” Kemudian ia menggumamkan beberapa kalimat tatkala di dengarkan oleh hadirin dengan mendekatkan telinga mereka “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di waktu rindu. Hati bahagia, tidak ada keluh sesalku”. Ketika itu, naiklah membumbung ke hadirat Ilahi, ruh suci di antara arwah para shalihin, ruh yang cemerlang, taqwa, tunduk dan berbakti. Semoga Allah merahmatinya, Aamiin. (Untuk pembahasan sirah sahabat Jabir bin Abdullah Al Ansari insya Allah edisi mendatang).
Jabir bin Abdullah Al Ansari RA
Rombongan kendaraan melaju mempercepat langkah dari Yatsrib ke Mekah karena didorong oleh rasa kerinduan kepada seseorang yang dicintai. Mereka sudah berjanji kepada Rasulullah untuk bertemu. Setiap orang yang berada di rombongan itu sangat rindu dengan suatu waktu pada saat akan merasakan kebahagiaan bertemu dengan Nabi Muhammad Saw dan meletakkan tangan di atas tangan beliau dengan membai‘atnya untuk selalu mendengarkan perintahnya dan taat, serta berjanji untuk saling menguatkan dan menolong. Di antara rombongan itu, ada orang tua, salah seorang pemuka kaum, membonceng anak laki-laki satu-satunya yang masih kecil di belakangnya. Ia meninggalkan sembilan anak perempuan di Yatsrib karena ia tidak memiliki anak laki-laki yang kecil selainnya. Orang tua itu sangat ingin anaknya bisa menyaksikan bai‘at dan tidak kehilangan hari agung yang dianugerahkan itu. Orang tua itu bernama Abdullah ibnu Amr al-Khazraji al-Anshari dan anaknya bernama Jabir ibnu Abdullah al-Anshari. Keimanan bersinar di hati Jabir ibnu Abdullah, sedangkan ia masih kecil dan segar. Keimanan pun menyinari setiap sendinya. Islam menyentuh jiwanya yang halus seperti tetesan-tetesan hujan menyentuh kelopak bunga. Tetesan-tetesan itu pun membukanya dan memenuhinya dengan semerbak wangi-wangian. Hubungan Jabir dan Rasulullah Saw menjadi kuat sejak mudanya.
Ketika Rasulullah Saw yang mulia datang berhijrah ke Madinah, anak kecil yang mukmin ini berguru kepada Nabi pembawa petunjuk dan rahmat. Ia pun menjadi sebagian orang utama yang diluluskan oleh pendidikan Muhammad menjadi penghafal Kitab Allah untuk kepentingan manusia dan menjadi periwayat hadits Rasulullah Saw.. Cukuplah kita mengetahui bahwa Musnad Jabir ibnu Abdullah terkumpul di antara kedua sisinya sebanyak 1.540 hadits. Dihafallah semua hadits itu oleh seorang murid yang pandai dan meriwayatkannya dari Nabi kaum muslimin yang agung. Imam Bukhari dan Imam Muslim menetapkan dalam dua kitab shahihnya lebih dari 200 hadits dari hadits-haditsnya. Ia menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi kaum muslimin sepanjang waktu. Allah pun memanjangkan kehidupannya sehingga umurnya sampai satu abad.
Jabir ibnu Abdullah tidak mengikuti Perang Badar dan Perang Uhud bersama Rasulullah Saw karena di satu sisi ia masih kecil dan di sisi lain ayahnya memerintahkannya untuk tinggal bersama sembilan saudara perempuannya. Hal itu terjadi karena tidak ada seorang pun selainnya yang menjaga urusan mereka. Jabir menceritakan, “Ketika pada suatu malam menjelang Perang Uhud, ayah memanggilku dan berkata, ‘Sungguh aku tidak melihat diriku, kecuali terbunuh bersama sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan sesungguhnya, demi Allah, aku memiliki utang kepada seseorang. Kau lunasilah utangku, sayangilah saudara-saudara perempuanmu, dan berikanlah wasiat kebaikan kepada mereka”. Ketika waktu sudah pagi, ayahku menjadi orang pertama yang terbunuh di Perang Uhud. Ketika ingin menguburkannya, aku mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, ayahku telah membebankan utangnya kepadaku. Dan aku tidak memiliki sesuatu pun untuk melunasinya, kecuali apa yang dapat dipetik dari pohon kurmanya. Kalau aku mengandalkan pohon itu untuk melunasi utangnya, maka aku akan melunasinya selama beberapa tahun, sedangkan saudara-saudara perempuanku tidak memiliki harta untuk dinafkahkan kecuali dari pohon itu”.
Rasulullah berdiri dan pergi bersamaku ke tempat penyimpanan korma kami. Rasulullah Saw berkata kepadaku, “Panggillah orang-orang yang berpiutang kepada ayahmu.” Maka aku pun memanggil mereka. Beliau masih saja menakar hingga Allah melunasi utang ayahku dengan korma. Aku melihatnya seperti sediakala, seakan-akan tidak berkurang satu biji korma pun. Sejak ayahnya meninggal, Jabir tidak pernah absen dari satu peperangan pun bersama Rasulullah Saw.. Di setiap peperangan, ia mengalami sebuah peristiwa yang diriwayatkan dan dijaga. Kita tinggalkan pembicaraan tentangnya. Ia sendiri yang menceritakan salah satu peristiwa bersama Rasulullah Saw. Jabir berkata, “Pada hari persiapan Perang Khandaq, kami menggali. Lalu batu besar yang keras menghalangi kami, sehingga kami pun tidak mampu untuk memecahkannya. Kami datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘Wahai Nabi Allah, jalan kami terhalang dengan batu besar yang keras. Cangkul-cangkul kami tidak dapat berbuat apapun terhadapnya.’ Maka Nabi Muhammad Saw berkata, ‘Tinggalkan batu itu, aku akan turun ke batu itu.’ Kemudian beliau berdiri sedangkan perutnya diganjal dengan batu karena sangat lapar. Hal itu terjadi karena kami tidak makan selama tiga hari. Maka beliau mengambil cangkul dan memukul batu itu. Maka batu itu pun menjadi pasir secara perlahan-lahan.”
Ketika itu, keinginanku untuk menolong rasa lapar yang menimpa Rasulullah Saw bertambah. Maka aku pun menghadapnya dan berkata, “Apakah kau izinkan aku pergi ke rumahku wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Pergilah.” Ketika sampai di rumah, aku berkata kepada istriku, “Aku lihat baginda Rasulullah merasakan rasa lapar yang amat sangat. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menahannya. Apakah kau mempunyai sesuatu?” Dia berkata, “Aku punya sedikit biji gandum dan kambing kecil.” Aku berdiri menuju kambing itu lalu menyembelihnya dan memotong-motongnya. Setelah itu, aku letakkan di kuali. Aku juga mengambil biji gandum dan menggilingnya. Lalu aku serahkan kepada istriku. Ia pun memasaknya. Ketika aku tahu daging itu hampir matang, dan adonan sudah lembut dan hampir matang, aku pergi menuju Rasulullah Saw.. Aku katakan kepadanya, “Kami sudah membuat sedikit makanan untukmu wahai Nabi Allah. Makanlah beserta satu orang atau dua orang yang kau ajak makan bersamamu.” Beliau bertanya, “Berapa banyak makannya?”
Aku pun menyebutkan banyaknya. Ketika Rasulullah Saw tahu ukuran makanan itu, beliau berkata, “Wahai para pembuat parit, Jabir telah membuat makanan untuk kalian. Kemarilah kita menuju rumahnya. “Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Pergilah ke istrimu dan katakan kepadanya, ‘Jangan kau turunkan kualimu dan jangan kau buat roti adonanmu sampai aku datang“. Aku pun pergi ke rumah. Aku merasa gundah dan malu. Tidak ada yang tahu keadaanku ini kecuali Allah. Aku pun berkata, “Apakah penduduk Khandaq akan datang kepada kita dengan hanya disuguhi satu sha gandum dan satu kambing kecil? “Aku pun menemui istriku dan berkata, “Celakalah engkau, ketahuan keadaanku yang sebenarnya. Rasulullah Saw akan datang bersama semua pembuat parit ke rumah kita.”Ia pun berkata, “Apakah beliau berkata, ‘Berapa banyak makananmu? Aku jawab, “Ya”. Ia berkata, hilangkanlah kegundahanmu dari dirimu, Allah dan Rasul-Nyalah lebih tahu. Hilanglah kesedihanku dengan perkataannya itu. Makanan itu hanya sedikit hingga Rasulullah tiba. Bersama beliau, ada orang-orang Anshar dan Muhajirin. Beliau berkata, “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.”Kemudian beliau berkata kepada istriku, “Datangkan seorang pembuat roti untuk membuat roti bersamamu. Duduklah menunggui kualimu dan jangan menurunkannya dari tempat apinya.”
Kemudian ia pun mulai memperbanyak roti, mengisinya dengan daging, dan mendekatkannya kepada para sahabat beliau, sedangkan mereka menyantap makanan hingga semuanya kenyang. Kemudian Jabir menyusul sambil berkata, “Aku bersumpah kepada Allah, bahwa mereka ramai-ramai memakan makanan itu, sedangkan periuk kami mendidih dengan penuh seperti sediakala dan adonan kami bisa dibuat kue seperti sediakala. Kemudian Rasulullah Saw berkata kepada istriku, “Makanlah dan bagikanlah.” Ia pun makan dan mulai menghadiahkannya sepanjang hari itu. Karena itulah, Jabir ibnu Abdillah al-Anshari telah menjadi sumber penyiaran dan petunjuk bagi umat muslim dalam tempo yang lama. Allah telah memanjangkan umurnya hingga hampir satu abad. Di suatu tahun, ia keluar menuju Kerajaan Romawi untuk jihad fi sabilillah. Pasukan itu dipimpin oleh Malik ibnu Abdillah al-Khatsami. Malik berkeliling-keliling dengan tentaranya. Mereka berangkat untuk mengetahui situasi mereka dan memperkuat kekuatan mereka, serta berbuat baik kepada para pembesarnya dengan kekuatan yang mereka miliki.
Malik kemudian bertemu dengan Jabir ibnu Abdillah yang sedang berjalan kaki, padahal ia sedang membawa keledainya yang diikat dengan tali kekangnya dan dituntun olehnya. Maka Malik berkata, “Ada apa denganmu, wahai Abu Abdullah? Kenapa kau tidak menungganginya? Padahal Allah memberikan kemudahan kepadamu dengan punggungnya yang dapat membawamu.”Maka ia pun berkata, “Aku dengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu dalam mengerjakan perintah Allah, maka Allah akan mengharamkannya masuk neraka.” Kemudian Malik meninggalkannya dan pergi hingga esok pagi ia muncul mendahului para tentara. Kemudian Malik menoleh kepadanya dan memanggilnya dengan suara keras, “Wahai Abu Abdullah, kenapa engkau tidak menunggangi keledaimu, padahal itu milikmu”. Jabir pun mengetahui maksudnya dan menjawabnya dengan suara yang keras, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu dalam melaksanakan perintah Allah, maka Allah mengharamkannya masuk neraka“. Orang-orang pun melompat dari binatang tunggangannya. Mereka semua mendapatkan ganjaran ini. Tidak ada pasukan yang pejalan kakinya lebih banyak dari pasukan itu. Beruntunglah Jabir ibnu Abdillah al-Anshari. Ia telah membaiat Rasulullah Saw yang mulia, sedangkan ia masih kecil, belum balig, berguru kepada Nabi Muhammad Saw sejak kuku-kukunya masih halus, meriwayatkan hadits-hadits yang dinukil oleh para perawi hadits, berjihad bersama Rasulullah Saw padahal ia seorang pemuda dan menebarkan debu ke kakinya di jalan Allah padahal ia sudah tua.



[Dari Khilafatul Muslimin | Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid – Edited redaksi].

** Lihat juga kisah-kisah serupa di sini




Wednesday, July 9, 2014

Al-Quran: Bulan Terbelah Hanya Dongeng? Wednesday, July 9, 2014

Ini cerita sudah lama, dan dari sekian banyak yang mengarsipkannya, salahsatunya bisa kita lihat di sini

Sebenarnya ada berton-ton informasi dan 'review' dari berbagai kalangan yang pro-kontra tentang ini di internet. 

Saranmu sendiri sangat masuk akal: agar bukan saja Pak Bagus, tapi kita semua juga melihatnya secara berimbang termasuk dari sumber-sumber di luar Islam. 

Sebetulnya, dulu banget Pak Bagus juga sudah pernah intip sana-sini masalah kontroversial ini. Dan dari semua informasi itu, maka sampai hari ini pun tetap saja tinggal sebagai kontroversi, karena masing-masing pihak merasa keyakinannyalah yang paling benar. Dengan kata lain, pada akhirnya kita sendirilah yang harus menyimpulkannya.

Pak Bagus masih ingat, salahsatu "dialog" edukatif sangat menarik tentang bulan terbelah ini bisa di lihat, misalnya di sini:

Kenapa Pak Bagus sebut menarik? 
Sebab yang ngobrol di sana nampaknya rata-rata dari kalangan sangat terpelajar, dan latar belakang agamanya pun berbeda pula.

Jika tertarik, coba deh lihat juga ke sana. 
PS: beberapa referensi yang mereka rekomendasikan juga tersedia di sana.

Sebetulnya umat Islam tidak perlu merasa gusar menerima "penolakan" dari umat lain perihal ini. Sebab substansi mukjizat itu sendiri sebetulnya bukan untuk kita, melainkan untuk [sebagian] umat manusia pada jaman itu -- yang notabene memang rata-rata ingin pembuktian bahwa Allah itu ADA serta Maha Kuasa. 

Bagi kita hari ini, semua periwayatan tentang mukjizat para nabi dan rasul serta kebenaran lain dari Al-Qur'an rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat kita menjadi lebih cerdas dalam beriman kepada Allah swt dibandingkan dengan umat terdahulu. 

Sedangkan kembali ke mukjizat bulan terbelah ini:
Ilmuwan NASA mengungkapkan bahwa di bulan terdapat celah dengan panjang beberapa ratus kilometer, kemudian mereka pun menemukan beberapa celah lain di permukaan Bulan yang sampai sekarang belum diketahui penyebab timbul retakan terebut ~ selengkapnya lihat di sini.

Beberapa Ilmuwan lain beranggapan bawah celah tersebut adalah bekas dari cairan lava, hanya saja spekulasi ini sebatas teori yang tidak dapat dibuktikan. 

Terlihat sejumlah besar celah pada permukaan bulan, dan beberapa di antaranya mensimulasikan `retakan yang tersambung` seolah-olah kita berada di depan permukaan logam retak kemudian merapat lagi! 


Ilmuwan NASA menyebut fenomena ini sebagai: `rilles are still a topic of research` yang berarti fenomena celah ini masih dalam proses penelitian. 

Bahkan hingga sekarang pun celah tsb masih membingungkan para ilmuwan untuk menjelasan penyebabnya, dan semua teori yang mereka kemukakan justru menjauh dari kenyataan gambar-gambar yang diperoleh oleh NASA.

Tentang gambar celah yang menyerupai retakan besar pada Bulan seperti bagian yang telah terpotong kemudian bersambung lagi itu, para ilmuwan mengatakan: “Jenis celah ini sangat jauh berbeda dengan celah yang terdapat di kerak Bumi dikerenakan ukurannya yang begitu besar [massif] dan aneh bagi kami dan bertentangan dengen teori-teori yang kita ketahui dalam Ilmu Fisika”. 

Misteri apakah yang tersimpan di balik retakan itu?
Bagaimana bisa terjadi, dan kapan terjadinya? 

Hingga sekarang semua pertanyaan ini masih terus mencari dan menanti jawabannya yang pasti.

Para ilmuwan NASA telah memperoleh sejumlah besar gambar dari fenomena celah di Bulan yang justru membingungkan para Ilmuwan itu sendiri untuk menemukan penjelasan logis atau ilmiah.

Pertanyaannya sekarang, apakah pendekatan ilmiah adalah satu-satunya cara untuk membuktikan mukjizat ini?

Kesimpulan dari bahasan Ilmiah ini mau tidak mau nampaknya masih harus mempertimbangkan pula perspektif agamis yang dikenal berbagai mukjizat, yaitu peristiwa-peristiwa ajaib yang tidak dapat ditafsirkan dengan kekuatan logika maupun kemajuan sains. 

IYA, kita sedang membicarakan MUKJIZAT yang Allah khususkan kepada para utusan-Nya seperti misalnya mukjizat tongkat Nabi Musa yang dapat membelah laut, atau mukjizat Nabi Isa yang dapat menghidupakan orang mati, atau mukjizat-mukjizat lain yang diperlihatkan Allah melalui para Nabi dan Rasul-Nya. 

Keajaiban-keajaiban seperti ini nampaknya masih berada dalam ranah "mustahil" untuk ditafsirkan secara Ilmiah, karena boleh jadi taraf ilmu pengetahuan manusia masih belum sampai ke sana. Sehingga untuk saat ini pendekatan yang "aplikabel" dengan tingkat kemampuan olah fikir manusia hanya melalui iman, tapi bukan dalam artian "IMANI SAJA!", sebab Allah sendiri sangat tidak suka pada orang-orang yang tidak pintar menggunakan akalnya!

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." (QS.10:100).

Terlepas dari semua bahasan ilmiah dan kitabiah itu, setidaknya dari sumber-sumber independen non-Islam yang dapat dipercaya, kita tahu bahwa peristiwa "Bulan Terbelah" itu ternyata ada dalam manuskrip-manuskrip tua di India, Persia, Cina, bahkan milik suku Maya yang dikenal memiliki budaya sangat advan dalam ilmu perbintangan!

Lihat, misalnya di sini

This is interesting:

More detail on Historical Evidences

A skeptic might ask, do we have any independent historical evidence to suggest the moon was ever split? After all, people around the world should have seen this marvellous event and recorded it. The answer to this question is twofold.

First, people around the world could not have seen it as it would have been daytime, late night, or early morning many parts of the world. The following table will give the reader some idea of corresponding world times to 9:00 pm Makkah time:

The Indian and Chinese calendars have recorded the incident of the splitting of the moon.

Also, it is not likely that a large number of people in lands close by would be observing the moon at the exact same time. They had no reason to. Even if someone did, it does not necessarily mean people believed him and kept a written record of it, especially when many civilisations at that time did not preserve their own history in writing.

Second, we actually have an independent, and quite amazing, historical corroboration of the event from an Indian king of that time.

Kerala is a state of India. The state stretches for 360 miles along the Malabar Coast on the southwestern side of the Indian peninsula. King Chakrawati Farmas of Malabar was a Chera king, Cheraman perumal of Kodungallure. He is recorded to have seen the moon split. The incident is documented in a manuscript kept at the India Office Library, London, reference number: Arabic, 2807, 152-173.

A group of Muslim merchant’s passing by Malabar on their way to China spoke to the king about how God had supported the Arabian prophet with the miracle of the splitting of the moon. The shocked king said he had seen it with his own eyes as well, deputised his son, and left for Arabia to meet the Prophet in person.

The Malabari king met the Prophet, and bore the two testimonies of faith, learned the basics of faith, but passed away on his way back and was buried in the port city of Zafar, Yemen.

It is said that the contingent, led by a Muslim, Malik bin Dinar, continued to Kodungallure, the Chera capital, and built the first, and India’s oldest, mosque in the area in 629 C.E. which exists today. 

The news of his accepting Islam reached Kerala where people accepted Islam. The people of Lakshadweep and the Moplas [Mapillais] from the Calicut province of Kerala are converts from those days. The king was also considered a ‘companion’ – a term used for a person who met the Prophet and died as a Muslim – his name registered in the mega-compendiums chronicling the Prophet’s companions. 

Abu Sa’id al-Khudri, a companion of Prophet Muhammad, states: 

“The Indian king gifted the Prophet with a jar of ginger. The companions ate it piece by piece. I took a bite as well.”


This is also interesting!
The moon shall be confounded -Prophesy in Isaiah 24:23
Prophet Muhammad (PBUH) performed over three hundred fifty (350) miracles. Their own Bible testifies and/or contains the prophecies about the miracles performed by Prophet Muhammad (SAW). Readers must remember that no Biblical prophet including Jesus has performed more miracles than Prophet Muhammad (SAW) and no Biblical prophet has performed miracle of splitting the moon into two halves, it is the miracle of Muhammad (SAW) that Bible has prophesied and Glorious Qur’aan has vouched for that. Let us examine the reference from the Bible containing three prophecies about Prophet Muhammad (SAW) and his miracle/s.

Isaiah 24:23!
[024:023] Then the moon shall be confounded, and the sun ashamed, when the LORD of hosts shall reign in mount Zion, and in Jerusalem, and before his ancients gloriously.

The above verse has three prophecies mentioned in it. First, it is referring to the miracle of moon splitting that Prophet Muhammad (SAW) performed and has mentioned earlier (see Glorious Qur’aan 54:1-3), the second thing that this verse is describing is the conquest of Khaiyber by Muslims. 

Khaiyber was a very the strong hold of Jews. The third thing in the same verse is about (Isra) Mera’aj (see Glorious Qur’aan 17:1, 60; 53: 10, 12, 14-18; 94:1). 

In other words this verse contains THREE prophecies about Prophet Muhammad. All three prophecies have come to pass!

Anak-anak sekolah minggu, apapun argumen kalian, maaf, rasanya masih agak mentah dan terlalu memaksakan kehendak agar diterima publik dengan mengetengahkan sentimen agama. 

Nampaknya argumen kalian BUKAN didasari niat yang [tidak perlu harus baik dan tulus] tapi cukup BENAR saja, untuk memberikan penghargaan yang pantas pada nalar dan logika berfikir setiap manusia sehat lahir bathin guna menememukan sendiri kebenarannya berdasarkan sedikit informasi yang Pak Bagus sajikan, i.e. manuskrip-manuskrip kuno tsb.

[Jika memang Raja-Raja tsb adalah palsu -- maka buktikanlah!] 

Tapi seperti sudah sejak awal Pak Bagus singgung, umat Islam hari ini sesunguhnya tidak mempunyai kepentingan yang sangat berarti pada bahasan ini karena salahsatu effek dari mukjizat itu terbukti sangat ampuh membuka mata hati hampir  2 milyar manusia di muka bumi hari ini, yang dengan amat yakin mengakui Allah adalah satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad saw sebagai salahsatu nabi-Nya. 

Tokh, sekali lagi, tujuan Allah menunjukkan segala mukjizat melalui nabi-nabi dan rasul-Nya - sejak peradaban manusia ini dimulai hingga jaman nabi Muhammad saw - tidak lain adalah untuk menunjukkan kepada umat manusia bahwa Allah itu ADA dan kepada-Nya lah kita semua harus bersujud!

Artinya, mari kita ganti kacamata masing-masing dalam melihat bahasan ini. Mana yang lebih substansial, mukjizatnya, atau efeknya? 

So, what gitu lho?

Sayangnya, masih ada ayat-ayat Al-Qur'an tentang mukjizat Nabi Muhammad SAW ini yang tampaknya luput dari pengamatan kalian, yakni yang berikut ini:

ÙˆَÙ‚َالُواْ Ù„َÙˆْلاَ Ù†ُزِّÙ„َ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ آيَØ©ٌ Ù…ِّÙ† رَّبِّÙ‡ِ Ù‚ُÙ„ْ Ø¥ِÙ†َّ اللّÙ‡َ Ù‚َادِرٌ عَÙ„َÙ‰ Ø£َÙ† ÙŠُÙ†َزِّÙ„ٍ آيَØ©ً ÙˆَÙ„َـكِÙ†َّ Ø£َÙƒْØ«َرَÙ‡ُÙ…ْ لاَ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُونَ

waqaaluu lawlaa nuzzila 'alayhi aayatun min rabbihi qul inna allaaha qaadirun 'alaa an yunazzila aayatan walaakinna aktsarahum laa ya'lamuuna

Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. An-Anaam[6]:37)

Dalam ayat di atas ada kalimat penting yang sangat mendasar, yakni bahwa sesungguhnya mukjizat SUDAH DIBERIKAN kepada Nabi Muhamad SAW, tetapi KEBANYAKAN ORANG KAFIR TIDAK MENGETAHUI! 

Lalu, apa sajakah mukjizat Nabi Muhammad SAW? Silahkan temukan sendiri di sini:



[Dari catatan Pak Bagus Eko Sudibyo Baskoro]

Contact Form

Name

Email *

Message *