Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Kematian. Show all posts
Showing posts with label Kematian. Show all posts

Wednesday, September 12, 2012

Arti "Mati" Menurut Ajaran Islam Wednesday, September 12, 2012


BANYAK ORANG yang mengira bahwa mati -- apalagi kehidupan setelah mati -- adalah suatu hal yang misterius, ghaib, dan tidak diketahui oleh siapa pun sebelum ia sendiri mati.

Mati seolah-olah dianggap sebagai sesuatu kejadian yang betul-betul berada di luar pengetahuan manusia, sehingga suatu ketika seorang debater kristen pernah mempertanyakan kebenaran dalil shahih dalam ajaran Islam yang menyebutkan, atau tepatnya MEMASTIKAN, benarkah semua ciptaan Allah akan mati untuk kemudian 'dibangkitkan' hidup kembali?

Seperti kebanyakan orang, nampaknya debater kristen ini pun termasuk yang belum mengetahui bahwa di dalam ajaran Islam, mati -- dan kehidupan setelah mati -- sesungguhnya merupakan pengetahuan yang sangat jelas bagi setiap muslim sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur'an dan Hadits-Hadits Rasulullah saw. 

Definisi Mati
Mati menurut pengertian secara umum adalah keluarnya Ruh dari jasad. Menurut ilmu kedokteran, seseorang dikatakan mati jika jantungnya sudah tidak berdenyut lagi dan seluruh kegiatan otaknya juga sudah berhenti.

Mati menurut Al-Qur’an adalah terpisahnya Ruh dari jasad -- kebalikan dari hidup, yaitu bertemunya Ruh dengan Jasad. Kita mengalami saat terpisahnya Ruh dari jasad sebanyak dua kali dan mengalami pertemuan Ruh dengan jasad sebanyak dua kali pula. Terpisahnya Ruh dari jasad untuk pertama kali adalah ketika kita masih berada di alam Ruh, ini adalah saat mati yang pertama. Seluruh Ruh manusia ketika itu belum memiliki jasad. Allah mengumpulkan mereka di alam Ruh dan berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (QS. Al-A’raaf 172)

Allah menciptakan tubuh manusia berupa janin di dalam rahim seorang ibu. Ketika usia janin mencapai 120 hari, Allah meniupkan Ruh yang tersimpan di alam Ruh itu ke dalam Rahim ibu. Tiba-tiba saja janin itu pun hidup, ditandai dengan mulai berdetaknya jantung sang janin. Itulah saat kehidupan manusia yang pertama kali. Selanjutnya ia akan lahir ke dunia berupa seorang bayi, kemudian tumbuh menjadi anak anak, remaja, dewasa, tua, hingga akhirnya datanglah saat untuk berpisah kembali dengan tubuh tersebut.

Ketika sampai waktu yang ditetapkan oleh Allah, maka atas kehendak dan izin-Nya, malaikat maut Izrail, akan mencabut (mengeluarkan) Ruh dari jasad. Itulah saat kematian yang kedua kalinya.

Alam Barzah
Allah menyimpan Ruh di alam barzakh, dan jasad yang akan hancur dikuburkan di dalam tanah. Pada hari berbangkit kelak, Allah akan menciptakan jasad yang utuh kembali, kemudian meniupkan Ruh yang berada di alam barzakh, masuk dan menyatu dengan tubuh yang baru diciptakan sebagaimana disebutkan dalam surat Yasin

[51] Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
[52] Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). 

Hari Pembalasan
Itulah saat kehidupan yang kedua kalinya, kehidupan yang abadi dan tidak akan ada lagi kematian sesudah itu. Pada saat hidup yang kedua kali inilah banyak manusia yang menyesal, karena telah mengabaikan peringatan Allah. Saat itulah mereka melihat sendiri akibat dari perbuatan mereka selama hidup yang pertama di dunia dahulu. Mereka berseru mohon pada Allah agar dizinkan kembali ke dunia untuk berbuat amal soleh, amal-amal yang berbeda dengan apa yang telah mereka kerjakan sebelumnya sebagaimana digambarkan antara lain:

Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" (QS. Ghafir 11)

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. (QS. As-Sajadah 12)

Itulah proses mati kemudian hidup, selanjutnya mati dan kemudian hidup kembali yang akan dialami oleh semua manusia dalam perjalanan hidupnya yang abadi dan tak terbatas. Proses ini juga disebutkan Allah dalam surat Al Baqaqrah:

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS. Al-Baqarah 28)

Demikianlah, definisi mati menurut Al-Qur’an adalah saat terpisahnya Ruh dari Jasad. Kita akan mengalami dua kali kematian dan dua kali hidup. Jasad hanya hidup jika ada Ruh, tanpa Ruh jasad akan mati dan musnah.

Ini berarti bahwa yang mengalami kematian dan musnah hanyalah jasad. Sedangkan Ruh tidak akan pernah mengalami kematian. Tak ada yang mengingkari hal itu termasuk kalangan atheis sekalipun. Namun yang namanya keimanan tak mandeg sebatas ini saja. Telah menjadi perkara mendasar dalam Islam, yakni keyakinan adanya alam setelah kematian, yakni alam barzakh, atau lazim disebut alam kubur.

Kematian Menurut Aqidah Islam
Kematian, dalam pandangan Islam, bukanlah ujung dari segala kehidupan makhluk. Syariat telah demikian gamblang menerangkan bahwasanya masih ada alam lain (alam barzakh kemudian alam akhirat) yang akan dilalui manusia pasca kematian. Maka, membincangkan alam kubur, jelas erat kaitannya dengan aqidah. Karena alam kubur adalah bagian dari hal ghaib yang tidak semua orang (termasuk sebagian umat Islam) mau meyakininya. Sebab nyatanya masih saja ada yang berlogika untuk mementahkan perkara aqidah ini. Seakan-akan segala hal bisa dilihat dari kacamata logika semata.

Sebagian lagi menolak dengan merangkum beragam syubhat (keraguan) yang kesudahannya adalah menolak hadits-hadits yang menerangkan tentang berbagai peristiwa di alam kubur.

Melogikakan alam kubur dan beragam peristiwa yang terjadi di dalamnya tentu saja hanya akan menimbulkan erosi akidah, yang ujung-ujungnya kita bisa meragukan bahkan menghampakan eksistensi Allah Ta'ala sebagai Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Islam telah menggarisbawahi dengan sangat tebal bahwa keimanan bukanlah atas dasar selera manusia sehingga ia bisa bebas memilih sekehendak hati. Di mana ia hanya mau menerima hal-hal yang masuk akal dan menolak hal-hal yang bertentangan dengan akal. Ia hanya mengimani hal-hal yang bisa "diendus" oleh panca indera sementara yang ghaib justru dia kufuri.

Renungan Bagi Yang Masih Hidup
Demikian juga dia hanya mau mempraktekkan syariat yang dianggapnya ringan sementara syariat yang (dalam anggapannya) berat – meski hukumnya wajib – justru ia tinggalkan. Hakikat keimanan dalam Islam, adalah pembenaran secara total terhadap segala kabar yang diberitakan Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang kemudian mewujud dalam praktek seluruh anggota tubuh, berupa ucapan maupun perbuatan. Sehingga bukan keimanan namanya jika ber-Islam hanya atas dasar eling (ingat) atau yang di kalangan sufi diistilahkan dengan tahap ma’rifat.

Di samping itu, jika setiap makhluk bisa menginderai hal-hal ghaib niscaya keimanan itu menjadi tiada harganya. Karena selain perkara itu bukan lagi merupakan hal ghaib, maka menjadi tidak dapat dibedakan lagi antara mukmin dan orang kafir. Karena semua orang akan dengan mudah mengimani itu semua.

Bagaimanapun, dunia dalam pandangan Islam hanyalah panggung ujian bagi setiap manusia yang pada gilirannya nanti akan mendapatkan nilai akhir dari seluruh hasil ujian masing-masing. Ajaran Islam dan logika manusia sendiri mengatakan bahwa mustahil ada dua orang, yang satu jahat sementara yang lain shalih, tatkala mati kemudian sama-sama selesai dengan begitu saja. Tak ada balasan dari kejelekan atau hukuman perbuatan buruk dan tak ada balasan atas segala kebaikan.

Tegasnya, tak ada tawar-menawar dalam setiap perkara yang memang telah digariskan syariat. Setiap muslim seyogianya terus menyempurnakan keimanan yang telah terpatri dalam sanubarinya, salah satunya dengan mengimani adanya kehidupan setelah mati.

Wallahu a'lam bis shawab.

Tuesday, September 28, 2010

Setiap Yang Hidup Pasti Akan Mati Tuesday, September 28, 2010



Menurut orang-orang yang bodoh, hal terburuk yang dapat terjadi pada seseorang adalah mati. Itulah yang paling menakutkan bagi mereka, yaitu mendekati kematian atau kehilangan seseorang yang mereka cintai. Bahkan, kematian adalah peristiwa yang sedapat mungkin dihindari, meskipun orang yang bodoh dapat mengetahui kebaikan dalam peristiwa tersebut. Baginya, kematian tak pernah menjadi hal yang baik.

Cara pandang masyarakat yang tidak beriman terhadap kematian adalah sama. Mereka tidak pernah dapat melihatnya dengan cara pandang yang berbeda. Kematian adalah benar-benar kebinasaan, sedangkan akhirat hanyalah semata-mata spekulasi.

Bagi orang-orang yang jauh dari kebenaran agama, kehidupan dunia ini adalah satu-satunya kehidupan. Dengan kematian, satu-satunya kesempatan telah berakhir. Inilah sebabnya, mereka menangisi hilangnya orang yang dicintainya. Parahnya, kematian orang yang dicintainya secara tiba-tiba di usia yang sangat muda, menjadi penyebab kemarahan mereka kepada Allah dan takdir.

Bagaimanapun juga, orang-orang tersebut melupakan kenyataan-kenyataan penting. 

Pertama, tak ada seorang pun di bumi ini yang mendapatkan semua yang diinginkan. Setiap kehidupan seseorang adalah milik Allah; setiap orang lahir di waktu yang telah ditakdirkan Allah sebelumnya dan sesuai kehendak Allah. Inilah sebabnya, Allah—yang kepada-Nya kembali segala sesuatu di langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya—dapat mengambil kembali jiwa siapa pun yang diinginkannya, kapan pun Dia menginginkannya.

Kedua, tak ada seorang pun yang dapat menunda ketentuan Allah. Hal ini dinyatakan di dalam Al-Qur`an, 

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَاباً مُّؤَجَّلاً وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ
مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
[wamaa kaana linafsin an tamuuta illaa bi-idzni allaahi kitaaban mu-ajjalan waman yurid tsawaaba alddunyaa nu/tihi minhaa waman yurid tsawaaba al-aakhirati nu/tihi minhaa wasanajzii alsysyaakiriina]
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran [3]: 145)

Tak peduli cara berhitung apa pun yang dipakai seseorang atau seaman apa pun tempat tinggalnya, ia tidak dapat menghindari kematian. Sebagaimana dinyatakan dalam salah satu sabda Nabi saw., “Jika Allah memutuskan bahwa seseorang akan mati di sebuah tempat, Allah membuatnya pergi ke tempat itu.” (Tirmidzi) 

Seseorang dapat pergi dari dunia ini kapan pun. Demikian pula orang yang menghindari kematian, tak peduli betapa kerasnya ia berjuang untuk tidak kehilangan orang yang dicintainya. Bahkan, jika segala daya upaya telah dilakukan, ia tidak dapat menghindari kematian. Orang tersebut akan menghadapi kematian di mana pun ia berada, sebagaimana disebutkan dalam ayat;

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِ اللّهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ كُلًّ مِّنْ عِندِ اللّهِ فَمَا لِهَـؤُلاء الْقَوْمِ لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيث 
[aynamaa takuunuu yudrikkumu almawtu walaw kuntum fii buruujin musyayyadatin wa-in tushibhum hasanatun yaquuluu haadzihi min 'indi allaahi wa-in tushibhum sayyi-atun yaquuluu haadzihi min 'indika qul kullun min 'indi allaahi famaali haaulaa-i alqawmi laa yakaaduuna yafqahuuna hadiitsaan]
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memeroleh kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini adalah dari sisi Allah,’ dan kalau mereka ditimpa suatu bencana mereka mengatakan, ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS an-Nisaa` [4]: 78)

Karena itu, solusinya bukan berusaha untuk menghindari kematian, tetapi bagaimana menyiapkan kehidupan untuk hari akhirat.

Kematian Adalah Awal, Bukan Akhir
Manusia yang miskin iman atau mereka yang tidak punya keimanan sedikit pun tentang akhirat, memiliki pandangan yang salah tentang kematian dan kehidupan setelah itu. Inilah sebabnya, sebagaimana disebutkan di awal, mereka percaya bahwa saat mereka kehilangan seseorang (karena kematian), mereka akan kehilangan untuk selamanya. Karena itu, menurut mereka, orang itu menyatu dengan tanah untuk sebuah kesia-siaan.

Sebaliknya, sebagian di antara mereka yang yakin akan kebenaran akhirat boleh saja menangisi kematian seseorang. Akan tetapi, Allah Mahaadil. Orang yang mati akan diberikan tabungan amalannya di dunia dan berdasarkan keputusan-Nya orang tersebut dibalas dengan kebaikan. Karena alasan itulah, bagi orang-orang yang memiliki keyakinan kepada Allah dan hari akhir-dan karena itu hidup mengabdi kepada Tuhannya-kematian adalah gerbang menuju kebahagiaan abadi. Akan tetapi, dari sudut pandang orang yang bodoh, yang menafikan akhirat dan meremehkan hari pembalasan, kematian adalah gerbang kesengsaraan abadi. 

Karena itu, sulit bagi mereka untuk menilai kematian sebagai suatu kebaikan. Bagi seorang muslim, kematian adalah awal dari sebuah kebebasan penuh.

Karena kematian dianggap sebagai hal terburuk yang dapat terjadi pada siapa pun, namun sebenarnya merupakan kebaikan bagi orang-orang beriman, maka reaksi mereka terhadap kematian dibedakan dengan jelas dari akhlaq atau sikap bodohnya akan hal itu. Sikap seorang mukmin terhadap kematian digambarkan dengan jelas dalam ayat;

وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ 
[wala-in qutiltum fii sabiili allaahi aw muttum lamaghfiratun mina allaahi warahmatun khayrun mimmaa yajma'uuna]
“Dan sungguh jika kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.” (QS Ali Imran [3]: 157)

Seperti halnya kehidupan, kematian seorang mukmin juga membawa kebaikan. 
Dalam pandangan Allah, tingkatan istimewa menanti seorang mukmin yang syahid saat berjuang karena-Nya, karena kesyahidan adalah sebuah kemuliaan dan berkah yang memperbanyak balasan yang akan didapatnya di akhirat. 

Kematian seorang mukmin yang menjadikan satu-satunya tujuan hidupnya adalah menggapai ridha Allah dan mendapatkan surga-Nya, adalah sebuah peristiwa yang agung. Dengan memahami kabar gembira yang dicantumkan di dalam Al-Qur`an ini, seorang mukmin tidak pernah menangisi kematian mukmin lainnya yang mati karena Allah. Sebaliknya, ia melihat kebaikan dan berkah dalam kematian itu, dan mereka bergembira. Sesungguhnya, balasan terbesar adalah mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya.

Seorang mukmin yang menghabiskan waktunya untuk melayani Allah akan dibalas dengan kebaikan. Contohnya Nabi Nuh a.s. yang diberi umur panjang oleh Allah. Karena manusia mulia ini berjuang di setiap detik kehidupannya, ia mendapatkan keridhaan Allah, kasih, dan surga-Nya. Usahanya dalam menambah balasan pahala di akhirat.

Sebaliknya, kaum yang kufur cenderung terjerumus ke dalam khayalan semu. Mereka mengira umur panjang adalah anugerah. Ayat di bawah ini menjelaskan kekeliruan tersebut.

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُواْ إِثْماً وَلَهْمُ عَذَابٌ مُّهِينٌ
[walaa yahsabanna alladziina kafaruu annamaa numlii lahum khayrun li-anfusihim innamaa numlii lahum liyazdaaduu itsman walahum 'adzaabun muhiinun]

"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya, Kami memberi tangguh kepada mereka supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS Ali Imran: 178)
Mereka yang menjadi bagian masyarakat bodoh yang menjadikan kesenangan sementara didunia ini satu-satunya tujuan hidupnya, menganggap umur yang panjang sebagai kesempatan untuk menikmati kesenangan dunia. Karena itu, mereka melupakan Allah dan hari pembalasan. Mereka tidak dapat menangkap nilai waktu yang mereka habiskan sia-sia. Bagaimanapun juga, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, waktu yang diberikan kepada mereka sebenarnya menghancurkan diri mereka sendiri.
Seseorang yang memikirkan hal ini akan memahami sepenuhnya bagaimana kita bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, sesuai dengan pernyataan Allah,

“Bisa jadi seseorang membenci sesuatu, padahal itu baik untuknya, dan mungkin seseorang mencintai sesuatu, padahal itu buruk untuknya.” - [Harun Yahya]

Friday, September 3, 2010

Detik Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah Saw Friday, September 3, 2010


Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Rasulullah dengan suara lemah memberikan khutbah terakhirnya:
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintaiku dan kelak, orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama denganku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu-persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, dada Umar naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba Rasulullah akan meninggalkan kita semua!” bisik hati para sahabat saat menangkap pandangan mata orang yang sangat mereka cintai.

Sosok mulia itu hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin terlihat saat Ali dan Fadhal dengan sigap memeluk Rasulullah yang terlihat sangat lemah ketika melangkah turun dari mimbar. Saat itu, jika saja mereka mampu, maka seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan berusaha keras menahan detik-detik yang berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalam, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan kening dan sekujur tubuh berkeringat membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang mengucapkan salam lalu meminta izin untuk masuk. “Bolehkah saya masuk?” pintanya dengan santun. Namun Fatimah yang menemui tamu ayahnya itu tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah wahai tuan, ayahku sedang sakit." kata Fatimah yang kemudian membalikkan badan dan menutup pintu kembali. "Tidak mengapa," kata tamu itu lagi dari balik pintu, "saya akan bersabar menunggu di sini sampai sahibul bait bersedia menemui tamunya." lanjutnya lembut. Lalu ia pun duduk di salahsatu sudut di depan rumah Rasulullah. Fatimah memperhatikannya sejenak, kemudian kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, “Siapakah yang datang itu, wahai anakku?”

“Tidak tahu, ayah. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lemah lembut. Mendengar itu Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian dari wajah anaknya itu ingin dikenangnya baik-baik.

“Ketahuilah, anakku. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut,” kata Rasulullah. "ijinkan ia masuk, dan katakan padanya bahwa aku sudah siap ... "

Mendadak hati Fatimah seakan luruh bagai gunung es yang tiba-tiba saja mencair. Namun sambil menahan ledakkan tangisnya, ia pun kemudian keluar mempersilakan sang tamu untuk masuk menemui ayahnya.

Saat melihat kedatangan tamunya itu, Rasulullah pun menanyakan mengapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Mendengar itu, maka atas ijin Allah SWT, dipanggilah Malaikat Jibril yang sebelumnya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan ruh kekasih Allah dan penghulu dunia itu di langit.

Setelah mengetahui bahwa Malaikat Jibril telah berada di ruangan itu, maka Rasulullah pun berkata, “Wahai Jibril, jelaskan padaku apa saja hakku nanti di hadapan Allah?” pintanya dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka. Para malaikat telah menanti ruhmu. Sedangkan semua pintu surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ya, Rasulullah!” kata Malaikat Jibril.

Tapi, jawaban Jibril itu rupanya belum memuaskan hati Rasul, matanya masih memancarkan kekhawatiran dan tanda tanya. “Tidakkah engkau senang mendengar kabar ini, ya, Rasulullah?” tanya Malaiakat Jibril.

Seakan tak mengindahkan pertanyaannya, Rasulullah kembali berucap, “Kabarkanlah padaku bagaimana nasib umatku kelak setelah aku tiada." pintanya.

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah. Aku mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Malaikat Jibril meyakinkannya. Mendengar itu Rasululullah pun kemudian diam.

Detik-detik kian mendekat hingga tibalah saatnya Izrail, sang Malaikat Maut, melakukan tugasnya. Setelah lebih dulu menanyakan kesiapan Rasul yang dijawab dengan isyarat sebagai tanda sudah, maka perlahan-lahan ruh Rasulullah pun ditarik oleh Malaikat Maut.

Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Wahai Izrail, betapa sakitnya sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Malaikat Jibril pun memalingkan muka. “Jijikkah engkau melihatku hingga memalingkan wajah, wahai Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup menyaksikan kekasih Allah meregang nyawa?” kata Jibril sambil terus berpaling. Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, sungguh dahsyat rasa sakaratul maut ini! Hamba mohon timpakanlah semua siksa maut ini kepadaku saja, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seperti hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii ...... !!!” Terdengar ucapan terakhir Rasulullah sangat lirih, dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinar kemuliaan kepada umat manusia itu.

Hari ini, dapatkah kita mencintainya seperti beliau mencintai kita?


Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi.

Betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya.



[Disadur dari Blog Wawasan]


Tuesday, July 27, 2010

Sang Pengunjung Terakhir Kita Tuesday, July 27, 2010



Tahukah engkau siapa pengunjung terakhirmu? Tahukah engkau apa tujuan ia berkunjung dan menemuimu? Apa saja yang akan dimintanya darimu?

Sungguh! Dia tidak datang karena menginginkan hartamu, karena ingin ikut makan dan minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak dapat dilakukannya sendiri!

Pengunjung ini datang untuk perkara penting dan terbatas dalam masalah yang sangat terbatas pula. Engkau dan keluargamu, bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan sanggup menolaknya dalam melaksanakan misinya tersebut!

Sekalipun engkau tinggal di istana yang menjulang tinggi, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang ekstra ketat, engkau tetap tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!

Untuk menemuimu, dia tidak memerlukan pintu masuk, izin, atau harus membuat perjanjian terlebih dahulu. Ia datang kapan saja,  dalam situasi dan kondisi seperti apa saja; saat engkau tengah disibukkan oleh segala urusanmu atau ketika engkau sedang santai, saat sedang sehat atau sedang sakit, saat engkau masih kaya atau sedang dalam kondisi melarat, ketika engkau sedang bepergian atau tengah berdiam di rumah. 

Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak terpengaruh oleh ratapan dan tangismu, bahkan oleh jeritanmu atau janji-janji dari siapapun yang selama ini kau jadikan pembelamu. Dia tidak akan memberimu kesempatan untuk meninjau kembali segala bentuk perhitunganmu, apalagi menangguhkan urusannya denganmu!

Andaikan engkau coba menyogoknya dengan berbagai hadiah yang melimpah-ruah sekalipun, ia tidak akan tergoda untuk menerimanya, sebab seluruh harta kekayaanmu, seberapa banyak pun itu, sama sekali tidak berarti apa-apa baginya dan karenanya semua itu tidak akan menyurutkan langkahnya untuk menuntaskan urusannya denganmu!

Dia hanya menginginkan dirimu, bukan orang lain yang ada di sekelilingmu! Dia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh raga atau bagian-bagian lain dari tubuhmu! Ia datang untuk membinasakanmu! Dia akan mematikanmu dengan cara mencabut nyawamu! Melumpuhkan dan menghancurkan seluruh kemampuan tubuhmu! Dialah malaikat maut!!!

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajadah [29]: 11)

Dan firman-Nya:
إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An'am [6]: 61)

Kereta Usia
Tahukah kalian bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kalian bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Kita adalah musafir yang hampir mencapai tujuannya dan tidak kuasa mengekang kendaraannya untuk berhenti

Tahukah kalian bahwa perputaran roda kehidupan sudah hampir terhenti dan 'kereta usia' sudah mendekati tujuan terakhirnya?

Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian sahabat atau kerabatrnya, lalu  berkata dalam hatinya, “Aneh, mengapa kaum yang akan menjadi musafir ini menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tujuan akhirnya?”

Berhati-hatilah!
Semoga engkau tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud oleh Allah ini:

فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ
“Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS. Muhammad [47]: 27)

Atau seperti dalam firman-Nya yang lain:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ فَأَلْقَوُاْ السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِن سُوءٍ بَلَى إِنَّ
اللّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَفَادْخُلُواْ أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS. An-Nahl [16]: 28-29)

Tahukah engkau bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?

Tahukah engkau setelah kunjungannya itu engkau tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka'at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?‘

Kontrak amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas segala kebaikan atau keburukanmu sebelum kedatangannya!

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِلَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا
إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ 
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu'minun [23]: 99-100)

Persiapkan Dirimu!
Apa saja yang sudah engkau persiapkan untuk bertemu Malaikat Maut? Seberapa siapkah engkau menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran segala amal baik dan burukmu, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah Al-Jabbar?

Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda,

“Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” [Muttafaqun 'alaih]

Tafakurlah di saat senggangmu, berpikirlah betapa singkat sesungguhnya masa hidupmu. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, baik pada masa sulit maupun senang, sepanjang waktu yang singkat ini untuk memenuhi segala kewajibanmu sebagai makhluk. Renungkanlah sebelum melakukan apa pun yang kelak akan dibacakan di hadapan Sang  Khalik dari setiap lembar amalmu dan menjadi penentu di mana kelak selamanya engkau akan menjalani kehidupan abadimu. 

Di mana harta benda yang selama ini kau kumpulkan? Apakah menurutmu semua itu dapat menyelamatkanmu dari huru-hara maha dahsyat yang sedang menantimu di tempat tujuan? Sungguh, sedikitpun tidak!

Engkau akan meninggalkan segala kesenangan dan kenikmatan dunia yang diberikan oleh seluruh harta bendamu itu pada orang-orang yang engkau sayangi, namun sama seperti yang terjadi padamu, semua itu juga tidak akan menolong mereka dari dahsyatnya huru-hara yang sedang menanti setiap anak manusia di alam sana! 




[Dari: Az-Zâ'ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih]

Monday, July 26, 2010

Mengingat Kematian Monday, July 26, 2010



Setiap jiwa pasti akan menemui ajalnya. Tiada satu jiwa pun yang kekal abadi hidup di dunia yang fana ini. Bila ajal telah tiba, tak ada yang bisa menghindar dan lari darinya. Bukan berarti kehidupan kita telah berakhir sampai disini. Tetapi telah berpindah dari alam fana ke alam berikutnya, yaitu alam kubur atau alam barzakh, yang termasuk salah satu bagian dari beriman kepada yaumil akhir (hari kemudian).

Para pembaca rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Yang membaguskan susunan ciptaan-Nya, Yang menciptakan langit dan bumi, mengatur rezeki dan makanan, Yang menghidupkan dan mematikan, serta Yang memberi pahala atas perbuatan-perbuatan baik. Shalawat dan salam bagi junjungan kita, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, pemilik mukjizat yang nyata, yang dari cahayanya diperoleh eksistensi segala ciptaan.


MENGINGAT KEMATIAN

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ
وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (QS Ali Imran [3]:185)

Tidak ada satu makhluk pun yang akan hidup kekal abadi selamanya. Semua makhluk yg bernyawa pastilah akan merasakan pedihnya kematian.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan".(QS Al-Ankabut [29]:57)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang membinasakan kelezatan.”

Maksudnya, dengan mengingatnya, tinggalkanlah kelezatan-kelezatan duniawi yang menautkan hati kita padanya hingga terputus anggota-anggota badan kita darinya. Kemudian, hadapkanlah diri Anda sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla.

Beliau SAW juga bersabda, “Kalaulah bintang liar mengetahui kematian sebagaimana halnya anak Adam, niscaya ia tidak akan berselera untuk makan sampai kenyang.” 

‘Aisyah, bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “Ya Rasulullah, adakah seseorang bisa berkumpul dengan para syuhada?”

Beliau SAW menjawab,“Ya, orang yang mengingat mati dua puluh kali dalam sehari semalam”.

Alasan keutamaan dari semua ini adalah karena mengingat mati akan menyebabkan seseorang menjauhkan diri dari kesenangan duniawi dan melakukan persiapan untuk kebahagiaan akhiratnya. Sedangkan lupa kepada kematian akan mengajak manusia kepada ketekunan dalam mereguk kesenangan duniawi yang melalaikan.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Seorang Mu’min adalah orang yang merasa asing di dunia, dan seorang zuhud adalah orang merasa asing di akhirat. Sedangkan orang yang ma’rifat adalah orang yang merasa asing terhadap segala sesuatu selain Allah SWT".

Hamba-hamba Allah yang arif dan waspada menyadari bahwa dunia yang fana ini adalah penjara bagi orang Mukmin, meskipun keluarganya bergelimang dengan harta dan menikmati kedudukannya, dan mereka tertawa dan bergembira di sekelilingnya, sesungguhnya bathin mereka merasa bagai berada dalam penjara. Kegembiraan tampak di wajahnya, tetapi hatinya berduka. Karena ia telah mengenal dunia, maka dunia itu telah ia ceraikan dari hatinya. Semula ia menthalaq dunia itu satu kali karena ia khawatir keadaannya akan berubah. Namun, manakala dibukakan baginya akhirat dan ia mendapatkan rezeki yang lebih baik, maka ia menthalaq dunia dua kali. Tetapi tampaknya dunia justru datang kepadanya dan memeluknya, lalu ia pun menthalaqnya tiga kali. Ia berdiri sepenuhnya bersama akhirat.

Ketika ia berdiri dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba bersinarlah cahaya Allah SWT., sehingga ia ceraikan pula akhirat. Dunia berkata kepadanya, “Mengapa engkau menceraikan aku?” Ia menjawab “Karena aku melihat yang lebih cantik dan lebih nikmat daripada kamu.”

Akhirat juga bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menceraikan aku?” Ia menjawab, ”karena kamu hanyalah gambar. Kamu bukanlah hakikat yang sebenarnya".

Ditempat lain Rasulullah SAW bersabda, "Persembahan orang Mukmin adalah bisa dipercaya”. 
Beliau mengatakan demikian karena dunia adalah penjara bagi orang Mukmin, sebaliknya dunia adalah surga bagi orang-orang kafir. Sebab, dunia itu senantiasa menjadi tempat untuk menahan kekerasan dirinya, mengendalikan syahwatnya, dan melawan setannya. Dengan demikian, kematian akan membebaskannya dari kesengsaraan ini, dan kebebasan itu merupakan persembahan baginya.
Beliau SAW juga bersabda,”Kematian adalah penebusan dosa bagi setiap Muslim”. Dengan ungkapan ini, yang dimaksudkan adalah seorang Muslim yang benar-benar taqwa.

Lihat artikel terkait di sini: 


[Dipetik dari Kitab: Mukasyafah al-Qulub, karangan Imam al-Ghazali].

Wednesday, June 30, 2010

Ziarah Kubur Dalam Bingkai As-Sunnah Wednesday, June 30, 2010





Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'aala yang telah menganugerahkan nikmat umur, yang merupakan nikmat yang paling mulia yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'aala.

Shalawat beserta salam semoga selalu dicurahkan Allah Subhanahu wa Ta'aala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya, para sahabatnya ridwaanulaahi ‘alahim ajma'in dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman dengan kebaikan.

ZIARAH KUBUR DALAM BINGKAI SUNNAH NABAWIYAH

Para Pembaca rahimakumullah,
Islam adalah agama yang paling mulia di sisi Allah , karena Islam dibangun diatas agama yang wasath (adil) diseluruh sisi ajarannya, tidak tafrith (bermudah-mudahan dalam beramal) dan tidak pula ifrath (melampaui batas dari ketentuan syari’at). Allah berfirman: 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ
"Dan demikian pula, Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan ” (QS Al Baqarah[2]: 143) 

Ziarah kubur termasuk ibadah yang mulia di sisi Allah bila dilandasi dengan prinsip wasath (tidak ifrath dan tidak pula tafrith). Tentunya prinsip ini tidak akan terwujud kecuali harus diatas bimbingan sunnah Rasulullah . Barangsiapa yang menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan satu-satunya, sungguh ia telah berjalan diatas hidayah Allah. 

Allah berfirman:
مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Dan jika kalian mentaati (nabi Muhammad ), pasti kalian akan mendapatkan hidayah (dari Allah).” (QS An-Nuur [24]: 54) 

Hikmah Dilarangnya Ziarah Kubur Sebelum Diizinkannya 
Dahulu Rasulullah melarang para sahabatnya untuk berziarah kubur sebelum disyari’atkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: 

“Sesungguhnya aku dahulu telah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah! Karena dengannya, akan bisa mengingatkan kepada hari akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian. Maka barangsiapa yang ingin berziarah maka lakukanlah, dan jangan kalian mengatakan ‘hujr’ (ucapan-ucapan batil).” [H.R. Muslim], dalam HR. Ahmad disebutkan: “dan janganlah kalian mengucapkan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah.” 

Al Imam An Nawawi berkata: “Sebab (hikmah) dilarangnya ziarah kubur sebelum disyari’atkannya, yaitu karena para sahabat di masa itu masih dekat dengan masa jahiliyah, yang ketika berziarah diiringi dengan ucapan-ucapan batil. Setelah kokoh pondasi-pondasi Islam dan hukum-hukumnya serta telah tegak simbol-simbol Islam pada diri-diri mereka, barulah disyari’atkan ziarah kubur. (Al Majmu’: 5/310)

Tidak ada keraguan lagi, bahwa amalan mereka di zaman jahiliyah yaitu berucap dengan sebatil-batilnya ucapan, seperti berdo’a, beristighotsah, dan bernadzar kepada berhala-berhala/patung-patung di sekitar Makkah ataupun di atas kuburan-kuburan yang dikeramatkan oleh mereka. 

TUJUAN DISYARI'ATKANNYA ZIARAH KUBUR 

Para pembaca, marilah kita perhatikan hadits-hadits dibawah ini:

1. Hadits Buraidah bin Hushaib, Rasulullah bersabda:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِياَرَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهاَ فَإِنَّهاَ تُذَكِّرُكُمُ اْلآخِرَةَ وَلْتَزِدْكُمْ زِياَرَتُهاَ خَيْرًا
“Sesungguhnya aku dahulu telah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah karena akan bisa mengingatkan kalian kepada akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian.” (HR. Muslim)

Dari sahabat Buraidah juga, beliau berkata: “Rasulullah telah mengajarkan kepada para sahabatnya, bilamana berziarah kubur agar mengatakan: 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ 
لاَحِقُوْنَ أَنْتُمْ لَنَا فرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ وَأَسْأَلُ اللهَ لَنَا لَكُمُ الْعَافِيَةِ
“Assalamu’alaikum wahai penduduk kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Kami Insya Allah akan menyusul kalian. Kalian telah mendahului kami, dan kami akan mengikuti kalian. Semoga Allah memberikan ampunan untuk kami dan kalian.”(HR. Muslim 3/65) 

2. Hadits Abu Sa’id Al Khudri dan Anas bin Malik: 

فَزُوْرُوْهاَ فَإِنّ فِيهَا عِبْرَةً (وِفِي رِوَايَةِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: 
تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ) 
“Sekarang berziarahlah ke kuburan karena sesungguhnya di dalam ziarah itu terdapat pelajaran yang besar…" . Dalam riwayat sahabat Anas bin Malik disebutkan: "… karena dapat melembutkan hati, melinangkan air mata dan dapat mengingatkan kepada hari akhir.” [H.R Ahmad 3/37-38, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal: 228]. 

3. Hadits ‘Aisyah: 
“Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah keluar menuju kuburan Baqi’ lalu beliau mendo’akan kebaikan untuk mereka. Kemudian ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang perkara itu. Beliau SAW berkata: “Sesungguhnya aku (diperintahkan oleh Allah) untuk mendo’akan mereka. [HR. Ahmad 6/252 dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani , lihat Ahkamul Janaiz hal. 239]

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah bertanya: “Apa yang aku ucapkan untuk penduduk kubur? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Ucapkanlah:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ 
الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالمُسَتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ 
“Assalamu’alaikum wahai penduduk kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang mendahului kami ataupun yang akan datang kemudian. Dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.” [HR. Muslim hadits no. 974]

Dari hadits-hadits di atas, kita dapat mengetahui kesimpulan-kesimpulan penting tentang tujuan sebenarnya dari ziarah kubur: 

Memberikan manfaat bagi penziarah kubur yaitu untuk mengambil ibrah (pelajaran), melembutkan hati, mengingatkan kematian dan mengingatkan tentang akan adanya hari akhirat. 

Memberikan manfaat bagi penghuni kubur, yaitu ucapan salam (do’a) dari penziarah kubur dengan lafadz-lafadz yang terdapat pada hadits-hadits di atas, karena inilah yang diajarkan oleh Nabi , seperti hadits Aisyah dan yang lainnya. 

Bilamana ziarah kubur kosong dari maksud dan tujuan tersebut, maka itu bukanlah ziarah kubur yang diridhoi oleh Allah . Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan: “Semuanya menunjukkan tentang disyariatkannya ziarah kubur dan penjelasan tentang hikmah yang terkandung padanya yaitu agar dapat mengambil ibrah (pelajaran). Apabila kosong dari ini (maksud dan tujuannya) maka bukan ziarah yang disyariatkan.” (Lihat Subulus Salam, 2/162) 

Catatan Penting Bagi Penziarah Kubur 

Pertama: Menjauhkan hujr yaitu ucapan-ucapan batil. Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam: 

“… maka barangsiapa yang ingin berziarah maka lakukanlah dan jangan kalian mengatakan ‘hujr’ (ucapan-ucapan batil).” [H.R. Muslim], dalam HR. Ahmad disebutkan: “…dan janganlah kalian mengucapkan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah.” 

Berbicara realita sekarang, maka sering kita jumpai para penziarah kubur yang terjatuh dalam perbuatan ini. Mereka mengangkat kedua tangannya sambil berdo’a kepada penghuni kubur (merasa belum puas/khusyu’) mereka sertai dengan sujud, linangan air mata (menangis), mengusap-usap dan mencium kuburannya. Tidak sampai disini, tanah kuburannya dibawa pulang sebagai oleh-oleh keluarganya untuk mendapatkan barakah atau sebagai 'penolak bala’. 

Adakah perbuatan yang lebih besar kebatilannya di hadapan Allah dari perbuatan ini? 
Padahal tujuan diizinkannya ziarah kubur -sebagaimana yang telah disebutkan- adalah untuk mendo’akan penghuni kubur, dan bukan berdo’a kepada penghuni kubur.

Kedua: Tidak menjadikan kuburan sebagai masjid. 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

اللهمَّ لاَتَجْعَل قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai watsan (sesembahan selain Allah), sungguh amat besar sekali kemurkaan Allah terhadap suatu kaum yang menjadikan kuburan-kuburan para nabi sebagai masjid-masjid.” [HR. Ahmad]

Jika demikian, bagaimana besarnya kemurkaan Allah kepada orang yang menjadikan kuburan selain para nabi sebagai masjid? Makna menjadikan kuburan sebagai masjid mencakup mendirikan bangunan masjid di atasnya ataupun beribadah kepada Allah di sisi kuburan. Maka dari itu, tidak pernah dijumpai para sahabat Nabi meramaikan kuburan dengan berbagai jenis ibadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, atau jenis ibadah yang lainnya. Karena pada dasarnya perbuatan itu adalah terlarang, lebih tegas lagi larangan tersebut ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لاَتَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan dan jangan pula kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat yang selalu dikunjungi. Karena di manapun kalian bershalawat untukku, niscaya akan sampai kepadaku.” [HR. Abu Dawud]

Ketiga: Tidak melakukan safar (perjalanan jauh) dalam rangka ziarah kubur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لاَ تَشُدُّوا الرِّحاَلَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَساَجِدَ. مَسْجِدِي هَذاَ وَالْمَسْجِدِ الْحَراَمِ وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى
“Jangan kalian bepergian mengadakan safar (dengan tujuan ibadah) kecuali kepada tiga masjid: masjidku ini, Masjid Al-Haram, dan Masjid Al-Aqsha.” [HR. Al-Bukhari No. 1139 dan HR. Muslim No. 415]

Ziarah ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar merupakan amalan mustahabbah (dicintai) dalam agama ini, namun dengan syarat tidak melakukan safar semata-mata dengan niat ziarah. Sehingga salah kaprah anggapan orang bahwa safar ke masjid An Nabawi atau safar ke tanah Suci (Masjidil Haram) hanya dalam rangka berziarah ke kubur Nabi dan tidak dibenarkan pula safar ke tempat-tempat napak tilas para nabi dengan niat ibadah, sebagaimana penegasan hadits di atas tidak bolehnya mengadakan safar dalam rangka ibadah kecuali ke tiga masjid saja.

Al Imam Ahmad meriwayatkan tentang kejadian Abu bashrah Al Ghifari yang bertemu Abu Hurairah. Beliau bertanya kepada Abu bashrah: “Dari mana kamu datang? Abu bashrash menjawab: “Aku datang dari Bukit Thur dan aku shalat di sana.” Berkata Abu Hurairah: “Sekiranya aku menjumpaimu niscaya engkau tidak akan pergi ke sana, karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Jangan kalian bepergian mengadakan safar (dengan tujuan ibadah) kecuali kepada tiga masjid: masjidku ini, Masjid Al-Haram, dan Masjid Al-Aqsha.”

Adapun hadits-hadits yang beredar di masyarakat seperti:

مَنْ زَارَ قَبْرِي فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي
“Barang siapa yang berziarah ke kuburanku, niscaya baginya akan mendapatkan syafaatku.”

مَنْ زَرَانِي وَ زَارَ أَبِي فِي عَامٍ وَاحِدٍ ضَمِنْتُ لَهُ عَلَى اللهِ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa berziarah ke kuburanku dan kuburan bapakku pada satu tahun (yang sama), aku menjamin baginya Al Jannah.”

مَنْ حَجَّ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي
“Barangsiapa berhaji dalam keadaan tidak berziarah ke kuburanku, berarti ia meremehkanku”

Ketiga hadits yang beredar di tengah masyarakat tsb dho’if (lemah) bahkan maudhlu’ (palsu), sehingga tidak diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari, Imam Muslim, tidak pula oleh Ashabus-Sunan; Abu Daud, An-Nasai’ dan selain keduanya, tidak pula oleh Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ats-Tsauri, Al-Auzai’, Al-Laitsi dan lainnya dari para imam-imam ahlu hadits. (lihat Majmu’ Fatawa 27/29-30).

Keempat: Tanah kubur Nabi tidaklah lebih utama dibanding Masjid Nabawi.
Tidak ada satu dalil pun dari Al Qur’an, As Sunnah ataupun perkataan dari salah satu ulama salaf yang menerangkan bahwa tanah kubur Nabi lebih utama dibanding Masjidil Haram, Masjid Nabawi atau Masjidil Aqsha. Hanyalah pernyataan ini berasal dari Al Qadhi Iyadh. Segala pernyataan yang tidak dilandasi dengan Al Qur’an ataupun As Sunnah sangat perlu dipertanyakan, apalagi tidak ada seorang pun dari ulama yang menyatakan demikian. (Lihat Majmu’ Fatawa 27/37)

Kelima: Tidak mengkhususkan waktu tertentu baik hari ataupun bulan. Karena tidak ada satu nash pun dari Al-Qur’an, As-Sunnah ataupun amalan para sahabat nabi yang menjelaskan keutamaan waktu tertentu untuk ziarah.

Keenam: Tidak diperbolehkan jalan ataupun duduk diatas kubur. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ِثيَابَهُ فَتُخْلِصَ 
إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجِلِسَ عَلَى قَبْرٍ
“Sungguh jika salah seorang diantara kalian duduk di atas bara api, sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, lebih baik baginya daripada duduk di atas kubur”. [HR. Muslim 3/62]

لأَنْ أَمْشِي عَلَى جَمْرَةٍ أَوْ سَيْفٍ أو أَخْصِفَ نَعْلِي بِرِجْلِي أَحَبُّ 
إلَيَّ مِنْ أَن أَمْشِيَ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ
“Sungguh aku berjalan di atas bara api, atau (tajamnya) sebilah pedang, ataupun aku menambal sandalku dengan kakiku, lebih aku sukai daripada aku berjalan di atas kubur seorang muslim.” [HR. Ibnu Majah dan selainnya]




Monday, June 28, 2010

Dahsyatnya Sakaratul Maut Monday, June 28, 2010




Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat rahmah-Nya yang sempurna, senantiasa memberikan berbagai peringatan dan pelajaran, agar hamba-hamba-Nya yang berbuat kemaksiatan dan kezaliman bersegera untuk meninggalkannya dan kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beriman akan bertambah sempurna keimanannya dengan peringatan dan pelajaran tersebut.

Namun, berbagai peringatan dan pelajaran baik berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah tadi tidak akan bermanfaat kecuali bagi orang-orang yang beriman.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ 
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Adz-Dzariyat[51]: 55)

Di antara sekian banyak peringatan dan pelajaran, yang paling berharga adalah tatkala seorang hamba dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan sakaratul maut yang menimpa saudaranya. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ
“Tidaklah berita itu seperti orang yang melihat langsung.” [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma] (Lihat Ash-Shahihah no. 135)


Tatkala ajal seorang hamba telah sampai pada waktu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan, dengan sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan, pasti dia akan merasakan dahsyat, ngeri, dan sakit yang luar biasa karena sakaratul maut, kecuali hamba-hamba-Nya yang Allah Subhanahu wa Ta’ala istimewakan. Mereka tidak akan merasakan sakaratul maut kecuali sangat ringan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS Qaf[50]: 19)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya kematian ada masa sekaratnya.” [HR. Al-Bukhari]

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmah-Nya telah memberitahukan sebagian gambaran sakaratul maut yang akan dirasakan setiap orang, sebagaimana diadakan firman-Nya:

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ. وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ. وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ. فَلَوْلَا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ. تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di tenggorokan, padahal kamu ketika itu melihat, sedangkan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (QS Al-Waqi’ah[56]: 83-87)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Maka ketika nyawa sampai di tenggorokan’, hal itu terjadi tatkala sudah dekat waktu dicabutnya. ‘Padahal kamu ketika itu melihat’, dan menyaksikan apa yang dia rasakan karena sakaratul maut itu. ‘Sedangkan Kami (para malaikat) lebih dekat terhadapnya (orang yang akan meninggal tersebut) daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat mereka’ (para malaikat). Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan: Bila kalian tidak menginginkannya, kenapa kalian tidak mengembalikan ruh itu tatkala sudah sampai di tenggorokan dan menempatkannya (kembali) di dalam jasadnya?” [Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 4/99-100]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ. وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ. وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ. 

وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ. إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ
“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu lah pada hari itu kamu dihalau.” (QS Al-Qiyamah[75]: 26-30)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Ini adalah berita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang keadaan orang yang sekarat dan tentang apa yang dia rasakan berupa kengerian serta rasa sakit yang dahsyat (mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan kita dengan ucapan yang teguh, yaitu kalimat tauhid di dunia dan akhirat). Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwasanya ruh akan dicabut dari jasadnya, hingga tatkala sampai di tenggorokan, dia meminta tabib yang bisa mengobatinya. Siapa yang bisa meruqyah? Kemudian, keadaan yang dahsyat dan ngeri tersebut disusul oleh keadaan yang lebih dahsyat dan lebih ngeri berikutnya (kecuali bagi orang yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala). Kedua betisnya bertautan, lalu meninggal dunia. Kemudian dibungkus dengan kain kafan (setelah dimandikan). Mulailah manusia mempersiapkan penguburan jasadnya, sedangkan para malaikat mempersiapkan ruhnya untuk dibawa ke langit.

Setiap orang yang beriman akan merasakan kengerian dan sakitnya sakaratul maut sesuai dengan kadar keimanan mereka. Sehingga para Nabi ‘alaihimussalam adalah golongan yang paling dahsyat dan pedih tatkala menghadapi sakaratul maut, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ
“Sesungguhnya manusia yang berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya.” [Lihat Ash-Shahihah no. 132]. 

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
فَلَا أَكْرَهُ شِدَّةَ الْمَوْتِ لِأَحَدٍ أَبَدًا بَعْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم
“Aku tidak takut (menyaksikan) dahsyatnya sakaratul maut pada seseorang setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Al-Bukhari no. 4446]

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama rahimahumullah mengatakan bahwa apabila sakaratul maut ini menimpa para nabi, para rasul r, juga para wali dan orang-orang yang bertakwa, mengapa kita lupa? Mengapa kita tidak bersegera mempersiapkan diri untuk menghadapinya"?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ. أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ
“Katakanlah: ‘Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling darinya’.” (QS Shad[38]: 67-68)

Apa yang terjadi pada para nabi ‘alaihimussalam berupa pedih dan rasa sakit menghadapi kematian serta sakaratul maut, memiliki dua faedah:

PERTAMA: Agar makhluk mengetahui kadar sakitnya maut, meskipun hal itu adalah perkara yang tidak nampak. Terkadang, seseorang melihat ada orang yang meninggal tanpa adanya gerakan dan jeritan. Bahkan dia melihat sangat mudah ruhnya keluar. Alhasil, dia pun menyangka bahwa sakaratul maut itu urusan yang mudah. Padahal dia tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dirasakan oleh orang yang mati. Maka, tatkala diceritakan tentang para nabi yang menghadapi sakit karena sakaratul maut –padahal mereka adalah orang-orang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pula yang meringankan sakitnya sakaratul maut pada sebagian hamba-Nya– hal itu akan memupus anggapan bahwa dahsyatnya sakaratul maut yang dirasakan dan dialami oleh mayit itu benar-benar terjadi –selain pada orang syahid yang terbunuh di medan jihad–, karena adanya berita dari para nabi ‘alaihimussalam tentang perkara tersebut [1].

KEDUA: Kadang-kadang terlintas di dalam benak sebagian orang, para nabi adalah orang-orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana bisa mereka merasakan sakit dan pedihnya perkara ini? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk meringankan hal ini dari mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَمَّا إِنَّا قَدْ هَوَّنَّا عَلَيْكَ
“Adapun Kami sungguh telah meringankannya atasmu.”

Maka jawabannya adalah:
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ بَلَاءً فِي الدُّنْيَا الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Sesungguhnya orang yang paling dahsyat ujiannya di dunia adalah para nabi, kemudian yang seperti mereka, kemudian yang seperti mereka.” (Lihat Ash-Shahihah no. 143.)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menguji mereka untuk menyempurnakan keutamaan-keutamaan serta untuk meninggikan derajat mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu bukanlah kekurangan bagi mereka dan bukan pula azab. (At-Tadzkirah, hal. 25-26)

Malaikat yang Bertugas Mencabut Ruh
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan yang sempurna menciptakan malakul maut (malaikat pencabut nyawa) yang diberi tugas untuk mencabut ruh-ruh, dan dia memiliki para pembantu sebagaimana firman-Nya:
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu’ kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan.” (QS As-Sajdah[32]: 11)

Asy-Syaikh Abdullah bin ‘Utsman Adz-Dzamari berkata: “Malakul maut adalah satu malaikat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri tugas untuk mencabut arwah hamba-hamba-Nya. Namun tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa nama malaikat itu adalah Izrail. Nama ini tidak ada dalam Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga tidak ada di dalam Sunnah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menamainya malakul maut, sebagaimana firman-Nya:
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ
“Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu’.” (QS As-Sajdah [32]: 11)

Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi rahimahullahu berkata: “Ayat ini tidak bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ. ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (Al-An’am: 61-62)

Karena malakul maut yang bertugas mencabut ruh dan mengeluarkan dari jasadnya, sementara para malaikat rahmat atau para malaikat azab (yang membantunya) yang bertugas membawa ruh tersebut setelah keluar dari jasad. Semua ini terjadi dengan takdir dan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, (maka penyandaran itu sesuai dengan makna dan wewenangnya).” [Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 602]

Para pembaca rahimakumullah,
"Roh orang beriman iu keluar dari jasadnya sebagaimana rambut yang keluar dari adonan roti " ( Al-Hadits).

Sedangkan rasa sakit sakaratul maut bagi orang beriman adalah nikmat kelak diakhirat. Sebab dgn KESABARAN & KEIKHLASAN dalam menanggung derita sakit itu, maka dengan rahmat-Nya, dosa-dosanya hamba-Nya itu akan terhapuskan. Walahu A'lam.

Rasulullah Saw bersabda:" Maut dapat menghapus dosa-dosa orang muslim " [HR.Imam Abu Na'im,dari Anas r.a].

Dan kematian mendadak (misal kecelakaan langsung mati) adalah kenikmatan bagi orang beriman,dan hukuman bagi orang kafir. [HR.Imam Tirmidzi].

Di mana kesakitan dalam sakaratul maut membuktikan masih membekasnya dosa-dosa dalam hati, kemudian dosa-dosa itu dihapus ketika sakaratul maut diiringkan dengan rasa sakit yang bukan alang kepalang dahsyatnya.

Allah Azza wa Jalla-lah yg mentakdirkan seseorang menjadi orang-baik-baik, shalihin-shalihah, calon akhli surga, dan dengan rahmat-Nya, maka dihapus segala dosa-dosa di dalam ujian kematian anaknya, suami, istri,orang tua , dan cobaan penyakit atau dgn sulitnya mencari rezeki.

Semua ini adalah rahmat Allah SWT yang menjadikan semua musibah tersebut yang disikapi sengan sepenuh ikhlas dan kesabaran, menjadi sarana bagi penghapus dosa -dosa seseorang.
Dalam Hadits Qudsi disebutkan:
"Kalau sekiranya masih ada sisa-sisa dosa, maka AKU letakkan rasa sakit ketika sakaratul maut, sehingga ketika dia menemui-AKU (Allah), sudah dalam keadaan bersih layaknya anak yang baru dilahirkan dari rahim ibunya"

Subhanallah,
Alhamdulillah,
wala illaha ilallah,
walahu Allahu Akbar!



[Dari: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan |  asysyariah.com ]

CATATAN KAKI
[1]. Beliau mengisyaratkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَشِّ الْقَتْلِ إِلاَّ كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَشِّ الْقُرْصَةِ
“Orang yang mati syahid tidaklah mendapati sakitnya kematian kecuali seperti seseorang yang merasakan sakitnya cubitan atau sengatan.” [HR. At-Tirmidzi]



Contact Form

Name

Email *

Message *