Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Wednesday, July 18, 2012

Kedudukan dan Peran Ulama Perempuan Wednesday, July 18, 2012

Mengapresiasi Kembali Kedudukan 
dan Peran Ulama Perempuan


“Ambillah setengah urusan agama kalian dari Humairah“ 
(Hadis At Tirmidzi)



Pada zamannya, Aisyah ra. yang memiliki julukan Humairah dikenal sebagai perempuan yang sangat cerdas. Begitu cerdasnya, hingga Rasulullah sendiri memberikan kepercayaannya kepadanya untuk memberikan jawaban atas sebagian dari masalah umat. Sejarah mencatat ada 1.210 hadis Rasulullah diriwayatkan oleh Aisyah ra. Dan sekitar 300 diantaranya bahkan telah diriwayatkan kembali secara bersama oleh ahli hadis Al Bukhari dan Muslim.(Lihat Imam Badruddin Az-Zarkasyi, Aisyah Mengkoreksi Para Sahabat, halaman 50).

Sayangnya, beberapa abad setelah nabi wafat, posisi sosial perempuan yang semula membaik kembali mengalami krisis. Alih-alih stabil secara sosial, posisi perempuan malah berbalik kembali ke nilai-nilai pra Islam. Selain masalah menguatnya lagi tribalisme (rasa kesukuan) Arab, pasca Nabi, Fatimah Mernisi memvonis adanya pelepasan historis bentuk pemahaman ajaran agama terhadap perempuan. Akibatnya sangat jelas, patriarki kembali memberi pengaruh kuat dalam menafsirkan ajaran Islam. “Perempuan kembali tidak dipercaya,” demikian tulis Mernisi dalam Women in Islam.

Martin Van Bruinessen memiliki cerita menarik (namun ironik) dari kisah ketidakpercayaan itu. Di Banjarmasin, ada sebuah kitab kuning bernama Perukunan Jamaluddin. Kitab tersebut membahas beberapa hal yang berhubungan dengan perempuan, seperti masalah haid dan tata cara bersuci bagi seorang perempuan setelah masa haid atau nifasnya selesai. Tapi uniknya, orang Banjarmasin tahu kitab ini bukan ditulis oleh Jamaluddin putra Arsyad al-Banjari melainkan oleh seorang cucu perempuan dari Syeikh Arsyad al-Banjari yang bernama Fatimah. Karena ketidaklaziman akan kemampuan seorang perempuan, masyarakat Banjarmasin sebagian besar tidak bisa menerima Fatimah sebagai penulis kitab fiqh perempuan yang telah memiliki perspektif perempuan itu.

Kisah seperti Fatimah di atas, masih banyak kita jumpai dalam keseharian kita. Betapa sering kita saksikan bahwa ulama perempuan dengan kapasitas keilmuan dan tingkat penyampaian yang sama, tetap memiliki perbedaan pengakuan di mata ummat. Penamaan ulama laki-laki sebagai Kyai, Tuan Guru, Tengku; sementara perempuan sebatas Bu Nyai atau Ustadzah memberi konsekuensi berbeda. Seorang ulama laki-laki dapat memimpin pesantren, memangku jabatan sebagai ketua ormas keagamaan Islam atau Majelis Ulama dan memimpin tabligh akbar, istighosah maupun majelis dzikir yang dihadiri ribuan jama’ah; sementara perempuan sebatas menjadi pendamping Pak Kyai yang notabene urusan domestik pesantren ataupun paling banter memimpin majelis ta’lim tingkat kampung, dan ada juga Nyai yang memimpin Pesantren putri. Hal ini tentu saja berimplikasi pada pengakuan publik, legitimasi politik, atau yang terkadang sungkan untuk disebut implikasi sosial-ekonomi akibat peran ini.

Situasi seperti di atas, tentunya tidak harus terus terjadi. Sebab minimnya peran maupun ketidaksiapan masyarakat untuk memberikan pengakuan (baca : ulama) perempuan dalam upaya menafsirkan teks-teks dalam Islam akan berimbas kepada makin terpuruknya posisi perempuan Islam dalam dominasi patriarkhi. Karena itu, memunculkan ulama-ulama dari kalangan perempuan adalah sebuah urgensitas yang memiliki tujuan mulia dan harus dilestarikan. Perempuan pernah memiliki peran dalam sejarah perkembangan Islam, jadi apa salahnya jika kita menagihnya kembali?

Ulama Sebagai Tonggak Agama
Ulama merupakan sosok yang sangat strategis dalam Islam. Dalam banyak hal, mereka dipandang menempati kedudukan dan otoritas keagamaan setelah Nabi Muhammad sendiri. Salah satu hadis bahkan menyatakan “ulama merupakan pewaris para Nabi” (Al-’ulama ’waratsah al-anbiya’). Wajar jika dalam Islam, posisi mereka dihormati. Pendapat mereka juga dianggap mengikat dalam berbagai masalah, bukan hanya menyangkut masalah ibadah semata tapi juga aspek kehidupan sehari-hari. Signifikansi peran ulama dalam Islam terletak pada kenyataan bahwa mereka dipandang sebagai penafsir-penafsir yang sah dari sumber-sumber asli ajaran Islam, yakni Alquran dan hadis. Selain memiliki pengetahuan agama yang mendalam dan ketinggian ahlak, para ulama bergerak pada berbagai kegiatan sosial.

Istilah ulama sendiri merupakan bentuk jamak dari kata benda (fa’il) bahasa Arab ’alim’, berasal dari kata kerja ’alima’ yang berarti “mengetahui” atau “berpengetahuan tentang”. Sedangkan ’alim’ adalah seseorang yang memiliki atribut ’ilm sebagai suatu kekuatan yang berakar kuat dalam ilmu pengetahuan seseorang yang sangat terpelajar dalam ilmu pengetahuan dan literatur. Singkatnya ulama adalah para pemilik ’ilm.

Begitu “agungnya” kedudukan ulama, sehingga tidak semua orang bercita-cita ingin menjadi ulama. Dalam pemikiran mayoritas mayarakat kita, ketika mendengar kata ulama yang ada dalam bayangan mereka adalah; orang suci, ahli agama, dan sudah pasti berjenis kelamin laki-laki. Padahal jauh saat masa Nabi, sejarah membuktikan bahwa perempuan pun ternyata bisa berkiprah menjadi seorang ulama.

Ulama Perempuan di Zaman Nabi Muhammad saw
Perlakuan yang ditunjukkan oleh Nabi terhadap kaum perempuan pada masa awal Islam sungguh-sungguh berbeda dengan perlakuan masyarakat Arab pra Islam. Semula perempuan dianggap mahluk Tuhan yang hina, bahkan dalam strata sosial, derajat perempuan menempati urutan paling bawah. Sehingga wajar bila saat itu pendidikan kaum hawa sangat tidak diperhatikan. Pada masa Nabi posisi perempuan justru mengalami mobilitas vertikal. Gerak perempuan dan kesempatan mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang, khususnya bidang keulamaan atau keilmuan terbuka luas. Sumbangan perempuan bahkan sangat signifikan dalam upaya transformasi masyarakat ke arah yang lebih egaliter.

Pada saat itu, perempuan memiliki peran dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, termasuk yang berkaitan dengan urusan publik. Itu terjadi disebabkan ajaran Islam dijalankan secara konsekuen. Soal pendidikan misalnya, Nabi Muhammad tidak pernah membuat garis perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Seperti yang pernah diucapkannya dalam sebuah hadis: “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim (lelaki maupun perempuan)” (Riwayat Ibn Majah, al-Baihaqi dan ibn Abd al-Barr).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Aisyah pernah memuji semangat para perempuan Anshar dalam menuntut ilmu. “Perempuan terbaik adalah mereka dari Anshar, mereka tidak pernah malu untuk selalu belajar agama,” katanya. (Lihat dalam Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’I). Pendidikan membuat perempuan di masa Nabi menjadi bagian dari sebuah masyarakat yang kritis. Sebagai ilustrasi, ummul mu’minin Ummu Salamah pernah mempertanyakan posisi kaumnya dalam Alquran, “Kami telah menyatakan beriman kepada Islam, dan melakukan hal-hal sebagaimana engkau lakukan. Jadi mengapa hanya kalian lelaki saja yang disebut dalam Alquran, sementara perempuan tidak?” Maka sejak itu sebutan untuk kaum muslimin secara umum dalam Alquran berubah menjadi ‘muslimin wa ‘l-muslimat.

Aisyah ra. (wafat pada 678 M) bisa disebut sebagai representasi ulama perempuan di masa Nabi. Dia dikenal sebagai perempuan yang memiliki pengetahuan luas dalam bidang hadis, fiqh, sejarah, tafsir, dan ilmu astronomi. Aisyah ra. yang diberi gelar Ummu al-Mu’minin (ibu orang-orang beriman) adalah seorang perempuan yang memiliki pemikiran cerdas sejak muda. Banyak ilmu dari Nabi yang diserap langsung oleh Aisyah. Tidak aneh jika kemudian dia menjadi tempat bertanya bagi banyak sahabat dan menjadi guru para tabiin.

Ulama Perempuan Pasca Nabi Muhammad saw
Sepeninggal Nabi Muhammad saw., zaman bergeser. Marginalisasi kembali dialami kaum perempuan. Menurut Fatimah Mernisi, Umar ibn Khattab adalah salah seorang khalifah yang harus bertanggungjawab terhadap proses ini. Umar sepertinya “kurang senang” kaum perempuan bergerak ke ranah publik. “Di masanya, peraturan yang keras dan menindas berlaku terhadap kaum perempuan,” tulis Fatimah.

Akibat kebijakan sejenis produk Umar yang - meminjam istilah Martin Van Bruinessen - lebih macho, peran ulama perempuan lambat laun tersisihkan. Jika pada zaman Nabi, rata-rata kaum perempuan didorong untuk mendapat pendidikan yang layak, tidak demikian sepeninggalnya. Akibatnya sangat jelas, jumlah perempuan yang menjadi ulama pun mengalami penurunan yang signifikan. Terutama saat bentuk kekhalifahan yang demokratis tumbang dan digantikan oleh sistem monarkhi.

Kalaupun ulama perempuan masih ada, dia tak memiliki peran yang luas seperti pada zaman Nabi. Wilayahnya hanya terbatas kepada aspek-aspek khusus yang hanya berhubungan dengan dunia mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu, mereka justru tak jarang menjadi legitimator para penguasa untuk menarik kembali kaum perempuan dari wilayah publik. Kendati demikian, tak urung muncul juga satu dua ulama perempuan yang menentang mainstream saat itu. Tokoh-tokoh seperti Sukaynah binti Husein, Amrah binti Abd Al-Rahman (w.718 Masehi), Hafshah binti Sirin (w.718 Masehi), Zainab binti Al Syar’i dan Sayyida Nafisa adalah para ulama perempuan yang memiliki pandangan kritis dan sering menyalahi pandangan ulama laki-laki di zamannya.

Dalam beberapa penelitian sejarah, para ulama perempuan bahkan sering dilaporkan menjadi guru dari ulama laki-laki yang terkenal, misalnya, Sayyidah Nafisah yang menjadi guru bagi ulama terkenal al-Shafi’i ketika mengikuti halaqoh di kota Fustat. Imam al Syafi’i dan banyak ulama lain hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk mengaji kepadanya. Dalam catatan riwayat hidup ulama laki-laki yang terkenal tidak jarang terdapat catatan tentang guru-guru perempuan mereka. “Tidak terdapat tanda-tanda bahwa mereka segan atau malu belajar kepada pakar-pakar perempuan tersebut,” tulis Tritton A.S dalam Materials on Muslim Education in the Middle Ages.

Perempuan juga tidak hanya menjadi muffasir atau muhaddist, tetapi juga menjadi pakar dan pengawal tasawwuf. Koleksi nama perempuan-perempuan sufi terkenal diberikan antara lain oleh Javad Nurbakhsh dalam Wanita-wanita Sufi. Prototip sufi perempuan tentu saja adalah Rabi’ah al Adawiyyah (w. sekitar 180 H). Banyak sumber meriwayatkan, bahwa keilmuan dan kesufian Rabi’ah melewati kolega laki-laki. Rabi’ah al Adawiyah, seorang ulama sufi yang tersohor itu menolak perkawinan karena kecintaannya terhadap Allah swt. tidak menyisakan ruang baginya untuk berfikir tentang laki-laki. Konon, Hasan Basri yang mashyur itu jatuh cinta pada Rabi’ah karena terpana akan sikap tawadhu’ dan kesaktiannya.

Tantangan Perempuan menjadi Ulama
Eksistensi ulama perempuan — baik dalam ilmu-ilmu hadis atau tafsir maupun tasawuf – seyogyanya memang tidak diragukan lagi. Tetapi, terlepas dari hal ini, satu hal yang sudah jelas : jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan ulama laki-laki, dan bahkan popularitas mereka masih kalah jauh dibandingkan dengan laki-laki. Begitupun dalam produktivitas keilmuan, sangat jarang - untuk tidak mengatakan tak ada - ditemukan karya-karya monumental dalam bidang keagamaan yang dihasilkan “ulama perempuan”. Bisa jadi karena faktor itulah, Ibn Hajj —seorang ulama dan penulis kamus biografi asal Mesir— berpendapat, bahwa ulama-ulama perempuan pada umumnya mempunyai kualitas lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Tidak menutup kemungkinan pandangan seperti ini juga muncul karena perempuan harus mengalami tantangan yang bersifat ganda. Perempuan juga harus dapat memperjuangkan hak-haknya seperti kisah Hajjah Sua yang cerdas dan pintar dari Pesantren Cipasung Tasikmalaya yang menolak dimadu oleh seorang kyai besar di daerah tersebut, disamping harus menyelesaikan kitab untuk menjadi “ulama”. Selain itu, ulama perempuan juga mengalami banyak tantangan di ranah domestik. Banyak ibu Nyai yang masih diam dan gamang ketika menghadapi persoalan kekerasan dalam rumah tangga. “Kekhasan” ulama perempuan ini juga sangat terkait dengan dan perjuangan mereka melawan “patriarki”. Barangkali kita masih bisa mengingat Sukaynah cicit Nabi yang pernah memperkarakan suaminya yang berpoligami.

Kesempatan bagi perempuan untuk mendalami pengetahuan keagamaan secara mendalam untuk kemudian dapat dikatakan sebagai seorang yang alim (orang yang berilmu) dihadang oleh berbagai persoalan. Misalnya budaya patriarki seringkali menganggap perempuan tidak layak mendapatkan pendidikan yang tinggi dengan alasan bahwa perempuan mesti kembali ke urusan domestik. Hal inilah yang menyebabkan perempuan hampir tidak mendapatkan prioritas dalam kesempatan pendidikan. Akibatnya perempuan dipinggirkan, perempuan tidak diberi ruang untuk mengekspresikan dirinya. Terbatasnya akses perempuan akan pendidikan, terutama pengetahuan keagamaan tidak seluas laki-laki. Penafsiran agamapun ikut melegitimasi ketidakadilan yang dialami perempuan. Hal ini terlihat dalam pandangan Al-Nawawi, ulama terkemuka asal Banten, dalam kitabnya yang terkenal, Uqud Al-Lujjain, bahwa perempuan itu tempatnya di rumah, tugas mereka yang utama adalah melahirkan anak, mengurus rumah tangga, dan melayani suami.

Padahal dalam khasanah sejarah Islam kita mengenal beberapa ulama perempuan yang handal. Mereka adalah periwayat ribuan hadis shahih, yang senantiasa bersikap kritis dalam mencari kebenaran pada masa pewahyuan, tokoh yang cukup legendaris di dunia tasawuf. Bahkan beberapa diantara mereka juga pernah menjadi guru dari beberapa imam besar dari berbagai mazhab. Islam pun secara normatif memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, kemudian pada gilirannya nanti mereka dituntut untuk mengabdikan ilmu mereka ke masyarakat. Bukankah tidak ada yang paling mulia di sisi Allah swt, kecuali tingkat ilmu dan ketakwaannya?.

Melahirkan Kembali Ulama Perempuan
Di era abad 21 ini, secara umum dunia perempuan belum juga terbebas dari belenggu sistem patriarkhi. Hal tersebut termasuk meliputi pula beberapa negeri-negeri Islam. Situasi ini bisa jadi disebabkan minimnya jumlah ulama perempuan yang berpengaruh dan memiliki kemampuan untuk menafsirkan teks-teks Alquran dan hadis dalam koridor perspektif perempuan. Kalaupun ada, mereka memiliki resiko “dimatikan” sebelum tumbuh berkembang.

Ulama perempuan memang tidak serta merta memiliki perspektif perempuan, dan bukan berarti tidak ada ulama laki-laki yang berperspektif perempuan. Namun, dengan minimnya perempuan mendapatkan kesempatan untuk menjadi ulama, akan membuat suara perempuan akan menjadi tak terdengar bahkan hilang. Dengan mendidik ulama perempuan untuk lebih mengasah kepekaan pada hak perempuan, akan membuat suara perempuan yang selama ini banyak termarginalkan dapat terangkat ke permukaan. Dengan perempuan bersuara dan berperan, diharapkan secara perlahan ulama perempuan yang memiliki perspektif perempuan semakin diakui otoritasnya.

Saat ini juga tengah terjadi ikhtiar di beberapa organisasi keagamaan Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk melibatkan kaum perempuan di ranah keulamaan. Majelis Tarjih Muhammadiyah misalnya, saat ini telah mengakomodir kehadiran beberapa ulama perempuan. Namun perjuangan untuk memperkuat kembali kehadiran para ulama perempuan ini bukanlah perkara yang mudah. Upaya untuk memasukkan nama-nama perempuan di jajaran Syuriah NU, misalnya juga masih memerlukan perjuangan yang panjang.

Keprihatinan ini juga telah menjadi pemikiran Rahima untuk menyelenggarakan program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP). Kehadiran ulama perempuan perlu ditumbuhkembangkan guna memperkaya produk keagamaan dengan perspektif perempuan. Dengan mengasah ketajaman analisis sosial mereka melalui perspektif perempuan; diharapkan mereka dapat beraktualisasi lebih besar di lembaga-lembaga keulamaan untuk menyuarakan kepentingan dan memberdayakan perempuan sebagai kelompok umat yang selama ini terpinggirkan.

Penutup
Sesungguhnya penegakan nilai-nilai Islam di muka bumi ini, sejak mulanya telah membawa semangat egaliter. Bahwa semua manusia mempunyai berbagai hak untuk menjadi manusia yang bermartabat, termasuk mendapat pendidikan dan pengakuan akan keahliannya. Jadi bukan sekedar “alasan duniawi” atau inspirasi dari ranah di luar Islam atau sekedar alasan emansipasi semata. Pengakuan terhadap keulamaan perempuan dan sekaligus upaya melakukan penyemaian adalah berangkat dari nilai kesetaraan dan keadilan, sebagai nilai fundamental Islam, agama yang kita percaya sebagai pembawa rahmatan bagi alam semesta. Dan hal ini telah ditunjukakan secara prima oleh Muhammad pada masa kenabiannya.

Untuk memperbanyak jumlah ulama perempuan dimasa depan, tidak ada pilihan lain kaum perempuan harus memperoleh dan menggunakan akses dan peluang dalam lembaga-lembaga keagamaan, terutama lembaga pendidikan seluas-luasnya. Disamping itu kaum perempuan sendiri harus meningkatkan kualitas diri dan kemampuan intelektualitasnya melalui jalur pendidikan. Ikhtiar untuk menumbuhkembangkan ulama perempuan tentu menjadi concern kita sehingga persoalan yang selama ini dihadapi oleh perempuan dapat terjawabkan. [Rahima - wikisource]



Sunday, July 25, 2010

Khaulah Binti Tsalabah Sunday, July 25, 2010






Bagi laki-laki dan wanita yang beriman, mereka harus berdiri diatas hukum-hukum Allah, tidak boleh melanggar, tidak boleh melakukan hal-hal yang haram, harus menyesuaikan antara keadaan hidupnya dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, serta tidak mau berpaling darinya atau mencari-cari alasan penggantinya.

Diantara wanita shalihah yang teguh dan ta'at patuh terhadap hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya, ialah sebagaimana sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir saat menjabarkan surat Al-Mujadillah, berkaitan dengan diri seorang wanita bernama Khaulah dan suaminya Aus bin Ash-Shamit bin Qais.

WANITA YANG GUGATANNYA 
DIDENGAR ALLAH DARI LANGIT KETUJUH

Tokoh wanita yang kami maksudkan adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.
Mari kita ikuti kisahnya.....

Khaulah menuturkan "Demi Allah, karena aku dan suamikulah sehingga Allah SWT menurunkan inti surat Al-Mujadilah".

Katanya lagi: "Aku menjadi istri Ash-Shamit". Sementara dia sudah tua, usianya sudah lanjut dan terkadang tingkah lakunya tidak lagi terkontrol. Suatu hari dia masuk ke dalam bilikku. Karena aku membantah pendapatnya dalam suatu hal, diapun menjadi marah. Sampai-sampai dia berkata, "Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku." Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan diriku. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, "Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita".

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah SAW , lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya, juga tentang sikap suaminya yang buruk itu. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai Khaulah.., anak pamanmu (suamimu) laki-laki yang sudah tua renta. Lebih baik bertaqwalah kepada Allah dalam menghadapi dirinya".

Wanita mukminah yang shalihah ini menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum turun ketetapan Allah Tabaraka wata'ala menyangkut keadaan diriku ini"!

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, "Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku".

Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.

Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah SAW sadar kembali, beliau bersabda, "Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan Al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَراً مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوراً وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌوَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌفَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا فَمَن لَّمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِيناً ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih". (QS Al-Mujaadilah [58]:1-4)
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi : "Perintahkan kepadanya (suami Khaulah`) untuk memerdekan seorang budak wanita".

Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki sesuatupun untuk memerdekakan seorang budak .

Nabi : "Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut".

Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tua renta dan tidak akan kuat melakukan shaum.

Nabi : 'Perintahkan kepadanya memberi makan 60 orang miskin, sebanyak 1 wasaq kurma'.
Khaulah : "Demi Allah ya Rasulullah..., dia tidak memiliki kurma sebanyak itu".

Nabi : "Kalau begitu kami akan membantunya dengan beberapa takar kurma"
Khaulah : "Wahai Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan beberapa takar yang lain" .

Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.”
Maka Khaulah pun melaksanakannya.

Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, "Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…" (Al-Mujadalah: 1)

Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya.

Beliau berkata:
"Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga engkau memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah." Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, "Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!"

Umar kemudian menegurnya, "Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. "

Di dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan, bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Umar bin Khaththab karena dia melihat bagaimana Umar begitu mengormati dan mendengarkan dengan tekun perkataan Khaulah. Lelaki itu berkata, "Engkau tidak akan bisa menghadapi para pemuka Quraisy gara-gara wanita ini".

Lalu Umar berkata:"Celaka engkau!" Tahukah engkau siapa dia?"
"Tidak" jawab laki-laki itu.
Umar berkata: “Dia adalah wanita yang pengaduannya di dengarkan Allah dari langit yang ketujuh. Dia adalah Khaulah binti Tsa'labah. Demi Allah seandainya dia tidak beranjak dari hadapanku hingga malam tiba, maka akupun tidak akan beranjak dari hadapannya sampai dia mendapatkan keperluannya padaku, kecuali jika tiba waktu shalat, maka aku akan shalat, lalu kembali lagi menemuinya hingga dia dapat memenehi keperluannya."

Bagi wanita Muslimah yang senantiasa sadar dan mengikuti petunjuk, maka ia akan selalu memperhatikan dan berpedoman pada firman Allah SWT yang berbunti:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ
أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata".(QS Al-Ahzab [33]:36)



(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

Friday, July 23, 2010

Khadijah Binti Khuwailid R.A Friday, July 23, 2010




KHADIJAH BINTI KHUWAILID adalah sebaik-baik wanita ahli surga. Ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Sebaik-baik wanita ahli surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.” Khadijah adalah wanita pertama yang hatinya tersirami keimanan dan dikhususkan Allah untuk memberikan keturunan bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., menjadi wanita pertama yang menjadi Ummahatul Mukminin, serta turut merasakan berbagai kesusahan pada fase awal jihad pcnyebaran agama Allah kepada seluruh umat manusia.


SANG KEKASIH 
YANG SELALU DIKENANG JASANYA

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci.

Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya. 

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka bercerai. 

Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang membuat beliau menjadi seorang yang kaya raya. 

Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang diri Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), lelaki pilihan yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. 

Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang biasa dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan dengan karunia-Nya, Allah Tabaraka wata'ala menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. 

Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda yang satu ini tidak sebagaimana kebanyakan laki-laki lain yang mampu menimbulkan perasaan cinta dihati Khadijah. 

Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahi dirinya, seorang yang sudah tidak muda lagi, bahkan berstatus janda yang sudah mencapai usia 40 tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya? 

Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya. 

Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya: 

Nafisah: Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad? 

Muhammad: Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah . 

Nafisah: (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya? 

Muhammad: Siapa dia? 

Nafisah: (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid 

Muhammad: Jika dia setuju maka akupun setuju. 

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar. 

Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa'diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta. 

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu 'anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam . 

Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah. 

Kemudian Allah Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain. 

Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira' pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu.Selanjutnya beliay Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata: "Selimutilah aku ….selimutilah aku … !!!" 

Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menjawab:"Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku". 

Maka istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: "Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran". 

Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa. 

Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam . Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: "Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung". 

Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: "Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah ". Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " Apakah mereka akan mengusirku?". Waraqah menjawab: "Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…". Tidak beberapa lama kemudian Waraqah pun wafat. 

Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi. 

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam. 
Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu 'alaihi wasallam. 
Dan ayat-ayat Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُقُمْ فَأَنذِرْوَرَبَّكَ فَكَبِّرْوَثِيَابَكَ فَطَهِّرْوَالرُّجْزَ فَاهْجُرْوَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُوَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ 
"Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!" (QS Al-Muddatstsir [74]:1-7).

Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu 'anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya. 

Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta'ala: 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
الم 
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' , sedangkan mereka tidak diuji lagi?" . (QS Al-'Ankabut [29]:1-2).

Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap kehadlhirat Allah Tabaraka wata'ala tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan. 

Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu 'anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta'ala : 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ 
الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيراً وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ 
"Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan ". (QS Ali Imran [3]:186).
Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: "Demi Allah wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya".
Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka'bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.

Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam. 
Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid".
"Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin". 

Amiin YaRabbal 'alamiin.

Fatimah Az Zahra RA




Alam Firdaus
Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as,: "Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi di sisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia."

Sebelum memasuki pembahasan tentang kezuhudan Sayyidah Fatimah as dalam menjalani kehidupan, kita harus mengetahui terlebih dahulu makna kezuhudan itu sendiri. Makna kezuhudan dalam Alquran adalah sebagai berikut, "Supaya kalian tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian."

Sayyidah Fatimah as adalah seorang wanita yang sangat sederhana dan sama sekali tidak tertarik dengan keindahan dunia. Beliau selalu mencari keridhaan Allah swt karena keridhaan-Nya merupakan kenikmatan yang paling tinggi. Bentuk kerelaan Allah swt untuk hamba-hamba-Nya bukanlah dunia yang hina dan fana ini, akan tetapi alam akhirat yang mulia dan abadi. Sebagaimana Allah swt dalam surat Al-Anfal 67 berfirman, "Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah swt menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)."

Waktu Sayyidah Fatimah as banyak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Beliau sama sekali tidak menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia karena cinta terhadap dunia merupakan penghalang untuk sampai ke tujuan yang mulia.

Keindahan dan kesenangan dunia bersifat sementara, akan tetapi sangat disayangkan banyak manusia yang tertipu ketika melihatnya. Mereka tidak sadar bahwa ada alam yang lebih indah dan lebih menyenangkan dibanding dunia.

Oleh karena itu Sayyidah Fatimah as memilih alam akhirat karena hakekat kebahagiaan dan kehidupan ada di alam tersebut. Beliau menjalani kehidupannya dengan penuh kesederhanaan dan tidak perduli dengan keindahan dunia. Selain itu Sayyidah Fatimah selalu ridha dengan keadaannya. Beliau sama sekali tidak pernah mengeluh kepada siapapun dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah as adalah sebuah kehidupan yang jauh dari kemewahan. Kesederhanaannya bukan karena beliau miskin namun disebabkan oleh puncak pengetahuan (makrifat) dan kekayaan spiritual.

Bukti terbaik bahwa Sayyidah Fatimah as hidup dalam kesederhanaan adalah ketika beliau memiliki tanah Fadak. Tanah Fadak adalah tanah yang sangat subur karena tanah ini bisa menghasilkan gandum yang sangat banyak sehingga kebutuhan semua penduduk Madinah terpenuhi dengannya. Setelah Allah swt menyuruh Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam memberikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fatimah as, semua keuntungan hasilnya ada di tangan Sayyidah Fatimah as. Namun penghasilan yang banyak ini tidak merubah kesederhanaan beliau dalam menjalani kehidupan. Semua penghasilan tanah Fadak beliau infakkan kepada masyarakat. Hal ini beliau lakukan hanya demi mencari keridhaan Allah swt. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesederhanaan Sayyidah Fatimah as bukan karena keterpaksaan dan kemiskinan tetapi karena kecintaan beliau kepada Allah swt.

Kesederhanaan dan ketidakcintaan terhadap dunia adalah suatu hal yang dicontohkan oleh para Nabi dan Imam as. Tidak ada satupun dari mereka memiliki rasa cinta terhadap dunia seperti yang kita lihat dalam sejarah kehidupan mereka. Kezuhudan Sayyidah Fatimah as adalah salah satu pelajaran yang didapatkan dari ayahnya.

Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as, "Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi disisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia."

Contoh ajaran Nabi Shalallahu' Alaihi Wassalam kepada Sayyidah Fatimah as bisa kita lihat dalam riwayat berikut ini.

Rasulullah sudah terbiasa ketika hendak pergi atau pulang dari bepergian harus menemui putri tercintanya terlebih dahulu. Suatu hari untuk menyambut kedatangan ayah dan suaminya, Sayyidah Fatimah as memakai gelang dari perak dan anting-anting serta kalung. Beliau juga menghias rumahnya dengan memasang gorden yang berwarna warni. Seperti biasa, ketika datang dari bepergian, Rasulullah terlebih dahulu datang ke rumah Fatimah. Namun setelah beristirahat sebentar, Rasulullah keluar dari rumah putrinya dan menuju masjid. Melihat raut wajah ayahnya yang tidak seperti biasa, Sayyidah Fatimah as menyadari sebabnya. Pada saat itu juga ia membuka gorden dan perhiasannya lalu mengirimkannya kepada Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam yang pada saat itu berada di masjid.

Sayyidah Fatimah as juga mengirim salam kepada ayahnya dan berpesan supaya barang-barang ini digunakan di jalan Allah. Rasulullah mengambil barang-barang itu dan berkata "Ayahmu adalah tebusanmu, ayahmu adalah tebusanmu! Keluarga Muhammad perlu apa dengan dunia? Mereka bukan diciptakan untuk dunia, akan tetapi mereka diciptakan untuk akhirat, walaupun semua yang ada di dunia diciptakan karena mereka. Seandainya dunia itu memiliki nilai sebesar sayap nyamuk di sisi Allah, maka tidak seorangpun dari kafir akan meminumnya." Setelah itu Rasulullah berdiri lalu menuju rumah Fatimah as.

Riwayat di atas selain menunjukkan ketegasan Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam juga menunjukkan ketidakcintaan Sayyidah Fatimah as terhadap dunia, karena tanpa ada rasa berat hati beliau menginfakkan barang-barangnya di jalan Allah.

Diriwayat lain juga dikatakan, suatu hari Salman Al-Farisi melihat Sayyidah Fatimah as memakai cadar yang sederhana, penuh jahitan dan terbuat dari kulit pohon kurma hendak pergi menjenguk ayahnya. Salman sangat terkejut dan sambil menangis ia berkata, "Kami sangat bersedih! Putri-putri raja Persia dan Romawi duduk di atas kursi-kursi yang terbuat dari emas dan memakai pakaian yang terbuat dari sutra tetapi putri Muhammad Shalallahu' Alaihi Wassalam memakai cadar yang sangat sederhana dan memiliki dua belas jahitan."

Ketika Sayyidah Fatimah as sampai ke rumah ayahnya, beliau mengatakan, "Wahai Rasulullah! Salman sangat heran dengan kesederhanaan pakaianku. Demi Allah! selama lima tahun karpet rumah kami dari kulit kambing yang ketika siang hari unta-unta memakan rumput diatas karpet itu dan pada malam hari kami tidur di atas karpet itu. Bantal kami juga dari kulit yang diisi dengan kulit pohon kurma." Ketika itu Rasulullah bersabda kepada Salman, "Sesungguhnya putriku berada di barisan terdepan orang-orang yang menuju Allah swt."

Sekarang kita dapat melihat betapa zuhudnya Sayyidah Fatimah as. Ketika kita menjadikan Sayyidah Fatimah as sebagai panutan maka konsekuensinya kita harus meniru beliau. Dan salah satu contoh yang bisa kita ambil dari beliau adalah kezuhudannya dalam menjalani kehidupan.

Sebetulnya tidaklah sulit untuk menjadi orang yang zuhud ketika kita mengetahui bahwa sebenarnya segala sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Allah swt adalah sebuah amanat, sehingga dengan senang hati dan tanpa rasa keberatan sedikit pun kita akan menginfakkannya kepada orang yang membutuhkan. Selain itu kita juga tidak akan terlalu bergembira dengan apa yang Allah SWT berikan kepada kita. Semua manusia datang ke dunia ini dengan tangan kosong dan juga kembali kepada penciptanya dengan hanya membawa sepotong kain putih.

Seseorang tidak akan pernah bisa menjadi zuhud ketika dia tidak mengetahui hakekat dunia yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali as "Yang berhak dikatakan bahwa orang itu zuhud ketika dia mengetahui kekurangan dunia." Semoga Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menjadi orang-orang yang selalu diridhoi oleh-Nya.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.beserta keluarga dan shahabatnya.


إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)



Ummu Aisyah R.A




Nama dan Nasabnya
Beliau adalah Ummul Mu'miniin Aisyah binti Al-Imam Ash-Shiddiiq Al-Akbar dan Kholifah Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Siddiq Abdullah bin Abu Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taim bin Murroh bin Ka'b bin Luai Al-Qurasyiyyah at-Taimiyyah. Ibunya adalah Ummu Ruman bintu Amir bin Uwaiwir bin Abdu Syams bin Ataab Al-Kinaniyyah.

Kelahirannya

Aisyah dilahirkan empat tahun sebelum kenabian di Makkah. Termasuk golongan orang-orang yang dilahirkan dalam Islam.

Sifat-Sifatnya
Wanita yang paling faqih (pintar) di dunia, dan paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah SAW, dan banyak juga para shahabat dan tabi'in terkemuka yang meriwayatkan darinya. Dia adalah seorang wanita yang cantik dan berkulit putih, sehingga diberi julukan Humaira'. Tidak pernah dijumpai seorang wanita di seluruh dunia yang lebih berilmu dari beliau.

Pernikahannya dengan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menikah dengannya sebelum hijrah sesudah wafatnya istri beliau yang pertama, Khadijah binti Khuwailid dua tahun sebelum hijrah. Dikumpuli oleh Rasulullah SAW setelah hijrah, tepatnya sepulang beliau dari perang Badar. Urwah berkata: "Aisyah berada di sisi Rasulullah SAW selama 9 tahun." (Shahih Muslim: 1344)

Rasulullah SAW tidak pernah menikahi wanita gadis/perawan selain dia, dan beliau SAW tidak pernah mencintai seorang wanita melebihi cintanya kepada Aisyah. Dia adalah istri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat.

Suatu saat Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah: "Aku bermimpi didatangi malaikat yang membawamu dalam kain sutera dan dikatakan kepadaku: "Inilah istrimu", maka aku buka wajahnya ternyata engkau yang ada di dalam kain tersebut." Maka Aisyah berkata: "Jika ini datang dari Allah, maka Allah akan melangsungkan-Nya."

Aisyah berkata: "Aku diberi sembilan perkara yang tidak pernah diberikan kepada wanita siapapun setelah Maryam binti Imron; Jibril turun dengan membawa gambarku di telapak tangannya hingga dia memerintahkan Rasulullah SAW agar menikahiku; Rasulullah SAW menikahiku ketika masih gadis dan tidak pernah menikahi gadis selainku; Rasulullah SAW meninggal dalam keadaan kepalanya di pangkuanku; Beliau dikuburkan di rumahku, dan sungguh para malaikat mengelilingi rumahku; sungguh wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika aku dan beliau dalam satu selimut; sungguh aku adalah putri khalifah dan putri shahabat karibnya; turun berita pembersihan diriku dari langit; telah diciptakan aku dengan baik di sisi seorang yang baik; dan aku telah dijanjikan ampunan dan rezeki yang mulia." (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Ajuri dan dikatakan oleh Adz-Zahabi: Sanadnya jayyid).

Rasulullah SAW bersabda:
"Keutamaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keutamaan tsarid (sejenis makanan dari adonan tepung dicampur kuah daging) atas semua makanan." (Muttafaq Alaih)


Turunnya Ayat Tayammum
Didalam suatu perjalanan Aisyah keluar bersama Rasulullah SAW dalam suatu rombongan, ketika mereka sampai di Baida' atau Dzatul Jaisy hilanglah kalung 'Aisyah sehingga Rasulullah SAW berhenti dan mencarinya dibantu oleh kaum muslimin yang ikut bersama mereka. Waktu itu mereka tidak punya air sama sekali sehingga mereka mengadu kepada Abu Bakar tentang keadaan mereka sehingga Abu Bakar memarahi putrinya, Aisyah.

Sampailah waktu sholat shubuh padahal mereka tidak memiliki air. Saat itu turunlah ayat "tayammum" yang merupakan kelapangan bagi kaum muslimin sehingga Usaid bin Khudhoir berkata: "ini bukanlah awal dari barakah kalian wahai keluarga Abu Bakar." Ketika mereka hendak beranjak pergi, ternyata kalung tersebut berada di bawahnya (Muttafiaq Alaih).


Berita Bohong Tentang Aisyah
Peristiwa ini terjadi pada waktu perang Muraisi', tahun 5H dan umurnya waktu itu 12 tahun, dan ada yang mengatakan pada waktu perang Bani Mushthaliq, yaitu setelah turunnya ayat hijab. Marilah kita ikuti kissah yang diriwayatkan sendiri oleh 'Aisyah r.a. sebagai berikut:

Dari 'Aisyah r.a ia berkata: "Merupakan kebiasaan Rasulullah SAW jika hendak melakukan perjalan jauh, beliau mengadakan undian diantara para istri beliau. Siapa yang menang undiannya, maka dialah yang berhak ikut mendampingi Rasulullah s.a.w. dalam perjalanan itu. Pada suatu ketika Rasulullah saw. mengundi kami untuk ikut mendampingi beliau dalam suatu peperangan yang di-pimpin oleh beliau sendiri. Aku beruntung, karena undianku-lah yang keluar sebagai pemenang. Karena itu akulah yang berhak pergi bersama beliau. Peristiwa ini terjadi sesudah turunya Ayat Hijab (lihat surat Ahjab, [33]:35-59). Lalu aku dinaikkan ke dalam sebuah sekedup (joli) dan diturunkan dalam setiap perhentian (tanpa aku keluar tetapi sekedupnya yang diturun-naikkan). "

"Ketika Rasulullah SAW selesai dari peperangan beliau serta rombongan pulang kembali ke Madinah (membawa kemenangan). Hampir sampai ke Madinah, beliau memberi izin seluruh pasukan untuk istirahat malam. Saat istirahat itu aku keluar dari sekedup dan berjalan menjauhi pasukan untuk buang hajat. Setelah selesai buang hajat, aku segera beranjak kembali ke pasukan. Ketika aku menyentuh dadaku terasa kalungku yang terbuat dari pemata zhafar buatan Yaman telah putus. Karena itu aku kembali mencari kalungku sehingga aku terlambat kembali ke pasukan. Sedangkan para pengawal yang bertugas menjagaku selama dalam perjalanan telah mengangkat sekedupku dan menaikkannya ke punggung onta yang kukendarai (tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah aku ada didalam atau tidak) lalu mereka beranjak pergi."

"Mereka mengira bahwa aku masih berada di dalam sekedup dan tidak merasakan keganjilan ringannya sekedup karena waktu itu aku masih merupakan wanita muda usia. Mereka terus berjalan menggiring untaku (tanpa aku). Aku mendapatkan kalungku kembali setelah pasukan berjalan agak jauh. Ketika aku sampai ditempat peristirahatan, kudapati di sana telah sepi. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di tempatku semula karena aku berpendapat, bila rombongan tidak menemukanku tentu mereka akan kembali mencariku dengan harapan agar orang-orang merasa kalau dia tertinggal dan kembali menjemputnya. Ketika aku duduk beristirahat menunggu mereka di tepat itu, aku mengantuk dan tertidur.
"

"Waktu itu, kebetulan Shofwan bin Mu'aththal ketinggalan pula oleh rombongan karena dia tertidur. Ketika terbangun dia segera menyusul mereka dan lewat di dekat tempatku menunggu. Ketika dia melihat sesosok tubuh sedang tidur, dia menghampiri dan mengenaliku. Dia memang sudah pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Aku terbangun ketika dia dengan terkejut mengucapkan kalimat istirja' (Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji'uun) setelah dia mengenaliku. Dan aku segera menutup mukaku dengan jilbab (kain penutup muka). Demi Allah! Dia tidak pernah mengucapkan sepatah kalimat pun kepadaku selain kalimah istirja' yang menyebabkan aku terbangun. Dia segera menyuruh untanya merunduk, dan aku disilahkannya menaiki kendaraan itu. Sedangkan dia sendiri berjalan kaki menuntun untanya sampai induk pasukan tersusul oleh kami, sesudah mereka berhenti istirahat dari sengatan panas tengah hari. "

"Tetapi sungguh celakalah orang munafiq yang sengaja membuat fitnah terhadap diriku mengenai peristiwa itu, yang di prakarsai oleh pemimpin mereka Abdullah bin Ubai bin Salul. Setelah kami sampai di Madinah aku jatuh sakit sebulan lamanya. "

"Sementara itu dalam masyarakat telah meluas kabar bohong mengenai diriku. Sedangkan aku tidak tahu berita itu telah meluas sedemikian rupa karena aku sedang sakit. Tetapi ada suatu hal yang merisaukanku , yaitu sikap Rasulullah saw. yang tidak memperlihatkan kasih sayang seperti biasanya kalau aku sedang sakit. Beliau pernah datang menegokku sekali, setelah memberi salam beliau bertanya, "Bagaimana keadanmu?" Itulah yang membimbangkanku. Aku tidak mengetahui sama sekali heboh mengenai diriku, sampai pada suatu hari aku diberitahu oleh Ummu Misthah tentang desas-desus omongan tukang fitnah yang memburuk-burukkan diriku. Semenjak aku mendengar berita Ummu Misthah itu, sakitku semakin menjadi-jadi."

"Ketika Rasulullah saw. datang kerumahku, beliau memberi salam, lalu beliau bertanya, "Bagaimana keadaan sakitmu?". Lalu aku bertanya kepada beliau, "Sudikah tuan mengizinkan aku pulang ke rumah orangtuaku?" Kata Aisyah, "Sebenarnya aku ingin hendak menanyakan kepada orang tuaku tentang kebenaran berita yang disampaikan Ummu Misthah kepadaku." Ternyata Rasulullah SAW mengizinkanku, lalu aku pulang kerumah orang tuaku dan bertanya kepada ibuku, "Wahai ibu! Benarkah ada berita buruk yang dipercakapkan orang mengenai diriku?" Jawab ibu, "Wahai anakku sayang! Jangan engkau hiraukan. Demi Allah!, jarang sekali wanita cantik yang disayangi suaminya, padahal dia mempunya banyak madu yang tidak dibicarakan orang." "Subhanallah!" kataku. "Kalau begitu, memang benarlah kiranya orang banyak mempercakapkanku." Malam itu aku menangis semalam-malaman sampai Subuh. Air mataku mengalir tak dapat ditahan dan aku tak dapat tidur karenanya. "

Sementara itu, Rasulullah SAW sendiri merasa berat dengan fitnah tersebut, (karena wahyu yang menjelaskan masalah itu belum juga turun), maka beliau SAW meminta pendapat Usamah, Ali, dan Barirah, yang secara umum mereka menyatakan bersihnya 'Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Kemudian Rasulullah SAW meminta pendapat para shahabat tentang hal itu, tetapi karena begitu gencarnya desas-desus tersebut, maka terpisahlah kaum muslimin menjadi dua kelompok, ada yang membenarkan berita tersebut dan ada pula yang mendustakannya. "

Kata Aisyah selanjutnya, "sehari-harian kerjaku hanya menangis dan menangis siang dan malam. Sehingga kedua orangtuaku cemas, kalau-kalau jantungku pecah karena menangis. Selama aku menangis, kedua orang tuaku selalu berada di sampingku."

"Sementara itu Rasulullah saw. pun datang. Beliau memberi salam, lalu duduk di sampingku. Sejak beita bohong itu tersiar, beliau tidak pernah duduk di sampingku. Dan sudah sebulan wahyu tidak turun kepada beliau. Yaitu semenjak peristiwa ini. Ketika beliau duduk di sampingku, mula-mula beliau membaca tasyahhud. Kemudian beliau bersabda: "Hai Aisyah! Telah sampai kepadaku berita mengenai dirimu begini dan begitu. Jika engkau bersih dari tuduhan itu maka Allah Ta'ala akan membebaskanmu. Jika engkaumemang berdosa, minta ampunlah kepada Allah Ta'ala dan tobatlah kepada-Nya. Karena apabila seorang hamba sadar bahwa dia telah berdosa, kemudian dia tobat, niscaya Allah menerima tobatnya."

"Setelah ucapan beliau itu selesai diucapkannya, air mataku mengambang dan tak tertahankan olehku dia jatuh berderai. Aku berkata kepada ayah dan ibuku, "Abi! Ummi, tolonglah aku menjawab sabda Rasulullah." Namun kedua beliau menjawab," Demi Allah! Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah,"

"Maka terpaksalah aku sendiri yang harus menjawabnya. Kataku, "Aku ini adalah seorang wanita muda usia yang belum banyak mengetahui isi Al-Qur'an. Demi Allah! Sekarang aku telah tahu bahwa Anda telah mendengar berita mengenai tuduhan terhadap diriku, sehingga tuduhan itu tertanam dalam diri Anda dan tampaknya Anda seperti membenarkan berita itu. Walaupun aku mengatakan kepada Anda bahwa aku bersih dari tuduhan itu - demi Allah, hanya Allah sajalah yang maha tahu bahwa aku memang bersih - Anda tentu tidak akan mempercayaiku juga. Dan seandainya aku mengatakan bahwa aku telah bersalah dan berbuat dosa, - demi Allah, Dia jugalah yang maha tahu bahwa aku bersih, tentu Anda akan mempercayainya."

"Demi Allah! Aku tidak memperoleh sebuah contoh pun yang paling tepat mengenai peristiwa, selain ucapan yang di ucapkan oleh Nabi Ya'kub, bapak Nabi Yusuf, katanya: "Sabar jualah yang paling indah, dan hanya Allah sajalah tempat minta tolong atas segala tuduhan yang dituduhkan mereka.' Kemudian aku berpaling dan berbaring di tempat tidurku. Tetapi aku berharap semoga Rasulullah saw. dapat melihat dalam mimpi beliau, dimana Allah Ta'ala memperlihatkan kepada beliau bahwa aku sungguh-sungguh bersih.
"

"Maka demi Allah, belum lagi Rasulullah saw. meninggalkan tempat duduknya, dan belum seorang jua pun yang keluar dari rumah kami, Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Ketika wahyu telah selesai turun, Rasulullah saw. tertawa. Kalimat yang mula-mula diucapkannya ialah:"Gembiralah, wahai Aisyah! Allah telah mengatakan bahwa engkau sungguh-sungguh bersih dari tuduhan itu." Lalu berkata ibuku kepadaku, "Bangunlah engkau nak! Mintalah maaf kepada beliau!" Jawabku, "Demi Allah! Aku tidak perlu minta maaf kepada beliau. Aku hanya wajib memuji Allah, karena Dialah yang menurunkan wahyu yang menyatakan bahwa aku memang bersih dari tuduhan kotor itu."

Wahyu itu tercantum dalam surat An-Nur sebanyak sepuluh ayat (QS An-Nur: 11-20) sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ جَاؤُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرّاً لَّكُم بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْراً وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ لَوْلَا جَاؤُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاء فَأُوْلَئِكَ عِندَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَوَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌإِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌوَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌيَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَداً إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَوَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌإِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَوَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّه رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta." Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu." (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar."(16)Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman" . Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).

Meskipun Allah SWT Sendiri Yang menyatakan kesucian 'Aisyah dari tuduhan yang keji tersebut di dalam ayat yang dibaca oleh seluruh kaum muslimin sampai hari kiamat, tetapi 'Aisyah tetap merendah dengan mengatakan,"Sesungguhnya aku tahu kalau Allah akan menjelaskan kesucianku dari tuduhan keji tersebut, tetapi aku tidak menyangka kalau Allah akan menjelaskan perkaraku dalam wahyu yang selalu kita baca, karena sungguh kasus itu sangat cemar terasa olehku dibandingkan dengan keagungan firman Allah Ta'ala yang selalu kita baca." (Shahih Muslim:No.2377)

Wafatnya
Beliau wafat pada bulan Ramadhan tahun 57 H atau 58 H dalam usia 63 tahun lebih sebulan dan dimakamkan di pekuburan Baqi'. Semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan surga-Nya. Amiin.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan para shahabatnya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)



Baca juga: Kontroversi Usia Pernilahan Aisyah RA 



Rabiah Al Adawiyah Al Bashriyah



Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, "Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?" "Tidak!" jawab Rabiah dengan suara tegas.

Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, "Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?" "Pasti!" jawab Rabiah tak kalah tegas. Lalu ia menjelaskan, "Kalau Tuhan tidak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata "akan” atau "andaikata" sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu."

Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, "Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?"

Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat - itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. - bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada di samping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.

Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pun dari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismail pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan. Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.

Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa. "Ya Allah!" seru Ismail, "Anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya." Lalu Ismail menggumam, "Amin." Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tidak punya apa-apa kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dirinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.

Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, "Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya."

Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismail diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.

Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, "Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu gerbang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapi, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu."

Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.

Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isya, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, "Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu."

Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, "Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu."

Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, "Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu."

Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: "Apakah engkau akan menikah kelak?" Rabiah mengelak, "Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah." "Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?" "Karena telah kuberikan seluruh hidupku," ujar Rabiah. "Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?" Dengan tulus Rabiah menjawab, "Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan."



Simak kisah hidupnya di sini:
 

Contact Form

Name

Email *

Message *