Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Intisari Islam. Show all posts
Showing posts with label Intisari Islam. Show all posts

Monday, August 2, 2010

Intisari Ajaran Islam - I Monday, August 2, 2010

Segala puja dan puji hanyalah milik Allah Azza wa Jalla Semata. Shalawat dan salam semoga snantiasa tercurah kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam beserta ahlul baitnya, para shahabatnya, Khulafaur Rasidin, para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta para pengikut setia Beliau SAW hingga akhir zaman.


INTI AJARAN ISLAM

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku."
(QS Adz-Dzariyat [51]: 56) 

KEWAJIBAN SEORANG HAMBA

Kewajiban seorang hamba yang pertama kali harus dilakukan adalah: 
Mengetahui bentuk hakikat perintah yang Allah tetapkan atasnya. Allah mengambil janji terhadap mereka dengan mengutus para Rasul, menurunkan kitab, dan karenanya pula Allah menciptakan dunia dan akhirat, surga dan neraka. Dengan perintah-Nya akan terjadi hari kiamat, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan-Nya. Lalu ada proses perhitungan di alam akhirat dimana perbuatan manusia di dunia harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Dan sampai pada ketentuan apakah seseorang itu celaka atau bahagia dengan keadaan dirinya masing-masing. Orang-orang yang celaka tempatnya yang telah disediakan adalah Neraka. Dan orang-orang yang beruntung tempatnya adalah di surga, masing-masing dengan derajat yang berbeda sesuai dengan dekat dan jauhnya terhadap Allah SWT. 
Arti Al-Abdu (hamba) adalah orang yang diperbudak, lemah dan hina yang artinya mencakup seluruh makhluk baik di bumi maupun di langit, berakal atau tidak, yang tampak atau tidak, yang beriman atau kafir. Allah adalah yang memelihara semua makhluk, maka ia menjadi hina kalau Allah menghinakannya, dan akan terpelihara kalau Allah memeliharanya. Setiap sesuatu berjalan sesuai dengan fitrahnya. Tidak ada yang dapat melampaui-Nya hanya sebesar biji sawi. Allah memerintahkan kepada hambanya adalah sebagai mana dalam firman-Nya, yang artinya:

"Aku tidak ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat [51]: 56) 

Ibadah adalah segala sesuatu amal yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya, baik yang terbetik di dalam hati, perkataan yang diucapkan maupun perbuatan. Sesuatu amalan bisa dianggap ibadah apabila memenuhi syarat, yaitu benar-benar atas dasar cinta dan rendah hati kepada Allah SWT. Dan beribadah ada tiga syarat, yaitu:
  • kemauan yang kuat, 
  • niat yang ikhlas dan 
sesuai dengan syari'at Islam yang diperintahkan Allah. 

Dua syarat terakhir itulah syarat diterimanya ibadah.

وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى
"Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (QS Al-Baqarah [2]: 165)

Tanda-tanda seorang hamba mencintai Rabbnya, yaitu dia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci-Nya; Melaksanakan perintahnya; menjauhi larangannya; berwala (loyalitas) kepada para wali-wali-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya. Dan yang dikatakan sekuat-kuat iman adalah cinta dan benci karena Allah.

Untuk mengetahui apa yang dicintai dan diridhoi Allah, maka harus melalui para rasul yang telah diutus dan kitab-kitab yang diturunkan yang di dalamnya terdapat perintah yang dicintai dan diridhoi-Nya dan larangan yang dibenci-Nya. Dan Allah telah menyempurnakan agama ini kepada rasul terakhir yaitu Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam. Maka melalui petunjuk dan perintah Rasul terakhir itulah dengan kitab dan sunnah-nya untuk diikutinya.

Firman Allah SWT:

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
"(Mereka) Kami utus selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul." (QS An-Nisa' [4]: 165) 

ARTI ISLAM

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ 
"Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah adalah Islam." (QS Ali Imran [3 ]: 19) 

Ada beberapa tertib (urutan) dalam agama Islam, yaitu: 
  1. Islam, 
  2. Iman dan 
  3. Ihsan. 
ISLAM
Artinya: menyerahkan diri kepada Allah, meng-Esa-kan-Nya dan meyakini-Nya dengan menaati serta jauh dari perbuatan syirik.

Iman adalah perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan kata, lisan dan anggota badan. Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. 

Ihsan adalah kamu menyembah Allah Subhanahu wa Taala seolah-olah kamu melihat-Nya. Bila kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia dapat melihatmu. 

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى 
"Dan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh (al-'urwatul wutsqa)." (QS Luqman [31]: 22) 

Rukun Islam Dalam soal jawab tentang agama dengan malaikat Jibril, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: 

"Islam yaitu hendaknya kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji bila mampu." (HR Muslim, Abu Daud dan Ahmad) 

Rukun Islam itu ada lima 
Yang pertama dan yang paling besar adalah: Syahadah (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. 

Seorang hamba tidak dikatakan sebagai seorang Muslim kecuali dia telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Rasulullah saw telah bersabda yang artinya, "Saya diperintahkan untuk membunuh manusia, sehingga mereka mau bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusannya." (HR Tujuh Imam Hadits) 

Makna "Laa Ilaaha Illallah"
Artinya kita menafikan segala apa yang disembah selain Allah Subhanahu wa Taala, artinya kita menetapkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah SWT semata-mata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Syarat "Laa Ilaaha Illallah" 
Syarat-syarat syahadat "Laa Ilaaha Illallah" yang dapat memberi manfaat bagi pengucapnya adalah: 
  1. Harus mempunyai Ilmu yang menafikan kebodohan (tentang Allah SWT). 
  2. Keyakinan yang menafikan keraguan. 
  3. Ikhlas (murni dalam beribadah kepada Allah SWT) yang menafikan syirik. 
  4. Kejujuran yang menafikan dusta. 
  5. Cinta yang menafikan kebencian. 
  6. Ketundukan yang menafikan pelanggaran (meninggalkan perintah). 
  7. Menerima tanpa ada penolakan. 
  8. Mengingkari semua apa yang disembah selain Allah SWT 

Syirik 
Syirik dibagi menjadi tiga bagian:
  1. Syirik Akbar (Besar). 
  2. Syirik Ashghar (Kecil). 
  3. Syirik Khofi (Samar). 

Syirik Akbar/Besar
Syirik akbar akan menghapuskan pahala amal dan akan mengekalkan pelakunya di dalam Neraka. Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:

ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ 
"Dan kalau mereka melakukan syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu), pasti akan gugur dari mereka (pahala) apa yang mereka lakukan." (QS Al-An'am [6]: 88).                           

 إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ 
بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An-Nisa' [4]: 48).

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ 
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (QS Al-Maidah [5]: 72). 

Dan lain-lain. 

Yang termasuk syirik akbar, di antaranya adalah: 
berdo'a (meminta pertolongan dan petunjuk) kepada orang yang sudah mati dan patung (berhala), 
mohon perlindungan kepada mereka, juga bernadzar dan berkorban (menyembelih binatang) untuk mereka dan lain sejenisnya. 

Syirik Asghaar/Kecil 
Syirik kecil ialah beberapa tindakan yang sudah jelas disebutkan dalam nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah sebagai syirik, tetapi tidak termasuk jenis syirik besar.

Contohnya adalah, riya' (ingin dilihat orang) dalam beramal, bersumpah tidak dengan nama Allah dan lain sejenisnya. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesuatu yang paling aku takuti terhadap kalian adalah syirik kecil". Lalu beliau ditanya syirik kecil itu. Beliau menjawab: "riya'." (HR Imam Ahmad, ath-Thabrany, al-Baihaqi) 

"Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu -selain Allah- maka dia telah menyekutukan (Allah)." (HR Ahmad dengan sanad yang shahih). 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
"Janganlah kalian mengatakan: (Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan'), tapi katakanlah: ('Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan')." (HR Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Hudzaifah bin al-Yaman radhi-allahu anhu). 

Syirik kecil ini tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam serta tidak memastikan kekalnya seseorang di dalam Neraka, tetapi menghilangkan kesempurnaan tauhid yang semestinya. 

Syirik Khofi/Samar Syirik khofi ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yang mana beliau bertanya kepada para sahabat: "Bagaimana sekiranya aku beritahu kalian tentang sesuatu yang lebih aku takuti (terjadi) pada kalian daripada al-Masih ad-Dajjal? Mereka menjawab: Ya, wahai Rasulullah! Lalu Rasulullah bersabda: "Syirik yang samar (contohnya), seseorang berdiri lalu dia melakukan shalat maka dia perbagus shalatnya karena dia melihat ada orang lain yang memperhatikan kepadanya." (HR Imam Ahmad). 

Bisa juga syirik itu dibagi menjadi dua bagian saja. Syirik besar dan syirik kecil. Hal ini tergantung sudut pandangnya. 

Adapun syirik khofi, bisa masuk dalam dua jenis syirik tadi. 
Bisa terjadi pada syirik besar, seperti syiriknya orang-orang munafik. Karena mereka itu menyembunyikan keyakinan sesat mereka dan berpura-pura masuk Islam dengan dasar riya' dan khawatir akan keselamatan diri mereka. 

Bisa juga terjadi pada syirik kecil seperti yang disebutkan dalam hadits Mahmud bin Labid Al-Anshari yang terdahulu dan hadits Abu Said yang tersebut di atas. 

Adapun syahadah/persaksian bahwa Muhammad saw utusan Allah SWT, adalah membenarkan dalam hati dan mengucapkan dengan lisan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia termasuk jin. 

النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراًوَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً 
"Sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk cahaya yang menerangi." (QS Al-Ahzab [33]: 45-46) 

Maka konsekwensinya adalah: 
Membenarkan apa yang dikabarkan oleh beliau, mentaati perintah beliau, meninggalkan apa yang dilarang oleh beliau dan hendaklah dia tidak menyembah Allah SWT kecuali dengan cara yang disyariatkan oleh Allah SWT sendiri dan Rasul-Nya. 

Kemudian, rukun Islam selanjutnya adalah:
  • Shalat, Zakat, 
  • Puasa Ramadhan, 
  • Haji ke Baitullah al-Haram bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. 




Tulisan    1    dari    1  2  3  4




Sunday, August 1, 2010

Intisari ajaran Islam - II Sunday, August 1, 2010


SYIRIK
Syirik dibagi menjadi tiga bagian:
  1. Syirik Akbar (Besar).
  2. Syirik Ashghar (Kecil).
  3. Syirik Khofi (Samar).
Syirik Akbar/Besar
Syirik akbar akan menghapuskan pahala amal dan akan mengekalkan pelakunya di dalam Neraka. Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
walaw asyrakuu lahabitha 'anhum maa kaanuu ya'maluuna

"Dan kalau mereka melakukan syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu), pasti akan gugur dari mereka (pahala) apa yang mereka lakukan." (QS An-An'am [6]: 88).

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَ 
inna allaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wayaghfiru maa duuna dzaalika liman yasyaau 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (QS An-Nisa' [4]: 48). 

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
innahu man yusyrik biallaahi faqad harrama allaahu 'alayhi aljannata wama/waahu alnnaaru wamaa lilzhzhaalimiina min anshaarin

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (QS Al-Maidah[5]: 72). Dan lain-lain.

Yang termasuk syirik akbar, di antaranya adalah"
berdo'a (meminta pertolongan dan petunjuk) kepada orang yang sudah mati dan patung (berhala), mohon perlindungan kepada mereka, juga bernadzar dan berkorban (menyembelih binatang) untuk mereka dan lain sejenisnya.

Syirik Asghaar/Kecil 
Syirik kecil ialah beberapa tindakan yang sudah jelas disebutkan dalam nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah sebagai syirik, tetapi tidak termasuk jenis syirik besar.

Contohnya adalah riya' (ingin dilihat orang) dalam beramal, bersumpah tidak dengan nama Allah dan lain sejenisnya.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesuatu yang paling aku takuti terhadap kalian adalah syirik kecil." 

Lalu beliau ditanya syirik kecil itu. Beliau menjawab: riya'." (HR Imam Ahmad, ath-Thabrany, al-Baihaqi)

"Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu -selain Allah- maka dia telah menyekutukan (Allah)." (HR Ahmad dengan sanad yang shahih).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Janganlah kalian mengatakan: (Atas kehendak Allah dan kehendak si fulan'), tapi katakanlah: ('Atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan')." (HR Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Hudzaifah bin al-Yaman radhi-allahu anhu).

Syirik kecil ini tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam serta tidak memastikan kekalnya seseorang di dalam Neraka, tetapi menghilangkan kesempurnaan tauhid yang semestinya. Syirik Khofi/Samar Syirik khofi ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yang mana beliau bertanya kepada para sahabat:"Bagaimana sekiranya aku beritahu kalian tentang sesuatu yang lebih aku takuti (terjadi) pada kalian daripada al-Masih ad-Dajjal"? Mereka menjawab: Ya, wahai Rasulullah! Rasulullah bersabda: "Syirik yang samar (contohnya), seseorang berdiri lalu dia melakukan shalat maka dia perbagus shalatnya karena dia melihat ada orang lain yang memperhati-kan kepadanya." (HR Imam Ahmad).

Bisa juga syirik itu dibagi menjadi dua bagian saja.

Syirik besar dan syirik kecil
Hal ini tergantung sudut pandangnya. Adapun syirik khofi, bisa masuk dalam dua jenis syirik tadi.

Bisa terjadi pada syirik besar, seperti syiriknya orang-orang munafik. Karena mereka itu menyembunyikan keyakinan sesat mereka dan berpura-pura masuk Islam dengan dasar riya' dan khawatir akan keselamatan diri mereka.

Bisa juga terjadi pada syirik kecil seperti yang disebutkan dalam hadits Mahmud bin Labid Al-Anshari yang terdahulu dan hadits Abu Said yang tersebut di atas. 

Adapun syahadah/persaksian bahwa Muhammad saw utusan Allah SWT, adalah membenarkan dalam hati dan mengucapkan dengan lisan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia termasuk jin. 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراًوَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً
yaa ayyuhaa alnnabiyyu innaa arsalnaaka syaahidan wamubasysyiran wanadziiraanwadaa'iyan ilaa allaahi bi-idznihi wasiraajan muniiraan

"Sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk cahaya yang menerangi." (QS Al-Ahzab [33]:45-46)

Maka konsekwensinya adalah:
  • Membenarkan apa yang dikabarkan oleh beliau,
  • mentaati perintah beliau,
  • meninggalkan apa yang dilarang oleh beliau dan ...
  • hendaklah dia tidak menyembah Allah SWT kecuali dengan cara yang disyariatkan oleh Allah SWT sendiri dan Rasul-Nya.
Kemudian, rukun Islam selanjutnya adalah: 
  1. Shalat,
  2. Zakat, 
  3. Puasa Ramadhan, 
  4. Haji ke Baitullah al-Haram bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. 


Tulisan    2    dari    1  2  3  4




Intisari Ajaran Islam - III


RUKUN IMAN

Rasulullah saw bersabda ketika bertanya kepada Malaikat Jibril: "Beritahukan kepadaku tentang iman! 

Dia (Malaikat Jibril) berkata: "Agar kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan beriman kepada Qadar-Nya baik dan buruk." (HR Bukhari dan Muslim).

Rukun-rukun Iman ada enam: 
  1. beriman kepada Allah SWT, 
  2. Malaikat-malaikat-Nya, 
  3. Kitab-kitab-Nya, 
  4. para Rasul-Nya dan 
  5. beriman kepada Hari Akhir serta 
  6. Taqdir yang baik dan yang buruk dari Allah SWT. 

Beriman kepada Allah Beriman kepada Allah artinya membenarkan dengan sepenuh hati terhadap adanya Zat Allah SWT yang tidak ada yang mendahului sebelumnya dan tidak ada yang mengakhiri setelah-Nya. Dia-lah yang pertama dan Dia-lah yang terakhir. Dia-lah yang nyata dan tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya. Dia-lah yang batin dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya, yang Maha Hidup dan dia-lah satu-satunya tempat bergantung. 

Tersebut dalam firman-Nya yang artinya:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْوَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ
"Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS Al-Ikhlas [112]: 3-4).

Dan ke-Esa-an dalam Ilahiyah-Nya, 
  • Rubbubiyah, 
  • asma' dan 
  • sifat-Nya. 
Ke-Esa-an dalam Ilahiyah atau Tauhid Ilahiyah yaitu menge-ESA-kan Allah dari segala macam ibadah, baik yang nyata maupun yang batin, baik perkataan maupun perbuatan. Dan meniadakan ibadah pada selain Allah. 

Ke-Esa-an Rubbubiyah atau Tauhid Rubbubiyah yaitu pengakuan yang kuat bahwa Allah SWT adalah Tuhan atas segala sesuatu, Rajanya, Penciptanya, Pemeliharanya, Pengaturnya tiada satu pun yang berserikat dengannya dalam kekuasaan-Nya, tidak mempunyai wali yang lebih rendah darinya, tidak ada yang menolak perintah-Nya, memberi iqab kepada-Nya dan tidak ada yang menyamai-Nya. Tidak ada seorang pun yang menentang hakikat Rubbubiyah Allah dan tuntutan-tuntutan asma' (nama) dan sifat-sifat-Nya. 

Ke-Esa-an Asma' dan Sifat-Nya atau Tauhid Asma wa Sifat yaitu mengimani apa-apa yang disifatkan allah terhadap diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya dan apa-apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya dari asma'ul husna dan sifat al-'ulya. 

Misalnya Allah mempunyai sifat berjalan, akan tetapi tidak boleh ditanyakan bagaimana Allah berjalan sebagaimana Allah telah mengumpulkan antara menetapkan sifat-Nya dan meniadakan sebagaimana yang tersebut dalam kitab-Nya:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْماً 
ya'lamu maa bayna aydiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bihi 'ilmaan

"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS Thaha [20]:110)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
laysa kamitslihi syay-un wahuwa alssamii'u albashiiru

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Asy-Syura[42]: 11) Dan lain-lain.

Beriman kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat yaitu memantapkan keyakinan bahwa mereka ada wujudnya dan bahwa mereka adalah makhluk Allah yang terjaga dan terpelihara.

بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَلَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
"Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya." (Al-Anbiya': 26-27)

Jumlah malaikat itu banyak sekali. 
  • Malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu kepada utusan Allah adalah Rahul Quds Malaikat Jibril as. 
  • Malaikat yang bertugas mengatur turunnya hujan adalah Mikail, 
  • malaikat yang bertugas meniup terompet adalah Israfil, 
  • malaikat pencabut nyawa yaitu Izrail, 
  • malaikat pencatat amal perbuatan manusia yaitu Rokib dan atid, 
  • malaikat penjaga hamba di kiri kanan dan belakang depan yaitu al-Muakibat, 
  • malaikat penjaga jannah yaitu Ridwan, 
  • malaikat penjaga neraka yaitu Malik, 
  • malaikat penjaga kubur yaitu Munkar dan Nakir, 
  • malaikat yang bertugas menetapkan ketentuan Allah pada janin dalam kandungan, 
  • para malaikat yang masuk di Baitul Makmur sebanyak 70 ribu dan tidak kembali lagi, 
  • para malaikat yang selalu mengikuti di majelis-majelis dzikir. 
  • Mereka ada yang berbaris dan berdiri, ada yang ruku dan sujud terus menerus dan masih banyak lagi. 
Beriman kepada Kitab-kitab-Nya
Beriman kepada kitab-kitab Allah yaitu membenarkan dengan sebenar-benarnya bahwa semuanya yang diturunkan dari sisi Allah SWT dan sesungguhnya Allah berbicara dengannya secara nyata, dan ada juga yang mendengar di balik hijab tanpa menggunakan perantara dari malaikat. Ada yang disampaikan kepada malaikat lalu diwahyukan kepada Rasul.

Kitab-kitab itu ada yang ditulis Allah dengan tangan-Nya sendiri semua terealisasi dalam firman-Nya, yang artinya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْياً أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ
رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus dengan seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya Allah apa yang Dia kehendaki." (QS Asy-Syuura [42]:51)

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِّكُلِّ شَيْءٍ
"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (batu tulis/Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu." (QS Al-A'raf [7]: 145).

Firman Allah tentang nabi Isa as:

رَاةِ وَآتَيْنَاهُ الإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى
"Dan Kami berikan kepadanya Injil."  (QS Al-Maidah [5]: 46)

وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً
"Dan Kami telah berikan kepada Dawud kitab Zabur." (QS An-Nisa' [4]:163)

Firman Allah tentang nabi Muhammad saw:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً
"Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." (QS Al-Isra' [17]: 106).

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَنَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُعَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ
"Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb Semesta Allah, ia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringataan dengan bahasa Arab yang jelas." (QS Asy-Syu'ara [26]: 192-195).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌلَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن
بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka) dan sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadamu (Al-Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun belakangnya yang diturunkannya dari tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." (QS Fushilat[41]: 41-42).

Dan lain-lain.

Apa hak Al-Qur'an yang wajib dilaksanakan oleh pemeluknya?
Yaitu mengikutinya baik secara zhahir maupun bathin, berpegang kepadanya dan mengamalkan semua hak-haknya. Firman Allah SWT:

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً 
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya." (QS Al-A'raf [7]: 3).

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan dan diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (QS Al-An'am [:] 155).
Tulisan    3    dari    1  2  3  4




Intisari Ajaran Islam - IV


BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Beriman kepada Rasul-rasul yaitu membenarkan dengan sebenar-benarnya bahwa Allah SWT mengutus Rasul kepada setiap umat dari golongan mereka sendiri yang menyeru kepada mereka untuk beribadah kepada allah yang Esa dan ingkar kepada sesembahan lain-Nya.

Bahwa para rasul itu semua orang yang dapat dipercaya, penunjuk jalan, sebaik-baik manusia akan keimanan dan ketakwaannya, memberi jalan orang yang diberi petunjuk, dengan membawa petunjuk-petunjuk yang nyata dan ayat-ayat yang jelas dari Rabb mereka sebagai penguatnya.

Dan mereka itu menyampaikan seluruh yang dirisalahkan Allah terhadap mereka, tidak sedikit pun mereka menyembunyikan, merubah atau menambah atau menguranginya walau hanya satu huruf.

Firman Allah SWT:

فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاغُ الْمُبِينُ
"Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (QS An-Nahl [16]: 35).

Beriman kepada para Rasul adalah salah satu rukun aqidah tanpa membedakan di antara mereka.

قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Katakanlah (hai orang-orang mukmin): 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta yang diberikan kepada nabi-nabi di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS Al-Baqarah [2]: 136).

Setiap Rasul itu diutus khusus kepada umat mereka, sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ
"Dan tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk." (QS Ar-Ra'd [13]: 7)

Adapun Rasulullah Muhammad SAW, diutus kepada seluruh umat manusia. 

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya' [21]: 107).

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً
"Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (QS Al-Furqan [25]: 1).

Dan Rasulullah Muhammad saw adalah penutup para nabi.

Allah SWT berfirman:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi (Khaataman Nabiyyin)." (QS Al-Ahzab [33]: 40).

BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Beriman kepada Hari akhir yaitu membenarkannya dengan sebenar-benarnya akan kedatangannya, kapanpun. Termasuk juga iman kepada tanda-tanda dan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Adanya kematian dan fitnah kubur (siksa) dan kenikmatannya,peniupan terompet sebagai tanda dan bangkitnya makhluk dari dalam kubur. Lalu dikumpulkan di padang mahsyar, dibagikan lembaran amalan, lalu ditimbang amalannya,

  • melewati jembatan "Shirathal Mustaqim" dan seterusnya.
  • Ada surga dengan beragam kenikmatan,
  • Dan kenikmatan yang paling besar yaitu ketika melihat Allah.
  • Ada neraka dengan berbagai macam bentuk siksaan yang sangat mengerikan, yaitu tertutupnya pandangan mereka dari melihat Allah.

إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَصَادِقٌوَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ
"Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadanya pasti benar, dan sesungguhnya hari pembalasan pasti terjadi." (QS Adz-Dzariyat [51]: 5-6).

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan, katakanlah: 'Memang demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."(QS At-Taghabun [64]: 7).

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): 'Keluarkan nyawamu!' Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan." (QS Al-An'am [6]: 93).

بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِالنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ
أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
"Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat, dikatakan kepada (malaikat): 'Masukkan Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras!" (QS Al-Mukmin [40]: 45-46).

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ
"Dan sesungguhnya Hari Kiamat itu pasti datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (QS Al-Haj: 7).

وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجاً مِّمَّن يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَحَتَّى إِذَا جَاؤُوا قَالَ أَكَذَّبْتُم بِآيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْماً أَمَّاذَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَوَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِم بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لَا يَنطِقُونَ
"Dan (ingaatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, oleh mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). Hingga apabila mereka datang, allah berfirman: "Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau apakah yang telah kamu kerjakan?" Dan jatuhlah perkataan (adzab) atas mereka disebabkan kezhaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa)." (QS An-Naml [27]: 83-85).

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً
"Kami akan memasang timbangan-timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun." (QS Al-Anbiya' [21]:47).

فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْوَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ
وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ 
"Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan disampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya." (QS Al-Baqarah [2]: 24-25). Dan lain-lain.

Segala puji bagi Allah SWT:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim [14]: 27)



SELESAI

Tulisan    4    dari    1  2  3  4




Saturday, July 17, 2010

Akidah Islamiyah Saturday, July 17, 2010

Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.


Para pembaca rahimakumullah,
Nilai suatu ilmu itu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar dan bermanfaat nilainya semakin penting untuk dipelajarinya. Ilmu yang paling penting adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT disebut kafir meskipun dia Profesor Doktor, pada hakekatnya dia bodoh.

Adakah yang lebih bodoh daripada orang yang tidak mengenal yang menciptakannya?

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً
"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (QS. An-Nisa' [4]:69)

Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya dibanding dengan makhluk / ciptaan lainnya. Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya (Menurut hadits yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak 124.000 semuanya menyerukan kepada Tauhid (dikeluarkan oleh Al-Bukhari di At-Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad di Al-Musnad 5/178-179).

Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 (dikeluarkan oleh Ibnu Hibban di Al-Maurid 2085 dan Thabrani di Al-Mu'jamul Kabir 8/139) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul.

Namun ada yang menerima disebut mu'min ada pula yang menolaknya disebut kafir serta ada yang ragu-ragu disebut Munafik yang merupakan bagian dari kekafiran.

Begitu pentingnya Aqidah ini sehingga Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah pada bagian ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan.

Dia dalam tubuh manusia di-ibaratkan seperti kepalanya.
Maka apabila suatu ummat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitisi adalah kepalanya lebih dahulu. Disinilah pentingnya aqidah ini. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akherat. Dialah kunci menuju surga.

Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. 
Pada keyakinan manusia adalah suatu keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah menurut terminologi syara' (agama) yaitu:

KEIMANAN kepada:
  1. Allah,
  2. Malaikat-malaikat,
  3. Kitab-kitab,
  4. Para Nabi dan Rasul,
  5. Hari Akherat, dan
  6. kepada baik dan buruknya Takdir Allah.  Ini yang disebut sebagai Rukun Iman

Syariat Islam terdiri atas dua pokok utama. 
Pertama: Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu, letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok atau asas.

Kedua: Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yang pertama.

Makanya syarat diterimanya amal ibadah itu ada dua perkara, yaitu:
Pertama: Ikhlas karena Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar.

Kedua: Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh.

Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW akan tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas, karena faktor manusia, umpamanya, maka amal tersebut juga tertolak.

Yang paling afdhal adalah amal ibadah haruslah benar-benar memenuhi dua kriteria itu.
Inilah makna yang terkandung dalam salah satu ayat Al-Qur'an:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS Al-Kahfi [18 ]:110)

PERKEMBANGAN IMAN
Pada masa Rasulullah SAW, 'aqidah' bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi maka akan langsung diterangkan oleh beliau SAW. Itulah alasan mengapa kita dapatkan keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita diberikan keimanan sebelum Al-Qur'an" 

Nah, pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, muncullah pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash.

Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad Al-Juhani (Riwayat ini dibawakan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 1 hal. 126) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan perihal itu di dalam karya-karya mereka.

Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), Al-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah wal Jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.

Ringkasnya: Aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan ushuluddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul sunnah dan salaf. 

BAHAYA PENYIMPANGAN AQIDAH
Penyimpangan pada aqidah yang dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akherat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas dan penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya:
  • Tidak menguasai pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar.
  • Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman Allah SWT tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi dalam Surat Al-Baqarah [2]: 170

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." (Apabila mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk." 
  • Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur'an dan Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
  • Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu karena menganggap mereka sebagai penengah/arbiter antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah.

Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh AS ketika mereka mengagungkan kuburan para sholihin, sebagaimana yang tersurat di dalam al-Qur'an dalam ayat berikut:

وَلَا تَذَرُنَّ وَدّاً وَلَا سُوَاعاً وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً
"Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr." (QS Nuh [71]: 23)

Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajara Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.

Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Pada hal Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan yang artinya :

"Setiap anak terlahirkan berdasarkan fithrahnya, maka kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya sebagai yahudi, nashrani, atau pun majusi" (HR: Bukhari).
Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh acara / program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya. Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang.

Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari 2 jam seminggu dalam pelajaran agama, itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik kearah aqidah bahkan mendistorsinya secara besar-besaran?. Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut diataskecuali adalah dengan mendalami, memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih secara baik-benar serta istiqamah, agar hidup kita yang cuma sekali ini, dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khalik demi kebahagiaan-kemashlahatan dunia dan akherat kita.

Allah SWT berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً
"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (QS. An-Nisa' [4]:69) 

Dan dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ 
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl [16]:97)

FAEDAH MEMPELAJARI AQIDAH ISLAMIYAH
Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya.

Makanya seorang mu'min harus yakin kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akherat.

Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah:
  • Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.
  • Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.
  • Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah (outer focus of control).
  • Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.
  • Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya, antara pinter dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.

Sumber: 
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Rukun Iman, Rukun Islam, Dan Ihsan


Friday, July 9, 2010

Pengertian Iman Dan Islam Friday, July 9, 2010



Tanya:
Apa definisi Iman itu dan apa perbedaannya antara Iman dan Islam? 

Jawab: 
Islam dalam pengertiannya secara umum adalah menghamba (beribadah) kepada Allah dengan cara menjalankan ibadah-ibadah yang disyariatkan-Nya sebagaimana yang dibawa oleh para utusan-Nya sejak para rasul itu diutus hingga hari kiamat. 

Ini mencakup apa yang dibawa oleh Nuh as berupa hidayah dan kebenaran, juga yang dibawa oleh Musa as, yang dibawa oleh Isa as dan juga mencakup apa yang dibawa oleh Ibrahim as, Imamul hunafa' (pimpinan orang-orang yang lurus), sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam berbagai ayat-Nya yang menunjukkan bahwa syariat-syariat terdahulu seluruhnya adalah Islam kepada Allah Azza wa Jalla. 

Adapun Islam dalam pengertiannya secara khusus setelah diutusnya Nabi Muhammad saw adalah ajaran yang dibawa oleh beliau. Karena ajaran beliau menghapus (menasakh) seluruh ajaran yang sebelumnya, maka orang yang mengikutinya menjadi seorang muslim dan orang yang menyelisihinya bukan muslim karena ia tidak menyerahkan diri kepada Allah, akan tetapi kepada hawa nafsunya. 

Orang-orang Yahudi adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Musa as, demikian juga orang-orang Nashrani adalah orang-orang muslim pada zamannya Nabi Isa as.

Namun, ketika telah diutus Nabi Muhammad saw kemudian ia mengkufurinya, maka mereka bukan lagi menjadi orang muslim. 

Oleh karena itu, tidak dibenarkan seseorang berkeyakinan bahwa agama yang dipeluk oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani sekarang ini sebagai agama yang benar dan diterima di sisi Allah sebagaimana dienul Islam, bahkan orang yang berkeyakinan seperti itu berarti telah kafir dan keluar dari dienul Islam, sebab Allah Taala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
"Sesungguhnya dien yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam." (QS Ali-Imran [3]: 19) 

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barangsiapa mencari suatu dien selain Islam, maka tidak akan diterima (dien itu) daripadanya." (QS Ali-Imran : 85) [3]

Islam yang dimaksudkan adalah Islam yang dianugrahkan oleh Allah kepada Muhammad saw dan umatnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman, 
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً فَمَنِ
" .... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridoi Islam itu jadi agamamu." (QS Al-Maidah [5]: 3) 

Ini adalah dalil (nash) yang amat jelas yang menunjukkan bahwa selain umat ini, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, bukan pemeluk Islam. Oleh karena itu, agama yang mereka anut tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan memberi manfaat pada hari kiamat. Kita tidak boleh menilainya sebagai agama yang lurus. Salah besar orang yang menilai Yahudi dan Nashrani sebagai saudara seiman, atau bahwa agama mereka pada hari ini sama pula seperti yang dianut oleh para pendahulu mereka. Agama mereka tidak sama dengan seperti pendahulu mereka yang masih lurus dengan ikhlas mengikuti rasulnya. Ajaran agama mereka telah diselewengkan dengan ajaran dan sejarah yang dibuat oleh orang-orang yang ingkar terhadap rasulnya. Mereka ingkar terhadap kedatangan rasul yang akhir, Muhammad saw, sebagai pembawa risalah yang terakhir dan yang sempurna dari Allah SWT.

Jika kita katakan bahwa Islam berarti menghamba diri kepada Allah Taala dengan menjalankan syariat-Nya, maka dalam artian ini termasuk pula pasrah atau tunduk kepada-Nya secara zahir maupun batin. Ia mencakup seluruh aspek: akidah, amalan, maupun perkataan.
Namun, jika kata Islam itu disandingkan dengan Iman, maka Islam berarti amal-amal perbuatan yang zahir berupa ucapan-ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan.
Adapun Iman adalah amalan batiniah yang berupa akidah dan amalan-amalan hati.

Perbedaan istilah ini bisa kita lihat dalam firman Allah Taala sebagai berikut.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman'. Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu." (QS Al-Hujurat [49]: 14) 

Mengenai kisah Nabi Luth, Allah Taala berfirman, 

فَأَخْرَجْنَا مَن كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ
"Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri." (QS Adz-Dzariyat [51]: 35-36) 

Di sini terlihat perbedaan antara mukmin dan muslim. Rumah yang berada di negeri itu zahirnya adalah rumah yang Islami, namun ternyata di dalamnya terdapat istri Luth yang menghianatinya dengan kekufurannya. Adapun siapa saja yang keluar dari negeri itu dan selamat, maka mereka itulah kaum beriman yang hakiki, karena keimanan telah benar-benar masuk ke dalam hati mereka. 

Perbedaan istilah ini juga bisa kita lihat lebih jelas lagi dalam hadis Umar bin Khattab ra bahwa Jibril pernah bertanya kepada Nabi saw mengenai Islam dan iman. Beliau menjawab, "Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan dan berhaji ke Baitullah."

Mengenai iman, beliau menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Utusan-utusan-Nya, hari Akhir, serta beriman dengan qadar yang baik dan yang buruk." 

Walhasil, pengertian Islam secara mutlak adalah mencakup seluruh aspek agama termasuk Iman. Namun, jika istilah Islam itu disandingkan dengan iman, maka Islam ditafsirkan dengan amalan-amalan yang zahir yang berupa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan, sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batiniah berupa itikad (i'tiqad) dan amalan hati. 

Sumber: 
Soal Jawab Masalah Iman dan Tauhid, Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia 

Contact Form

Name

Email *

Message *