Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Takdir. Show all posts
Showing posts with label Takdir. Show all posts

Friday, October 7, 2016

Bagaimana Sebaiknya Kita Menghadapi Musibah? Friday, October 7, 2016


Al Quraanul Karim telah menyebutkan beberapa sebab terjadinya musibah, dan juga Allah Subhaana wa Ta`aala menyebutkan bagaimana menghilangkan musibah tersebut dari hambanya. Diantaranya firman Allah Jalla wa `Alaa:

ذَلِكَ بِأَنّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيّراً نّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىَ قَوْمٍ حَتّىَ يُغَيّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya : “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” Al Anfaal : (53)

Berkata al Imam as Sa’diy dalam menafsirkan ayat ini sebagai berikut : ذَلِكَ (yang demikian itu adalah) `adzab yang Allah Tabaaraka wa Ta`aala timpakan kepada ummat yang mendustakan para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam. Kemudian Allah hilangkan segala bentuk ni`mat dan kesenangan pada mereka disebabkan dosa-dosa mereka, dan dikarenakan perubahan perubahan yang mereka lakukan atas diri diri mereka sendiri, (sebab Allah tidak akan pernah merobah ni`mat yang telah dianugrahkan kepada suatu kaum), berupa keni`matan Din (Agama) dan dunia. Bahkan Allah Jalla wa `Alaa mengabadikannya serta menambahkan nikmat tersebut bagi mereka jikalau mereka mau bersyukur kepadaNya, sebagaimana Allah Subhaana wa Ta`aala berkata:

وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد)). إبراهيم
Artinya: Dan ingatlah juga, takkala Rabbmu memaKlumkan: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur , pasti Saya akan menambah ni`mat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari ni`matKu, maka sesungguhnya `adzabKu sangatlah pedih.” Ibrahim : (7).

Al Imam `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata: “Allah Ta`aala berkata pada mereka- memotivasi mereka untuk mensyukuri ni`mat ni`matNya-: (Dan ingatlah takkala Rabbmu mema`lumkan), maksudnya : beritahukanlah dan janjikanlah, (Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Saya akan menambahkan kepada kalian), bentuk ni`mat ni`matKu, (dan jika kalian mengingkari ni`matKu, maka sesungguhnya `adzabku sangatlah pedih), diantaranya, akan dihilangkan atau dicabut dari mereka ni`mat tersebut, yang telah dianugrahkanNya atas mereka. Yang dimaksud dengan bersyukur ialah pengakuan hati dengan ni`mat Allah tersebut, lalu memuji muji Allah `Azza wa Jalla, kemudian membelanjakannya pada jalan jalan yang diredhoi Allah Ta`aala. Sedangkan kufur ni`mat sebaliknya. (1)

((حتى يغيروا ما بأنفسهم))
(Hingga kaum itu merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri), bentuk perobahan itu ialah : dari keta`atan berubah kepada ma`siat, sehingga mereka mengukufuri atau mengingkari ni`mat Allah, mereka ganti hal tersebut dengan kekufuran, maka Allah membalikan mereka atas ni`mat itu, dan merobah ni`mat tersebut atas mereka, sebagaimana mereka telah merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan Allah memiliki hikmah dalam hal itu, ke`adilan dan kebajikan yang diberikanNya kepada hamba-hambaNya. Dimana Allah Ta`aala tidak menimpakan `adzab atas suatu kaum, melainkan disebabkan kezholiman mereka sendiri, sekira kira Allah menarik hati wali waliNya untuk kembali kepadaNya, dengan cara merasakan kepada hamba-hambaNya malapetaka, bencana ketika mereka menyelisihi perintahNya. (2) Dan juga Allah berfirman:

((وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِير)). الشورى: (30)
Artinya : ”Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema`afkan sebagian besar (dari kesalahan kesalahanmu”. Asy Syuuraa: (30).

Berkata al Imam as Sa’diy Rahimahullahu Ta`aala dalam menafsirkan ayat ini:
“Allah mengkhabarkan bahwa tidaklah menimpa hamba hamba tersebut satu mushibah, pada badan-badan mereka, harta-harta dan anak-anak mereka serta pada apa saja yang mereka cintai, itu adalah merupakan kemulian atas mereka, kecuali disebabkan oleh apa-apa yang telah dihasilkan oleh tangan-tangan mereka dari bentuk kejelekan, dan Allah telah banyak mengampuni kesalahan. Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta`aala tidak berbuat dzholim terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi merekalah yang telah berbuat dzholim atas diri mereka sendiri.” Sebagaimana Allah Jalla wa `Alaa berfirman:

((وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّهُ النّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىَ ظَهْرِهَا مِن دَآبّةٍ)). الفاطر: (45).
Artinya : “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan apa yang mereka usahakan, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun.” Al Faathir : (45)

“Bukanlah kelalaian dari Allah Ta`aala meng-akhirkan siksaan, dan tidak pula karena lemah.” (3) Dan Allah `Azza wa Jalla berkata:

((وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مّطْمَئِنّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مّن كُلّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ)). النحل : (112).
Artinya: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari ni`mat ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Al-Nahl: (112)

Berkata al Imam as Sa’diy Rahimahullahu ketika menafsirkan ayat ini:
Negeri ini adalah Makkah yang mulia, dulunya aman, tentram dan tidak ada seorangpun yang bangkit amarahnya didalam negeri Makkah tersebut. Orang-orang jahiliyah yang awampun menghormati Makkah. Sampai-sampai jika salah seorang dari mereka mendapatkan pembunuh bapaknya dan saudaranya, tidak akan bangkit kemarahannya bersamaan kuatnya egoisme pada mereka dan rasa cinta kesukuan `Arab (suku-isme). Itu merupakan hasil yang diperoleh dari negeri tersebut dalam bentuk keamanan yang sempurna, tidak akan terdapat pada negeri negeri lainnya, dalam bentuk rezqi yang amat luas. Padahal negeri Makkah tidak ada pertanian dan tidak pula pohon-pohonan akan tetapi Allah Jalla wa `Alaa mudahkan bagi negeri Makkah rezqi yang datang dari segala penjuru dunia.

Kemudian datanglah Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam dari kalangan mereka sendiri, yang mereka sangat mengenal keamanahan dan kejujurannya, dia menyeru/mengajak mereka kepada perkara-perkara yang paling sempurna, serta mencegah mereka dari segala perkara yang jelek, akan tetapi mereka mendustakannya, dan mengingkari ni`mat-ni`mat Allah atas mereka, lalu Allah Subhaana wa Ta`aala rasakan atas mereka kebalikan apa-apa yang mereka ada padanya. Allah Ta`aala memakaikan pakaian lapar pada mereka, yang ia merupakan lawan dari rasa senang (kesenangan), rasa takut merupakan lawan dari rasa aman (keamanan), dan keseluruhan demikian disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri dan kekufuran mereka, dan tidak bersyukurnya mereka atas ni`mat Allah Tabaaraka wa Ta`aala.

((وما ظلمهم الله ولكن كانوا أنفسهم يظلمون)). آل عمران (117).
Artinya : “Tidaklah Allah menzholimi mereka akan tetapi mereka sendirilah yang berbuat zholim atas diri mereka.” Ali `Imraan (117). (4)

Berkata al Imam al Baghawiy ketika menafsirkan ayat ini : “(Tidaklah Allah menzholimi mereka)”, dengan demikian, “(akan tetapi mereka sendirilah yang berbuat zholim atas diri mereka)”, disebabkan karena kekufuran dan ma`shiyat. (5) Dan juga Allah berfirman disurat yang lain:

Artinya: “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar.” Ar Ruum : (41).

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata dalam menafsirkan ayat ini “Maksudnya : Telah jelas kerusakan di daratan dan di lautan, artinya : rusaknya kehidupan mereka dan kurangnya, dan diliputi oleh musibah-musibah. Pada diri mereka dalam bentuk penyakit serta penyakit menular, dan selainnya. Kesemua itu disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan mereka, dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang rusak dan merusak, pada dasarnya. Ini disebutkan:

((ليذيقهم بعض الذي عملوا)).
“supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka”, maksudnya: agar mereka mengetahui bahwa akan dibalas atas perbuatan-perbuatan mereka, maka disegerakan atas mereka balasan itu sebagai contoh, dari bentuk balasan perbuatan mereka di dunia.

((لعلهم يرجعون)).
“semoga mereka kembali kepada jalan yang benar.” Maksudnya; dari perbuatan-perbuatan mereka, telah menghasilkan dari bentuk kerusakan apa-apa yang telah dihasilkan oleh perbuatan itu. Supaya baik dan tenang keadaan mereka.

Maha Suci Dzat yang sangat Penyayang dengan cobaanNya, yang Maha Pemberi keutamaan pada musibah-musibahNya, kalau tidak demikian, kalau seandainya Allah Subhaana wa Ta`aala menimpakan musibah atas mereka, dikarenakan apa-apa yang telah mereka lakukan, sudah tentu Allah `Azza wa Jalla tidak akan menyisakan seekor hewanpun di permukaan bumi ini.” (6)

Ayat ayat yang mulia ini memberi pengertian kepada kita bahwa Allah adalah Maha `Adil dan Maha Bijaksana. Ia tidak akan menurunkan bala dan bencana atas suatu kaum kecuali karena perbuatan ma`shiat, dosa serta pelanggaran mereka terhadap perintah-perintah Allah, lebih-lebih karena jauhnya mereka dari Tauhid serta tersebar luasnya berbagai perbuatan syirik di banyak negara-negara Islam. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya banyak fitnah, cobaan, ujian dan berbagai musibah yang diturunkan Allah Tabaaraka wa Ta`aala atas mereka. Kesemua itu tidak akan hilang kecuali mereka kembali mentauhidkan Allah Jalla wa `Alaa-dengan ber`ibadat kepadaNya saja serta meninggalkan seluruh bentuk kesyirikan, bid`ah, khurafat-khurafat dan tahayul serta ma`shiat-ma`shiat. Dan juga menegakkan syari`at-syari`atNYA baik terhadap pribadi maupun masyarakat.

Al Quran juga menjelaskan keadaan orang-orang musyrik yang berdo’a kepada Allah dengan meng EsakanNya sa`at mereka ditimpa musibah dan kesempitan. Namun ketika Allah Jalla dzikruHu menyelamatkan mereka dari musibah dan kesempitan tersebut, mereka kembali lagi kepada perbuatan-perbuatan syirik mereka, dan berdo`a kepada selain Allah Tabaaraka wa Ta`aala diwaktu senang dan lapang. Sedangkan diwaktu sempit mereka betul-betul meng-ikhlashkan seluruh bentuk per`ibadatan mereka kepada Allah `Azza wa Jalla. Allah Tabaaraka wa Ta`aala berfirman:

فَإِذَا رَكِبُواْ فِي الْفُلْكِ دَعَوُاْ اللّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدّينَ فَلَمّا نَجّاهُمْ إِلَى الْبَرّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُون)). العنكبوت
Artinya : “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepadaNya; maka tatkkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan Allah.” Al ’Ankabut : (65).

Berkata as Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala ketika menafsirkan ayat ini: “Kemudian melazimkan Allah Ta`aala, terhadap orang-orang musyrik keikhlashan mereka kepada Allah, dalam situasi sangat terdesak, takkala mereka menaiki kapal di lautan, gelombangnya mulai saling berbenturan sama lain, timbul rasa takut mereka untuk binasa, maka ketika itulah mereka meninggalkan seluruh sekutu-sekutu mereka, lantas mereka mengikhlashkan do`a semata-mata hanya kepada Allah saja tidak ada sekutu baginya. Seketika hilang rasa kesusahan, dan selamat orang-orang yang mengikhlashkan do`a bagiNya kedaratan, lalu mereka kembali melakukan kesyirikan dengan meng`ibadati yang sama sekali tidak menyelamatkan mereka dari kesusahan, dan tidak sanggup menghilangkan dari mereka kesempitan.

Kenapa mereka tidak meng-ikhlashkan do`a kepada Allah Tabaaraka wa Ta`aala dalam keadaan senang dan susah, lapang dan sempit, supaya mereka betul menjadi orang mu`minin sebenarnya, yang akan berhak mendapatkan balasanNya, Allah akan menjauhkan dari mereka `adzabNya.

Akan tetapi kesyirikan yang mereka lakukan setelah ni`mat Kami atas mereka, dalam bentuk keselamatan dari lautan, akibatnya, kufur dengan apa yang telah Kami berikan pada mereka, ditukar keni`matan dengan kejelekan, supaya sempurna kesenangan-kesenangan yang mereka ni`mati di dunia, sebagaimana bersenang-senangnya binatang ternak, tidak ada bagi mereka kepentingan kecuali hanya untuk perut dan kemaluan mereka.” (7)

Kebanyakan dari ummat Islam pada hari ini, manakala ditimpa musibah, mereka memohon pertolongan kepada selain Allah Subhaana wa Ta`aala, mereka menyeru ya Rasulallahi!, ya as Syaikh Jailani!, ya as Syaikh Rifaa`iiy!, ya as Syaikh Marghaniy!, ya as Syaikh Badawiy!, ya as Syaikh `Arob!…” dan sebagainya.

Mereka menyekutukan Allah Tabaaraka wa Ta`aala diwaktu sempit dan lapang, sangat berbeda sekali dengan ummat jahiliyah di zaman Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, dimana mereka melakukan kesyirikan kepada Allah `Azza wa Jalla diwaktu lapang saja; sedangkan diwaktu sempit dan terjepit mereka betul-betul meng-ikhlashkan per`ibadatan mereka kepadaNya saja, sebagaimana yang kita saksikan pada ayat yang di atas (al `Ankabuut 65). Mereka menyelisihi perkataan Rabb mereka dan perkataan Rasul mereka Shollallahu `alaihi wa Sallam!!

Sesungguhnya kaum muslimiin para shohabat ketika diserang balik oleh kaum musyrikin diperang Uhud adalah disebabkan oleh sebahagian para pemanah yang tidak menta`ati perintah pemimpin mereka;- Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam, mereka heran atas kekalahan yang mereka derita, maka dengan tegas Allah Jalla wa `Alaa menjawab rasa ta`ajjub mereka tersebut:

قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنْفُسِكُم)). آل عمران (165).ْ قلتم أنى هذا))
Artinya : “Kalian berkata : dari mana datangnya kekalahan ini?” Katakanlah, itu dari (kesalahan)diri kalian sendiri”. ( Ali’Imran : (165).

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata dalam menafsirkan ayat ini : “Maksudnya; dari mana menimpa kami apa-apa yang telah menimpa dan dikalahkannya kami ini?”,

((قل هو من عند أنفسكم)).
“Katakanlah : itu dari (kesalahan diri kalian sendiri.” Ketika kalian berselisih, dan melakukan ma`shiat dengan menyelisihi perintah Nabi kalian Shollallahu `alaihi wa Sallam, setelah diperlihatkan kepada kalian apa-apa yang kalian cintai, maka kembalikanlah celaan itu atas diri-diri kalian, dan hati-hatilah dari sebab-sebab yang merusak.” (8)

Dan demikian juga dipeperangan Hunein ketika berkata sebahagian kaum muslimiin: “Sekali-kali kita tidak akan dikalahkan oleh jumlah yang sedikit.”

Maka terjadilah serangan kuat dari musuh, Allah Tabaaraka wa Ta`aala juga mencela mereka atas perbuatan tersebut dengan perkataanNya:

ويوم حنين إذ أعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم شيئا)). التوبة
Artinya : “Dan ingatlah peperangan Hunein, yaitu diwaktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak akan memberikan manfa`at kepada kalian sedikitpun.” At Taubah : (25).

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata : “Maksudnya; tidak akan memberi manfa`at kepada kalian sedikitpun atau banyak.” (9)

`Umar bin al Khatthaab radhiallahu `anhu pernah menulis kepada pimpinan perang Sa`ad bin Abi Waqqash di al `Iraaq : “Janganlah kalian mengatakan sesungguhnya musuh kita lebih jelek dari kita maka sekali-kali tidak akan berkuasa atas kita, kadang-kadang bisa jadi dikuasakan atas satu qaum seseorang yang lebih jelek dari mereka, sebagaimana dikuasakan atas bani Israaiil kuffarul majuusi takkala mereka telah melakukan ma`aashiy (ma`shiat-ma`shiat), mintalah pertolongan kepada Allah atas diri-diri kalian, sebagaimana kalian minta pertolongan kepadaNya dari musuh kalian.”

Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy, Rajab 1428H
Sumber bacaan kitab : “Minhaajul Firqatun Naajiyah,” oleh as Syaikh Muhammad bin Jamiil Zainu.

Footnote:
(1-9) “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan,” oleh as Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy.
(5) “Tafsiirul Baghawiy (Ma`aalimut Tanziil)”, oleh al Imam Muhyis Sunnah Abu Muhammad al Husein bin Mas`uud al Baghawiy, 516H, (1/408).

Dikutip dari http://www.thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=121, Penulis: Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal as Salafiy Lc, Judul: Sebab-Sebab Terjadinya Musibah Dan Cara Mengatasinya

Wassalam, Abu Muawiah

Tuesday, December 21, 2010

Cara Pandang Umat Islam Terhadap Cobaan Hidup Tuesday, December 21, 2010


Hidup adalah perjuangan”, istilah itulah yang mungkin paling tepat untuk mendeskripsikan makna dari sebuah kehidupan. Maka setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak akan pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan. Jika seorang manusia ingin hidup tanpa mau berjuang, maka sama saja ia sedang mengharapkan sebuah kematian untuk menjemputnya.

Allah swt mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk mengabdi/beribadah kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia yang tidak mau beribadah kepada Allah swt maka ia tidak patut untuk hidup.

Ibadah kepada Allah swt, itulah perjuangan hidup yang diajarkan di dalam Islam. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan. Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang, karena Islam mengajarkan bahwa Allah swt tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan kaum itu sendirilah yang harus berjuang untuk merubahnya. Sama saja dengan seorang karyawan yang direkrut untuk bekerja, kalau dia tidak mau bekerja maka berhenti saja menjadi karyawan.

Satu hal yang identik dengan perjuangan adalah adanya cobaan. Cobaan adalah salah satu bagian dari setiap perjuangan yang tidak dapat dihindarkan, pasti dialami dan dirasakan oleh setiap manusia dalam perjalanan hidup.

Cobaan memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali manusia yang merasa sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari Allah swt. Bahkan ada pula yang nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu untuk bertahan dengan cobaan yang tengah dialaminya.

Umat muslim tidak pantas bersikap demikian. Putus asa dan terjebak dalam duka yang tak berkesudahan bukanlah sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya senantiasa optimis dan berpikiran positif. Berbaik sangka kepada yang telah memberikan cobaan, yaitu Allah swt adalah jalan terbaik yang diajarkan oleh Islam. Karena sesungguhnya Allah swt akan menjawah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jika hambanya berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan diterimanya. Namun, jika hambanya senantiasa berbaik sangka maka Allah swt pun akan memberikan kebaikan kepadanya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt di dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HR. Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675 - lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)

Islam telah mengajarkan kepada umatnya bahwa tidak ada sesuatu apapun yang telah diciptakan di dunia ini melainkan pasti ada manfaatnya. Tidak ada yang diciptakan dengan sia-sia, dan tidak ada pula yang diciptakan tanpa tujuan. Allah swt telah memperhitungkannya dengan sangat sempurna. Bahkan Islam mengajarkan bahwa setiap cobaan itu merupakan salah satu bentuk pembersih dari dosa-dosa yang telah diperbuat, cobaan merupakan tanda cinta dari Allah swt. Semakin Allah swt mencintai seorang hamba maka semakin banyak cobaan yang akan diberikan-Nya. Hal itu tidak lain hanyalah untuk semakin meningkatkan rasa cinta dan kedekatan umatnya kepada-Nya.

Islam memandang cobaan sebagai suatu pelajaran yang bernilai positif, bukan sebagai satu hal yang negatif. Begitulah kacamata Islam, selalu mengajarkan untuk melihat dengan kacamata positif. Cobaan merupakan gudang hikmah yang sangat berharga. Banyak hikmah yang dapat dipetik melalui sebuah cobaan, di antaranya adalah:

  • Cobaan Adalah Pembersih
Dalam kacamata Islam, cobaan yang menimpa seorang muslim sebenarnya adalah bukti kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Karena, dengan cobaan itulah Allah swt akan membersihkan seseorang dari dosa-dosanya yang telah overload. Kalau dosa-dosa tersebut tidak dibersihkan, tentu saja akan mencelakakan manusia tersebut.

Pembersihan dilakukan oleh Allah swt untuk mengurangi siksa Allah swt yang pedih di akhirat kelak. Allah swt pun tidak menginginkan hamba-Nya menemui-Nya dalam keadaan penuh dengan dosa, sehingga Allah swt membersihkan atau menghisapnya terlebih dahulu. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Dan itulah salah satu wujud indahnya berada di dalam naungan Islam. Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR. At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143) 

  • Penyempurna Keimanan
Dalam ajaran Islam, cobaan merupakan salah satu media yang dapat menyempurnakan keimanan seseorang. Karena, kesempurnaan iman dapat dilihat dari keitiqomahannya untuk tetap taat kepada Allah swt baik dalam keadaan senang maupun susah.

Rasulullah saw bersabda mengenai bagaimanakah sifat seorang muslim yang sebenarnya, yang artinya:

“Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

  • Mengingatkan Umatnya
Islam juga menganggap cobaan sebagai alarm pengingat pesan bagi seluruh umatnya. Dengan cobaan itulah, Allah swt senantiasa mengingatkan manusia bahwa mereka itu adalah makhluk yang lemah, tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan kehendak Allah swt. Tidak ada yang patut dibanggakan atau disombongkan. Rasulullah saw telah berfirman yang artinya: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari no. 6053)

Hadits di atas jelas sekali mengingatkan umat Islam bahwa hidup ini hanyalah ibarat sebuah perjalanan, yang suatu saat pasti akan berakhir atau mencapai tempat tujuannya, yaitu kampung akhirat.

Dengan adanya cobaan, maka umat muslim akan senantiasa diingatkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kuat dan tidak ada pula yang abadi. Semua akan kembali kepada Allah swt.

[Sumber: syahadat.com]





Saturday, November 6, 2010

Pengertian Musibah Dan Bencana Saturday, November 6, 2010


Pada hakekatnya, segala sesuatu tentang kehidupan manusia sejak awal peradaban manusia itu sendiri dimulai hingga akhir jaman nanti  telah dijelaskan oleh Allah melalui para nabi dan Rasul utusan-Nya, dan segala penjelasan itu kemudian  "ditutup" dengan disempurnakannya Islam sebagai agama yang diridhai Allah SWT melalui Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Muhammad saw. 

Di antara penjelasan-penjelasan tsb adalah mengenai musibah, cara menyikapinya, dan penyebab terjadinya sebagaimana dijelaskan berikut:

Bala’
Secara literal, al-bala’ bermakna al-ikhtibar (ujian). Istilah bala’ sendiri digunakan untuk menggambarkan ujian yang baik maupun yang buruk (Imam ar-Razi, Mukhtâr al-Shihâh, hal. 65). Dalam kitab al-Tibyân fi Tafsîr Gharîb al-Qur’an dinyatakan, bahwa bala’ itu memiliki tiga bentuk; ni’mat (kenikmatan), ikhtibaar (cobaan atau ujian), dan makruuh (sesuatu yang dibenci) (Syihâb al-Dîn Ahmad, al-Tibyân fi Tafsîr Gharîb al-Qur’an, juz 1, hal. 85). Di dalam al-Quran, kata bala’ disebutkan di enam tempat, dengan makna yang berbeda-beda; (Qs. al-Baqarah [2]: 49; Qs. al-A’râf [7]: 141; Qs. al-Anfâl [8]: 17; Qs. Ibrahim [14]: 6; Qs. ash-Shafât [37]: 106; Qs. ad-Dukhân [44]: 33). Ada yang bermakna cobaan dan ujian yang dibenci manusia. Ada pula yang berarti kemenangan atau kenikmatan (bala’ hasanan).

Bala’ dalam konteks ujian yang buruk, misalnya terdapat di dalam firman Allah SWT berikut ini:

“Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 49).

Ayat ini bercerita tentang diselamatkannya Bani Israil dari penyembelihan dan kekejaman Fir’aun. 
Menurut Ali ash-Shabuni, Bala’ dalam ayat ini adalah al-mihnah wa al-ikhtibâr (ujian dan cobaan) yang ditimpakan oleh Fir’aun kepada Bani Israil; yakni penyembelihan anak laki-laki [Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 1, hal. 57].

Adapun Bala’ dalam konteks ujian yang baik terdapat dalam firman Allah SWT berikut ini:

“Maka sebenarnya, bukan kamu yang membunuh mereka. Akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik (bala’an hasanan). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Anfâl [8]: 17).

Menurut Imam al-Baidhawi dalam Tafsir al-Baidhawi, kata Bala’ pada ayat di atas adalah kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman, yang berujud pertolongan Allah (al-nashr), al-ghanimah (harta rampasan perang), dan al-musyahadah (mati syahid) [Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 3, hal. 97].

Musibah.
Musibah adalah al-baliyyah (ujian) dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisân al-‘Arab menyatakan, bahwa musibah adalah al-dahr (kemalangan, musibah, dan bencana) [Imam Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 535].

Menurut Imam al-Baidhawi, musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw, “Setiap perkara yang menyakiti manusia adalah musibah.” [Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 1, hal. 431].

Kata musibah dalam Al-Qur'an disebutkan dalam sepuluh ayat, dan semuanya bermakna kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menyakini, bahwa semua musibah itu datang dari Allah SWT, dan atas ijinNya. 

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. al-Taghâbun [64]: 11).

‘Adzab
Secara literal, ‘adzab adalah al-nakâl wa al-‘uqûbah (peringatan bagi yang lain, dan siksaan (hukuman) [Imam Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 585]. Al-nakâl adalah peringatan yang berupa siksaan atau hukuman kepada yang lain. Kata al-‘adzab biasanya digunakan pada konteks hukuman atau siksaan kelak di hari akhir. 

Allah SWT berfirman:

“Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Qs. al-Baqarah [2]: 7).

“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akherat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 10), dan lain sebagainya. 

Namun demikian, kata ‘adzab juga digunakan dalam konteks hukuman di kehidupan dunia. 

Allah SWT berfirman:

“Tak ada suatu negeripun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab Lauh al-Mahfuudz.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 58).

Menurut Ali ash-Shabuni, jika penduduk suatu kota ingkar atau bermaksiyat kepada perintah Allah SWT, mendustakan Rasul-rasulNya, niscaya Allah akan menghancurkan mereka, baik dengan kehancuran secara total (pemusnahan), maupun ditimpa dengan hukuman yang amat keras [Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165].

Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman:

“Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (Qs. al-Fath [48]: 25).

Tatkala menafsirkan ayat ini, Ali ash-Shabuni mengatakan, “Seandainya orang-orang kafir itu dipisahkan satu dengan yang lain, kemudian dipisahkan antara yang mukmin dengan yang kafir, tentulah Allah akan mengadzab orang-orang kafir dengan adzab yang sangat keras, berupa pembunuhan, penawanan, maupun pengusiran dari negeri-negeri mereka.” [Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 3, hal. 48].

Keterangan ini diperkuat dengan firman Allah SWT yang lain, yakni:

“Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengadzab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akherat adzab neraka.” (Qs. al-Hasyr [59]: 3).

Ayat ini bercerita tentang pengusiran Bani Nadzir, sekaligus mengisahkan, bahwa jikalau Allah SWT tidak menetapkan hukuman pengusiran terhadap Bani Nadzir, niscaya mereka akan diadzab dengan pembunuhan (al-qatl). Hukuman bagi mereka cukup dengan pengusiran, bukan pembunuhan seperti halnya hukuman bagi Yahudi Bani Quraidzah.

Ayat di atas juga menunjukkan, bahwa ‘adzab tidak hanya berasal dari Allah SWT saja, akan tetapi juga bersumber dari manusia sendiri, yakni berupa hukuman atau sanksi di kehidupan dunia.

Penyebab Datangnya ‘Adzab Allah 
Pada dasarnya, penyebab datangnya ‘adzab Allah SWT adalah kedzaliman, kemaksiatan, dan kefasikan. Allah SWT telah menyatakan hal ini dalam beberapa ayat Al-Qur'an; di antaranya adalah firmanNya: 

“Dan tidak pernah Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman.” (Qs. al-Qashash [28]: 59).

“ ... maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.” (Qs. al-Ahqâf [46]: 35).

“Kami telah membinasakan mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa (al-mujrim).” (Qs. ad-Dukhân [44]: 37).

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa ‘adzab Allah hanya akan dijatuhkan kepada penduduk negeri yang melakukan kedzaliman, kemaksiatan, dan kefasikan. Dengan kata lain, ‘adzab Allah hanya akan dijatuhkan, tatkala peringatan-peringatan Allah SWT melalui lisan RasulNya telah diabaikan dan didustakan.

Akan tetapi, ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa ‘adzab Allah bisa saja mengenai orang-orang mukmin tatkala mereka enggan mencegah kemungkaran padahal mereka mampu melakukannya. 

Dari Adi bin Umairah dituturkan, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengadzab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” [HR. Imam Ahmad].

Sedangkan ‘adzab manusia, baik berupa pembunuhan, teror, pengusiran, dan lain sebagainya semata-mata tergantung dari kehendak manusia itu sendiri. Contohnya, Fir’aun pernah mengumumkan hukuman bunuh bagi bayi yang lahir laki-laki. Rasulullah Saw menghukum Bani Quraidzah dengan pembunuhan atas pengkhianatan mereka. Nabi Saw juga pernah mengusir Bani Nadzir dari kota Madinah, sebagai hukuman atas makar yang mereka lakukan.

Jenis-Jenis ‘Adzab Allah
‘Adzab Allah SWT ada dua jenis. 

Pertama, ‘adzab yang ditimpakan kepada penduduk suatu negeri yang berakibat musnahnya penduduk kota tersebut (isti’shâl). 

Kedua, ‘adzab yang sangat keras, akan tetapi tidak sampai memusnahkan penduduk negeri tersebut.

‘Adzab jenis pertama dijatuhkan Allah SWT kepada umat terdahulu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum Tsamud, dan lain sebagainya. Kaum-kaum tersebut telah dimusnahkan Allah SWT akibat pengingkaran mereka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. 

Jika tanda-tanda kebesaran Allah SWT telah ditunjukkan kepada suatu kaum, namun kaum tersebut tetap saja ingkar dan mendustakan Allah dan RasulNya, maka cepat atau lambat Allah SWT pasti akan memusnahkan kaum tersebut. 

Allah SWT berfirman:

“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfudz). Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda kekuasaan Kami) , melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 58-59).

Allah SWT telah menetapkan, bahwa orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kekuasaanNya akan dimusnahkan. Tanda kebesaran Allah ini pernah diberikan kepada Rasul-Rasul terdahulu; misalnya, unta betina Nabi Shaleh bagi kaum Tsamud. Sayangnya, kaum Tsamud mengingkari tanda kebesaran Allah ini. Akhirnya kaum Tsamud dimusnahkan dari muka bumi. 

Mayoritas ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini berhubungan dengan permintaan orang-orang Quraisy kepada Nabi Saw agar beliau menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai bukti kebenaran kenabian dan risalahnya. Akan tetapi, Allah SWT memberitahu Nabi Saw, bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, namun mereka tetap saja ingkar dan mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah tersebut, niscaya mereka akan dimusnahkan sebagaimana kaum-kaum terdahulu [Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165].

Oleh karena itu, Allah SWT tidak mengiyakan permintaan kaum Quraisy tersebut, dikarenakan Ia tidak ingin memusnahkan kaum Quraisy.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa ‘adzab isti’shâl (pemusnahan) tidak akan menimpa umat Muhammad Saw. Tetapi, umat Muhammad Saw tidak luput dari ‘adzab yang keras, jika mereka melakukan kedzaliman, kefasikan, dan kekufuran.

‘Adzab Akibat Pembesar-Pembesar Fasiq Dan Dzalim
Jika pembesar-pembesar suatu negeri atau kota melakukan kemaksiatan, kedurhakaan, dan kedzaliman, niscaya Allah akan mengirimkan ‘adzab kepada penduduk negeri tersebut. 

Al-Qur’an telah menyatakan hal ini dengan sangat jelas:

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah SWT), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 16).

Ibnu ‘Abbas tatkala menafsirkan ayat ini menyatakan:

“Maksud ayat ini adalah, jika Kami (Allah) telah memberikan kekuasaan kepada pembesar-pembesar di sebuah kota, kemudian mereka berbuat maksiyat di dalamnya, maka Allah SWT akan menghancurkan penduduk di negeri tersebut dengan ‘adzab.” [Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 371].

Dalam ayat lain, Allah SWT mendiskripsikan pula kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia. 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Qs. ar-Rûm [30]: 41).

Imam Baidhawi berkata, “Yang dimaksud dengan kerusakan (pada ayat tersebut) adalah paceklik (al-jadb), kebakaran yang merajalela, ketenggelaman, hilangnya keberkahan, dan banyaknya kelaparan sebagai akibat kemaksiatan dan ulah perbuatan manusia.” [Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 2, hal. 106].

Menurut Imam Ibnu Katsir, yang dimaksud kerusakan adalah berkurangnya hasil-hasil pertanian dan buah-buahan karena kemaksiatan manusia. Sebab, baiknya bumi dan langit tergantung pada ketaatan [Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir, hal. 57].

Kedzaliman penguasa, keengganan rakyat melakukan koreksi dan muhasabah terhadap penguasa merupakan pemicu datangnya ‘adzab dari Allah SWT. Sebaliknya, ketaatan kepada Allah SWT merupakan kunci bagi perbaikan bumi dan seisinya.

Khatimah
Seorang mukmin harus menyakini bahwa seluruh musibah yang menimpa dirinya berasal dari Allah SWT. Sebab, tidak ada satupun musibah yang terjadi di muka bumi ini, kecuali atas Kehendak dan Ijin Allah SWT. Akan tetapi, seorang mukmin juga wajib mengimani adanya musibah-musibah yang disebabkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia sendiri

Sesungguhnya, musibah maupun ‘adzab yang ditimpakan Allah SWT kepada manusia ditujukan agar mereka kembali mentauhidkan Allah SWT, dan menjalankan seluruh syariatNya dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sayangnya, banyak orang memandang musibah sebagai peristiwa dan fenomena alam biasa, bukan sebagai peringatan dan pelajaran dari Allah SWT. Akibatnya, mereka tetap tidak mau berbenah dan memperbaiki diri. Mereka tetap melakukan kemaksiatan dan menyia-nyiakan syariat Allah SWT. Mereka lebih percaya kepada kekuatan ilmu dan teknologi buatan manusia untuk menangkal bencana dan musibah dari pada Kekuatan dan Kekuasaan Allah SWT. Adanya musibah tidak justru menjadikan mereka rendah diri dan bersandar kepada Allah, namun justru menyeret mereka untuk semakin ingkar kepada Allah SWT.

Salahsatu bentuk pembenahan diri adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menangkal bencana dan musibah dengan berbagai sarana dan prasarana; misalnya; merancang master planning yang komprehensif, membangun sistem drainase yang baik, mendirikan tembok dan bendungan beton yang kokoh, dan lain sebagainya. Namun, pembenahan harusnya tidak hanya berhenti pada aspek-aspek fisik seperti ini saja, akan tetapi harus mencakup pula pembenahan spritual yang mampu mengantarkan kepada ketaqwaan yang hakiki; yakni mentauhidkan Allah SWT dan menjalankan seluruh syariatNya. Sebab, penyebab utama datangnya ‘adzab adalah kemaksiatan, bukan semata-mata karena lemah maupun kurangnya sarana dan prasarana fisik -- Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

Tidak ada di kalangan manusia yang suka pada bencana. Bencana adalah hal yang sangat menyusahkan manusia.  Kerana itulah manusia bersedih hati dengan datangnya bencana.Kendati demikian, tidak ada di kalangan manusia, baik itu secara perseorangan maupun secara kelompok, dapat mengelak atau dapat terlepas daripada bencana, sekalipun dia seorang yang berkuasa atau seorang yang kaya. Cuma ada orang yang ditimpa bencana sekali-sekali saja, ada yang selalu, ada yang ringan, ada yang berat, ada yang terjadi pada dirinya, keluarga dan harta bendanya atau kedudukannya dan lain-lain lagi. Di antara bencana-bencana itu mana yang lebih berbahaya? 

Sebenarnya bencana terbagi menjadi dua:

Pertama: Yang bersifat hissi atau bersifat lahir
Bencana ini berbagai macam bentuknya, di antaranya seperti sakit, harta hilang, kematian keluarga yang tercinta, difitnah, dipermalukan, dipukul orang, jatuh miskin, turun pangkat, perniagaan rugi, diPHK, harta musnah oleh bencana alam, dipenjara dan lain sebagainya.

Kedua: Yang bersifat maknawi atau rohani
Bencana ini berbagai macam pula bentuknya, seperti di antaranya adalah melupakan ilmu yang telah dipelajari, tercabut iman, atau iman berkurang, ilmu tidak diamalkan, iman tercabut yang ada hubungan dengan akidah. Iman merosot karena beberapa sebab, seperti di antaranya ada amalan yang biasa dikerjakan tidak lagi dikerjakan, atau melakukan dosa, baik itu kecil maupun besar.

Dosa itu, ada dosa lahir dan ada dosa batin. Di antara dosa-dosa itu ialah seperti berzina, riba, korupsi, mencuri, menipu, minum arak, judi, mengumpat, memfitnah, menghina, menghasut, hasad, tamak, bakhil, pemarah, mengadu domba dan lain-lain.

Di antara dua bentuk bencana ini, bencana yang paling berbahaya ialah bencana yang bersifat rohani dan maknawi, karena bencana ini akan membawa ke Neraka. Sebaliknya bencana yang bersifat hissi tidak membawa ke Neraka. Bahkan menguntungkan karena boleh jadi dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa atau mendapat derajat yang baik di dalam Sorga, asalkan pandai menerimanya.

Oleh karena itu bencana yang bersifat rohani dan maknawi ini sangat dibenci dan wajib dijauhi. Maksudnya, setiap dosa adalah bencana, maka wajib dijauhi. Tapi bencana yang bersifat hissi tidak perlu dibenci. Ia hanya menyusahkan, dan tidak menjadi alasan untuk dihindari. Juga tidak salah jika setelah ditimpa suatu bencana, kita berusaha mengatasinya dengan tawakal karena bagi orang-orang yang lemah iman dan tidak tahan dengan ujian dapat jatuh pada dosa lain atau tercabut iman karena ujian yang berat itu.

Tapi bagi orang yang mampu berhadapan dengan ujian atau orang yang imannya kuat, tidak salah pula untuk tidak berusaha menghilangkannya. Karena sifat 'ridha' menerima ketentuan Allah itu adalah salah satu sifat terpuji. Ia merupakan sifat-sifat Rasul, dan pahalanya amat besar di sisi Allah yang Maha Pemurah.

Di akhir zaman ini oleh karena kebanyakan umat Islam cenderung menjadi jahil pada  ilmu agama, kemudian cinta dunianya juga begitu mendalam, maka mereka lebih banyak terikat dan dipengaruhi oleh kehidupan yang terdekat, yaitu dunia ini. Sedangkan kehidupan Akhirat hanya sekedar tahu adanya saja, namun hatinya tidak pernah berfikir ke sana. Timbullah sikap acuh tak acuh pada kehidupan Akhirat. Maka timbul pulalah "salah fikir". Kita memandang perkara yang terdekat ini amat penting. Nikmatnya menjadi tujuan, sedangkan bencananya diabaikan. Akibatnya nikmat dan bencana di Akhirat pun dipandang kecil saja! 

Oleh karena itulah kita yang menjadi "lupa daratan" akibat nikmatnya dunia ini merasa sangat menderita bila mengalami bencana dunia. Tidak sedikit kalangan umat muslim yang apabila ditimpa bencana bersifat hissi di dunia ini (seperti sakit, miskin, dipecat, tidak naik pangkat, turun pangkat, difitnah, hilang harta, rugi di dalam perniagaan, dipukul, dipenjara dan lain sebagainya), MasyaAllah, bukan main sedihnya! 

Galau, emosi jiwa, kusut fikiran, marah-marah, bersungut-sungut, merasa tidak bahagia, gelisah, merasa kesal tak berkesudahan. Mengadu di sana, mengadu di sini, bertemu siapa saja langsung ditumpahkan perasaan susahnya. Kekusutan fikirannya demikian nyata, terlihat pada wajahnya. Melakukan apa saja serba tidak kena. Begitulah perasaan kecewa pada ujian ini. Bila iman tak seberapa atau bahkan terlalu lemah, kemudian langsung putus asa. bahkan ada yang nekad bunuh diri untuk menyelesaikan masalahnya. Dia pikir dengan cara itu dapat menyelesaikan masalah. Dia ditipu oleh syaitan terkutuk karena memandang besarnya dunia ini. Tersesat jalan di dunia ini, dan ke Neraka akibatnya. Wal’iyazubillah!

Bagi umat Islam yang kuat imannya, datangnya ujian dan bencana dunia yang bersifat hissi ini tidak membuatnya demikian ambil pusing. Bahkan bagi golongan muqarrobin dan siddiqin seperti para Nabi, para Sahabat dan para Auliya, mereka sangat terhibur dengan ujian dunia itu. Mereka merasa dosa mereka terampuni dengan datangnya ujian dunia dan bencana tsb.

Rasulullah saw pernah bersabda: 

”Tidaklah seorang hamba muslim tertimpa derita dari penyakit atau perkaran lain kecuali Allah hapuskan dengannya (sakit tersebut) kejelekan-kejelakannya (dosa-dosanya) sebagaimana pohon menggugurkan daunnya “ [HR. Bukhari-Muslim].

Perhatikan kisah berikut ini.
Pada zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan yang memiliki tiga orang putra. Dia sanggup, bahkan bangga melepaskan ketiga putraya turut berjuang di medan perang, dan tersenyum ketika mendapat berita bahwa putra sulung dan putra keduanya gugur menjadi syuhada. 

Namun dia menangis sangat sedih tatkala diberitahu bahwa putra bungsunya pun kemudian turut mati syahid. 

Ketika ditanya mengapa sebelumnya ia tersenyum, namun sekarang menangis, sang bunda menjawab, “Aku sedih karena tidak ada lagi anak yang dapat kukorbankan untuk jihad fisabilillah!”

Umat Islam di zaman gemilang dan di zaman keemasan terutama sekitar 300 tahun setelah kepergian Rasulullah SAW sangat sensitif pada bencana yang bersifat maknawi dan rohani.

Mereka memandang serius bencana ini. Mereka sangat takut pada ujian yang bersifat maknawi dan rohani. Jiwa mereka sangat tersiksa dengan adanya ujian ini. Bahkan bencana dalam bentuk ini, belum datang pun sudah membuat mereka sangat takut kalau-kalau suatu masa nanti akan menghampiri mereka, baik itu secara sedar atau tidak. Kenapa? Sebab bencana ini dimurkai oleh Allah dan jika Allah tidak mengampuni, maka akan membawa mereka ke Neraka, wal’iyazubillah!

Hayati pula kisah di bawah ini.
Pada suatu hari, Sayidina Abu Bakar pergi ke kebunnya untuk melihat hasil tanamannya. Dilihatnya pohon-pohon dan tanamannya banyak yang sudah berbuah. Karena terlalu asyik melihat buah-buahnya yang sudah masak itu, beliau terlena dan ketinggalan shalat Ashar berjemaah bersama Rasulullah SAW. Dengan rasa takut dan kesal yang tidak terkira, kebun itu langsung diwakafkan untuk umat Islam dan beliau menggandakan shalatnya sebanyak 70 kali!

Sebaliknya kebanyakan umat Islam di akhir zaman ini tidak sensitif dengan bencana maknawi dan rohani. Kita tidak merasakan apa-apa dengan adanya bencana ini dan rileks saja. Kita tidak merasa bersalah bahkan ada yang sama sekali mengabaikannya seolah-olah bencana ini tidak terjadi dan tidak pernah terjadi.

Sebagai contoh, kita tidak merasakan itu sebagai bencana apabila meninggalkan shalat atau terlewat shalat. Kita tidak merasakan bahwa bencana telah menimpa tatkala kita mengumpat, memfitnah, menghina, mendurhakai kedua orangtua dan guru, berzina, berbohong, korupsi, membuka aurat, bergaul bebas, tidak berzakat, tidak berpuasa, sombong, riya,  tamak, bakhil, marah, dendam, hasad, dengki, mengadu domba, menghasut, bertengkar, membunuh, riba, tidak belajar, tidak berbelas kasihan, tidak bertenggang rasa, tidak toleran, tidak sabar, tidak pemurah, tidak iedha, tidak membantu orang lain dan dlsb.

Oleh karena bencana maknawi dan rohani ini tidak dianggap dan tidak dipandang bencana, maka pada sementara orang kemuin dianggap kebiasaan dan diamalkan setiap hari hingga menjadi budaya. 

Sebagai contoh, bila kita berkumpul-kumpul, mengumpat dan mengolok-olok orang lain sering kita dengar bersama, tertawa bersama, rasa senang bersama, sambung-menyambung antara satu sama lain mengumpat orang lain. Adakalanya yang diumpat itu kawan sendiri, ayah ibunya, gurunya, pemimpin sendiri, isteri dan suami sendiri, hingga terlewat atau tertinggal shalat. Bertambah lagi membesar bencana itu yang tidak lagi dianggap bencana. Kemudian setelah selesai ada yang menipu orang, ada yang pulang ke rumah marah-marah pada isteri, membentak-bentak tidak menentu Bertambah besar lagi bencana itu, ibarat orang sakit, sakitnya telah kronik. Namun tidak terasa itu adalah bencana yang memecah-belah rumah tangga, keluarga, satu masyarakat, satu bangsa kemudian akhirnya terjun ke Neraka.


Monday, July 26, 2010

Tatkala Musibah Menghampiri Monday, July 26, 2010


Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.


Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَأُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ 
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. al-Baqarah [2]:155-157)

Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tidaklah seorang hamba yang ditimpa musibah mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik," kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik." [HR. Ahmad 3/27]

Kita Milik Allah dan Kembali Kepada-Nya
Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan akan kembali kepada-Nya, maka dia akan terhibur tatkala tertimpa musibah.

Kalimat istirja' (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) ini merupakan penyembuh dan obat paling mujarab bagi orang yang sedang tertimpa musibah. Dia memberikan manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktu yang akan datang. Kalimat tersebut memuat dua prinsip yang sangat agung. Jika seseorang mampu merealisasikan dan memahami keduanya maka dia akan terhibur dalam setiap musibah yang menimpanya. 

Dua prinsip pokok tersebut adalah:

Pertama; Bahwasanya manusia, keluarga dan harta pada hakikatnya adalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dia bagi manusia tidak lebih hanya sebagai pinjaman atau titipan, sehingga jika Allah subhanahu wata’ala mengambilnya dari seseorang maka ia ibarat seorang pemilik barang yang sedang mengambilnya dari si peminjam. Demikian juga manusia diliputi oleh ketidakpunyaan, sebelumnya (ketika lahir) dia tidak memiliki apa-apa dan setelahnya (ketika mati) ia pun tidak memiliki apa-apa lagi.

Dan segala sesuatu yang dimiliki oleh seorang hamba tidak lebih hanya seperti barang pinjaman dan titipan yang bersifat sementara. Seorang hamba juga bukanlah yang telah menjadikan dirinya memiliki sesuatu setelah sebelumnya tidak punya. Dan diapun bukanlah menjadi penjaga terhadap segala miliknya dari kebinasaan dan kelenyapan, dia tak mampu untuk menjadikan miliknya tetap terus abadi. Apapun usaha seorang hamba tidak akan mampu untuk menjadikan miliknya kekal abadi, tidak akan mampu menjadikan dirinya sebagai pemilik hakiki.

Dan juga seseorang itu harus membelanjakan miliknya berdasarkan perintah pemiliknya, memperhatikan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Dia membelanjakan bukan sebagai pemilik, karean Allah-lah Sang Pemilik, maka tidak boleh baginya membelanjakan titipan itu kecuali dalam hal-hal yang sesuai dengan kehendak Pemilik Yang Hakiki.

Kedua; Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalah kepada Allah Pemilik yang Haq. Dan seseorang sudah pasti akan meninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah subhanahu wata’ala sendiri-sendiri sebagaimana ketika diciptakan pertama kali, tidak memiliki harta, tidak membawa keluarga dan anak istri. Akan tetapi manusia menghadap Allah dengan membawa amal kebaikan dan keburukan.

Jika awal mula dan kesudahan seorang hamba adalah demikian maka bagaimana dia akan berbangga-bangga dengan apa yang dia miliki atau berputus asa dari apa yang tidak dimilikinya. Maka memikirkan bagaimana awal dirinya dan bagaimana kesudahannya nanti adalah merupakan obat paling manjur untuk mengobati sakit dan kesedihan. Demikian juga dengan mengetahui secara yakin bahwa apa yang akan menimpanya pasti tidak akan meleset atau luput dan begitu juga sebaliknya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌلِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. al-Hadid [57]:22-23)

Lihatlah Nikmat yang Tersisa
Termasuk salah satu terapi dalam menghadapi musibah adalah dengan cara melihat seberapa musibah dan seberapa besar nikmat yang telah diterima. Maka akan didapati bahwa Allah subhanahu wata’ala masih menyisakan baginya yang semisal dengannya, atau malah lebih baik lagi. Dan jika seseorang bersabar dan ridha maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yang hilang dalam musibah, bahkan mungkin dengan berlipat-lipat ganda. Dan jika Allah subhanahu wata’ala menghendaki maka akan menjadikan lebih dan lebih lagi dari yang ada.

Musibah Menimpa Semua Orang
Merupakan obat yang sangat bermanfaat di kala musibah sedang menimpa adalah dengan menyadari bahwa musibah itu pasti dialami oleh semua orang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan didapati di sana orang yang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka di sana ada orang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang berakal kalau mau memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali di sana pasti ada ujian hidup, entah dengan hilanganya barang atau orang yang dicintai atau menemui sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.

Kehidupan dunia tidak lain adalah ibarat kembangnya tidur atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu membuat orang tersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang panjang. Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka sepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan. Berkata pula Ibnu Sirin, "Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali setelahnya pasti akan ada tangisan."

Hindun binti an an-Nu'man berkata, "Kami melihat bahwa kami adalah termasuk orang yang paling mulia dan memiliki harta paling banyak, kemudian matahari belum sampai terbenam sehingga kami telah menjadi orang yang paling tidak punya apa-apa. Dan merupakan hak Allah subhanahu wata’ala bahwa tidaklah Dia memenuhi suatu rumah dengan kebahagiaan, kecuali akan mengisinya pula dengan kesedihan." 

Dan ketika seseorang bertanya tentang apa yang menimpanya maka dia mengatakan, "Kami pada suatu pagi, tidak mendapati seseorang pun di Arab kecuali berharap kepada kami, kemudian kami di sore harinya tidak mendapati mereka kecuali menaruh belas kasihan kepada kami."

Keluh Kesah Melipatgandakan Penderitaan
Di antara obat untuk menghadapi musibah adalah dengan menyadari bahwa keluh kesah tidak akan dapat menghilangkan musibah. Bahkan hanya akan menambah serta melipatgandakan sakit dan penderitaan. 

Musibah Terbesar Adalah Hilangnya Kesabaran
Termasuk Obat ketika tertimpa musibah adalah dengan mengetahui bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri. Karena hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa kesejahtaraan, rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga hal itu dalam sikap sabar dan istirja' (mengembalikan urusan kepada Allah).



Sumber: “Ilaj harril musibah wa huzniha,” Imam Ibnul Qayyim (KM)

Thursday, May 27, 2010

Jangan Menentang Takdir Thursday, May 27, 2010




WASIYAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANI
(Majelis - 1)


Menentang Al-Haq Azza wa Jalla atas takdir yang telah ditentukan-Nya berarti kematian agama, kematian tauhid, bahkan kematian tawakkal dan keikhlasan. Hati seorang mukmin tidak mengenal kata mengapa dan bagaimana, tetapi ia hanya berkata, “Baik.“ Nafsu memang mempunyai waktu untuk suka menantang.

Barangsiapa ingin memperbaikinya, ia harus melatihnya hingga aman dari kejahatannya. Semua nafsu itu amat jahat. Bila dilatih dan menjadi jinak, maka ia menjadi sangat baik. Ia akan setia menjalankan seluruh ibadah dan meninggalkan semua kemaksiatan. Maka ketika itu akan dikatakan kepadanya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]:27-28)

Pada saat itu nafsu telah tenang, hilang kejahatannya, dan tidak berhubungan dengan makhluk. Bahkan ia akan bertemu nasabnya dengan ayahnya, Nabi Ibrahim a.s. Jika ia telah keluar dari kungkungan nafsunya, ia berjalan tanpa keinginan dan hatinya menjadi tenang. Meski datang banyak tawaran dari makhluk, ia hanya mengatakan, “Aku tidak memerlukan pertolonganmu.” Pengetahuan terhadap keadaannya menjadikan dirinya tak perlu meminta. Ketika telah sempurna kepasrahan dan ketawakalannya, maka dikatakan kepada api,

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْداً وَسَلَاماً عَلَى إِبْرَاهِيمَ
“Wahai api, dinginlah, dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiya [21]:69).

Tidak ada sesuatu yang samar dalam pandangan Allah Swt. Bersabarlah bersama-Nya sesaat saja, sungguh setelah itu engkau akan melihat kelembutan dan kasih sayang-Nya selama bertahun-tahun. Pemberani yang sesungguhnya adalah orang yang mau bersabar sesaat. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah:153).

Bersabarlah dalam menunggu pertolongan dan kemenangan. Bersabarlah bersama-Nya. Sadarlah kepada-Nya, dan jangan pernah melupakan-Nya. Janganlah engkau sadar setelah mati, karena sadar setelah mati itu tidak berguna bagimu. Bangunlah sebelum kamu dibangunkan, supaya kamu tidak menyesal pada hari penyesalanmu yang tidak lagi berguna dan perbaikilah hatimu, sesungguhnya jika hatimu baik, maka seluruh keadaanmu akan menjadi baik. Nabi Saw.bersabda:

”Dalam diri anak Adam ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh jasadnya dan bila ia buruk, akan buruklah seluruh jasadnya. Ingat ia adalah hati.”

Hati dikatakan baik bila diisi dengan taqwa, tawakal, tauhid, dan ikhlas kepada-Nya dalam semua amalan. Bila tidak ada sifat-sifat tersebut, berarti hati dalam keadaan rusak.Hati ibarat burung dalam sangkar, ibarat biji dalam kelopak, dan ibarat harta dalam gudang. Yakni ia seperti burung bukan sangkar, seperti biji bukan kelopak, dan seperti harta bukan gudangnya.

“Ya Allah, sibukkan hati kami untuk mengenali-Mu sepanjang hidup kami siang dan malam. Masukkan kami dalam golongan orang-orang shalih terdahulu, berilah kami rezeki dengan sesuatu yang telah Engkau berikan kepada mereka. Engkau untuk kami sebagaimana Engkau untuk mereka.” Amin.

Engkau untuk Allah Swt. sebagaimana orang-orang shalih untuk-Nya sehingga engkau mendapat sesuatu sebagaimana yang mereka dapatkan. Jika engkau menginginkan Allah Azza wa Jalla bersamamu, maka sibukkanlah dirimu dengan mena’ati-Nya, sabar bersama-Nya, serta ridha akan perbuatan-Nya padamu. Kaum itu telah zuhud pada dunia dan mengambil bagian mereka daripadanya dengan tangan taqwa dan wara’. Kemudian mereka mencari akhirat dan melakukan amal-amal untuknya. Mereka mendurhakai nafsunya dan menta’ati Tuhannya. Mereka menasihati nafsunya sendiri baru kemudian menasihati orang lain.

Wahai ghulam, nasihatilah dirimu terlebih dahulu, barulah kemudian menasihati orang lain. Engkau harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah engkau menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Celaka engkau. Engkau ingin menyelamatkan orang lain sedangkan dirimu sendiri dalam keadaan buta. Bagaimana orang buta dapat menuntun orang lain? Yang bisa menuntun manusia hanyalah orang yang dapat melihat. Yang bisa menolong mereka dari tenggelam di lautan hanyalah orang yang tangkas berenang. Yang dapat menuntun manusia kepada Allah Azza wa Jalla hanyalah orang yang telah memiliki ma’rifat kepada-Nya.

Adapun orang yang tidak mengenal-Nya, bagaimana mungkin ia dapat menunjukkan kepada-Nya? Engkau tidak mempunyai hak untuk berbicara tentang kebebasan perilaku Allah Swt., Engkau harus mencintai-Nya dan beramal untuk-Nya, bukan untuk lain-Nya. Hanya takut kepada-Nya, bukan kepada yang lain-Nya. Ini merupakan ungkapan hati, bukan hanya di lidah. Ini adalah bisikan nurani, bukan gerakan lahir. Jika tauhid berada di pintu rumah sedangkan syirik berada di dalam rumah, itu kemunafikan namanya. Celaka engkau, lidahmu takut tapi hatimu menentang. Lidahmu bersyukur sedangkan hatimu kufur. Allah Swt.berfirman dalam hadits Qudsi: “Wahai anak Adam, kebaikan-Ku turun kepadamu sedang keburukanmu naik kepada-Ku.”

Celaka, engkau mengaku menjadi hamba-Nya, tetapi mena’ati selain Dia. Jika engkau benar-benar hamba-Nya, engkau tentu akan setia kepada-Nya. Seorang mukmin yang yakin tidak pernah mengikuti nafsu, syaitan, dan keinginannya. Ia tidak mengenal syaitan, apalagi menta’atinya. Ia tidak memperdulikan dunia, apalagi tunduk kepadanya. Bahkan ia akan menghina-kan dunia dan mencari akhirat. Jika dia berhasil meninggalkan dunia dan sampai kepada Tuhannya, maka dia akan murni beribadah kepada-Nya sepanjang hayatnya, sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS.Al-Bayyinah [89]:5).

Tinggalkanlah bersekutu dengan makhluk. Tauhidkanlah Al-Haq Azza wa Jalla. Dialah pencipta segala benda. Segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya. Wahai pencari sesuatu selain Dia, sesungguhnya engkau tidak berakal. Adakah sesuatu yang tidak terdapat dalam khazanah Allah Swt.?

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya.” (QS.Al-Hijr [15]:21)

Wahai ghulam, tidurlah di dalam pelukan takdir berbantalkan sabar, berselimut pasrah, sambil beribadah menantikan pertolongan Allah Swt. Jika kamu berbuat demikian, Allah Swt. akan melimpahkan karunia yang tidak kamu duga. Menyerahlah kepada ketentuan Allah Swt., terimalah pesan ini. Kepasrahanku kepada takdir telah membuatku semakin dekat dengan Dzat Yang Maha menentukan.

Kemarilah, kita bersimpuh di hadapan Allah Swt., dan bersimpuh kepada takdir dan perbuatan-Nya. Kita tundukkan zhahir dan batin kita. Kita menerima takdir dan berjalan di atasnya. Kita memuliakan utusan raja karena melihat yang mengutusnya. Jika kita bersikap demikian terhadap-Nya, sikap itu akan mengantarkan kita untuk bershuhbah kepada-Nya.

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَاباً وَخَيْرٌ عُقْباً
“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah. Yang Haq.” (QS.Al-Kahfi [18 ]:44)

Engkau akan minum dari lautan ilmu-Nya, memakan dari gugusan karunia-Nya, dan berbahagia dengan sentuhan rahmat-Nya. Sungguh, keadaan ini hanya diberikan kepada satu di antara sejuta orang. Wahai ghulam, engkau harus selalu bertaqwa, janganlah mengikuti nafsu dan kawan-kawan yang jahat. Seorang mukmin tidak boleh lelah dalam memeangi mereka. Janganlah memasukkan pedang ke dalam sarungnya, bahkan jangan turun dari keduanya. Dia tidur seperti para wali, makan ketika telah lapar, yang dibicarakan dan diam telah menjadi perangai mereka. Hanya ketentuan Allah dan perbuatan Allah yang membuat mereka berbicara. Allah Swt yang menggerakkan lidah mereka untuk berbicara sebagaimana Allah akan menggerakkan anggota badan mereka untuk berbicara kelak pada Hari Kiamat. Allah Swt. yang menjadikan sesuatu dapat berbicara.

Jika Allah Swt. menghendaki itu semua untuk mereka, maka Allah akan menyediakannya. Allah Swt telah menghendaki agar berita gembira dan peringatan itu sampai kepada manusia. Agar kelak dapat meminta pertanggungjawaban ke atas mereka, maka Allah Swt. telah mengutus para nabi dan rasul a.s.. Manakala Allah Swt telah mengirim para ulama untuk meneruskan kerja tersebut, maka Allah Swt telah mengirim para ulama untuk meneruskan kerja tersebut dan membangun umat manusia. Nabi Saw.telah bersabda: ”Ulama adalah pewaris para nabi.” Bersyukurlah kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya dan pandanglah bahwa kenikmatan itu datang dari-Nya, sebagaimana Dia berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ 
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS An-Nahl [16 ]: 53)

Dimanakah rasa syukurmu wahai orang-orang yang bergelimang dalam kenikmatan-Nya? Wahai orang yang menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Terkadang engkau menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya, terkadang engkau meremehkannya, terkadang engkau memandang pada sesuatu yang tidak ada padamu, bahkan terkadang engkau menggunakannya untuk mendurhakai-Nya 

Dimanakah rasa syukurmu wahai orang-orang yang bergelimang dalam kenikmatan-Nya? Wahai orang yang menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Ya, terkadang engkau menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Terkadang engkau malah meremehkannya, terkadang engkau memandang pada sesuatu yang tidak ada padamu, bahkan engkau menggunakan itu untuk mendurhakai-Nya.
Wahai Ghulam, dalam kesunyianmu engkau memerlukan sifat “wara’ untuk mengeluarkan dirimu dari kemaksiatan dan kesalahan.Engkau juga perlu bermuraqabah supaya menyadarkanmu mengenai pandangan-Nya kepadamu. Dalam kesunyianmu, engkau memerlukan hal itu. Kemudian engkau harus memerangi nafsu keinginan dan syaitan. Kebanyakan manusia binasa disebabkan oleh dosa. Kebanyakan ahli zuhud binasa disebabkan oleh syahwat, dan kebanyakan wali binasa disebabkan oleh pikiran mereka pada waktu khalwat. Sedangkan para shiddiqin terkadang binasa karena kelengahan sekejap.

Jadi kesibukan mereka adalah menjaga hatinya. Karena mereka tertidur di pintu raja, mereka bangkit untuk berdakwah menyeru manusia agar mengenal Allah SWT. Tidak henti-hentinya mereka menyeru hati manusia. Mereka berkata, “Wahai hati, wahai ruh, wahai manusia dan jin, wahai yang menghendaki Allah, kemarilah menuju pintu-pintu Allah SWT.. Berlarilah kemari dengan langkah-langkah hatimu, dengan langkah-langkah taqwa dan tauhidmu. Ma’rifat, wara’, dan zuhud dari sesuatu selain-Nya adalah kesibukan para wali. Cita-cita mereka adalah kebaikan umat. Cita-cita mereka adalah memenuhi langit dan bumi.

Wahai Ghulam, tinggalkan nafsu dan keinginanmu. Jadilah bumi di bawah telapak kaki para wali itu dan tanah di depan mereka. Al-Haq Azza wa Jalla telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia mengeluarkan nabi Ibrahim a.s. dari kedua ibu bapaknya yang mati dalam kekufuran. Orang mukmin itu ibarat hidup sedangkan orang kafir itu ibarat mati. Orang yang bertauhid itu hidup, sedangkan orang musyrik itu mati. Oleh karena itu Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi: “Orang yang pertama kali mati di antara makhluk-Ku adalah Iblis.” Yakni dia telah mendurhakai Allah SWT, sehingga mati dengan sebab kemaksiatannya.

Sekarang adalah zaman akhir, pada zaman ini telah muncul pasar kemunafikan dan kebohongan. Janganlah engkau duduk bersamaorang-orang munafik, para pendusta dan pembohong. Aduhai celaka engkau! nafsumu pendusta, munafik dan kufur, bahkan durhaka dan musyrik. Bagaimana engkau duduk dengannya? Tinggalkan ia dan jangan engkau ikuti bisikannya. Penjarakan ia. Berikan haknya saja, jangan lebih dari itu. Tahanlah ia dengan ‘mujahadah’. Adapun keinginan, tunggangilah ia, agar jangan sampai menunggangimu. Juga watak, jangan temani ia. Ia seperti anak kecil yang belum berakal. Bagaimana mungkin engkau bisa belajar dari anak kecil? Syaitan adalah musuhmu dan musuh ayahmu (Adam a.s.). Bagaimana mungkin engkau dapat berdampingan dengannya? Engkau tidak akan selamat.

Dia telah membunuh ayah dan ibumu (penyebab Adam dan Hawa terusir dari surga). Jika engkau lengah sedikit saja, ia pasti akan membunuhmu. Jadikanlah taqwa sebagai senjatamu. Kemudian tauhid, muraqabah, wara’, shidiq, dan memohon pertolongan Allah SWT sebagai pasukanmu. Pedang dan pasukan itu akan menghancurkan syaitan dan tentaranya. Setelah itu engkau akan menang karena Allah SWT bersamamu.

Wahai Ghulam, satukanlah antara dunia dan akhirat, letakkan mereka di satu tempat, lalu menyendirilah engkau dengan Tuhanmu di tempat hati yang telanjang tanpa dunia maupun akhirat. Janganlah engkau menghadap kepada-Nya kecuali menyepi dari sesuatu selain-Nya. Janganlah engkau terikat oleh makhluk yang menghalangimu dari Khaliq. Putuskanlah semua sebab.Tinggalkan tuhan-tuhan lainnya {harta-tahta-wanita-keluarga}. Selanjutnya, jadikan dunia untuk ragamu, akhirat untuk hatimu, dan Al-Haq Azza wa Jalla untuk nuranimu.

Wahai Ghulam, janganlah engkau bersama nafsu, keinginan, dunia dan akhirat. Janganlah engkau mengikuti selain Al-Haq Azza wa Jalla . Engkau akan tiba di gudang perbendaharaan yang tidak pernah habis selamanya. Ketika itu akan datang kepadamu petunjuk Allah SWT yang tidak ada kesesatan sesudahnya. Bertaubatlah dari dosa-dosamu dan larilah daripadanya kepada Maulamu. Jika engkau bertaubat, hendaklah engkau bertaubat secara lahir dan batin. Taubat adalah ketenangan hati. Lepaskanlah pakaian maksiat dengan taubat yang murni. Malu kepada Allah SWT., adalah kebenaran hakiki., bukan majazi. Ia termasuk amalan hati setelah mensucikan anggota badan dengan mengamalkan agama. Jika badan punya amal, hati pun punya amal. Jika hati keluar dari lingkungan asbab dan hubungan dengan makhluk, berarti ia telah berlayar meninggalkan asbab dan mencari “Al-Musabbib.”Ketika hati telah berlayar di lautan ini, maka di sana ia akan mengatakan, “(Yaitu) Tuhan Yang telah menciptakan aku, maka Dialah Yang menunjuki aku.”
 
Allah SWT akan menunjukkan dari satu pantai ke pantai lain, dari satu tempat ke tempat lain sehingga ia akan berdiri di atas keadaan yang lurus. Setiap kali ia mengingat Tuhannya, makin jelaslah penemuannya dan terbukalah rerimbunan yang menghalanginya. Hati pencari Al-Haq Azza wa Jalla akan berjalan cepat dan meninggalkan segala sesuatu di belakangnya. Jika ia takut pada sebagian jalan dari suatu kebinasaan, maka muncullah keimannya yang mendorong keberaniannya dan mengusir ketakutannya, bahkan akan datang pula cahaya kedamaian berupa “kedekatan” kepada Allah SWT.
 
Wahai Ghulam, jika datang padamu suatu penyakit, terimalah dengan tangan kesabaran dan tenanglah hingga datang obat. Dan jika datang obat, sambutlah dengan tangan syukur. Jika engkau berbuat demikian, berarti engkau berada dalam kehidupan dunia. Takut kepada api neraka akan mengetuk hati orangg-orang mukmin sehingga hati mereka menjadi pucat dan bersedih. Dalam keadaan demikian,, Allah SWT akan menyirami mereka dengan air rahmat dan kelembutan-Nya. Bahkan akan di bukakan untuk-nya pintu akhirat. Lalu mereka akan melihat tempat mereka yang aman.

Jika mereka telah tenang dan damai, akan dibukakan untuk mereka pintu keagungan, sehingga hati dan nurani mereka pasti akan semakin takut dibandingkan sebelumnya. Jika kesempurnaan itu telah ada pada diri mereka, maka akan dibukakan bagi mereka pintu keindahan sehingga tenteramlah mereka, dan mereka akan sadar serta menapaki tangga demi tangga.

Wahai Ghulam, janganlah cita-citamu hanya mencari makan dan minum, menikmati pakaian dan istri. Yang menikmati semua itu hanyalah nafsu dan watak. Lalu dimanakah hati da nurani, yang mencari Al-Haq Azza wa Jalla. Cita-citamu hendaklah ditujukan pada hal-hal yang meninggikanmu. Jadikanlah Tuhanmu dan apa yang ada di sisi-Nya sebagai cita-citamu. Dunia itu ada gantinya, yaitu akhirat. Dan makhluk juga ada gantinya, yaitu Khaliq Azza wa Jalla. Jika engkau meninggalkan sesuatu dari kehidupan dunia ini, maka akan ada gantinya yang lebih baik di akhirat. Anggaplah umurmu tinggal sehari saja. Bersiaplah menyambut kedatangan Malaikat maut dan pindah ke akhirat.

Dunia ibarat lading, sedangkan akhirat adalah kampong yang sebenarnya. Jika datang kecemburuan dari Allah SWT., maka akan menghalangi di antara mereka dengan makhluk. Kemudian mereka akan membutuhkan dunia maupun akhirat. Wahai para pendusta agama, engkau mencintai Allah pada waktu memperoleh nikmat. Tetapi jika datang musibah, engkau lari seolah-olah engkau tidak menyukainya. Seorang hamba itu terbukti saat ia bebas. Jika datang bencana dari Allah SWT dan engkau tetap teguh, berarti engkau mencintai Allah SWT. Namun jika engkau berubah, berarti engkau berdusta.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintaimu.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Bersiaplah untuk merahasiakan kefakiran.”

Lagi, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku sangat mencintai Allah” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Bersiaplah untuk merahasiakan bencana.”

Sesungguhnya cinta Allah dan Rasul-Nya itu selalu dibarengi dengan kefakiran dan bencana. Oleh karena itu, sebagian orang shalih mengatakan, “Kedekatan itu diwakili oleh balak, supaya tidak semua orang mengaku.” Jika tidak, tentu orang akan dengan mudah mengaku mencintai Allah SWT. Jadi pakaian bencana dan kefakiran itu tanda dari mahabbah tersebut.

Ya Allah, berilah kami rezeki berupa kesehatan dan kelayakan bersama-Mu.
Ya Allah, masukkan kami kedalam rahmat-Mu. Dan berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.
Amin.


Dipetik dari kitab “Al-Fathur Rabbani Wal Faidhur Rahmani,
Menjadi Kekasih Allah - Ditulis oleh: Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani

Contact Form

Name

Email *

Message *