Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Rasulullah (Kerasulan). Show all posts
Showing posts with label Rasulullah (Kerasulan). Show all posts

Thursday, October 11, 2018

Selayang Pandang Sejarah Bani Quraisy Thursday, October 11, 2018

Dalam Al-Quran, kabilah Quraisy ini diabadikan dalam surat yang disebut sebagai surat Quraisy. Kabilah ini menurut Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah-nya merupakan suku terkuat di masa prakenabian dan di masa pasca kenabian. Dengan membaca sepak terjang suku ini melalui teori ashabiyyah-nya yang terkenal, Ibnu Khaldun berkesimpulan bahwa dakwah agama Islam tidak akan berkembang pesat tanpa sokongan dari suku terkuat ini. Namun sebenarnya apa yang dimaksud oleh Al-Quran dengan suku Quraisy ini dan apa pentingnya mereka dalam Islam sehingga nama suku ini diabadikan dalam satu surat tersendiri dalam Al-Quran.

Untuk membahas suku ini, tulisan ini hanya merangkum data-data kesejarahan dari as-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam mengenai asal usul nama Quraisy dan berikut beberapa perbedaan pendapat di dalamnya.

Munculnya Quraisy dalam literatur kesejarahan dimulai dengan Qushayy bin Kilab, kakek Nabi keempat yang hidup di pertengahan Abad Kelima Masehi, yakni seratus lima puluh tahun sebelum kelahiran Muhammad, sang Rasul. Nasab Qushayy ini sampai ke Fihir yang dalam sejarah sering disebut sebagai Quraisy. Kemudian ahli sejarah melacak asal-usul Fihir ini sampai ke Adnan, leluhur Arab Utara.

Jadi, nasab kakek Nabi yang keempat ini dapat diurutkan demikian; 
Qushayy bin Kilab bin Murrah bin Kaab bin Luayy bin Ghalib bin Fihir (terkenal dengan sebutan Qurasiy) bin Malik bin an-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Maad bin Adnan. 
Para ahli sejarah menyebut pohon nasab dan asal-usul Qusyayy melalui jalur ini sampai ke Ismail bin Ibrahim AS dengan beberapa pendapat perbedaan di kalangan mereka.

Nama Quraisy digunakan baik sebelum masa dakwah kenabian, di masa kenabian maupun setelah masa kenabian Muhammad SAW. Quraisy mencakup kumpulan kabilah-kabilah yang asal-usulnya bernasabkan Fihir seperti telah disebut di atas. Ketika tinggal di Mekkah dan menancapkan dominasinya di kota ini, Quraisy merupakan gelar kesukuan tersendiri yang membedakannya dari kabilah-kabilah Arab lainnya

Dalam literatur kesejarahan, yakni dalam hubungannya dengan suku Arab lainnya, kita akan sering menemukan istilah Quraisy dan Arab (Quraisy wa al-Arab) yang menunjukkan adanya keistimewaan yang pertama di atas yang kedua. Kita akan coba melihat kabilah Quraisy ini dari dekat. Hal demikian karena dengan memahami kabilah ini kita akan melihat sejauh mana respon suku ini terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW terutama ketika di Mekkah.

Kabilah-kabilah yang tinggal di Mekkah di masa dakwah Nabi Muhammad SAW ialah;
  1. Banu al-Harits bin Fihir (Quraisy)
  2. Banu Muharib bin Fihir
  3. Banu Amir bin Luayy bin Ghalib bin Fihir
  4. Banu Adiyy bin Kaab bin Luayy bin Ghalib bin Fihir
  5. Banu Jumah bin Amru bin Hashish bin Adiyy bin Kaab bin Luayy
  6. Banu Sahm bin Amru bin Hashish bin Adiyy bin Kaab bin Luayy,
  7. Banu Taym bin Marrah bin Kaab bin Luayy
  8. Banu Makhzum bin Yaqdzhah bin Marrah bin Kaab bin Luayy,
  9. Banu Zahrah bin Kilab bin Marrah bin Kaab bin Luayy,
  10. Banu Asad bin Abdul Uzza bin Qushayy bin Kilab bin Marrah bin Kaab bin Luayy,
  11. Banu Abdi Dar bin Qushayy bin Kilab,
  12. Banu Abdi Manaf bin Qushayy bin Kilab.
Abdu Manaf ini memiliki empat anak yang masing-masingnya bernama al-Mutthalib, Naufal, Abdu Syams dan Hasyim. Hasyim ini merupakan ayah dari Abdul Mutthalib. Sementara Abdul Muttalib sendiri ialah ayahnya Abdullah dan Abdullah sendiri ialah bapaknya Nabi Muhammad SAW. Kumpulan suku-suku Quraisy ini tinggal sendiri-sendiri di Mekkah tanpa ada otoritas yang terpusat.

Otoritas suku-suku yang tanpa pusat ini, meski berpengaruh tapi tidak koersif ada di masing-masing kepala suku yang memiliki leluhur yang sama dan tinggal berdampingan di pedalaman kota Mekkah, sementara itu suku-suku selain yang disebut di atas yang tinggal di pinggiran kota Mekkah disebut juga sebagai Qurasiy Dzhawahir, atau Quraisy Pinggiran.

Qushayy bin Kilab dalam as-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam disebut sebagai keturunan Bani Kaab bin Luayy pertama yang memiliki kekuasaan berpengaruh dan ditaati oleh kaumnya. Beberapa sumber kesejarahan menyebut awal kisah Qushayy berkuasa ini diawali dengan kehidupan masa kecilnya di kalangan pamannya (akhwal) yang bertempat di Qudhaah, salah satu negeri yang berbatasan dengan Suriah. Ketika sudah menjadi dewasa, ia tinggal di Mekkah dan menikahi puteri Halil al-Khuzai yang saat itu menjadi pimpinan di Mekkah.

[Sumber: bincangsyariah]

Tuesday, March 17, 2015

Al-Quran: Agama Muhammad Sebelum Turunnya Wahyu "IQRA!" Tuesday, March 17, 2015

Ini adalah fakta yang tidak banyak diketahui oleh laskar Paulus yang gemar mengarang cerita sumir tentang Nabi Muhammad saw dalam upaya mereka mendiskreditkan ajaran Islam demi mempertahankan eksistensi produk kadaluarsa Kristen berlabel "ajaran kasih" yang sudah sejak lama sesungguhnya sangat patut untuk dikasihani.

Di antara cerita-cerita sumir itu adalah tudingan bahwa Nabi Muhammad saw sama sekali tidak mengenal "siapa" sesungguhnya yang memerintahkannya untuk "membaca" kata "IQRA" ketika wahyu pertama turun kepada beliau di Goa Hira.

Tapi coba mari kita tanya Al-Quran, benarkah demikian?
  
Orang Arab sesungguhnya telah mengenal Allah jauh sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW. Jadi jangan bingung.  Al-Quran sendiri yang menegaskan bahwa musyrikin Arab itu kenal betul bahwa tuhan mereka adalah Allah. Dalam salah satu ayat Al-Quran digambarkan bagaimana pengakuan orang Arab jahiyah terhadap keberadaan Allah SWT.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al-Ankabut: 61)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (QS Al-Ankabut: 23)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Luqman: 25)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (QS Az-Zumar: 38)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka,” niscaya mereka menjawab, “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf: 87)

Lima fiman Allah dalam Al-Quran di atas menjelaskan kepada kita bahwa bangsa Arab musyrikin jahilyah ternyata memiliki keyakinan tentang keberadaan Allah. Bahkan bukan sekedar meyakini keberadaan-Nya, mereka juga mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi, memberikan rizki, menurunkan hujan, menundukkan matahari, bulan, dlsb adalah Allah.

Jika demikian, lalu apakah tugas nabi Muhammad SAW?
Tugas beliau bukan mengenalkan keberadaan Allah, sebab mereka sudah lama mengenal Allah. Tugas beliau juga bukan untuk menerangkan bahwa Allah adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, sebab hal itu pun sudah mereka ketahui. Tugas utama beliau adalah memastikan bahwa mereka hanya menyembah Allah semata, satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa tanpa membiaskan, apalagi mensekutukan Allah dengan sesembahan lain yang mereka sembah. Itu sebabnya motto dakwah beliau adalah: "LAA ILAAHA ILLALLAH", yaitu tidak ada tuhan yang patut disembah dengan haq kecuali hanya Allah semata.

Konsekuensinya, sudah tentu, agama yang dibawa nabi Muhammad SAW pun mewajibkan penghancuran segala bentuk berhala, menafikan semua undang-undang, sistem, agama, ideologi dan peraturan yang bersumber dari selain Allah. Seorang tidak dikatakan muslim sebelum dia mengakui tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada hukum selain hukum yang Allah turunkan.

Adapun tentang bagaimana bangsa Arab jahiliyah mengenal nama Allah SWT adalah karena dahulu nabi Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam pernah tinggal di negeri itu. Bahkan mereka masih setia datang berhaji setiap tahun keliling baitullah. Mereka memang menyebut Ka’bah dengan istilah baitullah (rumah Allah). Bedanya, cara manasik haji mereka sudah jauh menyimpang. Misalnya, mereka thawaf keliling ka’bah dengan bersiul dan bertepuk sambil telanjang tanpa busana.

وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal: 35)

Di dalam Gua Hira
Di dalam gua Hira, Rasulullah SAW memang bukan berdoa dalam arti seperti kita sekarang ini. Sebab beliau memang belum mendapatkan penjelasan langsung dari Allah SWT tentang sosok-Nya. Juga belum ada tata aturan dalam cara beribadah dan berdoa kepada-Nya.

Sehingga yang beliau lakukan bukan berdoa, melainkan menyepi untuk melakukan tahannus. Beliau tentu tidak berkomat-kamit mengangkat tangan ke langit. Namun yang berliau lakukan adalah merenung, berpikir, melakukan evaluasi, serta berdialog dengan diri sendiri. Hingga kemudian Allah SWT berkenan berbicara kepada-Nya lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Namun perlu diketahui bahwa sebagai bagian dari bangsa Qurais Arab, putra dari seorang pria bernama Abdullah (abdi Allah)  yang sudah lama mengenal Allah, beliau tentu juga mengetahui bahwa Allah SWT adalah tuhannya. Bahwa Allah SWT adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan hujan serta memberi rizki.
Kekurangan aqidah bangsa Arab jahiliyah ini bukan pada rububiyah-nya, melainkan pada uluhiyah-nya. Di mana mereka belum punya informasi apa pun tentang bagaimana bertauhid kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada-Nya. Mereka baru sekedar tahu bahwa tuhan itu ada, namanya Allah dan Allah itu menciptakan mereka hingga memberi rizqi.
Kualitas mereka sedikit di bawah para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sudah mengenal Allah dan adanya kitab-kitab suci (yang diturunkan dari) langit, berisi tata cara ibadah serta syariah. Mereka juga mengenal sistem kenabian yang berujud manusia yang mendapatkan wahyu dari langit sebagai hukum yang harus dilaksanakan.

Namun kesalahan fatal para ahli kitab itu ketika mereka tidak mau mengakui bahwa Allah SWT menjadikan Muhammad SAW sebagai Nabi dan ingkar kepada Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir. Kesalahan ini kemudian diperparah dengan sikap ambivalen mereka terhadap agama Islam. Bahkan pada akhirnya mereka malah memerangi dan hendak membunuh Rasulullah SAW.

Maka semua keyakinan mereka sebelumnya tentang Allah, kitab suci, para nabi dan hukum-hukum syariat yang turun kepada mereka, menjadi tidak ada gunanya lagi. 

Meski mereka percaya keberadaan Allah, para nabi, dan kitab-kitab suci, namun karena pembangkangan ini Al-Quran memberi para ahli kitab ini status sebagai orang kafir. Hal itu semata-mata karena mereka menolak mengakui Muhammad SAW sebagai nabi, dan Al-Quran sebagai kitab suci Allah. 

Namun sebagai penghargaan atas persamaan beberapa asas iman, laki-laki musim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab. Demikian juga dengan sembelihan mereka, halal dimakan oleh orang-orang Islam. Meski demikian, mereka tetap masuk neraka, karena tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tuhan dan karena mereka tidak mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.


[Dari pengajian ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]

Monday, May 5, 2014

Menguak Misteri Muhammad Monday, May 5, 2014

Kepalsuan ajaran Gereja terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri nabi Muhammad dalam Bible (alkitab) akhirnya berhasil dibongkar melalui penelitian yang dilakukan oleh seorang mantan pastur, Prof.David Benjamin Keldani, berjudul Menguak Misteri Muhammad.

Prof. David Benjamin Keldani adalah seorang mantan pastur Katholik Roma sekte Uniate-Chaldean. 
"Kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Allah. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian untuk menemukan kebenaran ini mungkin hanya akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad SAW pun menjadi pola sikap dan perilaku saya."
Demikian pengakuannya.
  • Baca selengkapnya (versi PDF) di sini, atau 
  • Download selengkapnya (versi CHM)  di sini.  



Wednesday, September 18, 2013

Rasulullah SAW dan Orang-Orang Nasrani dalam Sesi Potret Al-Quran Wednesday, September 18, 2013


Al-Quran, kamera kehidupan yang memotret muamalah Rasulullah Saw dengan orang-orang nasrani. Di sana banyak sesi tayangan yang memperlihatkan sikap Rasulullah Saw dan Al-Quran terhadap mereka.

Di antara sesi itu, sikap Al-Quran yang menolak keras pengembalian syariat Islam ke sumber-sumber nasrani. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw diberitakan pernah menimba ilmu dari mereka, di antaranya: Jabr dan Yaish, keduanya hamba bani al-Hudrami, Yasar, Bal’âm, dan Ābis.([1])

Yang disepakati bukan Rasulullah Saw yang menimba ilmu, tetapi merekalah yang duduk di bangku bimbingan dan tuntunan Rasulullah Saw di beberapa kesempatan. Namun, orang-orang kafir memutar balik fakta yang jauh dari kebenaran.

Pertemuan Rasulullah Saw dengan mereka sekali dua kali itulah dijadikan batu loncatan untuk melancarkan tudingan tersebut. Hakikatnya, yang demikian itu bukan batu loncatan, tetapi lumpur berpasir yang menyeret mereka sendiri ke dalam bantahan Al-Quran yang memperlihatkan kepicikan akal mereka yang lahir dari prasangka buta.

Di samping itu, seandainya Al-Quran memuat sepatah kata pun dari mereka yang disisipkan Rasulullah Saw, tentunya yang memeluk Islam dari ahli kitab mengetahui sisipan itu dan enggan menerima Al-Quran. Tetapi, semuanya mengagungkannya dengan penuh keyakinan.

Kemudian, Al-Quran itu sendiri berbahasa Arab, sementara yang diklaim sebagai sumber rujukan Rasulullah Saw tidak bernuansa Arab atau bukan dari orang-orang Arab. Jika karya-karya sastra yang diracik oleh talenta lidah para ahli sastra mereka tidak mampu menandingi ketinggian dan keanggunan bahasa Al-Quran, bagaimana mungkin mereka dengan berani menuduh Rasulullah Saw duduk belajar di bangku pendidikan mereka dan menyisipkan ilmu yang dipelajari ke dalam Al-Quran?

Jika Al-Quran mukjizat maknawi Rasulullah Saw yang senantiasa hidup mewarnai kehidupan umat qur’ani ini dengan hikmah dan tuntunan hidup sepanjang waktu diyakini Rasulullah Saw sebagai sumber kekekalan Islam dan kemuliaan dirinya yang memamerkan aneka ragam sifat-sifat maknawi dan akhlaknya yang menjadi teladan utama umat dengan penuh pesona yang memukau, bagaimana mungkin Rasulullah Saw mengotorinya dengan sisipan-sisipan manusia yang merusak keindahan estetika dan struktur sistematika Al-Quran itu sendiri?

Rasulullah Saw tidak pernah mengaku, meski itu satu pengakuan, sebagai pemilik atau penyusun syariat ini. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw tahu tugas dan misinya yang hanya terbatas selaku penyampai wahyu Allah SWT semata dengan penuh amanah, seperti yang ditegaskan Q.S. Fathir (35): 23, Q.S. As-Syura’ (42): 48, dan Q.S. Al-Ahqâf (46): 9.

Di lain sisi, Rasulullah Saw ummi (yang tidak pernah menyentuh proses belajar-mengajar yang mendiktekan baca-tulis seperti di bangku-bangku sekolah). Olehnya itu, mustahil terjadi sebuah transformasi ilmu pengetahuan begitu cepat yang kemudian didakwa sebagai sumber syariat Islam yang memenuhi ruang-ruang Al-Quran.  Sungguh itu kebodohan mutlak jika ada dari mereka yang berani mendakwakan tuduhan seperti ini.

Sikap Al-Quran ini terhadap apa yang dituduhkan oleh orang-orang kafir di atas merupakan jawaban maknawi ayat-ayat Al-Quran yang membongkang tuduhan tersebut dari akarnya, seperti kilau maknawi Q. S. An-Nahl (16):  103:

 (وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ)

Jika Anda telah meyakini kebenaran hakikat ini, maka tidak ada lagi artinya bagi Anda ocehan para orientalis, seperti  Goldziher (June 22, 1850 – November 13, 1921)  yang memoles dakwaan lama orang-orang kafir tersebut dan membumbuinya kalimat-kalimat mengecoh sehingga ia dikemas dan dipamerkan sebagai produk baru, padahal ia tidak lain kecuali kopian semata yang intinya tidak jauh beda dari aslinya. Ignác  Goldziher yang diperdaya sendiri oleh keintelektualannya menegaskan agama Yahudi dan agama Masehi telah berperan aktif dalam penyusunan kerangka syariat Islam.([2]) Karena pernyataan Goldziher isinya sama dengan dakwaan lama orang-orang kafir terhadap Al-Quran, Anda pun dengan mudah mematahkan pernyataan tersebut seperti yang tertera di atas dengan mengambil kekuatan cahaya maknawi Q.S. An-Nahl (16): 103.

Sesi berikutnya, pita Al-Quran menayangkan simpati Rasulullah Saw dan mukminin terhadap kekalahan orang-orang nasrani Romawi menghadapi dinasti Sasania dari bangsa Persia pada tahun 614 M. Kepedulian mereka terhadap sesama, mukminin dan orang-orang nasrani yang meyakini ketuhanan Allah SWT, disambut baik Al-Quran dengan turunnya Surah Ar-Rum yang memberi kabar gembira terhadap kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia 9 tahun kemudian. Sambutan ini menjadi pelipur lara terhadap kesedihan orang-orang beriman yang menginginkan kemenangan bangsa Romawi yang mengenal ketuhanan dari bangsa Persia yang mengabaikan ketauhidan dan lebih memilih menyembah api.

Kesedihan itu tidak dibiarkan Al-Quran berkepanjangan menyelimuti semangat dakwah dan jihad umat, khususnya setelah kota Konstantinopel ditaklukkan oleh mereka yang dihiasi dengan pembangunan rumah ibadah api sebagai sembahan mereka.

Sesi ini seperti menayangkan percakapan maknawi dari hati Rasulullah Saw dan mukminin yang dirundung duka, tersayat mendengar kekalahan mereka. Simpati ini seperti doa tersendiri terhadap mereka yang mengisyaratkan bahwa yang diridhai memakmurkan bumi dengan nilai-nilai peradaban yang islami adalah ahli tauhid yang mengenal hakikat ketuhanan. Tayangan ini dengan indah dan apik diberitakan Q.S. Ar-Rum (): 1-4.([3])

آلم @غُلِبَتِ الرُّومُ  @  فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ @ فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ

Di lain sisi, orang-orang nasrani di lensa Al-Quran dipotret sebagai kaum yang lebih mudah tersentuh hatinya membenarkan Islam dari orang-orang Yahudi, khususnya ahli kitab mereka. Olehnya itu, Rasulullah Saw senantiasa menyambut baik kedatangan mereka menanyakan masalah-masalah agama. Buku-buku sirah dan hadits meriwayatkan kedatangan 20 orang-orang nasrani Mekah dan sekitarnya setelah mendengar beritanya di Habsyah. Mereka menanyakan hakikat agama Islam dan beberapa masalah yang terkait dengan apa yang mereka yakini selama ini. Setelah mendengarkan jawaban dan penjelasan Rasulullah Saw, mereka pun diajak memeluk Islam dan diperdengarkan Al-Quran. Genangan air mata mengucuri kulit wajah mereka sebagai pertanda pintu hati mereka telah terbuka menerima Islam yang diketuk dengan nada dan makna kebenaran ayat-ayat Al-Quran yang diperdengarkan. Kisah mengharukan ini dipotret indah Q.S Al-Qasash (28): 52-55 dan Q.S. Al-Maidah (5): 82-83 yang mengajak kita melihat kisah tersebut seperti tayangan hidup (live stream) yang menyuguhkan pesan-pesan kehidupan.

(الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ@ وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ @ أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ @ وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ).

            لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ@  وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Kenyataan ini benar-benar terbukti di lapangan. Prof. Dr. Ahmad Āq Kunduz di salah satu jumpa silaturahimnya dengan mahasiswa Al Azhar yang ikut berkecimpung di Thalabah Nur (yang membaca dan mengaji karya-karya Bediuzzaman Said Nursi) menyampaikan kisah yang menyentuh hati. Seorang guru besar di salah satu universitas Eropa memeluk Islam dan menafsirkan injil dengan nilai-nilai Al-Quran, meski ia terpaksa menyembunyikan keislamannya dan menegakkan shalat dengan diam-diam dan sembunyi. Alhamdulillah yang memperlihatkan kebenaran makna ayat-ayat di atas di dunia nyata sebagai bukti kebenaran agama ini.

Sesi terakhir Al-Quran yang sempat tersentuh tangan penulis, ayat mubahalah (saling melaknat antara dua orang atau kelompok dalam sebuah masalah yang diperdebatkan atau disengketakan. Yang terbukti salah oleh keadilan Allah SWT akan dilaknat) yang memotret Rasulullah Saw dan delegasi orang-orang nasrani Nejeran yang berjumlah 60 orang, di antaranya: Abdul Masih, pemimpin kaum mereka yang dituakan, dan al-Aeham, salah seorang yang dipertuangkan dalam masyarakat, dan Abu Haritshah bin Alqama, pendeta dan alim mereka.

Mereka enggan memeluk Islam setelah diajak Rasulullah Saw sehingga akhirnya terjadi debat sengit di antara mereka yang berujung mubahalah. Tantangan kenabian ini menghendaki mereka meminta tempo untuk bermusyawarah. Mereka meminta fatwa Abdul Masih dalam menyikapi tantangan tersebut, ia pun menjawab:

“Demi Allah, wahai orang-orang nasrani. Sesungguhnya kamu sekalian mengetahui bahwa Muhammad itu seorang nabi dan rasul Allah. Ia datang dengan berita pasti tentang nabi kalian, Isa AS. Tidak ada kaum yang melaknat nabi mereka, kecuali musnah oleh musibah. Jika Anda sekalian tetap ingin hidup di jalan agama kalian, tinggalkanlah mubahalah ini dan bergegaslah kembali ke negeri kalian.”

Mereka pun sepakat mengurungkan niat memasuki arena mubahalah ini. Rasulullah Saw menerima pengunduran tersebut dengan mewajibkan mereka membayar tebusan 2000 pakaian, alat persenjataan, seperti: perisai, tombak, dan kuda perang dan mengizinkan mereka menjalankan agama yang mereka yakini kebenarannya dengan jaminan keselamatan dari Rasulullah Saw terhadap harta dan jiwa mereka. Tidak lama setelah mereka tiba di Nejeran, Abdul Masih dan al-Aeham kembali menghadap Rasulullah Saw dan memperdengarkan ikrar keislaman mereka berdua.

Sesi ini dipotret langsung Q.S. Ali Imran (3): 61 seperti tayangan hidup yang menggambarkan kegigihan Rasulullah Saw dalam memenangkan kebenaran agama ini. Kegigihannya ditandai dengan keberanian melibatkan keluarganya dalam mubahalah tersebut.

            فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
            
Setelah Anda mengikuti potret Al-Quran yang menayangkan pelbagai sesi interaksi Rasulullah Saw dan orang-orang nasrani, Anda pun diajak untuk menjawab pertanyaan ini: ‘‘kenapa Al-Quran tidak dijumpai menayangkan usaha orang-orang nasrani untuk menghabisi Rasulullah Saw, seperti orang-orang Yahudi yang ditemukan beberapa kali ingin menghilangkan jejaknya, seperti yang dimuat Q.S. Al-Maidah (5): 11?’’

Jawabnya: ‘’gambaran umum, orang-orang nasrani senantiasa ditimpa kemalangan dan penindasan seperti layaknya kaum minoritas. Olehnya itu, mereka tidak mampu membentuk sebuah gerakan mobilisasi untuk menghabisi Rasulullah Saw. Meskipun demikian, sengketa di antara mereka dalam pelbagai bentuk tidak dapat dihindari, seperti Abu Amir, seorang pendeta yang berhasil meyakinkan sebagian pemuda Aush untuk mengikuti agamanya dan keluar bersama dengannya memusuhi Rasulullah Saw. Namun, tipu daya mereka gagal, dan Abu Amir pun lari ke Syam meminta pertolongan dari bangsa Romawi.’’([4])

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati muamalah Rasulullah Saw dengan ahli kitab untuk menyuarakan hakikat berikut:

“Al-Quran kamera kehidupan yang memotret sisi-sisi muamalah Rasulullah Saw dengan ahli kitab yang menayangkan sikap Al-Quran sendiri dan Rasulullah Saw terhadap mereka. Di tulisan ini, Rasulullah Saw dengan gigih dan keterbukaannya yang santun memperjuangkan Islam dan mengajak mereka mengenal dan memeluknya dengan penuh keyakinan. Rasulullah Saw dengan berani menghadapi setiap gerakan mobilisasi mereka yang ingin menurunkan kibaran bendera Islam untuk diinjak-injak, seperti barang hina yang tidak punya nilai, dan memadamkan cahaya Islam yang begitu kuat menyoroti relung-relung hati mereka yang mendambakan hakikat ketauhidan yang benar. Alhamdulillahi Taala yang telah memenangkan Islam.”

[Dari: Dr. Muhammad Widus Sempo, MA. | Dakwatuna]

Catatan Kaki:
[1] Tafsir al-Qurtubi, vol. 5, hlm. 524
[2]  Ignac Goldziher, diarabkan oleh Muhammad Yusuf Musa, al-Aqîdah wa as-Syarîah fil Islam, hlm. 5
[3] Syekh Hasan Khalid (mufti Lebanon), Mawqif an-Nabi Saw min ad-Diyânât at-Tsalâts: al-Watsaniyyah, wa al-Yahudiyyah, wa an-Nasrâniah, hlm. 107
[4] Lihat: Tabaqât Ibn Saad, vol. 2, hlm. 119-120, dan Syekh Hasan Khalid (mufti Lebanon), Op. Cit, hlm. 116

Sunday, October 28, 2012

Hanya Hadits Plesetan Yang Menuduh Rasulullah Mati Diracun Sunday, October 28, 2012


Dalam berbagai kesempatan diskusi maupun debat, khususnya di dalam forum Diskusi maupun Forum Debat lintas agama di Dunia Maya semisal Facebook,, umat Kristen selalu saja, dan diulang-ulang, menayangkan status dengan topik di atas yang faktanya adalah KEBOHONGAN tanpa dasar dan sarat dengan Fitnah yang ditujukan kepada seorang Rasul Suci Utusan Allah yang terpelihara.

Para penuduh tersebut melontarkan fitnahnya, semata-mata berdasarkan hadist ini: 

[Volume 5, Book 59, Number 713]
Narrated Ibn Abbas: ~ ‘Umar bin Al-Khattab used to let Ibn Abbas sit beside him, so ‘AbdurRahman bin ‘Auf said to ‘Umar, “We have sons similar to him.” ‘Umar replied, “(I respect him) because of his status that you know.” ‘Umar then asked Ibn ‘Abbas about the meaning of this Holy Verse:– “When comes the help of Allah and the conquest of Mecca . . .” (110.1) Ibn ‘Abbas replied, “That indicated the death of Allah’s Apostle which Allah informed him of.” ‘Umar said, “I do not understand of it except what you understand.”

Narrated ‘Aisha: The Prophet in his ailment in which he died, used to say, “O ‘Aisha! I still feel the pain caused by the food I ate at Khaibar, and at this time, I feel as if my aorta is being cut from that poison.”

Dikisahkan oleh 'Aishah : Rasulullah dalam keadaan sakit yang menyebabkan kematiannya, biasa berkata, “O, Aisha. Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar dan saat ini, aku merasa seolah-olah urat nadiku terputus akibat racun itu.

Hadits ini adalah HADITS PALSU!
Sedangkan HADITS SHAHIH yang sebenarnya begini:

44.427/4081.
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar Telah menceritakan kepada kami Gundar Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’ad dari Urwah, dari Aisyah dia berkata; 
Aku pernah mendengar bahwa seorang rasul tidak akan meninggal hingga dia di suruh memilih antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Kemudian ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: "Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman". Aisyah berkata; Aku mengira pada waktu itulah beliau diberi pilihan.

45.107/4220.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Hausyab Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Bapaknya dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang nabi sakit kecuali akan diberi pilihan antara dunia dan akhirat.

Aisyah berkata; Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: "Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman." Maka aku tahu bahwa waktu itu beliau sedang diberi pilihan.

Dari Ibn Sa’d halaman 249:
Sebenarnya seorang wanita Yahudi menyajikan (daging) kambing beracun kepada Rasul Allah. Dia mengambil sedikit daging, memasukannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan lalu memuntahkannya. Lalu beliau Saw berkata kepada para pengikutnya: “Berhenti! Sungguh, kaki domba ini berkata padaku bahwa dia telah diracuni.” Lalu beliau meminta wanita Yahudi itu dipanggil dan dia bertanya padanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, ”Aku ingin tahu apakah Anda benar-benar nabi; jika memang benar maka Allah tentunya akan memberitahu dirimu, dan jika engkau ternyata berbohong maka aku akan dapat membebaskan masyarakat dari dirimu.”

Dari Tabari Volume 8, halaman 123, 124:
Ketika Rasul Allah beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab bt. al-Harith, istri dari Sallam b. Mishkam, menyajikan baginya sebuah daging domba bakar. Dia telah bertanya sebelumnya bagian domba manakah yang paling disukai Rasul Allah dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu dia membubuhi bagian itu dengan racun, dan dia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu dia menghidangkan daging itu. Ketika daging itu disajikan di hadapan Rasul Allah, dia mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi tidak ditelannya. Di sebelah dia terdapat Bishr b. al-Bara b. Marur yang seperti Rasul Allah juga mengambil bagian daging itu. Akan tetapi Bishr menelan daging itu ketika sang Rasul Allah memuntahkan daging dan berkata,

“Tulang ini memberitahu diriku bahwa ia diracuni.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini?” Wanita itu menjawab, “Bagaimana kau telah memperlakukan masyarakatku sudah nyata di hadapanmu. Jadi aku berkata, “Jika dia memang benar2 nabi, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja, maka aku akan dapat menyingkirkannya.”". Sang Nabi mengampuninya.
Bishr mati karena daging yang dimakannya.

Berikut adalah riwayat tentang perang Khaibar, riwayat Wanita Yahudi yang mencoba membubuhkan racun namun nabi Muhammad selamat, dan riwayat tentang wafatnya nabi.

1. Mengenai perang di Khaibar
Dari Anas bin Malik ra., katanya : Rasulullah s.a.w. memasuki Khaibar pagi hari. Waktu itu mereka keluar kelapangan. Setelah mereka melihat beliau mereka berkata : ”Muhammad dan tentara”. Lalu mereka segera menempati benteng mereka. Nabi s.a.w mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa : “Allahu Akbar”! Hancurlah Khaibar! Bila kami duduki lapangan suatu kaum, maka amat buruk pagi hari orang yang diberi peringatan (tetapi) tidak menurut. (HR. Bukhari 1550)

Hadis Sahih Bukhari 4, Buku 53, Nomer 394:
Dikisahkan oleh Abu Hurairah: r.a., katanya: "Ketika Khaibar dikalahkan, sup domba beracun disuguhkan pada sang Nabi (SAW) sebagai hadiah (dari orang2 Yahudi). Sang Nabi memerintah,”Kumpulkan semua orang Yahudi yang ada di sini, berdiri di hadapanku.” Orang2 Yahudi dikumpulkan.

Lalu beliau Saw bersabda:
“Saya hendak bertanya kepadamu tentang satu hal. Adakah kamu mau memberikan keterangan yang sebenarnya kepada saya?”. Mereka menjawab: “Ya” Nabi SAW bertanya kepada mereka: ”Siapa ayahmu?” mereka itu menjawab:”Si Anu!” Lalu beliau bersabda: ”kamu dusta, akan tetapi ayah kamu si “Anu”. Mereka itu berkata: ”Benar Tuan!” Beliau bertanya: ”Adakah kamu mau menjawab dengan benar kepada saya tentang sesuatu yang saya tanyakan?” Ya, hai Abu Qasim! Sekiranya kami berdusta, tuan ketahui dusta kami sebagaimana tuan ketahui tentang ayah kami.” Lalu beliau bertanya, ”Siapakah yang akan masuk neraka?” Mereka berkata, ”Kami akan berada di neraka untuk jangka waktu sebentar, dan setelah itu kau akan mengganti posisi kami.” Sang Nabi berkata,”Kalian dikutuk dan dihina di neraka! Demi Allah, kami tidak akan pernah mengganti posisi kalian di neraka.” Lalu Nabi Saw bertanya,” Maukah kalian menjawab jujur jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Abu Al-Qasim.” Beliau Saw bertanya,”Apakah kau telah meracuni sup domba ini?” Mereka menjawab,”Ya.” Tanya beliau, “Apakah yang mendorong kamu berbuat demikian?” Jawab mereka :” Maksud kami ialah, kalau sekiranya tuan seorang pendusta, kami akan senang. Dan kalau sekiranya tuan seorang Nabi, racun itu tidak akan membahayakan tuan.” [HR. Bukhari 1412]

2. Pembuktian bahwa Nabi Muhammad  selamat dari racun wanita Yahudi
  • Perang Khaibar terjadi pada tahun 628 M (tahun ke 7 H) dan pada bulan February 629 M -Zul Qa’dah 7 H) Nabi dan kaum Muslimin melaksanakan Umratul Qadha’.
  • Setelah perang Khaibar dapat ditaklukkan, Rasulullah menikah dengan Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab. Pada tahun yang sama.
  • Bulan January 630 M (Ramadhan 8 H) Nabi Muhammad pun masih SEHAT WAL ‘AFIAT. Beliau membuka kota Makkah dan menghancurkan semua berhala-berhala yang ada disekitar Ka’bah. Peristiwa ini dikenal dengan “FATHUL MAKKAH”.
  • Empat tahun sejak dari peristiwa Khaibar Rasulullah tetap hidup. Dan pada bulan maret 632M, atau tepatnya Dzulhijjah 10 H) Rasulullah melaksanakan Haji Wada’ bersama-sama dengan kira-kira 114.000,- orang kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji.
  • Pada bulan Mei 632M, atau bulan safar 11 H, Rasulullah menyiapkan Tentara Usamah untuk pergi ke Negeri Syam.
  • Pada tgl 7 Juni 632 M atau pada hari senin 12 Rabi’ul awal (bertepatan dengan hari kelahiran beliau) Nabi Muhammad Saw wafat dengan tenang untuk kembali kepada Tuhannya Yang Mahatinggi, .

3. Nabi Muhammad SAW wafat karena sakit biasa, BUKAN karena racun
Sebelum beliau wafat, Rasulullah tetap melaksanakan Dak’wah. Dari Aisyah ra., katanya: ”Ketika sakit Nabi bertambah berat, beliau meminta kepada semua istri beliau, supaya ia diizinkan selama sakit ia dirawat dirumahku, dan mereka semua mengizinkannya. Lalu Nabi pergi ke rumah Aisyah dipapah oleh dua orang laki-laki, sedangkan kedua belah kaki beliau tercecah menggaris tanah dinatara kedua orang laki-laki itu, yaitu Abbas dan seorang lagi.” Kata Ubaidillah, “Cerita Aisyah itu kuceritakan kepada Abbas, lalu dia menanyakan kepadaku, tahukah engkau siapa laki-laki yang seorang lagi itu?” Jawabku, “Tidak!” Katanya, “Dia adalah Ali”.

Selanjutnya Aisyah menceritakan juga, bahwa setelah nabi saw. berada dirumahnya, sedangkan sakit nabi bertambah keras juga, maka beliau bersabda, “Siramkanlah kepadaku tujuh girbag air yang masih utuh, mudah-mudahan aku segera dapat melaksanakan da’wah kembali kepada orang banyak.” Lalu Nabi didudukkan kedalam sebuah bak mandi terbuat dari kuningan, kepunyaan hafshah, istri nabi saw, kemudian beliau kami sirami dengan air yang disuruhkan Nabi, sampai beliau memberi isyarat kepada kami, ‘Sudah cukup.” Sesudah itu beliau pergi ke Mesjid menemui jamaah” [HR Bukhari 135]

Nah, pelajaran apa yanvg dapat anda petik dariu sedikit informasi ini?
Silahkan dipikirkan sendiri.

[Dari berbagai sumber]

Monday, September 10, 2012

Kerasulan Nabi Muhammad Saw Di Tengah-Tengah Bangsa Jahiliyah Arab Monday, September 10, 2012


Jika anda meragukan bahwa sesungguhnya bangsa Arab telah mengenal Allah SWT jauh sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW, maka anggapan seperti itu tidak sepenunya benar. Sebab Al-Quran sendiri yang menegaskan bahwa musyrikin Arab itu kenal betul bahwa tuhan mereka adalah Allah SWT. Dalam salah satu ayat Al-Quran digambarkan bagaimana pengakuan orang Arab jahiyah terhadap keberadaan Allah SWT.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al-Ankabut: 61)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (QS Al-Ankabut: 23)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Luqman: 25)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (QS Az-Zumar: 38)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka,” niscaya mereka menjawab, “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf: 87)

Lima fiman Allah dalam Al-Quran di atas menjelaskan kepada kita bahwa bangsa Arab musyrikin jahilyah ternyata memiliki keyakinan tentang keberadaan Allah. Bahkan bukan sekedar meyakini keberadaan-Nya, mereka juga mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi, memberikan rizki, menurunkan hujan, menundukkan matahari, bulan, dlsb adalah Allah.

Jika demikian, lalu apakah tugas nabi Muhammad SAW?
Tugas beliau bukan mengenalkan keberadaan Allah, sebab mereka sudah lama mengenal Allah. Tugas beliau juga bukan untuk menerangkan bahwa Allah adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, sebab hal itu pun sudah mereka ketahui. Tugas utama beliau adalah memastikan bahwa mereka hanya menyembah Allah semata, satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa tanpa membiaskan, apalagi mensekutukan Allah dengan sesembahan lain yang mereka sembah. Itu sebabnya motto dakwah beliau adalah: LAA ILAAHA ILLALLAH, yaitu tidak ada tuhan yang patut disembah dengan haq kecuali hanya Allah semata.

Konsekuensinya, sudah tentu, agama yang dibawa nabi Muhammad SAW pun mewajibkan penghancuran segala bentuk berhala, menafikan semua undang-undang, sistem, agama, ideologi dan peraturan yang bersumber dari selain Allah. Seorang tidak dikatakan muslim sebelum dia mengakui tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada hukum selain hukum yang Allah turunkan.

Adapun kenalnya orang Arab jahiliyah terhadap nama Allah SWT, karena dahulu ada nabi Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam di negeri itu. Bahkan mereka masih setia datang berhaji setiap tahun keliling baitullah. Mereka memang menyebut Ka’bah dengan istilah baitullah (rumah Allah). Bedanya, cara manasik haji mereka sudah jauh menyimpang. Misalnya, mereka thawaf keliling ka’bah dengan bersiul dan bertepuk sambil telanjang tanpa busana.

وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal: 35)

Dalam Gua Hira
Di dalam gua Hira, Rasulullah SAW memang bukan berdoa dalam arti seperti kita sekarang ini. Sebab beliau memang belum mendapatkan penjelasan langsung dari Allah SWT tentang sosok-Nya. Juga belum ada tata aturan dalam cara beribadah dan berdoa kepada-Nya.

Sehingga yang beliau lakukan bukan berdoa, melainkan menyepi untuk melakukan tahannus. Beliau tentu tidak berkomat-kamit mengangkat tangan ke langit. Namun yang berliau lakukan adalah merenung, berpikir, melakukan evaluasi, serta berdialog dengan diri sendiri. Hingga kemudian Allah SWT berkenan berbicara kepada-Nya lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Namun perlu diketahui bahwa beliau sebagai orang Arab pun sudah tahu bahwa Allah SWT adalah tuhannya. Bahwa Allah SWT adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan hujan serta memberi rizki.

Kekurangan aqidah bangsa Arab jahiliyah ini bukan pada rububiyah-nya, melainkan pada uluhiyah-nya. Di mana mereka belum punya informasi apa pun tentang bagaimana bertauhid kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada-Nya. Mereka baru sekedar tahu bahwa tuhan itu ada, namanya Allah dan Allah itu menciptakan mereka hingga memberi rizqi.

Kualitas mereka sedikit di bawah para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sudah mengenal Allah dan adanya kitab-kitab suci (yang diturunkan dari) langit, berisi tata cara ibadah serta syariah. Mereka juga mengenal sistem kenabian yang berujud manusia yang mendapatkan wahyu dari langit sebagai hukum yang harus dilaksanakan.

Namun kesalahan fatal para ahli kitab itu ketika mereka tidak mau mengakui bahwa Allah SWT menjadikan Muhammad SAW sebagai Nabi dan ingkar kepada Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir. Kesalahan ini kemudian diperparah dengan sikap ambivalen mereka terhadap agama Islam. Bahkan pada akhirnya mereka malah memerangi dan hendak membunuh Rasulullah SAW.

Maka semua keyakinan mereka sebelumnya tentang Allah, kitab suci, para nabi dan hukum-hukum syariat yang turun kepada mereka, menjadi tidak ada gunanya lagi.

Meski mereka percaya keberadaan Allah, para nabi, dan kitab suci taurat, Zabur, dan Injil, namun karena pembangkangan mereka, Al-Quran memberi para ahli kitab ini status sebagai orang kafir. Hal itu semata-mata karena mereka menolak mengakui Muhammad SAW sebagai nabi, dan Al-Quran sebagai kitab suci Allah.

Namun sebagai penghargaan atas persamaan beberapa asas iman, laki-laki musim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab. Demikian juga dengan sembelihan mereka, halal dimakan oleh orang-orang Islam. Meski demikian, mereka tetap masuk neraka, karena tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tuhan dan karena mereka tidak mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


[Dari ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]

Kerasulan Nabi Muhammad Saw Di Tengah-Tengah Bangsa Jahiliyah Arab


Jika anda meragukan bahwa sesungguhnya bangsa Arab telah mengenal Allah SWT jauh sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW, maka anggapan seperti itu tidak sepenunya benar. Sebab Al-Quran sendiri yang menegaskan bahwa musyrikin Arab itu kenal betul bahwa tuhan mereka adalah Allah SWT. Dalam salah satu ayat Al-Quran digambarkan bagaimana pengakuan orang Arab jahiyah terhadap keberadaan Allah SWT.

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)." (QS Al-Ankabut: 61)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
"Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya)." (QS Al-Ankabut: 23)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Luqman: 25)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri." (QS Az-Zumar: 38)

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka,” niscaya mereka menjawab, “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf: 87)

Lima fiman Allah dalam Al-Quran di atas menjelaskan kepada kita bahwa bangsa Arab musyrikin jahilyah ternyata memiliki keyakinan tentang keberadaan Allah. Bahkan bukan sekedar meyakini keberadaan-Nya, mereka juga mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi, memberikan rizki, menurunkan hujan, menundukkan matahari, bulan, dlsb adalah Allah.

Jika demikian, lalu apakah tugas nabi Muhammad SAW?
Tugas beliau bukan mengenalkan keberadaan Allah, sebab mereka sudah lama mengenal Allah. Tugas beliau juga bukan untuk menerangkan bahwa Allah adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, sebab hal itu pun sudah mereka ketahui. Tugas utama beliau adalah memastikan bahwa mereka hanya menyembah Allah semata, satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa tanpa membiaskan, apalagi mensekutukan Allah dengan sesembahan lain yang mereka sembah. Itu sebabnya motto dakwah beliau adalah: LAA ILAAHA ILLALLAH, yaitu tidak ada tuhan yang patut disembah dengan haq kecuali hanya Allah semata.

Konsekuensinya, sudah tentu, agama yang dibawa nabi Muhammad SAW pun mewajibkan penghancuran segala bentuk berhala, menafikan semua undang-undang, sistem, agama, ideologi dan peraturan yang bersumber dari selain Allah. Seorang tidak dikatakan muslim sebelum dia mengakui tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada hukum selain hukum yang Allah turunkan.

Adapun kenalnya orang Arab jahiliyah terhadap nama Allah SWT, karena dahulu ada nabi Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam di negeri itu. Bahkan mereka masih setia datang berhaji setiap tahun keliling baitullah. Mereka memang menyebut Ka’bah dengan istilah baitullah (rumah Allah). Bedanya, cara manasik haji mereka sudah jauh menyimpang. Misalnya, mereka thawaf keliling ka’bah dengan bersiul dan bertepuk sambil telanjang tanpa busana.

وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً فَذُوقُواْ الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ
Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal: 35)

Dalam Gua Hira
Di dalam gua Hira, Rasulullah SAW memang bukan berdoa dalam arti seperti kita sekarang ini. Sebab beliau memang belum mendapatkan penjelasan langsung dari Allah SWT tentang sosok-Nya. Juga belum ada tata aturan dalam cara beribadah dan berdoa kepada-Nya.

Sehingga yang beliau lakukan bukan berdoa, melainkan menyepi untuk melakukan tahannus. Beliau tentu tidak berkomat-kamit mengangkat tangan ke langit. Namun yang berliau lakukan adalah merenung, berpikir, melakukan evaluasi, serta berdialog dengan diri sendiri. Hingga kemudian Allah SWT berkenan berbicara kepada-Nya lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Namun perlu diketahui bahwa beliau sebagai orang Arab pun sudah tahu bahwa Allah SWT adalah tuhannya. Bahwa Allah SWT adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan hujan serta memberi rizki.

Kekurangan aqidah bangsa Arab jahiliyah ini bukan pada rububiyah-nya, melainkan pada uluhiyah-nya. Di mana mereka belum punya informasi apa pun tentang bagaimana bertauhid kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada-Nya. Mereka baru sekedar tahu bahwa tuhan itu ada, namanya Allah dan Allah itu menciptakan mereka hingga memberi rizqi.

Kualitas mereka sedikit di bawah para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sudah mengenal Allah dan adanya kitab-kitab suci (yang diturunkan dari) langit, berisi tata cara ibadah serta syariah. Mereka juga mengenal sistem kenabian yang berujud manusia yang mendapatkan wahyu dari langit sebagai hukum yang harus dilaksanakan.

Namun kesalahan fatal para ahli kitab itu ketika mereka tidak mau mengakui bahwa Allah SWT menjadikan Muhammad SAW sebagai Nabi dan ingkar kepada Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir. Kesalahan ini kemudian diperparah dengan sikap ambivalen mereka terhadap agama Islam. Bahkan pada akhirnya mereka malah memerangi dan hendak membunuh Rasulullah SAW.

Maka semua keyakinan mereka sebelumnya tentang Allah, kitab suci, para nabi dan hukum-hukum syariat yang turun kepada mereka, menjadi tidak ada gunanya lagi.

Meski mereka percaya keberadaan Allah, para nabi, dan kitab suci taurat, Zabur, dan Injil, namun karena pembangkangan mereka, Al-Quran memberi para ahli kitab ini status sebagai orang kafir. Hal itu semata-mata karena mereka menolak mengakui Muhammad SAW sebagai nabi, dan Al-Quran sebagai kitab suci Allah.

Namun sebagai penghargaan atas persamaan beberapa asas iman, laki-laki musim dibolehkan menikahi wanita ahli kitab. Demikian juga dengan sembelihan mereka, halal dimakan oleh orang-orang Islam. Meski demikian, mereka tetap masuk neraka, karena tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tuhan dan karena mereka tidak mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


[Dari ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]

Thursday, May 17, 2012

Hadits Tentang Wahyu Pertama Kepada Nabi Muhammad Saw Thursday, May 17, 2012


Shahih Bukhari, Hadits 3
Wahyu Yang Turun Pertama Kali

Kali ini kita membahas hadits yang ke-3. Yakni hadits ke-3dalam Shahih Bukhari (صحيح البخارى), di bawah Kitab Bad’il Wahyi (كتاب بدء الوحى) (Permulaan Turunnya Wahyu). Hadits ini cukup panjang. Meskipun Imam Bukhari tidak memberikan judul bab pada hadits ketiga ini, dari matan-nya terlihat jelas bahwa ia memuat wahyu yang turun pertama kali kepada Rasulullah SAW.

Berikut ini adalah matan hadits tersebut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ - وَهُوَ التَّعَبُّدُ - اللَّيَالِىَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِى غَارِ حِرَاءٍ ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ . قَالَ « مَا أَنَا بِقَارِئٍ » . قَالَ « فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّالِثَةَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ ) » . فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَرْجُفُ فُؤَادُهُ ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ « زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى » . فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ « لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى » . فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ . فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ - وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِىَّ ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِىَ - فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - خَبَرَ مَا رَأَى . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِى نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى - صلى الله عليه وسلم - يَا لَيْتَنِى فِيهَا جَذَعًا ، لَيْتَنِى أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « أَوَمُخْرِجِىَّ هُمْ » . قَالَ نَعَمْ ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِىَ ، وَإِنْ يُدْرِكْنِى يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّىَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ 

Dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa ia berkata, "Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadah beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hra, hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya, lalu berkata, "Bacalah"Nabi menjawab, "Aku tidak bisa membaca". Nabi menceritakan, "Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. Malaikat berkata "bacalah" aku menjawab "aku tidak bisa membaca." Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Lalu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. "Bacalah" kujawab menjawab "aku tidak bisa membaca." Maka aku ditarik dan dipeluknya untuk kali ketiga. Kemudian aku dilepaskan seraya ia berkata "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu yang Maha Mulia." Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, "Selimuti aku, selimuti aku!" Khadijah menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi kepada Khadijah binti Khuwailid (setelah mennceritakan semua kejadian yang dialami Nabi), "Sesungguhnya aku cemas atas diriku."Khadijah menjawab, "Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran." Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Ia pandai menulis buku dalam bahasa ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa yang dikehendaki Allah dapat disalin. Usianya kini telah lanjut dan matanya telah buta. 

Khadijah berkata kepada Waraqah, "wahai anak pamanku. Dengarkan kabar dari anak saudaramu ini." Waraqah bertanya kepada Nabi, "Wahai anak saudaraku. Apa yang terjadi atas dirimu?" Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, "Inilah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu." Nabi bertanya, "Apakah mereka akan mengusir aku?" Waraqah menjawab, "Ya, betul. Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau yang tidak dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya." Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara. 

Penjelasan Hadits 

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ 
Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur

Lafazh min (من) di sini mengandung makna tab'idh, artinya sebagian wahyu. Turunnya wahyu berupa mimpi sebelum wahyu yang pertama di Gua Hira adalah dalam rangka latihan bagi Nabi. Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa saat Nabi sadar, beliau dapat melihat cahaya serta mendengar suara batu-batu kerikil memberi salam kepadanya. 

فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ 
Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "seperti jelasnya cuaca pagi" (مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ) adalah malaikat yang turun membawa wahyu itu bagaikan cahaya di pagi hari.

Setelah itu Nabi gemar mengasingkan diri ke Gua Hira, yaitu salah satu gua yang ada di Makkah. Di sini dipakai istilah tahannuts (يَتَحَنَّثُ) yaitu mengikuti ajaran agama Nabi Ibrahim. Lamanya berapa hari tidak dapat ditentukan secara pasti karena masih diperselisihkan para ulama. Yang pasti,tahannuts saat menerima wahyu di Gua Hira terjadi di bulan Ramadhan.

Hingga malam itu, malaikat yang tidak lain adalah Jibril datang kepada beliau untuk menyampaikan wahyu. Setelah sebelumnya menampakkan diri kepada Nabi di Ajyad (paska fase mimpi yang benar) dalam wujud yang asli. Sebagaimana dijelaskan dalam shahih muslim, riwayat lain dari Aisyah, Nabi berkata "Aku belum pernah melihat Jibril dalam bentuknya yang asli kecuali hanya dua kali." Pertama di Ajyad dan kedua di Sidratul Muntaha saat Isra'.

Penyampaian wahyu pertama ini diawali dengan dialog 3 kali. Malaikat jibril menyuruh nabi membaca (اقْرَأْ) dan Nabi menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca (مَا أَنَا بِقَارِئٍ). Begitu Nabi menjawab, Jibril mendekapnya hingga Nabi kepayahan. Setelah tiga kali Jibril baru menyampaikan wahyu pertama, QS. Al-Alaq ayat 1 – 3: 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ 
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ 
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. 
Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. 
Bacalah! Demi Tuhanmu yang Maha Mulia. 

Tentu saja ini adalah hal yang sangat berat bagi Nabi. Melihat Jibril dan mendapat wahyu adalah sesuatu yang belum biasa bagi beliau. Maka beliau pulang kepada Khadijah dalam kondisi ketakutan, disertai fisik yang lelah, payah, dan keringat dingin bercucuran. Karenanya beliau meminta diselimuti oleh Khadijah (زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى). 

Setelah cukup membaik, nabi menceritakan kepada Khadijah, sekaligus mengatakan kekhawatiran dan ketakutannya: 

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى 
Sungguh aku cemas atas diriku sendiri. 

Para ulama berbeda pendapat tentang lafazh khasyyah (خَشِيتُ). Ada 12 arti lafazh ini. 
(1) Gila, (2) kecemasan, (3) ketakutan, (4) sakit, (5) sakit terus-menerus, (6) ketidakmampuan memegang amanah kenabian, (7) ketidakmampuan melihat bentuk malaikat, (8) tidak memiliki kesabaran atas siksaan orang-orang kafir, (9) orang kafir akan membunuh nabi, (10) meninggalkan tanah airnya, (11) kedustaan orang kafir terhadap nabi, dan (12) cemoohan mereka atas nabi. Ibnu Hajar membenarkan 3 diantaranya, yakni bermakna (3) ketakutan, (4) sakit, dan (5) sakit terus-menerus.

Namun Khadijah adalah istri yang luar biasa. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Pada saat seperti itu motivasi istri benar-benar sangat dibutuhkan. Karenanya Khadijah menampik ketakutan nabi dan mengingatkannya dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. 

كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ 
"Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran." 

Hal lain yang kemudian dilakukan Khadijah adalah mengajak Nabi kepada waraqah. Mengkonsultasikan peristwa itu pada Waraqah. Sebab waraqah adalah ahli kitab yang terpercaya, yang tidak hanya baik akhlaknya tetapi juga alim mengenai Injil. 

Di sinilah Waraqah memberi kesaksian bahwa yang datang kepada Nabi adalah wahyu. Melalui Namus (malaikat), sebagaimana telah datang kepada Musa sebelumnya. Dalam kesempatan lain Waraqah juga mengatakan "Namus Isa" kepada Khadijah. Dan keduanya adalah benar. Ini juga menjadi bukti bahwa kerasulan Muhammad telah ada dalam kitab suci sebelumnya sehingga ahli kitab seperti Waraqah bisa mengetahui tanda-tandanya.

Lalu Waraqah menambahkan keterangan bahwa salah satu resiko kenabian adalah permusuhan dan pengusiran dari kaumnya. Kelak apa yang disampaikan waraqah ini benar-benar terbukti. Namun keinginan Waraqah untuk menolong Nabi tidak bisa dipenuhi sebab tidak berapa lama setelah itu ia meninggal dunia. 

Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini diantaranya adalah: 

  1. Sebelum mendapatkan wahyu di Gua Hira, terlebih dulu Rasulullah mendapatkan wahyu dalam bentuk mimpi yang benar, sebagai latihan bagi beliau 
  2. Wahyu yang pertama turun kepada beliau adalah QS. Al-Alaq 1-3, melalui malaikat Jibril di Gua Hira pada malam bulan Ramadhan
  3. Istri yang baik adalah yang bisa menenangkan suami saat ketakutan, memotivasinya saat sang suami membutuhkan motivasi, dan membantu mencarikan solusi saat suami menghadapi masalah
  4. Kerasulan Muhammad telah disebutkan dalam kitab-kitab suci sebelum Al-Qur'an, termasuk injil. Juga sebagian tanda-tandanya.
  5. Salah satu resiko kenabian adalah permusuhan dari orang-orang kafir, salah satunya dalam bentuk pengusiran. Resiko ini juga bisa menimpa amal-amal dakwah yang merupakan penerus misi kenabian.

Demikian hadits ke-3 Shahih Bukhari dan penjelasannya yang telah diringkas Bersama Dakwah dari Fathul Baari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani disertai tambahan penjelasan seperlunya dan kesimpulan atau pelajaran hadits. 

Wallaahu a'lam bish shawab. 

[Sumber: Catatan ustadz Hamirdin]


Contact Form

Name

Email *

Message *