Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Isa (Risalah). Show all posts
Showing posts with label Isa (Risalah). Show all posts

Monday, June 22, 2020

Ringkasan Biografi Nabi Isa Almasih Alayhisalam Monday, June 22, 2020



Kisah Nabi Isa as adalah kisah yang tergolong lengkap diceritakan di dalam Al-Qur’an. Terutama mengenai wafat dan kedatangannya di dunia pada akhir zaman yang penuh tanda tanya.

Sebagian berpendapat bahwa kematian yang terjadi pada Nabi Isa adalah kematian pada umumnya, disalib dan sebagian yang lain berpendapat bahwa jasad dan ruhnya diangkat oleh Allah (dalam keadaan hidup).

Begitu pula mengenai kedatangannya pada akhir zaman. Sebagian berpendapat Nabi Isa akan benar-benar muncul sebagai pertanda akan terjadinya kiamat, namun sebagian lainnya menyatakan bahwa bukan merupakan kepastian bahwa Nabi Isa akan muncul kembali, karena Nabi Muhammad telah dinobatkan sebagai penutup para Nabi dan Rasul.

Kisah kelahiran Nabi Isa as ini digambarkan Allah swt. dengan indah di dalam Alquran, yakni QS Maryam:16 sampai dengan 40. Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bagaimana situasi kelahiran Nabi Isa as, dan ketika ibunya, Maryam, dengan tabah dan sabar menghadapi kaumnya yang menuduh serta menghina dengan kehadiran bayinya itu.

Dalam artikel kali ini, akan diceritakan secara lengkap mengenai kisah Nabi Isa as seperti yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an.

Kisah Nabi Isa AS
Di dalam kitab suci Al-Quran Nabi Isa disebut dengan nama ‘Isa dengan gelar al-Masih dan Ibnu Maryam. Kapasitasnya ialah sebagai hamba dan Rasul Allah, kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam, dan bagian dari Ruh-Nya. Ia lahir tanpa seorang bapak dan merupakan Nabi yang diberikan mukjizat yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.

Nabi Isa as memiliki kesalehan dan ketauhidan yang sangat kuat. Dalam Al-quran Allah SWT menanyakan ketauhidan kepada Nabi Isa as apakah ia mengaku sebagai Tuhan, lalu Nabi Isa as menjawab ia tidak mengaku dan menyuruh umatnya untuk menyembahnya melainkan menyuruh hanya untuk menyembah kepada Allah.

Kisah kelahiran Nabi Isa as. ini digambarkan dalam QS Maryam:16 sampai dengan 40. Adapun ayat tersebut adalah sebelum lahir Nabi Isa as terjadi peristiwa-peristiwa ganjil yang dialami oleh ibunya yakni Maryam. Di antara peristiwa itu adalah ketika Maryam menyendiri, tiba-tiba datang malaikat Jibril menyerupai manusia, kisah ini diceritakan Allah dalam firman-Nya,
 
"Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna."  (QS Maryam: 16)

Malaikat Jibril datang untuk mengabarkan kepada Maryam bahwa ia akan dianugerahkan kepadanya seorang anak laki-laki yang suci, hal ini disebutkan dalam firman Allah,

Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS Maryam:19)

Peristiwa Kelahiran Nabi Isa
Semakin hari, usia kandungan Maryam semakin membesar sehingga telah tiba waktunya Maryam melahirkan seorang anak. Dengan rasa sakit, ia memaksakan diri untuk bersandar ke pangkal pohon kurma. Hal ini digambarkan dalam firman Allah,

"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan." (QS Maryam:23)

Ayat ini menggambarkan bahwa Maryam merasa malu kepada orang lain dengan apa yang telah terjadi kepadanya, karena ia khawatir bencana serta kesedihan akan ia terima setelah melahirkan anak tanpa ayah. Ditambah lagi kesukaran baru, yaitu ia memerlukan air untuk memandikan anaknya, serta memerlukan makanan. Maryam pun merasa semakin sedih.

Melihat kondisi tersebut, Allah mengutus malikat Jibril untuk menghibur Maryam, sehingga ia tidak lagi merasa sedih dengan takdir yang Allah berikan. 

Allah berfirman;
"Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu." (QS Maryam:24) 

Jibril menyampaikan pesan dari Allah SWT agar janganlah Maryam bersedih hati bersusah pikiran, karena Allah telah menyediakan air yaitu sebuah anak sungai yang kecil dan airnya jernih. Kemudian ia disuruh untuk menggoyangkan pohon kurma agar ia dan anaknya dapat memakan dan melanjutkan hidup mereka. 

Allah berfirman;
"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS Maryam:26)

Cercaan yang Diterima Maryam Dari Kaumnya
Maryam diperintahkan agar ia tidak terlalu memikirkan apa yang telah terjadi, ia diperintahkan makan dan minum atas apa yang Allah swt. anugerahkan kepadanya, dan mengusir kesedihannya, karena Allah swt. telah mensucikan masa depannya, dan membersihkan pencemaran nama baik yang dituduhkan oleh kaumnya terhadap dirinya. Sehingga mereka yakin dan mengakui bahwa Maryam adalah sosok yang suci lagi bersih dari sifat-sifat yang tercela. Kemudian Maryam membawa Isa as anaknya kepada kaumnya sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah,

"Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar." (QS Maryam:27) 

Mendengar cercaan serta hinaan dari kaumnya, Maryam menunjuk kepada bayinya agar mereka sendiri yang menanyakan hal tersebut kepada anaknya. Mereka pun murka kepada Maryam karena menyangka Maryam mengejek dan mempermainkan mereka. Hal tersebut dalam firman Allah, 

"Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka." (QS Maryam:29-32)

Misi Nabi Isa Sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT
Setiap nabi diutus oleh Allah swt. memiliki tujuan atau misi dalam berdakwah. Adapun misi dakwah seorang nabi sesuai dengan situasi dan kondisi umatnya. Nabi Isa as adalah nabi yang melanjutkan risalah kenabian sebelumnya, yakni risalah Nabi Musa as.

Allah berfirman,
"Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."  (QS Al-Shaf: 6)

Sejak usia enam tahun, Nabi Isa sudah memasuki perguruan Taurat. Ia memahami hukum Taurat lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pada usia 12 tahun, dia bertanya jawab soal Taurat dengan orang-orang Yahudi yang jauh lebih tua, baik soal hukum sampai soal ketuhanan.

Setelah Nabi Isa as berumur 30 tahun, Malaikat Jibril datang sebagai utusan Allah swt. untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan rasul-rasul sebelumnya dan memberi kabar kepada manusia tentang kedatangan seorang nabi terakhir yakni Nabi Muhammad SAW.

Dalam Alquran tidak dijelaskan kapan Nabi Isa as diangkat menjadi nabi, dan di mana tempatnya. Akan tetapi, perintah kenabian Nabi Isa as dikenal sejak ia lahir dan sejak ia berbicara kepada Bani Israil ketika masih dalam buaian.  

Allah berfirman;
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi." (QS Maryam:30)

Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad SAW
Salah satu tujuan Nabi Isa as yakni memberitakan bahwa dikemudian hari akan diutus oleh Allah SWT seorang rasul, yakni Nabi Muhammad SAW yang dibekali sebuah Kitab Suci (Al-quran) yang berisi ajaran-ajaran Allah swt. yang membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya yang akan disampaikan kepada manusia. 

Allah berfirman;
"Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS As-Shaf:4)

Nabi Isa semakin berani mengoreksi para ulama Yahudi yang dianggap menyeleweng dalam ajaran Taurat. Dalam berdakwa Nabi Isa as terkenal sebagai seseorang yang sering berkelana (berpindah-pindah) tempat untuk membawa kabar gembira akan keselamatan. Di perjalanan Nabi Isa as melarang pengikutnya membawa tongkat, bekal, uang dan senjata.

Nabi Isa Menyiarkan Agama yang Benar dan Meluruskan Penyelewengan
Misi Nabi Isa as dalam berdakwah adalah menyiarkan agama yang benar, membongkar akan kesalahan dan kesesatan pendeta Yahudi yan telah jauh menyimpang dari ajaran Nabi Musa as yang sebenarnya. Bahkan terbukti kepada Nabi Isa as bahwa mereka telah lupa dengan ajaran-ajaran yang diberikan Nabi Musa dalam kitab suci Taurat. Sudah banyak pula yang tidak kenal kepada Allah SWT, Nabi Isa as menyampaikan kehadirannya memerintahkan untuk menyembah Allah SWT Hal tersebut diungkap dalam berfirman Allah,

"Dan tatkala Isa datang membawa keterangan Dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat10 dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku". Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus." (QS Az-Zukhruf: 63-64)
 
Mukjizat Nabi Isa Alaihis Salam
Mukjizat yang dimiliki para nabi sebagai pemberian dari Allah SWT untuk menghadapi para penentangnya, dan memperlihatkan kebenaran kerasulan serta kenabiannya, sehingga ajaran yang dibawanya dapat diterima umat manusia, baik pada masa nabi maupun sesudahnya. Adapun mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Isa as yaitu;
  1. Dapat berbicara semasa masih dalam buaian.
Hal ini terjadi ketika ibunya datang kepada kaumnya dan mereka menuduh Maryam berzina, kemudian Nabi Isa as. berbicara yang pada saat itu masih dalam buaian. Inilah mukjizat Nabi Isa as. yang tampak pertama kali. 

Allah berfirman:
"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup." (QS Maryam: 30-31) 
  1. Menghidupkan burung yang terbuat dari tanah liat
  2. Menyembuhkan orang sakit dan mengembalikan penglihatan orang buta.
  3. Menghidupkan orang mati.
  4. Berjalan di permukaan air seperti dikisahkan oleh Al-Tsalabi. Mukjizat ini tidak diceritakan dalam Al-Quran.
  5. Dapat memberitahu manusia tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumahnya.
  6. Mengukuhkan dengan sebutan roh kudus (roh suci). 

[Sumber: merdeka.com | edl]

Tuesday, August 23, 2016

Pengertian Kalimatullah Tuesday, August 23, 2016


Ada pertanyaan yang menuntut penjelasan dari penggiat misionari yang pada dasarnya cuma dimaksudkan untuk memaksakan sebuah pemahaman keliru bahwa Nabi Isa Alayhi salam adalah Tuhan, atau Isa Al Masih adalah Allah. Mereka mendasari pemahaman sesat itu melalui ayat ini,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا

"Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisa':171)

Ayat ini kerapkali digunakan oleh para misionaris untuk mendukung ketuhanan Isa Al Masih Alayhi salam (Jesus pbuh) dengan menitikberatkan konsentrasinya hanya pada dua kata saja, sementara rangkaian kata lainnya yang membentuk keutuhan kalimat diabaikan begitu saja.

Kita sudah lama maklum bahwa mereka memang suka memenggal ayat-ayat Al-Quran  dengan mengutip satu bagian, atau bagian-bagian tertentu saja, dan meninggalkan bagian lainnya demi kelancaran proses dusta mereka. Oleh karena itu dalam tela'ah ini ayat dimaksud sengaja disalin secara utuh seperti tertulis di atas. 

Perhatikan kalimat dalam cetak tebal. Sebenarnya ayat tersebut justru menguatkan bahwa Yesus bukan Tuhan!

Tapi, ya, sudahlah!  Para salesmen produk kadaluarsa berlabel "ajaran kasih" Kristen ini memang gemar mengkorupsi ayat sesuai dengan keinginan mereka dengan tujuan membuat fitnah atas ayat-ayat tersebut. Hal yang sudah biasa dan lumrah terjadi di dunia maya maupun dunia nyata.

Dengan mengulas sedikit saja makna Kalimatullah berikut ini, sebetulnya sudah tidak perlu lagi dijelaskan apa itu Ruhullah, yang juga merupakan kata andalan para penggiat kristenisasi yang mengklaim Yesus adalah tuhan, karena memang seharusnya dimaknai menurut kaidah bahasa yang sama. 

Kata kalimatullah yang dimaksud dalam ayat di atas berasal dari bunyi ayat: وَكَلِمَتُهُ (Kalimat-Nya, Kalimatullah).

Bagaimanakah memahami kata ini menurut kaidah bahasa aslinya?
Kalimatullah adalah bentuk kata Idhafah, artinya adalah “kalimat” yang di-mudhafkan (disandarkan) pada kata Allah. Artinya adalah kalimat yang disampaikan atau diucapkan oleh Allah, karena ada dua kata yang menjadi satu, yakni kata “Kalimat” (sebagai mudhaf) dan kata “Allah” (sebagai mudhaf ilaih).

Kalimat bukan Allah, dan Allah bukan kalimat
Seperti misalnya ketika saya berkata-kata, maka kata-kata saya bukan saya dan saya juga bukan kata-kata saya. Contoh kata bentuk Idhafah lainnya sebut saja misalnya بَيْتُ الله (Baitullah). Artinya adalah rumah Allah. Kata “baitun” di-mudhaf-kan pada kata Allah di sini bukan berarti bahwa rumah adalah Allah atau Allah adalah rumah. Jelas ya?

Nah, setelah mengerti bahwa kalimatullah adalah kata bentukan Idhafah, maka mari kita kenali apa sih sesungguhnya arti “kalimatullah” dalam ayat di atas?
Kalimatullah berasal dari kata “kalimat” dan "Allah" yang dalam bahasa Arab berarti “kata” dan "Allah". Perlu dicatat bahwa Arti "kalimat" dalam bahasa Arab berbeda dengan "kalimat" dalam bahasa Indonesia. Jika dalam bahasa Arab kalimat berarti "kata", maka dalam bahasa Indonesia artinya adalah "kumpulan kata." Sedangkan “kumpulan kata”, dalam bahasa Arab disebut “jumlah”.
Jangan bingung!
Supaya lebih jelas, saya ulangi. Dalam bahasa Arab, kalimat artinya kata, sedangkan jumlah artinya kumpulan kata (yang membentuk kalimat).  Jadi, menurut kaidah bahasa Arab, maksud dari kata “kalimat” yang tertulis dalam ayat di atas adalah satu kata. Bukan rangkaian kata seperti pengertiannya dalam bahasa Indonesia. Lebih spesifik lagi, artinya adalah satu kata dari Allah.

Kata apakah itu?
Dari sedikit penjelasan di atas, mari sama-sama kita lihat kata “kalimat" yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Maryam. Perhatikan bunyi ayat: وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ.  Ada kata "kalimat" dari Allah di sana. Lantas,  kalimat atau satu kata apakah yang disampaikan Allah kepada Maryam sehingga Maryam menjadi hamil padahal dia belum pernah "disentuh" oleh laki-laki manapun juga?

Kata yang dimaksud itu sesungguhnya sudah diterangkan pada ayat sebelumnya, saat Maryam bertanya bagaimana ia bisa hamil sedangkan dirinya belum bersuami bahkan belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun juga? Maka Jibril menyampaikan berita dari Allah:

قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu. Maka Allah hanya cukup berfirman kepadanya: “Kun" lalu "Jadilah." (Q.S. Ali Imran: 47)

Nah, sekarang kita sudah tahu bahwa satu kata yang dimaksud dalam ayat di atas adalah “kun” (jadilah!) untuk menciptakan manusia bernama Isa Al Masih yang diyakini oleh umat Kristen sebagai Yesus. Kata inilah yang membuat Maryam hamil  tanpa melalui proses normal hubungan antara suami istri.

Kejadian serupa juga diperkuat dengan keterangan ayat lain, yang menerangkan bahwa penciptaan Adam dan Isa (Yesus) tanpa melalui proses hubungan suami istri, tapi sama-sama dengan satu kata yakni “kun” saja.

Perhatikan ayat berikut ini:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman/berkata kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Jadi, yang membedakan penciptaan Isa dan Adam dengan manusia lainnya adalah, beliau berdua tercipta melalui satu kata saja, yaitu “Kun”, sedangkan manusia lainnya lainnya melalui proses biologis hubungan suami istri.

Nah, sekarang sudah jelas apa yang dimaksud dengan “kalimatullah” bukan?!

Karena itu membaca ayat Al-Quran harus secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong. Contohnya seoerti membaca ayat QS. 4:171 di atas. Perhatikan baik-baik kalimat intinya adalah begini:
“.. janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya."
Sangat jelas bahwa ayat Al-Quran yang coba diplintir dan dimanipulasi oleh misionaris Kristen untuk menguatkan doktrin Trinitas, justru adalah ayat paling keras yang menentang Trinitas!

Mengapa lanjutan ayat "kalimatullah" kalian mutilasi, wahai laskar odong-odong?
Demi kepatuhan dan keyakinan akan ampuhnya ajaran Paulus tentang berdusta seperti di bawah ini? 

“ ..... sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” (Filipi 1:18 Alkitab edisi TB)


[Sumber: Almubayyin]

Tuesday, September 6, 2011

Mengenal Isa Ibn Maryam Melalui Al-Qur'an Tuesday, September 6, 2011


Apa yang saya sampaikan ini adalah pemahaman saya mengenai sebagian cerita dalam Al-Qur'an yang saya yakini, tentang Zakaria, Yahya, Maryam dan Isa.

Saya mohon ampunan Allah Subhanahu Wata'ala sekiranya keliru memahami ayat-ayat wahyu-Nya berikut ini.

(33) Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga `Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (34) (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (35) (Ingatlah), ketika isteri `Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (36) Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (37) Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (38) Di sanalah Zakariya mendo`a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do`a." (Surah Ali Imran).

Nabi Zakaria melanjutkan doanya, dengan suara yang lembut:

(4) Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. (5) Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, (6) yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (Surah Maryam).

(39) Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." (40) Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isterikupun seorang yang mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (41) Berkata Zakariya: "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari." (Surah Ali Imran).

(11) Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. (Surah Maryam)

Setelah Yahya lahir dan dewasa, Allah Subhanahu Wata'ala, berfirman:

(12) Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, (13) dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, (14) dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. (15) Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (Surah Maryam).

Demikianlah Nabi Zakaria Alaihisallam dan anaknya Nabi Yahya Alaihisallam. lantas, bagaimana dengan kisah Maryam selanjutnya?

Allah Subhanahu Wata'ala mewahyukan kepada Muhammad Salalallahu'alaihi Wasallam untuk disampaikan kepada kaum Ahli Kitab dan kaum musyrikin dan kepada seluruh umat manusia:

Lanjutan Surah Ali Imran:
(42) Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (43) Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`. (44) Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.

Surah Maryam:
(16) Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, (17) maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (18) Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa".(19) Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci".(20) Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" (21) Jibril berkata: "Demikianlah . Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan."

Di sini Allah Subhanahu Wata'ala dalam-Qur an menekankan bahwa kelahiran Isa Alaihisallam, adalah sebagai tanda bagi umat manusia akan kebesaran Allah Subhanahu Wata'ala.

Malaikat Jibril datang sekali lagi kepada Maryam, untuk kembali mengabarkan akan kelahiran seorang anak.

Surah Ali Imran:
(45) (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih `Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (46) dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh."

Mendengar perkataan Malaikat Jibril itu,

(47) Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.

Malaikat Jibril melanjutkan berita mengenai calon anaknya kepada Maryam, wanita suci calon ibu ini,

Surah Ali Imran:
(48) Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (49) Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." (50) Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku. (51) Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus".

Demikianlah Malaikat Jibril menyampaikan kepada Maryam, mengenai anak yang akan dilahirkannnya kelak. Kemudian Maryam mengandung, seperti yang diceritakan selanjutnya:

(22) Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (23) Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". (24) Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. (25) Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (26) Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (27) Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. (28) Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", (29) maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" (30) Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. (31) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; (32) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (33) Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (34) Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (35) Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. (36) Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (Surah Maryam)

Apa yang terjadi kemudian?

(37) Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar. (Surah Maryam)

Seorang anak manusia suci telah dilahirkan dari rahim seorang wanita yang suci.

Dan ketika dia menyampaikan risalahnya, kaum Yahudi berselisih pandang menerima kehadirannya. Tapi, tidak semua orang Yahudi yang menolaknya, ada beberapa orang yang mempercayainya sebagai utusan Allah Subhanahu Wata'ala. Simaklah apa yang diwahyukan kepada Muhammad Salalallahu'alaihi Wasallam mengenai hal ini:

(52) Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (53) Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)." (Surah Ali Imran).

Namun ternyata, sebagian sangat besar dari kaumnya sangat keras menentang Isa Al-Masih. Mereka membuat bermacam tipu daya.

(54) Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Surah Ali Imran).

Akhirnya kaumnya berencana membunuh Isa Alaihisallam. Dan mereka menyangka telah berhasil membunuhnya. Tapi sebenarnya mereka berada dalam keraguan, tentang siapa sebenarnya yang mereka bunuh. Hal ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata'ala melalui wahyu-Nya yg disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Salalallahu'alaihi Wasallam:

Surah An-Nissa:
(156) Dan karena kekafiran mereka (terhadap `Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), (157) dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. (158) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Demikian Allah menyelamatkan utusan-Nya, seperti yang diceritakan melalui Surah Al Mu minin:

(50) Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.

Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang mulai menuhankan Isa Alaihisallam. Allah mengingatkan, bahwa:

(17) Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surah Al-Maidah).

Allah Subhanahu Wata'ala bahkan menegaskan:

(72) Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (73) Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (74) Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (75) Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Surah Al-Maidah).

Dan apa kata Isa Alaihisallam?

(116) Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai `Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" `Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (117) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (118) Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surah Al-Maidah).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya

Demikianlah cerita mengenai Isa Al-Masih putera Maryam.
Saya mohon ampunan Allah Subhanahu Wata'ala sekiranya keliru memahami ayat-ayat wahyu-Nya ini.

Wabillahit taufiq wal hidayah.
Wassalam,
[Emerde].

Tuesday, July 13, 2010

Isa Almasih Dalam Islam Tuesday, July 13, 2010


Isa (bahasa Arab: عيسى, `Īsā, Essa) (sekitar 1 - 32M) adalah nabi penting dalam agama Islam dan merupakan salah satu dari Ulul Azmi. Dalam Al-Qur'an, ia disebut Isa bin Maryam atau Isa al-Masih. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina.

Namanya disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran. Ia mendapat gelar dari Allah dengan sebutan Ruhullah. Cerita tentang Isa kemudian berlanjut dengan pengangkatannya sebagai utusan Allah, penolakan oleh Bani Israil dan berakhir dengan pengangkatan dirinya ke surga.

Etimologi
Kata Isa ini diperkirakan berasal dari bahasa Aram, Eesho atau Eesaa. Yesus Kristus adalah nama yang umum digunakan umat Kristen untuk menyebutnya, sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu' al-Masih (bahasa Arab: يسوع المسيح).


Genealogi
Narasi Qur'an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya. Kemudian Al-Qur'an menceritakan keajaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah.

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (Ali 'Imran: 45)

Wujud
Dalam situs Google Books dikatakan bawa wujud fisik Isa digambarkan oleh Muhammad yaitu, rambutnya terbelah dua, wajahnya tampan, kulitnya putih agak kemerah-merahan. Muhammad bertemu dengan Isa, ketika ia sedang dalam Isra Mi'raj ke Sidrat al-Muntahā, dilangit kedua yang disebut sebagai Al-Maa'uun.[1]


Riwayat Kelahiran
Muslim percaya pada konsep kesucian Maryam, yang telah diceritakan sepanjang dalam beberapa ayat dalam Al Qur'an. Menurut kisah di Al-Qur'an, Maryam selalu beribadah dan telah dikunjungi oleh malaikat Jibril.

Jibril mengatakan kepada Maryam tentang akan diberikan calon anak yang bernama Isa, Maryam sangat terkejut, karena ia telah bersumpah untuk menjaga kesuciannya kepada Allah dan tetap mempertahankan hal itu dan bagaimana pula dia bisa hamil tanpa seorang lelaki, lalu Jibril menenangkan Maryam dan mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang mudah bagi Allah, yang ingin membuat dia sebagai tanda untuk manusia dan rahmat dari-Nya. Seperti halnya dalam konsep penciptaan Adam tanpa ibu dan bapak.

Pembicaraan mereka terekam dalam salah satu surah didalam Al-Qur'an;
ibril berkata; "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan". (surat Maryam: 21)

"...Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia." (Maryam: 35)

Beberapa ayat lain terkait dengan kelahiran Isa antara lain
"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (Ali Imran: 59)

"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam." (Al Anbiyaa': 21)

Setelah Isa berada didalam rahim Maryam, ia lalu mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Disana ia melahirkan dan beristirahat di dekat sebuah batang pohon kurma. Isa kemudian berbicara memerintahkan ibunya dari buaian, untuk mengguncangkan pohon untuk mengambil buah-buah yang berjatuhan, dan juga untuk menghilangkan rasa takut Maryam dari lingkungan sekelilingnya Maryam berzinah, kemudian Maryam menunjuk kepada anaknya yang baru lahir itu, maka Isa pun menjawab

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi; dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.." (Maryam: 30-32)

Referensi dalam hadits lain adalah: "Ketika setiap manusia lahir. Setan menyentuh seorang bayi di kedua sisi tubuh dengan dua jarinya, kecuali Isa a.s., putera Maryam, Setan mencoba menyentuhnya tapi gagal, karena dia hanya menyentuh plasentanya saja."[2]

Menurut al-Tabari, hal ini disebabkan karena doa Maryam: "Aku berlindung kepada-Mu, untuk dia dan keturunannya dari setan yang terkutuk."

Misi Sebagai Nabi
Menurut teks-teks Islam, Isa diutus kepada Bani Israil, untuk mengajarkan tentang ke-esaan Tuhan dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Muslim percaya Isa telah dinubuatkan dalam Taurat, membenarkan ajaran-ajaran nabi sebelumnya.

Isa digambarkan juga dalam ajaran Islam, memiliki mukjizat sebagai bukti kenabiannya, seperti berbicara sewaktu masih bayi dalam peraduan, memberikan nyawa/kehidupan pada burung yang terbuat dari tanah liat, menyembuhkan orang yang terkena lepra, menyembuhkan orang tuna netra, membangkitkan orang mati dan meminta makanan dari surga atas permintaan murid-muridnya.

Beberapa kisah menyebutkan bahwa Yahya bin Zakariyya[3] pernah bertemu dengan Isa di sungai Yordan, sewaktu Yahya pergi ke Palestina. Sungai Yordan tempat dimana Isa bin Maryam pernah bertemu dengan Yahya bin Zakariyya.[4] menurut beberapa kisah.

Beberapa ayat dari Al Qur'an yang menegaskan tentang kenabian Isa antara lain:

Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia." (Maryam: 30-35)

Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku". Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). " (Az Zukhruf: 63-65)

"Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)." (Al Maa'idah: 75)

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (Al Maa'idah: 116-117)

Isa dan Ruhul Qudus
Qur'an juga menceritakan perihal Isa yang diberikan kekuatan dengan ruh kudus oleh Tuhan.

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah: 253)

Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata". (Al Maa'idah: 110)

Isa tidak dibunuh ataupun disalib
Al-Qur'an menerangkan dalam surat An Nisaa':157 bahwa Isa tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah seperti Isa.[5]

Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (An Nisaa': 157)

Isa diangkat ke langit
Muslim menyangkal adanya penyaliban dan kematian atas diri Isa ditangan musuhnya. Al-Qur'an menerangkan Yahudi mencari dan membunuh Isa, tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibkannya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. Al Qur'an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa':158)

Ramalan dan misi Isa di akhir zaman

Turun kembali ke bumi
Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Isa akan di turunkan oleh Allah dari langit ke bumi.[6] Peristiwa itu tergambar dari hadist berikut:

Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Isa akan di turunkan oleh Allah dari langit ke bumi.[6] Peristiwa itu tergambar dari hadist berikut:
  • “Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air waulupun ia tidak basah.”[7]
  • “Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa bin Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al Mahdi): “Kemarilah dan imamilah shalat kami.” Ia menjawab; ”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam).”[8]
  • “Tiba-tiba Isa sudah berada diantara mereka dan dikumandangkanlah shalat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam shalat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab: "Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami shalat kamu”.[9]

Menurut Islam, hal pertama yang dilakukan Isa setelah turun dari langit adalah menuaikan shalat sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist-hadist di atas. Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang di imami oleh Imam Mahdi. Adapun lokasi turunnya Isa dijelaskan oleh Muhammad dalam sebuah hadist berikut:
  • “Isa ibn Maryam akan turun di ‘Menara Putih’ (Al Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik.”[10]

Kedatangan Isa akan didahului oleh kondisi dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan dan peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia, setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Isa akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal.

Membunuh Dajjal
Turunnya Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah.

Dikisahkan setelah Isa selesai menunaikan shalat, ia berkata: "Keluarlah kamu (pasukan kaum muslimin) semua bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal." Lalu mereka pun keluar, kemudian Ia (Isa) dilihat oleh dajjal silaknat yang baru saja mendakwa kepada manusia, bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi.

Begitu Dajjal melihat Isa, maka dajjal pun meleleh seperti garam yang meleleh di dalam air. Kemudian dajjal melarikan diri, akan tetapi ia dihadang oleh Isa di pintu kota Lud di Palestina.

Sekiranya Isa membiarkan saja hal ini maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air, akan tetapi Isa berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan."

Lalu Isa menombak dan membunuhnya, maka Isa memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi, bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal (dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Isa.

Menyelamatkan manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj

Salah satu tugas besar beliau setelah membunuh dajjal adalah menyelamatkan ummat manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj.[11]

Dikisahkan, fitnah dan kejahatan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) sangat besar dan menyeluruh, tiada seorang manusiapun yang dapat mengatasinya, jumlah mereka pun sangat banyak sehingga kaum Muslimin akan menyalakan api selama 7 tahun untuk berlindung dari penyerangan mereka, para pemanah dan perisai mereka.[12]

Maka saat mereka telah keluar (dari dinding tembaga yang mengurung mereka sejak zaman raja Zulkarnain) maka Allah SWT berkata kepada Isa ibn Maryam: ”Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba (Ya’juj dan Ma’juj) yang tidak mampu diperangi oleh siapapun, maka hendaklah kamu mengasingkan hamba-hambaKu ke Thur (Thursina)”

Dan di Thur terkepunglah Nabiallah ‘Isa beserta para sahabatnya, sehingga harga sebuah kepala sapi lebih mahal dari 100 dinar kamu hari ini.Kemudian Nabiyullah ‘Isa dan para sahabatnya, menginginkan itu, maka mereka tidak menemukan sejengkalpun dari tanah di bumi kecuali ia dipenuhi oleh bau anyir dan busuk mereka. Kemudian Isa dan sahabatnya meminta kelapangan kepada Allah SWT maka Allah mengutus seekor burung yang akan membawa mereka kemudian menurunkan mereka sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah menurunkan air hujan yang tidak meninggalkan satu rumahpun di kota atau di kampung, maka Ia membasahi bumi sehingga menjadi seperti sumur yang penuh.”[13]

Dahsyatnya fitnah Ya’juj dan Ma’juj digambarkan dalam sebuah hadist Rasulullah saw. sebagai berikut:
  • "Dinding Ya'juj dan Majjuj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiyaa: 96)

Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslim akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya'juj dan Ma'juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebahagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminum air sungai tersebut sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut, maka mereka berkata: "Dulu di sini pernah ada air". Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang dari mereka: "Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit", kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, dan tombak tersebut kembali dengan berlumur darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah.

Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslim berkata: "Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami berani mati) untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita ini?" maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian dia menemui bahwa mereka semua telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berhimpitan), maka laki-laki tersebut menyeru: "Wahai semua kaum Muslim bergembiralah kamu sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri sudah membinasakan musuhmu", maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang-padang rumput kemudian padang rumput tersebut dipenuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.”[14]

Menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman
Menurut suatu riwayat, Isa setelah turun dari langit akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut:
  • “Demi yang diriku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Ibnu Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya.”[15]

Menunaikan ibadah haji
Diceritakan dalam sebuah hadist bahwa Isa akan melaksanakan haji.
  • ”Demi Dzat yang diriku berada ditanganya, sesungguhnya Ibnu Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak.”[16]

Isa akan wafat
Setelah Isa menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman, Allah akan mewafatkan beliau. Hanya Allah saja yang tahu kapan dan dimana Isa akan diwafatkan. Setelah wafatnya Isa Al-Masih dunia kemudian dunia akan kiamat.

Al-Hawâriyyûn (Pengikut)
Dalam berdakwah, Isa didampingi para pengikutnya yang disebut al-Hawâriyyûn, yang jumlahnya 12 orang, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing hawari ini ditugaskan untuk menyampaikan risalah Injil bagi masing-masing suku Bani Israil. Namun nama-nama hawari tersebut tidaklah disebutkan di dalam Al-Quran. Kisah para sahabat Isa ini terdapat dalam surat Al-Mâ'idah: 111-115 dan surat Ãli-'Imrân: 52. Dalam surat tsb diceritakan bahwa al-Hawâriyyûn meminta Isa untuk menurunkan makanan dari langit. Nama surat Al-Maidah yang berarti makanan diambil karena mengandung kisah ini. Kejadian turunnya makanan dari langit ini makin menambah ketebalan iman para pengikut Isa.
Kepercayaan dasar Islam tentang Isa
Isa disebutkan dengan banyak nama di dalam Al-Quran. Sebutan yang paling umum adalah "Isa bin Maryam" (Isa putra Maryam), kadang-kadang diawali dengan julukan lain. Isa juga diakui sebagai seorang nabi dan utusan (rasul) Allah. Istilah wadjih ("patut dihargai dalam dunia ini dan selanjutnya"), mubārak ("diberkati" atau "sumber manfaat bagi orang lain"), `abd-Allah (hamba Allah) adalah semua yang digunakan dalam Al-Qur'an dalam memberikan nama/julukan kepada Isa.

Nama lain yang sering disebutkan adalah Al-Masih, yang diterjemahkan ke "Mesias". Islam menganggap semua nabi, termasuk Isa, sebagai manusia biasa dan tanpa berbagi dalam Ketuhanan, sehingga tidak sama dengan konsep Kristen tentang Mesias. Muslim menjelaskan penggunaan kata Masih dalam Al Qur'an sebagai merujuk kepada Isa, yaitu status sebagai seorang yang diurapi dan merupakan bentuk pujian, dengan mukjizatnya antara lain ialah dapat menyembuhkan orang sakit dan menyembuhkan mata orang buta.

Ayat Qur'an juga menggunakan istilah kalimatullah (yang berarti "firman Tuhan") sebagai penjelasan tentang Isa, yang mengakui dirinya sebagai utusan Allah, dan berbicara atas nama Allah.

Teologi
Ajaran Islam menganggap Isa hanya sebagai utusan Allah saja. Kepercayaan yang menganggap Isa sebagai Allah atau Anak Allah, menurut Islam adalah perbuatan syirik (mengasosiasikan makhluk sama dengan Allah), dan dengan demikian dianggap sebagai suatu penolakan atas konsep Keesaan Tuhan (tauhid).

Islam melihat Isa sebagai manusia biasa yang mengajarkan bahwa keselamatan datang dengan melalui kepatuhan manusia kepada kehendak Tuhan dan hanya dengan cara menyembah Allah saja. Dengan demikian, Isa dalam ajaran Islam dianggap sebagai seorang muslim, begitu pula dengan semua nabi Islam. Islam dengan demikian menolak konsep trinitas dalam Ketuhanan Kristen, seperti juga konsep tentang Ketuhanan Yesus.

Pendahulu Muhammad
Muslim meyakini bahwa Isa adalah sebagai seorang nabi pendahulu Muhammad, dan menyatakan bahwa setelah ia akan muncul seorang nabi terakhir, sebagai penutup dari para nabi utusan Tuhan. Hal ini berdasarkan dari ayat Al-Qur'an, di mana Isa menyatakan tentang seorang rasul yang akan muncul setelah dia, yang bernama Ahmad. Islam mengasosiasikan Ahmad sebagai Muhammad. Muslim juga berpendapat bahwa bukti Isa telah memberitahukan tentang akan hadirnya seorang nabi terakhir ada di dalam kitabnya.

Suatu argumentasi dari pakar muslim menyatakan bahwa kata bahasa Yunani parakletos, yang berarti "penghibur" yang diramalkan akan datang dalam Injil Yohanes, sesungguhnya adalah kata periklutos, yang berarti "termasyhur, agung, terpuji". Kata terakhir ini dalam bahasa Arab dianggap sebagai Ahmad, atau Muhammad.

Lihat juga

Isa Al-Masih & Yesus Kristus
Wikipedia Berbahasa Indonesia
Pranala luar

Referensi

  1. Tempat-2 Bersejarah dlm Kehidupan Rasulullah By Hanafi Muhalawi halaman 27
  2. Hadits Imam Bukhari 4:54:506.
  3. Dalam agama Kristen lebih dikenal sebagai Yohannes Sang Pembaptis
  4. "Yahya b. Zakariyya", Encyclopedia of Islam.
  5. Sebagian ulama berpendapat orang yang diserupakan adalah muridnya yang berkhianat, yang dalam tradisi Kristen bernama Yudas Iskariot.
  6. Lihat: Kedatangan Kedua dalam versi Kristen.
  7. Hadits riwayat Abu Dawud.
  8. Hadits riwayat Muslim & Ahmad.
  9. Hadits riwayat Muslim & Ahmad.
  10. Hadits riwayat Thabrani dari Aus bin Aus.
  11. Menurut tradisi Kristen terdapat pula cerita yang serupa. Lihat Gog dan Magog
  12. Seperti yang diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Nawwas.
  13. Hadits riwayat Ahmad, Muslim & Tirmidzi dari An Nawwas bin Sam’am.
  14. Hadits riwayat Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hiban dan Hakim dari Abu Sa’id.
  15. Hadits riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah dari Abu Hurairah.
  16. Hadits riwayat Ahmad & Muslim dari Abi Hurairah.

[Sumber: Wikipedia]

Saturday, July 10, 2010

Isa Al-Masih Menurut Al-Quran Dan Hadits Saturday, July 10, 2010


Ini tulisan yang panjang dan karenanya saya menganjurkan pembaca - apa pun keyakinan anda, untuk lebih bersabar dalam menyimaknya dan mudah-mudahan saja dapat pula memahami pandangan Islam tentang issue-issue krusial seputar Isa Alaihissalam - menurut Islam, atau Yesus Kristus - menurut Kristiani, yang seolah tidak ada habisnya diperdebatkan oleh kedua umat ini sejak jaman dahulu hingga hari ini.

Dari begitu banyaknya topik yang selama ini kerap "dipertentangkan" oleh berbagai pihak (maupun kepentingan) melalui polemik terbuka di banyak situs internet - yang ujung-ujungnya sering berubah menjadi ajang saling menghujat - maka dalam tulisan berikut ini saya ingin coba menyoroti, atau lebih tepatnya menelaah kajian terbatas pada hal-hal yang menurut hemat saya sangat prinsip. Untuk itu, demi memelihara adab seperti yang diajarkan Tuhan melalui Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW khususnya kepada umat muslim, maka dengan lebih dulu mengucap Basmalah, mari kita mulai dengan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (QS. Al-Ankabut[29]:46)

Dalam pengertian yang sangat sederhana, ayat di atas menyiratkan 3 pesan kepada Rasulullah SAW dan tentu saja, kepada seluruh pengikut beliau untuk:

Pertama: Senantiasa menahan diri dari perdebatan (tentang agama) dengan ahli kitab (pengikut ajaran kitabullah - atau kitab-kitab Allah) yang juga diimani umat Islam seperti Zabur (Mazmur), Taurat (Torah) dan Injil sebagai kitab-kitab pendahulu dari Al-Qur'an.

Kedua: Dalam hal terpaksa berdebat, maka tidak ada cara lain yang dibenarkan oleh Allah SWT untuk dilakukan kecuali cara-cara yang paling baik. Dengan demikian, menghujat agama manapun, terutama agama samawi (yang datang dari Allah melalui para nabi dan rasul), di dalam ajaran Islam adalah perbuatan yang jelas-jelas DILARANG!

Ketiga: Kendati ada "pengecualian" tentang larangan berdebat ini, namun sangat penting untuk difahami bahwa itu hanya berlaku kepada orang-orang zalim (atau yang menzalimi agama Allah SWT) dengan tujuan untuk menyampaikan 2 pesan penting, yakni bahwa umat Islam mengimani semua kitabullah, dan bahwa sesungguhnya Tuhan dari semua ahli kitab adalah satu, yakni Allah SWT, satu-satunya llahi kepada siapa kita semua diperintahkan untuk tunduk, patuh, dan berserah diri. [1]

Berangkat dari pemahaman sederhana ini, maka marilah selanjutnya sama-sama kita simak penjelasan serba ringkas menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

I. Kenapa Nabi Isa Di Juluki Al Masih?

Jawab:
Tidak diragukan lagi, bahwa nama aslinya adalah Isa. Nama itulah yang disebutkan dalam al-Quran seperti dalam ayat berikut:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu ..." (QS Ash-Shaff [61]:09)

Dan ayat berikut:

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ"
"Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya." (QS Maryam [19]:34)

Dan ayat berikut:

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ
"... dan Zakariya, Yahaya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh." (QS Al-An'am [6]:85)

Dan ayat berikut:

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْراً بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ
"(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai 'Isa putra Maryam, ingatlah ni'mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata."(QS al-Maidah [5]:110)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya, seperti di antaranya:

ذْ قَالَتِ الْمَلآئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ
الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهاً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
(Ingat!ah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih `Isa putera Maryam." ( QS. Ali Imran [3]: 45)

Perhatikan juga firman Allah ini: "Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah." (QS.An-Nisa' [4]:172) dan "Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam." (QS. An-Nisaa [4]:171)

Sebagian ulama Salaf berpendapat, nabi Isa dijuluki al-Masih dari kata saaha, yaitu karena beliau sering berpindah tempat, atau banyak berjalan kaki. Pendapat lain mengatakan karena telapak kakinya datar. Dan ada juga yang memberi alasan kata al-Masih dari akar kata ma-sa-ha, karena dengan izin Allah, setiap kali ia mengusap orang yang sakit, maka si sakit segera sembuh.

Laits dan Abu `Ubaid berkata; "Kata al-Masih berasal dari bahasa Ibrani, Machih. Kemudian diserap ke dalam bahasa Arab, dan lafadznya ikut berubah dari huruf Syin Masyih menjadi huruf Sin Masih. Oleh sebab itu, dalam bahasa Arab kata al-Masih tidak ditemui akar katanya." Namun mayoritas ulama (jumhur) berpendapat, bahwa kata al-Masih itu adalah musytaq (memiliki akar kata). Menurut ahli bahasa yang lain, kata al-Masih berarti As Siddiq (yang membenarkan).

Pendapat lain mengatakan, karena sentuhan (masaha) nabi Zakariya kepada Isa. Dan ada juga yang memberi alasan karena nabi Isa berkelana di bumi (dari kata masaha yang artinya qatha'a atau menempuh jarak). Berikutnya ada ahli bahasa yang memberi alasan karena saat terlahir ke bumi, tubuh nabi Isa AS sudah terolesi minyak (dari kata masaha). Pendapat lain, karena nabi Isa AS ketika lahir disentuh oleh keberkahan. Pendapat berikutnya, masih dari kata masaha yang artinya khalaqa; nabi Isa AS diciptakan Allah dengan fisik yang sempurna dan bagus. Dan masih banyak lagi pendapat lain, sebagaimana diterangkan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim [Lihat Syarh Kitab al-Imam Muslim li an-Nawawi (Bab tentang al-Masih bin Maryam dan Masih Dajjal), (1/510). Dan lihat juga Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar AI 'Asqalani, Kitab Hadits-hadits kisah para nabi. (6/544)].
Wallahu'alam.

II. Bagaimana dengan QS. 66:12; Isa adalah sebagian dari Ruh Allah? 
 
Ayat ini menyebutkan bahwa: "Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami ...."  yang kemudian diyakini oleh umat Kristen  sebagai salahsatu bukti bahwa nabi Isa adalah anak Tuhan?

Jawab: Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari anggapan yang merendahkan dzat Allah SWT seperti itu. Ayat tersebut selengkapnya terdapat dalam (QS At-Tahrim [66]: 12) seperti firman Allah SWT:

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
"Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta'at."

Selain itu disebut juga dalam (QS. Al-Anbiya' [21]: 91)

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami."

Ayat-ayat ini menyatakan adanya tiupan ruh kepada Maryam dan ruh itu masuk ke dalam rahimnya sehingga ia mengandung nabi Isa. Allah berfirman:

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً
"Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (QS. Maryam [19]: 17).

Ruh yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat yang kemudian berbicara kepada Maryam; "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:19)

Dalam tafsir disebutkan bahwa malaikat meniupkan ruh ke kantung baju Maryam, lalu ruh itu masuk ke dalam rahim, maka jadilah nabi Isa.

Yang dimaksud dengan Ruh adalah sesuatu - atau makhluk - yang diciptakan Allah dari ruh, yang dengan adanya ruh itu maka sang makhluk menjadi hidup. Sama seperti yang terjadi pada penciptaan nabi Adam sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ
"Maka apabila Aku telah menyempumakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk karnu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijir [15]:29)

Allah telah meniupkan ruh kepada Nabi Adam AS, sama halnya dengan ditiupnya ruh kepada nabi Isa AS. Ini jelas menunjukkan bahwa baik Nabi Adam AS maupun Nabi Isa AS adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah. Lebih jelas perhatikan ayat-ayat berikut:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin TuhanNya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr [97] : 4)

Dan Allah juga berfirman:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفّاً لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرحْمَنُ وَقَالَ صَوَاباً
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf." (QS. an-Naba'[ 78] : 38).

Kesimpulannya, nabi Isa AS tercipta dari ruh yang berasal dari Allah, yakni ruh ciptaan Allah, sama kejadiannya bahwa dengan ruh itu pula Allah menciptakan sekalian manusia. Adapun seperti kita ketahui, manusia yang pertama kali "dihidupkan" dengan ditiupkannya ruh ke dalam jasadnya adalah Nabi Adam AS.

Allah berfirman: "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajadah [32]: 9)

Dengan demikian, tentunya dapat difahami bahwa bukan ruh itu, sekali lagi; BUKAN RUH ITU yang menjadikan Nabi Isa AS istimewa. Sebab Ruh yang ditiupkan kepadanya sama dengan ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT kepada seluruh makhluk bernyawa ciptaan-Nya, yakni makhluk yang bergerak dan bertebaran di alam semesta ini sampai tiba saatnya ruh-ruh itu satu persatu dicabut kembali oleh Allah SWT melalui tangan-tangan malaikat pencabut nyawa Izrail AS. Lalu, apa yang menjadikan Nabi Isa AS istimewa? Jawabnya, tentu saja, kenabian beliau! [2] -- Wallahu'alam.

III. Jika demikian, siapakah sebenarnya Roh Kudus atau Ruhullah itu?

Jawab: Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. An-Nahl[16]:162)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam bukunya al-Jawab Ash-Shahih li man Baddala bi Din al-Masih - ditahqiq dan dikomentari oleh Dr. Ali bin Hasan, Dr. Abdul Aziz Askar dan Dr. Hamdan al-Hamdani (3/248) - tentang penjelasan makna yang tepat terhadap kata ruhullah - Ruh Allah, adalah malaikat yang merupakan ruh pilihan Allah, dan Allah mencintainya seperti tersebut dalam al-Quran: "Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa." la (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:17-19).

Allah memberitakan bahwa Dialah yang mengirim ruh-Nya (melalui ruhullah - Jibril AS) kepada nabi Isa, lalu nabi Isa menjadi manusia yang sempurna. Kita semua mengetahui bahwa nabi Isa adalah rasul utusan Allah. Maka dapat mengerti bahwa ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat, yaitu ruh pilihan Allah. Allah menyandingkan kata ruh itu kepada Dzat-Nya, sama halnya dengan penyandingan kata benda yang lain dengan lafzul jalalah, seperti dalam ayat: "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." (QS. asy-Syams [91]:13) dan ayat: "Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud" (QS. AI-Hajj[22]:26) dan firman Allah: "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum." (QS. Al-Insan [76]: 6)

Kata yang disandingkan kepada Allah, jika itu adalah kata keterangan (sifat), tidak bermakna makhluk, seperti kata `llm, Qudrah, Kalam, dan Hayat (hidup), menjadi sifat kesucian Allah. Dan jika kata itu adalah kata benda, ia berdiri sendiri atau menjadi kata keterangan dari yang lain, contohnya: kata bait (rumah), naqah (unta), 'abd (hamba) dan ruh (nyawa) menjadi milik, ciptaan yang disandarkan kepada pencipta dan pemiliknya.

Hanya saja, dalam kaidah idhafat, mudhaf ilaih tidak terlepas dari pengkhususan kata mudhaf dengan sifat yang membuat mudhaf ilaih berbeda dari yang lain sebagai syarat sahnya idhafat. Misalnya dalam hal ini khusus Ka'bah, Naqah (unta tertentu) dan Ibadussholihin (hamba-hamba shalih)-lah yang sesungguhnya dimaksudkan dalam idhafat baitullah, naqatullah dan ibadullah.

Demikianlah ruh khusus pilihan Allah yang disebut dalam idhafat ruhullah tadi tidak boleh dijeneralisir sehingga termasuk ruh-ruh yang buruk, seperti syaitan, Iblis, orang kafir, dlsb.

Ruh syaitan dan orang-orang kafir itu memang makhluk ciptaan Allah, namun tidak sah diidhafatkan kepada Allah seperti mengidhafatkan ruh-ruh yang suci dan bersih. Begitu juga tidak sah mengidhafatkan segala benda mati kepada Allah kecuali Ka'bah, dan tidak sah mengidhafatkan unta-unta lain kecuali naqatullah (unta Allah) sebagaimana diterangkan dalam surat asy-Syams di atas, yaitu unta nabi yang Shalih.

Menurut Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, makna yang benar dari idhafat ruhullah itu adalah 'malaikat utusan dari sisi Allah' seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an: "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam[19]:19). Bukan seperti yang selama ini diimani oleh umat Kristen sebagai: `Ruh Allah menyatu dengan jasad Isa' atau`Ruh Allah berpindah ke jasad Isa'. Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari prasangka seperti itu.

Seandainya keyakinan umat Kristen di atas benar, pasti Allah juga akan mewajibkan mereka untuk menyembah Nabi Adam AS. Sebab ayah dari seluruh umat manusia ini bahkan diciptakan tanpa ayah dan ibu, dan lebih jauh lagi, ruh Nabi Adam AS ditiupkan oleh Allah SWT tanpa melalui perantara malaikat Jibril (ruhullah) yang dalam penciptaan Nabi Isa AS, harus turun dulu ke bumi untuk menemui Maryam.

Difirmankan oleh Allah SWT, sebagaimana tersirat dalam Al-Quran "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr[15]:29). Di sana terlihat bahwa sesungguhnya tiada perbedaan antara peciptaan Nabi Adam AS dan Nabi Isa AS, begitu juga dengan seluruh umat manusia ciptaan Allah SWT.

Al-Quran menegaskan hal itu dalam ayat: "Sesungguhnya penciptaan 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (QS. Ali `Imran 3:59). Kesimpulannya, sudah seharusnya mereka yang berkeyakinan di luar batasan ini untuk kembali ke ajaran yang benar. Berpaling dari kekeliruan selama ini untuk selanjutnya menyembah Allah yang Esa, yang tiada satu dzat pun pantas menjadi sekutu-Nya.

IV. Ayat: "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada Ku" (QS Ali 'Imran [3]:55). Apakah pengertian yang menyebutkan Isa 'wafat' dalam surah ali Imran ini mengandung makna yang sesungguhnya atau bukan?

Jawab:
Makna 'wafat' yang tepat di sini adalah 'tidur'. Yaitu, Allah mengangkat nabi Isa ke sisi-Nya dalam keadaan tidur. Dalam bahasa Arab, kata 'tidur' sah dipakaikan dalam makna wafat, setidaknya hampir serupa dengan wafat (mati), sebagaimana firman Allah:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي
قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." (QS az-Zumar [39]:42)

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia (hidup) sesungguhnya wafat di dalam tidur. Saat tertidur - dan ruh terpisah dari jasad - manusia praktis kehilangan kepekaannya sebagai makhluk hidup. Otak meraka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan gerak atau aktifitas bagian mana pun dari seluruh organ tubuhnya (kecuali hal-hal yang terjadi di alam bawah sadar seperti mengigau, tidur berjalan dan hal-hal sejenis itu).

Saat terbangun dari tidur, atau tepatnya saat ruhnya dikembalikan oleh Allah SWT ke jasad masing-masing, maka kecuali Allah SWT menghendaki lain, segala kemampuan normalnya sebagai manusia akan kembali berfungsi sebagaimana lazimnya.

Dalam hadits disebutkan bahwa sebelum beranjak tidur Rasululah SAW selalu berdoa: "Dengan Nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan badanku, dan dengan Nama-Mu juga aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, sayangilah ia, dan jika Engkau belum mencabutnya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga nyawa hamba-hamba-Mu yang shalih". [3] Ketika Rasulullah SAW terbangun, ia membaca doa: "Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali." [4] serta membaca: "Segala puji bagi Allah Yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan Yang telah menyehatkan jasadku." [5]

Dengan adanya hadits-hadits ini jelaslah bahwa makna ayat tersebut adalah: "Sesungguhnya Aku mematikanmu (seperti rupa yang mati waktu tidur), ketika itu engkau tidak merasakan diangkat ke langit."

Artinya nabi Isa tertidur pulas, dan dalam keadaan tidur pulas itulah Allah mengangkatnya ke langit sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Nabi Isa tidak terbangun kecuali setelah sampai di langit. Ulama lain berpendapat, nabi Isa diwafatkan, dengan pengertian mati yang sesungguhnya, namun hanya sebentar. Ketika dalam kondisi tidak bernyawa, ia diangkat ke langit, kemudian ia dibangkitkan, dan kembali hidup.

Lebih jauh tentang hal ini, mari sama-sama kita simak penjelasan berikut:

Mathar al-Warraq menafsirkan ayat "Sesungguhnya Aku mewafatkanmu ..." bermakna mewafatkanmu dari dunia, tapi bukan berarti mati. Penafsiran yang sama juga ditarik oleh Ibnu Jarir: Sesungguhnya wafatnya Isa AS adalah diangkatnya ia dari dunia karena telah ditetapkan bukan sebagai ahli (penghuni) dunia lagi. Dan atas kuasa Allah SWT setelah itu ia tidak lagi memerlukan segala kebutuhan ahli dunia seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain hal yang bersifat manusiawi. Cukup banyak hadits yang mengkabarkan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman nanti, dan ia akan menjalankan hukum Islam. Ia akan mematahkan palang-palang salib, memusnahkan babi, meniadakan upeti (pajak), dan yang ia terima hanyalah agama Islam. Hal ini diperkuat oleh firman Allah SWT:

"Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian Isa). Dan di hari akhir nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka" (QS. an-Nisa'[4]: 159).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi Arabia, rahimahullah menulis dalam bukunya Majmu' Al Fatawa, Bab: Tauhid dan hal-hal yang berkenaan dengannya (1/433) sebagai berikut:

Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata almutawaffa (dimatikan/diwafatkan) yang ada dalam ayat "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengongkat kamu kepada-Ku."

Pendapat-pendapat tersebut di antaranya:

Pertama: Yang dimaksud dengan wafat di sini adalah wafat dalam artian mati, sebab itulah pengertian yang zahir (tekstual) dari ayat tersebut jika tidak disandingkan dengan bukti-bukti terkait lainnya. Dan dikarenakan kata mutawaffa terdapat dalam al-Quran lebih dari sekali, seperti dalam ayat: "Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..." (QS. As-Sajadah[32]:11), dan dalam ayat: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar" (QS. Al-Anfal[8]:50). Demikian pula di ayat lain, kata waffa juga memiliki pengertian 'mati'. Atas dasar makna inilah penafsiran ayat tersebut memakai uslub (gaya) taqdim dan ta'khir.

Kedua: Dengan makna qabd (berada dalam genggaman). Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari sekelompok ulama salaf, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini sekaligus mendudukkannya di tingkat pertama dibanding dengan pendapat-pendapat lain. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi ke alam langit, engkau dalam keadaan hidup kemudian aku mengangkatmu ke sisi-Ku."

Dalam ucapan orang-orang Arab juga terdapat makna yang persis dengan makna waffa dalam ayat tersebut, yaitu: "tawaffaitu maali min fulan," maksudnya, aku menggenggam (menguasai) seluruh harta kekayaanku dari si Fulan. Atau dengan kata lain, aku berkuasa sepenuhnya atas kekayaanku dari gangguan si fulan.

Ketiga: Maksud wafat pada ayat tersebut adalah wafat yang berarti 'tidur'. Sebab kata naum (tidur) dalam bahasa Arab dapat diartikan juga sebagai wafat (mati). Maka pemaknaan ayat tersebut adalah tidur dengan merujuk kepada dalil dari ayat-ayat al-Qur'an seperti firman Allah SWT yang artinya: "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari", dan ayat: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka la tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan."

Pendapat yang kedua dan ketiga lebih kuat dari pendapat yang pertama. Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah yang didukung oleh dalil-dalil yang jelas, dan dikuatkan dengan fakta, bahwa ia diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Dengan kata lain Nabi Isa AS belum pernah mati, dan senantiasa dalam keadaan hidup di langit sampai pada suatu saat nanti akan turun ke bumi untuk melaksanakan tugas yang diembannya sesuai dengan pemberitaan lewat hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW. Setelah menyelesaikan tugas-tugas itu, barulah beliau wafat - sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan Allah.

Dari keterangan ini dapat dimengerti bahwa penafsiran kata yatawaffa dengan makna maut (mati dengan dicabut nyawa) adalah pendapat yang lemah, tidak akurat. Sekiranya pun pendapat itu benar, maka sudah barang tentu yang dimaksud adalah wafatnya Isa di akhir zaman nanti. Artinya, penyebutan kata itu sebelum kejadian "pengangkatan" termasuk gaya bahasa taqdim (mendahulukan sesuatu) dengan makna ta'khir (diakhirkan). Sebab sebagaimana diingatkan oleh ulama dan ahli bahasa Arab, huruf "waw" (kata sambung) tidak selamanya mengandung pengertian tartib (urutan).

Sedangkan anggapan bahwa nabi Isa AS tewas dibunuh, atau tewas disalib, ayat-ayat di dalam Al-Quran secara terang dan tegas membatalkan dan menolaknya. Al-Qur'an juga dengan sendirinya menolak pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa AS tidak diangkat ke langit tapi hijrah ke Kashmir (India) dan lama hidup di sana (sampai wafat secara normal) dan tidak akan turun sebelum hari Kiamat. Dan jika pun ada, maka yang akan datang itu adalah "duplikat" nabi Isa.

Pendapat ini benar-benar pendapat batil, menentang ketetapan Allah SWT dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT serta hadits Rasulullah SAW yang jelas menyiratkan bahwa Nabi Isa AS senantiasa hidup sampai sekarang dan akan turun di kemudian hari sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW.

Berpegang pada keterangan di atas tentunya kita menjadi lebih faham bahwasanya siapa pun yang "mengklaim" nabi Isa AS tewas terbunuh di tiang salib, atau yang mengatakan bahwa nabi Isa AS berhijrah ke negeri Kashmir dan hidup di sana cukup lama sebelum mati dengan cara yang normal - dan setelah mati tidak pula diangkat ke langit - adalah pendapat yang menentang Allah SWT , mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta menafikan hadits Rasulullah SAW.

Kita semua tahu bahwa barangsiapa mendustakan Allah dan Rasul-Nya hukumnya adalah kafir. Oleh karenanya, siapa pun yang (masih) mempercayai pendapat keliru ini hendaknya bersegera ightifar, bertaubat, dan kembali ke jalan yang benar. Kitab Suci al-Quran dan hadits dengan jelas memberitakan bahwa jika seseorang bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, niscaya ia selamat. Namun jika tidak, maka ia akan mati dalam kekufuran.

Dalil-dalil yang menyatakan bahwa "kematian" Nabi Isa AS tidak seperti yang disangkakan sebagian besar umat Kristen cukup banyak, bahkan sangat jelas diterangkan oleh Allah SWT sendiri melalui firman-Nya:

"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa'[4]:157-158)

Dan ini masih dikuatkan oleh hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang memberitakan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman sebagai hakim yang adil, yang akan membunuh Dajjal Sang Sesat, mematahkan palang salib, membunuh babi, meniadakan upeti (pajak), dan tiada satu agama pun yang ia terima kecuali agama Islam.

Hadits-hadits tersebut adalah hadits mutawatir dan status shahihnya akurat, sebab berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama sependapat menerima berita itu untuk diimani karena ada dalil dan mereka sebutkan sendiri di dalam buku-buku aqidahnya.

Adapun yang menolaknya dengan alasan karena haditsnya hadits ahad, juga tidak dapat menolaknya secara penuh, atau mentakwilkan hadits tersebut dengan pengertian bahwa manusia di akhir zaman nanti berpegang kepada akhlak Al-Masih AS, bersikap lembut, penyayang, merangkul orang-orang dengan semangat, tujuan, dan subtansi hukum - bukan dengan teks atau redaksi hukum - jelas merupakan pendapat yang keliru, batil, dan menyalahi pendapat mayoritas ulama Islam. Pendapat ini bahkan terang-terangan menolak nash yang tsabit (fakta) dan mutawatir sehingga dapat dianggap sebagai tindakan kriminal terhadap syariah, menentang ajaran Islam dan nabi yang ma'shum Muhammd SAW. Sebuah bentuk kebodohan jahiliyah yang menilai sesuatu dengan hukum prasangka dan hawa nafsu, atau keluar dari kebenaran serta petunjuk dari Allah SWT.

Orang yang berpegang teguh pada syariat, yang percaya sepenuhnya kepada para nabi dan rasul pembawa syariat, yang menjunjung tinggi hukum serta segala nash ajarannya, tentu tidak mungkin gegabah dan berani membuat pernyataan seperti itu.

Demikian pula dengan pendapat yang menyatakan bahwa hadits pembawa berita tentang turunnya Nabi Isa AS adalah hadits ahaddan tidak dapat dijadikan landasan hukum, adalah pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, hadits-hadits yang memberitakan hal itu cukup banyak, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits shahih, kitab sunan dan kitab musnad para ulama hadits dengan thariqul hadits serta sanad yang bervariasi, telah mencukupi kriteria mutawatir.

Lalu, bagaimana mungkin orang-orang yang pengetahuannya tidak cukup tentang syariah mengatakan tidak menerima dan menolak untuk berpegang pada hadits-hadits ini?

Sekiranya pun hadits-hadits ini dianggap sebagai hadits ahad, perlu difahami bahwa tidak semua hadits ahad tidak layak dijadikan landasan hukum. Sebab sesuai dengan metode ulama hadits dan ahli hahqiq hadits; maka hadits ahad, jika thariq haditsnya banyak, sanadnya lurus dan tidak cacat, ia sah dijadikan sebagai landasan hukun. Dengan metode ini, hadits-hadits tentang berita turunnya nabi Isa adalah hadits yang status keshahihannya sudah lulus kriteria, sanad dan riwayatnya juga bervariasi. Sehingga tidak ada alasan yang tepat untuk menolak hadits-hadits tersebut. Ia sah dijadikan dalil, baik itu disebut sebagai hadits ahad atau hadits mutawatir.

Dengan demikian, semoga kita menjadi lebih mengerti akan kekeliruan syubhat tentang memaknai "kematian" Nabi Isa AS yang telah diselewengkan dari kebenarannya menurut Islam. Tindakan yang paling parah dan penentangan paling dahsyat terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah pendapat yang mentakwilkan hadits-hadits tersebut kepada pengertian yang tiada sangkut-pautnya dengan dalil-dalil hadits.

Pelaku ini telah menggabungkan dua kesalahan sekaligus, yaitu pendustaan atas nash dan ketidakpercayaannya akan berita yang disampaikan melalui hadits Rasulullah SAW tentang turunnya Nabi Isa AS. Ia tidak menerima bahwa Nabi Isa AS akan menjadi hakim adil untuk sekalian umat manusia, membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung ia telah mengidentikkan Rasulullah SAW - salahsatu manusia terpilih yang paling mengetahui perkara-perkara syariat Allah di antara umat manusia - sebagai orang yang telah mencampuradukkan hukum, tidak sesuai antara ucapan dan maksud (atau tujuan) ucapannya - padahal redaksi ucapan beliau dalam hadits cukup jelas - lalu perkara ini diartikan sebagai puncak pendustaan, pengelabuan serta penggelapan terhadap umat sehingga tidak selayaknya Nabi Muhammad SAW masuk dalam kriteria seorang rasul Tuhan.

Orang yang mentakwilkan ini persis seperti penganut paham atheis yang menisbahkan para nabi dan rasul sebagai fantasi demi kepentingan mayoritas umat manusia, dan menurut mereka apa yang dipetik dari ucapan para nabi bukanlah redaksi yang sesungguhnya. Paham ini telah ditangkis oleh ahlul ilmi wal iman, mereka telah mencoret paham tersebut dengan pena fakta dan bukti-bukti akurat.

Semoga kita terlindungi dari penyakit hati, terhindar dari kerancuan, dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan dari godaan syaitan. Marilah kita memohon kepada Allah semoga kita terbebas dari ketundukan terhadap hawa nafsu dan syaitan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada kekuatan yang dapat menyelamatkan kita kecuali kekuasaan Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Semoga keterangan di atas dapat menjadi rujukan menuju kebenaran dan kejelasan aqidah yang diridhai oleh Allah SWT.

Amin Ya, Rabbal Alamin.


CATATAN KAKI:
[1] Lihat penjelasan dalam wikipedia tentang "berserah diri"
[2] Lihat Tarikh - Sejarah Para Rasul: Nabi Isa Alaihissalam 
[3] Hadits HR. Bukhari nomor: 7393 Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Muslim dengan nomor hadits: 714. Kitab: Zikir, Doa, Toubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur don ketika berboring'. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Abu Daud dengan nomor hadits: 5050. Kitab: Adab. Bab: Doa sebelum tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ibnu Majah dengan nomor hadits: 3874. Kitab: Doa, Bab: Doa menjelang tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ahmad di kitab hadits Musnad (2/246, 422,432), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.
[4] HR. Bukhari (nomor hadits: 7394) Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna.' Diriwayatkan dari Huzaifah ra. Muslim dengan nomor hadits: 2811. Kitab: Zikir, Doa, Taubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur dan ketika berboring, diriwayatkan dari al­Barra' ra. Abu Daud, dengan nomor hadits: 5049 Kitab Adab, Bab: Doa sebelum tidur, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ibnu Majah, dengan nomor hadits: 3880, Kitab: Doa, Bab: Doa ketika terjaga di tengah malam, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ahmad, dalam kitab hadits Musnad (5/385, 387), diriwayatkan dari Huzaifah ra.30. HR. Turmudzi, dengan nomor hadits: 3398, Kitab: Doa-doa. Nasai, dengan nomor hadits: 866, Bab: Amalan siang dan malam. Ibnu Sinni, dengan nomor hadits: 9. Hadits ini shahih menurut Imam Nawani dalam bukunya Af-Adzkar, nomor: 28. Dan oleh al-Bani, hadits ini statusnya hasan, dalam buku Shahih al-Kalim at Thayyib, nomor: 37.
[5] Pendapat yang tepat yang dipilih Ibnu Jarir-rahimahullah dalam tafsir Jami' al-Bayan (3/256), adalah pendapat yang menafsirkan dengan: "Sesungguhnya aku menarikmu dari bumi dan mengangkatmu ke langit." Alasannya, karena hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah SAW di antaranya hadits yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS akan turun, dan ia akan membunuh Dajjal, kemudian bertahan di muka bumi dalam jangka waktu tertentu. Sementara menurut Asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsir Fathul Qadir (1/344), yang tepat adalah bahwa Allah mengangkat nabi Isa AS ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu. Pendapat ini didukung oleh mufassir-mufassir dan dipilih oleh Ibnu Jarir at Thabari. Alasannya ialah bahwa hadits shahih dari Rasulullah SAW yang mengabarkan turunnya nabi Isa AS dan akan membunuh Dajjal.
Sebenarnya masih ada lagi pendapat selain ini yang menafsirkan bahwa Allah SWT mewafatkan Nabi Isa AS selama tiga jam di siang hari, kemudian mengangkatnya ke langit. Namun pendapat ini lemah karena tidak memiliki bukti yang akurat.

[Dipetik dari berbagai sumber dengan rujukan utama penjelasan dari Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ibrahim bin Fahd bin Hamd bin Jibrin]

Sekedar tambahan, simak juga video tentang Isa Ibn Maryam berikut ini.

Contact Form

Name

Email *

Message *