Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Alkitab (Masalah). Show all posts
Showing posts with label Alkitab (Masalah). Show all posts

Sunday, January 3, 2021

Banjir Nuh versi Alkitab vs versi Al-Quran Sunday, January 3, 2021


Catatan menarik dari potongan riwayat banjir Nuh versi Al-Quran dan versi Bibel
 
PERTAMA, Al-Quran mengatakan banjir Nuh menenggelamkan umat beliau yang kafir dan yang beriman di selamatkan. Sedangkan banjir yang sama dalam Bibel menenggelamkan bumi dan membunuh seluruh mahluk hidup, kecuali yang berada dalam bahtera nabi nuh.

Fakta dari sains modern menunjukkan tidak ada bukti secuilpun bahwa seluruh bumi pernah di genangi air, dan logikanya,.jika bumi dipenuhi oleh air mka pertanyaanya; darimana datangnya air tsb dan ke mana pula hilangnya?

KEDUA, Riwayat banjir Nuh dalam Al-Quran tidak kontradiktif dengan ayat-ayat lainnya sedangkan dalam Bibel banyak ditemui kintradiksi.

KETIGA, Dalam Al-Quran banjir Nuh tidak menyisakan kritik apapun sebab memang tidak bertentangan dengan fakta. Sedangkan dalam Bibel banjir Nuh yang konon katanya melenyapkan seluruh kehidupan, tapi faktanya peristiwa itu terjadi bersamaan dengan masa tumbuhnya kerajaan Mesir dan Babylonia, dan di berbagai tempat ditemui catatan sejarah dan peninggalanya yang membuktikan tidak pernah terjadi banjir sedahsyat banjir Nuh.

KEEMPAT, Tidak ada kejanggalan dalam Al-Quran tentang cerita ini, tapi dalam Bibel meninggalkan banyak kejanggalan, antara lain, Abraham lahir 292 tahun sesudah banjir Nuh tapi pada jaman Abraham kehidupan manusia sudah pulih kembali dan sudah banyak kerajaan disana sini. Mungkinkah rentang waktu hanya 292 tahun memulihkan jumlah ras manusia yang konon katanya hanya tersisa seberapa pasang saja menjadi jutaan manusia dan dengan gemilang membangun puluhan kerajaan?

A. Kejanggalan Periwayatan Menurut Bibel

  • Mengapa cerita ini sampai dua kali menyatakan bahwa manusia telah menjadi jahat tetapi bahwa Nuh akan diselamatkan (Kejadian 6:5–8; 6:11–13)?
  • Apakah Nuh diperintahkan untuk memasukkan sepasang dari masing-masing binatang yang tidak haram ke dalam Bahtera (Kej. 6:19–20) ataukah tujuh pasang (Kejadian 7:2–3)?
  • Apakah banjir itu berlangsung empat puluh hari (Kejadian 7:17) atau 150 hari (Kejadian 7:24)?
  • Apa yang terjadi dengan burung gagak yang dikeluarkan dari Bahtera pada saat yang bersamaan dengan burung merpati itu dan "terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi" sekitar dua atau tiga minggu berikutnya (Kejadian 8:7)?
  • Mengapa naratif ini tampaknya mempunyai dua titik akhir yang logis (Kejadian 8:20–22 dan 9:1–17)?

B. Lama Dan Waktu Terjadinya banjir 

Di sini kita harus menambahkan bahwa lamanya banjir itu berbeda menurut sumbernya. Sumber Yahwist mengatakan 40 hari, sedangkan sumber Sakerdotal mengatakan 50 hari. Sumber Yahwist tidak memastikan pada umur berapa banjir itu dialami oleh Nuh, tetapi sumber Sakerdotal mengatakan bahwa banjir itu terjadi ketika Nuh berumur 600 tahun. 

Sumber Sakerdotal juga memberi penjelasan tentang tahun terjadinya banjir yaitu dengan tabel silsilahnya, baik dari sisi Adam maupun dari sisi Abraham. 

Oleh karena menurut perhitungan yang dilakukan atas dasar Kitab Kejadian, Nuh dilahirkan 1.056 tahun sesudah Adam (silahkan lihat tabel silsilah Abraham) maka banjir terjadi 1.656 tahun sesudah penciptaan Adam. Akan tetapi dilihat dari sisi Abraham, Kitab Kejadian mengisahkan terjadinya banjir pada 292 tahun sebelum lahirnya Abraham. 

Menurut Kitab Kejadian, banjir telah menenggelamkan seluruh umat manusia berikut seluruh makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan sehingga kemudian semuanya mati di atas bumi. Setelahnya, kemanusiaan kemudian dibangun kembali, dimulai dari tiga orang putra Nuh dan isteri-isteri mereka sedemikian rupa, sampai tiga abad kemudian lahirlah Abraham. Adapun Abraham mendapati umat manusia pada masa itu sudah pulih kembali dalam kelompok bangsa-bangsa. Bagaimana mungkin dalam waktu yang relatif singkat, umat manusia yang nyaris punah dapat pulih kembali?

Fakta-fakta di atas ini praktis menghilangkan kepercayaan kita kepada Bibel yang nampaknya meriwayatkan peristiwa banjir tersebut secara sangat sembrono. Di samping itu, bukti-bukti sejarah menunjukkan pula ketidakserasian periwayatan Bibel tersebut dengan ilmu pengetahuan modern. Para ahli sejarah memperkirakan Abraham hidup  pada kisaran tahun 1.800 s.d 1.850 SM. Jika banjir terjadi 3 abad sebelum kelahiran Abraham seperti yang diterangkan oleh Kitab Kejadian dalam silsilah keturunan para Nabi, ini berarti bahwa banjir terjadi pada abad ke-21 atau ke-22 SM. sedangkan pada waktu itu, menurut catatan sejarah modern, di beberapa tempat di dunia ini tengah bermunculan berbagai peradaban manusia yang bekas-bekasnya masih dapat kita telusutri. 

Masa itu,  bagi Mesir merupakan periode sebelum Kerajaan Pertengahan (tahun 2.100 SM), kira-kira zaman peralihan pertama sebelum dinasti kesebelas, juga merupakan periode dinasti ketiga yang berkuasa di kota Ur atau Babylon.

Kita tahu dengan pasti bahwa tidak ada keterputusan dalam perkembangan kebudayaan umat manusia, jadi tidak ada pemusnahan ras manusia seperti yang dihayalkan oleh para pengarang dan editor Bibel.

C. Banjir Nuh versi Bibel Dan Kritik Yang Ditimbulkannya

Penyelidikan tentang riwayat Banjir menurut Perjanjian Lama dalam paparan ini telah membawa kita pada pernyataan-pernyataan seperti berikut:

Dalam Bibel tidak hanya terdapat satu riwayat tentang banjir ini, akan tetapi ada dua riwayat yang disusun dalam waktu yang berbeda:

Riwayat Yahwist dibuat pada abad ke-9 SM, sedangkan riwayat para pendeta (Sakerdotal), dibuat pada abad  ke-6  SM. Riwayat ini dinamakan “Sakerdotal” karena dibuat oleh pendeta-pendeta pada waktu itu. Dua riwayat tersebut tidak disusun terpisah akan tetapi bercampur; unsur-unsur riwayat yang satu dicampur dengan unsur-unsur riwayat yang lain, dalam paragraf-paragraf yang sebagian berasal dari riwayat yang satu dan sebagian lagi berasal dari riwayat yang lain.

Tafsiran Terjemahan kitab Kejadian karangan R.P. de Vaux, Guru Besar Sekolah Bible di Yerusalem menunjukkan pembagian daripada paragraf-paragraf antara dua sumber tersebut secara sempurna. 

Riwayat Banjir ini dimulai dan diakhiri dengan paragraf Yahwist. Dalam riwayat itu ada 10 paragraf Yahwist. Di antara tiap paragraf dengan lainnya, diselipkan sebuah paragraf Sakerdotal. Jadi jumlah paragraf Sakerdotal adalah sembilan. Mosaik teks tersebut tidak menunjukkan keserasian kecuali dari segi urutan riwayat, oleh karenanya terdapat kontradiksi-kontradiksi besar antara dua sumber tersebut. RP. de Vaux menulis: “itu adalah dua sejarah tentang Banjir.” 

Banjir dalam dua riwayat tersebut penyebabnya adalah faktor-faktor yang berlainan, dan lamanya waktu kejadian juga berlainan. Nuh dalam dua riwayat itu juga memuat ke dalam bahteranya beberapa jenis hewan yang jumlahnya juga berlainan.

Menurut pengetahuan modern, dalam keseluruhan riwayat banjir yang tertulis dalam Bibel tidak dapat diterima, karena dua alasan:

Perjanjian Lama melukiskan banjir itu melanda seluruh dunia. Tapi  paragraf-paragraf dari sumber-sumber Yahwist tidak menyebutkan waktu terjadinya banjir, sedangkan riwayat Sakerdotal menyebutkan suatu waktu yang menurut sejarah, banjir yang melanda seluruh permukaan bumi semacam itu tidak mungkin bisa terjadi.

Argumentasi yang menguatkan pendapat tersebut adalah seperti berikut: 
Riwayat Sakerdotal mengatakan bahwa Banjir terjadi ketika Nuh berumur 600 tahun. Kita mengetahui bahwa menurut silsilah keturunan dalam fasal 5 dari kitab Kejadian (juga menurut sumber Sakerdotal seperti disebutkan sebelumnya), Nuh lahir 1.056 tahun sesudah Adam. Dengan begitu maka Banjir itu terjadi pada tahun 1.656 sesudah penciptaan Adam. Di lain pihak, silsilah keturunan Abraham dalam kitab Kejadian (11, 10-32) menurut sumber yang sama memberi kesan kepada kita bahwa Abraham lahir 292 tahun sesudah banjir. Kita juga mengetahui bahwa Abraham hidup sampai kira-kira tahun 1850 S.M. Dengan begitu maka Banjir terjadi pada abad ke-21 atau ke-22 SM.
Lalu, bagaimana kita dapat mebayangkan Banjir luar biasa besar yang menenggelamkan dan membinasakan seluruh penghidupan di atas permukaan bumi (kecuali penumpang bahtera Nuh) terjadi pada abad ke-21 atau abad ke -22 SM, sedangkan menurut catatan sejarah justru pada waktu itu di beberapa bagian bumi ini tengah bekembang berbagai peradaban manusia yang bekas-bekasnya msih dapat kita lihat sampai sekarang. 

Bagi Mesir, umpamanya, waktu itu adalah zaman yang menyaksikan berakhirnya Kerajaan lama dan dimulainya Kerajaan Baru. Jika kita kembali ke catatan sejarah, tentu saja aneh sekali rasanya untuk mengatakan bahwa pada masa itu segala peradaban manusia telah dimusnahkan oleh Banjir. 

Dengan begitu maka dari segi sejarah, kita dapat mengatakan bahwa riwayat Banjir dalam Bibel sangat bertentangan dengan pengetahuan modern. Adanya dua riwayat berbeda untuk peristiwa yang sama adalah bukti yang nyata tentang manipulasi manusia terhadap Bibel.


Riwayat Al-Quran Tentang Banjir Nuh

Al-Qur’an menyajikan versi keseluruhan yang berlainan dan tidak menimbulkan kritik dari segi sejarah. Al-Qur’an tidak memberikan riwayat Banjir yang kontinyu/berkepanjangan. Beberapa ayat membicarakan hukuman yang diberikan kepada umat Nabi Nuh. Riwayat yang paling lengkap adalah: Surat 11 ayat 25 s/d 49, Surat 71 yang dinamakan surat Nuh mencerita-kan Nuh memberi nasehat kepada umatnya, begitu juga terhadap Surat 26 ayat 105 s/d 112.

Tetapi sebelum menyelidiki kejadian itu, kita perlu menempatkan Banjir yang diriwayatkan oleh Al-Qur’an dalam hubungannya dengan hukuman-hukuman Tuhan yang ditimpakan kepada kelompok-kelompok yang salah karena menyalahi perintah-Nya.

Jika Bibel menceritakan banjir dunia untuk menghukum seluruh kemanusiaan yang tidak patuh, sebaliknya Al-Qur’an menceritakan bermacam-macam hukuman yang dikenakan kepada kelompok-kelompok tertentu. Surat 25 ayat 35 s/d 39 sebagai contoh;

Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai pembantu. Kemudian kami berfirman kepada keduanya: “Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat kami.” Lalu Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (ceritera) mereka itu pelajaran bagi munusia dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih. Dan (begitu pula Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Tsamud dan penduduk Rass* dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.” (QS. Al Furqaan: 35-39)

Surat 7 ayat 59 s/d 93 mengingatkan kepada hukum-hukum Tuhan yang menimpa kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Lut, dan Madyan, secara terpisah.

Dengan begitu maka Al-Qur’an menggambarkan Banjir sebagai suatu hukuman yang khusus untuk kaumnya Nuh. Ini merupakan perbedaan pertama yang pokok antara kedua riwayat.

Perbedaan pokok kedua adalah bahwa Al-Qur’an tidak menempatkan Banjir dalam suatu waktu dan tidak menerangkan berapa lama Banjir itu berlangsung. Sebab-musabab Banjir yang di hikayatkan Bibel dan Al-Qur’an hampir sama.

Riwayat Sakerdotal (Kejadian 7, 11) menyebutkan dua hal: sumber-sumber air memancarkan air banyak sekali, dan langit mencurahkan air yang kemudian bertemu dengan air lautan dimana Al-Qur’an menyebutkannya dalam Surat 54 ayat 11 dan 12, sebagai berikut:

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air maka bertemulah air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11-12)

Al-Qur’an sangat jelas dalam menyebutkan isi perahu; Tuhan memberi perintah kepada Nuh dan perintah itu dilaksanakan secara tepat dengan menempatkan dalam perahu beberapa jenis binatang yang akan berlangsung kehidupannya. 

Allah berfirman,

“Hingga bila perintah Kami datang dan dapur (permukaan bumi) telah memancarkan air, Kami berfirman: Muatkanlah kedalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan Kami terhadapnya dan (muatkanlah) pula orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Huud: 40)

Seorang anak Nuh yang mendapat laknat Tuhan telah dikecualikan. Dalam hal ini ayat 45 s/d 46 dari surat tersebut menceritakan bahwa permohonan Nuh kepada Allah tidak dapat merubah keputusan Tuhan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa di atas perahu, di samping keluarga Nuh minus anaknya, terdapat pula beberapa penumpang yang percaya kepada Tuhan.

Bibel tidak menyebutkan orang-orang itu di antara para penumpang-penumpang perahu. Menurut riwayat Sakerdotal: Nuh, keluarganya sendiri dengan tak ada kecualian, dan sepasang dari tiap-tiap jenis binatang. Riwayat Yahwist membedakan antara binatang-binatang suci dan burung di satu pihak dan di lain pihak binatang-binatang yang tidak suci. (terkait binatang suci, bahtera itu memuat 7 dari tiap jenis jantan dan betina, dan yang tidak suci hanya satu pasang). Menurut ayat Yahwist yang sudah dirobah (Keluaran 7, 8), sepasang dari tiap-tiap jenis, baik yang suci maupun yang tidak suci.

Riwayat banjir itu sendiri dimuat dalam Al-Qur’an surat 11 ayat 25 s/d 49, dan surat 23 ayat 23 s/d 30. Riwayat Bibel tidak menunjukkan perbedaan yang berarti tentang tempat perahu itu berhenti, menurut Bibel adalah di gunung Ararat (Kejadian 8, 4), sementara menurut Al-Qur’an tempat itu adalah Joudi 

Allah berfirman,

“Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Joudi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang
yang zalim .” (QS. Huud: 44)

Gunung Joudi ini adalah puncak tertinggi dari gugusan gunung Ararat di Armenia; tetapi tak dapat dijamin bahwa tak ada perubahan nama-nama untuk menyesuaikan antara kedua riwayat. 

R. Blachere berpendapat seperti itu. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia, jadi persamaan nama mungkin buat-buatan. 

Secara definitif, terdapat perbedaan antara riwayat Quran dan riwayat Bibel.
Perbedaan-perbedaan itu ada yang tak dapat diselidiki secara ilmiah karena tak ada data-data positif, sementara jika kita harus menyelidiki riwayat Bibel dengan perantaraan data-data yang jelas, kita dapat menyatakan bahwa dalam meriwayatkan banjir dalam waktu dan tempat riwayat, Bibel sudah jelas tidak sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan pengetahuan modern , sebaliknya, riwayat Al-Qur’an bersih dari segala unsur yang menimbulkan kritik secara objektif. 

dalam kurun waktu antara riwayat Perjanjian Baru dengan kurun waktu riwayat Al-Qur’an apakah manusia secara umum pernah memperoleh informasi yang menyajikan penjelasan yang benar tentang peristiwa banjir tsb? 

Jawaban atas pertanyaan itu adalah “Tidak!” 
Mereka menjawab demikian karena selama ini hanya bergantung pada informasi yang tertulis dalam Perjanjian Lama, karena satu-satunya dokumentasi yang dimiliki oleh umat ini tentang sejarah kuno hanya terdapat pada Perjanjian Lama.

Oleh karenanya, jika faktor manusia tidak dapat menjelaskan perubahan dalam riwayat ini, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian, setelah wahyu sebelumnya yang sudah ditulis dalam Bibel mengalami perobahan di sana-sini oleh tangan-tangan jahil para penyesat yang tidak bertanggungjawab!


[Sumber: Amar Ma'ruf Nahi Munkar | Diperbaharui 3 Januari 2021]


Saturday, January 2, 2021

Trinitas, Satu Tuhan Yang Menjadi Tiga atau Tiga Tuhan Yang Menjadi Satu? Saturday, January 2, 2021

Faktanya begini:
UMAT KRISTEN MENOLAK KERAS DISEBUT MENYEMBAH TIGA TUHAN KARENA PERCAYA BAHWA TUHAN YANG MEREKA SEMBAH HANYA SATU, YAITU TUHAN YANG MEREKA NAMAI SENDIRI DENGAN SEBUTAN TRITUNGGAL, TRINITAS, ATAU TRINITY. 
Namun di sisi lain, mereka tidak mampu menjelaskan sampai tuntas; kenapa ada kata "TRI" menempel pada kata "TUNGGAL" dalam entitas tuhan "TRITUNGGAL" yang selama ini mereka sembah?

TRI, siapapun pasti tahu artinya adalah TIGA dalam bahasa Sanskrit yang sudah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia dengan arti yang sama.

Dengan demikian, jika umat Kristen bersikukuh bahwa tuhan yang mereka sembah sebenarnya hanya SATU alias TUNGGAL, lalu untuk keperluan apa mereka masih merasa perlu meletakkan kata "TRI" di depan kata "TUNGGAL" sehingga menurut penamaannya sendiri, tuhan mereka menjadi "TRITUNGGAL", alias TIGA menjadi SATU?

Lebih jauh lagi, jika menurut doktrin Kristen tambahan DUA "ekstra" tuhan itu sebetulnya dimaksudkan untuk menegaskan entitas tuhan yang hanya SATU, yaitu mewakili FIRMAN dan ROH-Nya, maka masih menurut doktrin kristen sendiri, tanpa perlu menambahkan DUA "ekstra" tuhan sekalipun, tuhan yang SATU tetap saja berupa ROH dan tetap pula BERFIRMAN? Bukankah doktrin kristen sendiri yang menyebut Allah adalah ROH?

Lalu buat apa Allah yang diimani oleh umat Kristen sebagai ROH itu harus mebelah diri-Nya menjadi DUA ROH, yaitu Allah yang ROH ALLAH dan Allah yang ROH KUDUS?

Tokh tanpa perlu membelah diri menjadi DUA ROH pun, Allah yang konon katanya adalah ROH itu sudah jelas adalah ROH yang KUDUS, sehingga tentu saja dapat berbuat apapun yang selama ini menurut kitab Kristen pernah dilakukan oleh ROH KUDUS dalam kapasitasnya sebgai "ekstra" tuhan?

Menurut hemat saya, ini betul-betul merupakan pemborosan ide ketuhanan, sekaligus juga pembodohan terhadap intelektualitas umat manusia! 

Sementara itu, "ekstra" tuhan lainnya, yaitu FIRMAN yang mereka representasikan dalam wujud manusia bernama Yesus hanya karena kitab mereka menyebut FIRMAN itu telah menjadi MANUSIA ditengah tengah kita (lihat Yohanes 1:14), malah lebih absurd lagi!

Kenapa?
Karena "FIRMAN telah menjadi MANUSIA Yesus" pada prinsipnya tidak sedikitpun berbeda dengan kata:
  • FIRMAN telah menjadi TERANG, 
  • FIRMAN telah menjadi CAKRAWALA, 
  • FIRMAN telah menjadi DARATAN, 
  • FIRMAN telah menjadi TUMBUHAN, 
  • FIRMAN telah menjadi SIANG DAN MALAM, 
  • FIRMAN telah menjadi SEGALA JENIS HEWAN, atau
  • FIRMAN telah menjadi HUJAN DERAS, dlsb. (lihat Kejadian 1:3,6,9,11,14, 24; Ayub 37:6)

Jadi, jika dasar iman untuk menjadikan manusia Yesus sebagai "ekstra" tuhan lalu disembah sebagai tuhan, tentu saja tidak kredibel mengingat status Yesus dalam hal ini tidak ada bedanya dengan TERANG, CAKRAWALA, DARATAN, TUMBUHAN, SIANG DAN MALAM, SEGALA JENIS HEWAN, atau HUJAN DERAS seperti tertulis dengan sangat jelas dalam kitab Kejadian dan Kitab Ayub di atas!

Artinya, jika Yesus adalah FIRMAN yang menjadi MANUSIA lalu diimani dan disembah sebagai Allah itu sendiri atas dasar argumen bahwa FIRMAN yang menjadi Yesus itu berasal dari Allah, maka tidak boleh tidak, umat ini juga harus memperlakukan semua yang disebut dalam Kitab Kejadian 1:3,6,9,11,14, 24; dan Kitab Ayub 37:6 SAMA PERSIS seperti mereka memperlakukan Yesus!
Dengan kata lain, sebenarnya TERANG, CAKRAWALA, DARATAN, TUMBUHAN, SIANG DAN MALAM, SEGALA JENIS HEWAN, HUJAN DERAS dan YESUS, adalah Tuhan Kristen! 
Bukankah menurut kitab mereka sendiri masing masing objek tsb juga merupakan FIRMAN Allah yang MENJADI seperti wujudnya sekarang ini?

Jadi, kembali ke topik;

Penyangkalan umat kristen terhadap tudingan bahwa mereka menyembah TIGA TUHAN justru gugur oleh pengakuan mereka sendiri bahwa tuhan yang mereka sembah adalah tuhan TRITUNGGAL yang artinya adalah TIGA menjadi SATU.

●● Menyatakan pengakuan iman bahwa Allah adalah ROH lalu mengimani pula bahwa Allah yang ROH ini membelah diri-Nya menjadi ALLAH yang ROH dan Allah yang ROH KUDUS jelas merupakan KESIA-SIAAN ABSOLUT sebab dengan atau tanpa membelah diri sekalipun Allah yang ROH sudah tentu KUDUS dan mahakuasa melakukan apapun yang dapat dilakukan oleh ROH KUDUS tanpa perlu bantuan ROH KUDUS!

●●● Meyakini Yesus adalah jelmaan Allah hanya karena Allah BERFIRMAN, "Jadilah Yesus!" MAKA YESUSPUN JADI, sama artinya dengan meyakini TERANG, atau SEGALA JENIS HEWAN dan ciptaan Allah lainnya sebagai jelmaan Allah pula karena KEJADIAN mereka sama dengan kejadian Yesus yang berasal dari FIRMAN Allah. 

Jika dalil sejelas ini pun masih disangkal dengan argumen bahwa Yesus tidak diciptakan seperti halnya objek-objek tsb di atas, maka coba simak bak-baik penjelasan alkitab sendiri tentang "penciptaan" Yesus Kristus di sini



[Dari Arsip Pamungkas | 2 Mei 2017 | Diperbaharui 2Januari 2021]




Friday, December 22, 2017

Sekalipun Disebut Dengan Nama Yang Berbeda, ALLAH Adalah Satu-Satunya Tuhan Yang Benar Friday, December 22, 2017


Screenshot di atas ini hanya sebagian dari contoh penulisan ayat pertama Kitab Kejadian 1:1 Bibel versi pararel dalam berbagai bahasa (lebih lengkap, lihat di sini), di mana menurut Smith & Van Dyke, kata "ELOHIM" dalam ayat berbahasa Ibraninya, atau "GOD" dalam terjemah Inggrisnya, diartikan sebagai "ALLAH" dalam terjemah bahasa Arabnya.

Kita bisa lihat pula dalam alkitab online Ortodoks Koptik bahwa kata ELOHIM tsb juga diartikan sebagai ALLAH oleh umat kristen sekte ini (lihat di sini). Sementara dalam Bibel terjemah Indonesia, LAI juga mengartikan "ELOHIM" dalam Kitab Kejadian 1:1 sebagai "ALLAH" (lihat di sini).

Artinya, terlepas ditulis dalam bahasa apa dan disebut dengan lafadz apapun, kata ganti TUHAN dalam Kitab Kejadian 1:1 itu tetap dimaksudkan sebagai ALLAH dalam bahasa Arab.

Ini membuktikan kepada umat kristen bahwa:

Pertama: Nama ALLAH sudah ada dan dikenal oleh manusia, bahkan jauh sebelum manusia itu sendiri diciptakan!  [1] 

Ingat! Kitab Kejadian 1:1 dalam Bibel anda adalah ayat yang menceritakan awal proses penciptaan alam semesta saat mana manusia sendiri belum tercipta, akan tetapi nama ALLAH sudah disebut!

Kedua: Disebut dengan nama apapun, khususnya dalam kitab-kitab suci agama Samawi atau dalam Bibel anda sendiri, misalnya saja menurut terminologi yang dikenal oleh bangsa Yahudi sebagai Adonai, El, Elohim, Elyon, Elohe Yisrael, El Olam, El Roi, El Shaddai, Immanuel, YHWH, Ehyeh-Asher-Ehyeh, Eloah dst, sekali lagi, di dalam Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, tetap saja sama artinya dengan ALLAH!

Sementara itu, dengan merujuk pada kitab-kitab yang dipercaya oleh umat Kristen sebagai Taurat, Zabur dan Injil, maka Bibel -- yang dianggap sebagai gabungan dari ketiga kitab tadi -- memperkenalkan ALLAH sebagai YHWH, dengan tambahan 10 "nama pribadi" dan 7 "nama gelar" yang kesemuanya akan kembali lagi kepada YHWH yang menurut alkitab adalah sebagai pemilik nama pribadi & gelar tsb (lihat di sini), atau kepada ALLAH menurut Al-Quran. (lihat di sini). 

Tentang ini kita kerapkali melihat umat Kristen langsung kalang kabut tatkala diminta untuk menjelaskan nama pribadi dan gelar YHWH ini secara gamblang alias tidak "mbulet" seperti pada umumnya tiap kali coba menjelaskan doktrin-doktrin Kristen lainnya kepada umat Islam.


Sedangkan Al-Quran memperkenalkan ALLAH dengan 98 "nama indah lainnya" yang dikenal dengan sebutan "asmaul husna" sebagai nama-nama yang menjelaskan sifat-sifat utama-Nya sebagai Sang Khalik (lihat di sini). 

Nama-nama ini jauh lebih banyak dan tentunya lebih sempurna merepresentasikan ALLAH dengan segala sifat-sifat utama-Nya yang perlu diketahui oleh manusia dibandingkan dengan 17 "nama pribadi & gelar" YHWH menurut alkitab.

Kebalikan dari umumnya umat Kristen, tentang asmaul husna ini umat Islam tidak pernah bingung apalagi sampai kalang kabut untuk menjelaskannya satu demi satu, mengingat keterangan tentangnya lebih dari cukup di dalam literatur Islam.


CATATAN KAKI
[1] Ketika masih di dalam kandungan, seorang janin mengadakan perjanjian dengan Allah Ta'ala. Janin yang menyanggupi perjanjiannya akan lahir ke dunia. Sedangkan yang tidak sanggup memenuhi perjanjian tersebut tidak akan hidup, atau mati sesaat setelah dilahirkan.

Mengenai perjanjian Allah Ta'ala dengan janin ini sudah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan terdapat dalam Al Qur'an Surat Al A'raaf ayat 172: 

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah Ta'ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" merka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)".

Janji janin kepada Allah Ta'ala adalah pengakuan atas Keesaan Allah Ta'ala. Hal ini disaksikan oleh Adam dan penduduk langit. Namun setelah terlahir ke dunia, kita tidak mengingat perjanjian itu karena fitrah manusia yang pelupa.

Sebenarnya, semua bayi yang berada di dalam rahim beragama Islam dan berada di jalan Allah Ta'ala. Hanya orang tua merekalah yang menjadikannya beragama selain Islam dan melupakan perjanjiannya dengan Allah Ta'ala.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

[Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` (No. 507); Al-Imam Ahmad  dalam Musnad-nya (No. 8739); Al-Imam Al-Bukhari  dalam Kitabul Jana`iz (No. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (No. 4775), Kitabul Qadar (No. 6599); Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar (No. 2658)].

Wallahu a'lam bisyawwab....


[Dari Catatan Bagus Pamungkas]

Thursday, July 6, 2017

Salahsatu Bukti Bahwa Ajaran Kasih Kristen Adalah HOAX Thursday, July 6, 2017



Salahsatu Bukti Bahwa Ajaran Kasih Kristen Adalah HOAX


AJARAN KASIH, ANTARA DOKTRIN DAN REALITA
Ketika kemustahilan doktrin "ajaran kasih" kristen yang digambarkan melalui aksi gampar-menggampar menurut Matius 5:39 dan Lukas 6:29 "disentil" secara sambil lalu oleh Gus Mendem dalam salahsatu TS di grup sebelah,  kristen pertama yang merespons adalah Theos Anner, yang dengan penuh percaya diri langsung OOT menampilkan QS 5:82 berikut penjelasannya untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya doktrin "nyeleneh" kristen tsb dipuji oleh Allah SWT.


Kristen berikutnya yang tidak mau kalah aksi tapi tetap saja basi karena OOT juga adalah Pul Siba. Dengan penuh percaya diri dia menampilkan hadits-hadits di mana diceritakan konon katanya Rasulullah saw bersikap temperamental terhadap sahabat beliau, yang dalam konteks ini tentu saja dimaksudkannya sebagai koreksi terhadap QS. 2:190  yang dengan jelas mengajarkan kepada setiap Muslim agar bersikap tegas terhadap musuh, tapi sekaligus juga melarang mereka menyikapinya secara berlebihan.

Intinya, kedua petinggi kampung Bakul Jamu ini percaya sepenuhnya bahwa "ajaran kasih" kristen yang direpresentasikan oleh Matius 5:39 dan Lukas 6:29 itu valid, dan karenanya perlu dibela sekuat tenaga!

Karena dari dulu, sejak pertama kali diperkenalkan pada doktrin ini akal sehat saya dengan serta merta menolaknya, maka sebagai uji kelaikan sekaligus korektor tehadap keanehan ajaran kristen yang satu ini, maka khusus untuk duo ombes Bakul Jamu  yang namanya saya sebut di atas, kemudian saya gambarkan sebuah situasi konkrit di mana ajaran Matius dan lukas tadi seyogyanya diaplikasikan secara konsekuen untuk mereka sanggah dalam salahsatu topik debat di sini, atau seperti saya dokumentasikan di bawah ini:


Tunggu saja gimana Pul Siba​ akan menjelaskan ini 😂

KRISTEN, AJARAN KASIH YANG SANGAT PERLU UNTUK DIKASIHANI
2 ayat emas ini, selama berabad-abad menjadi "kebanggaan" tak ternilai harganya bagi pengikut Paulus karena dianggap sebagai BUKTI keunggulan Kristen sebagai "AJARAN KASIH" yang tidak ada tandingannya!

[Matius 5:39] Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

[Lukas 6 :29] "Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu."

Padahal jika diartikan secara harfiah, dan jika perintah ini dituruti, maka siapapun yang melaksanakannya sudah pasti akan terlihat seperti orang paling bego di muka bumi ini, karena memberi pipi kanan untuk ditampar lagi setelah pipi kirinya ditampar orang!

Diartikan sebagai kiasan?
SAMA SAJA BEGONYA!


CONTOH KASUS
Suatu ketika, seorang penjahat kelamin berhasil membobol rumah keluarga seorang pendeta yang sangat taat, dan berhasil menguasai seisi rumah dengan senjata api yang dimilikinya.

Singkat cerita; seluruh anggota keluarga yang terdiri dari pak pendeta - satu-satunya lelaki di rumah itu - isterinya yang cantik, 2 orang anak gadisnya yang lebih cantik lagi, dan mertua perempuannya yang janda dan tidak kalah cantik pula (kebetulan sedang berkunjung dan menginap di rumah pak pendeta), praktis tidak berkutik di bawah kekuasaan ancaman senjata api sang penjahat.

Lebih singkat lagi, sang penjahat kelamin pun kemudian dengan leluasa dan tentunya dengan sangat mudah berhasil memperkosa salahsatu anak gadis pak pendeta di depan mata seluruh anggota keluarga itu.

Setelahnya, bagaimana?
Nah, kembali kepada Matius 5:39 dan Lukas 6:29;
Kira-kira apa yang harus dilakukan oleh pak pendeta?

Terlepas mau diartikan secara harfiah atau kiasan, maka pak pendetapun dengan sukacita harus memperlakukan sang penjahat kelamin dengan penuh kasih sebagai manifestasi dari "ajaran kasih" Kristen menurut Matius dan Lukas!

Ia pun kemudian mempersilahkan sang penjahat kelamin untuk tinggal lebih lama lagi di rumahnya, menyediakan kamar yang nyaman, makan, minum, pakaian, dan keperluan sehari-hari lainnya dengan baik, lalu menawarkan anak gadisnya yang satu lagi untuk diperkosa esoknya. Setelah itu menawarkan isterinya untuk juga diperkosa pada lusanya, dan kalau masih belum cukup menyenangkan hati sang penjahat, maka masih ada ibu mertuanya yang juga boleh diperkosa pula pada hari berikutnya. Lalu selama berhari-hari, atau berminggu-minggu, atau berbulan-bulan setelahnya, mempersilahkan sang penjahat mengulangi lagi siklus pemerkosaan itu mulai dari anak gadisnya yang pertama kali diperkosa, lalu anak gadis keduanya, dilanjutkan dengn isterinya, sampai kepada mertuanya. Demikian seterusnya, hingga akhirnya sang penjahat merasa puas dan bosan sendiri!

Setelah itu, bagaimana pula?
Setelah itu, dengan penuh sukacita dan kasih sayang pak pendeta pun akan menawarkan kepada sang penjahat apakah dia bersedia merampas satu-satunya mobil keluarga yang ada di garasi, atau keberatankah jika diantarkan saja ke mana pun penjahat kelamin ini mau, tentunya dengan dibekali uang cukup dari sisa saldo yang masih tersedia di ATM?

Sampai di sini, kita sudahi dulu cerita "HOROR" ini guna mencari KEBENARAN doktrin kristen yang mewakili jargon "AJARAN KASIH" Kristen tadi.

Menururt akal sehat kristen sendiri, BENAR atau SALAH perlakuan pak pendeta yang sangat taat pada doktrin kristen ini?

Apapun jawabannya, tentu ada alasannya bukan?
Nah, silahkan dijawab berikut alasannya deh!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Silahkan dinalar dulu dengan baik sebelum menjawab!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

NOTE: Respon Ragil untuk omong kosong Theos Anner & Pul Siba seharusnya dapat dilihat di sini, tapi karena tidak berselang lama setelah penayangan TS ini mendadak akun Ragil disuspend oleh fesbuk (gara-gara dirudal rame-rame oleh penduduk kampung Bakul Jamu), maka semua data yang terhubung dengan akun Ragil pun praktis sirna dari seluruh permukaan fesbuk. Eloknya, arsip TS yang tidak mereka inginkan terbaca oleh banyak orang ini masih sempat diamankan, sehingga memungkinkan untuk dipublikasi ulang seperti di bawah ini: 



Silahkan klik gambar konferensi press berikut untuk melihat ........

Friday, June 30, 2017

Bibel Memastikan Bahwa Bentuk Bumi Adalah Datar Friday, June 30, 2017


Seberapa sering anda berfikir serius, atau mencermati secara lebih serius lagi informasi-informasi berbasis sains tentang bentuk bumi ini, atau bahkan mungkin sudah sempat memperdebatkannya dengan sesama pemerhati isu tentang bentuk bumi dalam forum-forum debat lintas iman berdasarkan informasi dari Al-Qur'an dan Bibel?

Tentunya, anda yang lebih tahu!

Belakangan ini, setidak-tidaknya saat catatan ini ditulis, sepertinya kontroversi tentang FE (Flat Earth) sedang trend di beberapa forum debat lintas iman -- misalnya saja di fesbuk, dimunculkan oleh beberapa simpatisan kelompok yang menamakan diri mereka sebagai Flat Earth Society -- dan tentu saja menuai perdebatan pro-kontra yang lumayan seru.

Di tengah-tengah perdebatan itu, khususnya yang terjadi antara sesama netter muslim, ada sebagian oportunis kristen yang mengambil posisi di tengah-tengah sambil menunggu siapa yang lebih unggul dan lebih dominan di antara kelompok muslim yang pro FE dan yang kontra.

Jika kelompok FE, praktis mereka condong berpihak ke kelompok ini karena secara natur patut dianggap mendukung informasi dalam bibel yang menyiratkan bahwa bentuk bumi adalah datar. 

► Lihat lagi Matius 24:31; Markus 13:27; Wahyu 7:1; Wahyu 20:8; Matius 12:42; Matius 4:8; Lukas 4:5; Daniel 4:10.

Tapi jika sebaliknya, sekalipun agak ragu-ragu dan karenanya menjadi ekstra hati-hati dalam menuliskan komentarnya, mereka coba condong ke sini dengan membawa satu-satunya dalil pamungkas yang mereka anggap sebagai argumen paling kuat untuk membela kebenaran informasi dari Bibel bahwa bentuk bumi adalah bulat seperti bola berdasarkan tulisan Yesaya dalam Yesaya 40:22.

Tapi benarkah demikian?
Perhatikan ini.
Yesaya 40:22 - Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman! 
Lalu perhatikan pula yang berikut ini.
Kata ḥūḡ, atau ditulis ח֣וּג dalam bahasa ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai the circle. Lihat selengkapnya di sini.

Dalam Bibel terjemah Inggris versi King James (KJV); Yesaya 40:22 juga menterjemahkan kata ḥūḡ tsb sebagai the circle, atau secara utuh tertulis begini:

It is he that sitteth upon the circle of the earth, and the inhabitants thereof are as grasshoppers; that stretcheth out the heavens as a curtain, and spreadeth them out as a tent to dwell in:”   Lihat selengkapnya di sini


Dan menurut Kamus Inggris-Inggris versi Merriem Webster, arti dari kata "circle" adalah lingkaran berbentuk cincin, atau jari-jari (ring) yang tidak memiliki ketinggian, alias ceper, atau datar (flat).  Lihat selengkapnya di sini.

Dengan demikian, arti sebenarnya dari kata "bulatan" dalam Yesaya 40:22 terjemah Indonesia bukan bundar seperti bola, melainkan lingkaran ceper menyerupai koin seperti illustrasi di atas, atau di samping ini.

Artinya, satu-satunya kata yang mengindikasikan makna bulat terkait bentuk bumi menurut Bibel - yang selama ini diklaim oleh umat kristen sebagai informasi yang benar dari alkitab bahwa bentuk bumi adalah bundar seperti bola - ternyata TIDAK BENAR!

Dengan demikian, maka runtuhlah segala argumen mereka untuk menolak tudingan bahwa informasi dalam Bibel tidak sejalan dengan sains modern!

Semoga bermanfaat!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

GM

Tuesday, March 21, 2017

Gagal Paham Kitab Kejadian 1:1-2 Tuesday, March 21, 2017


Pelajaran kita kali ini, adalah mengulang lagi, dan lagi, gagal paham para pengikut setia Paulus mengartikan apa yang sesungguhnya sudah sangat jelas tertulis dalam Kejadian 1:1-2.

Perhatikan yang berikut ini.
Ini adalah penjelasan skematika Kejadian 1:1-2 berdasarkan tulisan dalam bahasa "aslinya" dari Hebrew OT: Westminster Leningrad Codex yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris versi NASB (New American Standard Bible) dan apa arti terjemah tsb menurut Kamus Merriam Webster dan pengertiannya dalam bahasa Indonesia.

Perhatikan!
Ada tiga kata sangat krusial pada ayat Kejadian 1:1-2 dalam Bibel terjemah Indonesia bernama Alkitab yang selama ini menjadi bagian sangat penting dalam pembentukan iman kristen.

Ketiga kata tsb adalah:
1. Belum berbentuk, 
2. Kosong, dan 
3. Roh Allah.

Dalam skema kita; kata belum berbentuk (formless) dilingkari dengan tinta warna merah, kata kosong (void) dilingkari dengan tinta warna biru, dan kata Roh Allah (the spirit of God) dilingkari dengan tinta warna hijau.

Sekarang perhatikan baik baik apa arti sesungguhnya dari masing masing kata formlessvoid, dan the spirit of God menurut pengguna bahasa Inggris yang diterangkan dalam masing masing kotak berwarna merah, biru dan hijau dibawah ini.
Gambar ini menjelaskan dengan sangat "gamblang" bahwa Bibel terjemah Indonesia, atau yang selama ini mereka percaya sebagai kitab suci Kristen bernama Alkitab telah keliru  menterjemahkan ayat Kejadian 1:1-2.

Ayat ayat tsb sebenarnya menjelaskan bumi yang sama sekali belum ada, dan mustahilnya menerangkan bahwa diatas, atau pada bumi yang belum ada tsb sudah ada samudra!

Kata "samudra" dalam ayat ini seharusnya diartikan sebagai "air" atau "unsur air" yang meliputi alam raya sebelum terjadinya pembentukan bumi dan benda benda langit lainnya!

Artinya, air atau unsur air  dalam ayat ini mustahil berada pada bumi yang belum ada!

Lebih jauh lagi, kata Roh Allah dalam Alkitab yang mereka artikan sebagai personifikasi Allah itu sendiri, sebenarnya harus ditulis Roh Milik Allah  sehingga mudah dipahami bahwa arti sebenarnya  bukan Allah!
 
Sedangkan berdasar penjelasan Masoretic Text kitab Ibrani, bangsa Yahudi, penutur bahasa Ibrani yang digunakan dalam penulisan Torah dimana teks Kejadian 1:1-2 tsb tertulis tidak mengartikan Roh Allah -- ditulis wərûaḥ ’ĕlōhîm -- secara literal sebagai Roh Allah seperti pemahaman mayoritas umat Kristen tradisional, melainkan sebagai angin, nafas Allah, atau bentuk kekuasaan Allah lainnya dalam proses penciptaan alam semesta.   
 
Itu sebabnya kenapa umat Yahudi  tidak pernah mengalami kesulitan memahami ayat Kejadian 1:1-2 seperti ruwetnya cara berpikir umat Paulus yang coba menjelaskannya berdasar dogma melawan akal manusia pada umumnya. Umat Yahudi, sebagai pewaris kitab Torah Musa tidak pernah berpikir bahwa Roh Allah pada ayat Kejadian 1:2 merepresentasikan salahsatu dari Tuhan Ciptaan Paulus dan kroninya yang berjumlah TIGA!

Ini adalah FAKTA, dan dapat dimengerti jika rata-rata pengikut Paulus sangat sulit menerimanya karena sudah terlanjur mengimaninya sebagai sebuah kebenaran -- yang sesungguhnya tidak benar!
 
Padahal, salahsatu sumber studi Alkitab Indonesia sendiri, SABDA WEB, menjelaskan bahwa kata Roh Allah pada teks Kejadian 1:1-2 dalam Alkitab tidak dapat diartikan sebagai representasi dari salahsatu oknum Trinitas yang dikenal sebagai Roh Kudus sbb:
Dengan demikian, tentu saja aneh, bahkan sangat menggelikan bila ternyata masih ada saja umat Paulus yang demikian gigih memaksakan keyakinannya bahwa kata Roh Allah pada ayat  Kejadian 1:1-2 dalam kitab suci umat Yahudi -- yang mereka bajak lalu diklaim sebagai bagian dari kitab suci umat Kristen -- merupakan representasi dari Roh Allah dalam arti literal, sehingga dapat dimaknai sebagai sebuah pemahaman bahwa sama halnya seperti manusia, Allah juga memiliki roh untuk hidup! 
 
Dalam teologi umat Yahudi, pemahaman seperti ini adalah kesesatan yang nyata, sekaligus merupakan kutuk bagi setiap sendi keimanan berdasarkan Torah!  
 
Jadi, terlepas apa pun alasannya, selama umat Paulus masih memahami kata Roh Allah dalam Kejadian 1:1-2 berbeda dari yang dipahami oleh umat Yahudi, maka pemahaman tsb praktis tertolak, alias dinyatakan sebagai pemahaman yang sesat!   
 
Kendati demikian, jika umat Paulus merasa keyakinannya lebih benar dari keyakinan umat Yahudi sendiri dan masih ingin mati matian menyangkalnya, ya, silahkan saja. Tokh sudah jelas yang error pada ayat Kejadian 1:1-2 dalam terjemah  indonesia itu bukan apa yang seharusnya tertulis, tapi otak yang digunakan untuk menalarnya! 
 
Bagaimana mungkin umat Paulus yang "sok akrab" mengaku-ngaku sebagai pengiman Torah juga, yang muncul 1.700 tahun setelah umat Yahudi memahami seluruh kandungan Torah, yang tidak mengerti seluk-beluk bahasa Ibrani, merasa lebih mengerti Torah daripada umat Yahudi sendiri?
Yang benar sajalah!
 
Mau tahu bagaimana Al-Quran menjelaskan hal ini?
Silahkan simak uraian dan bukti-buktinya disini

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
 
 
[Bagus Pamungkas]

Monday, February 13, 2017

Doktrin Tampar Menampar Sebagai Essensi Ajaran Kasih Monday, February 13, 2017


AJARAN KASIH YANG PERLU DIKASIHANI

Sementara melalui ajaran Islam, ALLAH, Tuhan semesta alam berfirman kepada setiap manusia agar tegas dan realistis dalam menyikapi siapa saja yang memusuhi, apalagi sampai melakukan tindak agresi terhadap dirinya, seperti di antaranya tertulis;
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. 2:190) 
Maka entah roh dari Kudus atau mungkin juga dari Kediri, atau mungkin dari Solo yang mengilhaminya, Matius nekad menulis ajaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhannya Yesus di atas, yang konon katanya adalah ajaran Yesus, sebagai berikut: 
  
[Matius 5:39] 

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 

Lalu, dari hasil nguping kanan-kiri, Lukas "si tukang copas kabar burung" pun mengutil tulisan Matius tsb. Dengan menambah sedikit "bumbu penyedap rasa" supaya terdengar lebih cetar membahana di telinga jemaat ketika para pendeta mereka mebacakannya di atas mimbar, iapun kemudian latah ikut-ikutan menulis dalam kitabnya begini: 

[Lukas 6: 29] 

Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu." 

Inilah yang selama berabad-abad digadang-gadang oleh hampir semua pengikut Paulus sebagai landasan utama AJARAN KASIH kristen yang dalam konteks serupa, mereka klaim sebagai ajaran yang jauh lebih mulia, dan dalam angan-angan mereka, tentu saja lebih  unggul dibandikangkan dengan ajaran realistis Islam yang mendorong SIKAP TEGAS kepada manusia manapun yang melakukan tindak kekerasan terhadap sesamanya!

Dan hebatnya, AJARAN KASIH yang sesungguhnya sangat perlu DIKASIHANI ini "diamini dan diimani" oleh semua pengikut paulus dengan cara menukar seluruh kemampuan intelktual mereka dengan kemampuan berfikir otak dan nalar domba yang sudah tentu tidak akan pernah "gathuk" tiap kali disejajarkan dengan kemampuan bernalar manusia yang sehat jasmani dan rohaninya!   

Kenapa "Ajaran Kasih" ini kita sebut sebagai ajaran yang patut dikasihani? 
Sebab tulisan matius yang dicopas pula oleh Lukas di atas sama sekali tidak sesuai dengan sikap Yesus, dan celakanya, tidak sedikitpun mencerminkan sikap Paulus!

Tidak percaya?
Mari kita "intip" dan kita "sibak" lagi rahasia doktrin kristen yang dari waktu ke waktu terus saja dijejalkan ke kepala para domba pengikut Paulus!

Yohanes mencatat suatu peristiwa di mana Yesus, anak manusia yang dipaksa menjadi tuhan oleh Paulus, ditempeleng oleh seorang penjaga sbb:

[Yohanes 18: 22] 

“Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ MENAMPAR muka-Nya sambil berkata: Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?” 

Tahukah anda bagaimana sikap Yesus menerima perlakuan tsb? 
Apakah Yesus kemudian memberikan pipinya yang sebelah lagi untuk ditampar pula?

Perhatikan reaksi realistis Yesus ini,

[Yohanes 18: 23] 

Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” 

TERNYATA Yesus PROTES KERAS! 
Beliau tidak terima pipinya seenaknya saja digampar orang!  

Artinya, jika tulisan Matius yang dicopas oleh Lukas di atas memang benar ajaran Yesus, tentu saja beliau akan bereaksi goblog begini:

[Yohanes 18: 23] 

“Jikalau kata-Ku itu salah, maka tamparlah pipi-Ku sebelah mana saja yang engkau suka, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, maka tampar jugalah pipi-Ku yang satunya lagi!” 

Jadi, AJARAN KASIH lewat cerita "tempeleng-menempeleng" ini sudah jelas NGAWUR dan BUKAN ajaran Yesus!  

Bagaimana pula versi Paulus?
Perhatikan seperti apa Lukas "si tukang copas kabar burung" menggambarkan sikap Paulus ketika mulutnya juga digampar orang!

[Kisah Para Rasul 23: 2-3] 

“Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus untk menampar mulut Paulus. Membalas itu Paulus berkata: ALLAH AKAN MENAMPAR ENGKAU, hai tembok yang dikapur putih-putih!”

TERBUKTI Paulus tidak menyodorkan wajahnya seraya bersikap manis dan berkata; 

"Dengarlah hai kalian yang baru saja menampar mulutku, Allah akan bersukacita jika kalian tampar pula wajahku ini!" 

Yang justru terjadi adalah Paulus MARAH BESAR ketika mulutnya digampar orang, bahkan sampai MEYUMPAHI Imam besar yang memberi perintah agar seseorang menggampar mulutnya yang memang penuh dengan dusta itu!
Untuk diketahui saja, kenapa Imam besar Ananias menyuruh orang untuk menggampar mulut Paulus adalah karena sang imam MARAH BESAR ketika rasul gadungan ini menggunakan namanya  sebagai saksi untuk mendukung cerita dustanya bertemu Yesus dalam Kisah Para Rasul 9:15-17 yang dikarangnya bersama Lukas! 
Nah, sampai di sini, masih percayakah kalian pada doktrin NGAWUR yang secara sangat bodoh digambarkan oleh Matius dan dicopas oleh Lukas seperti di atas?

Selamat merenungi iman sendiri!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk

[Sumber: Catatan lama GM]

Contact Form

Name

Email *

Message *