Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Islam (Ka'bah). Show all posts
Showing posts with label Islam (Ka'bah). Show all posts

Saturday, October 22, 2016

Ibadah Haji Dan Sumur Zamzam Menurut Penjelasan Para Rabbi Yahudi Saturday, October 22, 2016

Lingkaran merah, lokasi sumur zamzam tempo Doeloe.

Abraham, Abram, atau nabi Ibrahim AS diakui oleh umat Yahudi dan umat Islam sebagai seorang nabi besar. Umat Yahudi menyebut Abraham sebagai Bapak Orang Beriman, sedangkan di dalam Islam, nabi Ibrahim AS disebut sebagai Bapak Para Nabi, atau lebih spesifik lagi; Bapak Tauhid.

Berdasarkan Al-Quran dan Hadits, umat Islam meyakini bahwa selain membangun kembali reruntuhan Ka'bah bersama putranya; nabi Ismael AS, nabi Ibrahim AS dan nabi Ismael AS juga melaksanakan Ibadah haji di seputar Ka'bah, Mekkah, yang secara turun temurun kemudian dilaksanakan oleh anak cucu mereka hingga Nabi Muhammad SAW, untuk selanjutnya diteruskan pula oleh seluruh umat Islam sampai hari ini.

Kedua umat ini juga meyakini bahwa mata air zamzam yang muncul dalam kisah pengembaraan bunda Hagar dan nabi Ismael AS di padang gurun yang diceritakan dalam Torah, terletak di antara bukit Safa dan Marwah, yaitu Mekkah, yang merupakan bagian penting dalam ritual ibadah haji umat Islam (baca: Bani Ismael dan penerusnya).

Namun sebagian umat Kristen abangan, yang tidak mempelajari sejarah, buta biblikal geografy, dan tidak pernah mencermati kitabnya sendiri, mati-matian membantah hal di atas cuma karena satu-satunya alasan; bahwa di dalam kitab mereka, tidak ada tertulis Abraham pernah ke Mekkah, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dapat diterima untuk mengaitkan cerita tentang keluarga Abraham dengan mata air zam zam, Ka'bah, dan Mekkah!

Tapi benarkah demikian?
Apa kata kitab suci umat Yahudi - yang dicomot oleh para bapa gereja perdana - dan dijadikan bagian dari kitab Kristen?

“Lalu Allah membuka mata Hagar (Hajar), sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak (Ismael) itu minum, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah, maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir." (Kejadian 21: 19-21)

“Lalu malaikat Tuhan menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan Syur." (Kejadian 16:7)

“Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lachai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered" (Kejadian 16:14)”

Kendati tidak secara spesifik disebut namanya, namun dalam Mazmur kita menemukan penyebutan sebuah tempat bermata air di lembah Baka, nama lain dari Mekkah dalam banyak manuskrip kuno.

"Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion." (Mazmur 84: 4-7)
Di seluruh permukaan bumi ini, masih adakah tempat lain seperti disebutkan dalam Mazmur 84: 4-7, di mana selama berabad-abad - hingga hari ini - jutaan manusia terus berziarah ke rumah Allah dan tidak henti memuji-muji Allah, kecuali di Mekkah?
Naskah-naskah otoritatif rabbanik dan pernyataan para rabbi Yahudi sendiri juga membenarkan bahwa Lachai-Roi dalam Kejadian 16:14 adalah sumur zamzam yang terletak di Mekkah, tempat di mana setiap tahun bani Ismael dan pengikutnya melaksanakan doa-doa khusus mereka yang dewasa ini dikenal sebagai ibadah haji.

Rabbi Bachya ben Asher menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) dalam Sefer Bereshit 16:14 sebagai: 

כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם 
(ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam).

“Karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, yang sekarang disebut sumur zamzam.”

Rabbi Avraham Ben Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga menyatakan dengan tegas:

כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם 
(ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er Zamzam).

“Karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur tersebut dan  sekarang ini sumur itu dikenal sebagai sumur Zamzam.”  (Sumber: The Yeshiva Institute),

Sedangkan sumur zamzam sendiri menjadi salahsatu bukti Kekuasaan Allah Abraham, Ismael, Ishak, dan Yakob AS, karena sejak kemunculannya di hadapan Hagar; Ibunda nabi Ismael AS, sekitar 4.000 tahun lalu, hingga hari ini tidak henti mengalirkan airnya "yang penuh berkat" walaupun selama 40 abad lebih telah dikonsumsi oleh berjuta-juta manusia dari seluruh dunia, khususnya mereka yang melaksanakan ibadah haji dan Umroh ke Mekkah!

Subhanallah!
Maha Besar Allah Dengan Segala Kemahakuasaan-Nya.



Sunday, August 19, 2012

Ingin Tahu Dalamnya Ka'bah? Sunday, August 19, 2012

Mengintip Dalamnya Ka’bah.
Sebenarnya kita tidak diperbolehkan mengambil foto 'dalamnya' ka’bah. Jangankan mengambil foto sampai ke dalam ka'bah, membawa kamera di sekitar lokasi masjid saja tidak dibenarkan. Tapi ini sekedar untuk pengetahuan bagi yang belum ke sana dan merasa penasaran saja, supaya tahu seperti apa sebetulnya isi ka’bah. 

Tidak semua orang tahu apa sebenarnya yang ada di dalam ka’bah, sebab hanya orang-orang penting setingkat kepala negara saja yang diijinkan untuk memasukinya. Itu pun harus menjadi tamu resmi dari Raja terlebih dulu.

Konon katanya, dulu mantan Presiden Soeharto dan rombongan pernah mendapat kehormatan untuk memasuki ka'bah.

Anda yang penasaran ingin tahu juga apa saja kira-kira yang dilihat oleh Bapak mantan Presiden kita beserta rombongan beliau ketika itu, silahkan lihat video di bawah ini.


Sedangkan yang di bawah ini adalah foto 'amat langka' yang menampilkan viualisasi salahsatu sisi ruangan di dalam ka'bah, sebab seperti sudah diberitahu di awal tadi, seharusnya foto ini tidak pernah ada, apalagi sampai beredar luas di dunia maya! Foto ini ada di sini untuk anda jadikan pembanding dengan gambaran animasi sebelumnya, bahwa dalamnya ka'bah sejatinya ya, memang seperti ini!


Foto Ruangan dalam Kabah

Kalau tidak keliru, foto di atas ini diambil pada salah satu momentum di mana ada tamu negara yang mendapat kehormatan untuk memasuki dalamnya ka'bah, dan sangat boleh jadi foto ini diambil secara diam-diam oleh salahsatu anggota rombongan sang tamu kehormatan tsb mengingat secara resmi petugas masjid Al-Haram pasti akan melarang keras siapa pun melakukan pemotretan di lokasi masjid, apalagi sampai ke dalam ka’bah!

Sebagian kalangan (yang akrab dengan ka'bah) membenarkan keaslian foto ini karena serupa dengan gambar denah yang diterbitkan resmi oleh kerajaan, contohnya melalui video di atas, bahwa di dalam ka'bah hampir tidak terdapat apa-apa, alias kosong, kecual beberapa items saja seperti yang kemudian dapat anda lihat dalam video "candid camera" hasil kerja cameraman 'amatiran' di bawah ini.

Yang jelas, pertanyaan atau tuduhan anda tentang adanya berhala di dalam ka'bah sudah terjawab lewat foto ini, sebab nyatanya berhala yang berjumlah 360 buah itu memang sudah tidak ada, sudah dihancurkan oleh Rasulullah saw sejak Fathu Makkah 14 abad yang lalu!



Sekedar sebagai tambahan informasi aja, berikut ini adalah catatan kecil tentang ka'bah.

Desain Ka’bah
Mulai dari sebelah kiri pintu Ka’bah adalah Multazam (antara pintu Ka’bah dan Hajarul Aswad). Sebelah kanan dari pintu terdapat kotak dari marmer tempat menyimpan alat keperluan kebersihan di dalam Ka’bah.

Interior
Di tengah–tengah Ka’bah agak meninggi terdapat 3 buah tiang penyangga yg terbuat dari kayu dan yang dikenal dengan “Tiang Abdullah bin Zubair“. Dinamakan demikian karena Allah SWT telah memberikan kemuliaan kepada beliau, sebagai pembuat tiang penyangga pada atap Ka’bah itu untuk menghindari kerobohannya. Sebelah Utara dari Ka’bah terdapat pintu kecil yang dinamakan “Pintu Taubah”. Itu adalah sebuah tanda dari keteguhan. Pintu Taubah ini terbuat dari kayu pilihan yang dilapisi dengan Emas dan Perak yang terukir dan dilapisi juga dengan kaca yang tebal sampai atap Ka’bah. Pada dinding sebelah Barat yang berhadapan dengan pintu Ka’bah digantungkan 9 Pigura yang terbuat dari Marmer dan bertuliskan nama-nama Penguasa-penguasa atau Khalifah yang telah memperbaiki dan memperbarui Ka’bah yang agung.

Kesemuanya itu tertulis setelah Abad 6H. Pada dinding Timur antara pintu Ka’bah dan pintu Taubah diletakkan keterangan tentang perbaikan yang dilakukan oleh Raja Fahd pada th.1419H setelah perbaikan terakhir pada zaman Sultan Murod IV dari Utsmaniah pada th.1040H. Sisi-sisi Ka’bah yang empat dilapisi dengan Marmer putih setinggi 2 Meter dan diatasnya ditutupi dengan hordeng warna merah dan pink, yang terbuat dari bahan kain Sutera yang bertuliskan “Syahadatain “ dan Asma ul-Husna dalam bentuk angka 8 atau 7 Arab berselang-seling. Hadiah dari Raja Fahd.

Di antara tiga tiang yang ditengah (Tiang Abdullah bin Zubair) ada tempat untuk meletakkan barang yang terbuat dari Perak murni untuk menyimpan barang, seperti antara lain : Teko-teko , Pajangan , dan barang-barang bersejarah lainnya yang terbuat dari Emas dan Perak yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang lewat sebagai hadiah-hadiah dari Raja-raja, Khalifah dan para Sultan kepada Ka’bah sebagai pendekatan dan pengabdian kepada Rabb yang Esa untuk mencari ridho Nya.Pencucian Ka`bah biasanya dilakukan dua kali setiap tahun yakni pada pertengahan bulan Sya`ban sebagai persiapan menghadapi musim Umrah pada bulan Ramadhan, dan pertengahan Dzulqa`idah sebagai persiapan menyambut jamaah haji.

Eksterior
Ka`bah biasanya dicuci dengan air zamzam yang dicampur dengan mawar Thaif dan anbar, sedangkan dindingnya diharumkan dengan parfum misik. Nizar As-Syaibi, putra tertua keluarga pengurus Masjidil Haram Syeikh Abdul Aziz As-Syaibi, menyebutkan pencucian Ka`bah merupakan tradisi yang disunnahkan namun tidak harus dilakukan pada waktu tertentu. Secara historis, Rasulullah pernah sekali mencuci Ka`bah pada bulan Sya`ban ketika beliau kembali ke Mekkah dalam peristiwa “Fathu Mekkah”, setelah beliau membersihkannya dari patung-patung sesembahan yang berada di dalam maupun di sekitar Ka`bah.

Sejak saat itu, pencucian Ka`bah menjadi sesuatu yang disunnahkan namun tidak ada waktu tertentu yang dianggap paling utama untuk melakukannya. “Ritual ini adalah bentuk penghormatan terhadap Ka`bah, khususnya saat sebelum Umrah dan setelah haji. Tujuan inilah yang paling utama ketimbang sekadar membersihkannya. Pada saat pencucian pun, pintu Ka`bah tetap tertutup. Pencucian ini tidak lebih dari sekadar membersihkan debu yang menempel di dinding Ka`bah,” demikian As-Syaibi.

Ketua Islamic Society of North America (ISNA = Masyarakat Islam Amerika Utara) ternyata sangat beruntung karena pernah mendapat kesempatan untuk memasuki Ka’bah pada tahun 1998. Inilah keterangannya:
  • Di dalamnya terdapat tiga pilar. 
  • Ada meja untuk meletakkan parfum.
  • Terdapat dua lampu lentera yang digantungkan di langit-langit.
  • Ruangan cukup untuk menampung 50 orang.
  • Tidak ada lampu listrik di bagian dalam.
  • Tembok dan lantai terbuat dari marmer.
  • Tidak ada jendela di bagian dalam.
  • Hanya ada satu pintu.
  • Bagian atas tembok-tembok di bagian dalam ditutupi gorden.
Demikian, semoga sedikit "bocoran" ini sudah menjawab keingintahuan anda sekalian.

[Dari berbagai sumber]

Saturday, June 30, 2012

Fakta Ilmiah Tentang Ka'bah Saturday, June 30, 2012



Ternyata GMT Bukan Di Greenwich, Tapi di Ka’bah (Fakta Ilmiah)

Ka’bah merupakan rumah Allah, berjuta ummat muslim merindukan berkunjung dan menjadi tamu - tamu Allah sang maha pencipta. Kiblatnya (arah) ummat muslim dalam melaksanakan sholat, dari negara manapun semua ibadah sholat menghadap ke kiblat ini.

Istilah Ka’bah adalah bahasa al quran dari kata “ka’bu” yg berarti “mata kaki” atau tempat kaki berputar bergerak untuk melangkah. Ayat 5/6dalam Al-quran menjelaskan istilah itu dg “Ka’bain” yg berarti ‘dua mata kaki’ dan ayat 5/95-96 mengandung istilah ‘ka’bah’ yg artinya nyata “mata bumi” atau “sumbu bumi” atau kutub putaran utara bumi.

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.

Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Makkah Pusat Bumi
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu ia mengamati dengan seksama posisi ketujuh benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Ia memulai untuk menggambar garis-garis sejajar hanya untuk memudahkan proyeksi garis bujur dan garis lintang.

Setelah dua tahun dari pekerjaan yang sulit dan berat itu, ia terbantu oleh program-program komputer untuk menentukan jarak-jarak yang benar dan variasi-variasi yang berbeda, serta banyak hal lainnya. Ia kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.

Ia menyadari kemungkinan menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebagai titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Dan pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Agustus 1978).

Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, menekankan hasil yang sama ketika studi-studi lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

Telah menjadi teori yang mapan secara ilmiah bahwa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

Studi ilmiah ini dilaksanakan untuk tujuan yang berbeda, bukan dimaksud untuk membuktikan bahwa Makkah adalah pusat dari bumi. Bagaimanapun, studi ini diterbitkan di dalam banyak majalah sain di Barat.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:
‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam.

Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini. Selain itu, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.

Makkah atau Greenwich?
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit, maka benar-benar diyakini bahwa Kota Suci Makkah, bukan Greenwich, yang seharusnya dijadikan rujukan waktu dunia. Hal ini akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade yang lalu.

Ada banyak argumentasi ilmiah untuk membuktikan bahwa Makkah merupakan wilayah nol bujur sangkar yang melalui kota suci tersebut, dan ia tidak melewati Greenwich di Inggris. GMT dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Jika waktu Makkah yang diterapkan, maka mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit
Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33)

Kata aqthar adalah bentuk jamak dari kata ‘qutr’ yang berarti diameter, dan ia mengacu pada langit dan bumi yang mempunyai banyak diameter.

Dari ayat ini dan dari beberapa hadits dapat dipahami bahwa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Makkah berada di tengah-tengah bumi, maka itu berarti bahwa Makkah juga berada di tengah-tengah lapisan-lapisan langit.

Selain itu ada hadits yang mengatakan bahwa Masjidil Haram di Makkah, tempat Ka‘bah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh bumi (maksudnya tujuh lapisan pembentuk bumi).

[Sumber: Kaskus]


KA'BAH ADALAH PUSAT BUMI, TERBUKTI SECARA SAINTIFIK!

Saturday, January 21, 2012

Ka'bah, Antara "Maqam" dan "Makam" Nabi Ibrahim As Saturday, January 21, 2012


Dua orang Indonesia pernah hampir bertengkar tatkala mereka berbeda persepsi tentang monumen yang terletak di depan ka'bah. Apakah itu "maqam Ibrahim" atau "makam Ibrahim"?

Kalau diteruskan, mungkin, mereka akan berbunuhan tatkala berbincang tentang "nafsu" dalam makna yang satu, dan "nafsu" dalam makna yang lain lagi.

Apa pasal? Ternyata mereka terjebak pada perbedaan makna kata yang mirip bunyinya dan berlaku secara luas, mentang-mentang sama-sama tak pernah kuliah di linguistik. Terlebih lagi, kata-kata itu merupakan bagian dari kajian nilai-nilai keislaman. Sehingga rasanya tidak ada salahnya jika kita kupas sedikit permasalahan perbedaan itu.

"Maqam" dan "Makam" sama bunyinya, namun tak sama maknanya. Para pihak bersitegang berpegang pada definisi masing-masing. Akibatnya, mereka pun bertengkar!

Pasti akan lebih parah lagi, seandainya saja mereka berdiskusi tentang "nafsu", sambil "bernapsu" pula. Bisa-bisa mereka benar-benar akan berbunuhan. Saya tak paham apakah itu karena bawaan bangsa ini memang senang bertengkar atau kita ini bangsa yang sudah sangat kaya dengan kosa kata.

"Maqam" berasal dari bahasa Al Quran yang berarti tempat berpijak, atau biasa juga dipakai sebagai tempat berdiri untuk menggapai tempat yang lebih tinggi. Misalnya, saya mau memasang lampu di kamar. Karena saya pendek, maka saya ambil sebuah bangku. Bangku itu adalah maqam saya. Kaum sufi menggunakan istilah maqam untuk menamai tahapan pencapaian kualitas ruhani. Mereka biasa mengatakan, "Perjalanan ruhani akan melewati tujuh maqam." Nah, yang di depan ka'bah itu adalah maqam Ibrahim, bukan makamnya, karena ia adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim ketika meninggikan ka'bah.

Kata, "makam" dalam bahasa kita bermakna kuburan.
Makam wali-wali, misalnya, jangan diartikan sebagai level kerohanian para wali seperti muraqabah, musyahadah, dll. Makam para wali adalah kuburan wali-wali, tempat jenazah para wali ditempatkan selepas kewafatannya. Ziarah makam wali-wali sangat dianjurkan oleh tokoh-tokoh sufi untuk mengingati mati.

Kita tahu bahwa Nabi Ibrahim wafat di Pelestina dan dikuburkan di sana. Jadi, makam Nabi Ibrahim ada di Palestina, bukan di Makkah!

Lalu, yang diributkan itu sebetulnya apa? Perhatikan video di bawah ini.

MAQAM NABI IBRAHIM Alayhi Salam



Kita lanjutkan sedikit lagi. Bagaimana dengan nafsu?
"Nafsu", dalam bahasa Arab dan juga dalam bahasa Al Quran, diartikan sebagai jiwa (soul), sesuatu yang immaterial yang terdapat dalam tubuh manusia yang di dalamnya terdapat berbagai daya.

"Nafsu" dalam pengertian ini tidak boleh dibunuh. Membunuh nafsu sama artinya dengan membunuh diri. Tapi, nafsu, dalam bahasa Indonesia, dipahami sebagai birahi, dan cendrung berkonotasi negatif. Orang Indonesia sangat jijik melihat orang yang selalu "bernafsu". Siapa yang berani mengatakan, "Pak SBY, misalnya, "memimpin dengan nafsu?"

Al Quran sendiri tidak pernah menggunakan kata "nafsu" untuk menggambarkan birahi manusia, tetapi menggunakan kata "hawa". Kalau kita gunakan kata "hawa" memaknai birahi, orang Indonesia akan berpikir bahwa yang kita maksud adalah "rasa pada kulit", seperti kita sering menyebut "Bandung berhawa dingin". Nanti, orang-orang akan mengelompokkan "hawa nafsu" bersama-sama dengan "hawa dingin", "hawa panas", "hawa sejuk", dlsb.

Itu baru dua contoh kepusingan yang saya sebutkan. Silakan cari contoh-contoh lain yang sering membuat orang keliru memahami terminologi Al Quran menggunakan terminologi lokal. Kepusingan itu terjadi ketika terminologi Al Quran diterjemahkan bulat-bulat ke dalam kosa kata Bahasa Indonesia yang mirip bunyinya, atau tulisannya, seperti kedua contoh di atas. Kosa bahasa Indonesia yang dipilih itu sering sudah terlanjur didefiniskan berbeda dengan maksud yang diinginkan.

Coba juga kita perhatikan, jangan-jangan ada beda antara 'taqwa' (bahasa Al Quran) dan 'takwa' (bahasa Indonesia), 'ikhlas' (bahasa Al Quran) dan 'ikhlas' (bahasa Indonesia), 'tafakur' (bahasa Al Quran) dan 'tafakur' (bahasa Indonesia), 'sabar' (bahasa Al Quran) dan 'sabar' (bahasa Indonesia). Saya belum cek dengan baik. Coba buka Al Quran dan buka pula kamus Bahasa Indonesia. Jangan-jangan, pasangan-pasangan kata itu saling berbeda makna.

Contoh kata yang juga sering disalahartikan adalah kata "pahit" dalam kalimat ini; "Sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit."

Coba renungkan, apakah "pahit" yang dimaksud di situ adalah pahit bagi si pendengar sehingga pendengar itu harus demam dua hari dua malam ketika penyampaian itu menyakitkannya? Ataukah "pahit" itu sejatinya pahit bagi si pembicara, sehingga ia mesti bermujahadah sebelum berbicara? 

Wallahu a'lam.
Bagaimana pendapat Anda?

[Dari Mas Jufran Helmi]


Thursday, September 29, 2011

Siapa Bilang Umat Islam Menyembah Ka'bah? Thursday, September 29, 2011


Banyak kalangan di luar Islam yang tidak mengerti apa-apa tenang Islam, atau mengerti serba sedikit tapi sama sekali yang tidak faham tentang konsep ketuhanan dalam ajaran Islam kerapkali melontarkan tuduhan bahwa umat Islam menyembah ka’bah dan batu hitam bernama Hajar Aswad.

Dalam forum-forum dialog lintas agama, khususnya antara umat Kristen dan umat Islam, issue ini termasuk salahsatu dari sekian topik yang paling sering diangkat oleh umat kristen dengan tujuan mengolok-olok ritual ibadah umat muslim.

Semua orang tahu bahwa Hajar Adswad hanya sebuah batu
Dikisahkan, Umar bin Khathab, sahabat Rasulullah saw yang kemudian diangkat menjadi Khalifah umat muslim berkata, “Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” [HR. Bukhari]

Ka’bah hanyalah benda mati, ia hanya dijadikan oleh Allah Jalla wa ‘Ala sebagai kiblat umat muslim dalam ibadah khususnya shalat dan haji. Perkataan atau ucapan kaum jahil ini hanya didasari oleh apa yang mereka lihat, yakni kaum muslimin ketika shalat menghadap ke arah ka’bah, lalu mereka pun berkesimpulan: umat Islam menyembah ka’bah.

Terhadap ucapan jelek mereka ini kita jawab: Sesungguhnya umat Islam hanya menjadikan Ka’bah sebagai arah hadap dalam menyembah Allah, bukan menyembah ka’bah sebagaimana firman Allah Subhanallah Ta’ala:
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

“Hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan, Allah ta’ala, Tuhan Yang memiliki Rumah ini, Yang memiliki Ka’bah.” (QS. Quraisy:3)

Ayat di atas bermakna dan mempunyai pengertian bahwa baitullah (ka’bah) adalah milik Allah, dan Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk menyembah Sang Pemilik Ka’bah. Bukan ka'bah-Nya!

Ka’bah sendiri berarti kubus persegi empat yang dalamnya kosong, tidak ada apa-apanya. Adapun Hajar Aswad berada di salkahsatu sudut di luar ka’bah, bukan ditengah-tengah ka’bah. Sedangkan fungsi Ka’bah adalah sebagai arah hadap, sesuai dengan arti kata qiblat itu sendiri, yaitu arah hadap.

Dapat dibayangkan seandainya umat Islam tidak memiliki arah qiblat yang tetap, maka bagaimanakah shalat jama’ah mereka? Sang Imam ingin menghadap ke utara, namun mungkin makmumnya ada yang ingin menghadap ke selatan, barat, atau utara. Maka berantakanlah shalat mereka semua!

Supaya umat Islam selalu berada dalam satu kesatuan yang rapih, teratur, dan kokoh setiap saat menyembah Allah Subhanallah Ta’ala, maka Allah Subhanallah Ta’ala menetapkan arah qiblat. Jadi, ini bukan berarti umat Islam menyembah Ka’bah, walaupun ketika shalat mereka menghadap ka’bah. Kenapa? Sekali lagi, karena umat Islam hanya menjadikan ka’bah sebagai patokan arah menghadap.

Adapun yang namanya patokan arah, tentu saja tidak akan sempurna jika tidak terlihat mata. Maka dibangun (kembali) lah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ka’bah sebagai patokan arah, supaya orang melihat; ke arah sana, ke arah ka’bah hendaknya kaum muslimin di seluruh dunia menyatukan arah.

Umat muslimin diperintahkan beribadah menghadap ke arah yang sama dengan satu patok yang sama, yaitu ka’bah. Bukti kalau umat Islam tidak menyembah ka’bah yaitu sebelum umat Islam menyembah Allah Subhanallah Ta’ala dengan menghadap ke arah ka’bah, lebih dahulu Allah Subhanallah Ta’ala memerintahkan mereka menghadap ke arah Baitul Maqdis. Jadi umat Islam generasi awal diperintah menyembah Allah Subhanallah Ta’ala dengan menghadap kearah Baitul Maqdis yang ada di Palestina. Ini pada masa-masa awal perkembangan Islam sampai kemudian turun perintah berikut sebagai akibat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dicemooh oleh orang-orang Yahudi yang berkata: "Lihatlah orang-orang Islam, mereka mengikuti qiblat kami!”

Karena umat Islam pada masa awal shalat dengan menghadap ke Yerussalem, menghadap ke Baitul-Maqdisdi Palestina, maka ini mengundang cemoohan orang-orang Yahudi. Ini membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihiwa sallam berkali-kali memohon kepada Alloh: Ya Allah, Ya Allah. Meminta agar dipalingkan, dikembalikan qiblatnya, arah hadapnya ke Baitullah, ke Ka’bah, ke Masjidil-Haram.

Andaikata umat Islam, Rasulullah dan kaum muslimin menyembah ka’bah, tidak perlu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwa sallam memohon kepada Allah, bahkan berkali-kali agar dapat dihadapkan kembali ke MasjidilHaram, sebagaimana pada zaman Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas-salaam. Sampai akhirnya Allah Subhanallah Ta’ala berfirman:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِيالسَّمَاءِ

“Kami sering melihatmu, kata Allah Subhanallah Ta’ala : Kami sering melihatmu membolak-balikkan wajahmu ke langit, ”

Apa artinya? Kami sering melihatmu hai Muhammad – shallallahu ‘alaihiwa sallam – membolak-balikkan wajahmu ke langit,yaitu memohon kepada Allah. Ini, Rasul harus memohon berkali-kali agar bisa dihadapkan kembali ke Masjidil Haram. Andaikata Rasul menyembah ka’bah, umat Islam menyembah ka’bah, tidak perlu memohon kepada Allah Subhanallah Ta’ala agar dipindahkan arah qiblatnya ke Baitullah.

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Maka sekarang hadapkanlah wajahmu ke arah mana, qiblat mana yang kamu ridhoi.”

Allah mengabulkan permohonan Nabi setelah beliau berulang-ulang memohon kepada Allah

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِالْحَرَامِ

“Maka sekarang hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Allah Subhanallah Ta’ala memerintahkan kaum muslim untuk menghadapkan diri dalam beribadah kearah Masjidil Haram, dan Ingat bahwa Allah tidak pernah menyuruh umatnya untuk menyembah Ka’bah, hanya menghadap. Hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Jadi terbukti bahwa Ka’bah hanya sebagai arah hadap kaum muslim untuk menyembah Allah Subhanallah Ta’ala. Bukti lain bahwa Ka’bah hanya sebagai arah hadap kaum muslim dalam beribadah ialah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya pernah melakukan ibadah shalat di dalam Ka’bah.
Dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihiwa sallam: Rasul masuk ke dalam Ka’bah, lalu menjadikan pintu Ka’bah di belakang punggungnya, yang artinya, berarti Hajar Aswad ada pula di belakang sebelah kiri beliau. Lalu beliau shalat di dalam Ka’bah dengan menghadap ke arah mana beliau menghadap, yaitu ke arah depan, yaitu sejarak 3 hasta dari depan, 3 hasta dari tembok depan, kemudian Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam berhenti dan shalat di situ. Demikian pula para shahabat Nabi, mereka shalat di beberapa pojokan-pojokan Ka’bah. Dan ini tidak menjadi masalah. Ke arah mana pun mereka menghadap ketika mereka di dalam Ka’bah, mereka ada di arah qiblat. Sehingga ke mana pun mereka menghadap, tidak masalah.
Ka’bah adalah ruang kosong, sehingga shalat di dalam Ka’bah berarti ia shalat persis di arah Ka’bah, atau di arah qiblat. Ini menjadi dalil bahwasanya kaum muslimin tidak menyembah Ka’bah, karena boleh saja umat Islam shalat di dalam Ka’bah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan shahabatnya.

Andaikata kita, Nabi, dan kaum muslimin di seluruh dunia menyembah Ka’bah, tentu saja mereka tidak boleh shalat di dalam Ka’bah.

Begitu pula Rasulullah SAW melarang para shahabat Nabi bersumpah dengan mengatakan: WAL-KA’BAH “Demi Ka’bah.” Rasul melarang dan menggantinya dengan kata WA ROBBIL-KA’BAH “Demi Tuhan Yang memiliki Ka’bah!” Karena tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah Subhanallah Ta’ala.

Ka’bah adalah qiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat lagi bahwa walaupun menghadap Ka’bah dalam shalat, umat Islam tidak menyembah Ka’bah. Kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka’bah atau mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Allah-lah yang memerintahkan kaum muslim untuk menyembah-Nya dengan cara seperti itu.

Islam menghendaki persatuan
Ketika kaum muslimin hendak menunaikan shalat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan. Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah maka kaum muslimin di mana pun berada diperintahkan untuk hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka’bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka’bah, mereka shalat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka’bah, mereka menghadap barat.

Ka’bah adalah pusat peta dunia
Kaum muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka’bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, Alhamdulillah, Ka’bah tetap saja terletak di tengah-tengah peta mereka.

Tawaf keliling Ka’bah untuk menunjukkan keesaan Allah
Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka’bah. Ritual ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.

Pada zaman Nabi Orang berdiri di atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan
Orang bahkan berdiri di atas Ka’bah untuk mengumandangkan adzan. Bisa ditanyakan kepada mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka’bah; penyembah berhala mana yang berdiri di atas berhala sesembahannya?

Berikut hadis pendukung bahwa Ka’bah hanya berfungsi sebagai arah kiblat dan pemersatu umat Islam:

  1. Al-Barra’ mengatakan bahwa ketika Nabi SAW. pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kaum Anshar. Beliau melakukan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya menghadap ke Baitullah. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin menghadap ke Ka’bah 1/104). Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah shalat ashar, dan orang-orang pun mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau, lalu melewati orang-orang di masjid [dari kalangan Anshar masih shalat ashar dengan menghadap Baitul Maqdis] dan ketika itu mereka sedang ruku. Lalu laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku telah selesai melakukan shalat bersama Rasulullah saw dengan menghadap ke Mekah.” Maka, berputarlah mereka sebagaimana adanya itu menghadap ke arah Baitullah [sambil ruku 8/134], [sehingga mereka semua menghadap ke arah Baitullah]. Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw. shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit." Lalu, beliau menghadap ke arah Ka'bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, "Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" (Surat al-Baqarah - 143)].
  2. Abdullah bin Umar berkata, “Pada waktu orang-orang sedang melakukan shalat subuh di Quba’, tiba-tiba mereka didatangi seseorang (untuk menyampaikan berita). Orang itu berkata, ‘Sesungguhnya, malam tadi telah diturunkan kepada Rasulullah saw. Al-Qur’an (yakni wahyu). Beliau diperintahkan shalat menghadap ke Kabah. [Maka ingatlah, menghadaplah kalian ke Kabah! 5/152].’ Mereka lalu menghadap ke Ka’bah, padahal waktu itu wajah mereka sedang menghadap ke Syam. Mereka lalu menghadapkan wajahnya ke Ka’bah.

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan Insya Allah, semakin menambah tingkat iman dan taqwa setiap muslim hanya kepada Allah Subhanallah Ta’ala.

Amin Ya Rabbal Alamin.

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Monday, September 19, 2011

Hajar Aswad, Ada Apa Dengannya? Monday, September 19, 2011


Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka’bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka’bah.

Umar bin Khatab berkata “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu”

Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan."  (QS. An-Najm : 53) 

Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka’bah) dan para ahli dari musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

TEORI BLACK HOLE
Black hole atau "lubang hitam" dikemukakan lebih dari 200 tahun yang lalu, yakni pada 1783, saat ilmuwan John Mitchell mencetuskan teori mengenai kemungkinan wujudnya sebuah lubang hitam setelah beliau meneliti dan mengkaji teori gravitas Isaac Newton.

Istilah “lubang hitam”  pertama kali digunakan oleh ahli fisika Amerika Serikat, John Archibald Wheeler pada 1968. Wheeler memberi nama demikian karena lubang hitam tidak dapat dilihat, karena cahaya turut tertarik ke dalam nya sehingga kawasan di sekitarnya menjadi gelap.

CARA KERJANYA

Massa dari lubang hitam terus bertambah dengan cara menangkap semua materi didekatnya. Semua materi tidak bisa lari dari jeratan lubang hitam jika melintas terlalu dekat. Jadi obyek yang tidak bisa menjaga jarak yang aman dari lubang hitam akan tersedot. Berlainan dengan reputasi yang disandangnya saat ini yang menyatakan bahwa lubang hitam dapat menyedot apa saja disekitarnya, lubang hitam tidak dapat menyedot material yang jaraknya sangat jauh dari dirinya. dia hanya bisa menarik materi yang lewat sangat dekat dengannya.

Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka’bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda: “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam."  [Jami al-Tirmidzi al-Hajj No. 877]

Jadi berdasarkan Hadist tersebut Hajjar Aswad menyerap dosa-dosa manusia yang pernah menyentuhnya dan akan menjadi saksi di akhirat nantinya. Hal ini memiliki kesamaan sifat dari Black Hole di Alam Semesta.
"Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan Kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran”. (QS. Anfusilat: 53)
Radiasi dari Ka’bah ini tak dapat diketahui tanpa pesawat antariksa abad 20. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an berasal dari ALLAH, dan bukti bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat sepanjang masa. Karena banyak ayat-ayat yang baru dapat dibuktikan oleh teknologi mutakhir, sesuai dengan zaman dan kemajuan peradaban umat manusia sendiri.
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. " (QS. 4 An-Nisaa’:82)

Demikian, semoga bermanfaat!

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Sunday, April 3, 2011

Mengapa Kiblat Umat Muslim Menghadap Ka'bah? Sunday, April 3, 2011

Di salahsatu forum diskusi lintas agama, seorang debater kristen mengajukan serentetan pertanyaan menyangkut keberadaan Ka'bah.

Saya coba merespons dengan menautkan beberapa links yang tersedia dalam DAFTAR ARTIKEL PILIHAN CAH BAGUS yang saya anggap sudah menjawab seluruh pertanyaannya. Namun ternyata ada beberapa di antaranya yang menurut sang debater masih belum terjawab, khususnya ini:

Tahun berapa Nabi Muhammad pertama kali Sholat?
Apakah pertama kali Sholat Nabi Muhamd berkiblat ke ka'bah? Kalau tidak kenapa?
Lalu, kenapa arah kiblat dipindahkan? Tahun berapa kiblat di pindahkan?

Untuk itu, mari sama-sama kita simak sedikit catatan berikut ini:

Perihal tahun berapa Nabi Muhammad pertama kali melaksanakan shalat, sebenarnya perlu ditegaskan lebih dulu; shalat mana yang dimaksud? Yang biasa beliau lakukan sebelum peristiwa Isra' Mi'raj atau setelahnya?

Perlu diketahui bahwa sebenarnya pada tahun pertama masa kerasulan Nabi Muhammad saw, yakni tahun 611 M sudah ada perintah shalat wajib yaitu shalat Lail, dan shalat lima waktu sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Muzammil yang turun pada tahun pertama kerasulan beliau:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ  اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلاً

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, 
"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk sembahyang di malam hari, kecuali sedikit daripadanya," (QS. Al-Muzammil [73]:1-2) :: Baca selengkapnya di sini.

Dan sabda Rasulullah saw:
"Awalnya sesuatu yang difardhukan oleh Allah Ta'ala atas umatku ialah shalat lima (waktu) dan awalnya sesuatu yang dinaikkan dari amal mereka adalah shalat lima (waktu) dan awalnya sesuatu yang ditanyakan ialah tentang shalat lima (waktu)". [Kitab Jamiush Shaghir jilid I bab huruf Alif halaman 195]

Dengan demikian, pertanyaan pada tahun berapa pertama kali Nabi Muhammad saw melaksanakan shalat, jawabannya adalah pada tahun 611 M

Ke arah manakah kiblat pada masa itu?
Pada mulanya, kiblat memang mengarah ke Yerusalem. Menurut Ibnu Katsir, Rasulullah SAW dan para sahabat shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka shalat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah. Oleh karena itu beliau sering shalat di antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri beliau dan Baitul Maqdis. Dengan demikian beliau shalat sekaligus menghadap Ka'bah dan Baitul Maqdis.

Setelah hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak mungkin lagi. Ia shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Ia sering menengadahkan kepalanya ke langit menanti wahyu turun agar Ka'bah dijadikan kiblat shalat. Allah pun mengabulkan keinginan beliau dengan menurunkan ayat 144 dari Surat al-Baqarah:
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah2]:144)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sering melihat ke langit sambil berdoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.

Juga diceritakan dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari:

Dari al-Bara bin Azib, bahwasanya Nabi SAW pertama tiba di Madinah beliau turun di rumah kakek-kakek atau paman-paman dari Anshar. Dan bahwasanya beliau shalat menghadap Baitul Maqdis enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau senang kiblatnya dijadikan menghadap Baitullah. Dan shalat pertama beliau dengan menghadap Baitullah adalah shalat Ashar dimana orang-orang turut shalat (bermakmum) bersama beliau. Seusai shalat, seorang lelaki yang ikut shalat bersama beliau pergi kemudian melewati orang-orang di suatu masjid sedang ruku. Lantas dia berkata: "Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah shalat bersama Rasulullah SAW dengan menghadap Makkah." Merekapun dalam keadaan demikian (ruku) mengubah kiblat menghadap Baitullah. Dan orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab senang beliau shalat menghadap Baitul Maqdis. Setelah beliau memalingkan wajahnya ke Baitullah, mereka mengingkari hal itu. Sesungguhnya sementara orang meninggal dan terbunuh sebelum berpindahnya kiblat, sehingga kami tidak tahu apa yang akan kami katakan tentang mereka. Kemudian Allah yang Maha Tinggi menurunkan ayat "dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu" (Al-Baqarah, 2:143).

Hal di atas terjadi pada tahun 624 M. Artinya, dengan turunnya ayat tersebut, maka arah kiblat diganti menjadi menghadap ke Ka'bah di Mekkah. Selain menjadi arah menghadap shalat, kiblat juga merupakan arah kepala hewan yang disembelih, juga arah kepala jenazah yang dimakamkan.

PENENTUAN ARAH KIBLAT

Dalam 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom Muslim seperti Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada tepat di atas Ka'bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.

Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain dimana matahari tepat di "balik" Ka'bah (antipoda), dimana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka'bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB)

[Sumber: wikipedia]

Saturday, January 8, 2011

Tuduhan Keliru Seputar Ka'bah Saturday, January 8, 2011


Di forum-forum seperti FaithFreedom.org dan forum-forum lainya, umat non-muslim, khususnya kristen, sering melecehkan ajaran Islam dalam rangka mencari kebenaran di antara sekian banyak kesalahan dalam agamanya sendiri. Padahal merekalah sesungguhnya yang disebut oleh Tuhan sebagai orang-orang yang merugi.

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan di terima agama itu dari padanya, dan di akherat dia termasuk orang-orang yang merugi". (QS. Ali Imran: 85)

"Sesungguhnya Agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam." (QS. Ali Imran:19)

UMAT KRISTEN KERAPKALI MENUDUH BAHWA ISLAM PENYEMBAH BERHALA, BATU HAJAR ASWAD ADALAH BERHALA ATAU TUHAN ISLAM, KEMUDIAN MEREKA MEMFITNAH PULA BAHWA HAJAR ASWAD ADALAH MANTAN PUTERI ALLAH, DAN LAIN SEBAGAINYA.

Jawaban untuk semua tuduhan itu sesungguhnya sederhana saja;
DAPATKAH ANDA TUNJUKKAN BUKTI, AYAT AL-QUR’AN MANA YANG MENDUKUNG ANGGAPAN SEPERTI ITU?

Ini pernyataan yang konyol, bahkan sangat bodoh. Jika kristen mengklaim bahwa agama yang mereka imani adalah agama lurus dari YHWH melalui Ibrahim, lalu mengapa mengatakan Hajar Aswad seperti itu? Padahal Ibrahimlah yang meletakan batu itu di Baitullah atau Kabbah [Lihat WIKPEDIA: Hajar Aswad].

Di dalam alkitab sendiri disebutkan mengenai batu dan Baitullah (Rumah Allah) ini
[Taurat, Kejadian 28:16-18] Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya ALLAH ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya. Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil “batu” yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya.

Ini adalah firman Tuhan dalam alkitab. Apakah umat Kristen sengaja MENGINGKARI AYAT INI? Sedangkan tentang batu Itu sendiri, seharusnya anda tahu bahwa tidak lain adalah Hajar Aswad!

[Keluaran 20:24-25] "Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau. Tetapi jika engkau membuat bagi-Ku mezbah dari batu, maka jangan engkau mendirikannya dari batu pahat, sebab apabila engkau mengerjakannya dengan beliung, maka engkau melanggar kekudusannya."

Seperti kita ketahui, sama seperti pendahulunya di tempat lain, Nabi Muhammad saw juga menghancurkan ratusan PATUNG BERHALA (batu pahatan) di Mekkah, kecuali Hajar Aswad yang sama sekali bukan hasil pahatan.

Dengan merujuk kepada Alkitab anda sendiri, maka tindakan nabi Muhammad saw itu dapat dipahami, karena Alkitab juga sudah menjelaskan makna dari batu itu sebagai bukti kepatuhan para nabi pada perintah Tuhan. Jadi, batu Hajar Aswad yang juga disebut-sebut dalam alkitab memang bukan batu sembarangan dalam konteks penguji keimanan umat manusia kepada perintah Tuhan!

KONSEP KETUHANAN ISLAM
Di dalam surah Al-Ikhlas ayat empat disebutkan bahwa TIDAK ADA YANG SETARA DENGAN DIA.

Dengan demikian, sangat jelas ditegaskan bahwa MEMANG tidak ada yang setara dengan Tuhan, apalagi batu Hajar Aswad yang selama ini anda permasalahkan!

KABBAH, HAJI, dan QURBAN
Tahukah anda bahwa di dalam kitab kristen ada disebutkan tentang Rumah Allah, tentang Baitullah, tentang tempat berdoa, tentang Haji, Dan tentang Kabbah?

Di dalam Al-Qur’an disebutkan: "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia." (QS. Ali-Imran: 96)

Di dalam kitab Perjanjian Lama kristen ada tertulis: "Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi." (Ulangan 12:5)

Ini adalah perintah Tuhan kepada manusia untuk pergi Ke Baitullah, Rumah Allah, guna menegakan nama-Nya seperti ritual Haji yang dilaksanakan oleh umati Islam. ALLAH HU AKBAR!

[Ulangan 12:11] "Maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN."

Dan tempat yang dipilih Tuhan adalah Mekkah, Kabbah, Baitullah Rumah Allah. Sedangkan korban sembelihan adalah hewan-hewan qurban, sama seperti yang dilakukan oleh umat Islam.

[Ulangan 12:14] "Tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan korban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu."

Makna ayat ini SAMA seperti di atas.

[Ulangan 12:21] "Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan nama-Nya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu."

Makna ayat ini juga SAMA seperti di atas.

Ayat-ayat di atas, mirip dengan praktik ritual haji dan penyembelihan hewan kurban dalam idul adha atau lebaran haji dalam ajaran Islam, dimana para jemaah haji di mekkah akan menyembelih kurban setelah selesai melaksanakan ritual haji. Di antaranya, bagi yang tidak (dapat) pergi ziarah, dapat menyembelih hewan kurban di mana saja mereka berada.

Dalam alkitab dapat juga kita temui petunjuk yang menyebutkan cara ritual haji seperti yang dilakukan umat muslim di mekkah, yaitu berwudhu atau bersuci, lalu berjalan mengelilingi Ka'bah (rumah-mezbah) Allah:

[Mazmur 26:6] Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN.

Rumah Tuhan yang pertama dicatat dalam Alquran adalah di Bakkah, nama kuno bagi Mekkah:

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia" (QS. Ali-Imran:96)

Hal ini telah lebih dulu diketahui oleh umat sebelumnya melalui Mazmur 84:5-7

[5] "Berbahagialah segala orang yang boleh duduk dalam rumah-Mu serta memuji akan Dikau senantiasa."
[6] "Berbahagialah orang yang kuatnya adalah dalam Engkau, dan hatinya adalah pada jalan raya (ziarah) ke kaabah-Mu".
[7] "Apabila mereka itu melalui lembah Baka mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air, bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat."

(Catatan: ayat-ayat di atas diterjemahkan dari alkitab 'The New International Version' karena berbeda dalam terjemahan bahasa Indonesia)

Jika kristen adalah agama Tauhid atau agama Allah, mengapa menimani TRINITAS?
  • Musa mengajarkan Tauhid, Taurat, menyembah kepada Tuhan Yang Esa
  • Abraham mengajarkan Tauhid, Taurat, menyembah kepada Tuhan Yang Esa
  • Muhammad Saw, mengajarkan Tauhid, menyembah kepada Tuhan Yang Esa
  • Kristen? Mengajarkan TRINITAS, a.k.a Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.
Padahal dalam kitab mereka sendiri tegas-tegas Tuhan telah berfirman:

[Yesaya 43:10] "Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. "

Perhatikanlah, ayat di atas adalah FIRMAN TUHAN. Bukan UCAPAN MANUSIA yang mengaku-ngaku sebagai rasul!

SEBELUM AKU tidak ada Allah dibentuk, dan SESUDAH AKU tidak akan ada lagi!

Bagi umat Kristen yang benar-benar mengasihi Tuhan dengan segenap akal budinya (Baca lagi baik-baik MAT 22:37; MARK 12:30; dn LUK 10:27), apakah ayat di atas masih kurang jelas? Apakah anda memang diajar dan belajar untuk selalu menghianati ayat-ayat Tuhan dalam kitab anda sendiri?

Siapa pun dapat melihat dengan terang bahwa Yesaya 43:10 sangat jelas menuliskan PERNYATAAN Tuhan bahwa sebelum DIA tiada Tuhan dibentuk, dan sesudah DIA tidak ada lagi tuhan!

Lantas, kenapa Yesus dianggap sebagai anak Tuhan, bahkan sebagai Tuhan itu sendiri? Bukankah Yesus datang SETELAH ada Tuhan? Demikian pula Roh Kudus, bahkan yang disebut belakangan ini baru diakui sebagai oknum Tuhan hampir 4 abad setelah kepergian Yesus?

Kenapa anda membuat PERNYATAAN sendiri yang jelas-jelas MELAWAN PERNYATAAN Tuhan dengan menganggap TRINITAS sebagai TIGA oknum Tuhan yang sebenarnya menurut Tuhan hanya SATU?

Lalu, bagaimana pula dengan klaim anda sendiri seperti dikuatkan dalam kitab Wahyu 22:13 bahwa Tuhan adalah Alpha-Omega, atau DIA yang tidak berawal dan tidak berakhir? Kenapa ayat ini pun anda buat jadi jungkir-balik antara anda akui dan anda pungkiri?

Dalam Al-Qur'an, PERNYATAAN Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 22:13 di atas sangat jelas dan tegas, dan rata-rata umat Islam kaffah lebih memilih mati daripada menolak untuk mengimani bahwa Allah tidak berawal dan tidak berakhir!

"Dialah Yang Awal dan yang Akhir, yang tampak dan Yang Tersembunyi, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3)
Jadi, KESIMPULAN dari sekian banyak pertanyaan di atas adalah: Umat manakah yang terbukti dengan KONSISTEN melaksanakan perintah Tuhan melalui ajaran nabi-nabi Allah terdahulu hingga akhirnya disempurnakan dan ditutup melalui ajaran nabi terakhir Allah?
Bagi anda yang merasa diri sebagai pengikut Yesus, silahkan baca lagi tulisan ini baik-baik, lalu renungkan dan fikirkanlah pesan moral yang terkandung di dalamnya dengan merujuk pada ayat-ayat Matius 22:37; Markus 12:30; dan Lukas 10:27.

Semoga Tuhan memberi anda hidayah untuk mengerti Konsep Ketuhanan Yang Hakiki sebagaimana selama hidupnya telah diajarkan oleh Yesus kepada pengikut sejatinya!

Contact Form

Name

Email *

Message *