Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Habluminallah. Show all posts
Showing posts with label Habluminallah. Show all posts

Saturday, July 13, 2013

Sejarah Shalat Umat Islam Saturday, July 13, 2013

Allah telah berfirman: 
“Dirikanlah shalat, sungguh ini merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisaa’: 103-104)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu; Berbuatlah kebaikan supaya kamu mendapatkan kemenangan” (QS. Al-Hajj: 77) 
Istilah shalat berasal dari kata kerja “Shalaah” yang menyatakan suatu perbuatan dan orang yang melakukan  disebut Mushallin, sementara pusat tempat melakukannya disebut Mushala.

Shalat merupakan suatu perbuatan memuliakan Allah yang menjadi suatu tanda syukur kaum muslimin sebagai seorang hamba dengan gerakan dan bacaan yang telah diatur khusus oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak boleh diubah kecuali ada ketentuan-ketentuan yang memperbolehkannya.

Dalam kitab suci Al-Qur’an tidak menjelaskan secara detail sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan shalat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Meski demikian Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa shalat sudah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, seperti perintah shalat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya, kepada Nabi Syu’aib, kepada Nabi Musa dan kepada Nabi Isa al-Masih. 

Pernyataan Al-Qur’an tersebut dibenarkan oleh cerita-cerita yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang mengisahkan tata cara beribadah para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu ada berdiri, ruku’ dan sujud, yang jika dirangkai maka menjadi shalat seperti shalat umat Islam dewasa ini.

[Keluaran 34:8] “Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah.“ 
[Mazmur 95:6] “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.”  
[Yosua 5:14] “Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah.” 
[Lukas 22:41] “Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa." 
[Markus 14:35] “Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa.” 

Dari pernyataan ini, maka jelas bagi sipa pun bahwa shalat umat Islam pda hakekatnya sudah menjadi bagian dari tradisi dan ajaran yang baku dari semua Nabi dan Rasul Allah sepanjang zaman sebagaimana firman-Nya: “Demikianlah hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu”. (QS. Al-Fath: 23)

Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW mengarungi angkasa raya yang disebut dengan istilah Isra’ dan Mi’raj, menceritakan awal diperintahkannya shalat kepada Nabi Muhammad. Dan juga terdapat dalam beberapa hadist yang dinyatakan shahih atau valid oleh sejumlah ulama besar.

Menurut hadist, Isra’ dan Mi’raj terjadi sewaktu Khadijah, istri pertama Rasulullah wafat. Peristiwa ini justru menjadi salah satu hiburan bagi Nabi yang baru ditinggalkan oleh sang istri tercinta dan juga paman beliau Abu Thalib, dan tahun ini disebut dengan tahun duka cita atau aamul ilzam. 

Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jauh sebelum terjadinya Isra’ dan mi’raj, Nabi Muhammad dipercaya telah melakukan shalat berjamaah dengan Khodijah sebagaimana yang pernah dilihat dan ditanyakan oleh ali bin abu Tholib yang waktu itu masih remaja.

Artinya perintah shalat telah diterima oleh Nabi Muhammad SAW sebelum beliau Isra’ Mi’raj, bahkan jauh sebelum itu. 

Secara objektif  ayat Al-Qur’an yang menceritakan mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj sama sekali tidak menyinggung tentang adanya perintah shalat kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’: 1) 

Dan juga dalam firman-Nya: 

“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada wakyu yang lain, yaitu Sidratulmuntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal,(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatan (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm: 13-18). 

Kedua surah tersebut hanya menekankan kisah perjalanan Nabi dalam rangka menunjukkan kepada beliau sebagian dari kebesaran Allah di alam semesta sekaligus merupakan kedua kalinya bagi Nabi melihat wujud asli dari malaikat Jibril setelah sebelumnya, beliau pernah melihat wujud asli malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu pertama dari Allah di gua Hira.

Selain itu, di luar hadist Isra’ dan Mi’raj yang menggambarkan Nabi memperoleh perintah shalat pada peristiwa tersebut, Imam Muslim dalam musnadnya meriwayatkan sebuah hadist lain yang sama sekali tidak berhubungan dangan cerita Mi’raj, namun disana menjelaskan bagaimana Nabi mempelajari tata-cara shalat dari malaikat Jibril.

Dari Ibnu Mas’ud r. a . Rasulullah bersabda:” Turun jibril, lalu dia menjadi imam bagiku dan aku shalat bersamanya, kemudian aku shalat bersamanya, lalu aku shalat bersamanya dan aku shalat bersamanya, Nabi menghitung dengan lima anak jarinya”. [Hadist Riwayat Muslim].

SHALAT ADALAH PERJANJIAN ANTARA ALLAH DENGAN PARA NABI 
Allah telah mengadakan perjanjian dari para nabi-nabi terdahulu mengenai akan datangnya seorang Rasul yang membenarkan ajaran mereka sebelumnya, lalu terdapat perintah tersirat agar mereka menyampaikan kepada umatnya masing-masing: 

“Jika datang kepadamu Kitab dan Hikmah, lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa-apa yang ada tentang diri kamu, hendaklah kamu imani ia secara sebenarnya. Dia bertanya: ‘Sudahkah kalian menyanggupi dan menerima perjanjiaan-Ku tersebut?’. Mereka menjawab: ‘Kami menyanggupinya!’. Dia berkata: ‘Saksikanlah! Dan aku bersama kamu adalah dari golongan mereka yang menyaksiakan!’ (QS. Ali-Imran: 81)

Tidak diragukan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melakukan Isra’ Mi’raj, karena hal ini disebutkan di dalam Al-Qur’an dan dapat dibuktikan secara saintifik. Tidak perlu diragukan pula bahwa shalat merupakan salahsatu kewajiban utama seorang muslim, sebab ini semua ada di dalam Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi. Bahkan shalat adalah tradisi yang diwariskan oleh semua Nabi dan Rasul dari masing-masing zamannya. Namun ini tidak berarti bahwa kaum muslimin harus menerima begitu saja semua riwayat hadist tentang shalat yang isinya patut dianggap menyelisihi Al-Qur’an maupun logika sehingga dapat menyebabkan kita mengesampingkan kewajiban untuk menggunakan akal dan berolah fikir. Dasarnya adalah karena Allah sendiri mewajibkan manusia untuk berfikir dan berdzikir di saat membaca ayat-ayat-Nya.

SEJARAH SHALAT 5 WAKTU
Nabi Muhammad Saw merupakan nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Tidak seperti umat nabi-nabi terdahulu, umat nabi Muhammad terlah diperintahkan untuk mengerjakan shalat 5 waktu setiap hari. Ini merupakan kelebihan dan anugerah Allah SWT terhadap umat Nabi Muhammad SAW di mana shalat tersebut akan memberikan perlindungan pada hari pembalasan kelak. 

Berikut adalah ringkasan sejarah asal-usul shalat 5 waktu:

• Subuh
Manusia pertama yang mengerjakan shalt subuah ialan Nabi adam As. Yaitu ketika beliau keluar dari surga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang di lihatnya ialah kegelapan dan beliau merasa takut yang amat sangat. Apabial fajar subuh telah keluar , Nabi Adam sembahyang dua rakaat.

• Rakaat pertama: Tanda bersyukur karena beliau terlepas dari kegelapan malam.
• Rakaat kedua: Tanda bersyukur karena siang telah menjelma.

•  Dhuhur
Manusia pertama yang mengerjakan shalt dhuhur ialah Nabi Ibrahim As. Yaitu takkala Allah SWT telah memerintahkan padanay agar menyembelih anaknya Nabi Ismail As. Seruan itu datang pada waktu tergelincirnya matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat kali

• Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan
• Rakaat  kedua: Tanda bersyukur karena dibukakan duka citanya dan juga anaknya
• Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohin akan merendahan Allah SWT
• Rakaat keempat: Tanda bersyukur karena korbannya digantikan dengan tebusan kibas.

•  Asar
Manusia pertama yang mengerjakan shalt asar ialah Nabi Yunus As. Takkala beliau dikeluarkan Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, ketika telah masuk watu asar. Maka Nabi Yunus bersyukur kepada Allah lalu bersembahyamg empat rakaat karena beliau telah diselamatakn oleh Allah dari 4 kegelapan yaitu:

• Rakaat pertama: Kelam denga kesalahan
• Rakaat kedua: Kelam dengan air laut
• Rakaat ketiga: Kelam denagn malam
• Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun.

• Maghrib
Manusi pertama yang mengerjakan shalat maghrib ialah Nabi Isa  As. Yaitu ketika beliau dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukurlah Nabi Isa As, lalu bersembahyang tiga rakaat karena diselamatkan dari kejahilan tersebut yaitu:

• Rakaat Pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa
• Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga cacian kepada ibunya Siti Maryam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.
• Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahwa Tuhan itu hanya satu yaitu Allah SWT semata-mata, tiada dua atau tiganya.

•  Isya’
Manusia pertama kali mengerjakan shalat isya’ ialah Nabi Musa As. Pada saat itu, Nabi Musa tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madya, sedang dalam dadanya penuh perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanay itu pada waktu isya’ yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

• Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap istrinya.
• Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun
• Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun
• Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun.

SEJARAH TATA-CARA SHALAT
Sebagai kaum muslim, kita wajib melaksanakan shalat lima waktu dengan memahami kaifiyat (tata-cara) baik yang berhubungan dengan gerakan, bacaan dan jumlah rakaatnya. Kita selalu berpedoman pada hadist Rasulullah SAW, “Laksanakanlah shalat sebagaimana engkau melihat aku melaksanakannya.” 

Dalam menguraikan tentang sejarah shalat, Imam Bukhari ra. dalam shahihnya menyebutkan sebuah hadist dari Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Aisyah berkata, “Shalat diwajibkan pertama kali sebanyak dua rakaat. Demikian yang dilakukan pada shalat dalam perjalanan, dan lebih dari itu jika tidak bepergian”.

Hal ini berbeda dengan hadist yang berhubungan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang menyebutkan bahwa, shalat yang diwajibkan sehari semalam adalah lima waktu-sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir:

“Setelah Rasulullah SAW bertemu dangan Nabi Musa yang mengatakan bahwa umatmu tidak akan sanggup melaksanakan shalat 50 waktu sehari semalam sehingga akhirnya menjadi lima waktu setelah beberapa kali Rasulullah meminta keringanan dari Allah SWT.”

Al-Bidayah berusaha menjembatani perbedaan pandangan antara ucapan Aisyah dengan hadist tentang Isra’ Mi’raj. Ibnu Katsir mengatakan, "barangkali yang disampaikan oleh Aisyah ra adalah rakaat shalat Rasulullah sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj." 

Shalat yang diwajibkan kepada umat Islam berbeda dengan shalat yang diwajibkan pada kaum Ahlulkitab, Yahudi dan Nasrani.

Kaum Yahudi juga melakukan sujud kepada Allah SWT dalam shalatnya. Tetapi, sujudnya berbeda dengan sujud umat Islam. Sujud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah dengan menempelkan kening di tempat sujud. Sedangkan sujudnya kaum Yahudi dengan menempelkan pipi kirinya ke tanah, sehingga pipi kanannya menghadap ke langit dan matanya juga melirik ke langit.

Hal ini terkait dengan peristiwa yang terjadi ketika kaum Yahudi dipaksa untuk bersujud kepada Allah dengan diangkatnya Gunung Sinai di atas kepala mereka! 

Hal ini untuk memaksa Bani Israil agar percaya kepada Allah SWT sebagaimana yang diserukan oleh Nabi Musa As. Namun, takkala menyaksikan gunung terangkat dan berada tepat di atas mereka, orang-orang Bani Israil gemetar ketakutan. Akibatnya mereka bersujud sambil melihat gunung Sinai yang terangkat di atas kepala mereka. Mereka bersujud sambil melirik ke arah Gunung Sinai yang terangkat. Mereka khawatir tertimpa gunung! Semua peristiwa di atas disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya, 

“Dan ingatlah Kami memanggil janji dari kalian dan Kami angkatkan Gunung Sinai di atas kalian seraya Kami berfirman, ‘Berpegang teguhlah pada apa yang Kami berikan kepada kalian dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kalian bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah 63).

Dalam satu hadist, Rasulullah SAW bersabda, “Dua kali Jibril mengimami aku di Al Bait.” Dari hadist tersebut dapat difahami bahwa kata “mengimami” dalam kalinat tersebut adalah bahwa Jibril mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana cara mendirikan shalat dalam Islam, dan Al Bait adalah Baitullah.

Baihaqi dan Hasan al-Bashri berkata bahwa pada hari itu di Baitulharam, malaikat Jibril mengajarkan Rasulullah SAW jumlah rakaat dan tata cara shalat. Bahwa shalat dhuhur empat rakaat, shalat asyar empat rakaat, shalat magrib tiga rakaat dengan membaca surat Al Fatihah dan ayat Al-Qur’an lainnyan dengan nyaring pada rakaat pertama dan kedua, shalat isya’ empat rakaat dengan mengeraskan suara pada dua rakaat pertama. 

Setelah menguasai tata-cara ini, Rasulullah SAW lalu memanggil para sahabat dan mengajarkan cara berwudlu dan shalat. Dilanjutkan kemudian dengan melaksanakan shalat berjamaah di mana Rasulullah SAW menjadi imam shalat dengan dibimbing Malaikat Jibril, sementara para sahabat mengikuti (ma’muman) beliau.

Pelaksanaan shalat yang terdiri dari takbir, rukuk, sujud dan tasahud, sebenarnya adalah perbuatan yang tidak dikenal bangsa Arab dan bangsa lainnya. Hal ini membuat Yahya bin Afif, sahabat Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, merasa kagum dan menceritakan kisah ini: 

“Pada masa jahiliyah, aku pergi ke Ka’bah dan singgah di kediaman Abbas bin Abdul Mutholib. Ketika matahari terbit aku memandangi Ka’bah. Saat itulah seorang lelaki muda (Rasulullah SAW) datang. Ia juga menatap langit lalu menghadap Ka’bah. Tak lama kemudian datanglah seorang anak kecil (Ali bin Abi Thalib) yang langsung berdiri disebelah kanan yang pertama tadi. Kemudian menyusul seorang perempuan (Khadijah bin Khuwailid) datang dan berdiri di belakang keduanya. Ketika lelaki pertama itu rukuk, anak kecil dan perempuan itu pun mengikutinya. Kemudian, lelaki muda itu berdiri lagi, kedua orang yang di belakangnay juga berdiri. Lelaki muda itu merendahkan badannya dan bersujud yang segera diikuti keduanya”.

Menyaksikan itu Yahya bin Afif heran, ia pun bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu berdiri disampingnya, “Wahai Abbas, apa itu? Apa yang dilakuakan orang-orang itu? Apakan engkau merasa bahwa itu merupakan sesuatu yang agung?” Abbas bin Abdul Muthalib yang pada saat itu belum memeluk Islam menjawab, “Benar itu pasti sesuatu yang agung.”  Wallahu a’lam.

PENUTUP
Sejarah shalat itu sudah ada sebelum Nabi Muhammad. Dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengisahkan tata cara para Nabi sebelum Nabi Muhammad yaitu ada yang berdiri, ruku’ dan sujud yang jika dirangkai maka seperti shalatnya umat Islam.

Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke jalan kebenaran. Sejarah shalat lima waktu adalah:

• Subuh: manusia yang pertama kali mengerjakan shalat subuh adalah Nabi Adam As.
• Dhuhur: manusia yang pertama kali mengerjakan shalat dhuhur adalah Nabi Ibrahim As.
• Asyar: manusia pertama kali yang mengerjakan shalat asyar adalah Nabi Yunus As.
• Magrib: manusia pertama kali yang mengerjakan shalat magrib adalah Nabi Isa As.
• Isya’: manusia pertama kali yang mengerjakan shalat Isya’ adalah Nabi Musa As.

Sebagai seorang muslim kita wajib melaksanakan shalat lima waktu dangan memahami tata caranya, baik yang berhubungan dengan gerakan maupun bacaan dan jumlah rakaatnya. 

Dalam hubungannya dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi diperintah oleh Allah untuk melaksanakan shalat lima waktu yaitu Subuh, Dhuhur, Asyar, Magrib dan Isya’.


[Sumber: darulnu'man | Toha Putra, Al-Qur’an Al karim dan Terjemahannya, PT Karya Toha Putra Semarang, 2002]

Wednesday, September 14, 2011

Dan Jangalah Kalian Memaki Sesembahan Mereka! Wednesday, September 14, 2011


"Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Al-An’aam [6]: 108)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما bahwasanya beliau menjelaskan firman-Nya: “Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah” beliau berkata, “Orang-orang musyrik berkata, ‘Wahai Muhammad, kamu hentikan celaanmu terhadap sesembahan-sesembahan kami, atau kami akan ejek Rabbmu.’ Maka Allah pun melarang orang-orang mukmin untuk mencela sesembahan orang-orang musyrik, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”

Ayat ini mengandung faidah yang agung, yaitu kaidah syariat: Saddu Adz-Dzara’i  (menutup segala pintu menuju kerusakan) dan Darulmafaasid Muqoddam ‘Ala Jalbil Masholih(menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan).

Islam melarang dan mengharamkan segala sesuatu yang mengantarkan kepada kerusakan, apakah itu perbuatan maupun benda, walaupun padanya terdapat kemaslahatan, jika dikhawatirkan akan mengantarkan kepada kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan yang coba diraih.

Mencela sesembahan-sesembahan musyrikin tidak syak lagi tentu mempunyai kemaslahatan, yaitu menampakkan pengingkaran terhadap kemungkaran dan juga memperlihatkan kelemahan dan kebatilan sesembahan selain Allah. Akan tetapi tatkala faidah dan kemaslahatan yang coba diraih ini justru akan “terkubur” oleh kemudharatan besar yang akan muncul, yaitu dilecehkan dan dihinakannya Allah, maka Allah pun melarang dan mengharamkan hal tersebut.

Berkata Ibnu Katsir, “Allah berfirman melarang rasul-Nya dan kaum mukminin dari mencela sesembahan-sesembahan kaum musyrikin, walaupun padanya terdapat maslahat, karena hal itu berakibat munculnya kerusakan yang lebih besar dari maslahat yang didapat yaitu balasan musyrikin berupa celaan terhadap ilahnya kaum mukminin yaitu Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali-Nya." [Tafsir Ibnu Katsir]

Karena itu, segala kemaslahatan yang akan mengantarkan kepada kerusakan yang lebih besar darinya, telah dilarang dalam islam. Dan contoh tentang itu bisa kita dapati dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari [5973] dan Shahih Muslim [90/146] dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash رضي الله عنهما bahwasanya Rasululllah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Terlaknatlah orang yang memaki kedua orang tuanya.”  Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana (bisa) seseorang memaki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Dia memaki bapak orang lain, kemudian orang itu memaki bapaknya, dan dia juga memaki ibu orang lain kemudian orang itu memaki ibunya.”

Tatkala seseorang mencela bapak dan ibu orang lain sangat besar kemungkinan orang tersebut akan mencela orang tuanya, karena itu Islam melarang hal tersebut, untuk menutup pintu kerusakan lebih lanjut yaitu terjadinya perpecahan dan saling mencela diantara kaum muslimin.

Termasuk yang serupa dengan itu adalah orang-orang yang dikarenakan semangat dan ghirah (kecemburuan) mereka terhadap Islam, mengingkari kemungkaran yang terjadi di masyarakat, akan tetapi sayangnya, tanpa ilmu dan hikmah, sehingga akhirnya mereka melakukan sesuatu yang justru mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar dari pada kemungkaran yang akan diingkari.

Seperti sebagian saudara kita yang ketika melihat saudari atau temannya memakai pakaian yang ketat dan tidak memakai busana muslimah, sesak dadanya dan gusarlah hatinya (dan ini tentu tak salah, bahkan terpuji, karena pertanda adanya keimanan dalam hatinya), akan tetapi karena kurangnya ilmu dan hikmah, apa yang ia lakukan setelah itu?

Ia langsung “memberi pelajaran” kepadanya. Hampir di setiap pembicaraan dengannya-disadari atau tidak- ia “menyerang” atau menyindirnya. Dan kadang “menghukumnya” sebagai orang yang sangat berdosa, jauh dari rahmat Allah dan berbagai keburukan lainnya yang sangat mengerikan.

Dia lupa atau tidak mengerti bahwa untuk “mengubah” seseorang itu tidak bisa dicapai dengan cara yang kaku dan keras, akan tetapi itu-dengan izin Allah- hanya bisa dicapai dengan hikmah dan nasehat yang baik serta lemah lembut.

Lantas, apa akibat dari kecerobohannya itu? Bukannya dia (saudari atau temannya itu) akan memakai busana muslimah dan bertaubat, akan tetapi yang terjadi kemungkinan besar malah ia akan benci dengan “si pemberi pelajaran”, bahkan bisa jadi-naudzubillah-dia malah membenci ayat-ayat dan hadits yang dibawanya itu dan itu tentunya bukan hanya menjerumuskannya dalam dosa dan kemaksiatan, akan tetapi menenggelamkannya pula dalam kekufuran dan menjauhkannya dari hidayah. Wal’iyadzubillah.

Kalau sudah begitu, apakah kemaslahatan yang akan didapat? Tidak, justru kemungkaran besar yang akan didapat dan itu lebih besar dari kemungkaran yang akan dihilangkan. Itu dosa yang akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat nanti.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang mirip dengan kasus di atas, yang pastinya tidak dibenarkan dalam islam. Karena islam, sekali lagi, telah melarang dan menutup segala perbuatan dan tindak-tanduk yang akan mengantarkan kepada kerusakan, walaupun ada maslahat di dalamnya (apalagi yang tidak ada maslahatnya tentunya), jika itu menyebabkan munculnya kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan yang ingin diraih.

Itulah hikmah yang telah diisyaratkan Allah dalam ayat di atas, mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat darinya dan mengamalkannya. Amin.

Wednesday, August 3, 2011

Langkah Menuju Ma'rifat Wednesday, August 3, 2011


Penciptaan manusia dilengkapi oleh Allah dengan dua unsur pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluannya masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.

Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya dari manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani. Sedang, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia.

Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani. Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir.

Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wata’ala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridho’an-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai ma’rifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.
Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Ma’ruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.
Wallahu a’lam.

Sunday, July 25, 2010

Beribadah Kepada Allah Dengan Sepenuh Hati Sunday, July 25, 2010


Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS Ath-Thalaq [65]: 2 -- 3).
  • Di antara kunci-kunci rezeki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya.
Makna Beribadah kepada Allah Sepenuhnya.
Hendaknya seseorang memahami bahwa yang dimaksud dgn “beribadah sepenuhnya” itu bukanlah dengan cara meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam.

Tetapi, yang dimaksud beribadah sepenuhnya kepada Allah (wallahu a'lam) adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu' dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya,
"Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Janganlah engkau termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad mereka berada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid. "Beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku."
Al-Mulla Ali al-Qari berkata, "Maknanya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (berkonsentrasi) untuk beribadah kepada Tuhanmu."
Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim dari Abu Hurairah, dari Nabi beliau bersabda,

"Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)'."

Dalam hadits Qudsi tersebut diatas, Nabi SAW menjelaskan bahwasanya Allah menjanjikan kepada orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua siksa.

Adapun dua hadiah itu adalah :

  • Allah mengisi hati orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan kekayaan
  • serta memenuhi kebutuhannya.
Sedangkan dua siksa itu adalah:
  • Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan,
  • dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.
Imam al-Hakim dari Ma'qal bin Yasar ia berkata, Rasulullah bersabda,

"Tuhan kalian berkata, 'Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan'."

Dalam hadis yang mulia tersebut, Nabi mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun lebih memenuhi janji daripada-Nya berupa dua jenis pahala bagi orang yang benar-benar beribadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rezeki.

  • Barangsiapa yang hatinya dikayakan oleh Yang Maha Memberi kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya.
  • Dan barangsiapa yang kedua tangannya dipenuhi rezeki oleh Yang Maha Memberi rezeki dan Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya.
Namun sebaliknya,
  • Barangsiapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorang pun mampu membuatnya kaya.
  • Dan barangsiapa yang disibukkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorang pun yang mampu memberinya waktu luang.


[Sumber: Dr. Fadhl Ilahi | Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah] 

Friday, July 16, 2010

Menyikapi Petunjuk Allah Friday, July 16, 2010



Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.


Firman Allah SWT:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم
مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah karunia yang amat besar." (QS Fathir [35]: 32).

Ada tiga tipe umat terkait sikap mereka terhadap Alquran:
  1. Dhalimun Linafsih,
  2. Muqtashid, dan
  3. Saabiq Bil Khairaat.

Dhalim linafsih artinya orang yang menganiaya diri sendiri, yaitu mereka yang meninggalkan sebagian amalan wajib dan melakukan sebagian yang diharamkan, seperti misalnya:
  • orang menjalankan salat tetapi korupsi,
  • menjalankan saum Ramadan tetapi suka riya,
  • pergi salat Jumat tetapi menggunjing orang,
  • membayar zakat tetapi menyakiti tetangga,
  • membelanjai istri tetapi juga menyakitinya,
  • berhaji tetapi menzalimi karyawan.

Pendek kata, Dhalimun linafsih adalah orang yang terpadu dalam dirinya kebaikan dan keburukan, yang wajib kadang ditinggalkan, yang haram kadang diterjang.

Muqtashid artinya orang pertengahan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh amalan wajib dan meninggalkan segala yang haram, walau terkadang masih meninggalkan yang sunah dan mengerjakan yang makruh.

Seluruh kewajiban ia penuhi, baik kewajiban pribadi (seperti salat, zakat, puasa, dan haji) maupun kewajiban menyangkut hak orang lain (seperti berbakti pada orang tua, menafkahi istri, berbuat adil, dan seterusnya).Yang haram ia tinggalkan, seperti, mencela, mengumpat, memeras, dan seterusnya. Ia kadang meninggalkan amalan sunah dan kadang melakukan hal yang makruh. Bukan berarti orang semacam ini tidak pernah berbuat dosa, tetapi jika ia berbuat dosa Allah mengampuni dosanya lantaran taubat atau hal lain yang menghapuskannya.

Saabiq Bil Khairaat artinya orang yang beregegas dalam kebaikan, yaitu mereka yang menunaikan seluruh yang wajib dan sunah, meninggalkan yang haram dan makruh, juga sebagian yang mubah.

Syaikhul Islam dalam Majmu' Fatawa menulis, "Saabiq bil khairaat adalah mereka yang mendekatkan diri (bertaqarrub) dengan segenap kemampuannya untuk menunaikan yang wajib dan yang sunah serta meninggalkan yang haram dan makruh, walaupun ini tidak menutup kemungkinan golongan muqtashid, dan saabiq bil khairaat mempunyai dosa yang dihapuskan darinya, baik itu dengan taubat, amalan yang bisa menghapus dosa, musibah, atau yang lain". 

Perhitungan Mereka di Akhirat
Abu Darda mendengar Rasulullah saw bahwa:
  • Kelompok Saabiqun adalah mereka yang akan masuk janah (surga) dengan tanpa hisab.
  • Kelompok Muqtashid adalah mereka yang akan dihisab dengan hisab yang ringan (hisaban yasiira).
  • Kelompok Dhalimun adalah mereka yang mendapat rintangan sepanjang mahsyar, kemudian Allah menghapus kesalahannya karena rahmat-Nya, hingga mereka berkata, 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ 
الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ 
"Dan mereka Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rab kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (jannah) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu." (QS Fathir [35]: 34--35). (R Imam Ahmad).

Di Mana Posisi Kita?
Dalam Tafsir Ibnu Katsir halaman 534 disebutkan bahwa suatu ketika ibunda Aisyah r.a. ditanya oleh Uqbah bin Shuhban al-Hinai tentang ayat di atas. Beliau menjawab, "Wahai anakku, mereka berada di janah. Adapun sabiq bil khairat adalah mereka yang telah berlalu pada masa Rasulullah saw., Rasulullah menjanjikan untuk mereka janah. Adapun muqtashid adalah mereka yang mengikuti jejaknya dari kalangan sahabatnya sehingga bertemu dengan mereka. Adapun dhalim linafsih adalah seperti aku dan kalian?."

Komentar ibunda Aisyah r.a. yang mengelompokkan dirinya ke dalam dhalim linafsih, tentu sebuah ketawadhu'an, sebagaimana dinyatakan oleh Uqbah bin Shuhban, menurutnya, Ibunda Aisyah justru termasuk pemuka sabiq bil khairat. Namun, bagi kita tidak ada alasan untuk tidak menyatakan diri kita sebagai muqtashid apalagi sabiq bil khairat.
Tampaknya yang tersisa bagi kita adalah posisi dhalimun linafsih. Betapa tidak? Setiap hari kita selalu bergelimang dosa. Terlalu banyak kewajiban yang kita tinggalkan, juga terlalu banyak larangan yang kita terjang. Setiap waktu kita sering melihat hal yang tidak boleh dilihat, mendengar hal yang tak boleh didengar, dan berucap ucapan yang dilarang.
Tiga kelompok di atas memang akhirnya dinyatakan akan masuk janah, karena mereka adalah umat Muhammad saw. yang bertauhid. Namun, bagi kelompok dhalim linafsih sungguh berada pada posisi terancam. Mengapa? untuk dapat memasuki janah, kelompok ini harus melewati proses hisab yang berat. Beruntung jika mendapat ampunan dan rahmat Allah, hingga selamat dalam meniti shirat, jika tidak, api neraka akan turut menjilati tubuh sebagai pembalasan atas dosa yang dilakukan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menulis, "Dhalimun linafsih termasuk dalam kelompok orang-orang yang beriman, mereka mendapatkan walayah (kecintaan) dari Allah sebatas iman dan takwanya, dan sekaligus mendapatkan adawah (permusuhan) sebatas kefajirannya. Yang demikian itu karena pada seseorang bisa jadi terkumpul kebaikan-kebaikan yang menjanjikan pahala dan kejelekan-kejelekan yang menjanjikan siksa, sehingga seseorang mungkin saja diberi pahala dan disiksa. Ini adalah pendapat seluruh sahabat, para imam dan Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang menyatakan bahwa siapa pun yang dihatinya ada seberat zarah dari iman, tidak akan kekal di neraka."

Semoga kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan ampunan Allah, hingga terhindar dari panasnya api neraka. Wallahu a'lam. (Abu Zahrah)


[Dari: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia]

Sunday, July 11, 2010

Di Manakah Tuhanmu Berada? Sunday, July 11, 2010

Di sebuah dusun, hiduplah seorang lelaki tua bernama Hamdun yang dianggap bertingkah laku gila oleh orang-orang di sekitarnya. Entah dari mana asalnya, tak seorangpun penduduk dusun itu yang mengetahuinya. Hamdun tiba-tiba saja hadir disana. Kegilaannya biasa datang pada malam hari. Saat mana Hamdun akan bersyair.

Pada siang hari, terkadang ia berlari berkeliling pasar atau ikut bermain dengan anak-anak. Para penduduk sudah biasa melihat tingkah lakunya. Mereka tidak khawatir pada anak mereka karena Hamdun tidak pernah menyakiti orang lain terlebih lagi ia sangat sayang pada anak kecil. Ada saja orang yang kasihan dan membawakan makanan untuknya buat berbuka puasa. Setahu mereka, Hamdun tidak pernah terlihat makan di siang hari. Mereka tahu Hamdun selalu berpuasa dan tiada putus puasanya. Yang lebih mengherankan lagi, Hamdun tidak mau tidur di sembarang tempat. Ia lebih suka tidur di emper satu-satunya masjid di daerah itu. Ia selalu tidur pada pagi hingga petang dan berjaga pada malam hari.

Suatu malam, kala kegilaannya datang Hamdun bersyair:

wahai kekasih,
padamu aku memuji
padamu aku berbakti

engkaulah yang aku cintai

wahai kekasih,

jangan kau tinggalkan aku

jangan kau benci aku

jangan kau cemburui aku

karena cintaku hanya untukmu


Setelah bersyair berulang-ulang memuji kekasihnya iapun mengakhiri syairnya dengan menangis.

Suatu siang singgahlah seorang musafir di masjid. Setelah sholat dhuhur ia keluar dan mendekati Hamdun yang sedang tidur. Ia mencoba membangunkannya, tetapi Hamdun tetap saja nyenyak dalam tidurnya.

"Wahai tuan yang sedang tidur, tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat dhuhur? Janganlah engkau lewatkan waktu sholatmu dengan tidur panjangmu", kata musafir itu sambil terus membangunkan Hamdun. Hamdunpun akhirnya bangun dan menatap si musafir lalu berkata, "Apa pedulimu denganku? Aku sedang bermimpi bersama kekasihku tetapi engkau telah mengusik keasyikanku dengan sang kekasih!"

"Tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat untuk menyembah tuhanmu?", tanyanya.

"Tuhan? Tuhan yang mana? Aku tidak menyembah Tuhan. Tiada sedikitpun kusimpan kata Tuhan dalam hatiku. Tiada Tuhan .. tiada Tuhan .. ," jawabnya.

"Masya Allah, mengapa kau berkata seperti itu?" tanyanya lagi pada Hamdun.

"Aku hanya memuja sang kekasih dan tiada tempat untuk Tuhan dihatiku", tekannya dalam jawaban.

"Apakah agamamu, wahai tuan yang tidak bertuhan?", tidak percayanya sang musafir akan perkataan Hamdun.

"Aku? Aku tidak beragama. Aku hanya bercinta kasih. Lalu apa agamamu?" Hamdun baliknya bertanya.

"Tidakkah engkau lihat aku berada dalam masjid. Tentunya aku adalah seorang muslim." jelas musafir itu masih dalam kebingungan.

"Bila engkau muslim, aku ingin bertanya. Di manakah tuhanmu berada, wahai orang yang banyak tanya?", pertanyaan Hamdun ini membuat si musafir tiada dapat berkata-kata. Ia diam bagai seorang bisu, lalu ia pergi meninggalkan Hamdun.

"Bah, engkau mengganggu tidurku saja. menyuruhku sholat tetapi engkau sendiri tidak tahu di mana Tuhanmu berada!" kata Hamdun sambil melanjutkan tidur siangnya.

wahai kekasih...
wahai kekasih,

tidak kuat aku menahan kerinduan ini

tiada sabar aku untuk berjumpa denganmu

tiada kuasa aku untuk menggapaimu

wahai kekasih...
wahai pujaan hati,

kegilaanku akan dirimu semakin menjadi

wahai kekasih...
wahai dambaan hati,

aku sebut selalu namamu dan kupatri dalam hatiku


Musafir tadi ternyata sedang mengamati dari kejauhan segala yang diperbuat Hamdun. tidak percaya pada Hamdun yang syair-syairnya berisikan kalimat-kalimat cinta yang indah. Tidak percaya bahwa Hamdun adalah seorang yang gila. Karena rasa penasaran pada apa yang telah Hamdun perbuat siang tadi padanya, iapun berjalan mendekati Hamdun kembali dan memberi salam, "Assalamu'alaikum, wahai orang tua ..."

Hamdun menoleh dan membalas salamnya, "'alaikumussalam..."

"Sedang apakah engkau di sini seorang diri?" tanya musafir

"Aku sedang memuji kekasihku," jawabnya, "lalu apakah keperluanmu malam-malam begini berada di sini?" Hamdun bertanya.

"Sejak tadi aku memperhatikanmu dari kejauhan," jawabnya.

"Tidak adakah pekerjaan yang lebih bermanfaat bagimu selain memperhatikan diriku?" tanya Hamdun lagi.

"Aku hanya berpikir tentang isi dari syair indah yang engkau dendangkan, wahai orang tua," jawabnya.

"Mengapa engkau tidak sholat menyembah tuhanmu?", tanya Hamdun sambil berdiri

"Aku penasaran akan kata-katamu tadi siang yang membuatku berpikir panjang tentang kata-kata yang engkau ucapkan. Maukah engkau memberiku penjelasan di mana Tuhan itu berada?" mohon musafir itu pada Hamdun.

"Selama ini engkau menyembahnya tetapi engkau sama sekali tidak tahu di mana ia berada. sungguh sia-sia segala apa yang engkau kerjakan itu, wahai musafir." kata Hamdun. "Tuhan itu banyak, dan jangan sekali-kali lagi engkau berkata menyembah Tuhan. Karena engkau akan berada dalam kesesatan. Engkau pasti bertanya mengapa aku tidak bertuhan dan mengapa tidak beragama, bukan?" Musafir itu menganggukkan kepalanya.

"Aku tidak menyembah Tuhan tetapi aku menyembah sang kekasih, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Mengapa aku mengatakan tidak beragama karena Allah tidak lagi memberatkannya padaku. Karena aku telah menjadi kekasih-Nya. Apapun yang Dia pilihkan untukku, itulah yang terbaik buatku. Walau neraka yang diinginkan-Nya untukku, aku bersedia masuk kedalamnya dengan cinta kasih-Nya. Untuk apa aku memilih sorga bila tidak bisa menjadi kekasihNya dan tidak bisa berjumpa serta melihat keindahan wajah-Nya yang Maha Indah itu? Aku ikhlas menerima kegilaanku karena ingin selalu bercinta dengan-Nya. Inilah kehendak yang Dia inginkan buat kebaikanku. inilah kesucian cinta yang Dia inginkan dariku." katanya menjelaskan pada sang musafir.

"Astaghfirullah, Maha Suci Engkau, Ya Allah, dari segala prasangka buruk hambamu." mohonnya pada Allah setelah mendengarkan penjelasan dari Hamdun, "Tapi mengapa sewaktu aku menyuruhmu sholat tadi siang engkau menolak?" lanjutnya.

"Apakah setiap perbuatan selalu harus aku pamerkan kepada semua manusia? Apakah engkau mengetahui kapan aku sholat tadi siang?" Hamdun balik bertanya. "Tidak!" jawab yang ditanya.

"Sesungguhnya amal yang baik adalah bila tangan kanan bersedekah, tidak diketahui oleh tangan kirinya. Janganlah engkau pamerkan segala amal yang engkau lakukan karena itu semua akan menjauhkanmu dari Allah. Engkau akan memakan puji-pujian orang, lalu engkau akan menjadi riya' karenanya. Tahukah engkau, tidak jauh dari sini ada sebuah hutan? Aku pergi ke sana untuk melaksanakan sholat dan meninggalkan tubuhku tetap terbaring dalam nyenyaknya tidur, agar orang melihat apa yang aku perbuat dan tetap seperti itu pandangan mereka." Hamdun menjelaskan.

"Lalu, bagaimanakah caranya engkau sholat di sana bila tubuhmu terbaring dalam nyenyaknya tidur di depan masjid ini?" rasa ingin tahu musafir itu semakin menjadi.

"Aku memakai tubuh kekasihku Yang Maha Dhohir dan Maha Bathin." jawab Hamdun seraya melanjutkan, "Esok siang, setelah sholat dhuhur lihatlah tubuhku yang berbaring nyenyak di depan masjid ini. Jangan sekali-kali engkau ganggu tidurku. Lalu pergilah engkau ke hutan sana."

"Baiklah! Aku akan menuruti permintaanmu." musafir itu menyetujui permintaan Hamdun. Dan setelah memberi salam, iapun bergi meninggalkan Hamdun yang mulai bersyair lagi.

Keesokan harinya, setelah selesai sholat dhuhur, musafir itu memperhatikan Hamdun yang sedang nyenyak dalam tidurnya. Lalu iapun segera bergegas menuju hutan yang dimaksud Hamdun semalam. Ia mencari-cari di mana Hamdun berada. Musafir itu sempat terkejut ketika mendapati Hamdun sedang melaksanakan sholat dhuhur di bawah teduhnya sebuah pohon tinggi. Ia menunggu hingga Hamdun selesai melaksanakan sholat.

Setelah salam dan berdo'a, Hamdun mendekati musafir yang sejak tadi dalam kebingungan.

"Wahai orang tua, aku tidak mengerti apa yang sedang engkau lakukan. Aku dapati tubuhmu terbaring dalam tidur yang nyenyak di depan masjid, dan di sini aku mendapati pula engkau yang bertubuh melaksanakan sholat. Padahal engkau katakan semalam bahwa engkau pergi ke sini dengan memakai tubuh kekasihmu." tanyanya masih belum sadar dari kebingungannya.

"Wahai anak muda, apakah engkau ragu akan kekuasaan Allah?" tanya Hamdun. musafir itu menggelengkan kepala.

"Allah berkuasa atas semua orang pilihan-Nya. Tiada mustahil segala apa yang Dia perbuat. Mata yang engkau miliki adalah mata kasar. Bila engkau mempunyai mata halus, niscaya engkau tiada mendapati aku di sana. Itu hanyalah bayanganku saja. Tubuh asliku yang sebenarnya ada di sini, berada dihadapanmu. Mengapa pula aku katakan aku memakai tubuh kekasihku? Karena bila engkau melihat pada awal kejadian, bahwa sebenarnya tubuh ini hanya mendindingi kenyataan yang sesungguhnya. Dinding akan hilang bila engkau telah menyerahkan segalanya pada Allah. Bila engkau tiada melihat dinding itu, maka engkau telah memakai pakaian sebenarnya, yaitu pakaian ruh. Tetapi aku tidak bisa menjelaskan padamu tentang segala sesuatu mengenai ruh. karena ruh itu adalah urusan Allah. Mereka yang tidak mengerti akan menghalalkan darahku." jelasnya.

"Aku sedikit paham apa-apa yang telah engkau jelaskan, wahai orang tua." kata musafir itu.

"Sekarang, lihatlah apa yang ada dibalik jubahku ini!" kata Hamdun sambil memperlihatkan sesuatu di balik jubahnya. Cahaya terang memancar dari dadanya dan menyilaukan mata musafir itu. Karena terkejut dan takjub akan terangnya cahaya itu, iapun pingsan.

Tak berapa lama, ia sadar dari pingsannya dan tidak mendapati lagi Hamdun di sana. Iapun berlari untuk menemui Hamdun yang sedang terbaring nyenyak di depan masjid. Sesampainya di sana ia membuka selimut yang menutupi tubuh Hamdun. Betapa terkejutnya ia karena mendapati di balik selimut itu hanya ada setumpuk batu. "Masya Allah...Maha Suci Engkau, Ya Allah....", panjatnya dalam keheranan.

"Ya Allah, siapakah orang tua ini sebenarnya? Siapakah orang yang misterius ini? Siapakah penyair gila ini?" tanyanya dalam hati. Lalu iapun melangkah pergi dengan membawa berbagai pertanyaan dalam hatinya, sambil terus memohon petunjuk pada Allah siapa sebenarnya orang gila yang ia temui itu.

Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah, (QS 36:2) Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (QS 36:9)

[Moyank | Dari blog Lelaki Biasa | sumber Millist Surau@yahoogroups.com]

Sunday, September 13, 2009

Ancaman Melalaikan Shalat Sunday, September 13, 2009

“Barang siapa melalaikan shalat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal dunia, tiga siksaan di alam kubur dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT”.
Ketika Malaikat Jbril turun dan berjumpa dengan Rasulullah SAW, Ia berkata, “ Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal shaleh seseorang yang meninggalkan shalat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Demi Allah yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat, setiap hari mendapat 1.000 laknat dan murka. Para Malaikat melaknatnya dari langit pertama hingga ketujuh.

Orang yang meninggalkan shalat tidak akan memperoleh minuman dari telaga surga, tidak mendapat syafaatmu, dan tidak termasuk sebagai ummatmu. Ia tidak berhak dijenguk ketika sakit, diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum. Ia juga tidak berhak memperoleh rahmat Allah. Tempatnya kelak di dasar neraka bersama orang-orang munafik, siksanya akan dilipat gandakan, dan di hari qiamat ketika dipanggil untuk diadili akan datang dengan tangan terikat di lehernya. Para malaikat memukulinya, pintu neraka jahannam akan dibukakan baginya, dan ia melesat bagai anak panah kedalamnya, terjun dengan kepala terlebih dahulu, menukik ketempat Qorun dan Haman di dasar neraka.

Ketika ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, “Wahai musuh Allah, semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah namun tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dari-Nya”

Ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang paling dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian terhadap shalat lima waktu, shalat Jum’at, dan shalat berjemaah. Padahal semua itu ibadah-ibadah yang oleh Allah SWT ditinggikan derajatnya, dan di hapuskan dosa-dosa maksiat bagi siapa saja yang menjalankannya.

Orang yang meninggalkan shalat karena urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak islam, tinggal di neraka Jahim atau kembali ke neraka Hawwiyah.” Lalu Rasullulah SAW bersabda,”Barangsiapa meninggalkan shalat hingga terlewat waktunya, lalu mengqadanya, ia akan disiksa di neraka selama satu huqub (80 tahun). Sedangkan ukuran satu haru di akhirat adalah 1.000 tahun di dunia.” Demikian tertulis dalam kitab Majalisul Akbar.

Sementara dalam kitab Qurratul Uyun, Abu Laits Samarqandi menulis sebuah hadist, “Barangsiapa meninggalkan shalat fardlu dengan sengaja walaupun satu shalat, namanya akan tertulis di pintu neraka yang ia masuki.” Ibnu Abbas berkata,” Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah, Ya Allah, janganlah salah seorang dari kami menjadi orang-orang yang sengsara.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya,”Tahukah kamu siapakah mereka itu?” Para sahabat menjawab, “Mereka adalah orang yang meninggalkan shalat. Dalam Islam, mereka tidak akan mendapat bagian apapun.”

Disebutkan dalam hadist lain,” Barang siapa meninggalkan shalat tanpa alasan yang dibenarkan syariat, pada hari kiamat Allah SWT tidak akan memperdulikannya, bahkan Allah SWT akan menyiksanya dengan azab yang pedih. Diriwayatkan pada suatu hari Rasulullah SWT berkata, “Katakanlah, Ya Allah, janganlah Engkau jadikan seorangpun diantara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.”

“Tahukah kalian siapakah orang yang celaka, dan diharamkan dari kebaikan?” 
“Siapa, ya, Rasulullah?”
“Orang yang meninggalkan shalat,” jawab Rasulullah.

Dalam hadits yang berhubungan dengan peristiwa Isra’ Mikraj, Rasulullah SAW mendapati suatu kaum yang membenturkan batu ke kepala mereka. Setiap kali kepala mereka pecah, Allah memulihkannya seperti sedia kala. Demikianlah, mereka melakukannya berulang kali. Lalu, baginda Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril:

“ Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”
“ Mereka adalah orang-orang yang kepalanya merasa berat untuk mendirikan shalat,” jawab Jibril.

Diriwayatkan pula, di neraka Jahanam ada suatu lembah bernama “WAIL”. 
Andaikan semua gunung di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka ianya akan meleleh karena panasnya yang dahsyat. Wail adalah tempat orang-orang yang meremehkan dan melalaikan shalat, kecuali jika mereka bertaubat.

Bagi mereka yang memelihara shalat secara baik dan benar (kaffah), Allah SWT akan memuliakannya dengan lima hal yaitu: Dihindarkan dari kesempitan hidup; diselamatkan dari siksa kubur; dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan; dapat melewati shirathal mustaqim secepat kilat dan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab. Sebaliknya, Barang siapa yang meremehkan atau melalaikan shalat, Allah SWT akan menyiksanya dengan 15 siksaan. Enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika meninggal, tiga siksaan di alam kubur , dan tiga siksaan saat bertemu dengan Allah SWT.

Adapun enam siksaan yang ditimpakan di dunia adalah di cabut keberkahan umurnya, di hapus tanda kesalehan dari wajahnya (pancaran kasih sayang terhadap sesama), tidak di beri pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya, do’anya tidak di angkat kelangit, tidak memperoleh bagian do’a kaum salihin, dan tidak ber iman ketika roh dicabut dari tubuhnya.

Adapun tiga siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah: mati secara hina, mati dalam keadaan lapar, dan mati dalam keadaan haus. Andaikata diberi minum sebanyak isi lautan, ia tetap tidak akan terpuaskan.

Sedangkan tiga siksaan yang didapat di alam kubur ialah: kubur menghimpitnya hingga tulang-belulangnya remuk berantakan, kuburnya di bakar, hingga sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelojotan menahan panas, tubuhnya di serahkan kepada seekor ular bernama Asy-Syujaul Aqra. Kedua mata ular itu berupa api dan kukunya berupa besi. Panjang kukunya adalah sepanjng satu hari perjalanan.

“Aku diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyiksamu, karena engkau mengundurkan salat Subuh hingga terbit matahari, mengundurkan shalat Zuhur hingga Asar, mengundurkan shalat Asar hingga Magrib, mengundurkan Magrib hingga Isya, dan mengundurkan shalat Isya hingga Subuh,” kata ular itu.

Setiap kali ular itu memukul, tubuh si mayat tersebut melesak 70 hasta (sekitar 3.000 meter) kedalam bumi. Ia disiksa di alam kubur hingga hari qiamat. Di hari qiamat, di wajahnya akan tertulis kalimat berikut: ”Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang di khususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputus asalah kamu dari rahmat-Nya.”

Adapun tiga siksaan yang diterimanya ketika bertemu dengan Allah SWT adalah: 
Pertama, ketika langit terbelah, malaikat menemuinya, membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya. Kemudian memasukkan rantai itu kedalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadang kala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Malaikat itu berkata, “inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewjiban yang telah ditetapkan Allah.”  Ibnu Abbas berkata, “Andaikan satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.”

Kedua, Allah tidak memandangnya, Ketiga, Allah SWT tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksaan yang teramat pedih.

Demikianlah ancaman bagi orang-orang yang dengan sengaja melalaikan shalat. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera menunaikan segala perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang oleh-NYA. Amin.


Rasulullah SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan engkau melihat-Nya, Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya DIA melihatmu.”

(HR Bukhari dan Muslim)




Contact Form

Name

Email *

Message *