Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Nabi Dawud. Show all posts
Showing posts with label Nabi Dawud. Show all posts

Saturday, June 28, 2014

Kisah Thalut, Dawud, dan Jalut Saturday, June 28, 2014


Anugerah Kepemimpinan, Seleksi Ketaatan, Dan Runtuhnya Mitos Kedzaliman [1]

Nabi Musa alaihissalam telah wafat. Tugas risalahnya telah purna dan pengorbanannya untuk Bani Israil juga berakhir. Ajal yang ditetapkan Allah tak dapat diundur atau diajukan, meski malaikat maut yang akan menjemputnya sempat “mengadu” kepada Allah ketika penyamarannya sebagai manusia berujung reaksi keras Nabi Musa as yang mencolok matanya. Malaikat mengadu pada Tuhannya, “Ya Rabb, Engkau utus aku kepada hamba-Mu yang tak menginginkan kematian”. Ternyata penggalan kisah tersebut hanya salah paham yang disebabkan minimnya informasi yang sampai kepada Nabi Musa juga kepada sang malaikat. Terbukti ketika Allah menitahkan kembali untuk menawarkan kepada Nabi Musa supaya beliau meletakkan telapak tangannya di perut sapi liar (tsaur) dan setiap bulu akan dihitung satu tahun kehidupan. Namun, Sang Nabi menolak, karena jika ajal sudah tiba berarti perjumpaannya dengan kekasihnya akan menjadi nyata. Nabi Musa memilih berdoa agar dimatikan di tempat yang semakin dekat dengan tanah suci yang –dulu- pernah dijanjikan kepada Bani Israil, tanah Palestina[2].

Sepeninggal Musa alaihissalam risalah kenabian tidaklah terhenti atau putus. Estafet tersebut berlanjut dengan diutusnya para nabi setelahnya. Ada yang berpendapat, Yusya’ lah penerus pertama beliau kemudian dilanjutkan oleh Samuel. Demikian tutur sebagian pakar tafsir, termasuk di antaranya Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm yang juga menuangkan pendapatnya dalam bukunya Qashash al-Anbiyâ’.

Rupanya, penyesalan Bani Israil sangat mendalam karena penolakan mereka atas tanah Palestina yang pernah dijanjikan Allah kepada mereka. Hukuman Allah yang membuat mereka terkatung-katung pada akhirnya menjadikan sebagian mereka tersadar akan kelalaian berjihad dan keengganan berkorban, menjemput kemenangan yang sudah dipastikan Allah melalui janji-Nya sebagaimana disampaikan Musa alaihissalam.

Hal inilah –mungkin- diantara sekian sebab yang menjadikan beberapa tokoh Bani Israil memberanikan diri menghadap Sang Nabi Penerus[3] untuk membicarakan mimpi-mimpi tanah suci dan perjuangan menuju ke sana. Keluar dari kehinaan, kenistaan dan keterpurukan yang Allah timpakan akibat maksiat dan penolakan berjihad di masa lampau. Al-Quran menuturkan:

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 246)

Cerita singkat ini menggambarkan bahwa sifat pengecut tidak benar-benar telah hilang di tengah-tengah mereka. Ada kepribadian ganda menyelinap di antara rasa sesal sebagian mereka. Sebagian lagi sudah mulai nyaman dengan kondisi yang sebenarnya pun tak bisa disebut ideal. Terkatung-katung di tengah ketidakpastian dan berada di padang tîh dalam keadaan yang jauh dari nyaman.

Prediksi Sang Nabi menjadi kenyataan, bahwa kedatangan sebagian tokoh Bani Israil tidaklah mewakili keseluruhan Bani Israil yang ada atau bahkan yang telah insaf sekalipun. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Dan benar, meski kekhawatiran ini mereka jawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Nantinya, hanya sedikit saja di antara mereka yang memenuhi panggilan jihad dan perlawanan terhadap rezim jabbârin di Palestina, Jalut yang zhalim.

Pada ayat berikutnya Allah menuturkan proses turunnya pertolongan-Nya dengan sangat meyakinkan dan alur yang menegangkan. Dimulai dari pemilihan Thalut sebagai raja mereka.

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 247)

Sang Nabi Penerus menjelaskan bahwa Allah telah mengutus Thalut dan mengangkatnya sebagai raja bagi Bani Israil. Para tokoh tersebut terkejut. Sebagian di antara mereka mengira bahwa yang akan terpilih adalah salah seorang di antara mereka yang dibahasakan al-Quran dengan al-mala’. Tapi, nyatanya yang muncul adalah figur yang unpredictable. Sosok yang sama sekali tidak diperkirakan oleh mereka sebelumnya. Bahkan nantinya muncul resistensi yang cukup kuat.

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”

Mereka mengira bahwa otoritas kekuasaan dan pemerintahan akan berada di antara mereka. Tapi ternyata tidak. Penolakan mereka menurut ayat di atas berdasarkan dua hal:
Kekuasaan dan pemerintahan lebih berhak dipegang oleh salah satu di antara mereka, karena mereka merasa mewakili Bani Israil
Thalut tidaklah merupakan figur yang menonjol kekayaan materinya yang mereka tuturkan dengan “al-mâl”

Dua hal tersebut dijawab langsung oleh Sang Nabi, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”.
  • Bahwa Thalut adalah “al-mushthafâ” (pilihan Allah).
  • Bahwa Thalut diberikan keluasan ilmu.
  • Bahwa Thalut dianugerahi fisik yang kuat dan perkasa.
  • Bahwa standar materi sama sekali tidak dipakai oleh Allah.

Di dalam ayat ini Allah menggunakan dua redaksi yang berbeda yang saling menguatkan eksistensi kedua maknanya.

Pertama, “ba’atsa” yang berarti mengutus/mengangkat (sebagai raja)
Kedua, “isthafâ” yang berarti memilih (di antara akar katanya shafâ’ – ishthifâ > yang bermakna kemurnian)

Yang pertama menunjukkan “al-mab’uts” adalah otoritas pengangkatan sebagai raja berasal dari Allah. Dia adalah anugerah Allah yang tak terbantahkan. Harus diterima dengan taat dan penuh ketundukan. Raja Thalut, bukan dipilih manusia. Tidak pula direkomendasikan para malaikat. Bahkan tidak juga diusulkan oleh nabi mereka. Atau muncul dari kalangan yang menonjol di Bani Israil. Tapi Thalut adalah pilihan Allah. Titah langit untuk bumi.

Yang kedua menunjukkan “al-mushthafâ” sebagai proses pemilihan dan kemurnian yang dihasilkan dari proses tersebut. Terbaik di antara orang-orang baik. Bagaikan madu yang disarikan melalui lebah dari saripati bunga-bunga. Maka pengangkatan Thalut oleh Allah sebagai raja tidaklah seperti menghadirkan makhluk lain –superpower- di tengah-tengah Bani Israil. Tetapi ia adalah tetap manusia biasa dan berada di tengah-tengah mereka. Allah justru ingin menegaskan proses pemilihan tersebut berjalan natural dengan bimbingan-Nya. Dia adalah yang terbaik di antara yang ada. Dan nantinya menjadi pembuka dan sebagai pendahuluan untuk memunculkan figur lainnya yang lebih baik lagi, yaitu Dawud muda yang kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai raja, sekaligus nabi bagi Bani Israil.

Sungguh lembut rekayasa Allah dalam memunculkan tokoh dan menganugerahi pemimpin yang diperlukan Bani Israil. Pemimpin yang diperlukan untuk mengeluarkan mereka dari kepengecutan. Mengangkat mereka dari kemalasan dan keengganan berkorban. Menarik kuat mereka dari kehinaan dan kenistaan akibat melanggar titah Tuhan. Pemimpin yang berwawasan dan berbadan kuat.

Sang Penerus melanjutkan kompetensi & karakteristik kepemimpinan Thalut 

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah [2]: 248)

Bahwa Thalut diyakini sebagai figur yang dijanjikan mampu mengembalikan tabut yang hilang dan dirampas dari mereka. Atau penafsiran kedua secara zhahir, Allah akan mengembalikan tabut tersebut melalui malaikat yang membawanya.

Ibnu Katsir, juga para pakar tafsir klasik lainnya memuat beberapa riwayat mengenai bentuk fisik tabut tersebut. Sebagian besar mendiskripsikannya berupa peti berbentuk kotak empat persegi panjang. Tapi penulis –sengaja- tidak menghadirkan riwayat-riwayat tersebut atau analisa dari riwayat tersebut demi ringkasnya tadabbur.

Yang menarik justru kalimat setelah tabut yang dituturkan dengan redaksi “فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ” (di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu). Seolah Allah ingin menekankan makna tabut tersebut benar-benar menjadi “pusaka” spirit dan pasokan mental bagi Bani Israil. Secara fisik memang tabut tersebut memuat peninggalan Musa dan Harun alaihimassalam. Banyak pendapat mengungkapkan apa sesungguhnya tabut tersebut. Sebagian menyatakan berisi alwâh, lembaran-lembaran Kitab Taurat. Tetapi kata “sakinah” lebih berdimensi ruh dan sipiritual. Bahwa tabut tersebut adalah salah satu sumber spirit bagi Bani Israil. Ia ibarat sang saka merah putih di era perlawanan gerilyawan dan pejuang Indonesia melawan penjajahan Belanda atau Jepang.

Ia bagaikan seonggok besi tua berwujud becak di salah satu sudut rumah mewah di pelataran rumah megah seorang kaya raya. Ketika sang pemilik rumah bepergian sang anak mencoba merapikan halaman dan menjual besi tua tersebut dengan tujuan merapikan taman dan pekarangan rumah. Ketika sang ayah kembali ia terkejut karena besi tua tersebut telah hilang. Lalu ia memerintahkan anaknya untuk mencari becak tua sampai berhasil mendapatkannya kembali. Sang anak pun terheran-heran, mengapa besi tua itu sangat berarti bagi ayahnya yang sangat kaya raya. Sang ayah dengan penuh penekanan bertutur bahwa ia dulunya adalah “seorang tukang becak”. Ia ingin menjelmakan becak tersebut sebagai tabut bagi anak-anaknya yang akan memutar kembali kisah perjuangannya. Sebagai teladan dan buah tutur kekuasaan Allah terhadapnya.

Kira-kira demikianlah visualisasi tabut, agar terhadirkan di tengah Bani Israil kegigihan perjuangan Musa yang harus rela jauh dari keluarga aslinya. Besar di tengah rezim kezhaliman. Lalu melawan kezhaliman yang sumbernya juga adalah ayah angkatnya, Fir’aun. Setelah itu pun Musa dengan sabarnya menyertai kaumnya dengan berbagai permintaan yang melampaui batas. Musa menyertai mereka saat Allah menghukum mereka di padang Tih.

Umat Islam pun saat ini bisa menghadirkan tabut-tabut baru yang menjadi sarana datangnya sakinah. Tabut peninggalan Nabi Muhammad SAW itu bisa berupa mushaf-mushaf yang ada dalam genggaman kita. Dengan melihat mushaf yang kita pegang, memutar memori kita pada perjuangan Nabi Muhammad SAW saat menerima dan menyampaikan risalah kenabian-Nya.

Bagi sepasang suami istri tabut keluarga mereka bisa berupa cincin pernikahan yang disimpan. Saat usia pernikahan emas mereka, kotak kecil berisi cincin tersebut akan memutar kembali memori indah saat-saat mereka memadu cinta dan harmoni dalam ikatan suci yang dicatat malaikat-Nya.

Lalu Allah mengisahkan kepemimpinan Thalut.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 249)

Thalut meninggalkan Bani Israil yang enggan memenuhi panggilan jihad dan kewajiban yang Allah turunkan untuk mereka. Thalut pun penuh percaya diri dan menyampaikan ujian atau seleksi pertama yaitu: SUNGAI. Thalut mengatakan, “Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kenyataan mengungkapkan bahwa mereka yang lolos ujian ini sangat sedikit. Imam Qatadah menyebutkan jumlah mereka hanya empat ribu dari enam puluh atau tujuh puluh ribu pasukan. Dari pasukan yang sedikit itu muncul keraguan sebagian di antara mereka, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Tapi sebagian mereka menguatkan lagi, mengukuhkan kembali iman dan keyakinan mereka, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Golongan kecil itu disebut Allah sebagai “orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah”. Orang yang berkeyakinan akan berjumpa Allah bukanlah mereka yang frustasi dengan kehidupan ini. Mereka tidaklah orang yang menyia-nyiakan anugerah kehidupan ini. Justru mereka menegaskan pentingnya usaha untuk menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah:

Mengesampingkan apapun hasil perjuangan mereka, jika menang di dunia maka tugas mereka akan terus berlanjut untuk merekayasa kebaikan supaya tersebar dengan luas dan mudah. Jika mereka gugur sebagai syahid, maka takkan sia-sia, justru Allah akan menanti mereka dengan derajat dan kedudukan mulia di sisi-Nya.

Dalam perjuangan kuantitas memang perlu, tapi di atas semuanya yang menentukan adalah Allah. Maka saat ini yang lebih diperlukan adalah kualitas dan meledakkan potensi kemenangan melalui ikhtiar dan usaha maksimal.

Alur cerita ini seolah menjadi tenang dengan penegasan, “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Tapi cerita berlanjut dengan ketegangan berikutnya.

“Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.”(QS. Al-Baqarah [2]: 250)

Doa tulus ini muncul dari kekuatan iman di saat kondisi realitas seolah mereka akan segera dikalahkan Jalut dengan segala mitos dan kuantitas tentaranya ataupun perlengkapan fisik mereka yang melebihi Bani Israil yang dibawa Thalut. Maka mereka pun dengan segala ketundukan memohon kesabaran, kekuatan pertahanan dan pertolongan atas orang-orang kafir.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah [2]: 251)

Dengan segala keangkuhan dan kesombongan, Jalut menantang Bani Israil untuk mengirim orang terbaiknya, tanding dengannya. Jalut pun menjanjikan pasukan dan kerajaan bagi siapa saja yang bisa mengalahkannya.

Jalut terpedaya oleh mitos yang dibuat-buat para penjilatnya. Benar ia perkasa dan kuat dengan prestasi-prestasinya. Tetapi ia lupa bahwa saat ia merendahkan orang lain dan menganggap dirinya paling kuasa sejatinya pelan-pelan ia telah menggali kuburnya. Ia terlalu silau dengan popularitasnya. Ia terbius oleh angin puji-puji yang tak sekalipun menyinggung kekurangannya. Tak ada yang berani mengkritiknya. Tak ada yang berani melawan titahnya. Ia terbiasa mendengar paduan kata iya. Telinganya selalu mendengar ketundukan padanya tanpa tahu apa motif ketundukan tersebut; loyalitas atau kemunafikan.

Tanpa diduga, tanpa dikira seorang remaja muncul dari barisan Bani Israil yang barangkali berpikir berkali-kali untuk maju menandingi Jalut dengan segala mitosnya. Dawud muda maju dengan sebuah ketapel mungil di tangannya.

Ribuan pasang mata memandanginya tak percaya. Bocah inikah yang maju? Waraskah akal sehatnya? Ia akan menyerahkan nyawanya di tangan sang zhalim durjana. Sejenak suasana hening penuh tanda tanya.

Mari, visualisasikan kesombongan Jalut dengan tawa terbahak-bahak yang meledak sekaligus meremehkan Dawud kecil yang menurutnya bukan tandingannya. Bahkan jagoan mereka pun diragukan bisa menandingi Jalut. Apalagi Dawud. Apalagi bocah kecil itu tak bersenjata kecuali ketapel kecil di tangannya.

Tawa sombong dan angkuh itu segera terhenti. Kembali semua mata memandang. Mitos yang dibesar-besarkan itu tersungkur oleh sebiji batu kecil yang diayunkan Dawud muda.

Sang Zhalim itu lupa akhir kisah para pendahulunya. Namrud si angkuh terbunuh dengan seekor lalat yang Allah kirim memasuki tenggorokannya melalui hidungnya. Firaun si sombong lain yang mengaku tuhan tak berdaya diombang-ambingkan ombak Laut Merah. Ia mati tenggelam. Keduanya mati terhina. Bukan mati ditangan pendekar atau orang hebat. Tetapi mereka mati dengan cara terhinakan.

”kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.”:

Dawud muda pun tidak instan menjelma raja. Tapi Allah menempanya untuk dijadikan pewaris kerajaan Thalut setelah ia wafat. Benar, setelah ia mengalahkan Jalut ia menjelma sebagai pahlawan yang Allah angkat dari posisi sebelumnya yang tak dikenal kaumnya. Dawud muda sang penggembala kambing, seorang pemuda biasa.

Yang menarik dari redaksi ayat di atas adalah, “فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ” (mereka mengalahkan tentara Jalut). Dan bisa jadi kekalahan tersebut tanpa didahului pertumpahan darah. Karena Allah segera menjelaskan proses kekalahan mereka yaitu dengan “وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ” (dan Daud membunuh Jalut). Dawud membunuhnya dalam tanding dengan Jalut yang menantang Bani Israil dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. Allah meruntuhkan simbol kezhaliman dan keangkuhan tersebut. Allah memupuskan semua mitos yang dipalsukan. Dengan satu kematian saja. Jalut. Meskipun tidak menutup kemungkinan prose situ terjadi di tengah kecamuk perang dan korban jiwa yang berjatuhan. Tetapi penulis memilih penafsiran pertama. Bahwa Allah cukup mematikan simbol dan ruh kezhaliman tersebut melalui seorang anak muda dengan senjata seadanya. Itulah kekalahan yang baik. Kemenangan yang berkah. Kemenangan dengan mengalahkan yang bukan berarti membunuh dan menghancurkan. Kemenangan yang diraih dengan sportifitas yang tinggi meski diremehkan lawan. Kemenangan yang diraih dengan keberanian yang penuh optimisme meski sangat tidak diunggulkan. Kemenangan yang berpijak pada keyakinan akan janji dari Sang Pemberi kemenangan.

Dan itulah sunnah Allah. Akan selalu Dia kirimkan tokoh protagonis yang akan hentikan kezhaliman, pupuskan mimpi angkuh sang durjana, robohkan mitos yang dibesar-besarkan dengan omong kosong dan rekayasa yang didengung-dengungkan untuk menakut-nakuti hamba Allah yang menebar kebaikan. Karena jika tidak demikian, kerusakan akan meluas. Dan Allah tidak menyukai kerusakan di bumi-Nya.

“Itu adalah ayat-ayat dari Allah, Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (QS. Al-Baqarah [2]: 252)

Kisah di atas bukanlah dongeng atau cerita fiksi buatan manusia. Tetapi kisah nyata yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai tanda kerasulan dan membuktikan kekuasaan Allah yang tiada batas. Lalu beliau sampaikan kisah tersebut kepada kita untuk dipercayai sebagai spirit menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah, di depan mata. Kemenangan itu dekat. Raihlah dengan ikhtiar dan taat.

Catatan Keberkahan 27

Jakarta, 04.06.2014
———————————————

[1] Tadabbur QS. Al-Baqarah [2]: 246 – 252, disampaikan pada Halaqah Tadabbur al-Quran (halaqah ke 40 dan 41) pada 16 dan 30 Rajab 1435 H (16 dan 30 Mei 2014)
[2] Lihat hadits Bukhari nomer 3407, riwayat Abu Hurairah. Imam Muslim dengan riwayat mirip dari Abu Hurairah (nomer 2372). Hadits yang sejenis juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya.
[3] Menurut kebanyakan pakar tafsir nabi yang dimaksud di sini adalah Samuel bin Bali bin Alqamah. (lihat dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Qashash al-Anbiya’ Ibnu Katsir). Lihat juga wikipedia: Thalut 

Friday, May 2, 2014

Al-Quran: Menjawab Duladi Seputar Kisah Thalut Dan Gedeon Friday, May 2, 2014


A. MENJAWAB DULADI

Dalam lumayan banyak tulisannya, Duladi berusaha menunjukkan kesalahan Al-Quran atau bahwa Al-Quran hanyalah cerita yang dibuat-buat dengan memperlihatkan pertentangan antara kisah-kisah Al-Quran dengan kisah-kisah dalam Taurat dan Injil. 

Lihat kutipan berikut dalam salah satu artikelnya ”Siapakah Nabi Muhammad?”
Al-Quran pada surah Al-Baqarah ayat 249 menceritakan kisah Thalut dan tentaranya.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata ”sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali bebarapa orang diantara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata ” Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata ”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS Al-Baqarah ayat 249).

Kemudian Duladi menambahkan begini:

Siapa saja yang pernah membaca Kitab Perjanjian Lama mengetahui bahwa bukanlah Raja Saul yang minum dari sungai untuk menguji orang-orangnya dan menyusutkan jumlah tentaranya. Tetapi Gideon dan ia melakukannya karena Tuhan memerintahkan demikian dan bukan atas kemauannya. Selain itu cerita mengenai penyusutan jumlah tentara Israel tidak mempunyai kaitan dengan Goliath. 

Oleh karena kejanggalan ini dan sejumlah kesalahan copy atau cerita yang dibuat-buat dapat dipastikan bahwa pengetahuan Muhammad tentang Taurat dan Injil adalah sepotong-sepotong berdasarkan cerita-cerita nyasar dan tahayul yang beredar waktu itu.

 

B. JAWABAN UNTUK KAWAN-KAWAN DULADI

Jawaban yang relevans saya temukan di Yahoo begini:


Jika kalian meyakini bahwa tentang periwayatan Thalut dan Gedeon ini Alkitab lebih benar daripada Al-Qur'an, coba mari sama-sama kita jawab pertanyaan yang bersumber dari kedua kitab itu sendiri sebagai berikut:

1. Bagaimana akhir kisah Gedeon? 
2. Bagaimana rakyat Israel yang dipimpin oleh Gedeon?
3. Apakah Daud (David) ikut dalam pasukan Thalut?
4. Siapakah yang membunuh Jalut?
5. Siapakah musuh Gideon ketika itu?
6. Apakah peti tabout kembali ke rakyat Israel?
7. Apakah Gedeon menang?
8. Seperti apa gambaran musuh Gedeon, samakah dengan musuh Thalut?
9. Jika ada Gedeon dan ada pula Thalut, maka seperti apakah kisah Thalut? 

Al-Qur'an menjawabnya begini:

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: `Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah`. Nabi mereka menjawab: `Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.` Mereka menjawab: `Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?`. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.(QS. 2:246) 

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: `Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu`. Mereka menjawab: `Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?` Nabi (mereka) berkata: `Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.` Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:247) 


Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: `Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.(QS. 2:248) 


Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata:` Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku. `Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang diantara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata:` Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. `Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata:` Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. `(QS. 2:249) 


Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun berdoa:` Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir `.(QS. 2:250) 


Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.(QS. 2:251) 


Itu adalah ayat-ayat Allah, kami bacakan kepada mu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.(QS. 2:252) 


Sampai di sini, coba tolong kalian ceritakan kepada kami bagaimana Alkitab menceritakan kisah Saul dan David, syukur-syukur pula kisah Gedeon itu sendiri.

Monggo!


[Sumber: Sinonim]


Catatan:
Jawaban yang "to the point" dan "menyentuh kajian" bisa dicermati di sini:

Answering Christianity, ref: Saul and Gideon: revelation or error?

Friday, June 15, 2012

Al-Quran: Baju Besi Nabi Dawud Alaihissalam Friday, June 15, 2012



Pada zamannya, Nabi Daud AS telah membuat baju perang dari lempengan besi. Gambar-gambar di bawah ini adalah contoh baju besi peninggalan tahun 1000 SM.

Nabi Daud Alaihissalam (AS) adalah seorang utusan Allah yang mempunyai kelebihan dibandingkan Rasul lainnya. Kelebihan Daud AS diantaranya bisa berbicara dan paham bahasa hewan, burung dan gunung tunduk pada kehendak Daud (atas izin Allah) dan mereka bertasbih bersama Daud (QS Saba[34] ayat 10).

Selain kemampuan dan kelebihan tersebut, Nabi Daud juga diberikan anugerah oleh Allah berupa kemampuan untuk menundukan besi. (QS Saba[34]: 10-11, Al-Anbiyaa’[21]: 80).

Besi-besi yang keras itu mampu dilunakkan Nabi Daud untuk membuat berbagai alat kebutuhan hidup serta dijadikan perisai (pakaian perang). Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan sesuatu yang ada di bumi dan alam semesta ini sia-sia, baik yang besar maupun kecil. (QS Ali Imran[3]: 191).

Dalam surah Al-Baqarah[2] ayat 26, Allah ‘menyindir’ orang yang selalu mengira bahwa tidak ada manfaatnya Allah menciptakan sesuatu yang kecil.

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu menciptakannya….” (QS Al-Hajj[22]: 73)

Ayat-ayat di atas menunjukan bahwa tidak sesuatu pun yang diciptakan Allah itu sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Dari berbagai perumpamaan yang Allah ciptakan itu, justru dapat diketahui apakah manusia itu termasuk orang yang bersyukur atau ingkar terhadap nikmat dan ciptaan Allah SWT.

Demikian pula ketika Allah menciptakan besi. Didalamnya terdapat manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al-Hadid[57]: 25).

Selain dapat digunakan sebagai perisai, besi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, gedung bertingkat, kendaraan transportasi, barang hiasan, dan lain sebagainya.

Penemuan Besi
Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran, Nabi Daud AS adalah seorang nabi yang mempunyai kerajaan. Namun, sebelum Allah menganugerahi sebuah kerajaan padanya, Nabi Daud harus berjuang terlebih dahulu bersama dengan Thalut untuk melawan Jalut, serta berperang melawan pasukan dari negeri lainnya.

Dalam beberapa peperangan itulah Nabi Daud AS diperintahkan untuk memanfaatkan besi sebagai alat untuk berperang, seperti pedang, pisau, tombak, panah, maupun baju perang.

“Dan Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi intuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS Al-Anbiyaa’[21]:80).

Dalam surah Saba’[34] ayat 11, Daud diperintahkan membuat baju perang yang terbuat dari besi. Secara tegas, ayat tersebut diatas memberikan contoh cara membuat baju perang dari besi. Kapankah peristiwa itu terjadi, dan seperti apa baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud tersebut?

Dalam buku Sami Abdullah al-Maghluts disebutkan, Nabi Daud AS diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 SM. Dalam masa itulah Nabi Daud pernah membuat baju dari besi.

Para ahli tafsir, seperti Al-Qurthubi mengungkapkan, kata Labus dalam surah Al-Anbiya ayat 80 dan Saba’ ayat 10-11, bermakna baju-baju besi karena dipakai untuk membentengi atau melindungi diri dari serangan musuh-musuh. Alba’su dalam kalimat tersebut bermakna peperangan setelah dibuang mudlaf: Aalatu ba’sikum.

Pengolah Besi Pertama

Dalam menafsirkan ayat 10-11 surah Saba’[34] ini, Ibnu Katsir mengutip pendapat Hasan Bashri yang mengatakan bahwa anugrah yang diberikan Allah kepada Nabi Daud salah satunya adalah  kemampuan yang luar biasa dalam menipiskan atau memipihkan dan membakar tempaan besi tersebut. “Daud tidak perlu membakar besi terlebih dulu untuk memipihkannya dengan palu, namun cukup dengan lipatan-lipatan tangannya sebagaimana yang dilakukan para tukang jahit.

Karena itu, Allah berfirman, “Buatlah baju besi yang besar-besar.”

Alat Perang Tahun 1000 SM
Kemampuan yang dimiliki Nabi Daud dalam melunakkan besi ini berbeda dengan yang dimiliki Dzulqarnain pada abad ke-6 SM (545 SM) – lihat (QS al-Kahfi[18]: 96)

Lebih lanjut Ibnu Katsir menyatakan, Daud merupakan orang yang pertama kali dalam membuat baju besi. Sebelum itu, hanya berupa lempengan tameng, “Dan ukurlah anyamannya,” yakni jangan terlalu melunakkan penyambungan antarlempeng karena akan membuat longgar dan berisik, serta jangan pula terlampau mengencangkan anyamannya karena bisa merekat. Namun, buatlah sesuai dengan ukuran tertentu.

Sami al-Maghluts mengatakan, pada awalnya manusia menggunakan batu yang ditempa untuk melakukan perburuan atau peperangan, baik untuk membuat pedang, panah, atau pisau. Sementara itu, pada masa Nabi Daud AS, lanjut Sami, manusia bisa membuat baju-baju besi yakni berupa lembaran-lembaran, jadi Daud merupakan manusia pertama yang memperkenalkan dan menjalinkan besi menjadi sebuah bentuk baju besi sebagaimana disebutkan dalam surah Saba’[34] ayat 10-11 tersebut.

Situs Pertambangan Nabi Sulaiman?
Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran, Nabi Sulaiman AS mewarisi sikap dan akhlak Nabi Daud AS, baik dalam hal memimpin kerajaan, berkomunikasi secara verbal dengan makhluk-makhluk selain manusia, menaklukkan gunung, menguasai jin, dan lain sebagainya (QS An-Naml[27]:16). Demikian juga dengan besi atau baja.

Tanggal 28 Oktober 2008 lalu, nationalgeographic memberitakan, sekelompok penambang di Yordania bagian selatan menemukan sebuah lokasi penambangan yang diduga berasal dari zaman Nabi Sulaiman AS. Tidak dijelaskan secara resmi lokasi penemuan galian bekas tambang tersebut.


Penggalian yang dilakukan sekelompok penambang di Yordania yang diduga merupakan bekas lokasi tambang di zaman Sulaiman. 

Berbagai jenis barang tambang (emas, perak, tembaga, besi, perunggu, dan lain sebagainya) yang dulu digunakan Sulaiman untuk membangun Haikal Sulaiman (solomon temple) di Jerusalem. Emas, perak dan perunggu dipergunakan untuk memperindah interior kuil.

Sejauh ini, para arkeologi belum menemukan persisnya areal pertambangan di zaman Sulaiman. Beberapa areal tambang yang ditemukan di kawasan Timur Tengah setelah diteliti masih lebih muda usianya dari masa hidup Sulaiman (diperkirakan hidup sekitar abad ke-10 SM / 989-931 SM.). penemuan areal bekas tambang di Yordania ini memberi angin segar kepada para arkeolog dalam meneliti peradaban dan kejayaan Nabi Sulaiman.

Temuan itu semakin diperkuat dengan tes uji karbon terhadap areal tambang tembaga di Yordania itu. Hasil tes menunjukan usia yang sama dengan masa Nabi Sulaiman, kawasan ini berada di perbukitan, di lokasi ini ditemukan bekas-bekas penggalian dan reruntuhan bangunan yang diduga menjadi bagian dari industri pertambangan kuno. Kawasan itu sebenarnya pernah diteliti tahun 1970 tetapi hasil penelitian menunjukan areal tersebut berusia sekitar abad ke-7 SM, sekitar 300 tahun setelah Nabi Sulaiman.

Sebelumnya ada laporan dari nationalgeographic.com pada 27 Oktober 2007, kabarnya sejumlah pekerja muslim menemukan kuil Sulaiman. Di lokasi tersebut para pekerja menemukan berbagai jenis barang keramik, tembikar, yang diduga merupakan peninggalan Sulaiman setelah kehancuran Haikal Sulaiman. Kuil itu terletak di sebelah Masjid Al-Aqsha. Kendati tidak utuh, kuil Sulaiman itu diyakini masih ada berupa tembok ratapan (wailing wall) yang bersebelahan dengan Masjid Kubah Batu (Dome Of the Rock).

Sentra Pengolahan Besi
Damaskus, ibu kota Suriah (Syria) dikenal sebagai salah satu kota pengolahan besi yang sangat hebat. Kualitasnya telah diakui berbagai kalangan. Bahkan pada masa awal keislaman, besi-besi Damaskus dijadikan sebagai alat utama pembuatan senjata seperti pedang, pisau, tombak dan anak panah.

Pada abad 7-8 Masehi, ketika Dinasti Umayyah berkuasa, Damaskus menjadi pusat pembuatan pedang yang terkenal di dunia islam. Begitu pula pada abad ke-9 hingga 12 M. ketika Damaskus dalam kekuasaan Ayyubiyah, kota ini menjadi pusat pembuatan pedang yang sangat kesohor. Selain kuat dan tajam, pedang buatan Damaskus juga sangat berkualitas dengan teksturnya yang indah dan menarik.

Ketika Perang Salib, tentara musuh islam terperangah melawan pasukan muslim, sebab disamping memiliki kuda-kuda yang handal, pedang-pedang tentara islam mampu menembus baju besi musuh dengan sekali tebas. Saat Perang Salib itulah peradaban barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.

Seni membuat pedang di era kejayaan islam mendapat perhatian khusus dari peradaban barat. Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk “Medieval Islamic Swords and Swordmaking.” Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama muslim terkemuka pada abad ke-9 M, Ya’kub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang ‘Pedang dan Ragam Jenisnya’

Al-Kindi menulis secara lengkap tentang teknologi pembuatan pedang. Ia juga mengklasifikasikan beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. Menurutnya, pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan). Besi alami terbagi menjadi dua, Shaburqan (besi laki - yang sangat keras yang diolah dalam keadaan panas), serta Narmahin (besi perempuan – adalah besi yang lembek yang tidak dapat diolah dalam kondisi panas).

Pada era kejayaan islam, pedang-pedang yang dibuat oleh pandai besi di dunia islam, besi dan bajanya berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir dan Kufah. juga ada yang di import dari Sarandib (kini wilayah Srilangka).

Ilmuwan muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al-Biruni (973 M – 1048 M). secara khusus ia menulis kitab berjudul, Al-Jamahir fi ma’rifat al-Jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang.

Prof. Ahmad Al-Hassan dalam tulisannya yang berjudul, The Origin of Damascus Steel in Arabic Sources, mengungkapkan, hampir semua pedang di dunia islam terbuat dari besi Damaskus, dan salah satu cirinya dihiasi dengan pola hias (firind). Menurut Al-Khindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind.

Download versi pdf artikel ini

[Sumber Islam Universal | Peninggalan Nabi Dawud As]

Contact Form

Name

Email *

Message *