Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Isa (Kontroversi). Show all posts
Showing posts with label Isa (Kontroversi). Show all posts

Thursday, April 11, 2019

Yesus Kristus Adalah Isa Almasih Sang Nabi Thursday, April 11, 2019

Dulu, secara terpisah pernah beberapa orang saudara ikhwanul muslimin bertanya serius melalui inbox; bagaimana sebenarnya pandangan saya tentang Yesus Kristus dan Isa Almasih? Apakah kedua sosok ini adalah dua orang yang berbeda atau sebetulnya orang yang sama?

Pertanyaan sederhana, namun tidak mudah untuk dijawab mengingat jawaban yang diharapkan berpotensi menimbulkan misinterpretasi, bahkan dapat berobah menjadi fitnah!

Sebagai muslim fakir ilmu, saya belajar dari beberapa literatur Islam dan Kristen hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya kedua sosok ini sebetulnya adalah orang yang sama. 

Secara parsial Al-Quran dan Hadits meriwayatkan kehidupan Nabi Isa Almasih sejak sebelum lahir hingga dewasa, kemudian diangkat menjadi Nabiullah dan mendapat gelar sebagai salahsatu dari lima Nabiullah berpredikat Ulul Azmi. Namun kisah hidupnya "terputus" sesaat sebelum terjadinya peristiwa penyaliban yang disangka -- khususnya oleh umat Yahudi dan umat Kristen -- benar-benar terjadi pada diri beliau. 

Dengan demikian, kesamaan atau kemiripan riwayat hidup Nabi Isa Almasih dan Yesus Kristus sejak lahir hingga terjadinya peristiwa penyaliban, baik dalam Al-Quran, Hadits, dan dalam injil-injil yang pernah ada -- terutama yang oleh umat Kristen dianggap sebagai injil-injil aprokipa -- termasuk pula dalam injil-injil kanonika yang menjadi bagian dari alkitab, sebetulnya relatif sama. Yang membuat kisah hidup beliau berbeda di antara kedua versi ini adalah persprektif yang mendasari periwayatannya. Al-Quran dan Hadits secara konsisten menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa putra bunda Maryam tsb adalah seorang Nabi, sedangkan di sisi lain, alkitab berusaha menggambarkan diri beliau sebagai tuhan! 

Pencitraan Nabi Isa Almasih sebagai tuhan, atau salahsatu oknum tuhan, khususnya dalam iman Kristen Trinitarian, terasa semakin kental dalam injil-injil kanonika dan surat-surat Paulus yang mengisahkan kehidupan beliau setelah terjadinya peristiwa penyaliban versi alkitab.

Sampai di sini, yang perlu digarisbawahi tebal-tebal adalah bahwa sekalipun alkitab dan Al-Quran serta Hadits sama-sama mengisahkan riwayat hidup dan ajaran dari sosok yang sama, namun terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara keduanya, terutama menyangkut hal-hal prinsipil sbb:
  1. Kisah Nabi Isa Almasih dalam ajaran Islam selesai sampai menjelang terjadinya peristiwa penyaliban, saat mana beliau diyakini diselamatkan oleh Allah dengan cara sangat ajaib, yakni diserupakan dengan orang lain yang kemudian disalib, lalu beliau (dan ibundanya) "diangkat" ke suatu tempat yang disebut-sebut sebagai tempat yang baik "disisi" Allah. Sedangkan umat Kristen meyakini bahwa yang tersalib dan mati terkutuk di tiang salib adalah Nabi Isa Almasih yang mereka tuhankan, yang bangkit dari kematian setelah penyaliban, lalu terangkat ke sorga.
  2. Segala cerita tentang Nabi Isa Almasih di dalam injil-injil kanonika, Kisah Para Rasul, dan surat-surat Paulus sejak terjadinya peristiwa penangkapan, penyaliban, kebangkitan dan kenaikan ke sorga yang harus diyakini kebenarannya menurut doktrin Kristen, tidak pernah dan tidak akan pernah dapat diterima sebagai kebenaran oleh umat Islam, karena sosok yang diceritakan tsb bukan beliau, melainkan orang lain yang tidak jelas apakah memang pernah ada atau hanya tokoh imajinatif ciptaan para pengarang injil-injil kanon dan Paulus saja.
  3. Segala daya upaya umat Kristen, khususnya para misioranis yang coba menjustifikasi iman mereka terkait ketuhanan Nabi Isa Almasih dengan cara mengutil dan merekayasa puluhan ayat-ayat al-Quran dan Hadits menurut tafsir "ngarang bebas" mereka agar diterima sebagai "kebenaran Qurani" oleh umat Islam, jelas tertolak -- dan ditolak mentah-mentah -- cukup dengan satu dalil dari Al-Quran sendiri, yakni firman Allah dalam QS. Al-Maaidah [5]: 17.
Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?” Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia Kehendaki.Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Siapapun muslim yang meragukan jatidiri Isa Almasih dan Yesus Kristus sebagai sosok yang sama, sebaiknya cobalah renungkan dua pertanyaan berikut ini dengan segenap kesadaran akal budi yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita:
  1. Jika Isa Almasih bukan Yesus Kristus yang dituhankan oleh umat Kristen sebagai salahsatu oknum tuhan Trinitas dalam iman mereka, untuk apa Allah befirman seperti tertulis dalam  QS. Al-Maaidah [5]: 17 di atas?
  2. Sedangkan dalam konteks yang sama, untuk apa Rasulullah SAW mengingatkan seluruh pengikutnya agar jangan sampai terperangkap "ghuluw", atau sikap berlebihan dalam memandang beliau melalui salahsatu hadits shahih ini? 
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’” 
[HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al-Mu-hammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab RA]

LALU, BAGAIMANA SEHARUSNYA SEORANG MUSLIM MENYIKAPI DUALISME INI?
Seorang akademisi dan penulis; Mahardhika Zifana dalam salahsatu tulisannya di KOMPASIANA menjelaskannya dengan baik sebagai berikut.

APALAH ARTI SEBUAH NAMA?
Demikian Kata Mbah ‘Will I Am Shakespeare’.
Kutipan lengkapnya berbunyi; “What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

Memang benar demikian. Apalah arti sebuah nama? 
Benda yang kita sebut mawar itu, kalaupun disebut dengan nama lain baunya akan tetap sama. Maksudnya Mbah Shakespeare, kalaupun mawar itu kita sebut oncom, tidak serta-merta baunya jadi macam tauco, wanginya tetap wangi mawar yang hakiki, karena toh bendanya memang itu.

Namun faktanya, nama itu sangat penting, sampai-sampai salah seorang dosen saya, Pak Iwa Lukmana, yang lulusan Monash University itu, merasa perlu menggelar karpet merah untuk sebuah kegiatan penelitian tentang nama.

Perkeliruan soal nama ini ternyata juga merambah ke mana-mana, bahkan ke dalam medan internet. Yang terbaru yang saya temukan ialah di dalam sebuah situs yang (mengaku-ngaku) situs dialog antaragama.

Kenapa saya merasa perlu membubuhkan kata mengaku-ngaku dalam tanda kurung? Ya karena sebetulnya isinya ternyata bukan dialog, tapi lebih ke arena saling hujat dan saling ejek dengan adu argumen bergaya Jaka Sembung bawa asbak, kagak nyambung, gedubrak!

Soal agama memang sensitif, sama sensitifnya seperti banteng-banteng Spanyol yang berkeliaran di Festival Pamplona. Salah posisi, bisa membuat anda terseruduk sampai tewas di sana!

Salah satu topik dalam arena saling ejek itu adalah soal nama. 
Syahdan, seorang peserta hina-menghina itu menuliskan bahwa salah satu versi nama (dari Isa dan Yesus) lebih sahih daripada yang lain, maka kitabnya pun dianggapnya lebih sahih daripada kitab lainnya. Sebuah argumen yang memang sangat ad hominem. Pada akhirnya, kepenasaranan saya ikut tergelitik. Ini bukan soal mencari benar-salah, tapi ini soal pelurusan fakta sejarah, terlepas dari soal-soal Agama.

< div style="text-align: justify;">Sejarah kadang mengaburkan karena ada banyak versi. Tapi dalam tataran bahasa, kita bisa mendaurnya hingga murni, lalu tampak wujud hakiki dari suatu kata yang menjadi polemik. Syahdan, alasan itulah  yang melahirkan disiplin etimologi dalam filsafat.
Soalan Yesus dan Isa ini memang perlu diluruskan agar orang-orang lebih paham cara berargumen yang benar dan saling menghormati. Terus terang, sebagai seorang Muslim, saya suka marah jika ada sesama Muslim yang mempermainkan nama Yesus. Okelah, sesama Muslim itu memang bersaudara. Tapi jika ada saudara yang memalukan, ya, mau tak mau saya  harus ikut menanggung malu.
Jadi begini,
Nama itu bermakna simultan dalam bahasa lainnya. Misalnya nama Charles di Inggris, dipanggil Carlos di Spanyol, Carlo di Italia, Karl di Jerman, dan Karel di Belanda dan Skandinavia. Adik tingkat saya ada yang namanya Lukman (Si Black Tea) oleh temannya yang orang Jepang dipanggil Rukuman. Teman saya yang orang Arab namanya Rahman, dipanggil Rahmanov saat dia migrasi ke Russia. Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, jika di Arab nama depannya akan dipanggil Rojab Toyib Ardogan. Mbah ideologisnya Erdogan, Necmettin Ebarkan, akan dipanggil Najmuddin Abarkhan kalau di Arab. See? Cara pengucapan bisa beda, tapi rujukannya sama.

Langkah pertama untuk meluruskan Isa dan Yesus ini seyogyanya adalah pemahaman bahwa Isa yang disebut dalam Quran adalah sosok yang sama dengan Yesus yang disebut di dalam Perjanjian Baru. Ini penting untuk ditekankan, agar mereka yang suka memperolok-olok nama Yesus sadar siapa yang sedang mereka olok-olok.

Dalam bukunya, “Jesus Will Return”, Harun Yahya membubuhkan tanda alaihissalam di belakang nama Yesus. Begitulah seharusnya nama Yesus diperlakukan, karena dia seorang nabi. Seorang Muslim diajarkan untuk menghormati para nabi alaihimassalaam dengan cara yang santun dan bermartabat.

Kita lihat prequel soal ini dari  prakelahiran Yesus alaihimassalaam. Menurut taksiran para sejarawan, beliau dilahirkan pada kitaran tahun 5 SM. Kala itu di tempat kelahiran beliau, Betlehem, bangsa beliau (Yahudi) sedang hidup dalam penjajahan Imperium Roma.

BAHASA APAKAH YANG DIGUNAKAN KALA ITU? 
Sekurangnya ada 4 (empat) bahasa yang dituturkan secara bersamaan di sana.
  1. Bahasa Ibrani (kuna, bukan bahasa Ibrani modern macam di Israel dewasa ini) sebagai bahasa ritual dan liturgi. Bahasa ini digunakan dalam berdoa dan beribadah. Mirip dengan Muslimin Indonesia yang berdoa dengan bahasa Arab. Dus, hanya para rabbi dan pemuka agama terkemuka yang menguasai bahasa ini. Kitab-kitab Tanakh (Taurat dan kitab lainnya) juga ditulis dalam bahasa ini.
  2. Bahasa Aram (bukan Arab, tapi Aram –Aramaic Language). Dengan bahasa inilah Yesus alaihimassalaam kemudian mendakwahi kaumnya, berbicara kepada ibunya, Maria, dan mengobrol dengan para tetangganya. Ini bahasa ibu Yesus alaihimassalaam, sekaligus Lingua Franca-nya tanah Kana’an. Sebagian sejarawan bahkan yakin bahasa ini dipakai di seantero Timur Tengah pada saat itu, termasuk di dunia Arab.
  3. Bahasa Latin, digunakan oleh bangsa Romawi yang menjajah tanah Kana’an saat itu.
  4. Bahasa Yunani yang digunakan oleh kaum pendatang dari wilayah Imperium Roma di bagian Eropa Timur.
Dus, bisa dipastikan bahwa Yesus alaihimassalaam dinamai ibundanya dengan nama berbahasa Aram.

Teks berbahasa Aram paling tua yang menyebut-nyebut kisah Yesus alaihimassalaam adalah Peshitta, Kitab Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Aram dengan aksara Syro. Dalam Peshitta, nama Yesus Kristus ditulis begini:

ܕܝܫܘܥܡܫܝܚܐ  Baca: eishûa mashïkha
Lalu bagaimana nama itu bisa jadi Isa (Arab), Yesus (Yunani), dan Yêshûa (Ibrani)?

Begini ceritanya.
Kalau kita perhatikan, di dalam Quran banyak sekali kisah nabi-nabi Israel (selain Isa). Jika kita bandingkan penulisan namanya,  banyak nama yang aslinya diawali bunyi "y" dalam bahasa Ibrani, tersulih menjadi berawalan "i" dalam bahasa Arab, contohnya:
  • ישמעאל (baca: yisy-ma'-e'l) menjadi إسماعيل (baca: is-ma-iil) dalam bahasa Arab,
  • ישראל (baca: yis-ra'-el) menjadi إسرائيل (baca: is-ra-iil dalam bahasa Arab,
  • יצחק (baca: yits-khaq) menjadi إِسْحَاقَ (baca: is-haq) dalam bahasa Arab.

Sekarang kita cermati nama Yesus as yang ditulis dalam Peshitta:
ܕܝܫܘܥܡܫܝܚܐ  Baca: eishûa mashïkha
ܡܫܝܚܐ (eishûa) dalam bahasa Aram adalah padanan nama untuk  ישוע (yêsyûa') dalam bahasa Ibrani.

Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa bahasa Aram, Ibrani, dan Arab sebenarnya berasal dari rumpun yang sama, yakni bahasa Semit. Karena soal konvergensi dan divergensi, bahasa Semit ini kemudian terpecah ke dalam tiga bahasa tersebut, di mana bahasa Ibrani terbebat oleh bahasa Aram yang lebih banyak dituturkan di zaman Yesus alaihimassalaam. Ini menjelaskan bahwa perbedaan antara nama عيسى (Iisa) dalam bahasa Arab dengan nama ܡܫܝܚܐ (eishûa) dalam bahasa Aram dan ישוע (yêsyûa') dalam bahasa Ibrani tak lebih dari soal perbedaan lafal –sama seperti dalam rumpun bahasa Melayu, kata ‘Kite’ (Betawi) dengan ‘Kito’ (Palembang) dan ‘Kita’ (Riau) dilafalkan.

BAGAIMANA NAMA YESUS MUNCUL?
Di atas, sudah dijelaskan bahwa pada zamannya, di tanah Kana’an ada 4 bahasa yang dituturkan secara simultan, termasuk salah satunya adalah bahasa Yunani di samping bahasa Aram, Ibrani, dan Latin.
Dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani, nama Isa ditulis ιησους (baca: iêsous). Perhatikan bahwa perbedaan paling mencolok ada pada bunyi "s di ujung kata. Bagaimana penjelasannya?

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa bahasa Yunani tidak mengenal bunyi vokal glotal di akhir kata. Buktinya adalah bukan hanya nama Yesus saja, nama Nabi موسى‎  (Muu-sa) dalam bahasa Ibrani disebut מֹשֶׁה‎ (Mo-she), dan dalam bahasa Yunani disebut μωυσης  (Mouses).

Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan dengan padanan bunyi vokal glotal dalam bahasa Indonesia: kita menulis BAPAK, tapi dibaca Bapa', bukan?

Sebagaimana kita ketahui, bahasa Yunani dan bahasa Latin memberikan pengaruh yang besar terhadap bahasa-bahasa Eropa. Sementara bangsa Eropa sendiri kemudian berlayar dan membuat koloni di mana-mana, bagai tawon berpindah pohon. Ini menjelaskan mengapa lafal JESUS atau YESUS lebih mengglobal daripada IISA, EISHÛA, dan YÊSYÛA'.

Sebagai catatan, di negara-negara berbahasa Arab, nama Yesus dalam Perjanjian Baru Arab tetap ditulis dalam bentuk Arab, yakni عيسى (iisa), bukan bentuk bahasa yang lain. Kemudian, ternyata, dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Melayu-Kuna zaman dulu, nama “Isa Almasih” juga ditulis sebagai terjemahan dari kata Yunani ιησους χριστος - iêsous khristos. Salah satu contohnya adalah dua versi terjemahan Matius 1:1 berikut ini.

LAI TB : “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.”
Klinkert 1870: “inilah sjadjarah Isa Almasih, ija-itoe anak Da'oed, anak Iberahim.”

Akhirul Kalam, itulah hikayat nama Isa, atau Yesus alaihimassalaam. 
Sampai di sini, saya sungguh sangat benar-benar berharap agar saudara-saudara sesama Muslim jangan pernah menghina atau memperolok nama dan figur Yesus Kristus!
Yesus Kristus yang dipuja saudara-saudara kita yang Kristiani, yang namanya tercantum di dalam Alkitab Perjanjian Baru, adalah sosok dan figur yang sama dengan Isa Almasih yang namanya disebut-sebut di dalam Al Quran!


Demikian, semoga berguna!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk

Sunday, October 4, 2015

Siapakah Sebenarnya Isa Al-Masih Dalam Al-Quran Dan Yesus Kristus Dalam Bibel? Sunday, October 4, 2015


Dalam forum debat lintas agama soal apakah Yesus adalah oknum yang sama dengan Isa Almasih selalu menjadi topik yang berulang. Saya tidak mempersoalkan adanya pernyataan dari pihak Kristen yang ngotot mengatakan keduanya sebagai orang yang berbeda,  itu menjadi hak mereka sendiri dengan segala konsekuensi internalnya, salah satunya seperti apa yang disampaikan dalam tulisan ini: 

"Dalam terjemahan Alkitab kuno/lawas, kata yang dipakai bukan Yesus, melainkan Isa Almasih. Sebaliknya dalam terjemahan Al-Qur'an bahasa Inggris, kata yang dipakai adalah "Jesus Christ.", jadi silahkan diselesaikan sendiri.

Yang perlu diluruskan di sini adalah adanya beberapa pernyataan dari kalangan Muslim yang menyebutkan bahwa Yesus dan Isa Almasih adalah oknum yang berbeda, lalu diikuti dengan kebebasan untuk memakai kata-kata kasar dan kotor menghujat Yesus, mungkin karena terpancing perbuatan yang sama oleh para debaters Kristen terhadap Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Soal perbedaan nama sangat mudah untuk dijelaskan. Sebutan Yesus Kristus dalam bahasa Indonesia merupakan bunyi yang muncul dari perubahan berdasarkan terjemahan, mulai dari penyebutan nama tersebut dalam bahasa asal yang dipakai oleh masyarakat Yahudi ketika nabi Isa Almasih masih hidup yaitu bahasa Aramaik, lalu dilogatkan dalam bahasa Yunani, Eropah, Belanda, lalu sampai diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi Yesus Kristus. 

Kalau mau tahu bagaimana melafadzkan nama nabi Allah ini dalam bahasa aslinya, maka bunyi yang mirip memang sebagaimana yang dilafadzkan oleh Al-Qur'an, silahkan didengarkan penyebutan nama Isa Almasih dalam bahasa Aramaik ini (silahkan periksa sendiri di sini)  dan bandingkan dengan lafadz yang dibunyikan ketika orang membaca Al-Qur'an menyebut nama tersebut, mirip bukan?

Pemahaman sementara kalangan Islam yang menyatakan Yesus dan Isa Almasih adalah dua oknum yang berbeda justru menunjukkan sikap tidak percaya kepada Al-Qur'an sendiri sebagai kitab yang meluruskan kisah nabi tersebut yang sudah dimelencengkan sejarah. Bagaimana bisa dikatakan meluruskan kalau oknumnya berbeda? 

Ini bisa dianalogikan secara sederhana, ketika si Fulan yang sebenarnya orang Jawa dengan ibu Maimunah dan ayah bernama Sakirun, lalu muncul berita bahwa si Fulan adalah orang Manado dengan ibu si anu dan ayah si anu. Maka ketika kita mau meluruskan kesalahan tersebut tentu saja ini hanya bisa terjadi jika kita merujuk kepada oknum yang sama, dengan informasi yang berbeda. Lihat di sini.

Artinya, jika Isa Al Masih dan Yesus Kristus adalah dua orang yang berbeda, lantas buat apa Al-Quran harus meluruskan alkitab?

Semoga berguna.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Dari catatan ust. Arda chandra - October 4, 2015] · 


Monday, August 13, 2012

Masih Tentang Maryam Saudara Harun Monday, August 13, 2012


Allah ta’ala berfirman:

فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا * يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina" (QS. Maryam[19]: 27-28).

Sebagian orang menyangka ayat ini menceritakan bahwa Harun dan Maryam merupakan saudara sekandung dan sejaman. Sementara Harun adalah saudara laki-laki Musa. Dengan demikian, Musa merupakan anak laki-laki dari ’Imran dan sekaligus saudara laki-laki Maryam (?!).

Perkataan tersebut adalah tidak benar. Berkenaan dengan ayat [يَا أُخْتَ هَارُونَ] ”Hai saudara perempuan Harun” ; maka dalam hal ini ada beberapa penafsiran:

Maryam merupakan keturunan dari Harun, karena ia dinisbatkan kepada Harun, sebagaimana seorang anggota kaum Quraisy dikatakan kepadanya: “Wahai saudara Quraisy” (Yaa akha Quraisy).

Maryam dinisbatkan kepada seorang laki-laki shalih di tengah-tengah kaumnya yang bernama Harun.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa panggilan itu merupakan hinaan bagi Maryam, di mana kaumnya menisbatkan dirinya kepada seorang laki-laki bejat di antara mereka yang juga bernama Harun.

Penyebutan nama Harun dalam ayat tersebut berdasarkan kebiasaan orang-orang waktu itu untuk menisbatkan seseorang kepada para nabi atau orang-orang shalih sebelum mereka. Pendapat ini adalah yang paling kuat, karena didasari oleh sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya:

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ لَمَّا قَدِمْتُ نَجْرَانَ سَأَلُونِي فَقَالُوا إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ يَا أُخْتَ هَارُونَ وَمُوسَى قَبْلَ عِيسَى بِكَذَا وَكَذَا فَلَمَّا قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

Dari Mughirah bin Syu’bah ia berkata: Ketika aku tiba di Najraan, orang-orang bertanya kepadaku: ”Apakah engkau memahami ayat ”Hai Saudara perempuan Harun” (QS. Maryam: 28) sedangkan Musa itu hidup jauh sebelum jaman ’Isa. Apakah maksudnya begini dan begini?”. Setelah aku bertemu dengan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan menanyakan tentang hal tersebut, maka beliau menjawab: “Kebiasaan mereka pada waktu itu menyebut nama seseorang dengan menisbatkan kepada para nabi atau orang-orang shalih sebelum mereka” [HR. Muslim No. 2135].

Agar anda lebih mudah mengerti, coba perhatikan ini:

[Matius 3:7] Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

[Matius 12:34] Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

[Matius 23:33] Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

[Lukas 3:7] Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: "Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?

Apakah ayat-ayat di atas sama artinya dengan mengatakan bahwa nenek-moyang orang-orang Farisi dan Saduki adalah benar-benar ular beludak?

Semoga keterangan singkat ini bermanfaat. 

[Dari Abul-Jauzaa’]

Tuesday, August 7, 2012

Masalah Seputar Sebutan Maryam Saudara Harun dan Saudara Musa Tuesday, August 7, 2012


QS. MARYAM: 27-28
[27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

[28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Masalah penyebutan "Maryam saudara perempuan Harun" ini sering dijadikan alasan oleh para Misionaris untuk menuduh bahwa Al-Qur’an telah salah menuliskan fakta sejarah, menganggap Maryam Ibunda Isa As hidup sezaman dengan Harun as dan Musa as, yang rentang waktunya berbeda sekitar 15 abad!

Benarkah tuduhan tersebut, dan apa sebabnya mereka sampai berpikir sedemikian konyol begitu?

1. Maryam yang dikisahkan di dalam Al Qur’an punya nama yang mirip dengan Miryam yang benar-benar saudara harun dan Musa didalam alkitab.

Keluaran 15:20 Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.

2. Maryam yang dikisahkan didalam Al-Qur’an punya ayah yang bernama Imran yang mirip dengan nama Ayah Miryam, Harun dan Musa didalam Al-kitab.

Bilangan 26:59 Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan

1Tawarikh 6:3 Anak-anak Amram ialah Harun, Musa dan Miryam. Anak-anak Harun ialah Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

Selanjutnya, mari sama-sama kita simak yang berikut ini:

Pertama, soal perbedaan makna panggilan dan penjelasan.  Mari kita perhatikan secara seksama keterangan Maryam saudara harun di dalam Al Qur’an.

Qs Maryam 27-28
[27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

[28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Penyebutan Saudara Harun kepada Maryam didalam Qs Maryam 28 adalah satu-satunya ayat yang menyebut demikian.
dan penyebutan “saudara harun” bukan sebuah penjelasan tentang beliau tetapi sebagai sebuah panggilan kepadanya. panggilan dari Kaumnya setelah mengetahui ia punya anak.

Apakah sebuah panggilan pasti bermakna yang sebenarnya? tidak bukan? Banyak sekali kemungkinan dari makna sebuah panggilan. Bisa makna sesungguhnya, bisa sebagai panggilan “alias”, bisa sebagai olok-olok, dan bisa juga bermakna kiasan dll.

Bandingkan dengan apa yang tercatat didalam alkitab, bahwa Miryam saudara Harun adalah sebuah penjelasan tentang siapa Miryam!

Kita ambil contoh tentang sebuah panggilan dari yang tercatat didalam alkitab: Yohanes pembaptis memanggil kepada orang Farisi dan saduki sebagai keturunan Ular beludak.

Matius 3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

Lukas 3:7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?

Apakah dengan keterangan ayat ini bisa menjadi keterangan bahwa Orang yahudi dari golongan Farisi dan Saduki adalah keturunan Beludak yang sesungguhnya?

Apalagi panggilan tersebut bukan saja dilakukan oleh Yohanes pembaptis tetapi Yesus pun juga menggunakan panggilan demikian.

Matius 12:34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Bahkan Yesus tidak sekedar memanggil sebagai Keturunan saja tetapi juga memanggil Ular kepada para Ahli Taurat dan orang farisi.

23:29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh

23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.

23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

23:33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,

Apakah mereka yang suka membuat tuduhan kepada Al-Qur’an tersebut juga berfikir bahwa Para Ahli Taurat dan orang Farisi benar-benar Ular dan keturunan ular beludak?

Jika mereka konsisten dengan teori “tuduhannya” tersebut, tetapi saya rasa hanya orang gila yang menganggap makna panggilan Ular dan keturunan Ular beludak adalah makna sesungguhnya bukan makna kiasan ,bahwa Orang Farisi benar-benar keturunan Ular!

Kedua, tentang keterangan ayat-ayat lain. Kita harus perhatikan juga ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang Maryam didalam Al-Qur-an. Di dalam Al QUr’an secara jelas menyebut Maryam hidup pada masa Zakaria ayah Yahya (Yohanes Pembaptis).

[35] (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

[36] Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”

[37] Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

[38] Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

[39] Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

[39] Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

[40] Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

[41] Berkata Zakaria: “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.

Jelas sekali Bahwa Maryam tidak sekedar hidup semasa Zakaria ayah Yahya (Yohanes) tetapi Zakaria adalah yang memelihara dan mendidiknya.

Adapun keterangan soal latar belakang Maria Ibu Yesus /Isa As didalam Injil yang empat (kanonik) sangat minin sekali menjelaskan tentangnya,satu-satunya Injil yang menjelaskan adalah Injil Lukas!

Dan ternyata keterangan dari Al Qur’an sama dengan keterangan Lukas bahwa Ibunda Isa as (Yesus) yaitu Maryam (Maria) hidup semasa Zakaria ayah Yahya (Yohanes).

Bahkan didalam Injil Lukas tidak sekedar hidup semasa ternyata Maryam adalah sanak/ saudara dari Istri Zakaria yang keturunan Harun

Lukas 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

Perhatikan Kitab Lukas 1:
1:5. Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.

1:59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,

1:60 tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.”

1:61 Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.”

Ketiga, tidak ada keterangan didalam Al-Qur’an Maryam hidup semasa Harun dan Musa. Tidak ada satupun ayat yang mendukung bahwa Maryam ibu Isa As hidup semasa Harun dan Musa. Persoalan ini sangat berbeda dengan keterangan Alkitab yang secara jelas dan tegas bahwa Miryam hidup sejaman dengan Harun dan Musa.

Kitab Bilangan 12:
12:1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.

12:4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga.

12:5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.

Mikha 6:4 Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu

Keempat, soal nama Ayah yang mirip. Tidak ada satupun keterangan di dalam Al-Qur’an bahwa Imran juga ayah dari Harun dan Musa, karena sangat jelas sekali Al-Qur’an hanya menyebut nama anak Imran hanya Maryam! Itu sangat berbeda dengan apa yang tercatat didalam alkitab.

Bilangan 26:59 Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan.

1Tawarikh 6:3 Anak-anak Amram ialah Harun, Musa dan Miryam. Anak-anak Harun ialah Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

Dan soal kesamaan nama anak dan ayah ini, apanya yang aneh? Bukankah pada saat itu banyak orang yang menggunakan nama-nama yang sama dengan nama leluhurnya? Apakah mustahil terjadi kesamaan nama secara alamiah? 

Apakah dengan nama yang sama antara anak dan Ayah, maka dianggap orang yang sama dengan pemilik nama sebelumnya? Sebagai contoh kongkrit adalah apa yang tertulis di dalam alkitab:

Kejadian 37:2  Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun–jadi masih muda–biasa menggembalakan kambing domba ... "

Matius 1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria .... "

Apakah Yusuf suami Maria adalah orang yang sama dengan Yusuf yang tercatat didalam Kejadian 37:2? 
TIDAK, bukan?

Jadi, tuduhan tentang "kesalahan fatal"  Al-Qur'an menyebut "Maryam saudara Harun” itu tentu saja dilandasi pemikiran tidak cerdas yang mengira Maryam adalah sosok yang sama dengan Miryam saudara Harun dan Musa!

Pikirkanlah sendiri, sebuah tuduhan yang berdasar argumentasi kuat, atau semata-mata hanya karena rasa iri dan dengki saja?

Wallahualambissawab.

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Contact Form

Name

Email *

Message *