Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Al-Quran. Show all posts
Showing posts with label Al-Quran. Show all posts

Tuesday, November 5, 2019

Al-Quran: Allah SWT Menciptakan Adam Seperti Bentuk-Nya? Tuesday, November 5, 2019

Hadits ini menjadi salah satu perbincangan yang sangat serius di kalangan ahli hadits, ahli makna, dan ahli tafsir. Banyak ahli hadits yang menilainya shahih dengan memberikan ta’wil mulai dari yang sewajarnya sampai pada tingkat yang melebihinya. Ada pula kalangan ahli hadits yang menilainya dhaif, walaupun hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak sahabat dan terdapat dalam kitab-kitab Shahih s/d Mu’jam. Hadits tersebut sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Saw:

فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Maka sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti bentuk-Nya“. [Shahih Muslim 4/2017, 4/21/83 - derajat hadits shahih]

Yang menjadi perdebatan adalah “ha-dhamir“ yang terdapat dalam kata عَلَى صُورَتِهِ apakah artinya “seperti bentuk-Nya" (Allah), ataukah “seperti bentuknya" (Adam). Bila “ha-dhamir“ tersebut dikhitabkan kepada Allah, maka sesuatu yang mustahil bentuk Allah berwujud seperti bentuk Adam sebagai makhluk.

Bila bentuk Adam sebagaimana bentuk Allah dalam wujud-Nya, maka ini pun bisa berarti bahwa setiap bentuk keturunan Adam adalah manifestasi dari bentuk Allah. Sedangkan bentuk Allah tidak dapat disifati dengan apa pun. Dan apa pun bayangan kita tentang bentuk Allah dapat dipastikan bukanlah bentuk Allah.

Karena sesuatu yang berbentuk adalah sesuatu yang dapat dikenali oleh indera pengihatan. Sedangkan indera penglihatan kita belum pernah bertemu dengan-Nya, jadi bagaimana mungkin sesuatu yang belum pernah dilihat dapat dikenali bentuknya ?

Kesalahan ini terjadi karena hadits yang disampaikan terlalu pendek. Seandainya hadits tersebut disampaikan sedikit lebih lengkap, maka tidak akan ada perdebatan di kalangan para ahli. Mari kita cermati redaksi tersebut lebih lengkap dari sebelumnya.

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا
“Allah menciptakan Adam seperti bentuknya, tingginya 60 hasta.“

Dengan penambahan kata 60 hasta, sudah pasti itu adalah tingginya Adam a.s bukan tingginya Allah. Karena kata tinggi di sini di sifatkan untuk ukuran tinggi badan Adam a.s.

Ada satu lagi hadits yang diperdebatkan sebagaimana hadits di atas. Hadits tersebut sebagaimana sabda Nabi Saw:

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ، فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Di mana (kalian) memukul seseorang, maka jangan dipukul diwajahnya, karena sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti wajahnya.“ [Shahih Ibnu Hibban 12/420, 13/19, Musnad Ahmad 12/275, 12/382, 16/427, Mushanaf Aburrazzaq 9/444, as-Sunnah, Abdullah bin Ahmad 1/267, as-Sunnah, Ibnu Abi Ashim 1/229, Musnad al-Bazzar 15/161, as-Sunan al-Kabir, an-Nasai 6/479, Musnad Abu Ya’la 11/157, at-Tauhid, Ibnu Khuzaimah 1/82 - derajat hadits hasan shahih]

Wajah di sini pun, adalah wajah Adam a.s bukan wajah Allah. Tentang wajah Allah Quran suci telah menerangkannya:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.“ (QS. 55 – ar-Rahman: 27)

Sedangkan setiap wajah manusia tidak ada yang memiliki kebesaran, kemuliaan dan kekal sebagaimana Wajah Allah. Jadi mustahil apabila hadits tersebut harus diartikan bahwa wajah Adam sebagaimana wajah Allah.

Tentang ta’wil hadits tersebut, Imam Ibnu Qutaibah berkata: “Saya membaca di dalam kitab Taurat: “Sesungguhnya ketika Allah Swt menciptakan langit dan bumi, Dia berfirman: “Kami menciptakan manusia dengan bentuk Kami. Lalu Dia menciptakan Adam dari intisari bumi. Kemudian ditiupkan pada wajahnya kehidupan.“ [Ensiklopedia Hadits hal. 213-214]

Dalam kalimat: “Allah menciptakan Adam dari intisari bumi“ dapat dikatakan sebagai penutup perdebatan ini. Karena tidak mungkin kita akan beranggapan bahwa bentuk dan wajah Allah pun berasal dari inti sari bumi. Bila bentuk dan wajah Allah berasal dari inti sari bumi berarti penciptaan bumi lebih dahulu daripada keberadaaan Allah. Dan bila Allah memiliki bentuk dan wajah, maka harus ada pula al-mushawwir (pembentuk)-nya, dan bila al-mushawwir-nya ada, maka ia pun berwujud terlebih dahulu daripada Allah. Apabila begitu jadinya, maka konsekwensinya ada tuhan lain selain Allah, karena Allah ada dari hasil penciptaan bukan yang menciptakan. Dan ini mustahil.

Sebenarnya penjelasan tentang kedua hadits di atas telah dijelaskan di dalam al-Quran. Hanya mungkin saja ayat ini terlewat oleh para ahli dari penelitiannya. Adapun ayat itu berbunyi:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِيْنَ
“Dan ketika Rabb Pemelihara kamu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan telah Kutiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dalam keadaan bersujud.” (QS. 15 – al-Hijr: 28-29)

Tahulah kita sekarang tentang maksud dari kitab Taurat yang mengatakan “Allah menciptakan Adam dari intisari bumi” adalah “dari tanah liat kering dari lumpur hitam” dan setelah itu “yang diberi bentuk.” Dengan keterangan ini semakin jelaslah, bahwa yang dibentuk itu adalah Adam a.s. bukan Allah.

Perlu pula diketahui, bahwa yang dikatakan dengan “intisari bumi“ adalah bahan-bahan penciptaan manusia. Al-Quran suci telah menerangkan hal tersebut kepada kita. Adapun bahan-bahan tersebut adalah:

Di dalam QS. 3 - Ali-Imran : 99, firman-Nya

آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Adam diciptakan oleh-Nya dari tanah (thuraab) kemudian Dia berfirman kepada Adam Jadilah, maka Jadi ”

Maksud dari kata تُرَابٍ (thuraab) adalah: unsur-unsur dzat asli yang terdapat dalam tanah yang dinamakan dzat anorganis.

Sedangkan maksud dari kata كُنْ فَيَكُونُ (jadilah maka jadi) mengisyaratkan kepada unsur kegaiban atau kekuatan mistis yang Allah lekatkan kepada Adam dan sebagian anak keturunannya. Sehingga Adam dan sebagian anak keturunannya diberikan kemampuan untuk mempelajari, mendalami dan menjalankan ilmu-ilmu gaib.

Di dalam QS.15 - al-Hijr: 28, firman-Nya

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
“dan sesungguhnya aku menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk.”

Yang dimaksud dengan kata حَمَإٍ (hamaain) berarti zat lemas (Nitrogen)

Di dalam QS.55 – ar-Rahman: 14,  firman-Nya

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia (Allah) menciptakan manusia dari tanah kering (tembikar)”

Yang dimaksud dengan kata صَلْصَالٍ (shal-shalin) adalah: tanah setengah kering yakni, dzat pembakar (Oksigen) dan yang dimaksud dengan اَلْفَخَّارِ (al-fakhor) adalah dzat arang (Carbonium).


Di dalam QS. 32 – as-Sajadah : 7-8, firman-Nya

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
“yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah (at-thiin). Kemudian Dia menjadikan keturunannya (Adam) dari saripati air yang hina (air mani).”

Yang dimaksud dengan طِينٍ (thiin) adalah: atom dzat cair (Hidrogenium). Sedangkan yang dimakud dengan مَاءٍ مَهِينٍ (main mahiin) adalah: protein, vitamin dan calcium.

Di dalam QS. 37 - ash-Shafat: 11, di dalam firman-Nya

إِنَّا خَلَقْناهُمْ مِنْ طِينٍ لاَّزِبٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat (laazib).”

Yang dimaksud dengan لاَّزِبٍ (Laazib) adalah: dzat besi (Ferrum, Yodium, Kalium, Silicum dan Mangan). Dengan adanya unsur-unsur besi ini, maka tidaklah aneh apabila ada sebagian keturunan Adam yang mampu memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Bahkan, adapula di antara mereka yang memiliki kekebalan tubuh seperti tak mempan oleh pukulan besi dan yang sejenisnya.Hal ini dikarenakan mereka mampu memaksimalkan potensi dzat-dzat besi yang berada di dalam tubuh mereka, baik melalui jalan latihan atau pun melalui doa-doa khusus.

Di dalam QS. 99 - al-Alaq: 2, firman-Nya

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
"(Dia telah) menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Yang dimaksud dengan عَلَقٍ (alaq) adalah proses akhir dari penciptaan bentuk manusia, yang mana Allah memberikan daging, kulit, darah, urat syaraf, tulang, organ-organ dalam tubuh seperti : paru-paru, jantung, hati, lambung dan yang lainnya, sebelum Allah meniupkan ruh kehidupan kepada janin tersebut.

Adalah proses peniupan ruh kehidapan kepada janin, sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan telah Ku-tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku,”

Dengan penjelasan ini maka selesai pula perjalanan intelektual kita dalam pembahasan topik ini.
Alhamdulillah


Sunday, November 3, 2019

Al-Quran: Tuduhan Telah Diubah-Ubah Sunday, November 3, 2019

Uraian Notes: Bagaimana proses penyusunan Quran hingga terbentuk menjadi sebuah kitab seperti yang ada sekarang ini? Kebanyakan kaum Muslim meyakini bahwa Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Muhammad lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Bahkan muslim percaya banwa Quran merupakan salinan dari kitab yang ada disurga (lahul mahfuz). Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan² teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin² Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa kebohongan, dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.

PARA PAKAR ISLAM PUN TIDAK BISA MEMBUKTIKAN APAKAH QURAN YANG ADA SEKARANG INI MASIH SAMA ISINYA DENGAN QURAN YANG ADA DIJAMAN MUHAMMAD.

Dua keterangan yang paling terkenal adalah; sebelum dia mati, Muhammad menyusun Quran menjadi sebuah buku dan Kalifah berikutnya, Abu Bakar, menyusunnya dari orang² yang telah menulis ayat² Quran dan menghafalnya. Meskipun begitu, kami diajarkan bahwa Quran yang sekarang ini sama persis dengan yang diberikan pada Muhammad dulu oleh malaikat Jibril.

Untuk mengerti sejarah Islam kami kemudian mulai mempelajari sumber² Islam yang bisa dipercaya, terutama yang Sahih yang disusun oleh Bukhari. Sewaktu sedang mempelajari sejarah penyusunan teks Quran, betapa kagetnya kami ketika mengetahui bahwa Quran yang kita miliki hari ini ternyata telah melalui beberapa tahapan evolusi sebelum mencapai versi standar sekarang ini. Misalnya, kami menemukan ada tujuh cara yang berbeda untuk melafalkan Quran. Seorang dapat melafalkan dan mengingat Quran secara berbeda dan itu tetap diterima sebagai wahyu Allah. Kutipan dari Hadis Sahih Bukhari:

Sahih Bukhari 41:601
Dikisahkan oleh ‘Umar bin Al-Khattab: Aku dengar Hisham bin Hakim bin Hizam melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caraku. Rasul Allah telah mengajarkan padaku (dengan cara yang berbeda). Lalu, aku hampir saja ingin bertengkar dengan dia (pada saat sembahyang) tapi aku tunggu sampai dia selesai, lalu aku ikat bajunya di sekeliling lehernya dan kuseret dan kubawanya menghadap Rasul Allah dan berkata, “Aku telah mendengar dia melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan yang kau ajarkan padaku.” Sang Rasul menyuruhku melepaskan dia dan meminta Hisham melafalkannya. Ketika dia melakukan itu, Rasul Allah berkata, “Itu (Surat-al-Furqan ) dilafalkan begitu.” Sang Rasul lalu meminta aku melafalkannya. Ketika aku melakukannya, dia berkata, “Itu dilafalkan begitu. Qur’an telah dinyatakan dalam tujuh cara yang berbeda, jadi lafalkan dengan cara yang mudah bagimu.”

Karena terdapat tujuh cara pelafalan Quran (qiraat) ini berarti kaum Muslim dapat mengingat Quran dalam tujuh cara yang berbeda, bukan hanya satu. Jika Muhammad telah mengijinkan tujuh cara untuk melafalkan Quran, maka tentunya juga ada tujuh versi Quran, dan bukan hanya satu!

Kami tidak pernah diajarkan bahwa ada tujuh buah Quran, tapi kami hanya diberitahu ada satu Quran saja. Apakah memang betul ada tujuh buah dan semuanya itu asli ? Ketika kami terus melanjutkan penelaahan, kami temukan Hadis Sahih lain yang memperkuat dan memperluas paham bahwa Quran mungkin dikisahkan dalam tujuh cara yang berbeda.

Sahih Bukhari 54:442
Rasulullah berkata; Jibril melafalkan Quran padaku dengan satu cara (dielek), aku kemudian menyuruhnya untuk melafalkan dengan cara yang berbeda, hingga ia melafalkan dengan tujuh macam cara.

Hadis serupa dapat dilihat pada Bukhari 61:513, 61:514, dan 3:640.

Sewaktu kami mempelajarinya lebih lanjut, Hadis Sahih menegaskan bahwa bukan Muhammad yang menyusun tulisan Quran menjadi satu koleksi, tapi ini untuk pertama kali dilakukan di bawah kekuasaan Kalifah Abu Bakar. Ternyata pada saat itulah qurra, yakni orang² yang menghafalkan Quran, terbunuh di Perang Yamama. Khalifa Abu Bakar memerintahkan untuk dibuat kumpulan ayat² Quran, dan ini juga atas desakan Umar (Kalifah kedua). Kumpulan ayat ini disimpan oleh Kalifah Abu Bakar, dan setelah dia mati, lalu disimpan oleh Kalifah Umar dan diserahkan pada anak perempuan Umar yang bernama Hafsa, yang juga janda Muhammad.

Sahih Bukhari 61:509
Dikisahkan oleh Zaid bin Thabit: Abu Bakr As-Siddiq memanggilku ketika orang² Yamama telah dibunuh (sejumlah pengikut sang Nabi yang bertempur melawan Musailama). (Aku pergi kepadanya) dan menemukan ‘Umar bin Al-Khattab duduk dengannya. Abu Bakar lalu berkata (padaku), “Umar telah datang padaku dan berkata: “Banyak yang Qurra Quran (orang² yang hafal Quran di luar kepala) yang tewas di Perang Yamama dan aku takut akan lebih banyak lagi Qurra yang akan tewas di medan perang lain, sehingga sebagian besar Quran bisa hilang. Karena itu aku menganjurkan kau (Abu Bakr) memerintah agar ayat² Quran dikumpulkan.

”Aku berkata pada ‘Umar, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” ‘Umar berkata, “Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” ‘Umar terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku dan aku mulai menyadari kebenaran usul ini.”
Lalu Abu Bakar berkata (padaku). ‘Kamu adalah anak muda yang bijaksana dan kami tidak curiga apapun padamu, dan kau biasa menulis Ilham Illahi bagi Rasul Allah. Maka kau harus mencari (ayat² terpisah-pisah) Qur’an dan mengumpulkannya jadi satu buku.” Demi Allah, jika mereka memerintahkanku untuk memindahkan satu dari gunung², ini tidak akan sesukar perintah mengumpulkan ayat² Quran. Lalu aku berkata pada Abu Bakar, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” Abu Bakar menjawab, ““Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” Abu Bakar terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku seperti Dia telah membuka hati Abu Bakar dan Umar.

Lalu aku mulai mencari ayat² Quran dan mengumpulkannya dari (yang ditulis di) tangkai² palem, batu² putih tipis dan juga orang² yang mengingatnya dalam hati, sampai aku menemukan ayat akhir dari Surat At-Tauba (Pertobatan) dari Abi Khuzaima Al-Ansari, dan aku tidak menemukan ayat ini pada orang lain. Ayatnya berbunyi: ‘Sesungguhnya telah datang bagimu seorang Rasul (Muhammad) dari antara kalian sendiri. Dia sedih melihat engkau harus menerima kecelakaan atau kesusahan … (sampai akhir Surat-Baraa’ (At-Taubah) (9.128-129). Lalu naskah² (salinan) lengkap Quran disimpan Abu Bakr sampai dia mati, lalu disimpan ‘Umar sampai akhir hidupnya, dan kemudian disimpan Hafsa, anak perempuan Umar.

Sewaktu kami mempelajari Hadis Sahih di atas dan Hadis yang lain yang sama pesannya, kami mendapatkan hal² yang penting. Pertama, Umar khawatir jika Quran tidak ditulis, dan jika qurra banyak yang mati, maka sebagian besar Quran akan hilang.

Kedua, ini adalah tugas yang monumental (besar sekali) yang diberikan pada Zaid karena Muhammad sendiri tidak pernah melakukan hal ini, dan Zaid menjelaskan kekhawatirannya.

Ketiga, perlu banyak usaha untuk mengumpulkan ayat² Quran karena beberapa ayat hanya diingat oleh satu orang dan tidak ada orang lain yang menegaskan atau membenarkannya. Ada beberapa Hadis Sahih lain yang juga mengatakan hal itu.

Kejujuran Zaid membuat kami waswas. Apakah betul ini adalah tugas yang sangat berat? Apakah memang dia orang yang tepat melaksanakan tugas itu? Kami mulai mencari dan menemukan bahwa Muhammad telah menganjurkan orang² lain dan bukan Zaid untuk mengajar Quran pada muslim lain.

Sahih Bukhari 61:521
Dikisahkan oleh Masriq: ‘Abdullah bin ‘Amr mengingatkan ‘Abdullah bin Masud dan berkata, “Aku akan mencintai orang itu selamanya, karena aku mendengar sang Nabi berkata, ‘Belajarlah Qur’an dari empat orang ini: ‘Abdullah bin Masud, Salim, Mu’adh dan Ubai bin Ka’b.”

Kami sangat khawatir karena tidak seorangpun dari keempat orang yang direkomendasikan Muhammad untuk mengajar Quran diberi tugas untuk mengumpulkan atau menegaskan kebenaran Quran. Yang disuruh justru juru tulisnya Muhammad: Zaid bin Thabit. Dia juga khawatir bahwa tugas ini terlalu berat. Tapi baik Kalifah Abu Bakr maupun Umar pada saat itu tidak minta satu pun dari keempat orang di atas untuk memeriksa hasil penyusunan Quran buatan Zaid.

Kami lanjutkan penyelidikan dengan rasa agak bingung karena proses penyusunan ini ternyata melibatkan lebih banyak hal yang tidak pernah didengar sebelumnya. Sayangnya, kami mendapatkan bahwa sejarah penyusunan Quran tidak berhenti pada saat itu saja. Dengan makin bertambah dan menyebarnya masyarakat Muslim, jadi bertambah sukar pula untuk mempertahankan keutuhan isi Quran karena tidak ada satu patokan isi Quran yang sah, setiap guru agama punya salinan mereka sendiri. Ini mengakibatkan banyaknya ketidaksetujuan diantara masyarakat Muslim, dan karena itu, Kalifah Utsman diminta untuk berbuat sesuatu untuk menanggulangi hal ini.

Harap diingat bahwa pada saat itu, naskah Quran yang dikumpulkan Zaid tidak disebarkan ke mana2, dan masih disimpan oleh Hafsa. Juga perhatikan apa yang dilakukan Kalifah Utsman seperti yang diterangkan di Hadis Sahih Bukhari berikut.

Sahih Bukhari, 61:510
Dikisahkan oleh Anas bin Malik: Hudhaifa bin Al-Yaman datang pada Utsman pada saat orang² Sham dan Iraq sedang mengadakan perang untuk menaklukkan Arminya dan Adharbijan. Hudhaifa takut akan perbedaan pelafalan Qur’an yang dilakukan mereka (orang² Sham dan Iraq), lalu dia berkata pada ‘Utsman, “O ketua orang yang beriman! Selamatkan negara ini sebelum mereka bertentangan tentang Buku ini (Qur’an) seperti yang dilakukan orang Yahudi dan Kristen sebelumnya.” Lalu ‘Utsman mengirim pesan pada Hafsa yang isinya, “Kirim pada kami naskah² Qur’an sehingga kami bisa mengumpulkan bahan² Qur’an dalam salinan yang sempuran dan mengembalikan naskah² itu padamu.”
Hafsa lalu mengirimkannya pada ‘Utsman. ‘Utsman lalu memerintahkan Zaid bin Thabit, ‘Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As dan ‘AbdurRahman bin Harith bin Hisham untuk menulis ulang naskah² itu menjadi salinan yang sempurna. ‘Utsman berkata pada tiga orang Quraish, “Andaikata kau tidak setuju dengan Zaid bin Thabit tentang isi apapun dalam Qur’an, maka tulislah Qur’an dalam dialek Quraish, agar Qur’an dinyatakan dalam bahasa asli mereka.”

Mereka melakukan itu, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Utsman mengembalikan naskah² yang asli pada Hafsa. ‘Utsman mengirim satu salinan Qur’an ke setiap propinsi Muslim, dan memerintahkan semua tulisan² Qur’an lain, baik yang ditulis di beberapa naskah atau seluruh buku, dibakar.

Said bin Thabit menambahkan, “Satu ayat dari Surat Ahzab hilang dariku ketika kita menyalin Qur’an dan aku biasa mendengar Rasul Allah menceritakannya. Maka kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaima bin Thabit Al-Ansari. (Ayat ini berbunyi): ‘Diantara orang² yang beriman ada orang² yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.’ (33.23)

Dari mempelajari kisah di atas dan juga Hadis Sahih lain yang pesannya serupa, kami perhatikan ada beberapa kumpulan Quran yang berbeda² yang tersebar saat itu. Ini adalah bagian kumpulan Quran yang dibuat oleh keempat guru² Quran yang direkomendasikan Muhammad seperti yang ditulis di Hadis terdahulu, yakni salah satunya Ubai bin Ka’b. Lagi² kami merasa terganggu dengan hal² berikut.

Pertama, ada banyak ketidaksetujuan diantara para Muslim tentang apa yang seharusnya ada dalam Quran. Karena itu, Kalifah Utsman memerintahkan naskah² Quran yang disimpan Hafsa untuk disalin dan disebarkan dan ditunjuk sebagai salinan Quran yang sah.

Kedua, jika ada banyak ketidaksetujuan diantara ahli² tulis yang menyalin Quran tentang bagaimana melafalkan suatu ayat, Utsman menyuruh mereka menulisnya dalam dialek Quraish. Kami kecewa ketika tahu bahwa Kalifah Utsman memerintahkan perubahan kata² Quran ke dalam dialek Quraish. Apakah perubahan bagian dari tujuh versi Quran yang berbeda? Kami tidak menemukan penjelasan ini di Hadis Sahih. Yang terakhir, kami kaget sekali ketika Khalifa Utsman memerintahkan PEMBAKARAN Quran2 yang lain, tidak peduli apakah seluruhnya atau sebagian saja. Kami bertanya dalam hati: MENGAPA? Mestinya karena Quran² lain yang beredar saat itu begitu berbeda dengan yang dimiliki Khalifa Utsman sehingga dia sampai² mengeluarkan perintah yang begitu keras. Ingat saat Al-Yaman bertemu Utsman untuk memintanya menyelamatkan negara karena mereka berbeda pendapat tentang Quran. Sekarang Kalifah Utsman memerintahkan disebarkannya salinan yang dimiliki Hafsa, padahal versi ini belum pula disahkan oleh guru² Quran terbaik untuk jadi patokan Quran yang sah.

Sewaktu kami menyelidiki apa kemungkinan perbedaannya yang ada, kami menemukan contoh kata Bismillah yang hilang pada awal Surah 9, ayat perajaman yang hilang dimakan KAMBING, dan lalu ayat ini dihapus, ditarik kembali, dibatalkan atau dilupakan. Kami telah membicarakan hal ini dalam penelitian kami tentang ayat² yang dibatalkan (Ayat² setan). Kami menjumpai bahwa meskipun perintah penghancuran diberikan, beberapa bagian dari versi Quran lain ternyata selamat, mungkin karena orang² Muslim hafal akan variasi lain dari Quran.

Contohnya, dari terjemahan Quran oleh Abdullah Yusuf Ali, kami menemukan Qiraat (bacaan Quran) lain yang berbeda dengan Quran milik Ka’b yang direkomendasikan Muhammad sebagai satu dari empat guru terbaik untuk mengajar Quran. Dia menulis ada kata2 tambahan bagi Surah 33:6. Kami dulu diajari bahwa tidak ada satu titik pun yang diubah, dan inilah seluruh kalimat yang hilang yang ditandai dengan ** di bawah di catatan kaki 3674 dari Abdullah Yusuf Ali.

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, ** dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). (QS 33:6)

** Catatan kaki 3674: … Di beberapa Qiraats, seperti yang dimiliki Ubai ibn Ka’b, muncul pula kata² ini “dan dia adalah ayah bagi mereka”, yang mengartikan bahwa hubungan spiritualnya dan hubungannya denga kata² “dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka”

As-Suyuti (wafat 1505), salah seorang pakar Quran yang paling dihormati mengutip Ibn ‘Umar al Khattab : “Janganlah ada diantara kalian yang mengatakan bahwa ia mendapatkan seluruh Quran, karena bagamana ia tahu bahwa itu memang keseluruhannya? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena itu, kalian harus mengatakan ‘Saya mendapatkan sebagian Quran yang ada’” [As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72].

Aisha, isteri tersayang nabi mengatakan, juga menurut sebuah tradisi yang diceritakan as-Suyuti, “Selama masa Nabi, saat dibacakan, Surah al-Ahzab berisi 200 ayat. Ketika Utsman mengedit Quran, hanya ayat² sekarang ini (73) yang tertinggal.”

As-Suyuti juga menceritakan ini tentang Uba ibn Ka’b, salah seorang sahabat Muhammad: Sahabat terkenal ini meminta salah seorang Muslim, “Berapa ayat yang ada dalam Surah al-Ahzab?” Katanya, “73 ayat.” Ia (Uba) mengatakan padanya, “Dulunya jumlah ayatnya hampir sama dengan Surah ‘Al Baqarah’ (sekitar 286 ayat) dan termasuk ayat perajaman”. Lelaki itu bertanya, “Apa ayat perajaman itu ?” Ia (Uba) mengatakan, “Jika lelaki tua atau wanita melakukan zinah, rajam mereka sampai mati.”

Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Quran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Quran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An’am, tapi surah Yunus.

Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Quran. Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu bukan bagian dari Quran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Quran atau ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Quran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Quran. Ini merupakan tradisi populer masyarakat Mediterania pada masa awal Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah (dalam hadis lain bismillah) maka pekerjaannya menjadi sia-sia.”

Seperti yang kita lihat sebelumnya, Utsman mencoba mengatasi situasi kacau ini dengan kanonisasi codex / mushaf Medinah, yang salinannya dikirim kesemua pusat² metropolitan diiringi perintah untuk menghancurkan kesemua mushaf lain.

Mushaf Utsman ini dianggap sebagai standar teks konsonan, tapi yang kita temukan justru terdapat berbagai variasi teks konsonan yang masih hidup juga sampai abad Islam ke 4. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’lamu atau bi’ilmi.

Masalah diperuncing dengan adanya perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf Utsmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti “siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira” (Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi versi2 bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding2kan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama. Bahkan ketujuh mushaf versi Ibn Mujahid memberikan 14 kemungkinan karena masing2 dari ketujuh mushaf itu bisa dilacak kepada dua transmitter berbeda. yakni:

  • Nafi dari Medinah menurut Warsh dan Qalun
  • Ibn Kathir dari Mekah menurut al-Bazzi dan Qunbul
  • Ibn Amir dari Damascus menurut Hisham dan Ibn Dakwan
  • Abu Amr dari Basra menurut al-Duri dan al-Susi
  • Asim dari Kufa menurut Hafs dan Abu Bakr
  • Hamza dari Kufa menurut Khalaf dan Khallad
  • Al-Kisai dari Kufa menurut al Duri dan Abul Harith

Tindakannya ini berdasarkan pada hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Quran diturunkan dalam tujuh huruf.” Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan versi² lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan²nya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi para ulama tersebut tidak banyak berpengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima oleh banyak orang. Pada akhirnya 3 versi bertahan, versinya Warsh (812) milik Nafi dari Medina, Hafs (805) milik Asim dari Kufa, dan al-Duri (860) milik Abu Amr dari Basra. Jaman sekarang, hanya 2 versi yang terus digunakan. Yaitu versi Asim dari Kufa lewat Hafs, yang diberikan ijin resmi dengan diadopsi sebagai Quran edisi Mesir tahun 1924; dan milik Nafi lewat Warsh, yang digunakan di bagian² Afrika selain Mesir.

Pencetakan Quran di Mesir tahun 1924 adalah rekayasa yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembukuan Quran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Quran Edisi Mesir itu merupakan versi Quran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim. Keberhasilan penyebarluasan Quran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa² sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Quran adalah karya institusi yang didukung oleh penguasa politik.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Quran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek standarisasi kitab suci, yang bertujuan memusnahkan versi² Quran yang lain. Kendati tidak seperti Utsman bin Affan yang secara terang²an memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Quran yang bukan miliknya, tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Quran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan² menyisihkan edisi lain yang diam² masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa Quran versi yang ada sekarang ini jauh dari kata suci dan murni. Bahkan jika dibandingkan dengan kitab samawi lain seperti Taurat dan Injil, kemurnian atau validitas Quran jauh dibawah kedua kitab tersebut.

Aisha pernah melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaran yang berisi 2 ayat, termasuk ayat² rajam, ditulis dalam lembaran yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman Rasulullah, seekor binatang memakannya hingga musnah. Disebutkan dalam bahasa Arab bahwa binatang tersebut adalah “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba ataupun unggas.



JAWABAN LENGKAP

Banyak fitnah yang dilontarkan oleh kaum kafir kepada Al-Quran, contohnya tentang kompilasi Al-Qur’an seperti uraian di atas. Tujuannya adalah agar kita sepakat dengan mereka  untuk  mengakui bahwa Kitab Suci Al-Quran yang ada sekarang ini tidak sama dengan Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW. 

Bagaimana cerita yang sesungguhnya?
Simak jawaban lengkapnya di sini.

Thursday, April 19, 2018

Al-Quran: Nama YAHYA Dalam QS. 19: 7 Thursday, April 19, 2018


بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

1. Pengantar
Pada surah ke-19 dalam Al-Qur’an yang menyandang nama Maryam, kisah kelahiran ‘Isa yang penuh mukjizat (ayat 16-34) didahului oleh kisah kelahiran Yaḥya yang juga penuh mukjizat (ayat 1-15). Ia terlahir sebagai anak Nabi Zakariyya ‘alayhis-salaam yang uzur serta istrinya yang renta dan mandul. Dalam berbagai tradisi, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam diidentifikasi sebagai John Sang Pembaptis (John the Baptist). Sebagian misionaris Kristen lantas merujuk kepada satu permasalahan yang muncul pada ayat ketujuh dalam Surah Maryam, di mana kelahiran Yaḥya diumumkan:

yohanna1
“Wahai Zakariyya, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yaḥya; tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.”

Para misionaris tadi menyatakan bahwa ayat ini mengandung kesalahan. Dalam pemahaman mereka, menurut ayat ketujuh itu nama Yaḥya (John) semestinya unik, sehingga tak seorang pun sebelum kelahirannya memiliki nama demikian. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima rujukan terhadap nama John. Maka menurut mereka nama John (Yaḥya) tidaklah unik atau istimewa dan kesalahan Al-Qur’an menjadi jelas.

Sepertinya, awal mula kontroversi ini adalah Abraham Geiger yang menulis buku berjudul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?:

“Ia (yakni Muhammad) mengajukan bahwa sebelum John Sang Pembaptis tak seorang pun menyandang nama John. Seandainya ia memahami sejarah Yahudi maka ia sepatutnya sadar bahwa, selain beberapa orang bernama sama yang menurut sejarah tidaklah penting dalam Kitab Tawarikh (Chronicles), ada ayah dan anak dari pendeta Makabea yang terkenal, Mattathias, yang sama-sama bernama John. Kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab, maka mereka mencoba memberikan makna lain bagi kata-kata yang terang dan tak diragukan lagi itu.”[1]

Namun Geiger tidak mengutip satu pun penafsir dari kalangan Muslim untuk mendukung pernyataan-pernyataannya, dan sebagaimana akan ditunjukkan pada bagian-bagian di bawah, kita perlu berpikir bahwa jangan-jangan klaimnya bahwa “kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab” adalah karangannya semata-mata.

Karena para misionaris itu tidak mampu memberi jawaban lebih lanjut atas masalah ini, maka kitalah yang harus menyelidiki serta menyediakan informasi utama yang seolah hilang. Benarkah nama Yaḥya dan John dapat dipertukarkan antara satu dengan yang lainnya? Apakah makna ayat tadi memang sejalan dengan terjemahannya? Tulisan ini akan menyelidiki berbagai hal terkait dengan nama Yaḥya.

2. Apakah John secara Linguistik Sama dengan Yaḥya?
Menurut para misionaris Kristen, nama Yaḥya adalah bentuk Arab dari nama John, dengan jabaran sebagai berikut: Nama John dalam bentuk Ibrani adalah Johanan, yang dalam bentuk Arab-nya adalah Yaḥya, dan dalam bentuk Yunani adalah Ioannes.

Nyatanya, padanan Arab untuk nama John dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna, bukan Yaḥya. Demikian pula padanan Arab untuk nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya. Siapapun yang memiliki pengetahuan dasar akan rumpun bahasa Semit dapat langsung menunjukkan bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda. Anda tak perlu menjadi ahli bahasa-bahasa Semit untuk memverifikasi klaim ini; Alkitab terjemahan berbahasa Arab sudah mencukupi.

Nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yowchanan {yo-khaw-nawn’}, atau Johanan dalam Authorized (King James) Version, yang artinya: Jehovah has graced (Tuhan membahagiakan). Dan tokoh-tokoh dalam Alkitab yang menyandang nama itu adalah (1) seorang pendeta pada periode kependetaan agung Joiakim yang kembali bersama Zerubbabel; (2) seorang pemimpin Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem; (3) anak tertua Raja Josiah; (4) seorang pangeran di era pasca-pengasingan dari garis keturunan Daud; (5) ayah dari Azariah, pendeta di era Sulaiman; (6) salah satu ksatria Daud dari suku Benjamin; (7) salah satu ksatria Daud dari suku Gad; (8) seorang buangan yang kembali.

Dalam berbagai alkitab versi Arab, nama ini diubah menjadi Yuḥanan sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks di bawah ini.

I Kings 25 23
1Raja-Raja 25:23
I Chronicles 3 15
1Tawarikh 3:15
yohanChro2
1Tawarikh 3:24
Uzair 8 12
Ezra 8:12

Kini kita ambil contoh dari Perjanjian Baru. Nama John (Sang Pembaptis) dalam bahasa Yunani adalah Ioannes {ee-o-an’-nace}, nama asli Ibrani. Dalam Authorized (King James) Version terdapat nama John (Sang Pembaptis), anak dari Zacharias dan Elisabeth, pendahulu Kristus, dan dengan perintah Herod Antipas ia dipenjara dan akhirnya dipenggal. John juga nama salah satu murid Yesus, penulis Gospel Keempat, anak dari Zebedee dan Salome, serta adik dari murid Yesus yang lain bernama James, dan ia pula yang (tanpa disebut namanya) dibicarakan dalam Gospel Keempat sebagai murid kesayangan Yesus dan menurut pendapat tradisional merupakan pengarang Kitab Wahyu. John juga nama sahabat dari Barnabas dan Paulus, nama belakangnya Markus. Ada pula seorang John yang merupakan anggota Sanhendrin.

Dalam berbagai alkitab Arab, nama John sebagaimana disebutkan dalam Maccabees dan Perjanjian Baru adalah Yuḥanna.


Maccabees 2 2
1Makabe 2:2
John 1 6
Yohanes 1:6

Dan tentu saja, Injil Yohanes pun menggunakan nama Yuḥanna.


Gospel John
Injil menurut Yuḥanna (Yohanes)

Maka dari itu, padanan nama John (Yowchanan) dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya, dan padanan Arab untuk nama John (Ioannes) dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna bukan Yaḥya. Dengan membabibuta menggadang-gadang polemik anti-Islam, sebagaimana dihadirkan oleh Abraham Geiger, para misionaris Kristen telah dibuat tersesat.

3. Makna Nama Yaḥya
Kedua nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda. Al-Qur’an menyampaikan bahwa putra Zakariyya bernama Yaḥya, bukan John. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama John dalam bentuk bahasa Arabnya entah itu Yuḥanan maupun Yuḥanna.

Para peneliti bibel menekankan bahwa nama Yuḥanna dan Yuḥanan adalah sama. Dalam gospel-gospel terjemahan berbahasa Ibrani, mereka tidak menggunakan Yuḥanna melainkan mengembalikannya ke dalam bentuk asli yakni Yuḥanan. Mereka juga memberikan makna yang sama bagi kedua nama itu. Keduanya memuat Yu, yang merupakan penyingkatan dari Jehovah, nama Tuhan dalam bahasa Ibrani. Sedangkan ḥanan atau ḥanna, keduanya turunan dari kata-dasar ḥanan dalam bahasa Aramaik (sama dengan kata-dasar ḥanna dalam bahasa Arab) yang berarti “kelembutan/kebahagiaan dari Tuhan”, sama dengan nama Ibrani Hanania.

Lantas, nama Yaḥya asli Arab ataukah asing? Dalam bahasa Arab, bentuk present Yaḥya adalah bentuk orang-ketiga dari kata-dasar ḥaya. Kata-dasar ḥaya ini (yang dapat ditulis dengan alif panjang maupun alif khanjariyyah dalam bentuk present maupun past) memiliki dua makna:
  • Yang pertama berasal dari al-ḥayah, yakni “hidup” yang merupakan lawan dari “mati” sebagaimana dalam contoh lan ansa laka hadha as-saniʿa ma ḥayit, yang artinya, “Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda ini selama saya hidup.” 
  • Makna kedua dari kata-dasar ḥaya berasal dari al-ḥaya’ yang diakhiri dengan hamzah berarti “rasa malu/kesucian”. Dalam pengertian kedua ini bisa dikatakan ḥayitu minhu yang maksudnya seseorang malu atau bingung terhadap orang lain. Inilah mengapa ular disebut ḥayyah, yakni karena ia mengelung tubuhnya sendiri dalam bentuk melingkar. 

Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama mengenai asal-muasal nama ini. As-Suyuti menyatakan dalam Al-Itqan fi ʿUlum al-Qur’an:

“Yaḥya: Anak dari Zakariyya, orang pertama yang menyandang nama itu menurut Al-Qur’an. Ia dilahirkan enam bulan sebelum ‘Isa, dan diserahi kenabian di usia muda, serta dibunuh tanpa haq. Allah menggerakkan Nobukhod Nosor dan balatentaranya terhadap para pembunuhnya. Yaḥya adalah nama non-Arab, namun dikatakan pula [oleh sebagian] sebagai berasal dari Arab. Menurut al-Wahidi: Dalam kedua kemungkinan itu, nama ini tidak dapat di-tanwin-kan.

“Al-Kirmani menyatakan: Pada kemungkinan kedua [yakni nama itu berasal dari Arab], disebutkan bahwa ia digelari demikian karena Allah membuatnya hidup dengan iman, karena rahim ibundanya menjadi hidup dengan kehadirannya, dan karena ia syahid, sebab para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka [bal aḥya’un ʿinda Rabbihim yurzaqun].

“Dikatakan pula bahwa maknanya adalah yamut, yakni “ia mati” sebagaimana kita menggunakan mafazah untuk menyatakan mahlakah atau menggunakan salim untuk menyatakan ladigh.”[2]

Nama Yaḥya juga telah membuat bingung banyak orientalis. Paul Casanova beropini bahwa Yaḥya adalah sebuah “kesalahan” yang perlu “dikoreksi”:

“Maka dari itu cukup lama saya ragu untuk menyarankan koreksi-koreksi yang lebih pas menurut saya. Yang membuat saya kini melakukan hal itu adalah, harus saya sebutkan, bahwa para peneliti Barat cenderung semakin melepaskan diri dari rasa hormat penuh tahayul terhadap integritas absolut Al-Qur’an, dan bahwa peneliti “Semitisasi” Jerman, Barth, juga telah menyarankan koreksi-koreksi yang cukup penting yang salah satu di antaranya menarik perhatian saya secara khusus, karena saya telah memikirkan soal ini untuk waktu lama dan saya senang melihat hal ini disampaikan sebagaimana saya telah membayangkannya. Koreksi itu yakni Youḥanna untuk Yaḥya, Youḥanna dan bukan Yaḥya, nama untuk St. John Sang Pembaptis. Saya tadinya tak berani mempublikasikannya, pertama-tama karena alasan umum yang telah disebutkan sebelumnya, karena hal ini mengarah kepada suatu kebetulan yang aneh. Betul, orang-orang Mandai atau kaum pseudo-Kristen Santo John, yang bisa disamakan dengan orang-orang Sabian yang disebutkan dalam Al-Qur’an, memiliki kitab yang di dalamnya nabi utama mereka disebut Yahio [sic!]. Jika nama itu muncul akibat kesalahan pembacaan para pengarang Al-Qur’an, kitab itu semestinya lebih tua ketimbang difusi Al-Qur’an resmi dan segala teori yang dibangun di atas identifikasi itu akan runtuh.[3]

Mingana, mengikuti jejak Margoliouth, percaya bahwa ranah puisi pra-Islam merupakan penipuan pasca-Islam (suatu teori yang telah dibantah dengan baik oleh para peneliti Muslim maupun non-Muslim). Maka dari itu, bagi Mingana, Al-Qur’an merupakan kitab pertama dalam bahasa Arab yang “pengarangnya” menghadapi:

“… kesulitan-kesulitan besar. Ia harus menyesuaikan kata-kata baru dan ungkapan-ungkapan baru terhadap ide-ide segar, dalam suatu bahasa yang belum lagi baku dari segi tata-bahasa maupun leksikografi.”

Mingana bersandar pada penggunaan bahasa Syria demi memahami “asal” kata Yaḥya. Ia menyatakan:

“Untuk mengekspresikan ‘John’, Al-Qur’an yang sampai kepada kita memakai bentuk yang aneh yakni ‘Yaḥya’. Saya sependapat dengan Margoliouth, bahwa nama itu hampir pasti merupakan ‘Yoḥannan‘ dalam bahasa Syria.”

Ia juga membuat pernyataan cukup aneh bahwa dalam naskah-naskah Al-Qur’an awal tanpa harakat, huruf-huruf Arab y-ḥ-y yang menyusun Yaḥya dapat dibaca menjadi:

“Yoḥanna, Yoḥannan, atau Yaḥya, dan para qari Muslim yang tak mengenal bahasa selain Arab mengadopsi bentuk yang salah yakni Yaḥya.”

Arthur Jeffery percaya bahwa pernyataan tersebut layak untuk didukung namun secara bersamaan ia memberitahu kita bahwa:

“Sepertinya tidak ada jejak nama tersebut (yakni Yaḥya) dalam literatur-literatur kuno (orang-orang Arab).”

Sebuah pertanyaan retoris perlu diajukan: Jika tidak ada jejak nama Yaḥya dalam literatur-literatur Arab pra-Islam, maka mengapa teks tanpa harakat itu harus dibaca “Yaḥya” (y-ḥ-y)? Kenapa tidak dibaca lain, misalnya t-ḥ-t? C.C. Torrey, sebagaimana Casanova dan Jeffery, juga percaya bahwa Yaḥya dalam Al-Qur’an adalah pembacaan yang salah dari Yuḥanna, namun semua qira’at (metode pembacaan) kompak dalam menyatakan bahwa y-ḥ-y tanpa harakat itu hanya bisa dibaca sebagai Yaḥya dan bukan Yuḥanna atau Yuḥanan. Selanjutnya, para orientalis yang pendapat-pendapatnya dikutip di atas juga percaya bahwa nama Yaḥya sebenarnya asing (non-Arab), namun anggapan-anggapan mereka bahwa nama Yaḥya merupakan sebuah “kesalahan” disampaikan tanpa bukti sama sekali! Meskipun kebanyakan peneliti Barat (tidak seperti Geiger atau para misionaris Kristen) sadar bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda dan ditarik dari akar yang berbeda pula, mereka hanya dapat menerka-nerka asal-muasal nama tersebut.
4. Orang-orang Mandai, “Orang-orang Kristen Santo John”
Adakah John Sang Pembaptis dikenal sebagai Yaḥya oleh kelompok tertentu?

Orang-orang Mandai adalah sebuah komunitas yang hidup di Iraq dan Iran, dan berbicara dalam dialek Aramaik (atau Mandaik sebagaimana dirujuk dalam berbagai literatur). Mereka mengaku sebagai pengikut Santo John Sang Pembaptis dan terkadang dirujuk (secara salah) sebagai “Orang-orang Kristen Santo John”, suatu julukan yang awalnya dipakai oleh para misionaris Kristen dari Portugis. Mereka secara pasaran dikenal sebagai Ṣubba (tunggal: Ṣubbi). Panggilan Ṣubba diakui merujuk pada ritual utama agama mereka, yakni pembaptisan dengan cara pencelupan. Nama yang mereka sendiri pakai untuk menyebut agama dan ras mereka adalah Mandai, atau Mandaea.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas sejenak identifikasi kaum Sabian atau Ṣabi’un. Ada begitu banyak spekulasi tentang Ṣabi’un, suatu kelompok agama yang disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an. Para penafsir Al-Qur’an telah berteori tentang kemungkinan identitas kelompok ini. Kita hanya akan meringkas berbagai pandangan yang ada. Bagi yang tertarik, silakan konsultasikan subjek ini sebagaimana telah dibahas panjang lebar oleh Jane Dammen McAuliffe.

Sebagian penafsir Al-Qur’an telah menyebut Ṣabi’un sebagai pemuja para malaikat, dan sebagian menyebut mereka kaum monoteis, yakni mereka yang sembahyang menghadap kiblat, dan berbeda dari orang-orang Yahudi, Kristen, maupun Magi. Mereka biasanya diidentifikasi sebagai sekelompok orang dari Iraq.

Penelitian Barat mengenai identifikasi Ṣabi’un dalam Al-Qur’an kemungkinan dimulai dengan karya besar Daniel Chwolson. Satu ringkasan atas pandangan Chwolson dibuat oleh John Pederson. Chwolson mengajukan identifikasi rancu kaum Ṣabi’un. Orang-orang Mandai yang monoteis adalah salah satunya, dan yang lain adalah para pagan pemuja bintang di Harran yang oleh para sejarawan Muslim dianggap mengadopsi nama Ṣabi’un agar turut dimasukkan ke dalam kategori Ahli Kitab.

Akan tetapi Pederson membuat pengecualian terhadap identifikasi rancu dari Chwolson. Ia menyebutkan bahwa Ṣabi’un semestinya diidentifikasi sebagai golongan hanif karena:

“Mereka juga orang-orang yang percaya pada Tuhan, meski bukan Yahudi maupun Kristen; mereka contoh terdekat golongan mukmin, sebagaimana Ibrahim sendiri adalah hanif.”

Identifikasi oleh Pederson ini hadir menyamakan hanif dengan gnostik. Akibat dari hal ini adalah ia menyamaratakan penyebutan Ṣabi’un bagi orang-orang Mandai dan Ḥarran.

Penyamarataan dari Pederson juga didukung oleh E.S. Drower; namun ia mengenali pada kelompok Ḥarran pembedaan antara kelas pendeta, disebut sebagai orang-orang Naṣorai, dan kelas awam jahiliyah atau semi-jahiliyah yang disebut orang-orang Mandai. Pandangan dari Bayard Dodge adalah bahwa bukti bagi identifikasi semacam ini tidaklah mencukupi. Ia cukup puas dengan korelasi antara Ṣabi’un dan Mandai, namun ia tak bersedia melangkah lebih dari itu, sebagaimana pernyataannya:

“… kita tidak tahu asal-muasal mereka atau kelompok-kelompok mana yang kemungkinan bisa disebut para Sabian.”

Orang-orang Mandai menyebut guru mereka John Sang Pembaptis dengan sebutan Yahia Yuhana. Dalam kitab doa resmi mereka bisa dibaca:

“Raja Yahia-Yuhana,
Perlindungan dan kejayaan bagimu.”

Salah satu kitab suci mereka disebut Drasha d-Yahia atau Kitab Yahia. Kamus bahasa Mandai menyajikan keterangan lebih lanjut untuk nama “iahia” dan “iuhana” sebagaimana digunakan dalam kitab-kitab suci mereka.

yahmand1
iahia (Arab: Yaḥya) nama malwasa khas laki-laki, sering digunakan bersamaan dengan bentuk Aramaik aslinya menjadi iahia iuhana, John Sang Pembaptis. Variasi: iihia.
yahmand2
iuhana: John, khususnya John Sang Pembaptis, disebut juga iahia iuhana (merupakan nama umum Mandai)

Perhatikan tiadanya ḥ (h tegas atau ح dalam abjad Arab, ditransliterasi lewat simbol h dengan titik di bawahnya), sehingga Yahia Yuhana menggunakan “h lembut”, tidak seperti dalam bentuk Arab dan Aramaik-nya. Dalam dialek Aramaik dari orang-orang Mandai, bunyi ḥ memang pernah ada, namun vokalisasi ini telah hilang.

Nama Yahia dalam Yahia Yuhana telah menjadi teka-teki bagi para peneliti Barat. Menurut mereka, Yahia bukanlah nama Aramaik melainkan nama Arab, namun sebagaimana telah kita bahas, ada perbedaan pendapat di kalangan linguis Arab mengenai asal-usul dan makna nama Yaḥya. Kata ḥaya dalam bahasa Arab memiliki padanan dalam bahasa Aramaik dan Ibrani, dan jelas memiliki akar yang sama, dengan asal-usul yang identik. Dalam bahasa Syria, kata kerja ḥy (past tense) berarti “hidup; sembuh; reda (terkait rasa sakit)”; dengan neḥḥe sebagai bentuk present/future tense untuk orang ketiga tunggal. Dan dalam banyak dialek Aramaik, nama ini menjadi yeḥye atau yaḥye; yang terakhir mirip dengan bentuk Arab Yaḥya, yang apabila bertanda imalah akan dibaca Yaḥyei. Dalam qira’at (metode pembacaan) Ḥafṣ, dibaca Yaḥya tanpa imalah. Sedangkan dalam qira’at Warsh dan Ḥamzah dibaca Yaḥyei dengan imalah.

Kembali ke bahasa Aramaik, kata-sifat ḥayya berarti “hidup, mentah (tidak dimasak), murni (tidak bercampur), mengalir (terkait air)” sedangkan ḥayye berarti “hidup, keselamatan”, ḥayutha berarti “kehidupan”, ḥaywtha berarti “hewan”, ḥaytha berarti “bidan”.

Untuk memecahkan teka-teki ini (yakni keberadaan nama Yahia dalam Yahia Yuhana), para peneliti Barat telah menyajikan berbagai penjelasan, mulai dari diselipkannya nama Yahia ke dalam mushaf-mushaf pada periode belakangan hingga pemaksaan dari kaum Muslim terhadap kaum Mandai untuk menggunakannya! Tak satu pun dari teori ini didukung oleh bukti sejarah

Maka ini mungkin waktu yang tepat untuk membahas pentingnya nama Yahia dalam literatur Mandai. Setiap orang Mandai memiliki dua nama, yakni malwasha atau nama spiritual, dan laqab atau nama sehari-hari. E.S. Drower menjelaskan perbedaan antara malwasha dan laqab:

“Yang terakhir biasanya nama Muslim dan digunakan untuk seluruh kepentingan sehari-hari, sedangkan yang pertama [yakni malwasha] adalah nama asli dan spiritualnya dan digunakan untuk seluruh kegiatan keagamaan dan spiritual.”

Maka, pada Yahia Yuhana, Yahia adalah malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama pasaran. Yang menarik di sini adalah bahwa Al-Qur’an hanya menggunakan nama asli atau spiritualnya, yakni Yaḥya. Namun bagaimana dengan Yuḥanna?

5. “Wa ḥananan min ladunna…“
Penggunaan Yahia Yuhana oleh orang-orang Mandai untuk menyebut John Sang Pembaptis cukup menarik sebagaimana telah kita lihat di bagian sebelumnya. Kini kita akan melenceng sedikit dan membahas atribut-atribut Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut Yaḥya namun bagaimana dengan Yowchanan/Yuḥanna? Kita tahu bahwa Yowchanan/Yuḥanna bermakna “kasih sayang Tuhan”, atau bisa pula berarti “Jehovah (nama Ibrani untuk Tuhan) adalah pemberi yang baik”. Nama ini terdiri dari dua kata yakni “Yu” yang merupakan pemendekan dari Jehovah dalam Bibel Ibrani dan ḥanna, dari kata-dasar ḥanan. Ternyata, Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:


yahhanan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya artinya “berikut kasih sayang [ḥananan] dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh.” (Al-Qur’an 19:13)
Dengan kata lain, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam adalah ḥananan dari Allah; ini tiada lain adalah parafrase dari apa yang dimaksud dengan Yowchanan/Yuḥanna, yakni “Tuhan adalah pemberi yang baik”. Yang lebih menarik adalah bahwasanya kata ḥananan muncul hanya satu kali di dalam Al-Qur’an, yakni dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pada ayat di atas. Perlu diingat bahwa kata dasar ḥanan memiliki makna yang mirip dalam bahasa Aramaik, Ibrani, maupun Arab.

Perhatian juga perlu diberikan pada nama Yuḥanna. Secara etimologis, “Yu” dalam bahasa Arab tidak bermakna Tuhan, berbeda dari bahasa Ibrani; maka dari itu nama “Yuḥanna” akan menjadi kurang bermakna. Kata dalam bahasa Arab untuk Tuhan adalah “Allah”. Tampaknya “Yuḥanna” dipinjamkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Syria atau Ibrani demi kebutuhan-kebutuhan tertentu semata.

Mari kini kita lihat apa kata para penafsir terkait ayat ketigabelas dari Surat Maryam tadi. Di bawah ini adalah pendapat Ibnu Katsir:

hanaan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya, 
artinya, “berikut kasih sayang dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh” – Tentang “berikut kasih sayang dari sisi Kami”: `Ali bin Abi Thalḥah menarasikan dari Ibnu `Abbas bahwa wa ḥananan min ladunna means “kebaikan [Arab: raḥmat] dari sisi Kami” dan serupa itu berkata pula `Ikrimah dan Qatadah dan ad-Dahhak dan ia menambahkan “Tiada yang mampu mengadakan [rahmat] yang demikian itu melainkan Kami”. Qatadah menambahkan “kebaikan dari Allah untuk Zakariyya”. Mujahid berkata wa ḥananan min ladunna artinya “rasa iba dari Tuhannya terhadap ia”. `Ikrimah berkata wa ḥananan min ladunna bermakna “kasih sayang baginya”. Ibnu Zayd berkata: Sedangkan “ḥanan” artinya cinta. `Aṭa’ Ibn Abi Rabaḥ berkata: wa ḥananan min ladunna bermakna “kemuliaan [Arab: ta`zhim] dari sisi Kami”. Ibnu Jurayj memberitahu kami, `Amr Ibn Dinar menyampaikan kepadaku bahwa ia mendengar `Ikrimah menarasikan dari Ibnu `Abbas perkataannya: “Tidak, demi Allah, aku tak tahu apa arti hanan“. Ibnu Jarir berkata: Ibnu Ḥumayd menyampaikan kepada kami, Jarir menarasikan kepada kami dari Manṣur: Aku bertanya kepada Sa`id Ibn Jubayr tentang wa ḥananan min ladunna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang itu dan ia tidak tahu banyak tentang hal tersebut. […]

Banyak referensi Islami seperti Tafsir al-Qurtubi atau Al-Itqan oleh As-Suyuti dan lainnya yang menarasikan keterangan-keterangan serupa dari Ibnu ‘Abbas terkait “ḥanan”.
6. Eksegesis Surah Maryam Ayat 7
“… lam naj’al lahu min qablu samiyya.”
“… tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.” [Al-Qur’an 19:7]

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya mengenai ayat ini:

yahya_ibnkathir
Artinya:
“Dan Mujahid berkata: ‘[Untuk] lam naj’al lahu min qablu samiyya, [samiyya berarti] ‘shabihan’ – yang sepadan dengannya.’ Ia menarik pemaknaan ini dari perkataan Allah [surah 19 ayat 65]: ‘… fa’budhu washthabir liʿibadatihi hal ta’lamu lahu samiyya’, ‘… maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah Engkau mengetahui ada sesuatu yang [layak untuk menjadi] samiyya bagi-Nya?’. Maka arti [dari samiyya] adalah shabihan – yang sepadan dengannya. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalḥah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa itu artinya: Tiada perempuan mandul yang melahirkan seseorang seperti dia sebelumnnya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Zakariyya ‘alayhis salaam mandul sebagaimana istrinya [yang mandul sejak semula], tidak seperti Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah. Alasan terkejutnya mereka [Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah] terhadap berita gembira kelahiran Ishaq adalah karena usia tua dan bukan karena kemandulan. Inilah mengapa Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam berkata [dalam keterkejutannya]: ‘abasy-syartumunii ‘alaa am-massaniya l-kibaru fabima tubasy-syiruun’, artinya: ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut? Lalu bagaimana engkau menyampaikannya?’ [surah 15 ayat 54]. Meskipun ia berputrakan Isma’il 13 tahun sebelumnya. Demikian pula istrinya berkata: ‘yaa waylataa a-alidu wa anaa ‘ajuu zuwwa haadzaa ba’lii syaikhan inna haadzaa lasyai-un ‘ajiib. Qaaluu ata’jabiina min amrilLahi rahmatulLahi wabarakaatuHuu ‘alaykum ahla l-bayti innaHuu Ḥamiidu m-Majiid’, artinya: ‘Aduhai, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. Mereka (para malaikat) berkata: Mengapa engkau merasa heran terhadap ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Mulia’ [surah 11 ayat 72-73].”

Kata kuncinya di sini adalah samiyya dan analisis rinci atas kata ini disajikan pada Appendix A. Kata samiyya muncul hanya dua kali di dalam Al-Qur’an, pada surah 19 ayat 7 dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam dan pada surah 19 ayat 65 yang merujuk kepada Allah

Dengan metode menggunakan ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an lainnya, Ibnu Katsir sampai pada poin bahwa kelahiran Yaḥya tidaklah seperti kelahiran-kelahiran lain. Penjelasan ini juga didukung oleh hadits dari Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata bahwa yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada anak lelaki seperti Yaḥya dalam pengertian terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. Meskipun Ishaq lahir dari orangtua yang juga tua, tak satu pun dari mereka mandul. Dengan alasan inilah Ishaq tidak sama dengan Yaḥya dalam hal kelahiran.

Dan As-Suyuti menyebutkan dalam tafsirnya:

yahya_durr
Artinya:
“Diriwayatkan Al-Faryabi dan Ibnu Abi Shaybah juga ‘Abd ibn Humayd dan Ibnu al-Mundhir serta Ibnu Abi Ḥatim dan Al-Hakim yang menilainya sahih bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’. Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq dan Aḥmad dalam Al-Zuhd dari jalur ‘Ikrimah. Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’: Tak pernah seorang perempuan mandul melahirkan anak seperti ia. Diriwayatkan Aḥmad dalam Al-Zuhd dan ‘Abd Ibnu Ḥumayd dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim bahwa Sai’id Ibnu Jubayr berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’ yakni [samiyya berarti] shabihan – yang sepadan dengannya. ‘Abd Ibnu Ḥumayd meriwayatkan keterangan serupa dari jalur ‘Atha’. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh dari Yaḥya Ibnu Khallad al-Zarqi bahwa ketika ia [Yaḥya] lahir, ia dibawa kepada Sang Nabi yang memberinya kurma yang telah dikunyah dan berkata: “Aku akan memberinya nama yang tidak pernah diberikan [kepada siapapun] sebelumnya: Yaḥya bin Zakariyya” dan ia pun memanggilnya Yaḥya.

Dari pembahasan di atas, kita lihat bahwa para ‘ulama memiliki dua pandangan terkait ayat lam najʿal lahu min qablu samiyya:
  1. Samiyy berarti shabihan atau mithlan, yakni yang sepadan dengannya. Ayat ini diartikan bahwa kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam tidak seperti kelahiran yang lain, yang mana ia terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. 
  2. Tidak seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam pernah diberi nama demikian oleh Allah.

At-Ṭabari menyajikan hadits untuk kedua penafsiran tersebut, namun berpendapat bahwa penafsiran yang kedua lebih tepat. Al-Qurtubi menyebutkan kedua pendapat tersebut, namun tidak cenderung pada salah satunya. Dan Ibnu Katsir, yang mengutip pendapat At-Tabari, juga tidak cenderung pada yang manapun.

7. Kesimpulan

Geiger dan para misionaris Kristen telah menunjuk kepada suatu kerumitan yang muncul pada ayat ke-17 dalam surah ke-19 di mana kelahiran Yaḥya disebutkan. Menurut pemahaman mereka, nama Yaḥya adalah padanan dalam bahasa Arab untuk nama John. Mereka juga memahami bahwa nama Yaḥya unik, dan tiada seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pernah memiliki nama tersebut. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua-puluh-lima rujukan pada nama John, dan untuk alasan inilah Al-Qur’an dianggap salah. Tulisan ini telah menunjukkan secara menyeluruh bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda dan berasal dari dua akar bahasa yang berbeda.

Geiger dan para Misionaris gagal memahami bahasa asli dari dua nama tsb dan karenanya salah kaprah dalam menyimpulkan bahwa Al-Quran salah.

Ayat dalam QS 19:7 yang dibaca lam najʿal lahu min qablu samiyya dapat diterjemahkan dalam dua pengertian:
  1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, contohnya; seseorang seperti dia. Terjemahan ayat ini adalah menjelaskan bahwa proses kelahiran Yahya tidak sama dengan anak-anak lainnya karena ia lahir dari ayah yang sudah uzur dan dari ibu yang mandul. 
  2. Nama Yahya unik, dan tidak ada seorang pun sebelum kelahirannya yang pernah diberi nama Yahya oleh Allah. Ini yang tampak jleas luput dari perhatian para misionaris.

Apakah Yaḥya juga disebut Yowchanan [atau Yuḥanna]? Tampaknya begitu, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Melalui Mandaeanlah kita mendapatkan nama ganda Yahia Yuhana. Menurut literatur Mandaic, Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah nama laqab atau awam. Al-Qur'an hanya menggunakan nama sebenarnya dan nama rohani, yaitu Yaḥya; Yuḥanna dinyatakan sebagai parafrasa dalam ayat 19:13 mungkin karena fakta bahwa "Yu" dalam bahasa Arab tidak berarti Tuhan, maka membuat kata "Yuḥanna" secara etimologis tidak memiliki arti apa-apa. Agaknya, "Yuḥanna" dipinjam ke dalam bahasa Arab melalui sumber-sumber Ibrani atau Siria. Yang menarik, Encyclopaedia Judaica di bawah entri 'Yohanes Pembaptis' [37] hanya menyebutkan nama Arab: Yaḥya ibn Zakariyya. Tidak seperti entri untuk Musa, Yesus, dll, tidak ada catatan apapun tentang nama ini.

Penggunaan nama Yahia Yuhana di antara orang-orang Mandaean tentu menarik. Perlu juga dicatat bahwa banyak literatur mereka yang mencatat memang ada mantera Mandaean yang berasal dari masa pra-Islam. [38] Penelitian dan temuan temuan lebih lanjut tentunya akan memberi lebih banyak informasi tentang asal mula sastra Mandaic, insya allah.


Sekali lagi misionaris Kristen gagal menunjukkan kontradiksi “historis” dalam Al-Qur'an. Seandainya mereka mau menyelidiki kontroversi ini, bahkan sedikit saja, maka mereka tidak akan pernah membuat blunder seperti itu. Tetapi sebagaimana kita ketahui, ada preferensi di antara para misionaris Kristen untuk secara buta mengikuti setiap polemik murahan, dan karena perdebatan tentang asumsi "kontradiksi" ini tidak sampai berlarut-larut, maka kita tidak akan terganggu olehnya.


CATATAN:
Lebih lengkap, silahkan pelajari di sini

Dan seperti biasa, Maha Benar Allah Dengan segala Firman-Nya
[Disadur bebas dari ISLAMIC AWARNESS - And No One Had The Name Yaḥya (John?) Before: A Linguistic & Exegetical Enquiry Into Qur'an 19:7]

Contact Form

Name

Email *

Message *