Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label S2. Show all posts
Showing posts with label S2. Show all posts

Saturday, February 3, 2018

Arius Dan Konstantin, Awal Lahirnya Doktrin Trinitas Saturday, February 3, 2018


Kehidupan Arius sangat erat kaitannya dengan Kaisar Konstantin-I, kaisar Imperium Romawi. Sehingga kita tidak bisa memahami sejarah kehidupan salah satunya, tanpa memahami yang satunya lagi. Kisah Konstantin menaruh perhatiannya kepada Gereja berawal dari kekhawatirannya terhadap kedudukannya di Roma. Kaisar yang bernama lengkap Flarius Valerius Aurellius Constantinus ini merasa cemburu terhadap putra mahkota bernama Crispus (Flavius Julius Crispus). Putra ini sangat termahsyur, karena posturnya yang menawan dan sikapnya yang ramah, disertai keberaniannya di medan pertempuran. Agar namanya tetap bertahan sebagai figur kaisar Romawi, dan tidak tenggelam oleh ketenaran nama putra mahkotanya, maka Konstantin membunuh Crispus. 

Kematiannya menimbulkan duka rakyat Romawi. Di balik pembunuhan itu, ada berita bahwa ibu tiri putra mahkota itu menginginkan putra kandungnya sendiri yang akan menjadi kaisar, sehingga dia berniat untuk menghabisi Crispus. Akhirnya Konstantin menjatuhi hukuman mati kepada ibu tiri itu dengan membenamkannya ke dalam air mendidih. Para pendukung permaisuri yang mati itu bergabung dengan para pecinta putra mahkota menuntut atas kematian kedua orang itu. Konstantin dalam posisi tersudut dan meminta bantuan pendeta Kuil Yupiter di Roma. Tetapi para pendeta itu mengatakan, bahwa tidak ada kebaktian atau korban yang bias menghapus dosa pembunuhan yang telah dilakukannya. Suasana yang tegang di Roma membuat dia tidak merasa tentram, sehingga Konstantin pun pergi ke Bizantium. 

Setelah tiba di sana, dia mengubah nama kota di pinggir selat Bosporus itu sesuai dengan namanya, Konstantinopel, yang selanjutnya menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Di tempat baru itulah dia melihat perkembangan Gereja Paulus yang sangat menakjubkan. Konstantin mendapat pelajaran, bahwa bila dia mau bertobat dan mengakui dosanya di gereja, maka dosa itu akan diampuni. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk membersihkan nama dan tangannya yang telah dikotori lumuran darah dua pembunuhan dan keputusan-keputusan jahat selama dia berkuasa. Setelah merasa terbebas dari beban dosa, dia pun mencurahkan pikirannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh imperiumnya. Dia melihat adanya kemungkinan memperalat Gereja untuk meraih tujuannya dan menunjukkan loyalitasnya, dengan cara memberi kebebasan kepada Gereja untuk berkembang, yang sebelumnya telah ditindas dan dibinasakan oleh Kaisar Diolektianus (284-305 M). Berkat dukungan Konstantin inilah perkembangan gereja semakin kuat dan pesat. 

Sebaliknya dia mendapatkan keuntungan yang besar, karena wilayah sekitar Laut Tengah dipenuhi oleh gereja, yang pemeluknya dapat dipergunakan untuk mendukungnya di medan perang. Bantuan pendeta merupakan faktor yang sangat penting untuk menyatukan Eropa dan Timur Tengah di bawah kekuasaan Konstantin. Karena rasa terima kasih kepada Gereja di satu sisi, dan ingin menyudutkan para pendeta Kuil Yupiter di Roma yang tidak mau membantunya, pada sisi lainnya, dia mengajak Uskup Roma (yang selajutnya dinamakan paus oleh Paus Gregorius XVI untuk membedakan dengan petinggi gereja atau patriarkh di Timur) untuk membangun gereja yang besar dan megah di kota Roma. Dari posisi terjepit di kota itu, Kristen kemudian diberi fasilitas-fasilitas yang luar biasa oleh Konstantin. Di samping itu dia membiayai pembangunan gereja yang besar dan megah di bukit Zion, Yerusalem. 

Walaupun dia telah memberikan bantuan besar dan masuk agama Kristen, tetapi dia belum pernah dibaptis, sebab pengaruh paganisme yang menyembah Dewa Yupiter dan dewa-dewi lainnya masih sangat dominan. Oleh karena itu Konstantin bersikap menjaga keseimbangan, yang kadangkala dia menampakkan diri seakan-akan sebagai pemuja dewa itu. Sikap seperti itu berlangsung cukup lama sampai meledaknya pertentangan di tubuh Kristen, antara denominasi Gereja Paulus (Pauline Church) yang memegang konsep Trinitas dengan denominasi Gereja Rasuli (Apostolic Church) yang menganut paham Unitarian (Adopsionisme). 

Tokoh paling terkemuka denominasi Unitarian (pandangan Adopsionis) waktu itu adalah Arius dari Aleksandria, salah seorang Dewan Gereja yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Kristen. Dia lahir tahun 250 di Libya dan belajar di perguruan Antiokia yang dibimbing oleh Lucius. Ia merupakan kekuatan baru bagi Gereja Rasuli yang menghidupkan dan mempertahankan ajaran Yesus yang murni, dengan semboyan: “Ikutilah Yesus menurut yang diajarkan oleh-Nya”, serta menentang ajaran-ajaran Kristen yang diciptakan oleh Gereja Paulus. Keagungan nama Arius pada masa itu dapat dilihat dari namanya yang sampai sekarang disinonimkan dengan denominasi Unitarianisme, yakni aliran yang meyakini bahwa satu-satunya tuhan hanyalah Tuhan ALLAH (Bapa), dan Yesus adalah pelayan dan utusan yang dikirim Allah. 

Gereja Paulus menerima pukulan telak dari pihak Arius. Mereka mengakui, Arius bukan hanya seorang ahli perencana saja, melainkan juga sebagai orang yang jujur dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela. 

Pada saat tradisi lisan (oral tradition) -- yang mempertahankan ajaran Yesus -- mulai lumpuh, dibarengi dengan pemahaman Tradisi Tulisan semakin menyimpang jauh, maka Arius tampil dengan segala keberanian dan kegigihannya mempertahankan ajaran Yesus yang telah disampaikan oleh para muridnya secara murni, serta menentang persekutuan pihak gereja dengan Kaisar Konstantin. 

Arius adalah murid Lucian dari Antiokia (yang kemudian Santo Lucian) yang paling keras mengecam Gereja Paulus. Oleh karena dia selalu diincar pembunuhan oleh aliran Trinitas. Arius menyadari akan bahaya yang mengancam jiwanya. Walaupun riwayat hidup masa mudanya tidak begitu jelas, tetapi dia tercatat menjadi tokoh besar Gereja Becaulis Aleksandria. 

Sampai pada masa Konsili Nicaea tahun 325 M, perbedaan keyakinan di kalangan Kristen sangat beragam. Karena kepercayaan di kalangan Kristen sangat beragam. Karena kepercayaan berdasarkan kemauan dan pilihan masing-masing individu. Sebelum gereja mendapatkan kebebasan dari Imperium Romawi, perbedaan keyakinan itu menimbulkan pertentangan sengit, yang pada akhirnya mengakibatkan pertikaian antarkelompok Kristen. Bahkan sering terjadi penangkapan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan gelap. 

Ketika Konstantin menjalin aliansi dengan Gereja, terjadilah perubahan dramatis. Meskipun waktu itu Konstantin masih menjabat kepala negara yang penduduknya mayoritas menganut paganisme, tetapi secara terbuka memberi bantuan kepada gereja, yang pada masa itu mungkin perbedaan antara Gereja Paulus (Pauline Church) dengan Gereja Rasuli (Apostolic Church) belum begitu tajam. Dengan demikian, Kekristenan memperoleh kedudukan baru di bawah naungan Kaisar Romawi. Bagi kebanyakan orang, perkembangan Kristen seperti ini menimbulkan masalah politik. Sebagian orang yang dulunya menentang agama itu, berbalik mendukungnya karena mendapat tekanan dari pemerintah. Oleh karena itu mereka memeluk agama Kristen bukan karena panggilan hati nuraninya, melainkan karena tujuan-tujuan tertentu. Perubahan situasi itu sangat menguntungkan pihak Kristen. Gereja Paulus dan Gereja Rasuli masing-masing berkembang pesat ke seluruh wilayah Imperium Romawi, mengakibatkan pertentangan kedua aliran itu semakin tajam di setiap daerah. 

Konstantin yang pada waktu itu masih belum memahami ajaran Kristen,hanya ingin mendapatkan keuntungan politis bila tercipta kesatuan gereja yang tunduk padanya, dan berpusat di Roma, bukan Yerusalem. Ketika para jemaat Gereja Rasuli (Apostolic Church) menolak untuk memenuhi keinginan kaisar itu, Konstantin berusaha melakukan tekanan-tekanan terhadap mereka. Tetapi setiap tekanan itu tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Para jemaat Gereja Rasuli yang menganut paham Unitarian itu tetap menolak untuk tunduk kepada Uskup Roma1 (Paus). 

Pertentangan semakin tajam mengenai pokok-pokok keyakinan di dalam agama Kristen. Sementara itu doktrin Trinitas telah diterima sepenuhnya oleh pihak-pihak tertentu dalam dunia Kristen. Sedangkan pihak Donatus, Melitus, terutama Arius menentang doktrin tersebut. Setelah lebih dari dua abad, doktrin itu menjadi bahan perdebatan, tidak ada pihak yang bisa memberikan penjelasan dan penafsiran yang memuaskan. Karena banyak pihak yang menentangnya, semakin banyak membutuhkan penjelasan dan definisi dogma itu. Pihak gereja harus memberikan definisi tentang sifat kemanusiaan dan sifat ketuhanan Yesus. Serta memberikan penjelasan mengenai hubungan oknum yang satu dengan oknum lainnya dalam Trinitas. Gereja harus menunjukkan definisi yang akurat mengenai hubungan ketuhanan Yesus dengan Perawan Maria, ibunya. Karena setiap orang Kristen selalu dihadapkan pada sekian banyak masalah dogma Trinitas, maka surat pertanyaan yang dikirim kepada pihak Kepausan di Roma semakin menggunung. 

Surat jawaban dari Paus ternyata tidak bisa memberikan kepuasan bagi semua pihak. Arius tampil mengajukan tantangannya kepada pihak Paus untuk memberikan definisi yang logis dan rasional mengenai doktrin Trinitas. Arius sendiri memberikan penjelasan sebagai berikut: 

“Jika Yesus itu sebagai anak Tuhan, berarti Bapa [Allah] harus ada terlebih dahulu dari pada Yesus. Justru sebelum ada Anak [Yesus], harus ada jarak waktu. Dalam jarak waktu itu sang Anak belum ada. Dengan demikian sudah pasti, bahwa Anak [Yesus] itu diciptakan oleh Allah dari esensi yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu Yesus tidak sama dengan Bapa [Allah].” 

Kalangan gereja Trinitas merasa terjungkal. Patriarkh Alexander mengundang Dewan Gereja untuk mempersoalkan pendapat Arius itu. Sekitar seratus uskup dari Mesir dan Libya menghadiri undangan itu untuk meminta pertanggungjawaban dari Arius. Untuk mempertahankan keyakinannya, Arius mengajukan argumentasi yang tidak bisa dibantah sebagai berikut: 

“Ada suatu masa, di mana waktu itu Yesus belum ada, sedang Allah bersifat Maha Dulu dan Maha Abadi. Karena Yesus adalah makhluk Allah, maka dia bersifat fana (tidak kekal), dan sudah tentu tidak memiliki sifat abadi. Karena Yesus itu makhluk, maka dia termasuk obyek bagi perubahan seperti makhluk berakal lainnya. Karena hanya Allah saja yang tidak berubah, maka Yesus bukanlah oknum Tuhan.” 

Di samping menggunakan akal budi (logika), dia pun mengukuhkan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk membantah doktrin Trinitas seperti: 

“Jika Yesus sendiri telah mengatakan: “Bapa lebih besar dari pada Aku.” (Matius 14:28), bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah dan Yesus itu sama?. Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan firman Yesus sendiri di dalam Kitab Suci.” 

Pendapat Arius ini tidak bisa dibantah oleh semua uskup yang hadir pada sidang itu. Tetapi Patriarkh Alexander, dengan menggunakan kekuasaan jabatannya, menjatuhkan vonis “Hukuman Pengucilan Gereja” terhadap Arius. 

Dalam tradisi gereja, siapa yang mendapat hukum pengucilan (ekskomunikasi) itu, tumpahan darahnya menjadi “halal”. Pembunuhnya akan mendapatkan jaminan keselamatan (surga), karena telah berjasa membasmi pembawa ajaran sesat (bidaat)! Tetapi Arius mempunyai banyak pengikut yang pengaruhnya sangat luas, dan tidak dapat dianggap enteng oleh pihak Gereja Trinitas (Gereja Barat), apalagi para uskup wilayah Timur tidak membenarkan vonis Patriarkh Alexander itu. 

Pertentangan masalah keyakinan ini semakin memuncak. Alexander berada pada posisi yang terjepit, bahkan sangat kecewa karena para uskup wilayah Timur mendukung Arius. Terutama Eusebius dari Nicomedia (wafat 342 M), sahabat Arius yang sangat berpengaruh di istana Konstantinopel, dan Eusebius Caesarea (260-340 M) memberikan dukungan yang sangat besar kepada Arius. Dua orang ini dan Arius adalah murid Lucian. Pembunuhan gelap terhadap guru mereka, membuat hubungan ketiga murid itu semakin erat. 

Sampai sekarang kita bisa melihat surat Arius yang dikirim kepada Eusebius Konstantinopel, setelah dia dijatuhi vonis “hukuman pengucilan” (ekskomunikasi) dari Alexander. Di antara surat itu berbunyi: “Kami dihukum karena menyatakan, Yesus itu mempunyai permulaan, sedangkan Allah tidak mempunyai permulaan.” 

Catatan mengenai pertentangan tajam waktu itu, sangat sedikit sekali yang bisa kita jumpai. Surat-surat yang masih selamat, menunjukkan, Arius tabah mempertahankan ajaran Yesus yang murni dan yang bebas dari perubahan, dan sama sekali tidak menghendaki perpecahan dalam Kristen. Sedangkan kumpulan surat-surat Alexander memperlihatkan, penggunaan bahasa yang tidak sopan terhadap Arius dan para pendukungnya. Di antara surat-surat itu Alexander pernah menulis sebagai berikut: 

“Mereka sudah dikuasai Iblis yang merasuk dalam diri mereka. Mereka adalah tukang sulap dan penipu yang cerdik merayu. Mereka kelompok penyamun yang hidup dalam persembunyian, yang siang malam mengutuki Kristus mereka mendapatkan banyak pengikut dengan memperalat wanita tunasusila.” 

Surat yang bernada kasar itu membangkitkan kemarahan Eusebius. Beliau mengundang uskup-uskup wilayah Timur untuk menjelaskan duduk persoalannya. Pertemuan para uskup itu menghasilkan keputusan untuk mengirim surat pada seluruh uskup wilayah timur dan barat, agar mendesak Patriakh Alexander untuk mencabut hukuman yang dijatuhkan kepada Arius. Alexander mau mencabut vonisnya, asalkan Arius mau tunduk kepadanya. Syarat itu ditolak oleh Arius, dan ia pergi ke wilayah Palestina untuk membina jemaat Kristen di tempat itu. Alexander mengirimkan surat kecaman terhadap Arius dan Eusebius kepada seluruh pelayan-pelayan gereja Katolik. Alexander menuduh, Eusebius mendukung Arius bukan karena keyakinan yang dianut oleh Arius, melainkan disebabkan oleh kepentingan ambisius. 

Kaisar Konstantin melihat situasi di tubuh Kekristenan semakin memburuk. Dia terpaksa turun tangan dengan mengirimkan surat kepada kedua pihak. Kaisar itu sangat mengharapkan kesatuan pendapat dalam agama. Karena hal itu akan menjamin stabilitas daerah yang dikuasainya. Dia meminta keduanya melupakan masalah yang dipertentangkan. 

Sementara itu terjadi persengketaan antara Konstantin dengan saudara iparnya, Lucianus, yang menguasai wilayah Tracia. Dalam pertempuran tahun 324 M, Lucianus tewas terbunuh. Karena dia termasuk pendukung Arius, kematiannya mengakibatkan posisi Arius mengalami banyak kemunduran. Sekalipun Konstantin memenangkan peperangan, tetapi dia tidak mampu membendung kerusuhan yang melanda beberapa wilayah Romawi. Kaisar tidak mempunyai jalan lain, kecuali dengan cara mengundang seluruh uskup untuk menyelesaikan persoalan rumit itu di bawah tekanan persenjataan. Posisi dirinya yang masih menganut paham paganisme, bisa menguntungkan dia, karena tidak termasuk pengikut salah satu aliran Kristen, dan bisa menjadi pemimpin sidang dan penengah yang tidak memihak. Konstantin diberi restu oleh para uskup untuk menjadi pemimpin sidang, karena tidak ada pihak yang menyetujui aliran lain memimpin sidang itu. Sidang para uskup tahun 325 Masehi yang dipimpin oleh Konstantin itu terkenal dengan sebutan Konsili Nicaea. 


Anggota sidang Gereja Semesta yang pertama kali kebanyakan terdiri dari para uskup yang masih lugu, jujur, dan berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya. Di saat itulah secara mendadak mereka harus berhadapan dengan tokoh-tokoh yang menguasai filsafat Yunani. Sehingga mereka tidak bisa memahami ungkapan-ungkapan filosofis yang didengarnya. Sebaliknya, mereka kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan pendapatnya, apalagi harus menghadapi argumentasi pihak lain yang berdasarkan logika. Oleh karena itu, mereka harus memilih salah satu dari dua pilihan, bertahan pada keyakinannya secara diam-diam, atau menyetujui apa saja yang diputuskan oleh pemimpin siding. 

Wakil-wakil dari pihak Gereja Paulus (Trinitas), seperti Gereja Roma, yang mempertahankan Tiga Oknum, ternyata mereka hanya mampu menunjukkan Dua Oknum (Binitarian), yakni Allah Bapa dan Anak (Yesus). Mereka tidak berdaya untuk mencari dalil dari Alkitab bahwa Roh Kudus itu adalah salah satu dari oknum Tuhan. 

Para uskup murid Lucian seperti Arius, dengan mudah menyudutkan pihak Gereja Paulus dari masalah satu ke persoalan yang lain dalam Trinitas. Pihak Unitarian mengakui, di dalam Alkitab, Yesus memanggil Allah dengan kata “Bapa” dan menyebut dirinya dengan kata “Anak”, tetapi mereka menunjukkan kepada lawannya mengenai firman Yesus yang berbunyi: “Dan janganlah kamu memanggil Bapa kepada seorang pun di dunia ini, karena satu saja Bapa kamu, yaitu yang ada di Sorga.” (Matius 23:9) Dengan demikian oknum “anak” itu bukan hanya satu—bukan Yesus saja, melainkan berjuta-juta manusia! 

Pihak Trinitarian tidak mampu mematahkan argumentasi pihak Unitarian (Adopsionisme), sebab kepercayaan terhadap doktrin Trinitas yang diyakini oleh mereka tidak berdasarkan pada Alkitab, terutama Injil. Dengan susah payah mereka berusaha ingin membuktikan (berapologi) bahwa Alkitab telah menyatakan “Yesus itu bayangan Allah yang Maha Benar”. Pihak Unitarian menjawab: “Kita sebagai manusia adalah bayangan dan kemegahan Tuhan. Jika dikatakan bahwa bayangan Allah adalah Tuhan, berarti seluruh manusia itu adalah Tuhan!” 

Perdebatan dalam sidang semakin meruncing, dan semua pihak merasa pesimis terhadap hasil sidang itu. Pada akhirnya masing-masing pihak saling mengharapkan dukungan Kaisar yang memegang keputusan akhir. Constantia (Flavia Julia Constantia), adik tiri Kaisar Konstantin, adalah penganut paham Unitarian, memberitahu Eusebius dari Nicodemia bahwa sang Kaisar ingin mempersatukan gereja. Karena perpecahan akan membahayakan posisi kekaisaran. Jika tidak tercapai persetujuan dan kesamaan keyakinan, mungkin kaisar akan kehilangan kesabaran dan menarik bantuannya kepada Gereja, yang akan mengakibatkan keadaan Kekristenan lebih memprihatinkan dari pada sebelumnya. 

Eusebius berunding dengan Arius bersama sahabat lainnya, dan mengambil kebulatan tekad untuk mempertahankan keyakinannya, serta menolak doktrin Trinitas yang mungkin akan mendapatkan suara mayoritas dalam Konsili Nicaea itu. 

Dukungan Konstantin terhadap Gereja Paulus akan menambah kekuasaan Gereja, dan akan mampu mengakhiri Gereja Rasuli (Unitarian) di Afrika Utara dengan segala bentuk kekerasan. Untuk mendapatkan dukungan itu, Gereja Paulus menyetujui perubahan-perubahan pada ajaran Kristen. Karena pemujaan kepada Dewa Matahari Sol Inviticus sudah menjadi tradisi bangsa Romawi pada waktu itu, dan kaisarnya dipandang sebagai perwujudan dari Dewa Matahari, maka Gereja Paulus menyusun rumusan sebagai berikut: 
  1. Hari Minggu (hari Dewa Matahari Sol Inviticus) bangsa Romawi dijadikan hari Sabat bagi agama Kristen. 
  2. Hari kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember dijadikan hari kelahiran Yesus. 
  3. Lambang Dewa Matahari, Salib Sinar, dijadikan lambang agama Kristen [sebelumnya lambang salib ditolak oleh ajaran Kristen mana pun]. 
  4. Untuk menyatukan upacara ritual bagi Dewa Matahari dan Yesus, patung Dewa Matahari pada salib diganti dengan patung Yesus. 
Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin dalam bahasa filsafat Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity (Misteri Trinitas). Kaisar merasa puas, karena jurang perbedaan antara Kekristenan dengan paganisme yang dianut oleh bangsa Romawi bisa diakhiri. Setelah lama bersidang, di antara 2.048 Uskup yang hadir, 318 Uskup sepakat menerima ajaran Paulus (trinitas) dan 1.730 lainnya tetap berpegang pada ajaran Tauhid Yesus. Dengan demikian, seharusnya tauhid-lah ajaran yang diakui dan dipegang. Namun karena Konstantin sendiri adalah penganut paganisme, maka tak heran, meskipun harus bertentangan dengan keputusan kongres, Konstantin men-dekrit-kan ke seluruh dunia Kristen bahwa trinitas-lah yang harus dipegang. Inilah tragedi dalam kepercayaan Nasrani yang amat menyedihkan. Sejak keputusan itu, tokoh-tokoh Kristen yang masih mempertahankan ajaran unitarian ditangkap, disiksa, dibunuh karena dianggap golongan sesat. Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin dalam bahasa filsafat 

Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity (Misteri Trinitas). 
Karena pihak Arius tidak mau mengakui keputusan Konsili itu, maka diumumkan anatema (kutukan) terhadap ajaran Arius, sebagai berikut: “Bagi orang yang berkata: “Ada jarak waktu dimana Yesus belum ada. 

Sebelum dilahirkan, Yesus tidak ada. Yesus diciptakan dari yang tidak ada. Anak (Yesus) berbeda zatnya dengan Allah. Yesus adalah obyek perubahan, maka Gereja Katolik menjatuhkan kutukan.” 

Setelah peserta konsili pulang ke daerahnya masing-masing, mereka terlibat kembali dalam perdebatan mengenai keputusan konsili itu. Pengikut Unitarian (Adopsionisme) yang selalu menentang keputusan konsili itu ditangkapi, dan sebagian dibunuh, dan yang tak mau tobat untuk menerima doktrin Trinitas dijebloskan dan disiksa di penjara bawah tanah. Arius sendiri sejak tahun 325 M, telah dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah di pulau kecil sekitar selat Bosporus. Walaupun begitu, perdebatan semakin meruncing di wilayah kekuasaan Romawi. Hanya Athanasius yang masih mematuhi keputusan tersebut, sedangkan para pendukungnya sendiri diliputi kebingungan menghadapi berbagai tantangan. 

Sabinas, uskup tertua di Thracia, mengatakan, orang-orang yang hadir dalam Konsili Nicaea itu adalah orang dungu yang bodoh. Keputusan Konsili itu hanya disahkan oleh orang-orang tolol yang tidak memiliki pengetahuan dalam masalah itu. Setelah konsili selesai, Patriarkh Alexander wafat tahun 328 M. Terjadilah perebutan jabatan keuskupan Aleksandria. Athanasius dipilih dan ditasbihkan menjadi uskup di daerah itu. Pemilihan itu menimbulkan kecaman keras, karena dilakukan dengan intimidasi dan tindakan kekerasan lainnya. Pengikut Arius mengadakan perlawanan terhadap Athanasius. 

Costantina Agusta, saudara kaisar Konstantin, menentang pembunuhan terhadap orang Kristen Unitarian, terutama menentang pembuangan Eusebius dari Nicomedia. Dia tetap mempertahankan bahwa Arius adalah pemimpin agama Kristen yang benar. Akhirnya, Konstantina berhasil membebaskan Eusebius agar kembali ke istana. Kembalinya Eusebius ini merupakan pukulan telak bagi kelompok Athanasius. Konstantin semakin condong kepada Arius. Ketika mendapat laporan tentang kecaman masyarakat Kristen atas pemilihan Athanasius, dia memanggil uskup itu agar datang ke Konstantinopel. Dengan berbagai alasan Athanasius tidak mau datang memenuhi panggilan itu. Pada tahun 335 M, ketika dilangsungkan konsili di kota Tyre untuk memperingati tiga puluh tahun pemerintahan kaisar Konstantin, Athanasius diwajibkan untuk menghadirinya. Dalam konsili itu, dia dituduh telah melakukan kelaliman di wilayah keuskupannya. Karena suasana sidang saat itu menyudutkan dirinya, maka dia segera keluar sebelum konsili menjatuhkan hukuman kutukan kepada dirinya. Para uskup kemudian melanjutkan sidang di Yerusalem dan mengukuhkan kutukan terhadap Athanasius, serta menerima Arius kembali ke pangkuan Gereja. 

Konstantin mengundang Arius dan Eusebius ke Konstantinopel. Perdamaian antara Arius dan Kaisar terjalin baik, dan para uskup menjatuhkan kutukan kepada Athanasius. 

Arius diangkat menjadi Patriarkh Konstantinopel, tetapi jabatan itu tidak berlangsung lama, dia wafat secara mendadak pada tahun 336 M, karena makanannya diberi racun. Pihak Gereja Barat menganggapnya suatu keajaiban, tetapi pihak istana mencurigai peristiwa itu. Kaisar membentuk komisi untuk menyelidikinya. Athanasius terbukti sebagai otak pembunuhan tersebut dan dijatuhi kutukan. 

Konstantin yang perasaannya sangat terguncang atas kematian Arius itu, di bawah bimbingan Constantina, akhirnya dia memeluk agama Kristen Unitarian, dan dibaptis oleh Eusebius dari Nicomedia. Pada tahun 377 M, kaisar Romawi itu meninggal dunia dengan membawa keyakinan bahwa Tuhan ALLAH satu-satunya Tuhan Yang Disembah, dan Yesus adalah tidak lain hanya manusia biasa yang diutus oleh Allah, Bapa-Nya. 

Arius memiliki peranan penting dalam sejarah Kekristenan. Bukan hanya karena jasanya yang berhasil menarik kaisar Konstantin memeluk agama Kristen, tetapi juga karena mewakili orang-orang yang tabah mempertahankan ajaran Yesus yang murni. Di saat itu ajaran Yesus tercampur aduk dengan kepercayaan-kepercayaan paganisme dan politeisme, sehingga ajaran Kristen yang asli dan yang palsu semakin kabur. Maka Arius dengan segala keberaniannya dan ketabahan hatinya, tampil mempertahankan kemurnian ajaran Yesus—walau selalu dianggap sesat oleh 

Gereja Trinitarian dan yang sealiran. 
Kuasa Kepausan menjadi paling tinggi dalam dunia Kekristenan sejak tahun 538 M berdasarkan dekrit kaisar Roma bernama Justinian, yang mengumumkan bahwa uskup Roma sebagai kepala dari seluruh gereja (Undang-Undang Justinian). 


[Sumber:  Nuur Al-Fadhli | Summy Summer | Sejarah Kristen, Wikipedia, Abrahamic Faiths]

Saturday, January 6, 2018

Sejarah Singkat Doktrin Trinitas Saturday, January 6, 2018


PENDAHULUAN
Trinitas adalah kata Latin, berasal dari istilah Platonik “trias” yang berarti “tiga”. Kata ini hanya berdasarkan filsafat manusia, bukan berdasarkan konsep Alkitab.

Diperkenalkan oleh Tertullian (160-225 AD/Sesudah Masehi), seorang penyembah berhala yang kemudian menjadi seorang filsuf dan salah satu Bapa dari gereja Katolik, yang pada abad ketiga mengajarkan tentang ilmu Ketuhanan. Dia menyimpulkan bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu unsur tetapi bukan satu oknum. Namun dia tidak mengajarkan bahwa Anak Allah dan Bapa adalah sama kekal.
Banyak pertanyaan yang tidak terjawab mengenai ajaran Trinitas ini. Pertanyaan yang paling lazim adalah: “Di mana ajaran ini dapat ditemukan dalam Alkitab?” 
Sepanjang sejarah, para pakar mengakui bahwa ajaran ini tidak Alkitabiah, tapi ada juga yang mencoba mengutip 1Yohanes 5:7 sebagai jawaban. Namun berdasarkan sejarah yang benar, kata-kata yang dicetak miring dalam ayat tersebut: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu).” hanyalah kata-kata yang ditambahkan oleh sang penerjemah karena kata-kata tersebut tidak terdapat dalam naskah asli.

Perhatikan apa yang tertulis dalam Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa Gereja MAHK di bawah ini:
“Di antara ahli-ahli teolog ada perdebatan bahwa kalimat ini tidak asli tapi telah ditambahkan, mungkin untuk menyokong doktrin Trinitas.”
ASAL MULA DOKTRIN TRINITAS
Kira-kira satu abad setelah Tertullian menelorkan gagasan yang diadopsinya dari kepercayaan Pagan bahwa eksistensi Tuhan adalah Trinitas, para pengikut Arius (Arians) melakukan banyak aksi penentangan yang menyebabkan kaisar Costantine terpaksa mengadakan sidang Oikumene pertama dalam sejarah, untuk mempersatukan kerajaannya.

Pada permulaan abad ke-4 M tersebut, sejarah mencatat Arius mengajarkan bahwa Kristus adalah Anak Allah yang benar-benar lahir dari Bapa. Itulah sebabnya Allah disebut Bapa. Dengan kata lain, secara harafiah hubungan mereka sesungguhnya adalah hubungan antara Bapa dan Anak. Sebaliknya, Athanasius, seorang diakon juga berasal dari Alexandria menantang keras ajaran Arius.

Pandangan Athanasius berakar kuat pada doktrin Trinitas yang telah diajarkan sejak jaman kuno, dimana Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu Allah yang sama, tapi bukan oknum yang sama. Oleh sebab itu tidak mungkin Allah Bapa dan Anak-Nya memiliki hubungan harafiah sebagai Bapa dan Anak. Pandangan Athanasius ini mengalami perubahan yang kian memburuk dari waktu ke waktu. Mulanya, Roh Kudus belum diberi gelar sebagai Oknum ketiga. Gelar ini perlahan terbentuk seiring dengan berjalannyua perubahan waktu.

Ajaran sejarah populer mengatakan Arius sesungguhnya mengajarkan bahwa Kristus hanyalah mahluk ciptaan dan menurut sejarah yang benar, namun sengaja disembunyikan oleh ajaran sejarah populer, mengatakan bahwa Gereja Katolik dengan penyetujuan kaisar Constantine telah membakar semua tulisan Arius lalu memberikan kesimpulan sebaliknya. Banyak pakar sejarah percaya bahwa Gereja Katolik telah merubah tulisan-tulisan Arius dan menyebarkan desas desus tidak benar seolah Arius mengajarkan Kristus hanyalah mahluk ciptaan, dengan tujuan memburukkan nama Arius.

Seperti kita ketahui bersama, Gereja Katolik terkenal dengan peran liciknya dalam merubah sejarah demi menentang kebenaran Allah. Ini hanya merupakan salah satu contoh dari banyak kekejian yang mereka lakukan.

Pandangan Athanasius ini dipengaruhi juga oleh Origen, seorang seorang filsuf Yunani dan pakar agama yang merubah doktrin Kekristenan melalui filsafat Neoplatonisme. Ajaran Origen ini kemudian dituduh tidak sesuai dengan tradisi. Origen mengajarkan doktrin api penyucian, transubstansi (roti perjamuan kudus dirubah menjadi tubuh Kristus yang sesungguhnya dalam sakramen, bukan hanya sekedar lambang saja), transmigrasi (jiwa orang mati berpindah kepada oknum lain), reinkarnasi jiwa, Roh Kudus memiliki sifat kewanitaan, Yesus hanyalah makhluk ciptaan, tidak ada kebangkitan, penciptaan dalam buku Kejadian hanya cerita fiksi, dan dia (Origen) menyunat diri sendiri berdasarkan interpretasi pribadi atas Matius 19. 

Sebaliknya, Arius adalah murid Lucian dari Antiokia. Lucian-lah yang memberi kita Textus Receptus (Terjemahan yang diakui dewan Alkitab mula-mula) yang kemudian proses penerjemahannya diselesaikan oleh Erasmus dan sekarang dikenal dengan Perjanjian Baru yang berdasarkanAlkitab Versi King James yang menurut bukti sejarah adalah terjemahan yang terpercaya. Fakta ini dan banyak fakta-fakta lain memaparkan bahwa Athanasius dipengaruhi oleh filsafat Yunani, dan sebaliknya ada kemungkinan besar bahwa Arius-lah yang justru mengajarkan kebenaran Alkitab, yang tentu saja tidak diajarkan oleh pelajaran sejarah yang populer saat ini.

Banyak yang percaya bahwa Constantine adalah Kaisar Roma pertama yang bertobat menjadi Kristen. Namun sebetulnya dia tetap menyembah matahari sampai akhir khayatnya. Ini dinyatakan dalam pengakuan baptisannya saat dia terbaring sekarat di tempat tidur. Dalam masa pemerintahannya, dia memerintahkan untuk membunuh istri dan putera sulungnya sendiri. Selain mencampur adukkan penyembahan berhala dengan Kekristenan demi tujuan politik, sebenarnya dia tidak perduli dan tidak mengerti asal usul pertentangan antara Arius dan Athanasius. Tujuannya hanya semata-mata untuk mengakhiri perdebatan demi kesatuan kerajaan. 

Para uskup berkumpul di Nicea pada tanggal 20 Mei 325 AD/Sesudah Masehi atas prakarsa Constantine dalam usahanya untuk memadamkan krisis yang sedang terjadi. Hanya sejumlah kecil para uskup percaya pada ajaran Athanasius tentang Kristus. Mayoritas uskup-uskup berposisi netral. Mereka tidak memihak Athanasius maupun Arius. Pertentangan doktrin ini berselang selama dua bulan sebelum sidang dewan Nicea menolak ajaran minoritas Arius. Karena tidak ada pilihan lain, Constantine menyetujui ajaran Athanasius yang juga hanya berupa kepercayaan minoritas saat itu. Dalam Ensiklopedi Britanika tertulis:
“Constantine sendiri memimpin diskusi dan menganjurkan formula penting ini dalam pernyataan tertulis. Atas nama dewan dia menetapkan hubungan Kristus dengan Allah disahkan oleh kaisar, para uskup, kecuali dua orang yang tidak memberikan suara. Pernyataan tertulis tersebut telah disahkan, walau sebenarnya banyak dari para pemilih saat itu tidak memilih sesuai dengan kehendak mereka sendiri.” (Edisi 1971, Vol. 6, “Constantine,” p. 386)
Penganiayaan keagamaan mengerikan menyusul keputusan yang dibuat oleh Constantine yang pada dasarnya tetap sebagai seorang penyembah berhala. Dia memaksakan peraturan gereja ini yang sama sekali bertentangan dengan ajaran Yesus. Constantine mengasingkan mereka yang menolak keputusan gereja, termasuk para uskup yang ikut menanda-tangani peraturan tersebut dalam sidang Nicea sebelumnya karena penolakan mereka dalam mengutuk Arius. Constantine juga memerintahkan semua buku Arius yang berjudul “Thalia” untuk dihanguskan. Beberapa tahun kemudian Constantine melunak terhadap pengikut Arius dengan menerima mereka kembali ke dalam gereja. Pada tahun 335 AD/Sesudah Masehi giliran mereka yang pernah diasingkan oleh Constantine, membuat tuduhan terhadap Athanasius, yang kemudian adalah giliran Athanasius diasingkan oleh Constantine. Kita bisa melihat bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan kebenaran Alkitab. Karena sebagai seorang kaisar penyembah matahari, Constantine-lah yang juga untuk pertama kali memaksakan hukum hari Minggu empat tahun sebelumnya. Constantine sangat berperan penting dalam membawa dua tradisi penyembahan berhala ini ke dalam gereja. Semuanya terjadi lebih dari 300 tahun setelah Yesus disalibkan, yang berarti bahwa ajaran gereja tentang Trinitas ini tidak dikenal di jaman Gereja Kristen mula-mula dan tidak diajarkan oleh para rasul. Lihat ensiklopedia Britanika dan tulisan sejarah yang benar.

LANDASAN DOKTRIN TRINITAS
Banyak dari para uskup yang mebentuk doktrin Trinitas condong pada ilmu Yunani dan Platonik, yang mempengaruhi pandangan kerohanian mereka. Bahasa yang mereka gunakan untuk menerangkan doktrin trinitas diambil langsung dari ajaran Platonik Yunani, yaitu kata “trias,” yang berarti tiga yang diadopsi sebagai Bahasa Latin “trinitas,” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “Trinity.” Dengan demikian Trinitas tidak berasal dari ayat Alkitab, melainkan dilahirkan oleh ilmu filsafat. Para pakar filsafat Yunani mendapat pengaruh besar dari Plato (427-347 BC/Sebelum Masehi) yang diagungkan sebagai seorang filsuf terbesar di atas semua filsuf-filsuf Yunani. Plato telah ditanamkan dengan ilmu Trinitas. Dia percaya bahwa semua agama kuno memiliki tiga allah. Dia kemudian memperkenalkan definisi yang tampaknya lebih mulus dan bijak, menunjukkan bahwa Allah Bapa adalah Allah di atas segala mitos allah bangsa Yunani. Definisi Plato tentang Allah adalah: 
  1. “Allah yang pertama,” merupakan Allah yang tertinggi di alam semesta;
  2. “Allah kedua” dia sebut “jiwa dari semesta alam.” dan
  3. “Allah ketiga” dia sebut “Roh.”
Seorang filsuf Yahudi bernama Philo dari Alexandria (15 BC-AD 50) yang mempelajari perkembangan filsafat Yunani, yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Plato mengajarkan bahwa:
  1. Bapa, adalah pencipta seluruh alam semesta (Philo menamakannya “The Demiurge”)
  2. Ibu, adalah ilmu/kuasa yang dimiliki oleh sang pencipta, dan
  3. Anak tercinta adalah bumi kita.
Dia menyimpulkan bahwa persatuan dari demiurge dan kuasa/ilmu, menghasilkan bumi kita ini. Bentuk pemikiran esoterik/misterius inilah yang menjadi dasar perkembangan doktrin Trinitas.

Perhatikan bagaimana kutipan kutipan berikut mendokumentasikan kepercayaan kepada tiga Allah di berbagai bagian bumi dan setiap agama dunia kita sejak dahulu.
  • Babilon – “Orang-orang Babilon kuno mengenal doktrin Trinitas, atau tiga oknum dalam satu allah – sesuai yang nampak dari gabungan allah dengan tiga kepala yang membentuk bagian dari mitologi, dan penggunaan segi tiga sama sisi, juga sebagai simbol dari Trinitas dalam kesatuan.” (Thomas Dennis Rock, The Mystical Woman and the Cities of the Nations, 1867, Hal. 22-23) 
  • India – “Puranas (Mitologi), salah satu dari kitab-kitab suci Hindu lebih dari 3.000 tahun lalu, berisi ayat-ayat berikut: ‘O engkau tiga Tuhan! Ketahuilah bahwa saya mengenal hanya satu Allah. Oleh sebab itu, katakanlah kepada saya, siapakah di antaramu yang benar-benar Ilah, sehingga saya dapat mengarahkan pemujaan-pemujaan saya hanya padanya saja.’ Ketiga allah, Brahma, Vishnu, dan Siva (atau Shiva), menunjukkan diri padanya, dan menjawab, ‘Belajarlah, O, pemuja, bahwa tidak ada perbedaan nyata antara kami. Apa yang nampak padamu hanyalah persamaan. Makhluk tunggal yang nampak di bawah tiga bentuk dalam pekerjaan-pekerjaan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan, tapi dia adalah satu.’ 
  • “Oleh sebab itu segi tiga diadopsi oleh semua bangsa-bangsa kuno sebagai simbol ke-Allahan…tiga dihormati di antara bangsa-bangsa kafir sebagai nomor mistik utama, karena seperti kata Aristotle, angka itu di dalamnya berisi sebuah permulaan, sebuah pertengahan, dan sebuah akhir. Dengan demikian kita dapati ini menandakan sifat-sifat dari semua allah penyembah berhala.” 
  • Yunani – “Pada abad ke 4 BC/Sebelum Masehi., Aristotle menulis: ‘Segala sesuatu adalah tiga, dan ketiga adalah semua: marilah kita menggunakan nomor ini dalam pemujaan kepada allah-allah; karena, seperti para penganut Pitagoras berkata, segalanya dan segala sesuatu adalah terikat dalam tiga-tiga, karena yang terakhir, pertengahan dan permulaan memiliki nomor ini dalam segalanya, dan menunjukkan nomor Trinitas.’’ (Arthur Weigall, Paganism in Our Christianity, 1928, Hal. 197-198) 
  • Mesir – “Nyanyian untuk Amun menetapkan bahwa ‘Tidak ada allah yang menjadi Makhluk sebelum (Amun)’ dan bahwa ‘Semua allah adalah tiga: Amun, Re, Ptah, dan tidak ada yang kedua dari mereka. Yang tersembunyi namanya adalah Amon, dia adalah Re dalam wajah, dan tubuhnya adalah Ptah.’ …Ini adalah kalimat Trinitas, tiga allah terpenting Mesir yang digolongkan ke dalam satu dari mereka, yaitu Amon. Jelas, konsep kesatuan alami dalam kejamakan mendapat sokongan luar biasa dari formula ini. Secara teologi, dalam bentuk dasarnya, begitu menyolok sangat dekat pada bentuk Kekristenan yaitu kejamakan Trinitas dalam keesaan.” (Simson Najovits, Egypt, Trunk of the Tree, Vol 2, 2004, Hal. 83-84) 
  • Tempat-Tempat Lain – Banyak tempat-tempat yang lain juga memiliki ke-allahan Trinitas mereka sendiri. Di Yunani mereka adalah Zeus, Poseidon dan Adonis. Bangsa Fenesia menyembah Ulomus, Ulosuros dan Eliun. Roma menyembah Jupiter, Mars dan Venus. Bangsa-bangsa Jerman menyebutnya Wodan, Thor dan Fricco. Sehubungan dengan orang-orang Kelt, sebuah sumber berkata: “Dewa-dewa berhala kuno orang-orang kafir Irlandia, Kriosan, Biosena, dan Seeva, atau Sheeva, tidak diragukan lagi adalah Creeshna (Krishna), Veeshnu (Vishnu), (atau yang terutama) Brahma, dan Seeva (Shiva), dari orang-orang Hindu.” (Thomas Maurice, The History of Hindostan, Vol. 2, 1798, Hal. 171)

KONSEP TRINITAS ADALAH KONSEP PENYEMBAH BERHALA  
Jelas bahwa konsep Trinitas adalah konsep para penyembah berhala. Ahli ilmu Kemesiran Arthur Weigall dalam bukunya “Paganism in Our Christianity (Penyembahan Berhala di dalam Kekristenan Kita)” menyimpulkan bahwa ada pengaruh kepercayaan kuno dalam pengadopsian doktrin Trinitas oleh gereja.
  • Harus tidak dilupakan bahwa Yesus Kristus tidak pernah menyebut kejadian seperti itu (Trinitas), dan tidak ada di manapun juga dalam Perjanjian Baru kata Trinitas nampak. Ide itu hanya diadopsi oleh Gereja tiga ratus tahun setelah kematian dari Tuhan kita; dan konsep pertamanya adalah sama sekali kafir.
  • Pemikiran orang-orang Mesir kuno, sangat besar pengaruhnya pada kepercayaan mula-mula, biasanya menyusun dewa-dewa atau dewi-dewi mereka dalam Trinitas; ada Trinitas dari Osiris, Isis dan Horus, trinitas dari Amen, Mut dan Khonsu, Trinitas dari Khnum, Satis, da Anukis, dan sebagainya.
  • Namun umat Kristen mula-mula, mulanya tidak berpikir untuk mengaplikasikan ide iman mereka sendiri. Mereka memberi perbaktian-perbaktian mereka kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus, Putera Allah, dan mereka mengenal kemisteriusan dan keberadaan yang tidak dapat diterangkan dari Roh Kudus; tapi sebenarnya tidak ada pemikiran tiga makhluk sebagai Trinitas, yang sama derajat dan bersatu dalam keesaan.
  • Pengaplikasian kekafiran tua dari konsep Trinitas ke dalam teologi Kristen dimungkinkan dengan diwajibkannya pengakuan Roh Kudus sebagai ‘Oknum’ ketiga, sama derajat dengan ‘Oknum-Oknum’ yang lain.
  • Ide dari Roh menjadi sama derajat dengan Allah tidak umum dikenal sampai pada pertengahan abad keempat A.D (Sesudah Masehi). …Tahun 381 Sidang Constantinople menambahkannya ke dalam pengakuan iman yang sebelumnya yaitu Kredo Nicea yang menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah ‘Tuhan, dan pemberi hidup, yang berasal dari Bapa, bersama dengan Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan.’
  • Dengan demikian, kredo Athanasius, adalah susunan yang datang kemudian tapi mencerminkan konsep-konsep umum dari Athanasius (Penganut Trinitas abad ke 4 yang pandangannya akhirnya menjadi doktrin resmi) dan sekolahnya, yang merumuskan konsep sama derajat Trinitas dimana Roh Kudus adalah ‘Oknum’ ketiga; dan dijadikan dogma iman, dan kepercayaan dalam Tiga dalam Satu dan Satu dalam Tiga ini menjadi doktrin terpenting dalam Kekristenan, walaupun kerusuhan yang buruk dan pertumpahan darah tidak dapat dihindari.
  • Saat ini seorang pemikir Kristen … tidak berkeinginan untuk meneliti dengan saksama, khususnya kenyataan bahwa definisi ini bermula pada penyembahan berhala dan tidak diadopsi oleh Gereja hingga hampir 300 tahun sesudah Kristus. (Arthur Weigall, Paganism in Our Christianity (Penyembahan Berhala dalam Kekristenan Kita), 1928, Hal. 197-203)
Dewan Nicea tidak berhasil mengakhiri perdebatan antara Athanasius dan Arius. Para uskup tetap mengajarkan ajaran Athanasius dan Arius sesuai dengan kepercayaannya, dan krisis ini berlangsung sampai enam puluh tahun kemudian. Periode pengucilan Athanasius tidak lebih dari lima tahun. 

Pertentangan dari kedua kepercayaan tersebut dipenuhi kekerasan dan kadang mengakibatkan pertumpahan darah. Pakar sejarah Will Durant menulis,
"Kemungkinan besar jumlah umat Kristen yang terbunuh oleh umat Kristen lain dalam masa dua tahun konflik (242-243 AD) melebihi jumlah umat Kristen yang terbunuh dalam masa penganiayaan umat Kristen oleh para penyembah berhala sepanjang sejarah Roma.” (The Story of Civilization, Vol 4; The Age of Faith, 1950, Hal. 8).
Oleh karena perbedaan pandangan tentang kepribadian Allah, menurut sejarah, umat Kristen saling memerangi dan membunuh satu sama lain! Waktu Constantine meninggal di tahun 337 AD, perselisihan masih tetap berlangsung. Putera Constantine, Constantius II memihak para pengikut Arius dan berusaha menghapus keputusan Dewan Nicea. Constantius menggunakan kekuasaannya untuk mengasingkan para uskup yang pro keputusan Dewan Nicea terutama Athanasius yang melarikan diri ke Roma. 

Perdebatan ini menghasilkan banyak rapat persidangan, di antaranya adalah pertemuan Sardica tahun 343 AD, rapat dewan Sirmium tahun 358 AD dan dua pertemuan Rimini dan Seleucia tahun 359 AD, yang menghasilkan kurang lebih empat belas keputusan di antara tahun 340 dan 360 AD. 

SILANG PENDAPAT TENTANG ROH KUDUS 
Setelah kematian Constantius pada tahun 361 AD, penerusnya Julian, seorang penyembah berhala Roma, menyatakan bahwa dia tidak lagi mendukung perselisihan yang terjadi dalam gereja, dan memerintahkan semua uskup yang sedang dalam perasingan kembali diterima, akibatnya pertikaian menjadi lebih buruk lagi di antara umat-umat Kristiani.

Akhirnya perselisihan melebar pada hal-hal tentang asal-usul Roh Kudus. 44 tahun setelah meninggalnya Constantine, di bulan Mei 381 AD, kaisar Theodosius mendukung keputusan sidang Nicea. Oleh sebab itu setelah sang kaisar tiba di Constantinople, dia mengirim uskup Demophilus ke perasingan, dan menyerahkan kepemimpinan seluruh gereja kepada Gregory dari Nazianzus, seorang pemimpin komunitas kecil Nicea, Bersama tiga orang lain yang dikenal sebagai “tiga Cappadocians.” Tiga orang ini memiliki agenda yang untuk pertama kali memaksakan ide Roh Kudus sebagai oknum terpisah. Waktu itu Gregory baru diangkat menjadi kepala uskup di Constantinople, tapi karena penyakitnya, Nectarius, tua-tua anggota majelis kota tertinggi mengambil alih jabatan kepala uksup dan dia memimpin dewan persidangan. 

Pada dasarnya Nectarius hanya dibaptis untuk jabatannya tetapi dia sebenarnya bukan seorang yang mengerti asal usul ajaran Trinitas dan Roh Kudus. Dia sama sekali buta akan ilmu Ketuhanan. Alhasil, keluarlah peraturan yang dikenal dengan keputusan Nicene-Constantinopolitan yang mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Oknum terpisah. 

Mereka yang tidak menerima keputusan kaisar dan gereja disebut sebagai orang murtad dan dihukum sesuai hukum yang telah ditentukan. Keputusan terakhir tentang kepribadian Allah sesuai dengan ajaran Trinitas inilah yang sekarang dikenal dan diajarkan dalam Kekristenan. 

Pandangan ini sama sekali bukan berdasarkan Alkitab tapi hanya berdasarkan filsafat Yunani yang dipaksakan oleh penguasa pada jaman itu. 

Secara rigkas, ketika Babel dikalahkan, hampir semua pendeta Babel membawa pengaruh penyembahan berhalanya ke Alexandria yang kemudian diasimilasikan dalam sekolahnya. Para lulusan Alexandria melanjutkan ajaran penyembahan berhala bangsa Yunani yang didasarkan atas ajaran Plato dan dicampur aduk dengan ajaran Kristen (Neoplatonisme). Merekalah yang mulai menerjemahkan Alkitab menggunakan sistim penjelasan dengan bahasa kiasan. Sebaliknya, Lucian (guru dari Arius) menolak sistim terjemahan dari Alexandria. Dia menganjurkan sistim terjemahan sesuai yang tertulis (harafiah) yang berabad-abad lamanya digunakan oleh gereja-gereja Kristen di bagian Timur. 

Dengan kata lain, Origen menggunakan metode kiasan dalam menjelaskan atau menerjemahkan Alkitab, dimana metode yang sama menjadi dasar ajaran Athanasius dan ketiga Cappadocians dan kemudian menjadi dasar doktrin Trinitas yang sekarang ini lazim dikenal.
“Sekolah teologi Kristen Alexandria memuja Clement dari Alexandria dan Origen, ahli ilmu teologi yang sangat populer di antara semua ahli teolog gereja-gereja Yunani. Mereka memperkenalkan penggunaan metode penjelasan Alkitab dalam bahasa kiasan yang ajarannya dipengaruhi oleh Plato: berakar kuat dari (penyembahan berhala) ilmu spekulasi tentang Allah. Athanasius dan ketiga Cappadocians (tiga pemimpin yang pandangan Trinitasnya diadopsi oleh Gereja Katolik dalam sidang Nicea dan Constantinople) tercatat sebagai anggota dari sekolah ini.” (Hubert Jedin, Ecumenical Councils of the catholic Church: a Historical Outline, (Sidang-Sidang Oikumene Gereja Katolik: Garis Besar Sejarah), 1960, p. 28).


[Sumber: trinitytruth | Yolanda Kalalo-Lawton | agape]

Tuesday, June 12, 2012

Sejarah Kitab Kitab Suci Kristen Tuesday, June 12, 2012

Secara teritorial, pada tahun 284 M. kaisar Diocletian menghasilkan keputusan strategis untk membagi kekaisaran Romawi dalam dua teritori dengan penguasanya sendiri-sendiri, untuk alasan keamanan dan kemudahan administrasi. Penyatuan kekaisaran dilakukan kembali oleh Konstantin setelah ia mengalahkan penguasa Romawi Timur, tetapi kemudian terbagi lagi pada tahun 392 M. saat Theodosius I membagi kembali teritori kekuasaan Kekaisaran kepada dua anaknya yang masih kecil, wilayah timur untuk anaknya Arcadius yang masih berumur 18 tahun, dan bagian barat kepada Honorius yang masih berumur 10 tahun. Tindakan ini menandakan awal kehancuran kekaisaran Romawi. Gereja Barat dikepung dan oleh bangsa barbar, sedangkan Gereja Timur akan menghadapi tekanan dari Kerajaan Persia dan Muslim.

Kembali pada masa kekuasaan Konstantin, Pada masa awal pertumbuhan kekristenan, paska digelarnya konsili nikea, polarisasi antara gereja wilayah Romawi barat dan timur mulai meruncing. Pada dasarnya perbedaan utama kedua gereja tersebut terletak pada kecenderungan mereka terhadap penerimaan baik paham Arian maupun Athanasius. Gereja barat yang dimotori kekaisaran dapat menerima sepenuhnya kredo Nikea yang dipengaruhi pemikiran Tertullian dan Athanasius. Sedangkan di pihak lain gereja Timur lebih dipengaruhi Arian dan pemikiran Origen bahwa anak (Yesus) lebih rendah dari Bapak. Pendukung doktrin Arian terutama adalah Kaisar Konstantin dan anak-anaknya. Nantinya, Gereja Timur akan berpusat di Konstantinopel, Byzantium, kota yang didirikan oleh Konstantin tahun 330 M. dan menjadi Ibu Kota Romawi guna menggantikan teritori barat yang semakin terancam bangsa barbar.

Konsili Nikea tidak berhasil meredam kekisruhan antar pengikut Kristen, hal ini sangat dirisaukan Konstantin. Konsensus tidak berhasil ditemukan dan Konstantin mendesak agar Athanasius mau berunding kembali, sayangnya pendirian Athanasius terlalu kuat untuk menerima tawaran tersebut. Hal ini membuat sang kaisar putus asa. Ia dan penerusnya menganggap Athanasius sebagai pembuat masalah. Pada tahun 330, sang Kaisar memanggil kembali Arius dan kawan-kawan yang telah diasingkan oleh keputusan Nikea. Ia ingin mengembalikan nama Baik Arius dan pendukungnya. Usaha Konstantin ini didukung oleh Eusebius dari Nicomedia dan Origen, pendukung setia faksi Arius, yang juga haus akan balas dendam terhadap pendukung doktrin Nikea, khususnya Athanasius.

Tindakan paling nekat mereka adalah menyerang Athanasius yang saat itu menjabat sebagai uskup Alexandria menggantikan Alexander. Ia dikeluarkan dari kantornya berdasarkan keputusan Konsili Tyre di tahun 335 M. Dan kemudian dibuang ke Gaul. Tetapi Athanasius adalah orang yang keras kepala dan selalu berusaha untuk pulang kembali ke Alexandria. Bahkan pengusiran Athanasius dari Alexandria sempat dilakukan oleh 6 kaisar yang berbeda. Kebebalan Athanaius sangat dikenal saat itu hIngga sempat muncul frase “Athanasius contra mundum” atau Athanasius melawan dunia. Di tahun yang sama, Arius dan kerabatnya diijinkan untuk mendapat komuni Gereja di konsili Yerusalem. Tetapi semua ini tetap tidak dapat meyakinkan para penatua di Alexandria untuk menerima Arius sepenuhnya. Konstantin selajutnya memanggil Arius ke Konstantinople pada 336 M., dan memerintahkan Alexander, uskup kota tersebut untuk mengijinkan Arius memasuki gereja kota tersebut. Tetapi sebelum hal itu tewujud, Arius keburu tewas akibat penyebab yang misterius, beberapa mencurigai kalau ia diracuni. Beberapa pihak mencurigai bahwa rival Arius berada di balik kematian ini. Konstantin menyusul kematian Arius tidak lama setelahnya.

Walaupun doktrin Arian mungkin akan dirasakan asing oleh umat Kristen awal-generasi Yakobus. Ia mungkin masih memiliki beberapa kesamaan dalam memandang posisi Yesus yang lebih rendah dari Bapa. Bertentangan dengan pandangan kebanyakan, yang menganggap Gereja Barat dengan pusatnya Roma sebagai asal mula penyebaran Kristen, Gereja Timur ternyata memiliki konsep-konsep kekristenan yang lebih tua. Perlu diingat bahwa Penyebaran Kristen awal dimulai di Jerusallem oleh dewan rasul, bukan di Roma. Konsep Kristen Gereja Barat lebih terpengaruh oleh pemikiran Paulus dan pagan Romawi.

Kematian Konstantin mengantar salah satu anaknya, Konstantius, kaisar romawi Timur beserta kalangan terdekatnya untuk tetap mendukung perkembangan doktrin Arius. Saudaranya, Constans yang menguasai gereja barat mendapat dukungan dari faksi konsili Nikea. Kemudian terjadilah berbagai intrik dan pesaingan untuk memperebutkan kekuasaan. Berbagai konsili berbau politik diadakan oleh kedua belah pihak untuk menyerang satu sama lain. Constans meninggal di tahun 350 M., dan dua tahun kemudian sebagianbesar daerah kekuasaanya dikuasai oelh saudaranya, Konstantinus. Peristiwa ini merupakan pukulan telah bagi faksi Nikea. Sang Kaisar merupakan pendukung Arianisme sejati, dan memperlakukan pendukung faksi Nikea dengan penuh kekejaman untuk memasukan mereka ke dalam paham Arian. Sejarah Kristen dalam era Konstantinus dikenal sebagai periode yang kelam. Kaum Arian akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas segala perlakuan yang merek dapat paska doktrin Nikea diberlakukan.

Kematian Konstantinus di tahun 362 M. Menandakan berakhirnya masa keemasan Arianisme. Penggantinya, Julianus tidak memiliki pendirian di antara baik paham Arian maupun Ortodoksi Nikean. Julianus adalah seorang Pagan sejati. Selanjutnya Jovian mendukung sentimen ortodox dan menentang Arianisme, akibatnya seluruh bagian Barat mengikuri pandangannya dan kembali mempercayai doktrin Nikea. Tetapi keandaanya mulai berubah saat dua bersaudara Valentinian dan Valens, memasuki kekuasaan tahun 364 M.. Valentinian mendukung keputusan Nikea dan menghabisi seluruh gereja Arian di barat. Bersebrangan dengannya, Valens mengambil posisi Arianisme dan menyerang penyebaran ortodksi di bagian Timur.

Sayangnya sang Kaisar terburu menghadapi perang dengan bangsa Goth di tahun 378 M., Gratian, yang menggantikan Valentinian di Barat, di tahun 376, menjadi penguasa seluruh kekaisaran di tahun 378 - mengembalikan posisi ortodoks ke atas angin. Selanjutnya Theodosius Agung, dengan melarang penyebaran Arianisme di gereja-gereja dan mengeluarkan peraturan yang membatasi gerak Arianisme, menghasilkan kejayaan Doktrin Nikea di mana-mana. Tidak ada yang berani mengexpresikan pandangan Arianisme kecuali Bangsa Barbar seperti Goth, Vandal, dan Burgundy. Tampaknya sejarah persaingan antar faksi yang penuh kekerasan ini belum bisa berakhir, dengan tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan atas kesalahan terbesar. Tahun 382 Konsili Konstantinopel digelar oleh pendukung Athanasius dan berhasil menguatkan posisi ortodoks. Sayangnya kemenangan ini tidak sempat disaksikan Athanasius.

Kaum Arian akan memiliki posisi yang lebih kuat seandainya mereka tidak saling bertikai di dalam faksi mereka sendiri. Sebagaimana diketahui, setelah putusan Nikea diberlakukan, kaum Arian terbagi atas berbagai sekte yang masing-masing darinya mengklaim kebenaran. Beberapa bahkan sudah melenceng jauh dari pemikiran Arius yang sebenarnya. Kaum Arian yang berusaha menafsirkan sendiri pemikiran Arius cenderung memasuki kesalahan yang sama. Terdapat tiga faksi utama dalam tubuh Arianisme, yang pertama adalah Anomeans, yang menekankan perbedaan antara Bapa dan Anak; Homeans, yang menyiratkan kesamaan antara anak dan Bapa “berdasarkan kesesuaian kitab suci”, dan Semi-Arians, yang menekankan istilah homoiousion, yang mengexpresikan baik kesamaan dan perbedan antara Bapa dan Anak.

Di abad kelima, kaum Arian yang semakin tertekan oleh perlakukan Kekaisaran, mengungsi kepada bangsa-bangsa Barbar yang lambat laun mulai menguasai Romawi barat. Mereka menemukan tempat di antara kaum Goth, Heruli, Suevi, Vandals, dan Burgundy. Setelah merasa aman, mereka kemudian memperlakukan kaum ortodoks dengan kekejaman yang hampir sama dengan yang pernah mereka dapatkan. Kaum Vandal, yang menancapkan kekuasaan di Afrika, turut memberlakukan kebijakan yang sama terhadap pendukung Nikea. Awalnya Ginseric, raja mereka, dan kemudian Huneric, anaknya, menghancurkan gereja-gereja dan membuang uskup-uskupnya ke pengasingan, dengan dasar perlakukan tersebut serupa dengan yang pernah dilakukan Kaisar terhadap kaum Donatik, Arian, dan lainnya yang dianggap menyimpang dari ajaran ortodoks.

Di awal abad keenam, kaum Arian berjaya di sebagian Asia, Eropa, dan Afrika. Banyak dari uskup Asia yang mendukung Arianisme. Kaum Vandal di Afrika, Goth di Italia, kaum Gaul, babgsa Suevi, Burgundy, dan Spaniard dengan terbuka menyokong kepercayaan Arianisme mereka. Kaum Yunani yang sempat mendukung doktrin Nikea turut memperoleh kekerasan dimanapun mereka berada. Dalam periode yang disebut sebagai abad kegelapan di Eropa ini, kekerasan antara Arian dan Ortodoks terjadi seakan tidak pernah berhenti dan selalu berulang. Hingga kemudian Justinian berkuasa dan merestorasi keadaan. Ia berhasil mengusir kaum Vandal dari Afrika dan Goth dari Italia. Akhirnya beberapa raja penganut Arian, seperti Sigismund, raja Burgundy, Theodimir-Raja Suevi di Lusitania, dan Receared, raja Spanyol, tanpa penumpahan darah mengakui pelepasan meeka dari doktrin Arian. Entah ada alasan apa di balik peristiwa tersebut, tetapi efeknya sejak itu, Kaum Arian mulai sedikit demi sedikit melemah dan tidak pernah memperoleh kekuatan yang sama lagi.

Dalam hal penggunaan kitab Suci, Saat gereja barat tengah menuju persetujuan dalam penentuan canon Perjanjian Baru, Gereja timur masih belum sepenuhnya sepakat dalam hal tersebut. Penyebabnya antara lain, Gereja timur mencakup wilayah yang lebih heterogen, mulai dari Syria, Turki (Byzantium) hingga Mesir. Sebelumnya gereja di wilayah-wilayah tersebut sudah memiliki pilihan canon kitab suci masing-masing. Gereja Syria contohnya, walaupun sempat menggunakan canon Tatian selama beberapa waktu, pada abad keempat seluruh naskah Diatessaron dimusnahkan oleh perintah Uskup Theodoretus dari Cyrrhus dan Rabbula dari Edessa. Mereka menggantikannya dengan empat Injil yang terpisah. Pada abad kelima, gereja Syria menggunakan Pesshita yang berisi seluruh kitab Perjanjian Baru kecuali surat II dan III Johannes, II Petrus, Yudas, dan kitab Wahyu. Beberapa aliran gereja timur masih menggunakan canon tersebut hingga saat ini. Tetapi secara keseluruhan, konsep kristianitas versi Paulus yang menyebar pesat di barat mengelami penerimaan yang lebih lambat di kawasan ini.

Selanjutnya sebagai pengingat, ada pula gereja Afrika (Koptik) yang berpusat di Alexandria. Dalam hal penggunaan kitab suci, gereja ini sangat dipengaruhi pemikiran Clement dari Alexandria. Contohnya gereja ini mengakui dua surat Clement sebagai bagian dari kitab suci. Gereja aliran lain yang berpusat di Ethiopia bahkan menggunakan kitab-kitab tak dikenal seperti Sinodos (kumpulan doa yang dianggap sebagai karya Clement dari Roma), Octateuch (dianggap ditulis Petrus kepada Clement dari Roma), Kitab Perjanjian (berisikan instruksi Yesus sebelum peristiwa kenaikan), dan Didascalia (lebih seperti Didache yang berisikan peraturan-peraturan gereja). Naskah tertua yang pernah ditemukan saat ini merupakan naskah yang berasal dari keluarga Alexandria, tidak lain adalah codex Sinaiticus yang turut memuat kitab Hermas dan surat Barnabas. Membuktikan bahwa pada abad keempat masih ada gereja yang tidak menggunakan canon resmi.

Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa gereja barat lebih sepakat dalam menentukan canon, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan politik dan sosial pasca-Nikea. Contohnya saat Athanasius melarikan diri dari tekanan gereja timur (yang masih menganut Arianisme), ia malah mendapatkan tanggapan yang baik di gereja barat. Sinode Carthage merupakan penentu akhir kontroversi canonisasi, dan setelah itu hampir-hampir tidak ada revisi terhadap Perjanjian Baru. Gereja Katolik tidak segera meresmikan susunan Bible hingga tanggal 8 April 1546, di mana konsili Trent terpaksa diadakan akibat tekanan politik. Gereja Katolik akhirnya mengakui Bible yang berisi 73 kitab sebagai bacaan utama mereka. Keputusan ini mengakibatkan perbedaan dengan aliran Protestan yang hanya menggunakan Bible yang berisi 66 kitab.

Pihak Protestan menyebut 7 kitab tambahan yang digunakan Katolik sebagai apokrip, sedangkan Martin Luther walaupun tidak secara terbuka menolak keotentikan beberapa surat dalam Perjanjian Baru, kadang ia menempatkan beberapa surat dalam derajat yang rendah dibandingkan dengan surat lainnya. Seperti Marcion, ia menempatkan surat–surat Paulus dalam derajat utama dan harus dianggap sebagai sumber keterangan utama mengenai ajaran Kristen. Surat lainnya seperti Yudas, Yakobus, dan Petrus (Catholic Epistles) ia tempatkan pada derajat yang lebih rendah karena menyiratkan pertentangan terhadap ajaran Paulus.

Hingga kini dapat kita simpulkan bahwa kanonisasi Perjanjian Baru tidak pernah didasarkan atas pertimbangan literal atau historis, melainkan lebih atas dasar konsensus di antara gereja-gereja masa lampau. Akibatnya seperti yang bisa ditemukan saat ini, berupa banyaknya kontradiksi ditemukan di antara kita-kitab Perjanjian Baru. Martin Luther yang menyadari adanya pertentangan ajaran Paulus dalam beberapa surat akhirnya harus menempatkan beberapa surat dalam derajat yang berbeda. Belum lagi dengan ditemukannya berbagai keraguan atas keotentikan kitab-kitab tertentu di abad pasca-pencerahan yang menambah keraguan terhadap kredibilitas para Bapak Gereja awal dalam memproses canonisasi Perjanjian Baru.

Beberapa naskah kuno yang selama ini diungkap bahkan seakan membuka mata kita bahwa selama ini terdapat berbagai bacaan lain di luar Perjanjian Baru yang dianggap sebagai tulisan suci oleh gereja-gereja di abad awal. Masalah hilangnya beberapa bacaan tersebut dari sejarah, kita dapat menyalahkannya pada tindakan-tindakan gereja pada masa sesudahnya yang sangat protektif.

[Sumber: Sejarah Kekristenan Awal]

Saturday, July 30, 2011

Sejarah Penolakan Gereja Terhadap Ajaran Trinitas Saturday, July 30, 2011


Sebelum Yesus lahir, wilayah Yerusalem dijajah oleh imperium Romawi yang menganut kepercayaan Politeisme. Karena sebagai penduduk yang terjajah, bangsa Yahudi Essenes yang masih taat berpegang pada hukum-hukum Taurat Musa, tidak mampu mengembangkan ajaran agamanya di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan Yahudi Farisi dan Saduki menggunakan agamanya hanya dalam bentuk formalitas saja, dan perilaku hidupnya selalu menyalahi hukum-hukum Taurat.

Ketika Yesus mendapat tugas menyampaikan risalah Tuhan, dia selalu memperingatkan penyelewengan Yahudi Farisi dan Saduki ini. Oleh karena itu dua kelompok ini sangat membenci Yesus dan berusaha membunuhnya.

Untuk melaksanakan niat jahat itu, mereka menghasut penjajah Romawi, dengan mengatakan bahwa Yesus adalah tokoh pemberontak yang ingin menjadi Raja Yahudi, sekaligus ingin membebaskan bangsanya dari pendudukan imperium Romawi. Karenanya, dengan bantuan kedua kelompok Yahudi itu pun tentara Romawi berusaha menangkap Yesus dan memusnahkan pengikutnya.[1]

Setelah Yesus tiada, murid-murid Yesus mulai menyebarkan ajarannya secara meluas ke tengah-tengah masyarakat yang sudah terpengaruh oleh kepercayaan politeisme. Sehingga kemudian lahirlah dua kelompok penganut Yesus. Pertama, yang betul-betul mengikuti ajaran Yesus secara murni, yakni mereka yang berkeyakinan bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, dan Yesus, kendati hidupnya dipenuhi dengan berbagai keajaiban, adalah seorang manusia pilihan yang menjadi utusan Allah. Kelompok ini dikenal dengan sebutan Kristen Unitarian.

Kedua, mengikuti ajaran Yesus yang diajarkan oleh murid-muridnya, tetapi masih sulit meninggalkan kepercayaan politeisme yang sudah mendarah daging pada diri mereka. Akhirnya mereka mengkultuskan Yesus sebagai penyelamatnya, bahkan mengangkat Yesus menjadi Tuhannya. Kelompok ini dipelopori oleh Paulus (Saulus) yang kemudian dikenal dengan sebutan Kristen Trinitarian.

Proses lahirnya kepercayaan kelompok kedua ini sudah lama menjadi "masalah" di dalam sejarah perkembangan ajaran Yesus yang sampai kinipun masih dapat kita jumpai di berbagai penjuru dunia. Perjalanan kepercayaan Kristen Trinitas periode pertama mendapatkan tantangan hebat dari kelompok Kristen Unitarian. Namun karena dukungan dan pengaruh kuat imperium Romawi yang menganut kepercayaan politeisme, Kristen Trinitas dengan cepat menyebar luas ke berbagai wilayah, bahkan ke negara-negara taklukan tentara Romawi. Sementara itu, beribu-ribu penganut Unitarian pun telah diburu, ditangkapi, disiksa dan dibunuh. Adapun tokoh-tokoh Unitarian yang terkenal dalam sejarah kelam perkembangan ajaran Yesus ini di antaranya adalah:

IRANAEUS (130-200 M)
Ketika Iraneus lahir, agama Kristen yang berpusat di Antiokia telah menyebar ke Afrika Utara sampai ke Spanyol dan Perancis selatan. Uskup Lyon yang bernama Pothinus pernah menyuruh Iranaeus membawakan surat petisinya ke Paus Eleutherus (174-189 M) di Roma. Dalam petisi itu, Pothinus memohon agar Paus menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang menolak doktrin Trinitas. Disaat Iranaeus masih berada di Roma, dia mendengarkan berita pertikaian antar kelompok Kristen yang mengakibatkan Uskup Pothinus terbunuh. Setelah pulang ke Lyon, dia menjadi uskup menggantikan Pothinus.

Tahun 190 M, dia menulis surat kepada Paus Victor-I (189-198 M) untuk menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang berbeda keyakinan. Kerusuhan antar kelompok terulang lagi, dan pada tahun 200 M, dia pun mati dibunuh oleh kelompok Trinitas yang dipelopori oleh Paus Victor.

Iranaeus meyakini bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa yang diutus oleh Tuhan. Dia melontarkan kritik tajam terhadap Paulus, dan menudingnya sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas penyusupan ajaran-ajaran politeisme dan filsafat Plato ke dalam ajaran Yesus. Dalam menyampaikan ajaran yang diyakininya, Iranaeus sering mengutip ayat-ayat yang termaktub dalam Injil Barbanabas.[2]

TERTULIAN (160-220 M)
Tertulian berasal dari Kartago, kemudian dia menjadi tokoh Gereja Afrika. Dia adalah seorang Unitarian yang mengidentikkan Yesus dengan Meisah dalam agama Yahudi. Beliau menentang Paus Calixtus (217-222 M) yang mengajarkan bahwa dosa besar itu bisa diampuni setelah melakukan taubat secara kanonik. Di antara pernyataan Tertulian yang masih tersimpan sampai sekarang adalah:

Mayoritas manusia berpendapat bahwa Yesus adalah manusia biasa. Dialah yang mula-mula memperkenalkan istilah Trinitas dari bahasa latin sewaktu membahas doktrin yang dipandangnya aneh itu. Sebab istilah seperti itu tidak pernah dijumpai dalam kitab suci.

ORIGEN (185-254 M)
Origen lahir di Iskandariah Mesir. Ayahnya, Leonidas, mendirikan Pusat Pendidikan Teologi, dan menunjuk Clement sebagai kepala Sekolahnya. Gereja Paulus (Trinitas) sangat membenci Leonidas, karena menganut ajaran Unitarian yang disebarkan oleh murid-murid Yesus (Apostolic Christianity), dan menolak ajaran-ajaran Paulus. Oleh karena itu pada tahun 208 M pihak Gereja Paulus membunuhnya. Peristiwa itu sangat menggores di hati Origen, dan ia ingin mempertaruhkan nyawanya untuk menuntut kematian ayahnya, namun dicegah oleh ibunya.

Gurunya, Clement, merasa terancam dan meninggalkan Iskandariah. Karena ayahnya terbunuh dan gurunya meninggalkan dia, Origen menggantikan Clement sebagai Kepala Sekolah Teologi. Dalam kedudukannya yang baru itu, dia terkenal sebagai cendekiawan yang berani. Kesalehan dan semangatnya yang tinggi diilhami oleh sebuah ayat yang termaktub dalam kitab Matius 19:12 yang berbunyi:

Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang ia lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti, hendaklah mengerti.

Pada tahun 230 M Origen menjadi pengkhotbah di Palestina. Tetapi karena alasan yang tidak jelas, Uskup Demerius memecat dan membuangnya. Dia pergi ke Caesarea dan membangun pusat pendidikan yang sangat terkenal di kota itu. Akan tetapi Konsili Iskandaria tahun 250 M menjatuhkan kutukan kepada Origen. Karena menolak doktrin Trinitas, ia pun ditangkap dan menjalani penyiksaan hingga menemui ajalnya pada tahun 254 M. Origen mengajarkan keyakinannya bahwa Allah adalah Maha Agung dan Yesus adalah seorang hamba Allah yang derajatnya tidak sebanding dengan Allah yang mengutusnya.

Dia dikenal sebagai ahli sejarah gereja yang termashur. Sejak muda sampai akhir hayatnya terkenal keberaninnya. Memiliki sifat-sifat terpuji sebagai guru kebenaran dan sangat dicintai oleh murid-muridnya. Ilmu pengetahuannya sangat luas, yang tidak ada duanya di kalangan Kristen saat itu. Dia pernah menulis kurang lebih enam ratus risalah dan makalah.

DIODORUS
Diodorus adalah uskup di Tarsus, kota kelahiran Paulus. Dia termasuk salah satu tokoh Kristen Antiokia. Perpendapatnya yang terkenal adalah:

Bahwa alam semesta ini selalu dalam perubahan. Dan dalam proses perubahan itu pasti ada periode awalnya yang berasal dari yang Maha Abadi dan Maha tidak Berubah. Yang Maha Abadi itulah sang Pencipta, Yang Maha Kuasa. Diodorus menegaskan, Yesus berkodrat manusiawi, baik ruhani maupun jasmani, dan sama sekali tidak memiliki kodrat Ilahi.

LUCIUS (Wafat 312 M)
Di samping terkenal sebagai ahli teologi yang menguasai bahasa Ibrani dan Yunani, dia pun dikenal sebagai tokoh yang sangat taat kepada Allah. Dia berada di luar lingkungan Gereja sejak tahun 220 M sampai tahun 290 M. Kesalehan dan luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya mengundang kekaguman banyak orang. Dari perguruan di Antiokia yang dipimpinnyalah kemudian lahir aliran Arianisme yang dicetuskan oleh salahseorang muridnya yang bernama Arius.

Dalam memahami kitab sucinya, dia berpegang pada penafsiran dari segi tata bahasa beserta pengertiannya secara lahiriah dan kritis. Dia menentang penafsiran yang diambil dari pengertian simbolik dan allegoris.

Lucius berpendapat, adanya pertentangan paham yang sangat tajam di tubuh Gereja telah membuktikan bahwa orang-orang Kristen berpedoman pada ajaran yang bersumber dari tradisi tulisan dan mengesampingkan tradisi lisan. Padahal Yesus atau para muridnya tidak pernah mencatat ajaran Yesus. Sedangkan tradisi tulisan berasal dari orang-orang yang tidak pernah menjadi murid Yesus. Tragedi ini menunjukkan ajaran Yesus begitu cepat lenyap disebabkan kekacauan isi ajaran yang berkembang sampai penghujung abad ke-3 Masehi.

Lucius merevisi Septuaginta, yakni naskah Alkitab berbahasa Yunani. Dia membuang sekian banyak perubahan-perubahan yang disisipkan ke dalam Alkitab, ketika disalin ke dalam bahasa Yunani. Dia berkeyakinan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, melainkan hamba Allah. Namun karena tetap mempertahankan keyakinannya itu, maka dia pun ditangkap dan disiksa hingga menemui ajalnya pada tahun 312 M.

ARIUS (250-336 M)
Kehidupan Arius sangat erat kaitannya dengan Constantin, kaisar imperium Romawi. Sehingga kita tidak bisa memahami sejarah kehidupan salah satunya, tanpa memahami sosok satunya lagi. Kisah Constantin menaruh perhatiannya kepada gereja berawal dari kekhawatirannya terhadap posisinya di Roma. Kaisar ini merasa cemburu terhadap putra mahkota bernama Crispus. Putra ini sangat termashur, karena sosoknya yang menawan dan sikapnya yang ramah, disertai pula keberaniannya di medan pertempuran. Agar namanya tetap bertahan sebagai figur kaisar Romawi, dan tidak tenggelam oleh ketenaran nama putra mahkotanya, maka Constantin membunuh Crispus. Kematian Crispus menimbulkan duka rakyat Romawi. Dibalik pembunuhan itu, tersebar pula berita bahwa ibu tiri putra mahkota itu menginginkan putra kandungnya sendiri yang akan menjadi kaisar, sehingga dia berniat untuk menghabisi Crispus. Akhirnya Constantin menjatuhi hukuman mati kepada ibu tiri itu dengan membenamkannya ke dalam air mendidih.

Para pendukung permaisuri yang mati itu bergabung dengan para pecinta putra mahkota untuk menuntut keadilan atas kematian kedua orang itu. Constantin dalam posisi tersudut dan meminta bantuan pendeta kuil Yupiter di Roma. Tetapi para pendeta itu mengatakan, tidak ada kebaktian atau korban yang bisa menghapus dosa pembunuhan yang telah dilakukannya. Suasana yang tegang di Roma membuatnya tidak tentram, sehingga Constantin pergi ke Bizantium.

Setibanya di sana, dia mengubah nama kota di pinggir selat Bosporus itu sesuai dengan namanya, Constantinopel. Di tempat baru itulah dia melihat perkembangan Gereja Paulus sangat menakjubkan. Constantin mendapat pelajaran, bahwa bila dia mau bertobat dan mengakui dosanya di Gereja, maka dosa itu akan diampuni. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk membersihkan nama dan tangannya yang telah dikotori lumuran darah dua pembunuhan dan keputusan-keputusan jahat selama dia berkuasa.

Setelah merasa terbebas dari beban dosa, dia pun mencurahkan pikirannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh imperiumnya. Dia melihat adanya kemungkinan memperalat gereja untuk meraih tujuannya dan menunjukkan loyalitasnya dengan cara memberi kebebasan kepada Gereja untuk berkembang, yang sebelumnya telah ditindas dan dibinasakan oleh Kaisar Diolektianus (284-305 M). Berkat dukungan Constantin inilah perkembangan gereja semakin pesat dan kuat. Sebaliknya dia mendapatkan keuntungan yang besar, karena wilayah sekitar Laut Tengah dipenuhi oleh Gereja, yang pemeluknya dapat dimanfaatkan untuk mendukungnya di medan perang.

Bantuan pendeta merupakan faktor yang sangat penting untuk menyatukan Eropa dan Timur Tengah di bawah kekuasaan Constantin. Karena rasa terima kasih kepada Gereja di satu sisi, dan ingin menyudutkan para pendeta kuil Yupiter di Roma yang tidak bersedia membantunya, pada sisi lainnya, dia mengajak Uskup Roma untuk membangun greja yang besar dan megah di kota Roma. Dari posisi terjepit di kota itu, agama Kristen kemudian diberi fasilitas-fasilitas yang luar biasa oleh Constantin. Di samping itu ia juga membiayai pembangunan gereja yang besar dan megah di bukit Zion, Yerusalem.

Walaupun dia telah memberikan bantuan besar dan memeluk agama Kristen, tetapi dia belum pernah dibaptis, sebab pengaruh agama Paganisme yang menyembah dewa Yupiter dan dewa-dewi lainnya masih sangat dominan. Oleh karena itu Constantin bersikap menjaga keseimbangan. Adakalanya ia memperlihatkan diri seakan-akan sebagai pemuja dewa itu. Sikap seperti itu berlangsung cukup lama sampai meledaknya pertentangan di tubuh Kristen antara sekte Pauline Church (Gereja Paulus) yang menganut faham Trinitas dengan sekte Apostolic Church (Gereja Rasuli) yang menganut paham Unitarian.

Tokoh terkemuka sekte Unitarian waktu itu adalah Arius, salah seorang Dewan Gereja yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Kristen. Dia lahir di Libya dan belajar di perguruan Antiokia yang dibina oleh Lucius. Ia merupakan kekuatan baru bagi Gereja Rasuli yang menghidupkan dan mempertahankan ajaran Yesus yang murni, dengan semboyan:

Ikutilah Yesus menurut yang diajarkan olehnya, dan tentanglah ajaran-ajaran Kristen yang diciptakan oleh Paulus.

Keagungan nama Arius pada masa itu dapat dilihat dari namanya yang hingga kini tetap disinonimkan dengan sekte Unitarianisme, yakni aliran yang meyakini bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, dan Yesus adalah hamba dan utusan Allah.

Gereja Paulus menerima pukulan telak dari pihak Arius. Mereka mengakui, Arius bukan hanya seorang ahli perencana saja, melainkan juga sebagai orang yang jujur dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Pada saat Tradisi Lisan (oral tradition) yang mempertahankan ajaran Yesus mulai lumpuh, dibarengi dengan pemahaman Tradisi Tulisan semakin menyimpang jauh, maka Arius tampil dengan segala keberanian dan kegigihannya mempertahankan ajaran Yesus yang telah disampaikan oleh murid-muridnya secara murni, sekaligus menentang persekutuan antara Gereja dengan Kaisar Constantin.

Arius adalah murid Lucian yang paling keras mengecam gereja Paulus. Oleh karenanya dia selalu diincar pembunuhan oleh pengikut-pengikut setia aliran Trinitas. Arius menyadari akan bahaya yang mengancam jiwanya. Walaupun riwayat hidup masa mudanya tidak begitu jelas, tetapi dia tercatat menjadi tokoh penting Gereja Becaulis Iskandariah.

Sampai pada masa Konsili Nicea tahun 325 M, perbedaan keyakinan di kalangan Kristen sangat beragam, karena kepercayaan di kalangan Kristen sendiri juga sangat beragam yang didasari oleh pilihan masing-masing individu. Sebelum gereja mendapatkan kebebasan dari imperium Romawi, perbedaan keyakinan itu menimbulkan banyak pertentangan sengit, yang pada akhirnya mengakibatkan pertikaian antar kelompok Kristen. Oleh karena itu acapkali terjadi peristiwa-peristiwa penangkapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan gelap.

Ketika Constantin menjalin aliansi dengan Gereja, terjadilah perubahan dramatis. Meskipun waktu itu Constantin masih menjabat kepala negara yang penduduknya mayoritas menganut Paganisme, tetapi secara terbuka ia memberi dukungan kepada gereja, saat mana perbedaan antara Pauline Church dengan Apostolic Church nampaknya masih belum begitu tajam. Dengan demikian, agama Kristen memperoleh kedudukan baru di bawah naungan kaisar Romawi. Bagi kebanyakan orang, perkembangan Kristen seperti ini menimbulkan masalah politik. Sebagian orang yang dulunya menentang agama itu, berbalik mendukung karena mendapat tekanan dan intimidasi dari pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu mereka pun terpaksa memeluk agama Kristen, namun bukan karena panggilan hati nurani, melainkan karena tujuan-tujuan tertentu. Perubahan situasi itu sangat menguntungkan pihak Kristen. Gereja Paulus dan Gereja Rasuli masing-masing berkembang pesat hingga ke seluruh wilayah imperium Romawi, namun di sisi lain, menyebabkan pertentangan di antara kedua sekte itu semakin tajam di berbagai daerah.

Constantin yang pada waktu itu masih belum sepenuhnya memahami agama Kristen hanya ingin mendapatkan keuntungan politis bila ia berhasil menciptakan kesatuan gereja yang tunduk padanya dan berpusat di Roma, bukan Yerusalem. Ketika para jemaat gereja Rasuli (Apostolic Church) menolak untuk memenuhi keinginan kaisar itu, Constantin melakukan tekanan-tekanan terhadap mereka. Tetapi semua tekanan itu tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Para jemaat Gereja Rasuli yang menganut faham Unitarian itu tetap menolak untuk tunduk kepada Uskup Roma.

Pertentangan semakin tajam mengenai pokok-pokok keyakinan di dalam agama Kristen. Sementara itu doktrin Trinitas telah diterima sepenuhnya oleh beberapa kalangan penting dalam dunia Kristen. Sedangkan Donatus, Melitus, terutama Arius tetap bersikukuh menentang doktrin tersebut.

Lebih dari dua abad lamanya doktrin itu menjadi bahan perdebatan, tetapi tetap saja tidak ada pihak yang bisa memberikan penjelasan dan penafsiran yang memuaskan. Dan karena banyak fihak yang menentangnya, semakin banyak pula yang membutuhkan penjelasan dan difinisi tentang dogma itu.

Pihak Gereja dituntut untuk memberikan difinisi yang jelas tentang kodrat kemanusiaan dan kodrat ketuhanan Yesus. Termasuk memberikan penjelasan mengenai hubungan oknum yang satu dengan oknum lainnya dalam Trinitas. Gereja harus menunjukkan difinisi yang akurat mengenai hubungan ketuhanan Yesus dengan perawan Maria, ibunya. Karena setiap orang Kristen selalu dihadapkan pada sekian banyak problematika dogma Trinitas, maka surat pertanyaan yang dikirim kepada Paus di Roma pun semakin menggunung.

Surat jawaban dari Paus ternyata tidak bisa memberikan kepuasan bagi semua pihak. Arius tampil mengajukan tantangannya kepada Paus untuk memberikan difinisi yang logis dan rasional mengenai doktrin Trinitas. Arius sendiri memberikan argumennya sebagai berikut:

Jika Yesus itu sebagai anak Tuhan, berarti Bapa (Allah) harus ada terlebih dahulu dari pada Yesus. Justru sebelum ada anak (Yesus), harus ada jarak waktu. Dalam jarak waktu itu sang anak belum ada. Dengan demikian sudah pasti, bahwa anak (Yesus) itu dicipta oleh Allah dari esensi yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu Yesus tidak sama dengan Bapa (Allah) .

Kalangan Gereja Trinitas merasa terjungkal. Patriarch Alexander mengundang dewan gereja untuk mempersoalkan pendapat Arius itu. Sekitar seratus uskup dari Mesir dan Libya menghadiri undangan itu untuk meminta pertanggungjawaban dari Arius. Untuk mempertahankan keyakinannya, Arius mengajukan argumentasi yang semakin sulit dibantah sebagai berikut:

Ada suatu masa, yang di dalam masa itu Yesus belum ada, sedang Allah bersifat Maha Dulu dan Maha Abadi. Karena Yesus adalah makhluk Allah, maka dia bersifat fana (tidak kekal), dan sudah tentu tidak memiliki sifat abadi. Karena Yesus itu makhluk, maka dia termasuk obyek bagi perubahan seperti makhluk berakal lainnya. Karena hanya Allah saja yang tidak berubah, maka Yesus bukanlah Tuhan.

Disamping menggunakan logika, dia pun mengukuhkan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk membantah doktrin Trinistas seperti:

Jika Yesus sendiri telah mengatakan: Bapa lebih besar dari pada aku. (Matius 14:28), bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah dan Yesus itu sama? Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan sabda Yesus sendiri di dalam kitab suci.

Pendapat Arius ini tidak bisa dibantah oleh semua uskup yang hadir pada sidang itu. Tetapi Patriarch Alexander, dengan menggunakan kekuasaan jabatannya, akhirnya menjatuhkan vonis Hukuman "Pengucilan Gereja" terhadap Arius!

Dalam tradisi gereja, siapa yang mendapat hukum pengucilan itu, tumpahan darahnya menjadi halal. Dan pembunuhnya akan mendapatkan surga sebagai imbalan telah berjasa membasmi pembawa ajaran sesat! Tetapi Arius mempunyai banyak pengikut yang pengaruhnya juga sangat luas sehingga tidak dapat dianggap enteng oleh pihak Gereja Trinitas, apalagi para uskup Wilayah Timur tidak membenarkan vonis Patriarch Alexander itu.

Pertentangan masalah keyakinan ini semakin memuncak. Alexander berada pada posisi yang terjepit, bahkan sangat kecewa karena para uskup wilayah timur mendukung Arius. Terutama Eusebius Nicomedia (wafat 342 M) sahabat Arius yang sangat berpengaruh di istana Constantinopel, dan Eusebius Caesarea (260-340 M) yang memberikan dukungan sangat besar kepada Arius. Dua orang ini dan Arius adalah murid Lucian, yang karena peritiwa pembunuhan gelap terhadap guru mereka, menjadikan hubungan ketiganya semakin erat.

Sampai sekarang kita masih dapat melihat surat Arius yang dikirim kepada Eusebius Constantinopel setelah dia dijatuhi hukuman pengucilan dari Alexander. Di antara surat-surat itu berbunyi:

Kami dihukum karena menyatakan bahwa Yesus itu mempunyai permulaan, sedangkan Allah tidak mempunyai permulaan.
Meski demikian, catatan-catatan mengenai pertentangan keyakinan yang sangat tajam kala itu tidak banyak lagi ditemui sekarang ini. Sebab ratusan, bahkan mungkin ribuan, dokumen dan segala bentuk catatan yang dianggap "membahayakan" kepentingan ajaran Trinitas telah disita, dimusnahkan, atau disembunyikan. Surat-surat yang masih selamat, menunjukkan Arius tetap gigih mempertahankan ajaran Yesus yang murni, yang bebas dari perubahan, dan sama sekali tidak menghendaki perpecahan dalam Kristen.
Sedangkan kumpulan surat-surat Alexander memperlihatkan penggunaan bahasa yang tidak santun terhadap Arius dan para pendukungnya. Di antara surat-surat itu Alexander pernah menulis sebagai berikut:

Mereka sudah dikuasai iblis yang merasuk dalam diri mereka. Mereka adalah tukang sulap dan penipu yang cerdik merayu. Mereka kelompok penyamun yang hidup dalam persembunyian, yang siang malam mengutuki Kristus mereka mendapatkan banyak pengikut dengan memperalat wanita sundal.

Surat yang bernada kasar itu membangkitkan kemarahan Eusebius. Beliau mengundang uskup-uskup wilayah timur untuk menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Pertemuan para uskup itu menghasilkan keputusan untuk mengirim surat pada seluruh uskup wilayah timur dan barat, agar mendesak Patrirrch Alexander mencabut hukuman yang dijatuhkannya kepada Arius.

Alexander bersedia mencabut vonisnya, asalkan Arius mau tunduk kepadanya. Syarat itu ditolak mentah-mentah oleh Arius, yang kemudian "hijrah" ke Palestina untuk membina jemaat Kristus di sana. Kepada seluruh pelayan-pelayan gereja Katolik Alexander pun mengirimkan surat kecaman terhadap Arius dan Eusebius dan menuduh Eusebius mendukung Arius bukan karena keyakinan yang dianut oleh Arius, melainkan karena kepentingan ambisius.

Kaisar Constantin juga menyadari situasi internal Kristen yang semakin memburuk ini terpaksa turun tangan dengan mengirimkan surat kepada kedua belah pihak. Kaisar sangat mengharapkan kesatuan pendapat dalam agama. Hal itu diperlukan untuk menjamin stabilitas daerah yang dikuasainya. Karenanya ia meminta kedua belah fihak untuk segera melupakan masalah yang dipertentangkan.

Sementara itu terjadi persengketaan antara Constantin dengan saudara iparnya, Lucianus, yang menguasai wilayah Tracia. Dalam pertempuran tahun 324 M. Lucianus tewas. Dan karena dia termasuk pendukung Arius, kematiannya mengakibatkan posisi Arius mengalami kemunduran.

Sekalipun Constantin memenangkan peperangan, tetapi dia tidak mampu membendung kerusuhan yang melanda beberapa wilayah pendudukan Romawi. Kaisar tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kekacauan ini kecuali mengundang seluruh uskup untuk menyelesaikan persoalan rumit itu. Posisi dirinya yang masih menganut faham Paganisme sangat menguntungkannya. Sebab tidak termasuk pengikut salah satu sekte Kristen yang sedang bertikai itu dengan sendirinya ia berkesempatan menjadi pemimpin sidang dan penengah yang patut dianggap tidak memihak. Akhirnya Constantin direstui oleh para uskup untuk menjadi pemimpin sidang, karena memang tidak ada pihak yang menyetujui sekte lain mengambil posisi itu. Sidang para uskup tahun 325 Masehi yang dipimpin oleh Constantin itu terkenal sebagai Konsili Nicea.[3]

Peserta sidang gereja sedunia yang diadakan untuk pertama kali ini kebanyakan terdiri dari para uskup yang masih lugu, jujur dan berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya. Di saat itulah secara mendadak mereka harus berhadapan dengan tokoh-tokoh yang menguasai filsafat Yunani. Sehingga mereka tidak bisa memahami ungkapan-ungkapan filosofis yang didengarnya.

Sebaliknya, mereka kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan pendapatnya, apalagi harus menggunakan argumentasi-argumentasi yang menuntut logika. Oleh karena itu, pada akhirnya mereka harus memilih salah satu dari dua pilihan, bertahan pada keyakinannya secara diam-diam, atau menyetujui apa saja yang diputuskan oleh pemimpin sidang.

Wakil-wakil dari pihak Gereja Paulus (yang berusaha memaksakan Trinitas) ternyata mampu menunjukkan dua oknum, yakni Allah Bapa dan Allah Anak (Yesus). Namun tidak berdaya untuk mencari dalil dari Alkitab bahwa Roh Kudus itu adalah salah satu dari oknum Tuhan.

Para uskup didikan Lucian seperti Arius, dengan mudah menyudutkan pihak Gereja Paulus dari masalah satu ke persoalan yang lain dalam Trinitas. Pihak Unitarian mengakui bahwa di dalam Alkitab, Yesus memanggil Allah dengan kata "Bapa" dan menyebut dirinya dengan kata "Anak" tetapi mereka juga menunjukkan kepada lawannya sabda Yesus yang berbunyi:

"Dan janganlah kamu memanggil Bapa kepada seorang pun di dunia ini, karena satu saja Bapa kamu, yaitu yang ada di Sorga." (Matius 23:9)

Dengan demikian, kata Arius, sosok "Anak" itu bukan hanya satu, bukan Yesus saja, melainkan berjuta-juta manusia!

Kelompok Trinitas tidak mampu mematahkan argumentasi para Unitarian, sebab kepercayaan terhadap doktrin Trinitas yang mereka yakini tidak berdasarkan pada kitab Injil. Dengan susah payah mereka berusaha membuktikan bahwa Bibel telah menyatakan Yesus itu bayangan Allah yang Maha Benar. Namun para Unitarian menjawab:

Kita sebagai manusia adalah bayangan dan kemegahan Tuhan. Jika dikatakan bahwa bayangan Allah adalah Tuhan, berarti seluruh manusia di muka bumi adalah Tuhan!

Perdebatan dalam sidang semakin meruncing, dan semua pihak merasa pesimis terhadap hasil sidang itu. Ujungnya, masing-masing pihak pun saling mengharapkan dukungan kaisar yang memegang keputusan akhir. Constantia adik kaisar Constantin adalah penganut faham Unitarian, memberitahu Eusebius Nicodemia bahwa kaisar ingin mempersatukan gereja, sebab perpecahan akan membahayakan kekaisaran. Jika tidak tercapai persetujuan dan kesamaan keyakinan, sangat mungkin kaisar akan kehilangan kesabaran dan menarik seluruh dukungannya kepada gereja, dan ini akan mengakibatkan kepentingan agama Kristen menjadi lebih memprihatinkan daripada sebelumnya.

Kendati Eusebius Nicodemia telah berupaya mengajak Arius dan para sahabatnya untuk berunding, namun tidak dicapai kesepakatan kecuali bahwa kelompok Unitarian semakin teguh mempertahankan keyakinan mereka menolak doktrin Trinitas. Hal ini, tentu saja, mereka sadari sebagai sebuah keputusan yang beresiko memposisikan Unitarian sendiri sebagai kelompok minoritas dalam proses pengambilan keputusan pada Konsili Nicea.

Sementara itu, pendukung Trinitas yang menyadari dukungan Constantin terhadap Gereja Paulus dapat menambah kekuasaan mereka, bahkan sekaligus dapat pula dimanfaatkan untuk mengakhiri pengaruh Gereja Rasuli (Unitarian) di Afrika Utara dengan cara-cara represif, (menggunakan kekuatan militer imperium Romawi), segera menentukan sikap. Gereja Paulus menyetujui perubahan-perubahan pada agama Kristen! Dan karena pemujaan kepada Dewa Matahari sudah menjadi tradisi bangsa Romawi kala itu, sedangkan kaisar dipandang sebagai perwujudan dari Dewa Matahari, maka gereja Paulus pun menyusun rumusan sebagai berikut:

  1. Hari Minggu (hari Dewa Matahari) bangsa Romawi dijadikan hari Sabat bagi agama Kristen.
  2. Hari kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember dijadikan hari kelahiran Yesus.
  3. Lambang Dewa Matahari, Salib Sinar, dijadikan lambing agama Kristen.
  4. Untuk menyatukan upacara ritual bagi Dewa Matahari dan Yesus, patung Dewa Matahari pada salib diganti dengan patung Yesus.

Kaisar merasa puas, karena jurang perbedaan di antara pemeluk Kristen dan Pagan yang dianut oleh bangsa Romawi kala itu dengan sendirinya dapat diakhiri. Akhirnya Trinitas pun diterima dengan suara terbanyak sebagai keyakinan resmi dalam agama Kristen. Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin ulang ke dalam tatanan bahasa filsafat Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity. Setelah perubahan pengertian keesaan Tuhan diterima oleh suara terbanyak, langkah perumusan ajaran Kristen selanjutnya pun semakin jauh menyimpang dari ajaran Yesus yang sebenarnya. [4] Rumusan Credo Nicea yang dikenal sampai saat ini adalah rumusan yang ditandatangani oleh peserta konsili yang ketika itu mendapatkan dukungan penuh dari kaisar Constantin. Sementara itu, karena Arius menolak mengakui keputusan konsili tersebut, maka diumumkanlah Anathema (kutukan) terhadap ajaran Arius sebagai berikut:
Bagi orang yang berkata: Ada jarak waktu di mana Yesus belum ada. Sebelum dilahirkan, Yesus tidak ada. Yesus diciptakan dari yang tidak ada. Anak (Yesus) berbeda zatnya dengan Allah. Yesus adalah obyek perubahan, maka Gereja Katolik menjatuhkan kutukan.
Setelah peserta konsili pulang ke daerahnya masing-masing, ternyata mereka terlibat kembali dalam perdebatan mengenai keputusan konsili itu. Pengikut Unitarian yang tetap menentang keputusan konsili pun mulai diburu dan ditangkapi. Mereka yang menolak "bertaubat" dan menerima doktrin Trinitas dijebloskan dan disiksa dalam penjara-penjara bawah tanah!

Arius sendiri sejak tahun 325 M telah dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah di pulau kecil sekitar selat Bosporus. Walau demikian, bukannya mereda, perdebatan dan pertikaian antara dua kelompok ini malah semakin meruncing di berbagai wilayah kekuasaan Romawi. Hanya Athanasius yang masih mematuhi keputusan tersebut, sedangkan para pendukungnya sendiri diliputi kebingungan menghadapi berkecamuknya berbagai pertentangan ini.

Sabinas, uskup tertua di Thracia mengatakan, yang hadir dalam konsili Nicea itu adalah orang dungu yang bodoh! Keputusan Konsili itu hanya disahkan oleh orang-orang tolol yang tidak memiliki pengetahuan dalam masalah yang mereka putuskan.

Tahun 328 M, hanya 3 tahun setelah Konsili Nicea, Patriarch Alexander meninggal. Terjadilah perebutan jabatan keuskupan Iskandariah. Athanasius dipilih dan ditasbihkan menjadi uskup di daerah itu. Pemilihan itu menimbulkan kecaman keras, karena dilakukan dengan cara-cara tidak jujur, intimidasi, dan tindakan-tindakan dalam bentuk kekerasan lainnya. Pengikut Arius pun melakukan perlawanan terhadap Athanasius.

Cosntantina, saudara kaisar Constantin, menentang pembunuhan terhadap orang Kristen Unitarian, terutama menentang pembuangan Eusebius Nicomedia. Dia tetap mempertahankan bahwa Arius adalah pemimpin agama Kristen yang benar. Alkhirnya, Constantina berhasil membebaskan Eusebius Nicomedia agar kembali ke istana. Kembalinya Eusebius ini merupakan pukulan telak bagi kelompok Athanasius. Sedangkan Kaisar Constantin tampak semakin condong kepada Arius.

Ketika mendapat laporan tentang kecaman masyarakat Kristen atas pemilihan Athanasius, kaisar memanggil uskup agar datang ke Constantinopel. Dengan berbagai alasan Athanasius tidak datang memenuhi panggilan itu. Pada tahun 335 M, ketika dilangsungkan konsili di kota Tyre untuk memperingati tiga puluh tahun pemerintahan kaisar Constantin, Athanasius diwajibkan menghadirinya. Dalam konsili itu, dia dituduh telah melakukan kezaliman di wilayah keuskupannya. Karena suasana sidang saat itu menyudutkan dirinya, maka dia segera keluar sebelum konsili sendiri menjatuhkan Hukum Kutukan kepada dirinya.

Para uskup kemudian melanjutkan sidang di Yerusalem dan mengukuhkan kutukan terhadap Athanasius serta menerima Arius kembali ke pangkuan gereja. Constantin mengundang Arius dan Eusebius ke Constantinopel. Perdamaian antara Arius dan kaisar terjalin baik, dan para uskup akhirnya menjatuhkan kutukan kepada Athanasius.

Arius diangkat menjadi Patriarch Constantinopel, tetapi jabatan itu tidak berlangsung lama, dia wafat secara mendadak pada tahun 336 M karena makanannya diberi racun. Pihak gereja menganggapnya sebagai suatu keajaiban, tetapi pihak istana mencurigai peristiwa itu. Kaisar membentuk komisi untuk menyelidikinya. Athanasius terbukti sebagai otak pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman!


Constantin yang perasaannya sangat terguncang atas kematian Arius itu, dibawah bimbingan adiknya, Constantina, akhirnya memeluk agama Kristen Unitarian dan dibaptis oleh Eusebius Nicomedia. Pada tahun 377 M, kaisar Romawi itu menutup mata dengan membawa keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, dan Yesus adalah anak manusia yang diutus oleh Tuhan.

Arius memiliki peranan penting dalam sejarah Kristen. Bukan hanya karena jasanya berhasil mengajak kaisar Constantin memeluk agama yang diajarkan oleh Yesus, tetapi juga karena mewakili orang-orang yang tabah dan gigih mempertahankan kemurnian ajaran Yesus itu sendiri. Pada saat ajaran Yesus tercampur aduk dengan kepercayaan-kepercayaan pagan dan politeisme, sehingga ajaran Kristen yang asli dan yang palsu semakin kabur, maka Arius dengan segala keberanian dan ketabahan hatinya, tampil mempertahankan kemurnian akidah Yesus. **

Pada hakikatnya agama wahyu (samawi) yang dibawa oleh Yesus mengajarkan Tauhid, atau keesaan Tuhan. Tetapi perkembangan berikutnya telah menyeret banyak pengikut-pengikutnya ke dalam kemerosotan Tauhid yang menyebabkan mereka secara sadar, atau tidak sadar, melanggar berbagai ajaran Yesus. Kondisi keimanan mereka semakin memburuk, dan pada akhirnya membawa mereka semakin jauh terperosok ke dalam keyakinan Politeisme yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus sendiri.

Kisah di atas semakin meyakinkan kita bahwa Islam telah mengajarkan kepada pengikutnya untuk berpegang teguh pada agama Tauhid, agama yang tegas-tegas menyatakan bahwa tiada Tuhan yang layak disembah selain Allah, agama yang mengakui para Nabi dan Rasul sejak Adam, Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, dan seterusnya - hingga Muhammad, adalah utusan Allah. Mereka diutus untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia, agar manusia mengenal jalan lurus yang diridhai-Nya untuk, pada saatnya nanti, kembali dengan selamat kepada-Nya!

Wallahualam Bissawab.

[Sumber: Jesus A Prophet of Islam by M. A Rohim | Encypaedia Britannica 2002 | Sarip]

CATATAN KAKI
[1] Lihat Penyaliban Yesus Menurut Injil dan Alqur'an
[2] Lihat Injil Barnabas
[3] Lihat Konsili Nicea, Arian, Dan Ortodoksi
[4] Lihat Rahasia Besar Di balik Kanonisasi Alkitab





Contact Form

Name

Email *

Message *