Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Alkitab (Injil). Show all posts
Showing posts with label Alkitab (Injil). Show all posts

Sunday, January 31, 2016

Injil Injil Dalam Alkitab Tidak Lebih Benar Dari Hadits Hadits Maudhu Sunday, January 31, 2016

Sebagian umat kristen percaya bahwa kitab-kitab injil kanonik adalah injil Yesus asli. Sebagian lagi percaya bahwa Yesus adalah injil asli itu sendiri. Sedangkan sebagian lainnya tidak mau ambil pusing mana yang asli atau mana yang bukan, pokoknya mereka lebih memilih, "imani saja apa kata Bapa Pendeta!"

Di luar sana sudah cukup banyak bukti bahwa injil-injil kanonik memang bukan injil asli, melainkan cuma karya sastra yang mengisahkan penggalan-penggalan riwayat hidup dan ajaran seorang nabi Allah bernama Isa Ibn Maryam yang diklaim oleh umat kristen sebagai Yesus Kristus.

Hanya sebagai catatan, injil-injil kanon tsb mulai ditulis hingga selesai dikompilasi jauh setelah "kematian" Yesus.
  • Injil Markus .................... 65 s.d   85 M 
  • Injil Matius ..................... 80 s.d   90 M 
  • Injil Lukas ...................... 80 s.d 110 M  
  • Injil Yohanes .................. 85 s.d 115 M   

Dalam khasanah literatur Islam, penulisan seperti ini mirip dengan penulisan hadits nabi Muhammad saw.

Bedanya, hadits nabi Muhammad saw ditulis berdasarkan kaidah-kaidah atau metoda terstruktur dan telaah sangat kritis terhadap kredibelitas sumber-sumbernya guna menentukan benar atau tidaknya kisah atau ajaran tsb memang berasal dari nabi. Dengan demikian, dapat diketahui secara pasti tingkat atau derajat setiap hadits tsb, mulai dari hadits Shahih (terbukti benar), hadits Hasan (terbukti cacat), hadits Dhaif (terbukti lemah), sampai kepada hadits Maudhu (terbukti palsu).   
Karena itu, tidak mengherankan bila dalam pernyataan publiknya George Alfred Leon Sarton, Bapak History of Science dengan pasti menegaskan;

"Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang muslim. Matematikawan terbaik Abu Kamil dan Ibn Sina adalah muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik Al-Masudi adalah seorang muslim dan At-Tabari ahli sejarah terbaik, juga seorang muslim. Kita tahu bahwa sejarah sebelum kedatangan Islam dipenuhi dengan perkiraan-perkiraan, desas-desus dan mitos-mitos. Adalah seorang ahli sejarah muslim yang pertama kali memperkenalkan metode sanad dan matan yang melacak keaslian dan keutuhan sebuah informasi langsung dari saksi mata.
Menurut seorang ahli sejarah UCLA, “Metode ini belumlah dipraktekkan oleh ilmuan Eropa mana pun sebelum tahun 1597."

Sedangkan injil-injil kanonik, meski oleh umat kristen dipercaya menuliskan penggalan-penggalan riwayat hidup, ucapan, dan ajaran-ajaran Yesus, namun tidak pernah diketahui kredibilitas sumber-sumbernya kecuali dari "kabar burung", sehingga sama sekali tidak dapat dibuktikan secara pasti mana dari bagian-bagian tulisan itu yang masuk dalam kategori Shahih, Hasan, Dhaif, atau Maudhu.
Adapun bagaimana ceritanya sampai injil-injil tsb bisa menjadi bagian dari kitab "kanon" atau kitab yang "disucikan" (jadi memang bukan kitab suci) umat kristen, sepenuhnya tergantung pada siapa atau kelompok mana yang menjadi penguasa tertinggi gereja-gereja pada masa kanonisasi tsb dilakukan, termasuk juga tentunya untuk kepentingan siapa kitab-kitab tsb dinyatakan sebagai kitab kanon.

Dari sedikit penjelasan ini kita bisa menyimpulkan bahwa injil-injil kanon -- yang dalam alkitab disebut juga sebagai kitab Perjanjian Baru -- sebetulnya bukan Injil Yesus, sekaligus juga bukan kitab suci.

Sedangkan mencermati proses penulisan, kompilasi, hingga kanonisasinya, kita semakin mengerti bahwa injil-injil ini sesungguhnya hanya kitab-kitab yang menyerupai hadits nabi, namun karena tidak ada metoda kredibel yang dapat membuktikan kebenaran kandungannya, maka sekalipun menyerupai hadits, maka tidak salah jika banyak di antara kita yang menganggapnya seperti kitab hadits Maudhu Yesus!

Tentang ini, diprakarsai oleh Robert Funk di bawah naungan Westar Institute, pada tahun 1985, sekitar 76 orang pemerhati dan pakar alkitab dari berbagai institusi dan universitas dari banyak negara pernah berkumpul dan melakukan kerja bareng yang mereka beri label YESUS SEMINAR.

Dalam seminar ini, melalui penggabungan berbagai metoda telaah dari masing-masing ahli tsb pada akhirnya mereka sepakat menyimpulkan dalam terbitan sebuah kitab berjudul The Five Gospels, bahwa hanya 18% dari seluruh kandungan injil-injil kanonik yang dipercaya Shahih, sedangkan 82% sisanya masuk dalam kategori Hasan, Dhaif, dan Maudhu!
Kesimpulannya, jangankan untuk disejajarkan dengan Al-Qur'an, sedangkan dengan hadits-hadits shahih nabi Muhammad saw saja rasanya injil-injil kanon itu sudah sangat-sangat jauh untuk boleh disebut sebanding!
Makanya kita sering dibuat tersenyum sendiri tiap kali di banyak forum melihat bagaimana HOT para laskar kristus odong-odong berdolah-dalih menolak keras hadits-hadits shahih tentang berbagai mukjizat nabi Muhammd saw, misalnya, cuma karena kisah-kisah tsb tidak tertulis dalam Al-Qur'an.

Mereka betul-betul "keblinger" mengira bahwa injil-injil kanon Maudhu tsb sama tinggi derajatnya dengan Al-Qur'an. Padahal, sekali lagi, injil-injil kanon di mana mukjizat Yesus dituliskan itu bahkan tidak lebih shahih dari hadits-hadits shahih [di mana mukjizat nabi Muhammad saw juga dituliskan] berdasarkan informasi dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kesaksiannya!

Semoga bermanfaat!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!



Sunday, March 15, 2015

Kitab Suci Injil Sunday, March 15, 2015

Banyak pengikut Paulus yang "nggak ngeh", termasuk pendeta produk Sekolah Tinggi Teologi jaman now, bahwa untuk mengulang sukses Alkitab Klinkert terbitan 1870, maka pada tahun 2000 sekali lagi LAI menerbitkan sebuah buku tebal berjudul Kitab Suci Injil yang "sangat Islami", konon katanya hasil terjemahan Bible berbahasa Yunani terbitan tahun 1912 dengan tujuan mudah ditebak, agar umat Islam yang kebetulan membacanya akan terkecoh lalu mengira dan percaya bahwa kitab tsb adalah kitab yang disebut-sebut di dalam Al-Quran sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa Alayhi Salam.

Itu sebabnya kenapa di dalam kitab tsb nama Yesus Kristus tidak pernah ditulis, tetapi diganti dengan nama Isa Almasih (versi online masih dapat dilihat di sini).

Sedangkan bagaimana "islaminya" buku tsb, dapat sama-sama kita cermati dalam kutipan kata pengantarnya sbb:

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas terbitnya edisi kedua Kitab Suci Injil terjemahan tahun 1912 dalam bahasa Indonesia. Edisi pertama dari Kitab Suci terjemahan tahun 1912 ini, terbit di Asia Tenggara pada tahun itu juga, terdiri atas seluruh Kitab Taurat, Zabur, dan Injil, ditulis dalam bahasa Melayu serta dicetak dalam huruf Arab yang juga disebut huruf Jawi. Edisi ini beredar terutama di Sumatra, Kalimantan, semenanjung Malaysia, dan Singapura. Pada tahun 1929, Kitab Suci Zabur dan Injil dari terjemahan ini diterbitkan dalam huruf Latin dengan menggunakan ejaan yang lazim dipakai di Indonesia pada zaman itu. Di Indonesia, edisi itu dipakai terutama di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Di beberapa daerah tertentu, Kitab Injil terjemahan tahun 1912 ini telah dicetak ulang dan terus dipakai sampai tahun 1970-an. Bahkan Kitab Taurat, Zabur, dan Para Nabi tetap dipakai hingga sekitar tahun 1990-an.

Walaupun Kitab Suci Injil telah diterjemahkan ke dalam ribuan bahasa, naskah aslinya yang tertulis dalam bahasa Yunani tidak pernah berubah. Kitab Suci Injil terjemahan 1912 edisi kedua ini merupakan hasil pembaharuan dari edisi pertamanya, dan telah melewati proses pemeriksaan berulang kali oleh sebuah tim ahli bahasa Yunani dan bahasa Indonesia. Maksudnya ialah supaya setiap kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia tidak melenceng dari arti dan maksud yang terdapat dalam bahasa aslinya. Karena Kitab Suci adalah sempurna dalam bahasa aslinya, teks bahasa Yunani sengaja disertakan dalam Kitab Suci edisi kedua ini, supaya Kitab Injil ini dapat dibaca dan dipelajari pula dalam bahasa aslinya.

Secara umum, edisi kedua ini dari Kitab Suci Injil ini tidak jauh berbeda dari edisi pertamanya. Nama-nama, istilah-istilah, dan gaya bahasa yang ada pada edisi pertama sejauh mungkin dipertahankan dalam edisi kedua. Walaupun demikian, ada juga beberapa perubahan, antara lain:
  1. Edisi kali ini memakai Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD-1972) sebagai ganti ejaan yang lama.
  2. Tata bahasa modern yang baku di Indonesia pada saat ini dipakai menggantikan tata bahasa yang lama.
  3. Istilah-istilah yang sudah tidak lazim diganti dengan istilah-istilah yang umum dipakai sekarang ini, seperti: bini menjadi istri, tasik menjadi danau, Griek menjadi Yunani, jin yang najis menjadi roh jahat, dsb.
  4. Dalam naskah bahasa asli Kitab Injil (bahasa Yunani), sering muncul istilah kurios, yang mengandung beberapa arti, antara lain: tuan, pemimpin, pemilik, penguasa, junjungan, atau Tuhan. Dalam edisi yang pertama, pada umumnya kurios diterjemahkan menjadi Rabbi (dari kata dasar Rabb) jika yang dimaksudkan adalah Al Masih. Sedangkan dalam edisi kedua ini, untuk terjemahan kata kurios yang menunjuk kepada Al Masih, tim ahli Kitab Suci dan bahasa telah menemukan sebuah istilah yang lebih dikenal, lebih mudah dipahami, serta lebih lazim dipakai di Indonesia pada masa kini, yaitu Junjungan, Tuan, atau Junjungan Yang Ilahi, dan pemakaiannya tergantung pada konteks dan artinya di dalam kalimat.

Penjelasan tentang istilah-istilah lain bisa ditemukan pada kamus kecil yang ditempatkan pada bagian akhir dari Kitab Suci ini.

Akhir kata, semoga Kitab Suci ini dapat mendatangkan berkah bagi Bapak, Ibu, serta Saudara pembaca, dan semoga Sabda Allah yang abadi ini tinggal di dalam diri Bapak, Ibu, serta Saudara dengan berlimpah-limpah hingga akhir zaman. Amin.

Lembaga Alkitab Indonesia
[Terjemahan 1912, dalam huruf Arab:]


CATATAN
Baru dari kata pengantarnya saja, sebenarnya sudah banyak hal ganjil yang mengundang pertanyaan, apalagi jika menilik keseluruhan isi kitab yang "dianggap suci" ini. Namun untuk permulaan, GM cuma ingin menanggapi teks yang diberi tinta warna merah saja.  

Perhatikanlah bagaimana menyesatkannya penjelasan tentang alih bahasa Kurios yang diterjemahkan menjadi Rabbi di atas itu. LAI menyebutkan bahwa kata Rabbi yang dinisbatkan kepada Isa Almasih berasal dari akar kata Rabb yang dalam bahasa Arab -- jadi bukan bahasa Yunani yang tidak mengenal kata Rabb yang justru sedang mereka terjemahkan -- dipahami sebagai personifikasi Tuhan.

Pada masa kenabiannya, Isa Almasih memang disebut "Rabbi" oleh para sahabat dan pengikutnya.  Sedangkan arti Rabbi dalam bahasa sehari-hari Isa Almasih sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rabb dalam bahasa Arab, apalagi dimaknai sebagai jelmaan Tuhan! 

Dalam tradisi bertutur bangsa Yahudi, Rabbi adalah kata yang lazim digunakan untuk menyebut orang-orang alim yang dihormati.      

Rabi atau Rabbi (Ibrani Klasik רִבִּי ribbī; Ashkenazi modern dan Israel רַבִּי rabbī) dalam Yudaisme, berarti "guru", atau dalam pengertian secara harafiah adalah "yang agung". Kata "Rabbi" berasal dari akar kata bahasa Ibrani RaV, yang dalam bahasa Ibrani alkitabiah berarti "besar" atau "terkemuka (dalam hal pengetahuan keagamaan)".

Dalam aliran-aliran Yudea kuno, kaum bijaksana disapa sebagai רִבִּי (Ribbi atau Rebbi) — dalam abad-abad belakangan ini berobah ucapannya menjadi "Rabbi" (guruku). Juga kata Rabuni (Markus 10:51; Yohanes 20:16) sama artinya dengan Rabbi, yaitu "guruku". Dalam masyarakat Yahudi, sebutan penghormatan ini lambat laun dipergunakan sebagai gelar, dan akhiran pronomina "i" ("-ku") kehilangan maknanya karena seringnya kata ini digunakan. Di Eropa Timur, Rabi diucapkan sebagai "Ravin," (Раввин).

Dari dulu sampai sekarang peran Rabbi dalam masyarakat Yahudi mempunyai banyak sisi. Pada jaman dahulu, Rabbi merupakan gelar seseorang yang terpelajar, yaitu guru yang menguasai keseluruhan 613 mitzvot (hukum agama) Yahudi, atau orang yang ditunjuk sebagai pemimpin agama di komunitasnya. Saat ini para Rabbi masih bertanggungjawab untuk mengajarkan ajaran agama Yahudi secara umum, dan Halakha (aturan-aturan agama) secara khusus; dan umumnya berhak menentukan penerapan hukum Yahudi. 

Nah, itulah pengertian Rabbi yang sebenarnya, apalagi jika dikaitkan kepada nabi Isa Almasih, sang Guru!

Kata lain yang juga membuat kita merngerenyitkan dahi ketika membacanya adalah "sabda Allah.Kendati entah sejak kapan KBBI mendefinisikan kata sabda sebagai "perkataan atau ucapan Tuhan, Nabi, Raja dan sebagainya" , namun kita tidak pernah menemukan kata "sabda Allah" dalam literatur Islam manapun di muka bumi ini karena menurut akal dan hirarkhinya, kedudukan Allah tidak setara dengan hamba-Nya yang bergelar Nabi dan Raja. Dalam kitab Kristen sendiri Allah tidak disebut bersabda tapi berfirman!   
Jika memang kata sabda dimaknai sama artinya dengan firman, tentu sudah sejak lama kita mendengar dari mulut para pendeta Kristen bahwa Yesus Kristus adalah sabda yang hidup! Bukan seperti dalam doktrin kekristenan dan menjadi angan-angan mayoritas umat Kristen selama ini bahwa Yesus Kristus adalah firman yang hidup!     

Dari sini kita bisa melihat sendiri betapa menyesatkannya orang-orang yang memiliki akses penuh untuk mengotak-atik buku terjemahan yang dianggap sebagai kitab suci oleh umat Kristen, bukan?

Ya, begitulah!
Semoga bermanfaat!

** Jika tertarik untuk mempelajari isu ini lebih lanjut, silahkan berkunjung ke sini. 

Tuesday, November 20, 2012

Injil Kanonik Merupakan Buah Karya Para Penulis Fiktif? Tuesday, November 20, 2012


Prof. E. P. Sanders dalam bukunya The Historical Figure of Jesus halaman 63-64 menulis:

We do not know who wrote the gospels. Present evidence indicates that the gospels remained unfitted until the second half of the second century. I have summarized this evidence elsewhere. The gospels as we have them were quoted in the first half of the second century, but always anonimously. Names suddenly appear about the year 180.

Kita tidak tahu siapa yang menulis Injil-injil. Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa Injil-injil tetap tidak memiliki nama sampai sekitar tahun 150-an. Saya telah memeriksa bukti-buktinya di mana-mana. Injil-injil sebagaimana yang kita miliki telah dikutip sebelum tahun 150-an, tetapi tanpa nama. Nama-nama penulis tiba-tiba saja muncul sekitar tahun 180.

Mereka ini adalah orang-orang Romawi pengikut Paulus yang menulis Injil bukan untuk umat Yahudi (umat Yesus) tetapi untuk kepentingan orang-orang Romawi penganut filsafat Yunani. Sedangkan pada masa itu, diperkirakan setidaknya ada lebih dari 300 Injil yang berbeda-beda yang tersebar di berbagai gereja tanpa diketahui siapa penulisnya. Kelak beberapa di antaranya "ditemukan" seperti di antaranya Injil Barnabas [1] dan The Shepherd of Harmes [2] yang mengundang banyak kontroversi, khususnya bila dihadapkan pada Injil-Injil produk ajaran Trinitas.[3]

Pemberian nama-nama pada Injil baru dilakukan pada tahun 180 demi kepentingan mempertahankan Injil-injil yang "dianggap sesuai" untuk masuk ke dalam kanonisasi Alkitab.

Jadi, jika anda melihat nama Matius dan Yohanes di dalam Injil, jangan buru-buru membayangkan bahwa Injil yang mencantumkan nama mereka itu adalah hasil tulisan tangan mereka sendiri. Ini adalah rekayasa Gereja yang telah "mencatut nama mereka" agar sidang kanonisasi meluluskan Injil-Injil tersebut masuk dalam Alkitab. Ini dijelaskan pula oleh Professor Alvar Ellegard, dari University of Gutenburg, Sweden, dalam bukunya Jesus, One Hundred Years before Christ, halaman 188 yang menulis:

Thus we can only conclude that ascribing the authorship of the Gospels to a certain of Jesus' disciples was a step taken towards the mid- second century AD by member of the Church who, like Papias and Justin, were eager to find - or indeed fabricated - support for the view that the Gospels they chose to accept as canonical were the memories of Jesus' contemporaries.

Dengan demikian, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa mencatut nama murid-murid Yesus sebagai penulis Injil-injil adalah suatu langkah yang diambil menjelang tahun 150-an oleh para pemimpin Gereja yang, seperti Papias dan Justin, sangat bersemangat untuk memperoleh - atau malah memalsukan - dukungannya agar orang menganggap bahwa Injil-injil yang mereka pilih sebagai kitab suci tersebut merupakan tulisan orang-orang yang hidup di zaman Yesus.

Dengan mencantumkan nama murid-murid Yesus berarti Injil tersebut harus diterima karena (seolah-olah) ditulis oleh murid Yesus atau saksi mata kehidupan Yesus. Demikian pula Gereja, yang kemudian tetap menyembunyikan kepada jemaat mereka sebuah kenyataan bahwa Injil yang mereka pilih sesungguhnya bukan hasil kerja murid-murid Yesus. Ini dijelaskan pula secara detil oleh Herman Hendrickx dalam bukunya From One Jesus to four Gospels. Sementara itu pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Uskup John S Spong [4] dalam bukunya Why Christianity Must Change Or Die, halaman XV sebagai berikut:

I contended that the authors of the synoptic Gospels, Matthew, Mark, and Luke, were not eyewitnesses, nor were these Gospels even based primarily on eyewitness memories of the life of Jesus.

Saya yakin bahwa para penulis Injil-injil Matius, Markus dan Lukas, bukanlah saksi mata, dan bahkan Injil-injil ini malah tidak didasarkan pada catatan-catatan para saksi mata kehidupan Yesus.

Dari keterangan yang sedikit ini, wajar saja bila kemudian timbul pertanyaan di benak kita, siapakah sebenarnya orang-orang yang namanya "dicatut" sebagai penulis Injil ini? Seperti misalnya, siapakah Markus, Matius, Lukas dan Paulus?

Semenjak Konsili Gereja Paulus di Nicea - atau lebih dikenal dengan sebutan Konsili Nicea [5] - umat Kristen hanya mengenal 4 Injil Kanonik atau 4 Injil Induk. Keempat injil tersebut ditulis "atas nama" MARKUS, MATIUS, LUKAS DAN YOHANES. Namun sejarah telah membuktikan bahwa keempat penginjil ini ternyata sama sekali tidak dekat, bahkan tidak pernah mengenal Yesus secara pribadi!

Seperti halnya Markus yang tidak pernah mengenal Yesus, demikian pula Matius. Ia hanyalah seorang mantan pegawai rendahan pemungut cukai pada jaman setelah "kematian" Yesus. Sedangkan Lukas adalah tabib (dokter) pribadi Paulus yang juga tidak pernah bertemu, apalagi mengenal Yesus secara pribadi.

Adapun Paulus alias Saul dari Tarsus, juga dipastikan tidak pernah mengenal Yesus secara pribadi, konon pula bila ada yang mengatakan bahwa ia pernah menjadi salahsatu dari 12 murid Yesus. Perlu diketahui bahwa sebelumnya, Paulus justru adalah tokoh yang Pro-Romawi, musuh nomor satu Yesus, yang terlibat dalam penyaliban dan pembunuhan besar-besaran atas generasi awal pengikut Kristus.

Setelah peristiwa penyaliban Yesus, [6] Paulus (mengaku) bertobat lalu ikut berdakwah bersama Barnabas. Namun dalam banyak hal Paulus selalu berseberangan paham dengan Barnabas, sehingga akhirnya Barnabas meninggalkannya.

Bila setelah itu catatan sejarah tentang Barnabas seolah-olah seperti hilang di telan bumi, maka sebaliknya, Paulus justru mulai membuat sejarah luar biasa "mencengangkan" dalam proses perkembangan agama Kristen dan kitab Injil[7] pasca "kematian" Yesus.

Siapakah Barnabas?
Barnabe atau Barnabas adalah salahsatu di antara duabelas murid Yesus yang pertama, yang dalam Al Qur'an disebut sebagai Kaum Hawariyun. Ia adalah murid termuda Yesus. Nama aslinya Yosef atau Yusuf atau Yoseph. Lahir di Cyprus, dari suku Yahudi Lewi. Nama Barnabas diberikan oleh Yesus kepadanya karena sifat-sifatnya yang dapat diartikan sebagai "si pelipur lara" atau "si pemberi peringatan" Ia lebih mengenal dan lebih dekat dengan Yesus dibandingkan dengan kemenakan beliau sendiri, Markus. Barnabas dipercaya telah menuliskan ke dalam sebuah kitab (Injil Barnabas) pokok-pokok ajaran Yesus sesuai permintaan dan petunjuk yang diperolehnya langsung dari Yesus sendiri.

Data tentang Barnabas memang sedikit, apalagi beberapa kitab seperti PERJALANAN DAN AJARAN PARA RASUL telah dimusnahkan oleh Gereja Paulus, sehingga informasi-informasi penting tentang Barnabas dan generasi awal umat Nasrani pun ikut raib!

"Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam." (QS. Al-Haaqqah[69]:40-43)

"Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (QS. Al-Haaqqah[69]:48-52)

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

CATATAN KAKI
[1] Lihat Injil Barnabas



Friday, September 7, 2012

Alkitab Juga Mengajarkan "Shalawat" Untuk Yesus Friday, September 7, 2012


DALAM ALKITAB YESUS JUGA DISHALAWATKAN
Umat Kristen begitu bersemangat mempermasalahkan masalah shalawat Nabi dalam ajaran Islam karena mereka berpikir dalam Biblenya tidak mengajarkan shalawat kepada Nabi. Apa betul demikian? Ternyata mereka salah, sebab sang Nabi dari Nazaret pun sesungguhnya dishalawatkan oleh para pengikut beliau pada zaman itu. 

[Matius 23:39] Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat aku lagi, hingga kamu berkata: DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan!” 

[Lukas 13:35] Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat aku lagi hingga pada saat kamu berkata: DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan!” 

[Lukas 19:38] Kata mereka: “DIBERKATILAH DIA yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” 

[Yohanes 12:13] Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Isa Al Masih sambil berseru-seru: “Hosana! DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” 

[Matius 21:9] Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" 

Doa hosana dan doa berkat tersebut diatas adalah untuk Yesus. Apakah arti HOSANA? Doa atau pujian? Kita lihat Hosana dalam Perjanjian lama pada Mazmur 118:25.

אנא יהוה הושיעה נא אנא יהוה הצליחה נא
ānnā’ yəhwâ HWOSI‘AH NA’ ’ānnā’ yəhwâ haṣəlîḥâ nnā’
Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!

Kita bisa mengerti bahwa HOSANA mengandung pengertian seruan doa, ”A Hebrew exclamation of praise to the Lord, or an invocation of blessings.” Lihat penjelasan lebih detildi sini.

Asal kata HOSANA secara jelas dari situs Wikipedia:
"The word hosanna is etymologically derived from the Hebrew, הושיעה־נא hôšî‘âh-nā’ (baca howsyi’ahnnaa). Christian usage has come through the Greek Bible, giving it the form ὡσαννά, hōsanná." 

"Kata HOSANNA berasal dari bahasa Ibrani הושיעה־נא , hôšî‘âh-nā’. Umat Kristen mengambilnya dari Injil berbahasa yunani yang tertulis HOSANNA."

From the Bauer lexicon: derived from Aramaic (הושע נא) from Hebrew (הושיעה נא)  (Psalm 118:25, הוֹשִׁיעָהנָּא ), meaning “help” or “save, I pray“, “an appeal that became a liturgical formula; as part of the Hallel… familiar to everyone in Israel.”

Dari Kamus kata Bauer: Diambil dari bahasa aram (הושע נא) dan juga bahasa Ibrani (הושיעה נא) (Mazmur 118:25, הוֹשִׁיעָהנָּא) yang berarti “Tolong” atau “Selamatkanlah, Ku berdoa”. Sebuah seruan yang menjadi tata cara ibadah; sebagai bagian dari Hallel yang dikenal setiap orang di israel.

From the Friberg Lexicon: hosanna, indecl. particle translit. fr. the Heb.; strictly, a cry expressing an appeal for divine help “save! Help, we pray!”; in a liturgical usage, a shout of praise and worship “hosanna, we praise you” (Matthew 21.9). 

Dari Kamus kata Friberg: HOSANNA, diambil dari bahasa Ibrani yang berarti: seruan dengan sungguh sungguh & tegas untuk meminta pertolongan Tuhan. “Selamatkanlah! Tolonglah, kami memohon!”. Dalam tata ibadah, seruan untuk berdoa & memohon “HOSANA, Kami memberkatimu” 

From the UBS Lexicon: hosanna (in Aramaic), an exclamation of praise literally meaning, “Save, I pray”. 

Dari Kamus kata Lexicon: HOSANNA (bahasa aram), sebuah seruan doa yang berarti: “Selamatkanlah, Kumohon” 

From the Louw-Nida Lexicon: hosanna (an Aramaic expression meaning “help, I pray” or “save, I pray,” but which had become a strictly liturgical formula of praise) a shout of praise or adoration – “hosanna; blessed is the one who comes in the name of the Lord” Mark 11.9; “hosanna in the highest” Mark 11.10; “hosanna to the Son of David” Matt 21:9. Mt 21.9 may also be rendered as “praise to you, Son of David” or “we praise you who are the Son of David” or “…a descendant of David.”

Dari Kamus kata Louw Nida: HOSANA (sebuah ekspresi dari orang aram yang berarti “Selamatkanlah, Ku doakan”, tapi menjadi susunan kata ibadah doa yang tegas). 

Hosanna in the highest,” the closing words of which no longer give any sense The same is the case with the words “Hosanna to the son of David” in Matt xxi. 9, “Hosanna in the highest” being a corruption of the original version. Lebih detil lihat di sini.

Menurut info dari Wikipedia pengertian kata “hosanna” ada 2 pandangan: 

1. Judaism “Hoshana” (הושענא) is a Hebrew word meaning PLEASE SAVE OR SAVE NOW. In Jewish liturgy, the word is applied specifically to the Hoshana Service, a cycle of prayers from which a selection is sung each morning during Sukkot, the Feast of Booths or Tabernacles. The complete cycle is sung on the seventh day of the festival, which is called Hoshana Rabbah (הושענא רבא, “Great Hosanna”). 

2. Christianity "Hosanna" (Greek transcription: ὡσαννά, hōsanna) is the CRY OF PRAISE OR ADORATION shouted in recognition of the Messiahship of Jesus on his entry into Jerusalem, Hosanna! Blessed is the one who comes in the name of the Lord![3] It is used in the same way in Christian praise. Lihat detil di sini

Pengertiannya jelas berbeda bukan? Yahudi yang empunya kata “hosanna” mengartikannya sebagai permohonan alias doa sedangkan Christian mengartikannya sebagai pujian/sanjungan. 

Etymology: Hosanna \Ho*san”na\ (h[-o]*z[a^]n”n[.a]), noun; plural Hosannas(-n[.a]z). [Greek, from Hebrew h[=o]sh[=i]‘[=a]h nn[=a]save now, save, we pray, h[=o]sh[=i]a’ to save (Hiphil, a causative form, of y[=a]sha’) + n[=a], a particle.]. Lebih jelas, lihat di sini

Dari etymology diatas jelas bahwa “hosanna” adalah mengharap/ memohon selamat bukan memuji “sang penyelamat” 

Perhatikan lagi Mazmur 118:25

אנא יהוה הושיעה נא אנא יהוה הצליחה נא
ānnā’ yəhwâ HWOSI‘AH NA’ ’ānnā’ yəhwâ haṣəlîḥâ nnā’
We beseech Thee, O LORD, SAVE NOW! We beseech Thee, O LORD, make us now to prosper!

O LORD, SAVE NOW!, terj. Literal: Oh Gusti, selamatkanlah sekarang! Apakah Permohonan atau Doa atau pujian?
Check juga pengertian “hosanna” sebelum kedatangan Christianity.

Perhatikan Mazmur 117:25 di sini
ω κυριε σωσον δη ω κυριε ευοδωσον δη (Septuagint)
o kurie SOSON de o kurie euodoson de
O Lord, save now: O Lord, send now prosperity

Save now = selamatkanlah sekarang, bermakna permohonan/doa atau pujian? 
σωσον SOSON verb – aorist active middle – second person singular sozo sode’-zo: to save, i.e. deliver or protect — heal, preserve, save (self), do well, be (make) whole.

Bandingkan arti kata σωσον SOSON dalam Perjanjian Baru pada Markus 15 :30.
σωσον σεαυτον και καταβα απο του σταυρου sôson
seauton kai kataba apo tou staurou
Turunlah dari salib itu dan SELAMATKAN diri-mu! 

Apakah kata soson bermakna permohonan atau pujian? Apakah saudara masih Kurang yakin? Silahkan cermati juga Vulgate. 

Psalm 117:25 o Domine salvum fac o Domine prosperare
O Lord, SAVE ME: O Lord, give good successsave me = selamatkanlah diriku 

Bermakna permohonan/doa atau pujian? Jadi, berdasarkan info-info diatas, kata “hosanna” bermakna permohonan dilimpahkan keselamatan alias doa, chek juga pemakaian kata itu pada liturgy Jahudi, dan ternyata para patriarch Abraham, Isaac, Jacob, Moses, Aaron, Joseph dan David juga “dihosannahi” alias di mohonkan keselamatan. Lihat juga di sini.

Hoshanot Today is Hoshana Rabbah, the seventh day of the festival of Sukkot which is also a minor holiday of its own. The name means “The Great Hoshana” or “The Great ‘Please Save Us’!” 

Dalam penggalan ayat Bible di bawah ini kita dapat melihat doa sekaligus berkat tersebut adalah untuk Yesus Kristus atau Nabiullah Isa Al Masih alaihissalam: 

[Lukas 19:38] Kata mereka: “DIBERKATILAH DIA yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!”

[Yohanes 12:13] Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Isa Al Masih sambil berseru-seru: “Hosana! DIBERKATILAH DIA yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” 

[Matius 21:9] Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"

Anda dapat mendoakan orang lain (misal teman) dengan format yang serupa dengan format doa berkat itu. Misal, “Diberkatilah kamu oleh Tuhan“, “Allah memberkatimu“, “Dilapangkanlah jalan-jalanmu“, “Dimudahkanlah ujian hari ini“, dsb.Dalam bahasa Arab, seringkali anda akan mendengar seorang muslim mendoakan saudaranya dengan “Barokallahu fiikum” yang berarti ” Semoga ALLAH memberkahi anda“, “Berkat ALLAH tercurah atas anda“ 


Yesus bukan hanya mendoakan para pengikutnya, bahkan para Nasrani generasi pertama pun juga mendoakan sholawat dan berkat untuk beliau. Sekali lagi, doa sholawat dan salam adalah kebiasaan para pengikut para Nabi dari dahulu untuk Nabi mereka.


[Sumber: Islam Menjawwb Fitnah]

Sunday, June 24, 2012

Dusta Kitab-Kitab Injil Kanonik Sunday, June 24, 2012


Ada banyak distorsi dan rekayasa yang telah dilakukan oleh para pengarang injil-injil kanonik [Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes], khususnya yang berkaitan dengan gagasan-gagasan pemenuhan nubuat akan datangnya sang Juru Selamat. Namun demikian, kita hanya akan menyuguhkan beberapa contoh kasus saja agar tidak terlalu membosankan untuk dibaca.  

Para pengarang injil-injil kanonik mengambil ayat-ayat tertentu dari Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani sebagai nubuat, kemudian mereka mengada-adakan kisah-kisah tertentu dalam kehidupan Yesus (Isa Al-Masih), semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya, yang seolah-olah kisah-kisah tersebut merupakan pemenuhan nubuat datangnya sang Juru Selamat, Yesus Kristus.

Mungkin sekali gagasan-gagasan tersebut dilatarbelakangi oleh ramalan akan datangnya seorang Nabi yang seperti Musa, semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Ulangan berikut ini: 

[18:18] seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini;
Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 
[18:19] Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. 
[18:20] Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus dibunuh. [al. Douay Rheims Bible & New Century Version].

Untuk memenuhi ramalan tersebut yang diklaim menunjuk pada Yesus, para pengarang injil-injil kanonik tampaknya berupaya keras menciptakan persamaan antara kehidupan Yesus dengan Musa antara lain dengan mengada-adakan kisah-kisah tertentu dalam kehidupan Yesus dan menghubung-hubungkannya dengan nubuat tertentu dalam Perjanjian Lama sehingga seolah-olah nubuat tersebut terpenuhi dalam kehidupan Yesus.  

Namun demikian, jika kita mencermati kisah-kisah kehidupan Yesus yang diklaim sebagai pemenuhan nubuat tersebut, kemudian kita membandingkannya atau mencocokkannya dengan nubuat yang dikutip dari Perjanjian Lama, maka akan terlihat jelas betapa nubuat-nubuat yang dikutip tersebut telah didistorsi sedemikian rupa sehingga bagi pembaca yang awam akan tampak bahwa kisah-kisah dalam kehidupan Yesus tertentu benar-benar merupakan pemenuhan nubuat dari Perjanjian Lama.


KEBOHONGAN INJIL-INJIL KANONIK 


Yohanes Sang Pembaptis

Para pengarang injil-injil kanonik memperkenalkan tokoh Yohanes (Yahya) sang Pembaptis, semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya, yang ingin digambarkan mereka sebagai pemenuhan nubuat akan datangnya seorang Juruselamat lainnya. Dalam kasus ini, bukanlah Yohanes sang Pembaptis yang menjadi Juruselamat, tetapi bahwa Yohanes sang Pembaptis merupakan pemenuhan nubuat datangnya seorang tokoh yang konon mendahului kedatangan sang Juruselamat, Yesus Kristus. Berikut ini petikan injil-injil kanonik: 

MATIUS:
[3:1]. Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: 
[3:2] "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" 
[3:3] Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun:
Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."  
[3:11] Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.   

MARKUS
[1:2] Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: "Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; 
[1:3] ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya",  1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu."  

LUKAS
[3:3] Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, 
[3:4] seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun:
Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.  
[3:16] Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

YOHANES:
[1:22] Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"   
[1:23] Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun:
Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." 
[1:27] yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak." 

Kutipan injil-injil kanonik di atas sebenarnya merujuk pada satu keterangan dari Perjanjian Lama yang benar-benar eksis, tetapi mereka mengutipnya dari versi Septuaginta, Perjanjian Lama berbahasa Yunani. 

Dalam uraian berikut, terjemahan teks berbahasa Ibrani mengenai ayat-ayat Kitab Yesaya tersebut dikutip di bawah ini: 

[40:3] Ada suara yang berseru-seru:
"Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!  
[40:4] Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; 
[40:5] maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya." 
[40:6] Ada suara yang berkata: "Berserulah!" Jawabku: "Apakah yang harus kuserukan?" "Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. 
[40:7] Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. 
[40:8] Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."  

Terjemahan injil-injil kanonik yang diambil dari Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani tampaknya sangat cocok dengan Yohanes sang Pembaptis. Tentu saja, karena para pengarang injil-injil kanonik tersebut menarasikan seolah-olah nabi Allah ini muncul dan mewartakan pesannya di wilayah belantara di sekitar Sungai Yordan, dan dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah pesan Yohanes selaras dengan yang dilaporkan dalam kutipan Yesaya di atas. Namun, jika kita meneliti terjemahan dari bahasa Ibrani, sebagaimana dipertentangkan dengan versi bahasa Yunani dari teks Yesaya, maka kita akan mengetahui adanya PERSOALAN YANG MENCOLOK. Bahwa ia bukanlah "suara dari seseorang yang berseru-seru di padang gurun", tetapi meneriakkan bahwa kita harus mempersiapkan jalan Tuhan "di padang gurun/belantara".

Suara itu tidak berada di padang gurun, tetapi "jalan Tuhan" itulah yang berada di padang gurun/belantara yang harus dipersiapkan dan diluruskan. Betapa krusialnya perubahan ini! Para pengarang injil-injil kanonik, menerjemahkan keterangan itu sedemikian rupa sehingga seolah-olah sesuai dengan Yohanes sang Pembaptis. Akan tetapi, itu bukanlah yang dikatakan Yesaya. Kata-kata Yesaya yang sebenarnya dari teks berbahasa Ibrani tidak memiliki kaitan sama sekali dengan Yohanes sang Pembaptis, tetapi ia justru lebih cocok dengan nabi setelah Yesus. Nabi itu telah mengubah Jazirah Arab yang berupa padang gurun dan gunung-gunung batu, yang luasnya ratusan kali luas padang gurun Yudea, menjadi kota dan negeri yang senantiasa ramai oleh hamba-hamba Allah.

Jelasnya, teks Yesaya di atas tidak berbicara tentang "suara orang yang berseru-seru di padang gurun", tetapi ia berbicara tentang "mempersiapkan jalan Tuhan di padang gurun/belantara". 

Menurut Yesaya, "suara orang yang berseru-seru" itu berada di suatu tempat yang tidak diketahui, yang menyerukan umatnya untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan Tuhan di padang gurun/belantara. Sebaliknya, para pengarang injil-injil kanonik mendistorsi teks Yesaya tersebut sedemikian rupa sehingga seolah-olah ia berbicara  tentang "suara orang yang berseru-seru di padang gurun", yang dimaksudkan untuk menunjuk kepada Yohanes sang Pembaptis, yang menyerukan umatnya untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan Tuhan (di mana?). 
Benar-benar tidak berbicara kebenaran!

Lebih jauh, dalam Yesaya 40:8 di atas terdapat frasa "tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya". Perlu dicamkan di sini, bahwa TIDAK ADA Firman Allah yang "tetap suci" keadaannya di dunia ini, dan PASTI terjaga kesuciannya hingga hari kiamat, selain Al-Qur'an!


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Contact Form

Name

Email *

Message *