Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Taurat. Show all posts
Showing posts with label Taurat. Show all posts

Tuesday, March 21, 2017

Gagal Paham Kitab Kejadian 1:1-2 Tuesday, March 21, 2017


Pelajaran kita kali ini, adalah mengulang lagi, dan lagi, gagal paham para pengikut setia Paulus mengartikan apa yang sesungguhnya sudah sangat jelas tertulis dalam Kejadian 1:1-2.

Perhatikan yang berikut ini.
Ini adalah penjelasan skematika Kejadian 1:1-2 berdasarkan tulisan dalam bahasa "aslinya" dari Hebrew OT: Westminster Leningrad Codex yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris versi NASB (New American Standard Bible) dan apa arti terjemah tsb menurut Kamus Merriam Webster dan pengertiannya dalam bahasa Indonesia.

Perhatikan!
Ada tiga kata sangat krusial pada ayat Kejadian 1:1-2 dalam Bibel terjemah Indonesia bernama Alkitab yang selama ini menjadi bagian sangat penting dalam pembentukan iman kristen.

Ketiga kata tsb adalah:
1. Belum berbentuk, 
2. Kosong, dan 
3. Roh Allah.

Dalam skema kita; kata belum berbentuk (formless) dilingkari dengan tinta warna merah, kata kosong (void) dilingkari dengan tinta warna biru, dan kata Roh Allah (the spirit of God) dilingkari dengan tinta warna hijau.

Sekarang perhatikan baik baik apa arti sesungguhnya dari masing masing kata formlessvoid, dan the spirit of God menurut pengguna bahasa Inggris yang diterangkan dalam masing masing kotak berwarna merah, biru dan hijau dibawah ini.
Gambar ini menjelaskan dengan sangat "gamblang" bahwa Bibel terjemah Indonesia, atau yang selama ini mereka percaya sebagai kitab suci Kristen bernama Alkitab telah keliru  menterjemahkan ayat Kejadian 1:1-2.

Ayat ayat tsb sebenarnya menjelaskan bumi yang sama sekali belum ada, dan mustahilnya menerangkan bahwa diatas, atau pada bumi yang belum ada tsb sudah ada samudra!

Kata "samudra" dalam ayat ini seharusnya diartikan sebagai "air" atau "unsur air" yang meliputi alam raya sebelum terjadinya pembentukan bumi dan benda benda langit lainnya!

Artinya, air atau unsur air  dalam ayat ini mustahil berada pada bumi yang belum ada!

Lebih jauh lagi, kata Roh Allah dalam Alkitab yang mereka artikan sebagai personifikasi Allah itu sendiri, sebenarnya harus ditulis Roh Milik Allah  sehingga mudah dipahami bahwa arti sebenarnya  bukan Allah!
 
Sedangkan berdasar penjelasan Masoretic Text kitab Ibrani, bangsa Yahudi, penutur bahasa Ibrani yang digunakan dalam penulisan Torah dimana teks Kejadian 1:1-2 tsb tertulis tidak mengartikan Roh Allah -- ditulis wərûaḥ ’ĕlōhîm -- secara literal sebagai Roh Allah seperti pemahaman mayoritas umat Kristen tradisional, melainkan sebagai angin, nafas Allah, atau bentuk kekuasaan Allah lainnya dalam proses penciptaan alam semesta.   
 
Itu sebabnya kenapa umat Yahudi  tidak pernah mengalami kesulitan memahami ayat Kejadian 1:1-2 seperti ruwetnya cara berpikir umat Paulus yang coba menjelaskannya berdasar dogma melawan akal manusia pada umumnya. Umat Yahudi, sebagai pewaris kitab Torah Musa tidak pernah berpikir bahwa Roh Allah pada ayat Kejadian 1:2 merepresentasikan salahsatu dari Tuhan Ciptaan Paulus dan kroninya yang berjumlah TIGA!

Ini adalah FAKTA, dan dapat dimengerti jika rata-rata pengikut Paulus sangat sulit menerimanya karena sudah terlanjur mengimaninya sebagai sebuah kebenaran -- yang sesungguhnya tidak benar!
 
Padahal, salahsatu sumber studi Alkitab Indonesia sendiri, SABDA WEB, menjelaskan bahwa kata Roh Allah pada teks Kejadian 1:1-2 dalam Alkitab tidak dapat diartikan sebagai representasi dari salahsatu oknum Trinitas yang dikenal sebagai Roh Kudus sbb:
Dengan demikian, tentu saja aneh, bahkan sangat menggelikan bila ternyata masih ada saja umat Paulus yang demikian gigih memaksakan keyakinannya bahwa kata Roh Allah pada ayat  Kejadian 1:1-2 dalam kitab suci umat Yahudi -- yang mereka bajak lalu diklaim sebagai bagian dari kitab suci umat Kristen -- merupakan representasi dari Roh Allah dalam arti literal, sehingga dapat dimaknai sebagai sebuah pemahaman bahwa sama halnya seperti manusia, Allah juga memiliki roh untuk hidup! 
 
Dalam teologi umat Yahudi, pemahaman seperti ini adalah kesesatan yang nyata, sekaligus merupakan kutuk bagi setiap sendi keimanan berdasarkan Torah!  
 
Jadi, terlepas apa pun alasannya, selama umat Paulus masih memahami kata Roh Allah dalam Kejadian 1:1-2 berbeda dari yang dipahami oleh umat Yahudi, maka pemahaman tsb praktis tertolak, alias dinyatakan sebagai pemahaman yang sesat!   
 
Kendati demikian, jika umat Paulus merasa keyakinannya lebih benar dari keyakinan umat Yahudi sendiri dan masih ingin mati matian menyangkalnya, ya, silahkan saja. Tokh sudah jelas yang error pada ayat Kejadian 1:1-2 dalam terjemah  indonesia itu bukan apa yang seharusnya tertulis, tapi otak yang digunakan untuk menalarnya! 
 
Bagaimana mungkin umat Paulus yang "sok akrab" mengaku-ngaku sebagai pengiman Torah juga, yang muncul 1.700 tahun setelah umat Yahudi memahami seluruh kandungan Torah, yang tidak mengerti seluk-beluk bahasa Ibrani, merasa lebih mengerti Torah daripada umat Yahudi sendiri?
Yang benar sajalah!
 
Mau tahu bagaimana Al-Quran menjelaskan hal ini?
Silahkan simak uraian dan bukti-buktinya disini

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
 
 
[Bagus Pamungkas]

Wednesday, July 20, 2016

Menurut Paulus, Kristen Adalah Ajaran Terkutuk! Wednesday, July 20, 2016

Perhatikan baik-baik!

Suatu hari ada yang bertanya pada GM begini:
"Tanya Gus! Kenapa ajaran kasih kristen kok sampeyan sebut sebagai ajaran terkutuk?"
Saya jawab, "karena ajaran itu diciptakan oleh manusia yang suka mengutuk, didukung pula oleh kroninya yang suka menjadi manusia-manusia terkutuk!"

Yang bertanya heran, "Lho, kok bisa gitu?"
Saya lanjutkan, "Ini cuma sedikit contoh saja ya?"

Begini:
Tidak ada satu katapun dalam Mazmur, Taurat, atau injil yang menyebutkan bahwa Taurat adalah sebuah kutukan. Tapi di antara surat-suratnya ke jemaat di Galatia, Paulus menegaskan bahwa Hukum Taurat, dalam kitab yang dihimpun oleh Musa berdasarkan firman Tuhan, dipastikannya sebagai kutukan Tuhan kepada umat manusia!

Dia mendefinisikan kutuk yang tidak pernah ada itu begini:
"Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." (Galatia 3:10)

Bermodalkan sebaris kalimat itu pula kemudian secara cerdik ia menggunakan nama Abraham untuk menghasut semua pengikutnya agar tidak perlu lagi mematuhi segala perintah dan larangan Tuhan yang tertulis dalam kitab Taurat. Kecuali, perhatikan ini! Kecuali perintah wajib kepada jemaat gereja untuk setiap bulan setor 10% dari penghasilan mereka ke gereja masing-masing guna menjamin kocek para petinggi gerejanya tetap menggelembung sepanjang waktu.

Kewajiban yang di 'extend' dari kitab Taurat ini, jika tidak dituruti, sangat boleh jadi akan melahirkan kutukan-kutukan lain kepada jemaat yang tidak mematuhi doktrin ini.
Aneh, bukan? Perintah dan larangan Tuhan yang mereka anggap memberatkan dicampakkan begitu saja ke tong sampah, sementara yang menguntungkan, mati-matian mereka pertahankan!
Untuk melegalkan inilah kemudian para pembangkang ini merekayasa sebuah perjanjian antara Tuhan dengan manusia -- yang tidak pernah ada -- sebagai apa yang mereka sebut Perjanjian Baru, sekaligus menjadikan Perjanjian fiktif ini sebagai justifikasi untuk membatalkan semua perjanjian Tuhan dengan umat manusia melalui nabi-nabi terdahulu, yang kemudian mereka sebut sebagai Peranjian Lama alias perjanjian kedaluwarsa!

Ini jelas salah, dan patut disebut sebagai perbuatan terkutuk, sebab Yohanes dalam injil yang dikanonisasi oleh gerombolan ini untuk melicinkan dogma ketuhanan Yesus justru dengan tegas menulis begini:

"Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" (Yohanes 7:49)

Kutukan Yohanes ini nampaknya sesuai dengan pernyataan Yesus yang dicatat oleh pengarang injil lainnya, yakni Matius, begini:

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Matius 5:17-18).

Yesus menyatakan dengan terang benderang  bahwa dia datang sama sekali bukan untuk merobah, apalagi meniadakan kandungan dan hakekat hukum Taurat walau hanya satu titik sekalipun! Bahkan selama hidupnya ia berusaha sekuat tenaga mengajarkan agar selamanya bani israel berpegang teguh pada hukum Taurat hingga datangnya hari kiamat nanti!

Tapi lihatlah, orang-orang terkutuk ini malah memplesetkan arti "menggenapi" yang ditegaskan oleh Yesus sebagai ajaran yang harus dipelihara kelangsungannya itu justru menjadi "menyudahi" hukum Taurat!

Dengan demikian, umat yang kemudian mengaku kitab Taurat merupakan bagian dari kitab suci mereka ini sama sekali sudah tidak lagi mejalankan ritual ibadah kepada Tuhannya Yesus sesuai tuntunan Yesus berdasarkan Taurat Musa dan Injil Yesus, melainkan hanya menggunakan kitab tsb sebagai pembenar untuk melakukan banyak pembangkangan dan rekayasa terhadap larangan Tuhan!

Terkutuk lainnya adalah, Paulus memaksakan doktrin bahwa Yesus adalah anak tunggal Tuhan, sehingga di kemudian hari kroninya sampai kebablasan nekad menuhankan Yesus!

Dengan melawan semua ajaran Yesus, mereka melakukan konspirasi dengan kaisar Konstantinus, sang penguasa Romawi pada era kegemilangan tipu daya manusia-manusia terkutuk ini, untuk melantik Yesus menjadi Tuhan!

Ya! Utusan Tuhan ini mereka lantik menjadi Tuhan agar bisa dijadikan alasan untuk memaksakan doktrin baru bahwa sang utusan sudah menggantikan kedudukan Tuhan yang mengutusnya!

Padahal jauh sebelum itu, Paulus sendiri sudah mengatakan bahwa "anak Tuhan ciptaannya" ini adalah manusia terkutuk!

Benar! Yesus adalah manusia terkutuk karena pernah tergantung di kayu salib!

Bukan hanya itu, Yesus juga divonisnya sebagai manusia paling terkutuk yang pernah ada karena telah menjadi tumbal untuk menanggung kutuk Taurat terhadap seluruh umat manusia!

Begini dia menjelaskannya:
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Galatia 3:13).

Bayangkan, seorang anak yatim yang demikian lemah sehingga mudah saja dipaku oleh serdadu Romawi di atas tiang salib hingga mati, dipaksakan supaya kita percayai telah dengan sukarela memilih mati secara terkutuk guna menanggung dosa kutukan atas bermilyar-milyar umat manusia?

Anak manusia ini dijadikan satu-satunya andalan untuk menanggung dosa milyaran manusia?

Ini jelas adalah perbuatan yang dikutuk oleh Tuhannya semua nabi-nabi terdahulu, termasuk tentu saja oleh Tuhannya Yesus, seperti tertulis dalam kitab mereka:

"Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5)

Terkutuk berikutnya adalah ini.
Entah bagaimana ceritanya, tapi Paulus dan kroninya berhasil meyakinkan pengikut mereka bahwa dalam mewartakan "Injil", Yesus dipercaya tidak pernah menerima wahyu atau firman Tuhan melalui Malaikat seperti umumnya para nabi-nabi terdahulu dan nabi sesudahnya, apalagi sampai membawa-bawa kitab bernama injil. Padahal dalam kitab-kitab Perjanjian Baru yang mereka himpun sendiri ada tertulis begini:

"Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum," (Wahyu 14:6).

Ayat ini mudah kita fahami sebagai berita bahwa Tuhan mengirimkan firman-Nya melalui malaikat untuk disampaikan kepada bani Israel (terdiri atas 12 suku bangsa), termasuk melalui, dan tentu saja, kepada Yesus!

Artinya, karena Yesus adalah anak manusia seperti yang seringkali ditegaskannya sendiri, maka ia juga menerima wahyu dan firman Tuhan melalui malaikat. Dan karena disebutkan pula bahwa malaikat Tuhan tsb membawa injil, maka tentu saja ini berarti bahwa jauh sebelum ke-4 injil pilihan kroni Paulus dikanonisasi, sebenarnya sudah ada injil yang asli, yaitu Injil yang dikabarkan oleh Yesus!

Tapi tahukah anda apa kata Paulus tentang fakta ini?

Dia menulis begini: 
"Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia!" (Galatia 1:8)

Artinya, sekalipun ada injil yang berasal dari Tuhan sendiri dan dibawa turun ke bumi oleh malakat, Paulus tetap tidak mau tau dan menganggap injil yang dikabarkannyalah yang benar, sedangkan injil dari Tuhan adalah injil terkutuk!

Nah, baru sampai di sini saja rasanya kita sudah mendapati demikian banyak "kutukan" yang melekat pada prinsip-prinsip utama "ajaran kasih" ini, bukan?

Atau jika kita buatkan ringkasannya, maka "sisi lain" dari ajaran Paulus yang nampaknya luput dari perhatian pengikutnya adalah sbb:

  1. Seluruh firman Tuhan dalam kitab Taurat adalah KUTUK!
  2. Kitab Taurat adalah kitab suci TERKUTUK!
  3. Musa, nabi yang menghimpun firman Tuhan ke dalam kitab Taurat adalah manusia TERKUTUK!
  4. Umat Paulus yang mempercayai Taurat sebagai Kutuk adalah manusia-manusia TERKUTUK!
  5. Dana perpuluhan dari jemaat yang dinikmati oleh para rohaniawan gereja adalah dana TERKUTUK!
  6. Yesus yang di belakang hari ternyata "dituhankan" oleh umat Paulus adalah manusia TERKUTUK!
  7. Mengandalkan Yesus yang manusia sebagai penebus dosa seluruh umat manusia adalah perbuatan TEKUTUK!
  8. Injil asli yang diantarkan oleh malaikat Tuhan kepada bangsa-bangsa Israel melalui Yesus adalah injil TERKUTUK!
  9. Malaikat yang menghantar dan mengajarkan injil kepada Yesus adalah malaikat TERKUTUK!
  10.  Tuhan yang disembah oleh Yesus adalah Tuhan TERKUTUK!
  11. Yesus yang dipaksa menggantikan posisi Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan TERKUTUK!
  12.  ............

Jika baru sebentar saja sudah demikian banyak KUTUKAN dalam ajaran kristen, lantas untuk mengisi urutan No. [12] di atas ini, "ajaran kasih" Paulus pantasnya diberi nama sebagai "ajaran" apa, coba?

Apapun jawabannya, hendaklah segenap bangsa menjawab serta berkata: AMEN!

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
Semoga Tuhannya Yesus memberkati.


[Sumber: Catatan Lama GM]

Simak rekaman audio cerita di atas berikut ini:

Thursday, October 17, 2013

Umat Kristen Mengaku Melaksanakan Hukum Taurat? Thursday, October 17, 2013


Kitab suci umat Kristen yang disebut Bibel (Bible, di Indonesia Alkitab) adalah sebuah kitab yang bukan terdiri dari sebuah kitab utuh, melainkan merupakan gabungan dari banyak kitab yang dibendel jadi satu. Kitab itu terdiri dari dua buah kita utama yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang mana kedua kitab utama tersebut masih terdiri dari banyak kitab-kitab lagi.

Lima buah kitab pertama dari Perjanjian Lama adalah apa yang diakui oleh umat Kristen sebagai kitab Taurat, yaitu kitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Di dalam kitab-kitab tsb terdapat apa yang diakui umat Kristen sebagai Hukum Taurat yang telah diajarkan oleh nabi Musa. Sedangkan kitab-kitab lain di Perjanjian Lama adalah apa yang sering disebut sebagai “kitab para nabi”.

Umat Kristen mengatakan kalau hukum Taurat ini sudah tidak berlaku lagi karena sudah digantikan oleh hukum kasih yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus. Hukum kasih tsb adalah seperti yang terdapat dalam Bibel Perjanjian Baru pada Markus 12 ayat 29-31:

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Dan penghapusan hukum Taurat ini juga lah yang menjadi dasar dari ajaran Kristen mayoritas untuk tidak lagi menggunakan aturan yang terdapat dalam hukum Taurat tsb. Contohnya adalah pada hukum sunat dan larangan-larangan memakan daging babi.

Hukum Taurat melarang memakan daging babi, tapi umat Kristen menghalalkannya.

Hukum Taurat menyuruh bersunat –> umat Kristen tidak melakukannya, bahkan melarangnya.

Padahal dalam Bibel sendiri Yesus dengan sangat jelas menyebutkan bahwa kedatangannya tidak akan menghapuskan hukum Taurat, malah akan terus dilestarikan sampai hari kiamat nanti. Ia datang adalah untuk menggenapi hukum Taurat tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada Bibel Perjanjian Baru pada kitab Matius 5 ayat 17-20:

5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

ayat-ayat tersebut apabila dibaca tidak dengan pemikiran dibawah doktrin, melainkan dengan pemikiran yang jernih dan kritis, akan jelas menyatakan tetap berlakunya hukum Taurat. Bagaimana penjelasannya? Kita lihat dalam pembahasan berikut:
5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Yesus sangat jelas menyatakan di ayat ini bahwa ia datang adalah untuk menggenapi hukum Taurat, bukan untuk meniadakannya. Masalah yang sangat penting di sini adalah pada kata “menggenapi”. Apa yang dimaksud dengan menggenapi di sini? Orang Kristen yang berpikir di bawah doktrin akan langsung dengan mudah menyatakan bahwa kata menggenapi yang dimaksud adalah penggenapan janji Tuhan untuk kedatangan-Nya(?) atau anak-Nya(?) untuk melakukan karya penebusan untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, atau untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman maut sehingga maut tidak lagi menguasainya sehingga manusia akan beroleh hidup yang kekal, atau agar manusia dapat hidup di bawah kasih karunia bukan dibawah hukum Taurat lagi, dll dsbnya… yang inti semua itu dalam konteks bahasan kita ini adalah bahwa dengan kedatangan Yesus, maka hukum Taurat menjadi batal, tidak berlaku lagi, digantikan oleh hukum kasih karunia melalui diri dan pengorbanan Yesus.

Sangat mengherankan mendengar penjelasan dari umat Kristen tentang kedatangan Yesus yang merupakan penggenapan itu, yang mana membuat tidak berlakunya lagi hukum Taurat. Hal ini mengingat bahwa masih di ayat yang sama Yesus sudah memberikan sebuah informasi yang sangat penting tentang maksud dari kata “menggenapi” tsb. Syarat itu adalah pada kata “… Aku datang bukan untuk meniadakannya (hukum Taurat),…” yang sangat jelas merupakan syarat dari “menggenapi” itu tadi.

Jadi penggenapan yang dimaksud Yesus dalam ayat tsb haruslah dilakukan dengan syarat tidak meniadakan hukum Taurat, melainkan melengkapi dan menyempurnakannya. Dan cara Yesus menggenapinya adalah dengan memasukkan hukum kasih di sana. Bahwa dalam penerapan hukum Taurat sekalipun, berlaku kasih adalah lebih diutamakan. Hal ini sangat mudah dipahami oleh pola pikir manusia yang normal (bukan doktrinal), karena kata “menggenapi” memang berkonotasi melengkapi dan menyempurnakan. Seperti terdapat pada kalimat “Ia menggenapi jumlah komputer yang telah ia pasang menjadi 10 buah”, yang memberikan arti bahwa ia tidak bisa menggenapi jumlahnya menjadi 10 kalau yang 9 sebelumnya dibuang! Kita bisa melihatnya lebih jelas dalam Bible bahasa Inggris untuk ayat yang sama sebagai berikut:

5:17 Do not think that I have come to do away with or undo the Law or the Prophets; I have come not to do away with or undo but to complete and fulfill them.

Kemudian untuk menguatkan syarat penggenapan yang tidak boleh menghapuskan hukum Taurat, Yesus tercatat menambahkan informasi lagi pada ayat selanjutnya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Ayat ini jelas menyatakan bahwa “…selama belum lenyap langit dan bumi ini…” artinya adalah sebelum hari Kiamat tiba, yang juga berarti selamanya, selama langit dan bumi masih ada! Jadi sebelum hari kiamat tiba, tidak akan ada hukum Taurat yang dibatalkan atau dihilangkan. Maka sangat aneh kalau dikatakan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk menggenapi hukum Taurat yang dengannya hukum Taurat justru tidak berlaku lagi. Sedangkan, Yesus sendiri yang menyatakan di sana bahwa syarat utama dapat berlangsungnya penggenapan adalah harus dengan tidak dihilangkannya hukum Taurat.

Dan yang paling mengejutkan bagi umat Kristen kalau mereka membaca ayat-ayat ini dengan teliti, adalah pada ayat selanjutnya yang merupakan konsekuensi bagi mereka yang tidak melakukan dan tidak mengajarkan hukum Taurat.

5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Ayat ini merupakan penegasan yang lebih diperkuat lagi tentang tetap diberlakukannya hukum Taurat oleh Yesus, di mana dinyatakan bahwa barang siapa yang meniadakan hukum Taurat meskipun hanya salah satunya yang paling kecil sekalipun dan mengajarkan demikian pada orang lain, ia akan mendapatkan tempat yang paling rendah dalam surga. Sedangkan bagi yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat, ia akan mendapat tempat yang tinggi di surga.

Dalam pembacaan dengan konteks yang benar, ayat ini dapat mengejutkan atau bahkan menakutkan bagi umat Kristen. Kenapa? Jelas saja, siapapun tidak ingin mendapat tempat yang paling rendah, tetapi posisi mereka jelas terancam dengan adanya ayat ini. Bagaimana bisa begitu? Kita akan lihat dalam bahasan berikut.

Misalnya kita ambil contoh 2 perintah hukum Taurat, yaitu perintah bersunat, dan larangan makan daging babi. Keduanya adalah termasuk di dalam hukum Taurat. Apakah umat Kristen melakukan sunat dengan cara yang sesuai seperti diperintahkan hukum Taurat? Tidak! Apakah mereka mengajarkan untuk bersunat? Tidak! Apakah umat Kristen menghindari makan daging babi? Tidak! Apakah mereka mengajarkan untuk tidak makan daging babi? Tidak!

Dengan contoh-contoh hukum Taurat tadi, jelas terlihat bahwa secara umum umat Kristen tidak melakukan dan tidak mengajarkan ketentuan dalam hukum Taurat. Bahkan kebanyakan mereka menyampaikan ini pada umatnya dan orang lain dengan rasa kebanggaan yang besar, seakan-akan yang demikian itu adalah suatu hal yang bernilai tinggi dalam keagamaan mereka. Padahal bila kita merujuk pada ayat-ayat yang saya sebutkan di atas tadi itu, – kalau mereka bisa masuk surga – jelas mereka akan menempati posisi yang paling rendah di dalam surga, karena mereka tidak melakukan dan tidak mengajarkan hukum Taurat! Inilah pemahaman yang bisa didapat dari ayat tersebut.

Dan juga sebaliknya, bagi yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat, akan mendapat tempat yang tinggi di surga. Siapakah mereka-mereka ini? yang pertama tentu saja umat Yesus sendiri saat beliau masih hidup, yang kalau mereka melakukannya dengan benar sesuai perintah Tuhan, insyaallah akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah. Kemudian siapa lagi? Masih ada lagikah umat lain yang juga melakukan dan mengajarkan hukum Taurat? Ya, ternyata masih ada umat lain yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat. Siapakah mereka?

Islam melestarikan hukum Taurat dan hukum kasih
Islam? Ya, Islam. Apakah umat Islam melakukan dan mengajarkan hukum Taurat? Benar, umat Islam ternyata memang juga melakukan dan mengajarkan hukum Taurat! Akan tetapi hukum Taurat yang diajarkan dalam Islam dari nabi Muhammad adalah versi yang telah disempurnakan karena telah digenapi oleh ajaran Kasih. Hal ini karena hukum Taurat ternyata tetap dilestarikan dalam Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad dalam “versi” yang baru, yang sudah dilengkapi dan digenapi dengan ajaran kasih.

Kita akan lihat dalam 3 contoh perintah hukum Taurat, yaitu: tidak memakan daging babi, melakukan sunat, dan kisas (qishosh). Penjelasannya akan kita bahas sebagai berikut:

Hukum mengharamkan babi
Hukum Taurat yang mengharamkan memakan babi tetap diajarkan dalam Qur’an, tetapi sudah “digenapi” dengan ajaran Kasih dengan dibolehkannya umat memakannya apabila dalam keadaan terpaksa, misalnya untuk bertahan hidup disaat tidak ada makanan lain yang dapat dimakan. Hal ini karena meskipun larangan makan babi tetap dilestarikan, tapi dalam ajaran kasih mempertahankan kehidupan lebih diutamakan. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Berikut ayat pengharaman babi di Alkitab/Bibel dan Al-Qur’an.

Alkitab bahasa Indonesia (Imamat 11:7-8 dan Ulangan 14:8):

11:7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.
11.8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
14:8 Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.

Catatan:
Ayat yang saya kutip di atas adalah dari Alkitab terjemahan 1979 yang sudah diubah(?), sedangkan pada Alkitab terjemahan 1968 masih sesuai teks aslinya dengan menggunakan kata “babi”, bukan “babi hutan”. Dan penggunaan kata “babi” memang lebih sesuai karena dalam Alkitab bahasa Inggris digunakan kata “swine” yang berarti babi, dan bukan “wild boar” yang berarti babi hutan.

Bible bahasa Inggris (Leviticus 11:7-8 dan Deuteronomy 14:8):

11:7 And the swine, because it divides the hoof and is cloven-footed but does not chew the cud; it is unclean to you.
11:8 Of their flesh you shall not eat, and their carcasses you shall not touch; they are unclean to you.
14:8 And the swine, because it parts the hoof but does not chew the cud; it is unclean to you. You shall not eat of their flesh or touch their dead bodies.

Alkitab bahasa Indonesia sehari-hari (Imamat 11:7 dan Ulangan 14:8):

11:7 Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak.
11:8 Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.
14:8 Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan, bangkainya tak boleh disentuh.

Al-Qur’an Surat Al-Maidah (5) ayat 3:
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. ….. ….. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah ayat 3)

Hukum Sunat
Hukum Taurat yang memerintahkan untuk bersunat tetap diajarkan dalam Islam. Hanya saja kalau pada hukum Taurat sunat adalah suatu hal yang mutlak wajib untuk dilakukan dengan ketentuan yang ada, dan dengan ancaman yang keras bagi yang tidak melakukannya, maka sunat/khitan dalam Islam adalah versi hukum Taurat yang sudah digenapi dengan ajaran Kasih.

Dalam Islam bersunat sudah menjadi tradisi meskipun masih terjadi perbedaan pendapat tentang masalah wajib atau sunnah-nya hukum sunat ini. Kalau diambil jalan tengahnya, maka sunat/khitan hukumnya bisa dibilang adalah sunnah muakad, yaitu sunah yang sangat kuat dianjurkannya.

Hukum sunat dalam Islam yang sudah digenapi dengan ajaran kasih ini dapat dilakukan kapan saja, tidak harus pada saat masih bayi berusia 8 hari seperti ketentuan dalam hukum Taurat. Kebanyakan umat Islam melakukannya saat menginjak akhil balik. Islam juga membolehkan umat untuk tidak bersunat apabila terdapat alasan-alasan tertentu, misalnya: apabila ada seorang yang masuk Islam setelah dewasa dan takut untuk bersunat, maka dia boleh tidak bersunat, apalagi kalau dikhawatirkan malah membahayakan kesehatannya dalam kondisi-kondisi tertentu. Karena hal ini adalah juga seperti wudlu dan mandi yang kewajibannya bisa gugur kalau ditakutkan membahayakan jiwa (Ibnu Kudamah).

Juga tidak ada ancaman yang keras jika tidak melakukannya seperti yang terdapat di hukum Taurat. Hal ini karena meskipun hukum sunat tetap dilestarikan, tetapi dalam ajaran kasih mempertahankan kesehatan dan kehidupan lebih diutamakan, karena pada hakikatnya perintah sunat itu bertujuan untuk membersihkan dan menjauhkan diri dari penyakit.

Berikut ayat-ayat tentang hukum sunat di Alkitab Perjanjian Lama (Kejadian 17:10-14):
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
17:12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
17:13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

Dari ayat-ayat di atas ada 5 point yang bisa kita dapatkan:

1. Setiap laki-laki harus disunat
2. Yang dimaksud dengan sunat adalah mengerat/memotong kulit khatan
3. Anak laki-laki berumur 8 hari harus disunat
4. Hukum sunat adalah perjanjian yang kekal (berlaku selamanya)
5. Orang yang tidak bersunat harus dilenyapkan (dibunuh?) karena telah mengingkari perjanjian.

Yesus disunat (Lukas 2:21)
2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Yesus pun juga disunat ketika berumur 8 hari, mengikuti perintah dari hukum Taurat yang berlaku. Bagaimana mungkin ia sendiri akan membatalkannya?

Hukum Kisas (Qishash)
Hukum Taurat yang memerintahkan hukum kisas (qisos), yaitu pembalasan yang setimpal, mata ganti mata, tangan ganti tangan, nyawa ganti nyawa, tetap disebutkan dalam Qur’an, tetapi dalam versi yang juga sudah digenapi oleh ajaran kasih, yang mana meskipun sang ahli waris berhak menuntut pembalasan setimpal itu, akan tetapi ia dianjurkan untuk mengutamakan tidak melakukannya dan mengampuni si pelaku. Sekali lagi, hal ini adalah karena meskipun hukum Qisos ini tetap dilestarikan dalam Qur’an, tetapi dalam ajaran kasih harus diutamakan untuk berbuat baik dan memaafkan orang lain. Berikut ayat-ayat Bibel tentang kisas menurut hukum Taurat dan ajaran kasih Yesus:

Keluaran 21: 23-25

21:23 Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa,
21:24 mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki,
21:25 lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.

Matius 5: 38-39

5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Dalam Al-Qur’an pun hukum kisas tetap dilestarikan, hanya saja sudah disempurnakan dengan ajaran Kasih, bahwa memberi maaf adalah lebih mulia dan diutamakan. Juga bagi yang melepaskan hak kisasnya, maka itu akan menjadi penebus dosa baginya.

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qishash atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat ma’af dari saudaranya, hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik.” (Al Baqarah:178)

“Dan Kami tetapkan atas mereka di dalamnya (Taurat) bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka pun ada Qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan hak Qisas, maka melepaskan hak itu jadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al Maa-idah:45)

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik (Al-Mu’minim ayat 96)

QS. Asy-syura 40-43:

40. Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
41. Dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.
42. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.
43. Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan.

Dari 3 contoh perintah dalam hukum Taurat yang tetap dilestarikan dalam Islam melalui Qur’an dan hadits tsb, kita bisa melihat bahwa tidak ada perbedaan dalam ajaran Yesus dan ajaran nabi Muhammad. Bahwa seharusnya yang dimaksud Yesus bahwa beliau menggenapi hukum Taurat itu tidak berarti menghilangkannya, tetapi melengkapi dan menyempurnakannya dengan memasukan unsur ajaran kasih dalam perintah-perintah hukum Taurat sebelumnya yang keras dan kaku. Dan hal itu juga lah yang diajarkan oleh nabi Muhammad, dimana beliau tetap mengajarkan untuk tetap melakukan dan mengajarkan hukum Taurat, tetapi dalam versi yang sudah disempurnakan dengan menggenapinya dengan ajaran Kasih.

Kesimpulan
Pemahaman umat Kristen secara umum bahwa kedatangan Yesus telah menghapuskan hukum Taurat dan menggantinya dengan hukum Kasih, sehingga hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi dan harus ditinggalkan, adalah salah. Bila kita mengacu pada ajaran dasar umat Kristen, yaitu Alkitab/Bibel, dengan jelas tertulis di sana bahwa Yesus sendiri telah mengajarkan bahwa kedatangannya tidaklah untuk menghapuskan hukum Taurat, dan bahwa beliau hanya menggenapinya.

Menggenapi hukum Taurat yang dimaksudkan Yesus seperti tertulis di ayat tersebut jelas menyatakan bahwa syarat penggenapan yang dilakukannya adalah tidak dengan menghapuskan hukum Taurat. Jadi hukum Taurat dinyatakan olah Yesus masih tetap berlaku bahkan sampai hari Kiamat nanti, artinya sepanjang masa. Tetapi hukum Taurat yang tetap berlaku sepanjang masa itu adalah yang sudah digenapi oleh Yesus dengan memasukkan hukum kasih di dalamnya.

Nabi Muhammad pun ternyata memang datang tidak untuk menghapuskan hukum Taurat dan hukum kasih dari Yesus, tetapi beliau datang membawa Al-Qur’an dan hadits-haditsnya yang didalamnya tetap melestarikan ajaran Musa dan Yesus, dengan tetap melakukan dan mengajarkan hukum Taurat yang telah disempurnakan, yaitu hukum Taurat yang telah digenapi dengan ajaran Kasih.

Dan pemahaman yang benar terhadap pernyataan Yesus di Perjanjian Baru pada Matius 5 ayat 19 adalah bahwa siapa yang tidak melakukan dan tidak mengajarkan hukum Taurat, bila ia masuk surga, maka tempatnya adalah yang paling rendah. Tapi bagi siapa yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat maka tempatnya akan tinggi di surga.

Musa, Yesus, dan Muhammad, tiga nabi Allah yang mulia, mereka semua mengajarkan ajaran yang sama. Mereka melakukan dan mengajarkan hukum Taurat. Hanya saja versi yang diajarkan belakangan adalah yang lebih disempurnakan, karena telah digenapi dengan memasukkan ajaran kasih di dalamnya.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda pengikut Yesus? Yesus melakukan dan mengajarkan hukum Taurat dengan kasih. Apakah anda melakukan dan mengajarkannya? Buat anda yang mengaku sebagai pengikut Yesus, sudah seharusnya anda melakukan dan mengajarkan seperti apa yang telah diwariskannya. Bila anda ingin mendapat tempat yang tinggi dalam surga, maka ikutilah orang-orang yang menjadi pengikut mereka, orang-orang yang mengikuti dan mengajarkan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus dan nabi Muhammad.


[sumber: RKH | religiku]

Friday, July 5, 2013

Kehadiran Si Penghibur Dan Penggenapan Hukum Taurat Friday, July 5, 2013


BEGINILAH AKHIRNYA PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

Ketika pertama kali Yesus berkhotbah si atas bukit, yang diucapkan terlebih dahulu adalah misinya untuk menggenapi Hukum Taurat yang terekam dalam Matius 5:1 hingga Matius 7:29

[Matius 5:17] “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

[Matius 5:18] Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

[Matius 5:19] Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

[Matius 5:20] Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Semua yang dilakukan Yesus belum final alias belum tergenapi seluruhnya. MASIH BANYAK HAL YANG BELUM DIGENAPINYA karena umat Yahudi saat itu belum dapat menanggung ajarannya, hingga datangnya yang disebut sebagai ROH KEBENARAN

[Yohanes 16:12] Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

[Yohanes 16:13] Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan MEMIMPIN kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan BERKATA KATA dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang DIDENGARNYA itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan MEMBERITAKAN kepadamu hal-hal yang akan datang.

ROH KEBENARAN belum datang pada masa Yesus. Maka ROH KEBENARAN bukanlah ROH KUDUS sebab Roh Kudus sudah datang bahkan sebelum Yesus lahir.

Deskrispsi ROH KEBENARAN yang diterangkan oleh Yesus adalah:

  1. Memimpin umat
  2. Berkata kata tidak dari dirinya sendiri
  3. Mendengar yang dikatakan
  4. Memberitakan kepada umat

Gambaran tsb jelas menunjukkan bahwa roh kebenaran yang dimaksud adalah sosok seorang NABI, bukan Roh dalam artian 'lelembut' yang tidak terlihat oleh kasat mata.


[1Yohanes 4:1] Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.

Karena Hukum Taurat belum tergenapi seluruhnya oleh Yesus, maka yang akan menggenapi adalah ROH KEBENARAN [NABI] yang akan datang sesudah Yesus.

Bukanlah suatu kebetulan jika kemudian ternyata ada seorang bernama Muhammad yang digelari oleh umat sebagai AL AMIN yang berarti YANG JUJUR [YANG BENAR] kemudian menjadi nabi di usia 40 tahun dan terbukti sebagai:

  1. Memimpin umat 
  2. Berkata kata tidak dari dirinya sendiri tetapi dari wahyu yang didengarnya 
  3. Mendengar wahyu yang dikatakan 
  4. Memberitakan wahyu kepada umat dan membukukannya sebuah kitab Al Qur’an yang hanya berisi Firman Firman Tuhan tanpa ada satupun perkataannnya 
  5. Mengakomodir seluruh Hukum Taurat dan menjadikannya sebagai bagian dari hukum syariat 

Dan semangat untuk menegakkan Hukum Syariat ternyata berlanjut hingga detik ini dalam dada setiap muslim di seluruh dunia sebagai fitrahnya untuk ditegakkan di seluruh dunia.

Tak ada umat manapun yang begitu besar estafet semangat menegakkan Hukum Syariat selain umat Muslim, dari satu genereasi ke generasi berikutnya tanpa batasan tempat, tanpa batasan waktu, hingga lenyapnya langit dan bumi.

Monday, September 6, 2010

Al-Quran: Tahrif Kitab Taurat dan Injil Monday, September 6, 2010


Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيْقًا يَلْوُوْنَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوْهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُوْلُوْنَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ وَيَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya ada segolongan di antara mereka yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu mengira yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: ‘Ini (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 78) [lihat pembahasan tafsirnya disini]

يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ لاَ يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَارِعُوْنَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِيْنَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوْبُهُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا سَمَّاعُوْنَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُوْنَ لِقَوْمٍ آخَرِيْنَ لَمْ يَأْتُوْكَ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُوْلُوْنَ إِنْ أُوْتِيْتُمْ هَذَا فَخُذُوْهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Hai Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‘Kami telah beriman’, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: ‘Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.’ Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 41)

Kitab Taurat dan Injil Telah Berubah
Allah subhanahu wata’ala tidak memberikan jaminan penjagaan atas kalam-Nya yang termaktub dalam kitab Taurat dan Injil, sebagaimana jaminan penjagaan yang diberikan-Nya kepada Al-Qur-an:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikra (Al-Qur-an) dan sungguh Kamilah yang akan menjaganya.” 
(QS. Al-Hijr: 9)

Karena penjagaan ini maka Al-Qur`an selama-lamanya tidak akan dapat dipalsukan sampai kalamullah itu diangkat kembali dari lembaran dan dada-dada manusia (dari hapalan mereka) menjelang hari kiamat. Adapun kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil tidaklah selamat dari pemalsuan sehingga wajar bila kita katakan kitab-kitab yang dipegang ahlul kitab telah dipalsukan para rahib dan pendeta mereka dari aslinya. Ini berdasarkan pengabaran Allah subhanahu wata’ala sendiri melalui Al-Qur`an, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari atsar dan juga dari bukti-bukti sejarah serta pertentangan dan keganjilan-keganjilan yang ada di dalam Taurat dan Injil sendiri.

Di dalam Al-Qur`an, Allah subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa ahlul kitab telah mengubah-ubah kitab mereka yang tadinya merupakan kalamullah yang diturunkan dari atas langit, namun kemudian karena ulah para pendeta Yahudi dan Nasrani bercampurlah kalamullah tersebut dengan kalam manusia. Bahkan kalamullah itu sendiri mereka ubah dan dipindahkan dari tempatnya, sehingga kitab mereka tidak lagi murni sebagaimana diturunkan pada awalnya, tetapi tercampur dengan kepalsuan dan kedustaan, dan susah untuk dipisahkan mana yang haq dan mana yang batil. Allah subhanahu wata’alaberfirman:

فَوَيْلٌ لِلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُوْنَ
Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79) [1]

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Yang Allah maksudkan dengan firman-Nya ini adalah orang-orang Yahudi Bani Israil yang telah melakukan tahrif atas Kitabullah. Dan mereka menulis sebuah kitab berdasarkan penakwilan/penafsiran menyimpang yang mereka buat, menyelisihi dengan apa yang Allah subhanahu wata’ala turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Kemudian orang-orang Yahudi ini menjual kitab karangan mereka itu kepada suatu kaum yang tidak memiliki ilmu tentang penakwilan tersebut, tidak pula memiliki pengetahuan dengan apa yang terdapat dalam Taurat, dan kepada orang-orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang terdapat dalam kitabullah. Mereka, orang-orang Yahudi melakukan hal ini, karena ingin mendapatkan dunia yang rendah.” [Jami’ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur`an 1/422]

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
“Mereka (orang-orang Yahudi) mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. An-Nisa: 46)

Ayat di atas menunjukkan bahwa sifat orang-orang Yahudi itu suka mengganti dan mengubah-ubah makna Taurat dari tafsir yang sebenarnya. [Jami‘ul Bayan fi Ta`wil Ayil Qur`an 4/121]

Perubahan yang mereka lakukan itu bisa berupa lafadz atau maknanya, atau keduanya sekaligus. Mereka mengubah hakikat yang ada, menempatkan al-haq di atas al-batil, dan menentang al-haq itu. [Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 181]

Sejarah Perubahan Taurat
Dalam kitabnya Al-Fishal fil Milal wal Ahwa` wan Nihal, Ibnu Hazm rahimahullahmenyebutkan secara panjang lebar sejarah Bani Israil sejak wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalam untuk membuktikan bahwa kitab Taurat tidak lagi asli tetapi telah diubah-ubah. Disebutkan bahwa sepeninggal Nabi Musa ‘alaihissalam, Bani Israil dipimpin Yusya’ bin Nun selama 31 tahun dengan tetap istiqamah berpegang dengan agama. Kemudian mereka dipimpin Fainuhas ibnul ‘Azar bin Harun selama 25 tahun, juga masih istiqamah di atas agama. Setelah wafatnya Fainuhas, seluruh Bani Israil murtad dari agama mereka dan menyembah berhala secara terang-terangan. Dan sejak itu mereka dipimpin penguasa-penguasa kafir, meski terkadang diselingi kepemimpinan penguasa yang beriman. Namun tetap lebih dominan dikuasai penguasa kafir dan yang berkubang dalam kekafiran dan penyembahan terhadap berhala. [Al-Fishal fil Milal wal Ahwa` wan Nihal, 1/ 213-215]

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Rahmatullah bin Khalilur Rahman Al-Kairanawi Al-Hindirahimahullah menyebutkan beberapa bukti bahwa kitab Taurat dan Injil yang ada sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Di antaranya, beliau menyebutkan fakta sejarah berkenaan dengan Taurat bahwasanya Taurat yang ada sekarang terputus sanadnya sebelum zaman raja Yusya’ bin Amun yang berkuasa pada tahun 638 SM. Sedangkan nuskhah (manuskrip) bertuliskan Taurat yang didapatkan setelah 18 tahun ia berkuasa, tidak bisa dijadikan sandaran. Karena nuskhah itu dibuat-buat oleh Al-Kahin Hilqiyya. Selain tidak bisa dijadikan sandaran, secara umum nuskhah itu hilang sebelum Bukhtanashar menaklukkan negeri Palestina pada tahun 587 SM. Seandainya kita anggap nuskhah itu tidak hilang, maka ketika Bukhtanashar menguasai Palestina niscaya ia akan memusnahkan Taurat dan seluruh kitab Perjanjian Lama sehingga tidak tersisa bekasnya. Orang-orang Yahudi berdalih bahwa Uzara telah menulis sebagian lembaran-lembaran Taurat di Babil, namun yang ditulisnya ini pun hilang ketika Anthaikhus IV menaklukkan negeri Palestina.

Ketika Suraya berkuasa antara tahun 175-163 SM, ia berencana memusnahkan agama Yahudi dan mewarnai Palestina dengan ajaran Hailainiyyah (Helenisme Yunani). Ia pun menjual jabatan-jabatan pendeta Yahudi, membunuh sejumlah 40 hingga 80 juta pendeta Yahudi, merampas barang-barang yang ada di seluruh tempat ibadah Yahudi, bertaqarrub kepada sesembahannya dengan menyembelih babi dan menyalakan api di atas tempat penyembelihan orang Yahudi, serta memerintahkan 20 ribu tentara untuk mengepung Al-Quds yang akhirnya menyerbu Al-Quds pada hari Sabtu ketika orang-orang Yahudi berkumpul untuk mengerjakan shalat. Mereka merampas Al-Quds, meruntuhkan rumah dan pagar-pagar, menyalakan api di dalamnya serta membunuh semua orang yang ada di dalamnya sampaipun para wanita dan anak-anak. Tidak ada yang selamat pada hari itu kecuali orang yang lari ke gunung-gunung atau bersembunyi dalam gua-gua.” [Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hal. 20-21]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Sejak Bani Israil masuk ke tanah yang disucikan (Palestina) sepeninggal Musa ‘alaihissalam sampai masa pemerintahan raja mereka Syawul, sebanyak tujuh kali mereka meninggalkan keimanan dan terang-terangan menyembah berhala.” Beliau rahimahullah juga berkata: “Perhatikanlah, kitab apa yang masih tertinggal bersama dengan kekufuran yang terus menerus dan menolak keimanan selama masa yang panjang (lebih dari 114 tahun-red) di sebuah negeri yang kecil. Sementara tidak ada seorang pun di muka bumi ketika itu yang berada di atas agama mereka dan mengikuti kitab mereka selain mereka sendiri.” [Al-Fishal 1/215]

Contoh Penyimpangan Taurat dan Injil
Ibnul Qayyim melanjutkan: “Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi di dalamnya terdapat tambahan, perubahan/ penyimpangan dan pengurangan yang kentara bagi orang-orang yang mendalam ilmunya. Dan mereka (ahlul ilmi) yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Taurat yang Allah turunkan kepada Musa ‘alaihissalam. Demikian pula Injil yang berada di tangan orang-orang Nasrani. Di dalamnya terdapat tambahan, perubahan/ penyimpangan dan pengurangan yang tidak bisa disembunyikan dari orang-orang yang ilmunya dalam. Dan mereka yakin secara pasti bahwa hal itu tidak terdapat dalam Injil yang Allah subhanahu wata’ala turunkan kepada Al-Masih `Isa‘alaihissalam.” [Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara, hal. 101]

Demikian pula keberadaan Injil yang dipegangi orang-orang Nasrani. Jauh ditulis setelah diangkatnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, baik itu Injil yang konon katanya ditulis oleh Yohanes yang kemudian disebut Injil Yohanes, Injil Markus, Injil Lukas maupun Injil Matius. Cukuplah keberadaan empat Injil ini yang masing-masing isinya terdapat pertentangan, sebagai bukti ketidakotentikan Injil tersebut. Dan Injil-Injil itu bukanlah Injil yang pernah diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Berikut ini kami sebutkan beberapa contoh kedustaan yang terdapat dalam Taurat.

Menyekutukan Allah dengan Adam
Di dalam Taurat dihikayatkan bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Ini Adam, ia telah menjadi seperti salah satu dari Kami dalam mengetahui kebaikan dan kejelekan….” Ibnu Hazm menyatakan dengan ucapan ini menunjukkan mereka meyakini ilaah atau sesembahan itu lebih dari satu dan Adam termasuk ilaah tersebut. [Al-Fishal 1/146]

Mengatakan Allah mempunyai Anak
Disebutkan pula dalam Taurat: “Ketika manusia telah banyak memenuhi muka bumi dan lahir putri-putri Adam. Maka saat putra-putra Allah melihat putri-putri Adam yang cantik-cantik, putra-putra Allah pun memperistri sebagian dari mereka.” Ibnu Hazm membantah kedustaan mereka ini dengan menyatakan bahwa ucapan tersebut adalah kedunguan dan kedustaan yang besar, di mana Allah dijadikan memiliki anak laki-laki yang menikahi putri-putri Adam, yang berarti Allah dan Adam berbesanan. Maha Suci Allah dari kedustaan ini. [Al-Fishal 1/147]

Menghina Para Nabi
Selain itu di dalam Taurat yang mereka pegangi disebutkan bahwa Nabi Luth‘alaihissalam digauli dua putrinya secara bergantian setelah beliau yang telah renta dibuat mabuk dengan diminumi khamr. Sehingga kedua putrinya hamil dari hasil hubungan dengan ayahnya. Na’udzubillah dari tuduhan keji mereka yang membuat gemetar kulit orang-orang yang beriman yang mengetahui hak-hak para nabi. [Al-Fishal 1/161]

Terdapat banyak versi Taurat dan Injil yang saling bertentangan
Ibnul Qayyim rahimahullah mendustakan ucapan orang-orang Yahudi bahwa lembaran-lembaran yang bertuliskan Taurat saling mencocoki baik yang ada di belahan bumi timur maupun barat. Ibnul Qayyim berkata: “Ini adalah kedustaan yang nyata, karena Taurat yang berada di tangan orang-orang Nasrani menyelisihi/ berbeda dengan Taurat yang berada di tangan orang-orang Yahudi, dan juga Taurat yang ada di tangan Samiri berbeda pula dengan keduanya. Demikian pula Injil, sebagiannya berbeda dengan yang lain dan saling bertentangan.”

Mengubah Ciri-Ciri Rasulullah dalam Taurat
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menyebutkan bahwa pendeta-pendeta Yahudi itu khawatir kehilangan sumber penghidupan dan kepemimpinan mereka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah. Mereka lalu melakukan tipu daya untuk menyimpangkan orang-orang Yahudi dari beriman kepada Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka telah memahami sifat/ ciri-ciri beliaushallallahu ‘alaihi wasallam yang tersebut dalam Taurat, di mana disebutkan bahwa beliau memiliki wajah dan rambut yang bagus, kedua matanya seperti bercelak, perawakannya sedang tidak terlalu tinggi tidak pula pendek. Mereka lalu kemudian mengubah sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan sifat tinggi, miring matanya, dan keriting rambutnya. Bila orang-orang bodoh yang tidak mengerti Taurat bertanya tentang sifat/ ciri-ciri nabi yang terakhir kepada para pendeta ini, mereka pun membacakan apa yang telah mereka tulis, sehingga orang-orang bodoh tersebut menjumpai sifat/ ciri-ciri nabi yang akhir itu berbeda dengan sifat/ ciri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akibatnya mereka pun mendustakannya. [Ma’alimut Tanzil, 1/54-55]

Masih terdapat Ayat-Ayat Allah yang Asli dan Taurat dan Injil
Namun adanya perubahan tersebut bukan berarti bahwa semua yang terdapat dalam kitab Taurat ataukah Injil telah mengalami perubahan secara keseluruhan. Bahkan di dalam keduanya itu masih banyak terdapat ayat-ayat yang merupakan teks asli dari kitab Allah subhanahu wata’ala, yang jika seseorang Nasrani atau Yahudi mengimani ayat-ayat tersebut dengan keimanan yang sebenar-benarnya, niscaya mereka akan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa wahyu Al-Qur`an Al-Karim. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau berkata:

“Demikian pula dikatakan: jika lafadz-lafadz khabar diubah sedikit, tidaklah mencegah bahwa kebanyakan lafadznya tidak terjadi perubahan. Apalagi jika di dalam Al-Kitab itu sendiri ada yang menunjukkan sesuatu yang telah diubah itu. Dan dikatakan pula bahwa apa-apa yang telah diubah dari lafadz-lafadz Taurat dan Injil, maka dalam Taurat dan Injil itu sendiri ada yang menjelaskan sesuatu yang telah berubah tersebut.”

Lalu beliau melanjutkan penjelasannya:

“Sesungguhnya, perubahan yang ada hanya sedikit dan kebanyakannya tidak berubah. Dan pada yang tidak berubah terdapat lafadz-lafadz yang jelas dan sangat nampak maksudnya yang menjelaskan kesalahan yang menyelisihinya, dan memiliki penguat-penguat yang banyak yang membenarkan sebagian terhadap sebagian yang lainnya. Berbeda dengan sesuatu yang telah berubah, sesungguhnya lafadznya sedikit dan nash-nash Al-Kitab membantahnya. Sehingga (Al-Kitab) ini berkedudukan seperti kitab-kitab hadits yang dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana terdapat beberapa hadits yang lemah di dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, atau selainnya. Maka dalam hadits-hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada yang menjelaskan lemahnya riwayat tersebut.

Bahkan di dalam Shahih Muslim terdapat sedikit lafadz yang keliru, yang mana hadits-hadits yang shahih bersama Al-Qur`an ada yang menjelaskan kekeliruan tersebut. Seperti apa yang diriwayatkan bahwa Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menjadikan penciptaan makhluk dalam tempo tujuh hari, di mana hadits ini telah dijelaskan para imam ahli hadits seperti Yahya bin Ma’in, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Bukhari dan selainnya bahwa hadits ini keliru, dan bahwa itu bukan dari perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Al-Bukhari menjelaskan dalam Tarikh Kabir bahwa ini adalah perkataan Ka’b Al-Ahbar, sebagaimana telah dirinci pada pembahasannya. Dan Al-Qur`an juga menunjukkan kesalahan ini dan menjelaskan bahwa penciptaan terjadi selama enam hari. Dan telah terdapat dalam hadits shahih bahwa akhir penciptaan pada hari Jum’at, maka awal penciptaan terjadi pada hari Ahad.

Demikian pula yang diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat kusuf (gerhana) dengan dua atau tiga ruku’, maka sesungguhnya yang tsabit dan mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam dua kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dan selainnya dari hadits ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Amr, dan yang lainnya bahwa beliau shalat pada satu rakaat dengan dua ruku’. Oleh karenanya Al-Imam Al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits lain kecuali hadits ini.”

Lalu beliau berkata lagi:

“Demikian pula jika terjadi perubahan pada sebagian lafadz kitab-kitab terdahulu, maka dalam kitab itu sendiri ada yang menjelaskan kekeliruannya. Dan telah kami jelaskan bahwa kaum muslimin tidaklah mengklaim bahwa seluruh salinan (Al-Kitab) yang ada di dunia dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan setiap bahasa dari Taurat, Injil, dan Zabur telah diubah lafadz-lafadznya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang mengucapkan demikian baik dari ulama salaf, meskipun dari kalangan mutaakhirin (orang belakangan) bisa jadi ada yang mengatakannya. Sebagaimana di kalangan umat belakangan ada yang membolehkan ber-istinja (bersuci) dengan setiap salinan Taurat dan Injil yang ada di dunia. Maka ucapan ini dan yang semisalnya bukanlah ucapan pendahulu dan para imam umat ini.” [Daqa`iq At-Tafsir, 2/57-59. Lihat pula Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Dinal Masih, 2/442-444]

Sikap Seorang Muslim terhadap Berita-berita Ahlul Kitab
Berita-berita yang datang dari ahlul kitab, Yahudi ataupun Nasrani, yang tidak ada keterangannya dalam syariat kita, tidak boleh kita pastikan kebenarannya kemudian kita benarkan. Atau memastikan kedustaannya kemudian kita pun mendustakannya. Karena berita itu bisa jadi benar atau haq dan bisa jadi dusta atau batil. Jika kita benarkan dikhawatirkan itu adalah batil dan bila kita dustakan khawatirnya itu adalah haq. Sehingga dua keadaan ini bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa. Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:

كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَؤُوْنَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُوْنَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لأَهْلِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ ، وَقُوْلُوْا : {آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا } الآية (البقرة )
Adalah ahlul kitab mereka membaca Taurat dalam bahasa Ibrani dan mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian membenarkan ahlul kitab dan jangan pula mendustakannya, dan katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami….” [HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4485]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: لاَ تُصَدِّقُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوْهُمْ (Janganlah kalian membenarkan ahlul kitab dan jangan pula mendustakannya): “Yakni apabila berita yang mereka kabarkan itu masih mengandung ihtimal (kemungkinan benar dan kemungkinan salah). Sehingga jangan sampai perkaranya benar namun kalian mendustakannya atau perkaranya dusta namun kalian membenarkannya, dan kalian pun terjatuh dalam dosa. Dan tidak ada larangan mendustakan mereka dalam perkara yang memang syariat kita menyelisihinya dan tidak pula ada larangan untuk membenarkan mereka dalam perkara yang disepakati syariat kita, demikian penjelasan Al-Imam Asy-Syafi`i.” [Fathul Bari 8/214]

Asy-Syaikh Rahmatullah Al-Hindi berkata: “Kitab samawi (yang diturunkan dari langit) yang wajib kita terima adalah kitab yang ditulis dengan perantara salah seorang nabi, dan sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung tanpa ada perubahan dan penggantian. Adapun kitab yang disandarkan kepada seseorang yang memiliki ilham dengan semata-mata persangkaan dan dugaan, tidaklah cukup untuk menetapkan bahwa kitab tersebut merupakan karya orang itu, sekalipun misalnya ada satu atau beberapa kelompok mengaku-aku penyandaran tersebut. Tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama yang disandarkan kepada Musa, Uzra, Isy’aya`, Irmiya dan Sulaiman, tidaklah tsabit (benar) dengan satu dalil pun yang menunjukkan keshahihan penyandarannya kepada mereka, karena hilangnya sanad yang bersambung atas kitab-kitab tersebut. Dan juga tidakkah engkau lihat bahwa kitab-kitab dari Perjanjian Baru yang lebih dari 70 (buah) disandarkan kepada ‘Isa, Maryam, Hawariyyun dan pengikut mereka. Kelompok-kelompok Nasrani yang ada sekarang telah sepakat tentang ketidakshahihan penyandaran kitab-kitab tersebut kepada Isa dan lainnya. Bahkan kitab-kitab itu termasuk kedustaan yang dibuat-buat. Kemudian ada kitab yang wajib diterima menurut penganut Katholik, namun wajib ditolak menurut orang-orang Yahudi dan penganut Protestan….” [Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hal.19]

Dengan demikian semakin pastilah dari fakta-fakta yang ada bahwa kitab-kitab yang dipegangi Yahudi dan Nasrani bukanlah Taurat dan Injil yang disebutkan dalam Al-Qur`anul Karim, sehingga tidak wajib untuk kita terimanya. Namun kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tersebut ditempatkan sebagai berikut:

  1. Setiap riwayat yang terdapat di dalamnya bila dibenarkan oleh Al-Qur`anul Karim maka riwayat tersebut diterima dengan yakin, kita benarkan tanpa rasa berat.
  2. Namun bila didustakan Al-Qur`an maka kita tolak dengan yakin, kita dustakan tanpa keberatan.
  3. Bila Al-Qur`an mendiamkannya, tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan maka kita pun mendiamkannya, yakni kita tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan.

Al-Qur`anul Karim adalah penjaga bagi kitab-kitab sebelumnya, yakni Al-Qur`an menampakkan al-haq yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya dan mendukungnya, serta menampakkan kebatilan yang ada di dalam kitab-kitab tersebut dan menolaknya.

Bantahan ulama Islam atas Taurat dan Injil serta menampakkan kedustaan serta perubahan yang ada di dalamnya, tidaklah ditujukan kepada Taurat dan Injil yang diturunkan Allah kepada Musa dan ‘Isa ‘alaihimussalam. Namun yang mereka bantah adalah kisah dan riwayat-riwayat yang dikumpulkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepanjang beberapa kurun, di mana orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan bahwa itu adalah wahyu dan ilham. Sungguh Taurat yang Allah turunkan kepada Musa hanya satu dan Injil yang Allah turunkan kepada ‘Isa hanya satu pula. Lalu bagaimana bisa didapatkan sekarang ini ada tiga Taurat yang berbeda dan ada empat Injil yang juga berbeda?” (Mukhtashar Kitab Izh-harul Haq, hal. 35-37)

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Membaca Buku-buku Ahlul Kitab
Rasulullah melarang Umar membaca Taurat

Shahabat yang mulia bernama Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menuturkan:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أهل الْكُتُبِ. فَقَرَأَهُ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا، يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي
“Umar ibnul Khaththab radhiyallhu ‘anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa sebuah kitab yang diperolehnya dari sebagian ahlul kitab. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun membacanya lalu beliau marah seraya bersabda: “Apakah engkau termasuk orang yang bingung [2], wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahlul kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa‘alaihissalam masih hidup niscaya tidaklah melapangkannya kecuali dengan mengikuti aku.” [HR. Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya 3/387 dan Ad-Darimi dalam muqaddimah kitab Sunan-nya no. 436. Demikian pula Ibnu Abi ‘Ashim Asy-Syaibani dalam kitabnya As-Sunnah no. 50. Hadits ini dihasankan oleh imam ahlul hadits di jaman ini Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani v dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As-Sunnah dan Irwa`ul Ghalil no. 1589.]

Dalam riwayat Ad-Darimi hadits di atas datang dengan lafadz:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَتَى رَسُوْلَ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِِنُسْخَةٍ مِنَ التَّوْرَاةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ هذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَّوْرَاةِ. فَسَكَتَ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَوَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَغَيَّرُ. فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ ، مَا تَرى مَا بِوَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ غَضَبِ اللهِ وَغَضَبِ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَضِيْنَا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِحُمَّدٍ نَبِيًّا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَالَكُم مُوْسَى فَاتَّبَعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِي، لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ، وَلَو كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لاَتَّبَعَنِيْ
‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa salinan dari kitab Taurat. Ia berkata: “Ya Rasulullah, ini salinan dari kitab Taurat.” Rasulullah n diam, lalu mulailah ‘Umar membacanya dalam keadaan wajah beliau n berubah. Melihat hal itu Abu Bakar berkata kepada ‘Umar: “Betapa ibumu kehilangan kamu [3], tidakkah engkau melihat perubahan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Umar melihat wajah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam (dan ia menangkap perubahan tersebut), maka ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan RasulNya. Kami ridha Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam muncul kepada kalian kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus. Seandainya Musa masih hidup dan ia menemui masa kenabianku, niscaya ia akan mengikutiku.”

Karena bercampurnya al-haq dengan al-batil inilah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari perbuatan Umar radhiyallhu ‘anhu yang memegang Taurat. Di samping itu, apa yang datang dalam syariat agama yang dibawa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam sudah sangat memadai sehingga umat beliau tidak lagi membutuhkan syariat agama lain atau syariat umat terdahulu. Umat ini tidak lagi butuh nabi dan rasul lain setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah mereka. Kalaupun para nabi dan rasul terdahulu, sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, masih hidup dan menemui masa kenabian beliau, niscaya para nabi dan rasul tersebut akan mengikuti beliau dan tunduk pada syariat yang beliau bawa.

Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membaca Kitab Terdahulu.
  • Diriwayatkan bahwa Ka‘b Al-Ahbar pernah datang menemui Umar ibnul Khaththab radhiyallhu ‘anhu, yang ketika itu menjabat sebagai Amirul Mukminin, dengan membawa sebuah mushaf, ia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, dalam mushaf ini tertulis Taurat, apakah aku boleh membacanya?” Umar menjawab: “Jika memang engkau yakin itu adalah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam pada hari Thursina maka silahkan membacanya. Dan jika tidak, maka jangan membacanya.” (Syarhus Sunnah 1/271)
  • Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

    كَيْفَ تَسْأَلُوْنَ أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْدَثُ، تَقْرَؤُوْنَهُ مَحْضًا لَمْ يُشَبْ، وَقَدْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوْا كِتَابَ اللهِ وَغَيَّرُوْهُ، وَكَتَبُوْا بِأَيْدِيْهِمُ الْكِتَابَ وَقَالُوْا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ لِيَشْتَرُوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً، لاَ يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ مَسْأَلَتِهِمْ، لاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ
    "Bagaimana kalian bertanya kepada ahlul kitab tentang sesuatu sementara kitab kalian yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kitab paling akhir (turunnya dari sisi Allah). Kalian membacanya dalam keadaan murni tidak bercampur (dengan kepalsuan). Allah telah menyampaikan (keterangan) kepada kalian bahwa ahlul kitab itu telah mengganti dan mengubah-ubah kitabullah. Mereka menulis kitab itu dengan tangan-tangan mereka (mereka karang sendiri) kemudian mereka mengatakan: “Ini (apa yang mereka tulis itu) diturunkan dari sisi Allah.” Mereka lakukan perbuatan itu untuk memperoleh keuntungan yang sedikit. Tidakkah ilmu yang datang kepada kalian mencegah kalian dari bertanya kepada mereka? Tidak, demi Allah! Kami tidak melihat seorang pun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian." [HR. Al-Bukhari no. 7363, kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah, bab Qaulin Nabi shallallahu ‘alahi wasallam: La Tas`alu Ahlal Kitab ‘an Syai`in]

    Dari ucapan beliau radhiyallhu ‘anhu: لاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلاً يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ , seakan-akan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma hendak menyatakan: “Mereka ahlul kitab tidak pernah menanyakan tentang sesuatu pun kepada kalian, sementara mereka tahu kitab kalian tidak ada tahrif (penyimpangan/perubahan) di dalamnya. Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka sedangkan kalian benar-benar mengetahui bahwa kitab mereka telah diubah dari aslinya?” [Fathul Bari 13/621].
    • Abdurrazzaq Ash-Shan’ani radhiyallhu ‘anhu meriwayatkan dalam Mushannafnya (no. 19212) dari jalan Huraits bin Zhuhair, ia berkata: “Abdullah (yakni Ibnu Mas‘ud) berkata rahimahullah:

    لاَ تَسْأَلُوْا أَهْلَ الْكِتَابِ عَنْ شَيْءٍ، فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوْكُمْ وَقَدْ أَضَلُّوا أَنْفُسَهُمْ، فَتُكَذِّبُوْنَ بِحَقٍّ أَوْ تُصَدِّقُوْنَ بِبَاطِلٍ
    “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepada ahlul kitab karena sesungguhnya mereka tidak akan memberikan petunjuk/ hidayah kepada kalian. Mereka sendiri telah menyesatkan diri mereka. (Bila kalian bertanya kepada mereka kemudian mereka memberitakan apa yang kalian tanyakan, dikhawatirkan) kalian akan mendustakan yang haq atau membenarkan yang batil.” [Al-Hafizh Ibnu Hajar menghasankan sanadnya dalam FathulBari 13/408]

    Bila ada yang menyatakan bahwa larangan bertanya kepada ahlul kitab ini seakan bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:

    فَاسْأَلِ الَّذِيْنَ يَقْرَؤُوْنَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ
    “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Al-Kitab sebelummu.” (QS. Yunus: 94)

    Maka dijawab bahwa ayat ini tidaklah bertentangan dengan larangan yang tersebut dalam hadits. Karena yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah bertanya kepada ahlul kitab yang telah beriman, sementara larangan yang tersebut dalam hadits hanyalah ditujukan bila bertanya kepada ahlul kitab yang belum beriman. [Fathul Bari 13/408]

    Ayat Allah pada Kitab Taurat dan Injil yang Asli menunjukkan Kebenaran Islam

    Apa yang disebutkan Syaikhul Islam ini dibuktikan kebenarannya oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah. Al-Qur`an Al-Karim dalam banyak tempat banyak menjadikan isi Taurat dan Injil sebagai hujjah atas ahli kitab untuk membenarkan apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Silahkan baca surah Al-Ma`idah, mulai dari ayat 46-50. Demikian pula firman Allah subhanahu wata’ala:

    كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلاًّ لِبَنِي إِسْرَائِيْلَ إِلاَّ مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيْلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوْهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
    “Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar’.” (QS. Ali Imran: 93)

    Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin ‘Umar bahwa beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa seorang lelaki dari mereka dan seorang wanita yang keduanya telah berbuat zina. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambertanya kepada mereka:

    “Apa yang kalian lakukan terhadap orang yang berzina di antara kalian?” Mereka menjawab: “Kami melumuri wajahnya dengan arang (ada pula yang menafsirkannya: kami menyiramnya dengan air panas. Dalam riwayat lain: Kami mempermalukan mereka dan mereka dicambuk -red) dan memukulnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apakah kalian tidak menemukan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menjawab: “Kami tidak mendapati sedikitpun (tentang rajam).” Abdullah bin Sallam berkata kepada mereka: “Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat jika kalian jujur.” Salah seorang guru mereka yang mengajari mereka meletakkan telapak tangannya di atas ayat rajam (dengan maksud menutupinya, red.). Lalu diapun mulai membaca ayat yang sebelum dan sesudahnya, dan tidak membaca ayat rajam. (Abdullah bin Sallam) melepaskan tangannya dari ayat rajam dan bertanya: “(Ayat) apa ini?” Tatkala mereka melihat itu merekapun menjawab: “Itu ayat rajam.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar keduanya dirajam (Dalam riwayat lain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya aku menghukuminya berdasarkan apa yang terdapat dalam Taurat.”-red). Maka keduanya pun dirajam di dekat tempat jenazah yang ada di dekat masjid. Ibnu ‘Umar berkata: “Aku melihat (yang dirajam tersebut) berusaha menghindar, melindungi dirinya dari bebatuan (yang dilemparkan kepadanya hingga ia tewas).” [HR. Al-Bukhari, 8/4556 dan Muslim no. 1699]

    Bagi siapa yang melihat kitab Injil sekarang ini, masih sangat banyak ajaran-ajaran asli yang berasal dari ajaran Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, yang apabila mereka memahaminya dengan pemahaman yang jernih, niscaya akan membawa kepada keyakinan akan kebenaran Islam yang dibawa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.

    Di antaranya adalah apa yang disebutkan dalam Injil, kitab Ulangan 6:4:

    “Dengarlah hai orang Israil, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu satu.”

    Dan dalam kitab Yesaya 45:5-6:

    “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.”

    Demikian pula dalam Yohanes 17:3:

    “Inilah hidup yang kekal, yaitu mereka mengenal Engkau, satu-satu-Nya yang benar dan mengenal Yesus (maksudnya adalah Nabi ‘Isa‘alaihissalam -red) yang telah engkau utus.”

    Demikian pula di dalam kitab Injil yang terdapat larangan membuat patung, dalam kitab keluaran 20:4-5:

    “Janganlah membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan, Allahmu adalah Allah yang cemburu.”

    Bahkan anjuran untuk berkhitan pun disebutkan dalam Injil mereka, seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 17:13:

    “Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat,”

    lalu pada ayat ke-14 disebutkan:

    “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerah kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari tengah masyarakatnya. Ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

    Demikian pula dijelaskan bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihissalam hanyalah diutus secara khusus untuk Bani Israil, dan tidak lebih dari itu. Seperti yang disebutkan dalam Matius 10:5-6:

    “Kedua belas murid itu diutus Yesus dan ia berpesan kepada mereka: ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

    Dan dalam Matius 15:24 disebutkan:

    “Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil’.”

    Seluruh perkara ini dibenarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak haditsnya. Oleh karenanya, setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul penghabisan, maka beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga tidak diperkenankan lagi bagi seorangpun dari kalangan umat ini untuk menjadikan petunjuk kecuali apa yang telah dibawa Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

    وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ لاَ يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
    “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorangpun dari umat ini, apakah dia seorang Yahudi ataukah Nasrani, lalu dia mati dan tidak mengimani apa yang dengannya aku telah diutus, melainkan dia tergolong penduduk neraka.” [HR. Muslim dan Ahmad]

    Karena terbatasnya lembaran yang ada dalam rubrik ini maka kami tidak dapat memaparkan semuanya. Bagi pembaca yang ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh, silahkan membaca kitab-kitab seperti Al-Fishal fil Milal wal Ahwa` wan Nihal Al-Imam Ibnu Hazm, Al-Jawabus Shahih liman Baddala Dinal Masih Al-Imam Ibnu Taimiyyah, Hidayatul Hayara fi Ajwibatil Yahudi wan Nashara Al-Imam Ibnul Qayyim, Izh-harul Haq Asy-Syaikh Rahmatullah Al-Hindi atau Mukhtasharnya.

    Manhaj yang Benar terhadap Buku-buku Ahlul Bid’ah wal Ahwa’
    Melihat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memegang lembaran yang tertulis Taurat di dalamnya sudah membuat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah karena marah. Padahal kitab Taurat merupakan salah satu kitab samawi, Kalamullah yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala dari langit, meski kemudian diubah-ubah dan diganti Yahudi. Lalu bagaimana kiranya jika beliaushallallahu ‘alaihi wasallam melihat buku-buku yang jelas tidak diturunkan dari langit, malah isinya bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah? Bagaimana kira-kira kemarahan beliau bila melihat kita membolak-balik buku tersebut dan membacanya? Apalagi ingin menyelami kebenaran yang katanya ada atau mungkin ada di dalamnya? Tentunya kemurkaan beliau jauh lebih besar lagi. Wallahul musta’an.

    Bisa jadi buku-buku yang ditulis ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu itu ada setitik atau beberapa titik nilai kebenaran, tapi kebenaran apa yang bisa diharapkan bila ia dibalut dan diselimuti sekian banyak kebatilan? Dan bukankah buku-buku yang selamat dari kebatilan masih banyak, buku-buku yang ditulis ulama Ahlus Sunnah masih menggunung? Kenapa harus mempersulit diri dengan menyelami samudera kebatilan nan pekat karena ingin mendapatkan sebutir kecil mutiara kebenaran?

    Ketika Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah memperingatkan seseorang dari buku Al-Harits Al-Muhasibi dengan menyatakan: “Hati-hati engkau dari buku-buku ini, karena ini merupakan buku-buku bid’ah dan kesesatan. Wajib bagimu berpegang dengan atsar (hadits atau Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) karena di dalamnya engkau akan merasa cukup.” Ternyata orang itu berkelit dengan mengatakan: “Dalam buku-buku ini ada ibrah/ pelajaran.” Apa jawaban Abu Zur’ah rahimahullah? Beliau menegaskan: “Siapa yang tidak mendapatkan ibrah dalam Kitabullah, niscaya tidak ada baginya ibrah dalam buku-buku ini.” [Al-Mizan 2/165]

    Memberi peringatan (tahdzir) dari kitab-kitab yang di dalamnya terdapat kebid’ahan dan kesesatan, memang termasuk manhaj as-salafus shalih dengan mencontoh Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengingkari perbuatan ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu. Tahdzir ini dimaksudkan sebagai penjagaan terhadap manhaj kaum muslimin dari kemudharatan dan bahaya yang dikandung dalam buku-buku tersebut. Dan tidak termasuk perbuatan dzalim bila seorang muslim menasehati saudaranya untuk menjauhi buku-buku yang demikian karena ingin menghindarkan kemudharatan yang akan didapatkannya, dengan semata ia menyebutkan kejelekan buku tersebut tanpa menyinggung kebaikannya. (Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal, wal Kutub wath Thawa`if, hal. 128, karya Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi‘ bin Hadi Al-Madkhali)

    Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata: “Asy-Syaikh Muwaffaquddinrahimahullah menyebutkan larangan dari melihat buku-buku ahlul bid’ah. Beliau mengatakan: “Adalah generasi salaf melarang dari bermajelis dengan ahlul bid’ah, melarang melihat buku-buku mereka, dan mendengar ucapan mereka.” [Al-Adabus Syar’iyyah, 1/251]

    Asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata menukilkan ucapan Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah: “Setiap buku yang berisi penyelisihan terhadap As-Sunnah tidak boleh dilihat dan dibaca. Bahkan yang diizinkan dalam syariat adalah menghapus dan memusnahkannya.” Kemudian Ibnul Qayyimrahimahullah menyebutkan: “Para shahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Utsman karena kekhawatiran mereka akan timbulnya perselisihan di tengah umat. Maka bagaimana bila mereka melihat buku-buku ini yang menciptakan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat….” Ibnul Qayyim berkata lagi: “Maksud dari semua ini adalah buku-buku yang mengandung kedustaan dan bid’ah wajib untuk dimusnahkan dan dipunahkan. Bahkan memusnahkannya lebih utama daripada menghancurkan alat-alat laghwi dan musik serta bejana-bejana yang berisi khamr. Karena bahaya buku-buku ini lebih besar daripada bahaya alat-alat musik. Dengan demikian tidak ada ganti rugi terhadap buku-buku tersebut sebagaimana tidak ada ganti rugi dari penghancuran bejana-bejana khamr.” [Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal, wal Kutub wath Thawa`if, hal. 134]. Lihat juga pembahasannya tentang buku-buku sesat disini.

    Wallahu’alam bish-shawab.
    CATATAN KAKI
    [1] Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan bahwa dalam ayat ini dan yang sebelumnya ada peringatan dari melakukan penggantian, perubahan, dan penambahan dalam syariat. Maka semua orang yang mengganti, mengubah atau mengadakan perkara baru (bid’ah) dalam agama Allah dengan sesuatu yang bukan bagian dari agama dan dengan sesuatu yang terlarang dalam agama, maka ia masuk dalam ancaman yang keras dan azab yang pedih tersebut. [Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 1/9]

    [2] Ibnu ‘Aun berkata: “Aku bertanya kepada Al-Hasan: ‘Apa yang dimaksud dengan مُتَهَوِّكُوْنَ ?’. Al-Hasan menjawab: ‘Orang-orang yang bingung’. Demikian disebutkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/132), sebagaimana dinukilkan dalam Al-Irwa` (6/38). Al-Imam Al-Baghawi rahimahullah menyebutkan makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut: ‘Yakni apakah kalian bingung dalam berIslam, kalian tidak mengetahui agama kalian hingga kalian harus mengambil agama tersebut dari Yahudi dan Nasrani?” [Syarhus Sunnah 1/271]

    [3] ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ yakni betapa ibumu kehilangan kamu. Orang yang mengucapkan hal ini kepada seseorang seakan-akan mendoakan kematian lawan bicaranya karena jeleknya perbuatan atau ucapannya. Atau ia mengucapkan ucapan tersebut dengan maksud menyatakan: “Bila engkau berbuat/ berucap demikian, maka kematian lebih baik bagimu, agar engkau tidak menambah kejelekan lagi.” Atau bisa pula ucapan ini termasuk lafadz-lafadz yang biasa beredar di lisan orang Arab tanpa dimaksudkan sebagai doa seperti ucapan mereka: تَرِبَتْ يَدَاكَ dan قَاتَلَكَ اللهُ . [An-Nihayah, hal. 123]

    Sumber:


    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *