Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Isa Dan Yesus. Show all posts
Showing posts with label Isa Dan Yesus. Show all posts

Monday, June 22, 2020

Ringkasan Biografi Nabi Isa Almasih Alayhisalam Monday, June 22, 2020



Kisah Nabi Isa as adalah kisah yang tergolong lengkap diceritakan di dalam Al-Qur’an. Terutama mengenai wafat dan kedatangannya di dunia pada akhir zaman yang penuh tanda tanya.

Sebagian berpendapat bahwa kematian yang terjadi pada Nabi Isa adalah kematian pada umumnya, disalib dan sebagian yang lain berpendapat bahwa jasad dan ruhnya diangkat oleh Allah (dalam keadaan hidup).

Begitu pula mengenai kedatangannya pada akhir zaman. Sebagian berpendapat Nabi Isa akan benar-benar muncul sebagai pertanda akan terjadinya kiamat, namun sebagian lainnya menyatakan bahwa bukan merupakan kepastian bahwa Nabi Isa akan muncul kembali, karena Nabi Muhammad telah dinobatkan sebagai penutup para Nabi dan Rasul.

Kisah kelahiran Nabi Isa as ini digambarkan Allah swt. dengan indah di dalam Alquran, yakni QS Maryam:16 sampai dengan 40. Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bagaimana situasi kelahiran Nabi Isa as, dan ketika ibunya, Maryam, dengan tabah dan sabar menghadapi kaumnya yang menuduh serta menghina dengan kehadiran bayinya itu.

Dalam artikel kali ini, akan diceritakan secara lengkap mengenai kisah Nabi Isa as seperti yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an.

Kisah Nabi Isa AS
Di dalam kitab suci Al-Quran Nabi Isa disebut dengan nama ‘Isa dengan gelar al-Masih dan Ibnu Maryam. Kapasitasnya ialah sebagai hamba dan Rasul Allah, kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam, dan bagian dari Ruh-Nya. Ia lahir tanpa seorang bapak dan merupakan Nabi yang diberikan mukjizat yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.

Nabi Isa as memiliki kesalehan dan ketauhidan yang sangat kuat. Dalam Al-quran Allah SWT menanyakan ketauhidan kepada Nabi Isa as apakah ia mengaku sebagai Tuhan, lalu Nabi Isa as menjawab ia tidak mengaku dan menyuruh umatnya untuk menyembahnya melainkan menyuruh hanya untuk menyembah kepada Allah.

Kisah kelahiran Nabi Isa as. ini digambarkan dalam QS Maryam:16 sampai dengan 40. Adapun ayat tersebut adalah sebelum lahir Nabi Isa as terjadi peristiwa-peristiwa ganjil yang dialami oleh ibunya yakni Maryam. Di antara peristiwa itu adalah ketika Maryam menyendiri, tiba-tiba datang malaikat Jibril menyerupai manusia, kisah ini diceritakan Allah dalam firman-Nya,
 
"Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna."  (QS Maryam: 16)

Malaikat Jibril datang untuk mengabarkan kepada Maryam bahwa ia akan dianugerahkan kepadanya seorang anak laki-laki yang suci, hal ini disebutkan dalam firman Allah,

Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS Maryam:19)

Peristiwa Kelahiran Nabi Isa
Semakin hari, usia kandungan Maryam semakin membesar sehingga telah tiba waktunya Maryam melahirkan seorang anak. Dengan rasa sakit, ia memaksakan diri untuk bersandar ke pangkal pohon kurma. Hal ini digambarkan dalam firman Allah,

"Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan." (QS Maryam:23)

Ayat ini menggambarkan bahwa Maryam merasa malu kepada orang lain dengan apa yang telah terjadi kepadanya, karena ia khawatir bencana serta kesedihan akan ia terima setelah melahirkan anak tanpa ayah. Ditambah lagi kesukaran baru, yaitu ia memerlukan air untuk memandikan anaknya, serta memerlukan makanan. Maryam pun merasa semakin sedih.

Melihat kondisi tersebut, Allah mengutus malikat Jibril untuk menghibur Maryam, sehingga ia tidak lagi merasa sedih dengan takdir yang Allah berikan. 

Allah berfirman;
"Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu." (QS Maryam:24) 

Jibril menyampaikan pesan dari Allah SWT agar janganlah Maryam bersedih hati bersusah pikiran, karena Allah telah menyediakan air yaitu sebuah anak sungai yang kecil dan airnya jernih. Kemudian ia disuruh untuk menggoyangkan pohon kurma agar ia dan anaknya dapat memakan dan melanjutkan hidup mereka. 

Allah berfirman;
"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS Maryam:26)

Cercaan yang Diterima Maryam Dari Kaumnya
Maryam diperintahkan agar ia tidak terlalu memikirkan apa yang telah terjadi, ia diperintahkan makan dan minum atas apa yang Allah swt. anugerahkan kepadanya, dan mengusir kesedihannya, karena Allah swt. telah mensucikan masa depannya, dan membersihkan pencemaran nama baik yang dituduhkan oleh kaumnya terhadap dirinya. Sehingga mereka yakin dan mengakui bahwa Maryam adalah sosok yang suci lagi bersih dari sifat-sifat yang tercela. Kemudian Maryam membawa Isa as anaknya kepada kaumnya sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah,

"Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar." (QS Maryam:27) 

Mendengar cercaan serta hinaan dari kaumnya, Maryam menunjuk kepada bayinya agar mereka sendiri yang menanyakan hal tersebut kepada anaknya. Mereka pun murka kepada Maryam karena menyangka Maryam mengejek dan mempermainkan mereka. Hal tersebut dalam firman Allah, 

"Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka." (QS Maryam:29-32)

Misi Nabi Isa Sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT
Setiap nabi diutus oleh Allah swt. memiliki tujuan atau misi dalam berdakwah. Adapun misi dakwah seorang nabi sesuai dengan situasi dan kondisi umatnya. Nabi Isa as adalah nabi yang melanjutkan risalah kenabian sebelumnya, yakni risalah Nabi Musa as.

Allah berfirman,
"Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."  (QS Al-Shaf: 6)

Sejak usia enam tahun, Nabi Isa sudah memasuki perguruan Taurat. Ia memahami hukum Taurat lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pada usia 12 tahun, dia bertanya jawab soal Taurat dengan orang-orang Yahudi yang jauh lebih tua, baik soal hukum sampai soal ketuhanan.

Setelah Nabi Isa as berumur 30 tahun, Malaikat Jibril datang sebagai utusan Allah swt. untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan rasul-rasul sebelumnya dan memberi kabar kepada manusia tentang kedatangan seorang nabi terakhir yakni Nabi Muhammad SAW.

Dalam Alquran tidak dijelaskan kapan Nabi Isa as diangkat menjadi nabi, dan di mana tempatnya. Akan tetapi, perintah kenabian Nabi Isa as dikenal sejak ia lahir dan sejak ia berbicara kepada Bani Israil ketika masih dalam buaian.  

Allah berfirman;
Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi." (QS Maryam:30)

Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad SAW
Salah satu tujuan Nabi Isa as yakni memberitakan bahwa dikemudian hari akan diutus oleh Allah SWT seorang rasul, yakni Nabi Muhammad SAW yang dibekali sebuah Kitab Suci (Al-quran) yang berisi ajaran-ajaran Allah swt. yang membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya yang akan disampaikan kepada manusia. 

Allah berfirman;
"Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QS As-Shaf:4)

Nabi Isa semakin berani mengoreksi para ulama Yahudi yang dianggap menyeleweng dalam ajaran Taurat. Dalam berdakwa Nabi Isa as terkenal sebagai seseorang yang sering berkelana (berpindah-pindah) tempat untuk membawa kabar gembira akan keselamatan. Di perjalanan Nabi Isa as melarang pengikutnya membawa tongkat, bekal, uang dan senjata.

Nabi Isa Menyiarkan Agama yang Benar dan Meluruskan Penyelewengan
Misi Nabi Isa as dalam berdakwah adalah menyiarkan agama yang benar, membongkar akan kesalahan dan kesesatan pendeta Yahudi yan telah jauh menyimpang dari ajaran Nabi Musa as yang sebenarnya. Bahkan terbukti kepada Nabi Isa as bahwa mereka telah lupa dengan ajaran-ajaran yang diberikan Nabi Musa dalam kitab suci Taurat. Sudah banyak pula yang tidak kenal kepada Allah SWT, Nabi Isa as menyampaikan kehadirannya memerintahkan untuk menyembah Allah SWT Hal tersebut diungkap dalam berfirman Allah,

"Dan tatkala Isa datang membawa keterangan Dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat10 dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku". Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus." (QS Az-Zukhruf: 63-64)
 
Mukjizat Nabi Isa Alaihis Salam
Mukjizat yang dimiliki para nabi sebagai pemberian dari Allah SWT untuk menghadapi para penentangnya, dan memperlihatkan kebenaran kerasulan serta kenabiannya, sehingga ajaran yang dibawanya dapat diterima umat manusia, baik pada masa nabi maupun sesudahnya. Adapun mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Isa as yaitu;
  1. Dapat berbicara semasa masih dalam buaian.
Hal ini terjadi ketika ibunya datang kepada kaumnya dan mereka menuduh Maryam berzina, kemudian Nabi Isa as. berbicara yang pada saat itu masih dalam buaian. Inilah mukjizat Nabi Isa as. yang tampak pertama kali. 

Allah berfirman:
"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup." (QS Maryam: 30-31) 
  1. Menghidupkan burung yang terbuat dari tanah liat
  2. Menyembuhkan orang sakit dan mengembalikan penglihatan orang buta.
  3. Menghidupkan orang mati.
  4. Berjalan di permukaan air seperti dikisahkan oleh Al-Tsalabi. Mukjizat ini tidak diceritakan dalam Al-Quran.
  5. Dapat memberitahu manusia tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumahnya.
  6. Mengukuhkan dengan sebutan roh kudus (roh suci). 

[Sumber: merdeka.com | edl]

Thursday, April 11, 2019

Yesus Kristus Adalah Isa Almasih Sang Nabi Thursday, April 11, 2019

Dulu, secara terpisah pernah beberapa orang saudara ikhwanul muslimin bertanya serius melalui inbox; bagaimana sebenarnya pandangan saya tentang Yesus Kristus dan Isa Almasih? Apakah kedua sosok ini adalah dua orang yang berbeda atau sebetulnya orang yang sama?

Pertanyaan sederhana, namun tidak mudah untuk dijawab mengingat jawaban yang diharapkan berpotensi menimbulkan misinterpretasi, bahkan dapat berobah menjadi fitnah!

Sebagai muslim fakir ilmu, saya belajar dari beberapa literatur Islam dan Kristen hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya kedua sosok ini sebetulnya adalah orang yang sama. 

Secara parsial Al-Quran dan Hadits meriwayatkan kehidupan Nabi Isa Almasih sejak sebelum lahir hingga dewasa, kemudian diangkat menjadi Nabiullah dan mendapat gelar sebagai salahsatu dari lima Nabiullah berpredikat Ulul Azmi. Namun kisah hidupnya "terputus" sesaat sebelum terjadinya peristiwa penyaliban yang disangka -- khususnya oleh umat Yahudi dan umat Kristen -- benar-benar terjadi pada diri beliau. 

Dengan demikian, kesamaan atau kemiripan riwayat hidup Nabi Isa Almasih dan Yesus Kristus sejak lahir hingga terjadinya peristiwa penyaliban, baik dalam Al-Quran, Hadits, dan dalam injil-injil yang pernah ada -- terutama yang oleh umat Kristen dianggap sebagai injil-injil aprokipa -- termasuk pula dalam injil-injil kanonika yang menjadi bagian dari alkitab, sebetulnya relatif sama. Yang membuat kisah hidup beliau berbeda di antara kedua versi ini adalah persprektif yang mendasari periwayatannya. Al-Quran dan Hadits secara konsisten menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa putra bunda Maryam tsb adalah seorang Nabi, sedangkan di sisi lain, alkitab berusaha menggambarkan diri beliau sebagai tuhan! 

Pencitraan Nabi Isa Almasih sebagai tuhan, atau salahsatu oknum tuhan, khususnya dalam iman Kristen Trinitarian, terasa semakin kental dalam injil-injil kanonika dan surat-surat Paulus yang mengisahkan kehidupan beliau setelah terjadinya peristiwa penyaliban versi alkitab.

Sampai di sini, yang perlu digarisbawahi tebal-tebal adalah bahwa sekalipun alkitab dan Al-Quran serta Hadits sama-sama mengisahkan riwayat hidup dan ajaran dari sosok yang sama, namun terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara keduanya, terutama menyangkut hal-hal prinsipil sbb:
  1. Kisah Nabi Isa Almasih dalam ajaran Islam selesai sampai menjelang terjadinya peristiwa penyaliban, saat mana beliau diyakini diselamatkan oleh Allah dengan cara sangat ajaib, yakni diserupakan dengan orang lain yang kemudian disalib, lalu beliau (dan ibundanya) "diangkat" ke suatu tempat yang disebut-sebut sebagai tempat yang baik "disisi" Allah. Sedangkan umat Kristen meyakini bahwa yang tersalib dan mati terkutuk di tiang salib adalah Nabi Isa Almasih yang mereka tuhankan, yang bangkit dari kematian setelah penyaliban, lalu terangkat ke sorga.
  2. Segala cerita tentang Nabi Isa Almasih di dalam injil-injil kanonika, Kisah Para Rasul, dan surat-surat Paulus sejak terjadinya peristiwa penangkapan, penyaliban, kebangkitan dan kenaikan ke sorga yang harus diyakini kebenarannya menurut doktrin Kristen, tidak pernah dan tidak akan pernah dapat diterima sebagai kebenaran oleh umat Islam, karena sosok yang diceritakan tsb bukan beliau, melainkan orang lain yang tidak jelas apakah memang pernah ada atau hanya tokoh imajinatif ciptaan para pengarang injil-injil kanon dan Paulus saja.
  3. Segala daya upaya umat Kristen, khususnya para misioranis yang coba menjustifikasi iman mereka terkait ketuhanan Nabi Isa Almasih dengan cara mengutil dan merekayasa puluhan ayat-ayat al-Quran dan Hadits menurut tafsir "ngarang bebas" mereka agar diterima sebagai "kebenaran Qurani" oleh umat Islam, jelas tertolak -- dan ditolak mentah-mentah -- cukup dengan satu dalil dari Al-Quran sendiri, yakni firman Allah dalam QS. Al-Maaidah [5]: 17.
Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?” Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia Kehendaki.Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Siapapun muslim yang meragukan jatidiri Isa Almasih dan Yesus Kristus sebagai sosok yang sama, sebaiknya cobalah renungkan dua pertanyaan berikut ini dengan segenap kesadaran akal budi yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita:
  1. Jika Isa Almasih bukan Yesus Kristus yang dituhankan oleh umat Kristen sebagai salahsatu oknum tuhan Trinitas dalam iman mereka, untuk apa Allah befirman seperti tertulis dalam  QS. Al-Maaidah [5]: 17 di atas?
  2. Sedangkan dalam konteks yang sama, untuk apa Rasulullah SAW mengingatkan seluruh pengikutnya agar jangan sampai terperangkap "ghuluw", atau sikap berlebihan dalam memandang beliau melalui salahsatu hadits shahih ini? 
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’” 
[HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al-Mu-hammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab RA]

LALU, BAGAIMANA SEHARUSNYA SEORANG MUSLIM MENYIKAPI DUALISME INI?
Seorang akademisi dan penulis; Mahardhika Zifana dalam salahsatu tulisannya di KOMPASIANA menjelaskannya dengan baik sebagai berikut.

APALAH ARTI SEBUAH NAMA?
Demikian Kata Mbah ‘Will I Am Shakespeare’.
Kutipan lengkapnya berbunyi; “What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

Memang benar demikian. Apalah arti sebuah nama? 
Benda yang kita sebut mawar itu, kalaupun disebut dengan nama lain baunya akan tetap sama. Maksudnya Mbah Shakespeare, kalaupun mawar itu kita sebut oncom, tidak serta-merta baunya jadi macam tauco, wanginya tetap wangi mawar yang hakiki, karena toh bendanya memang itu.

Namun faktanya, nama itu sangat penting, sampai-sampai salah seorang dosen saya, Pak Iwa Lukmana, yang lulusan Monash University itu, merasa perlu menggelar karpet merah untuk sebuah kegiatan penelitian tentang nama.

Perkeliruan soal nama ini ternyata juga merambah ke mana-mana, bahkan ke dalam medan internet. Yang terbaru yang saya temukan ialah di dalam sebuah situs yang (mengaku-ngaku) situs dialog antaragama.

Kenapa saya merasa perlu membubuhkan kata mengaku-ngaku dalam tanda kurung? Ya karena sebetulnya isinya ternyata bukan dialog, tapi lebih ke arena saling hujat dan saling ejek dengan adu argumen bergaya Jaka Sembung bawa asbak, kagak nyambung, gedubrak!

Soal agama memang sensitif, sama sensitifnya seperti banteng-banteng Spanyol yang berkeliaran di Festival Pamplona. Salah posisi, bisa membuat anda terseruduk sampai tewas di sana!

Salah satu topik dalam arena saling ejek itu adalah soal nama. 
Syahdan, seorang peserta hina-menghina itu menuliskan bahwa salah satu versi nama (dari Isa dan Yesus) lebih sahih daripada yang lain, maka kitabnya pun dianggapnya lebih sahih daripada kitab lainnya. Sebuah argumen yang memang sangat ad hominem. Pada akhirnya, kepenasaranan saya ikut tergelitik. Ini bukan soal mencari benar-salah, tapi ini soal pelurusan fakta sejarah, terlepas dari soal-soal Agama.

< div style="text-align: justify;">Sejarah kadang mengaburkan karena ada banyak versi. Tapi dalam tataran bahasa, kita bisa mendaurnya hingga murni, lalu tampak wujud hakiki dari suatu kata yang menjadi polemik. Syahdan, alasan itulah  yang melahirkan disiplin etimologi dalam filsafat.
Soalan Yesus dan Isa ini memang perlu diluruskan agar orang-orang lebih paham cara berargumen yang benar dan saling menghormati. Terus terang, sebagai seorang Muslim, saya suka marah jika ada sesama Muslim yang mempermainkan nama Yesus. Okelah, sesama Muslim itu memang bersaudara. Tapi jika ada saudara yang memalukan, ya, mau tak mau saya  harus ikut menanggung malu.
Jadi begini,
Nama itu bermakna simultan dalam bahasa lainnya. Misalnya nama Charles di Inggris, dipanggil Carlos di Spanyol, Carlo di Italia, Karl di Jerman, dan Karel di Belanda dan Skandinavia. Adik tingkat saya ada yang namanya Lukman (Si Black Tea) oleh temannya yang orang Jepang dipanggil Rukuman. Teman saya yang orang Arab namanya Rahman, dipanggil Rahmanov saat dia migrasi ke Russia. Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, jika di Arab nama depannya akan dipanggil Rojab Toyib Ardogan. Mbah ideologisnya Erdogan, Necmettin Ebarkan, akan dipanggil Najmuddin Abarkhan kalau di Arab. See? Cara pengucapan bisa beda, tapi rujukannya sama.

Langkah pertama untuk meluruskan Isa dan Yesus ini seyogyanya adalah pemahaman bahwa Isa yang disebut dalam Quran adalah sosok yang sama dengan Yesus yang disebut di dalam Perjanjian Baru. Ini penting untuk ditekankan, agar mereka yang suka memperolok-olok nama Yesus sadar siapa yang sedang mereka olok-olok.

Dalam bukunya, “Jesus Will Return”, Harun Yahya membubuhkan tanda alaihissalam di belakang nama Yesus. Begitulah seharusnya nama Yesus diperlakukan, karena dia seorang nabi. Seorang Muslim diajarkan untuk menghormati para nabi alaihimassalaam dengan cara yang santun dan bermartabat.

Kita lihat prequel soal ini dari  prakelahiran Yesus alaihimassalaam. Menurut taksiran para sejarawan, beliau dilahirkan pada kitaran tahun 5 SM. Kala itu di tempat kelahiran beliau, Betlehem, bangsa beliau (Yahudi) sedang hidup dalam penjajahan Imperium Roma.

BAHASA APAKAH YANG DIGUNAKAN KALA ITU? 
Sekurangnya ada 4 (empat) bahasa yang dituturkan secara bersamaan di sana.
  1. Bahasa Ibrani (kuna, bukan bahasa Ibrani modern macam di Israel dewasa ini) sebagai bahasa ritual dan liturgi. Bahasa ini digunakan dalam berdoa dan beribadah. Mirip dengan Muslimin Indonesia yang berdoa dengan bahasa Arab. Dus, hanya para rabbi dan pemuka agama terkemuka yang menguasai bahasa ini. Kitab-kitab Tanakh (Taurat dan kitab lainnya) juga ditulis dalam bahasa ini.
  2. Bahasa Aram (bukan Arab, tapi Aram –Aramaic Language). Dengan bahasa inilah Yesus alaihimassalaam kemudian mendakwahi kaumnya, berbicara kepada ibunya, Maria, dan mengobrol dengan para tetangganya. Ini bahasa ibu Yesus alaihimassalaam, sekaligus Lingua Franca-nya tanah Kana’an. Sebagian sejarawan bahkan yakin bahasa ini dipakai di seantero Timur Tengah pada saat itu, termasuk di dunia Arab.
  3. Bahasa Latin, digunakan oleh bangsa Romawi yang menjajah tanah Kana’an saat itu.
  4. Bahasa Yunani yang digunakan oleh kaum pendatang dari wilayah Imperium Roma di bagian Eropa Timur.
Dus, bisa dipastikan bahwa Yesus alaihimassalaam dinamai ibundanya dengan nama berbahasa Aram.

Teks berbahasa Aram paling tua yang menyebut-nyebut kisah Yesus alaihimassalaam adalah Peshitta, Kitab Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Aram dengan aksara Syro. Dalam Peshitta, nama Yesus Kristus ditulis begini:

ܕܝܫܘܥܡܫܝܚܐ  Baca: eishûa mashïkha
Lalu bagaimana nama itu bisa jadi Isa (Arab), Yesus (Yunani), dan Yêshûa (Ibrani)?

Begini ceritanya.
Kalau kita perhatikan, di dalam Quran banyak sekali kisah nabi-nabi Israel (selain Isa). Jika kita bandingkan penulisan namanya,  banyak nama yang aslinya diawali bunyi "y" dalam bahasa Ibrani, tersulih menjadi berawalan "i" dalam bahasa Arab, contohnya:
  • ישמעאל (baca: yisy-ma'-e'l) menjadi إسماعيل (baca: is-ma-iil) dalam bahasa Arab,
  • ישראל (baca: yis-ra'-el) menjadi إسرائيل (baca: is-ra-iil dalam bahasa Arab,
  • יצחק (baca: yits-khaq) menjadi إِسْحَاقَ (baca: is-haq) dalam bahasa Arab.

Sekarang kita cermati nama Yesus as yang ditulis dalam Peshitta:
ܕܝܫܘܥܡܫܝܚܐ  Baca: eishûa mashïkha
ܡܫܝܚܐ (eishûa) dalam bahasa Aram adalah padanan nama untuk  ישוע (yêsyûa') dalam bahasa Ibrani.

Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa bahasa Aram, Ibrani, dan Arab sebenarnya berasal dari rumpun yang sama, yakni bahasa Semit. Karena soal konvergensi dan divergensi, bahasa Semit ini kemudian terpecah ke dalam tiga bahasa tersebut, di mana bahasa Ibrani terbebat oleh bahasa Aram yang lebih banyak dituturkan di zaman Yesus alaihimassalaam. Ini menjelaskan bahwa perbedaan antara nama عيسى (Iisa) dalam bahasa Arab dengan nama ܡܫܝܚܐ (eishûa) dalam bahasa Aram dan ישוע (yêsyûa') dalam bahasa Ibrani tak lebih dari soal perbedaan lafal –sama seperti dalam rumpun bahasa Melayu, kata ‘Kite’ (Betawi) dengan ‘Kito’ (Palembang) dan ‘Kita’ (Riau) dilafalkan.

BAGAIMANA NAMA YESUS MUNCUL?
Di atas, sudah dijelaskan bahwa pada zamannya, di tanah Kana’an ada 4 bahasa yang dituturkan secara simultan, termasuk salah satunya adalah bahasa Yunani di samping bahasa Aram, Ibrani, dan Latin.
Dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani, nama Isa ditulis ιησους (baca: iêsous). Perhatikan bahwa perbedaan paling mencolok ada pada bunyi "s di ujung kata. Bagaimana penjelasannya?

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa bahasa Yunani tidak mengenal bunyi vokal glotal di akhir kata. Buktinya adalah bukan hanya nama Yesus saja, nama Nabi موسى‎  (Muu-sa) dalam bahasa Ibrani disebut מֹשֶׁה‎ (Mo-she), dan dalam bahasa Yunani disebut μωυσης  (Mouses).

Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan dengan padanan bunyi vokal glotal dalam bahasa Indonesia: kita menulis BAPAK, tapi dibaca Bapa', bukan?

Sebagaimana kita ketahui, bahasa Yunani dan bahasa Latin memberikan pengaruh yang besar terhadap bahasa-bahasa Eropa. Sementara bangsa Eropa sendiri kemudian berlayar dan membuat koloni di mana-mana, bagai tawon berpindah pohon. Ini menjelaskan mengapa lafal JESUS atau YESUS lebih mengglobal daripada IISA, EISHÛA, dan YÊSYÛA'.

Sebagai catatan, di negara-negara berbahasa Arab, nama Yesus dalam Perjanjian Baru Arab tetap ditulis dalam bentuk Arab, yakni عيسى (iisa), bukan bentuk bahasa yang lain. Kemudian, ternyata, dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Melayu-Kuna zaman dulu, nama “Isa Almasih” juga ditulis sebagai terjemahan dari kata Yunani ιησους χριστος - iêsous khristos. Salah satu contohnya adalah dua versi terjemahan Matius 1:1 berikut ini.

LAI TB : “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.”
Klinkert 1870: “inilah sjadjarah Isa Almasih, ija-itoe anak Da'oed, anak Iberahim.”

Akhirul Kalam, itulah hikayat nama Isa, atau Yesus alaihimassalaam. 
Sampai di sini, saya sungguh sangat benar-benar berharap agar saudara-saudara sesama Muslim jangan pernah menghina atau memperolok nama dan figur Yesus Kristus!
Yesus Kristus yang dipuja saudara-saudara kita yang Kristiani, yang namanya tercantum di dalam Alkitab Perjanjian Baru, adalah sosok dan figur yang sama dengan Isa Almasih yang namanya disebut-sebut di dalam Al Quran!


Demikian, semoga berguna!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk

Sunday, October 4, 2015

Siapakah Sebenarnya Isa Al-Masih Dalam Al-Quran Dan Yesus Kristus Dalam Bibel? Sunday, October 4, 2015


Dalam forum debat lintas agama soal apakah Yesus adalah oknum yang sama dengan Isa Almasih selalu menjadi topik yang berulang. Saya tidak mempersoalkan adanya pernyataan dari pihak Kristen yang ngotot mengatakan keduanya sebagai orang yang berbeda,  itu menjadi hak mereka sendiri dengan segala konsekuensi internalnya, salah satunya seperti apa yang disampaikan dalam tulisan ini: 

"Dalam terjemahan Alkitab kuno/lawas, kata yang dipakai bukan Yesus, melainkan Isa Almasih. Sebaliknya dalam terjemahan Al-Qur'an bahasa Inggris, kata yang dipakai adalah "Jesus Christ.", jadi silahkan diselesaikan sendiri.

Yang perlu diluruskan di sini adalah adanya beberapa pernyataan dari kalangan Muslim yang menyebutkan bahwa Yesus dan Isa Almasih adalah oknum yang berbeda, lalu diikuti dengan kebebasan untuk memakai kata-kata kasar dan kotor menghujat Yesus, mungkin karena terpancing perbuatan yang sama oleh para debaters Kristen terhadap Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Soal perbedaan nama sangat mudah untuk dijelaskan. Sebutan Yesus Kristus dalam bahasa Indonesia merupakan bunyi yang muncul dari perubahan berdasarkan terjemahan, mulai dari penyebutan nama tersebut dalam bahasa asal yang dipakai oleh masyarakat Yahudi ketika nabi Isa Almasih masih hidup yaitu bahasa Aramaik, lalu dilogatkan dalam bahasa Yunani, Eropah, Belanda, lalu sampai diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi Yesus Kristus. 

Kalau mau tahu bagaimana melafadzkan nama nabi Allah ini dalam bahasa aslinya, maka bunyi yang mirip memang sebagaimana yang dilafadzkan oleh Al-Qur'an, silahkan didengarkan penyebutan nama Isa Almasih dalam bahasa Aramaik ini (silahkan periksa sendiri di sini)  dan bandingkan dengan lafadz yang dibunyikan ketika orang membaca Al-Qur'an menyebut nama tersebut, mirip bukan?

Pemahaman sementara kalangan Islam yang menyatakan Yesus dan Isa Almasih adalah dua oknum yang berbeda justru menunjukkan sikap tidak percaya kepada Al-Qur'an sendiri sebagai kitab yang meluruskan kisah nabi tersebut yang sudah dimelencengkan sejarah. Bagaimana bisa dikatakan meluruskan kalau oknumnya berbeda? 

Ini bisa dianalogikan secara sederhana, ketika si Fulan yang sebenarnya orang Jawa dengan ibu Maimunah dan ayah bernama Sakirun, lalu muncul berita bahwa si Fulan adalah orang Manado dengan ibu si anu dan ayah si anu. Maka ketika kita mau meluruskan kesalahan tersebut tentu saja ini hanya bisa terjadi jika kita merujuk kepada oknum yang sama, dengan informasi yang berbeda. Lihat di sini.

Artinya, jika Isa Al Masih dan Yesus Kristus adalah dua orang yang berbeda, lantas buat apa Al-Quran harus meluruskan alkitab?

Semoga berguna.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Dari catatan ust. Arda chandra - October 4, 2015] · 


Wednesday, November 21, 2012

Al-Hawariyun, Para Sahabat Dan Penerus Da'wah Nabi Isa Almasih Wednesday, November 21, 2012

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. al-Imran/3: 52).

AL-HAWARIYUN adalah bentuk jamak dari kata HAWARI, yaitu pengikut setia Nabi ‘Isa as. Mereka mendampingi Nabi Isa as. berdakwah menegakkan risalah Allah di muka bumi. Al-Quran menyebut mereka sebagai Ansharu’llah, yaitu para penolong (risalah) Allah.

Para Hawariyun menorehkan kiprahnya masing-masing. Mereka menyebar ke seantero negeri untuk menolong dan membela sesama, diantaranya orang-orang lemah, orang  sakit (yang tidak memiliki kemampuan mengikhtiari kesehatannya), memperingatkan kaum Yahudi agar tidak membuat sebab kesenjangan sosial, dan membela serta mempertahankan diri dari kiprah para penentang risalah.

Dari beberapa catatan tentang Hawariyun, diambil kesimpulan bahwa jumlah Hawariyun sekitar dua belas orang. Adapun kedua belas Hawariyun tersebut adalah:

  1. Andariya bin Yunus; adalah murid Nabi Yahya as. yang selanjutnya mendedikasikan diri untuk membantu dakwah Nabi Isa as. Beliau menjadi menjadi Hawari pertama Nabi Isa as.
  2. Syam’un 'al-Khaifa' bin Yunus; adalah nelayan Baitus Saida yang berdomisili di negeri al-Jaliliya (daerah Libanon sekarang). Ia adalah saudara Andariya bin Yunus. Nabi Isa as. menjulukinya dengan sebutan Al-Khaifa yang berarti “batu”. Syam’un memiliki murid bernama Markus, yaitu tokoh yang berkontribusi dalam melakukan perawian seluruh kehidupan Nabi Isa as. Perawian ini selanjutnya diakui kaum gereja dan ditetapkan sebagai Injil Markus.
  3. Ya’qub bin Zabdiya; adalah nelayan Baitus Saida yang yang diambil sumpah setia sebagai Hawari oleh Nabi Isa as. bersama saudaranya (Yahya bin Zabdiya) di pesisir danau Janisrah. Nabi Isa as. memberi julukan kepada anak-anak Zabdiya dengan sebutan "Bani Ar-Ragas" yang berarti “Anak-anak guruh atau anak Amarah”.
  4. Yahya bin Zabdiya; adalah nelayan Baitus Saida yang kemudian menjadi Hawari paling masyhur karena beberapa karyanya, yaitu: (1) perawian kehidupan Nabi Isa as. (2) penulisan kitab Wahyu, dan (3) pencatatan kabar gembira tentang kedatangan nabi akhir zaman dengan ciri-ciri: (a) memiliki pedang bermata dua, (b) memiliki kendaraan tunggangan berwarna putih, (c) memiliki umat yang dimuliakan dengan kitab Al-Qur’an, dan (d) berada di negeri keselamatan baru yang memiliki Bait Suci (yaitu Ka’bah di negeri Makkah). [1]
  5. Falifi al-Jalily; adalah penduduk biasa yang menetap di negeri al-Jalily.
  6. Ya’qub bin Alifi; adalah Hawari yang berasal dari keluarga pembesar Bani Israil yang cukup dihormati. Ia terkenal karena komitmennya menyeru Bani Israil agar mereka memakan makanan yang Halal dan baik.
  7. Mattaya 'al-Lawiy' bin Alifi; adalah pemungut pajak yang melakukan perawian atas kehidupan Nabi Isa as. Perawiannya dikenal sebagai Injil Mattaya. Ia bersama Yusuf Ibnu Nabas termasuk ke dalam kelompok para penulis wahyu. [2]
  8. Yusuf Ibnu Nabas al-Hawari; adalah Hawari yang tidak kalah pentingnya dikalangan pengikut Nabi Isa as.. Beliau adalah seorang yang kaya raya lagi dermawan, berasal dari Bani Israil suku Lawi. Yusuf Ibnu Nabas juga merawi kehidupan Nabi Isa as dalam kitab yang kemudian dikenal sebagai Injil Barnabas. Namun kitabnya ini tidak diakui oleh kalangan gereja bentukan Sya’ul karena subjektifitas Syaul terhadapnya. [3]

Bersama Matta al-Lawiya, Ibnu Nabas termasuk Hawari pencatat wahyu. Ia awalnya berdakwah bersama Sya’ul ke negeri Siprus, Asia kecil, Yunani, Romawi, Tarsis, dan negeri-negeri Arab serta Afrika. Dalam perkembangan dakwahnya bersama Syaul, Ibnu Nabas menemukan kejanggalan dari setiap dakwah Sya’ul yang mulai bertentangan dengan ajaran Nabi Isa as. Akhirnya ia memisahkan diri dari komunitas yang digagas Sya’ul dan memutuskan kembali (bersama pembantunya yang bernama Yahya) ke Siprus.

Semenjak itu, Sya’ul dengan surat-suratnya selalu menghujat dan sangat memusuhi Ibnu Nabas. Bahkan ia juga memusuhi bebera Hawari lainnya (yang tetap teguh memegang risalah Nabi Isa as.) dengan fitnahan dan kebohongan, diantaranya adalah Ya’qub (Yamisi) dan Syam’un al-Khaifa.

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’” (QS. an-Nisa [4]: 157-158).

9. Syam’un al-Kan’ani  (Az-Zalutiyyun); adalah pejuang militan Bani Israil yang menentang pendudukan bangsa Romawi dan kezaliman penguasa Israil (Yahudi) atas kaum Bani Israil keseluruhan.

10. Nikhadimah; pemilik kediaman yang ada di seberang Sungai al-Kidran (di kebun Jaat-Asmani), adalah mata-mata Nabi Isa yang memberikan berita mengenai keadaan kaumnya ketika bersembunyi dari kaum Yahudi di kediaman rumahnya.

11. Kalil al-Astafani; adalah syuhada pertama yang wafat dirajam oleh gerombolan Yahudi penentang dakwah Nabi Isa as. Menurut riwayat, gerombolan Yahudi itu dihasut oleh Sya’ul at-Tarsusy.

12. Yahudza al-Askaryuti; (Yudas); adalah seorang Hawari yang memberitahukan persembunyian Nabi Isa di Jaat-Asmani (bukit Zaitun) pada malam Jumat, ketika Nabi Isa as sedang bermunajat kepada Allah SWT agar terhindar dari kebiadaban kaumnya. Atas izin-Nya, Allah menyerupakan rupa Yudas dengan Nabi Isa sehingga ia ditangkap dan dihukum salib.

Yahudza pun mati di tiang salib. Kematiannya disaksikan oleh seluruh penduduk Ur-Salim (Yerusalem). Tanah yang menjadi tempat pelaksanaan eksekusi matinya disebut Haikal Damah (Kuil Darah) atau bukit Julajah (bukit Tengkorak).

Jumlah Hawariyun tinggal sebelas. Para Hawari yang tersisa selanjutnya memilih penggantinya. Satu nama akhirnya terpilih, yaitu Matiyah. Maka, ia selanjutnya ditetapkan menjadi Hawari ke-12 pengganti Yudas.

Para Hawariyun kembali berkarya. Mereka menyebar ke seantero tempat dimana Bani Israil tersebar. Ternyata, masyarakat Bani Israil yang ada berada di dalam kondisi terpinggirkan. Agar fokus penegakkan risalah Nabi Isa tidak terganggu, selanjutnya para Hawariyin membuat kebijakan dengan menunjuk 7 sahabat lain (di luar mereka) agar berkonsentrasi untuk mencari solusi atas permasalahan sosial tersebut.

Bani Israil berhadapan dengan kaum Yahudi. Di antara kaum Yahudi yang menentang, ada seorang yang paling memusuhi dakwah Nabi Isa as, yaitu Sya’ul at-Tarsis. Ia mengagendakan pembantaian seluruh Hawariyun. Bersamaan dengan itu, Sya’ul mengkondisikan rakyat jelata agar mempercayainya sebagai Hawari ke-13 yang mendapatkan amanah melanjutkan risalah Nabi Isa as.

Lalu Sya’ul menggagas ide kekristenan dengan cara mengatur segala atribut keagamaan Kristiani dan melembagakan paham Salibiyah di dalam gereja-gereja buatannya. Ia memiliki beberapa murid kepercayaannya yaitu Syilas dan Lukas. Lukas adalah tangan kanan Sya’ul yang paling masyhur. Ia adalah seorang tabib yang dipercaya merawi kisah kehidupan Nabi Isa as. Riwayatnya kemudian diakui gereja dan dikenal sebagai Injil Lukas. Ia pun merawi perjalanan dakwah Hawariyyun, namun tidak objektif karena mengedepankan paham Sya’ul dari pada kebenaran ajaran Hawari sebenarnya.

Bersama para tangan kanannya, Sya’ul menulis surat yang bertujuan melakukan dominasi pemahaman sesuai versinya. Surat-surat tersebut ia berikan kepada jama’at ar-Rum (Roma), Korintus, Galatia, Efisus, Kolusye, Filifia, Tesaloni, dan Ibrani dengan pendekatan ketokohan. Mereka menerimanya. Dengan demikian, ajaran Nabi Isa berikutnya dimonopoli oleh Sya’ul yang melembagakan semua idealisme dan keinginannya dalam bentuk ajaran yang dikenal dengan nama Nasrani. Ajaran Nasrani inilah yang berikutnya terus bertransformasi menjadi ajaran resmi di seluruh daerah kekuasaan kekaisaran Romawi. [4]

Wallahu a’lam Bisyawwab. 

[Sumber: Imron Mocha (2009) | 2. Ust. Edu (2020) | Daarut Tauhid]

CATATAN KAKI
[1] Kendati isinya dipastikan tidak sama, namun 180 tahun kemudian, nama Yahya Bin Zabdiya diam-diam dinisbatkan oleh para bapa gereja kekristenan awal pada salahsatu dari 4 injil kanonik yang sebelumnya tidak pernah diketahui siapa penulisnya, menjadi Injil Yohanes. Ini adalah salahsatu cara tidak terpuji yang digunakan oleh para bapa gereja untuk mengelabui pengikutnya bahwa injil tanpa nama tersebut seolah-olah adalah karya sahabat nabi Isa as.    
[2] Untuk alasan yang sama, nama Mattaya Al-Lawiya juga mengalami nasib yang sama dengan nama Yahya Bin Zabdiya yang digunakan untuk menamai salahsatu dari 4 injil kanonik yang sebelumnya tanpa nama tsb menjadi Injil Matius. Lihat penjelasan untuk [1] dan [2] di sini.
[3] Tentang Injil Barnabas, lihat penjelasan di sini dan di sini
[4] Bagaimana Syaul At Tarsis membelokkan ajaran murni nabi Isa as sehingga sesuai dengan keinginannya, simak beberapa catatan tentangnya di sini.



Wednesday, December 1, 2010

Mimpi Bertemu Yesus Kristus dan Isa Almasih Wednesday, December 1, 2010

Kisah berikut ini adalah pengakuan dari seorang mantan misionaris Muda bernama Paulus F. Tengker sebagai bahan perenungan bagi pembaca, khususnya umat Islam. Kisah lengkapnya; Pengakuan Pemurtad Yang Murtad, dapat diikuti di sini.


A. Mengapa saya masuk Islam?
Keterkaitan saya kepada Islam bukan dari buku-buku yg saya baca, karena buku-buku itu tak pernah saya baca dengan sepenuh hati dan sampai tuntas, saya hanya mencari poin-poin tertentu saja. Saya masuk Islam bukan setelah bertemu atau berdiskusi dengan orang Islam, karena saya selalu menganggap dan diajarkan bahwa orang-orang Islam itu sebagai orang-orang yang hina, kotor, bodoh dan terkebelakang.

Ajaran Islam dinyatakan sebagai ajaran sesat dan umat kalau tidak kita hinakan harus kita insyafkan. Hal-hal inilah yang tertanam dalam benak saya sejak kecil hingga dewasa ini. Saya masuk Islam justru setelah mengalami suatu mimpi yang luar biasa dan beberapa kejadian keesokan harinya, yang akhirnya merubah jalan hidup saya menuju kebenaran sejati.

B. Bermimpi Yesus Kristus vs Isa Almasih
Bermula pada malam jum'at tanggal 11 January 2001 yang lalu, saya bermimpi sedang bedo'a di hadapan gambar Yesus di suatu gereja yang megah, lalu datanglah Tuhan Yesus menemui saya dengan senyum-Nya yang agung! Saya bahagia sekali, ini adalah mukjizat bagi saya.

Saya pun memandang Tuhan Yesus dari ujung rambut, sungguh mirip sekali bahkan lebih agung dibandingkan foto dan gambar Tuhan Yesus yang saya miliki. Tetapi sesaat kemudian datang menghampiri kami seorang pria berwajah Arab Palestina mirip Yahudi atau Israel.

Dia berkata: "Kalian ini siapa?"
Saya menjawab:  "Saya seorang domba yang sedang bertemu Tuhannya!"
Orang Yahudi tersebut bertanya:  "Mana Tuhannya?"
Tuhan Yesus menyela:  "Akulah Tuhan Yesus, Juruselamat Umat Manusia dan Dunia, siapa engkau wahai pria asing?"
Pria Yahudi itu berkata:  "Aku Isa Al Masih dan Engkau bukanlah diriku!"
Saya menyela:  "Wahai engkau orang Yahudi ataukah Arab, janganlah kamu berbuat begitu pada Tuhanku!"
Pria Yahudi itu berkata:  "Kalau begitu buktikanlah bahwa kamu adalah Yesus atau Isa as sebenarnya."
Tuhan yesus berkata:  "Engkau akan kujadikan domba hina karena telah menghina Tuhanmu!"

Lalu Tuhan Yesus memejamkan mata dan sungguh ajaib! Dari tangannya keluar mukjizat besar api dan dia menyemburkan api tersebut kepada pria Yahudi tersebut.

Pikir saya, pria Yahudi itu akan binasa karena telah berani menghina Tuhan Yesus saya. Namun keajaiban kedua terjadi, ternyata pria Yahudi yang mengaku Isa Al Masih  itu tidak apa-apa dan malah tersenyum, bahkan kemudian api itu malah menyembur kepada Tuhan Yesus, lalu Tuhan Yesus menjerit kesakitan dan berubah wujudnya.

Kedua telinganya memanjang dan dari mulutnya keluar gigi taring dan dari belakang tubuhnya keluar ekor, wajahnyapun berubah mengerikan. lalu salah satu tangannya mendadak memegang sebuah tombak seperti garpu! Tuhan Yesus yang saya lihat dalam mimpi itu berubah menjadi Iblis! Yesus yang telah berubah wujud menjadi Iblis itu lari terbirit-birit. Gereja megah tempat saya berdoa tiba-tiba menghilang menjadi gurun tandus.

Saya kaget dan tidak percaya dengan kejadian ini. Kemudian saya bertanya kepada pria Yahudi tersebut. Ia menjawab bahwa Ia adalah Isa Al-Masih, hamba Allah, Rasul Allah yang ke-24.

Saya berkata lagi kepadanya, "Bukankah engkau sudah mati di kayu salib dan berkorban demi menebus dosa umat manusia?"

Isa Al Masih mengatakan kepada saya bahwa bukan seperti itu kejadiannya. Jadi selama ini saya telah terpedaya iblis. Saya berkata lagi, jadi iblis tadi itu?  jadi selama ini ....... ?

Nabi Isa Al Masih kemudian menukas, "Sudahlah, maukah engkau saya tunjukkan kebenaran Ilahi sejati? Tetapi siapkah engkau berkorban banyak; engkau akan kehilangan pekerjaan, hidup miskin, kehilangan teman dan dibenci banyak orang?" 

Saya mengangguk bersedia.
Kemudian pria Yahudi itu mengucapkan salamnya sebagaimana salam orang Islam lalu pergi .

Saya terbangun, saya pikir ini hanyalah mimpi. Tetapi kemudian saya merenungi apa makna mimpi itu? Kemudian saya buka-buka buku Islam yang saya miliki. Tiba-tiba saja saya menemukan banyak hal yang belum saya temui. Tapi saya belum yakin benar.

C. Diskusi dengan Ustadz
Ketika hendak pergi ke sekretariat gereja, mendadak mobil saya mogok di depan sebuah masjid, saya kaget, mengapa mobil saya tiba-tiba mogok di depan masjid? Saat saya tidak mengerti hal itu, tiba-tiba datang seorang pria yang menghardik saya dan meminta dompet dan HP saya. Saya kaget dan takut. Lalu saya berlari ke dalam masjid tersebut. Setelah itu saya tidak tahu apa-apa lagi (Jatuh Pingsan).

Menurut bapak pengurus masjid itu saya baru saja pingsan. Kemudian saya pulang dan tidak jadi ke gereja. Tiga jam kemudian saya balik lagi ke masjid tersebut. Saya lalu ikut pengajian yang di pimpin bapak tua itu. Disaksikan banyak jamaah saya berdiskusi dgn bapak tua itu.

Ternyata diskusi berlanjut hingga seminggu lamanya mengenai Islam dan Kristen. Dari diskusi itu saya baru mengetahui bahwa kitab suci saya telah mengalami perubahan dan revisi.

Kemudian saya berdiskusi dengan teman-teman se-gereja, mereka kaget dengan perubahan sikap saya, mereka malah menyatakan saya telah kena guna-guna dan roh jahat dari guru ngaji dan buku-buku islam yang saya miliki. Oleh karena itu mereka kemudian melakukan upacara pengusiran roh jahat dari rumah dinas saya, sikap mereka sanagat kontras dengan sikap bapak tua dan jamahnya.

D. Saya Memeluk Islam
Dengan peristiwa ini, saya yakin bahwa agama saya ini sesat. Dan saya harus segera mengambil keputusan. Akhirnya melalui pertimbangan yang matang dan menimbang segala resikonya, saya mantapkan diri untuk masuk Islam pada tanggl 21 Januari 2001 jam 10.00. saya berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya mengganti nama menjadi Rachmad Hidayat.

Keputusan saya ternyata mendapat pertentangan. Orang tua saya murka dan saya tidak diakui sebagai anak lagi oleh mereka. Semua fasilitas gereja saya kembalikan. Tapi oleh gereja saya dinyatakan sebagai pencuri inventaris dan dilaporkan ke polisi.

Saya kemudian mendapat bimbingan dari Bapak tua yang ternyata adalah seorang ustadz dan ketua masjid. Saya terus belajar Islam. Untuk biaya hidup saya kemudian berusaha kecil-kecilan. Saya bahagia dalam keislaman saya, walau hidup pas-pasan.

[Sumber: al-Islahonline]

Contact Form

Name

Email *

Message *