Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Nabi Ibrahim. Show all posts
Showing posts with label Nabi Ibrahim. Show all posts

Tuesday, August 25, 2020

Miskonsepsi Kisah Petualanga Nabi Ibrahim AS Mencari Tuhan Tuesday, August 25, 2020

Al-Quran mengisahkan bagaimana pada suatu masa Nabi Ibrahim AS pernah melakukan petualangan mencari Tuhan, dan oleh sebagian orang -- termasuk oleh sebagian umat Islam sendiri -- kisah tsb dipahami secara keliru dengan asumsi bahwa Bapak Tauhid umat manusia tsb pernah Atheis, bahkan pernah Musyrik karena dianggap telah menuhankan Bintang, Bulan, dan Matahari yang dikiranya adalah Tuhan.

Saat melihat Bulan di malam hari dan Matahari di siang hari, beliau mengira itulah Tuhannya. Namun, ketika tiba waktunya Bintang, Bulan, dan Matahari itu masing-masing meredup dan tenggelam di balik bumi, beliau merasa kecewa. Kecerdasannya mengatakan bahwa Tuhan tentu tidak pernah meredup, tenggelam atau kehilangan jatidiri-Nya. Kemudian beliau pun mulai berpikir bahwa benda-benda langit yang tadinya beliau pikir adalah Tuhan tsb tentu ada penciptanya. Karena itu beliau pun mulai mencari Tuhan yang diyakininya pasti lebih dahsyat daripada Bintang, Bulan, dan Matahari, hingga akhirnya menemukan Allah Subhanahu Wata'ala, Tuhan sejati pencipta Bintang, Bulan, dan Matahari yang kemudian diyakininya sebagai satu-satunya Tuhan yang benar, Tuhan yang tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya!

Namun sebagaimana dipahami oleh sebagian orang, bahkan oleh sebagian intelektual, kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan tsb dianggap mengisyaratkan suatu keadaan di mana beliau beriman dengan cara lebih dahulu berpikir; "siapa yang berhak untuk dijadikan sebagai Tuhannya"

Hal ini karena kisah Nabi Ibrahim AS mencari Tuhan mengillustrasikan seolah-olah beliau pernah tidak bertuhan -- atau kebingungan mencari Tuhan -- bahkan Musyrik karena "melafadzkan" ketuhanan Bintang, Bulan, dan Matahari.

Kenyataan yang sebenarnya tidak demikian. Kisah Bapak Tauhid sekaligus Bapak Para Nabi tsb sesungguhnya mewariskan pelajaran penting bagi umat manusia tentang kemahakuasaan Allah Subhanahu Wata'ala.

Cermati dan pahamilah makna firman Allah berikut:

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS Al-An'am:75)

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ''Inilah Tuhanku''. Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, ''Aku tidak suka kepada yang terbenam.''  (QS Al-An'am:76)

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
“Lalu, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ''Inilah Tuhanku.'' Tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, ''Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'' (QS Al-An'am:77)

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ''Inilah Tuhanku, ini lebih besar. Tetapi, ketika matahari terbenam, dia berkata, ''Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri apa yang kamu persekutukan.'' (QS Al-An'am:78)

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS Al-An'am:79)

وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
“Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, ''Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (QS Al-An'am:80)

Dalam terjemahan ayat-ayat di atas, yang sangat perlu untuk digarisbawahi adalah kalimat ''Inilah Tuhanku" (hadza Rabbi). Kalimat itulah sumber kesalapahaman di antara umat manusia. Padahal, kata hadza rabbi (inilah Tuhanku) bukan bermakna ikhbar (pernyataan), melainkan istifham atau istifham taubikhi (pertanyaan untuk menyangkal). Jadi, kalimat ''inilah Tuhanku'' semestinya ditulis dan dipahami sebagai ''inikah Tuhanku?''

Imam Abu Hayyan al-Andalusi (W. 745H/1345M) menjelaskan perkara tsb dalam kitab tafsirnya An-Nahrul Mad:
''Perkataan Nabi Ibrahim, hadza rabbi, bukanlah pernyataan keyakinan bahwa bintang (zahrah), bulan (alqamar), dan matahari (alshams) adalah Tuhannya. Hal ini diibaratkan seperti ketika kalian melihat orang lemah yang tak mampu berdiri, lalu berkata hadza nashiri; inikah penolongku?''.

Jadi, benarkah nabi brahim AS pernah musyrik menuhankan Bintang, Bulan, dan Matahari?
Jawabnya, "TIDAK!

Allah punya cara tersendiri dalam memperkenalkan jatidiri-Nya kepada nabi Ibrahim AS seperti tersirat dalam QS. Al-An'am: 75 di atas. Dan pada gilirannya cara Allah tsb telah mengantarkan Bapak Tauhid seluruh umat manusia itu pada keyakinan tak tergoyah tentang Allah Subhananhu Wata'ala, satu-satunya Tuhan yang benar!   

Keyakinan itulah yang kemudian diwariskannya kepada umat Islam di seluruh dunia berdasarkan perintah Allah;

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ۔
"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong." (QS. al-Hajj: 78).

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS. an-Nahl: 123).

Kewajiban mengikuti millah Ibrahim ini diberlakukan sebab ia merupakan manifestasi konkrit dari agama yang sebenarnya; dinan qiyaman (agama yang benar, yang lurus). Menyelisihi millah Ibrahim, berarti menyimpang dari kebenaran, dan umat Kristen berada dalam penyimpangan tersebut.

قُلۡ إِنَّنِي هَدَىٰنِي رَبِّيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ دِينٗا قِيَمٗا مِّلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۚ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. al-An’am: 161).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.
Wallahu 'Alam Bisyawwab


Saturday, October 22, 2016

Ibadah Haji Dan Sumur Zamzam Menurut Penjelasan Para Rabbi Yahudi Saturday, October 22, 2016

Lingkaran merah, lokasi sumur zamzam tempo Doeloe.

Abraham, Abram, atau nabi Ibrahim AS diakui oleh umat Yahudi dan umat Islam sebagai seorang nabi besar. Umat Yahudi menyebut Abraham sebagai Bapak Orang Beriman, sedangkan di dalam Islam, nabi Ibrahim AS disebut sebagai Bapak Para Nabi, atau lebih spesifik lagi; Bapak Tauhid.

Berdasarkan Al-Quran dan Hadits, umat Islam meyakini bahwa selain membangun kembali reruntuhan Ka'bah bersama putranya; nabi Ismael AS, nabi Ibrahim AS dan nabi Ismael AS juga melaksanakan Ibadah haji di seputar Ka'bah, Mekkah, yang secara turun temurun kemudian dilaksanakan oleh anak cucu mereka hingga Nabi Muhammad SAW, untuk selanjutnya diteruskan pula oleh seluruh umat Islam sampai hari ini.

Kedua umat ini juga meyakini bahwa mata air zamzam yang muncul dalam kisah pengembaraan bunda Hagar dan nabi Ismael AS di padang gurun yang diceritakan dalam Torah, terletak di antara bukit Safa dan Marwah, yaitu Mekkah, yang merupakan bagian penting dalam ritual ibadah haji umat Islam (baca: Bani Ismael dan penerusnya).

Namun sebagian umat Kristen abangan, yang tidak mempelajari sejarah, buta biblikal geografy, dan tidak pernah mencermati kitabnya sendiri, mati-matian membantah hal di atas cuma karena satu-satunya alasan; bahwa di dalam kitab mereka, tidak ada tertulis Abraham pernah ke Mekkah, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dapat diterima untuk mengaitkan cerita tentang keluarga Abraham dengan mata air zam zam, Ka'bah, dan Mekkah!

Tapi benarkah demikian?
Apa kata kitab suci umat Yahudi - yang dicomot oleh para bapa gereja perdana - dan dijadikan bagian dari kitab Kristen?

“Lalu Allah membuka mata Hagar (Hajar), sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak (Ismael) itu minum, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah, maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir." (Kejadian 21: 19-21)

“Lalu malaikat Tuhan menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan Syur." (Kejadian 16:7)

“Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lachai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered" (Kejadian 16:14)”

Kendati tidak secara spesifik disebut namanya, namun dalam Mazmur kita menemukan penyebutan sebuah tempat bermata air di lembah Baka, nama lain dari Mekkah dalam banyak manuskrip kuno.

"Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion." (Mazmur 84: 4-7)
Di seluruh permukaan bumi ini, masih adakah tempat lain seperti disebutkan dalam Mazmur 84: 4-7, di mana selama berabad-abad - hingga hari ini - jutaan manusia terus berziarah ke rumah Allah dan tidak henti memuji-muji Allah, kecuali di Mekkah?
Naskah-naskah otoritatif rabbanik dan pernyataan para rabbi Yahudi sendiri juga membenarkan bahwa Lachai-Roi dalam Kejadian 16:14 adalah sumur zamzam yang terletak di Mekkah, tempat di mana setiap tahun bani Ismael dan pengikutnya melaksanakan doa-doa khusus mereka yang dewasa ini dikenal sebagai ibadah haji.

Rabbi Bachya ben Asher menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) dalam Sefer Bereshit 16:14 sebagai: 

כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם 
(ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam).

“Karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, yang sekarang disebut sumur zamzam.”

Rabbi Avraham Ben Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga menyatakan dengan tegas:

כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם 
(ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er Zamzam).

“Karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur tersebut dan  sekarang ini sumur itu dikenal sebagai sumur Zamzam.”  (Sumber: The Yeshiva Institute),

Sedangkan sumur zamzam sendiri menjadi salahsatu bukti Kekuasaan Allah Abraham, Ismael, Ishak, dan Yakob AS, karena sejak kemunculannya di hadapan Hagar; Ibunda nabi Ismael AS, sekitar 4.000 tahun lalu, hingga hari ini tidak henti mengalirkan airnya "yang penuh berkat" walaupun selama 40 abad lebih telah dikonsumsi oleh berjuta-juta manusia dari seluruh dunia, khususnya mereka yang melaksanakan ibadah haji dan Umroh ke Mekkah!

Subhanallah!
Maha Besar Allah Dengan Segala Kemahakuasaan-Nya.



Monday, August 29, 2016

Islam Adalah Kerajaan Allah Yang Dijanjikan Kepada Abraham! Monday, August 29, 2016

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." (Kejadian 12:1-2)

Inilah perjanjian Tuhan dengan Ibrahim AS, bahwa beliau akan dianugrahi sebuah bangsa yang besar, bangsa besar bukanlah besarnya jumlah anak keturunan yang dia peroleh akan tetapi kekuasaan dan wibawa yang dimiliki oleh anak keturunannya, sebuah wilayah kekuasaan, sebuah kerajaan yang dijanjikan Tuhan kepada anak cucu Ibrahim.

Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat, yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu." (Kejadian 15 :18-2)

Wilayah yang dijanjikan oleh Tuhan kepada keturunan Ibrahim meliputi semenanjung arabia yang meliputi Mesir dan wilayah sungai efrat, yang dikuasai oleh sebuah bangsa yang besar sebuah kerajaan yang menjadi wakli Tuhan dimuka bumi sebab yang dimaksud bangsa besar itu adalah sebuah bangsa yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang ditaati dan segala hukum yang dia turunkan dan jalankan.

"Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai Allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?. Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?" (Ulangan 4:6-8)

Siapakah keturunan Ibrahim yang akan diberkahi Tuhan? Jawabannya adalah Ismail dan Ishak seperti yang dikatakan didalam Bible.

Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar." (Kejadian 17:19-20)

Kata perjanjian yang kekal terhadap keturunan Ishak tentu saja adalah bagian lain dari tambal sulam dari Bible yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi untuk menjustifikasi tindakan mereka, kita akan bahas nanti. Sedangkan perjanjian kedua adalah perjanjian antara Ismail dan Tuhan bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, kesimpulan dari ayat ini adalah bahwa janji Tuhan kepada Ibrahim akan diberikan melalui keturunannya yang berasal dari Ishak dan Ismail, Tuhan akan memberikan kehormatan bagi keturunan mereka untuk menjadi wakil Tuhan dimuka bumi.

Perjanjian Tuhan dengan keturunan Ishak kembali diulang ketika Musa berhasil mengeluarkan kaum Yahudi dari tanah Mesir, Tuhan kembali mengulang janjinya bahwa kaum Yahudi akan menjadi bangsa yang besar, bangsa Yahudi adalah bangsa yang berasal dari keturunan Ishak oleh karenannya janji ini hanyalah suatu penegasan akan janji Tuhan kepada keturunan Ishak.

Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." (Keluaran 32:9-10)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya) (QS. Al-Jasiyah[45]:16)

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah[5]:12)

Tuhan kembali mengulang janjinya kepada Musa AS bahwa bangsanya, bangsa keturunan Ibrahim dari Ishak akan menjadi bangsa yang besar, dan janji itu benar bangsa Yahudi kita ketahui menguasai wilayah sekitar Palestina dimasanya, kita mengenal raja-raja Yahudi yang diberkahi Tuhan seperti Thalut, Daud, Sulaiman dan lainnya, namun perlu diingat bangsa besar itu harus memenuhi prasyarat mereka harus patuh dan taat kepada perintah Tuhan, jika mereka mulai menyimpang dari jalan yang Tuhan tentukan maka mereka akan Tuhan hancurkan dan akan Tuhan cabut dari kekuasaan yang Tuhan berikan.

Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan (Yesaya 50:11)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqarah[2]:83)

Inilah yang saya ingin tegaskan karena Yahudi telah membunuh para nabi, telah berkhianat dari tuntunan Tuhan, maka segala kemuliaan yang mereka dapatkan dari Tuhan dicabut oleh Tuhan disebabkan kejahilan yang mereka lakukan. Perjanjian yang kekal hanyalah bentuk lain dari korupsi atas perjanjian lama yang diklaim Yahudi sebagai bangsa yang Tuhan pilih sementara sebenarnya klaim-klaim mereka hanya sepihak dan Tuhan telah menegaskan bahwa kemuliaan mereka dicabut karena kejahatan yang mereka lakukan.

" ..... Jadi Aku terpaksa menajiskan pemimpin-pemimpin tempat kudus, dan terpaksa menyerahkan Yakub untuk ditumpas dan Israel untuk dinista." (Yesaya 43:28)

Sekali lagi kemuliaan Yahudi telah dihapus karena mereka membunuh para nabi, memfitnah mereka dan membuat Tuhan murka terhadap apa yang telah mereka perbuat, tidak seperti umat Islam yang mengakui nabi-nabi yang diturunkan Tuhan kepada orang-orang Yahudi. Inilah yang kemudian ditegaskan Yesus bahwa mereka telah berbuat durhaka terhadap Tuhan.

"Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau." (Matius 23:37)

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Maidah[5]:70-71)

Karena berbagai tindak penghianatan tersebut maka Yesus menyampaikan apa yang difirmankan Tuhan kepadanya, bahwa segala kemuliaan yang mereka perbuat dicabut dan akan diberikan kepada bangsa lainnya.

Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Matius 21:43)

Benar! Dikarenakan kedurhakaan mereka, maka segala kemuliaan yang mereka dapatkan akan diberikan kepada bangsa lain yang akan mendapatkan buah dari apa yang dijanjikan kepada mereka. Dari sini muncul pertanyaan sbb:

PERTAMA: siapakah mereka? Jawabnya adalah, keturunan Ismail, sang penerus estafet dari panji-panji Tuhan. Kepada keturunan Ismail Tuhan juga pernah berjanji akan membangun sebuah bangsa yang besar, sebuah kerajaan Tuhan dimuka bumi.

Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. (Kejadian 17:20)

Kaum kristiani mungkin akan menolak hal ini habis-habisan, tapi satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada mereka adalah; apa yang dimaksud sebagai bangsa yang besar yang Tuhan janjikan kepada Ismail? Mereka mungkin akan berargumentasi bahwa yang dimaksud bangsa yang besar adalah keturunan yang banyak akan tetapi perlu dicatat, bahwa Ibrahim mempunyai tujuh orang anak mengapa hanya dua orang yang disebutkan akan menjadi bangsa yang besar?

Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. (Kejadian: 25)

KEDUA: mengapa tanah Mesir dan wilayah sungai Efrat dinisbatkan kepada keturunan Ibrahim bukan kepada keturunan Ishak? kalau yang dimaksud adalah keturunan Ishak tentu Tuhan akan secara eksplisit mengatakan keturunan Ishak bukan keturunan Ibrahim.

Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat, yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu." (Kejadian 15 :18-2)

KETIGA: orang-orang Yahudi telah membunuh Nabi-nabi yang orang Islam dan kristiani percayai, sekalipun Yesus yang diturunkan kepada mereka, oleh karena itu Yesus mengatakan kerajaan Yahudi akan diberikan kepada orang lain, pertanyaan saya siapakah bangsa tersebut, dan mengapa Yesus berulang kali mengatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pembunuh para nabi dan menybutnya sebagai keturunan ular-ular?

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"."Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. (Matius 23:27-38)

Yesus mengatakan bahwa rumah bangsa Israel akan sunyi, artinya kemuliaan yang pernah diraih bangsa Yahudi dengan Yarusalem sebagai pusatnya akan hilang, akan ditinggalkan, dan akan diberikan kepada bangsa lain. Yesus mengatakan “bangsa lain”, artinya tentu saja bangsa selain Yahudi! Inilah yang Yesus tegaskan, bahwa kemurkaan Tuhan membuat segala kemuliaan bangsa Israel lenyap.

Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Matius 21:43)

Kita bertanya sekali lagi kepada umat kristiani, siapakah bangsa itu? Silahkan cari di Bible atau sejarah Umat kristiani sendiri, bangsa mana yang diberkahi Tuhan sebagai ganti bangsa Yahudi, Lalu kita bertanya lagi apakah ini artinya janji Tuhan kepada Ibrahim bahwa akan memberikan tanah Mesir sampai wilayah sungai Efrat tidak terpenuhi ? Mungkin orang-orang kristiani akan bersikeras bahwa janji Tuhan itu belum terwujud, dan memang wilayah Mesir sampai wilayah sungai Efrat akan diberikan kepada Yahudi, dan itu akan segera terwujud, sehingga sebagian negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama kristiani membantu penjajah Israel untuk menancapkan kuku-kukunya diwilayah yang “dijanjikan” tersebut, namun pertanyaan pentingnya adalah apakah mereka akan menghianati perkataan Yesus, yang mengatakan bahwa mereka akan tetap terkutuk selama mereka tidak mengakui dan menyesali perbuatannya terhadap nabi-nabi yang mereka bunuh? Bahkan sampai kini Kaum Yahudi tidak pernah mengakui Yesus, apakah kaum kristiani akan membantu dan mengakui kaum yang membunuh para nabi dan yang mengatakan Yesus seorang pendusta? Tentu saja mereka dihadapkan diantara dua pilihan mengakui bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan dan menghianati Yesus dan segala perkataannya, atau mengambil pilihan yang realistis rasional dan menetapkan bangsa besar dari keturunan Ismail, bangsa yang menghormati para nabi dan menjunjung tinggi Yesus sebagai bangsa yang memang dijanjikan Tuhan sebagai pemegang amanat sah wakil Tuhan dimuka bumi.

Kita biarkan dulu kaum Kristiani yang sedang berpikir keras sebelum kita ajukan argumen-argumen yang menguatkan bahwa memang keturunan Ismail adalah keturunan yang Tuhan janjikan sebagai pemegang estafet dari bangsa yang mewakili Tuhan dimuka bumi. Alasannya adalah:

Pertama, bahwa memang keturunan Ismaillah yang memang menguasai wilayah dari Mesir hingga wilayah sungai Efrat, bangsa Yahudi memang pernah berkuasa namun kekuasaannya hanya terbatas didaerah sekitar Palestina, sementara Mesir tidak pernah dikuasai oleh bangsa Yahudi, oleh karena itu bangsa arab sebagai keturunan dari Ismail yang memang menguasai Mesir dan wilayah sungai Efrat adalah janji Tuhan kepada Ibrahim.

Memang para orientalis meragukan bangsa arab adalah bangsa yang berasal dari keturunan Ismail, diantaranya Sam Shamoun dari situs Answering-Islam yang menyatakan bahwa Bangsa Arab tidak memiliki hubungan dengan keturunan Ismail. Tapi berbagai fakta dan penelitian membuktikan bahwa bangsa Arab memang keturunan dari Ismail diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Harry Ostrer, direktur program genetik manusia pada Universitas Kedokteran New York yang melakukan penelitian tentang kromosom Y di dua puluh sembilan negara dengan melibatkan 1371 laki-laki, misalnya dengan tegas menyatakan bahwa bangsa Arab dan Yahudi memang berasal dari satu nenek moyang Ibrahim.

“Yahudi dan Arab semuanya benar-benar keturunan Abraham dan semua memelihara akar gen timur tengah mereka selama 4000 tahun” [1]

ABC news juga pernah menayangkan hasil penelitian yang menyatakan bangsa Arab dan bangsa Yahudi berasal dari satu keturunan hal ini tidak hanya berdasarkan kesamaan genetis akan tetapi budaya dan bahasa.

"Mereka menemukan bahwa kelompok Yahudi dan Arab – mereka semua adalah bangsa semit – ini berdasarkan realitas genetis, sejarah dan bahasa .. " [2]

Kedua, kenapa bangsa Arab sebagai keturunan Ismail memang dijanjikan Tuhan diberikan kerajaan Tuhan di muka bumi adalah bangsa Arab yakni kaum Muslimin adalah bangsa yang selalu memuji dan mendoakan Ibrahim ayah Ismail, sedangkan Yahudi bangsa yang mengutuk Ibrahim. Sedangkan diayat selanjutnya menyatakan bahwa bangsa yang besar itu adalah bangsa yang diberkati karena memberkati Ibrahim.

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian: 12:2-3)

Kita tahu kaum muslimin selalu memuliakan Ibrahim, dan minimal lima kali sehari kaum muslimin selalu membacakan doa keselamatan bagi Ibrahim memberkatinya, sehingga kaum muslimin layak dan pantas disebut bangsa yang diberkati. Sekarang bagaimana dengan bangsa Yahudi?, kita tahu bangsa Yahudi adalah bangsa yang selalu menghina para nabi bahkan Yesuspun mengatakan demikian, dan bagaimana dengan Ibrahim ?, Bangsa Yahudi menuliskan didalam kitabnya bahwa Ibrahim menikahi saudaranya sendiri.

Lalu Abraham berkata: "Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku.Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.” (Kejadian 20:11-12)

Tapi dipihak lain Tuhan mengutuk lelaki yang meniduri atau menikahi saudaranya sendiri, baik yang berasal dari ayahnya maupun ibunya.

Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah atau anak ibunya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (Ulangan 27:22)

Apa artinya semua ini? Artinya adalah bangsa Yahudi mengutuk Ibrahim, sebab Ibrahim menikahi saudara perempuannya sendiri. Kaum muslimin tidak pernah mengatakan ataupun mempercayai Ibrahim AS menikahi saudaranya sendiri, sehingga kaum muslimin tidak pernah mengutuk Ibrahim, konsekuensi dari ini semua adalah bangsa Yahudi adalah bangsa yang dikutuk karena mengutuk Ibrahim sementara kaum muslimin adalah bangsa yang diberkahi sebab memberkati Ibrahim, logika ini sangat realistis dan sangat bisa diterima.

Ketiga, sebelum mengatakan bahwa kerajaan akan dicabut dari orang Yahudi dan diberikan kepada bangsa lain Yesus mengingatkan nubuat tentang batu yang tertulis diperjanjian lama.

Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Matius 21:42-43)

Nubuat itu memang tertulis didalam perjanjian lama didalam kitab Mazmur yang berbunyi:
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! (Mazmur: 118:22-24)

Batu itu adalah kiasan dari seseorang yang akan dijanjikan, mengapa karena dalam Mazmur 24 dikatakan bahwa ketika batu yang dibuang itu menjadi batu penjuru maka disaat itulah hari yang dijanjikan Tuhan terwujud dan semua orang akan bersuka ria karenanya. Sedangkan makna tukang-tukang bangunan adalah kaum Yahudi yang tidak mengakui kedatangan Muhammad Saw sebagai batu yang menyempurnakan bangunan tersebut, namun tetap saja Allah tuhan semesta alam menjadikan dia sebagai batu penjuru sebagai batu penyempurna bangunan tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah: Rasulullah SAW berkata: “perumpamaan aku dibandingkan dengan Rasul-rasul lainnya adalah seseorang yang telah membangun rumah bagus dan Indah, kecuali pada satu tempat batu bata di sudutnya. Orang terpesona dengannya dan heran akan keindahannya, akan tetapi berkata : ‘Seandainya batu bata itu ditaruh ditempatnya’, jadi akulah batu bata tersebut, dan akulah Rasul terakhir”[3]

Betul Muhammad SAW keturunan Ismail janji Tuhan kepada Ibrahim adalah batu bata terakhir tersebut, inilah mengapa Yesus mengingatkan perumpamaan tersebut kepada bangsa Yahudi, lalu melanjutkannya dengan kalimat kerajaan Allah akan diambil dari mu dan diberikan kepada bangsa lain, secara implisit Yesus mengatakan bahwa bangsa yang menggantikan itu adalah bangsa yang mempunyai pemimpin yang diramalkan oleh perjanjian lama, pemimpin yang merupakan batu bata terakhir dari bangunan kerajaan Allah dimuka bumi.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah[5]:3)

Muhammad SAW adalah penyempurna batu penutup sehingga bangunan itu sempurna bangunan kerajaan Allah dimuka bumi, bangunan itu adalah Islam, janji Allah kepada Ibrahim, agama yang memuliakan para nabi, serta membela dan mendoakan mereka karena mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari bangunan ini.

Maka dari itu kembalilah kepada Islam kerajaan Tuhan dimuka bumi yang dijanjikan Yesus, Isa AS, dan raihlah keselamatan bersama dengannya.
Wallahu A’lam Bishawab

CATATAN KAKI:
[1] The Times (9 May 2000), Jews and Arabs United by Genes, The Journal of Babylonian ExilArch [Online Document]
[2] ABCNews, Jews and Arabs Share The Same Genes [Online Document]
[3] Sahih Al Bukhari: Volume 4, Book 56, Number 735

Sunday, June 1, 2014

Bukti Nabi Ibrahim Hidup Sejaman Dengan Raja Nimrod Sunday, June 1, 2014

Atas nama kepentingan Kristen, seorang Duladi menggugat Al-Qur'an begini:
Dongeng mengenai Abraham dilepaskan dari kobaran api Nimrod berasal dari Midrash Rabbah (lihat Surat 21: 51-71; 29: 16, 17; 37: 97,98).
Perlu diketahui bahwa Nimrod dan Abraham tidak hidup pada waktu yang bersamaan. Muhammad selalu mencampuradukkan sosok orang-orang di dalam Alquran, padahal sosok-sosok tersebut tidak hidup pada waktu yang bersamaan.
Membaca klaim di atas, mari kita tunjukkan padanya betapa bodoh sebetulnya pernyataan di atas!

Nabi Ibrahim memang Hidup Sejaman dengan Raja Nimrod


Raja Namrud (Nimrod) memang hidup pada jaman Ibrahim. Raja Nimrod berkuasa di Babylonia dan karenanya disebut juga sebagai Raja Babel. 

Pertama-tama mari kita lihat dulu dari sejarah Nabi Ibrahim. Menurut Al Qur'an, keturunan Ibrahim adalah yang diebut di bawah ini:

"Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".  (QS. 2.133)

Nabi Ibrahim memperanakkan Ismael dan Ishak. Ishak memperanakkan Yakub


Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam Jadi keturunan Ibrahim ialah Ismail dan Ishaq. Ishaq memperanak kan Yakub. (QS. 2.132)

Mari kita lihat pula kitab Injil.

[Matius 1:2]  Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya. Lalu kita lihat usia kematian Ibrahim.
[Kejadian 25:7] Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun,  

Sekarang, kita baca sekali lagi sejarah Raja Namrud.

Menara Babel 


Menara Babel yang dalam bahasa Ibrani adalah Migdal Bavel serta dalam bahasa Arab diebut Burj Babil merupakan bangunan raksasa yang dibangun di kota Babilonia, tepatnya di masa pemerintahan Raja Namrud. Menara tersebut adalah manifestasi dari keangkuhan dan kepongahan seorang Raja manusia terhadap penguasa alam semesta karena bangunan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan satu pikiran, satu tujuan, dan satu dunia di bawah pemerintahannya, tepatnya sebagai "New World Order" 


Pembangunan sebuah kota, seperti yang dilakukan Raja Nimrod kala itu, melambangkan dambaan manusia untuk terus berkumpul. Mereka, ketika itu, takut tercerai-berai dan hidup di tempat yang belum mereka kenal berhadapan dengan bahaya. Karena itu, didirikanlah sebuah kota Babilon dan Ninive sebagai pusat segala kegiatan dan tempat untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi, ketika mereka membangun menara dengan mengatakan, "Marilah kita cari nama, marilah memegahkan diri", di saat itulah kesombongan manusia berkuasa. Menara dibangun untuk kebutuhan badan, jiwa, dan semangat. Bahkan, mereka ingin membangun menara yang mencapai langit. Kalau perlu dapat memanah Matahari dari puncak menara. Pendek kata, menara dibangun untuk pemuasan diri. Inilah, yang menurut kisah, yang menjadi kemudian menjadi penyebab turunnya hukuman dari Tuhan sehingga mereka tercerai-berai dan tidak dapat memahami bahasa mereka satu sama lain. 

Sindrom Menara Babel itu pula, yang menurut para sejarawan, merasuki Nebuchadnezzar II, yakni dengan membangun Taman Gantung dan Menara Babel di kompleks istananya. Ia membangun kompleks istana begitu megah, yang sekarang sisa-sisanya masih bisa dilihat, dan memerintah dengan tangan besi.Babilon di zaman Nebuchadnezzar II, yang memerintah pada tahun 605 SM-562 SM, mencapai masa keemasan. 

Lalu kita caritahu lagi dari Bibel, siapakah Raja Babel tersebut?
[2Raja Raja 24:12] Lalu keluarlah Yoyakhin, raja Yehuda, mendapatkan raja Babel, ia sendiri, ibunya, pegawai-pegawainya, para pembesarnya dan pegawai-pegawai istananya. Raja Babel menangkap dia pada tahun yang kedelapan dari pemerintahannya. 

[Yeremia 37:1] Zedekia bin Yosia menjadi raja menggantikan Konya bin Yoyakim; Nebukadnezar, raja Babel, telah mengangkat dia menjadi raja atas negeri Yehuda.

[Ester 2:6] yang diangkut dari Yerusalem sebagai salah seorang buangan yang turut dengan Yekhonya, raja Yehuda, ketika ia diangkut ke dalam pembuangan oleh raja Nebukadnezar, raja Babel.

[Yeremia 29:22] sehingga dari keadaan mereka akan dijadikan suatu kutuk oleh semua orang buangan dari Yehuda yang ada di Babel, demikian: Biarlah TUHAN memperlakukan kamu seperti Zedekia dan Ahab yang telah dipanggang oleh raja negeri Babel di dalam api! 

Siapakah Yehuda? Mari kita lihat silsilah Nabi Ibrahim sekali lagi.

[Matius 1:2] Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya. 

Kelahiran Nabi Ibrahim 


Perjanjian Lama kemungkinan besar merupakan sumber paling detail dalam hal-hal yang berkenaan dengan Ibrahim, meskipun banyak di antaranya yang mungkin tidak bisa dipercaya. Menurut pembahasan dalam perjanjian lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, yang merupakansalah satu kota terpenting  saat itu yang berlokasi di timur Tengah dataran Mesopotamia. Pada saat dilahirkan, nama Ibrahim bukan Abraham, tetapi "Abram". Nama tb kemudian dirubah oleh Allah menjadi Abraham menurut alkitab, atau Ibrahim di dalam Al-Qur'an. [Lebih detil, lihat di sini].

Kelahiran Raja Nimrod


Nama ‘Nimrod’ dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang bererti “membangkang atau murtad” . Dan adalah bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab. Contoh kata ”Marad” di dalam bahasa Arab ialah ”Ridda” yang bermaksud ”murtad”. 

Ketahuilah bahawa manusia pertama di muka bumi ini yang murtad dan musyrik dan kemudian mengaku sebagai Tuhan adalah Namrud! Kerajaan pertama yang tumbuh di muka bumi ini ialah kerajaan Namrud (2275-1943 SM) di Babylon (Iraq). Menurut suatu pendapat, Namrud memegang tampuk kekuasaan pemerintahannya selama 400 tahun. Dia manusia pertama yang memerintahkan agar membuat binaan-binaan besar. Dia telah membangun kota Babylon yang amat mahsyur dengan menara Babylonnya, kota Nineweh dan kota-kota lainnya. Keinginan Namrud yang ingin menguasai dunia di bawah satu pemerintahannya itulah yang kini disebut sebagai New World Order. 

Nah, jadi jelaslah kalau Ibrahim hidup sejaman dengan Nimrod (Namrud). Dan Raja Nimrod memang selalu membakar hidup-hidup siapa saja yang menentangnya.  Bacalah ini,  

[Yeremia 29:22] "sehingga dari keadaan mereka akan dijadikan suatu kutuk oleh semua orang buangan dari Yehuda yang ada di Babel, demikian: Biarlah TUHAN memperlakukan kamu seperti Zedekia dan Ahab yang telah dipanggang oleh raja negeri Babel di dalam api!  

Jadi jelaslah kalau Ibrahim juga dibakar oleh Raja Nimrod seperti apa yang di tuliskan dalam Al-Qur'an karena telah menghancurkan berhala berhala yang dibangun Nimrod. 

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (QS. 21.58).

[Yesaya 21:9] Lihat, itu sudah datang sepasukan orang, pasang-pasangan orang berkuda! Lalu berserulah ia, katanya: "Sudah jatuh, sudah jatuh Babel, dan segala patung berhalanya telah diremukkan dan bertaburan di tanah." 

Jadi jelas lah kalau Ibrahim itu hidup dijaman Nimrod dan Ibrahimlah yang menghancurkan semua berhala berhala sesembahan Raja babel Nimrod tersebut. 
Lantas, kenapa anda masih tidak belajar ejarah dari kitab sendiri sebelum mempersoalkan kebenaran dalam kitab Al-Qur'an?


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Saturday, July 6, 2013

Tuhan Ingkar Janji? Saturday, July 6, 2013


Lagi, ayat-ayat "sangat mencurigakan" dalam alkitab!

TUHAN INGKAR JANJI?

Ah, Mustahil! Mana mungkin Tuhan ingkar janji?

Baiklah!
Jika kita sepakat bahwa MUSTAHIL Tuhan ingkar janji, maka mari sama-sama kita perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini.

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

Kitab yang sama ini mengisahkan bahwa Abraham memiliki dua orang anak. Lalu anak yang manakah yang dimaksud oleh Tuhan dalam perjanjian-Nya?

Jawabannya tertulis di bawah ini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Wah! Ternyata menurut kitab ini, perjanjian itu diadakan oleh Tuhan dengan anak Abram yang bernama Ishak, yang kelak akan menjadi nenek moyang bangsa Israel, dan diulang lagi seperti di bawah ini:

[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

Apakah kemudian kitab ini membuktikan bahwa perjanjian tsb benar-benar dipenuhi oleh Tuhan?

Begini faktanya:


Jika anda benar-benar memperhatikan peta geografis yang dimaksud dalam perjanjian di atas, maka kita segera tahu bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini tidak ada satupun negeri dari keturunan Ishak [Israel] yang menguasai wilayah dari Mesir hingga sungai Eufrat.

Bahkan di masa puncak kejayaan bangsa Israel yang mampu membagun kerajaan terbesarnya di bawah pemerintahan Daud hingga Solomon sekalipun, ternyata wilayah yang dikuasainya hanya sebatas pojok sebelah utara mesir, dan luasnya pun tidak lebih besar dari luas pulau Jawa!

Dan silahkan anda yang kristen kaget barang sejenak -- atau kejang-kejang sekalian -- saat menyadari fakta yang ada, bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini seluruh wilayah dari Mesir hingga Sungai Efrat tsb nyatanya dipenuhi oleh bangsa-bangsa Arab keturunan Ismael!

Nah, bagaimana ini? Kenapa Tuhan kok ingkar janji? 
Sampai di sini, sekali lagi, pasti anda akan bilang;

"Ah! Mustahil Tuhan ingkar janji!"

Dengan demikian kita perlu mulai serius memikirkan bahwa jika memang mustahil, pasti ada yang "tidak beres" di sini!

Tapi kira-kira apa yang tidak beres itu? 

  1. Mungkin tulisan ini salah menafsirkan informasi dari alkitab? 
  2. Mungkin alkitab yang dijadikan rujukan salah menuliskan informasinya? 
  3. Mungkin informasi alkitab sebenarnya tidak salah, tapi para editornya telah dengan sengaja mengganti nama-nama yang dimaksud dalam perjanjian tsb? 

Dapatkah anda tolong bantu mencaritahu perihal temuan fakta alkitabiah yang 'sangat mencurigakan' ini?

Jika dapat, maukah anda untuk selanjutnya menjelaskan kepada kami duduk perkara yang sebenarnya berikut bukti-bukti empiris yang mendukung penjelasan anda?

Monggo, silahken.

    [Sumber: xucinxgaronx | Islam Menjawab Fitnah]

    Simak penjelasan tuntas tentang FAKTA MEMALUKAN alkitab ini di sini:



    Thursday, May 16, 2013

    Hagar, Ibunda Ismael Bukan Budak, Tapi Putri Kerajaan Mesir Thursday, May 16, 2013


    Dalam tulisan yang terdapat di Targum oleh seorang Rabbi (pendeta Yahudi) yang termasyhur, Salomon bin Ishak (1040-1105) dari Troye (= Ilion = Pergame; sekarang Hissarlick di Turki): 

    "Hagar adalah puteri dari Firaun yang ketika melihat aneka mu'jizat dari pihak Sarah, berkata: lebih baik untuk anak perempuan saya menjadi keluarga dalam rumah (Ibrahim)," sehingga diangkatnya Ibrahim menjadi menantunya. 

    Targum (Tafsir Taurat) berisi kitab-kitab sejarah dan kitab Para Nabi. Kebiasaan membacakan Kitab Suci kepada jemaat di synagoge dengan diikuti uraian secara lisan dalam bahasa Aram (bahasa pribumi) mulai berkembang pada abad-abad akhir Sebelum Masehi.

    Bahasa Ibrani makin kurang dikenal khalayak ramai sebagai bahasa lisan, maka mereka perlu dilengkapi dengan tafsiran teks Kitab Suci dalam bahasa yang sungguh-sungguh mereka fahami, jika mereka diharapkan untuk mengerti apa yang dibacakan kepada mereka. Rabbi yang bertugas untuk memberikan uraian lisan ini disebut methurgeman (penerjemah atau penafsir) dan uraiannya itu disebut Targum.

    Rabbi Salomon bin Ishak menyatakan: Hagar adalah puteri dari “Firaun”, dikarenakan pada waktu itu belum ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya Dinasti Fir'aun pernah "disela" selama 150 tahun oleh Dinasti Raja-Raja Hyksos. Dalam Al-Quran disebutkan Nabi Yusuf AS berhadapan dengan Malik, bukan Fir’aun: Raja berkata "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus."

    Sedangkan Nabi Musa AS berhadapan dengan Firaun, dan Fir'aun berkata: "Datangkanlah kepadaku semua Ahli-ahli sihir yang pandai!" Maka tatkala Ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.” Bandingkan dengan Bible yang tidak mengenal Penguasa Mesir Kuno selain dari Dinasti Fir’aun: 

    [Kejadian 41:4] Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun.

    [Keluaran 7:11] Kemudian Firaun pun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka.

    Bagi ummat Islam tentu tidak perlu bukti pendukung tentang Dinasti Fir'aun, Penguasa Mesir Kuno, pernah digantikan oleh Dinasti Raja-Raja Hyksos selama 150 tahun. Tetapi bagi yang non-Muslim tentu saja membutuhkan rujukan arkeologis. 

    Rahasia membaca tulisan Mesir kuno Hieroglyph, pada akhirnya berhasil dipecahkan oleh Jean Francois Cahampollion (1780 - 1832). Sehingga dengan terbacanya lambang-lambang hieroglyph tsb, maka terkuaklah sejarah Mesir Kuno dengan sejelas-jelasnya. Antara lain sejarah Dinasti Hyksos (Al-Malik = Raja Gembala) dari Kan'an yang menaklukkan Mesir dan menumbangkan Dinasti Fir'aun.

    Dinasti Hyksos menguasai Mesir selama kurang lebih 150 tahun, yakni mulai 1700-1550 SM. Dinasti Raja-Raja Hyksos, sebagai dinasti XV dan XVI mendapatkan legitimasi dalam Dokumen Hieroglyph yang tertera dalam Daftar Penguasa Mesir di Turin, sekitar tepi danau Manzala di mana terdapat reruntuhan kota Tanis. Kota ini pernah menjadi kota pelabuhan yang makmur. Tidak jauh dari daerah ini terletak situs Avaris, markas angkatan perang yang dibangun oleh Hyksos, Raja Gembala atau Raja Tanah Atas.

    Disebutkan dalam tulisan Hieroglyph tsb, The Hyksos, atau The Shepherd Kings (1730 – 1580 SM) menginvasi Mesir dan menundukkan Dinasti Pharao ke-15. Sedangkan Daftar Penguasa Mesir dari Dinasty Hyksos dimulai dari Salitis - Bnon - Apachnan (Khian) – Khamudi 16th Dynasty AnatHer – UserAnat – Semqen – Zaket – Wasa – Qar – Pepi III – Bebankh – Nebmaatre – Nikare II – Aahotepre – Aaneterire – Nubankhre – Nubuserre – Khauserre – Khamure – JacobEl – Yakbam – Yoam – Apophis (Auserre Apepi) – terakhir Amu, yang ditundukkan oleh Ahmose pada 1580 SM.

    Disebutkan juga dalam Hieroglyph di situs Turin itu bawa pernah terjadi para penguasa Mesir Kuno tidak bergelar Fir'aun (Per-Ah, Phar-Aoh) melainkan "Raja" (Al-Malik). Ini menunjukkan kebenaran Al-Quran yang sudah lebih dulu menjelaskanya 12 abad sebelum rahasia huruf hieroglyph terpecahkan pada tahun 1824 atas jasa Jean Francois Champollion (1780 - 1832M).

    Dinasti Hyksos berasal dari kaum Al-'Ibriyah Al-Qadimah menerima kedatangan kepala kaum Al-'Ibriyah Al-Jadidah, yaitu Nabi Ibrahim AS yang datang ke Mesir. Nabi Ibrahim AS diterima dengan baik oleh Salitis, Raja pertama dari Dinasti Hyksos, berhubung bangsa Hyksos berasal dari kaum 'Ad, pengikut ajaran Nabi Hud AS. Selain Nabi Ibrahim AS diperlakukan baik sebagai tamu oleh Salitis, sang Raja bahkan menikahkan putrinya, yaitu Hajar (Hagar) dengan Nabi Ibrahim AS. Bangsa Hyksos ini adalah bangsa yang merubuhkan hampir seluruh kuil tempat menyembah dewa-dewa Mesir Kuno.

    Ini diberitakan oleh JOSEPHUS yang mengutip MANETHO: 

    "By main force they easily overpowered the rulers of the land, and they razed to the ground the temples of gods." Manetho, juga dikenal sebagai Manethon dari Sebennytos, adalah seorang sejarawan Mesir dan tokoh agama dari Sebennytos (Mesir purba: Tjebnutjer) yang hidup pada zaman Periode Parsi Kedua. 

    KJVR-Gen 16:3 And Sarai Abram's wife took Hagar her maid the Egyptian, after Abram had dwelt ten years in the land of Canaan, and gave her to her husband Abram to be his wife. 

    [Terjemahan LAI: Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, -- yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya]. 

    Ini antara lain salahsatu di antara sisa-sia Biblos yang masih asli, yaitu Hajar adalah isteri Ibrahim. Yang termasuk Israiliyat adalah her maid the Egyptian, maksudnya Hajar adalah orang Mesir pelayan Sarah. Ini Israiliyat yang berbau rasialis. Karena Hajar bukan Bani Israil maka derajatnya direndahkan menjadi sekadar pelayan,
    BIBEL TELAH MEMALSUKAN SEJARAH! 
    Padahal yang benar adalah: Ibrahim telah dinikahkan dengan Hajar puteri Raja Mesir Salitis dari Dynasty Hyksos. [The Hyksos (The Shepherd Kings) 1730 - 580 invaded Egypt, and conquered the Pharao Dynasty].
    Demi upaya mempertahankan pembenaran yang salah, maka segala upaya dilakukan, terutama menyesatkan manusia!

    Referensi:
    Jewish History - Hagar (Chabad.org)
    Hagar, Jewish Midras & Aggadah (Jewish Womwn's Archive) 


    [Sumber: Islam Menjawab Fitnah]



    Saturday, September 15, 2012

    Akal Akalan Yahudi Yang Dimanfaatkan Oleh Kristen Saturday, September 15, 2012


    ABRAHAM DAN PERINTAH SUNAT
    DALAM BERBAGAI DISKUSI lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, soal ritual khitan (sunat) sering dimunculkan orang, umumnya kaum Muslim mempertanyakan mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan nabi Abraham dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus? Sebab sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga melaksanakannya.

    Sebaliknya, sanggahan yang umumnya diberikan oleh Kristen adalah bahwa sunat hanya diwajibkan bagi Abraham dan keturunannya (atau kemudian dipersempit lagi menjadi kaum Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.

    Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga nabi Ibrahim.

    Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman memerintah Abraham (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya ke suatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, di situ Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Abraham

    [Kejadian 12:2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

    [Kejadian 12:7] Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu."

    Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Abraham bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.

    PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-1
    Dalam Kejadian 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Abraham:
    [Kejadian 13:14] Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,

    [Kejadian 13:15] sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.

    [Kejadian 13:16] Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.

    [Kejadian 13:17] Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu."

    Di sini janji Tuhan mulai lebih terperinci:

    1. Wilayah tersebut terbentang "sejauh mata memandang" dari posisi Abraham pada waktu itu (tanah Kanaan, sesuai Kejadian 13:12)
    2. Jumlah keturunan Abraham "seperti debu tanah banyaknya’"
    3. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Abraham.

    Namun sampai di sini kita masih bisa menyebutnya sebagai "janji sepihak" dan belum berupa perjanjian. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham baru disebut secara jelas pada Kejadian 15, setelah Tuhan memerintahkan  Abraham untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Abraham kelak, lalu dibuatlah perjanjian:

    [Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

    [Kejadian 15:19] yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,

    [Kejadian 15:20] orang Het, orang Feris, orang Refaim,

    [Kejadian 15:21] orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."

    Jadi perjanjian antara Abraham dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kejadian 15:9)

    PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-2
    Sampai di sini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. "Kekacauan" alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Abraham, yaitu antara istrinya Sarai dan "budak" perempuannya Hagar pada Kejadian 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Abraham muncul lagi pada Kejadian 17.

    [Kejadian 17:2] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

    Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian JILID-2 ini tercantum "hak dan kewajiban" kedua-belah pihak:

    [Kejadian 17:4] "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

    [Kejadian 17:6] Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.

    [Kejadian 17:7] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

    [Kejadian 17:8] Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

    Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian JILID-1, cuma di sini terlihat ada yang "menyempal" yaitu ayat Kejadian 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan? Kita bisa melihat kelanjutan ceritanya begini:

    [Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"

    [Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sarailah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

    [Kejadian 17:20] Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.

    [Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."


    REKAYASA HAK PERJANJIAN ISMAEL DAN ISHAK

    Ooo..ternyata rupanya ini menyangkut Ismail dan Ishak! Terlihat jelas adanya upaya "penggiringan" cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian JILID-1 dengan membuat perjanjian JILID-2, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat di mana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada kitab Keluaran:

    [Keluaran 2:24] Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

    Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka "giringan" selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen di sini memperikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan "tidak menghargai" perjanjian tersebut. Dalam Kejadian 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar "konstitusional" dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Abraham!

    Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian JILID-2 ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu "sunat" atau khitan.

    [Kejadian 17:9] Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

    [Kejadian 17:10] Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;

    [Kejadian 17:11] haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

    Posedur sunat diterangkan sangat jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat, dan apa konsekuensinya jika tidak disunat:

    [Kejadian 17:12] Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.

    [Kejadian 17:13] Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.

    [Kejadian 17:14] Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

    Isi perjanjian JILID-2 ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan, seperti di antaranya:

    1. Kewajiban sunat yang ditujukan pada "kamu dan keturunanmu, berada di antara kamu" menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk di dalamnya atau tidak? Di sini kelihatan seolah Tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail "katut" alias ikutan disunat juga (Kejadian 17:23, dan Kejadian 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan, kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya di sini memakai satu ayat dan membuang, atau mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.
    2. Memasukkan kalimat "dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang" ke dalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Abraham dan diberi hak atas tanah Kanaan? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Abraham dan menjadi "property"nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kejadian 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang di luar Abraham dan keturunannya (harap diingat, dalam perjanjian JILIOD-2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).
    3. Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa "burungnya" dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian (seperti kasus Esau) misalnya? Ada pendapat menarik dari netters Kristen di sini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Di sini juga muncul pertanyaan: Bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki? Apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan? Ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki, ya, tidak perlu adanya tanda sunat. Tapi bukankah dengan demikian syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).

    KOMPLIKASI di atas menunjukkan adanya keanehan pada perjanjian tersebut yang "dinyatakan" sebagai Firman Tuhan. Sebab, mustahil Tuhan akan menyatakan hal-hal yang membingungkan dan saling "tembak-menembak" di antara kata-kata-Nya sendiri.

    TUHAN RAGU-RAGU
    Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga "tidak nyambung" dengan cerita selanjutnya:

    [Kejadian 18:10] Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.

    [Kejadian 18:11] Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.

    [Kejadian 18:12] Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"

    Ternyata Sara tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kejadian 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Abraham dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya?

    [Kejadian 18:17] Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?

    [Kejadian 18:18] Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?

    [Kejadian 18:19] Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

    Melalui kalimat yang LUCU karena menggambarkan Tuhan yang terlihat bimbang, kita diinformasikan bahwa ternyata Abraham-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sara akan melahirkan anak di hari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian JILID-2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kejadian 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kejadian 15, 16 dan 18 terlihat "masih agak nyambung".

    Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa [pentateuch] atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun dalam perkembangan selanjutnya -- bahkan para ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini -- sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa.

    Hal ini tidak perlu diceritakan panjang lebar karena sudah banyak disampaikan orang, mari kita mengambil intinya saja bahwa: Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi, jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun tidak sedikit yang berasal dari karangan para Rabi Yahudi yang tentu saja dipengaruhi oleh situasi sosial politik pada saat karangan tersebut dibuat. Termasuk di sini perilaku para pemuka agamanya. Adapun mengenai bagaimana karakter umat Yahudi sesudah kematiannya, nabi Musa sendiri sudah meramalkan:

    [Kejadian 31:26] "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.

    [Kejadian 31:27] Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.

    [Kejadian 31:29] Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

    SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DARI REKAYASA INI?
    Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Di sini kita bisa bertanya: Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian JILID-2 ini? Jawaban yang lugas tentulah YAHUDI!

    Cerita soal perjanjian JILID-2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk "melegalisir" monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Abraham melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam.

    Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan "Yahudi-sunat" ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang):

    [Kisah 15:1] Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."

    Ini menunjukan Yahudi "memperalat" sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Abraham.


    PAULUS YANG KEBABLASAN

    Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi, tentu saja merasa terhambat dan terhalangi oleh adanya pernyataan ini. "Target market" Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang "takut" disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, dan Paulus bakalan bangkrut! Maka dia pun kemudian mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara "iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan"

    [anda dapat menyimak tulisan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan "‘pelintiran" Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Abraham ini di sini]

    "Titik ekstrim" Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan "titik ekstrim" lainnya dari Paulus yang menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya, Paulus pun menyampaikan ancaman ini:

    [Galatia 5:2] Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
    [Galatia 5:3] Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
    [Galatia 5:4] Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

    Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen di jaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan. Maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut "kualat" seperti yang diancam oleh Paulus.

    Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka "moncong senjata" pun dialihkan.

    Yahudi dan Kristen yang tadinya "gontok-gontokan" soal keyakinan masing-masing seakan-akan menemukan musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang paling seru adalah bahwa urusan sunat yang tadinya menjadi "senjata andalan" Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan oleh umat Kristen untuk menyerang Islam.

    Perjanjian JILID-2 yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Islam "tidak punya tempat" dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan.

    Kristen di satu sisi menentang sunatnya, tapi di lain pihak mengakui perjanjiannya. Dan agar mereka dapat berada di posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat pun digunakan dengan penafsiran yang penuh dengan gaya AKROBATIK!

    Tidakkah rekayasa ayat-ayat alkitab ini selalu menarik untuk disimak?
    Wallahu 'alam bis shawab.


    [Sumber: answering-ff.org | Panda]

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *