Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Islamfobia. Show all posts
Showing posts with label Islamfobia. Show all posts

Monday, December 5, 2016

Konspirasi Barat Menghancurkan Islam Monday, December 5, 2016


Komunitas Internasional mesti mempertimbangkan dengan sangat hati-hati terhadap elemen-elemen, kecenderungan-kecenderungan, dan kekuatan-kekuatan mana dalam Islam yang mereka ingin perkuat; apa sasaran dan nilai-nilai dari persekutuan potensial yang berbeda itu; dan siapa yang akan dijadikan anak didiknya; dan konsekuensi-konsekuensi lebih besar seperti apa yang akan tampak ketika memperluas agenda-agenda masing-masing; termasuk resiko mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang dibantu oleh AS dan sekutunya.

Komunitas Internasional membagi Umat Islam dalam Empat Kelompok, yaitu:

Fundamentalis: yaitu kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai- nilai Demokrasi dan kebudayaan Barat Kontemporer, serta menginginkan formalisasi penerapan Syariat Islam.

Tradisionalis: yaitu kelompok masyarakat Islam Konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang kepada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya.

Modernis: yaitu kelompok masyarakat Islam Modern yang ingin Reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas.

Sekularis: yaitu kelompok masyarakat Islam Sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan privasi dan dipisah sama sekali dari urusan negara.

Komunitas Internasional melakukan penilaian terhadap tiap kelompok sebagai berikut:

Fundamentalis: sangat anti Barat sehingga menjadi ancaman bagi demokrasi dan modernitas. Mendukung kelompok ini bukan suatu opsi bagi Barat, kecuali untuk pertimbangan taktis sementara. Penghancuran Fundamentalis menjadi suatu keharusan.

Tradisionalis: tidak anti Barat tapi penuh kecurigaan terhadap modernitas, sehingga mudah terpengaruh oleh Fundamentalis. Karenanya, kelompok ini harus dirangkul dan dijauhkan dari Fundamentalis, tapi mesti selalu diwaspadai.

Modernis: Pro Demokrasi dan Modernitas serta dekat dengan Barat dalam nilai dan kebijakan, sehingga bisa digunakan untuk mengcounter berbagai pemikiran Islam Fundamentalis. Namun ada kendala-kendala serius bagi Modernis di tengah masyarakat Islam.

Sekularis: Pro Barat dan bisa dimanfaatkan, namun terkadang sulit menjadi sekutu karena afiliasi ideology yang berbeda. Karenanya, kelompok ini hanya bisa dimanfaatkan sepanjang memiliki ideology yang menopang demokrasi dan modernitas.

Komunitas Internasional menetapkan strategi terhadap tiap kelompoksebagai berikut:

1. Mengkronfrontir dan Menentang Kaum Fundamentalis, 
  • Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak-akuratannya
  • Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktiviats illegal.
  • Mengumumkan konsekuensi dari tindak kekerasan yang mereka lakukan.
  • Menunjukkan ketidak-mampuan mereka untuk memerintah.
  • Memperlihatkan ketidak-berdayaan mereka mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.
  • Mengamanatkan pesan-pesan tersebut kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.
  • Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris.
  • Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.
  • Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.
  • Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.

Beberapa bukti tindakan untuk memojokkan kelompok yang disebut Fundamentalis oleh barat tersebut adalah: menafsirkan Al-Qur’an secara sengaja untuk menyesatkan dengan menyatakan penentangan dan pengharaman poligami pada satu sisi, namun menghalalkan perkawinan sejenis, lesbianisme dan homoseksual, mengulang-ulang tayangan gambar yang out of date dan tidak relevan terkait aksi-aksi umat Islam yang dinilai mengandung kekerasan di televisi, sementara itu kegiatan dari berbagai ormas Islam yang bersifat konstruktif seperti menjadi relawan didaerah bencana alam tidak pernah sekalipun ditayangkan, “mengeroyok” dan menyerang argumen narasumber yang berasal dari kelompok yang dianggap fundamentalis dengan format acara dialog televisi 3 lawan 1 seperti acara Todays Dialogeu, Save Our Nation, Topik Minggu Ini, wawancara khusus dan lain sebagainya, memenjarakan aktivis-aktivis islam dengan tuduhan teroris atau sebagai pelaku kekerasan, menghapus panggilan kehormatan kiyai, ustadz, habib dalam pemberitaan media massa terhadap aktivis islam yang dianggap fundamentalis.

2. Mendorong Kaum Tradisionalis untuk melawan Fundamentalis,
  • Dalam Islam tradisional ortodoks terdapat elemen-elemen demokrasi yang dapat dipakai untuk mengcounter Islam fundamentalis otoriter yang represif dan otoriter.
  • Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis.
  • Mendorong perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.
  • Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.
  • Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan Kaum modernis.
  • Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka supaya mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Karena Kaum fundamentalis secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik "Islam pinggiran” yang kabur.
  • Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.
  • Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda.
  • Memperuncing khilafiyah yaitu perbedaan antar madzhab dalam Islam, seperti Sunni – Syiah, Hanafi – Hambali, Wahabi – Sufi, dll.
  • Mendorong Kaum Tradisionalis agar tertarik dengan modernisme, inovasi dan perubahan.
  • Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham Kaum Fundamentalis.

    Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme
    Beberapa contoh yang menjadi bukti aktivitas program ini di antaranya adalah membiayai beasiswa aktivis JIL seperti Ulil Abshar Abdalah, Sumanto AlQurtubi Cs untuk sekolah di Amerika Serikat, memuat artikel-artikel yang menghina dan melecehkan Islam di berbagai surat kabar, mengadu domba dengan cara polemik di surat kabar yang tak berkesudahan antara HTI dengan Kiyai Hasyim Muzadi tentang khilafah, membuatt issu “rebutan masjid” antara PKS dengan Muhammadiyah, memanipulasi dan membajak simbol-simbol ormas islam seperti NU dan Banser, seperti yang dilakukan oleh AKKBB, Guntur Romli dan Nuril dalam peristiwa Monas dan peristiwa di pengadilan negeri Jakarta Pusat dan dibenturkan dengan FPI. Serta berita yang terbaru adalah promosi kepada Ulil Abshar Abdalah untuk menjadi Ketua Umum PB Nahdatul Ulama, agar NU dapat dijadikan kendaraan kelompok Liberal dalam mengacak-ngacak Islam dari dalam.

    3. Mendukung sepenuhnya Kaum Modernis 
    • Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi.
    • Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda.
    • Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam.
    • Memberikan mereka suatu platform publik.
    • Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.
    • Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan “counterculture” bagi kaum muda Islam yang tidak puas.
    • Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.
    • Membantu dalam membangun organisasi-organisasi sipil yang independent, untuk Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka.

    Beberapa bukti tindakan dalam program ini adalah: mengubah muatan kurikulum pendidikan di pesantren-pesantren dengan biaya dari negara-negara barat, menggunakan slogan-slogan “time is Money, “dengan pengeluaran sekecil-kecilnya menghasilkan pendapatan yang sebesar-besarnya”, pada masa lalu dalam mata pelajaran PMP dikenalkan gambar-gambar rumah ibadah masing-masing agama dengan tulisan dibawahnya “semua agama sama”, mendirikan berbagai LSM baru yang bergerak dibidang kajian dan filsafat Islam, seperti Wahid Institute, Ma’arif Institute, LkiS, Yayasan Fahmina, LSAF, ICIP, ICRP dan lain-lain, menyebarluaskan artikel dan tulisan produksi LSM-LSM yang dibiayai Amerika, yang intinya menyatakan bahwa semua agama adalah hasil karya manusia dan merupakan peradaban manusia, untuk tujuan menggoyahkan keyakinan iman agama Islam, membiayai web site JIL, blogg Guntur Romli dan siaran radio kongkow bareng Gus Dur.

    4. Mendukung secara selektif Kaum Sekularis, 
    (a). Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama
    (b). Mematahkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideologi kiri.
    (c). Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya.
      Beberapa contoh tindakan ini adalah: membangun mitos tentang sekulerisme, memanipulasi hari peringatan Pancasila untuk kepentingan sekularisme, pluralisme dan liberalisme, mengkampanyekan penampilan ke-soleh-an individual dan mencegah berlakunya perda-perda yang disebut perda syariat.

      Untuk menjalankan program-program diatas maka, dalam dokumen Building Moderate Muslim Networks, Pemerintah Amerika Serikat harus menyediakan dana bagi individu-individu dan lembaga-lembaga seperti LSM, pusat kajian di Universitas-Universitas Islam maupun Universitas umum lainnya dan membangun jaringan antar komponen tersebutuntuk memenuhi tujuan-tujuan Amerika.

      Sebagai contoh keberhasilan membangun jaringan ini adalah apa yang pernah ditempuh oleh Amerika Serikat ketika mensponsori Kongres Kebebasan Budaya (Conggress of Cultural Freedom), dimana pertemuan ini berhasil membangun komitmen antar elemen untuk membentuk jaringan anti komunis. Upaya yang serupa juga perlu dilakukan untuk membangun jaringan anti Islam. Bahkan bila perlu, sikap tidak setuju dengan kebijakan Amerika perlu sesekali ditampilkan oleh para aktivisnya sekedar untuk menampilkan citra independen dari Amerika dan Barat serta membangun kredibiltas semu para aktivis liberal pro barat, demi mencapai tujuan utamanya memusuhi Islam secara keseluruhan.

      Amerika dan Barat dalam dokumen tersebut sepenuhnya sadar bahwa mereka terlibat dalam sebuah peperangan yang merupakan perang dengan senjata maupun perang ide. Dalam konteks ini Amerika dan Barat ingin memenangkan perang dengan cara “ketika ideologi kaum ekstrimis tercemar dimata penduduk tempat asal ideologi itu dan dimata pendukung pasifnya”. Kalimat ini jelas adalah merupakan tujuan Amerika dan Pihak barat lainnya untuk menghancurkan Islam dan menjauhkan Islam dari ummat.

      Pembangunan jaringan muslim moderat ini dilakukan pada tiga level,
      1. Menyokong jaringan-jaringan yang ada;
      2. Mengidentifikasi jaringan dan mempromosikan kemunculan dan pertumbuhannya.
      3. Memberikan kontribusi untuk membangun situasi dan kondisi bagi berkembangnya faham pluralisme dan sikap toleran.
      Sebagai pelaksana proyek ini Departemen Luar Negeri AS dan USAID telah memiliki mandat dan menunjuk kontraktor pelaksana untuk menyalurkan dana dan berhubungan dengan berbagai LSM, Individu di negeri-negeri muslim yaitu National Endowment for Democracy (NED), The International Republican Institute (IRI) The National Democratic Institute (NDI), The Asia Foundation (TAF), dan The Center for Study of Islam and Democracy (CSID).

      Usaha untuk membangun jaringan muslim moderat ini pada fase pertama adalah dengan fokus pada sebuah kelompok inti dengan metodelogi organisasi-organisasi bawah tanah, yang kemudian berdasarkan penilaian Amerika baru ditingkatkan menjadi jaringan terbuka apabila situasi dan kondisi memungkinkan.

      Adapun kelompok-kelompok yang dijadikan sasaran untuk direkrut dan dijadikan anak didik Amerika dan Barat adalah:
      • Akademisi dan Intelektual Muslim Liberal dan Sekuler;
      • Cendikiawan Muda Muslim yang Moderat;
      • Kalangan Aktivis Komunitas;
      • Koalisi dan Kelompok Perempuan yang mengkampanyekan kesetaraan gender;
      • Penulis dan Jurnalis (wartawan) yang moderat.

      Para pejabat di kedutaan Amerika yang berada di negeri-negeri muslim harus memastikan bahwa kelompok ini terlibat dan sesering mungkin melakukan kunjungan ke Amerika Serikat.

      Sementara itu program-program prioritas untuk mendukung pembangunan jaringan muslim moderat ini diletakkan pada sektor:
      • Pendidikan Demokrasi, yaitu dengan mencari pembenaran dari nash-nash dan sumber-sumber Islam terhadap demokrasi dan segala sistemnya.
      • Dukungan pada Media massa untuk melakukan liberalisasi pemikiran; Kesetaraan Gender, yang merupakan medan tempur utama dalam perang pemikiran dengan kelompok Islam;
      • Advokasi Kebijakan, untuk mencegah agenda politik kelompok Islam.

      Pihak Amerika juga sadar bahwa ide-ide radikal berasal dari Timur Tengah, oleh karenanya perlu dilakukan upaya “Arus Balik” yaitu menyebarkan ide-ide dan pemikiran dari intelektual-intelektual moderat dan modernis yang berhasil dicuci otak dan setuju dengan westernisasi dan gaya hidup barat, yang bukan berasal dari Timur Tengah, seperti Indonesia. Tulisan dan pemikiran moderat dari kalangan diluar Timur Tengah ini harus sesegera mungkin diterjemahkan dalam bahasa arab untuk disebarkan di kawasan Timur Tengah.

      Di sinilah terdapat jawaban, mengapa akhir-akhir ini Indonesia sering dijadikan tempat pertemuan Internasional cendikiawan dan intelektual muslim dari berbagai negara yang disponsori oleh Amerika dan negara barat lainnya. Dan saat ini banyak sekali produk-produk baik berupa tulisan maupun film yang diproduksi oleh kaum “intelektual islam indonesia” yang disebarkan dan diterjemahkan dalam bahsa arab. Semua bantuan dana dan dukungan politik ini tujuan utamanya adalah untuk memerangi Islam dan Umat Islam.

      Dalam konteks politik di Indonesia, secara keseluruhan agenda-agenda yang disusun oleh koalisi Zionis Salibis Internasional tersebut tengah berjalan. Bisa kita lihat bukti-bukti dari berbagai fenomena yang ada di kehidupan masyarakat Indonesia. Bermunculannya berbagai LSM yang didirikan oleh tokoh-tokoh “Islam” yang memproduk berbagai materi anti Islam dan memusuhi Islam, media massa yang selalu memberitakan negatif tentang umat Islam, bermunculannya tokoh-tokoh liberal yangn memegang posisi sebagai opnion maker, bahkan dalam penyusunan kabinet yang terakhir ini, posisi-posisi kunci diserahkan kepada orang-orang yang sangat pro Amerika, seperti menteri-menteri bidang perekonomian yang sejak dulu hingga sekarang selalu dipegang oleh kelompok yang sama.

      Inti dari seluruh dokumen yang diproduksi berbagai lembaga proxy zionis adalah berisi agenda tantang rencana menghancurkan Islam dari dalam, yaitu dengan menggunakan berbagai kaki tangan mereka alias antek mereka untuk memecah belah, mengadu domba dan melakukan politik belah bambu. Cara ini juga yang digunakan oleh mereka ketika meruntuhkan kekhilafaan Islam dan menjauhkan umat Islam dari Syariat Allah.

      Kiranya umat Islam di Indonesia segera perlu menyadari strategi pecah belah, adu domba dan belah bambu yang dijalankan oleh koalisi Zionis Salibis Internasional untuk menghancurkan Islam dari dalam. Konspirasi iblis ini dilakukan dengan menyediakan dana hingga milyaran dollar, demi tujuan menghancurkan Islam. Dengan kesadaran dari umat Islam, terutama tokoh-tokoh Islam yang masih istiqomah, maka menjadi kewajiban dari tokoh-tokoh tersebut agar dapat segera membangunkan umat Islam dari mimpi dan tidur panjang. Sebab apa yang dilakukan oleh koalisi Zionis Salibis Internasional dan antek-anteknya tersebut merupakan jalan mereka menuju ke neraka.

      Dengan jalan yang sama sekali tidak mendapat Ridha Allah saja mereka berani berperang habis-habisan dengan menyediakan segala harta benda mereka. Mengapa umat Islam yang dijanjikan Allah kemenangan masih ragu untuk berjuang di jalan Allah?

      “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan terus menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan kedalam neraka jahanam” (QS. Al Anfal: 36). 


      Semoga berguna!

      [Sumber: suara-islam.com | blog elharawy




      Saturday, May 31, 2014

      Agenda Penghancuran Islam Saturday, May 31, 2014




      Perkembangan jaringan internet di dunia sangatlah pesat. Saking pesatnya kemajuan dan pemanfaatan ini, internet menjadi salah satu sarana sebagian orang-orang jahat untuk menunjukkan secara nyata kebencian dan rasa permusuhan terhadap Islam dan mereka tidak segan untuk melakukan pembodohan terhadap kaum muslimin. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menghancurkan Islam.

      Saat ini mereka tidak menggunakan cara-cara untuk mengeluarkan orang Islam dari Islam, tetapi yang mereka lakukan adalah menjauhkan orang dari Islamnya. Tulisan-tulisan sesat dan menyesatkan yang mereka buat tidak sedikit terpampang di grup-grup diskusi dunia maya. Brainwashing yang mereka lakukan tak ayal menyebabkan sebagain pemuda-pemudi kaum muslimin terpengaruh dan akhirnya mereka tak segan lagi menjadi orang yang meragukan Islam. 


      Sebagian besar dari mereka tidak segan melakukan penipuan-penipuan dan pengakuan-pengakuan palsu untuk meyakinkan kita para pembaca untuk melakukan pembenaran apa yang jelas-jelas salah. Perkembangan yang muncul dikarenakan sifat Islamophobia yang dirasakan oleh orang-orang yang membenci Islam.

      Robert Morey dalam bukunya Islamic Invasion yang secara global berisi kebohongan-kebohongan dan secara nyata menunjukkan Islamophobia menyatakan bahwa:
      “Islam is the world's second largest and fastest growing religion. Across America, mosques are shooting up in record numbers. To reach Muslims with the gospel, you must first shake their faith in their religion, Islam”
      Moorey secara sadar mengakui Islam, sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin dan satu-satunya yang diridhai Allah seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an, adalah agama yang paling cepat berkembang semenjak keruntuhan Ottoman ditahun 1924.

      Ini semua disadari oleh musuh-musuh Islam, dan semuanya berawal dari rasa kebencian, dan munculnya keragu-raguan dari mereka sendiri terhadap apa yang selama ini mereka imani. 

      Di Amerika Serikat; sebagai negara dimana orang secara bebas bisa membeli senjata, kekerasan, pemerkosaan, homosexual, Rasisme, penyimpangan sexual, pembunuhan di sekolah-sekolah (seperti kasus Virginia tech), dan turis-turis yang di perlakukan sebagai kriminal; muncul suatu propaganda yang bertujuan untuk membuat suatu opini publik tentang negatif dari Islam, yang disebut Neo-Conservative.

      Neo-con adalah sebutan bagi jelmaan partai konservatif gaya baru yang didirikan oleh George H. Bush. Di dalam mewujudkan agenda politik dan tendensi zionisme di Amerika Serikat. Semenjak didirikannya partai ini, ideologi neo-con ini menyebar ke penjuru Eropa dan menjadi suatu ideologi tersendiri yang membawa misi sikap skeptis terhadap Islam dan memusuhi Islam. Agenda memerangi Islam telah mulai dicanangkan dengan berbagai bentuk propaganda, diantaranya adalah jargon “War against terrorism” dan melabelkan Islam sebagai teroris.

      Mantan kepala biro “Jerussalem Post” dan asisten ilmuwan di “Cato Institute”, Leon T. Hadar, telah mendokumentasikan indikasi kebijakan luar negeri AS yang dikuasai Neo Con dalam bukunya yang ditulis awal 90-an tentang kebijakan pemerintah AS sebagai berikut:
      “Now that the Cold War is becoming a memory, America’s foreign policy establishment has begun searching for new enemies. Possible new villains include ‘instabilty’ in Europe – ranging from German resurgence to new Russian imperialism – the ‘vanishing’ ozone layer, nuclear proliferation and narcoterrorism. Toping the list of potential new global bogeymen, however are the Yellow Perril, the alleged threat to America economic security emanating from East Asia, and the so-called Green Peril (green is the color of Islam). The peril is symbolized by the Middle Eastern Moslem fundamentalist”  [Leon T. Hadar, The ‘Green Peril': Creating the Islamic Fundamentalist Threat, Policy Analysis, Cato Institute, no. 177, 27 Agustus 1992]
      Untuk memenuhi ambisi dan agenda politik neo-con, upaya pembentukan opini dan pemburukan citra Islam dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan bombardir opini publik via media-media baik cetak maupun elektronik. Artikel dan esai yang tersebar di majalah, surat kabar maupun jurnal ramai memperbincangkan tentang isu Islam dan terorisme.

      Di Indonesia sendiri, seorang muslim yang secara kaafah memahami Islam berdasarkan Al-Qur'an dan tuntunan Nabi-Nya, akan mudah mengenali model perusakan citra Islam melalui opini publik. Mereka-mereka yang sudah tinggal lama dan "dimanjakan" di negara-negara yang menganut Neo-konservatif ini, akan berusaha membantu untuk memuluskan jalan dalam penghancuran Islam.

      Untuk mengelabui tindak-tanduk mereka, tidak sedikit dari mereka melakukan pembohongan dengan cara mengaku sebagai muslim yang taat, memahami Al-Qur'an, dan Al Hadist, faham bahasa arab dan banyak di antara mereka dengan pongah mengsejajarkan diri dengan Nabi Muhammad -Alahi Sholatu Wassalam-, dan para sahabatnya serta ulama kau muslimin. Opini-opini mereka tidak akan jauh dari Islam, Arab Saudi, dan Wahabi.

      Sayangnya, banyak pemuda muslimin yang lemah iman menerima mentah-mentah opini-opini menyesatkan ini. Itulah yang terjadi. Sangat mudah ditebak, pemuda-pemuda yang mulai dihinggapi rasa jijik kepada Al-Qur'an dan Hadist, adalah pemuda-pemuda yang sangat mudah dipengaruhi. Pemuda-pemuda yang masih dalam taraf mencari jati diri, yang konon mereka mengakui mengalami pergulatan bathin dalam menemukan kebenaran versi mereka. Mereka-mereka adalah pemuda-pemuda yang merasa paling komunis setelah membaca buku-buka Karl Marx atau D.N Aidit, atau paling liberal setelah buku-buku liberal dan mereka tidak segan menginjak-injak Al-Qur'an dan Hadist Nabi. 

      Apabila kita menelaah ulasan para jurnalis neo-con yang islamfobia, mereka banyak mengambil sumber informasi dari sumber-sumber yang secara nyata memusuhi Islam. Opini-opini itu kini tersebar di berbagai media. Sebagai contoh adalah yang bersumber dari nama-nama sebagai berikut:

      1. Nina Shea, seorang direktur ”Center for Religious Freedom”. Ia menulis sebuah essay berjudul ”Saudi Publication on Hate Ideology Fill American Mosques” setelah melakukan studi yang inadequate (tidak memadai) dan absurd ridiculous (tidak masuk akal dan menggelikan). Ia hanya melakukanobservasi pada 15 masjid di AS (yang tidak sampai 1 % dari jumlah keseluruhan Masjid di AS) lalu mengambil kesimpulan yang bias dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, Nina Shea banyak melakukan penukilan-penukilan dengan memotongnya sehingga keluar dari konteks dan membawa alur studi kepada pemahamannya yang anti Islam.

      2. Daniel Pipes. Seorang kolumnis Amerika Zionis dan Islamfobia. Ia adalah direktur sebuah forum yang disebut dengan ”Middle East Forum”. Operasinya didukung oleh beberapa grup seperti ”Christian Coalition”, ”The America Israel Public Affair Commitee”, ”The American Jewish Congress” dan ”Zionist Organization of America”. Dia juga orang yang berada di belakang website “Campus Watch”. Ayahnya, Richard Pipes, adalah salah satu arsitek kebijaksanaan metodologi neo-con mantan seorang dosen di Harvard University selama lebih dari 46 tahun yang pensiun pada tahun 1996. Richard sendiri adalah seorang kelahiran Polandia yang lahir dari keluarga Yahudi kaya raya. Richard Pipes pernah menjabat sebagai “Tim B” CIA pada tahun 1976 dan mengklaim bahwa Soviet memiliki senjata pemusnah massal, yang memicu perang dingin berkepanjangan.

      3. Robert Spencer, seorang katolik yang berideologi neo-con yang namanya melambung pasca peristiwa 11 September dan memproklamasikan dirinya sebagai ‘spesialis Islam’. Dia adalah editor buku The Myth of Islamic Tolerance: How Islamic Law Treat Non Muslims (Mitos tentang toleransi Islam: Bagaimana hukum Islam memperlakukan non muslim) [New York: Promotheus Books, 2005]. Ia berada di belakang website “Jihad Watch” dan “Dhimmi Watch” bersama dengan rekannya, Hugh Fitzgerald.

      4. Bat Ye’or, seorang konseptor utama pencipta istilah Dhimmitude yang ia formulasikan dalam bukunya yang berjudul “Islam and Dhimmitude : Where Civilisations Collide” [Cranbury, Ney Jersey : Associated University Presses, 2002]. Bat Ye’or sendiri sebenarnya bukanlah nama aslinya, ini adalah nama samaran pseudonim dengan bahasa Ibrani. Nama aslinya adalah Giselle Littman, seorang kelahiran Mesir namun beragama Yahudi. Ia mengklaim sebagai ahli spesialis Timur Tengah. Ia juga pernah menulis buku yang berjudul “The Jews in Egypt” pada tahun 1971 dengan nama samaran Yahudiyya Masriya. Dia menuduh bahwa bangsa muslim merampas hak kaum Yahudi dan mengkhianati perjanjian-perjanjian mereka dengan Yahudi. Dia memiliki dendam pribadi terhadap Islam setelah dirinya diusir oleh pemerintahan Mesir dan tinggal di Inggris.

      5. Stephen Schwarts, Ia mengklaim dirinya sebagai ahli dalam masalah keislaman, Schwarts sangat anti dengan Wahhabi dan Saudi Arabia. Di dalam bukunya yang berjudul “The Two Faces of Islam: The House of Saud from Tradition in Terror”, Schwarts tidak pernah menyokong satupun pendapatnya tentang Islam dengan Al-Qur’an maupun Sunnah. Sangat menggelikan ketikan orang yang mengaku ahli masalah Islam tidak pernah menyokong pernyataannya dari sumber Islam. Bahkan lebih parah lagi, sebagaimana diutarakan oleh Amir Butler, bahwa Schwarts bersikap kelewat batas dengan membandingkan antara Wahhabisme dengan Fasisme di Italia, Komunisme di Soviet atau Militerisme Jepang. Schwarts, yang berpindah dari agama Yahudi ke agama Islam ala sufi Naqshabandiyah, tetap menunjukkan sikap antipati terhadap dakwah.

      6. Oriana Falacci, seorang penulis Italia yang dikenal dengan buku best-sellernya Anger and Pride (Kemarahaan dan Kebanggan) ini menyamakan antara ayat suci Al-Qur’an dengan Mein Kampf-nya Hittler [Mein-Kampf = perjuanganku adalah catatan harian Hittler yang dianggap kitab suci-nya kaum NAZI].





      7. Melanie Philips, penulis Londonistan: How Britain is Creating a Terror State within [London: Gibson Square, 2006]. Di dalam bukunya, Melanie banyak melakukan klaim-klaim tanpa bukti, seperti ia menyatakan bahwa toko-toko buku Islam turut menjual buku Mein Kampf-nya Hittler. Ia juga menyandarkan beberapa ucapan kepada Abdurrahman as-Sudays (Imam besar Masjidil Haram, Makkah Al Mukarromah) yang sangat aneh dan tidak menunjukkan di mana perujukan ucapan tersebut ia dapatkan. Banyak sekali sumber-sumber penukilan di buku ini yang tidak diketahui asal muasalnya. Dan ini jelas merupakan kebohongan untuk memuluskan propagandanya.


      8. Patrick Sookhdeo, mantan muslim asal Guyana yang murtad menjadi Kristen Anglikan Kanon. Ia menjadi direktur lembaga tidak jelas bernama “Institute for The Study of Islam and Christianity”. Dia memiliki beberapa tulisan, diantaranya “The Chalenge of The Church” (2006), “Understanding Islamic Terrorist: The Islamic Doctrin of War” (2004) dan lainnya. Sookhdeo menulis artikel berjudul “The Myth of a Moderate Islam” yang menyatakan bahwa kaum teroris dan ekstrimis Islam melakukan tindakan teror adalah berangkat dari ajaran islam itu sendiri, sehingga aktivitas itu sendiri merupakan representasi dari Islam.

      9. Ayaan Hirsi Ali, seorang wanita zindiq asal Somalia yang mengaku sebagai muslimah, namun tindak-tanduk dan karya tulisnya menunjukkan akan kebenciannya terhadap Islam. Dan ini dapat dengan mudah kita dapatkan di grup-grup diskusi yang secara nyata menyokong ini. Ia hijrah ke Belanda dengan cara keimigrasian gelap, dan pernah menjadi mantan anggota partai sayap kanan Belanda. Hirsi Ali menyeru pemerintahan kafir untuk lebih waspada menghadapi kaum muslimin dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyudutkan kaum muslimin.

      Sikap anti islammnya inilah menyebabkan dirinya menjadi “one of the most influential people of 2005” versi majalah “Times”. Di dalam bukunya, “The Caged Virgin: An Emancipation for Women and Islam” menunjukkan sikap kebencian kepada syari'at Islam dan kecenderungannya di dalam atheis dan menentang syariat-syariat Islam. Di bukunya ini ia lebih banyak mengejek dan menghina syariat islam terhadap perlindungan wanita, ia juga mengejek wanita-wanita muslimah yang secara komitmen menjalani syari'at Islam secara kaffah. Tidak aneh pula kalau kebenciannya terhadap Islam sangat tinggi karena ia juga pernah menghadiri pertemuan tahunan Komite Yahudi Amerika.

      Dan masih banyak lagi dari para jurnalis dan penulis neo-con yang islamfobia, yang mendiskreditkan dan menfitnah Islam, termasuk di Indonesia ini. Ada suatu agenda tersembunyi dan propaganda terang-terangan di dalam menyudutkan kebangkita Islam di dunia. Barat khawatir akan kebangkitan Islam, dalam hal ini Amerika memiliki kepentingan besar di dalam menjaga eksistensinya. Mereka menjadi paranoid dan ketakutan besar terhadap gerakan puritan dan kebangkitan kaum muslim. Mereka khawatir bangkitnya kembali Daulah Khilafah Islamiyyah sebagaimana pada masa-masa kegelapan Eropa. Untuk itulah, mereka berupaya mempersiapkan diri melawan suatu ’peperangan’ dan mencuri start dengan memerangi Islam dengan mengatasnakaman anti terorisme. 

      Madeline Albright, mantan dubes AS bagi PBB menyatakan ketika dirinya masih menjabat sekretaris negara: ”The Islamic terrorism threat will lead to a war of the future” [London: The Observer, 23 Oktober 1998, hal. 14]

      Dan inilah yang mereka takutkan. Oleh karena itu mereka akan senantiasa menjaga ko-eksistensi mereka, mereka melakukan peperangan dan kekerasan terorganisir atas nama humanity (kemanusiaan) padahal merekalah yang pertama kali menginjak-injak humanity. Sikap arogan seperti inilah yang akan membenamkan Amerika ke dalam jurang kehancuran –dengan izin Allah Subhana wa Ta'ala- ke dalam jurang kehinaan.

      Samuel Huntington dalam bukunya Clash of Civilitation and the Remaking of World Order [New York: Touchstone books: 1996, hal 51] menulis:
      “The West won the world not by the superiority of its ideas or values or religion (to which few members of other civilization were converted) but rather by its superiority in applying organized violence. Westerners often forget this fact; non westerner never do.”
      Dari pernyataan ini jelas bahwa orang barat tidak pernah menyadari kesalahan mereka ini, sedangkan lawan mereka tidak pernah melupakannya. Dan inilah yang akan menjadi bumerang bagi mereka, di saat itulah civilitation (peradaban) Amerika akan hancur dan kepemimpinan Islam akan bangkit dan menggantikan posisi mereka, dengan izin Allah -Subhana wa Ta'ala.

      Dan sebagai kaum muslimin, mari kita jadikan Al-Qur'an dan As Sunnah sebagai tuntunan kita. Cintailah Allah dan Rasul-Nya. Letakkanlah keduanya di kepala-kepala kita. Dan yakinlah akan semua janji-janji Allah -Subhana wa Ta'ala-. Jangan takut untuk memperkenalkan Islam kepada istri-istri kita, dan lingkungan keluarga kita. Ajarilah anak-anak kita seperti Lukman Al Hakim mengajari anaknya.

      Ajarilah anak-anak kita berbahasa arab sehingga mereka mampu membaca dam memahami Al-Qur'an, Janganlah kita meninggalkan sholat 5 waktu sekali pun, karena ketika kita mulai berani meninggalkan, maka Allah akan mencabut kecintaan kita kepada Islam dan akan menghinakan kita di hari kiamat. Ajari mereka Islam yang benar, jauhilah dari perbuatan-perbuatan syirik, dan menyimpang dari tuntunan Islam. Jauhkan keluarga kita dari makanan-makanan haram yang akan meracuni darah-darah mereka. Cintailah Makkah dan Madinah, karena Rasulullah SAW telah menyatakan keutamaan kedua kota tersebut di Hadistnya yang mulia.

      Rasulullah SAW tidaklah menyebutkan Washington D.C, New York, California, Amsterdam, Delft, Groningen, atau Jakarta sekalipun sebagai negeri yang rahmatan lil alamin. Tapi Rasulullah SAW menyebut Makkah dan Madinah. Negeri-negeri yang Rahmatan lil Alamin bukanlah negeri-negeri di mana orang secara bebas bisa membeli senjata lalu menembakkannya kepada masyarakat sipil, bukanlah negeri di mana kekerasan, pemerkosaan, homosexual, Rasisme, penyimpangan sexual, anak-anak lahir di luar nikah, pembunuhan di sekolah-sekolah (seperti kasus Virginia tech), dan turis-turis yang di perlakukan sebagai kriminal, poltik standar ganda berlaku di sana.

      Namun negeri yang Rahmatan lil Alamin adalah negeri di mana Penduduknya menyembah hanya kepada Allah -Subhana wa Ta'ala-, Yaitu Allah -Subhana wa Ta'ala- yang disembah Nabi Adam Alaihi Salam hingga Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq Yakub Yusuf Ayub, Musa, Harun dan Daud -Alaihi Sallam-, yaitu Allah -Subhana wa Ta'ala- yang disembah oleh Nabi Isa dan Nabi Muhammad -Alaihi Sholatu Wassalam-, dan tidak melakukan kesyirikan, negeri di mana hukum-hukum Allah -Subhana wa Ta'ala ditegakkan, negeri di mana penduduknya saling mencintai atas dasar ketakwaan hanya kepada Allah -Subhana wa Ta'ala. Negeri yang dulunya gersang dan hanya suatu lembah yang tandus, dan kemudian di do'akan Nabi Ibrahim -alaihi Salam- hingga seperti sekarang. Negeri di mana Nabi Ismail dan ibundanya, Hajar, akhirnya menetap di sana.

      Jangan pernah terpengaruh oleh manisnya kalimat-kalimat orang yang secara jelas menunjukkan Islamophobia, yang hanya bisa mengandalkan otak-otak mereka. Tanyailah setiap pernyataan mereka dengan dalil dari Al-Qur'an dan Al Hadist, maka niscaya kita akan temui mereka tak berdaya, yang hanya berteriak tanpa dalil yang jelas kecuali berdasarkan otak-otak ayam mereka, dan ingatan mereka pada masa kecil yang kita dapat pertanggungjawabkan. Merekalah dajjal-dajjal para pendusta agama ini.

      Mereka adalah orang-orang yang meletakkan Al-Qur'an dan Al Hadist di tumpukan paling bawah. Mereka adalah musuh-musuh yang nyata. Slogan mereka tak lebih dari muntahan barang haram yang telah mereka makan dan kenakan. Mereka adalah orang-orang pengecut yang berlindung di balik ketiak-ketiak tuan mereka. Mereka yang terlena dengan keindahan dunia, dan menggadaikan iman-iman mereka. Mereka bekerja untuk kepentingan orang-orang yang membenci Islam. Sesungguhnya mereka tidak sadar siapa yang mereka hadapi. Mereka itu sombong, dan mereka menantang Allah -Subhana wa Ta'ala.

      وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

      “Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nuur[24]:55)

      وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

      “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”
      (QS. Al-Hajj[22]:40)

      إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ

      “Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?” (QS. Ali-Imran[3]:160)

      وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

      “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali-Imran[3]:120)

      Semoga rangkuman ini bermanfaat buat kita, dan semakin meningkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kaum Muslimin. Seluruh kebenaran datangnya hanya dari Allah -Subhana wa Ta'ala- dan kesalahan datang dari kekhilafan pribadi. Dan sesungguhnya seluruh urusan kaum muslimin adalah selalu baik, baik disaat diberikan kenikmatan oleh Allah -Subhana wa Ta'ala- dan kita bersyukur, dan disaat diberikan cobaan maka kita senantiasa bersabar.

      Semoga Allah memberikan kita keteguhan di atas Islam yang Haq.
      Amin.


      [Sallysety | Dari berbagai sumber] 





      Thursday, January 9, 2014

      Kejanggalan Di Balik Peristiwa 911 Thursday, January 9, 2014


      Penyergapan dan pembunuhan Usamah bin Ladin di Pakistan oleh tentara Navy SEALS Amerika Serikat masih menyisakah banyak tanda tanya. Apalagi Pemerintah AS berulang kali mengubah pernyataan terkait penyerangan itu dan informasi seputar Usamah.

      Malah sekarang yang menjadi sorotan bagi publik AS adalah Pakistan yang menurut mereka 'menyimpan' Usamah bin Ladin, si biang teror. Bukannya memperjelas informasi soal keterlibatan Usamah dalam berbagai peristiwa teror maupun mempermasalahkan dilanggarnya wilayah kedaulatan Pakistan oleh tentara AS.

      Usamah bin Ladin sudah terlanjur kental menjadi sosok teroris, raja teroris malah. Ini gara-gara media internasional percaya begitu saja informasi pemerintah AS bahwa Usamah dan Alqaidah yang paling bertanggungjawab atas serangan ke menara kembar WTC di New York, 11 September 2001.

      Sementara sejumlah keganjilan dan suara-suara kritis soal peran Usamah, Alqaidah, maupun intelejen dalam sejumlah peristiwa teror itu kerap terpinggirkan. Untuk memperkaya wawasan terkait teror inilah, Republika mengangkat tulisan dari jurnalis kawakan, Seymour M Hersh. Dalam bukunya Chain of Command yang terbit pada 2005, Hersh menulis sejumlah kejanggalan informasi dan intelejen seputar peristiwa 911. Dalam buku ini, Hersh banyak sekali mengutip sumber anonim, karena sensitifnya informasi yang mereka sampaikan. Berikut petikannya:

      Peristiwa 911 membuat dunia intelejen AS kebakaran jenggot. Dua pekan setelah peristiwa mengerikan itu, kalangan intelejen ternyata belum mendapat informasi yang utuh soal siapa dalang peristiwa. Mereka masih bingung, ragu, dan tidak satu suara soal aksi ini. Siapa aktor di belakangnya, bagaimana bisa terjadi, berapa banyak yang terlibat, dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

      Hersh menangkap ada dua konsensus umum saat itu di lingkaran intelejen AS. Pertama: Serangan 911 sangat brilian direncanakan dan dieksekusi. Kedua, dunia intelejen tak sanggup menyetop peristiwa tersebut.

      Pada 23 September 2001, Menhan AS Colin Powell mengatakan ke publik bahwa pemerintah akan berusaha keras mencari siapa dalang peristiwa 911 dan menjabarkannya secara jelas. Powell juga langsung menuding Usamah sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas serangan. "Kami terus mengumpulkan informasi, informasi intelejen, FBI, dan lembaga keamanan lain terkait hal ini," kata Powell.

      Namun penjabaran informasi itu tak kunjung dilakukan. Alasannya, informasi sangat rahasia dan tidak mungkin diberitakan. Namun pejabat senior CIA mengatakan pada Hersh bahwa hingga akhir September, AS belum punya informasi yang solid soal operasi, pembiayaan, dan perencanaan aksi WTC.

      Pada saat yang sama, lingkar intelejen AS terbelah menjadi dua faksi. Pertama, faksi FBI yang percaya bahwa teroris yang menyerang WTC bukanlah organisasi yang solid. "Pemilihan orang-orang ini (teroris) seperti asal comot saja," kata si pejabat CIA. FBI mengakui mereka sukar mengakses informasi soal pelaku penabrakan pesawat ke sejumlah objek vital itu.

      Ringkasnya, kata si pejabat CIA, serangan WTC berhasil karena untung-untungan. Bukan karena direncanakan sangat matang. "Yang benar saja. Lihat teroris-terorisi tu. Apakah kau percaya mereka bisa membajak empat pesawat? Empat! Kalau cuma satu pesawat mungkin. Mereka kan bukan manusia super."

      Pendapat faksi kedua disokong oleh Pentagon dan CIA. Kedua badan ini 'memuji' aksi 911. Menurut mereka, aksi teror itu direncanakan dengan sangat rapi. "Teroris itu sangat profesional. Mereka tidak bisa dilacak," kata seorang pejabat. "Kemungkinan mereka bekerja dengan sistem sel. Tidak lebih dari enam orang dalam satu sel. Tiga orang mengetahui rencana, tiga lainnya tidak," kata si pejabat.

      Pengungkapan jatidiri teroris 911 pun terkesan sangat cepat. Banyak penyidik kaget karena data-data identitas teroris seperti dokumen manual pesawat yang akan dibajak dan dokumen persiapan serangan, sangat mudah ditemukan. Salah satu mantan petinggi intelejen AS mengatakan pada Hersh, "Itu jejak para teroris kok mudah banget ditemukan. Seakan-akan ditinggalkan dengan mencolok agar FBI bisa segera melacaknya."

      Menghubungkan Usamah bin Ladin dengan serangan di WTC juga sempat jadi tanda tanya para penyidik. Alis mereka berkerut ketika nama Usamah dimunculkan. "Si Usamah ini orang yang tinggal di gua di Afghanistan dan dia yang mengatur operasi teror ini? Ini operasi sangat besar! Usamah tidak mungkin bertindak sendiri," kata seorang pejabat CIA pada Hersh.

      Tapi yang paling mengerikan, lanjut si pejabat CIA, "Adalah teroris ini tahu betul tahapan yang harus dilakukan dan mereka sangat tepat waktu. Mereka tahu bagaimana kebiasaan petugas keamanan pesawat. Mereka tahu semua."

      Keraguan lain datang dari seorang pejabat militer AS. Kepada Hersh ia mengatakan, para pelaku serangan WTC begitu mudah mendapatkan visa masuk dan belajar terbang di AS. Melihat kenyataan itu, para penyidik bertanya-tanya, jangan-jangan ada keterlibatan badan intelejen asing lainnya di belakang para teroris.

      Kekuatan Badan Intelejen AS (CIA) pada 2001 ternyata tidak 'sekuat' yang dibayangkan maupun yang mereka gaungkan. Sejak pecahnya Uni Sovyet, menurut Hersh, CIA sudah menjadi badan yang lebih birokratis dan enggan mengambil risiko tinggi. Struktur pejabat CIA banyak dihuni oleh agen intelejen yang seperti ini.

      Secara bertahap, CIA mengurangi ketergantungannya dengan mengirim intel langsung ke negara bersangkutan. CIA juga mengurangi intelnya di negara-negara. Terutama intel yang berfungsi merekrut mata-mata lokal.

      CIA lebih mengandalkan laporan intelejen dari intelejen negara sahabat maupun dari polisi di seluruh dunia. Menurut Hersh, dengan situasi demikian, sukar bagi CIA untuk kembali menempatkan intelnya di negara-negara.

      Padahal, pada masa Perang Dingin dengan Sovyet, intel CIA selalu menyamar jadi diplomat dan pejabat kultural di tiap Kedubes AS di sejumlah negara penting.

      Hersh mempercayai, saat serangan WTC, CIA tidak memiliki intel di kelompok Islam ekstrim. Ini dipertegas oleh mantan intel CIA sendiri, Reuel Marc Gerecht, dalam tulisannya di The Atlantic, 2001. Gerecht pernah menjadi pejabat CIA di Timur Tengah. Dia mengutip pernyataan seorang agen CIA, "Hah! Kebanyakan intel CIA itu tinggal di perkotaan di Virginia. Kami tidak melakukan hal-hal itu lagi (menyusup ke kelompok Islam ekstrim)," katanya.

      Intel CIA lainnya mengatakan pada Gerecth, "Operasi intelejen yang bisa membuat agen-agen di lapangan terkena disentri tidak pernah terjadi lagi." Reputasi CIA pasca peristiwa 911 pun memudar.

      Mantan intel CIA yang kenyang bertugas di Timteng secara langsung, Robert Baer, dalam bukunya See No Evil mengungkapkan dengan gamblang bagaimana sukarnya gerak gerik intel di lapangan.

      Di pertengahan 1986, Baer bertugas di Khartoum, Sudan. Di bulan-bulan awal penugasan, aksi intel Baer berlangsung seru. Otoritas penuh ia dapatkan. CIA juga memasok berapapun uang yang ia minta. Tapi lama kelamaan, politik menyusup ke dunia intel. Operasi dibatalkan karena terlalu berisiko. Bahkan operasi yang berhasilpun dicela karena membuat negara tuan rumah kecewa. Agen-agen yang 'mengecewakan' langsung dipindah, bahkan bisa dibunuh.

      Nasib Direktur CIA George Tenet berada di ujung tanduk. Namun untungnya, dia dibela oleh petinggi Gedung Putih. Wapres Dick Cheney mengatakan jangan menjadikan CIA sebagai kambing hitam dalam lolosnya aksi teror di AS.

      Salah satu staf Komisi Intel di Senat AS mengatakan, "Sebelum peristiwa 911, Direktur CIA George Tenet sudah mendapat info soal Usamah sangat banyak. Tapi dia tidak mengelola informasi itu dengan baik. Dia bahkan tidak bisa mempertimbangkan dari informasi Usamah itu apa yang berbahaya bagi AS." Tenet lolos dari pemecatan. Tapi tiga tahun setelah 911, Tenet mengundurkan diri.

      Enam bulan pertama 2001, sebenarnya komunitas intelejen AS sudah mendapat sinyal kuat tentang kemungkinan adanya aksi teror di negara mereka. Termasuk informasi serangan teror itu menggunakan pesawat sipil. Salah satu informasi intelejen itu malah terlebih dulu tiba di meja Badan Penerbangan Sipil AS.

      Tercatat ada empat informasi intelejen kemungkinan adanya teror pesawat sipil AS. Salah satu berkas informasi, seperti dikutip Menlu AS saat itu, Condoleezza Rice, adalah sebagai berikut:

      "Belum diketahui target spesifiknya, belum ada informasi kredibel terkait serangan ke penerbangan sipil AS. Tapi kelompok-kelompok teror diketahui saat ini sedang merencanakan dan melatih orang untuk pembajakan pesawat. Kami meminta pemerintah untuk sangat berhati-hati."

      Namun, sekali lagi, imbauan ini didiamkan pemerintah AS. Pasca runtuhnya menara kembar WTC, FBI menemukan bukti bahwa keempat teroris yang membajak pesawat 911 beberapa kali naik pesawat berbarengan. Para teroris itu tampak mengecek rute mana yang paling tepat untuk membajak pesawat. Tercatat 12 kali empat teroris ini bepergian bersama. Namun tidak ada peringatan kewaspadaan terhadap mereka saat itu.

      Cara teroris mengecek rute pesawat secara bersama-sama ini dinilai aneh oleh kalangan intelejen. Sebab lazimnya teroris profesional, kegiatan akan dilakukan secara rahasia dan meminimalisasi kemungkinan tertangkap bersama-sama. Apalagi dalam sistem sel yang kerap digunakan oleh kelompok teroris. Dalam kelompok sel itu, sebisa mungkin tiap anggota tidak mengenal anggota lain untuk mencegah risiko ditangkap.

      Enam bulan setelah peristiwa 911, banyak para penyidik mengatakan pada Hersh, setelah mereka melihat data dan fakta, bahwa gerakan 911 bukanlah serangan yang rapi. Ada sejumlah kesalahan fatal yang dilakukan teroris. Namun pemerintah AS tidak tanggap mengenali kesalahan fatal itu.

      Pada 2004, Hersh mengaku dihubungi oleh Myron Fuller, mantan agen FBI. Fuller pernah mengelola informasi dari agen FBI yang ada di luar negeri. Ia menangani laporan dari 200 agen di Asia dan Pasifik. Termasuk Pakistan dan Afghanistan.

      Menurut Fuller, ia menerima bertumpuk-tumpuk laporan tentang kelompok ekstrimis Islam yang mengancam AS. Laporan ini ia terima sejak 1999. Ia memberi tahu Washington terkait rencana-rencana tersebut. Tapi laporannya tidak digubris.

      Seorang staf Komisi Intelejen Senat AS mengatakan memang ada masalah komunikasi antara badan-badan intelejen AS. Masing-masing badan intelejen cenderung menyimpan informasinya rapat-rapat.

      Sementara itu, jauh sebelum 2001, intelejen AS sudah mendapat gambaran kemungkinan serangan teror dengan pesawat udara. Pada 1994, teroris Aljazair membajak pesawat Air France. Mereka mengancam akan menabrakan pesawat ke Menara Eiffel, yang jadi kebanggaan Kota Paris. Pada 1995, polisi Manila menggagalkan rencana bom di 12 pesawat AS. Dalam aksi ini, salah satu teroris ternyata pernah sekolah penerbangan di AS. Dia juga berencana menerbangkan satu pesawat kecil berisi penuh bahan peledak dan menabrakannya ke markas CIA.

      Pada 1996, Direktur FBI Louis Freeh meminta bantuan aparat Qatar untuk mewaspadai gerakan Khalid Sheikh Mohamed. Khalid adalah salah satu pentolah Alqaidah yang tengah berada di Qatar. Informasi yang didapat Freeh adalah, Khalid merencanakan menyerang pesawat AS. Di penghujung 1999, kelompok yang menamakan dirinya Alqaidah membajak pesawat India hanya dengan senjata pisau. Pesawat dibawa ke Kandahar, Afghanistan.

      Begitu juga kebiasaan kelompok teroris menyekolahkan anggota mereka ke sekolah terbang di AS. Pada 1975, Komite Luar Negeri Senat AS menyatakan bahwa teroris Black September 1972 pernah bersekolah pesawat di AS. Hal yang sama juga dilakoni keempat teroris 911 yang mendapat pelatihan penerbangan di sekolah di Florida. Mantan direktur distrik Badan Imigrasi dan Naturalisasi AS, Bill Carroll, mengatakan ribuan pemuda Timur Tengah tiap tahunnya dapat dengan mudah masuk ke AS. Mereka belajar bagaimana menerbangkan pesawat.

      Lebih detil tentang kejanggalan - dan kebohongan - peristiwa 911, silahkan simak di sini. Gunakan google translater (tersedia di pojok kiri atas halaman) bila perlu.

      [Sumber: republika.co.id, JAKARTA | Redaktur: Stevy Maradona]

      Monday, July 4, 2011

      Keajaiban 11 September Monday, July 4, 2011


      Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah badan observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati.

      Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%.

      80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi. Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%.

      Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) melampaui jumlah penganut Kristen sebelumnya. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun.

      17 tahun dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua.

      World Almanac and Book of Fact, New York Times Bestseller nomor 1, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang atau sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara!

      Fenomena di Amerika sendiri sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika lainnya waktu itu, bahwa masyarakat Amerika malah berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 - dikenal dengan 911 - yang sudah demikian gencar mereka gaungkan ke seluruh pelosok dunia sebagai aksi biadab terroris Islam. Peristiwa 911 dan propaganda itu semestinya memberikan citra sangat buruk terhadap Islam. Akan tetapi, benarkah demikian menurut pendapat rakyat Amerika sendiri?

      Pasca 911 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. Tercatat 8 juta orang Muslim kini ada di Amerika, dan sekitar 20.000 orang warga negaranya masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa itu.

      Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya. Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lainnya, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya seperti yang juga diamini oleh The Population Reference Bureau USA Today yang menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.”

      Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times.

      Atas dasar daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.

      ANOMALI 11 SEPTEMBER
      Peristiwa 911 menyimpan misteri yang tidak terduga. Pemboman itu dikutuk dunia, terlebih Amerika, sebagai biadab dan barbar buah tangan para “teroris Islam.” Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah merasakan getahnya mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat: dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

      Pemerintah George Walker Bush segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigran Muslim secara berlebihan. Siaran televisi Fox News Channel, dalam acara mingguan “In Focus” menggelar diskusi dengan mengundang enam orang nara sumber, bertemakan Stop All Muslim Immigration to Protect America and Economy.” Selain terang-terangan menunjukkan sikap diskriminatif atas agama, acara ini, tentu saja, menggambarkan betapa besar kekhawatiran Amerika tidak hanya dalam masalah terorisme, tetapi juga ekonomi, di mana pengaruh para pengusaha Arab dan Timur Tengah mulai dominan dan mengendalikan ekonomi Amerika.

      Tapi, rupanya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Islam mematahkan “logika akal sehat” manusia modern. Bagaimana mungkin ada sekelompok orang nekad berbuat biadab membunuh hampir 3.000 orang tidak berdosa dengan mengatasnamakan sebuah agama, tetapi tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang "berakal sehat" berbondong-bondong secara sukarela menyatakan diri masuk agama orang-orang biadab itu, dan bahkan, menemukan kedamaian di dalamnya?

      911 telah berfungsi menjadi ikon yang memproduksi arus sejarah yang tidak logis dan mengherankan. Selain 20.000 orang Amerika yang masuk Islam setiap tahun pasca 911 itu, ribuan yang lain dari negara-negara non Amerika (Eropa, Cina, Korea, Jepang dst) juga mengambil keputusan yang sama, masuk Islam!

      Bagaimana arus ini bisa dijelaskan? Sejauh yang bisa dicari, jawabannya tidak ada dalam semua teori-teori gerakan sosial, sebab fenomena ini benar-benar adalah sebuah anomali. Karenanya gejala ini hanya bisa dijelaskan oleh “teori tangan Tuhan.” Tangan Tuhan dalam bentuk "blessing in disguise" adalah nyata dibalik peristiwa 911, dan ini diakui oleh masyarakat Islam Amerika.

      Karena peristiwa 911 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika justru kemudian terpancing rasa penasarannya untuk mengetahui Islam lebih jauh. Sebagian karena murni semata-mata ingin mengetahui saja, sebagian lagi mempelajari dengan sebuah pertanyaan di benaknya:

      “Bagaimana mungkin pada zaman modern dan beradab ini ada agama yang mengajarkan teror, kekerasan, dan bom bunuh diri dengan mengorbankan ratusan, bahkan ribuan, korban tidak berdosa?”

      Kendati alasannya berbeda, tapi keduanya berbasis pada kondisi yang sama, yakni ignorance of Islam atau ketidaktahuan sama sekali tentang Islam.

      Sebelumnya, sumber pengetahuan masyarakat Barat (Amerika dan Eropa) tentang Islam hanya satu, yaitu media yang menggambarkan Islam tidak lain kecuali stereotip-stereotip buruk seperti teroris, uncivilized, kejam terhadap perempuan, dan sejenisnya. Namun seperti disaksikan Eric, seorang Muslim pemain cricket warga Texas, setelah peristiwa 911 masyarakat Amerika menjadi sangat ingin tahu tentang Islam. Karenanya setiap hari kemudian mereka ramai-ramai membeli dan membaca Al-Qur’an, membaca biografi Muhammad, termasuk buku-buku tentang Islam lainnya untuk mengetahui apa saja isinya.

      Hasilnya, dari membaca sumbernya langsung, mereka menjadi mengenal ajaran Islam yang sesungguhnya. Alih-alih bertambahnya kebencian, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka menemukan keagungan serta keindahan ajaran agama yang satu ini. Keagungan ajaran Islam ini bertemu pada saat yang tepat dengan kegersangan, kegelisahan dan kekeringan spritual masyarakat Amerika yang sekuler selama ini.

      Karena itu, Islam justru menjadi jawaban bagi proses pencarian spiritual mereka selama ini. Islam menjadi melting point atas kebekuan spiritual yang selama ini dialami masyarakat Amerika. Inilah pemicu terjadinya Islamisasi Amerika yang mengherankan para pengamat sosial dan politik.

      Inilah tangan Tuhan di balik peristiwa 911!



      Sunday, June 5, 2011

      Anti-Islam dan Xenophobia di Eropa Sunday, June 5, 2011

      Pada pekan terakhir tahun 2006, untuk pertama kalinya sebuah lembaga Eropa merilis laporan tentang ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kaum muslim di Eropa. European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC), dalam laporan setebal 115 halamannya, menyebutkan berbagai aksi racisme dan diskriminasi terhadap warga muslim Eropa. Laporan itu menyebutkan secara terperinci seluruh perilaku buruk yang menimpa warga muslim Eropa.

      Perlu disinggung kembali bahwa muslimin merupakan kelompok minoritas terbesar di Eropa.

      Diperkirakan jumlah warga muslim di 27 negara anggota Uni Eropa mencapai 15 juta orang. Namun mereka harus menghadapi berbagai diskriminasi, keterbatasan, pemarginalan, dan masih banyak lagi. Fenomena rasisme memang telah mengakar dalam masyarakat Eropa. Fenomena tersebut masih sangat kental pasca berakhirnya era kolonialisme. Rasisme tumbuh subur di negara-negara Barat yang mengklaim sebagai penegak panji kebebasan, kemanusiaan, dan keadilan.

      Para imigran dari berbagai belahan dunia khususnya dari negara-negara eks-koloni, berbondong-bondong menuju Barat dengan harapan dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar mereka berasal dari negara-negara Islam. Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Disana mereka tidak merasakan kebebasan, ketentraman, cinta kemanusiaan, seperti yang dijanjikan, melainkan diskriminasi, rasisme, dan lain-lain. Itu semua terjadi hanya karena mereka berpegang teguh pada keyakinan mereka.

      Pasca 11 September, anti-Islam berubah menjadi kebijakan permanen negara dan media massa Barat. Sebelumnya pun, gerakan tersebut sudah terjadi. Namun, pasca 11 September, fenomena tersebut semakin menguat, meluas, dan bahkan dilakukan secara terang-terangan. Anti-Islam dan xenophobia atau phobia terhadap orang-orang asing di Barat sedemikian parah sehingga orang-orang muslim dicap sebagai pihak yang selalu bersalah. Sementara pada saat yang sama, mereka juga dituntut untuk selalu membuktikan ketidakbersalahan mereka. Di samping itu, media-media Barat berupaya menampilkan Islam sebagai agama ekstrim dan penebar kekerasan. Dalam mempropagandakannya pun media massa Barat menggunakan cara-cara yang irasional. Misalnya ketika ada penayangan tentang Islam atau ibadah kaum muslimin, mereka selalu menyelipkan tayangan teror serta kekerasan. Sebelum serangan 11 September, warga muslim Eropa menjadi korban diskriminasi dan rasisme karena mereka bukan asli orang Eropa atau karena mereka keturunan imigran. Namun pasca 11 September, alasannya berubah karena mereka beragama Islam.

      Negara-negara Eropa memberlakukan berbagai pembatasan terhadap warga muslim dengan alasan memerangi ekstrimisme dan dalam rangka menjustifikasi sekulerisme dalam sistem pemerintahan mereka. Perancis mengklaim sebagai kampiun demokrasi dan kebebasan di dunia dan dalam sektor ini Paris berada di tingkat teratas. Namun, Perancis juga merupakan negara Eropa pertama yang meratifikasi undang-undang larangan jilbab bagi para pelajar putri muslim. Padahal, warga muslim di Perancis adalah yang terbanyak dibandingkan negara Eropa lainnya. Ratifikasi undang-undang tersebut mencuatkan reaksi negatif dari negara-negara Islam. UU tersebut dinilai bertentangan dengan asas Hak Asasi Manusia dan hak sipil.

      Perancis menjustifikasi penetapan UU itu dengan alasan untuk memberantas ekstrimisme. Kebijakan Perancis itu kemudian diikuti oleh sebagian negara Eropa lainnya. Kini, Belgia dan Jerman tengah membahas penerapan UU larangan jilbab. UU larangan jilbab bagi muslimah hanya satu contoh dari diskriminasi terhadap kaum muslim Eropa. Aksi diskriminasi tersebut kini meluas hingga upaya-upaya anti-pengultusan agama dan nilai-nilainya serta pemisahan muslimin dari budaya Islam. Negara-negara Eropa menyebut politik ini sebagai perluasan Islam-Eropa moderat.

      Sebab itu, propaganda pelecehan terhadap Islam pun dimulai secara meluas. Gerakan anti-Islam di Eropa, dimulai dua dekade lalu oleh Salman Rushdie. Ia adalah seorang penulis Inggris keturunan India yang merilis buku penghinaan terhadap Rasulullah dan hukum-hukum Islam. Pasca 11 September, Barat mengerahkan seluruh fasilitasnya untuk membangkitkan gerakan anti-Islam. Propaganda itu didukung oleh media audio-visual dan cetak. Pemublikasian karikatur biadab terhadap Rasulullah oleh sebuah koran Denmark merupakan salah satu contohnya. Barat mendukung aksi pelecehan tersebut dengan alasan kebebasan berpendapat. Kebijakan seperti ini kian meningkatkan prasangka buruk terhadap warga muslim Eropa.

      Pokok laporan European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) berkaitan dengan pemarginalan warga muslim. Laporan itu terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama terkait jumlah dan dokumen kasus-kasus diskriminasi, aksi pemukulan, dan tindak kekerasan terhadap warga muslim Eropa. Bagian kedua menyangkut kondisi warga muslim Eropa hasil wawancara dengan berbagai lembaga Islam di 25 negara Eropa. Laporan ini menunjukkan bahwa akibat diskriminasi dan ketidakadilan, kondisi perekonomian dan pendapatan warga muslim Eropa sangat minim. Kesuksesan pendidikan mereka juga dibawah garis menengah, dan jumlah pengangguran muslim Eropa sangat tinggi.

      Tidak hanya itu, warga muslim Eropa bahkan harus berjuang menghadapi berbagai kesulitan harian mereka. Misalnya menunaikan shalat di tempat-tempat publik. Pihak kepolisian Eropa sangat mencurigai pengiriman uang warga muslim Eropa ke luar negeri, dan bantuan mereka terhadap lembaga-lembaga kemanusiaan. Sejumlah keluarga muslim terpaksa memberikan nama-nama non-Islam kepada putra-putri mereka agar tak diganggu.

      Saat ini, kondisi di negara-negara sangat sulit bagi orang-orang muslim. Padahal negara-negara itu pula yang mengklaim menggalakkan dialog antar budaya dan madzhab, penghormatan terhadap keyakinan, dan interaksi antara umat Islam dan Kristen. Dalam hal ini Barat menggulirkan kebijakan ganda. Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai pihak yang cenderung mengutamakan dialog, namun di sisi lain, mereka terus merepresi, melecehkan, dan mendiskriminasi warga muslim. Tujuannya adalah memperluas budaya Barat. Sayang sekali, Pemimpin Tertinggi Katolik Dunia, Paus Benedictus XVI, juga ikut terjun dalam propaganda ini. Bulan September tahun 2006 lalu, Benedictus menilai Islam sebagai agama ekstrim dan penebar kekerasan. Pernyataan Benedictus itu langsung direaksi negara-negara Islam dengan menarik duta besarnya dari Vatikan.

      [Sumber: EUMC]

      Penyimpangan Citra Islam Lewat Sinema Barat

      Dewasa ini, penyampaian informasi merupakan salah satu faktor terpenting kekuatan sosial dan politik. Itulah sebabnya, para politisi berusaha menguasai media massa dan memanfaatkannya dalam bersaing dengan rivalnya. Dalam beberapa dekade terakhir ini, setelah kemenangan Revolusi Islam Iran dan meningkatnya kecenderungan Islami di dunia, serta disusul pula oleh runtuhnya Uni Soviet, dunia masuk ke dalam era yang baru. Dalam era baru ini, Amerika berusaha untuk menguasai dan menghegemoni dunia dengan cara menguasai media massa. Salah satu eleman media massa yang dimanfaatkan pemerintah Amerika dalam merealisasikan ambisi hegemoninya adalah industri sinema Hollywood.

      Salah satu bagian utama Hollywood ialah menyajikan dan mempropagandakan citra buruk Islam dan umat Islam. Film-film yang dibuat dalam bidang ini memang tidak banyak bila dibandingkan dengan seluruh film buatan Hollywood, namun telah diprogram sedemikian rupa untuk menjadi alat propaganda anti Islam. Gambaran yang disajikan tentang umat Islam dalam sinema Barat bisa dibagi kepada tiga periode sejarah. Pertama, sejak Hollywood didirikan hingga terbentuknya pendudukan rezim Zionis di Palestina. Kedua, sejak pembentukan rezim Zionis hingga era kebangkitan Islam. Dan ketiga, dekade 80-an hingga hari ini.

      Bila kita meninjau kepada sejarah pembuatan film di Amerika,kita akan melihat bahwa industri film seringkali menampilkan orang-orang Arab sebagai wakil dunia Islam. Hollywood membuat film berkaitan kehidupan orang-orang Arab dalam rangka merusak citra umat Islam di seluruh dunia. Padahal hanya kira-kira 15 persen saja umat Islam yang berbangsa Arab. Selain itu, gambaran yang disajikan tentang orang-orang Arab muslim biasanya sangat menyimpang dari kenyataan. Dalam pandangan Hollywood, semua orang Arab dianggap sama rata dan dicitrakan bengis, terbelakang, dan anti kemajuan. Pada periode pertama pembikinan film mengenai orang Islam, orang-orang Arab digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki peradaban, yang hanya menghabiskan waktu dengan berfoya-foya dan bergelimang materi.

      Thomas Edison pada tahun 1897 telah membuat sebuah film dimana di dalamnya digambarkan seorang perempuan Arab yang memakai pakaian dan melakukan gerakan tidak pantas demi menghibur kaum lelaki. Sejak dari itu, gambaran seperti ini dijadikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari film-film Amerika yang mengambarkan Timur dan umat Islam. Dalam film-film ini gambaran muslim dicitrakan dengan orang-orang kulit berwarna gelap, alis yang tebal, janggut hitam dan pakaian Arab.

      Selepas bertahun-tahun, Hollywood menambahkan lagi gambaran yang tidak benar berkaitan dengan umat Islam. Kali ini, wajah umat Islam digambarkan sebagai orang yang kaya dari penjualan minyak dan melakukan banyak investasi. Film-film dekade 70-an sering mengambarkan orang-orang Arab sebagai orang kaya sehingga banyak orang Barat yang membayangkan bahwa orang-orang Islam adalah orang-orang milyader dan suka menghambur-hamburkan uang.

      Tetapi sepanjang 30 tahun terakhir, para pemirsa disuguhi citra baru tentang umat Islam, yaitu bahwa umat Islam sering terlibat aksi terorisme. Pada periode ini, sinema Hollywood dalam satu putaran bersejarah telah menjauhkan diri dari film-film yang menonjolkan serangan mahkluk asing dan memusatkan diri kepada musuh baru dengan judul "Teroris Islam". Jack Shahin adalah seorang penulis Islam yang selama bertahun-tahun melakukan penelitian mengenai kinerja Amerika dalam menyajikan gambaran klise dan tidak sesuai mengenai dunia Islam. Dalam salah satu karyanya berjudul "Televisi Barat", Jack Shahin menulis, pada 10 tahun yang lalu, Hollywood mengambil langkah untuk membuat dan menyajikan karya yang semuanya bertujuan untuk merusak wajah Islam. Di antara film-film seperti ini adalah film-film berjudul Iron Eagle, Delta Force 3, Death Before Dishonor, dan The Patriot Games. Shahin berkata, "Adalah sulit untuk mencari seorang Arab yang baik dan pahlawan dalam budaya ilmu Barat, bagaikan mencari jarum dicelah-celah timbunan pasir."

      Bukan hanya Jack Shahin yang memprotes sikap sepihak dan serangan sinema Barat terhadap Islam. Berdasarkan kepada penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan, sebagian besar film kontraversial produk Hollywood dan animasi anak-anak, mengambarkan umat Islam secara menyimpang. Berlandaskan penelitian yang dipublikasikan di Eropa ini, umat Islam percaya bahwa gambaran negatif berkaitan agama Islam dalam sinema dan televisi meninggalkan dampak dalam kehidupan harian mereka. Terkait dengan hal ini, para responden muslim menyatakan bahwa citra yang disajikan dalam media massa mempunyai hubungan langsung dengan pengalaman sosial mereka, di antara penganiayaan, diskriminasi, dan kekerasan. Penelitian yang dilakukan oleh komisi penelitian HAM Islam ini merangkum pendapat lebih dari 1100 responden muslim. Hasil penelitian ini antara lain adalah kesimpulan bahwa media massa memainkan peran besar dalam memicu diskriminasi dan kekerasan terhadap umat Islam. Selain itu, laporan-laporan media massa dan film-film sinema mengenai Islam adalah klise, tidak benar, dan menyimpang.

      Arezu Mir Ali, ketua bagian peneliti komisi HAM Islam dan salah seorang penyusun laporan ini, menyatakan bahwa dengan memperhatikan kepada penelitian terbaru, 80 persen orang-orang Inggeris tidak mempunyai hubungan dekat dengan umat Islam. Mereka juga tidak mempunyai pengalaman pribadi terkait dengan interaksi dengan umat Islam. Gambaran dari sinema dan televisi berkenaan umat Islam telah membentuk sikap rakyat Barat terhadap Islam dan umat Islam.

      Sebagian pengamat menyebutkan bahwa ledakan menara kembar pusat WTC New York tanggal 11 September 2001 merupakan poin tersendiri dalam meneliti sikap media massa Barat terhadap Islam. Segera setelah peristiwa teror ini, Hollywood menyajikan gambaran umat Islam yang tanpa logika menyerang wanita, lelaki, dan anak-anak tak berdosa. Demikian juga, berulang kali dipertontonkan seorang muslim yang melakukan peledakan bom dan pembunuhan biadap bersamaan dengan suara azan dan solat. Sebagai contoh, film Executive Decision menayangkan peristiwa penyanderaan sebuah pesawat yang dilakukan oleh sekelompok orang Arab Palestina. Film ini memperlihatkan bahwa para penyandera itu sebelum dan selepas membunuh para penumpang tidak berdosa, terlebih dahulu menunaikan solat. Adegan ini jelas sengaja dibuat dengan tujuan menampilkan citra bahwa teror merupakan bagian dari perilaku yang telah ditetapkan dalam Islam.

      Kita akhiri obrolan kali ini dengan memetik sebagian artikel yang ditulis oleh Shabana Mir, kritikus sinema Guardian. Dalam kritikannya atas gambaran bohong mengenai umat Islam yang dilakukan oleh Hollywood, Shabana Mir menulis,

      "Para pemirsa film-film ini berpendapat bahwa umat Islam dan orang-orang Arab bertanggungjawab dalam menciptakan kekerasan. Tidak ada yang melihat hakikat sebenarnya, yaitu bahwa sesungguhnya kaum muslimlah yang menjadi korban kekerasan. Korban terorisme pemerintah Rezim Zionis di Tepi Barat Sungai Jordan adalah orang-orang muslim, yang rumah-rumah mereka dihancurkan dan anak-anak mereka dibunuhi. Para pemirsa film-film ini tidak melihat pada kehidupan keseharian umat Islam dan tidak pernah mengenali kasih sayang seorang ibu muslim yang meninabobokan anak-anak mereka dengan puisi cinta. Gambaran bohong mengenai muslim itulah yang kemudian dipercayai oleh warga negara kita."

      Semoga bermanfaat!

      Contact Form

      Name

      Email *

      Message *