Comments
Timelines
Contact
Social Media
Timeline Cover
Showing posts with label Jannah. Show all posts
Showing posts with label Jannah. Show all posts

Tuesday, March 22, 2016

Saat ini Sudah Adakah Penghuni Sorga Dan Neraka? Tuesday, March 22, 2016


TANYA
Saya masih bertanya-tanya ustadz, apakah surga dan neraka itu sudah berpenghuni? Kalau dari nash-nash yang pernah saya baca, di neraka sudah ada orang-orang yang disiksa, sebagaimana kabar dari Rasullah Shallallahu 'alayhi wa sallamketika naik ke Mi’raj. Bagaimana kejelasan tentang hal ini? Mohon diterangkan berdasarkan dalil-dalil yang sahih.

JAWAB
Surga adalah tempat yang disediakan Allah bagi hamba-hamba yang dicintai dan taat kepada-Nya. Di dalamnya penuh dengan kesenangan dan kenikmatan tanpa ada yang dapat mengurangi dan mengusik kesuciaannya. Kenikmatan Surga bersifat kekal. Belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran seorang pun manusia.

Neraka adalah tempat tinggal yang disediakan Allah untuk orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya, yaitu mereka yang menentang aturan-aturan-Nya, dan tidak mempercayai para rasul-Nya. Di dalamnya terdapat siksaan yang paling hina sebagai hukuman bagi musuh-musuh-Nya.

Surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah Ta’ala. Keberadaan keduanya tidak akan pernah berakhir. Allah Ta’ala menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan yang lain, sekaligus menciptakan penduduk di dalamnya. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Thahawi Rahimahullah dalam bukunya yang berjudul Al ‘Aqidah At Thahawiyah.

Ibnu Abdil Izz Al Hanafi Rahimahullah memberi komentar keterangan di atas, ia mengatakan ‘mengenai pernyataannya bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan surga dan neraka, ahlus sunnah sependapat bahwa surga dan neraka memang telah diciptakan dan sudah ada sejak dahulu kala.’

Al-Qur’an mengindikasikan 'keberadaan surga' di beberapa surat. Di antaranya;

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran: 133)

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha,Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An Najm: 13-15)

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, telah terjadi sebuah gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Aisyah memberi kabar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Ketika Aku berdiri di sini aku melihat semua yang dijanjikan kepadamu. Aku bahkan melihatku sendiri memetik beberapa buah di surga, ketika engkau melihat aku melangkah ke depan. Dan aku melihat api neraka, beberapa bagiannya mamakan bagian-bagian yang lain, ketika engkau melihat aku melangkah ke belakang.”

Imam Bukhari Rahimahullah menyediakan Bab khusus dalam shahihnya tentang hadits-hadits mengenai diskripsi surga dan tentang telah diciptakannya surga. Beliau mengutip banyak hadits yang menunjukkan bahwa surga telah diciptakan. Diantaranya adalah hadits yang menyatakan bahwa pada saat mayit dimasukan ke dalam kubur, Allah Ta’ala memperlihatkan kepada mayit itu tempatnya di surga atau di neraka. Ada lagi hadits bahwa nabi melihat tempat Umar bin Khatab di surga.

PARA PENGHUNI SURGA DAN NERAKA
Sebagaimana yang kita telah ketahui bersama bahwa surga dan neraka telah diciptakan, lalu siapa penghuninya sekarang ini?

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam banyak menceritakan tentang para penghuni Surga (jannah) atau neraka (jahannam), baik ketika melaksanakan mi’raj maupun ketika bermimpi atau dari mimpi para sahabat yang beliau benarkan.

Imam Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dari Asma’ bahwa Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

”Surga berada begitu dekat denganku sehingga, jika aku mau, aku dapat memetik beberapa buahnya. Neraka juga didekatkan sekali kepadaku sehingga aku berkata ‘Ya Allah, bahkan aku masih bersama mereka, aku melihat seorang dari mereka sedang dicakar oleh seekor kucing, dan aku bertanya mengapa ini? Mereka mengatakan kepadaku, ia menyekap kucing tersebut sampai mati kelaparan, ia tidak memberinya makan, atau melepaskannya supaya kucing tersebut dapat memakan tikus-tikus yang berkeliaraan di muka bumi.”

Dalam hadits yang lain ditambahkan,

”Aku juga melihat Abu Thumamah, Umar bin Malik yang sedang ditarik batang tenggorokannya di dalam neraka.”

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam melihat Amir bin Amir Al Khuja’i dikeluarkan isi perutnya di dalam neraka.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda dalam khutbahnya ketika gernaha matahari, “Aku melihat neraka, dan aku melihat sebagian isinya adalah wanita.”

Mengenai surga, Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam menceritakan dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Usamah bin Zaid,

“Aku berdiri di depan pintu surga dan melihat bahwa sebagian besar dari orang-orang yang masuk surga adalah orang-orang miskin dan papa, sedangkan yang kaya tertahan, sementara penduduk neraka diperintahkan untuk dibawa ke dalam neraka.”

Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Telah diperlihatkan kepadaku tiga orang pertama yang akan masuk surga: seorang mati syahid, seorang yang beramal shalih, dan seorang budak yang menyembah Allah dengan penuh keyakinan dan pengabdian serta tulus dan setia kepada tuannya.”

Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam juga menyebut bahwa Beliau melihat beberapa sahabat di dalam jannah, diantaranya sahabat Ja’far bin Abdil Muthalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Zaid bin Haritsah, Zaid bin Amir bin Nufail, Haritsah bin An Nu’man, dan Bilal bin Rabah.

ORANG-ORANG YANG MASUK SURGA SEBELUM HARI KIAMAT
Ada beberapa orang atau golongan yang masuk surga sebelum datangnya Hari Akhir, yaitu:
  • Nabi Adam ‘alayhi salam
Manusia pertama yang masuk surga adalah bapak umat manusia, Adam as dalilnya QS. 2:35, tetapi Adam melanggar perintah Allah Ta’ala dengan memakan buah dari pohon yang telah dilarang, lalu Allah mengirim adam dari surga ke dunia yang penuh penderitaan dan kekurangan.
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, telah terjadi sebuah gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam. ‘Aisyah memberi kabar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallambersabda,

”Ketika aku berdiri di sini aku melihat semua yang dijanjikan kepadamu. Aku bahkan melihatku sendiri memetik beberapa buah di surga, ketika engkau melihat aku melangkah ke depan. Dan aku melihat api neraka, beberapa bagiannya mamakan bagian-bagian yang lain, ketika engkau melihat aku melangkah kebelakang.”
  • Para Syuhada
Di antara orang yang akan masuk surga sebelum hari kiamat adalah para syuhada fi sabilillah. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Masruk bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang ayat 169 dari Surat Ali Imran, Ia berkata kami juga menanyakan hal itu, dan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Arwah mereka berada dalam perut burung burung berwarna hijau dan mereka mempunyai cahaya yang datang dari Arsy. Mereka berkeliaraan di surga ke mana saja mereka inginkan, kemudian mereka mencari perlindungan di bawah cahaya itu. Rabb mereka akan datang secara tiba tiba kepada mereka lalu bertanya, apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab ‘apalagi yang kami inginkan, sementara kami dapat pergi ke mana saja yang kami inginkan di surga’, Allah Ta’ala akan datang dan menanyakan hal tersebut tiga kali. Ketika mereka sadar bahwa mereka tidak diijinkan menjawab tidak, lalu mereka berkata’ Ya Rabb, bisakah kami dikembalikan lagi ke tubuh tubuh kami dan dibunuh sekali lagi di jalanmu ? Ketika Allah Ta’ala mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai keinginan atau keperluan apa-apa lagi, maka Allah Ta’ala membiarkan saja mereka.”

Siapa saja dari manusia yang meninggal dunia maka baginya akan diperlihatkan tempatnya di surga atau di neraka, pada waktu pagi dan sore.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

”Apabila seseorang meninggal akan diperlihatkan tempatnya pada pagi dan sore hari. Jika ia calon penghuni surga ia akan menjadi penghuni surga, jika ia calon penghuni neraka ia akan menjadi penghuni neraka, lalu dikatakan kepadanya inilah tempatmu sekarang, sampai Allah Ta’ala memasukanmu kedalamnya pada hari kiamat nanti."

Sebagai bahasan terakhir, pernyataan Imam Nawawi di dalam syarh sahih Muslim di bawah ini perlu diperhatikan:

“Orang-orang yang dikabarkan berada di dalam jannah bukan berarti ia sudah berada di jannah, hal itu adalah sebagai kabar gembira bagi para sahabat dengan kesaksian Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, baik di dalam mimpinya maupun ketika mi’raj. Apabila penghuni surga sudah ada sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, berarti bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,”Aku datang ke pintu jannah dan meminta supaya pintu itu dibuka. Penjaga jannah bertanya,”Siapakah engkau”? Aku berkata, ”Muhammad.” Penjaga surga berkata lagi, ”Aku diperintah untuk tidak membuka pintu ini bagi siapa saja sebelum engkau.”

Beberapa sahabat yang dikabarkan masuk jannah mereka masih hidup dan mustahil mereka ketika itu berada di dalam jannah. Al Kirmani berkata, ”Seseorang tidak akan masuk surga kecuali setelah ia mati.” [lihat Syarh Shahih muslim]

KESIMPULAN
Bahwasannya Rasulullah adalah orang yang pertama kali masuk janah dan tidak ada orang yang mendahuluinya. Orang orang yang dikabarkan di dalam jannah atau di neraka adalah wahyu sebagai kabar gembira atau peringatan. Para syuhada akan diizinkan mengunjungi jannah, sebagai keutaman bagi mereka, namun mereka belum menikmati jannah dengan jasadnya.

Wallahu 'alam bissyawwab.

[sumber: www.kiblat.net]

REF:
Syirah Aqidah Thahawiyah, Muhamad ibnu Abdil Izz, darul ‘alam alkutub, cet ketiga, 1418 H / 1997 M.Fathul Bary, ibnu hajar asqolani, jilid 2, darul kutub ilmiyah, cet pertama 1410 H / 1989 M.Surga dan neraka, Sulaiman Al asqor, serambi ilmu semesta, cet kesatu, 1421 H / 2000 M.Syareh Shahih Muslim, Imam Nawawi. 


3 RESPONS

Jiman says: 27 June 2014 at 11:13 pm

1. kenapa alloh menyiksa orang dineraka?
2. neraka katanya kekal gmn orang bisa keluar dari sana?
3. dimana belas kasih dan alloh pangampunan alloh kalau masih mengganjar orang dineraka?
4. dimana keadilan alloh jika dosa ditimbang dengan kebaikan?
5. kenapa alloh menuntut keadilan dengan cara seperti itu?

Ibas Ok says:
28 June 2014 at 1:48 pm

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي
(صحيح البخاري)

“Ketika Allah SWT selesai membangun Alam semesta, maka Dia SWT mencantumkan diatas Arsy: Sungguh Kasih SayangKu melebihi KemurkaanKu”  [Shahih Bukhari]

Perlu diketahui, kasih sayang Allah subhanahu wata’ala sangat besar, namun Allah juga mempunyai sifat murka, sebagaimana Allah menciptakan surga maka Allah juga menciptakan neraka. Disiapkan sebagai bentuk pertanggung jawaban seseorang atas apa yang telah diperbuatnya di dunia.

Seseorang yang dapat berfikir, tentunya mengetahui bahwa dunia ini meliputi takdir Allah dan kehendak manusia. Manusia tidak memiliki kehendak dalam penciptaan yang ia tidak mampui, semisal menciptakan tubuhnya sendiri. Namun, dia punya kehendak sempurna dalam hal tertentu seperti makan, minum, bergerak, bekerja, bermain, dsb. Maka dari itu, dia memikul tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan yang dapat dilakukannya.

Berkenaan dengan bagaimana Allah dapat mengeluarkan seorang dari neraka, padahal neraka itu kekal, maka hadits ini bisa menjawabnya.

Hadits tentang keluarnya penghuni Neraka dengan syafa’at.
Dibawakan oleh Hammad bin Zaid, ia berkata: Aku bertanya kepada Amr bin Dinar: “Apakah engkau mendengar Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: "(Sesungguhnya Allah mengeluarkan sekelompok orang dari Neraka dengan syafa’at)?”Amr bin Dinar menjawab,”Ya.” [HR Imam Bukhari dan Muslim]

Allah ta’ala memiliki sifat Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia selalu membukakan Rahmat dan pintu maaf pada makhlukNya. Lantas, bagaimana ketika Allah menyiapkan siksaan bagi mereka yang ingkar. Apakah Allah tidak sayang kepada makhluk-Nya. Apakah pada akhirnya makhluk diciptakan hanya untuk disiksa? tidak demikian. Hal itu karena kita ada untuk menjadi pemimpin di bumi ini, menggali setiap pengetahuan, setiap ilmu yang akhirnya mendekatkan kita kepada sang Khalik, sang Maha Pencipta, sehingga kita mampu Tunduk dan ikhlas dengan penuh kesadaran menerima indahnya Iman.

Alangkah indah jika kita yakin dan tunduk dengan ikhlas tanpa embel-embel apapun didalamnya. Sebagaimana perkataan Umar bin Khatab (lafadznya kurang lebih seperti ini),

”Ketika aku diperintahkan untuk beramal, maka aku lakukan amalan itu semampuku tanpa mengharap apapun dari Sang pemberi perintah. Ketika Dia berkehendak membalas amalanku, maka sudah pasti Dia akan membalasnya.”

Bima says:
3 February 2016 at 7:23 am

di atas pada bagian Orang2 yang akan masuk dalam surga :

– Manusia pertama yang masuk surga adalah bapak umat manusia, Adam as dalilnya QS. 2:35, tetapi Adam melanggar perintah Allah Ta’ala dengan memakan buah dari pohon yang telah dilarang, lalu Allah mengirim adam dari surga ke dunia yang penuh penderitaan dan kekurangan.

sedangkan menurut kesimpulan anda isinya:

– Bahwasannya Rosululloh adalah orang yang perttama kali masuk janah dan tidak ada orang yang mendahuluinya.

Untuk orang awam membacanya pasti bingung, bisa tolong diberi penjelasan lebih tentang 2 hal diatas?

Thursday, February 18, 2016

Sorga Yang Dijanjikan Oleh Allah Thursday, February 18, 2016


SORGA yang dalam bahasa Arab disebut al-Jannah diambil dari ungkapan al-hadiqah zatusy-syajar (kebun atau taman yang terdiri dari berbagai macam pepohonan). Ini untuk menggambarkan pada benak orang Arab ketika itu bahwa ada suatu tempat yang sangat indah nan diliputi berbagai macam kenikmatan luar biasa. Kontras sekali dengan wilayah Jazirah Arab yang kering kerontang dari hamparan padang pasir.

Keistimewaan surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya digambarkan Allah SWT dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, 

"Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh suatu balasan (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati.” [HR Bukhari].

Setelah Rasulullah SAW menggambarkan surga, Beliau SAW kemudian membaca ayat Alquran,

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajadah [32]: 17).

Kenikmatan yang diberikan Allah SWT di dalam surga bersifat kekal, tidak pernah habis, dan banyaknya tak terhitung. Dari semua kenikmatan tersebut, nikmat yang paling tinggi yang akan dirasakan penghuni surga ialah menyaksikan Allah SWT. Seperti diterangkan dalam firman-Nya,

"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya." (QS Al-Qiyamah [75] :22-23).

Luas surga digambarkan seluas langit dan bumi. Seperti diterangkan Alquran, 

"Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Ali Imran [3]: 133). 

Disebutkan pula, di dalamnya mengalir sungai-sungai yang bermacam-macam dan diberi nama sesuai dengan keadaan dan sifat airnya.

Ada sungai air jernih, yaitu airnya selalu dalam keadaan jernih, tidak berubah rasa dan baunya. Ada pula sungai susu karena airnya terdiri atas air susu yang juga tidak berubah rasanya. Kemudian, ada juga sungai arak (khamar), yaitu airnya terdiri atas khamar yang sangat lezat rasanya, tapi tidak memabukkan. Selanjutnya, ada pula sungai madu, yang airnya terdiri atas madu yang disaring. (QS Muhammad [47]: 15).

Perhiasan yang diberikan kepada penghuni surga terdiri atas emas, mutiara, serta pakaian yang terbuat dari sutra. (QS Fathir [35]: 33), baik sutra yang halus tipis maupun tebal. (QS Ad-Dukhan [44]: 53). Sedangkan, makanan dan minuman mereka terdiri atas berbagai macam jenis, terserah apa saja yang mereka inginkan, semuanya tersedia. (QS Az-Zukhruf [43]: 71).

Penghuni surga benar-benar dimanjakan. Piring-piring dan gelas-gelas mereka saja semuanya terbuat dari emas. Di samping peralatan dari emas, ada pula peralatan yang terbuat dari perak dan kristal (QS Al-Insan [76]: 15). Di samping itu, penghuni surga dilayani pelayan-pelayan muda bagaikan mutiara yang bertaburan dengan pakaian sutra yang sangat indah dan menyedapkan pandangan mata. Mereka tetap tinggal muda dan tidak pernah berubah menjadi tua. (QS Al-Insan [76]: 19-21).

Di dalam surga juga tidak ada lagi permusuhan, tidak ada perasaan dengki antarsesama penghuninya. Hidup mereka rukun dan damai bagaikan saudara-saudara kandung. Mereka tidak pernah merasa penat, lelah, atau letih. (QS Al-Hijr [15] :45-48).

Penduduk surga juga tidak pernah melakukan perkataan dusta, omong kosong, apalagi yang bersifat dosa. Seluruh yang keluar dari lisan mereka hanyalah perkataan kedamaian dan kebaikan. (QS Al-Waqi'ah [56] : 25-26). Di samping itu, penduduk surga juga tidak mengenal adanya usia tua dan muda. Umur para penghuninya sebaya dan tidak pernah bertambah tua. Semua mereka dalam keadaan sehat dan tidak pernah dihinggapi penyakit.

Penduduk surga atau mereka yang akan memasukinya disebut dengan ahlul jannah atau ashabul jannah. Mereka adalah orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Tapi, bukan berarti orang mukmin yang belum mencapai derjat mutakin (takwa) tidak bisa masuk ke dalamnya. Setiap orang mukmin di akhirat kelak akan ditimbang amal baik dan buruknya. Allah SWT bersikap sangat adil dalam hal ini. Jika amal baik lebih berat dan lebih banyak dari amal yang jahat, ia akan dimasukkan ke dalam surga. Tapi, sebaliknya, jika amal yang jahat lebih banyak, ia akan dimasukkan ke dalam neraka.

Hukuman yang diberikan Allah SWT di dalam neraka setimpal dengan kejahatan yang dilakukan orang tersebut. Setelah habis masa hukuman itu, ia akan dimasukkan ke dalam surga dalam keadaan tubuh dan jiwa yang sudah suci. Karena itu, tidak ada orang mukmin yang akan kekal dalam neraka.

Seberat-beratnya siksa yang dideritanya, pada akhirnya ia akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Seperti diterangkan Rasulullah SAW dalam hadits dari Abu Sa‘id al-Khudri, 

"Para penghuni surga akan masuk ke surga dan penghuni neraka akan masuk ke dalam neraka. Kemudian, Allah berfirman, 'Keluarkanlah dari neraka itu orang yang ada di dalam hatinya iman sekalipun sebesar biji sawi'. Mereka lalu dikeluarkan dari neraka dalam keadaan tubuh yang hitam hangus dan kemudian dimasukkan ke dalam nahr al-hayah (sungai kehidupan). Kemudian, mereka tumbuh seperti tumbuhnya benih di samping tanah yang terkena banjir. Tidaklah engkau tahu bahwa benih itu akan keluar kekuning-kuningan dan berseri-seri." [HR Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i].

Orang-orang yang berdosa juga bisa mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di akhirat kelak. Di samping memberikan syafaat ‘uzma (besar), Rasulullah SAW juga memberikan syafaat yang lain setelah mendapat izin dari Allah SWT. Dengan demikian, bisa saja orang Mukmin yang berdosa besar mendapat syafaat dari Rasulullah SAW sehingga dikeluarkan dari neraka.



Friday, June 15, 2012

Jaminan Sorga Bagi Nabi Muhammad Saw Dan Seluruh Pengikutnya Friday, June 15, 2012



  • Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad akan masuk sorga
Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (QS. Al-Inshiqaq :2)
  • Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad yang pertama masuk sorga.
Hadits riwayat Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Aku datang ke pintu sorga pada hari kiamat, lalu aku meminta supaya pintu sorga dibuka. Penjaga sorga bertanya: “Engkau siapa?” Saya menjawab: “Muhammad!” Lalu dia berkata: “Saya diperintahkan, supaya tidak membukakan pintu sorga kepada siapapun sebelum engkau.”
  • Allah memberikan jaminan bahwa 10 sahabat Nabi masuk sorga.
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka sorga-sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
  • Allah memberikan jaminan bahwa 70.000 umat Nabi Muhammad akan masuk sorga tanpa hisab
Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata: “Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang Nabi atau dua orang Nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang Nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk sorga tanpa hisab, sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak minta di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari  No. 8270]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: "aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Akan masuk sorga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]
  • Allah memberikan jaminan bahwa umat Islam masuk sorga
Hadits Nabi,
يأبى قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى رواه البخاري
Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap ummatku pasti akan masuk sorga, kecuali yang tidak mau.” Shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapa yang tidak mau?” Beliau menjawab, “Mereka yang mentaatiku akan masuk sorga dan yang menentangku maka dia telah enggan masuk sorga.”

Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila ahli sorga telah masuk sorga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka.”

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan.”

Rasulullah Saw bersabda: “Semua ummatku akan masuk sorga, kecuali orang yang enggan (tidak mau).” [HR. Bukhori 22/248]

Dari sedikit penjelasan di atas, maka sangat jelas bagi siapa saja yang mengerti bahasa Indonesia, bahwa Nabi Muhammad saw sudah dijamin oleh Allah sebagai penghuni Sorga!

Adapun kaum kuffar dan kaum munafik yang selalu berteriak-teriak menyerukan pemahaman mereka yang keliru tentang Nabi Muhammad saw yang menurut mereka belum dijamin masuk sorga, sebenarnya adalah bukti nyata betapa jauh mereka terperangkap dalam kebodohan diri sendiri sehingga sama sekali tidak mampu melihat kebenaran sejati sebagai akibat terlalu banyak dicekoki dogma "melawan akal" oleh para Bapa Gereja! 


Salam bagi kaum yang mengikuti petunjuk!


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

BACA JUGA


Tuesday, April 10, 2012

Jaminan Sorga Bagi Setiap Muslim Tuesday, April 10, 2012

Berikut adalah sebagian dari kumpulan hadits Shahih tentang jaminan sorga bagi setiap umat Islam:

Al-Bukhari[1] dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari r.a., bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Tunjukkan kepadaku amalan apa yang dapat memasukkan aku ke dalam surga?" Beberapa dari yang hadir bertanya: "Gerangan siapa dia?" Jawab Nabi SAW: "la adalah seorang cerdik pandai," seraya melanjutkan sabdanya: "Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, menegakkan shalat, membayar zakat dan menghubungi sanak kerabat."

Demikian pula Al-Bukhari meriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang menghampiri Nabi SAW seraya bertanya: "Beritahukan kepadaku tentang suatu amal perbuatan; bila kulaksanakan, aku dapat masuk surga." Jawab Rasulullah SAW: "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, mendirikan shalat yang fardhu, mengeluarkan zakat yang wajib, serta berpuasa di bulan Ramadhan." Maka orang itu berkata: "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, aku tidak akan berbuat lebih dari ini!" Setelah orang itu pergi, Nabi SAW berkata: "Barangsiapa ingin melihat seorang ahli surga, lihatlah ia."

Berdasarkan beberapa hadits dan berita lainnya, saya memperkirakan bahwa orang Badui yang dimaksud adalah Malik bin Nuwairah bin Hamzah At-Tamimi.[2]

Dalam Shahih Bukhari, dengan sanad sampai Ubadah, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Barangsiapa bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa (yang terjadi dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah haq (benar) dan neraka haq, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan amalan apa pun yang telah ia perbuat."

Juga dalam Shahih Bukhari melalui riwayat dari Junadah, disebutkan pula seperti riwayat sebelumnya, hanya ditambahkan sedikit di dalamnya, " ... melalui kedelapan pintu surga, dari mana pun ia hendak memasukinya."

Juga dalam Shahih Bukhari dari Abu Dzar r.a. yang berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang tidur dan mengenakan baju putih. Kemudian aku mendatanginya lagi, dan beliau sudah terjaga. Maka bersabdalah beliau SAW: "Barangsiapa di antara hamba Allah yang menyebut 'La ilaha illa Allah' kemudian meninggal dunia, dan ia tetap dalam keadaan ikrarnya itu, maka ia akan masuk surga." Aku bertanya: "Bagaimana kalau ia pernah berzina atau mencuri?" Jawabnya: "Walaupun ia pemah berzina atau mencuri." Tanyaku lagi: "Walaupun ia pernah berzina dan mencuri?" Jawab Rasulullah SAW: "Ya, walaupun ia pemah berzina dan mencuri, dan betapa pun Abu Dzar tidak menyukai (ucapan ini)."

Dalam Shahih Bukhari, melalui Abu Dzar pula disebutkan: Telah berkata Nabi SAW kepadaku, bahwa malaikat Jibril berkata: "Barangsiapa, di antara umatmu, meninggal dunia dalam keadaan tiada menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga (atau ia tak akan masuk neraka)." Kemudian aku bertanya: "Kendatipun ia pernah berzina dan mencuri?" Jawab Nabi Muhammad SAW: "Ya, walaupun ia pernah berbuat hal itu."

Disebutkan di dalamnya dengan sanad dari Abu Dzar, yang berkata: Aku keluar pada suatu malam, dan kulihat Rasulullah SAW berjalan sendirian, tidak seorang pun bersamanya. Ketika itu aku kira beliau sedang tidak ingin seseorang berjalan menyertainya. Maka aku pun berjalan di belakangnya, di bawah sinar bulan. Namun tiba-tiba beliau menoleh dan melihatku lalu bertanya: "Siapa ini?" Kujawab: "Abu Dzarl Semoga aku dijadikan penebus jiwamu."*Dan beliau memanggilku: "Hai Abu Dzar, kemarilah!" Maka aku pun berjalan bersamanya sebentar, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak hartanya di dunia ini, akan menjadi orang-orang yang sedikit pahalanya, pada Hari Kiamat kelak. Kecuali siapa yang diberi Allah rezeki yang banyak lalu ia menyedekahkan dengan tangan kanan dan kirinya, dari depan dan belakangnya, serta berbuat kebaikan dengan hartanya itu." Kata Abu Dzar selanjutnya: Kemudian aku berjalan lagi sebentar bersamanya, dan beliau berkata kepadaku: "Tunggu di sini sampai aku kembali!" Lalu beliau pergi ke balik bukit berbatu sehingga aku tak dapat melihatnya. Aku pun menantinya cukup lama, sehingga kudengar beliau kembali seraya mengucapkan: "Walaupun ia mencuri dan berzina." Setelah Rasulullah tiba, aku tak sabar untuk menanyakan kepadanya: "Ya Rasulullah, semoga diriku dijadikan tebusan bagi jiwamu, siapakah gerangan yang engkau ajak bicara di balik kegelapan malam itu, padahal aku tidak mendengar seseorang berbicara kepadamu?" Jawab Nabi SAW: "Dia itu Jibril, yang menampakkan diri padaku di balik bukit di sana, dan ia berkata: 'Beritahukanlah kepada umatmu kabar gembira, bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia akan masuk surga.' Kemudian aku bertanya kepadanya: 'Ya Jibril, sekalipun ia mencuri dan berzina?' Jawabnya: 'Ya, walaupun begitu.' Tanyaku lagi: “Walaupun ia mencuri dan berzina?' 'Ya, kendatipun begitu,' jawabnya. Aku bertanya lagi: "Walaupun ia mencuri dan berzina?' Jawab Jibril: 'Ya, walaupun ia pernah minum khamr'."

Mungkin yang dimaksud dengan zina, mencuii dan minum khamr dalam hadits di atas ialah sebagai ungkapan tentang semua dosa besar (kaba’ir). Maka maksudnya ialah barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah Tuhan Yang Mahaesa, ia akan masuk surga atau tidak masuk neraka, walaupun ia pernah mengerjakan dosa besar. Hal ini sesuai pula dengan hadits riwayat Ubadah, sebelum ini, yakni ucapan beliau: "... dengan amalan apa pun yang pemah ia perbuat..."

Catatan Tambahan

Harus diketahui bahwa orang-orang Mukmin yang berbuat maksiat, kelak pada hari Kiamat, akan diazab sekadar besar-kecilnya dosa-dosa mereka, kemudian setelah itu, mereka akan beroleh kemuliaan di surga. Demikianlah menurut kesepakatan (ijma') Ahlul-Bayt (para pengikut dan pendukung) mereka. Yang demikian itu sudah menjadi pengetahuan setiap orang tanpa keraguan sedikit pun.

Oleh sebab itu, hadits-hadits yang menyatakan adanya jaminan keselamatan bagi kaum Muslim, apa pun juga amalan-amalan mereka, tidaklah berarti bahwa orang-orang yang telah berbuat maksiat dari mereka, secara mutlak tidak akan memperoleh siksaan dari Allah SWT. Tetapi, maksud yang sebenarnya ialah bahwa mereka tidak diazab secara abadi dan langgeng sebagaimana yang dialami orang-orang kafir. Oleh sebab itu, hadits-hadits ini atau yang serupa dengannya tidak boleh menjadi pegangan satu-satunya bagi mereka. Mengenai kejahatan-kejahatan mereka yang telah lalu, tidak ada sesuatu yang dapat mereka lakukan kecuali bertobat dan menyesal atau menerima azab di neraka Jahannam, sekadar yang patut mereka terima, atau adakalanya mereka mendapat ampunan dan maghfirah dari Allah SWT dan memperoleh syafaat dari para pemberi syafaat (yang beroleh izin dari-Nya).

Tersebut dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Mu'adz bin Jabal yang berkata: Aku pernah membonceng kendaraan Rasulullah SAW, dan jarak antara aku dengan beliau hanya bagian belakang untanya. Lalu beliau berkata kepadaku: "Hai Mu'adz!” Jawabku: "Labbaik wa Sa'daik, ya Rasulullah." Sejenak kemudian beliau berkata lagi: "Hai Mu'adz!" "Labbaik wd Sa'daik, ya Rasulullah", jawabku. Lalu beliau berkata: "Tahukah engkau apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya?"

Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Sabda beliau: "Hak Allah aias hamba-hamba-Nya ialah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Kemudian setelah berjalan sebentar, beliau berkata: "Ya Mu'adz bin Jabal!" "Labbaik wa Sa'daik, ya Rasulullah," jawabku. Beliau bertanya lagi: "Tahukah engkau apakah hak hamba atas Allah jika mereka telah melakukannya?" Jawabku: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau pun melanjutkan: "Hak hamba atas Allah ialah bahwa la tidak menyiksa mereka."

Tercantum dalam Shahih Bukhari dari 'Utbah, yang berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Tak seorang hamba pun datang — pada Hari Kiamat — dengan ucapan 'La ilaha illa Allah' semata-mata demi keridhaan Allah kecuali diharamkan atasnya api neraka."

Juga di dalamnya dari 'Utban bin Malik Al-Anshari pula, bahwa ia mengunjungi Rasulullah SAW dan meminta agar beliau singgah ke rumahnya dan shalat di sana, karena ia ingin menjadikannya sebagai mushalla[3] Kemudian 'Utban berkata: Lalu Rasulullah SAW berangkat dan shalat dua rakaat bersama kami dan sesudah itu kami suguhkan hidangan Harirah (tepung yang dimasak dengan susu). Berkata 'Utban selanjutnya: Sesaat kemudian, beberapa orang datang ke rumahku, lalu salah seorang dari mereka berkata: "Mana Malik bin Ad-Dukhsyun?"[4] Dan seorang lainnya berkata: "Dia adalah seorang munafik. la tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Jangan berkata demikian, tidaklah kamu melihatnya telah berucap 'La ilaha illa Allah' semata-mata demi keridhaan Allah?" Jawab orang itu: "Sungguh kami sering melihatnya pergi dan berkawan dengan orang-orang munafik." Sabda Nabi SAW selanjutnya: "Allah mengharamkan api neraka bagi siapa saja yang mengucapkan 'La ilaha illa Allah' semata-mata karena berharap ridha Allah."

Muslim juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya dengan pelbagai saluran. Akan tetapi, akhir kalimat hadits yang diriwayatkan itu, sebagai berikut: "Bukankah ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah?" Mereka menjawab: "Ya, memang ia mengucapkan hal itu, namun tidak disertai dengan ketulusan hatinya." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Tiada seorang pun bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan' bahwa aku adalah Rasul Allah akan dimasukkan ke dalam api neraka atau menjadi umpannya." Anas berkata: "hadits ini betul-betul membuatku kagum sedemikian sehingga kusuruh anakku menulisnya."

Perhatikaniah, adakah susunan kalimat lain yang lebih jelas daripada ini yang menetapkan keselamatan bagi segenap umat yang beriman akan keesaan Allah? Adakah berita gembira yang lebih besar daripada berita bahwa surga disediakan bagi umat Islam secara keseluruhan? Sungguh mengherankan, dengan masih adanya orang yang tidak meragukan kesahihan hadits tersebut, tetapi ia tetap saja menetapkan penilaian yang berlawanan dengan petunjuk di dalamnya. Tidakkah ia ingat firman Allah:

" . . . hendaknya orang-orang yang melanggar perintah-Nya takut akan ditimpa bencana atau azab yang pedih . . . " (QS. An-Nur: 63)

Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, dari Anas, yang berkata: Rasulullah SAW pernab bersabda: "Allah menujukan firman-Nya kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya, pada hari Kiamat: 'Seandainya kau memiliki segala suatu yang ada di bumi, bersediakah engkau menebus dirimu dengan semua itu?' Maka orang itu akan berkata: 'Ya!' Allah pun akan berfirman: 'Dahulu Aku hanya menginginkan sesuatu darimu yang jauh lebih ringan dari ini, ketika engkau masih dalam sulbi Adam, yaitu agar kau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, namun engkau mengabaikannya dan tetap menyekutukan-Ku'."

Mungkin, yang dapat disimpulkan dari hadits ini ialah bahwa sesungguhnya orang itu diazab dengan api neraka semata-mata karena ia tidak mau kecuali menyekutukan Allah. Seandainya bukan karena hal itu, ia pasti akan selamat. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlut-Tauhid (yakni semua kaum Muslim) pasti akan selamat.

Hadits tersebut menunjukkan pula bahwa penghuni neraka yang paling ringan azabnya ialah si musyrik. Maka dapatlah disimpulkan bahwa tidak seorang pun muwahhid (orang yang mengesakan Allah) akan berada di sana. Sebab, seandainya di sana ada seorang muwahhid, niscaya azabnya lebih ringan dari si musyrik. Tentunya hal terakhir ini bertentangan dengan kandungan hadits tersebut.[5]

Dalam keenam kitab Shahih, Musnad Ahmad, kitab-kitab Ath-Thabrani, dan lain-lain, banyak dijumpai hadits seperti ini. Terutama dalam kelompok hadits-hadits syafaat, antara lain — seperti dalam — Shahih Bukhari dan Muslim bahwa kelak (pada Hari Kiamat) akan dikatakan kepada Nabi Muhammad SAW: "Keluarkan dari neraka siapa yang mempunyai iman dalam kalbunya walau seberat biji sawi."

Dan seandainya kami hendak mengetengahkan semua hadits syafaat yang mengandung kabar gembira yang amat mengagumkan, terutama yang tercantum dalam kedua kitab Shahih itu, niscaya persoalannya akan berkepanjangan. Tetapi kami hanya mengisyaratkan, agar dapat diteliti kembali oleh siapa saja yang menginginkannya. Bahkan, lebih dari yang telah dinukilkan sebelum ini, Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari 'Utsman bin 'Affan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mengetahui bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga."

Jelas sekali — menurut hadits ini — bahwa sekadar mengetahui (secara sadar) akan keesaan Allah, dapat menyebabkan seseorang masuk surga.

Begitu juga sebuah hadits serupa, yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir, dari 'lmran bin Hushain yang berkata: Rasulullah SAW pemah bersabda:

"Barangsiapa mengetahui (menyadari) bahwa Allah adalah Tuhannya, dan bahwa aku adalah Nabi-Nya dengan disertai ketulusan hatinya, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka."

Riwayat-riwayat ini lebih terang-benderang daripada cahaya matahari di siang hari. Dan kesahihannya lebih dikenal daripada "api di atas gunung yang tinggi." Di dalamnya tercantum berita-berita yang menggembirakan, yang mungkin agak meringankan diri seorang Muslim dari akibat perbuatan dosa-dosa besar yang menjerumuskan.

Nah, silakan mengkajinya kembali dalam kitab-kitab hadits Ahlus-Sunnah, agar kita lebih memahami betapa semua itu menetapkan surga bagi Anda maupun saudahaditsra-saudara Anda. Semua yang telah kami sebutkan, tidaklah lebih dari serpihan sebutir biji atau setitik air dari gelombang samudera. Kami cukupkan di sini apa yang telah disebutkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. dan diulang-ulanginya dalam beberapa bab dari kitabnya itu dengan pelbagai saluran sanad yang berbeda-beda. Kami pun tidak merasa perlu menyuguhkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab Shahih lainnya, sebab dengan kadar yang kami paparkan di atas, telah cukup jelas bagaikan cahaya yang menyingsing di pagi hari.

Lebih dari itu, kami memiliki banyak hadits shahih lainnya yang kami peroleh melalui kedua belas Imam kami:

Diriwayatkan oleh para Imam penunjuk jalan, Ucapan dan hadits mereka selalu dimulai dengan:

Datuk kami (Nabi SAW) meriwayatkan dari Jibril, yang menerimanya dari Allah Tuhan Maha Pencipta.

Itulah As-Sunnah yang kedudukannya langsung setelah Al-Kitab. Dan itulah perisai yang menyelamatkan dari azab. Simaklah dari kitab Ushul Al-Kafi dan lainnya, hadits-hadits yang mengumandangkan berita-berita gembira bagi mereka yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir. Walaupun banyak di antaranya yang mengkhususkan keterangan-keterangan di atas yang bersifat umum dengan persyaratan walayah* terhadap keluarga Rasulullah dan 'itrah-nya. yang suci. Yaitu mereka yang oleh Rasulullah SAW dikaitkan secara langsung dengan Al-Quran, dan dijadikan panutan bagi ulul-albab, bagaikan bahtera-bahtera penyelamat apabila gelombang-gelombang fitnah dan bencana datang menerjang. Mereka itu laksana bintang-bintang penunjuk jalan apabila kegelapan kesesatan menghalangi pandangan, pintu pengampunan satu-satunya bagi siapa saja yang ingin memperolehnya atau buhul tali yang kuat erat tempat bergabung seluruh umat demi kesatuan. Maka tidak syak lagi bahwa walayah mereka merupakan bagian dari Ushul Ad-Din (pokok-pokok agama). Untuk menjelaskan hal itu, kami telah cukup banyak menyebutkan argumentasi amat kuat serta bukti-bukti yang terang benderang, baik berupa dalil-dalil 'aqliyah maupun naqliyah. Kami mempersilakan para peneliti menelaahnya dalam kitab karangan kami berjudul Sabil Al-Mu'minin yang di dalamnya telah kami jelaskan setiap jalan menuju kebenaran dan kami singkapkan dengan kekuatan logikanya setiap awan kegelapan yang menghadang. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.▪

CATATAN KAKI
[1] Dalam kitab Shahih Muslim terdapat banyak hadits yang serupa dengan ini. Silakan Anda pelajari pada jilid I, bab "Keimanan yang Membawa Seseorang Masuk ke dalam Surga" dan bab "Tentang Oiang yang Menghadap Tuhannya dengan Kebulatan Iman yang Mantap, Akan Dimasukkan dalam Surga dan Dihindarkan dari Api Neraka". Dan juga pada jilid yang sama ini akan Anda temukan kabar-kabar gembira yang memuaskan hati seoiang Mukmin yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir.

[2] Dia adalah seorang kaya raya, pemurah dan mulia serta kawan bepergian para raja. Sehingga ia dijadikan contoh teladan atau perumpamaan dalam kemuliaan seperti dalam bait di bawah ini:

Tiada tempat menggembala lebih baik daripada Sa'dan
Tiada air lebih jernih daripada Shaddâ`
Tiada pemuda kesatria seperti Malik

Mengenai Malik ini akan kami nukilkan peristiwa yang terjadi padanya bersama Khalid bin Walid pada Bab VII yang akan datang. * Sebuah ungkapan yang biasa diucapkan oleh seseorang kepada orang lain yang sangat dicintainya — penerjemah.

[3] Bagaimanakah pendapat para pengikut mazhab Wahhabi tentang isi hadits shahih ini yang bertentangan dengan doktrin mazhab mereka? (Yakni bahwa para sahabat meminta Nabi SAW shalat di tempat itu, demi memperoleh berkahnya — penerjemah.).

[4] Demikianlah yang termaktub dalam Shahih Bukhari yang naskahnya ada pada saya. Mungkin yang benar ialah Malik bin Dukhsyum (dengan m) bukan Dukhsyun (dengan n). Nama lengkapnya: Malik bin Ad-Dukhsyum bin Ghunm bin 'Auf bin 'Amr bin 'Auf, yaitu salah seorang yang pemah turut serta dalam peperangan Badr dan peperangan-peperangan sesudahnya. Dia pulalah yang menawan Suhail bin 'Amr pada peiang Badr. Kendatipun demikian ia dikenal tebagai seorang munafik. Hanya Allah saja yang lebih tahu tentang keadaannya yang sebenarnya.

[5] Karena seorang muwahhid, dari kalangan Muslim, walaupun ia melakukan dosa terbesar pun, tidak akan mendapat siksaan sepedih orang-orang musyrik (meskipun seandainya si musyrik ini tidak melakukan dosa apa pun selain kemusyrikannya).

[6]Karena setiap penganut mazhab Imamiyah maupun Sunnah, kedua-duanya beriman kepada Allah, membenarkan Rasulullah SAW, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, berpuasa di bulan Ramadhan, beriman kepada Hari Kebangkitan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, sebagumana yang disaksikan oleh perkataan dan perbuatan mereka, dan seperti yang dapat disimpulkan secara pasti dari buku-buku mereka, yang lama maupun yang baru, dan yang ringkas maupun yang terinci. * Yang dimakmd dengan walayah atau wilayah ialah mendukung, mencintai dan menjadikan keluarga Rasulullah sebagai wali atau pemimpin yang diikuti -- penerjemah.


[Dari berbagai sumber]

Thursday, February 16, 2012

Enam Pesan dari Penghuni Sorga Thursday, February 16, 2012


Betapa indahnya ketika berbicara tentang surga. Dan tahukan engkau apa itu surga? Surga adalah rumah tinggal yang abadi yang menjadi tujuan setiap hamba Allah yang shalih. Surga adalah pusat aspirasi semua hamba Allah. Surga adalah di atas apa yang kita lihat, di atas apa yang kita dengar dan di atas apa yang muncul dalam pikiran manusia,Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 107-108:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, (*) Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya."   (QS Al-Kahfi: 107-108).

Rasulallah SAW bersabda, sebagaimana disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Abu Hurairah, (Allah berfirman, Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih surga yang (kenikmatannya) belum pernah ada mata yang telah melihat, dan tidak pernah ada telinga yang telah mendengar maupun telah terdetik di hati manusia).

Dengan kasih Allah dan rahmat-Nya kepada kita,  Dia telah membentangkan gambaran surga yang nikmat itu, dengan menekankan keabadian dan kesempurnaan, tanpa kekurangan sedikitpun, tidak panas atau dingin, tidak lelah dan tidak sibuk dengan hiruk pikuk, tak ada kerugian, tidak ada yang dicurangi. Sekali teguk kenikmatan di surga melupakan semua penderitaan dalam hidup ini.

Timbul pertanyaan, mengapa semua ini diceritakan wahai hamba-hamba Allah? Hal ini semata untuk mengajak orang-orang beriman ke surga dengan penuh semangat. Agar mereka bergegas menuju berbagai kebahagiaan, taman dan segala istananya.  Sebab surga adalah tempat tinggal yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, dipersiapkan sebagai rumah untuk orang-orang yang dicintai-Nya agar mengisinya dengan rahmat, kemuliaan dan ridha-Nya. Dia menggambarkan kenikmatannya sebagai kemenangan besar, pemiliknya sebagai raja diraja, segala kebaikan dan kemurniannya dijaga dari setiap cacat dan kekurangan. Celakalah jiwa-jiwa yang tidak menginginkan hal itu, tidak ingin melihatnya, dan tidak berusaha untuk masuk ke dalamnya!

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk merenungkan hadits-hadits Nabi SAW yang terkait langsung dengan mereka yang dijanjikan surga, seraya berdoa kepada Allah agar kita dimasukkan surga bersama keluarga dan kerabat kita semua. Tak ada surga kecuali dengan berusaha menggapainya.

PESAN PERTAMA: Kisah Abu Bakr dan amalan-amalan baiknya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah SAW berkata, Siapa di antara kamu yang berpuasa hari ini? Abu Bakar menjawab: “Aku”. Dia bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah mengikuti pemakaman hari ini?” Abu Bakar berkata: “Aku”. Dia berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini? Abu Bakar berkata, “Aku”. Dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Aku”. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Jika terkumpul seluruh amalan seperti di pria ini, niscaya ia akan masuk surga”.

Diriwayatkan dari Abd al-Rahman bin Abi Bakr,  dia berkata, “Rasulullah SAW shalat subuh, kemudian bertemu dengan para sahabatnya”. Dia berkata: “Apakah ada di antara kalian yang hari ini berpuasa? Umar bin al-Khattab menjawab, “Ya Rasulallah, aku tidak berniat puasa, maka pagi ini aku berbuka (sarapan).” Abu Bakar berkata, “Kalau aku, sejak semalam sudah berkata pada diriku sendiri untuk puasa, maka aku puasa.” Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian hari ini yang menjenguk orang sakit? Umar berkata, “Ya Rasulallah, kami shalat dan berdoa denganmu, bagaimana kami dapat menjenguk orang yang sakit?” Abu Bakar berkata: “Aku mendengar bahwa adikku, Abdul Rahman bin Auf, merintih maka aku mencari cara untuk bisa mengunjunginya ketika aku datang ke masjid, Rasulullah SAW bertanya lagi, “Sudahkan ada di antara kalian yang bersedekah hari ini? Umar berkata, “Ya Rasulallah, kami kan shalat dan  berdoa bersamamu dan tidak sempat istirahat.” Abu Bakar berkata: “Ketika aku masuk masjid di tengah jalan kujumpai pengemis, di tanganku ada segenggam roti yang kudapat dari Abdurrahman, aku berikan kepadanya”. Rasulallah SAW kemudian bersabda, “Aku beri kabar gembira untukmu (Abu Bakar, termasuk ahli) surga.” Umar menggumam, “oh…oh… oh… ahli surga.”

PESAN KEDUA: Utsman radhiallahu anhu dan Infaq.
Diriwayatkan dari Tsamama bin Hazn al-Qusyairi, radhiallahu anhu, dia berkata: Aku menyaksikan Peristiwa Dar (yaum al-dar), ketika mereka, penduduk Madinah, memuliakan Ustman untuk bercerita amal-amal baiknya di hari itu. Ustman berkata: “Tahukah kalian bahwa ketika Rasulallah sampai ke kota Madinah, dan tak ada cadangan air (di kota itu) kecuali sumur milik Raumah. Rasulallah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membelinya dan menjadikan embernya dan ember kaum muslimin masuk ke sumur itu, niscaya baginya surga? Aku membelinya dari harta tabunganku. Hingga hari ini, aku larang diriku sendiri untuk meminum air dari sumur itu hingga aku harus minum air laut. Mereka menjawab, “Ya”. Utsman berkata lagi, “Dan dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, tahukah kalian bahwa (suatu hari) masjid itu sudah sempit dengan jamaah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mau membebaskan tanah si fulan, niscaya diberikan kebaikan baginya dari masjid itu hingga ke surga, aku membelinya dari hartaku. Hingga hari ini aku cegah diriku untuk shalat dua rakaat di masjid itu”. Mereka berkata, “Ya”. Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, Tahukan kalian bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang membekali tentara, niscaya wajib baginya surga. Maka aku berikan perbekalan (pada tentara). Mereka berkata, “Ya Allah, ya benar”. Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah, Tahukah kalian aku  dulu berada di gunung Tsabir di pinggir kota Mekah bersama-sama dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, maka tiba-tiba gunung terguncang, sehingga batunya berjatuhan ke dasar, Rasulullah SAW menghindar dengan kakinya, dan berkata: “Tenanglah wahai (gunung) Tsabir. Sesungguhnya, di dekatmu ada seorang Nabi, seorang yang jujur dan dua orang yang menjadi syahid. Mereka berkata, “Ya”. Ustman berkata, “Allah Akbar, saksikanlah aku agar kelak masuk surga, wahai tuhan pemilik Ka’bah. Ia berucap tiga kali.

PESAN KETIGA: Terjaga dengan ibadah di waktu malam
Salah seorang tabiin (generasi setelah sahabat Nabi) berkata, saat itu mereka tengah merindukan surga dan para bidadarinya, “Aku akan membeli seorang bidadari dari sekian banyak bidadari surga dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, aku tidak akan tidur sampai aku selesai khatam tersebut.” Dia sudah mengkhatamkan sebanyak dua puluh Sembilan juz, lalu rasa kantuk menyerang hingga ia tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi bertemu bidadari, dan sang bidadari berkata berkata, Apakah engkau akan meminang bidadari sepertiku, dan engkau tertidur. Sementara orang yang mencintaiku, aku haramkan tertidur. Karena aku dicipta untuk setiap orang yang banyak melakukan shalat dan rajin bangun malam. Mendengar itu, ia terbangun, dan langsung melanjutkan usahanya, dan ia kemudian berkata: Dengan izin dan rahmat Allah, aku akan berusaha untuk mendapatkan semua ini, untuk mendapatkan salah satu dari bidadari itu.

Abu Sulaiman Aldarini – belas kasihan Tuhan – suatu kali tertidur pada suatu malam malam, dia dikenal sebagai ahli ibadah, seorang yang zuhud, dan tulus kepada Allah, dan ketulusan dengan Tuhan, Yaman itu sendiri, termasuk surga yang penuh kenikmatan. Pada suatu malam dia berkata, tidur dan diri kadang-kadang berbicara tentang apa yang Anda inginkan dan apa yang ingin Anda dan termasuk cinta – berkata: Aku melihat – sebagaimana yang sering dilihat oleh orang tengah tidur, suatu kali bidadari datang kepadaku dan berkata: “Inikah perbuatan orang-orang shalih?” “Wahai Abu Sulaiman – Apakah engkau tertidur dan aku telah menunggumu sejak lima ratus tahun”. Tidak ada Tuhan selain Allah; Sejak itu, ia tak lagi tidur kecuali hanya sedikit saja, hal itu dimaksudkan agar ia sungguh-sungguh bertemu dengannya.

PESAN KEEMPAT: Bilal bin Rabah, radhiallahu anhu dan wudhu
Bilal adalah bujang yang bekerja pada Abu Bakar, semoga Allah senang dengan dia. Ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, karena itu ia dihukum oleh kaumnya dan mereka memaksanya untuk bersaksi “Tuhanku Latta dan Uzza”. Namun, Bilal tetap teguh berkata, “Ahad… ahad…”  Datanglah Abu Bakar dan membebaskannya dari perbudakan dengan membelinya seharga tujuh (sebagian mengatakan lima) kantong emas. Rasullah SAW kemudian menyatakannya sebagai manusia merdeka. Maka, sejak itu Bilal menjadi muadzin Nabi, baik saat berdiam di Madinah atau saat berperjalanan.

Abu Hurairah RA berkata: Suatu hari Rasulullah SAW beserta Bilal: “ceritakanlah padaku satu pekerjaan yang dilakukan dalam Islam memberikan manfaat, aku mendengar Nabi SAW mengatakan ia sudah mendengar suara sandal Bila di surga. Bilal menjawab, aku tidak mengerjakan apa-apa, kecuali menjaga wudhuku hingga seringkali aku shalat maghrib dengan wudhu shalat dzuhur.”

PESAN KELIMA:  Di mana tokoh seperti Abu Dahdah sekarang?
Abu Dahdah, nama lengkapnya adalah Tsabit bin Dahdah al-Anshari, salah satu pelaku sejarah perang Uhud dan menemui kematiannya pada perang tersebut. Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak decak kekaguman untuk Abu Dahdah di surga”. Dan diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani dalam kitab Al-Awsat  (2/517)  dari hadits Umar dengan lafadz, manakala ayat Allah SWT turun, “barangsiapa yang memberikan pinjaman kepada Allah sebaik-baik pinjaman” Abu Dahdah berkata, Ya Rasulallah, apakah kita harus meminjamkan Allah dengan harta kita?”. Rasulallah SAW menjawab, “Ya.” Dia berkata: Sesungguhnya aku punya dua dinding (lantai), satu di atas, satu lagi di bawah.. Aku telah meminjamkannya untuk Allah.

PESAN KEENAM: Tidak Ghibah
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “bahwasanya ada seseorang bertanya, Ya Rasulallah, si fulan dikenal banyak melakukan shalat dan puasa, hanya saja dia selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. Rasulallah bersabda, “Dia di neraka.” Orang tersebut bertanya lagi, “Sementara ada juga si fulanah dikenal sedikit saja shalat dan puasanya sebab dia sibuk memberi makan sapinya, dan dia tidak mengguncingkan tetangganya”. Rasulallah SAW bersabda, “dia di surga”.

SUBHANALLAH!

Monday, February 7, 2011

Al-Quran Tentang Luas Surga Dan Luas Neraka Monday, February 7, 2011



Berapakah kira-kira luas surga?
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu, dan kepada Syurga yang luasnya SELUAS LANGIT dan BUMI, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Ali Imran: 133)

“Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu dan syurga yang luasnya SELUAS LANGIT dan BUMI yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepadam Allah dan rasulNya” (QS. Al-Hadiid: 21)

Subhaanallah, Surga itu luasnya seluas langit dan bumi? Berapakah luasnya langit dan bumi itu? Bisakah ilmu pengetahuan mengukurnya? Surga begitu luasnya, sementara penduduk bumi kita yang berisi sekitar lima milyar orang saja masih menyisakan demikian luas tempat yang belum dihuni.

Baiklah, sekedar untuk berhitung dan yang penting adalah untuk menambah keimanan kita akan kebesaran Allah Swt, mari kita mencoba mengukurnya. Berdasarkan informasi dari Al-qur’an. Bahwa langit ini dicipta oleh Allah Swt sebanyak TUJUH lapis.

Pernyataan ini didukung paling tidak oleh delapan buah ayat al-qur’an yaitu Al-Isra’: 44, Al-Mukminuun: 17, Al-Mukminuun: 86, Al-Mulk: 3, Al-Baqarah: 29, At-Thalaq: 12, Nuh: 15 dan An-Naba’: 12

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)

Langit diciptakan oleh Sang Pencipta sebanyak tujuh lapis, sementara untuk langit terdekat saja yang masih mampu dipandang teropong manusia yang tercanggih sekalipun sudah membuat manusia ‘takluk’ tidak dapat membayangkan. Maka bumi sungguh ibarat debu jika dibandingkan dengan luasnya surga. Demikian pula keindahan bumi beserta isinya, sungguh amat sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengan keindahan Surga.

Benarlah kata sebuah hadits Qudsi yang menyatakan bahwa, keindahan surga yang diberikan Allah kepada para hambaNya, belum pernah didengar telinga, belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terlintas di dalam hati.

Sekedar sebagai ilustrasi matematis, mari kita bayangkan berapa luasnya jagad raya langit pertama itu. Garis tengah untuk langit pertama atau jagad raya ini diperkirakan sebesar 30 milyar tahun cahaya. Berarti garis tengah jagad raya kita ini sepanjang: 30.000.000.000 X 360 X 24 X 60 X 60 X 300.000 km = 279.936.000.000.000.000.000.000 km. Ini bukan luasnya langit, tetapi baru garis tengahnya saja.

Yang sedang kita hitung inipun masih luas langit terdekat saja. Belum lagi langit lapis ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam, dan yang ke tujuh. Yang kesemuanya itu jauh lebih besar dibanding langit pertama. Lalu bisakah kita membayangkan luas surga? Bagaimana dengan keindahannya?
Subhaanallah!

Logika ilmu pengetahuan mungkin bakal terhenti, tinggal logika iman yang bisa mengukurnya.

Rasulullah pernah bersabda bahwa di surga sebuah pohon akan bisa kita lalui dari ujung ranting timur ke ujung ranting barat sejauh 100 tahun perjalanan. Satu lagi, bahwa menurut ilmu pengetahuan, ternyata jagad raya ini tidak tetap, tetapi terus mengembang bertambah lama bertambah besar dan tentu juga bertambah luas. Menurut penelitian Stephen Hawking setiap satu milyar tahun jagad raya mengembang sekitar sepuluh sampai dengan lima belas persen.

Surga memang luar biasa hebatnya. Luar biasa indahnya. Bahkan kita tidak bisa membayangkannya. Tetapi yang lebih menarik adalah ‘pernyatan sikap’ para sufi dan para wali Allah, yang mengatakan bahwa mereka tidak terpesona dengan surga yang tidak terbayangkan keindahannya itu. Sebab mereka lebih terpesona dan lebih cinta kepada Pencipta dan Pemilik Surga, yaitu Allah Swt.

Artinya keindahan Allah Swt, Kebesaran, dan kehebatannya, sungguh melebihi surga itu sendiri. Subhaanallah! Cuma kadang-kadang manusia ‘terperangkap’ dengan keindahan hadiahnya dan lupa kepada Dzat Yang Maha Pemberi hadiah.

Berapakah kira-kira luas neraka?
Suatu saat Abu Hurairah ra, mengatakan, ketika kami bersama rasulullah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, seperti benda yang jatuh menggelegar. Nabi yang mulia mengatakan:

“Tahukah kamu sekalian, suara apa itu? Kami menjawab: hanya Allah dan rasulNya sajalah yang lebih mengetahuinya. Nabi menjawab, itu tadi adalah suara dari sebuah batu yang dijatuhkan ke dalam jurang neraka, sejak tujuh puluh tahun yang lalu, baru sampai ke dasarnya ini tadi…” (HR.Muslim)

Benda yang jatuh, secara ilmu fisika bisa dihitung jaraknya. Berdasarkan gravitasi yang berlaku. Jika gravitasi bumi kita ini adalah 9,8 m/detik, maka dengan mudah kita bisa menghitung jarak tempuh batu yang jatuh mengikuti rums 1/2 gt2. Jika jatuhnya ke bumi kita sbb:

Jarak tempuh batu selama 70 tahun adalah, 0,5 x [70X360X24X60X60] x [70X360X24X60X60] x 9,8 m = 23.228.686.172.160.000 m = 23.228.686.172.160 km, Bandingkan garis tengah bumi kita hanya: 12.756 km. Ini berarti, bahwa neraka memiliki kedalaman: 23.228.686.172.160 km/12.756 km = 1.821.000.797.441,2 X diameter bumi ini jika dipakai gravitasi ‘bumi kita’.

Artinya bahwa, jika jurang neraka itu diukur berdasarkan gravitasi bumi kita, maka neraka memiliki kedalaman = 1.821.000.797.441,2 kali garis tengahnya bumi. Atau jika kita menggali sebuah sumur, maka sumur itu akan mencapai kedalaman seperti yang kita hitung di atas. Apabila sumur itu menembus bumi berulang kali, sampai sebanyak 1.821.000.797.441,2 kali. Dari sini saja kita sudah sulit membayangkan betapa dalamnya jurang neraka seperti yang diinformasikan oleh rasulullah saw tadi. Jadi jurang neraka itu sedalam: 1.821.000.797.441,2 kali ‘tebal’nya bumi. Ah, betapa menggiriskan!

Yang baru kita illustrasikan tadi kedalaman vertikal neraka, bagaimana pula lebar horizontalnya. Semestinya lebar horizontal lebih luas dari vertikalnya, ibarat bumi yang memiliki permukaan lebih luas dibanding ketinggian atmosfir bumi. Tetapi kedalaman itu, ‘belum seberapa, sebab nanti di yaumil akhir, bumi kita ini akan diganti oleh bumi yang lain. Sehingga gravitasi yang dimaksud tentu bukan gaya gravitasi bumi kita ini. Tetapi gravitasi bumi baru, yang jauh lebih hebat dan lebih dahsyat kekuatan daya tariknya.

“Ketika bumi ini diganti dengan bumi yang lain, begitu pula dengan langitnya, Mereka bermunculan dari kuburnya masing-masing menghadap kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa”. (QS. Ibrahim 14: 48)

Jangankan dipakai ukuran bumi baru yang kita belum tahu gravitasinya. Andaikata dipakai ukuran gaya tariknya Black Hole saja, yg mempunyai perbandingan 1 : 100 trilyun (perbandingan ini telah dianalisis pada suatu diskusi ilmiah yang bejudul “Menikmati keindahan Allah melalui logika dan tanda-tanda”), maka kedalaman neraka menjadi sangat sangat menggiriskan Secara matematis kedalaman itu menjadi: 23.228.686.172.160 km X 100.000.000.000.000 = 232.286.861.721.600.000.000.000.000 km

Sebagai gambaran, bila 1 trilyun atau 1000 milyar manusia sekalipun dimasukkan kedalam neraka sekaligus maka tiap orangnya masih bisa diberi jatah ruang lebih dari 200 trilyun kilometer persegi. Sehingga kalau seseorang dimasukkan ke dalam neraka, jangan harap mudah menemukan teman ‘senasib dan sependeritaan’, apalagi sampai berbagi duka dan saling memberi dorongan agar ‘tabah’.

Tulisan ini belum lagi membicarakan dahsyatnya suhu neraka serta ragam siksaan dan kualitas siksaannya. Sebagai gambaran singkat Rasulullah saw pernah berkata, andaikata dari dalam neraka yang dahsyat itu menerobos keluar apinya meskipun hanya sebesar lubang jarum saja, maka hancur binasalah bumi kita. Tulisan ini juga belum menggambarkan bahwa di neraka tubuh manusia tidak langsung gosong atau meleleh tapi memuai dahulu.

Rasulullah SAW pernah berkata bahwa ada gigi seorang kafir yang akan menjadi sebesar gunung Uhud di neraka. Hadits lain meriwayatkan bahwa tebal kulit manusia di neraka akan (memuai) hingga setebal 3 hari perjalanan, jauh lebih tebal ibanding kulit sapi yang digoreng dan memuai hingga setebal kerupuk kulit. Inilah mungkin hikmah kenapa jatah ruang neraka untuk setiap penghuninya diberi kapasitas yang sedemikian luasnya.

Setelah kita membayangkan keindahan surga yang ternyata tidak bisa dibayangkan saking dahsyatnya, dan setelah kita berhitung matematis tentang kedalaman neraka, yang ternyata juga tidak bisa kita bayangkan betapa mengerikan kedalaman neraka itu, masihkah kita mau menunda amal akhirat kita untuk suatu masalah dunia yang ternyata sangat kecil dan tidak abadi ini. Ya Allah, berilah kami kebaikan di atas dunia ini, dan berilah kami kebaikan di akhirat nanti, hindarkanlah kami dari siksaMu yang amat pedih…

[Sumber: Tausyah Wordpress

Thursday, July 29, 2010

Sekilas Tentang Sorga Thursday, July 29, 2010



Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.


KEBERADAAN SURGA

Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dari Al-Qur'an, di antaranya adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىعِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىعِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal." (QS. An-Najm [53]:13-15) 

Disebutkan di dalam as-Shahihain (riwayat al-Bukhari dan Muslim) dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu dalam kisah Isra' Mi’raj, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Sidratil Muntaha dan melihat di sisinya ada Jannatul Ma'wa.

Beliau SAW bersabda,
"Kemudian Jibril membawaku pergi hingga berhenti d Sidratil Muntaha, maka Sidratil Muntaha itu diliputi warna-warni yang aku sendiri tidak mengetahui apa itu. Lalu beliau bersabda, "Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya bertahtakan mutiara dan debunya terbuat dari misik." [HR al-Bukhari dan Muslim]

Dan di dalam riwayat lain, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika diperlihatkan sebagai penghuni surga, maka dia akan menjadi penghuni surga. Lalu dikatakan, "Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari Kiamat." [HR al-Bukhari dan Muslim]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa surga adalah makhluk Allah subhanahu wata’ala yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan neraka.

Maka orang yang menyelisihi keyakinan ini adalah termasuk ahli bid'ah, seperti mu'tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan, tetapi baru diciptkan pada hari Kiamat kelak.

Pintu-Pintu Surga 
Allah subhanahu wata’ala berfirman;

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَراً حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ
لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" (QS. Az-Zumar [39]:73)

Di dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa surga memiliki pintu-pintu, sebagaimana juga neraka. Dan pintu-pintu surga apabila nanti telah terbuka, maka akan terus dibiarkan terbuka tidak sebagaimana pintu neraka, ia akan ditutup rapat sebab neraka merupakan penjara. Allah subhanahu wata’ala berfirman;

هَذَا ذِكْرٌ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآبٍجَنَّاتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً لَّهُمُ الْأَبْوَابُ 
“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga 'Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.” (QS. Shaad [38]:49-50)

Adapun neraka, maka tidaklah demikian, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, 

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُالَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِإِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ
“(Yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (naik) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.” (QS. Al-Humazah [104]:6-8)

Rahasia di balik terbukanya pintu surga bagi para penghuninya adalah karena mereka dapat mondar-mandir, datang dan pergi ke mana saja sesuka mereka.

Dan yang ke dua adalah karena malaikat masuk ke dalam surga setiap waktu dengan penuh sikap lembut dan ramah. Ini menunjukkan bahwa surga merupakan tempat aman dan kedamaian yang tidak butuh untuk dikunci (ditutup) pintunya. 

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Di dalam surga terdapat delapan pintu, salah satunya sebuah pintu yang disebut dengan "ar-Rayyan". Tidak memasuki pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa."

Di Manakah Surga Berada? 
Allah subhanahu wata’ala berfirman;
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىعِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىعِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى 
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal." (QS. An-Najm [53]:13-15)

Ayat ini menunjukkan bahwa surga itu berada di atas langit, karena Sidratil Muntaha berada di atas langit. Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala;
وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ“
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Zariyaat [51]:22)

Imam Mujahid berkata, "Yang dimaksudkan adalah surga."

Dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu juga berkata, " Surga itu berada di atas langit yang ke tujuh." 
Kunci Surga 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Kunci Surga adalah persaksian tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah." [HR Ahmad 5/242].

Dikatakan kepada Wahb bin Munabbih; "Bukankah kunci surga itu adalah kalimat la ilaha illallah?
Maka dia menjawab, " Ya, akan tetapi tiadalah suatu kunci itu kecuali dia mempunyai gigi-gigi. Jika engkau datang dengan kunci yang bergigi, maka surga akan terbuka, jika tidak, maka tidak akan terbuka". 

Yang beliau maksudkan dengan "gigi" di sini adalah rukun-rukun Islam.

Jalan Menuju Surga 
Jalan menuju surga telah disepakati oleh para rasul dari awal hingga akhir hanyalah satu.
Sedangkan jalan ke neraka amatlah banyak tidak terhitung.

Oleh karena itu Allah subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa jalan yang lurus itu hanyalah satu dan menyebutkan jalan kesesatan adalah banyak.

Allah subhanahu wata’ala berfirman;

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al an'am [6]:153) 

Dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata;
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan kami sebuah garis lurus lalu bersabda, "Ini adalah jalan Allah". Kemudian beliau membuat banyak garis di sebelah kanan dan kirinya lalu bersabda, "Ini adalah jalan-jalan, dan pada setiap jalan itu terdapat syetan yang menyeru ke sana." Lalu beliau membacakan ayat tersebut di atas.

Tingkatan Surga 
Surga memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, 

هُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ اللّهِ واللّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
”(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran [3]:163) 

أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal [8]:4)

Tingkatan surga tertinggi adalah surga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu "Al Wasilah" sebagaimana dalam hadits riwayat imam Muslim dari Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Apabila kalian mendengar muadzin (sedang adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah untukku Al-Wasilah, Karena ia merupakan kedudukan di surga yang tidak layak kecuali hanya untuk seorang hamba saja dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap orang itu adalah aku. Barangsiapa yang meminta untukku al-Wasilah maka dia berhak mendapatkan syafa'atku.” [HR. Muslim].

Nama-nama Surga 
Surga biasanya disebut dengan Jannah, dan inilah nama yang umun digunakan untuk menyebut tempat ini dan segala yang terdapat di dalamnya berupa kenikmatan, kelezatan, kemewahan, dan kebahagiaan. Nama-nama lain dari Surga di antaranya adalah:

1. Darus Salam 
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

لَهُمْ دَارُ السَّلاَمِ عِندَ رَبِّهِمْ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal sholeh yang selalu mereka kerjakan.” (QS.Al-An'am [6]:127)

Surga adalah Darussalam (negri keselamatan) dari segala musibah, kecelakaan, dan segala hal yang tidak disukai, dan dia merupakan negri Allah subhanahu wata’ala, diambil dari nama Allah “as-Salam”. Allah subhanahu wata’ala pun mengucapkan salam atas mereka, 

لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَسَلَامٌ قَوْلاً مِن رَّبٍّ رَّحِيمٍ
“Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), "Salam", sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasiin [36]:57-58)

2. Jannatu 'adn
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala;

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ
عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍسَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
"(Yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra'd [13]:23-24)

3. Jannatul Khuld
Karena penduduknya kekal di dalamnya dan tidak akan berpindah ke alam (tempat) lain. Allah subhanahu wata’ala berfirman;

قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاء وَمَصِيراً
”Katakanlah, "Apakah (azab) yang demikian itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang- orang yang bertaqwa?" Surga itu menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al-Furqan [25]:15)

4. Darul Muqamah
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala; 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ
الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ
“Dan mereka berkata:"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu". (QS. Faathir [35]:34-35)

5. Jannatul Ma'wa, 
Al-Ma’wa artinya adalah tempat menetap sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat an-Najm di atas. Disebut demikian karena surga merupakan tempat menetapnya orang-orang mukmin

6. Jannatun Na'im

7. Al Muqamul Amin



Sumber: Buku “Biladul Afrah”, Sulaiman bin Shalih al-Khurasyi, Gambaran surga secara ringkas dari kitab “Hadil Arwah” Imam Ibnul Qayyim.

Contact Form

Name

Email *

Message *